Thursday, August 8, 2013

SELAMAT HARI RAYA IDIL FITRI . . . . . MOHON MAAF LAHIR BATHIN . . . . . .

Kolom IBRAHIM ISA
Rabu, 07 Agustus 2013
------------------------------


SELAMAT  HARI  RAYA  IDIL FITRI . . . . .
MOHON  MAAF  LAHIR BATHIN . . . . . .

Setiap tahun kita saling menyapa: Selamat Hari Raya Idil Fitri, Mohon Maaf Lahir Bathin. Bersilaturahmi . . . . saling berkunjung, saling berjumpa . . . . dan saling memaafkan, dalam suasana harmoni dan persatuan. Suatu tradisi yang sesungguhnya amat mulya, setelah sebulan melakukan ibadah Puasa Ramadhan sesuai dengan ajaran Agama Islam.

Aku selalu ingat pesan Ayah kami: . . . Kalian berpuasa dalam bulan Ramadhan . . . yang terpenting ialah menjauhi diri dari perbuatan yang dilarang Allah, termasuk, bahkan terutama, sesuatu yang tidak baik yang ada di fikiran dan bathin kalian. Jauhi dari perbuatan terlarang dalam perbuatan sehari-hari terutama dalam fikiran dan bathin kalian . . . “

Lalu yang tidak kalah pentingnya adalah . . . lakukan dan bila sudah melakukannya, perbesar berbuat baik bagi sesama manusia dan masyarakat. Perbesar tindakan beramal . . . Amar ma'ruf nahi munkar adalah perintah untuk mengajak, menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat. (Termaktub di Surah Luqman).

Meskipun terus menerus diusahakan ---    sungguh, . . sampai saat ini aku belum mampu memenuhi sepenuhnya anjuran Ayah kami itu.

* * *

Ada baiknya pada hari yang mulya ini, kusampaikan respons (mantan) muridku, Harry Kawilarang: ketika kukirimkan tulisan “In Memoriam Dr Pluvier” (meninggal dunia pada 30 Juli 2013, di Belanda), sarjana sejarah Belanda, sahabat sejati rakyat Indonesia, sbb:

“Saya mengenal Dr Jan Pluvier melalui buku-bukunya. Terus terang, Dr. Pluvier menjadi panutan saya menyukai dan menggemari Sejarah Indonesia. Teman-teman di Negeri Belanda (yang berpihak pada Orba) pernah meningatkan saya bahwa Dr Pluvier adalah orang "Kiri." Saya katakan: "I don't care." Mau kiri atau mau kanan, tetapi tulisannya tentang Sejarah Indonesia sangat sistimatis, dan komprehensif dan enak di baca. Sama sekali tidak terbawa oleh pandangan-pandangan subyektif dan merupakan buku pengantar dan referensi paling baik. Kalau mau terus terang dari tulisannya itu, Dr Pluvier lebih Indonesia dari orang Indonesia sendiri sekalipun turunan "bule." Ia sangat berharga untuk orang Indonesia yang benar-benar inginbelajar dan mendalami tentang Sejarah Indonesia. Terima Kasih Engku Ibrahim Isa atas pemberitaan ini. Saya juga penuh harap Engku Ibrahim sudah mempersiapkan karya buku sejarah Indonesia. Salam hormat, dari muridnya yang tidak pernah lupa karena ikut mewarnai diri saya mengenal Indonesia sebagai bangsa”, . . . . . .

Atas respons Harry Kawilarang, kusampaikan sbb:

“Bamyak terima kasih kepada Bung Harry Kawilarang y.b., . . . . untuk response dan dorongan semangat pada sang Engku . . . . Thanks a lot. Menulis buku sejarah Indonesia, wah itu urusan besar dan mulya. . . . kita panjatkan saja doa agar para historikus kita bisa berteladan pada Dr Pluvier seperti yang Anda tulis, . . . . . . . .

" . . . . tulisan Dr Pluvier tentang Sejarah Indonesia sangat sistimatis, dan komprehensif dan enak di baca. Sama sekali tidak terbawa oleh pandangan-pandangan subyektif dan merupakan buku pengantar dan referensi paling baik. Kalau mau terus terang dari tulisannya itu, Dr Pluvier lebih Indonesia dari orang Indonesia sendiri sekalipun turunan "bule." Ia sangat berharga untuk orang Indonesia yang benar-benar ingin belajar dan mendalami tentang Sejarah Indonesia." Salam hangat, Isa.

* * *

Minal 'Aidin wal-Faizin


* * *


Pandangan Tajam AS Hikam Tentang GAM

Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 06 Agustus 2013
-------------------------------

Pandangan Tajam AS Hikam Tentang GAM

AS Hikam: . . Tindakan TNI dan Polri menurunkan Bendera GAM di seluruh Aceh sangat penting artinya bagi kedaulatan RI



* * *



Tampak simpang siur sikap dan pandangan pelbagai fihak mengenai (rencana) pengibaran bendera GAM di Aceh, dan larangan Polisi dan TNI. Sehigga pembaca bertanya-tanya, apakah GAM itu suatu entity negara atau pemerintah yang setara dengan negara Republik Indonesia yang berdaulat dari Sabang sampai Merauke, sesuai UUD RI?



Memang situasi inilah yang dikehendaki dan dituju oleh GAM. Agar tersebar dan tertanam sikap dan pandanganm bahwa GAM itu adalah suatu lembaga yang berdaulat yang kedudukannya setara dengan negara RI.



Salah kaprahnya kebijakan pemerintah RI, dimulai ketika diadakan perundingan perdamaian resmi di wilayah negara lain, dengan perantara negara ketiga di Stockholm beberapa waktu yang lalu. Sejak itu orang bertanya-tanya mengapa diadakan perundingan dengan GAM. Yang menimbulkan kesan keliru, seakan-akan perundingan itu berlangsung antara dua lembaga berdaulat. Padahal jelas bahwa GAM adalah organisasi politik yang melakukan pemberontakan terhadap negara RI, dengan tujuan untuk mendirikan “Negara Aceh Merdeka”. Bertujuan SEPARATIS! Tidak beda dengan pemberontakan PRRI/Permesta pada paro kedua tahun limapuluhan abad lalu.



* * *



Baguslah ada suara yang rasionil dan patriotik, berdasarkan hukum dan UUD RI, seperti yang diutarakan oleh AS Hikam, pengamat politik, Doktor ilmu politik dari University of Hawaii , Manoa (UHM).



AS Hikam dengan tegas menyatakan (RMOL, 06 Agustus, 2013):
"Jika pihak Pemda Aceh menganggap penurunan Bendera GAM tersebut sebagai tindakan represif yang tak menghargai masa jeda yang disepakati antara pemerintah Aceh dengan pemerintah pusat, saya malah heran. Masa jeda apa?"



Selanjutnya Hikam mengingatkan bahwa ini bukan perundingan antara dua negara atau antara pemberontak dan pemerintah. Sehingga tidak ada istilah masa jeda. Bahkan, sambungnya, istilah cooling down yang dipakai Mendagri Gamawan Fauzi pun keliru karena memberi peluang kepada pendukung bendera GAM untuk menganggap masalah itu sebagai status quo.



Kesimpulan AS Hikam:
"Dan inilah yang sangat berbahaya jika dibiarkan terus. Karena itu tindakan TNI dan Polri menurunkan Bendera GAM di seluruh Aceh sangat penting artinya bagi kedaulatan RI dan harus didukung seluruh bangsa Indonesia,"



Dr Mohammad AS Hikam adalah mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Persatuan Nasional. Ia meraih gelar sarjana pada tahun 1981 dari UGAM, Yogyakarta. Kemudian gelar doktor dari Universitas Honolulu (1995) Sebelum menjadi menteri, Hikam adalah peneliti di LIPI.



* * *



AS Hikam, dengan jernih menunjukkan bagaimana duduk perkaranya antara Republik Indonesia dan GAM.



* * *









IN MEMORIAM PROF. DR. JAN MEINHARD PLUVIER

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 05 Agustus 2013
---------------------------------

IN MEMORIAM
PROF. DR. JAN MEINHARD PLUVIER

Prof Dr Jan Meinhard PLUVIER, meninggal dunia pada tanggal 30 Juli 2013, dalam usia 86 tahun di tempat tinggalnya di Soest, Holland.

Beliau akan diperabukan besok tanggal 06 Agustus, jam 11.00 pagi  di Crematorium Amersfoort, Dodenweg 31, Leusden.

* * *

Meninggalnya Prof Dr Jan Pluvier merupakan kehilangan besar bagi kaum progresif Belanda, maupun bagi kaum progresif Indonesia. Dr Pluvier, sebagaimana halnya Prof. Dr Wertheim, adalah sahabat sejati rakyat Indonesia. Beliau memberikan perhatian luar biasa pada bangsa dan rakyat Indonesia. Dengan kuat menyokong perjuangan rakyat Indonesia untuk kemerdekaan nasional, demokrasi dan keadilan.

Prof Dr Jan Pluvier adalah anggota Pengurus Stichting Wertheim, sejak berdirinya pada tanggal 04 Maret 1988, yang bertujuan mendorong maju proses EMANSIPASI NASION INDONESIA.

* * *

Besarnya perhatian Dr Jan Pluvier nyata sekali sejak beliau masih muda belia dengan penulisan skripsi untuk memperoleh PhD di Universitas Amsterdam, berjudul

“Overzicht Van De Ontwikkeling Der Nationalistische Beweging In Indonesia In De Jaren 1930 tot 1942”

Skripsi yang ditulisnya dengan supervisi Prof Dr Wertheim itu, terbit pada 07 Juli 1953. Di dalam skripsinya itu – terjemahan bebas – “Gambaran Umum Mengenai Perkembangan Gerakan Nasionalis di Indonesia Dalam Tahun-tahun 1930 – 1942”, Dr Pluvier berusaha memberikan gambaran umum bahwa gerakan rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan nasional telah lahir jauh sebelum meletusnya Perang Pasifik.

Dengan fakta-fakta sejarah dan analisis Dr Pluvier menunjukkan bahwa perjuangan bangsa Indonesia untuk kemerdekaan nasional, berlangsung melalui proses sejarah yang sulit dan panjang. Sekaligus memperkokoh bantahan terhadap tuduhan yang pernah dikemukakan oleh pemerintah Kerajaan Belanda bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945, yang dinyatakan oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia, adalah buatan Jepang semata-mata.

Pada periode rezim Orde Baru, Dr Jan Pluvier dengan penuh perhatian terus mengikuti perkembangan Indonesia di bawah rezim Suharto. Dalam periode tsb Dr Pluvier menulis sebuah karya kritis dan penting berjudul , “Indonesië, kolonialisme, onafhankelijkheid en neokolonialisme, Sunschrift 131, Nijmegen, 1978. “ .

* * *

Kita merasa amat kehilangan serta merasa amat sedih dengan kepergian Dr. Pluvier, serta mengharapkan seluruh keluarga Dr Pluvier yang ditinggalkan beliau, tabah adanya menghadapi musibah hari-hari ini.

Stichting Wertheim telah mengirimkan sebuah karangan bunga sebagai tanda turut berdukacita, dengan pernyataan, sbb:

“Voor het goede werk dat hij in het belang van Stichting Wertheim heeft gedaan, zullen wij hem altijd gedenken” --

“Untuk hal-hal baik yang dilakukannya demi Stichting Werteheim, kami selalu akan mengenangnya”.

* * *

NB:

Alamat keluarga Dr Jan Meinhard Pluvier:
C. Pluvier,Hoogte Kadijk 202, 1018 BW Amsterdam.





“WELL-WISHERS” & “ILL-WISHERS” 3 TULISAN Terkait Tema "QUO VADIS TIONGKOK”

Kolom IBRAHIM ISA
Minggu, 04 Agustus 2013
------------------------------------


“WELL-WISHERS” & “ILL-WISHERS”
3 TULISAN Terkait Tema "QUO VADIS TIONGKOK”

* * *

“Quo Vadis China” – Bagaimana Dengan Tiongkok” – Tiongkok akan kemana?
– Apakah akan menabrak “Tembok Besar” -nya sendiri, . . . . ataukah, akan “Gemah Ripah Loh Jinawi . . .”, tenteram dan makmur . . .
Dari tulisan yang tersiar itu bisa dilihat apakah penulisnya itu “well-wisher” (yang mengharapkan kebaikan bagi haridepan Tiongkok di bawah kebijakan Reforrm dan Keterbukaan.)-- ataukah “ill-wisher”, yang mensukurkan bila Tiongkok “kesandung”, “mengalami kesulitan”, “ekonominya macet” dan akhirnya “bangkrut”. Bagaimanapun perumusan dan selubung dalam suatu tulisan, pembaca yang kritis akan segera melihat “hendak kamana” maksud penulisnya.
Tema “Quo Vadis Tiongkok”, akan selalu menjadi perhatian media mancanegara dan menarik bagi pemerhati perkembangan geopolitik Asia dan Dunia. Tiongkok kususnya. Atas pertanyaan mereka, aku pernah cerita pada kawan-kawan lama dan baru di Tiongkok, ketika belum lama berkunjung ke negeri itu dan jumpa dengan mereka, bahwa silih bergnti di Belanda, Eropah, apalagi di Amerika, boleh dikata hampir setiap weekend ada tulisan mengenai Tiongkok, apakah itu analisis atau komentar. Diselingi dalam tempo beberapa bulan ada buku baru tentang Tiongkok.
* * *
Di bawah ini diangkat sebagai tipikal “ill-wisher”, adalah tulisan yang dikemukakan oleh jurnalis NYT, Paul Krugman. Komentarnya dikutip oleh historikus George Friedman, yang dikemaukakan dalam sebuah artikel di “Geopolitical Weekly”,23 Juli, 2013,sbb: ---
“Recognizing the End of the Chinese Economic Miracle”, (diterjemahkan secara bebas) . . “Mengakui Berakhirnya Keajaiban Ekonomi Tiongkok”, (oleh George Friedman) . Di dalam tulisannya itu Friedman mengutip tulisan kolumnis Paul Krugman, sbb:

“Last week, the crisis was announced with a flourish. First, The New York Times columnist and Nobel Prize-recipient Paul Krugman penned a piece titled "Hitting China's Wall." He wrote, "The signs are now unmistakable: China is in big trouble. We're not talking about some minor setback along the way, but something more fundamental. The country's whole way of doing business, the economic system that has driven three decades of incredible growth, has reached its limits. You could say that the Chinese model is about to hit its Great Wall, and the only question now is just how bad the crash will be." “

Bahasa Indonesianya, secara bebas diterjemahkan, kira-kira begini:

“Pekan lalu, krisis tsb diumumkan dengan (gembira). Pertama, kolumnis The New York Times, dan pemenang Hadiah Nobel, Paul Krugman, menulis sebuah artikel berjudul “Menabrak Tembok Tiongkok”. Tulisnya, “Dewaa ini , tanda-tanda, tidak salah lagi, menunjukkan bahwa Tiongkok berada dalam kesulitan besar. Kita bukan bicara tentang sementara kemunduran kecil, tapi sesuatu yang lebih fundamentil. Keseluruhan cara melakukan bisnis, sistim eknomi yang telah mendorong pertumbuhan luar bisa selama puluhan tahun, telah mencapai batasnya. Bisa dikatakan bahwa model Tiongkok sebentar lagi a kan menabrak Tembok Besarnya., dan masalahnya kini, ialah, akan seberapa besar ambruknya itu”.

* * *

Adalah komentar Paul Krugman inilah yang disinggung dalam Kolom Ibrahim Isa, 31 Juli y.l, a.l sbb:

“Padahal, media Barat itu sendiri memberitakan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2013, ada pada taraf 7-7,5%. Yang itu, merupakan taraf pertumbuhan termasuk paling tinggi di dunia dewasa ini. Tapi, mereka lalu menambahkan, bahwa , “angka-angka statistik Tiongkok, pada umumnya tak bisa dipercaya”. Sehingga sulitlah pembaca mengikuti “logika ekonomi” mereka-mereka itu.

“Bagaimanakah pembaca harus memahami “ribut-ribut” tentang akan ambruknya ekonomi Tiongkok di bawah kebijakan “reform dan keterbukaan”. Apakah maksud mereka-mereka itu sesungguhnya? Karena, di satu fihak mereka meramalkan dengan antusias dan gembira, bahwa ekonomi Tiongkok benar-benar mulai dilanda kesulitan dan kendala, macet dan krisis . . . . kemudian ambruk . . . . Tapi di lain fihak, mereka juga merasa khawatir akan dampak ambruknya ekonomi Tiongkok pada kehidupan ekonomi dunia. Karena, mereka sendiri bilang bahwa, seperti pernah dikatakan oleh salah seorang pejabat pelabuhan Bremen di Jerman. Ia menyatakan bahwa selama ekonomi Tiongkok berkembang terus, selama itu bisnis pelabuhan Bremen perspektifnya bagus, akan terus brkembang. Hubungan ekonomi Jerman-Tiongkok, adalah baik, – – – begitu pernah pejabat pimpinan pelabuhan Bremen mengungkapkan.

“Sepertinya logika ekonomi mereka tentang pertumbuhan dan perkembangan ekonomi iongkok itu kusut dan kacau . . . . . Dalam benaknya mengharapkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok macet, jenuh, krisis dan ambruk . .. Dilain fihak mengharapkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok berlangsug terus, karena punya dampak positif pada ekonomi dunia, termasuk pada ekonomi negerinya sendiri. Sehingga pantaslah jika muncul pertanyaan: . . . Lalu kalian itu, maunya apa sih?? Demikian Kolom I.I merespons “analisis” Paul Krugman.

* * *

K. Djie (Amsterdam) menulis tanggapan sbb: ( eks lengkap): 01 Agustus 2013.

TIONGKOK IKUT EKONOMI GLOBAL

Tiongkok ikut ekonomi global, dan ekonominya tergantung pada export.
Kalau negeri2 yang banyak mengimport barang dari Tiongkok mengalami probleem ekonomi, dan terpaksa mengurangi importnya, mau tak mau export Tiongkok akan berkurang.

Pertumbuhan ekonominya akan berkurang.Pertumbuhan ekonomi berkurang, kemudian maju lagi dsb.nya tampaknya hal biasa dalam ekonomi.Pertumbuhan ekonomi berkurang, berarti harus dilakukan sesuatu korereksi karena dulunya pertumbuhannya tidak seimbang atau ada kesalahan.

Kalau lihat perkembangan ekonomi dunia sekarang, rasanya ya akan mempengaruhi export Tiongkok.Menyebabkan ambruk ya saya kira tidak, kalau dilakukan kebijaksanaan dalam negeri. Bagaimana buruh2 yang mungkin kehilangan pekerjaan dapat pekerjaan la in atau kembali kerja di desa . Misalnya untuk mencegah pengangguran, buruh2 disalurkan di pekerjaan infrastruktur yang akan diperlukan nanti kalau ekonomi membaik, perbikan kwalitas hidup rakyat, perbaikan irrigasi dll.

Berarti Tiongkok harus memakai cadangan keuangannya.Sebenarnya, ekonoom2 dari universitas2 di Tiongkok sudah lama mengingatkan supaya laju pertumbuhan ekonomi direm, inflatie terlalu tinggi dan supaya ekonomi dalam negeri lebih dikembangkan supaya juga tidak terlalu tergantung pada export.

Yang berbahaya kalau ekonomi memburuk an terjadi pemogokan2, demonstratie dan “pembrontakan2”.Ini akan memperburuk ekonomi lebih jauh. Yang kelihatan baru : Pembangunan gedung2 tinggi ditunda lima tahun. Pinjaman bank2 diperketat.Kalau e xportnya sudah lama mencari pasaran baru di Asia, Afrika an Amerika Latin.Banyak migratie dari tiongkok ke Afrika dan Amerika Latin.Seiring dengan investatie Tiongkok di Afrika, banyak orang2 dari Tiongkok pindah ke Afrika. Ada yang buka toko jual barang2 dari Tiongkok. Ada yang bercocok tanam mensupply kebutuhan pekerja2 Tiongkok.
Dengan adanya toko2 ini, barang2 dari Tiongkok jadi popular. Hanya di bidang pompa2 air, pasarannya Sudah lama dikuasai pedagang India. Di Suriname, pendatang2 baru dari Tiongkok maju pesat dengan toko2nya menjual barang2 dari tiongkok, yang ikirim oleh sanak saudarana yang masih di Tiongkok. Di Tiongkok banyak orang2 Afrika, beristri penduduk Tiongkok, mengexport barang2 dari Tiongkok ke negeri asalnya. Begitu banyak komunitas orang dari Tiongkok, rumah2 makan mulai dibuka.Di Russia, di perbatasan dengan Tiongkok pemerintah Tiongkok dan swasta menyewa tanah  Russia untuk bercocok tanam. Hasilnya diexpor ke Tiongkok melewati perbatasan.
Di Tiongkok sendiri di perbatasan ada “kota Russia”dan “kota Korea”. Di situ banyak orang2 Russia dan Korea berjualan. Demikian K. Djie.

* * *

Seorang pemerhati dan komentator berwarganegara RRT, Chan Chun Tak, pengelola meilis Gelora45, berdomisili Hongkong, tidak ketinggalan menulis pendapatnya sbb:
(teks langkap):

Chan Chun Tak:
PROBLIM YANG CUKUP MENYENGAT “AMBRUKNYA” TIONGKOK.

Saya ikut kasih komentar, ya, ... Problem yang cukup menyengat, “AMBRUKNYA” Tiongkok! Begitu mungkin pandangan ekonom barat, yang terpaku dengan dalil-dalil klasik eknomi yang mereka kenal. Ramalan Tiongkok segera akan ambruk, dengan mulai pecahnya gelembung balon ekonomi sudah didengungkan sesaat setelah krismon akhir tahun 1997, ... banyak terjadi “Kota-HANTU”, perumahan-perumah yang dibangun dengan kecepatan tinggi, kosong melompong tidak ada penghuninya, menjadi “Kota-Hantu”.

Ternyata Tiongkok bukan saja tidak AMBRUK, sebaliknyaa tetap berkemampuan mempertahankan kecepatan pertumbuhan diatas 9% bahkan lebih 11%. Kemudian gempuran krisis moneter melanda di AS dan Eropah pertengahan tahun 2008, ... banyak orang meramalkan gempuran dahsyat kali ini Tiongkok PASTI AMBRUK! Bayangin saja, akibat gempuran krisis moneter di barat, eksport menurun drastis, puluhan ribu pengusaha asing dan domestik gulung tikar, bangkrut, ... bukan saja majikan menghilang begitu saja dengan menggondol sisa harta yang ada, tapi juga meninggalkan HUTANG gaji buruh.

Lalu di Wen Zhou terjadi kredit-gagal, tidak kebayar yang mengancam beberapa Bank bangkrut. Gempuran menjadi lebih parah, justru ditahun-tahun itu kesempatan terjadi arus besar pengiriman keluar-negeri harta kekayaan pejabat-pejabat korup, entah sampai berapa ratus Milyard uang negara amblas begitu saja. Tapi, ... kenyataan Tiongkok tidak ambruk, bahkan di tahun 2008 itu Tiongkok berhasil menyeleenggarakan Olympic Games di Beijing yang mengagumkan dunia! Sekalipun di tahun 2008 itu, Tiongkok dilanda Gempa bumi dahsyat di Shi Chuan, lalu gerakan teror dan kerusuhan Tibet Merdeka dan Shin Kiang Merdeka, dan, ... sekalipun pertumbuhan ekonomi GDP menurun hanya sekitar 7 % saja, tapi itu tetap merupakan pertumbuhan tertinggi didunia! Mengapa bisa terjadi begitu?

Saya bukan ekonom yang mengerti dan bisa menjelaskan dengan baik, mengapa sekalipun dilanda krismon dan terjadi banyak kendala, tapi tidak membuat AMBRUK, hanya pertumbuhan ekonomi sedikit menurun? Saya hanya bisa melihat, disinilah PERAN yang dimainkan NEGARA! Negara masih pegang tali kendali ekonomi nasional Tiongkok, tidak dibiarkan meluncur secara liberal berdasarkan hukum ekonomi pasar.

Keterlibatan pemerintah dalam mengatur pertumbuhan ekonomi inilah yang membedakan ekonomi Tiongkok dan ekonomi di barat. RRT, sebagai pemerintah yang menjadi “KAPITALIS” pemilik BUMN yang mempunyai cadangan devisa sangat kuat, dan tgentunya masih mengutamakan kepeentingan rakyat banyak inilah yang menentukan Tiongkok tidak ambruk, ... sebaliknya, TETAP JAYA sampai sekarang!

Ditahun 2010, saya dengar laporan seorang ekonom  muda Hongkong, menjelaskan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, dia bilang, entah kebetulan tepat waktu atau pihak pemerintah Tiongkok merubah kebijakan setelah melihat krisis 2008 di AS-Eropah, justru ditahun itulah pemerintah merencanakan pengalihan titik berat dari eksport menjadi konsumsi dalam negeri; dari titik berat meningkatkan industri di kota-besar menjadi industrialisasi di pedesaan, ...

Pemerintah mengambil langkah, membebaskan segala macam PAJAK dipedesaan terhadap PETANI, ... memberi subsidi pada PETANI untuk membeli alat produksi, bahkan perabot rumahtangga seperti kulkas, AC, TV, Computer dan Telpon-genggam, ... memberi kemudahan petani mendapatkan kredit bank untuk membeli alat-produksi, bibit dan pupuk dsb., memperkenankan sewa-menyewa hak guna atas tanah garapan, ...

Saya tidak ingat persis angka dan data-data pertumbuhan ekonomi yang diberikan daria tahun 2008-2010 itu, tapi saya ingat betul, dari barang-barang produksi yang pertumbuhannya melonjak cepat dan paling tinggi justru kertas tissue, kedua, TV kemudian ketiga, Computer, begitu kira-kira urutannya kalau saya tidak salah ingat. Rupanya anak muda ini juga memperhatikan betul kehidupan rakyat Tiongkok dilapisan bawah, atau dia betul-betul merasa aneh, kenapa kertas tissue bisa melonjak begitu cepat dalam 2 tahun itu? Yaa, ... setelah petani dibebaskan segala macam pajak dan mendapatkan kredit deengan mudah, semangat kerja terangkat, hasil produksi pertanian meningkat. Itu menunjukkan taraf hidup petani didesa-desa sudah meningkat, ... mereka sekarang mampu beli kertas tissue, tidak lagi main peper saja dengan kertas-kertas koran atau apa adanya. Petani-petani dibanyak desa-desa sudah tidak keberatan membeli kertas tissue!

Dan kalau saya perhatikan PM Li Keqiang yang kabarnya ahli ekonomi itu, juga terus menggencarkan pertumbuhan ekonomi didesa-desa, berusaha keras menjadikan desa-desa kota-distrik, mewujutkan mekanisasi, industrialisasi usaha desa, baik pertanian maupun peternakan. Katanya, sudah terjadi gejala penghasilan banyak petani didesa melebihi buruh dikota pada umumnya. Dan usaha-usaha pertanian-peternakan bahkan pabrik didesa-desa kembali berhasil menyedot mereka yang sebelumnya memburuh ke kota-kota. Akhirnya banyak pabrik kesulitan mendapatkan buruh, sekalipun gaji buruh sudah dinaikkan, ...

Begitulah kira-kira pertumbuhan ekonomi di Tiongkok, selama peran pimpinan PKT masih berdiri tegak, tidak terjadi kegaduhan dan krisis kewibawaan pimpinan, ... PKT yang masih terus mengoreksi kesalahan yang terjadi dan membenahi diri dengan lebih baik lagi, akan terus membawa 1,4 milyar Rakyat Tiongkok terus maju, membangun masyarakat adil dan makmur.

Target mereka, antara tahun 2020-2030 nanti rencana meningkatkan desa-desa menjadi kota-distrik akan tercapai 60%. Saat itu baru bisa dikatakan rakyat Tiongkok mencapai sedikit makmur, ... kalau sekarang sih, di Tiongkok masih lebih 21 (suatu angka yang mungkin salah tik penulisnya, I.I.) juga rakyat lapisan terbawah hidup garis minimum, yang penghasilannya masih 2 US Dollar sehari. Demikian Chan Chun Tak.

* * *

Demikianlah penyajian beberapa pendapat tentang “Quo Vadis Tiongkok”.

Penyajian ini semata-mata sebagai pendorong untuk bersama-sama dengan seksama dan penuh perhatian mengikuti perkembangan situasi Tiongkok. Negeri tetangga Indonesia, dan sebagai salah satu anggota masyarakat bangsa-bangsa Asia-Afrika, yang diharapkan akan berkembang terus dan maju bersama di atas dasar PRINSIP-PRINSIP KONFERENSI BANDUNG (1955).

* * *







RALAT -- RALAT -- RALAT Terhadap - KOLOM IBRAHIM ISA - tertanggal 31 Juli 2013, berjudul :

IBRAHIM ISA
Kemis, 01 Agustus 2013
----------------------------------

=========================
   RALAT  --  RALAT  --  RALAT

=========================

  Terhadap  -  KOLOM IBRAHIM ISA  -  tertanggal 31 Juli 2013, berjudul :


MARAKNYA JURU-RAMAL “AMBRUKNYA” TIONGKOK


 
Terdapat salah tik dan salah terjemahan,
seharusnya teks pada dua paragraf terakhir dari artikel tsb diatas berbunyi sbb: --

*    *    *
Pandangan terhadap Marxisme:
Teks  yang telah dikoreksi, sesuai naskah asli,  berbunyi sbb:


“In studying Marxism-Leninism we must grasp the essence and learn what we need to know. Weighty tomes are for a number of specialists; how can the masses read them? It is formalistic and inpracticable to require that everyeone should read such works. It was from The Communist Manifesto and The ABC of Communism that I learned the rudiments of Marxism.
Recently, some foreigners said that Marxism cannot be defeated. That is so not because there are so many big books, but because Marxism is the irrefutable truth. The essence of Marxism is seeking truth from facts.That is what we should  advocate not book worship.The reform and opening up policy has been successful not because we relied on books, but because we relied on practice, and sought truth from facts. It was the peasants who invented the household contract responsibility system with renumeration linked to output. Many of the good ideas linked to the rural reform came from people at the grass root level. We processed them and raised them to the level of guidelines for the whole country
Practice is the sole criterion for testing truth. I havn't read too many books, but there is one thing I believe in: Chairman Mao's principle of seeking truth from facts. That is the principle we relied on, when we were fighting wars, and we continue to rely on it in construction and reform. We have advocated Marxism all our live. Actually Marxim is not absstruse. It is a plain thing, A very plain truth.
*    *    *
Terjemahan bebas:
 seharusnya berbunyi sbb:


"Dalam menstudi Marxisme-Leninisme kita harus mencengkam inti-sarinya, dan harus mempelajari apa yang kita perlukan. Buku-buku yang berat adalah untuk sejumlah spesialis; bagaimana massa bisa membacanya? Adalah formalisme dan tidak praktis untuk mengharuskan semua orang membaca karya-karya demikian itu. Adalah dari Manifes Komunis dan ABC Komunisme saya belajar dasar-dasar Marxisme.
Baru-baru ini, sementara orang asing mengatakan bahwa Marxisme tidak bisa dikalahkan. Ini bukan disebabkan karena terdapat begitu banyak buku-buku besar, tetapi adalah karena Marxisme itu merupakan kebenaran yang tak terbantahkan. Hakikat dari Marxisme adalah mencari kebenaran dari kenyataan. Itulah yang kita harus bela, bukan pemujaan terhadap buku-buku. Politik Reform dan Keterbukaan telah mencapai sukses bukan karena kita bersandar pada buku-buku, tetapi karena kita bersandar pada praktek, dan mencari kebenaran dari kenyataan. Adalah kaum tani itu sendiri yang menemukan sistim kontrak tanggungjawab keluarga dengan upah terkait hasil. Banyak ide-ide bagus berkenaan dengan reform pedesaan bersumber dari tingkat akar-rumput. Kita memprosesnya dan meningkatkannya ke taraf garis-pembimbing bagi seluruh negeri.
Praktek adalah batu-ujian satu-satunya untuk menguji kebenaran. Saya belum membaca banyak sekali buku, tetapi ada satu hal yang saya percayai: Prinsip Ketua Mao mencari kebenaran dari kenyataan. Prinsip itulah yang menjadi sandaran kita, ketika sedang melancarkan perang, dan kita terus bersandar padanya dalam pembangunan dan reform. Kita telah membela Marxisme seluruh hidup kita. Sesungguhnya Marxisme itu bukanlah hal yang sulit dimengerti. Ia merupakan sesuatu yang sederhana. Suatu kebenaran yang sederhana sekali.
*    *    *
Dengan ini kesalahan tik dan terjemahan telah diusahakan dikoreksi, sesuai dengan saran Bung Tongky H Susanto.
Terima kasih kepada Bung Tongky H Susanto.

*    *    *

 











__,_._,___

MARAKNYA JURU-RAMAL “AMBRUKNYA” TIONGKOK

Kolom IBRHIM ISA
Rabu, 31 Juli 2013
-------------------------
MARAKNYA JURU-RAMAL “AMBRUKNYA” TIONGKOK
Belakangan ini semakin marak, – – – asyik sendiri dan ramaiya penulis yang profesional maupun yang amatiran, jurnalis dan para “pakar” Tiongkok menulis tentang situasi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Diantaranya, dengan menampilkan dirin sebagai “pemantau”, “pemerhati”, “pengenal” Tiongkok, -- bahkan sebagai komentator kawakan “Marxis”. Mereka seolah-olah berlomba meramalkan, memprediksi dan “menganalisis”, untuk jadi yang paling dulu, yang nomor wahid, menunjukkan, bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok semakin menunjukkan sudah mencapai taraf “jenuh”.
Ekonomi Tiongkok, yang mereka akui sebagai kekuatan ekonomi dunia -- nomor dua -- sesudah AS, menurut ”analisisis” mereka, kini memasuki taraf “krisis”.



Padahal, media Barat itu sendiri memberitakan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2013, ada pada taraf 7-7,5%. Yang itu, merupakan taraf pertumbuhan termasuk paling tinggi di dunia dewasa ini. Tapi, mereka lalu menambahkan, bahwa , “angka-angka statistik Tiongkok, pada umumnya tak bisa dipercaya”. Sehingga sulitlah pembaca mengikuti “logika ekonomi” mereka-mereka itu.



Bagaimanakah pembaca harus memahami “ribut-ribut” tentang akan ambruknya ekonomi Tiongkok di bawah kebijakan “reform dan keterbukaan”. Apakah maksud mereka-mereka itu sesungguhnya? Karena, di satu fihak mereka meramalkan dengan antusias dan gembira, bahwa ekonomi Tiongkok benar-benar mulai dilanda kesulitan dan kendala, macet dan krisis . . . . kemudian ambruk . . . . Tapi di lain fihak, mereka juga merasa khawatir akan dampak ambruknya ekonomi Tiongkok pada kehidupan ekonomi dunia. Karena, mereka sendiri bilang bahwa, seperti pernah dikatakan oleh salah seorang pejabat pelabuhan Bremen di Jerman. Ia menyatakan bahwa selama ekonomi Tiongkok berkembang terus, selama itu bisnis pelabuhan Bremen perspektifnya bagus, akan terus brkembang. Hubungan ekonomi Jerman-Tiongkok, adalah baik, – – – begitu pernah pejabat pimpinan pelabuhan Bremen mengungkapkan.



Sepertinya logika ekonomi mereka tentang pertumbuhan dan perkembangan ekonomi iongkok itu kusut dan kacau . . . . . Dalam benaknya mengharapkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok macet, jenuh, krisis dan ambruk . .. Dilain fihak mengharapkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok berlangsug terus, karena punya dampak positif pada ekonomi dunia, termasuk pada ekonomi negerinya sendiri. Sehingga pantaslah jika muncul pertanyaan: . . . Lalu kalian itu, maunya apa sih??



* * *

Mari lihat salah satu “analisis” Barat serperti yang dikemaukakan dalam sebuah artikel di “Geopolitical Weekly”,23 Juli, 2013, -- berjudul:



“Recognizing the End of the Chinese Economic Miracle”, (diterjemahkan secara bebas) . . “Mengakui Berakhirnya Keajaiban Ekonomi Tiongkok”, (oleh George Friedman) , a.l.:



“Last week, the crisis was announced with a flourish. First, The New York Times columnist and Nobel Prize-recipient Paul Krugman penned a piece titled "Hitting China's Wall." He wrote, "The signs are now unmistakable: China is in big trouble. We're not talking about some minor setback along the way, but something more fundamental. The country's whole way of doing business, the economic system that has driven three decades of incredible growth, has reached its limits. You could say that the Chinese model is about to hit its Great Wall, and the only question now is just how bad the crash will be." “



Bahasa Indonesianya, secara bebas diterjemahkan, kira-kira begini:


“Pekan lalu, krisis tsb diumumkan dengan (gembira). Pertama, kolumnis The New York Times, dan pemenang Hadiah Nobel, Paul Krugman, menulis sebuah artikel berjudul “Menabrak Tembok Tiongkok”. Tulisnya, “Dewaa ini , tanda-tanda, tidak salah lagi, menunjukkan bahwa Tiongkok berada dalam kesulitan besar. Kita bukan bicara tentang sementara kemunduran kecil, tapi sesuatu yang lebih fundamentil. Keseluruhan cara melakukan bisnis, sistim eknomi yang telah mendorong pertumbuhan luar bisa selama puluhan tahun, telah mencapai batasnya. Bisa dikatakan bahwa model Tiongkok sebentar lagi akan menabrak Tembok Besarnya., dan masalahnya kini, ialah, akan seberapa besar ambruknya itu”.


* * *


Selama dua minggu berkunjung ke Tiongkok (26 Mei – 9 Juni, 2013), mengadakan pembicaraan cukup luas dan mendalam dengan kalangan universitas – khususnya para profesor dan dosen-dosennya serta mahasiswa-mahasiwanya, dengan kader-kader organisasi massa dan lembaga kemasyarakatan, --- pemerintahan dan ormas, termasuk dengan “orang-orang biasa”, serta pembicaran dengan sementara orang-orang Indonesia yang sudah setengah abad lebih bermukim di Tiongkok, dan orang Indonesia yang sudah menjadi orang Hongkong, yg setengah abad lebih memantau perkembangan politik dan ekonomi Tiongkok, membaca kora-koran, mendengar dan menyaksikan radio/TV, - - -


Namun, . . . .kami sama sekali tidak menyaksikan dan tidak memperoleh kesan bahwa Tiongkok ada diambang pintu krisis ekonomi yang dikatakan akan “MENABRAK TEMBOK BESAR TIONGKOK”.


Hanyalah perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok dalam tahun-tahun mendatang ini, yang akan membuktikan apakah prediksi dan ramalan kiamat atau tabrakan dengan Tembok Besar Tiongkok, apakah semua itu merupakan ramalan dan analisis yang benar. Ataukah itu semata-mata merupakan “wishful thinking”,”impian di siang hari bolong” dari mereka-mereka yang tidak suka, tidak rela dan merasa dirugikan dengan kemajuan dan kemakmuran rakyat Tiongkok.


* * *


Kiranya akan beguna sekali menelususri sedikit latar belakar konsepsi, atau katakanlah, “teori” yang mendasari perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok di bawah kebijakan Reform dan Keterbukaan Keluar, selama kurang lebih tiga dasawarsa belakangan ini.


Suka atau tidak suka, tak bisa lain seyogianya ditelusuri pokok fikiran / konsepsi yang diutarakan pemimpin utama Tiongkok dibelakang kebijakan Reform dan Keterbukaan tsb, yaitu Deng Xiaobing. Dengan demikian mengenal konsep Deng Xiaoping, tidak hanya dari ucapannya mengenai “Tidak peduli kucing hitam atau putih - - - - - dsb`.


* * *


Di sedikit uraian di bawah ini dicoba menelusuri ide-ide dan kosep pokok yang bagaimana yang mendorong dan menjadi landasan idiil atau teori, dari kebijakan REFORM DAN KETERBUKAAN selama tigapuluh tahun belakangan ini.


Deng Xiaoping juga bicara tentang saling hubungan antara Reform dan Kekuatan Produktif. Bahwa dalam arti tertentu, karena reform yang dimaksud adalah pembebasan dari kekuatan produktif, maka REFORM dalam pengertian ini, ADALAH JUGA SUATU REVOLUSI.


Di segi lain Deng Xiaoping bicara tentang pemahamannya sendiri, apa inti sari, hakikat dari Marxisme. Dan bahwa baik dahulu, maupun sekarang dan selanjutnya, Tiongkok akan selalu mendasarkan politik dan tindakannya pada Marxisme.


Untuk menyatakan benar salahnya, -- apa yang dikemukakan oleh Deng Xioping diatas tentu tidak hanya dari beberapa kalimat dari pernyataan atau tulisannya. Diperlukan bahan-bahan lebih banyak lagi. Agar tidak terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan, seperti halnya sementara orang di Barat melakukannya,


Apa yang dikutip dari pernyataan Deng Xioping dalam tulisan ini, sekadar untuk memperoleh gambaran “cekak-aos”, dan untuk menggugah pembaca melakukan pembacaan, penelitian dan analisis sendiri. Untuk mengetahui apakah kata-kata Deng Xiaoping itu sesuai dengan kenyataan yang ada di Tiongkok dewasa ini.


* * *


Dasar teorinya mengapa melakukan REFORM.
“Revolution means the emancipation of the productive forces, and so does reform. The overthrow of the reactionary rule of imperialism, feudalism and bureaucreatic capitalism helped release the productive force of the Chinese people. This was revolution, so revolution means the emansipation of the productive force. After the basic socialist system has been established, it is necessary to fundamentally change the economic structure that has hampered the development of the productive forces and to establish a vigorous socialist economic strucure that will pomote their development. This is reform, so reform means also the emancipation of the productive forces. In the pasts we only stressed expansion of the productive forces under socialism, without mentioning the need to liberate them through reform. The conception was incomplete. Both the liberation and expansion of the productive forces are essential. (Excerpt from Talks given in Wuchang, Shenzhen, Zhuhai and Shanghai. January 18 - Febuary 21, 1982).


Terjemahan bebas:
Revolusi berarti pembebasan kekuatan produktif, demikian juga halnya Reform. Digulingkannya kekuasaan reaksioner imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat telah membantu membebaskan kekuatan prpduktif rakyat Tiongkok. Itu adalah revolusi, jadi revolusi berarti emansipasi kekuatan produktif. Sesudah didirikannya dasar sistim sosialis, adalah perlu secara fundamentil mengubah struktur ekonomi, yang telah merintangi pengembangan kekuatan produktif dan mendirikan struktur ekionmi sosialis yang hebat yang yang mendorong maju perkembangannya. Ini adalah reform, maka reform juga berarti emansipasi kekuatan produktif. Di masa lampa kita hanya menekankan perluasan kekuatan produktif di bawah sosialisme, tanpa menyebut perlunya membebaskan kekuatan produktif melalui reform. Konsepsinya tidak lengkap. Baik pembebasan maupun perluasan kekuatan produktif adalah perlu. ( Ekserp Pemicaraan di Wuchang....... )


* * *
Pandangan terhadap Marxisme:
“In studying Marxism-Leninism we must grasp the essence and learn what we need to know. Weighty tomes are for a number of specialists; how can the masses read them? It is formalistic and inpracticable to require that everyeone should read such works. It was from The Communist Manifesto and The ABC of Communism that I learned the rudiments of Marxism. Recently, some foreigners said that Marxism cannot be defeated. That is so not because there are so many big books, but because Marxisn is the irrefutable truth.The essence of Marxism is seeking truth from facts.That is what we should not book worship.The reform and opening up policy has been successful not because we relied on books, but because we relied on practice, and sought truth frpm facts. It was the peaxants who invented the household contract responsibility system with renumeration linked to output. Many of the good ideas linked to the rural reform came from people at the grass root level. We processed them and raised them to the level of guidelines for the whole country. Practicw is the sole criterin for testing truth.I havn't read too many books, but there is one thing I believe in: Chairman Mao's principle of saeeking truth from facts.That is the prisncile we relied on, when we were fighting wars, and we continue to rely on it in construction and reform. We have advocated Marxim all our live. Actually Marxims is not absstruse.It is a plain thing, A very plain truth.




Terjemahan bebas:
Dalam menstudi Marxisme-Leninisme kita harus mencengkam inti-sarinya, dan harus mempelajari apa yang kita perlukan. Buku-buku yang berat adalah untuk sejumlah spesialis; bagaiamana massa bisa membacanya? Adalah formalisme dan tidak praktis untuk mengharuskan semua orang membaca karya-karya demikian itu. Adalah dari Manifes Parai Komunis dan ABC Marxisme saya belajar dasar-daar Marxisme. Baru-baru ini, sementara orang asing mengatakan bahwa Marxisme tidak bisa dikalahkan. Ini bukan disebabkan karena terdapat begitu banyak buku-buku besar, tetapi adalah karena Marsime itu merupakan kebenaran yang tak terbantahkan. Hakikat dari Marxisme adalah mencari kebenaran dari kenyataan. Itulah yang kita harus bela, bukan pemujaan terhadap buku-buku. Politik Reform dan Keterbukaan telah mencapai sukses bukan karena kita bersandar pada buku-buku, tetapi karena kita bersandar pada praktek, dan mencari kebenaran dari kenyataan. Adalah kaum tani itu sendiri yang menemukan sistim kontrak tanggungjawab keluarga dengan upah terkait hasil. Banyak ide-ide bagus berkenaan dengan reform pedesaan bersumber dari tingkat akar-rumput. Kita memprosesnya dan meningkatkannya ke taraf garis-pembimbing bagi seluruh negeri. Praktek adalah batu-ujian satu-satunya untuk menguji kebenaran.. Saya belum membaca banyak sekali buku, tetapi ada satu hal yang saya percayai: Prinsip Ketua Mapo mencari kebenaran dari kenyataan. Prinsip itulah yang menjadi sandaran kita, ketika sedang melancarkan perang, dan kita terus bersandar padanya dalam pembangunan dan reform. Kita telah membela Marxisme seluruh hidup kita. Sesungguhnya Marxisme itu bukanlah hal yang sulit dimengerti. Ia merupakan sesuatu yang sederhana. Suatu kebenaran yang sederhana sekali.


* * *






SIKAP TEGAS NU SUDAH LAMA DINANTIKAN

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 29 Juli 2013
------------------------

SIKAP TEGAS NU SUDAH LAMA DINANTIKAN

* * *

BRAVO NU !!! - Benar Kata Ketua PB NU:
Dalam agama Islam, tak ada toleransi untuk semua tindak kekerasan

* * *
Lampiran berita:

NU Dukung Pembubaran FPI

Penulis :
Indra Akuntono
Senin, 29 Juli 2013 | 03:05 WIB

Ketua Umum Pengurus Besat Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj | KOMPAS.com/Indra Akuntono

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengapresiasi pernyataan tegas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam menanggapi kegiatan Front Pembela Islam (FPI). Bahkan lebih jauh, ia mendukung organisasi masyarakat itu untuk segera dibubarkan.

Said menjelaskan, dalam agama Islam, tak ada toleransi untuk semua tindak kekerasan, atau tindakan lain yang membuat masyarakat merasa terancam. Ia menegaskan, Islam harus membawa manfaat baik untuk seisi alam semesta.

"Saya dukung sikap tegas SBY, saya setuju FPI dibubarkan, dan kelompok lain yang memberi rasa takut untuk dibubarkan juga," kata Said seusai meresmikan Pondok Pesantren dan Madrasah Aliyah Al-Tsaqafah, di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu (28/7/2013) malam.

Said menyampaikan, pihaknya telah beberapa kali memberi rekomendasi pada pemerintah agar FPI dan ormas lain yang anarkistis untuk segera dibubarkan.

Namun, kata Said, pemerintah baru mengeluarkan sikap tegasnya pada FPI setelah bentrok antara FPI dan masyarakat terjadi di Kendal beberapa hari lalu. "Rekomendasi sudah lama, tapi dulu kan (pemerintah) diam saja," ujarnya.

Seperti diketahui, FPI kembali menimbulkan polemik setelah terlibat bentrok dengan masyarakat Kendal, Jawa Tengah. Bentrokan saat itu terjadi karena massa FPI mendapat perlawanan dari masyarakat yang menolak aksi sweeping FPI.

Menyikapi itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sikap tegasnya agar FPI tak mengulangi perbuatan anarkisnya. Pernyataan SBY mendapat perlawanan dari Ketua FPI Rizieq Syihab yang menilai SBY sebagai seorang pecundang.