Tuesday, March 22, 2011

“BOEKENWEEK 2011” Dan Penulis KADER ABDOLAH

Kolom IBRAHIM ISA

Selasa, 22 Maret 2011

-----------------------------


BOEKENWEEK 2011” Di Holland Dan Penulis KADER ABDOLAH


* * *

Apakah itu di kereta-api, di metro, tram ataupun bus – terutama di kereta api. Biasanya waktu yang ditempuh dengan kereta-api, dimanfatkan penumpang untuk membaca. Paling tidak membaca satu berita penting, artikel pendek, – bahkan membuka laptopnya untuk membaca bahan penting, atau (yaaa !?>, untuk bekerja. Atau menekuni bahan-studi. Selama perjalanan dengan k.a., kecuali beberapa orang saja, penumpang-penumpang itu bukan ngobrol lewt HP-nya, atau 'tenguk-tenguk' sambil menguap.


Umum sekali. Mereka membaca, membaca, dan membaca. Langsung maupun membaca yang di HP (tilpun genggam) yang sudah begitu canggih, sehingga bisa internet, kirim email dan motret segala.


Membaca sudah menjadi kebiasaan dan hobi. Sudah menjadi kultur orang-orang di Belanda. Seperti halnya di banyak negeri di Eropah, Amerika, Jepang dan banyak negeri lainnya.


* * *


Maka suka membaca itu, dipupuk, dipromosi lebih lanjut. Dan sudah lama kebiasaan ini dilembagakan. Untuk menunjang hobi dan kultur membaca, a.l di Amsterdam, misalnya, entah berapa banyak jumlah perpustakaan umum yang didirikan. Hampir di setiap kecamatan ada perpustakaan umum. Begitu juga di propinsi-propinsi lainnya di Belanda. Belum lagi perpustakaan yang dikelola oleh perguruan-perguruan tinggi dan lembaga ilmiah.


Di Oosterdoksstraat 110, pusat kota Amsterdam, --- Kira-kira10 menit jalan kaki dari stasiun Amsterdam CS, di situ belum lama dibangun sebuah perpustakaan umum OBA, Openbare Bibliotheek Amsterdam, setinggi 7 tingkat. Perpustakaan Umum ini dibuka pada tanggal 07 Juli 2007. Merupakan perpustakaan umum terbesar dan termegah di seluruh Belanda. OBA dibuka dari jam 10.00 pagi sampai jam 10.00 malam. Hanya pada tahun baru saja ditutup. Sejak berdirinya setahun tidak kurang dari 1,8 juta pengunjungnya. Setiap harinya sampai 5.000 orang, tua-muda dan besar-kecil datang ke situ. Paling atas terdapat café-restoran. Kalau mau, awak bisa seharian suntuk di situ. Bagi yang datang dengan sepeda , terdapat 2.000 tempat menaruh sepeda yang dijaga. Mau apa lagi?


Pengunjung, termasuk bukan anggota, bisa menggunakan internet g r a t i s . Paling tidak ada 110 computer unuk mengakses catalog digital perpustakaan. Lebih dari itu terdapat 490 computer yang bisa digunakan pengunjung untuk internet, meng-'gugel' dan 'men-twitter'.



Sungguh suatu pelayanan umum yang tak terbayangkan bagi seseorang (yg kurang mampuj) yang haus ilmu dan pengetahuan? Suatu pelayanan masyarakat yang bagus, untuk meningkatkan taraf pengetahuan dan horizon pandangan seseorang yang mau memperluas dan memperdalam pengetahuannya.



* * *



Tibalah cerita kali ini pada fenomena “BOEKENWEEK” – Pekan Buku di Belanda. Bisa dikatakan adalah suatu usaha untuk melembagakan kultur membaca masyarakat. “Boekenweek 2011”, adalah pekan buku yang ke-76. Karena diadakan setiap tahun, maka paling sedikit Boekenweek Nederland sudah berlangsung 76 kali, atau 76 tahun.



Sudah menjadi tradisi pada setiap Boekenweek Belanda ditentukan suatu tema. Selanjutnya diterbitkan yang disebut 'Boekenweekgeschenk', Hadiah Pekan Buku. Kali ini Boekenweek menyoroti, mengangkat dan memberi penghargaan pada tema riwayat-hidup. Dengan motto “Curriculum Vitae – Potret Tertulis”, Boekenweek mengangkat cerita oto-biografi, catatan harian dan dokumen-dokumen lainnya. Hadiah atau 'boekengeschenk' tsb adalah kado dari pepustakaan umum.



Seorang penulis asal Iran, yang sekarang telah menjadi penulis Belanda, namanya KADER ABDOLAH (lahir di Teheran 1956), diminta untuk menulis dalam rangka Boekenweek. Tulisannya itu menjadi “Boekenweekgeschenk”, hadiah Pekan Buku.

Boekenweekgeschenk' yang ditulis oleh Kader Abdolah, adalah sebuah novelette berjudul “De Kraai”, -- “Gagak”. Untuk memenuhi keperluan masyarakat telah dicetak sebanyak 951.000 eksemplar novelette “De Kraai”.

Buku novelette pertama itu diserahkan kepada Kader Abdolah pada suatu acara pembukaan Boekenweek, 16 Maret 2011, oleh mantan PM Belanda, Ruud Lubbers. Mengapa khusus Ruud Lubers menyampaikannya. Hematku disebabkan oleh beberapa hal. Dikemukakan bahwa buku yang ditulis Kader Abdolah untuk “Boekenweekgeschenk”, adalah cerita mengenai “VLUCHTELING”, pengungsi. “De Kraai”, bercerita mengenai seorang 'vluchteling' , pengungsi, yang menyelamatkan diri dari rezim Ayatollah Khomeini. Kemudian bermukim di Belanda. Seluruh novelette menceriterakan saling hubungan dua kultur: Persia (Iran) dan Belanda. Sang 'vluchteling' sebelumnya ambil bagian aktif dalam perjuangan rakyat Iran menumbangkan rezim Syah Pavlevi.



Sebab lainnya, kiranya, karena penulisnya sendiri, Kader Abdollah adalah seorang eksil, pengungsi. Mantan PM Belanda Ruud Lubbers adalah mantan Komisaris Pengungsi dari organisasi PBB. Semuanya nyambung, begitulah kira-kira fikiran para penuyelenggara Boekenweek , mengapa khusus mantan PM Ruud Lubbers yang diminta menyampaikan buku pertama novelette “De Kraai”, kepada Kader Abdollah.



Kader Abdollah sudah menjadi penulis Belanda, namun fikiran dan hatinya tak lepas dari tanah air dan bangsa serta kebudayaan Iran yang amat dicintainya. Bagi yang biasa baca buku-buku Belanda pasti kenal nama itu. Sebab Kader Abdollah telah menulis tidak kurang dari 15 buku, termasuk best-sellernya 'Het Huis van De Moskee' (2005) dan satu set buku luar biasa, yaitu “De Koran” (2008) yang merupakan sebuah terjemahan atau lebih tepat pamahaman penterjemah mengenai Al Qur'an, dan “De Boodsschapper” (2008), 'Nabi'.



Sangat menarik bahwa satu set buku yang ditulis oleh Kader Abdollah menyangkut buku suci Islam dan Nabi Muhammad. Sepasang buku-buku itu ditulisnya khusus untuk pembaca Belanda, karena Kader menganggap bahwa orang-orang Belanda sebetulnya tidak mengerti betul Islam itu yang seperti apa. Yang sering mereka dengar adalah fitnahan Geert Wilders dan kaum ekstrim kanan Eropah, mengenai segi-segi negatif Islam. Ternyata masyarakat Belanda amat menghargai motif dan usaha Kader Abdollah. Untuk bukunya 'Het Huis van de Moskee”, karya sastra Kader tsb oleh suatu pemilihan lewat internet dinyatakan sebagai roman Nederland terbaik di segala waktu, setelah karya novel Harry Mulisch, “De Ontdekking van De Hemel”.



Sepengetgahuanku, dewasa ini, Kader Abdollah adalah manusia pengungsi yang amat langka. Adalah satu-satunya yang sebagai 'alochtoon', orang bukan asli, sebagai seorang eksil yang dengan sukses mengintegrasikan diri. Dalam jangka waktu lima tahun belajar bahasa Belanda, ia berhasil menulis novelnya dalam bahasa Belanda. Aku tak pernah mendengar ada orang seperti itu. Kader Abdollah menyadari bahwa sebagai penulis ia harus tetap setiap pada profesinya dalam kehidupannya di manapun. Dan sebagai seorang eksil yang bertekad beritegrasi dengan masyarakat dan kultur Belanda, ia harus belajar dan belajar – membaca dan membaca literatur Belanda. Memahami dan mengkhayati kebudayaan Belanda.



Dikatakan Kader Abdollah berhasil dalam mengintegrasikan dirinya sebagai wqarganegara Belanda. Kader tidak sekadar memiliki paspor Belanda. Lebih penting lagi ia memahami dan mampu mengkhayati kekayaan literatur dan kultur Belanda. Halmana amat tidak mudah baginya, karena sebelumnya ia tidak pernah mengenal negeri dan orang Belanda.



Yang lebih penting lagi ialah bahwa KESUKSESAN BERINTEGRASI itu justru karena Kader Abdollah tidak meninggalkan akarnya. Ia tetap seorang asal Iran, yang mencintai bangsa dan negerinya Iran. Ia tetap peduli pada asalnya dan mempertahankan identitasnya sebagai orang Iran yang berkebudayaan Persia.



* * *



Menghargai kesuksesannyua sebagai penulis Belanda, Universitas Groningen telah menganugerahkannya gelar kehormatan, gelar DOCTOR HONORIS CAUSA (H.C.), pada tahun 2009 y.l. Ketika novelnya Het Huis van De Moskee keluar edisi Perancisnya, Kader Abdollah memperoleh gelar “Chevalier dans l'Ordre des arts et des lettres”, dari Perancis. Kader memperoleh banyak award untuk karya-karyanya yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, dan banyak diantaranya sudah diterjemahkan kedalam 21 bahasa asing lainnya



* * *



Ini adalah sekelumit cerita untuk memperkenalkan sekitar 'Boekenweek 2011” di Belanda, dan penulis Iran Kader Abdollah yang sudah menjadi penulis Belanda, dengan tetap mempertahankan identitasnya sebagai seorang sastrawan asal Iran yang mencintai negeri dan bangsanya.

Masih ada yang interesan yang bisa diceriterakan sekitar KADER ABDOLAH. Barangkali untuk lain waktu.



* * *



Tuesday, March 15, 2011

TSUNAMI Dan SAHABAT-SAHABAT JEPANG

Kolom IBRAHIM ISA

Selasa, 15 Maret 2011

-------------------------------


TSUNAMI DI SENDAI, Radiasi Nuklir Di FUKUSHIMA Dan SAHABAT-SAHABAT JEPANG


Beberapa hari sudah berlalu. Sejak Jum'at pekan lalu, ketika musibah TSUNAMI melanda Sendai, sebuah kota di Timur Laut Jepang. Bencana alam itu telah menhancur-luluhkan dan menyedot ke lautan apapun yang terdapat di daratan. Hingga hari ini media mancanegara, radio dan TV, surat kabar dan majalah tak henti-hentinya memberitakan tentang korban manusia yang jatuh dan kerusakan besar yang diakibatkan oleh Tsunami Sendai. Belum lagi musibah tsb teratasi, -- penduduk dihadapkan pada bahaya radiasi disebabkan dua kali ledakan dalam tiga hari yang terjadi pada reaktor nuklir Fukushima Daiichi.


Begitu dahsyatnya tsunami Sendai (9.0 menurut Skala Richter), sampai-sampai Papua Indonesia, yang ribuan kilometer letaknya dari epicentrum tsunami Sendai, juga kena dampaknya. Di tiga kecamatan di Papua, yakni di Muara Tami, Abepura dan Jayapura selatan, 67 rumah penduduk rusak dan seorang penduduk tewas.


KRISIS TERBURUK SEJAK PULUHAN TAHUN

Perdana Menteri Jepang Kan, menyatakan, bahwa situasi saat ini dengan gempa bumi, tsunami, dan reaktor nuklir pada dasarnya merupakan krisis yang terburuk dalam waktu 65 tahun belakangan ini, sejak Perang Dunia II. Dikatakannya bahwa situasi di reaktor Fukushima tetap memprihatinkan.


Setiap hati-nurani insan normal di permukaan planit ini, tak-bisa-tidak merasakan dan mengkhayati penderitaan dan kesedihan penduduk Sendai dan sekitar serta seluruh rakyat Jepang menghadapi musibah bencana alam terbesar yang dialami Jepang selama puluhan tahun. Rakyat Indonesia yang belum lama dilanda musibah bencana alam tsunami di Aceh dan berkali-kali gempa bumi serta abu panas serta lahar gunung berapi, lebih-lebih lagi merasa simpati dengan penderitaan rakyat Jepang.


Oleh karena itu amat sulit di mengerti 'Berita Harian', sebuah s.k,. di Malaysia menjadikan penderitaan rakyat Jepang sebagai bahan 'lelucon'. Dibuatlah karikatur 'robot Jepang' yang lari tunggang-langgang dikejar 'tsunami'. Syukur, di Malaysia masih terdapat sikap dan pandangan ´mainstream´ yang normal. Sehingga karikatur 'Berita Harian' tsb diprotes keras pelbagai kalangan Malaysia. Dinyatakan bahwa karikatur olok-olok tsb menunjukkan tidak sensitifnya media terhadap penderitaan rakyat Jepang. Kemudian s.k. ´Harian Berita ´ menyatakaan permintaan maaf. Untunglah masih ada semangat 'mawas diri'. Itupun setelah cukup luas kalangan yang menggugat 'Berita Harian'. Yah, “ The damage has been done”.


* * *


Bencana alam sedahsyat Sendasi dan Fukushima hendaknya menjadi pelajaran bagi pemerintah Jepang dan negeri-negeri yang sering terlanda bencana alam, seperti Indonesia, Filipina dan Tiongkok. Agar menyimpulkan pengalaman selama ini, supaya mampu memberikan 'early warning', mempersiapkan penduduk dan warga sehingga membatasi korban yang di derita. Serta secepat mungkin memberikan bantuan yang sangat gawat diperlukan penduduk yang menderita.


* * *


SAHABAT-SAHABAT JEPANG

Bukan sesuatu yang kebetulan aku menaruh perhatian pada Jepang. Teringat musim panas tahun 1960, ketika brsama Eddy Abdurrakhman Martalegawa, anggota DPR, Supriyo, wartawan Antara dan seorang anggota DPR dari golongan nasionalis (lupa namanya) mengunjungi Jepang. Kami menghadiri Konferensi Internasional Anti-Bom A dan Bom H, di Tokyo dan kemudian berkunjung ke Hiroshima dan Nagasaki, kota-kota yang dibom Atom oleh Amerika Serikat.


Seorang warganegara Jepang, peserta konferensi, -- mantan serdadu Balatentara Dai Nippon yang menduduki Indonesia, --- tiba-tiba menghampiri aku setelah aku mengucapkan pidato. Dengan air-mata berlinang-linang ia menyatakan peneyesalannya di hadapanku dan teman-teman lainnya peserta Konferensi. Ia malu dan menyesal atas penderitaan dan korban yang ditimbulkan oleh tentara Jepang selama pendudukan Jepang atas Indonesia.


Aku betul terharu! Kupeluk mantan tentara Jepang itu. Kunyatakan bahwa penderitaan rakyat Indonesia oleh tentara pendudukan Jepang, adalah akibat politik agresi pemerintah militeris Jepang. Yang ketika itu, bersaing dengan Amerika Serikat dan Inggris memperrebutkan sumber bahan bakar di Asia. Aku terharu karena bekas serdadu Jepang itu, ternyata telah tiba pada kesadaran nurani manusiawi seperti itu. Ternyata sikap manusiawi seperti dia itu tidak terbatas pada satu orang Jepang saja.


Pada tahun enampuluhan aku memperoleh dua orang teman 'baru' orang Jepang. Jelas, mereka itu adalah orang-orang sosialis-progresif. Mereka itu adalah wakil-wakil Jepang (Masao dan Yoko Kitazawa) di Sekretariat Tetap Organisasi Setiakawan Asia-Afrika di Cairo (AAPSO), Mesir. Dua orang sahabat Jepang ini juga tidak sekali-dua kali menyatakan amarahnya dan juga penyesalannya atas politik penguasa militeris Jepang ketika itu yang mencetuskan Perang Pasifik dan menduduki Indonesia. Suatu tindakan perang agresi oleh Jepang yang mengakibatkan korban jiwa dan materi begitu besar pada rakyat Indonesia dan Asia, kata Masao. Bersama wakil-wakil dari Aljazair, Tanzania, Cameroun, Guinea, Tiongkok, Vietnam Selatan (Front Pembebasan Vietsel), kami selalu kerjasama dan berkordinasi dalam rangka pelbagai kegiatan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme ketika itu (1960-1965).


Di Beijing, RRT, kami juga kenal seorang yang berasal dari kaum ningrat Jepang. Namanya Saiyonji. Ia bekerja keras bertaqhun/tahun lamanya mempromosi hubungan kebudayaan, ekonomi dan persahabatan antara rakyat Tiongkok dan Jepang. Ketika itu Tiongkok masih belum ada hubungan diplomatik dengan Jepang. Perang Dingin masih merajalela dan Tiongkok masih diblokir menduduki tempat sahnya di PBB. Karena AS dan sekutunya tetap mempertahankan wakil Kuomintang Taiwan menduduki kursi Tiongkok di PBB.


* * *


Akhir tahun lalu seorang sahabat dari Radio Nederland, menginformasikan bahwa di Belanda ada suatu organisasi kemanusiaan bernama Dialoog Nederland-Japan. Kegiatan mereka yang utama adalah mengusahakan rekonsiliasi antara Belanda dan Jepang. Kaitannya dengan korban di kalangan orang-orang Belanda penghuni kamp-kamp interniran Jepang di Indonesia dan tempat lain. Aku menyatakan bersedia kontak dengan mereka.


Prof Muraoko, ketua Studigroep Dialoog Nederland-Japan ketika itu, mengundang aku sebagai orang Indonesia yang mengalami pendudukan Jepang untuk ambil bagian dalam Konferensi tahunan mereka. Ikut memberikan masukan dalam konferensi tsb yang diadakan dalam bulan Oktober tahun lalu. Lihat sumbanganku di Blogspot. .


Sejak itu aku diminta untuk duduk di dalam pengurus organisasi mereka. Ketua Dialoog yang baru adalah Hans Lindeijer (Belanda). Anggota pimpinan lainnya adalah Fumi Hoshino, Anton Stephan (Belanda), Hideko, Yukari Tangena Suzuki dan seorang lagi.


Disitulah aku mendapat sahabat-sahabat Jepang yang baru lagi. Semuanya melakukan kegiatan sepenuh hati demi tercapainya pengertian mengenai masa lampau dan melihat ke depan untuk rekonsiliasi.


* * *


Maka ketika hari Jumat pekan lalu musibah tsunami dan gempa melanda Sendai, Fukushima dan Tokyo, fikiranku terus tertuju pada sahabat-sahabat Jepang itu. Apakah keluarga mereka yang di Jepang ada yang terkena musibah. Dengan sendirinya timbul rasa prihatin dan simpati pada sahabat- sahabat Jepang itu.


Sebuah email dengan ucapan prihatin dan simpati kukirimkan kepada sahabat-sahabat Jepang itu. Mereka segera memberikan reaksi tanggapan tanda haru dan terima kasih disampaikannya rasa simpati dengan penderitaan rakyat Jepang. Terasa hubungan persahabatan dan saling mengerti dengan sahabat-sahabat Jepang itu semakin mendalam.


Demikianlah.


Terjadinya suatu bencana alam di Jepang, akhirnya telah meningkatkan saling pengertian dengan teman-teman baru dari Jepang.


Situasi seperti ini:

Bertemu dan bersahabat dengan orang-orang Jepang dan Belanda yang melakukan kegiatan kemanusiaan demi rekonsiliasi antar-bangsa, kemudian menjadi sahabat baik mereka di negeri Belanda ---- Adalah suatu kejadian yang tak pernah terbayangkan dalam benakku. Mengingat bahwa sebgai orang Indonesia, aku pernah hidup di bawah kekuasaan militer Jepang. Kemudian ambil bagian dalam perlawanan terhadap Belanda.


Namun, akhirnya bisa bertemu dalam suasana kemanusiaan dan saling mengerti.

Alangkah indahnya pertemuan dan persahabatan ini. * * *



Friday, March 11, 2011

IN MEMORIAM UMI SARDJONO

Ibrahim Isa
Jum'at, 11 Maret 2011
---------------------------


IN MEMORIAM UMI SARDJONO

Umi Sardjono (84 th) meninggal dunia pada tanggal 11 Maret 2011 dinihari. Berita sedih ini diterima oleh teman seperjuangan, handai dan taulan, para aktivis demi kemanusiaan dan keadilan, --- dengan terkejut serta perasaan kehilangan besar.

Hati kita penuh solidaritas dan simpati dengan segenap keluarga Uni Sardjono yang ditinggalkan. Semoga arwah Umi Sardjono diterima Tuhan SWT di sisi beliau.

* * *

Kita mengenal nama-nama aktivis dan pejuang kemerdekaan serta hak-hak wanita, demokrasi dan keadilan, --- seperti Salawati Daud <>.

Umi Sardjono telah tiada, namun kenangan mengenai jalan-hidup yang ditempuhnya, akan selalu menginspirasi kaum wanita Indonesia dalam perjuangan untuk hak-sama dengan laki-laki, demokrasi dan keadilan bagi kaum wanita dan rakyat Indonesia.

* * *





Thursday, March 10, 2011

KASUS "SUPERSEMAR" -- BAB PALING KRUSIAL DALAM SEJARAH INDONESIA BERNEGARA

Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 10 Maret 2011
-----------------------------

KASUS "SUPERSEMAR" -- BAB PALING KRUSIAL DALAM SEJARAH INDONESIA BERNEGARA

* * *


SEBELAS MARET 2011.Sudah 45 tahun berlalu "Surat Perintah Sebelas Maret", populer disebut "SUPERSEMAR" -- menjadi dokumen
dalam sejarah negara Republik Indonesia. Dokumen negara ini lain dari pada yang lain. Ada yang menyebutnya 'unik'. Ada yang menyebutnya 'misterius'. Ada yang menyebutnya, suatu taktik paling strategis dan canggih dalam proses 'kudeta merangkak Jendral Suharto'. Boleh saja disebut bagaimana, tetapi dokumen ini adalah awal dari suatu pergolakan fundamental perkembangan Indonesia bernegara (hukum). Mempelajari kembali situasi ketika Presiden Sukarno masih Presiden RI, tetapi, hakekatnya kekuasaan sudah ada di tangan Jendral Suharto, --- jelas nyata bahwa sejak lahirnya, dokumen Supersemar ditafsirkan diametral bertentangan masing-masing, oleh Presiden Sukarno dan Jendral Suharto.

Sampai saat ini 'aslinya' dokumen Supersemar, tidak diketahui (umum) ada dimana. Atau siapa yang menyimpan atau
menyembunyikannya. Yang mengetahuinya Jendral Jusuf, salah satu pelaku lahirnya Supersemar, juga tidak pernah mengungkap jelas siapa yang menyimpan dokumen tsb. Yang jelas dokumen tsb tidak ada di ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA. Pernah kepadaku diperlihatkan sebuah 'kopi' dari Supersemar yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia. Tetapi itu kopinya. Diisukan pula, apakah itu kopi dari aslinya?


Presiden Sukarno sudah lama meninggal dunia. Beliau sangat mempersoalkan dokumen ini. Dengan keras dan tegas, berulang kali di dalam pidato-pidatonya sesudah peristiwa G30S, yang di 'black-out' oleh rezim militer Suharto, Presiden Sukarno menekankan dan menjelaskan bahwa Supersemar bukanlah suatu 'transfer of authority', bukan peralihan otoritas kepada Jendral Suharto. Karena Jendral Suharto dan pendukungnya mempropagandakan siang dan malam, bahwa Presiden Sukarno 'telah menyerahkan kekuasaan negara' kepada Jendral Suharto lewat Supersemar. (Lihat Kumpulan Pidato Presiden Sukarno sesudah 1 Oktober 1965, yang dibukukan dalam buku REVOLUSI BELUM SELESAI, Jilid I dan II).


Presiden Jendral Suharto juga sudah meninggal dunia. Meskipun dokumen ini memainkan peranan teramat penting, dalam proses ia menjadi Presiden RI yang ke-2, sampai akhir hidupnya ia bungkam seribu bahasa mengenai keberadaan dokumen SUPERSEMAR. Yang jelas Supersemar, adalah Surat Perintah Presiden Sukarno kepada Jendral Suharto, yang dalam pelaksanaannya harus dilaporkannya dan dipertanggungjawabkannya kepada Presiden Panglima Tertinggi ABRI, Sukarno. Suharto tidak berbuat seperti apa yang tertera dalam Supersemar, tetapi bahkan, menggunakan Supersemar untuk menggulingkan Presiden Sukarno dan menobatkan dirinya menjadi Presiden Republik Indonesia. Elite dan politisi, jendral dan perwira, birokrat dan siapa saja yang mendukung proses tsb sampai Jendral Suharto jadi Presiden RI, termasuk pelanggaran terbesar HAM yang terjadi sekitar pembantaian masal 1965, tidak bisa melepaskan tanggungjawab mereka dari proses tsb. Saatnya pasti tiba, mereka-mereka harus mempertanggung-jawabkannya pada bangsa dan negara.

* * *

Dalam perekembangan sejarah Republik Indonesia, --- selanjutnya kasus SUPERSEMAR akan selalu menjadi masalah yang didiskusikan dan diperdebatkan. Ini tak bisa dicegah oleh kekuasaan apapun. Karena bangsa ini menuntut keterbukaan, kejernihan dan kebenaran dalam proses memahami dan belajar dari sejarah mengenai pembangunan bangsa dan berjuang untuk suatu negara (hukum) Republik Indonesia..

* * *

Di bawah ini disiarkan kembali beberapa naskah yang pernah kutulis selama ini, dari sejumlah besar yang telah ditulis mengenai Supersemar, untuk menjadi bahan pemikiran dan pertimbangan:


* * *

'SUPERSEMAR' 1966 -- AWAL BENCANA NEGARA HUKUM R.I.
<11 Maret 2009>
Empatpuluh tiga tahun yang lalu, 11 Maret 1966, dengan bergegas-gegas dan tergesa-gesa datang ke Istana Bogor tiga orang jendral TNI: Jendral Amir Machmud, Jendral M Jusuf dan Jendral Basuki Rachmad, menemui Presiden Sukarno. Mereka mendesak, mamaksa bahkan (menurut sementara saksi mata) 'menodong' Presiden Sukarno untuk menandatangani SURAT PERINTAH kepada Jendral Suharto. Surat perintah tsb kemudian terkenal sebagai 'SUPERSEMAR'. Sepintas lalu Supersemar seperti secarik kertas biasa yang berisi perintah-perintah atasan pada bawahannya.


Secara formal Supersemar adalah PERINTAH dari PRESIDEN PANGLIMA TERTINGGI SUKARNO kepada Panglima KOSTRAD Jendral Suharto. Perintah-perintah tsb bersangkutan dengan tugas-tugas keamanan dan ketertiban, menjaga kewibawaan dan ajaran-ajaran Presiden Panglima Tertinggi Sukarno serta memberikan laporan kepada Presiden RI mengenai tugas-tugas yang tercantum dalam SUPERSEMAR.


Namun, tidak sesederhana itu persoalannya!

Kedatangan tiga jendral TNI ke Istana Bogor untuk memperoleh SUMARSEMAR, segera menimbulkan pertanyaan sbb:
Mengapa tiga jendral itu khusus datang ke Istana Bogor untuk minta surat perintah dari Presiden Sukarno kepada Jendral Suharto? Mengapa tidak Jendral Suharto sendiri datang menghadap Presiden RI. Bukankah dia sudah mengangkat dirinya sendiri menjadi penanggungjawab pimpinan TNI? Ini terjadi ketika Jendral Suharto membangkang terhadap atasannya, Presiden Sukarno yang mengangkat Jendral Pranoto Suryosamudro sebagai pimpinan harian Angkatan Darat?


Tercatat dalam kronik peristiwa saat-saat sesudah dihancurkannya Gerakan 30 September, bahwa kedatangan tiga jendral TNI ke Istana Bogor 'menghadap' Presiden Sukarno, terjadi setelah sidang kabinet pemerintahan Presiden Sukarno di Istana Negara di bawah pimpinan Presiden Sukarno terganggu dan akhirnya dihentikan. Petugas keamanan Istana Negara melaporkan bahwa di muka dan sekitar Istana Negara, terjadi demo oleh 'massa' yang menggugat kebijaksanaan Presiden Sukarno. Di sela-sela kaum demonstran tsb terdapat orang-orang besenjata yang tak dikenal. Belakangan diketahui bahwa orang-orang tak dikenal tsb adalah personil-personil Kostrad yang disusupkan ke tengah-tengah 'massa berdemo' tsb. Suatu pertanda yang sangat berarti: Jendral Suharto yang sehrusnya hadir dalam sidang kebinet iut, absen. Dengan alasan kesehatan terganggu.

Presiden Sukarno dengan Waperdam Dr Subandrio dan rombongannya terpaksa 'mengungsi' dengan helikopter ke Istana Bogor. Karena keamanan dan keselamatan Presiden RI dianggap sudah tak terjamin lagi bila terus memimpin sidang kabinet.


SUHARTO PENYEROBOT KEKUASAAN NEGARA, TAK MUNGKIN BEBAS HUKUM !

Beberapa waktu terakhir ini, berita-berita mengenai status hukum
mantan Presiden Suharto simpang siur bak layang-layang putus dalam
suatu pertandingan adu-layangan. Tampak jelas sekali usaha
pontang-panting elite kekuasaan untuk "menyelamatkan" Suharto dari
tanggung-jawabnya sebagai presiden Republik Indonesia yang selama lebih
dari 30 tahun memerintah negeri ini dengan kekerasan militer dan
kekejaman dengan melakukan pelanggaran HAM terbesar dalam sejarah
Indonesia.

Belum lama ini tersiar lagi berita baru yang menyatakan bahwa Presiden
Yudhoyono, telah mengambil keputusan untuk menghentikan prosedur , untuk
apa yang dikatakan "mengendapkan" keputusan yang semula dimaksudkan
untuk membebaskan Suharto dari tuntutan hukum. Kedengaran berbagai
konsep misterius dan tersirat menuver untuk akhirnya tokh membebaskan
Suharto dari segala tuntutan. "Bola pembebasan" Suharto, yang
dioperkan oleh Jusuf Kalla untuk ditendangkan ke gawang negara Republik
Indonesia, oleh gelandang Jusril Izha Mahendra, sementara ini mandul
tampaknya. Bisa diduga bahwa kemandulan ini akibat dari reaksi keras
masyarakat terhadap rencana pembebasan Suharto.

Bangsa ini, terutama generasi mudanya, patutlah selalu diingatkan:
--- Jangan sekali-kali mengabaikan sejarah. Jangan sekali-kali
melupakan bahwa sampai detik ini mengenai masalah pelanggaran HAM
terbesar yang dilakukan mantan presiden Suharto, tanggungjawabnya atas
persekusi, represi dan pembunuhan masal ekstra-judisial yang meliputi
lebih dari sejuta warganegara yang tak bersalah, penyerobotan kekuasaan
negara yang dilakukan Suharto dari Presiden Sukarno, melalui
penyalahgunaan "SUPERSEMAR", dan kemudian mengenakan tahanan rumah
terhadap Presiden Sukarno, menjadikannya tahanan politik sampai akhir
hidup beliau ---- mengenai semua hal itu, --- mantan Presiden
Suharto yang masih hidup sekarang ini ---- tak pernah dimintai
pertanggunganjawabnya oleh penguasa eksekutf, legeslatif maupun
judikatif. Dipertanyakanpun tidak!

Pada periode menggeloranya gerakan massa menuntut Reformasi dan
Demokratisasi yang menyebabkan tergulingnya mantan Presiden Suharto,
ketika itu, masih terdengar santer tuntutan massa dan masyarakat agar
mantan Presiden Suharto diseret ke meja pengadilan, atas pelanggaran
utama yang dilakukannyua --- yaitu pelanggaran HAM terbesar serta
perebutan kekuasaan negara dengan cara merangkak. Tapi elite kekuasaan
memang pandai menyulap tuntutan hukum yang fundamentil tsb,
memperkecilnya sedemikian rupa, serta membatasinya hanya pada kasus
korupsi dalam kaitannya dengan tanggungjawabnya atas tujuh yayasan yang
ditanganinya sendiri dan penggelapan uang negara beberapa trilyun
rupiah. Dengan demikian penguasa telah melecehkan Gerakan Reformasi!

* * *

Kiranya perlu jelas terlebih dulu, apa dan bagaimana sesungguhnya s t a t u s p o l i t i k mantan Presiden Suharto. Bukankah status politik seorang mantan kepala negara lebih menentukan terbanding status hukumnya?.

Mantan Presiden Suharto adalah seorang presiden ke-2 RI, yang naik
singgasana kekuasaan politik dan militer melalui penyerobotan kekuasaan
atas TNI dan kemudian atas negara. Ini berlangsung a.l. melalui
langkah-langkah sbb:

1. Tindakan pembangkangan, yaitu sikap insubordinasi terhadap
instruksi Presiden Panglima Tertinggi Ir Sukarno. Insuboddinasi atas
keputusan Presiden Panglima Tertinggi yang menentukan Jendral Mayor
Pranoto Reksosamudro untuk menjadi penanggungjawab sehari-hari
memimpin TNI AD sesudah terjadinya pembunuhan atas 6 perwira tinggi
TNI-AD dalam peristiwa G30S. Ketika itu Jendral Mayor Suharto, yang
menjabat panglima KOSTRAD, mensabot keputusan Presiden RI tsb, dan
menunjuk dirinya sendiri sebagai panglima TNI-AD.

2. Merekayasa pembubaran sidang kabinet Presiden Sukarno yang sedang
mengadakan rapat di Istana Negara (Maret 1966), melalui pengepungan
oleh kesatuan bersenjata di bawah pimpinan KOSTRAD.

3. Merekayasa, melalui 3 orang jendral AD, menekan dan memaksa
Presiden Sukarno untuk mengeluarkan "Surat Perintah Sebelas Maret",
.

4. Menyalahgunakan SUPERSEMAR untuk melakukan pembubaran parpol PKI dan
merebut kekuasaan pemerintahan dan negara.

5. Merekayasa sidang MPRS menelorkan Tap MPRS No XXV/1966; dan Tap MPRS
No XXXIII/1967 yang memfitnah, menuduh, melorot dari jabatan
kepresidenanan, kemudian mengenakan tahanan rumah terhadap Presiden RI
Sukarno.

6. Memberlakukan mekanismme kekuasaan negara menurut konsep
"DWIFUNGSI ABRI", yang telah menjadikan Republik Indonesia negara tanpa
hukum, negara dimana berlaku "impunity". Negara dimana kekuasaan mutlak
ada pada tentara dan panglimanya - Jendral Suharto.

Kesemua tindakan-tindakan Jendral Suharto tsb diatas, terutama yang
bersangkutan dengan pembunuhan atas lebih sejuta warganegara tak
bersalah tanpa proses peradilan apapun, demi meratakan jalan perebutan
kekuasaan multak atas kekuasaan negara, menentukan bahwa status
politik mantan Presiden Suharto, yang sesungguhnya adalah sebagai:
PENGKOMPLOT PENYEROBOT KEKUASAAN NEGARA!
Status politik yang demikian serius dan fatal tsb , menyebabkan
Suharto samasekali tidak punya syarat apapun untuk dimaafkan dan
dibebaskan dari pengadilan yang bersangkutan dengan kejahatannya
terhadap negara dan bangsa Indonesia.

* * *

Deklarasi Masyarakat Adili Suharto , sepenuhnya
mencerminkan perasaan adil dan tuntutan masyarakat, ketika menyatakan
bahwa:

"Demi mewujudkan masa depan yang tanpa beban sekaligus membangun sejarah
baru penegakkan keadilan dan hukum, maka kami sebagai bagian dari
korban, warganegara dan pelaku perubahan mengemukakan Tiga Resolusi Bangsa:


1. Menolak dihentikannya proses hukum terhadap Soeharto serta menuntut
agar Soeharto beserta kroni-kroninya diadili sampai tuntas.
2.. Menuntut negara menyita seluruh kekayaan Soeharto dan
kroni-kroninya yang diperoleh dari hasil kejahatan.
3. Mengajak masyarakat untuk siap mengambil tindakan-tindakan bersama
agar negara tidak gagal mengadili Soeharto dan kroni-kroninya.

* * *

Demikian pula benar adillah tuntutan LBHI, yang a.l. menyatakan bahwa:

"Pertama, pemerintah harus tetap konsisten dengan cita-cita reformasi yang
telah dituangkan dalam TAP MPR nomor 11 tahun 1998 yang secara eksplisit
mengamanatkan pengusutan terhadap dugaan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)
yang dilakukan oleh mantan Presiden Suharto.

"Kedua, mantan Presiden Suharto bagaimanapun juga harus tetap diajukan ke
pengadilan. Jika dia sebagai tersangka tidak mau/mampu hadir di sidang
pengadilan, maka aparat penegak hukum harus melakukan upaya paksa sesuai
dengan wewenang yang dimilikinya. Hal ini untuk membuktikan bahwa ada
kesamaan di muka hukum (equality before the law) di Indonesia.

* * *

SUPERSEMAR, Di Satu Tangan, ---- B E D I L Di Tangan Satunya.
KUDETA Paling CANGGIH -- Paling GANAS & Paling BERDARAH



Tergulingnya rezim Orde Baru dan dimulainya era Reformasi sudah
berlangsung hampir 10 tahun. Mantan Presiden rezim Orba, Jendral
Suharto, penerima, pemegang dan pelaksana 'Supersemar' sudah meninggal
dunia dua bulan yang lalu. Dengan melaksanakan 'memelintir'> 'Supersemar', Jendral Suharto telah dengan sukses
melikwidasi pemerintahan Presiden Sukarno. Sebagai penggantinya beliau
menegakkan rezim Orde Baru. Rezim ini sempat berjaya di negeri kita
sejak periode antara 1967 s/d medio 1998.

Melalui pelacakan fakta-fakta, literatur nasional dan internasional
serta dokumentasi, penekunan penelitian lapangan (a.l lewat cara oral
history), rekonstruksi dan deduksi, bisa disimpulkan bahwa 'keberhasilan
Jendral Suharto' merebut kekuasaan pemerintah dan negara, terutama
disebabkan canggihnya cara yang ditempuh. Yaitu, dengan bersandar pada
pokoknya pada kekerasan, pada kekuatan militer. Sebagai pelengkap,
diregisir suatu cara manipulasi canggih (kup kontitusionil . . ? ) untuk
membenarkan, mensahkan dan melegitimasi tindakan kekerasan militer. Cara
ini ialah dengan menciptakan dan memanipulasi 'Supersemar'. Suatu surat
perintah yang dikeluarkan oleh Presiden Pangti ABRI Sukarno tertuju
kepada Jendral Suharto. Melalui cara-cara yang unik dalam sejarah
perebutan kekuasan, 'Supersemar' telah secara efektif 'mempasifkan serta
membelenggu' kekuatan politik dan militer yang ketika itu masih setia
mendukung Presiden Sukarno.

Tibalah orang pada kesimpulan, bahwa bisanya Jendral Suharto
menggulingkan Presiden Sukarno, melikwidasi apa yang disebut 'Orde Lama'
Presiden Sukarno, kemudian menaikkan dirinya sendiri menjadi Presiden
Ke-2 Republik Indnesia, --- penyebab utamanya ialah strategi dan taktik
: di 'Satu Tangan Memegang Bedil -- Di Tangan lainnya 'SUPERSEMAR'.


* * *

'S U P E R S E M A R' - suatu akronim dari 'Surat Perintah Sebelas Maret '.
Dokumen apa itu? Begitu besar 'mukjizatnya' sehingga kuasa menggulingkan
dan menggantikan Presiden Sukarno. Suatu 'dokumen' yang bisa secara
'sah' membubarkan dan melarang PKI, melarang marxisme. 'Supersemar' juga
membenarkan tindakan persekusi, pembunuhan masal terhadap sejuta lebih
warganegara tak bersalah, pemenjaraan dan pembuangan ratusan ribu
lainnya. Membikin siapa saja yang berani menentang atau beroposisi,
disingkirkan dan menjadi 'orang yang bermasalah'. Dengan kekuatan
'Supersemar' telah direvisi DPR dan MPR, dibentuk pemerintahan dan
dinaikkan Jendral Suharto menjadi Presiden ke-2 Republik Indonesia.


Demikianlah 'mukjizatnya' dokumen Supersemar itu. Di satu fihak ia 'bisa
segala'. Tetapi di lain fihak ia dibikin seperti suatu barang 'misterius'.

Sesungguhnya bukan misterius!
Dengan mata kepalaku sendiri telah aku lihat dokumen 'Supersmar' tsb.
Ini dimungkinkan karena salah seorang pejabat lembaga negara ARSIP
NASIONAL, yang bersahabat, atas inisiatifnya sendiri menunjukkan dokumen
tsb padaku. Pejabat penting tsb menjelaskan bahwa yang tersimpan di
ARSIP NASIONAL adalah kopinya. Tetapi ditandaskannya bahwa kopi tsb
sesuai dengan aslinya.

Penguasa Orba sengaja membikin 'Supersemar' menjadi misterius. Tambah
lagi diisukan pula, bahwa dokumen 'Supersemar' yang sempat menjadi buah
bibir di masyarakat, dikatakan bukanlah yang asli. Bahwa yang asli,
siapa tau apa isinya. Dari suatu misteri ke misteri lainnya.


* * *

Belakangan orang menjadi sadar. Semua 'kemisteriusan' Supersemar itu,
memang sengaja diregisir demikian rupa. Sehingga orang menjadi bingung
dan tidak mengerti lagi apa sebenarnya Supersemar itu. Dalam keadaan
orang bertanya-tanya apa Supersemar itu, muncullah berita bahwa
Supersemar itu, adalah suatu 'surat pelimpahan kekuasaan' dari Presiden
Sukarno kepada Jendral Suharto.

Kemudian terungkap bahwa Presiden Sukarno yang formalnya masih Presiden,
berkali-kali menjelaskan bahwa Supersemar bukan 'pelimpahan kekuasaan' ,
tetapi suatu 'perintah kepada Jendral Suharto bersangkutan dengan
masalah penertiban keamanan. Tetapi penjelasan Presiden Sukarno itu di
'black-0ut' , 'dibungkam' oleh pers yang ketika itu sudah ada di bawah
kekuasaan dan kontrol tentara.

Bisanya kemudian diterbitkan pidato-pidato penting Presiden Sukarno
sekitar soal tsb; adalah berkat inisiatif dan usaha cermat sejarawan
muda Bonie Triyana dan aktivis Budi Setiono. Atas usaha merekalah
pidato-pidato penting Presiden Sukarno (yang diblackout itu) bisa terbit
dalam bentuk buku berjudul "REVOLUSI BELUM SELESAI".

Orang tidak mungkin tidak mengerti kata-kata Presiden Sukarno, yang
diucapkannya pada waktu pelantikan Kabinet Ampera, pada tanggal 28 Juli
1966, sbb: "Pers asing mengatakan bahwa perintah ini adalah 'a transfer
of authority to General Suharto'. Tidak. 'Its not a transfer of
authority to General Suharto. I repeat again, its not a transfer of
authority'.

Didalam buku itu juga 'Revolusi Belum Selesai', terdapat penegasan
Presiden Sukarno (Nov 1965) bahwa: "Saya yang ditunjuk MPRS menjadi
Panglima Besar Revolusi. Terus terang bukan Subandrio. Bukan Leimena....
Bukan engkau Soeharto, bukan engkau Soeharto, dan seterusnya . . . .

Mengapa begitu tegas ucapan Presiden tsb? Penyebabnya ialah karena
Jendral Suharto sedang sibuk melakukan 'kup merangkak'-nya.

Sampai kini belum ada yang bisa memastikan, dimana dokumen aslinya
disimpan. Pasti tidak ikut dikubur pada waktu pemakaman mantan Presiden
Suharto Januari y.l. Ketika Jendral Jusuf masih ada, ada cerita bahwa
dokumen asli 'Supersmar' ada pada beliau. Paling tidak beliau tau apa
dan dimananya barang itu. Didesas-desuskan bahwa pada akhir umurnya
Jendral Jusuf akan mengungkap misteri sekitar SUPERSEMAR. Tetapi sampai
akhir numurnya tidak ada wasiat Jendral Jusuf yang mengungkap misteri
sekitar SUPERSEMAR. Orang masih ingat bahwa Jendral Jusuf adalah salah
seorang dari tiga jendral TNI AD yang mengitari Presiden Sukarno di
Bogor yang kemudian menghasilkan 'keluarnya' Surat Perintah Sebelas
Maret 1967 untuk . . . . . . Jendral Suharto.


* * *


Orang yang tak pernah tau apa itu 'kup merangkak', pasti akan
terheran-heran, mengikuti jalannya perkembangan peristiwa sesudah
gagalnya G30S. Hal-hal itu betul seperti 'pat-pat gulipat' dan
'abra-kedabra'.


Bagaimana hal tsb bisa terjadi: 'Kabinet 100 Menteri' yang sedang
bersidang di bawah pimpinan Presiden Sukarno di Istana Merdeka, akhirnya
ter(di)paksa bubar karena ada 'pasukan tak dikenal' menerjang masuk dan
mengepung Istana tempat sidang kabinet. Presiden Sukarno di dampingi
Waperdam Subandrio cepat-cepat mengungsi ke Bogor. Selanjutnya datang
menyusul 3 jendral TNI AD, antaranya Jendral Jusuf.


Walhasil keluarlah SUPERSEMAR, Surat Perintah Sebelas Maret Presiden,
untuk Jendral Suharto. Jendral Suharto, yang anggota kebinet 100 menteri
itu, ternyata tidak hadir sidang kabinet tsb karena alasan 'sakit'.
Menjadi jelas pula bahwa sidang kabinet yang bubar karena ancaman
pasukan tak dikenal itu, kemudian diketahui bahwa pasukan 'tak dikenal
itu' adalah pasukan Kostrad di bawah Jendral Sarwo Edhi.


Perhatikan berikut ini: -- Ketika pada 3 Maret 2007 di Jakarta diadakan
seminar mengenai Supersemar, arahnya menunjukkan ketidak jelasan apa
yang hendak dicapai dengan seminar tsb. Apalagi ketika salah seorang
pimpinan seminar menyatakan bahwa tidak dimaksudkan untuk mempesoalkan
sah tidaknya Supersemar.


Surat Perintah Sebelas Maret 1967 ? Surat Perintah dari siapa itu? Dan
siapa pula yang diberi perintah? Tertera hitam di atas putih pada
secarik kertas itu: Perintah Panglima Tertinggi Presiden Republik
Indonesia, Sukarno. Siapa yang diberi surat perintah itu? Jendral Suharto!


Diskusi dalam seminar tsb samasekali tidak mempersoalkan, bagaimana bisa
suatu surat perintah, --- notabene yang di dalamnya tertera hitam di
atas putih, bahwa si penerima perintah, dalam hal ini Jendral Suharto,
harus melapor kepada Presidan, tambahan lagi mendapat tugas untuk
memelihara/membela kewibawaan Presiden Sukarno serta ajaran-ajarannya,
---- akhirnya melalui suatu 'pat-pat gulipat', yang seolah-olah
'konstitusionil' , --- 'Supersemar' tsb menjadi 'senjata ampuh' untuk
menggulingkan Presiden Sukarno, fihak yang memberikan perintah.


Maka di sini menjadi jelas, bila hendak bicara hal 'SUPERSEMAR', tak
bisa tidak harus bicara tentang adanya SUATU PENGKIANATAN yang tidak ada
duanya dalam sejarah Republik Indonesia. Suatu pengkhianatan Suharto,
Jendral TNI AD, terhadap Sukarno, Presiden RI, Panglima Tertinggi ABRI.


Dewasa ini kita tetap prihatin, mengikuti dan juga menyaksikan
perkembangan di masa yang belum lama, menyaksikan keadaan kini kaum
cendekiawan 'kita' -- para akhli ilmu kenegaraan, para akhli hukumnya,
akhli undang-undang dsb --- , kaum politisi 'kita', perwira-perwira
angkatan bersendjata RI -- yang tidak sedikit dari mereka-mereka itu
telah benar-benar TERLIBAT DALAM PENGKHIANATAN tsb. Lebih memprihatinkan
lagi, ialah bahwa masih cukup banyak dari mereka-mereka itu, masih belum
sadar dan tobat akan kesalahan dan pengkhianatannya.

Keprihatin ini bukan tanpa alasan.
Bukankah kebesaran, kebijakan dan hati nurani suatu bangsa a.l tercermin
pada kenuranian, keberanian membela keadilan dan kebenaran, serta
kesadaran dan kemampuan berfikir bebas kaum cendekiawannya?

* * *

Monday, March 7, 2011

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL 8 MARET”-Bg-4

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 07 Maret 2011
-----------------------------

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL 8 MARET” Dan GERWANI (Bagian 4)

Besok, 08 Maret adalah HARI WANITA INTERNASIONAL.
Dewasa ini seluruh dunia memperingati dan merayakan Hari Wanita Internasional 8 Maret. Di dalam Piagam PBB yang disetujui bersama pada tahun 1945, tercatat persetujuan internasional pertama (antar-negara) yang secara khusus mengakui dan menegaskan hak-sama laki-laki dan wanita.

Bisanya kegiatan dan perjuangan wanita mancanegara mencapai sukses signifikan, dan sampai pada tingkat pengakuan dunia internasional mengenai perlunya terus-menerus memperjuangkan hak-hak manusia bagi kaum perempuan, adalah berkat perjuangan kaum perempuan sendiri. Sejak tahap permulaan di banyak negeri kegiatan dan perjuangan kaum wanita berjalan seiring dengan dan mendapat dukungan dan gerakan kaum sosialis, dan kaum kiri umumnya.

Penindasan dan ketidak-samaan hak yang diderita kaum wanita telah mendorong kaum wanita dengan berani bangkit berlawan terhadap ketidak adilan tsb. Dalam tahun 1908 tak kurang dari 15.000 wanita mengadakan mars demo di kota New York, AS, Mereka menggelorakan tuntutan jam kerja lebih pendek, upah lebih baik dan bahkan hak-pilih.

Bertolak dari pernyataan Partai Sosialis Amerika, dimulailah untuk pertama kalinya merayakan National Woman's Day. Itu terjadi pada tanggal 28 Februari 1909.

* * *

Pada tahun 1910, berlangsung Konferensi Internasional Kaum Pekerja Wanita, di Kopenhagen. Disitulah CLARA ZETKIN, Ketua Kantor Wanita Partai Sosial Demokrat Jerman, pertama kalinya mengajukan saran ditetapkannnya Hari Wanita Internasional. Clara Zetkin mengusulkan agar setiap tahun disetiap negeri pada hari yang sama diperingati dan dirayakan HARI WANITA INTERNASIONAL, dalam rangka mendukung tuntutan kaum wanita untuk keadilan. Sosialis Internasional yg diadakan di di Kopenhagen itu menyetujui saran Clara Zetkin.

Clara Zetkin sudah sejak masa mudanya adalah seorang tokoh sosialis yang amat gigih memperjuangkan hak-hak wanita. Dalam tahun 1889 Clara Zetkin mewakili wanita sosialis Berlin dalam suatu konferensi Internasiobnale Kedua, dimana diajukan resolusi mengenai hak-hak wanita dan masalah kerja-anak-anak.

* * *

Keputusan mengenai Hari Wanita Internasiobnal disambut dan didukung oleh konferensi yang dihadiri lebih dari 100 wanita dari 17 negeri. Pada tahun 1911 kaum wanita di Austria, Denmark, Jerman dan Swis, dalam jumlah sekitar satu juta orang, menghadiri rapat-rapat umum mengajukan tuntutan hak untuk memilih, hak sana dengan kaum laki-laki.

Sejak awal gerakan wanita internaional untuk sama hak melawan ketidak-adilan dan diskriminasi terhadap kaum wanita, berpadu dengan gerakan politik. Kongkritnya melawan Perang Dunia Pertama. Dalam tahun 1919 kaum wanita Rusia, mengisi Hari Wanita Internasional dengan tuntutan untuk perdamaian. Mereka menyerukan slogan “Roti dan Perdamaian”.

* * *

Bagi kita penting sekali untuk memahami tentang gerakan kaum wanita di negeri sendiri. Bagaimana gerakan wanita Indonesia yang meliputi tututan-tuntutan hak-hak sama sengan kaum laki-laki dan tututan-tuntutann politik negeri.

Di Bagian Ke-4 dari Kolom ini dilanjutkan tutur-cerita seorang aktivis Gerwani kepada Saskia Swieringa, mengenai gerakan wanita Indonesia pada tahun-tahun enampuluhan.

* * *

Prof. Dr Saskia Eleonora Wieringa:
PENGHANCURAN GERAKAN PEREMPUAN DI INDONESIA

Di kota kita juga giat, khususnya di kalangan kaum buruh. Buruh perempuan biasanya anggota SOBSI, tetapi di kampung kediaman mereka, mereka anggota Gerwani. Banyak diantara mereka itu merangkap keanggotaan. Itu mudah saja. Karena banyak soal-soal tentang nasib buruh-perempuan, sehingga memungkinkan kami untuk bekerjasama. Misalnya SOBSI dan Gerwani bekerjasama memperjuangkan hak cuti haid. Jika terjadi buruh perempuan dipecat, karena menuntut hak sah mereka untuk cuti haid, baik Gerwani maupun SOBSI akan tampil bersama membela buruh itu.

Gerwani juga sangat giat dalam usaha pemberantasan buta huruf. Banyak sekali kursus kursus-kursus PBH yang kami selenggarakan. Kami juga memperjuangkan hak-hak politik kaum perempuan, agar lebih banyak lagi perempuan yang menjadi anggota parlemen pusat dan daerah, atau agar mereka bisa dipilih menjadi lurah desa atau menteri, sama mudahnya seperti kaum laki-laki. Tentang hak-hak politik ini, terutama di desa-desa, banyak mengalami tentangan. Banyak golongan Islam yang memandang hal itu sangat menimbulkan perselisihan. Mereka tidak mau memberi hak apapun bagi perempuan. Juga tidak sedikit tuan tanah yang sangat konservatif.

Dalam aksi-aksi sepihak tahun 1960-an kaum perempuan ikut mengambil peranan aktif. Mereka tidak sekadar bersorak-sorai di garis pinggir. Di Kediri dan Jengkol, perempuanlah yang menghadang traktor-traktor tuan tanah, yang berusaha mengusir mereka dari tanah kediaman mereka. Dan perempuan itu jugalah yang mati ditembak tentara.

Memang benar, aksi-aksi ini banyak tidak disukai di desa-desa. Bahwa begitu banyaknya perempuan yang dibunuh, mungkin inilah sebabnya: Orang-orang Gerwani terlalu mandiri. Mereka membenci Gerwani. Mereka menghendaki agar perempuan hanya bergerak di bidang kemasyarakatan. Kadang-kadang mereka mengadakan arisan, bolehlah, seperti halnya semua organisasi perempuan lainnya. Tetapi di Gerwani, perempuan juga giat berpolitik. Ya, itulah hal yang sangat dibenci.

Saya sering merasa heran, bagaimana semuanya bisa menjadi serba salah begitu. Satu hal memang jelas. Yaitu bahwa Sukarno ndak konsekuen dalam menangani sisa-sisa fedoalisme yang masih ada di dalam maswyarakat kami. Inilah sumber malapetaka yang menimpa kami. Kami bekerja bersama dengannya di dalam Front Nasional yang anti-imperialis. Tetapi ia tidak pandai memegang panjinya, misalnya dalam pelaksanaan undang-undang land reform. PKI yang konsekuen, dan dalam hal ini kami bekerja bersana-sama dengannya . Tetapi sekarang hampir dilupakan samasekali. Juga koran-koran ketika itu, tidak banyak yang meliput aksi-aksi kami itu. Kaum laki-laki selalu ingin dilihat sebagai lebih militan dari kaum perempuan.

Kami di pihak Sukarno dalam konfrontasi menentang Malaysia. Tetapi sesungguhnya buat kami tidak terlalu menarik. Itu hanya untuk mengalihkan perhatian dari persoalan nasional saja. Karena itu sikap kami mula-mula agak maju-mundur. Tetapi akhirnya dengan bersemangat kami mendukungnya, dan bahkan mengirim sukarelawan.. Juga kaum perempuan di dalam PNI, Wanita Marhaen dan Wanita Demokrat, berbuat sama; begitu pula halnya beberapa organisasi perempuan lainnya.

Pada waktu itu saya sendiri tidak di Jawa. Pada 1962 saya, seorang diri ditugasi di pulau lain. Sering saya merasa sangat kesepian. Karena saya tidak baik mengerti bahasa, masyarakat, maupun kebudayaan setempat. Saya harus berusaha merasa kerasan ditengah-tengah lingkungan yang asing itu. Saya tinggal bersama kader-kader lain, dari PKI dan Pemuda Rakyat, di sebuah rumah yang besar. Seorang pemuda dari Pemuda Rakyat sering membantu saya. Kadang-kadang saya merasa begitu sedih, sehingga ingin menangis. Lalu, di saat-saat begitu, ia datang menghibur saya, menjelaskan hal-ihwalnya kepada saya, dan jika perlu juga membantu saya. Beberapa bulan pertama sering saya merasa sangat sedih, sehingga ingin segera pulang saja ke Jawa. Yang juga membuat terasa berat karena saya sebagai anak gadis, tidak biasa hidup sendirian di tengah orang-orng laki-laki asing. Orang sangat suka bergunjing. Maka saya selalu harus mempertahankan diri.

Daerah tempat penugasan saya pun daerah sulit.Mempunyai kebanggaan yang besar terhadap sejarah perlawanannya menentang Belanda, dan juga tidak terlalu senang terhadap Jakarta. Islam sangat kuat, laki-lakinya berwatak congkak. Saya perempuan Jawa, orang asing, tidak boleh sekali-kali menonjol-nonjolkan diri. Jangan sekali-kali saya berusaha menampilkan diri sebagai guru yang serba tahu. Jadi saya harus menunggu saja, sampai mereka sendiri datang kepada saya dan mengemukakan persoalan mereka. Kader-kader yang bekerja di daerah ini tidak banyak mendapat pendidikan, dan juga sangat sedikit pengetahuan mereka tentang apa sebenanrya yang dibela Gerwani, dan apa yang dicita-citakannya. Melalui rapat-rapat saya menjadi tahu, siapa-siapa di antara mereka yang paling cerdas. Lalu perempuan itu saya dekati, dan perlahan-lahan saya mencoba menerangkan serba sedikit tentang organisasi, kegiatan-kegiatannya, dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi saya samaseklai tidak boleh menampak sebagai pemimpin. Untuk pemimpin haruslah seseorang dari daerah ini sendiri.,

Sungguh sangat berat buat saya untuk bisa menyesuaikan diri. Oleh karena saya tidak biasa hidup ditengah-tengah daerah yang sangat kuat Islamnya, dimana perempuan tidak bisa bergerak leluasa. Akhirnya saya mendapat jalan untuk lebih memudahkan orang-orang perempuan itu datang menhadiri rapat-rapat kami. Mereka banyak mengenal tari-tarian setempat. Laki-laki melarang istri mereka keluar rumah jika sendiri-sendiri, tetapi tidak jika merka pergi bersama-sama. Lalu kami membentruk kelompok-kelompok kesenian, menari dan menyanyi, yang tidak terlarang bagi kaum perempuan. Tetapi kami tidak berhenti di situ. Kelompok-kelompok ini kami beri isi. Kami berdiskusi tentang soal-soal sehari-hari bersama mereka. Dengan sangat mudah kita bisa mendidik perempuan tentang soal-soal ekonomi melalui kegiatan arisan. Sekali kita mulai bicara tentang bagaimana yang sebaik-baiknyta perempuan membelanjakan uangnya, seketika itu tibalah pada soal tentang kenaikan harga-harga. Dari situ lalu bisalah kita bicara tentang siapa yang bertanggung-jawab dalam persoalan harga tersebut. Lalu bisalah sudah kita mulai bicara secara langsung tentang pendidikan politik.

Sesudah akhirnya mereka mengerti tentang apa cita-cita Gerwani, banyak orang-orang perempuan yanng memberikan dukungan kuat pada kami, walaupun mereka itu beragama Islam. Mereka membenci suami mereka yang berpoligami, dan senang menghadiri rapat-rapat kami untuk membahas persoalan itu. Mereka juga sangat senang belajar bagaimana mebuat kue-kue, dan membahas masalah situasi politik. Yang paling menarik untuk anak-anak gadis ialah hak menikah atas dasar suka sama suka, sedangkan untuk ibu-ibu khususnya masalah perjuangan melawan poligami. Juga kaum buruh perempuan sangat senang mendapat dukungan kami untuk tuntutan mereka, agar tersedia balai penitipan anak dengan biaya pembayaran yang rendah.

(Bersambung)

* * *

Thursday, March 3, 2011

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL – 8 MARET”

Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 03 Maret 2011
-----------------------------

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL – 8 MARET”, Dan GERWANI

Ini adalah Bagian Ketiga dari tulisan Menyongsong “Hari Wanita Internasional 8 Maret, Dan Gerwani”. Mengapa Gerwani? Sejarah Indonesia mencatat pengorganisasian kaum wanita begitu besar dan tersebar di seluruh Indonesia, yang diakukan oleh organisasi GERWANI, organisator terbesar kaum wanita Indonesia. Justru organisasi wanita Indonesia yang memperjuangkan hak-hak serta perbaikan nasib kaum wanita Indonesia, mengalami penindasan dan penghancuran begitu kejam dan biadab. Itu terjadi dalam periode berkuasanya rezim militer Jendral Suharto. Fakta-fakta sejarah menyangkut pelanggaran HAM yang berlangsung di bawah rezim Orba, khususnya pengejaran terhadap anggota-anggota organisasi wanita terbesar di Indonesia Gerwani, dan perekusi kejam terhadap anggota-anggota Gerwani, harus diungkap dan diketahui oleh bangsa kita, khususnya para penggiat yang berjuang untuk hak-hak wanita dewasa ini.

Mengapa Gerwani? Karena sejarah gerakan wanita Indonesia terbesar Gerwani, telah begitu direkayasa dan dipalsukan sehingga pada zaman Orba, nama Gerwani itu telah difitnah, dituduh melakukan perbuatan paling hina, cabul dan kotor, yang katanya dilakukan oleh wanita-wanita anggota Gerwani. Yaitu, melakukan 'orgi'. Lewat suatu tarian seksual cabul melakukan siksaan terhadap para jendral dalam peristiwa pembunuhan di Lubang Buaya.

Mengapa Gerwani? Karena nama Gerwani telah difitnah secara sangat rendah dari awal sampai akhir penuh KEBOHONGAN BESAR, sebagai prolog pembantaian masal terhadap PKI, yang dianggap atau dituduh PKI, orang-orang Kiri dan orang-orang pendukung Presiden Sukarno.

Dalam rangka memperingati HARI WANITA INTERNASIONAL 8 MARET, maka kali ini, perhatian difokuskan pada GERWANI.

Masyarakat sejarah Indonesia beruntung dengan adanya hasil riset dan studi pakar Belanda, Saskia Eleonora Wieringa. Dalam tahun 1995 ia menulis bukunya, berjudul: The Politization of Gender Relation in Indonesia – The Indonesian Women's
Movement and GERWANI Until the New Order State. Edisi Indonesia terbit dengan judul Penghancuran Gerakan Perempuan Indonesia.

* * *

Menjelang Hari Wanita Internasional 8 Maret 2011, penting arti pernyataan (Antara, 03 Maret 2011) Ketua KOMNASHAM PEREMPUAN, Yuniyanti Chuzaifah. Ia antara lain mendesak Presiden SBY untuk membatalkan keputusan Perda yang melarang kegiatan Ahmadiyah. Karena larangan itu bersifat diskriminatif. Yuniyanti Chuzaifah menegaskan: "Komnas Perempuan berpendapat bahwa presiden perlu segera membatalkan seluruh kebijakan daerah yang diskriminatif atas nama agama yang jelas bertentangan dengan UUD 1945.

Hingga akhir Februari 2011, telah terbit 192 kebijakan diskriminatif atas nama agama yang menyuburkan sikap intoleransi dalam masyarakat,"

Yuniyanti bersama tujuh pengurus Komnas Perempuan menemui presiden dan menyampaikan empat isu krusial terkait pelanggaran atas hak-hak konstitusional perempuan serta langkah-langkah strategis yang dapat ditempuh Kepala Negara.

Empat isu krusial itu adalah diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan atas nama agama dan moralitas, penanganan parsial kekerasan terhadap perempuan dalam situasi konflik dan pelanggaran HAM masa lalu, diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan dalam konteks migrasi, dan penguatan lembaga penegakkan hak asasi manusia perempuan.

"Keempat isu krusial ini membutuhkan penyikapan segera dari presiden selaku kepala negara”.

* * *

Berikut ini adalah bagian-3, yang merupakan lanjutan dari Bg-2, kutipan dari PENDAHULUAN buku Prof Dr Saskia Wirienga, edisi Indonesia berjudul: “Penghancuran Gerakan Perempuan Indonesia”.

“ Fokus karangan ini terletak di Jawa. Antara lain karena Jawa merupakan pulau di Indonesia yang berpenduduk paling padat, tetapi lebih dari itu karena Jawa merupakan pusat kegiatan politik untuk negeri ini. Dengan giat Sukarno menggalakkan Jawanisasi terhadap budaya politik Indonesia, suatu langkah politik yang diikuti PKI. Kebijakan ini tetap dilanjutkan di bawah rezim S|uharto.

|”Butir utama argumen saya berkisar di seputar periode antara 1950-1965; yaitu periode Orde Lama, dan meluas sampai 1967, yaitu ketika Sukarno memberi kekuasaan de facto atas Indonesia kepada Suharto. Oleh karena perkembangan-perkembangan yang terjadi selama Orde Lama diantar oleh kebangkitan nasional masyarakat Indonesia, yang berlangsung selama dasawarsa-dasawarsa terakhir kekuasaan kolonial dan masa pendudukan Jepang, maka periode ini pun tidak saya luputkan dari perhatian.

“Struktur karangan ini sebagai berikut. Proses penelitian diuraikan dalam bab pertama. Bab berikut menjelaskan tentang kerangka teoretis, yang saya bangun di atas konsep gender sebagai alat analisis untuk memahami gerakan-gerakan dan organisasi-organisasi kaum perempuan, serta manipulasi politik memperhinakan perempuan. |Bab-bab mengenai sejarah yang menyusul masing-masing membahas sejarah organisasi-organisasi kaum perempuan Indonesia sampai saat kemerdekaan, perkembangan politik pemerintahan Orde Lama dan gerakan perempuan dalam periode ini.

“Tiga bab pertama tentang Gerwani membahas sejarah organisasi ini secara umum, dan beberapa masalah keorganisasiannya. Dua bab berikutnya masing-masing menitik-beratkan pada politik dan ideologi Gerwani. Masalah pokok yang diajukan dalam dua bab ini yaitu, apakah alasan pembenaran untuk tuduhan yang dilemparkan kepada Gerwani, sesudah 1 Oktober 1965 itu, dapat ditemukan dalam ideologi dan praktek organisasi. Kesimpulan saya ialah, jika ditinjau dari sudut seksualitas, Gerwani dapat dikatakan suatu organisasi yang agak konservatif. Bab terakhir membahas “kup pertama”, 1 Oktober, dan mengemukakan cerita dari hari ke hari bagaimana tahap pertama dari kup kedua yang secara diam-diam, dan bagaimana kampanye menentang Gerwani dan PKI disusun.

“Untuk mengantar tema-tema tsb diatas, dan memberi contoh tentang dedikasi dan aspirasi anggota-anggota Gerwani, Kata Pengantar ini ditutup dengan sebuah wawancara dengan seorang kader Jawa. Hampir dua puluh tahun sesudah “kejadian” 1965 masih juga sangat berbahaya bagi bekas anggota Gerwani untuk ditemui orang asing. Tetapi wawancara ini dapat dilakukan dengan mudah, karena saya mendapat sakit pinggang yang luar biasa dan dirawat oleh Ibu Marto, sebutlah ia begitu, seorang tukang pijit dan tusuk jarum yang terkenal. Kepandaian memijat dan tusuk jarum ini mulai dipelajarinya ketika di dalam penjara.

“Kami berjanji bertemu di rumah seorang kenalan kami. Biasanya saya dipijit sepanjang pagi. Dalam kesempatan itulah, sambil memijit dan mengurut punggung saya, ia menceritertakan kisahnya yang sepotong-sepotong. Stiap kali ia menyentuh bagian tubuh saya yang terasa sakit, kami berhenti bercakap-cakap. Pada saat-saat kami samasekali saling membisu, kesunyian itu menjadi penuh diliputi bayang-bayang kisahnya yang menyihiri isi seluruh bilik kecil kami. Dan saya biarkan jari-jemarinya yang kuat dan berpengalaman itu merajalela bermian-main di sekuujur tubuh, dari ujung rambut sampai ujung jari-jari kaki. Andaikta seorang di luar lewat, atau masuk rumah, yang terdengar dan terlihat olehnya hanyalah suara percakapan seorang tukang pijit dan pasiennya, yang bicara tentang pinggang yang nyeri.

“Keluarga saya tidak berlatar belakang kiri. Saya sajalah satu-satunya di dalam keluarga kami yang masuk dalam organisasi progresif. Saudara misan saya anggota PKI. Dan ketika saya berumur 17 tahun, dialah yang mendorong agar saya masuk Pemuda Rakyawt.

“Saya sangat senang di Pemuda Rakyat. Kami melakukan segala macam kegiatan bersama-sama. Terkadang menari, menyanyi dan juga bermain drama, dengan cerita-cerita yang berisi politik. Juga diberikan kursus soal-soal kerumah-tanggaan seperti masak-masak dan menjahit. Tentu saja setiap saat kami selalu berdiskusi soal-soal politik.

“Beberapa tahun sesudah itu saya masuk Gerwani tingkat ranting. Pimpinan menaruh perhatian pada saya, karena saya selalu mendengarkan dengan baik, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan membantu mengurusi kegiatan. Saya mengikuti kursus kader dan mulai giat di tingkat cabang. Saya sangat bersemangat dan bekerja keras, sehingga karenanya dipilih untuk tingkat daerah, dan akhirnya sampai tingkatr pusat.

“Seluruhnya sudah tiga kali saya mengikuti kursus. Yang paling lama di Jakarta. Di sini kami digembleng selama satu bulan, bekerja di berbagai daerah ke mana kelak kami masing-masing akan dikirim. Mata pelajaran termasuk pendidikan politik, mempelajari teks-teks pidato Bung Karno dan Bung Aidit, diskusi tentang soal-soal keorganisasian dan kerumahtanggaan. Juga kami mendapat pendidikan latihan kepemimpinan. Sore hari kami belajar teks-teks karya Marx, Lenin, Stalin, Engels, dan tentu saja beberapa bagian dalam Sarinah, buku karangan Bung Karno itu. Pimpinan pusat menggunakan semua teks itu sebagai bahan bacaan.

“Biasanya juga kami mendiskusikan sejarah organisasi. Saya menjadi anggota organisasi dalam pertengahan 1950-an, ketika namanya sudah berubah menjadi Gerwani. Gerwis, begitu dulu biasanya disebut, kamu tahu, sedikit sektaris. Sedikit sekali perempuan dari lapisan bawah yang menjadi anggota. Organisasi ini dianggap terlalu merah, terlalu PKI, terlalu ekstrem. Sebenanrya kami rasa penilaian itu tidak benar. Orang yang pernah mengenal Gerwis disaat-saat awal, jauh lebih menyukai daripada ketika Gerwis telajh berkembang menjadi besar. Tetapi begitu itulah orang menilai. Maka dalam kongres dalam tahun 1954 jadilah kami Gerwani. Dengan sikap yang lebih luwes, khususnya dalam soal-soal keperempuanan berkurang, sementara itu soal-soal ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan mendapat perhatian lebih besar.

“Yang sangat saya senangi dari semua kegiatan selama tahun-tahun itu, ialah usaha kami untuk menjalin hubungan dengan perempuan tani. Jika saya pergi ke suatu desa dan di sana bertemu dengan seorang perempuan, yang mungkin kenalan atau saudara salah seorang kenalan saya entah dimana, lalu memperkenalkan diri sebagai anggota Gerwani, kamu tahu apa yang terjadi? Biasanya mereka tidak kenal, apa itu Gerwani. Lalu saya perlu jelaskan kepadanya, soal-soal apa yang kita perjuangkan. Umumnya mereka tertarik pada organisasi kami karena pendirian kami terhadap poligami. Soal kedua yang menarik perhaian perempuan tani ialah soal upah rendah. Umumnya mereka menyetujui gagasan kemerdekaan perempuan, karena kejengkelan karena upah mereka lebih rendah dari upah laki-laki. Jika seorang telah masuk menjadi anggota, kepadanya diminta agar menarik seorang teman lagi, begitu seterusnya, sehingga terbentuklah sebuah kelompook kecil. Kelompok-kelompok inilah basis organisasi kami. Melalui rapat-rapat kelompok, mereka akan mulai mengerti tentang hak-hak mereka dan tentang sistem feodal. Karena sistem feodal inilah yang menjadi sebab-musabab penderitaan kaum perempaun Indonesia.

“Tentang soal-soal seperti itu kami akan membacanya dalam koran Harian Rakyat dan berkala Berita Gerwani, lalu kami akan membahas bersama-sama karangan-karangan yang kami kehendaki. Kami hampir tidak pernah membaca Api Kartini, yang tidak berpihak, bebas, dan tidak jelas warnanya, Majalah ini tidak menarik untuk perempuan di desa-desa, atau perempuan-perempuan kampung di kota.

“Kami bangga pada organisasi kami. Karena Gerwani telah berjuang untuk perbaikan nasib perempuan, menentang kenaikan harga, dan memperjuangkan kenaikan upah. Sungguh menyenangkan bisa berdiri di barisan depan, dan melihat bahwa sesungguhnya kami bisa berbuat sesuatu.




* * *

Wednesday, March 2, 2011

KARLINA, BUAH HATIKU TERSAYANG!

*IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita*

*Rabu, 03 Maret 2011*

----------------------------------------------------


*KARLINA, BUAH HATIKU TERSAYANG! *

*< IN MEMORIAM KARLINA HERAWATY DJAMAN (7/11/1961-26/2/2011) >*


Demikianlah S. Nurdianty, Ibunda Karlina Herawaty Djaman, memulai kata perpisahannya dengan putrinya, *BUAH HATIKU TERSAYANG! *


Karlina Herawaty Djaman meninggal dunia pada tanggal 26 Februari 2011 y.l. Hari Rabu, tanggal 03 Mret 2011, Ruang Duka Aula Crematorium De Nieuw Ooster, Kruislaan 126, Amsterdam penuh sesak dengan putri-putrinya, menantu cucu, para sahabat dan kenalan ibu dan ayahnya nya Noor Djaman, penulis dan mantan pemimpin redaksi sebuah surat kabar di Kalimantan, dalam tahun 1960-an. Juga hadir para sahabat dan kenalan Karlina, baik yang di kantornya, maupun sahabatnya sejak dulu. Beberapa diantara hadirin terpaksa berdiri di bagian belakang.


Begitu hening, begitu hikmat, sedih dan demikian mengharukan mendengarkan ucapan “Selamat Tinggal” Bunda S. Nurdianty kepada Karlina, putrinya tercinta.


Kita, ikut berdukacita, mengucap belasungkawa, semoga keluarganya yang ditinggalkan tabah menghadapi masa-masa yang sedih ini.


Di bawah ini selengkapnya curahan hati S, Nurdianty:


* * *


”*BUAH HATIKU TERSAYANG”*

Kukandung sembilan bulan lamanya.

Lahir betapa gembira dan bahagiaku.

Kutimang dan kusayang, kubelai rambutmu yang hitam lebat hingga dewasa.

Sifatmu yang penuh kesabaran dan kehalusan dalam kata.

Cintamu yang mendalam pada seluruh keluarga telah tertanam dan tumbuh subur pada segenap hati kita.


Bila terjadi kekeliruan dalam menghadapi kesalah-pahaman kau telah menyatakan contoh sekeluarga semua bisa terjadi; karena akibat pikirkan berhati-hati baru dapat jawaban yg pasti. Untuk ini sekarang Mama sungguh kehilangan sandaran.


Dengan tak terduga-duga tiba-tiba dirimu telah direnggut oleh derita kesakitan yang luar biasa. Sekalipun demikian kau telah menerima kenyataan dengan penuh kesadaran.


Kau telah katakan pada Mama, ”Demi cintanya seluruh keluarga pada diriku maka aku akan bertahan. Namun, dalam kenyataan kau tak mampu lagi untuk memenuhi keinginanmu.


Kini kau telah pergi untuk memenuhi panggilan untuk kembali ke tempat asalmu, yang bebas dari derita kesakitan. Untuk pergi jauh. Mamapun tak akan dapat menemukan jejak langkahmu, dan tak akan lagi mendengar dering telepun ucapan *selamat malam, I love you, cium sayang*, yang selalu kau lakukan setiap malam sebelum tidur.


Selamat jalan sayangku, selamat jalan sampai jumpa di alam baka.


* * *


*Para Teman Sejawat, Sekantor ABN-AMRO Bank*


Yang kenal baik dan punya kenang-kenangan amat berkesan tentang Karlina sebagai sahabat yang menyenangkan, di tempat pekerjaannya di ABN-AMRO Bank, mengutarakan rasa sedih dan kehilangan mereka, dalam kata-kata duka yang diucapkan (dalam bahasa Belanda) atas nama sahabat-sahabat rekan Karlina di ABN-AMRO Bank.


Rekan-rekan dan sahabat Karlina tsb mengutarakan a.l kesedihan mereka dan merasa kehilangan dengan meninggalnya Karlina. Duabelas tahun lamanya mereka bekerja bersama mengenal Karlina sebagai orang yang pendiam dan suka bekerja keras, serta teguh mempertahankan pendapat dan pendiriannya. Mereka terkesan sekali mengenal Karlina sebagai manusia-keluarga, yang amat memperhatikan orangtua, kakak dan adiknya serta kemenakan-kemenakannya. Yang dalam kehidupan sehari-hari gemar olahraga badminton, serta aktif ambil bagian dalam turné yang dilangsungkan oleh keluarga karyawan ABN-Amro Bank.


Di bawah ini selengkapnya teks dalam bahasa Belanda, ucapan selamat tinggal rekan-rekan dan sahabat Karlina yang diucapkan dalam bahasa Belanda.


* * *


Lieve Karlina, lieve familie, lieve aanwezigen,


Gevoelens van verdriet opschrijven is moeilijk, gevoelens van verdriet aan papier toevertrouwen na het overlijden van Karlina vind ik heel moeilijk.


Een ruime 12 jaar was Karlina onze collega bij de ABN-AMRO Bank NV, begonnen op het IPC aan het Rembrandtplein en eindigend op de afdeling Bewindvoering. Karlina was een rustige collega, geen prater maar meer een werkster. Karlina had een eigen mening en als ze ergens voor stond, dan dield ze zich er ook aan, ze was standvastig. Karlina had haar groepje met collega veriendinnen al snel gevonden en met die collega's ging ze nu nog om. Dat zegt ook iets over haar trouw. Sportief was Karlina ook en dan vooral met badmintonnen. Tijdens een aafdeling toernooi van de bank kon je zien hoe fanatiek ze het beoefende en dat waren we eigenlijk niet van haar gewend, maat het was wel mooi om te zien.


Naast dat wij Karlina zullen missen als collega en vriendin, zal haar familie haar heel erg gaan missen. Karlina was een echt familiemens die zich wegcijverde om haar avader en haar moeder te verzorgen. Iedere donderdag en in het weekend stond ze voor hen klaar. En ze ging altijd met plezier naar haar zus en zwager in Almere en naar haar zus en zwager en neefjes in Parijs.


Vorig jaar wilde ze nog naar Indonesië op vakantie naar haar roots, maar haar ziekte zorgde er voor dat dat niet doorging. En Karlina maakte zelfs al plannen om in februari van dit jaar nog naar Parijs te gaan om haar zus te bezoeken. Ze bleef optimistisch maar helaas, haar ziekte liet het niet meer toe.


In november rond Karlina's 49ste verjaardag is ze nog lekker uit eten geweest met Fun, Onh en Romana en daar verheugde ze zich erg op, weer iets anders om over te denken en te ondergaan dan haar ziekte.


Op tien februari waren Fun, Romabna en ik nog bij Karlina op bezoek, en het deed ons pijn om te zien hoe ze streed tegen de pijn en hoeveel moeite Karlina moest doen om voldoende lucht te kirjgen. Dan zit je naar haar bed, machteloos, Karlina graag willen helpen, maar niets kunden doen, dat doet pijn.


Karlina was veel te kort op deze wereld, door een ziekte die niet te overwinnen was. We zullen haar allemaal heel erg missen.


Steun en help elkaar in het dragen van dit grote verlies en dit grote verdriet.


Karlina rust zacht,


Amsterdam, 2 maart 2011.