Friday, June 8, 2012

MENGHARAPKAN PERHATIAN SERIUS SELURUHMASYRAKAT:


MENGHARAPKAN PERHATIAN SERIUS SELURUHMASYRAKAT: 

Pernyataan pers YPKP 65 menyikapi Keputusan Komnas HAM
yang menunda Sidang Paripurna

* * *

KOMNAS HAM TIDAK SEGERA UMUMKAN HASIL TIM PENYELIDIKAN pro yustisia 1965, BERARTI
MELANGGENGKAN IMPUNITAS dan JEGAL REFORMASI

Sehubungan dengan penundaan pengumuman Hasil Tim Penyelidik pro yustisia Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tentang Peristiwa 1965/1966 yang dibahas dalam Sidang paripurna Komnas HAM pada 4-6 Juni 2012 dimana dalam keterangannya, Sidang Paripurna meminta Tim Penyelidik perlu mereformulasi laporannya dengan melibatkan keterangan Ahli dan Asistensi dari Unsur Masyarakat. Hasil reformulasi tersebut akan dibahas dalam Sidang Paripurna mendatang ( tidak dijelaskan tanggal kapan akan diadakannya Sidang Paripurna).

Sungguh aneh dan tidak masuk akal. Pekerjaan Tim Penyelidik yang memakan waktu selama 3 tahun, yang telah melengkapi dengan data-data tempat dan waktu terjadinya pelanggaran HAM/kekerasan politik pada tahun 1965/1966 di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, masih harus dimentahkan oleh Sidang Paripurna.

Keterangan para saksi Korban merupakan bukti yang tidak terbantahkan.Apakah pembunuhan massal, penghilangan manusia secara paksa, penculikan, pemerkosaan/pelecehan seksual, penyiksaan, penahanan dalam jangka waktu tidak terbatas (12-14 tahun), pemaksaan kerja tanpa diupah, diskriminasi hak-hak dasar warga Negara (politik, ekonomi, sosial, budaya serta hukum), perampokan harta benda milik korban, pencabutan paspor tanpa proses pengadilan, pengalihan hak kepemilikan tanah secara tidak sah, pencabutan hak pensiun, pencabutan hak sebagai pahlawan Nasional, pencabutan hak sebagai anggota veteran, pengucilan dan pembuangan, pencabutan memperoleh hak belajar bagi keluarga mantan tahanan politik serta stigmatisasi, dsb.nya, bukan pelanggaran HAM Berat?

Dengan alasan perlu mereformulasi laporan, yang akan melibatkan keterangan Ahli dan Asistensi dari unsur Masyarakat adalah isyarat yang kasat mata bahwa Komnas HAM sengaja mengulur waktu penanganan penegakan HAM khususnya Tragedi Kemanusiaan 1965/1966, yang berpotensi ingin menjegal hasil penyelidikan Tim Investigasi 65 dan berarti Komnas HAM justru melanggengkan impunitas, tidak serius dalam bekerja yang berarti juga pengkhianatan atas misi dan visi Komnas yang diembannya.

Di tengah usaha berbagai pihak untuk menyelesaikan kasus terjadinya pelanggaran HAM masa lalu yang sedang digagas oleh Wantimpres, Menkopulhukam, Kemenhukam, Staff Khusus Presiden, LPSK, dll., adalah sungguh tidak tepat apabila Komnas HAM justru tidak segera mengumumkan hasil Tim Penyelidikannya yaitu bahwa Tragedi/Pembunuhan massal 1965 adalah kejahatan kemanusiaan/pelanggaran HAM Berat.

Berkenaan dengan penundaan Sidang Paripurna Komnas HAM yang keempat kalinya membahas Penyelidikan Peristiwa 1965/1966, maka dengan ini YPKP 65 beserta Relawan dan para Korban Tragedi Kemanusiaan 1965/66 di seluruh penjuru Tanah Air menyatakan sikapnya, sebagai berikut:

1. Menyatakan rasa kekecewaan yang mendalam atas penundaan tersebut.

2. Mendesak untuk segera mengumumkan hasil Tim Penyelidik pro yustisia Peristiwa 1965/1966 secepatnya dan memastikan bahwa Tragedi Kemanusiaan/Pembunuhan massal 1965/66 adalah kejahatan kemanusiaan/pelanggaran HAM Berat, hal ini karena masa bhakti Komisioner Komnas HAM akan segera berakhir pada Agustus 2012, agar tidak membebani tugas Komisioner periode berikutnya.

3. Apabila dalam waktu yang secepat-cepatnya Komnas HAM tidak segera menyelesaikan tugas dan wewenangnya seperti yang diatur dalam mekanisme kerja Komnas HAM dan Undang-Undang yang berlaku, maka YPKP 65 beserta para Korban Tragedi Kemanusiaan khususnya Korban 1965/1966 bekerja sama dengan Organisasi-Organisasi yang peduli terhadap penegakan HAM dan Demokrasi tidak menutup kemungkinan untuk melakukan upaya hukum ke Pengadilan Tata Usaha Negara dengan alasan Komnas HAM sengaja menjegal upaya penegakan Hak Asasi Manusia.

4. Sebagai upaya terakhir, karena sistem penegakan hukum dalam negeri tidak ada kemampuan, kejelasan dan keseriusan, maka YPKP 65 akan melakukan pelaporan ke mekanisme pengadilan Internasional yaitu: ICC (International Criminal Court Mahkamah Pidana Internasional), Pelaporan ke United Nations Working Group on Enforced Disappearances ( Kelompok Kerja PBB untuk menangani Penghilangan Orang secara paksa), Dewan HAM PBB, Dewan HAM Asia, Dewan HAM Asean, Amnesty International, ICRC (International Committee of Red Cross / Komite Palang Merah Internasional) dll.

Demikian pernyataan ini kami buat agar khalayak ramai mengetahuinya.


Jakarta 08 Juni 2012
Bedjo Untung

Ketua YPKP 65

YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 1965/1966 (YPKP 65)
Indonesian Institute for The Study of 1965/1966 Massacre
SK Menkumham No.C-125.HT.01.02.TH 2007 Tanggal 19 Januari 2007
Tambahan Berita Negara RI Nomor 45 tanggal 5 Juni 2007 , PENG
Jalan M.H.Thamrin Gang Mulia no. 21 Kp. Warung Mangga,RT 01 RW 02
Panunggangan , Kecamatan Pinang, Kab/Kota Tangerang 15143
Banten,INDONESIA Phone : (+62 -21) 53121770, ,











Tuesday, June 5, 2012

Kesan-kesan Kunjungan 08 hari ke Turki (Bg 3, Selesai)


Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 05 Juni 2012
----------------------------

MUNGKIN KITA HARUS Dng RENDAH HATI “BELAJAR DARI TURKI Yang SEKULER <Bagian – 3, Selesai>


Sempat kuceriterakan bahwa ISMAIL, ya, dia itu “guide” warga Turki yang mengantar rombongan Indonesia dari Holland ke berbagai tempat di Turki, --- betul adalah orang yang mengenal sejarah bangsanya. Baik ketika zaman kuno. Maupun yang kontemporer. Ismail adalah seorang intelektual. Dia pelajari benar hal itu. Karena pekerjaannya sebagai pengantar tamu mengharuskannya sedikit-banyak mengetahui tentang negeri dan rakyat Turki.

Ismail tidak hanya cerita tentang hasil-hasil pertanian Turki yang berlimpah ruah, seperti zaitun, anggur (Sultana), fig, jeruk, semangka, dll. Lalu ia certia mengenai luasnya pertanian kapas dan tembakau dll. Tentang kekayaan bumi Turki, seperti minyak dan bahan-bahan tambang dan mineral lainnya.

Ismail juga bisa bicara soal politik dewasa ini. Naah, ini interesan. Karena tidak sering seorang pengantar orang setempat yang menjelaskan masalah politik negerinya.

* * *

Suatu ketika dalam perjalanan peninjauan dengan bus, seperti biasa, Ismail menjelaskan obyek yang akan ditinjau hari itu. Sebelumnya Ismail sudah menyapa: “Selamat pagi !”.
Selamat pagi”, jawab kami serempak sambil tertawa gembira. Menyambut Ismail yang sudah pandai menyapa kami dalam bahasa Indonesia. Ismail juga sudah tahu menyatakan: “selamat malam”, “sampai besok” dll. Meski sepatah dua saja bahasa Indonesia yang dihafalnya, tapi itu sudah menambah keakraban kami dengan Ismail. Satu dua orang dari kami berusaha mengingat-ingat, “selamat pagi”, “selamat malam”, dalam bahasa Turki. Tapi, yah, tidak sempat dipraktekkan. Juga sementara ada yang sudah lupa.

* * *

Dalam perjalanan hari itu, penjelasan Ismail tiba pada situasi di Turki dewasa ini. Dengan bangga Ismail cerita, bahwa sekarang ini, bukan orang-orang Turki yang keluar negeri cari pekerjaan. “Sekarang ini orang-orang Junani yang negerinya sedang krisis ekonomi itu, pada berdatangan cari pekerjaan di Turki. Juga orang-orang Rumania, Bulgaria dan Albania pada mencari kerja di sini”, ujar Ismail.

Sekali dimulai pembicaraan situasi (politik Turki) dewasa ini, aku segera 'masuki' pembicaraan tsb. “Ismail”, kataku. “Seperti diketahui, Turki sejak beberapa tahun yang lalu telah mengajukan untuk jadi anggota Uni Eropah. Kita juga tahu, Turki adalah anggota persekutuan militer Barat plus AS, NATO (North Atlantic Treaty Organization). Apa sebabnya sampai sekarang Turki masih saja belum diterima dalam Uni Eropah?”tanyaku.

Ya”, jawab, Ismail, dengan wajah menunjukkan kejengkelannya. “Mereka itu, Eropah Barat, terutama Jerman dan Perancis, TAKUT pada Turki. Mereka khawatir bila Turki diterima masuk jadi angggota Uni Eropah, maka orang-orang Turki akan berbondong-bondong membanjiri Eropah Barat.”

Kukatakan kepada Ismail: Alasan atau dalih yang dikemukakan sementara negeri dari Uni Eropah, ialah, bahwa mayoritas penduduk Turki beragama Islam. Jadi, tidak cocok, tidak “nyambung” dengan kultur Eropah Barat yang beragama Kristen. Mereka mengatakan sudah merasa “kewalahan” dan khawatir dengan membengkaknya penduduk imigran di Eropah yang beragama Islam.

Sebagai dampak sampingan dengan kedatangan puluhan ribu “buruh-tamu” yang beragama Islam terutama dari Maroko dan Turki ke Belanda dan Belgia' dan buruh Turki ke Jerman'; serta dari Aljazair, Maroko dan Tunis ke Perancis, pada tahun 70-an abad lalu. Mereka-mereka itu seperti sudah “lupa”. Bahwa, ketika negeri-negeri Eropah tsb sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang menggebu-gebu. Saat itu Eropah Barat membutuhkan banyak tenaga kerja (yang murah) untuk industri dan modernisasi infra-struktur negeri mereka. Ketika negeri-negeri Eropah itu memerlukan demi kepentingan pertumbuhan ekonominya, adalah mereka sendikri yang mengundang “buruh tamu” dari negeri-negeri dunia ketiga. Setelah mencapai kemajuan pesat, sudah “mapan”, negeri-negeri Eropah Barat itu megambil sikap “habis manis sepah dibuang”. Malah seorang politikus Kanan, dari parpol PVV di Nederland, berprovokasi, dengan mengatakan bahwa bila perkembangan ini tidak distop, maka pada suatu waktu kelak, “Eropah Barat yang Kristen, akan didominasi oleh Islam”.

* * *

Jelas Ismail: Alasan sesunguhnya mengapa Eropah Barat tersendat-sendat, mengulur-ulur bahkan berkecenderungan menolak masuknya Turki masuk organisasi Uni Eropah, masalahnya adalah “pembagian kemakmuran”. Soal “Membagi-bagi kuéh Eropah”, itulah yang menjadi penyebab penolakan sementara negara Eropah Barat terhadap masuknya Turki. “Kuéh itu”, kata Ismail mau mereka makan sendiri. Memang mereka juga khawatir dan takut bahwa bila Turki diterima menjadi anggota Uni Eropah, dan lalu-lintas warga antar negara anggota Uni Eropah sudah menjadi bebas sepenuhnya, maka orang-orang Turki akan berbondong-bondong membanjiri negeri-negeri Eropah Barat. Membikin perimbangan penduduk “asli” yang Kristen terbanding dengan kaum imigran yang Muslim, menjadi “jomplang”.

Ketakutan ini tak beralasan”, kata Ismail. “Kami tidak akan berbondong-bondong menuju ke Eropah Barat. Kami mencintai negeri ini”.

Negeri-negeri Eropah memang juga merasa takut akan bertambah besarnya pengaruh Islam terhadap Eropah Barat yang kulturnya Kristen itu. Mereka takut pada fundamentralisme Islam.

Padahal, kata Ismail, 70% dari orang-orang Turki yang beragama Islam, mereka adalah Muslim yang biasa-biasa saja. Seperti kebanyakan orang Islam di dunia yang TIDAK FANDAMENTALIS. Yang benar-benar mempraktekkan ajaran Islam dalam seluruh kehidupannya, jumlahnya hanya 30% saja. Itupun bukan yang fundamentalis. Demikian Ismail.

* * *

Apakah sesungguhnya yang menjadi penyebab, mengapa Turki yang yang sudah sejak awal abad keduapuluh-satu mengajukan ingin jadi anggota Uni Eropah, sampai sekarang masing terkatung-katun? Menurut Ismail, yang keras menolak adalah Jerman dan Perancis. Sampai di mana kebenaran keterangan Ismail tsb, masih harus diteliti lebih lanjut.

Yang bisa jelas diketahui adalah sikap parpol-parpol Belanda yang duduk dipemerintahan maupun yang oposisi.

Komentar-komentar di media Belanda menyatakan bahwa dengan masuknya Turki ke Uni Eropah, Turkilah pertama-tama yang akan menarik manfaatnya di bidang ekonomi. Belanda juga bisa menarik manfaatnya dengan perhitungan akan menanjaknya ekspor ke Turki sebanyak 20%. Dikatakan bahwa perkembangan ekonomi Turki berada jauh di belakang kebanyakan ekonomi Eropah Barat. Alasan ini, merupakan faktor utama keberatan negeri-negeri Eropah terhadap masuknya Turki.

Tapi mereka juga mengakui bahwa ekonomi Turki sedang tumbuh dinamis; rata-rata sekitar 12% sampai 13% setahunnya. Bahkan komentar yang agak obyektif menyatakan bahwa, Turki merupakan pasar luar biasa besar dengan negeri-negeri Arab sebagai tetangga belakangnya. Dengan demikian Uni Eropah memperoleh tambahan wilayah pasar yang luas. Penduduk Turki yang muda itu, dapat memecahkan masalah 'penuaan penduduk' dan kekurangan tenaga kerja yang diderita oleh Eropah Barat.

Keberatan lain negeri-negeri Eropah tsb, ialah masih belum diepnuhinya syarat-syarat negra hukum, pelaksanaan HAM, politik pemerintah terhadap golongan minoritas etnis KURDI, diskriminasi terhadap kaum perempuan yang dinyatakan sebagai salah satu dari syariah Islam, dan last but not least, adalah PERANAN MILITER.

Tercatat dalam sejarah Turki sejak berdirinya Republik Turki di bawah Mustafa Kemal Attaturk, kaum militer selalu memainkan peranan menentukan. Baik itu dilakukan melalui suatu kudeta, . . . atau dalam situasi berlangsungnya kehidupan demokrasi parlementer, mereka main di belakang layar. Jendral-jendral Turki yang setia pada prinsip yang diletakkan oleh Mustafa Kemal Attaturk, akan segera BERTINDAK begitu d
ianggap ada bahaya bahwa prinsip NEGARA SEKULER, akan diubah menjadi negara yang didasarkan atas Islam.

* * *

Ketika disinggung masalah politik pemerintah Turki terhadap suku Kurdi, yang dianggap adalah suatu tindakan represif, Ismail menolak. “Ah, mereka itu (Kurdi) adalah teroris yang merugikan rakyat. Dan perbuatan teroris itu harus ditindak dengan tegas”. Demikian Ismail.

Pada kesempatan lain, sahabatku Chalik Hamid, menegur aku: Bagaimana pendapat Bung terhadap penjelasan Ismail mengenai masalah KURDI? Aku nyatakan bahwa aku tidak sependapat dengan penjelasan Ismail.

Orang-orang yang membantu kami sekeluarga dari Stichting Vluchteling Nederland, ketika kami baru tiba di Belanda dan sedang diproses, adalah orang-orang Kurdi, kataku. Mereka itu korban persekusi pemerintah Turki yang dengan kekerasan menindas tuntutan dan gerakan orang-orang Kurdi Turki untuk hak-hak sama dan demokrasi. Mereka bukan teroris tetapi DIPUKUL RATA, semuanya dicap sebagai teroris agar bisa ditindak di luar hukum. Di sini kita berbeda pendapat dengan sahabat Turki, Ismail.

* * *

Mengunjungi negeri lain dengan berbagai motif, banyak seginya. Kali ini berkunjung keTurki atas usaha salah satu perkumpulan Arisan Indonesia di Belanda yang dikelola oleh sahabatku Taufik Tahrawi, sungguh dirasakan manfaatnya. Wajarlah kunyatakan disini terimakasihku! Juga penghargaan pada sahabatku Chalik Hamid yang membuat dan menyiarkan foto-foto yang dibuat selama kunjungan.

Selama kunjungan ini selain kita orang-orang Indonesia yang bermukim di negeri orang lebih saling mengenal dan menjadi lebih akrab.

Bagiku kunjungan ini merupakan suatu EYE OPENER . . . membuka mata mengenai keadaan suatu negeri Asia/Eropah, yang besar dan penting pengaruhnya di Asia, Eropah dan di dunia Islam.
Semoga pembaca sependapat dengan penulis untuk 'belajar kenal' dengan Turki Modern yang Sekuler.

Maka kuakhiri tulisan ini dengan kata-kata: Betullah kiranya:

Mungkin KITA HARUS Dng RENDAH HATI “BELAJAR” Dari TURKI Yang SEKULER.

* * *


SUKARNO DAN PANCASILA MASIH TETAP MEMIMPIN


Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 05 Juni 2012
-----------------------------
SUKARNO DAN PANCASILA MASIH TETAP MEMIMPIN INDONESIA MASAKINI


Satu Juni yang lalu HARI LAHIRNYA PANCASILA luas diperingati di media a.l dengan disiarkannya kembali warisan nasional dokumen bersejarah LAHIRNYA PANCASILA, pidato Bung Karno yang meletakkan dasar ideologi dan politikbagi negara Republik Indonesia. Dalam pada itu, besok, 06 Juni, adalah Hari Ultah Bung Karno yang juga mengundang banyak sambutan dan tanggapan.


Bagaimana selanjutnya dengan Pancasila dan peranan serta pengaruh kepemimpinan Bung Karno pada perjuangan kemerdekaan Indonesia dan kehidupan politik negara Republik Indonesia dewasa ini dan selanjutnya, setelah rezim Orba dan presidennya Jendral Suharto digulingkan dan Indonesia memasuki era Reformasi dan Demokratisasi.


Di bawah ini disiarkan kembali Kolom Ibahim Isa, 23 02,2010, serta tulisan cendekiawan Peter Dale Scot dan sebuah pengantar, dalam rangka menelaah kembali peranan tokoh dan pahlawan nasional Ir Sukarno dan dokumen politik bersejarah LAHIRNYA PANCASILA.


* * *



SUKARNO DAN PANCASILA MASIH TETAP MEMIMPIN INDONESIA MASAKINI , Kolom IBRAHIM ISA , 23 Februari 2010



Lahirnya Pancasila (1 Juni 1945), uraian Bung Karno mengenai
dasar-dasar negara Indonesia Merdeka yang segera akan lahir sekitar
periode itu, adalah sebuah pemikiran mendalam yang lahir dari tanah air
Indonesia. Ia merupakan hasil penggalian Bung Karno dalam usaha beliau
merumuskan falsafah dan prinsip-prinsip kenegaraan bagi suatu Indonesia
Merdeka yang meluas dan memanjang dari Barat sampai ke Timur. Dari
Sabang sampai Merauké. Lahirnya Pancasila merupakan perpaduan
pengetahuan teori ilmu politik, sosial dan ekonomi serta pengalaman
perjuangan langsung Bung Karno dan perjuangan rakyat Indonesia, melawan
kolonialisme Belanda.

Secara singkat padat Bung arno merumuskan bahwa negara dan masyarakat
yang kita sedang bangun adalah suatu nasion Indonesia yang dibangun atas
dasar prinsip Bhinneka Tungggal Ika, sering juga beliau merumuskannya
secara sederhana sebagai suatu masyarakat GOTONG ROYONG, yang bersatu,
adil dan makmur.

Negara kesatuan Republik Indonesia mencantumkan falsafah dan
prinsip-prinsip Pancasila dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.
Lahir dan beridirinya negara Republik Indnesia adalah didasarkan atas
falsafah dan prinsip-prinsip kenegaraan seperti yang dirumuskan oleh
Bung Karno dalam pemikiran politiknya yang klasik dan historis:
LAHIRNYA PANCASILA.


* * *

Menarik perhatian adalah pandangan seorang cendekiawan dan penyair
berbangsa Kanada, Prof. Dr Peter Dale Scott, mantan profesor di The
University of California, Berkely, mengenai Pancasila dan Bung Karno.
Dengan judul:

SOEKARNO Dan PANCASILA Masih Tetap Memimpin Indonesia Masa kini
Tulisan tsb khusus dibuat Peter Dale Scott dalam rangka merayakan
PERINGATAN SEABAD BUNG KARNO<06 Juni 1901- 2001> , sebagai artikel
pertama pada buku 100 TAHUN BUNG KARNO, yang diterbitkan oleh Penerbit
Hasta Mitra di bawah pimpinan editor Joesoef Isak. Buku tsb merupakan
sebuah LIBER AMICORUM (Jakarta, Juni 2001).


Peter Dale Scott dikenal di Indonesia dengan hasil kajiannya tentang
konspirasi CIA bersama klik militer Suharto dalam penggulingan Presiden
Sukarno sesudah terjadinya G30S. Mengantar tulisannya mengenai Pancasila
Bung Karno, Peter Dale Cott menulis kepada Joesoef Isak: . . . . I
must say it was inspiring to read Soekarno's speech, which carries a
very rich intelectual content. Scott menambahkan bahwa Pancasila tetap
valid bukan saja buat Indonesia, tetapi juga bagi Dunia , Joesoef Isak,
Editor Hasta Mitra.

Dalam situasi politik Indonesia yang politis dan ideologis masih sangat
labil, teristimewa menyangkut arah perkembangan nasion dan negara RI
selanjutnya, sungguh perlu sekali mengkaji kembali ajaran Bung Karno
mengenai falsafah Pancasila.

Lebih-lebih lagi formalnya Pancasila tetap merupakan dasar falsafah
negara Republik Indonesia. Dan hal itu resmi dan formal pula dicantumkan
di dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.



Oleh karena itu dirasa perlu menyiarkan kembali bagian-bagian tulisan Prof.
Peter Dale Scott, mengenai SOEKARNO DAN PANCASILA.


* * *

Sebagai tambahan bahan pengenalan dengan Peter Dale Scott, baik juga
dibaca kembali tulisan (mungkin yang pertama) Peter D. Scott tentang
Indonesia. Dalam majalah berkala Pacific Affairs,58, Musim Panas 1985,

the Overthrow of Sukarno, 1965-1967. Amerika Serikat dan Penggulingan
Sukarno, 1965-1967. Intisari dari analisis Scott, ialah seperti
ditulisanya sendiri:

Di Indonesiakan, menjadi kira-kira sbb :

Artikel ini memberikan argumentasi sebaliknya, yaitu, dengan menggiring, atau paling tidak
mambantu menggiring, 'kup' Gestapu, kaum kanan di Tentara Indonesia,
mengeliminasi saingannya di pusat tentara, dengan demikian melapangkan
jalan untuk melaksanakan penghancuran kaum kiri sipil yang sudah lama
direncanakan, dan akhirnya menegakkan kediktatoran militer. Dengan kata
lain, Gestapu, hanyalah merupakan fase pertama dari tiga fase kup sayap
kanan sesuatu yang didorong/disokong secara terbuka dan secara rahasia
dibantu oleh jurubicara dan pejabat-pejabat AS.

Jelas, analisis Peter Dale Scott, bertolak belakang dengan versi Orba
dan seluruh barisan pendukungnya sampai dewasa ini. Orba dan
pendukungnya menyatakan bahwa G30S adalah kudeta PKI (yang dilakukan
dengan sepengetahuan, didukung atau didalangi oleh Presiden Sukarno).
Sedangkan salah seorang tokoh pimpinan G30S, Kolonel A. Latief, dengan
tegas menyatakan di dalam pleidooinya di muka sidang Mahmilub, bahwa
Suharto jelas-jelas terlibat dengan G30S. Sejarawan John Roosa
menganalisis bahwa G30S adalah dalih untuk pembunuhan masal (1965),
suatu kampanye kolosal pembamian kaum Komunis dan golongan Kiri lainnya
di Indonesia, sebagai strategi menggulingkan Presiden Sukarno dan
menegakkan rezim kediktator militer yang pro-Barat.


* * *

PETER DALE SCOTT:

SOEKARNO Dan Pancasila Masih Tetap Memimpin Indonesia Masakini.
Pada saat Indonesia sekarang ini mengalami lagi krisis kepemimpinan
nasional, sangatlah berguna mengenang kembali pemikiran nation-building
Soekarno. Seperti juga Nehru di India, U Nu di Birma, Soekarno merupakan
bagian dari suatu arus baru munculnya pemimpin-pemimpin
pasca-imperialist yang menjanjikan suatu dunia dengan fondasi dan arah
baru dalam membenahi dunia seusai Perang Dunia Ke-II. Kini pada saat
harapan di tahun-tahun semasa Soekarno seakan sedang menyusut di
mana-mana, kepemimpinan dan pencerahan Soekarno yang istimewa itu tetap
masih bermanfaat untuk bangsanya maunpun bagi dunia.

Tantangan bagi para pemimpin Dunia Ketiga adalah memelihara persatuan
mereka sebagai nasion



sesudah tentara penjajah angkat kaki, dan memberdayakan rakyat-rakyat
mereka yang sekian lama tidak dipenuhi kebutuhannya, selanjutnya juga
membuat rakyat yang kurang berpengalaman agar memiliki rasa tanggung-jawab.

Melihat ke belakang di masa-masa lalu, prestasi Soekarno nampaknya luar
biasa, walaupun tidak selalu hasil-hasil itu terjamin kelestariannya.
India terpecah dan kebanyakan negeri-negeri Asia Tenggara mengalami
pemberontakan parah atau perang saudara yang berkepanjangan. Tetapi
Soekarno dengan kombinasi ajarannya, kepemimpinannya dan kharisma
pribadinya, mampu memlihara persatuan dan dan kesatuan Indonesia hampir
sepanjang zamannya. Yang terjadi hanyalah gangguan-gangguan bawaan
berupa kekerasan relatif kecil yang lazim terjadi di tempat-tempat lain
di kawasan itu. Hal-hal itu terjadi bersamaan pada saat negeri-negeri
kerajaan sebagai penjajah terpaksa di sana-sini melakukan penyesuaian.

Sukarno dalam menerapkan kepemimpinannya menghadapi tantangan besar
dari dalam dan luar negeri. Untuk menghindari perpecahan antara kekuatan
religius dan sekuler yang masih menggangu tetangganya di Filipina –
Soekarno pada tahun 1945, mengucapkan pidatonya yang termasyhur:
Pidato Pancasila. Di situ dia mem- balans kekuatan
nasionalisme, humanisme, dan demokrasi-permufakatan dengan beriman
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan cara itu ia memberlakukan toleransi
kemanusiaan di suatu negeri yang didominasi oleh kaum Muslim, suatu
prestasi yang sangat berhasil dan tetap masih valid di Indoneisa
walaupun menghadapi berbagai tantangan dan kegagalan berkali-kali.
Kenyataan ini tidak ada duanya, bila dibandingkan dengan negeri Muslim
di manapun di dunia.

Sungguh luar biasa – bahkan setelah penggulingan Soekarno,
musuh-musuhnya di kalangan militer Orde Baru tetap terpaksa secara
munafik mengunyah-ngunyah Pancasilanya Soekarno. Kenyataan seperti itu
rada memudahkan para pembela Pancasila sejati seperti PDI sekular
pimpinan anak Soekarno, Megawati Soekarnoputri, dan golongan Islam dari
Nahdatul Ulama untuk diam-diam bekerjasama me-restorasi demokrasi pada
saat kekuatan Suharto melemah. Bahkan Golkar, manifestasi bassis
kekuatan Suharto, harus mengemban komitmen untuk mewudjudkan
tujuan-tujuan Pancasila. Jadi dalam artian sesungguhnya dan dalam
kenyataan kongkrit, Soekarno dan Pancasila masih tetap memimpin
Indonesia masakini.

Pancasila memberikan suatu point of no return tidak ada jalan
mundur selain maju ke depan bagi persatuan dan kesatuan nasional Indonesia, sebagaimana juga
Konstitusi Amerika menjadi point of no return setelah bancana perang
saudara Amerika yang mengerikan (dan sebenarnya belum pernah usai secara
tuntas). Orang di Amerikapun berharap kata-kata bersayap Roosevelt
tentang The Four Freedoms (Empat Kebebasan) juga sama menjadi point
of no return setalah usai Perang Vietnam. Tetapi sekarang orang sudah
jarang mendengar tentang Empat Kebebasan Roosevelet itu, kecuali dari
mereka yang ingin menunjukkan betapa Amerika sudah jauh meléncéng dari
cita-cita Roosevelt itu.

Kebalikannya sangat kontras: Pancasila malah masih kiprah berkembang
terus.

* * *

Sunday, June 3, 2012

MARI DUKUNG SEKUAT-KUATYA AKSI KORBAN '65 DEMI KEBENARAN DAN KEADILAN


Kolom IBRAHIM ISA
Minggu, 03 Juni 2012
----------------------

MARI DUKUNG SEKUAT-KUATYA AKSI KORBAN '65
DEMI KEBENARAN DAN KEADILAN

Hari ini kuterima sebuah SERUAN AKSI KORBAN '65, yang dikeluarkan oleh
YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 1965/1966 (YPKP 65).

Aksi yang akan diselenggarakan di muka kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM ) Jalan Latuharhary No. 4B Menteng Jakarta Pusat besok, teramat penting. Besok Senin 04 Juni 2012 akan diadakan Rapat Pleno Paripurna yang membahas tentang hasil investigasi Tim Penyelidik pro yustisia Peristiwa 1965/1966 bentukan Komnas HAM.

Rapat Pleno itu akan menentukan nasib Penyelidikan Peristiwa 1965/1966, yaitu apakah Tragedi Kemanusiaan 1965/66 itu sebagai pelanggaran HAM berat/Kejahatan Kemanusiaan ataukah bukan. Rapat kali ini adalah untuk yang terakhir kalinya setelah tiga kali tertunda dengan berbagai alasan.

* * *

Aksi Korban '65 ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan kepada Komisioner untuk memastikan bahwa tragedi 1965/66 adalah kejahatan kemanusiaan/pelanggaran HAM Berat, dan segera umumkan ke publik atas peran militer/Negara/kekuasaan atas terjadinya malapetaka tersebut.

Mari dukung dan sukseskan AKSI KEMANUSIAAN INI.

Suksesnya aksi ini akan menciptakan syarat lebih lanjut bagi tercapainya KEBENARAN DAN KEADILAN untuk para KORBAN '65. Dan dengan itu mengakhiri KETIADAAN HUKUM (IMPUNITY) SEKITAR TRAGEDI NASIONAL 1965.

* * *

YPKP65:
Seruan Aksi Korban 65
di Komnas HAM 04 Juni 2012 JAM 11.00

* * *

SAATNYA KORBAN 65 REBUT KEADILAN
SERUAN AKSI 04 JUNI 2012 pukul 11.00
Di KOMNAS HAM

Dengan ini diserukan kepada Kawan-Kawan Korban 65 di mana pun berada serta Sahabat-Sahabat, Saudara-Saudara yang peduli terhadap perjuangan penegakan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi untuk bersama-sama bergandengan tangan dalam Aksi Besar Korban 1965/66 untuk Rebut Keadilan yang akan diadakan pada 04 Juni 2012 pukul 11.00 – sampai selesai di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM ) Jalan Latuharhary No. 4B Menteng Jakarta Pusat.

Aksi dgelar pada hari tersebut karena pada hari dan jam yang sama Komnas HAM akan menyelenggarakan Rapat Pleno Paripurna yang membahas tentang hasil investigasi Tim Penyelidik pro yustisia Peristiwa 1965/1966 bentukan Komnas HAM. Rapat Pleno itu akan menentukan nasib Penyelidikan Peristiwa 1965/1966, yaitu apakah Tragedi Kemanusiaan 1965/66 itu sebagai pelanggaran HAM berat/Kejahatan Kemanusiaan ataukah bukan. Rapat kali ini adalah untuk yang terakhir kalinya setelah tiga kali tertunda dengan berbagai alasan.

Ada isyarat pertarungan sengit antara Komisioner yang setuju pada kesimpulan bahwa Tragedi 1965/66 adalah kejahatan kemanusiaan, tapi ada juga pihak yang kontra pada kesimpulan tersebut.

Tragedi Kemanusiaan dan kekerasan politik pada 1965/1966 tidak dapat disangkal adalah kejahatan kemanusiaan yang paling biadab dan tanpa mengenal perikemanusiaan yang dilakukan oleh militer dengan membunuh 500.000 sampai 3.000.000 jiwa Rakyat Indonesia tanpa melalui proses hukum. Sungguh aneh bila ada segelintir orang yang menganggap tragedi tersebut bukan pelanggaran HAM Berat.

Apakah penangkapan, pemenjaraan, pemaksaan kerja di kamp-kamp konsentrasi tanpa prosedur hukum bukan pelanggaran HAM Berat? Juga penjarahan, perampokan, pelecehan seksual, pembakaran rumah milik rakyat Indonesia bukan kejahatan kemanusiaan?

Mengingat pentingnya rapat penentuan tersebut, kami Korban Pelanggaran HAM/Korban 65 dan Keluarga Korban/ Organisasi Korban 65 serta Organisasi yang peduli atas perjuangan penegakan HAM dan Demokrasi mengajak untuk mari bersama-sama melakukan Aksi, memberikan dukungan kepada Komisioner untuk memastikan bahwa tragedi 1965/66 adalah kejahatan kemanusiaan/pelanggaran HAM Berat, dan segera umumkan ke publik atas peran militer/Negara/kekuasaan atas terjadinya malapetaka tersebut. Aksi akan diadakan di halaman belakang Komnas HAM pada pukul 11.00 WIB.Titik kumpul di halaman Kontras jl Borobudur 14 Menteng Jakarta Pusat, jam 10.00

Keadilan mustahil akan turun dari langit, melainkan harus kita rebut !!!
Salam Kemanusiaan,
Bedjo Untung

Ketua YPKP 65

YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 1965/1966 (YPKP 65)

Indonesian Institute for The Study of 1965/1966 Massacre

SK Menkumham No.C-125.HT.01.02.TH 2007 Tanggal 19 Januari 2007

Tambahan Berita Negara RI Nomor 45 tanggal 5 Juni 2007 , PENGURUS PUSAT

Jalan M.H.Thamrin Gang Mulia no. 21 Kp. Warung Mangga,RT 01 RW 02

Panunggangan , Kecamatan Pinang, Kab/Kota Tangerang 15143

Banten,INDONESIA Phone : (+62 -21) 53121770, Fax 021-53121770





PERHATIKAN SERUAN DI BAWAH INI

* * *
Seruan Aksi Korban 65
di Komnas HAM 04 Juni 2012 JAM 11.00

* * *


SAATNYA KORBAN 65 REBUT KEADILAN
SERUAN AKSI
04 JUNI 2012 pukul 11.00
Di KOMNAS HAM

Dengan ini diserukan kepada Kawan-Kawan Korban 65 di mana pun berada serta Sahabat-Sahabat, Saudara-Saudara yang peduli terhadap perjuangan penegakan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi untuk bersama-sama bergandengan tangan dalam Aksi Besar Korban 1965/66 untuk Rebut Keadilan yang akan diadakan pada 04 Juni 2012 pukul 11.00 – sampai selesai di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM ) Jalan Latuharhary No. 4B Menteng Jakarta Pusat.

Aksi dgelar pada hari tersebut karena pada hari dan jam yang sama Komnas HAM akan menyelenggarakan Rapat Pleno Paripurna yang membahas tentang hasil investigasi Tim Penyelidik pro yustisia Peristiwa 1965/1966 bentukan Komnas HAM. Rapat Pleno itu akan menentukan nasib Penyelidikan Peristiwa 1965/1966, yaitu apakah Tragedi Kemanusiaan 1965/66 itu sebagai pelanggaran HAM berat/Kejahatan Kemanusiaan ataukah bukan. Rapat kali ini adalah untuk yang terakhir kalinya setelah tiga kali tertunda dengan berbagai alasan.

Ada isyarat pertarungan sengit antara Komisioner yang setuju pada kesimpulan bahwa Tragedi 1965/66 adalah kejahatan kemanusiaan, tapi ada juga pihak yang kontra pada kesimpulan tersebut.

Tragedi Kemanusiaan dan kekerasan politik pada 1965/1966 tidak dapat disangkal adalah kejahatan kemanusiaan yang paling biadab dan tanpa mengenal perikemanusiaan yang dilakukan oleh militer dengan membunuh 500.000 sampai 3.000.000 jiwa Rakyat Indonesia tanpa melalui proses hukum. Sungguh aneh bila ada segelintir orang yang menganggap tragedi tersebut bukan pelanggaran HAM Berat.

Apakah penangkapan, pemenjaraan, pemaksaan kerja di kamp-kamp konsentrasi tanpa prosedur hukum bukan pelanggaran HAM Berat? Juga penjarahan, perampokan, pelecehan seksual, pembakaran rumah milik rakyat Indonesia bukan kejahatan kemanusiaan?

Mengingat pentingnya rapat penentuan tersebut, kami Korban Pelanggaran HAM/Korban 65 dan Keluarga Korban/ Organisasi Korban 65 serta Organisasi yang peduli atas perjuangan penegakan HAM dan Demokrasi mengajak untuk mari bersama-sama melakukan Aksi, memberikan dukungan kepada Komisioner untuk memastikan bahwa tragedi 1965/66 adalah kejahatan kemanusiaan/pelanggaran HAM Berat, dan segera umumkan ke publik atas peran militer/Negara/kekuasaan atas terjadinya malapetaka tersebut. Aksi akan diadakan di halaman belakang Komnas HAM pada pukul 11.00 WIB.Titik kumpul di halaman Kontras jl Borobudur 14 Menteng Jakarta Pusat, jam 10.00

Keadilan mustahil akan turun dari langit, melainkan harus kita rebut !!!
Salam Kemanusiaan,
Bedjo Untung

Ketua YPKP 65

YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 1965/1966 (YPKP 65)

Indonesian Institute for The Study of 1965/1966 Massacre

SK Menkumham No.C-125.HT.01.02.TH 2007 Tanggal 19 Januari 2007

Tambahan Berita Negara RI Nomor 45 tanggal 5 Juni 2007 , PENGURUS PUSAT

Jalan M.H.Thamrin Gang Mulia no. 21 Kp. Warung Mangga,RT 01 RW 02

Panunggangan , Kecamatan Pinang, Kab/Kota Tangerang 15143

Banten,INDONESIA Phone : (+62 -21) 53121770, Fax 021-53121770




< Mengantar Liputan Siauw Tiong Djin Sekitar Reuni-7 URECA>


Kolom IBRAHIM ISA
Minggu, 03 Juni 2012
----------------------------

Mengutamakan “PERSATUAN” dan mempertahankan
PERSAHABATAN KELUARGA BESAR URECA!
< Mengantar Liputan Siauw Tiong Djin Sekitar Reuni-7 URECA>

Hari ini, Minggu 03 Juni 2012, biasa, . . . . umunya orang pada “istirahat”. Ambil waktu untuk menikmati masa “santai”, setelah bekerja dan melakukan kegiatan lainnya selama seminggu. Dua tiga hari ini, Belanda, yang katanya sudah memasuki musim panas, terus saja mendung dan hujan rintik-rintik. Sesekali sang suyra malu-malu ngintip. Paling tidak inilah yang dirasakan penduduk Amsterdam dan sekitarnya. Diramalkan sore nanti hujan akan berhenti. Namun angin sejuk terus saja berhembus. Dan suhu di luar tidak lebih tinggi dari 12 derajat C. Meski cuaca muram seperti ini tidak menghindari para penggemar untuk melihat apa saja yang dilemparkan oleh para pengisi mailist hari ini.

Justru pada hari mendung tapi “santai” ini kujumpai sebuah kiriman dari sahabatku Chan C.T sebuah tulisan liputan pertemuan Reuni-7 URECA yang berlangsung di Cisarua, Bogor, beberapa hari yang lalu. Liputan kiriman Chan CT itu disusun oleh Siauw Tiong Djin, sahabat dekatku yang kini berdomisili di Australia.

Silakan yang rajin menekuni dunia mailist membaca dan mengkhayatinya.
Siauw Tiong Djin menulis tentang Reuni-7 Ureca, Universitas Respublica, di Jakarta pada periode pemerintahan Presiden Sukarno. Kalau tidak salah terakhir Rektornya adalah Ibu UTAMI SURYADARMA. Almarhumah Ibu Utami Suryadarma kukenal baik sekali. Kami sama-sama melakukan kegiatan di OISRAA, Organisasi Indonesia Untuk Setiakawan Rakyat Asia-Afrika. Ibu Utami ketika itu adalah salah seorang ketua OISRAA.

Novelis Indonesia terkenal Pramudya Ananta Toer adalah salah seorang dosen di Ureca.

* * *

Awal mula Ureca yang di bawah kekuasan Suharto menjelma menjadi Universitas Trisakti, adalah sebuah universitas bernama Universitas Baperki. Sebuah prakarsa dari tokoh nasional anggota DPR RI, dan ketua Baperki, SIAUW GIOK TJHAN.

Dalam perkembangan selanjutnya Universiat Baperki menjelma menjadi Universitas Res Publica. Nama itu diambil dari prakarsa Bung Karno, yang artinya adalah univeristas untuk UMUM. Untuk masyarakat. Belakangan setelah menjadi Universitas Trisakti, digunakan logo TRISULA, yang idenya juga diambil dari salah satu ucapan Bung Karno. Benar Universitas Trisakti yang sekrang ini punya latar belakang sejarah dan latar belakang perkembangan politik yang erat saling hubungannya dengan nama-nama Siauw Giok Tjan, Bung Karno, Utami Suryadarma, Pramudaya A. Tur dll tokoh dan penggiat perjuangan kemerdekaan dan Demokrasi. Kekuasan Suharto dengan sewenang-wenang membubarkan URECA dan mempersekusi para pemimpin, dosen, staf dan mahasiswa Ureca.

Kini ada usaha alumni URECA, Pro Dr Jo (Pak Jo) untuk menulis, mencatat dan mendokumentasi sejarah URECA. Suatu usaha yang perlu disambut dan didukung. Merupakan salah satu usaha untuk MELURUSKAN SEJARAH bangsa.

Silakan ikuti tulisan Siauw Tiong Djin sekitar Reuni-7 URECA. Suatu tulisan yang menggugah dan menambah pengetahuan kita bersama sekitar URECA.

Perhatikan bagian-bagian yang ditulis Siauw Tiong Djin untuk jadi bahan pemikiran dan anhalisis:

Kenyataan yang kita hadapi, mayoritas mutlak anak CGMI dan PERHIMI -- ( termasuk yang tadinya studi di URECA, I.I.) -- telah menjadi korban, bukan saja tidak bisa meneruskan sekolah, tapi juga menjadi buronan, bagaikan tikus buduk yang dikejar-kejar, hidup merana bergelandangan dijalan tidak menentu arah-tujuan, sebagian tertangkap harus meringkuk dalam penjara sampai ada yang dibuang ke Pulau Buru. Itulah kebijakan Pemerintah yang berkuasa ketika itu, yang tidak mungkin dilawan. Berani menentang, cukup dituduh simpatisan komunis-PKI saja orang bisa dijebloskan dalam penjara bahkan dibuang kepulau Buru, …atau dihilangkan begitu saja.

Bagian-bagian tertentu dari liputan Siauw Tiong Djin ditiadakan dalam kutipan di bawah ini, karena tidak langsung menyangkut sejarah URECA.

* * *

Reuni-7 URECA,
Persahabatan Yang Sangat Mengagumkan
---------------------------------------------------------------------------------
Oleh: Siauw Tiong Tjing

Tidak terasa sejak tahun 1999 Reuni URECA sudah dilangsungkan ke-7 kalinya, saya hanya berkesempatan menghadiri 3 kali saja, yang ke-4 tahun 2005 di Cimacan, yang ke-6 tahun 2010 di Cirebon dan kali ini ke-7 di Cisarua. Dari 3 kali ikut menghadiri Reuni URECA, saya selalu berkesan sungguh luar biasa rasa Persahabatan Keluarga Besar URECA ini! Dan yang ke-7 kali ini benar-benar merupakan demonstrasi Rasa PERSAHABATAN KELUARGA BESAR URECA yang sangat mengagumkan!

Reuni-7 kali ini saya melihat demonstrasi rasa PERSAHABATAN KELUARGA BESAR URECA yang lebih luar-biasa! Apa itu?

* Berbeda dengan Reuni sebelumnya yang saya hadiri, Reuni ke-7 kali ini, Panitia mengatur satu acara yang berbeda dan sangat menarik “Paparan Sejarah URECA menjadi TRISAKTI” yang disampaikan Liem Djie Gwan, pada tgl. 23 setelah makan malam. Satu acara yang menyentuh masalah politik dan sangat saya harapkan bisa dilangsungkan untuk mendapatkan kejernihan. Bisakah? Saya berkeyakinan BISA! Hanya saja perlu menemukan cara dan kesempatan yang baik dan tepat untuk kelanjutannya.

Coba kita perhatikan, adalah satu kenyataan pada saat Reuni-1 dilangsungkan tahun 1999, baik penyelenggara maupun yang menghadiri umumnya mahasiswa yang dahulu tergabung di CGMI. Memang saat itu kekuasaan otoriter Soeharto baru saja lengser, namun untuk melangsungkan Reuni-1 URECA itu, benar-benar dibutuhkan keberanian. Karena saat itu, beberapa kawan masih menghadapi intimidasi dan ancaman yang hadir akan ditangkap. Siapa berani ambil resiko? Ya, yang punya nyali-lah, … Beruntung, Reuni-1 akhirnya bisa berlangsung dengan lancar dan aman-aman saja. Baru kemudian kawan-kawan yang dulu tergabung di PMKRI mulai ikut serta, setelah mengetahui ada Reuni URECA, bahkan juga tokoh-tokoh yang berperan ketika itu seperti Dr. Tony-Liem Hwat Tjien, Go Ing Hok, Larry-Yap Kong Hwa dll, dan, … kahadiran kawan-kawan dari PMKRI ini kenyataan juga bisa diterima dengan baik oleh kawan-kawan mantan CGMI yang dahulu di URECA ber-“MUSUHAN” dan cukup tegang!

PERMUSUHAN” dimasa lalu kenapa harus dilanjutkan sampai sekarang dimana kita semua sudah pada lanjut usia? Dimana masalah? Padahal jelas-jelas, kita semua adalah korban politik ketika itu, korban dari “Perang-dingin” yang memanas antara blok Imperialisme yang diwakili AS dan blok komunisme yang diwakili USSR/RRT saja. Dan setelah G30S, Soeharto berhasil merebut kekuasaan, dengan ganas dan kejamnya menindas, memenjarakan, membunuhi siapa saja yang dituduh komunis dan Soekarnois. Seiring dengan ambruknya USSR usailah “perang-dingin” itu, dan Soeharto sendiri juga sudah lengser, kenapa permusuhan diantara mahasiswa URECA dahulu itu masih saja harus dilanjutkan sampai sekarang?

Setelah Liem Djie Gwan selesai memaparkan sejarah URECA menjadi Trisakti, dia mempersilahkan Go Ing Hok menyampaikan pandangannya, dan mengajukan rumusan: “kalau tidak ada diskriminasi tidak ada Baperki, kalau tidak ada BAPERKI tidak ada URECA, kalau tidak ada URECA tidak ada TRISAKTI, kalau tidak ada TRISAKTI tidak ada 60 ribu sarjana, …”. Dan kemudian Benny-Kho Tian Thong juga dipersilahkan naik kepanggung, dan Benny merebut kesempatan mengajukan pendapat yang menentang TRISAKTI dianggap kelanjutan dari URECA begitu saja. Karena kenyataan ribuan mashasiswa URECA drop-out akibat screening yang dilakukan. Lalu, kami-kami yang jadi korban ini dikemanakan? Tandasnya. Sekalipun suasana menjadi agak tegang, tapi sayapun salut dengan penutupan Benny, yang tetap mengutamakan “PERSATUAN” dan mempertahankan PERSAHABATAN KELUARGA BESAR URECA! Segera menyudahi saja perbedaan pendapat dimasa lalu itu. Inilah manifestasi PERSAHABATAN KELUARGA BESAR URECA yang sangat luar biasa. Betapapun tegang dan rasa sakit hati diderita sementara kawan yang jadi KORBAN, tapi tetap bisa mengutamakan dan mempertahankan PERSAHABATAN sesama URECA!

* * *

Marilah kita renungkan lebih lanjut, setelah Gedung URECA dirusak dan dibakar, pertengahan Oktober 1965, bagaimana caranya bisa menyelamatkan sebagaian besar Urecawan dan Urecawati meneruskan sekolah? Mungkinkah saat itu meneruskan TRISAKTI tanpa lebih dahulu dilakukan screening? Tidak mungkin! Screening tidak dijalankan, TRISAKTI juga tidak akan terbentuk dan dengan demikian seluruh mahasiswa URECA tidak bisa meneruskan sekolah! Selanjutkan kita semua patut bertanya, haruskah kita memusuhi kawan-kawan yang ditugaskan melakukan screening? Berhakkah kita menuntut kawan-kawan PMKRI secara pribadi menentang dilangsungkan screening terhadap anak CGMI dan PERHIMI? Menentang screening tentu hanya bisa dilakukan kalau yang bersangkutan siap untuk ditangkap atau harus hijrah keluar negeri, seperti yang dilakukan Ongkie-Liem Soei Liong.

Kenyataan yang kita hadapi, mayoritas mutlak anak CGMI dan PERHIMI telah menjadi korban, bukan saja tidak bisa meneruskan sekolah, tapi juga menjadi buronan, bagaikan tikus buduk yang dikejar-kejar, hidup merana bergelandangan dijalan tidak menentu arah-tujuan, sebagian tertangkap harus meringkuk dalam penjara sampai ada yang dibuang ke Pulau Buru. Itulah kebijakan Pemerintah yang berkuasa ketika itu, yang tidak mungkin dilawan. Berani menentang, cukup dituduh simpatisan komunis-PKI saja orang bisa dijebloskan dalam penjara bahkan dibuang kepulau Buru, …atau dihilangkan begitu saja.

Jadi, sekalipun dengan screening menyingkirkan anggota CGMI dan PERHIMI, dengan segala kekurangan dan perbedaan sistem pendidikan yang dibina Yayasan Pendidikan BAPERKI, keberhasilan pembentukan Univ. TRISAKTI tetap harus dinilai lebih baik dan merupakan jalan pemecahan yang harus diterima untuk melanjutkan sekolah bagai mahasiswa URECA. Saya tidak tahu, apakah dari panitia atau kawan-kawan yang ikut melakukan screening mempunyai data, kenyataan berapa % mahasiswa URECA yang disingkirkan dan berapa % yang bisa meneruskan sekolah di TRISAKTI. Setidaknya bisa dikatakan keberadaan USAKTI telah menyelamatkan juga ribuan mahasiswa URECA meneruskan sekolah.

* * *

Boleh saja kita endapkan dan kesampingkan lebih dahulu kalau memang belum bisa mendapatkan kesepakatan. Yang penting, masing-masing kita bisa tetap berkepala dingin, mengajukan pemikiran dan fakta-fakta kejadian ketika itu yang diketahui, dan berargumentasi untuk mencoba mencapai kesepakatan.

Sayapun setuju dengan pernyataan pak Jo, tanpa ada Reuni dan tanpa ada milis-URECA, lama sudah tiada jiwa URECA. Justru karena ada Reuni lintas fakultas dan lintas lokasi inilah URECA yang kenyataan sudah puluhan tahun tiada, ternyata masih tetap membara dalam jiwa banyak Urecawan-Urecawati yang berserakan disegenap penjuru dunia. Reuni berulang kali inilah yang tetap mempersatukan kita semua dalam PERSAHABATAN KELUARGA BESAR URECA. Tapi, … inipun pada satu saat akan berakhir seiring dengan makin sedikitnya Urecawan-Urecawatg masih hidup,dan cukup kuat untuk melakukan perjalanan menghadiri Reuni.

Lalu, bagaimana caranya menghidupkan terus jiwa URECA?
Pak Jo siap menulis Buku Sejarah URECA, agar anak cucu kita tetap bisa mengetahui dan mengikuti dengan baik didunia ini ada Universitas Respublica, syukur jiwa dan nyala api URECA bisa membara dalam hati anak-cucu selanjutnya, …!

* * *


Saturday, June 2, 2012

MUNGKIN INDONESIA PERLU “BELAJAR” DARI “TURKI MODERN” YANG SEKULER !!! --- < Bagian 2 >


Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu, 02 Juni 2012
-----------------------------

MUNGKIN INDONESIA PERLU RENDAH HATI “BELAJAR”
DARI “TURKI MODERN” YANG SEKULER !!! --- < Bagian 2 >

Ismail, warga Turki, yang pernah disebut namanya dalam tulisan Pertama,“guide” kami selama perjalanan peninjauan ke Turki (23-31 Mei 2012), dalam nada berseloroh menyampaikan kepada kami:

Ada satu kekeliruan yang dibuat oleh Mutafa Kemal Attaturk <1881-1938> – (Attaturk artinya “BAPAK ( NASION TURKI”), yaitu menghapuskan p o l y g a m i”. Kami yang mendengarkan di dalam 'touring car' pada hari kedua di Turki, setengah teriak, setengah berseloroh menyambut dengan seruan : Haaaaaaa . . . . . . . ! Ini terutama reaksi kami-kami yang priya. Yang perempuan tertawa lega dan puas. Kiranya karena mereka merasa bahwa apa yang disebut Ismail, sebagai “satu kekeliruan” yang dilakukan Mustafa Kemal Attaturk, itu justru adalah yang BENAR.

Pembaca jangan salah tanggap! Seluruh rombongan Indonesia yang sedang berkunjung ke Turki ketika itu, adalah sahabat-sahabatku, . . . . satu-per-satu adalah orang baik-baik. Sahabat-sahabatku yang sudah berkeluarga semua tak ada yang berpolygami. Tak ada yang membenarkan tindakan kawin lagi seperti yang dilakukan oleh misalnya Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, seorang pendakwah, penyanyi, penulis buku dan penerbit, pengusaha dan pendiri Pondok Pesantren Darut Tauhid di Bandung. Dan sementara para petinggi Indonesia dewasa ini.

Sesungguhnya kaum priya rombongan ekskursi ke Turki ini , punya pendirian sama dengan teman-teman wanita. Memang benarlah, -- kebijakan yang diambil oleh Mustafa Kemal Attaturk, --- polygami harus dihapuskan, memang semestinya dilarang. Sahabat Turki kami, Ismail, juga sependapat. Ismail beristri (satu saja) dan punya dua anak. Kedua-duanya putri-putri. Kami sempat berkenalan dan berjabatan tangan dengan “Bu” Ismail dan putri-putrinya. Ismail yang tak berpolygami ini bersama seluruh keluarganya tampak bahagia!

* * *

Menghapuskan dan melarang polygami, adalah salah satu kebijakan fundamemtal yang dijalankan oleh Mustafa Kemal. Adalah salah satu dari serentetan tindakan yang diambilnya dalam rangka REFORMASI di Turki. Sekaligus juga merupakan manifestasi diakhirinya kebiasaan buruk beristrikan lebih dari seorang, yang memperoleh legalitasnya dari ajaran agama.

Mustafa Kemal pertama-tama menghapuskan kekuasaan Sultan dan para petinggi agama dengan memaklumkan PEMISAHAN ATANTARA AGAMA DAN NEGARA. Republik Turki Modern lahir pada tanggal 29 Oktober 1923, mengikuti suksesnya perang kemerdekaan dan perlawanan di bawah pimpinan Mustafa Kemal Attaturk. Republik Turki bukan lagi dipimpin oleh seorang Sultan dari Kerajaan Ottoman yang sekaligus juga kepala agama. Turki telah menjelma menjadi satu republik yang mengikuti prinsip dan aliran demokrasi. Prisidennya dipilih rakyat. Pemerintah dibentuk atas dasar perimbangan kekuatan parpol-parpol yang terwakili di parlemen yang juga adalah hasil pemilihan.

Kebijakan Reformasi lainnya yang amat penting ialah menggantikan aksara Arab yang selama lebihdari 700 tahun digunakan olehTurki, menjadi AKSARA LATIN. Jelas, suatu tindakan untuk mengakhiri pengaruh budaya Arab terhadap bangsa Turki, yang ikut masuk dan memberikan pengaruh besar bersama dengan masuk dan meluasnya agama Islam. Sejak itu Turki membangun BUDAYA PRIBADI TURKI yang modern.

Pendidikan sebagai salah satu pilar pembangunan budaya nasion, -- menjadi elemen penting dalam Reformasi Mustafa Kemal. Selama lima tahun berlaku ketentuan wajib belajar. Dimulai dari anak yang berumur 7 tahun. Saat ini di Turki terdapat 45.870 sekolah dasar, 4260 sekolah menengah dan tinggi, 1900 sekolah kejuruan, dan 27 universitas dan perguruan tinggi. Cukup besar hasil yang dicapai Reformasi Turki setelah Revolusi Mustafa Kemal berhasil menumbangkan sistim feodal kerajaan Ottoman dan mengusir kaum intervensionis kekuasaan asing.

* * *

Ketika berkunjung ke Masjid Biru Istanbul, di tengah-tengah masjid dalam ruangan dalam agak kedepan sedikit, kami saksikan sebuah bangunan kecil “air mancur”. Dijelaskan oleh Ismail, bahwa “air mancur” didalam masjid itu dibangun sebagai penghormatan untuk seorng perempuan Yahudi, pemilik dari persil, diatas mana masjid di bangun. Semula perempuan Yahudi itu tidak setuju dibangunnya sebuah masjid di atas persil miliknya itu. Ketika ia meninggal dan persil itu diserahkan (kemungkinan oleh keluarganya) kepada Sultan. Sultan lalu membangun masjid di atas persil itu, dengan membuatkan sebuah “air macur” di dalam masjid sebagai tanda penghormatan kepada perempuan Yahudi tadi.

Aku fikir: Kok luar biasa sekali. Di dalam sebuah masjid tempat beribadah ummat Islam, dibuatkan sebuah “air mancur” sebagai tanda memberi penghargaan dan kenangan untuk perempuan Yahudi, yang ketika hidup tak setuju dibangunnya sebuah mesjid di situ. Bukankah ini suatu manifestasi toleransi bangsa Turki mengenai masalah hidup berdampingan berbagai agama dan kepercayaan di Turki?

* * *

Kasus lain mengenai semangat toleransi bangsa Turki bersangkutan dengan perbedaan agama, bisa disaksikan dalam kasus seperti berikut di bawah ini:

Berkunjunglah ke Hagia Sofya di kota Istanbul, sebuah musium umum. Di dalamnya bisa disaksikan berbagai hiasan tembok dalam aksara Arab berbunyi “Allah”, “Muhammad”, “Abubakar”, “Umar” dan “Ali”; empat orang sahabat-sahabat Nabi Muhammad. Lalu ada lukisan-lukisan, mozaik dan kaca patri (glas in lood) besar-besar yang lebih besar dari gajah menghiasi tembok-tembok musium. Yang menggambarkan “Yesus”, “Maria” dan apostel lainnya. Maka tampaklah terpampang di situ hiasan-hiasan tembok musium baik yang Islam maupun yang Kristen. Seperti hendak mencerminkan 'hidup berdampingan' secara damai dan harmonis diantara dua religi besar yang terdapat di Turki.

Ada ceriteranya di balik kenyataan ini. Seperti tercatat dalam sejarah Turki, Musium Hagia Sofya, semula, berabad-abad yang lalu adalah sebuah gereja yang penting di zaman kerajaan Byzantium dan ketika Istanbul bernama Constantinopel. Kerajaan Byzantium yang Nasrani itu dikalahkan dan tegaklah di situ Kerajaan Ottoman. Kerajaan ini kemudian menguasai wilayah amat luas, mulai dari Aljazair, Lybia dan Mesir di Afrika Utara; Hongaria, Serbia, Albania, Bulgaria, dam Moldavia di Eropah, serta Mekkah dan Syria di sebelah Timur.

Alkisah gereja Helgia Sofya oleh penguasa Islam yang baru, -- diubah menjadi sebah masjid. Mozaik dan lukisan serta hiasan dinding lainnya yang mengisahkan Yesus, Maria dan apostel Nasrani lainnya diperintahkan ditutup dengan papan. Sehingga hilanglah kesan bila orang masuk bahwa tempat ibadah itu tadinya adalah sebuah gereja.

Namun, ketika Mustafa Kemal Attaturk menjadi Presiden Republik Turki yang baru, masjid itu dijadikan sebuah Musium. Papan-papan yang menutupi hiasan tokoh-tokoh agama Nasrani, dibuka sehingga suasana gereja muncul lagi.

Kembali terbetik fikiran dalam benakku: Suatu semangat toleransi yang sungguh bijak dari Presiden Republik Turki Modern ini.

* * *

Pada hari terakhir di Turki, kami berpesiar dengan kapal laut disepanjang tepi kota Istanbul. Melewati suatu daerah di tepi pantai yang berbukit, tampak daerah perumahan yang indah. Ismail, sahabat Turki kami, menjelaskan: Didaerah yang tampak indah dari kapal itu, adalah rumah-rumah orang-orang Albania yang beragama Kristen, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Muslim Turki yang merupakan mayoritas. Dengan suara yang lebih dikeraskan, Ismail menegaskan bahwa penduduk di situ yang memeluk masing-masing agama Islam, Yahudi dan Kristen hidup berabad-abad lamanya dengan damai dan harmonis, tanpa ada gangguan konflik religius apapun.

Bukan main! Fikirku lagi.
Betapa besar semangat toleransi orang-orang ini! Meski tidak seperti bangsa kita: Punya semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKKA. Tokh dalam praktek kehidupan mereka sehari-hari memberlakukan semangat TOLERANASI yang bisa diteladani!

* * *