Thursday, April 4, 2013

Ibrahim Isa
Senin, 11 Maret 2013
--------------------

MANA LEBIH KUAT - SOLIDARITAS POLITIK ATAU RETUAL RELIGIUS?


*    *    *

Mana yang politik dan mana yang bukan-poitik, tapi curahan perasaan yang murni?? .

. . . . Pertanyaan ini muncul ketika, Presiden Iran, Ahmadinedjad memeluk Bunda Hugo Chavez . . .

*    *    *

Biasanya Presiden Iran itu, sebagai seorang Muslim, menolak jabatan tangan dengan perempuan yang non-muhrim . . .

Tapi solidaritas dua negeri Iran dan Venezuela memang nyata, orang tidak akan ragu bahwa pelukan dengan non-muhrim dari Ahmadinejad dengan Bunda Hugo, ADALAH GENUINE . . . . SUNGGUHAN.

Disinilah terungkap bahwa solidaritas politik dalam perjuangan riil melawan musuh bersama (AS) lebih kuat dari RITUAL RELIGIUS . . .Is it??!!

Amsterdam
*Kolom IBRAHIM ISA*
*Minggu, 10 Maret 2013**
-----------------------*

*BONGKAR MANIPULASI SEKITAR “SUPERSEMAR”*

*TEGAKKAN INDONESIA JADI “RECHTSSTAAT”*



Surat Perintah 11 Maret 1966, dikenal sebagai “SUPERSEMAR”, dikeluarkan Presiden Sukarno atas inisiatif dan desakan para jendral TNI di bawah Jendral Suharto. Peristiwa itu terjadi 57 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, Supersemar menjadi legitimasi Jendral Suharto untuk melarang dan membubarkan PKI. Serta melakukan pemecatan, penahanan dan memenjarakan sejumlah menteri, perwira dan anggota TNI yang setia pada Presiden Sukanro, dan pejabat tinggi pemerintahan Presiden Sukarno. Bersamaan dengn itu melakukan kampanye genosida, pembantaian masal terhadap anggota PKI, dan siapa saja yang dianggap simpatisan PKI sert pendukung Presiden Sukarno. SUPERSEMAR dimaniulasi untuk melorot Presiden Sukarno dari jabatannya sebagai kepala pemerintah, kepala negara, serta Pangti ABRI. Proses ini berlangsung terus sampai mantan Presiden Sukarno dikenakan tahanan rumah. Yang berakhir dengan meninggalnya mantan Presiden Sukarno.


Sekitar SUPERSEMAR, sudah banyak yang ditulis dan dinyatakan; juga menjadi tema puluhan seminar dan studi di Indonesia maupun di mancanegara. Kegiatan ini, khususnya studi sejarah mengenai Supersemar masih akan berlangsung terus di masa yang akan datang. Sampai lahir situsi yaqng baru samasekali. Berdirinya suatu pemerintah yang dipilih benar-benar secara demokratis, punya “political will” yang mantap untuk menjernihkn sampai tuntas masalah sekitar SUPERSEMAR.


Ini tidak mudah! Saksikan ---- belum lama insiatif dan prakarsa ANRI – Arsip Nasional Republik Indonesia untuk membuka arsip dan dokumen Lembaga Arsip Nasional bagi masyarakat luas, termasuk membuka semua arsip dan dokumen sekitar Peristiwa 1965, termasuk sekitar SUPERSEMAR, mati-matian hendak dicegah oleh mereka-mereka, yang terlibat dalam pelanggaran HAM berat sekitar Peristiwa 1965. Penolakan Kejaksaan Agung untuk menindak- lanjuti Rekomendasi KomnasHAM tertangal 23 Juli 2012, merupakan petunjuk, bahwa untuk mencapai kejernihan dan pencerahan sekitar Peristiwa 1965, termasuk masalah SUPERSEMR, masih akan memerlukan usaha dan perjuangan yang terus-menerus oleh masyarakat yang membela Demokrasi, Reformasi dan Penulisan Kembali Sejarah Bangsa. Khususnya yang menyangkut periode 40-50 tahun yang lalu dalam sejarah Republik Indonesia.


* * *


Pada sebelas Maret 1966, 3 Jendral TNI: yaitu Jendral Basuki Rachmat, Jendral Mohamad Jusuf dan Jendral Amir Mahmud, mendatangi Presiden Sukarno di Bogor. Mereka membawa secarik kertas berisi teks untuk diberikannya suatu wewenang kepada Jendral Suharto. Mereka mendesak dan memaksa Presiden Sukarno untuk mengeluarkan apa yang kemudian dinamakan SURAT PERINTAH PRESIDEN SUKARNO , tertanggal 11 Maret 1966, yang ditujukan kepada Jendral Suharto.

Pada waktu itu, Jendral Suharto praktis sudah sendiri sebagai panglima AD. Jendral Suharto menunjuk dirinya sendiri menjadi panglima AD, dengan membelakangi dan menyabot keputusan Presiden Sukarno yang sebelumnya telah mengangkat Jendral Pranoto Reksosamudro , sebagai caretaker  pimpinan AD menggantikan panglima TNI Ahmad Yani, yang terbunuh dalam peristiwa G30S.

    * *

    SUPERSEMAR adalah salah satu titik balik dalam sejarah pergolakan
    politik di Indonesia. Salah satu bentuk konspirasi yang paling
    canggih dalam kasus perebutan kekuasaan yang pernah terjadi di
    negeri kita. Demikian lihaynya perekayasaan SUPERSEMAR, sehingga
    terdengar komentar, bahwa dengan menandatangani SUPERSEMAR, Presiden
    Sukarno tanpa disadarinya sudah menandatangani VONISN ATAS DIRINYA
    SENDIRI.

    Karena misteri yang menyelubungi Supersemar, maka tersiarlah
    pelbagai ceritera, dugaan dan spekulasi tentang bagaimana
    sesungguhnya isi SUPERSEMAR. Dipertanyakan dimana barang itu
    sekarang. Pernah diberitakan bahwa almarhum Jendral Jusuf mengetahui
    dimana keberadaan dokumen tsb. Menurut berita yang tersiar,
    hanyallah setelah beliau meninggal dunia, barulah bisa diungkap
    selubung misteri yang menutupi SUPERSEMAR. Jendral Jusuf sudah
    beberapa waktu meninggal dunia, namun, tak ada pengungkapan itu.

    * * *

    Dewasa ini sebagian besar masyarakat, termasuk kaum cendekiawan dan
    para 'historikus' kita, tidak banyak tahu mengenai kebenaran yang
    sesungguhnya sekitar SUPERSEMAR tsb. Kaum cendekiawan termasuk para
    sejarawannya, seolah-olah tidak ada kegairahan untuk meneliti,
    menstudi dan mengungkap kebenaran dari satu periode sejarah kita.


    Meleset samasekali bila menyimpulkan bahwa SUPERSEMAR dikeluarkan
    untuk mengatasi 'krisis nasional', seperti klaim sementara politisi.
    Dari keterangan dan fakta-fakta yang diketahui adalah jelas, bahwa
    yang mendesak Presiden Sukarno mengeluarkan SURAT PERINTAH SEBELAS
    MARET, , adalah perwira-perwira tinggi yang bertanggung
    jawab atas timbulnya krisis pemerintahan Presiden Sukarno.

    Adalah perwira KOSTRAD tsb yang mengerahkan 'kesatuan bersenjata
    siluman'     menjadi panglima Kostrad dan Jen Kemal
    Idris> mengepung Istana Merdeka ketika di situ sedang dilangsungkan
    sidang Kabinet di bawah pimpinan Presiden Sukarno. Atas nasihat para
    pengawalnya demi untuk keselamatan beliau, Presiden Sukarno terpaksa
    menyingkir ke Istana Bogor. Ke situlah Presiden Sukarno 'dikejar',
    kemudian 'ditodong' untuk mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret.

    Untuk menyelamatkan situasi, -- mengatasi keadaan darurat yang
    dimanupulasi oleh Jendral Suharto dengan klik AD yang bisa
    dikuassainya ---, melalui perumusan yang dianggap bisa
    dipertanggungjawabkan, di bawah tekanan, Bung Karno berusaha membuat
    perumusan Supersemar sedemikian rupa agar sedapat mungkin bisa
    digunakan untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari usaha Jendral
    Suharto cs untuk sepenuhnya menguasai pemerintahan dan negara.
    Tetapi usaha Presiden Sukarno itu gagal, beliau digulingkan dari
    jabatan kepresidenan, dan praktis dikenakan tahanan rumah sampai
    ajal beliau.


    Membaca teks Supersemar yang tersiar, kemudian menelusuri
    tindakan-tindakan dan langkah-langkah Jendral Suharto, selanjutnya
    meneliti peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah
    dikeluarkannya SUPERSEMAR, maka akan terlihat dengan jelas sekali,
    bahwa SUPERSEMAR punya dua muka, atau dua segi.

    *Segi Pertama,* formalnya --- Supersemar adalah sehelai kertas yang
    berisi *SURAT PERINTAH. *

    Perintah dari siapa?. Juga jelas: --- Surat Perintah itu dikeluarkan
    oleh Presiden Sukarno ketika itu.

    Siapa yang diperintah? Juga jelas -- Yang diperintah adalah Jendral
    Suharto, Panglima KOSTRAD. Di dalam surat perintah juga dijelaskan
    apa yang hendak dicapai dengan Surat Perintah tsb. Yaitu pulihnya
    keamanan dan ketertiban. Supersemar adalah Perintah Presiden Sukarno
    kepada Jendral Suharto, untuk melaksanakan politik Presiden Sukarno,
    menjaga
    kewibawaan dan ajaran-ajaran Bung Karno. Dan agar selalu melapor
    kepada Presiden Panglima Tertinggi. Apalagi yang kurang jelas?
    Jendral Suharto harus melaksanakan PERINTAH-PERINTAH PRESIDEN SUKARNO.

    Untuk jelasnya, mari kita lihat bersama apa persis isi SUPERSMAR
    tsb. yang bisa di baca di Arsip Nasional. Juga yang disiarkan oleh
    WIKIPEDIA, sebuah enskilopedia berbahasa Indonesia, sbb:

    *PRESIDEH REPUBLIK INDONESIA
    SURAT PERINTAH *

    *I. Mengingat: *
    1.1. Tingkat Revolusi sekarang ini, serta keadaan politik baik
    nasional maupun internasional
    1.2. Perintah Harian Panglima Tertinggi Angkatan
    Bersenjata/Presiden/Panglima Besar Revolusi pada tanggal 8 Maret 1966

    *II. Menimbang: *
    2.1. Perlu adanja ketenangan dan kestabilan Pemerintahan dan
    djalannja Revolusi.
    2.2. Perlu adanja djaminan keutuhan Pemimpinan Besar REvolusi, ABRI
    dan Rakjat untuk memelihara kepemimpinan dan kewibawaan
    Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi serta segala
    adjaran-adjarannja
    *
    III. Memutuskan/Memerintahkan *

    Kepada: LETNAN DJENDRAL SOEHARTO PANGLIMA ANGKATAN DARAT
    Untk: Atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi:

    1. Mengambil segala tindakan yang dianggap perlu, untuk terjaminnja
    keamanan dan ketenangan serta kestabilan djalannja Pemerintahan dan
    djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan
    kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar
    revolusi/mandataris M.P.R.S. demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara
    Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala adjaran
    Pemimpin besar Revolusi.

    2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan
    Panglima-Panglima Angkatan-Angkatan lain dengan sebaik-baiknya.

    3. Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut-paut dalam tugas
    dan tanggung-djawabnja seperti tersebut diatas.

    Selesai.

    Djakarta, 11 Maret 1966.

    PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS
    M.P.R.S. SOEKARNO

    * * *

    Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari
    Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku
    sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan bahwa
    terdapat berbagai versi Supersemar.


    * * * *

    *Segi kedua*, yaitu segi lainnya dari SUPERSEMAR. Bahwa dokumen itu
    adalah secarik kertas yang dengan teliti dan canggih diregisir oleh
    Jendral Suharto c.s. untuk melancarkan dan melegitimasi perebutan
    kekuasaan yang telah dimulainya sejak 1 Oktober 1965. Para jendral
    itu tahu betul, --- mengingat kewibawaan, popularitas dan kesetiaan
    rakyat kepada
    pemimpin bangsa Presiden Sukarno, --- adalah tidak mudah untuk
    begitu saja menggulingkan Presiden Sukarno. Maka ditemukanlah cara
    yang sesuai, disatu fihak menimbulkan kesan bahwa Presiden
    telah memberikan kepercayaan dan wewenang kepada Letjen Suharto, di
    lain fihak dengan leluasa melaksanakan tujuan akhirnya merebut
    kekuasaan negara.

    Bertentangan dengan maksud dan tujuan Supersemar, Jendral Suharto
    bertindak menurut agenda politiknya sendiri, yang terlebih dahulu
    sudah dirumuskan. Apapun yang terjadi, -- agenda Jendral Suahrto-lah
    yang dilaksanakan. Agenda Suharto tsb a.l. tersimpul dalam 'TRITURA'
    yaitu: Yang dikenal dengan -- Tiga tuntutan "rakyat". ---
    Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dipropagandakan sebagai 'tuntutan
    rakyat' tsb adalah hasil godokan klik tentara (AD), di bawah Jendral
    Suharto. Tujuan kongkritnya adalah: Pembubaran PKI -- <*Karena,
    dengan membubarkan dan menghancurkan PKI, dianggap dapat melumpuhkan
    kekuatan politik besar yang selama periode tsb merupakan pendukung
    terkuat pemerintah>*. Selanjutnya menggoyang dan memereteli
    pemerintahan Presiden Sukarno. Yang dilaksanakan Jendral Suharto
    sesudah memperoleh SUPERSEMAR di tangannya, adalah MEMBUBARKAN PKI,
    MENGGULINGKAN KABINET SUKARNO dan NAIK TACHTA KEPRESIDENAn.
    Samasekali bukan melaksanakan perintah-perintah Presiden Sukarno
    seperti yang tercantum dalam SUPERSEMAR.

    * * *

    Ada sementara pendapat yang menyatakan, bahwa SUPERSEMAR memang
    harus keluar. Karena diperlukan untuk mengatasi situasi nasional
    yang rumit waktu itu. Alasannya ialah, karena kewibawaan Presiden
    Sukarno 'sudah merosot'. Presiden Sukarno dianggap sudah tidak bisa
    lagi memimpin pemerintahan dan bangsa. Dinyatakan bahwa Presiden
    Sukarno sudah tak bisa lagi mengurus dan mengatasi situasi politik
    nasional yang "gawat".

    Timbul pertanyaan: SIAPA ATAU APA yang membikin kewibawaan Pesiden
    Sukarno itu "mesorot"?

    Mari perhatikan: Sesudah G30S gagal, dan munculnya kembali Presiden
    Sukarno, serta dikeluarkannya perintah-perintah dan petunjuk beliau
    melalui Radio Republik Indonesia (RRI), agar masyarakat memelihara
    ketenangan dan agar kehidupan politik berjalan sesuai dengan garis
    kebijaksaaan Presiden Sukarno -- sesungguhnya keamanan negri sudah
    berangsur-angsur pulih kembali. Yang membikin situasi jadi 'gawat'
    tidak lain adalah klik tentara yang dikepalai oleh Jendral Suharto.

    Tentara ( Jendral Suharto) memulai agendanya, a.l. dengan
    memberangus semua media cetak dan elektronik yang beraliran atau
    berkecenderungan Kiri, Komunis atau nasionalis/agama yang membela
    politik dan kebijakan Bung Karno. Yang menguasai informasi dan
    disinformasi adalah media yang berada di bawah penguasaan tentara,
    seperti s.k. KAMI, AB, Berita Yudha dll. Bersamaan dengan itu
    diluncurkan kampanye tentang apa yang digambarkan sebagai 'keganasan
    dan kebiadaban' anggota-anggota Gerwani/Pemuda RAkyat/PKI yang
    menyiksa dan mengadakan orgi terhadap para jendral sebelum dibunuh
    di Lubang Buaya. Dengan demikian Gerwani/Pemuda Rakyat, PKI,
    orang-orang Kiri digambarkan sebagai orang-orang biadab yang harus
    dipersekusi dan dibantai sebagai kriminil-kriminil.

    Langkah berikutnya Jendral Suharto mengirimkan pasukan-pasukan elite
    RPKAD ke Jateng, Jatim dan Bali, untuk memulai kampanye pembantaian
    terhadap orang-orang yang tidak bersalah, yaitu yang PKI yang
    dituduh PKI dan yang dicurigai simpati terhadap PKI dan yang
    mendukung Presiden Sukarno. Beredarlah daftar 'kiayai-kiayi yang
    akan dibunuh PKI'. Menurut informasi dari kalangan pemuda Ansor yang
    kemudian menyadarinya, daftar yang beredar itu, ternyata adalah
    daftar yang dibikin sendiri dan diedarkan oleh tentara.

    Dalam pada itu kesatuan tentara melatih pemuda-pemuda dan para
    preman yang kemudian berperanan sebagai algojo dalam pembantaian
    masal 1965-1966. Bacalah pidato-pidato Presiden Sukarno (lihat buku
    Bung Karno REVOLUSI BELUM SELESAI). Disitu dilukiskan begitu
    banyaknya korban yang jatuh akibat kampanye pembantaitan yang
    didalangi oleh tentara, tetapi keluar diberitakan sebagai suatu
    konflik di antara rakyat, sebagai suatu 'konflik horizontal',
    sebagai kemarahan rakyat terhadap PKI.

    * * *

    Bagaimana Jendral Suharto selanjutnya menyalahgunakan SUPERSEMAR?
    Begitu menerima Supersemar, dengan media yang dikuasainya: TV, RRI,
    s.k. Angkatan Bersenjata, s.k KAMI, s.k. Berita Yuda, dll siaran
    yang sudah dimonopoli oleh tentara (Jendral Suharto) dikampanyekan
    bahwa Supersemar itu adalah suatu pelimpahan kekuasaasn oleh
    Presiden Sukarno kepada Jendral Suharto.

    Akhirnya SUPERSEMAR digunakan untuk merebut kekuasaan pemerintahan
    dan negara dari Presiden Sukarno dan memenjarakan Presiden Republik
    Indonesia Sukarno, sampai ajal beliau.

    * * *


Dengan menggunakan SUPERSEMAR  tsb Suharto telah dapat merekayasa MPRS untuk mengambil ketetapan-ketetapan, a.l.  mengukuhkan Supersemar yang dimanipulasi itu melalui TAP  MPRS  No. IX/1966 dan selanjutnya mengeluarkan TAP MPRS  No. XXV/1966, yang melarang PKI dan ajaran Marxisme. Kemudian MPRS rekayasa melorot Presiden Sukarno dari kepresidenannya dan akhirnya menobatkan  Jendral Suharto  menjadi persiden ke-2 Republik Indonesia.

Jelas, bahwa SUPERSEMAR  oleh Jendral Suharto  dengan  cara amat canggih digunakan  sebagai pentung politik dan legalistik, bahkan “konstitusionil” untuk mencapai dua tujuan utamanya:

*Tujuan Pertama* ialah,  melarang dan mengilegalkan PKI serta pendukung-pendukungnya, mengilegalkan Marxisme, kemudian mempesekusi, membantai, memenjarakan dan membuang  annggota-anggota PKI dan para pendukungnya ke pulau Buru. Korban  yang telah jatuh sebagian terbesar terutama adalah  rakyat biasa  yang diduga atau dicurigai sebagai PKI atau pendukungnya. Para korban tsb adalah rakyat biasa yang tidak bersalah,  yang dicurigai atau dianggap ada indikasi sebagai  anggota atau pendukung PKI dan pendukung Presiden Sukarno.

*Kedua*, setelah menghancurkan PKI dan pendukung-pendukugngnya serta pendukung Presiden Suakarno, tibalah pada giliran Presiden Sukarno, untuk digulingkan  dan dikenakan tahanan rumah, sampai beliau meninggal dunia. SUPERSEMAR betul-betul telah dijaikan alat untuk suatu pelanggaran hak-hak azasi manusia yang paling besar di Indonesia, dan untuk merebut kekuasaan negara..

Manipulasi SUPERSEMAR oleh para jendral, adalah mula suatu makar besar-besaran untuk merebut kekuasaan negara dengan menggunakan nama dan kewibawaan Presiden Sukarno; dengan menggunakan selubung legalitas dan konstituasionalitas MPRS.



* * *

*Dalam sejarah perkembangan bangsa ini bernegara; sejak bangsa ini berusaha untuk menegakkan negara hukum Indonesia, manipulasi Supersemar adalah tindakan inkonstitusional yang paling besar yang telah terjadi, yang telah menghancurkan sendi-sendi negara hukum yang sedang dibina oleh bangsa kita. *Adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah kenegaraan yang diketahui sebegitu jauh, bahwa kekuasaan politik seorang preisiden dari suatu negara, telah direbut dengan menggunakan kewibawaan dari presiden yang bersangkutan, dan dilaukukan atas nama  presiden yang digulingkan itu.

*
Dengan sendirinya, segala sesuatu yang menyangkut kekuasaan eksekutif, legeslatif dan yudikatif sesudah  manipulasi Supersemar tsb., adalah ilegal dan samasekali bertentangan dengan UUD 1945; bertentangan dengan prinsip-prinsip  konstitusional manapun.  Pertama-tama adalah kekuasaan Orba yang didirikan atas dasar manipulasi Supersemar itu,  juga sepenuhnya ilegal dan inkonstitusional. *
*
Maka, untuk menegakkan negara Republik Indonesia sebagai negara hukum, sebagai suatu “rechtsstaat”,  yang benar-benar konstitusional dan legal,  yang paling awal harus dilakukan adalah  dibongkarnya manipulasi SUPERSEMAR serta perombakan segala sesuatu yang berawal dari manipulasi tsb. *


* * *

*Kolom IBRAHIM ISA*
*Jum'at, 08 Maret 2013**
-----------------------*

*Bersama MALALA Memperingati Hari Wanita Internasional 08 Maret 2013*



** * **


Peristiwa itu terjadi di Pakistan pada penghujung tahun lalu, 2012.

Ketika dalam perjalanan ke sekolahnya, *gadis MALALA YOUSUFZAI, berumur 15 tahun,* diberondong tembakan kelompok teroris Taliban. Nyaris berakhir hidup Malala. Peluru pas bersarang di kepalanya. Hanyalah "keajaiban" yang menyelamatkan jiwa gadis remaja sekolah Pakistan itu. Sekarang ia masih dalam perawatan rumah sakit di Inggirs, tapi boleh dikatakan sudah pulih. Dunia mengurut dada, marah dan memprotes tindakan biadab Taliban tsb. Sekali gus juga lega dan bersyukur dengan membaiknya kesehatan Malala yang membaik.


Apa yang terjadi dengan Malala, berkembang di luar rencana dan harapan Taliban. Dengan tindakan terornya itu mereka hendak membendung arus tuntutan agar diberlakukan HAK SAMA UNTUK PEREMPUAN DI PAKISTAN. Justru sebaliknya yang kita saksikan: Masyarakat Pakistan, khususnya kaum perempuannya setapakpun tidak mundur dari perjuangan dan tuntutan mereka untuk KEADILAN BAGI KAUM PEREMPAN PAKISTAN. Pertama-tama MALALA sendiri sedikitpun tidak terintimidasi oleh aksi biadab Taliban itu.


Baik di dalam negeri Pakistan maupun di sejagat ini, banjir curahan pernyataan solidaritas dengan Malala dan perjuangannya. Semua mengutuk kaum teroris Taliban yang sampai dewasa ini masih mengeluarkan ancaman mereka akan membunuh MALALA.


* * *


HARI WANITA INTERNASIONAL 08 Maret 2013, mengandung arti khusus. Memperingatinya dalam suasana semangat solidaritas sekuat-kuatnya dengan tuntutan HAK SAMA KAUM PEREMUAN PAKISTAN DAN PRIYA DI SEMUA NEGERI. Pada hari WANITA INTERNASIONAL 08 Maret kali ini kita mengingat kembali apa yang diperjuangkan oleh Gadis Pakistan MALALA untuk hak sama dengan kaum priya , memperoleh pendidikan! Dengan teror yang dialami oleh Malala bertambah pengetahuan dan kesadaran kita, bahwa persamaan Hak Wanita dan Priya, masih TERUS merupakan tuntutan perjuangan yang gawat. Tidak saja di Pakistan tetapi juga di banyak negeri lainnya. Termasuk di Indonesia tercinta.


*Siapa gadis remaja MALALA YOUSUFZAI?*

Gadis Pakistan murid sekolah yang berumur 15 tahun itu, diteror Taliban Pakistan. Ia ditembak dengan kejam pada hari yang naas 12 Oktober 2012, dalam perjalanan ke sekolah di Mingora, kawasan Lembah Swat di dekat perbatasan dengan Afghanistan.

Dokter di Pakistan berhasil mencabut peluru dari bagian kepalanya sebelum dia dibawa ke Rumah Sakit Queen Elizabeth, Birmingham, untuk mendapat pengobatan lebih lanjut.

Tim dokter Inggris yang merawat Malala Yousufzai mengatakan dia sudah menjalani operasi lebih lanjut dan berada dalam kondisi yang baik.



* * *



Gerombolan teroris Taliban hendak membunuh MALALA yang berusia 15 tahun itu, semata-mata karena ia dengan berani dan aktif memperjuangkan hak sama bagi perempuan khususnya kaum perempuan di kampungnya. Malala menjadi sasaran Taliban karena memperjuangkan hak pendidikan untuk perempuan. Dia menulis catatan harian ketika Taliban menguasai kawasan Swat tiga tahun lalu.



Saat berkuasa, Taliban menutup sekolah-sekolah perempuan dan melarang pemutaran musik di mobil-mobil. Malala menulis catatan yang berisi pengalamannya saat Taliban menguasai kotanya. Taliban mengatakan Malala menjadi sasaran karena "dia mempromosikan sekulerisme."

Kejadian yang dialani Malala, memicu kecaman dari pihak internasional.



* * *



Malala Yousufzai mulai dikenal pada tahun 2009 saat dia menulis catatan harian untuk BBC Urdu tentang kehidupan di bawah Taliban yang menguasasi Lembah Swat. Taliban menguasai Swat akhir tahun 2007 sampai mereka dipukul mundur oleh pasukan Pakistan tahun 2009.

|Di bawah rezim Taliban sekolah-sekolah perempuan ditutup dan pemutaran musik di mobil-mobil dilarang.

Menteri Pendidikan Afghanistan, Farooq Wardag, yang berpidato di sebuah sekolah di Kabul, mengatakan, penyerangan terhadap Malala Yousufzai -- yang juga dikenal sebagai pegiat pendidikan untuk anak-anak perempuan di Pakistan -- merupakan musuh bagi dunia pendidikan di Afganistan dan Pakistan.



Di Afganistan entah berapa juta murid sekolah memanjatkan doa khusus demi keselamatan jiwa dan pulihnya Malala Yousufzai. Malala dipandang sebagai pahlawan perempuan.

Pada suatu hari Jumat, seluruh masyarakat Pakistan berdoa khusus untuk Malala. Kegiatan peduli, prihatin dan demi keselamatan Malala berkembang terus di Pakistan dan banyak negeri lainnya.

Kemarahan masyarakat terhadap kelompok Taliban yang melakukan penyerangan terhadap Malala dilaporkan terus meluas.

Ribuan pesan dukungan kepada Malala mengalir melalui jaringan di media cetak dan internet, dari segenap penjuru dunia.




* * *



*MENJADI CALON PEMENANG HADIAH NOBEL UTK PERDAMAIAN*

Tersiar berita penting dan menggembirakan di media mancanegara beberapa hari belakangan ini,*Malala Disebut Masuk Dalam Nominasi Hdiah Nobel. Beberapa tokoh penggiat hak-hak perempuan * yang mencalonkan Malala dianugerahi HADIAH NOBEL Kongkritnya jadi calon Pemenang Hadiah Nobel yang sekarang sudah berjumlah 259 calon dan 50 oragnisasi. Dikatakan "Dia menjadi calon karena mewujudkan beberapa hal: hak untuk anak perempuan dan perempuan, pendidikan, kaum muda, dan perjuangan melawan ekstrimisme."



Malala Yousufzai sudah menjadi perhatian internasional pada tahun 2009 ketika dia menulis blog yang berisi catatan kehidupan sehari-harinya di wilayah yang masih dikuasai Taliban.

Belakangan dia menjadi pegiat hak pendidikan untuk perempuan, yang mengundang kemarahan Taliban, yang mengganggap pendidikan perempuan sebagai nilai-nilai budaya Barat.




Sementara itu, lebih dari 60.000 orang telah menandatangani petisi meminta agar Malala dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian.



Seorang pengamat Nobel dari Lembaga Penelitian Perdamaian di Oslo, Kristian Berg Harpviken, mengatakan Malala dicalonkan karena berkaitan dengan berbagai isu.



*Malala Yousafzai* adalah korban penembakan biadab oleh kelompok Taliban. Alasan: Karena Malala MEMPERJUANGKAN PENDIDIKAN BAGI KAUM PEREMPUAN PAKISTAN di daerahnya.

Jika dilihat dari anak yang ke luar sekolah, dari 5,1 juta total anak Pakistan yang tidak melanjutkan sekolah maka jumlah anak perempuan mencapai 63% atau hampir dua pertiga.



* * *



Aktivis pendidikan remaja yang ditembak di kepala oleh Taliban di Pakistan berterimakasih pada pendukungnya di seluruh dunia.



Di Inggris, Shahida Choudhary yang memulai kampanye agar Malala mendapat Hadiah Nobel Penghargaan.mengatakan|||||||||: "Malala tidak hanya mewakili satu wanita muda, ia berbicara untuk semua orang yang dilarang mendapat pendidikan hanya karena jenis kelamin mereka. Ada gadis-gadis seperti Malala di Inggris dan di seluruh dunia. Saya adalah satu dari mereka.

"Saya memulai petisi ini karena Hadiah Nobel Perdamaian untuk Malala akan mengirim pesan yang jelas bahwa dunia mengawasi dan akan mendukung mereka yang berjuang agar anak perempuan mendapat hak pendidikan.



Dalam penutupan pertemuan Dewan Eksekutif UNESCO, Jumat 19 Oktober, Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova, menggelar sesi khusus untuk menghromati Malala.

"Di mana saja dan kapan saja seorang anak perempuan dilarang pergi ke sekolah, itu merupakan serangan terhadap semua perempuan, terhadap hak untuk belajar, hak untuk hidup secara utuh dan itu tidak bisa diterima," tutur Bokova.



* * *



*Kolom IBRAHIM ISA
Thursday, Noon, 07 March 2013
-----------------------------

Again a thoughtful comment of JOSHUA OPPENHEIMER
, which is as follows:

JOSHUA OPPENHEIMER
On Facebook


"The Indonesian Ambassador to Sweden joined us for tonight's premiere of THE ACT OF KILLING in Stockholm. He said he liked it. His daughter certainly did.

"Unfortunately, we couldn't get him to commit to saying that the government should apologise for the genocide...

* * *

Someone certainly ask . . . Will the Indonesian Ambassador in Holland attend the screening of "The Act of Killing" on March 31th, at The Schakel, in Diemen, organized by the Indonesian Community??? .....

HOPEFULLY, she will.


I don't think She will have to ask Jakarta's approval for seeing "The Act of Killing". . . together with others, most of them happend to be victims of the New Order's violation of human rigjhts.

Amsterdam, 18.43 hrs.*
*Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 07 Maret 2013
--------------------** 
 
**Sesungguhnya Film "THE ACT OF KILLING"
BUKAN SEMATA-MATA KASUS PEMBUNUHAN MANUSIA*


   ** ***

   *Apa yang dipesankan Joshua Oppenheimer kepada para EKSIL, yang
   dalam istilah Gus Dur adalah "orang-orang yang terhalang pulang",
   bukan sekadar ucapan terima kasih .*

   *Joshua Oppenheimer mengkonstatasi bahwa: *
   *
   *Film "The Act of Killing" ("Jagal"), sesungguhnya bukan semata-mata
   tentang kasus pembunuhan manusia-manusia, tetapi merupakan
   pembunuhan moral, pembunuhan budaya, pembunuhan pengetahuan,
   pembunuhan terhadap masyarakat, pembunuhan visi, pembunuhan terhadap
   harapan.

   *Tulis Oppenheimer selanjutnya:/*
   */
   *"Kalian mengingat apa yang telah dihancurkan, kalian adalah link
   kami dengan apa yang pernah hilang. Itu sesuatu yang berharga bagi
   kami".*

   /** * *

   */Joshua Oppenheimer:*

   **"SEMOGA INDONESIA MEMILIKI KEBERANIAN UNTUK MENDENGAR DAN BELAJAR
   DARI KALIAN *

      Swedish Premier film "The Act of Killing">
   *
   * * *

   *Di bawah ini adalah teks selengkapnya, pesan lewat e-mail dari
   Joshua Oppenheimer, produser film dokumenter "The Act of
   Killing"**yang dissiarkan oleh mailist Temu Eropah. Teks dalam
   bahasa Inggris terjemahan bebas kurang lebih seperti ini:*

   "Terima kasih mendalam kepada masyarakat Indonesia di pembuangan
   (Exiles) 1965, yang telah bergabung dengan kami pada Swedish Premier
   dari film The Act of Killing.**

   "**Kalian mengingat apa yang telah dihancurkan, kalian adalah link
   kami dengan apa yang pernah hilang. Itu sesuatu yang berharga bagi
   kami. **

   "**The Act of Killing" ("Jagal)", sesungguhnya bukan semata-mata
   tentang kasus pembunuhan manusia-manusia, tetapi merupakan
   pembunuhan moral, pembunuhan budaya, pembunuhan pengetahuan,
   pembunuhan terhadap masyarakat, pembunuhan visi, pembunuhan harapan.**

   "**Semoga Indonesia memilik keberanian untuk mendengar dan belajar
   dari kalian, agar kita bisa memulai menemukan kembali apa yang telah
   hilang. Terima kasih".*


Demikian Joshua Oppenheimer dalam pesan terima-kasihnya kepada masyarakat Indonesia di Stockholm yang ambil dalam kegiatan Swedish Premier dari film "The Act of Killing".*

* * *

Forwarded from TOM ILYAS, Stockholm, 07-03-2013
[temu_eropa] At the Swedish premiere oh The A o K*


Joshua Oppenheimer:


"Deep gratitude to the brave and wise community of Indonesian exiles from 1965 who joined us at the Swedish premiere of THE ACT OF KILLING.


"You remember what was destroyed, you are our link to what was lost. That is invaluable for all of us.


"After all, the act of killing was not just about killing human beings, but

killing morality, killing culture, killing knowledge, killing community,

killing vision, killing hope.


"May Indonesia have the courage to listen and

learn from you, so that we can begin to recover what was lost.


"Terima kasih.


*Kolom IBRAHIM ISA*
***Rabu, 06 Maret 2013
-----------------------------*

*SUATU KEHILANGAN BESAR BAGI GERAKAN KIRI MANCANEGARA*


    * *

    Hugo Shavez adalah seorang REVOLUSIONER YANG REALIS . . .
    Dicobanya melalui kekerasan kudeta . . . . enggak bisa . . .
    Dia segera beralih ke jalan yang sesuai situasi dan kesadaran
    rakuyat . ..

    Dan berhasil . . .
    Dengan demikian rakyat-banyak Venezuela langsung merasakan
    KEUNGGULAN SOSIALISME ATAS SISTIM LAMA VENEZUELA . . .

    Melalui praktek revolusionernya DI VENEZUELA yang sesuai dengan
    sikon Venezuela . .

    CHAVEZ menunjukkan bahwa SOSIALISME memberikan rakyat Venezuela
    kesempatan untuk memperbaiki nasibnya . . .

    * * *


Response dari Sahabatku*MAX LANE *

di Face Book hari ini:


*Tentang Chavez:*

                    ' "He wrote, he read, and mostly he spoke. Hugo
                    Chávez, whose death has been announced, was devoted
                    to the word. He spoke publicly an average of 40
                    hours per week."

                    "Dia menulis, dia membaca, dan paling banyak, dia
                    bicara. Hugi Chavez mengabdi kepada "kata-kata".

                    Dia berbicara di depan publik rata-rata 40 jam
                    seminggu." Mengapa seperti itu? Seperti juga diulas
                    oleh Sukarno (muda) dalam tulisannya *"Bukan Jangan
                    Banyak Bicara, tapi Banyak Bekerja dan Banyak
                    Bicara"* adalah dengan banyak bicara (menjelaskan
                    dengan pencerahan) bahwa kesadaran (revolusioner)
                    bisa bangkit.

                    *Untuk massa yang tertindas dan diperbodohi
                    berpuluh-puluh, bahkan berratus-ratus tahun,
                    kesadaran (revolusioner) adalah senjata dahsyat*.
                    Kebutuhan di tempat di mana revolusi sudah selesai.
                    Kebutuhan di tempat revolusi sudah selesai tetapi
                    kemudian ketiduran atau mati. Kebutuhan dimana
                    revolusi belum mulai. Bahkan kebutuhan di mana
                    revolusi masih hidup.

                    (cetak tebal dari Penulis Kolom: I.I.)





*

*

*

* * *


IBRAHIM ISA
Selasa, 05 Maret 2013
---------------------
 
SIAPA SUHARTO
Chalik Hamid (05-03-2013)

* * *

Tulisan ini amat relevan dewasa ini. Melihat betapa gairahnya keluarga mantan Presiden Suharto serta para pendukungnya, kembali mendesakkan hasrat mereka agar Jendral Suharto dinobatkan sebagai "pahlawan nasional" (Lihat pidato Probosutedjo pada peresmian patung Jendral Suharto, dimuka tempat kediaman lama Suharto di Jogyakarta.).

Yang disiarkan di bawah ini, adalah sebagian kecil dari artikel atas nama CAH PAMULANG, disiarkan oleh mailist JKI. Lalu dipublikasikan kembali oleh penulis CHALIK HAMID di mailist hari ini..

* * *

Suharto lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921, dari keluarga petani yang menganut kejawen. Keyakinan keluarganya ini kelak terus dipeliharanya hingga hari tua. Karirnya diawali sebagai karyawan di sebuah bank pedesaan, walau tidak lama.

Dia sempat juga menjadi buruh dan kemudian menempuh karir militer pertama kali sebagai prajurit KNIL yang berada di bawah kesatuan tentara penjajah Belanda. Saat Jepang masuk di tahun 1942, Suharto bergabung dengan PETA. Ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan, Soeharto bergabung dengan TKR.

Salah satu ‘prestasi’ kemiliteran Suharto yang sering digembar-gemborkannya semasa dia berkuasa adalah Serangan Umum 1 Maret 1949 atas Yogyakarta. Bahkan ‘prestasi’ ini sengaja difilmkan dengan judul ‘Janur Kuning’ (1979) yang memperlihatkan jika serangan umum itu diprakarsai dan dipimpin langsung oleh Letkol Suharto.

Padahal, sesungguhnya serangan umum itu diprakarsai Sultan Hamengkubuwono IX. Hamengkubuwono IX lah yang memimpin serangan umum melawan Belanda. Hamengkubuwono IX adalah seorang nasionalis yang memiliki perhatian terhadap nasib rakyatnya, karena itu ia tidak mau untuk di jajah. (lihat biografi Sultan Hamengkubuwono IX).

Pada 1959, Suharto yang kala itu menjabat sebagai Pangdam Diponegoro dipecat oleh Nasution dengan tidak hormat karena Suharto telah menggunakan institusi militernya untuk mengumpulkan uang dari perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah. Suharto kala itu juga ketahuan ikut kegiatan ilegal berupa penyelundupan gula dan kapuk bersama Bob Hasan dan Liem Sioe Liong.

Untuk memperlancar penyelundupan ini, didirikan prusahaan perkapalan yang dikendalikan Bob Hasan. Konon, dalam menjalankan bisnis haramnya ini, Bob menggunakan kapal-kapal ‘Indonesian Overseas’ milik C.M. Chow. Siapa C.M. Chow ini? Dia adalah agen ganda. Pada 1950 dia menjadi agen rahasia militer Jepang di Shanghai. Tapi dia pun kepanjangan tangan Mao Tse Tung, dalam merekrut Cina perantauan dari orang Jepang ke dalam jaringan komunis Asia.

Pada 1943, Chow ditugasi Jepang ke Jakarta. Ketika Jepang hengkang dari Indonesia, Chow tetap di Jakarta dan membuka usaha perkapalan pertama di negeri ini. Chow bukan saja membina WNI Cina di Jawa Tengah dan Timur, namun juga di Sumatera dan Sulawesi. Salah satu binaannya adalah ayah Eddy Tansil dan Hendra Rahardja yang bermarga Tan. Tan merupakan sleeping agent Mao di Indonesia Timur. Pada pertengahan 1980-an, Hendra Rahardja dan Liem Sioe Liong mendirikan sejumlah pabrik di Fujian, Cina (Siapa Sebenarnya Suharto; Eros Djarot; 2006).

Nasution kala itu sangat marah sehingga ingin memecat Suharto dari AD dan menyeretnya ke Mahkamah Militer, namun atas desakan Gatot Subroto, Suharto dibebaskan dan akhirnya dikirim ke SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat). Selain Nasution, Yani juga marah atas ulah Suharto dan di kemudian hari mencoret nama Suharto dari daftar peserta pelatihan di SSKAD, yang mana hal ini membuat Suharto dendam sekali terhadap Yani. Terlebih Amad Yani adalah anak kesayangan Bung Karno.

* * *

Kolonel Pranoto Rekso Samoedro diangkat sebagai Pangdam Diponegoro menggantikan Suharto. Pranoto, sang perwira 'santri', menarik kembali semua fasilitas milik Kodam Diponegoro yang dipinjamkan Suharto kepada para pengusaha Cina untuk kepentingan pribadinya. Suharto sangat sakit hati dan dendam terhadap Pranoto, juga terhadap Nasution dan Yani.

Di SSKAD, Suharto dicalonkan untuk menjadi Ketua Senat. Namun DI. Panjaitan menolak keras dengan menyatakan dirinya tidak percaya dengan Suharto yang dinilainya tidak bisa dipercaya karena mempunyai banyak catatan kotor dalam kair militernya, antara lain penyelundupan bersama para pengusaha Cina dengan dalih untuk membangun kesatuannya, namun yang terjadi adalah untuk memperkaya dirinya.

Atas kejadian itu Suharto sangat marah. Bertambah lagi dendam Suharto, selain kepada Nasution, Yani, Pranoto, kini Panjaitan. Aneh tapi nyata, dalam peristiwa 1 Oktober 1965, musuh-musuh Suharto—Nasution, Yani, dan Panjaitan—menjadi target pembunuhan, sedangkan Suharto sendiri yang merupakan orang kedua di AD tidak masuk dalam daftar kematian.

Dan ketika Yani terbunuh, Bung Karno mengangkat Pranoto Rekso Samudro sebagai Kepala Staf AD, namun Pranoto dijegal oleh Suharto sehingga Suhartolah yang mengambil-alih kepemimpinan AD, sehingga untuk menghindari pertumpahan darah dan perang saudara—karena Siliwangi di Jawa Barat (Ibrahim Adjie) dan KKO (Marinir) di Jawa Timur telah bersumpah untuk berada di belakang Soekarno dan jika Soekarno memerintahkan untuk ‘menyapu’ kekuatan Suharto di Jakarta, maka mereka menyatakan siap untuk berperang—maka Soekarno melantik Suharto sebagai Panglima AD pada 14 Oktober 1965.

* * *