Monday, March 7, 2011

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL 8 MARET”-Bg-4

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 07 Maret 2011
-----------------------------

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL 8 MARET” Dan GERWANI (Bagian 4)

Besok, 08 Maret adalah HARI WANITA INTERNASIONAL.
Dewasa ini seluruh dunia memperingati dan merayakan Hari Wanita Internasional 8 Maret. Di dalam Piagam PBB yang disetujui bersama pada tahun 1945, tercatat persetujuan internasional pertama (antar-negara) yang secara khusus mengakui dan menegaskan hak-sama laki-laki dan wanita.

Bisanya kegiatan dan perjuangan wanita mancanegara mencapai sukses signifikan, dan sampai pada tingkat pengakuan dunia internasional mengenai perlunya terus-menerus memperjuangkan hak-hak manusia bagi kaum perempuan, adalah berkat perjuangan kaum perempuan sendiri. Sejak tahap permulaan di banyak negeri kegiatan dan perjuangan kaum wanita berjalan seiring dengan dan mendapat dukungan dan gerakan kaum sosialis, dan kaum kiri umumnya.

Penindasan dan ketidak-samaan hak yang diderita kaum wanita telah mendorong kaum wanita dengan berani bangkit berlawan terhadap ketidak adilan tsb. Dalam tahun 1908 tak kurang dari 15.000 wanita mengadakan mars demo di kota New York, AS, Mereka menggelorakan tuntutan jam kerja lebih pendek, upah lebih baik dan bahkan hak-pilih.

Bertolak dari pernyataan Partai Sosialis Amerika, dimulailah untuk pertama kalinya merayakan National Woman's Day. Itu terjadi pada tanggal 28 Februari 1909.

* * *

Pada tahun 1910, berlangsung Konferensi Internasional Kaum Pekerja Wanita, di Kopenhagen. Disitulah CLARA ZETKIN, Ketua Kantor Wanita Partai Sosial Demokrat Jerman, pertama kalinya mengajukan saran ditetapkannnya Hari Wanita Internasional. Clara Zetkin mengusulkan agar setiap tahun disetiap negeri pada hari yang sama diperingati dan dirayakan HARI WANITA INTERNASIONAL, dalam rangka mendukung tuntutan kaum wanita untuk keadilan. Sosialis Internasional yg diadakan di di Kopenhagen itu menyetujui saran Clara Zetkin.

Clara Zetkin sudah sejak masa mudanya adalah seorang tokoh sosialis yang amat gigih memperjuangkan hak-hak wanita. Dalam tahun 1889 Clara Zetkin mewakili wanita sosialis Berlin dalam suatu konferensi Internasiobnale Kedua, dimana diajukan resolusi mengenai hak-hak wanita dan masalah kerja-anak-anak.

* * *

Keputusan mengenai Hari Wanita Internasiobnal disambut dan didukung oleh konferensi yang dihadiri lebih dari 100 wanita dari 17 negeri. Pada tahun 1911 kaum wanita di Austria, Denmark, Jerman dan Swis, dalam jumlah sekitar satu juta orang, menghadiri rapat-rapat umum mengajukan tuntutan hak untuk memilih, hak sana dengan kaum laki-laki.

Sejak awal gerakan wanita internaional untuk sama hak melawan ketidak-adilan dan diskriminasi terhadap kaum wanita, berpadu dengan gerakan politik. Kongkritnya melawan Perang Dunia Pertama. Dalam tahun 1919 kaum wanita Rusia, mengisi Hari Wanita Internasional dengan tuntutan untuk perdamaian. Mereka menyerukan slogan “Roti dan Perdamaian”.

* * *

Bagi kita penting sekali untuk memahami tentang gerakan kaum wanita di negeri sendiri. Bagaimana gerakan wanita Indonesia yang meliputi tututan-tuntutan hak-hak sama sengan kaum laki-laki dan tututan-tuntutann politik negeri.

Di Bagian Ke-4 dari Kolom ini dilanjutkan tutur-cerita seorang aktivis Gerwani kepada Saskia Swieringa, mengenai gerakan wanita Indonesia pada tahun-tahun enampuluhan.

* * *

Prof. Dr Saskia Eleonora Wieringa:
PENGHANCURAN GERAKAN PEREMPUAN DI INDONESIA

Di kota kita juga giat, khususnya di kalangan kaum buruh. Buruh perempuan biasanya anggota SOBSI, tetapi di kampung kediaman mereka, mereka anggota Gerwani. Banyak diantara mereka itu merangkap keanggotaan. Itu mudah saja. Karena banyak soal-soal tentang nasib buruh-perempuan, sehingga memungkinkan kami untuk bekerjasama. Misalnya SOBSI dan Gerwani bekerjasama memperjuangkan hak cuti haid. Jika terjadi buruh perempuan dipecat, karena menuntut hak sah mereka untuk cuti haid, baik Gerwani maupun SOBSI akan tampil bersama membela buruh itu.

Gerwani juga sangat giat dalam usaha pemberantasan buta huruf. Banyak sekali kursus kursus-kursus PBH yang kami selenggarakan. Kami juga memperjuangkan hak-hak politik kaum perempuan, agar lebih banyak lagi perempuan yang menjadi anggota parlemen pusat dan daerah, atau agar mereka bisa dipilih menjadi lurah desa atau menteri, sama mudahnya seperti kaum laki-laki. Tentang hak-hak politik ini, terutama di desa-desa, banyak mengalami tentangan. Banyak golongan Islam yang memandang hal itu sangat menimbulkan perselisihan. Mereka tidak mau memberi hak apapun bagi perempuan. Juga tidak sedikit tuan tanah yang sangat konservatif.

Dalam aksi-aksi sepihak tahun 1960-an kaum perempuan ikut mengambil peranan aktif. Mereka tidak sekadar bersorak-sorai di garis pinggir. Di Kediri dan Jengkol, perempuanlah yang menghadang traktor-traktor tuan tanah, yang berusaha mengusir mereka dari tanah kediaman mereka. Dan perempuan itu jugalah yang mati ditembak tentara.

Memang benar, aksi-aksi ini banyak tidak disukai di desa-desa. Bahwa begitu banyaknya perempuan yang dibunuh, mungkin inilah sebabnya: Orang-orang Gerwani terlalu mandiri. Mereka membenci Gerwani. Mereka menghendaki agar perempuan hanya bergerak di bidang kemasyarakatan. Kadang-kadang mereka mengadakan arisan, bolehlah, seperti halnya semua organisasi perempuan lainnya. Tetapi di Gerwani, perempuan juga giat berpolitik. Ya, itulah hal yang sangat dibenci.

Saya sering merasa heran, bagaimana semuanya bisa menjadi serba salah begitu. Satu hal memang jelas. Yaitu bahwa Sukarno ndak konsekuen dalam menangani sisa-sisa fedoalisme yang masih ada di dalam maswyarakat kami. Inilah sumber malapetaka yang menimpa kami. Kami bekerja bersama dengannya di dalam Front Nasional yang anti-imperialis. Tetapi ia tidak pandai memegang panjinya, misalnya dalam pelaksanaan undang-undang land reform. PKI yang konsekuen, dan dalam hal ini kami bekerja bersana-sama dengannya . Tetapi sekarang hampir dilupakan samasekali. Juga koran-koran ketika itu, tidak banyak yang meliput aksi-aksi kami itu. Kaum laki-laki selalu ingin dilihat sebagai lebih militan dari kaum perempuan.

Kami di pihak Sukarno dalam konfrontasi menentang Malaysia. Tetapi sesungguhnya buat kami tidak terlalu menarik. Itu hanya untuk mengalihkan perhatian dari persoalan nasional saja. Karena itu sikap kami mula-mula agak maju-mundur. Tetapi akhirnya dengan bersemangat kami mendukungnya, dan bahkan mengirim sukarelawan.. Juga kaum perempuan di dalam PNI, Wanita Marhaen dan Wanita Demokrat, berbuat sama; begitu pula halnya beberapa organisasi perempuan lainnya.

Pada waktu itu saya sendiri tidak di Jawa. Pada 1962 saya, seorang diri ditugasi di pulau lain. Sering saya merasa sangat kesepian. Karena saya tidak baik mengerti bahasa, masyarakat, maupun kebudayaan setempat. Saya harus berusaha merasa kerasan ditengah-tengah lingkungan yang asing itu. Saya tinggal bersama kader-kader lain, dari PKI dan Pemuda Rakyat, di sebuah rumah yang besar. Seorang pemuda dari Pemuda Rakyat sering membantu saya. Kadang-kadang saya merasa begitu sedih, sehingga ingin menangis. Lalu, di saat-saat begitu, ia datang menghibur saya, menjelaskan hal-ihwalnya kepada saya, dan jika perlu juga membantu saya. Beberapa bulan pertama sering saya merasa sangat sedih, sehingga ingin segera pulang saja ke Jawa. Yang juga membuat terasa berat karena saya sebagai anak gadis, tidak biasa hidup sendirian di tengah orang-orng laki-laki asing. Orang sangat suka bergunjing. Maka saya selalu harus mempertahankan diri.

Daerah tempat penugasan saya pun daerah sulit.Mempunyai kebanggaan yang besar terhadap sejarah perlawanannya menentang Belanda, dan juga tidak terlalu senang terhadap Jakarta. Islam sangat kuat, laki-lakinya berwatak congkak. Saya perempuan Jawa, orang asing, tidak boleh sekali-kali menonjol-nonjolkan diri. Jangan sekali-kali saya berusaha menampilkan diri sebagai guru yang serba tahu. Jadi saya harus menunggu saja, sampai mereka sendiri datang kepada saya dan mengemukakan persoalan mereka. Kader-kader yang bekerja di daerah ini tidak banyak mendapat pendidikan, dan juga sangat sedikit pengetahuan mereka tentang apa sebenanrya yang dibela Gerwani, dan apa yang dicita-citakannya. Melalui rapat-rapat saya menjadi tahu, siapa-siapa di antara mereka yang paling cerdas. Lalu perempuan itu saya dekati, dan perlahan-lahan saya mencoba menerangkan serba sedikit tentang organisasi, kegiatan-kegiatannya, dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi saya samaseklai tidak boleh menampak sebagai pemimpin. Untuk pemimpin haruslah seseorang dari daerah ini sendiri.,

Sungguh sangat berat buat saya untuk bisa menyesuaikan diri. Oleh karena saya tidak biasa hidup ditengah-tengah daerah yang sangat kuat Islamnya, dimana perempuan tidak bisa bergerak leluasa. Akhirnya saya mendapat jalan untuk lebih memudahkan orang-orang perempuan itu datang menhadiri rapat-rapat kami. Mereka banyak mengenal tari-tarian setempat. Laki-laki melarang istri mereka keluar rumah jika sendiri-sendiri, tetapi tidak jika merka pergi bersama-sama. Lalu kami membentruk kelompok-kelompok kesenian, menari dan menyanyi, yang tidak terlarang bagi kaum perempuan. Tetapi kami tidak berhenti di situ. Kelompok-kelompok ini kami beri isi. Kami berdiskusi tentang soal-soal sehari-hari bersama mereka. Dengan sangat mudah kita bisa mendidik perempuan tentang soal-soal ekonomi melalui kegiatan arisan. Sekali kita mulai bicara tentang bagaimana yang sebaik-baiknyta perempuan membelanjakan uangnya, seketika itu tibalah pada soal tentang kenaikan harga-harga. Dari situ lalu bisalah kita bicara tentang siapa yang bertanggung-jawab dalam persoalan harga tersebut. Lalu bisalah sudah kita mulai bicara secara langsung tentang pendidikan politik.

Sesudah akhirnya mereka mengerti tentang apa cita-cita Gerwani, banyak orang-orang perempuan yanng memberikan dukungan kuat pada kami, walaupun mereka itu beragama Islam. Mereka membenci suami mereka yang berpoligami, dan senang menghadiri rapat-rapat kami untuk membahas persoalan itu. Mereka juga sangat senang belajar bagaimana mebuat kue-kue, dan membahas masalah situasi politik. Yang paling menarik untuk anak-anak gadis ialah hak menikah atas dasar suka sama suka, sedangkan untuk ibu-ibu khususnya masalah perjuangan melawan poligami. Juga kaum buruh perempuan sangat senang mendapat dukungan kami untuk tuntutan mereka, agar tersedia balai penitipan anak dengan biaya pembayaran yang rendah.

(Bersambung)

* * *

Thursday, March 3, 2011

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL – 8 MARET”

Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 03 Maret 2011
-----------------------------

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL – 8 MARET”, Dan GERWANI

Ini adalah Bagian Ketiga dari tulisan Menyongsong “Hari Wanita Internasional 8 Maret, Dan Gerwani”. Mengapa Gerwani? Sejarah Indonesia mencatat pengorganisasian kaum wanita begitu besar dan tersebar di seluruh Indonesia, yang diakukan oleh organisasi GERWANI, organisator terbesar kaum wanita Indonesia. Justru organisasi wanita Indonesia yang memperjuangkan hak-hak serta perbaikan nasib kaum wanita Indonesia, mengalami penindasan dan penghancuran begitu kejam dan biadab. Itu terjadi dalam periode berkuasanya rezim militer Jendral Suharto. Fakta-fakta sejarah menyangkut pelanggaran HAM yang berlangsung di bawah rezim Orba, khususnya pengejaran terhadap anggota-anggota organisasi wanita terbesar di Indonesia Gerwani, dan perekusi kejam terhadap anggota-anggota Gerwani, harus diungkap dan diketahui oleh bangsa kita, khususnya para penggiat yang berjuang untuk hak-hak wanita dewasa ini.

Mengapa Gerwani? Karena sejarah gerakan wanita Indonesia terbesar Gerwani, telah begitu direkayasa dan dipalsukan sehingga pada zaman Orba, nama Gerwani itu telah difitnah, dituduh melakukan perbuatan paling hina, cabul dan kotor, yang katanya dilakukan oleh wanita-wanita anggota Gerwani. Yaitu, melakukan 'orgi'. Lewat suatu tarian seksual cabul melakukan siksaan terhadap para jendral dalam peristiwa pembunuhan di Lubang Buaya.

Mengapa Gerwani? Karena nama Gerwani telah difitnah secara sangat rendah dari awal sampai akhir penuh KEBOHONGAN BESAR, sebagai prolog pembantaian masal terhadap PKI, yang dianggap atau dituduh PKI, orang-orang Kiri dan orang-orang pendukung Presiden Sukarno.

Dalam rangka memperingati HARI WANITA INTERNASIONAL 8 MARET, maka kali ini, perhatian difokuskan pada GERWANI.

Masyarakat sejarah Indonesia beruntung dengan adanya hasil riset dan studi pakar Belanda, Saskia Eleonora Wieringa. Dalam tahun 1995 ia menulis bukunya, berjudul: The Politization of Gender Relation in Indonesia – The Indonesian Women's
Movement and GERWANI Until the New Order State. Edisi Indonesia terbit dengan judul Penghancuran Gerakan Perempuan Indonesia.

* * *

Menjelang Hari Wanita Internasional 8 Maret 2011, penting arti pernyataan (Antara, 03 Maret 2011) Ketua KOMNASHAM PEREMPUAN, Yuniyanti Chuzaifah. Ia antara lain mendesak Presiden SBY untuk membatalkan keputusan Perda yang melarang kegiatan Ahmadiyah. Karena larangan itu bersifat diskriminatif. Yuniyanti Chuzaifah menegaskan: "Komnas Perempuan berpendapat bahwa presiden perlu segera membatalkan seluruh kebijakan daerah yang diskriminatif atas nama agama yang jelas bertentangan dengan UUD 1945.

Hingga akhir Februari 2011, telah terbit 192 kebijakan diskriminatif atas nama agama yang menyuburkan sikap intoleransi dalam masyarakat,"

Yuniyanti bersama tujuh pengurus Komnas Perempuan menemui presiden dan menyampaikan empat isu krusial terkait pelanggaran atas hak-hak konstitusional perempuan serta langkah-langkah strategis yang dapat ditempuh Kepala Negara.

Empat isu krusial itu adalah diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan atas nama agama dan moralitas, penanganan parsial kekerasan terhadap perempuan dalam situasi konflik dan pelanggaran HAM masa lalu, diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan dalam konteks migrasi, dan penguatan lembaga penegakkan hak asasi manusia perempuan.

"Keempat isu krusial ini membutuhkan penyikapan segera dari presiden selaku kepala negara”.

* * *

Berikut ini adalah bagian-3, yang merupakan lanjutan dari Bg-2, kutipan dari PENDAHULUAN buku Prof Dr Saskia Wirienga, edisi Indonesia berjudul: “Penghancuran Gerakan Perempuan Indonesia”.

“ Fokus karangan ini terletak di Jawa. Antara lain karena Jawa merupakan pulau di Indonesia yang berpenduduk paling padat, tetapi lebih dari itu karena Jawa merupakan pusat kegiatan politik untuk negeri ini. Dengan giat Sukarno menggalakkan Jawanisasi terhadap budaya politik Indonesia, suatu langkah politik yang diikuti PKI. Kebijakan ini tetap dilanjutkan di bawah rezim S|uharto.

|”Butir utama argumen saya berkisar di seputar periode antara 1950-1965; yaitu periode Orde Lama, dan meluas sampai 1967, yaitu ketika Sukarno memberi kekuasaan de facto atas Indonesia kepada Suharto. Oleh karena perkembangan-perkembangan yang terjadi selama Orde Lama diantar oleh kebangkitan nasional masyarakat Indonesia, yang berlangsung selama dasawarsa-dasawarsa terakhir kekuasaan kolonial dan masa pendudukan Jepang, maka periode ini pun tidak saya luputkan dari perhatian.

“Struktur karangan ini sebagai berikut. Proses penelitian diuraikan dalam bab pertama. Bab berikut menjelaskan tentang kerangka teoretis, yang saya bangun di atas konsep gender sebagai alat analisis untuk memahami gerakan-gerakan dan organisasi-organisasi kaum perempuan, serta manipulasi politik memperhinakan perempuan. |Bab-bab mengenai sejarah yang menyusul masing-masing membahas sejarah organisasi-organisasi kaum perempuan Indonesia sampai saat kemerdekaan, perkembangan politik pemerintahan Orde Lama dan gerakan perempuan dalam periode ini.

“Tiga bab pertama tentang Gerwani membahas sejarah organisasi ini secara umum, dan beberapa masalah keorganisasiannya. Dua bab berikutnya masing-masing menitik-beratkan pada politik dan ideologi Gerwani. Masalah pokok yang diajukan dalam dua bab ini yaitu, apakah alasan pembenaran untuk tuduhan yang dilemparkan kepada Gerwani, sesudah 1 Oktober 1965 itu, dapat ditemukan dalam ideologi dan praktek organisasi. Kesimpulan saya ialah, jika ditinjau dari sudut seksualitas, Gerwani dapat dikatakan suatu organisasi yang agak konservatif. Bab terakhir membahas “kup pertama”, 1 Oktober, dan mengemukakan cerita dari hari ke hari bagaimana tahap pertama dari kup kedua yang secara diam-diam, dan bagaimana kampanye menentang Gerwani dan PKI disusun.

“Untuk mengantar tema-tema tsb diatas, dan memberi contoh tentang dedikasi dan aspirasi anggota-anggota Gerwani, Kata Pengantar ini ditutup dengan sebuah wawancara dengan seorang kader Jawa. Hampir dua puluh tahun sesudah “kejadian” 1965 masih juga sangat berbahaya bagi bekas anggota Gerwani untuk ditemui orang asing. Tetapi wawancara ini dapat dilakukan dengan mudah, karena saya mendapat sakit pinggang yang luar biasa dan dirawat oleh Ibu Marto, sebutlah ia begitu, seorang tukang pijit dan tusuk jarum yang terkenal. Kepandaian memijat dan tusuk jarum ini mulai dipelajarinya ketika di dalam penjara.

“Kami berjanji bertemu di rumah seorang kenalan kami. Biasanya saya dipijit sepanjang pagi. Dalam kesempatan itulah, sambil memijit dan mengurut punggung saya, ia menceritertakan kisahnya yang sepotong-sepotong. Stiap kali ia menyentuh bagian tubuh saya yang terasa sakit, kami berhenti bercakap-cakap. Pada saat-saat kami samasekali saling membisu, kesunyian itu menjadi penuh diliputi bayang-bayang kisahnya yang menyihiri isi seluruh bilik kecil kami. Dan saya biarkan jari-jemarinya yang kuat dan berpengalaman itu merajalela bermian-main di sekuujur tubuh, dari ujung rambut sampai ujung jari-jari kaki. Andaikta seorang di luar lewat, atau masuk rumah, yang terdengar dan terlihat olehnya hanyalah suara percakapan seorang tukang pijit dan pasiennya, yang bicara tentang pinggang yang nyeri.

“Keluarga saya tidak berlatar belakang kiri. Saya sajalah satu-satunya di dalam keluarga kami yang masuk dalam organisasi progresif. Saudara misan saya anggota PKI. Dan ketika saya berumur 17 tahun, dialah yang mendorong agar saya masuk Pemuda Rakyawt.

“Saya sangat senang di Pemuda Rakyat. Kami melakukan segala macam kegiatan bersama-sama. Terkadang menari, menyanyi dan juga bermain drama, dengan cerita-cerita yang berisi politik. Juga diberikan kursus soal-soal kerumah-tanggaan seperti masak-masak dan menjahit. Tentu saja setiap saat kami selalu berdiskusi soal-soal politik.

“Beberapa tahun sesudah itu saya masuk Gerwani tingkat ranting. Pimpinan menaruh perhatian pada saya, karena saya selalu mendengarkan dengan baik, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan membantu mengurusi kegiatan. Saya mengikuti kursus kader dan mulai giat di tingkat cabang. Saya sangat bersemangat dan bekerja keras, sehingga karenanya dipilih untuk tingkat daerah, dan akhirnya sampai tingkatr pusat.

“Seluruhnya sudah tiga kali saya mengikuti kursus. Yang paling lama di Jakarta. Di sini kami digembleng selama satu bulan, bekerja di berbagai daerah ke mana kelak kami masing-masing akan dikirim. Mata pelajaran termasuk pendidikan politik, mempelajari teks-teks pidato Bung Karno dan Bung Aidit, diskusi tentang soal-soal keorganisasian dan kerumahtanggaan. Juga kami mendapat pendidikan latihan kepemimpinan. Sore hari kami belajar teks-teks karya Marx, Lenin, Stalin, Engels, dan tentu saja beberapa bagian dalam Sarinah, buku karangan Bung Karno itu. Pimpinan pusat menggunakan semua teks itu sebagai bahan bacaan.

“Biasanya juga kami mendiskusikan sejarah organisasi. Saya menjadi anggota organisasi dalam pertengahan 1950-an, ketika namanya sudah berubah menjadi Gerwani. Gerwis, begitu dulu biasanya disebut, kamu tahu, sedikit sektaris. Sedikit sekali perempuan dari lapisan bawah yang menjadi anggota. Organisasi ini dianggap terlalu merah, terlalu PKI, terlalu ekstrem. Sebenanrya kami rasa penilaian itu tidak benar. Orang yang pernah mengenal Gerwis disaat-saat awal, jauh lebih menyukai daripada ketika Gerwis telajh berkembang menjadi besar. Tetapi begitu itulah orang menilai. Maka dalam kongres dalam tahun 1954 jadilah kami Gerwani. Dengan sikap yang lebih luwes, khususnya dalam soal-soal keperempuanan berkurang, sementara itu soal-soal ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan mendapat perhatian lebih besar.

“Yang sangat saya senangi dari semua kegiatan selama tahun-tahun itu, ialah usaha kami untuk menjalin hubungan dengan perempuan tani. Jika saya pergi ke suatu desa dan di sana bertemu dengan seorang perempuan, yang mungkin kenalan atau saudara salah seorang kenalan saya entah dimana, lalu memperkenalkan diri sebagai anggota Gerwani, kamu tahu apa yang terjadi? Biasanya mereka tidak kenal, apa itu Gerwani. Lalu saya perlu jelaskan kepadanya, soal-soal apa yang kita perjuangkan. Umumnya mereka tertarik pada organisasi kami karena pendirian kami terhadap poligami. Soal kedua yang menarik perhaian perempuan tani ialah soal upah rendah. Umumnya mereka menyetujui gagasan kemerdekaan perempuan, karena kejengkelan karena upah mereka lebih rendah dari upah laki-laki. Jika seorang telah masuk menjadi anggota, kepadanya diminta agar menarik seorang teman lagi, begitu seterusnya, sehingga terbentuklah sebuah kelompook kecil. Kelompok-kelompok inilah basis organisasi kami. Melalui rapat-rapat kelompok, mereka akan mulai mengerti tentang hak-hak mereka dan tentang sistem feodal. Karena sistem feodal inilah yang menjadi sebab-musabab penderitaan kaum perempaun Indonesia.

“Tentang soal-soal seperti itu kami akan membacanya dalam koran Harian Rakyat dan berkala Berita Gerwani, lalu kami akan membahas bersama-sama karangan-karangan yang kami kehendaki. Kami hampir tidak pernah membaca Api Kartini, yang tidak berpihak, bebas, dan tidak jelas warnanya, Majalah ini tidak menarik untuk perempuan di desa-desa, atau perempuan-perempuan kampung di kota.

“Kami bangga pada organisasi kami. Karena Gerwani telah berjuang untuk perbaikan nasib perempuan, menentang kenaikan harga, dan memperjuangkan kenaikan upah. Sungguh menyenangkan bisa berdiri di barisan depan, dan melihat bahwa sesungguhnya kami bisa berbuat sesuatu.




* * *

Wednesday, March 2, 2011

KARLINA, BUAH HATIKU TERSAYANG!

*IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita*

*Rabu, 03 Maret 2011*

----------------------------------------------------


*KARLINA, BUAH HATIKU TERSAYANG! *

*< IN MEMORIAM KARLINA HERAWATY DJAMAN (7/11/1961-26/2/2011) >*


Demikianlah S. Nurdianty, Ibunda Karlina Herawaty Djaman, memulai kata perpisahannya dengan putrinya, *BUAH HATIKU TERSAYANG! *


Karlina Herawaty Djaman meninggal dunia pada tanggal 26 Februari 2011 y.l. Hari Rabu, tanggal 03 Mret 2011, Ruang Duka Aula Crematorium De Nieuw Ooster, Kruislaan 126, Amsterdam penuh sesak dengan putri-putrinya, menantu cucu, para sahabat dan kenalan ibu dan ayahnya nya Noor Djaman, penulis dan mantan pemimpin redaksi sebuah surat kabar di Kalimantan, dalam tahun 1960-an. Juga hadir para sahabat dan kenalan Karlina, baik yang di kantornya, maupun sahabatnya sejak dulu. Beberapa diantara hadirin terpaksa berdiri di bagian belakang.


Begitu hening, begitu hikmat, sedih dan demikian mengharukan mendengarkan ucapan “Selamat Tinggal” Bunda S. Nurdianty kepada Karlina, putrinya tercinta.


Kita, ikut berdukacita, mengucap belasungkawa, semoga keluarganya yang ditinggalkan tabah menghadapi masa-masa yang sedih ini.


Di bawah ini selengkapnya curahan hati S, Nurdianty:


* * *


”*BUAH HATIKU TERSAYANG”*

Kukandung sembilan bulan lamanya.

Lahir betapa gembira dan bahagiaku.

Kutimang dan kusayang, kubelai rambutmu yang hitam lebat hingga dewasa.

Sifatmu yang penuh kesabaran dan kehalusan dalam kata.

Cintamu yang mendalam pada seluruh keluarga telah tertanam dan tumbuh subur pada segenap hati kita.


Bila terjadi kekeliruan dalam menghadapi kesalah-pahaman kau telah menyatakan contoh sekeluarga semua bisa terjadi; karena akibat pikirkan berhati-hati baru dapat jawaban yg pasti. Untuk ini sekarang Mama sungguh kehilangan sandaran.


Dengan tak terduga-duga tiba-tiba dirimu telah direnggut oleh derita kesakitan yang luar biasa. Sekalipun demikian kau telah menerima kenyataan dengan penuh kesadaran.


Kau telah katakan pada Mama, ”Demi cintanya seluruh keluarga pada diriku maka aku akan bertahan. Namun, dalam kenyataan kau tak mampu lagi untuk memenuhi keinginanmu.


Kini kau telah pergi untuk memenuhi panggilan untuk kembali ke tempat asalmu, yang bebas dari derita kesakitan. Untuk pergi jauh. Mamapun tak akan dapat menemukan jejak langkahmu, dan tak akan lagi mendengar dering telepun ucapan *selamat malam, I love you, cium sayang*, yang selalu kau lakukan setiap malam sebelum tidur.


Selamat jalan sayangku, selamat jalan sampai jumpa di alam baka.


* * *


*Para Teman Sejawat, Sekantor ABN-AMRO Bank*


Yang kenal baik dan punya kenang-kenangan amat berkesan tentang Karlina sebagai sahabat yang menyenangkan, di tempat pekerjaannya di ABN-AMRO Bank, mengutarakan rasa sedih dan kehilangan mereka, dalam kata-kata duka yang diucapkan (dalam bahasa Belanda) atas nama sahabat-sahabat rekan Karlina di ABN-AMRO Bank.


Rekan-rekan dan sahabat Karlina tsb mengutarakan a.l kesedihan mereka dan merasa kehilangan dengan meninggalnya Karlina. Duabelas tahun lamanya mereka bekerja bersama mengenal Karlina sebagai orang yang pendiam dan suka bekerja keras, serta teguh mempertahankan pendapat dan pendiriannya. Mereka terkesan sekali mengenal Karlina sebagai manusia-keluarga, yang amat memperhatikan orangtua, kakak dan adiknya serta kemenakan-kemenakannya. Yang dalam kehidupan sehari-hari gemar olahraga badminton, serta aktif ambil bagian dalam turné yang dilangsungkan oleh keluarga karyawan ABN-Amro Bank.


Di bawah ini selengkapnya teks dalam bahasa Belanda, ucapan selamat tinggal rekan-rekan dan sahabat Karlina yang diucapkan dalam bahasa Belanda.


* * *


Lieve Karlina, lieve familie, lieve aanwezigen,


Gevoelens van verdriet opschrijven is moeilijk, gevoelens van verdriet aan papier toevertrouwen na het overlijden van Karlina vind ik heel moeilijk.


Een ruime 12 jaar was Karlina onze collega bij de ABN-AMRO Bank NV, begonnen op het IPC aan het Rembrandtplein en eindigend op de afdeling Bewindvoering. Karlina was een rustige collega, geen prater maar meer een werkster. Karlina had een eigen mening en als ze ergens voor stond, dan dield ze zich er ook aan, ze was standvastig. Karlina had haar groepje met collega veriendinnen al snel gevonden en met die collega's ging ze nu nog om. Dat zegt ook iets over haar trouw. Sportief was Karlina ook en dan vooral met badmintonnen. Tijdens een aafdeling toernooi van de bank kon je zien hoe fanatiek ze het beoefende en dat waren we eigenlijk niet van haar gewend, maat het was wel mooi om te zien.


Naast dat wij Karlina zullen missen als collega en vriendin, zal haar familie haar heel erg gaan missen. Karlina was een echt familiemens die zich wegcijverde om haar avader en haar moeder te verzorgen. Iedere donderdag en in het weekend stond ze voor hen klaar. En ze ging altijd met plezier naar haar zus en zwager in Almere en naar haar zus en zwager en neefjes in Parijs.


Vorig jaar wilde ze nog naar Indonesië op vakantie naar haar roots, maar haar ziekte zorgde er voor dat dat niet doorging. En Karlina maakte zelfs al plannen om in februari van dit jaar nog naar Parijs te gaan om haar zus te bezoeken. Ze bleef optimistisch maar helaas, haar ziekte liet het niet meer toe.


In november rond Karlina's 49ste verjaardag is ze nog lekker uit eten geweest met Fun, Onh en Romana en daar verheugde ze zich erg op, weer iets anders om over te denken en te ondergaan dan haar ziekte.


Op tien februari waren Fun, Romabna en ik nog bij Karlina op bezoek, en het deed ons pijn om te zien hoe ze streed tegen de pijn en hoeveel moeite Karlina moest doen om voldoende lucht te kirjgen. Dan zit je naar haar bed, machteloos, Karlina graag willen helpen, maar niets kunden doen, dat doet pijn.


Karlina was veel te kort op deze wereld, door een ziekte die niet te overwinnen was. We zullen haar allemaal heel erg missen.


Steun en help elkaar in het dragen van dit grote verlies en dit grote verdriet.


Karlina rust zacht,


Amsterdam, 2 maart 2011.

Monday, February 28, 2011

MERAYAKAN ULTAH KE-85 CISCA PATTIPILOHY

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Senin, 28 Februari 2011
-------------------------------------------

MERAYAKAN ULTAH KE-85
CISCA PATTIPILOHY

Hujan rintik-rintik dan angin kencang Sabtu sore, 26 Februari y.l. tak kunjung mau berhenti. Teruus saja! . . . . Percuma menunggu sampai reda. TV Belanda, NOS Journal sudah memberitakan bahwa cuaca demikian itu akan berlangsung terus sampai sore hari. Menjelang malam baru akan mereda. Itu baru ramalan. Bisa melését.

Sesuai rencana, Murti dan aku, siap-siap berangkat. Buka payung, lalu kami keluar. Dalam cuaca yang anginnya sampai kedengaran bersiul-siul, akhirnya percuma juga pakai payung. Dari samping hujan membasahi sisi kanan dan kiri. Dan sesekali payungnya 'njeplak'. Kalau sedang sial, payungnya malah robék samasekali.

Kami jalan menerjang hujan menuju stasiun Amsterdam Bijlmer Arena. Selanjutnya dengan Metro-54 ke Amsterdam Centraal. Di sebelah luar pintu Noord, sudah tampak melambai-lambaikan tangan mereka teman-teman dari Grup Wanita Indonesia DIAN: Aminah Idris, ketua Dian; Tuti Supangat, Farida Rakhmat, putrinya Ina dan Darmini. Memang kami janjian bertemu di situ. Menantikan 'pendel-auto' yang akan mengantar kami ke Westerdokpoint, Westerdok 808. Dengan mobil hanya 5 menit saja dari Centraal Station.

* * *

Di Westerdok 808 itulah, tampaknya seperti café-restaurant, berdatangan kira-kira 150 tamu atas undangan keluarga Pattipilohy. Beda benar dengan suasana kelabu diluar. Di dalam semua gembira dan cerah. Semua dalam suasana bahagia mengucapkan selamat kepada Cisca Pattipilohy. Kira-kira jam 15.00 perayaan Ultah Ke-85 Cisca Pattipilohy dibuka dengan nyanyi bersama , Panjang Umurnya Serta Mulia, untuk Cisca tercinta. Seorang sahabat/keluarga Cisca dengan suara tenornya yang merdu menyanyikan lagu ciptaan Schubert, Standchen, dengan iringan piano adiknya Cisca, Paul. Tidak ketinggalan pula dinyanyikan bersama lagu Bengawan Solo, nyanyian-nyanyian Indonesia lainnya, dan banyak lagu-lagu Maluku. Sungguh menggembirakan dan mengesankan perayaan ultah ke-85 Cisca Pattipilohy.

Suguhan minuman dan makanan kecil berlimpah ruah. Kemudian ditutup dengan makan bersama menu Indonesia yang, aduh mak, lezatnya.

Tibalah saat penyerahan buku “LIBER AMICURUM” untuk ibunda Cisca. Buku itu merupakan kenang-kenangan historis yang disiapkan oleh keluarga Pattipilohy untuk dihadiahkan kepada Ibunda dan Nenekanda mereka pada hari tanggal 26 Februari 2011. Sebuah buku indah dihiasi dengan banyak foto-foto sejak Cisca masih muda dan keluarganya, suami, anak-anak, menantu-menantu dan para cucu.

Banyak sahabat Cisca ikut menulis dalam Liber Amicurum untuk Cisca Pattipilohy. Antara lain Murti dan aku juga turut menyumbang tulisan. Di bawah ini adalah tulisan yang kami siapkan untuk ikut merayakan Ultah 85 Cisca, dan dimuat di buku Liber Amicurum.

Pada usia 85 tahun, Cisca tampak amat segar, sehat dan semangatnya tetap tinggi.
Beliau tetap aktif di Lsm ZAMI, di Grup Wanita Indonesia DIAN. Pada kesempatan diundang oleh Perhimpunan Persaudarfaan atau KITLV, Leiden, Cisca sering bersama kawan lainnya ambil bagian dalam caramah ataupun seminar yang diselenggarakan mengenai masalah Indonesia.

* * *

CISCA PATTIPILOHY YANG – KAMI KENAL

Oleh: IBRAHIM ISA Dan MURTI


Cisca Pattipilohy bukan sahabat yang baru saja kami kenal di Holland. Sudah berawal jauh di masa ketika Republik Indonesia baru memasuki fase baru dalam sejarahnya. Periode setelah Perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB), (1949) yang mengkahiri masa perang antara Republik Indonesia versus Kerajaan Belanda. Dengan kemenangan Republik Indonesia atas Kerajaan Belanda.


Suami Cisca Patti, -- Zain Nasution --, adalah sahabat baikku sejak masa itu. Keluarga Cisca Pattipilohy sangat peduli keadaan kawan-kawannya. Ketika lahir putri pertama kami, Pratiwi Tjandra Rini (1955), Ciscca segera menawarkan kereta-bayi bagus sekali, yang pernah dipakai putri pertama mereka, Maya. Tentu saja kami gembira dengan tawaran tsb. Sejak itu kalau Murti dan aku jalan-jalan pada sore hari, kami sering mampir di rumah kelurga Cisca di Jalan Sibayak, di daerah Pegangsaan, Jakarta. Khusus untuk 'memamerkan' putri kami Pratiwi yang kami bawa dengan kereta-bayi 'pinjaman' dari Cisca. Juga untuk menunjukkan bahwa putri kami Pratiwi senang sekali bisa jalan-jalan dengan kereta-bayi pinjaman dari Cisca itu.


Pada awal tahun limapuluhan abad lalu, gerakan anti-kolonial dan anti-imperialisme di Asia dan Afrika semakin bergolak. Atas inisiatif Indonesia di bawah pimpinan Presiden Sukarno, Indonesia memprakarsai Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 1955. Konferensi AA Bandung telah mendorong lebih maju gerakan kemerdekaan di kedua benua. Di Jakarta diselenggarakan Konferensi Wartawan Asia-Afrika (1963), dan didirikan Organisasi Wartawan Asia Afrika – AAJA – Afro-Asian Journalist Association. Cisca Pattipilohy terjun dalam AAJA. Cisca adalah tenaga pokok dalam kegiatan penterjemahan di AAJA. Cisca ikut dalam misi delegasi AAJA ke 9 negeri-negeri Afrika dan Timur Tengah. Antara lain ke Mesir, Alajazair, Syria, Guinea, Mali, Tanzania dan Ethiopia. AAJA melakukan kegiatan pengkonsolidasian. Ketika diselenggarakan sidang GANEFO, Games of The New Emerging Forces di Beijing, 1965, Cisca Patti adalah penterjemah utama dalam sidang yang mengambil kesimpulan mengenai kegiatan Ganefo selanjutnya.


Itulah periode perkenalan dan persahabatan akrab kami dengan keluarga Cisca Pattipilohy, di Indonesia. Yang berkembang terus sampai akhirnya kami jumpa kembali di Amsterdam, Nederland, akhir tahun delapanpuluhan abad lalu.


* * *


Memasuki masa senior, tahun ke delapanpuluh-lima usianya, 26 Februari 2011 ini, yang penuh kisah suka-duka, kutanyakan kepada Murti: Apa yang paling mengesankan padamu, tentang Cisca Pattipilohy. Murti kontan menyatakan: Aku kagum akan keuletan dan ketabahan, kepedulian dan keberhasilan Cisca Pattipilohy. Meskipun sejak bulan Oktober 1965, ia seorang diri mengurus empat orang putri-putri dan putra-putranya. Cisca berhasil dengan sukses membesarkan dan mendidik penerus-penerus mereka menjadi manusia-manusia yang berguna bagi masyarakat.


* * *


Sejak 1965 Cisca Patti yang tabah dan ulet itu, harus seorang diri mengurus kehidupan dan mendidik anak-anaknya: Maya, Dida, Tino dan Benny. Karena ayah anak-anak tsb, Zain Nasution, telah direnggutkan dari keluarganya dan dipenjarakan oleh rezim Orba.


Zain Nasution, sahabat lama dan kentalku itu, adalah seorang pejuang, seorang aktivis di PI ketika belajar di Leiden. Bersama kawan-kawan PI dan mahasiwa-mahasiwa Indonesia lainnya, Zain Nasution melakukan aksi protes melawan tindakan agresi ke-2 Belanda terhadap Republik Indonesia. Mereka mengembalikan beasiswa dari pemerintah Belanda. Dalam kehidupan yang cukup sulit  karena menolak beasiswa dari pemerintah Belanda, datanglah kesempatan baginya untuk belajar di Praha (Cekoslowakia) yang diusahakan oleh Perhimpunan Indonesia dan Sugiono (wakil Indonesia di International Union of Students –IUS). Zain Nasution menggunakan kesempatan itu bersama A.S Munandar, Jack Sumabrata dan Bintang Suradi untuk meneruskan studi mereka di Praha.


Kembali ke Indonesia setelah Perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB), Zain Nasution aktif membangun s.k. Harian Rakyat. Zain juga ambil bagian aktif sejak awal Gerakan Perdamaian Indonesia bangkit berkembang pada permulaan tahun limapuluhan. Di situlah aku berjumpa dengan Zain Nasution dan banyak aktivis perdamaian lainnya. Selain itu Zain Nasution ambil bagian intensif dalam berbagai forum diskusi berkenaan situasi politik tanah air, setelah KMB, bersama kawan-kawan seperjuangan lainnya. Di situ pula aku mengenal lebih baik lagi Zain Nasution sebagai pemuda yang dengan penuh kepedulian dengan gerakan poitik di tanah air, namun tetap mengikuti perkembangan politik dunia, yang ketika itu didominasi oleh suasana 'perang dingin'.


Kegiatan Zain Nasution sebagai wartawan “Harian Rakyat', gerakan perdamaian dan berbagai kegiatan politik lainnya mendukung politik Presiden Sukarno, menyebabkan ia 'diamankan' oleh fihak militer, pada Peristiwa 1965. Zain dipenjarakan oleh penguasa militer. Tanpa tuduhan dan proses hukum apapun. Suami tercinta Cisca, Zain Nasution, dikirim ke penjara Nusa Kambangan bersama ratusan tapol lainnya. Kesewenang-wenangan rezim Orba, tanpa proses hukum apapun memenjarakan Zain, dan situasi buruk di penjara Nusa Kambangan, akhirnya telah menyebabkan meninggalnya Zain Nasution. Ketika Zain dipenjarakan, putri pertama mereka, Maya, baru berumur tujuh tahun.


* * *


Dalam keadaan yang teramat sulit dan penuh ancaman dan kekhawatiran, Cisca Pattipilohy dengan memboyong empat orang anaknya yang masih kecil-kecil itu berangkat ke negeri Belanda. Mereka sekeluarga masih bisa berangkat ke negeri Belanda, dengan memanfaatkan status keluarga Pattipilohy yang di zaman Hindia Belanda hak kewarganegaraannya disamakan dengan w.n. Belanda. Keluarga Pattipilohy punya status 'gelijkgesteld' ketika itu.


Dimana Zain Nasution dimakamkan, penguasa tutup mulut sepenuhnya. Suatu pelanggaran HAM yang kejam dan biadab tiada taranya.


* * *


Di Negeri Belanda Cisca yang tenaga, fikiran serta perhatiannya sibuk dengan membesarkan dan mendidik empat orang putri-putri dan putra-putranya itu, namun, aktif melakukan kegiatan peduli wanita Indonesia, dalam grup studi wanita di KITV. Dengan didirikannya Komite Indonesia yang diketuai oleh Prof. Dr. W.F. Wertheim, Cisca aktif ambil bagian dalam grup wanita Komite Indonesia.


Dalam periode itu juga Cisca ambil bagian sebagai pemrakarsa dan pendiri perkumpulan wanita migran “Flamboyant”, suatu organisasi wanita migran di negeri Belanda yang aktif di bidang pembelaan hak-hak wanita dan HAM.


Dalam perkembangan selanjutnya ketika organisasi wanita Flamboyant berkembang menjadi organisasi wanita migran yang lebih besar, “ZAMI”, Cisca Patti, tetap aktif melakukan kegiatannya, samil meneruskan kegiatan lainnya yang memyangkut masalah informasi dan komunikasi di Belanda.


“ZAMI” memberikan penghargaan tinggi pada peranan Cisca dalam perkumpulan dan kegiatan wanita migran. Tahun yang lalu Cisca memperoleh “Zami Award” dalam suatu upacara Zami yang yang diselenggarakan dengan hikmat, tetapi riang dan penuh antusiasme.


Cisca Patti juga bergabung dengan Perhimpunan Persaudaraan Indonesia di negeri Belanda, serta aktif pula hadir dalam kegiatan-kegiatan Perhimpunan Persaudaraan. Bukan saja itu, Cisca dalam waktu panjang mengetuai Grup Wanita Indonesia, “DIAN” di Amsterdam.


Pada kesempatan diadakannya ceramah ataupun seminar oleh KITLV, dimana Cisca tergabung sebagai anggotanya, ia tidak ketinggalan hadir dan ambil bagian dalam kegiatan itu.


Sehingga di kalangan para sahabat dan kenalannya, Ciusca merupakan teladan, yang dalam usia senior masih tetap aktif, giat, kritis dan antusias ambil bagian dalam pelbagai kegiatan, sosial, solidaritas mapun ilmiah.


Dalam pelbagai kesempatan Cisca selalu mengingatkan sahabat dan kenalan untuk selalu peduli bangsa dan tanah air, supaya aktif mengikuti kegiatan dan perkembangan yang berlangsung di tanah air Indonesia.


Harapan kita ialah agar Cisca Pattipilohy tetap sehat dan aktif, meneruskan sumbangannya yang berharga dalam pelabagai kegiatan sosial, politik dan ilmu di negeri Belanda, dan dalam kegiatan solidaritas dengan tanah air tercinta, Indonesia.


* * *

Friday, February 25, 2011

“MELACAK” HISTORIA BANGSA

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Jum'at, 25 Februari 2011
-----------------------------------------

“MELACAK” HISTORIA BANGSA

Pagi ini bisa dibaca dalam deretan panjang berita-berita, sebuah news-item yang bersangkutan dengan masalah yang paling tidak, merupakan salah satu dari yang paling menarik di Indonesia. Juga merupakan salah satu masalah yang paling gawat. Yaitu masalah SEJARAH. Sejarah INDONESIA. Di kumpulan berita itu kita jumpai, tanggapan sahabatku, sejarawan muda Bonnie Triyana, pengelola website “HISTORIA ONLINE”. Adapun yang ditanggapinya adalah reaksi Salim Said, dulu penulis sekitar masalah Abri, sekarang dubes RI di Praha.

Reaksi Bonnie singkat tapi jelas: “Sepakat dengan Bang Salim Daid!!!!”. Tanda serunya sampai empat kali. Untuk menegaskan bahwa Bonnie setuju banget dengan pendapat Salim Said. Apa gerangan pandangan Salim Said? Rupanya tanggapan Salim Said itu adalah sebuah reaksi terhadap berita sekitar ucapan Jusuf Kala (50th), mantan Wapres RI dan mantan Ketua Umum Golkar, yang terkenal juga adalah pengusaha besar . Ucapan Jusuf Kala itu, menyebabkan beliau didemo, dikonfrontasi. Masalahnya? Sejarah!!!

Berita tsb di-internetkan oleh seorang sejarawan Indonesia lainnya, Hoesein Roesdy. Ia sungguh rajin dan tekun mengumpulkan dokumen-dokumen, foto-foto, berita maupun cerita sehubungan dengan sejarah bangsa kita. Diberitakan bahwa Jusuf Kala, membuat pernyataan kontroversial bersangkutan dengan peiode sejarah pra-1949 di Indonesia. 10 tahun y.l. Pernyataan itulah yang bikin soal. Menyebabkan kemarahan sebagian rakyat (Sulsel). Pasalnya soal Kapten KNIL Belanda, Westerling. Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa kita, khususnya perjuangan rakyat Sulsel, sehubungn dengan nama yang kita kenal, Kapten KNIL Westerling, adalah karena kekejamannya ketika menindas perlawanan rakyat Sulawesi Selatan terhadap kolonialisme Belanda. Jumlah rakyat kita yang dibantai pasukan Westerling disebut sekitar40.000 warga tak bersalah.

Mengutarakan peristiwa ini, dimaksudkan untuk menunjukkan kekejaman dan kebiadaban pasukan kolonial Belanda. Dilain fihak untuk menyadari betapa besar korban yang diderita rakyat dalam perjuangan kemerdekaan.

Tapi, Jusuf Kala, punya cara memandang sejarah yang berbeda! Tanggal pembantaian tsb, 11 Desember 1946, oleh Jusuf Kala disebut sebagai 'musibah' bagi rakyat Sulawesi Selatan. Dalam waktu singkat, puluhan ribu rakyat dibantai, tanpa perlawanan. Ditambahkannya bahwa kejadian itu memalukan. “Jangan kita membesar-besarkan peristiwa yang justru memalukan”, kata Jusuf Kala.

Timbul protes dari berbagai kalangan, karena pernyataannya itu dianggap meremehkan pengorbanan para pahlawan Sulawesi Selatan. Malah ada yang menuntut supaya Jusuf Kala diajukan ke pengadilan adat. Karena protes cukup luas dan keras, akhirnya Kala minta maaf kepada para pejuang di Sulawesi Selatan, termasuk kepada 40.000 keluarga korban pembantaian Westerling.

Di sini kita saksikan bahwa suatu pandangan berbeda mengenai maslah sejarah, bisa menimbulkan kehebohan dan protes keras. Pandangan yang berbeda bisa dianggap 'menghina' atau 'meremehkan' pengorbanan rakyat dalam perjuangan kemerdekaan.

Meskipun Jusuf Kala sudah minta maaf, belum tentu ia sudah mengubah penilaiannya bahwa 40.000 rakyat dibantai pasukan Westerling tanpa perlawanan, adalah suatu 'kejadian yang memalukan'.

* * *

Kembali ke Salim Said. Ia memberikan tanggapan amat berbeda dengan pendapat 'mainstream', bersangkutan dengan jumlah rakyat yang dibantai oleh pasukan KNIL di bawah komando Kapten Westerling. Mungkin pandangan Salim Said ini lebih krusial, karena didukung oleh 'riset pribadi'. Yaitu ketika Salim Said langsung bertemu dengan Kapten Westerling di Amsterdam (1970).

Mari ikuti apa kata Salim Said:
“Perlu disadari bahwa klaim kita dijajah Belanda selama 350 tahun, maupun klaim Kahar Muzakkar tentang pembantaian Westerling dengan korban 40 000 jiwa di Sulawesi Selatan, adalah klaim politik (huruf tebal dari saya, I.I.). “Seorang teman saya pernah melakukan penelitian kecil-kecilan di Sulawesi selatan mengenai korban Westerling itu, jumlah 2000 korban saja tidak ditemukan. Kepada saya di Amterdam pada tahun 1970, Westerling mengaku hanya membunuh sekitar 470 orang saja di Sulawesi Selatan waktu itu.

Salim Said menunjukkan perbedaan besar antara 'klaim politik' dan keadaan yang, menurutnya, amat berbeda dengan klaim politik tsb. Juga menyangkut masalah 'berapa lama' Indonesia dijajah Belanda. Mengenai jumlah korban di Sulawesi Selatan, beda dengan angka 40.000, Salim Said mengajukan angka 2000, bahkan 'hanya' – 470 orang (menurut klaim Westerling).

Bisakah masyarakat kita, masyarakat sejarah bangsa, termasuk sejarawannya, bertukar fikiran mengadakan penelitian dan diskusi untuk mencari tahu keadaan yang sesungguhnya, tanpa dibayangi oleh kemungkinan akan diprotes atau didemo? Bukankah, sesuatu yang bersangkutan dengan masalah sejarah, harus diriset dan dipelajari dengan teliti, tekun dan sabar, tanpa bias?

Lebih menarik lagi pandangan Salim Said mengenai periode kolonialisme Belanda yang menurut pandangan 'mainstream' dan yang umumnya diterima, bahwa Indonesia dijajah Belanda selama tidak kurang 350 tahun!.

* * *

Salim Said mengemukakan pandangannya mengenai masalah tsb sbb:

“Ketika VOC bubar dan pemerintah Belanda menduduki Nusantra, belum ada Indonesia seperti yang kita kenal sekarang. Maka yang dijajah oleh Belanda masa itu adalah kumpulan wilayah yang lepas-lepas yang dikuasai/dipimpin oleh sejumlah raja, sultan, atau punggawa. Nanti di awal abad ke 20 Belanda menyatukan semua wilayah itu menjadi Hindia Belanda. Wilayah yang dipersatukan itulah (untuk pertama kalinya) yang kemudian kita sebut sebagai Indonesia. Melalui sebuah perjuangan panjang, dari pergerakan nasional hingga revolusi pisik, bekas Hindia Belanda itu kita resmikan sebagai Republik Indonesia.

“Yang jadi soalnya memang adalah berapa lama sebenarnya Indonesia dijajah Belanda? Apakah kesultanan dan kerajaan yang dijajah Belanda di abad ke 19 itu kita anggap sudah Indonesia? Kalau jawabannya adalah "ya," maka Indonesia dijajah Belanda sejak runtuhnya VOC. Yang jelas VOC bukan pemerintah melainkan sebuah multi national corporation. Kecuali kalau kita samakan saja VOC dan pemerintah Belanda, maka Indonesia dijajah Belanda sejak VOC berdiri.

(Catatan saya- I.I. – VOC memang bertindak seperti kekuasaan pemerintahan. VOC diberi hak oleh pemerintah Belanda, untuk memaksakan monopoli perdagangan di Nusantara; berhak mengeluarkan uang, punya wewenang membina dan mengangkut tentara ke Nusantara untuk memaksakan kehendaknya pada Sultan atau penduduk setempat di Nusantara. VOC punya wewenang atas nama Belanda bikin perjanjian dengan kekuasaan setempat, dan untuk MELANCARKAN PERANG).
 
“Perlu disadari bahwa klaim kita dijajah Belanda selama 350 tahun, maupun klaim Kahar Muzakkar tentang pembantaian Westerling dengan korban 40 000 jiwa di Sulawesi Selatan, adalah klaim politik. Demikian Salim Said.

* * *

Kemudian sampailah pada kesimpulan Salim Said menyangkut masalah bagaimana kita memperlakukan sejarah, atau peristiwa dalam sejarah. Ini kata Salim Said:

“Nah, apakah kini kita sudah tiba pada suatu zaman yang memungkinkan kita "membersihkan" sejarah dari peran sebagai alat politik? Jika jawabannya adalah "YA," maka kita juga harus mempertanyakan peran sejumlah pejuang nasional pra gagasan Indonesia lahir. Contoh pertanyaan: Apakah Sultan Hasanuddin, Imam Bonjol, Diponegoro dan banyak lagi lainnya, berjuang untuk Indonesia atau untuk kepentingan dan tujuan lain?

Salim Said BERANI mengajukan pertanyaan sejarah sbb:

Apakah Sultan Hasanuddin, Imam Bonjol, Diponegoro dan banyak lagi lainnya, berjuang untuk Indonesia atau untuk kepentingan dan tujuan lain? (Huruf tebal dari saya: I.I.)

* * *

Tulisan ini, kolom “Berbagi-Cerita”, tujuannya tak lain ialah mengajak, menggugah pembaca untuk benar-benar memperhatikan dan mempelajari sejarah bangsa kita. Tidak menganggapnya sebagai sekadar 'kejadian di masa lampau', yang bisa dianggap benar, bisa dianggap 'klaim politik' semata-mata.
Kita memahami, bahwa sejarah adalah sebuah riwayat atau tambo, yang seyogianya benar-benar merupakan catatan peristiwa atau kejadian YANG BENAR-BENAR TERJADI. Bukan rekayasa penguasa, atau rekaan bahkan karangan penguasa atau akhli sejarah pendukung penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya. Melegitimasi kejahatan terhadap kemanusiaan, pelanggaran HAM, seperti genoside.

Pengenalan dan pemahaman terhadap sejarah bangsa, merupakan hal yang vital dalam pembangunan mental nasion yang masih muda. Mengenali sejarah berarti membuka horizon mengenali identitas bangsa sendiri. Berarti memanfaatkan kejadian sejarah untuk menarik pelajaran berharga dari kesuksesan maupun kesalahan.

Ketika membicarakan, mendiskusikan masalah sejarah bangsa kita, JANGAN SEKALI-KALI DILUPAKAN, bahwa mengenai masalah sejarah sekitar Peristiwa 1965, G30S, pembantaian masal terhadap warganegara sendiri oleh aparat kekuasaan negara, sampai saat ini masih belum tuntas. Belum rampung. Belum dilakukan dengan keseriusan yang seharusnya.

Soalnya, – – - karena selama periode Orba, rezim Presiden Suharto telah sedemikian rupa merekayasa dan memalsukan serta merakayasa, melakukan kebohongan besar sejarah selama 32 tahun kekuasaannya. Itu dilakukan demi tujuan melegitimasi perebutan kekuasaan negara dari Presiden Sukarno, demi penghancuran kekuatan politik Kiri di Indonesia, demi membawa Indonesia ke orbit strategi Perang Dingin Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Menjernihkan sejarah Indonesia, khususnya selama periode Orba, merupakan salah satu kunci, untuk melaksanakan hal yang sering dikumandangkan, yaitu REKONSILIASI NASIONAL. Untuk mencapai Indonesia yang bersatu dan dipersatukan menelusuri jalan mulya MEMBANGUN NASION INDONESIA yang kokoh, demi suatu Republik Indonesia yang bersatu-padu, adil dan makmur!

* * *

Wednesday, February 23, 2011

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL – 8 MARET”

Kolom IBRAHIM ISA

Rabu, 23 Februari 2011

------------------------------------------

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL – 8 MARET”, Dan GERWANI <Bagian Dua>


* * *


Di antara hal-hal menarik dan penting untuk diperhatikan, dalam buku Prof Dr Wieringa di “Kata Pendahuluan” untuk karya studi-ilmiahnya, “Penghancuran Gerakan Perempuan Indonesia”, yang disiarkan di bagian kedua ini, antara lain, ialah sbb:


Pada periode Orde Baru, masyarakat, khususnya dalam hal ini kaum wanita, serta organisasi-organisasinya, dikontrol dan terus-menerus diindoktrinasi, di 'brainwashed', dicuci otaknya, agar tidak mempersoalkan politik pemerintah Orde Baru. Bila bicara tentang emansipasi kaum wanita, akan menghadapi risiko dikaitkan dengan periode pemerintahan Sukarno dan 'Komunisme'. Pemerintah Orde Baru, benar-benar melakukan pembodohan terhadap bangsa.(huruf tebal dari saya, I.I.)


Dewasa ini, setelah lebih sedasawarsa disingkirkannya Presiden Suharto, pada periode yang sering dikatakan periode 'Reformasi', --- apakah mempersoalkan emansipasi kaum wanita, apalagi memperjuangkannya, juga sama halnya seperti di bawah rezim Orba, akan mengalami nasib serupa? Yaitu, akan menghadapi risiko dikaitkan dengan pelbagai insinuasi dan fitnah seperti yang terjadi pada periode Orba. Tekanan atau fitnah itu dilakukan dengan berjubah baru. Misalnya, dengan melemparkan tudingan bahwa 'feminisme' itu adalah 'atheis', 'a-moral', bahkan bertentangan dengan ajaran agama.


* * *


Hal berikutnya yang seyogianya mengimbau perhatian dan pemikiran, adalah yang a.l dikemukakan oleh Wieringa, bahwa ia akan menguraikan sejarah yang terselubung itu (ingat: Ketika Wieringa selesai menulis bukunya, Orde Baru masih berjaya di Indonesia – Oktober 1995). (huruf tebal dari saya, I.I.)


Bahwa Wieringa akan menguraikan sejarah feminisme Indonesia, yang mengenal saat-saat radikal dan berani lebih banyak lagi dari yang diakui para penulis sekarang.

Selanjutnya memaparkan sejarah yang terlarang, yaitu sejarah Gerwani. Tentang anggota-aggotanya yang dibunuh, yang dipenjara dan yang hilang, serta dokumen-dokumen tentangnya yang di Indonesia dimusnahkan. (huruf tebal dari saya, I.I.). Untungnya perpustakaan-perpustakaan di Negeri Belanda dan Amerika Serikat masih menyimpan bahan-bahan, yang atas dasar itulah kisah masa lampau Gerwani dapat disusun kembali.


Kemudian, tulis Wieringa, dengan meneliti kejadian-kejdian tahun 1965 dan 1966 atas dasar analisa gender dari periode itu, menyingkap aspek-aspek tertentu mengenai lahirnya Orde Baru, yang sampai sekarang (1995) digelapkan (oleh militer Indonesia) atau diingkari (oleh para peneliti sejarah modern Indonesia).


* * *


Mari lanjutkan menyimak uraian Prof Dr Wieringa:

Prof Dr |Saskia Wieringga <>


Kampanye tsb membawa implikasi-implikasi yang luas, dan memerlukan proses indoktriniassi yang terus menerus. Indoktrinisasi ini tak lain ialah brainwashing bagi seluruh bangsa agar mempercepat pandangan penguasa tentang masa lampau kolektif mereka, dan agar tidak mempersoalkan politik pemerintah Orde Baru. Bicara tentang masalah emansipasi perempuan, yang mengandung pandangan tentang keadilan sosial yang lebih luas, dapat menimbulkan kecurigaan. Bukan hanya akan dikaitkan dengan “Komunisme”, tapi juga dengan “cara berpikir Orde Lama” pada umumnya. Seperti salah seorang pemimpin Perwari mengatakan: “Jika saya bicara tentang pandangan saya mengenai gerakan kaum perempuan Indonesia, dan harus menyebut cita-cita yang hendak saya capai atau membahas soal emansipasi perempuan, seketika saya akan dituduh “orang Orde Lama”. Pemerintah sekarang ini benar-benar mengajar rakyatnya agar menjadi bodoh. Padahal, tidaklah orang hanya akan bisa merdeka jika dia tidak berfikir, bukan? Kemerdekaan itu benar-benar tidak ada di sini. Di sini tidak ada jalan, bagaimana caranya supaya kita bisa berbicara atau berfikir menurut apa yang kita mau” (interviu 73, 31 Januari 1984).


Karena itu kajian ini tidak hanya merupakan kebutuhan sejarah. Analisa dari sudut gender tentang kejadian-kejadian tahun 1965-1966 yang dikemukakan di sini, ada hubungannya secara langsung dengan pemahaman terhadap persekongkolan kekuasaan Orde Baru pada umumnya, dan dengan cara pelecehan martabat perempuan pada khususnya, yang telah digunakan sebagai pembenaran kelangsungan basis kekuasaan totaliter Presiden Suharto yang berwatak patriarkal, yang telah dibangunnya itu. Sesungguhnya itulah alasannya, mengapa saya menjadi tertarik pada topik kajian sekarang ini. Dalam akhir tahun 1970-an, saya terkesima melihat kadar ketaatan dan dominasi laki-laki pada organisasi-organisasi terpenting kaum perempuan di Indonesia saat sekarang. Khususnya pada organisasi-organisasi istri para pejabat sipil (Dharma Wanita) dan pejabat militer (Dharma Pertiwi), demikian juga pada organisasi Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang disponsori negara dan meluas ke seluruh negeri itu.


--- Footnote 10, halaman xlvi: Dalam makalah tahun 1985 yang berjudul “The perfumed Nightmare”saya tunjukkan, bahwa di bawah Jendral Suharto, Angkatan Darat telah membikin kampanye di sekitar peranan yang dituduhkan pada Gerwani dalam kup 1 Oktober 1965. Belum lama yang lalu Leclerc (1991), dalam makalah tak diterbitkan, telah mengangkat tema yang sama dengan memusatkan perhatiannya pada monumen yang dibangun para jendral. Tema ini akan saya uraikan dalam Bab II.


-- Footnote 11: Perwari, Persatuan Wanita Republik Indonesia, didirikan segera sesudah proklamasi kemerdekaan. Seperti akan saya uraikan dalam Bab 7, selama waktu yang panjang organisasi ini tetap bersemangat radikal dan lantang membela hak-hak kaum perempuan, khususnya dalam perkawinan. Dewasa ini Perwari telah “dijinakkan”, kegiatan-kegiatannya yang menjurubicarai perempuan miskin tidak dimungkinkan, dan keanggotaannya menjadi merosot hebat. Gejala terakhir ini terutama disebabkan oleh kenyataan, bahwsa setiap ;istri pegawai atau tentara harus menjadi anggota organisasi istri-istri tentara dan karuyawan, yaitu Dharma Wanita edan Dharma Pertiwi.


Footnote 12: Untuk uraian tentang Dharma W|anit dan Dharma Pertiwi, lihat: Wieringa 1985. Dalam karangan belakangan saya membicarakan “feminisme yang keguguran” di Indonesia ( 1988b), dan lebih belakangan lagi saya tulis dua karangan yang membandingkan Gerwani dengan PKK (1992; 1993a). lihat juga laporan yang diterbitkan oleh tim Indonesia untuk Proyek Sejarah Perempuan DGIS/ISS (Wieringa et all. 1985; |Wieringa (ed) 1990). Lihat juga Suryakusuma (1990) untuk Dharma Wanita.


Belakangan saya tahu, organisasi-organisasi dibangun di atas reruntuhan sejarah organisasi-organisasi kaum perempuan yang mandiri dan giat. Seperti pada 1985 pernah saya kemukakan organisasi-organisasi baru ini didirikan oleh militer, sengaja untuk menomor-duakan kembali kedudukan kaum perempuan Indonesia. < Huruf tebal dari saya: I.I.)


Sekarang setiap suara yang mempersoalkan tentang sulitnya keadaan sosial dan ekonomi mendapat cap sebagai berbau politik. Maka soal-soal yang berimplikasi sayap kiri dan “kaum kiri”, yang dikaitkan dengan “kaum perempuan semacam itu, membuka seluruh kotak asosiasi-asosiasi Pandora dengan pembunuhan-pembunuhan ritual dan pesta-pesta seksual (Wieringa 1985:38.


Semula berkat cambukan Sukarno sendiri, sehingga kaum perempuan Indonesia giat berppartisipasi dalam perang kemerdekaan nasional. Namun, sesudah kemerdekaan tercapai, berlangsunglah proses pemuliohan kembali kekuasaan kaum laki-laki. Selama tahun-tahun pertama pemerintahan Sukarno, kaum perempuan selalu menjadi subyek yang vopkal di tengah percaturan politik Indonesdia, dengan menyerang benteng dominasi laki-laki dari dua penjuru. Pertama-tama mereka menyerng hak prerogatif laki-laki berpoligami. Perjuangan mereka kalah, karena tak lain dari Presiden Sukarno sendiri yang menuntut hak beristri lebih dari satu orang. Ke dua, sebagian dari gerakan ini, itulah Gerwanio, menuntut tempat di tengah gelanggang politik bagi kaum perempuan.


Langkah ini membawa sejumlah konsekwensi. Pertama-tama, mereka memancing amarah organisasi-orgaqnisasi perempuan lainnya, yang berpendirian bahwa kedudukan perempuan di masuyarakat tidak di bidang politik, tetapi di bidang sosial. Selanjutnya Gerwani yang menjadi semakin rapat mendekatkan diri pada PKI (yang tak banyak perhatiannya pada “soial perempuan”itu) kehilangan banyak pendirian feminismenya yang semula. Ketiga, saya ingin mengemukakan, bahwa langkah Gerwani memasuki bidang yang sampai sekarang dipandang daerah kawasan laki-laki, telah memicu ketakutan di kalangan kelompok-kelompok tradisionil di Indonesia, khususnya kalangan Muslim salih. Kalangan inilah yang pada waktunya merupakan lahan subur bagi kampanye Suharto tentang fitnahan seksual dalam akhir 1965.


Untuk mengerti bagaimana organisasi-organisasi kaum perempuan dewasa ini berfungsi, baik sebafgai tiang penyangga rezim Orde Baru maupun sebagai alat untuk menopmor-duakan kembali kedudukan perempuan, saya merasda perlu menliti periode Orde Lama dan lahirnya kekuasaan Orde Bareu. Sementara meneliti sejarah dalam periode ini, saya melihat sehingga mana kiasan seksual dan penghinaan terhadap perempuan mengelilingi asal-muasal rezim Suharto. Namun dengan ini tidak bermaksud mengatakan, bahwa metafora-metafora seksual merupakan faktor satu-satunya yang turut menyebabkan terjadinya pembunuhan masal, dan tampilnya Suharto di atas singgasana kekuasaan.


Faktor-faktor lain, selain dari kekacauan pereokonimian, yang mengakibatkan rasa sangat kuatir baik di kalangan Angkatan Darat maupun kauumKomuinis, termasuk juga percobaan-percobaan pembunuhan terhadap Sukarnom (Mei 19.8), sakitnya Sukarno, dan seruan Sukarno untuk pembentukan Angkatan ke-5.l Walau Angkatan ke-5 ini sedikit banyak sekadar merupakan retorika medio 1960-an belaka, namun Angkatan Darat merasa sangatcemas melihat kemungkinan akan dipersenjatainya sekitar 21 juta kaum tani dan kaum buruh, yang samasekali terlepas dari kendali pimpinan Angkatan Darat. Walaupun begitu, sugesti-sugesti tentang perbuatan seksual yang tak senonoh itulah, yang telah menjadi penyebab kotak mesiu meledak.


Saya berpendapat bahwa untuk mengerti tentang dalamnya krisis yang telah menenggelamkan Indonesia paa 1965 itu, tidak cukup dengan memberikan analisis politik saja, tetapi juga analisis dari sudut gender perlu dikemukakan. Analisis gender yang dikemukakan di sini akan menyoroti aspek-aspek tertentu dalam sejarah politiki moderen Indonesia, yang sedemikian jauh masih tetap merupakan misteri bagi banyak para peniliti, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai pokok-pokok masalah yang umumnya diabaikan.


Halaman-halaman selanjutnya akan menguraikan sejarah yang terselubung itu dalam tiga tahap.


Tahap pertama menguraikan sejarah feminisme Indonesia, yang mengenal saat-saat radikal dan berani lebih banyak lagi dari yang diakui para penulis sekarang.


Tahap ke dua memaparkan sejarah yang terlarang, yaitu sejarah Gerwani. Tentang anggota-aggotanya yang dibunhuh, yang dipenjara dan yang hilang, serta dokumen-dokumen tentangnya yang di Indonesia dimusnahkan. Untungnya perpustakaan-perpustakaan di Negeri Belanda dan Amerika Serikat masih menyimpan bahan-bahan, yang atas dasar itulah kisah masa lampau Gerwani dapat disusun kembali.


Ke tiga, dengan mengamati kejadian-kejadian tahun 1965 dan 1966 atas dasar analisa gender dari periode itu, akan menyingkap aspek-aspek tertentu mengenai lahirnya Orde Baru, yang sampai sekarang digelapkan (oleh militer Indonesia) atau diingkari (oleh para peneliti sejarah modern Indonesia). ---



* * *






Friday, February 18, 2011

Menyongsong Hari Wanita Internasional "8 Maret"

Kolom IBRAHIM ISA
Jum'at, 18 Februari 2011
--------------------------------

Menyongsong Hari Wanita Internasional
“8 Maret”– Dan “GERWANI” <<>>

* * *

Menjelang Hari Wanita Internasional “8 Maret” yad, baik kiranya menjenguk ke sejarah gerakan wanita Indonesia sejak berdirinya Republik Indonesia. Sejarah gerakan wanita Indonesia adalah suatu proses panjang yang perlu diketahui oleh bangsa kita, generasi muda, khususnya para aktivis yang terlibat dalam gerakan emansipasi kaum wanita Indonesia dewasa ini.

Tulisan ini bermaksud memfokuskan perhatian pembaca pada salah satu (dari) gerakan wanita Indonesia. Yaitu yang diorganisasi oleh GERWANI, Gerakan Wanita Indonesia.

Rezim Orde Baru Presiden Suharto, naik panggung kekuasaan, dengan menggunakan cara “kup merangkak” terhadap Presiden Sukarno. Suharto menggulingkan Presiden Sukarno, setelah menuduh keterlibatan Presiden Sukarno dengan 'G30S' (bahkan diinsinuasikan Presiden Sukarno adalah 'dalang' sesungguhnya di belakang 'G30S', bersama PKI.) Menonjol ialah manuver politik Jendral Suharto itu dimulai melalui a.l suatu kampanye bohong dan fitnahan keji, lewat media yang sangat efektif, dengan sasaran PKI dan Gerwani.

Menurut taktik dan strategi Jendral Suharto, untuk merebut kekuasaan politik, pemerintahan dan negara RI, dari Presiden Sukarno, harus menghancurkan terlebih dulu kekuatan parpol dan ormas yang mendukungnya. Kekuatan yang harus dihancurkan itu adalah PKI dan Gerwani. PKI sebagai parpol dan Gerwani sebagai ormas wanita Indonesia yang terbesar periode itu.

Dimulailah rekayasa, fitnah keji dan kebohongan besar sekitar dibunuhnya 6 jendral dan seorang perwira menengah di Lubang Buaya. Semua koran ditutup selain koran-koran militer dan koran-koran pendukungnya. Dilancarkanlah berita tentang wanita-wanita anggota Gerwani yang melakukan penganiayaan terhadap para jendral sebelum mereka dibunuh. Diikuti oleh 'orgi', tari-tarian mesum para wanita Gerwani tsb dihadapan para jendral yang akan dibunuh.

Dalam satu nafas wanita-wanita anggota Gerwani digambarkan sebagai wanita-wanita yang lebih hina dari pelacur, yang bejat, kejam dan biadab; juga sebagai wanita-wanita Komunis yang tak atheis da tak bermoral.

Kampanye fitnah Jendral Suharto ternyata efektif. Diciptakan kebencian luar biasa di kalangan penduduk terhadap Gerwani dan PKI. Dari situ dimulai kampanye pembantaian masal terhadap anggota-anggota PKI, Gerwani dan para ormas pendukung politik PKI, para pendukung Presiden Sukarno dan kaum Kiri dan demokrat lainnya.

* * *

Profesor Dr Saskia Eleonora Wieringa, seorang PhD tamatan Belanda, yang fasih berbahasa Indonesia, melakukan riset lapangan yang panjang, luas dan mendalam mengenai GERWANI, dan kampanye penghancuran gerakan wanita Indonesia, khususnya yang diorganisasi oleh Gerwani.

Hasilnya adalah sebuah buku berjudul “THE POLITIZATION OF GENDER RELATIONS IN INDONESIA – WOMEN'S MOVEMENT & GERWANI UNTIL THE NEW ORDER STATE' (Suatu Academisch Proefschrift, untuk meraih titel doctor pada Universitas Amswterdam). Ini berlangsung pada tanggal 6 Oktober 1995 di Amsterdam.

Setahun setelah jatuhnya Suharto terbit Edisi Indonesia, berjudul PENGHANCURAN GERAKAN PEREMPUAN DI INDONESIA ( Tebal: 593 halaman, Penerbit Garba Budaya, 1999).

* * *

Baik kita simak sedikit cerita Saskia Wieringa sendiri mengenai bukunya itu, akan kita baca a.l sbb:

“Jelas sejarah kita dibangun oleh para “sejarawan”yang mengabdi kekuasaan militer . . . Kita yang sudah disiksa dan kalah jangan sekali-kali menjadi putus asa. Kita harus berjuang untuk hidup. Generasi muda harus belajar dan tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi pada masa lalu. Sejarah harus ditulis di atas kejujujuran, sehingga generasi-generasi mendatang tidak akan salah mengerti.
(Dok IX 1992.22).

Sejarah yang dimaksud dalam kutipan tsb meliputi jangka waktu setengah abad, yaitu sejak Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sampai sekarang, dan khususnya sekitar tahun-tahun 1965, ketika Orde Lama Sukarno digantikan dengan Orde Baru Suharto. Mereka yang “telah disiksa dan dikalahkan” itu adalah orang-orang dari Partai Komunis Indonesia dahulu, atau dari organisasi ini dan itu yang termasuk dalam 'Keluarga Komunjis”, seperti misalnya organisasi perempuan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).

Footnote 1: Saya pakai istilah “Keluarga Komunis”dengan maksud meliputi PKI dan ormas-ormas kaitannya, yaitu Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), Pemuda Rakyat, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia, BTI (Barisan Tani Indonesia), Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), dan HSI (Himpunan Sarjana Indonesia). Pada 1964 dikatakan keluarga ini terdiri dari sekitar 27 juta anggota (HR 20 Agustus 1965). Angka ini harus dibaca dengan hati-hati, oleh karena kenyataannya banyak terjadi keanggotaan rangkap.

Footnote 2: Antara 1950-54 organisasi ini bernama Gerwis. Saya pakai Gerwani untuk menyebut organisasi ini secara umum, dan hanya memakai sebutan Gerwis jika dimaksud khusus tentang priode tersebut sampai Kongres Ke-1 tahun 1954.

* * *

Subarto tampil ke atas singasana kekuasaannya dengan menciptakan kampanye kekerasan yang tak ada tolok bandingannya di masa lalu, dan dikuatkan pula dengan tuduhah pesta-pesta seksual yang konon dilakukan para anggota Gerwani.

Orde Baru tidak hanya dibangun di atas timbunan mayat-mayat, yang diperkirakan sebanyak satu juta, dari orang-orang tak berdosa yang dibantai selama bulan-bulan terakhir tahun 1965 dan bulan-bulan pertama tahun 1966. Tapi Orde Baru juga dibangun di atas pembasmian kekuaatan kaum perempuan, yang telah berhasil diperolehnya selama dasawarsa-dasawarsa sebelumnya, kekuatan yang oleh musuh-musuh mereka dilukiskan melalui sejumlah metafora seksual.

Selanjutnya Wieringa: Tidak banyak perhatian diberikan pada masa genting dalam sejarah modern Indonesia ini, baik oleh peneliti dari luar maupun dari dalam negeri sendiri. Seperti John Legge mengakui “barangkali karena yang dibunuh adalah orang-orang Komunis maka sedikit banyak hati-nurani dunia luar seakan-akan tidak terusik oleh apa yang harus digolongkan, apa pun penilaiannya, sebagai salah satu pembantian paling keji dalam sejarah modern” (Legge 1972:399)(huruf tebal dari saya: I.I.) Jelas jika Amerika Serika menjadi merasa lega, bila selain berada di tengah kemelut Perang Vietnam, Sukarno, yang mereka pandang sebagai pengacau dunia yang hendak menyerahkan Indonesia ke tangan kaum Komunis yang berbahaya itu, telah berhasil disingkirkan oleh seorang jendral kanan yang dengan segala daya membawa Indonesia ke jalan kapitalis.

Seorang penagamat kekuasaan Suharto, Vatikiotis (1993:34) menulis: “Indonesia, citra buruk bagi para pengamat politik luar negeri Amerika Serikat itu, dalam tahun 1960-an tiba-tiba memberi bukti paling terang, bahwa tidak semua kekuasaan yang dibangun di atas laras senjata adalah buruk”.

Dalam kajian ini saya akan membuktikan, bahwa alasan lain mengapa Dunia Barat tutup-mulut itu ialah, karena ketakmampuannya memahami tali-menali dan intrik-intrik yang ada di balik kampanye ketidak-amanan dan pembunuhan-embunuhan masal, yang dilakukan sesudah kup “pertama” pada 1 Oktober 1965. Kampoanye beserta akibat-akibatnya itu saya pandang sebagai kup yang “kedua”, yang dengan diam-diam telah mengangkat Suharto ke tahta kekuasaannya. Para pengamat umumnya mengabaikan adanya kup yang kedua ini, atau sekadar mengatakannya sebagai periode genting dalam sejarah Indsonesia yang “tidak bisa dimengerti”(Tornquist 1984:54). Beberapa penulis mengakui, bahwa keberhasilan Suharto naik tangga kekuasaan terjadi dalam dua tahap (Southwood dan Flanagan 1983; Pohan 1988; Vatikiotis 1993). Walaupun begitu orang mengabaikan mekanisme di balik tali-menali kup yang ke dua itu.

--Suharto tampil di atas tahta kekuasaan di tengah kemelut kejadian-kejadian susudah kup yang gagal, dan yang sampai sekarang samasekali bleum jelas . . . Suharto dan kelompok kecil pendukugnnya mengambil kesempatan itu, seolah-olah tampik tanpa rencana sebelumnya yang terlalu jauh
.
* * *

Dalam kejadian-kejadian tersebut, kup tanggal 1 Oktober 1965 merupakan kejadian terpenting yang perlu dijelaskan. Karena entah bagaimanapun juga, memang kejadian inilah yang akhirnya telah membukakan jalan bagi Suharto naik ke jenjang kekuasaan. Sebagai akibatnya, diabaikanlah kecerdikan Suharto dalam memanipulasi pendapat umum segala dalih dan kebohongan telah digubahnya untuk menciptakan kondisi kekacauan masyarakat, serupa seperti adegan gara-gara dalam pergelaran wayang. Vatikiotis berpendapat,misalnya, bahwa mungkin orang-orang di sekitar Suharto itulah, khususnya para perwira kesatuan khusus di bawah komando Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, yang telah mendorong Suharto merebut kekuasaan”. (Vatikikotis 1993 :240). Kampanye ideologi dan pembunuhan-pembunuhan massal yang melandasi Orde Baru memang dilihat dengan kesedihan, namun begitu telah dianggap sebagai kejadian-kejadian yang tersendiri.

“Yang mengawali penyusunan orde baru dan pembangunan kembali ekonomi Indonesia, merupakan periode lanjutan kekacauan yang pendek tapi berdarah. Orde Baru telah mengeksploitasi keadaan masyarakat warisan jaman Sukarno yang sangat terpolarisasi, untuk menumpas kawan-kawannya dan memberikan jalan keluar untuk terjadinya pertumpahan darah katarsis itu (Vatikiotis 1993:33).

Sementara Dunia Barat demi alasan-alasannya sendiri berdiri di kejauhan, di Indonesia oposisi dipukul atau dengan cerdiknya dibikin tutup mulut oleh pemerintah melalui represi yang kejam. Tidak hanya dengan pembunuhan terhadap ratusan ribu orang-orang yang tak berdosa, tapi juga dengan menahan puluhan ribu lainnya, bahkan ada di antara mereka yang sampai lebih dari dua puluh tahun. Hanya sedikit saja dari para tahanan itu yang dibawa ke depan mahkamah pengadilan, notabene pengadilan kanguru sekalipun. Mereka yang selamatpun masih terus menderita.

Bahkan sampai sekarang kartu penduduk para bekas tapol dan napol masih harus bercap “ET” (eks-tapol). Cap ini menjadi kendala yang efektif bagi mereka untuk bisa memperoleh kesempatan bekerja. Pembatasan-pembatasan seperti itu juga diberlakukan terhadap anak-anak, cucu-cucu dan saudara-saudara dekat mereka, jika mereka hendak mencari kerja dan belajar. Untuk bisa diterima bekerja atau masuk balai pendidikan, dengan surat keterangan resmi mereka harus bisa membuktikan bahwa mereka “bersih lingkungan”. Artinya, bahwa tidak ada seorang ET pun ditengah-tgengah keluarga mereka. Banyak eks-tapol yang sampai sekarang masih harus lapor secara teratur kepada penguasa militer.

Namun demikian dampak represi rezim Orde Baru tidak puas berhenti sampai dengan para korban atau keluarga mereka saja. Kampanye sesudah kup 1 Oktober 1965 yang dilakukan Suharto memang tidak hanya dimaksud untuk menumpas Komunisme di Indonesia sampai seakar-akarnya, dan untuk membangkitkaqn kebencian massa terhadap politik Sukarno, sehingga ia akan melepaskan jabatan kepresidennannya. Kampanye ini juga bertujuan untuk menciptakan suasana mental, pembenaran ideologis bagi Orde Baru Suharto. Karena itu saya samasekali tidak seuju terhadap pendapat yang mengatakan, misalnya, bahwa “endapan perasaan tentang periode ini belum memberi corak tertentu pada persepsi umum terhadap kekuasaan Suharto”(Vatikiotis 1993:34)

Menurut pendapat saya, justru “endapan perasaan” semacam itulah yang telah menjadi dasar rezim Suharto, yang tidak saja ditunjang dengan teror fisik yang dilakukan angkatan darat, tetapi sesungguhnya oleh keberhasilannya yang meyakinkan, bahwa apapun yang berkaitan dengan kritik sosial ialah subversif, Komunis, dan akhirnya dikaitkanlah pula dengan perbuatan seksual kaum perempuan “kita” yang tidak senonoh. Saya berpendapat, bahwa hendaknya ke-tak-acuhan politik bangsa Indonesia tidak terlalu dilihat hanya sebagai akibat dari 'stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi”(Vitikiotis 1993) yang telah diciptakan Orde Baru saja. Tetapi, ke-tak-acuhan itu, juga timbul dari bayangan tentang kekacauan masyarakat berikut warna-warna seksualnya, pembunuhan massal yang terjadi karenanya, dan disusul supresi yang tiada putus-putusnya itu. Untuk menjamin agar citra resmi itu tidak rusak, penguasa tetap sangat membatasi kebebasan pers. Pada Juni 1994 yang lalu saja ada tiga majalah deibredel: Tempo, De Tik, dan Editor.

Dengan demikian priode traumatis 1965-1966 dalam sejarah Indonesia itulah, yang menandai pergantian dari Orde Lama Presiden Sukarno ke Orde Baru Presiden Suharto. Kekuasaan Orde Baru dibangun di atas model disiplin dan represi kekejaman militer, di mana setiap referensi mengenai ketimpangan sosial dituding sebagai dijiwai atau berkaitan dengan “subversi Komunis”. Mitos tentang lahirnya Orde Baru diciptakan oleh Presiden Suharto dengan sadar, dan terus-menerus diulang-ulangnya di dalam setiap kampanye indoktrinasi. Dalam hal ini termasuk, antara lain, pemutaran sebuah versi film tentang apa yang disebutnya sebagai “pengkhianatan PKI”.

Kampanye ini dibangun di atas metafora-metafora seksual, khususnya ketakutan laki-laki terhadap kastrasi yang, dengan sejumlah dalih sangat menjijikkan, menggambarkan organisasi perempuan Gerwani (yang dikaitkannya dengan PKI), yang diduga berperanan di dalam kup tersebut. Sampai sekarang analisis-analisis kekuasaan Orde Baeru selalu mengabaikan unsur-unsur kiasan seksual yang melandasi konfigurasi politik Indonesia dewasa ini.

Footnote: Dalam makalah tahun 1995 yang berjudul “The Permued Nightmare” saya tunjukkan, bahwa di bawah jendral Suharto Angkatgan Darat telah membikin kampanye di sekitar peranan yang dituduhkan pada Gerwani dalam kup 1 Opktober 1965 . Belum lama yang lalu Leclrec (1991), dalam sebuah makalah tak diterbitkan, telah mengangkat tema yang sama dengan memusatkan perhatiannya pada monumen yang dibangun di Lubang Buaya, tempat terjadinya pembunuhan para jendral. Tema ini akan saya urai dalam Bab II.

(Kutipan dari buku Prof Dr Saskia Wieringa, berjudul PENGHANCURAN GERAKAN PEREMPUAN INDONESIA, Bab Pendahuluan, halman xxxix s/d vlvi- selesai).

(Bersambung dalam tulisanku berikutnya, di Bg II, I.I).

* * *