Monday, August 16, 2010

APAKAH SEMANGAT REVOLUSI AGUSTUS 1945 MASIH MENGKHAYATI BANGSA KITA?

IBRAHIM ISA
Senin, 16 Agustus 2010
--------------------------------

APAKAH SEMANGAT REVOLUSI AGUSTUS 1945 MASIH MENGKHAYATI BANGSA KITA?


* * *

Merdeka!
Sekali Merdeka Tetap Merdeka!
Merdeka Atau Mati!
Hadirin Yth.,
Enampuluh lima tahun yang lalu, bertempat di halaman muka rumah kediaman Bung Karno, di Jalan Pengangsaan Timur No. 56, Jakarta, -- Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia, pada pagi tanggal 17 Agustus 1945, mendeklarasikan KEMERDEKAAN INDONESIA. Bendera Merah Putih dinaikkan ke puncak tiang. Berkibarlah SANG SAKA MERAH PUTIH dengan leluasa dan megahnya di tiang bendera yang hanya beberapa meter tingginya. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan dengan khidmat dan bersemangat bersama sekelompok hadirin pada detik-detik peristiwa bersejarah tsb.

Sepintas lalu-- peristiwa tsb seperti tidak ada apa-apanya. Bahkan tetangga Bung Karno pun tidak tahu. Banyak yang tidak tahu. Pada umumnya tidak sadar bahwa sejak saat itu Indonesia memasuki periode awal, titik-balik dalam sejarah gerakan kemerdekaan. Dikatakan suatu perubahan fundametal! Karena, -- periode ini secara kwalitatif dan hakiki mengubah nasib seluruh bangsa Indonesia. Dari suatu bangsa yang selama 300 tahun lebih dikuasai oleh kolonialisme Belanda, -- dan tiga setengah tahun di bawah pendudukan militer Jepang, – – – menjadi suatu bangsa yang merdeka. Yang berdaulat, berdiri sendiri, sama derajat dengan bangsa-bangsa lainnya dalam masyarakat bangsa-bangsa merdeka di dunia internasional.

Memang, mula-mula, pagi tanggal 17 Agustus 1945 itu, -- seperti tidak terjadi sesuatu yang istimewa.

Namun, beberapa saat setelah suara Bung Karno menggelegar di angkasa raya, memaklumkan bangsa kita telah merebut nasibnya ditangannya sendiri, -- berawal pada pada bulan Agustus itu juga, lalu memasuki bulan September, Oktober dst, semboyan-semboyan 'Merdeka', 'Sekali Merdeka Tetap Merdeka', 'Merdeka Atau Mati', dalam bentuk pamflet dan tulisan besar-besar di tembok-tembok gedung, di tram, di kereta api, bus dll, memenuhi kota Jakarta. Kemudian kota-kota besar lainnya menyusul, dibanjiri dengan pengumuman PROKLAMASI Kemerdekaan 17 AGUSTUS 1945.

Ribuan pamflet Proklamasi Kemerdekaan disebar-luaskan ke segenap penjuru tanah air. Radio Republik Indonesia (RRI), yang pada waktu mengangkasa berlokasi di sebuah kamar di sebuah laboratorium kimia, -- dengan resmi dimaklumkan sebagai Radio Republik Indonesia, pada tanggal 11 September 1945 – 3 minggu setelah Prokalamasi Kemerdekaan. Selain Dr Abdurrachman Saleh, yang punya prakarsa awal harus dimilikinya pemancar radio oleh Republik Indonesia yang diproklamsikan, hadir di situ Jusuf Ronodipuro, yang kemudian menjadi pemimpin RRI dalam waktu panjang.

* * *

Berdirinya pemancar Radio Republik Indonesia, punya arti luar biasa bagi Republik Indonesia yang baru berdiri sebagai alat Revolusi dan komunikasi, penerangan serta media propaganda, RRI telah merangkaikan secara mental dan politik lahir dan berjuangnya suatu bangsa dan negara Republik Indonesia, dari Sabang sampai Merauké . RRI merupakan alat perjuangan vital melawan siaran radio Belanda yang luar biasa giatnya melancarkan perang propaganda untuk menghancurkan Republik Indonesia yang baru lahir.

Sungguh mengenaskan, masyarakat Indonesia termasuk media cetak dan elektroniknya, pada suatu ketika lupa betapa kepahlawanan para pendiri RRI, seperti Jusuf Ronodipuro dan rekan-rekannya. Dengan berani mereka mempertaruhkan jiwanya di hadapan kekuasaan Kenpeitei (Polisi Militer) Jepang, demi berdiri dan berlangsungnya pemancar RRI. Benarlah slogan RRI yang menyatakan SEKALI DI UDARA TETAP DI UDARA!

* * *

Di angkasa untuk pertama kalinya, berdengung menggelora suara Bung Karno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, itu dilakukan oleh sebuah pemancar rahasia Jusuf Ronodipuro dkk. Ini membikin seluruh dunia tersentak, terutama Den Haag, mendengar berita diprokklamasikannya kemerdekaan Indonesia.

* * *

Suara Bung Karno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, lagu kebangsaan INDDONESIA RAYA, serta semboyan- semboyan 'Sekali Merdeka Tetap Merdeka', 'Merdeka Atau Mati', telah menjiwai, memberikan kekuatan moril dan fisik yang nyata yang tak terduga dan luarbiasa besarnya pada bangsa ini. Jiwa kemerdekaan ini mempersatukan lebih lanjut seluruh rakyat dari segala lapisan. Dengan bimbingan semangat patrotisme itu mereka bangkit berjuang untuk membela Negara Republik Indonesia yang baru merdeka.

Serangan musuh-musuh kemerdekaan Indonesia, dihadapi, dilawan dengan gagah berani. Mula-mula mendarat kekuatan militer Inggris. Katanya mereka datang atas nama Sekutu untuk menerima penyerahan Jepang yang kalah dalam Perang Pasifik. Nyatanya bersama tentara Inggris, ikut menyelinap Van Mook dan orang-orangnya. Mereka kemudian mulai membangun kembali kekuatan bersenjata kolonial Belanda untuk menghancurkan Republik Indonesia yang baru diproklamasikan dan menegakkan kekuasaan NICA. Atau Netherlands Indies Civil Administration. Kita semua tahu, tujuan dibangunnya NICA, hakikatnya untuk menegakkan kembali kekuasaan kolonial Hindia Belanda atas Nusantara.

Api Proklamasi Kemerdekaan yang dinyalakan pada tanggal 17 Agustus 1945, tak terpadamkan marak mulai dari Jakarta menyulut Surabaya, Jogyakarta, Bandung dan kota-kota serta desa-desa tanah air tercinta. Semboyan “Sekali Merdeka Tetap Merdeka', 'Merdeka Atau Mati' -- semboyan-semboyan itulah yang menyemangati serta menggerakkan ratusan, ribuan, puluhan bahkan ratusan ribu pemuda-pemudi dan lapisan luas rakyat kita, mendirikan kekuatan bersenjata untuk membela Republik Indonesia. Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauké.

Berdiri tegaknya Republik Indonesia, sebuah negara baru di benua Asia, telah menjadi fakta sejarah yang tak terhapuskan lagi oleh kekuatan kolonial dan imperialis manapun. Kenyataan sejarah ini tidak bisa dihancurkan oleh pemberontakan-pemberontakan separatis seperti yang terjadi atas nama RMS, PRRI/PERMESTA, Darul Islam, Aceh Merdeka dan Papua Merdeka. Apalagi oleh pernyataan di atas secarik kertas oleh beberapa gelintir orang di Belanda beberapa tahun yang lalu yang menyatakan bahwa 'Indonesië bestaat niet' .

Imbangan kekuatan politik di Asia telah mengalami perubahan yang maha penting. Dunia menyaksikan berdirinya sebuah negara baru yang merdeka dan berdaulat, yang rakyatnya siap mempertaruhkan jiwa dan raganya demi membela Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Sukarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, atas nama bangsa Indonesia.

* * *

Hadirin Yth.
Apakah semboyan-semboyan revolusioner Revolusi Agustus 1945 tsb masih mengkhayati bangsa kita dewasa ini? Apakah kita masih tetap merdeka?
Een goede vraag! A good question! Suatu pertanyaan teramat penting. Tetapi tidaklah mudah memberikan jawaban yang cespleng, yang benar-benar suatu jawaban yang tepat. Tak terelakkan jawaban atas pertanyaan itu, -- diberikan dengan bertolak dari pandangan masing-masing. Dari analisis masing-masing atas situasi kongkrit negeri dan bangsa kita dewasa ini.

Dalam pengertian menuruti faham yang diakui dan sudah banyak diberlakukan di banyak negeri, yaitu faham dan prinsip demokrasi, yaitu hak untuk dengan bebas berpendapat dan berekspresi, maka adalah kebebasan masing-masing untuk memberikan jawaban atas pertanyaan penting tsb menurut pandangan masing-masing.
Kiranya kita juga sependapat bahwa dalam sistuasi kongkrit bangsa dan tanah air dewasa ini, --- prinsip kebebasan bicara dan bereksperesi mutlak harus dipertahankan, dibela dan dikembangkan lebih lanjut. Karena, barangkali kebebasan inilah yang sekarang merupakan salah satu hasil penting gerakan Reformasi yang masih ada! Yang masih bisa dan harus dimanfaatkan secara maksimal demi mengembangkan perjuangan selanjutnya untuk tujuan-tujuan mulya kebebasan, keadilan dan kemakmuran Indonesia.

* * *

Hadiri Yth.
“ APAKAH SEMBOYAN REVOLUSI AGUSTUS 1945” tsb masih menjiwai bangsa dan negeri ini?
Saya berani tegaskan di sini, bahwa keadaan kita sebagai bangsa, sebagai nasion Indonesia, berada dalam situasi yang memprihatinkan, yang amat mengkhawatirkan.

Negeri yang begitu indah dan cantik; yang tanah dan lautannya berjejer dari Sabang sampai Merauké, kaya-raya dengan sumber-sumber bumi, lautan, sungai dan danaunya, yang melimpah ruah. Lebih-lebih lagi yang rakyatnya rajin dan ulet. Namun, kini sebagian terbesar rakyatnya masih hidup miskin dan menderita. Setiap tahun negeri ini harus meminta-minta 'bantuan' dari World Bank dan IMF, yang hakikatnya adalah hutang yang harus dibayar kembali oleh rakyat, plus bunganya. Karena Anggaran Pemasukan dan Belanja negara setiap tahun mengalami defisit, yang selamanya harus ditutup dengan pinjaman atau 'bantuan' dari luar.
Kita saksikan dengan hati pedih, bahwa hanya sebagian kecil saja dari bangsa Indonesia, yang sudah dan sedang menikmati kekayaan bumi Nusantara ini.

Kita saksikan betapa kekayaan negeri dan hutang yang dipinjam dari luarngeri, telah dikorup dan dirampok oleh para petinggi politik dan negara, oleh kalangan yang berkuasa sendiri serta aparatnya. Kita menyaksikan betapa modal asing merajalela menguasai sumber-sumber kekayaan negeri kita, sedangkan perusahaan kecil rakyat pada bangkrut atau terpaksa dijual pada modal asing. Kita saksikan bahwa aparat kekuasaan negara serta lembaga peradilan telah menjadi sarang mafia korupsi dan neportisme yang amat parah. Kia saksikan janji Reformasi teristimewa reformasi di kalangan aparat negara, sudah tidak kedengaran apa-apanya lagi. Malah berita yang memenuhi media adalah keterlibatan aparat dan lembaga peradilan dengan korupsi dan neportisme. Kita saksikan matinya tanpa pengumuman janji-janji dan rencana Rekonsiliasi Nasional oleh pemerintah.

* * *

Tujuan utama kemerdekaan bangsa yang ditanamkan oleh para founding fathers kita, ialah: MENEGAKKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA YANG ADIL DAN MAKMUR, dimana kekayaan bumi dan airnya dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat, terutama oleh lapisan paling bawah yang selama ini menderita dan hidup dalam kemiskinan dan ketidak-tentuan. Namun, dewasa ini apa yang dicita-citakan ini, tampak seolah-olah sudah hancur musnah. Sudah lenyap samasekali. Dalam pada itu keadaan ekonomi negeri belum menunjukkan akan adanya perbaikan secara keseluruhan. Jumlah pengangguran bertambah terus, sedangkan rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan tak berkurang.

* * *

Hadirin Yth.
Situasi revolusioner periode Revolusi Agustus 1945, punya latar belakang sejarah panjang. Latar belakang sejarah gerakan kemerdekaan yang dimulai pada awal abad ke duapuluh, dengan berdirinya pelbagai organisasi massa, seperti organisasi-organisasi pemuda dan mahasiswa, serikat buruh, serikat pegawai negeri, ormas dan lembaga pendidikan bangsa dsb. Kemudian berkembang dengan didirikannya Budi Utomo, Indische Partij, ISDV yang berubah menjadi PKI, Serikat Islam (SI), Sarekat Rakyat, PNI, Partindo, PSII, dll. Tanpa perjuangan kaum nasionalis, kaum komunis dan kaum muslimin serta penganut agama lainnya di negeri kita, dalam waktu panjang selama penjajahan Belanda dan pendudukan militer Jepang, tidaklah akan lahir Republik Indonesia Merdeka.

Jangan lupakan sejarah! Ini adalah ajaran Bung Karno. Inilah salah satu pelajaran sejarah penting yang perlu ditarik: Tanpa perjuangan pendahulu-pendahulu kita, yang bersatu dalam jiwa, semangat dan tindakan dalam perjuangan panjang semasa periode kolonialisme Belanda dan selama pendudukan militer Jepang, tidak akan lahir Republik Indonesia Merdeka. Suatu kekuatan yang didukung oleh pelbagai aliran politik dan kepercayaan, khususnya oleh aliran politik dan kepercyaan nasionalisme, islamisme dan marxisme.

Hadirin Yth.
Menyaksikan keadaan tanah air dewasa ini, tak terelakkan timbul pertanyaan berikut ini: APAKAH INDONESIA DEWASA INI BENAR- BENAR SUATU NEGARA MERDEKA?

Dalam kesempatan ini, perkenankanlah saya agak khusus menyoroti analisis berbobot dan kesimpulan ilmiah yang dibuat oleh dr Kwik Kian Gie dalam tuisannya baru-baru ini. Tanpa bisa disalah-ertikan ia menyatakan bahwa Indonesia dewasa ini sudah kembali menjadi JAJAHAN ASING. Populernya sering disebut sebuah koloni baru kaum imperialis. Kwik Kian Gie adalah seorang ekonom Indonesia, pernah menjabat Menko Ekonomi dalam pemerintahan Presiden Abdurrachaman Wahid, mantan Ketua Bappenas, dan Ketua Litbang PDI-P. Antara lain Dr Kwik Kian Gie, memberikan analisis yang sangat tajam tentang sebab-musabab mengapa negeri kita sampai jadi begini. Dipaparkannya dengan jelas tentang: Sejarah Penguasaan Ekonomi Indonesia oleh Kekuatan Asing dan Kelompok Berkeley Mafia.

Dikemukakannya juga analisis sementara akhli ekonomi asing, bagaimana peran kekuatan asing dan kelompok Berkeley Mafia dalam perekonomian Indonesia sejak tahun 1967. Dengan fakta-fakta ditunjukkan bahwa Undang–Undang Penanaman Modal Asing, UUPMA, adalah suatu rencana yang dibuat oleh kaum modal asing. Disodorkan melalui IGGI, Inter Governmental Group on Indonesia. Yang anggotanya terdiri dari AS, Canada, Eropa dan Australia. Lalu IMF, International Monetary Fund dan World Bank, Bank Dunia. Adalah UUPMA ini, yang telah memberikan hadiah bebas pajak selama 5 th kepada kaum modal asing yang melakukan perampokan atas kekayaan bumi dan lautan Indonesia. Adalah kekuatan asing ini yang merencanakan dasar infra-stsruktur hukum untuk investasi modal asing di Indonesia.

IGGI lahir bulan November 1967, di Jenewa, menyusul suatu konferensi internasional (luarbiasa) yang disponsori oleh The Time Life Corporation (suatu perusahaasn raksasa Amerika). Dalam konferensi itu yang datang dari Indonesia adalah sebuah delegasi khusus di bawah pimpinan Sultan Hamengkuuwono IX, yang didampingi oleh suatu tim akhli terdiri dari sarjana-sarjana ekonomi dan moneter lulusan AS ( University of California, Berkeley). Dari fihak asing peserta konferensi terdiri dari para kapitalis yang paling berkuasa di dunia. Seperti David Rockefeller, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, dan US Steel.

UUPMA, --- suatu blueprint perampokan dan pengkurasan habis-habisan kekayaan Indonesia, yang disahkan oleh Orde Baru (1967) atas perintah asing, inilah yang menjadi salah satu penyebab utama situasi ekonomi Indonesia yang carut marut dewasa ini.

Suatu ungkapn yang ditulis oleh seorang akhli ekonomi John Perkins, dalam bukunya berjudul : “The Confessions of an Economic Hit man”, atau “Pengakuan oleh seorang Perusak Ekonomi”. (Dalam pengertian populer, 'hitman' adalah 'pembunuh bayaran'). menyatakan sbb:
“ Pertama-tama saya harus memberikan pembenaran (justification)
untuk memberikan hutang yang sangat besar jumlahnya yang akan disalurkan kembali ke MAIN (perusahaan konsultan di mana John Perkins bekerja) dan perusahan-perusahaan Amerika lainnya (seperti Bechtel, Halliburton, Stone & Webster, dan Brown & Root) melalui penjualan proyek-proyek raksasa dalam bidang rekayasa dan konstruksi.

Kedua, saya harus membangkrutkan negara yang menerima pinjaman tersebut (tentunya setelah MAIN dan kontraktor Amerika lainnya menerima bayaran), agar negara target itu untuk selamanya tercengkeram oleh kreditornya, sehingga negara penghutang (baca : Indonesia ) menjadi target yang empuk kalau kami membutuhkan favours, termasuk basis-basis militer, suara di PBB, atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya.”

Lalu: “Aspek yang harus disembunyikan dari semua proyek tersebut
ialah membuat laba sangat besar buat para kontraktor, dan membuat bahagia
beberapa gelintir keluarga dari negara-negara penerima hutang yang sudah kaya dan berpengaruh di negaranya masing-masing. Dengan demikian ketergantungan keuangan negara penerima hutang menjadi permanen sebagai instrumen untuk memperoleh kesetiaan dari pemerintah-pemerint ah penerima hutang. Maka semakin besar jumlah hutang semakin baik. Kenyataan bahwa beban hutang yang sangat besar menyengsarakan bagian termiskin dari bangsanya dalam bidang kesehatan, pendidikan dan jasa-jasa sosial lainnya selama berpuluh-puluh tahun tidak perlu masuk dalam pertimbangan.”

Akhirnya tulis Kwik Kian Gie:

Keseluruhan ini sendiri merupakan cerita yang menarik dan bermanfaat sebagai bahan renungan introspeksi betapa kita sejak tahun 1967 sudah dijajah kembali dengan cara dan teknologi yang lebih dahsyat.

Para penjajah Belanda dahulu menanam berbagai pohon yang buahnya bernilai tinggi. Kekejaman mereka terletak pada eksploitasi manusia Indonesia bagaikan budak. Kebun-kebunnya sampai sekarang menjadi PTP yang masih menguntungkan.

Sejak tahun 1967, pengerukan dan penyedotan kekayaan alam Indonesia oleh
kekuatan asing, terutama mineral yang sangat mahal harganya dan sangat vital itu dilakukan secara besar-besaran dengan modal besar dan teknologi tinggi. Para pembantunya adalah bangsa sendiri yang berhasil dijadikan kroni-kroninya.

* * *

Agak panjang saya menyoroti tulisan dr Kwik Kian Gie, dalam pembicaran 65 tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kali ini. Ini perlu dan penting. Karena di situ diberikan analisisi yang sangat beralasan, argumentatif serta merupakan pendidikan ekonomi dan politik bagi kita semua. Teristimewa generasi muda Indonesia. Yaitu mereka-meraka yang tidak mengalami tahun-tahun awal berdirinya Orba Jendral Suharto.

Penulisnya, Kwik Kian Gie juga menunjukkan semangat patriotisme cinta tanah air yang kuat, halmana sesuai dengan SEMANGAT REVOLUSI AGUSTUS 1945.

* * *
Hadiri Yth.

Situasi Reformasi negeri kita sesudah jatuhnya Presiden Suharto, berakhirnya secara formal rezim otoriter anti-demokratis dan anti-HAM, dewasa ini ternyata 'macet'.

Namun di lain fihak, kita menyaksikan munculnya puluhan, ratusan bahkan ribuan buku-buku, film dokumenter, tulisan dan artikel yang bebas dari pengawasan dan larangan penguasa. Bahan-bahan tsb juga bisa di lihat dan dibaca di internet. Bisa berulang kali dipublikasikan seluas-luasnya.

Menyaksikan dan membaca tulisan serta laporan dari Indonesia mengenai kebangkitan baru di kalangan kaum muda, bisa disimpulkan bahwa sebagian penting kaum muda Indonesia, termasuk di situ juga pejuang-pejuang senior, masih tetap dijiwai oleh semangat Revolusi Agustus 1945.
Perkembangan gerakan di kalangan kaum muda dan demokrat serta aktivis HAM, menunjukkan bahwa aksi-aksi tuntutan sosial-ekonomis dan perjuangan dalam bidang politik oleh berbagai golongan masyarakat, seperti mahasiwa, junalis, seniman, budayawan cendekiawan patriotik, kaum buruh, kaum miskin kota, berjalan terus. Kegiatan ini -- baik yang beritanya bisa dibaca di media, maupun yang tidak diberitakan oleh media, -- kegiatan dan perkembangan itu tidak akan berhenti. Sebaliknya, bahkan akan berkembang terus.

Belakangan ini, semakin santer suara-suara yang berasal dari sementara parpol serta gerakan politik yang menyatakan bahwa gerakan bangsa ini memerlukan suatu ideologi. Yaitu ideologi Pancasila. Pancasila seperti yang diajarkan oleh Bung Karno, dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945. Ini adalah suatu perkembangan yang menunjukkan bahwa kesadaran politik dalam gerakan dan kegiatan pro Reformasi bertambah kongkrit dan memberikan harapan baru..

* * *

Hadiri Yth.

Dari tulisan-tulisan yang berasal dari Indonesia dan yang ditulis oleh para pemeduli nasib bangsa dan negeri, juga yang bermukim di luarnegeri dan sejumlah tulisan-tulisan laiinya berkenaan dengan ultah ke-65 Republik Indonesia, menjadikan kita semua tetap optimis bahwa perjuangan ini tak akan berhenti sebelum tercaiap tujuannya. Dengan jelas sekali tampak bahwa semangat 'Merdeka', 'Sekali Merdeka Tetap Merdeka', tetap menjiwai patriot-patriot Indonesia, dimanapun ia berada.

Jajaki situasi kaum muda generasi baru Indonesia yang justru lahir dan atau dibesarkan pada periode Orba, tampaklah – bahwa di kalangan merekalah, dikalangan generasi baru, terdapat cendekiawan, historikus, ekonom dan sosiolog yang berfikiran dan berpandangan kritis dan maju. Generasi muda bangsa tsb bertekad meneruskan gerakan Reformasi, berusha keras untuk meluruskan sejarah bangsa yang telah dibengkokkan oleh rezim Orba.

Mereka bergiat terus untuk lebih lanjut mengungkap dan mengkritik rezim Orba. Mereka melakukan usaha susah payah di bidang penelitian untuk mengungkap apa sesungguhnya G30S itu. Khususnya menyangkut keterlibatan Jendral Suharto dan pendukungnya yang telah melakukan pembunuhan masal terhadap rakyat yang tak bersalah.

* * *

Hadirin Yth.
Cita-cita Revolusi Agustus 1945, yang terpenting a.l adalah MENEGAKKAN SUATU NEGARA HUKUM INDONESIA.

Maka mari tandaskan kembali, -- :
Pada saat MEMPERINGATI ULTAH KE-65 KEMERDEKAAN INDONESIA, jangan sekali-kali lupakan bahwa selama pelaku pembantaian masal dalam Peristiwa 1965 tidak dibawa ke pengadilan, diadili dan dijatuhi hukuman yang setimpal, -- selama korban Peristiwa 1965 dan pelanggaran Ham lainnya TIDAK di-REHABILITASI nama baik dan hak-hak kewarganegaraan dan hak-hak politiknya, selama itu NEGARA HUKUM Republik Indonesia belum bisa dikatakan sudah tegak.

Kita yakin bahwa perjuangan, kegiatan sekitar masalah tsb tidak boleh dan pasti akan berlangsung terus!
Merdeka!
Terima kasih!

* * *

Saturday, August 14, 2010

Wong “JOWO-Surinam” Ing Negoro Londo

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita

Sabtu, 14 Agustus 2010

------------------------------------------------------



Wong “JOWO-Surinam” Ing Negoro Londo

< Dalam Rangka Peringatan 120 Tahun Kedatangan Orang Jawa di Suriname>



Cerita-cerita, -- s e j a r a h , tentang 'Wong Jowo ing Negoro Londo' (mereka berimigrasi dari Suriname), -- -- , menarik sekali. Mengharukan dan menggugah. Dan hatiku ikut bangga, sebagai suami seorang putri dari Jawa. Begitulah, hari Minggu, pekan lalu, kami kumpul bersama di suatu ruang peringatan dengan kira-kira 300 orang-orang Jawa lainnya yang berdatangan dari pelbagai penjuru Belanda.



Cukup banyak data dan ulasan yang bisa diakses di internet mengenai para kompatriot itu. Jangan héran, bagi kebanyakan orang-orang Jawa-Indonesia, keberadaan dan latar belakang 'Wong-Jowo-Surinam' ing Holan iku, sedikit sekali yang tahu. Ya, sesekali secara kebetulan, kita papasan dengan orang (yang dianggap orang Indonesia), di jalan atau di pertokoan. Ternyata mereka itu adalah 'wong Jowo-Surinam'. Orang Jawa yang menetap di Belanda, asal Surinam. Mereka bertanya pula: “Sampean soko Surinam”?



Aku baru-baru ini saja, agak mengenal latar belakang 'Wong Jowo Ing Negoro Londo”. Yaitu selagi dan sesudah pada tanggal 08 Agustus 2010 lalu, menghadiri Peringatan “120 JAAR JAVAANSE IMMIGRATIE – Een Andere Kijk op Geschiedenis – De Javaanse migratie door de ogen van gewone mensen”. < Artinya kira-ki begini: “120 tahun migrasi Orang-Orang Jawa – Suatu Pandangan Lain Atas Sejarah – Migrasi Orang-orang Jawa Melalui Mata Orang-orang Biasa.”>. Penyelenggara peringatan dilakukan bersama oleh Stichting Herdenking Javaanse Immigratie (STICHHJI), Stichting Budi Utama dan KITLV Leiden.



Di ruangan pertemuan di pamerkan untuk dijual buku-buku sehubungan dengan orang-orang Jawa Surinam. Juga bisa dipesan kamus Jawa-Nederlands. Di situ aku membeli sebuah buku berjudul STILLE PASSANTEN, Levensverhalen van Javaans-Surinaamse ouderen in Nederland. Cerita-cerita pengalaman orang-orang Jawa Surinam di Nederland. Penulis: Yvette Kopijn dan Harriette Mingoen, Ketua STICHHJI. Aku baru membaca kata pengantarnya dan melihat-lihat foto-foto sekitar orang-orang Jawa yang mula datang ke Suriname. Kaum migran Jawa yang berjumlah 32.956 migran itu diangkut berangsusr-angsur selama periode 1890 s/d 1939 dengan 53 kapal ke Paramaribo, Suriname. Setelah menyelesaikan kontrak kerja selama 5 tahun, mereka boleh mengakhiri kontrak dan kembali ke kampung halaman di Jawa. Sebagian besar memilih menetap di Suriname, menjadikan negeri itu tanah airnya kedua.



* * *



Perayaan Peringatan tsb berlangsung di ruang pertemuan Haagse Hogeschool, Den Haag. Hanya beberapa puluh meter jaraknya pas dimuka Stasiun KA - Den Haag HS letaknya. Perayaan Peringatan mengambil bentuk Manifestasi Budaya. Dimeriahkan dengan acara seni: gamelan Jawa, tari-tarian, pentjak silat, nyanyi solo dan paduan suara, musik Jawa, juga musik pop. Tak ketinggalan dipanggungkan pula tari serimpi yang indah lemah lunglai itu. Hadirin menikmati seluruh acara yang berlangsung dari jam 12 siang sampai jam 07 malam. Dengan sendirinya tersedia di situ makanan Indonesia dan Suriname (seperti tahu lontong dan saoto), serta cendol dan minuman lainnya dengan harga yang layak.



Sarmaji yang duduk disampingku, tak habis heran dan kagum menyaksikan acara seni itu. Bagaimana orang-orang Jawa Suriname kok bisa tetap memelihara budaya Jawa meskipun lebih seratus tahun terpisah dari kampung halaman asal, berlanglang-buwana sampai ke Suriname dan Belanda. Itu menunjukkan bahwa meskipun tinggal di negeri lain, mereka tetap mempertahankan budaya dan identitas mereka. Hebat kan, kataku!



Tapi yang lebih mengharukan lagi serta terheran-heran kami, adalah ketika perayaan dibuka dengan tampilnya barisan bendera teridiri dari putri-putri, yang masing-masing membawa bendera Merah Putih Biru (Belanda), Merah Putih (Indonesia), dan Bendera Suriname. Tak terkira reaksi kami ketika itu. Serasa terdengar debaran jantung masing-masing, ketika seiring dengan barisan bendera tampil di panggung, diperdengarkan masing-masing -- lagu WILHELMUS, lalu INDONESIA RAYA kemudian lagu KEBANGSAAN SURINAME. Sungguh tak tak terduga bisa melihat bendera Merah Merah Putih dikibarkan diatas panggung di Haagse Hogeschool Den Haag, dengan diiringi musik INDONESIA RAYA. Dan itu dalam suatu perayaan peringatan yang dilangsungkan oleh WONG JOWO ING NEGORO LONDO.



Kutanyakan bagaimana kesan Sarmaji disampingku. Bagaimana perasaannya melihat Sang MERAH PUTIH yang disertai musik INDONESIA RAYA di atas panggung? Wah, wah, bukan main bangganya aku!, kata Sarmaji.



* * *



Bagiku pribadi, belum lama mengetahui adanya orang-orang Jawa-Surinam di Holland. Kurang lebih 15 tahun y.l. seorang sahabat dekat kami (yang asal etnis Jawa) ternyata melakukan kerja-sukarela di sebuah pemancar radio bernama “Radio Bangsa Jawa”, di Amsterdam. Pemancar itu berbahasa Jawa. Lalu peristiwa berikut ini: -- Suatu waktu ketika kami suami istri makan-siang di sebuah restoran di Villa Arena, Bijlmer, yang melayani adalah seorang wanita yang persis orang Indonesia. Beberapa saat setelah kami menikmati santapan, -- ia datang menghampiri kami dan bertanya: “Wis warek, yo?”. “Nék wis warek, turu!”. Heh, ternyata dia itu 'wong Jowo asal Surinam'. Istrku, yang asal Purworedjo, Jawa Tengah, kaget tapi kemudian senyum-senyum saja memaklumi, diajak boso Jowo demikian itu.



Terima kasih kepada KITLV (Mbak Yayah Siegers) yang menyampaikan undangan

lewat e-mail kepadaku, sehingga memperoleh kesempatan untuk bisa menghadiri Perayaan Peringatan 120 Tahun Imigrasi Orang-orang Jawa Ke Suriname. Mulai dari sejak inilah aku memberikan perhatian pada orang-orang Jawa Surinam dan latar belakang serjarahnya. Menyadari bahwa mereka-mereka itu adalah sebagian dari bangsa kita, bangsa Indonesia yang berkelana ke Surinam, demi mencari tempat hidup yang lebih layak, jauh dari kekurangan dan kemiskinan di kampung halaman mereka ketika itu.

Baru kutahu, bahwa keberangkatan orang-orang Jawa ke Surinam, adalah bagian dari politik transmigrasi pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang juga mentransmigrasi orang-orang Indonesia asal Jawa dari kampunghalaman mereka ke Sumatera dan Lampung, Sumatera Selatan.



Rupanya yang berwewenang ketika itu memang menjanjikan bahwa dengan meninggalkan kampung halaman mereka yang susah hidup itu, berimigrasi ke Surname sebagai buruh-kontrak, mereka akan mengalami kehidupan yang lebih baik. Nyatanya juga tidak. Bekerja sebagai buruh-kontrak , tidak banyak mengubah nasib mereka yang miskin papa di kampung halaman di Jawa. Di Suriname, menurut cerita mereka sendiri, juga mengalami perlakuan diskriminasi keras. Mereka diharuskan tertempat tinggal di daerah terpencil yang jauh dari pusat pedagangan negeri. Pendidikan terutama bagi anak-anak mereka juga tidak diurus oleh penguasa Belanda di Suriname. Akhirnya dibangun juga juga sekolah -- ”Sekolah Desa'. Tidak lebih dari itu.Pokoknya kaum buruh-kontrak asal Jawa di Suriname dibiarkan bodoh oleh penguasa.



Berapa upah mereka sebulan? Hanya 60 sen untuk priya dan 40 sen untuk wanita. Mana bisa hidup baik dengan upah yang minim seperti itu? Jelas, pemerintah Hindia Belanda mentrasmigrasikan penduduk Jawa ke Suriname, adalah demi kepentingan perkebunan-perkebunan mereka di Suriname yang memerlukan tenaga kerja murah. Berimigrasi samasekali tidak memberikan kehidupan yang lebih baik. Penguasa kolonial di Suriname tidak lebih baik dari penguasa kolonial di Jawa, Sumatra, atau dimanapun di seluruh Indonesia pada periode Hindia Belanda dulu. Penguasa melakukan transmigrasi atau imigrasi bagi penduduk Jawa, pertama-tama bertolak dari kepentingan sendiri semata-mata. Kepentingan mengeeksploitasi tenaga buruh murah dari Jawa.

* * *



HARIËTTE MINGOEN, Ketua Stichting Comite Herdenking Javaanse Immigratie, dalam wawancaranya dengan Eka Tanjung, NRW, Hilversum, -- mengingatkan, bahwa pada tanggal 29 November, 2010, nanti akan diluncurkan sebuah buku lagi menyangkut orang-orang Jawa yang berimigrasi ke Suriname. Juga akan diluncurkan sebuah website dengan tujuan yang sama.



Untuk memperoleh gambaran yang agak jelas, mari kita ikuti apa yang dijelaskan oleh Panitia Penyelenggara Peringatan 120th Imigrasi Orang Jawa ke Suriname, sbb:



Orang-orang Jawa mengalami sejarah-migrasi yang kaya. Mereka berkali-kali berimigrasi ke Suriname, Indonesia, Nederland dan negeri-negeri lainnya. . Mengenai gerak-migrasi ini dan mengenai nasib orang-orang yang telah memilih berkali-kali mengubah domisili negerinya, boleh dikatakan sedikit yang diketahui orang.



Maka dengan proyek 'Cerita-cerita pengalaman hidup orang-orang Jawa dalam diaspora', KITLV bersama Stichting CHIJ bermaksud, melalui oral-history, sejarah-lisan, menyoroti gerak-migrasi dan cara bagaimana orang-orang Jawa bermukim di negeri-negeri tsb. Bagaimana mereka memperlakukan warisan budaya mereka. Cerita-cerita pengalaman hidup ini, dikumpulkan di Suriname, Indonesia dan Nederland. KITLV mengurus pencatatan cerita-cerita tsb di Suriname dan Indonesia, dengan berkerjasama dengan Perkumpulan Memperingati Imigrasi Orang-orang Jawa (VHIJ), STCHIJ dan dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). STICHJI mengumpulkan cerita-cerita yang di Nederland. Kumpulan cerita-cerita pengalaman hidup ini dipresentasikan di suatu website khusus, dan dari cerita-cerita yang terbaik akan dibukukan dan diterbitkan.



Pada tanggal 09 Agustus 2010, tepat 120th yang lalu (1890) kedatangan pertama di Suriname, kaum buruh-kontrak Jawa dari Hindia Belanda. Pada tahun bersejarah ini diterbitkan buku dan website untuk umum. Peluncuran akan dilakukan pada tanggal 29 November 2010. Demikianlah disiarkan oleh Panitia Penyelenggara Peringatan 120th Imigran Jawa ke Suriname. * * *

ORANG-ORANG BELANDA SAHABAT INDONSIA

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita

Minggu, 08 Agustus 2010

------------------------------------------



ORANG-ORANG BELANDA SAHABAT INDONSIA





* * *



Kemarin dulu, kuterima dari sahabatku Bari Muchtar, Ranesi, Hilversum, e-mail berikut ini:

,

diterbitkan 06 Agustus, 2010, oleh BARI MUCHTAR, Ranesi, Hilversum.

Dalam pesannya kepadaku mengomentari tulisanku tentang Peringatan 65th Hiroshima, Bari Muchtar menulis sbb:

Pak Ibrahim,

Mudah-mudahan senjata nuklir benar-benar disingkirkan di muka bumi. Pak Ibrahim, ini link rangkuman wawancara dengan bapak ttg orang-orang Belanda yang bersahabat dengan Indonesia.

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/orang-orang-belanda-sahabat-indonesia

Salam hormat,
Bari Muchtar

* * *

Kupikir, Ranesi telah menyiarkannya untuk pendengar Radio Hilversum, baik kiranya dipublikasikan agar pembaca dapat mengikutinya

ORANG-ORANG BELANDA SAHABAT INDONSIA

Dalam buku sejarah Indonesia ditulis, Belanda pernah menjajah Indonesia selama tiga setengah abad. Makanya wajar kalau orang masih tidak bisa melepaskan pikiran yang mengganggap orang Belanda itu penjajah.

Tapi dalam sejarah selama lebih kurang tiga abad itu ternyata banyak orang Belanda yang berani menentang penguasa penjajah. Mereka memprotes, memberontak dan membelot menjadi pro Indonesia dan malah menjadi warga negara Indonesia.

Ibrahim Isa, seorang eksil yang tinggal di Amsterdam, menyebut mereka itu orang-orang yang menjadi jembatan antara Belanda dan Indonsia atau sahabat Indonesia. Siapa saja antara lain mereka itu?

Multatuli
Pertama adalah Multatuli, seorang asisten residen di Lebak, Banten. Tokoh Belanda yang bernama asli Eduard Douwes Dekker ini mengundurkan diri jabatannya karena ia tidak setuju dengan sistem feodal saat itu. Ini dilakukannya setelah tuntutannya untuk memecat bupati tidak dikabulkan oleh pemerintah kolonial Belanda saat itu. Maklum pemerintah Belanda justru memanfaatkan sistem feodal itu untuk kepentingan penjajahan.

Kemudian pada sekitar abad keduapuluhan nama Douwes Dekker muncul tapi orangnya berbeda. Pria yang masih berhubungan darah dengan Dekker yang dijuluki Multatuli ini adalah seorang jurnalis. Bersama dengan Ki Hadjar Dewantara dan dr Mangunsutjipto, ia membentuk Indische Partij pada tahun 1911.

"Indische partij itu partai politik pertama yang mengajukan tuntutan agar bangsa-bangsa di Nederlands Indie (nama Indonesia waktu itu,red) memilik haknya untuk menentukan nasibnya sendiri, " tandas Ibrahim Isa.

Pembelot
Setelah Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 terjadi perang antara pejuang kemerdekaan Republik Indonesia melawan tentara Belanda. Menurut versi Belanda serdadu yang dikirm itu bertugas untuk memulihkan keamanan apa yang disebut aksi polisionil atau politionele actie. Tapi menurut kacamata Indonesia tentara Belanda itu jelas dikirim ke RI untuk merebut kembali negaranya yang baru merdeka.

Di Belanda saat itu banyak pemuda Belanda yang menolak ditugaskan ke Indonesia yang bagi Belanda masih saat itu masih bernama Nederlands Indie atau Hindia Belanda. Hati nurani mereka tidak mengizinkan untuk menjadi bagian dari tentara yang mau menjajah lagi.Menurut Ibrahim Isa, jumlahnya sekitar 500 orang. "Mereka akhirnya diadili dan dipenjarakan, " katanya.

Namun ada pula yang toh berangkat ke Indonesia, tapi akhirnya membelot ke pihak Indonesia. Contohnya Poncke Princen. Karena menyeberang menjadi Tentara Indonesia, maka ia dianggap penghkhianat oleh Belanda. "Tapi untuk kita, untuk bangsa Indonesia ia dianggap sebagai sahabat yang sangat dekat, "tandas Ibrahim Isa.

Princen, tambah Ibrahim Isa, menunjukkan kepeduliannya dan dedikasi kepada Indonesia dengan menjadi pejuang Hak Asasi Manusia atau HAM dan demokrasi pada jaman Orba. Akibatnya ia sempat dipenjarakan oleh rejim di bawah pimpinan Soeharto ini. "Princen diakui sebagai pejuang demokrasi dan HAM, " simpul Ibrahim Isa.

Selanjutnya Ibrahim Isa menambahkan bahwa di perpustakaan-perpustakaan Belanda banyak sekali ditemukan buku-buku tulisan bekasTentara Kerajaan Belanda. Banyak di antara mereka sebenarnya tidak tahu bahwa mereka ke Indonesia dulu ditugaskan untuk menjajah kembali. Karena yang dikatakan kepada mereka, tugas mereka adalah memulihkan kembali keamanan di Hindia Belanda. Jadi, mereka merasa ditipu.

Lalu ada seorang ilmuwan Belanda yang terang-terangan mengusulkan kepada pemerintah Belanda untuk menyerahkan Papua kepada Indonesia. Ia adalah guru besar sosiologi bernama Werthheim. Bukunya yang berjudul "The Society in transtion" menjadi bahan bacaan wajib bagi yang mau studi antropologi dan sospol Indonesia. "Di jaman Orba di Belanda ia mendirikan Komite Indonesia, untuk memperjuangkan hak-hak demokrasi bagi Indonesia " kata Ibrahim Isa.

Teman keluarga Bung Karno
Terakhir tokoh sepuh Ibrahim Isa yang masih sangat aktif membaca buku ini menyebut nama Wolf Schumacher. Insinyur yang menempuh aliran modern di bidang bangunan ini, antara lain dikenal sebagai pembangun Villa Isola dan hotel Preanger di Bandung. Menurut Ibrahim Isa pria Belanda ini mempunyai dua keistimewaan. Pertama ia masuk Islam dan kedua ia sahabat baik Bung Karno. "Mereka sama-sama arsitek, " tambah Ibrahim Isa.

Schumacher tidak aktif di bidang politik untuk menentang pemerintah penjajahan Belanda. Tapi ia sangat menentang kebijakaan diskriminasi pemerintah Belanda, yang membedakan antara pribumi atau inlander dengan orang Belanda.

Karena persahabatannya dengan keluarga Soekarno, maka keluarga presiden RI pertama ini mebeayai pemugaran kuburan Schumacher di Bandung. "Ini suatu hal yang indah sekali, " kata Ibrahim Isa.



* * *

Tuesday, August 3, 2010

PDI-P Dan AJARAN BUNG KARNO (1)

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Selasa, 03 Agustus, 2010
------------------------------------------------

PDI-P Dan AJARAN BUNG KARNO
(1)
Minggu pagi pekan lalu. Cuacanya persis seperti pagi tadi. Amsterdam cerah. Di sana-sini di angkasa biru tampak gumpalan kecil awan berserakan. Suasananya, -- Seakan-akan hendak ikut memperingati Ultah Ke-10 berdirinya “Forum Diskusi”. Setengah sebelas pagi itu, bersama Murti, kami berangkat dengan Metro. Turun di Sloterdijk. Lalu dengan tram berhenti di halte Haarlemmerweg. Di situlah, di sebuah restoran mungil (Restuarant LEI PING), tempat pertemuan “Forum Diskusi”.

'Orang-orang kita' di Belanda, yang peduli dengan perkembangan situasi tanah air tercinta, pasti tahu. Apa itu “Forum Diskusi”. Namun, baik disampaikan di sini apa yang dijelaskan oleh Sri Isni, pimpinan diskusi hari Minggu itu.

Sri Isni: – “Forum Diskusi”, adalah sebuah wadah didirikan bersama sejumlah kawan. Maksudnya supaya ada forum tempat bertukar-fikiran dan diskusi agar 'kita-kita' ini, orang-orang Indonesia, yang bermukim, atau kebetulan sedang mengikuti suatu program studi, atau bekerja di Belanda, --- tidak terpisah dari perkembangan di tanah air.

Di wadah ini pernah didiskusikan a.l tentang masalah 'sosdem', sosial-demokrasi di Indonesia dan di mancanegara. Situasi gerakan reformasi merupakan acara yang hangat dibicarakan. Krisis monoter yang belum lama melanda dunia, termasuk Indonesia, juga diangkat menjadi masalah yang diinformasikan dan didiskusikan.

Selain itu, 'Forum Diskusi' mendengarkan situasi kongkrit tanah air dari sementara aktivis gerakan demokrasi dan HAM dari Indonesia yang kebetulan sedang berkunjung di Belanda.

* * *

Minggu lalu itu, hadirin yang berjumlah kurang-lebih 40 orang memenuhi ruangan diskusi. Dengan penuh perhatian mendengarkan, kemudian memberikan komentar sekitar penjelasan menarik mengenai situasi tanah air.
Azis Burhan dari PDI-P, menyampaikan kesan-kesannya mengenai isi pokok Kongres Ke-3 PDI-P di Bali, April 2010 lalu. Yang sempat dihadirinya.
Dengan menangguhkan dulu perhatian pada soal-soal menarik dan penting lainnya yang muncul dalam pertemuan Minggu itu, -- soal-coal yang hendak difokuskan dalam tulisan ini adalah saling hubungan PDI-P, --- Kongres Ke-3, dengan masalah 'oposisi', 'koalisi, Majlis Ideologi – partai ideologi, dan last but not least, saling hubungan PDI-P dengan AJARAN BUNG KARNO.

Menngenai masalah-masalash tsb diatas, hadirin mendengar tentang kaitan masalah tsb dengan PIDATO MEGAWATI dalam Kongkres. Dianggap bahwa pidato Mega itu merupakan PIDATO TERPENTING tebanding pidato-pidato beliau di masa lalu.

Disinggung dan disorotinya sekitar isi pidato Mega tsb -- Inilah yang a.l mendorong aku mencari PIDATO MEGA DI KONGRES KE-3 PDI-P. Serta membaca dan mempelajarinya kembali. Benar kata kedua kawan penceramah hari itu. Pidato Megawati kali ini penting artinya bagi gerakan politik di Indonesia, bagi PDI-P dan bagi perkembangan perjuangan yang arahnya didasarkan atas Ajaran Bung Karno. Asal saja isi pokok dan garis politik mengenai pembangunan PDI-P dan saling hubungannya dengan AJARAN BUNG KARNO, benar-benar dilaksanakan dalam kehidupan politik selanjutnya. Maka ini merupakan tiupan angin segar dalam kehidupan politik berbangsa dan bernegara negeri kita selanjutnya.

Nanti dalam tulisan selanjutnya akan dimasuki lagi sekitar isi pidato Mega di Kongres Ke-3 PDI-P. Dan arti pentingnya.

* * *

Cornelis Lay, dari FISIP Universitas Gajah Mada, juga orang LIPI, yang kebetulan sedang mengadakan riset/penelitian dai Belanda, sempat pula memberikan penjelasan mengenai situasai tanah air dewasa ini.

Yang paling menarik (bagiku) -- adalah penjelasdan dua kawan ini mengenai hasil Kongres PDI-P.
Aku tertarik dengan salah satu tema yang disampaikan oleh Azis Burhan bersangkutan dengan Kongres Ke-3 PDI-P. Yaitu mengenai dibentuknya MAJLIS IDEOLOGI oleh Kongres. Dengan ini dimaksudkan bahwa PDI-P, tegas-tegas menggariskan bahwa Partai harus dibangun atas dasar ideologi. Jelasnya IDEOLOGI PANCASILA. Juga ditandaskan bahwa yang dimaksudkan dengan Pancasila adalah PANCASILA 1 JUNI 1945. Pancasila seperti yang dijelaskan oleh Bung Karno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945.
Dari sejarah perjuangan parpol-parpol Indonesia sejak zaman kolonial, bisa disimpulkan bahwa perjuangan politik yang serius di masa lampau dilakukan oleh partai yang berdiri dan melakukan kegiatannya atas dasar ideologi yang dianut oleh partai. Misalnya ideologi nasionalisme, Islamisme atau Marxisme. Seperti yang diuraikan dalam karya politik klasik Bung Karno: Tentang NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME. Tujuan Bung Karno menguraikan masalah ini, ialah -- agar ketiga gerakan yang didasarkan nasionalisme, Islamisme dan Marxisme itu, bersatu dalam satu perjuangan besar untuk mencapai kemerdekaan nasional, kemakmuran dan keadilan bagi rakyat kita.

Menarik juga penjelasan yang diberikan oleh kedua sahabat dari PDI-P tsb diatas mengenai pengertian OPOSISI dan KOALISI. Ini sehubungan dengan terpilihnya SBY jadi Presiden RI dalam pilpres 2009. Setelah (tampaknya) perjuangan internal yang cukup sengit, akhirnya Kongres Ke-3 PDI-P memutuskan untuk mengambil ancang-ancang sebagai partai OPOSISI mengahadapi pemerintah SBY yang baru. Sedangkan parpol lainnya seperti a.l PKS, Golkar, PKB dan PAN mengambil sikap BERKOALISI dengan SBY. Kekuatan ini tentu akan berhadapan dengan PDI-P yang bertindak serbagai parpol OPOSISI.

Secara umum dikatakan, bahwa, sistim politik kenegaraan yang baik untuk berlangsung prinsip demokrasi dewasa ini a.l ialah adanya partai-partai yang memerintah (Eksekutif) dan adanya OPOSISI. Oposisi dimaksudkan sebagai 'penyeimbang', sebagai suatu alat untuk 'mengontrol' dan pada waktunya 'mengeritik' eksekutif. Dengan demikian akan terdapat susana politik 'check and balance'.

Apa yang dijelaskan mengenai saling hubungan antara sikap suatu parpol yang mengambil sikap ber- OPOSISI, -- dengan kewajiban dari suatu partai politik a.l yang penting untuk mengontrol, mengawasi dan mengeritik eksekutif, -- sayang t i d a k diteragkan bagaimana dengan dengan adanya serta berfungsimya lembaga Dewam Perwakilan Rakyat (DPR). Yang tugas resminya dalam sistim tata negara RI sekarang a.l. sebagai badan legelstatif yang j u s t r u adalah mengontrol dan mengajukan kritik terhadap eksekutif. Selain tugsa legeslatif membuat undang-undang, mengesahkan anggaran belanja negara, dll.

Suatu kenyataan ialah di Indonesia, --- dan di banyak negara, termasuk negara yang sudah tahunan menjalankan sistim demokrasi parlementer dan presidensil, --- sistim politik kenegaraan yang digunakan adalah “TRIAS POLITICA”. Yaitu keterpisahan dan kebebasan masing-masing lembaga kenegaraan eksekutif, legeslatif dan yiudikatif. Maksudnya, ialah, agar sistim demokrasi bisa berlangsung dengan baik. Ada 'check and balance' yang baik. Namun dalam praktek, saling hubungan antara parpol, legeslatif dan eksekutif sudah berubah. Sudah tak sesuai lagi dengan prinsip yang dinyatakan dalam Trias Politica.

Dalam kenyatannya – Suatu parpol, begitu menang dalam pemilihan umum lalu menjadi eksekutif, mengendalikan pemerintahan. Begitu memegang kekuasaan, lalu lupa bahwa wakil-wakil rakyat yang duduk di parlemen itu, termasuk yang menjadi anggota parpol bersangkutan -- seharusnya, tetap memberdayakan fungsi legeslatif, DPR, sebagai suatu lembaga demoktrasi, yang tugasnya, selain membentuk pemerintah, mengesahkan anggaran belanja, mengesahkan program pemerintah atau menolaknya, --- a d a l a h MENGONTROL, MENGAWASI, MENGADAKAN 'CHECK AND BALANCE' terhadap jalannya pemerintahan. Agar eksekutif tidak menyimpang dan merugikan kepentingan rakyat dan negara secara umum. Dan bila diperlukan wakil-wakil rakyat yang duduk di badan legeslatif tsb mengeluarkan 'mosi tidak percaya' terhadap eksekutif, menjatuhkan pemerintah tsb. Atau meng - “impeach” presiden terpilih, bila ia dinilai melanggar UUD atau disebabkan kebijakan politiknya bertentangan dengan kepentingn negara dan umum, dsb. Sehingga presiden pilihan tsb bisa diganti dengan presiden hasil pemilihan berikutnya.

Di dalam praktek, suatu parpol, begitu duduk di badan eksekutif sebagai pemerintah, maka parpol tsb tidak lagi memperhatikan agar anggota-anggotanya yang duduk di DPR sebagai wakil rakyat – melakukan kontrol dan pengawasan terhadap eksekutif. Sehingga membikin DPR tidak lagi berfungsi sebagai legeslatif yang bertindak sebagai pengonrtol dan pengeritik, sebagai suatu cara 'check and balance'.

Di dalam praktek kehidupan politik, parpol yang kalah dalam pemilihan, segera memusatkan perhatian dan kegiatannya, bagaimana melacak kekurangan dan kesalahan eksekutf. Mereka beranggapan bahwa tugas mereka sebagai anggota dewan yang parpolnya kalah dalam pemilu, adalah bertindak sebagai OPOSISI. Tanpa memperdulikan apakah yang ditentangnya itu sesungguhnya menjalankan politik tertentu yang sesuai atau menguntungkan kepentingan umum dan negara. Demikianlah ber-OPOSISI menjadi urusan yang utama.

Dimaksudkan bahwa pengertian OPOSISI itu adalah demi memberlakukan penyeimbangan atau 'check and balance'. Tetapi dalam kenyataannya makna OPOSISI menjadi kabur. Selain itu menjadi sesuatu yang seakan-akan merupakan masalah prinsipil.

Situasi tsb diatas mendorong semakin melemahnya fungsi DPR sebagai badan pengontrol dan pengawas pemerintahan yang sesungguhnya. Mendorong semakin menghilangnya fungsi DPR sebagai suatu lembaga kehidupan politik yang secara transparan memainkan peranannya dalam kehidupan politik menurut sistim Trias Politica. Karena 'salah kaprah' salam praktek demokrsi parlementer, akhirnya kehidupan politik, jalannya pemerintahan, ditentukterutama dalam pertemua-pertemuan antara tokoh-tokoh pimpinan parpol-paprol. Ditentukan oleh hasil kompromi dan dagang sapi parpol-parpol yang berkuasa, atau antara yang berkuasa dengan “oposisi” --- diluar DPR.

Menjadi semakin jauh jadinya, tujuan menegakkan NEGARA HUKUM yang BERDEMOKRASI. Yang antAra lain, menjadikan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), wadah dimana rakyat, melalui wakil-wakilnya yang dipilih,. benar-benar ambil bagian dalam proses menegakkan, menentukan kebijakan dan mengontrol pekerjaan dan kegiatan eksekkutif.



* * *

Thursday, July 15, 2010

Amsterdam Menyambut 'Oranje' Sebagai PAHLAWAN Mereka.

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita

Selasa, 13 Juli 2010

-------------------------------------------


BELANDA – KALAH . . . (1-0)

SPANYOL MEREBUT PIALA EMAS . . . . . . . . .

* * *

Tapi Amsterdam Menyambut 'Oranje' Sebagai PAHLAWAN Mereka.


Pagi tadi, bersama Murti, kami pergi ke Nieuwmark. Sebuah pertokoan di pusat kota Amsterdam. Letaknya satu halte Metro sebelum Amsterdam-Central. Maksudnya menjenguk rumah putri sulung kami, Pratiwi. Rumahnya kosong, karena sekeluarga berkunjung ke Mesir. Sebelum berangkat Pratiwi mencatat alamat kantor pusat Sekretariat Tetap Organisasi Setiakawan Rakyat Afro-Asia di Caro. Itu kantor tempat kerjaku selama tahun-tahun 1960-1965. Ia juga mencatat alamat Sekolah Indonesia, Cairo, di daerah Dokki, dekat rumah kami. Maksudnya dalam kunjungannya ke Cairo itu, mungkin karena nostalgi ingin melihat bekas sekolahnya dulu. Ia juga ingin melihat kayak apa kantor bapaknya dulu di Cairo.


Dari rumah Pratiwi kami pergi belanja di supermark Tionghoa, 'Oriental', pas dekat halte Metro Nieuwmark. Di lapangan muka supermark 'Oriental', sudah dipasang layar TV raksasa. Supaya masyarakat di sekitar situ bisa menyaksikan siaran TV hari ini, 'Amsterdam Menyabut Pahlawan-pahlawannya', yaitu kesebelasan 'Oranje'.


Walikota Amsterdam, Erhard van der Laan, menyatakan sebelumnya, jika 'Oranje' menang akan disambut besar-besaran di Museum Plein. Sebelumnya diarak keliling berlayar di 'grachten' Amsterdam yang terkenal itu. Tapi kalau 'Oranje' menempati nomor dua, kalah dari Spanyol, maka 'Oranye' akan disambut masa di Museumplein. Jadi tidak ada pengaturan berkeliling dengan perahu-perahu menelusuri 'Amsterdamse grachten'.


Tapi dalam waktu 24 jam Walikota Van der Laan mengubah keputusnnya: Di pers muncul berita: 'Amsterdam is trots, dus toch de gracht in'. Artinya 'Amsterdam bangga, jadi tokh akan diatur berlayar di 'grachten'. “Amsterdam bangga dengan pemuda-pemuda dari kesebelasan Nederland. Suatu acara berlayar melalui 'grachten', itu akan memberikan kesempatan indah bagi penggemar (fans) untuk bisa melihat pahlawan-pahlawan mereka dan memberikan dukungan terhadapnya”. Demikian Walikota Amsterdam Van der Laan menjelaskan keputusan terakhir dalam rangka menyambut kesebelasan 'Oranje'.


* * *


Tak terhindarkan ada pers yang memberikan komentar sinis. Bukankah dimana saja di dunia ini selalu ada orang-orang yang sinis. Orang-orang semacam ini sok-soknya mau lucu-lucu. Tetapi tidak jarang 'kebablasan'. Jadi kelewat batas, menjadi tidak etis. Satu contoh: Bert Wagendorp dalam kolomnya di “de Volkskrant” hari ini, a.l. menulis: Kalau sih PM (dimisioner) Balkenende menyambut kesebelasan 'Oranje', itu bisa dimengertilah. Disini yang kalah – dalam hal ini Balkenende yang partainya, CDA merosot dalam pemilu Juni yang lalu – menyambut 'Oranje' yang kalah 1-0 dari Spanyol. Dan kalaulah Ratu Beatrix mengundang 'Oranye' bertamu di Istana dan berfoto bersama, itupun bisa dimengerti. Karena bukankah Sang Ratu, bertindak sebagai sang Ibu, yang ngemong anak-anaknya pulang dengan sedih hati krena kalah itu.


Demikian Bert Wagendorp.

Mana yang cocok apakah keputusan Van der Laan, menyambut besar-besaran kesebelasan 'Oranje' , ataukah Wagendorp dengan komentar sinisnya, mencemoohkan keputusan Walikota Amsterdam. Baik kita liat saja bagaimana jalannya sambutan itu.


* * *


Sungguh diluar dugaanku dan kita semua yang menyaksikan di TV bagaimana orang-orang Belanda menyambut “PAHLAWAN-PAHLAWANNYA kesebelasan ORANJE”. Kurang lebih setengah juta orang yang berkumpul di Musieumplen dan memenuhi tepi-tepi 'grachten' mengelu-elukan kesebelasan Óranje'. Banyak slogan-slogan yan berbunyi: WELKOM THUIS HELDEN. Selamat kembali pulang para pahlawan. Salah satu semboyan besar yang dipasang di Museumplein berbunyi 'GIO' (van BRONCKHORST, kapten kesebelasan 'Oranje' yang keturunan Maluku itu), 'MALUKU IS TROTS'. Maluku bangga. Demikian Giovannie Van Bronckhorst dielu-elukan massa.


Di sepanjang 'grachten' yang dilalui iring-iringan kapal 'Oranje' ribuan massa berwarna 'oranje' – mulai dari topi, T-shirt sampai ke sepatu – mengelu-elukan pahlawan mereka. Tidak ada satupun teriakan ataupun tulisan sinis, seperti komentarnya Bert Wagendorp yang mengéjék kesebelasan 'Oranje' yang kalah dalam babak final kejuaraan dunia sepakbola di Afrika Selatan.


De Telegraaf, sebuah surat kabar liberal Belanda, menulis dengan huruf-huruf besar 'Zij hebben als leeuwen gevochten '. Mereka, kesebelasan Belanda, telah berjuang bagaikan singa-singa. De Telegraaf yang sering suka nyindir dan juga sinis dalam komentar-komentarnya, kali ini tampaknya mengerti perasaan dan semangat massa orang-orang Belanda yang mencintai dan menghargai olahragawan mereka.


Maka mengertilah kita mengapa pemimpin kesebelasan nasional Belanda Bert Van Marwijk mengatakan: Kekecewaan belum sepenuhnya hilang, tetapi kami benar-benar boleh berbangga. Coba lihat massa yang mengelu-elukan, entah bagaimana jika kita pulang dengan kemenangan. Sambutan massa yang luar biasa itu telah membikin para olahragawan 'Oranje'' itu bisa tertawa lagi, begitu komentar salah satu s.k. Amsterdam.


Juga bisa difahami keterharuan pemain 'Oranye' Arjen Robben, yang menyatakan: Spanyol menjadi nomor satu --- tetapi publik Belanda adalah yang terbaik di dunia.


Di sini perasaan olahragawan Belanda itu nyambung dengan perasaan massa pencinta dan penggemarnya. Meerka tahu mereka kalah, tetapi mereka juga tahu dan yakin bahwa mereka telah berjuang demi kemulyaan negeri dan bangsanya


Walhasil -- komentar Wagendorp yang sinis itu meleset jadinya. Ia tidak mengerti perasaan dan semangat para penggemar 'Oranje' yang bangga sekali mengenai kesebelasan nasional mereka.


* * *


Boleh dibilang dinegeri mana saja di dunia ini, olahraga sepak bola sudah begitu populernya, --- 'mengglobalisai', dan 'merakyat'. Itu semua dapat dibaca, didengar dan disaksikan di media komunikasi modern sekarang. Pemberitaan dan liputan mengenai sepakbola kejuaraan dunia di Afrika Selatan, selama sebulan ini mendominasi media internasional. Bahkan jauh sebelumnya dan pasti juga tidak berhenti dengan finale Minggu malam.


Setiap malam, cakap-cakap dan diskusi Kejuaraan Sepakbola Dunia Afrika Selatan, yang diadakan di TV, yang ikut serta -- bukan saja komentator olahraga sepakbola kawakan, mantan pemain-bola kawakan seperti Johan Kruif, Ruud Gulit dan penggemar dan orang-orang biasa, tetapi juga ikut ambil bagian -- seniman dan sastrawan serta budayawan yang sesungguhnya mengenai sepak bola, itu taunya hanya dari dengar-dengar sana sini saja, . . . . bahkan politisi termasuk Perdana Menteri Belanda Balkenende-pun ikut mengomentari Kejuaraan Sepakbola Dunia Afrika Selatan.


* * *


Sesungguhnya tidak mengherankan mengapa negeri Belanda yang kecil ini, begitu keranjingan olahraga sepakbola. Sport tsb memang merupakan olahraga nasional. Keistimewaan kesebelasan nasional Belanda yang menonjol adalah bahwa kapten kesebelasan 'Oranje', Giovannie van Bronchorst adalah Belanda keturunan Indonesia-Maluku. Ini mendemonstrasikan bahwa paling tidak di bidang olahraga sepakbola, 'rasisme' anti-asing, seperti yang disuarakan oleh Geert Wilders, tidak punya pasaran samasekali.


Dewasa ini, tampaknya kejuaraan sepakbola dunia bukan semata-mata suatu 'amusemen' bagi penggemar di banyak negeri. Orang bukan saja ingin tau siapa yang menang, siapa yang kalah, kalah berapa, siapa yang main 'jentelmen' menurut aturan-main. Siapa saja yang main 'curang'. Siapa yang dapat kartu kuning, siapa dapat kartu merah dsb.


Soal bertanding sepak bola menurut aturan main atau 'curang', seorang kawan pernah mengatakan: Tau enggak? Pemain-pemain profesional itu dilatih untuk 'main curang' yang tidak mudah diketahui oleh wasit dan 'tukang kebut'. Merela dilatih bagaimana untuk 'mentackle' lawannya tanpa ketahuan. Bagaimana caranya jatuh dan tampak seperti 'diganjel' lawannya. Sehingga fihak lawan diganjar kartu kunnig atau bahkan kartu merah, dan dia sendiri boleh melakukan tendangan bebas.


* * *


Di Belanda sini begitu keranjingannya, begitu berdominasinya “Oranje gekte”, di masyarakat. Sehingga bahan pembicaraan sehar-hari di rumah, di kantor, tempat kerja, di jalan raya, di cafe-cafe tak tak lain tak bukan adalah mengenai Kejuaraan Sepakbola Dunia Afrika Selatan.


Seorang sahabat menanyakan kesana-kemari, sesungguhnya apa yang mengyebabkan mereka begitu keranjingan dengan pertandingan sepak bola dunia di Afrika Selatan. Gejala apa ini?


Banyak yang memberikan jawaban, begini: Pertandingan sepakbola yang berskala internasional, adalah manifestasi, penyaluran, katalisator dan identitas serta kebanggaan nasional. Sebagaimana halnya dengan Pesta Olahraga Sedunia Olimpiade, kesempatan ini merupakan penyaluran semangat dan jiwa patriotisme dan nasional banyak negeri dan bangsa. Kita lihat saja Olimpiade Beijing dua tahun yang lalu. Betapa pesta olahraga sedunia itu, telah menjadi demonstrasi dan pertunjukkan dunia: INILAH REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK MODERN, yang tidak kalah dengan negeri maju manapun di dunia ini.


Orang juga menyaksikan betapa pentingnya arti pesta olahraga sedunia seperti itu, ketika musuh-musuh Tiongkok mengerahkan segala sesuatu untuk mencermarkan Olimpiade Beijing dengan kegiatan dan dengan ongkos luar biasa ketika mereka meluncurkan kampanye anti-Tiongkok sekitar masalah Tibet.


* * *


Mungkin luput dari perhatian umum, bahwa juga adalah AFRIKA SELATAN yang menggondol kemenangan dari pesta olahraga Kejuaraan Dunia Sepakbola kali ini.


Afrika Selatan yang baru memerdekaan dirinya 16 tahun yang lalu dari rezim apartheid Afrika selatan dan menegakkan 'Negeri Pelangi' di Benua Hitam, menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa mereka MAMPU DAN DENGAN SUKSES menyelenggarakan salah saatu pesta olahraga dunia yang terbesar.


Dulu, begitu bica dibaca di pers mancanegara, apa yang dikenal mengenai Afrika Selatan, ialah kriminalitas yang merajalela, wabah AIDS dan ketokohan NELSON MANDELA. Sambil mengatasi masalah kriminilitas dan Aids, beberapa tahun belakangan ini mereka kerja keras untuk menyiapkan segala sesuatu untuk Kejuaraan Sepakbola Dunia 2010. Telah dibangun kereta-kereta api baru, sistim pengangkutan bis, lapangan-lapangan terbang baru. Dan yang pokok beberapa stadiun baru telah dibangun/direnovasi pula. Ribuan tamu dan jurnalis telah diatur baik pemondokannya.


Semua itu dilakukan dengan semangat dan kerja yang efisien dan tinggi.

Ketika Kejuaraan Sepakbola Sedunia dibuka sebulan lalu, segala sesuatu sudah siap.


Sehingga seorang jurnalis majalah AS 'Time', July 19, menulis dalam esaynya a.l demikian: AFRICA'S FUTURE – How staging soccer's World Cup has allowed a continent to believe in itself”. HARI DEPAN AFRIKA – Betapa penyelenggaraan Kejuaraan Sepabola Dunia, memberikan peluang pada sebuah benua – untuk percaya pada diri sendiri.


SUATU KOMENTAR YANG TIDAK MELESET!! * *

MEMPERINGATI ULTAH JUSUF ISAK

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Amsterdam, Kemis, 15 Juli 2010
-----------------------------------------

MEMPERINGATI ULTAH JUSUF ISAK

Kemarin, kubaca di Facebook, kiriman dari sahabatku sejarawan generasi muda, Wilson Obrigados . Kiriman itu adalah sebuah esay untuk memperingati HARI ULTAH JUSUF ISAK (15 Juli 1928). Jusuf Isak, adalah pemrakarsa, pendiri dan pemimpin Penerbit Buku-Buku Bermutu “HASTA MITRA”. Ia wartawan senior dan pejuang Kebebasan Menyatakan Pendapat. Ia juga mantan Sekretaris Jendral Persatuan Wartawan Asia-Afrka. Jusuf Isak adalah pemenang 'Wertheim Award 2005' bersama Goenawan Mohammad. Ia dihormati dan mendapat penghargaan internasional dengan beberapa international awards, a.l dari Perancis, Australia dan Amerika.
JUSUF ISAK yang tak pernah berhenti berjuang demi cita-cita luhurnya, meninggal dunia tahun yang lalu.
Mengenangkan Jusuf Isak dengan sebuah esay seperti yang dilakukan oleh Wilson Obrigados, adalah cara yang baik sekali untuk belajar dari keteladaan Jusuf Isak. Suatu perjalanan hidup yang hingga akhir umurnya terus berjuang demi KEBEBASAN MENYATAKAN PENDAPAT, DEMOKRASI, dan AJARAN-AJARAN BUNG KARNO..
Di bawah ini dipublikasikan esay Wilson Obrigados tsb dalam dua kali siaran.
* * *

” Selamat Ulang Tahun, Selamat Tidur Panjang” : Joesoef Isak 15 Juli 1928-15 Juli 2010.
Tanggal 14 Agustus 2009, sekitar lima kali saya menelpon rumah Joesoef Isak. Pembantu dirumah yang menerima telepon menjawab bahwa pak Joesoef sedang kontrol ke rumah sakit. Saat itu Joesoef Isak sudah beberapa bulan terakhir terkena penyakit agak berat. Tabung gas pernafasan disediakan dirumah, bersiaga bila beliau susah bernafas.

”Tolong sampaikan ke pak Joesoef bawah Wilson tadi telpon dan besok siang akan mampir kerumah.” pesan saya, setiap kali telpon diangkat.

Jumat siang, 15 Agustus 2009 saya datang menemui Joesoef Isak. Saya tak pernah menduga itulah pertemuan terakhir dengan beliau. Joesoef duduk diruang tengah sambil menonton televisi. Tabung oksigen ada disebelah kursinya. Desantara, anak bungsunya juga duduk diruang tengah. Tubuh Joesoef kelihatan lemah. Wajahnya pucat. Saya duduk dikursi disebelahnya.

”Ada apa bung, kemarin katanya berkali-kali telepon. Saya sedang keluar, kontrol ke dokter, ” ujar Joeosoef dengan suara lirih.

Kedatangan saya memang punya dua tujuan hari itu. Pertama saya menjelaskan rencana untuk membawa Sitor Situmorang bertemu dan berdiskusi dengan beliau. Pertemuan itu adalah bagian dari film dokumenter yang dibuat kawan-kawan JAVIN dalam rangka ulang tahun Sitor Situmorang yang ke-85. Saya sendiri berharap Joesoef Isak dapat memancing berbagai pemikiran dan pengalaman Sitor berkait dengan Soekarnoisme dalam berbagai kurun sejarah.

”Bung dan Sitor sama-sama Soekarnois tulen, jadi diskusi antara bung berdua tentang Soekarno akan menjadi kerangka utama dari film kawan-kawan JAVIN,” ucap saya.

Ternyata Joesoef sudah beberapa tahun tak pernah bertemu fisik secara langsung dengan Sitor. Jadi kedatangan Sitor benar-benar disambut dengan antusias. Bahkan bu Asni akan menyiapkan makan siang bersama untuk merayakan pertemuan tersebut. Pertemuan akan dilakukan hari Sabtu, 16 Austus jam 11 siang.

”Besok siang saya akan bawa Sitor Situmorang kemari bersama Dolo Rosa Sinaga”, ujar saya.

Setelah urusan pertemuan dengan Sitor selesai, saya mengeluarkan sebuah fotocopy naskah dari tas ransel saya.

”Bung saya membawa naskah yang sejak lama bung cari-cari, yaitu tentang Dewan Ekonomi (Dekon) yang menjadi stategi pembangunan yang dirumuskan oleh pemerintahan Bung Karno.” Naskah yang saya bawa adalah skripsi Amirudin anak sejarah UI.” Di belakang ada lampiran konsep Dekon. ”ujar saya sambil menunjukan fotocopy-an yang saya bawa dan saya sorongkan kepadanya.

Menurut Joesoef, selama ini Soekarno dituduh oleh para pendukung Soeharto dan orde baru bahwa ia tak punya konsep pembangunan ekonomi. Soekarno hanya memikirkan mobilisasi politik dan ideologis untuk mempersatukan bangsanya. Bahka kajian-kajian tentang Soekarno sangat jarang membahas soal konsep pembangunan ekonomi yang sedang disiapkan oleh Bung Karno menjelang akhir kekuasaan konstitusionalnya.

Joesoef memegang naskah yang saya berikan. Ia memandang sejenak, membuka-buka halaman dan berhenti di lampiran konsep Dekon di bagian belakang buku.

”Dulu saya pernah punya naskah asli konsep Dekon ini. Buku kecil berwarna biru sampulnya. Namun ketika saya kembali dari penjara, buku itu hilang. Baru sekarang ini saya melihat kembali naskahnya,” ujar Joesoef.

Menurut Joeosoef saat itu Soekarno sedang menyiapkan dua strategi besar untuk menyiapkan bangsanya agar ’berdaulat secara politik’ dan ’berdaulat secara ekonomi’ tanpa mengekor atau menjadi epigon kekuatan ekonomi politik global saat itu.

Menurut Joesoef, dalam kedaulatan politik, Soekarno mengeluarkan konsep ’Demokrasi Terpimpin”, sebagai suatu konsep untuk mempertahankan ’persatuan’ dan kedaulatan bangsanya agar tak dikoyak-koyak oleh kekuatan neokolim. Saudara kembarnya adalah ’Dewan Ekonomi’, sebuah konsep pembangunan ekonomi yang menolak jalan kapitalisme yang pro pasar bebas, tapi juga tidak mengadopsi ekonomi negara ala komunisme yang sentralis. Ini merupakan komitmen bung Karno dalam merealisasikan apa yang ia sebut dengan kemandirian dalam ekonomi.

”Bung tahu siapa yang berada dibelakang konsep penyusunan Dekon ini?, tanya Joeosef.

Saya menduga, karena saat itu bung Karno sedang menyatukan tiga kekuatan ’NASAKOM”, maka ketiga komponen pendukung politik bung Karno itulah yang merumuskannya.

”Bung keliru. Bukan orang PKI, bukan orang PNI yang membuat draft konsep Dekon ini. Tapi justru orang-orang dari PSI yang terlibat dalam perumusan draft konsepnya. Ali Wardana, yang kemudian menjadi konseptor ekonomi dalam pemerintahan orde baru adalah orang yang ditunjuk oleh Soekarno untuk memimpin proyek ini,” ujar Joesoef.

Menurut Joesoef Dekon ini bukanlah sebuah bentuk ekonomi komunis yang sentralis, tapi lebih tampak sebagai sebuah konsep ’ekonomi kerakyatan’ yang menjadi amanat dari UUD 1945 dimana aset strategis bangsa dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Bila begitu, sepertinya Dekon lebih dekat dengan gagasan ’sosio-ekonomi’ (ekonomi sosial) yang menjadi gagasan lama Soekarno. Boleh dikatakan gagasan sosio-ekonomi lebih dekat dengan gagasan-gagasan sosial demokrasi, hanya saja Soekarno menyesuaiakannya dengan kondisi ke Indonesia-an.
Joesoef lalu menyatakan ketertarikannya akan naskah skripsi Dekon tersebut dan berencana akan diterbitkan oleh Hasta Mitra.

Joesoef mengangap naskah Dekon ini sangat penting. Selama ini ada kesalah pahaman dikepala banyak orang bahwa Soekarno itu dianggap tak punya strategi ekonomi untuk pembangunan bangsanya. Dia hanya urus ideologi dan politik saja. Ini memang propaganda kotor yang sengaja dilempar untuk membedakan Soekarno dengan Soeharto. Faktanya, Soekarno juga punya konsep pembangunan ekonomi untuk bangsanya. Tapi sayang konsep pembangunan ekonomi Soekarno tak sempat dijalankan, karena dia keburu digulingkan oleh Orde Baru.

Soeharto sendiri menurut Joesoef tak punya konsep pembangunan ekonomi. Semua konsep ekonomi Orde Baru adalah cetak biru yang disiapkan oleh Bank Dunia dan IMF. ”Jadi tak heran bila kepentingan kapitalisme global menjadi majikan dalam strategi ekonomi orde baru. Sesuatu yang berkebalikan dengan konsep kemandirian ekonomi dalam strategi Dekon Bung Karno”

”Oke bung hubungi penulisnya, saya yang akan cari ongkos cetaknya. Saya sendiri yang akan buat pengantar,” ucap Joesoef bersemangat lupa akan sakitnya.

Rencana penebitan buku itu, ternyata menjadi rencana terakhir Joesoef Isak. Beliau wafat sebelum penerbitan buku ini menjadi kenyataan. Saya sendiri bertekad suatu hari nanti akan menerbitkan naskah ini. Rencana penerbitan ini saya anggap sebagai ’hutang’ yang harus dipenuhi, sebagai penghargaan kepada Joesoef Isak. Dan paling penting lagi ”agar orang tidak keliru dan secara utuh memahami bung Karno,” ujar Joesoef Isak.
* * *
Saya sendiri, tak tahu dengan persis sejak kapan kenal dengan Joesoef Isak. Seingat saya kunjungan pertama kerumah Joesoef Isak di jalan duren tiga, Kalibata Selatan adalah sekitar awal tahun 1990-an. Saat itu saya mengantar Wiji Thukul. Tenyata Wiji sudah pernah berkunjung ke sekretariat Hasta Mitra tersebut. Saya sempat ragu, apa mungkin penyair rakyat dari Solo benar-benar tahu alamat Joesoef Isak. Wiji tampaknya membaca keraguan itu.

”Rumahnya itu gampang dikenali. Ada kotak surat berbentuk rumah minang,” ucap Thukul.

Ciri rumah tersebut, setelah 20 tahun kemudian,sampai sekarang belum berubah. Kotak surat yang sepertinya tak berfungsi itu menjadi penanda untuk mengenali rumah Joesoef Isak. Joesoef memang dari keluarga minangkabau tulen. Jadi maklum bila simbol rumah gadang menghiasi pagar garasi rumahnya.

Inilah untuk pertama kali saya mendatangi kediaman Joesoef Isak. Setelah itu bila Wiji Thukul ke Jakarta, saya hampir selalu mengantarnya menemui Joesoef Isak. Dalam pertemuan biasanya saya tak banyak cakap. Paling-paling hanya memberikan majalah Progress dan beberapa penerbitan gerakan. Biasanya Wiji yang bicara. Lalu selanjutnya kami lebih banyak sebagai pendengar. Joesoef adalah seorang pencerita yang baik dan memukau.

Diakhir pertemuan Joesoef akan masuk kedalam dan mengambil beberapa buku terbitan Hasta Mitra terbaru kepada Wiji Thukul. Tak lupa ia memberi tanda tangan dihalaman muka. Saya sendiri, karena dianggap ’anak bawang’ saat itu belum mendapat jatah. Saya baru mendapat buku setelah pendirian Persatuan Rakyat Demokatik, Mei 1994. Kebetulan panitia mengirim saya untuk mengantar undangan deklarasi Persatuan Rakyat Demokratik ke rumahnya di Kalibata. Setelah menjelaskan sedikit tentang latar belakang pembentukan PRD dan siapa saja yang terlibat didalamnya Joesoef tampak bersemangat sekali dan berjanji akan datang. Ia menepati janjinya. Bahkan Joesoef memberikan pidato sambutan. Setelah itu ia masuk kedalam dan memberikan sebuah buku Hasta Mitra.

Beberapa pekerjaan bersama Joesoef juga sempat saya lakukan beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2002 Joesoef menghubungi saya untuk membantu penerjemahan dokumen pemerintah Amerika Serikat yang didalamnya juga ada banyak fakta tentang peristiwa 30 September 1965 di Indonesia. Dokumen itu adalah keluaran State Departement yang berjudul Foreign Relations of the United States 1964-1968; Volume XXVI. Dokumen ini diterbitkan oleh United States Government Printing Office, Washington 2002.

Dokumen resmi pemerintah AS ini sebetulnya membuat dokumen-dokumen resmi menyangkut perkembangan politik dan sikap pemerintah Amerika Serikat di kawasan Indonesia, Malaysia dan Filipina sepanjang tahun 1964-1968..

Mendadak pada bulan Juli 2002, pejabat di State Departement di Washington menarik kembali peredaran dokumen tersebut. Dokumen ini sempat di upload di situs National Security Archive (NSA) www.nsarchieve.org. State Departement lalu meminta NSA untuk menutup akses dokumen itu diinternet. Namun penyebaran dokumen via internet sudah tak dapat lagi dicegah. Dari situs inilah Joeosoef Isak men download dokumen ini lalu membuat printout-nya.

Dari periode 1964-1968 tersebut, peristiwa penggulingan Soekarno akibat peristiwa G 30 September 1965 menjadi perhatian penuh pemerintah AS. Maklumlah penggulingan Soekarno menjadi model bagi Amerika Serikat untuk mendukung rezim-rezim otoriter guna menjamin jalan kapitalisme global. Karena itu penarikan dokumen ini diduga untuk mengamankan relasi politik Amerika dan angkatan darat dan pemerintah Indonesia yang telah berjalan sangat dekat sejak tahun 1965.

”Dokumen ini harus segera diterjemahkan bung, Ini bukti bahwa pemerintah Amerika Serikat terkait dengan penggulingan Soekarno dan peristiwa 30 September 1965.” ujar Joesoef.

Saya sepakat seratus persen. Selama ini hanya ’analisa imajinatif’ dan teori konspirasi yang memenuhi tulisan sekitar 30 September 1965. Dokumen ini membuktikan bahwa peristiwa 1965 dan penggulingan Soekarno berkait dengan strategi politik pemerintah AS dan sekutunya Angkatan Darat pimpinan Soeharto di Indonesia.

” Saya tanggung resikonya bila Hasta Mitra nanti dapat masalah hukum dengan penerbit asli dan pemerintah Amerika Serikat nanti. Bung sanggup dalam waktu 2 bulan menyelesaikan terjemahanya kedalam bahasa Indonesia ?”

Dokumen itu cukup tebal. Ketika di cetak menjadi buku tebalnya saja menjadi 648 halaman. Saya pun menyanggupi, tapi akan membentuk tim penerjemah untuk menyelesaikan proyek penting ini secara kilat. Lalu saya menghubungi Megi, Vidi, Irvan, Asep Salmin, Mugiyanto dan Hendra untuk membantu proyek terjemahan yang harus selesai dalam waktu kilat ini. Akhirnya, terjemahan selesai sesuai jadwal dan diterbitkan oleh Hasta Mitra pada bulan Agustus 2002 dengan judul ”Dokumen CIA: Melacak Penggulingan Sukarno dan Konspirasi G30S 1965”.

Meskipun saya tak begitu puas dengan hasil terjemahan ’keroyokan’ ini, tapi tetap bangga, karena sebuah fakta tentang hubungan antara pemerintah AS dengan politik Indonesia di tahun 1964-1968 dapat dipublikasikan kepada publik. Dengan buku ini maka semakin benarlah ucapan Joesoef Isak dalam pengantar buku ini yang diberi judul ”Abad Intervensi adalah Abad Intelligence !”.

” Kecanggihan intelligence membikin orang-orang sipil dan militer yang digunakan tidak merasa digunakan, atau sebaliknya mereka memang sadar sepenuhnya digunakan, bahkan rela dan mau melayani induk-semang karena merasa sepaham dalam benak dan dalam hati. Di sini kita lihat bukan saja di bidang ekonomi dan kapitalisme berlangsung globalisme, tetapi juga di bidang ke-intel-en, intellegence”

Pekerjaan kedua yang juga secara dadakan ia berikan adalah ketika Hasta Mitra ingin menerbitkan biografi Soemarsono, tokoh dan pimpinan Peristiwa Madiun 1948 pada tahun 2008.

Menjelang bulan puasa pada bulan Agustus 2008 Joesoef Isak menelpon saya untuk datang kerumahnya bertemu dengan kawan dari Belanda katanya. Dia tak memberi tahu tujuan pertemuan itu. Kawan dari Belanda itu ternyata sorang anak muda yang diutus oleh tim penulis biografi Soemarsono untuk menerbitkan naskah itu di Indonesia. Baru saja saya duduk, sebuah fotocopy-an naskah tebal disorong kepada saya.

” Bung coba baca naskah ”Revolusi Agustus” Soemarsono ini. Dalam waktu sebulan bung saya harap bisa selesai membuat pengantarnya,” ucapnya tanpa menunggu jawaban dari saya.

Saya memang pernah mendengar soal proyek biografi ’Revolusi Agustus” Soemarsono ini, namun tak pernah terbayang sekalipun untuk memberikan pengantar. Ini bukan cuma pengantar, tapi ada beban ideologis, politik dan histiografi sekaligus didalamnya.

Saya mencoba mengelak awalnya dengan mempertanyakan pada Joeosoef ” kenapa saya ? Bukankah banyak sejarawan hebat dan terkenal di luar sana yang pastinya akan dapat memberi pengantar ?”

Satu hal lagi yang membuat saya agak ’gugup’ dengan tugas membuat pengantar ini adalah karena Soemarsono secara keras mengritik karya sejarah yang baik dari Hesri, mantan tapol Pulau Buru tentang peristiwa Madiun. Terus terang ,saya juga mengagumi karya ini. Sebuah tulisan yang ditulis dengan metode sejarah dan bahasa yang mudah dicerna. Bagaimanapun saya juga pengagum dan respek dengan karya-karya Hesri. Saya tak mau pekerjaan membuat pengantar ini menciptakan problem baru bagi saya atau menciptakan kesalahpahaman.

Joesoef memahami kegamangan tersebut.

” Itukan interprestasi Soemarsono atas buku Hesri, kamu menulis bebas dan buat juga interprestasi sendiri sebagai sejarawan, ” ujar Joesoef.

Akhirnya, saya memberanikan diri menerima tugas membuat pengantar untuk buku Revolusi Agustus.

Friday, July 9, 2010

FOCUS ON MUHAMMADIYAH

IBRAHIM ISAS – FOCUS ON MUHAMMADIYAH
Friday, July 9th, 2010
----------------------------------------------------------------------------
Muhammadiyah’s century
The Jakarta Post | Tue, 07/06/2010 - Editorial
There are few organizations like it. A sociocultural mass base numbering in the millions. A force of societal stability. A catalyst for cultural change. Indonesia is blessed by the presence of two such mainstream groupings: Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah.
In its centennial year, Muhammadiyah is undertaking its congress to elect its next chairman and ultimately shape the direction of the organization. With a network of schools, universities, hospitals and various institutions under its aegis, few organizations are as well placed and equipped to help determine the direction of this nation.
Since it was formed by Ahmad Dahlan in 1912 in Yogyakarta, Muhammadiyah has been founded on the pillars of reason and progressive change. Rejecting the traditonalist dogmatic approach, it instead advocated for rational reasoning and interpretation, or ijtihad, within its community.
For a lack of a better word, it was already “secular” even before the birth of the state or conservative ulemas decided that secularism was taboo.
From this ideological underpinning, most Indonesian Muslims can be considered Muhammadiyah-ist in their thinking — to be reasoned and utilize common sense in the practice of religion rather than blindly importing Arabism as the basis of practicing their religiosity.
Under the chairmanship of Din Syamsuddin, Muhammadiyah has retained its basic virtues which have allowed its leading figures to become contributing members of the greater society.  The moderate stance of Muhammadiyah has been a bulwark against growing conservatism and those who would corrupt the religion of peace for a personal agenda of intolerance and violence. Greater assertiveness is expected of the organization in this cause.
We are hopeful that Muhammadiyah members once again employ their common sense by electing a chairman, Din or anyone else, who reflects the nationalistic pluralistic values that embody this nation.
To do otherwise would represent a threat to the fine balance of diversity which enriches the world’s greatest archipelago.
Muhammadiyah’s new century presents greater challenges and responsibilities. As Indonesia embarks on an open political system, institutions like Muhammadiyah are a linchpin in the fight against dogma. Voices of unreason will triumph and its caustic message accepted as conventional wisdom if the likes of Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama refuse to challenge them.
We further urge that Muhammadiyah continue its independent stance without bowing to the temptations of being prostrate to the status quo. A position pledged by Din when he opened the congress over the weekend.
In a time when coalitions are formed for the sake of political profit, Muhammadiyah should underline its role as a loyal critic of the government, whoever is in power. A counterweight on the side of the people while at the same time rejecting the temptations of delving into the formal practical political arena.
It is an appeal as beguiling as the menace of Muhammadiyah being infiltrated by those who would seek to exploit it for political ends. But with 100 years of common sense and the wisdom of thousands of learned Muhammadiyah graduates, there should be no reason that it cannot overcome these challenges.
The past century has been an era of teaching and educating. The coming century should be one in which Muhammadiyah raises itself as a pulpit of enlightenment.
Congress promotes ‘need for tolerance’
Slamet Susanto, The Jakarta Post, Yogyakarta | Fri, 07/09/2010
Muhammadiyah, the country’s largest modernist Muslim organization, must develop programs to promote pluralism and religious tolerance, agreed participants Wednesday on the penultimate day of the group’s 46th congress in Yogyakarta.
The congress’ Commission E said it saw a need to promote interfaith cooperation, mutual tolerance and acceptance among different community groups to help create positive social conditions.
“Muhammadiyah supports and promotes pluralism — but we reject pluralism that leads to syncretism and says that all religions are the same,” said recently-re-elected Muhammadiyah Chairman Din Syamsuddin.
As part of the community, people must recognize the existence of other religions and be aware that there is some truth in every religion, he said.
However, people must also remember that all religions do not share the same truths, he added.
“We must recognize diversity in religion and have mutual respect for each other and be tolerant.
However judgments on truth should be made in accordance with an individual’s faith,” he said.
“Lakum diinukum waliyadiin,” he added, referring to a verse from the Koran that is translated as: “To you, your religion, and to me, mine”.
Muslims must be oriented towards the future to meet the challenges of the current age of technological development and Islam must be developed with “deep insight” to adapt to future developments,
he said.
Substantial understanding about Islam must be developed to prevent the religion from becoming a commodity and to stop the destruction of Islam’s meaning and substance, Din added.
Muhammadiyah has been a pioneer and actively involved in creating dialogues between nations and civilizations to promote peace on earth.
Development over time and between civilizations have increased frictions that could lead to the birth of conflict, he said.
“Cooperation and dialogue are needed to minimize the effects of friction between civilizations. Muhammadiyah will actively take part in it,” Din added.
Din said that Muhammadiyah has been actively involved in the resolution of the southern Philippines conflict, together with the UK, Japan and Turkey and other social organizations.
Din added that Muhammadiyah has also been actively consulting with the United Nations on frictions between civilizations to help improve awareness of the importance of dialogue between civilizations.
“We will gather world religious figures, businesspeople and scientists to meet at the World Peace Forum, our third [forum],” he said.
The congress recommended the use of an “inverted evidence” scheme as the most effective way to fight the country’s rampant corruption.
It also recommended reform to make legal institutions independent to help the fight against corruption and other social diseases.
Finally, the congress recommended the establishment of an economic institution to help empower economically challenged people and development of the nation’s religious character.
Muhammadiyah aims to usher in ‘cosmopolitan’ Islam
Sri Wahyuni, The Jakarta Post, Yogyakarta | Wed, 07/07/2010
Entering its second century of existence according to the Islamic calendar, Muhammadiyah vowed to promote what it called a “cosmopolitan” Islam that would open up dialog and build bridges between civilizations.
The pledge was conveyed by Muhammadiyah Vice Chairman Haedar Nashir on Monday evening as he was presenting the organization’s centennial manifesto in front of participants of Muhammadiyah and its women’s group, Aisyiyah.
“Muhammadiyah conveys an Islam that says no to conflicts between civilizations, an Islam that fosters cooperation, dialog. A cosmopolitan Islam is a golden bridge for a dialog between the East and the West,” Haedar said.
The pledge came amid growing anti-Islam sentiment in some countries in Europe, where Islam is portrayed as being incompatible with Western and democratic values.
Muhammadiyah, the country’s second-largest Muslim organization, has over the past years been working to ease tension between Islam and the secular West.
However, theses efforts have recently been criticized as ineffectual, with many traditionalist Muslims still perceiving the West as hostile to Islam.
The centennial manifesto is Muhammadiyah’s beacon that will guide its future programs and actions, Haedar said.
“Suppose we are walking, we need a direction, a road to walk in and idealism or thoughts to hold to so that we will not just walk without purpose,” he said.
The five-point statement, he added, included a statement of gratefulness to God for allowing Muhammadiyah to survive long enough to enter a second century.
It also reflects on what the organization has achieved for the community, the nation and the humanity over the past 100 Islamic years.
Since it was established in 1912, he said, Muhammadiyah has made breakthroughs and reforms in the fields of religion, modern education and had been instrumental in developing social infrastructure, including by building educational institutions and hospitals.
“Entering the second century, we have become a success story,” he said adding that the statement also identified major problems faced by the nation and state.
“All the problems are described to lead to a commitment that in entering this second century, Insya Allah [God willing], we will continue to work without tiredness to enlighten the community, the nation and the world,” he said.
Muhammadiyah also says in the statement that it understands Islam is not just a set of commands and
restrictions but also as a guide for life. “Therefore in the eyes of Muhammadiyah, Islam is a way of life,” he said.
Based on this notion, he continued, Muhammadiyah’s take on Islam was of a progressive Islam that would give birth to Islam as a religion of civilization.
In terms of nationhood and humanity, the statement renews Muhammadiyah’s commitment to the country not just because of nationalism but because of its religious belief.
As such, nationalism is neither a passive nor dogmatic doctrine but must be manifested into love for the country that will transform Indonesia into a developed, prosperous, sovereign and just country.
Through the statement, Muhammadiyah also renewed its pledge to bring enlightenment to society and the nation by practicing the teachings of Islam that are liberating, empowering and developing.
“This must be reflected in the agenda of programs and actions of Muhammadiyah, whose main character is a movement of enlightenment,” he said.

Editorial: Muhammadiyah at Critical Crossroads
Indonesia’s second-largest Muslim organization, Muhammadiyah, has long been a bastion of moderate Islam in this country. Its 30 million members hail from the urban middle class and support many of the organization’s social and educational programs.

Its forward-looking, progressive stance has been at the forefront of improving the lives of its members. Not only does the organization run schools, it has a university with campuses in more than 20 cities.

Acknowledging the role of women in modern society, the socio-religious organization has also established a women’s wing.

In fact, it recently endorsed a decision to allow female motorcyclists to ferry delegates at its congress in Yogyakarta, thus rejecting an earlier fatwa by clerics banning women from riding motorcycles.

As such, Muhammadiyah has always kept pace with the changes in societal norms and has adopted a pragmatic approach to religion.

But as it approaches the end of its first century since being formed in 1912, Muhammadiyah is at a crossroads.

The organization, which has played such a central role in educating and improving the social as well as economic lives of its members, must now decide whether it will stay in politics or refocus its resources on its grassroots work.

This is not an easy decision. The social organization entered the political realm after the 1998 political crisis as many of its members felt that it could achieve much more through the National Mandate Party.

Although PAN is not officially linked to Muhammadiyah, many of its members are sourced from the organization.

All 39 candidates running for Muhammadiyah’s top post have pledged that they will quit politics if elected, thus ensuring that the organization will cut all links to PAN even if those links are superfluous.

By returning to its original mandate, Muhammadiyah can do much more for its members and concentrate on countering the rising threat of radical Islam in the country.

This must be one of the top priorities of the new leadership. Given its reach and the scope of its social activities, Muhammadiyah is well placed to help guide its members in the right direction.

Groups such as Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama, the nation’s largest Muslim organization, have a critical role to play in denouncing violence, even if committed by Muslims.

Both NU and Muhammadiyah have also warned against the imposition of Shariah-based laws, noting that these could lead to the disintegration of Indonesia as a pluralistic society.

Such statements are critical if we are to avoid the kinds of religious and ethnic conflict that seem to affect various parts of the country.

Muhammadiyah has been instrumental in promoting inter-faith tolerance and understanding in the country. It must continue to play this crucial role to ensure that the country’s social fabric remains strong and intact.

* * *