Tuesday, February 8, 2011

MENATAP “TIONGKOK BARU” MELALUI MATA- JELI HENK SCHULTE NORDHOLT < Bg 2, Selesai >

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Selasa, 08 Februari 2011
------------------------------------------
MENATAP “TIONGKOK BARU” MELALUI MATA- JELI HENK SCHULTE NORDHOLT < Bg 2, Selesai >

Ditulis dalam rangka merayakan bersama Hari Raya IMLEK
* * *
Eratum:
Ketika kami – Hendrik Schulte Nordholt, penulis artikel yang dipublikasikan di bawah ini – kutemui di sebuah restoran, di depan stasiun K.A Hilversum, pagi ini, aku minta maaf kepada Henk Schulte Nordholt. Suatu kekeliruan serius telah terjadi ketika kutulis dalam artikel yg lalu, bahwa Prof Dr Henk Schulte Nordhold, KITLV, yang kukenal itu, --- adalah seorang sinoloog. Keliru! Yang sinoloog itu adalah yang kutemui tadi pagi itu. Namanya memang sama. Mereka satu sama lainnya adalah kemenakan. Abangya Henk (KILV), yaitu Nico Schulte Nordholt, telah menegur aku mengenai kekeliruanku itu dan memberikan penjelasan seperti diatas.
Aku minta maaf kepada Henk (KITLV), kepada Nico dan kepada Henk (sinoloog). Dengan demikian, selesai soalnya. Kesalahan telah dikoreksi.
* * *
Kutemui Henk (sinoloog) yang juga penulis dan usahawan itu, dalam rangka permintaaku untuk berkenalan pribadi dengannya dan membeli bukunya “CHINACODE ONTCIJFERD”.
Mengenai pembicaraan kami tadi pagi – itu mengenai Tiongkok. Menarik sekali. Pandangan Henk yang sudah duapuluh tahun lebih berurusan dengan Tiongkok, banyak yang kusetujui. Khususnya cara Henk memandang Tiongkok dewasa ini – dari jurusan dan pandangan FALSAFAH dan KEBUDAYAAN Tiongkok.
Silakan baca tulisan Henk, sebagai sambungan , tulisankau yang kusiarkan pada tg 2 Februari y.l.

* * *
“SUATU ORDE DUNIA YANG HARMONIS”
Kebijakan luarnegeri Tiongkok bukan hitam atau putih, kebijakan itu adalah yin dan yang. Negeri tsb sejak zaman dulu menganggap dirinya unggul.
Oleh: Henk Schulte Nordholt
Tiongkok. demikian tulis seorang sinoloog ternama, adalah seperti sebuah kaca-ajaib. Kita melihat di situ apa yang kita kehendaki ada di situ, dan bukan apa yang benqar-benar ada di situ. Hal itu menjelaskan tentang kerajaan kuno tsb menjadi suatu ondeneming yang gawat, bukan pada instansi terakhir disebabkan oleh Peking yang menampilkan ke luar gambaran yang di-idealisir. Di Barat cepat saja kita menamakannya propaganda, tetapi itu merupakan penjelasan yang tidak sesuai terhadap apa yang sebagai dampak rasa magis dari bahasa Tionghoa: Kata-kata tidak saja mampu menjelaskan sesuatu, tapi juga untuk membentuknya; bila hal itu sering disebut, muncullah selangkah lebih dekat realisasi kenyataan yang dikehendaki.
Ambillah (sbg contoh) kata harmoni. Tiongkok seharusnya menjadi suatu 'kehidupan bersama yang harmonis', di situ yang memerinth dan yang diperintah, saling menghargai dan dengan menerima posisi masing-masing hidup bersama dengan damai. Idealisme ini juga ditrapkan di kehidupan bersama di dunia, di luar perbatasan negeri sendiri. 'Tiongkok mempertahankan harmoni dan perkembangan di dalam negeri dan mengusahakan perdamaian dan perkembngan di luarnegeri'; dua aspek ini erat berhubungan dan merupakan organisme yang menyeluruh. Kata-kata ini yang tertera di dalam Buku Putih yg dikeluarkan oleh kementerian Luarnegeri (RRT) pada 2005, dituangkan oleh Laksamana Yang Yi dalam sebuah artikel di China Daily: Tiongkok akan mempertahankan politik tetangga-baiknya, suatu pilihan yang dikemukakan disebabkan oleh hubungan dalam waktu panjang untuk membangun suatu wilayah yang harmonis. Betapapun kuatnya Tiongkok nantinya di bidang ekonomi, politik dan militer, ia tidak akan mempertimbangkan merajai bangsa-bangsa yang lebih lemah.
Sejak dulu kala, Tiongkok sumber identitasnya berasal dari keunggulan kebudayaannya. Hua nama lama bagi negeri itu – artinya juga adalah kebudayaan. Sejarah Tiongkok dimulai dengan Yao, Shun dn Yu, raja-raja yang legendaris yang ribuan tahun sebelum lahirnya Kristus telah menemukan pengelolaan pertanian dan roda pintal, membangun tanggul-tanggul dan menciptakan aksara (Tionghoa). Fundamen-fundamen dari kebudayaan yang membedakan penduduk Kerajaan Tengah dengan kaum nomad yang berkuda dan butahuruf yang dalam periode sejarah yang panjang merupakan ancaman. Ada dua cara untuk mengendalikan masalah barbar tsb: yaitu – asimilasi atau memusnahkan. Pada penanganan pertama nyata Tiongkok berhasil. Kebudayaan yang berkembang dua ribu tahun sebelum Kristus di dataran rendah Tiongkok Utara, lambat laun meluaskan pengaruhnya dan menjadi normatif bagi raja-raja yang berkuasa meliputi wilayah – boleh dikata – sebelah Timur dan Selatan Tiongkok sekarang ini. Meskipun kerajaan itu terpecah-pecah, raja-raja yang berseteru itu mendukung ide suatu kebudayaan unggul, yang dikenal telah mencapai tingkat tertinggi di bawah kekuasaan raja-raja zaman kuno, yaitu periode Harmoni Raya pada abdi-negara kebajikan dan kesaqntunan, para orangtua dan yang lemah tak berkekurangan dan saling percaya demikian besarnya sehingga pintu-pintu rumah dibiarkan terbuka. Gambaran utopis ini, yang juga dianut kembali oleh Konghutju, mengandung beberapa elemen, yang menentukan pemikiran politik Tiongkok sejak saat itu: yaitu pemikiran bahwa kesatuan lebih baik dari perpecahan, harmoni lebih penting ketimbang persamaan, kebajikan dan santun lebih unggul ketimbang kekuasaan dan bahwa masa lampau yang sempurna tak mungkin dikalahkan. Sumber kebudayaan ini tidak pernah sat (kering). Tiongkok adalah suatu negeri yang konservatif.
Dalam tahun 221 sebelum Kristus. penguasa Kerajaan Qin (nama Tiongkok diambil dari nama itu) berhasil menaklukkan raja-raja lainnya. Dari situ ia membangun suatu kerajaan besar yang dipersatukan. Cara yang ditempuhnya kejam. Orang-orang yang berfikiran lain dibakar hidup-hidup dan buku-bukunya dibakar. Bagi Mao Tsetung yang menaruh perhatian pada sejarah hal itu merupakan sesuatu yang tidak relevan. Karena hal itu mengabdi pada tujuan yang lebih tinggi. Mengapa hal itu tragis? Mereka menentang dipersatukannya Tiongkok. Yang (triviaal) dangkal itu jangan dilebih-lebihkan dengan mengorbankan yang lebih besar.
Kaisar pertama itu telah memberikan stempelnya pada sejarah dengan membangun Tembok Besar. Pengaruh yang menang kebudayaan Tiongkok pada prinsipnya bisa ditrapkan “pada semua wilayah di bawah langit”, tetapi sementara barbar (orang-orang biadab) ngotot menolak mengakui “putra-putra langit” sebagai atasannya. Lebih dari itu, dengan menggunakan pasukan kuda mereka yang unggul, mereka melakukan banyak-kali serbuan-sebuan perampokan terhadap negeri agraria yang kaya di wilayah sepanjang Sungai Kuning' .
Patron duaribu tahun sejarah Tiongkok telah diletakkan. Pada periode jaya tentara kerajaan merasuk dalam di Asia. Dan di situ mereka membangun benteng-benteng untuk melindungi rute-perdagangan mereka terhadap kaum barbar. Pada saat dalam keadaan lemah maka mereka menarik diri mundur ke belakang Tembok Besar, untuk melindujngi wilayah-inti Tiongkok. Yang lebih nyata ialah bahwa tembok virtuil itu, merupakan pembatasan fundamentil antara Tiongkok dan kaum barbar, antara orde dan chaos, selamanya terpelihara. Perasaan berbeda malah lebih dalam lagi: kaum barbar itu sering digambarkan sebagai binatang buas, yang samasekali tak berprikemanusiaan. Juga tema ini masih hidup segar. Ketika terjadi huru-hara di Lhasa dalam th 2008, Sekretaris Partai di Tibet menamakan dalai lama sebagai makhluk berwajah manusia dan berhati binatang.
Selama duaribu tahun setelah penyatuan Tiongkok tak banyak yang berubah pada konflik dinamik kebudayaan versus barbarisme. Pasukan-pasukan dinasi Tang (648-907) mencapai titik yang sekarang bernama Afghanistan. Tetapi ratusan tahun kemudian orang-orang Mongolnya Kublai Khan menguasai seluruh Tiongjkok. Penguasaan seperti ini memperkuat kepercayaan pada keunggulan kebudayaan Tiongkok. Karena penguasa-penguasa itu segera saja belajar bahasa Tionghoa, memberikan nama Tionghoa pada dinasti-dinasti mereka, dan hanya bisa memerintah kerajaan Tiongkok yang luas itu, dengan bantuan aparat ambtenar setempat.
Pada abad kesembilan belas berhentilah proses pasang-surut sejarah Tiongkok. Di cakrawala muncul kaum barbar-barbar yang baru. Mereka datang bukan dengan menunggang kuda, tapi dengan kapal-kapal. Dan dengan membawa senjata yang lebih mematikan ketimbang panah dan busur. Orang Inggris yang menjadi pasukan perintisnya. Setelah berlangsungnya Perang Candu (1840) yang menakutkan itu Hongkong diserahkan kepada Inggris. Kemudian cepat sekali Amnerika, Perancis, Jerman, Rusia dan Jepang juga membagi-membagi Tiongkok di bawah kekuasaan mereka. Terjepit pada cara berfikir kuno ribuan tahun, istana di Peking hendak mentrapkan taktik 'gunakan barbar untuk melawan barbar, tetapi sayang gagal karena agresor baru ini lain samasekali,
Negara-negara imperialis Barat abad ke sembilanbelas menganggap dirinya, seperti orang-orang Tiongkok, sebagai wakil-wakil dari suatu kebudayaan yang unggul dan lebih dari itu, mereka memiliki senjata dan teknologi untuk memperkuat klaimnya itu. Sesudah Perang Candu Ke-2, 1860, kaisar Tiongkok dipaksa untuk membuka kedutaan-kedutaan Barat di Peking, suatu konsesi yang tak pernah terjadi sebelumnya, bagi suatu negara yang hanya menerima wakil-wakil asing yang terlebih dulu harus melakukan sembah-sungkem pada kaisar. Pada permulaan abad keduapuluh di Shanghai terpancang papan– di suatu taman yang dikunjungi oloeh orang-oramg Barat, -- sebuah pengumuman dengan teks 'Anjing dan orang-orang Cina dilarang'. Sempurnalah penghinaan itu. Suatu kerajaan yang merasa bangga tentang dirinya, dan dalam tahun 1800 masih merupakan yang paling jaya di dunia, dalam satu abad saja dilorot menjadi suatu semi-koloni, menjadi 'orang sakitan dari Asia'.
Yang dikatakan abad penghinaan telah menimbulkan luka dalam pada jiwa orang Tionghoa, halmana menjelaskan kadang-kadang suatu kombinasi ajaib: sikap arogan dan ketidakpastian, reaksi-reaksi berlebihan bila harga-diri nasion melindungi wilayah negeri, menghadapi suatu ancaman. Sebelum abad kesembilan-belas Tiongkok bukan suatu nasion-teritorial. Identitas negeri ditentukan oleh gemilangnya kebudayaan, bukan oleh luasnya wilayah. Abad penghinaan telah secara mendasar mengubah wilayah negeri yang berupa tanah itu. Kedaulatan merupakan daerah inti dan nasionalisme merupakan instrumen untuk menjamin kedaulatan tsb. Dekat sebelum (Tiongkok) memasuki Tibet dalam tahun 1950, PKT mengeluarkan suatu pernyataan, sbb: 'Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok harus membebaskan seluruh wilayah Tiongkok, termasuk Tibet dan Taiwan. Kami tidak akan mengizinkan satu sentimeterpun tanah Tiongkok jatuh diluar wilayah kedaulatan Republik Rakyat'.
Pada permulaan abad ke-21 misi 'pemulihan kedaulatan dan integritas teritorial' belum selesai. Taiwan belum kembali ke pangkuan ibu pertiwi dan wilayah Arumchal Pradesh yang diklaim Peking, suatu wilayah seluas Portugis yang oleh Tiongkok disebut Tibet Selatan, diduduki oleh India. Klaim Tiongkok terhadap Lautan Tiongkok Selatan dan kepulauan atol yang terdapat di situ menyebabkan timbulnya perbedaan dengan Vietnam, Filipina, Brunei dan Indonesia. Permusuhan berabad-abad dengan Jepang tampaknya tak terpecahkan.
Tetapi ini bukan satu-satunya wajah diplomasi Peking.Akhirnya kebijakan, kesantunan, -- adalah lebih penting ketimbang kekuasaan. Tiongkok secara besar-besaran memberikan pinjaman-lunak kepada negeri-negeri yang sedang berkembang, dimana-amana mendirikan lembaga Confucius serta menghibahkan beruang panda kepada negeri-negeri bersahabat. Adalah instrumen soft power yang harus menjamin supply bahan-baku dan terbukanya pasaran. Ini menimbulkan komentar gelisah dari Financial Times baru-baru ini, yg menulis : Mana Tiongkok yang sesungguhnya – beruang panda ataukah Tentara Pembebasan Tiongkok. Suatu pertanyaan yang diajukan oleh Barat, seyogianya hanya bisa dapat jawaban Tiongkok: dua-duanya.
Tiongkok dan kebijakan luarnegeri Tiongkok – bukanlah hitam atau putih. Kebijakan itu adalah yin dan yang. Raja yang bijaksana dapat mengharmoniskannya, mendamaikan hal-hal yang bertentangan, di Tiongkok sendiri, juga di dunia.
Bila pesan bahwa Tiongkok yang cinta damai – didukung dengan kekuatan ekonomi dan tentara – asal saja cukup sering diulangi, realiasi orde-dunianya Tiongkok semakin dekat. Kata-kata itu bukan saja sanggup menjelaskan segala sesuatu, tetapi juga bisa membentuknya.

* * *

Thursday, February 3, 2011

GUS MUS 'KESELEO' LIDAHNYA ATAU 'MEMELINTIR' SEJARAH INDONESIA

Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 03 Februari 2011
-------------------------------------------

GUS MUS 'KESELEO' LIDAHNYA ATAU 'MEMELINTIR' SEJARAH INDONESIA

'Tempo Online”, 03 Februari 2011, menyiarkan pernyataan Gus Mus, mantan ketua umum Nahdatul Ulama sekitar situasi pergolakan Mesir. Maksudnya 'baik'. Ia menyarankan Presiden Mesir, Husni Mubarak, supaya mundur (secara 'legowo'). Agar mengutamakan kepentingan negeri dan bangsa , ketimbang mau kuasa terus. Saran Gus Mus sebagai sesama Muslim tampaknya 'simpatik'.

Tetapi Gus Mus 'keseleo' lidahnya. Ketika menyarankan agar Mubarak mundur, Gus Mus, menunjuk pada pengalaman Indonesia sekitar 'mundurnya' Presiden Sukarno, Presiden Suharto dan Presiden Gus Dur. Kata Gus Mus (kutip):

"Indonesia punya pengalaman. Presiden Soekarno, Presiden Soeharto dan Presiden Gus Dur legowo mengundurkan diri ketika negaranya bergolak. Presiden kita itu lebih memikirkan negaranya," kata Gus Mus, panggilan akrab Mustofa Bisri, kepada Tempo, Kamis (3/2). "Husni Mubarak bisa tiru presiden-presiden di Indonesia."

Di sinilah Gus Mus berkesan melakukan pemelintiran sejarah Indonesia. Mundurnya Presiden Sukarno, penyebabnya adalah ”kup merangkak” Jendral Suharto. Bukan karena 'legowo' mau mundur. Setelah terus menerus membangkang terhadap instruksi Presiden/Pangti Abri Sukarno (lihat Supersemar), Jendral Suharto lalu menangkap Prsiden Sukarno. Presiden Sukarno dikenakan tahanan rumah sampai beliau meninggal dunia, akibat tekanan dan tiadanya perawatan kesehatan yang sewajarnya untuk seorang Presiden. Jendral Suharto berkuasa dengan mengorbankan lebih sejuta warganegara tak bersalah yang dibantai dalam kampanye militer Suharto tahun-tahun 1965/66/67, dimana pemuda NU, Ansor, ikut ambil bagian.

Baik kiranya Gus Mus membaca buku berisi pidato-pidato Presiden Sukarno sesudah Peristiwa G30S (yang tidak disiarkan oleh penguasa militer Jendral Suharto). Pidato-pidato penting bersejarah itu telah dibukukan dalam dua jilid : REVOLUSI BELUM SELESAI. Buku-buku sangat penting. Merupakan dokumen sejarah Indonesia yang tidak diragukan! Dari situ bisa disimpulkan bahwa Presiden Sukarno bukan dengan 'legowo' turun dari jabatan dan tanggungjawab sebagai Presiden!! Mengambil contoh 'turunnya' Presiden Sukarno dan menyarankan itu kepada Husni Mobarak, adalah suatu 'saran' yang meleset. Merupakan pemelintiran sejarah Indonesia

* * *

Lalu contoh Suharto mundur dari jabatan Presiden. Kiranya setiap orang waras masih ingat, turunnya Suharto TIDAK LEGOWO. Suharto dipaksa turun oleh gelombang gerakan massa yang menuntut ia turun. Massa rakyat yang menuntut turunnya Suharto dan rezim Orba, serta buyarnya para pendukung Suharto, itulah yang menuyebabkan Suharto turun. Tidak 'LEGOWO'!

* * *

Lalu turunnya Gus Dur sebagai Presiden R.I. Itupun tidak legowo. Pat-pat gulipat elite parpol-parpo bersama tentara; moncong-moncong lapis baja tentara yang diarahkan ke Istana Negara, ITULAH yang MEMAKSA Presiden Abdurrahman Wahid, turun panggung.

Walhasil menarik perbandingan sebagai contoh presiden-presiden Sukarno, Suharato dan Abdurrahman Wahid, yang oleh Gus Mus dikatakan l e g o w o turun dari jabatannya, -- untuk sebagai 'teladan' bagi Mubarak, untuk juga turun panggung, ADALAH KELIRU!

Turunnya Presiden Sukarno adalah akibat KUP MERANGKAK Jendral Suharto.
Turunnya Gus Dur, adalah akibat pat-pat gulipat elite politik dengan tentara.
Turunnya Suharto – adalah kehendak rakyat Indonesia.

Ada satu kesamaan: Sesungguhnya mereka-mereka itu tidak legowo turun panggung.

Satu hal lagi: ADA KESAMAAN BESAR antara Suharto dan Mubarak.
Dua-duanya adalah pelanggar hak-hak demokrasi negerinya, pelanggar HAM. Suharto dan Mubarak sama-sama diktator yang berkuasa atas kekuatan senjata, dengan kekerasan militer, dengan melakukan penindasan demokrasi dan politik.

Kiranya jelas, Gus Mus TELAH MEMELINTIR SEJARAH INDONESIA. Atau sekadar 'keseléo' lidahnya!!

* * *

RAKYAT BANGKIT – MESIR BERGOLAK –

Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 03 Januari 2011
-----------------------


RAKYAT BANGKIT – MESIR BERGOLAK – MUBARAK NGOTOT TAK TAHU DIRI


Kemarin pagi tilpun rumahku berdering!
Suara di tilpun: Pak Isa, tak mengganggu ya ? Kukenal! Suara itu suara Julia dari Radio Nederland. Ia bermaksud mau mewawancarai aku mengenai MESIR yang sedang bangkit bergolak. Aku tanya: Kapan mau wawancara? Kalau bisa sekarang, tegasnya. Kuminta waktu 10 menit untuk siap-siap. Sepuluh menit kemudian Julia menilpun lagi. Sebelum disampaikan di bawah ini transkrip mengenai wawancara tentang Mesir kemarin pagi, coba kita lihat bagaimana perkembangan terakhir di Mesir.

SITUASI PERKEMBANGAN 'REVOLUSI MESIR' HARI INI
Dua hari yl, Mubarak muncul di muka TV nasional Mesir. Ia menyatakan bahwa ia 'tak akan melepaskan tanggung jawab'. Ia akan melaksanakan tanggungjawabnya sampai pemilu yad, September. Di saat itu, ia tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai presiden. Ia mengumbar janji akan mengadakan perubahan. Dalam pada itu menekankan perlunya kestabilan negeri dsb. Jelas, ia tak mau mundur sekarang ini, dengan pelbagai dalih. |Dalam pada itu melakukan tindakan kekerasan terhadap massa rayat yang berdemo, melalui intel dan kekuatan polisi.

BBC dalam siarannya hari ini mengomentari bahwa 'The Egyptian elite is fighting back'. Elite Mesir mengadakan serangan balas. Menghadapi kebangkitan massa yang dengan cara damai menuntut rezim Mubarak gulung tikar, mereka mulai menggunakan kekerasan. Tokoh oposisi Al Baraday menuntut bahwa Mubarak turun sekarang juga. 'This is a criminal act'. Ini adalah tindakan kriminil, kata Al Baraday menanggapi tindakan yang dilakukan Mubarak. 'This is a criminal regime', kata Al Baraday.

Massa luas rakyat Mesir, yang sudah 10 hari dengan damai dan teratur berdemo besar-besaran mengadakan unjuk rasa bergadang di pusat ibukota Cairo, di Lapangan Al Tahrir, berreaksi marah dan geram. Menegaskan kembali tuntutan mereka agar Mubarak turun sekarang juga!

Setelah pidato Mubarak, tiba-tiba muncul gerombolan demi gerombolan pro-Mubarak di tengah kota. Pendemo pro-Mubarak ini sengaja mencari konfrontasi dan clash dengan masa rakyat luas yang dengan damai menuntut turunnya Mubarak. Tidak sulit mendeteksi bahwa yang mengadakan demo 'pro-Mubarak' itu sebagian besar adalah diorganisir oleh badan intel rezim Mubarak. Taktik Mubarak untuk bercokol terus, adalah menggerakkan demo 'pro-Mubarak', memancing bentrokan dengan massa 'anti-Mubarak' sehingga terjadi kekerasan dan kekacauan. Dan memang inilah yang terjadi sejak kemarin. Denga dalih memulihkan ketertiban dan keamanan lebih lanjut melakukan tindakan kekerasan terhadap massa rakyat yang bangkit.

Dengan dalih memulihkan ketenteraman dan kestabilan negeri, Mubarak menggunakan tangan besi untuk meredam oposisi massa yang semakin luas. Inilah cara Mubarak mempertahankan kekuasaanya, sampai ia rampung mempersiapkan gantinya, Gamal, puteranya sendiri.

* * *

Berikut ini adalah transrip wawancara dengan Julia dari Radio Nederland:

Julia (Radio Nederland – Ranesi): Ini Pak Isa?

I.Isa.: Ya betul. Ini Julia yang di Eindhoven ya.

Julia: Pak Isa, apakabar nih?

I.Isa.: Baik, baik. Julia baik? Kapan bayinya (lahir)?

Julia: Bayinya lahir 12 Juni Pak.

I.Isa.: Wah, 12 Juni. Sayang tidak 6 Juni ya? 06 Juni itu kan hari lahirnya Presiden Sukarno?

Julia: Sebentar, saya test suara dulu, ya?
Hallo! Pak Isa bisa dengar saya?

I.Isa.: Ya!

Julia: Tadi saya tilpun pagi-pagi karena takut bapak keburu pergi. Ke bibliotheek, atau kemana, gitu.

I.Isa.: Ya, maksudnya begitu, Tetapi nanti jam sepuluhan.

Julia: Untunglah, nilpun bapak pagi-pagi. Kalau tidak bapak keburu keluar.

Julia: Kita mulai, ya pak. Lima menit saja acaranya.

Saya ingin tahu Pak. Bapak mengikuti perkembangan yang terjadi di Mesir, Egypt?

KEBANGKITA RAKYAT MESIR ADALAH KEWAJARAN SEJARAH
I.Isa: Saya kan, orang Mesir juga. Lima tahun saya disana.

Julia: Terus bagaimana pendapat bapak mengenai gejolak di Mesir. Bapak kan pernah tinggal di Mesir. Tahun berapa Pak tinggalnya di Mesir?

I.Isa.: Mulai tahun 1960 sampai tahun 1965. Mewakili gerakan Asia-Afrika di sana.

Julia: Melihat yang terjadi sekarang nih, Pak. Bagaimana gejolak yang terjadi ini.

I.Isa.: Gejolak ini, adalah wajar secara historis. Begitu lama rakyat Mesir menderita dari segi politik. Dari segi ekonomi, karena situasi ekonomi memburuk. Di bidang politik rakyat ditindas. Penindasan terhadap hak-hak demokrtis itu sangat keras. Pemilihan umum yang baru saja itu, kaum oposisi, diperlakukan demikian rupa. Sehingga samasekali tidak bisa bergerak. Lalu mereka menarik diri. Memboikot permilu itu. Dengan sendirinya pemilu itu dimenangkan oleh partainya Mubarak. partai seperti Golkar begitu, ya!

PERBEDAAN PEMERINTAH PRESIDEN NASSER DAN MUBARAK

Julia: Kalau bisa dibandingkan dengan masa dulu, ketika masa Naser. Bapak kan di sana, ya, pak. Kalau bisa dibandingkan, dengan perubahan politik yang ada di sana sekarang. Mana yang lebih baik, pak. Waktu dulu, atau sekarang pada pemerintahan Mubarak.

I.Isa.: Peranan Mesir ketika itu (di bawah Nasser) sebagai negara penting di kalangan negeri-negeri Arab, peranannya lebih positif bagi gerakan kemerdekaan di Afrika dan juga pengaruhnya di Asia. Jadi, dibawah pemerintahan Naser di Mesir, meskipun itu adalah suatu pemerintahan yang otoriter, tetapi Mesir punya semangat solidaritas terhadap Afrika. Afrika kan ketika itu, 60 % masih di bawah jajahan kolonialisme Inggris, Perancis, Portugal, Spanyol. Juga Afrika Selatan masih di bawah rezim 'apartheid'.

Dibandingkan dari sikapnya terhadap gerakan kemerdekaan, maka pemerintahan Presiden Nasser sangat positif.
Kemudian di bawah Mubarak sekarang ini, dia samasekali tidak ada peranan. Menurut apa yang bisa diikuti, Mesir sepenuhnya sekutu Amerika Serikat. Terutama di masa presiden-presiden yang lalu. Terutama Bush. Jadi bila dilihat dari segi itu, demikian keadaannya.

Beberapa tahun yang lalu saya kesana lagi. Saya lihat kemiskinan itu . Celah antara yang kaya dan yang miskin isemakin besar. Ketidak-puasan itu nyata sekali. Kalau kita bicara dengan rakyat di pinggir jalan atau dengan guide yang mengantar kita (bangsa Mesir): Mereka bilang, Mubarak ini mau jadi presiden seumur hidup. Sekarang ini dia sudah membimbing anaknya, Gamal. Untuk menggantikan dia nanti. Jadi, Mubarak samasekali tidak punya fikiran bahwa Mesir seharusnya diperintah oleh pilihan rakyat Mesir sendiri.

Begitulah!


Julia: Jadi bisa dibilang hampir mirip dengan Suharto, ya Pak.

I.Isa.: Ya, cuma bedanya, Suharto itu kuasa dengan membunuh sedemikian banyak rakyat yang tidak bersalah. Hampir tiga juta banyaknya. Sedangkan Mubarak, dia itu, menjadi presiden menggantikan Anwar Sadat, melalui di kalangan mereka sendiri. Dia berkuasa tidak melalui pertumpahan darah. Tetapi selama berkuasa dia bertindak sangat keras terhadap oposisi.

PERANAN IKHWANUL MUSLIMIN
Terutama memang terhadap Ikhwanul Muslimin, yang ketika itu melakukan aksi-aksi teror. Maka ia selalu disokong oleh Barat. Terutama oleh Amerika Serikat. Karena Mubarak ini, betapapun ia sekuler, ya. Dia tidak memberikan kesempatan kepada gerakan Islam, gerakan kaum Muslimin yang konservatif, yang radikal, untuk naik dipanggung politik. Dia tidak mau Mesir menjadi suatu negara Islam.
Dari segi ini boleh dibilang Mubarak positif.

Julia: Tadi bapak sebut tentang Ikhwanul Muslimin. Kemungkinannya bila Mubarak sudah tumbang, sudah lengser, apakah Ikhwanul Muslimin, bisa bangkit tidak di Mesir.

I.Isa.: Pasti! Mereka tidak pernah hancur. Tidak pernah hancur. Mereka bergerak di bawah tanah. Ketika pemilu empat tahun yang lalu, mereka itu dapat kursi. Kursi di parlemen. Kemudian (oleh pemerintah) dibikin sedemikian rupa, mereka kehilangan kursi itu.
Ikhwanul Muslimin selalu bergerak di bawah tanah. Mereka ditindas karena melakukan gerakan-gerakan teror. Tetapi mereka aktif di bidang sosial, di bidang pengajaran.; Seperti Hamas di Gaza. Bila ada pemilihan di Mesir, tidak akan seperti di Gaza. Tidak akan berdominan. Tetapi mereka pasti akan mendapat kepercayaan dari sebagian rakyat yang mereka organisir itu.

Julia: Tapi Amerika, presiden Obama semalam kan mengatakan dalam pidatonya menyatakan perlu adanya perubahan, adanya transisi di Mesir. Jadi akan ada perubahan juga kan, karena ada sikap demikian dari sekutunya Mesir (AS).

I.Isa.:Pasti ada perubahan. Tetapi tidak seperti yang dituntut oleh massa yang berdemonstrasi. Oleh karena tuntutan massa itu: Sekarang, sekarang juga Mubarak harus turun. Tetapi Mubarak sendiri bilang, nanti September (dalam pemilu) yad saya tidak akan mencalonkan diri lagi.
Janji Mubarak itu sulit dipercaya. Karena selama 30 tahun Mubarak tidak pernah memenuhi janjinya berkenaan dengan demokrasi dan masalah kehidupan rakyat.
Jadi, sulit dipercaya. Kalau kita lihat siaran-siaran langsung oleh CNN, BBC dan Aljazeera, tuntutan rakyat itu keras sekali: Tidak nanti, sekarang Mubarak harus turun. Memang Amerika sangat khawatir bila terjadi vacum dan sekutunya Mubarak akan hancur. AS tidak menghendaki perkembangan seperti itu.
Jadi Obama bilang, harus ada transisi, perubahan yang 'meaningful', 'orderly' dan 'peaceful'. Tetapi perubahan itu harus sekarang ini.

Julia: OK pak Isa. Sudah cukup. Wawancara ini sudah lebih dari lima menit.
Singkat saja acaranya. Untuk disiarkan nanti sore.

I.Isa.: Ooh begitu! Mengharapkan babynya Julia lancar, ya?

Julia: Terima kasih.

I.Isa.: Salam untuk teman-teman dari Radio Nederland!

Julia: OK saya sampaikan. Salam dari Pak Bari tadi!

* * *

Tuesday, February 1, 2011

MENATAP “TIONGKOK BARU” MELALUI MATA-JELI HENK SCHULTE NORDHOLT - Bg 1

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Selasa, 02 Februari 2011
------------------------------------------

MENATAP “TIONGKOK BARU” MELALUI MATA-JELI HENK SCHULTE NORDHOLT - Bg 1


Besok adalah hari Rabu, tanggal 02 Febuari 2011.
Dari keterangan sahabatku M.L. Siauw, besok itu adalah hari raya IMLEK. Kufikir kali ini sehubungan dengan “HARI RAYA IMLEK”, aku ingin menulis bersangkutan dengan TIONGKOk. Kiranya tidak perlu penjelasan tambahan, saling hubungan antara Imlek dengan budaya Tionghoa dan Tiongkok serta dengan orang-orang Tiongkok.

Kebetulan kemarin, putri sulung kami, Pratiwi, datang kerumah, mengajak ibunya 'keluar'. Seperti biasa Tiwi membawa majalah “De Groene Amsterdammer” yang terbaru. Tiwi melanggani mingguan “De Groene Amsterdammer” untuk ayahnya. Majalah itu dikirim ke rumahnya. Jadi dia baca lebih dulu. Sering belum dibuka sudah disampaikannya kepadaku. Kukatakan kepada Tiwi, bacalah dulu 'de Groene Amsterdammer”. Banyak artikel bermutu di situ.

Nah, -- di nomor 'De Groene Amsterdammer', 27 Januari 2011 ini, kubaca sebuah artikel yang ditulis oleh Prof. Dr. Henk Schulte Nordholt. Ia menanggapi Tiongkok di abad ini. Berjudul “Een Harmonieuze Wereldorde”. Artinya “Suatu Orde Dunia yang Harmonis”. Diawali dengan huruf-huruf besar: “Kebijakan Luarnegeri Tiongkok bukan hitam, juga bukan putih. Kebijakan itu adalah “YIN” Dan “YANG”. Apa persis yang dimaksudkan oleh Henk Schulte Nordholt dengan ungkapan 'yin' dan 'yang' itu, kita baca saja nanti.

Masih ada satu artikel lagi di situ yang menanggapi Tiongkok. Maklumlah dewasa ini Tiongkok semakin mencuat namanya. Karena keunggulannya di bidang pembangunan ekonomi dan seperti diberitakan, dimodernisasinya angkatan bersenjatanya. Artikel yang ini berjudul: “China's expansiedrang, De Grote Dwarsligger”- Dengan huruf-huruf besar diawali: Presiden Hu meyakinkan Washington minggu yl bahwa Tiongkok tidak mengejar hegemoni . . . (Jan van der Putten)

Prof. Dr. Henk Schulte Nordholt. Nama itu sudah beberapa waktu kukenal. Ia sering memandu seminar atau diskusi yang diadakan oleh dan di KITLV, menyangkut masalah Indonesia. Kadang-kadang datang tamu Indonesia, atau pakar dari negeri lain, bicara soal Indonesia. Di situ kujumpai Henk memandu pertemuan itu. Terakhir Henk hadir di peluncuran buku MIGRATIE en CULTUREEL ERFGOED, Migrasi dan Warisan Budaya – Cerita-cerita orang Jawa di Suriname, Indonesia dan di negeri Belanda. Buku ini belum lama diluncurkan juga di Jakarta, dimana Henk juga hadir.
Jadi, Henk tampil, dimana aku kebetulan hadir, selalu dalam hubungan dengan masalah Indonesia.

Sepertinya sih, aku tahu apa 'bisnisnya' , apa 'urusannya' Henk. Ternyata tidak! Ada yang penting yang aku tak tahu. Dan baru tahu sekarang kutahu: Bahwa Prof. Dr Henk Schulte Nordholt itu sesungguhnya adalah seorang SINOLOOG.

* * *

Aku tertarik pada artikel yang ditulis oleh 'sinoloog' Henk itu. Apa saja yang berkaitan dengan Tiongkok, dari dulu aku tertarik. Tentu dimulai waktu kecil, di Jakarta. Hampir saban hari ayahku menyuruh aku membeli rokok kretek merek “Menak Djinggo', di 'warung Tjina' beberapa puluh meter dari rumah kami. Jadi aku punya sobat 'orang Tjiné'. Selain itu, pada setiap 'Lebaran Ciné'- (kata orang Betawi dulu), aku juga turut gembira. Pasti kenalan-kenalan ayahku yang 'orang Tjiné' itu, memberikan bingkisan, termasuk 'kuéh Tjina' yang lezat itu, dll. Selain itu ada keramaian lainnya seperti 'tanji-dor' dll. Yang khas 'Lebaran Ciné' di daerah kami, itu sekampug-kampung ikut merayakannya. Jadi bukan sekadar 'selamat' bagi 'yang merayakannya'. Ucapan-ucapan seperti itu bisa dibaca dalam ucapan-ucapan selamat dari yang 'bumiputera' kepada yang 'wni'. Kok masih saja begitu!

Padahal situasi politik nasional sudah banyak berubah. Tercatat dalam sejarah kita, bahwa, selama periode Orba, 1965-1998, perayaan Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Tidak sampai disitu saja. Penggunaan nama-nama Tionghoa pada toko-toko dan jalan dilarang. Bahasa Tionghoa juga dilarang. Orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa ditekan supaya ganti nama dengan 'nama asli Indonesia'. Nama Tionghoa dan Tiongkok diganti oleh Orba, menjadi Çina'. Dengan maksud menghina lapisan penduduk keturunan Tionghoa dan menghina RRT.

Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 rezim Orba di bawah pemerintahan Presiden Suharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.
Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan Imlek.

Berkat tumbangnya Suharto, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian dilanjutkan kebijakan ini dengan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001, meresmikan Imlek sebagai hari libur yang fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya).

Baru pada tanggal 12 Februari 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Sukarno Putri. Jangan lupa itu! Hari Raya Imlek adalah Hari Libur Nasional Indonesia. Bukan sekadar bagi yang merayakan!!!

* * *

Sebelumnya Prof Dr Henk Schulte Nordholt menulis buku berjudul “De Chinacode Ontcijferd. Waarom China niet gaat halen als wereldmacht'.

Hendrik (Henk) Schulte Nordholt (Wassenaar, 1 juni 1953), sudah lebih dari 30th aktif terlibat dengan Tiongkok. Rampung denga n studinya Sinologi di Leiden, ia bekerja di Kementerian Ekonomi, Den Haag (1981). Empat tahun lamanya ia sibuk dengan urusan memajukan hubungan ekonomi antara Nederland dengan negeri-negeri Asia, khususnya Tiongkok.

Dalam tahun 1985 Henk menjabat direktur pada kantor pertama AmroBank di Beijing. Dengan beberapa rekan ia mendirikan Hofung Technology, suatu perusahaan ekspor, a.l pupuk kimia, Henk menulis berbagai buku tentang Tiongkok.dan tentang perjalanannya dengan sepedah dari Lhasa (Tibet) sampai ke Kathmandu, Nepal.

* * *

Thos Ferguson, mantan wartawan NRC Handelsblad, Rotterdam, pernah menulis bahwa, tidak ada satu negeripun di bumi ini, dimana selama 10 tahun belakangan ini yang mengalami perubahan yang begitu mendasar dan mencengkam baik dalam situasi kongkrit maupun dalam pandangannya, seperti halnya yang kita lihat pada Tiongkok. Dibanding dengan apa yang terjadi di Timur Jauh, bahkan perkembangan pasca-perang, di Eropah sampai pada dewasa ini bisa dikatakan perubahannya monoton.
Penulis dan bisnismen Henk Schulte Nordholt pernah tinggal dan bekerja selama 20 tahun di Tiongkok. Dengan penuh perhatian ia menyaksikan bahwa terdapat 'banyak Tiongkok'. Ada Tiongkok petani, ada Tiongkok kota. Ada Tiongkok kaya dan Tiongkok miskin. Ada Tiongkok rakyat dan Tiongkok pemerintah. Tiongkok cepat sekali memodernisir negerinya, tapi dalam pada itu masih bercokol pada masa lampau. Tetapi menurut Henk, Tiongkok sebagai sebuah negeri yang begitu cepat belajar dan bekerja demikian kerasnya sehingga ia bisa jadi kekuatan ekonomi yang terbesar di dunia, -- namun juga adalah negeri yang demikian TIONGKOKNYA , sehingga ia tak dapat menjadi suatu kerajaan dunia.
Bila perkembangan Tiongkok khususnya pertumbuhan ekonomi laju seperti sekarang ini, Barat meramalkan, bahwa dalam tahun 2040 Tiongkok akan melampaui Amerika Serikatr, dan menjadi negara terkuat di dunia. Sejalan dengan tanggapan ini juga muncullah kekhawatiran dan ketakutan di kalangan Barat, Jepang dan sementara fihak lainnya. Apakah Tiongkok saat itu akan menjadi kekuatan ekonomi dan MILITER yantg terkuat di dunia? Apakah Tiongkok akan menjadi imperium dunia??
Henk tampaknya memberikan jawban begitu pasti! Tidak! Tiongkok tak akan menjadi raja dunia! Justru karena budaya ke-TIONGKOKKANNYA!

* * *
Dalam tulisannya yang berjudul EEN HARMONIEUZE WERELDORDE, Suatu Orde Dunia yang Harmonis, Henk menjelaskan mengapa ia berkesimpulan demikian.

Tulisaan Henk Schulte Nordholt itu akan di sadur dan dipublikasikan dalam bagian berikutnya nanti,
Bagian II.

* * *

Sunday, January 30, 2011

IN MEMORIAM HERU ATMODJO

Kolom IBRAHIM ISA
Minggu, 30 Januari 2011
--------------------------------

IN MEMORIAM HERU ATMODJO
Semoga Arwahnya Diterima Disisi Tuhan Y.M.E.

Kemarin sahabatku Bonnie Triyana mengirimkan berita bahwa HERU ATMODJO, telah meninggal dunia di Jakarta Sabtu yang lalu. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga seluruh keluarga Heru Atmojo tabah melalui masa musibah ini. Amien!

Heru Atmodjo kukenal beberapa tahun yang lalu ketika kami bersama alm Ir Setiadi ( yang semasa hidupnya dua kali menjabat sebagai menteri dalam kabinet Presiden Sukarno, dipenjarakan Orba, kemudian ketika meninggal setelah jatuhnya Suharto, juga dimakamkan di Taman Pahlawan>; dan dr Tjiptaning memerlukan pergi ke Jenewa, Swiss, menghadiri sidang Komisi Hak-Hak Manusia PBB. Heru Atmodjo ketika itu bergabung dalam sebuah delegasi Indonesia – Pakorba, Paguyuban Korban Orde Baru, yang diketuai oleh dr Tjiptaning . Kami banyak bertukar fikiran selama berkunjung ke Jenewa itu. Hampir setiap malam cakap-cakap karena kami bertiga, Ir Setiadi dan Heru Atmodjo tinggal di satu kamar dengan tempat tidur bersusun, di sebuah penginapan mahasiswa yang ongkosnya oleh masing-masing masih bisa ditanggung.

Kesanku: Heru Atmodjo adalah seorang pejuang/aktivis yang gigih, membela hal-hal yang dianggapnya benar dan adil. Maka tidak kebetulan bahwa ia anggota aktif Pakorba, dan beberapa organisasi kemanusiaan dan demokratis lainnya. Sebagai seorang pembela Presiden Sukarno bersama beberapa perwira lainnya ia dipenjarakan oleh rezim Orba. Atas tuduhan dan fitnahan keji melakukan makar terhadap negara.

Situasi berubah cukup drastis ketika atas desakan dan tuntutan massa rakyat luas yang dipelopori oleh kaum muda, mahasiswa dan pelajar, berkobar menggelora dan berhasil menumbangkan takhta kepresidenan Jendral Suharto.

Perubahan suasana politik setelah jatuhnya Suharto, dirasakan khusus sekarang ini, ketika jenazah Let-Kol AURI Heru Atmodjo mendapat kehormatan, dari Auri dan pemerintah, dimakamkan di pemakaman TAMAN PAHLAWAN, dengan upacara pemakaman TNI.

Seperti diberitakan oleh penulis Singapura May Swan (yang diterimanya melalui berita SMS dari seorang sahabat dari Jakarta), sbb:

“Upacara pemakaman protokoler TNI kamarade Heru dari pk 13.00 – 14.30 wib berlangsung hikmat. Banyak kw hadir baik dr angkatan tua mopun pemuda, mahasiswa, aktivis LSM, disamping keluarga besar alm. Atas nama TNI/Pemerintah mengucapkan penghargaan atas bhakti, kesetiaan dan jasa serta pengabdian alm kepada RI. Upacara kemiliteran satu regu prajurit2 AURI melakukan salvo senjata, pengeningan cipta dan diiringi musik penghormatan terakhir bagi sang pahlawan.”

Bagi sahabat-sahabat Heru Atmodjo dalam perjuangan bersama membela keadilan khususnya bagi para korban persekusi rezim militer Jendral Suharto, dan bagi kalangan luas para korban Peristiwa 1965 beserta keluarganya yang jumlahnya puluhan juta itu; -- dimakamkannya Heru Atmodjo di Taman Pahlawan, dirasakan sebagai rehabilitasi terhadap nama baik Heru Atmodjo dan keluarganya, yang selama puluhan tahun seperti para korba pelanggaran HAM Orba lainnya, difitnah dan dituduh secara keji, oleh rezim Presiden Suharwto, dianggap orang 'yang bermasalah'. Bahkan telah divonis oleh Mahmilub Orba.

S.k. Jakarta berbahasa Inggris 'The Jakata Post', memberitakan hari ini, mengenai meninggalnya Letkol Heru Atmodjo sbb: ´Controversial Airfoce Officer dies as national hero`. Perwira Angkatan Udara yang kontroversial meninggal sebagai pahlawan`.


Perhatikan apa yang diberitakan dari Jakarta:

Atas nama TNI/Pemerintah mengucapkan penghargaan atas bhakti, kesetiaan dan jasa serta pengabdian alm kepada RI.

* * *

Heru Atmodjo telah berpulang ke Rakhmatullah. Tenanglah di tempat peristirahatan terakhir. Namamu pulih sebagai seorang perwira Angkatan Udara Repubnlik Indonesia yang setia dan sepenuhnya mengabdi pada Republik Indonesia.

* * *

Friday, January 28, 2011

FACEBOOK HOW WONDERFUL YOU ARE!!

IBRAHIM ISA - Berbagi Cerita

Jum'at, 28 Januari 2011

------------------------------------

FACEBOOK HOW WONDERFUL YOU ARE!!



My dear friends, ------ Bung Bonnie, Bung Joss, Tossi, Alpha, Reza, Eko, Suribidari, Mae Ilyas, Drigo Tobing, Mayanti Trikarini, Subagus, Hilda Ismail, SuTjeng, Hera, Njoo, Kutfhi, Hersri, Latifha, Budi Jarot, Andree Isa, Anton, Irmadjoko, Dien Rieny Saraswati, Siswa, Ajeng, Suabgus, Kala Yahya, Anton, dll, dll . . . . dan banyak lainnya.



Siapa nama-nama itu? Beberapa adalah memang kenalan lama, bahkan famili dan kemenakan sendiri. Ada historikus muda seperti Bonnie, sahabat kentalku. Lalu ada Sasha dan Maya, dll.



Kebanyakan kukenal melalui FACEBOOK ini. Sungguh wonderful! Apalagi tambah kenalan dan kontak begitu banyak, begitu cepat. Dewasa ini aku sudah kontak dengan hampir 600 'kenalan baru'. Pada pokoknya mereka itu semua berkemauan baik!! Tinggi semangatnya untuk PERUBAHAN dabn MAJU.



Bukankah itu WONDERFUL!!??. Thanks Facebook!

Boleh dong kita ucapkan terima kasih alamat Facebook. Meskipun pemilik dan pengelolanya sudah menjadi milyarder karena Facebook. Tapi kan dia jadi kaya bukan karena ngempesin kantong kita? Soalnya: --- kita kan tak usah bayar alias GRATIS.





INI YANG LUAR BIASA!!!

Ternyata REVOLUSI JASMIN di Tunisia, pergolakan baru di Mesir dan Yaman, itu sedikit banyak (bahkan mungkin terutama) BERKAT internet, berkat kontak-kontak para penggiat dan (calon) pendemo yg mereka lakukan lewat FACEBOOK.



Maka, mari semaksimal mungkin, manfaatkan Facebook, blogger, website, dll media internet demi kemajuan, demi pencerahan DEMI REFORMASI. Demi perubahhan... dan bukan mustahil . . . (semoga) demi KEBANGKITAN BARU REFORMASI di negeri kita tercinta, DEMI PERUBAHAN... and WHY NOT . . . . . . DEMI REVOLUSI. Gitu kan Bonnie???>



Aku sungguh terinspirasi oleh pergolakan massa, di dunia Arab. Massa rakya Arab, tidak mau ketinggalan dari saudara-saudara seperjuangan di Amerika Latin.



Aku berani bilang, pergolakan baru di dunia Arab kali ini, adalah suatu pergolakan untuk kemajuan. BUKAN KANAN! Malah sasarannya-lah yang Kanan.



Semoga mereka-mereka itu sukses.

Dan bangsa kita juga tergugah karenanya. Biar ketularan! Ikut bergolak!!!



Biar kaum koruptor, birokrat-birokrat, mafia hukum dan pengadilan, para pelanggar HAM

terbesar dalam sejarah Indonesia, teristimewa Peristiwa pembantaian masal 1965, -- pada gemetar

ketqakutan!.

Siapa tahu mereka sudah siap-siap pesan tempat untuk berlindung di Saudi Arabia seperti

mantan presiden Ben Ali dari Tunisia.

Tuesday, January 25, 2011

Menyimak Karya Studi Agraria Moh. Sohibudin dan Ahmad Nashih Lutfhi

“SOSIALISME ALA NGANDAGAN” –
door Ibrahim Isa op dinsdag 25 januari 2011 om 19:02

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita

Selasa, 25 Januari 2011

------------------------------------------



SOSIALISME ALA NGANDAGAN” –

PEMBERDAYAAN SOSIALISME di INDONESIA?





Sering diajukan pertanyaan: Apakah Indonesia dewasa ini sudah menjadi negeri dengan sistim ekonomi kapitalis? Ataukah, --- masih merupakan negeri yang sistim ekonominya terutama adalah sistim ekonomi feodal. Pernah pula dinyatakan, sistim ekonomi/politik Indonesia dewasa ini, terutama, sesudah diadakannya persetujuan KMB – Konferensi Meja Bundar, 1949, – antara Indonesia dengan Kerajaan Belanda, Indonesia sudah menjadi negeri setengah jajahan dan setengah feodal. Soal ini belum tuntas ditelaah dan didiskusikan.



Apalagi sesudah berkuasanya rezim Orba, dengan dilaksanakannya kebijakan politik ekonomi menurut garis IMF dan World Bank untuk negeri-negeri 'yang sedang berkembang'. Akibatnya Indonesia terutama menjadi lahan penanaman modal asing, dengan tenaga kerja murah dan pasaran untuk pelemparan hasil-hasil negeri-negeri luar Indonesia. Sedangkan sumber-sumber kekayaan bumi dan air Indonesia berada di bawah kontrole dan dominasi modal asing.



Sekitar masalah tanah, di Indonesia masih b e l u m j e l a s duduk perkaranya, kalau bicara mengenai landreform.



* * *



Sebagai gambaran mengenai 'masalah tanah' pun di mancanegra telah terjadi perkembangan dan perubahan yang menunjukkan merasuknya modal besar ke bidang eksploitasi tanah dan tenaga kerja murah. Bukan eksploitasi tanah (dan tenaga kerja) di negeri sendiri tetapi di negeri-negeri lain. Di negeri-negeri miskin.



Perhatikan informasi ini:

Judul:



LUARNEGERI MENCARI DALAM NEGERI.



Secara internasional negeri-negeri kaya membeli tanah di negeri-negeri miskin, untuk mengamankan suply bahan makanan negerinya sendiri. Juga kaum spekulan melirik tanah-tanah pertanian kosong; (karena) itu (diangggap) lebih baik ketimbang emas. Geopolitik dari keamanan bahan makanan.



Ethiopia, salah satu negeri yang banyak tertimpa bencana kelaparan, di tahun-tahun mendatang akan melihat lebih banyak bahan makanan yang dihasilkan di negerinya. Ratusan juta hektar tanah telah dibeli untuk dijadikan perusahaan pertanian luas yang modern.

Tetapi dari janji hasil gandum, beras dan soya yang diperoleh dari situ, orang-orang Etiopia tidak akan ikut memaknnya. Semua hasil bumi akan langsung dikapalkan ke India dan Saudi Arabia, pemilik-pemilik baru tanah-tanah luas di Ethiopia.



Ini bukan kejadian yang berdiri sendiri. Kuweit telah membeli tanah di Kamboja, Tiongkok dan Congo. Arab Emirat membeli tanah di Pakistan, Korea Selatan, dan di Tanzania. Dan begitu seterusnya. Pembelian tanah tsb begitu besar dan terjadi dalam waktu singkat dan cepat. Sehingga sementara NGO menyatakan bahwa telah terjadi 'perebutan tanah besar-besaran'. Atau dikatakan 'perebutan baru tanah di Afrika dan Asia'. Suatu penaklukkan neo-kolonialisme oleh modal asing terhadap Dunia Ketiga.



Menurut World Bank tanah-tanah yang dibeli fihak asing itu meliputi 40 juta hektar tanah pertanian – luasnya 10 kali luas negeri Belanda atau lebih besar dari luasnya negeri Jerman. Demikian ulasan sebuah mingguan nasional Belanda 'De Groene Amsterdammer'.



Dari uraian diatas bisa kita saksikan, masalah tanah bukan saja merupakan masalah di Indonesia, tetapi juga merupakan masalah dunia. Modal-modal besar sudah menjadi TUAN TANAH BARU, di negeri-negeri berkembang.



Dengan demikian masalah LANDREFORM, PERUBAHAN TANAH, juga merupakan agenda mendesak di dunia internasional. Karena, jalas hubungannya dengan perkembangan baru, eksploitasi dan pemerasan terhadap negeri-negeri miskin oleh negeri-negeri kaya, semakin mengakarnya sistim NEO-KOLONIALISME.







* * *



Menyangkut masalah tanah di Indonesia, di bawah pemerintahan pra-Orba telah dilakukan perjuangan dan pelbagai usaha untuk PERUBAHAN TANAH, untuk suatu LANDREFORM. Kegiatan dan perjuangan untuk perubahan tanah di Indonesia, di masa pra-Orba, mungkin dilakukan, karena adanya hak-hak demokratis bagi kaum tani dan organisasi-organisasi tani serta parpol-parpol progresif. Semasa rezim Orba kebebasan demokratis itu sudah tak ada samasekali. Sehingga kegiatan dan perjuangan untuk perubahan tanah, terhenti bahkan mengalami kemunduran.



* * *



Sehubungan dengan masalah tanah dan 'landreform' di Indonesia, Moh. Shohibuddin bersama Ahmad Nashih LUTFHI, dari Lingkar Belajar Reformasi Agraria , belum lama menulis sebuah brosur penting dan menarik. Berjudul:



"SOSIALISME A LA NGANDAGAN": Revisit Inisiatif Land Reform di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964. Desember 2010 -- Launching:pertengahan Februari 2011. Penerbit: STPN dan Sajogyo Institute.



Beruntung aku dapat membaca tulisan Gunawan Wiradi,

mengantar buku Moh. Sohibudin dan Lutfhi. Suatu penjelasan yang Bagus! Inofatif, inspiratif dan amat menggugah bagi yang peduli PERUBAHAN TANAH DI INDONESIA.
Dimasuki pula masalah “SOSIALISME INDONESIA”.




Silakan baca di bawah ini tulisan Gunawan Wiradi sekitar buku "SOSIALISME A LA NGANDAGAN": Revisit Inisiatif Land Reform di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964. Desember 2010 --



* * *



GUNAWAN WIRADI:

Mengenai buku baru:



"SOSIALISME A LA NGANDAGAN": Revisit Inisiatif Land Reform di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964. Desember 2010 --







Buku ini merupakan hasil studi “revisit” atas kasus inisiatif land reform lokal di desa Ngandagan, sebuah desa di Jawa Tengah, yang terjadi pada tahun 1947-1964. Penulis mendiskusikan profil land reform inisiatif lokal tersebut dan mencoba mendalami proses diferensiasi agraria yang terjadi sebagai konteks krisis agraria yang berlangsung. Pelaksanaan land reform di Ngandagan membawa dampak secara sosial-ekonomi yang cukup signifikan terhadap struktur sosio-agraria setempat, serta konfigurasi politik dan keagamaan.



Pelaksanaan land reform inisiatif lokal yang terjadi di Ngandagan dijalankan dengan cara melakukan perubahan sistem kepemilikan, peruntukan, dan pemanfaatan tanah serta perubahan relasi ketenagakerjaan. Kebijakan land reform itu mengharuskan semua pemilik tanah kulian menyisihkan 90 ubin dari setiap unit tanah kulian yang dikuasainya. Hasil penyisihan ini kemudian dialokasikan untuk sawah buruhan yang dikelola langsung oleh desa untuk diatur pembagiannya di antara warga desa yang tidak memiliki tanah. Ukuran standar baru unit sawah buruhan ditetapkan seluas 45 ubin, yakni separoh dari ukuran sebelumnya yang 90 ubin, sehingga jumlah penerima potensial dari kebijakan redistribusi tanah bisa diperluas. Inilah ukuran batas minimum versi lokal Ngandagan. Pelaksanaan itu juga dipadukan dengan kebijakan perluasan tanah pertanian (ekstensifikasi) dengan memanfaatkan lahan kering berstatus abseente seluas 11 hektar yang ada di ujung desa. Dihasilkan pula sistem baru berupa skema pembayaran hutang hari kerja di lahan kering yang bermakna sebagai pertukaran tenaga kerja.



Kebijakan desa Ngandagan itu secara sadar diarahkan untuk meruntuhkan basis feodalisme agraris di desa, yakni pola hubungan patronase yang dibangun oleh petani kuli baku dengan buruh kuli-nya. Redistribusi tanah dilakukan tidak seperti pada masa tanam paksa, yakni dalam rangka penyediaan tanah dan mobilisasi tenaga untuk produksi tanaman ekspor, namun sebaliknya secara sadar diarahkan untuk mengoreksi ketimpangan penguasaan tanah. Hal demikian tidak dapat berlangsung tanpa kepemimpinan kuat seorang lurah bernama Soemotirto yang dinilai legendaris.

Selain land reform, juga ditekankan kembali norma hukum adat yang melarang pelepasan tanah, baik melalui penjualan, penyewaan maupun penggadaiannya kepada orang lain. Semua bentuk transaksi tanah ini dilarang keras baik terhadap penerima sawah buruhan yang memang hanya memiliki hak garap maupun terhadap petani kuli baku sendiri selaku pemilik tanah. Kebijakan ini mampu mencegah kehilangan tanahnya secuil demi secuil (peacemeal dispossession), suatu kondisi yang pernah dialami warga Ngandagan sebelum pelaksanaan land reform. Inovasi baru dalam hubungan produksi diciptakan dalam suatu mekanisme tukar menukar tenaga kerja di antara warga dalam mengerjakan berbagai tahap produksi pertanian. Mekanisme ini disebut sebagai grojogan. Dengan sistem ini semua warga tanpa terkecuali, termasuk pamong desa, akan bekerja di lahan pertanian milik tetangganya. Kultur feodalisme di pedesaan yang barbasis pada penguasaan tanah diruntuhkan melalui mekanisme semacam ini.



Kebijakan agraria desa Ngandagan bukannya tanpa halangan. Ketika Soemotirto melakukan kebijakan konsolidasi tanah pada tahun 1963, yakni melakukan penataan permukiman warganya, maka muncul pertentangan. Ia diperkarakan ke pengadilan kabupaten dengan tuduhan pengambilan tanah tanpa seizin pemiliknya. Posisinya lemah, sebab berbeda dengan penataan terhadap tanah sawah dan lahan kering, terhadap penataan tanah pekarangan dan rumah ini ia tidak memiliki legitimasi kultural dan pembenar dari hukum adat.



Relasi asosiatif politik warga Ngandagan pada Partai Komunis Indonesia dalam pemilu 1955, sebenarnya lebih didahului karena keberhasilan pelaksanaan land reform 1947 dan orientasi pemimpinnya, yakni lurah Soemotrito, daripada sebaliknya. Ngandagan sampai dengan awal tahun 1960-an, dikenal sebagai “desa RRT di kandang banteng”, artinya PKI di tengah-tengah pengikut PNI. Akan tetapi dengan adanya proses peradilan itu, maka konflik politik di Ngandagan yang semula hanya menyangkut soal dukungan atau penolakan atas redistribusi tanah pekulen dan melibatkan antar elit di lingkup desa, kemudian berkembang menjadi bagian dari kontestasi ideologi di daerah (kabupaten) yang melibatkan unsur politik kepartaian yang bahkan berakibat pada konversi agama.



Meskipun diperkarakannya Soemotrito berakibat pada berakhirnya kekuasaan dia sebagai lurah, sebuah politik perlawanan masih ia lakukan sebelum lengser. Ia memerintahkan warganya yang menjadi pengikut PKI untuk pindah ke partai lain. Sebagian besar warga mengikuti ke mana arah angin berhembus dan lantas memutuskan memilih PNI. Namun Soemotirto sendiri, bersama para pengikutnya, menyatakan sikap anti-PNI mereka dengan memilih Partai Katolik, meskipun dengan risiko menjadi kelompok minoritas agama. Konversi agama ini terjadi sekitar setahun sebelum peristiwa “G 30 S”, dan hal demikian berbeda dengan kondisi di tempat lain yang prosesnya justru terjadi setelah meletusnya peristiwa tersebut.



Berbagai perombakan sistem tenurial dan ketenagakerjaan itulah yang memberi gambaran sosialisme ala Ngandagan”, suatu “tafsir-dalam-praktik” mengenai cita-cita keadilan sosial di bidang agraria. Inovasi “sosialisme” berbasis adat itu terpangkas prosesnya pada tahun 1963 di level lokal, disusul dengan peristiwa 1965 di level nasional yang menghempaskan Ngandagan dan desa-desa lain secara umum di Indonesia, menuju ke arah yang berbeda.

Kebijakan sosialisme ala Ngandagan adalah hasil dari kombinasi antara revitalisasi dan reinterpretasi hukum adat dalam rangka mewujudkan sistem penguasaan tanah dan hubungan agraria yang lebih adil. Sejarah desa Ngandagan menunjukkan bahwa land reform dilaksanakan dalam kerangka hukum adat serta adanya tafsir dan praktik land reform yang lebih sesuai dengan tuntutan dan kondisi lokal yang berhasil diwujudkan oleh masyarakat desa sendiri. Jika saja inisiatif progresif semacam itu mendapatkan apresiasi dan dukungan politik semestinya, dan bukan justru diseragamkan, maka betapa banyak alur gelombang emansipasi dari bawah yang dapat diharapkan akan berkembang secara “alamiah”, dan yang pada gilirannya akan turut memperkaya proses formasi sosial dan perkembangan politik bangsa Indonesia secara keseluruhan. [ ]



Sebagai hasil dari suatu “studi ulang” atas sebuah desa yang 63 tahun lalu telah melakukan land reform lokal, buku ini bukan saja memaknai peristiwa itu dalam konteks kekinian dan mewacanakan berbagai perubahan sosial ekonomi dan politik seiring dengan proses perubahan zaman selama sekian tahun itu, tetapi bahkan sekaligus juga mencerminkan usaha kedua penulisnya untuk “berimajinasi sosiologis” dengan merakitkan gejaka lokal tersebut dengan konsep gagasan besar “Sosialisme Indonesia”. Karenanya, buku ini perlu dibaca para generasi muda, peminat sejarah, pengkaji masalah adat, pemerhati, aktifis dan pengambil kebijakan penanganan masalah kemiskinan dan reforma agraria, dan para peminat ilmu sosial secara umum. (Gunawan Wiradi, 2011)



* * *