Friday, July 6, 2012

DUA MANTAN PETINGGI MILITER ARGENTINA DIVONIS


IBRAHIM ISA
Jum´at, 06 Juli 2012
-------------------------


DUA MANTAN PETINGGI MILITER ARGENTINA DIVONIS
'Vonis bersejarah'


Perhatikann berita penting di bawah  ini. Pengadilann Buenos Aires, Argentina, JELAS TIDAK MEMBIARKAN  PELANGGARAN HAM OLEH MILITER DI BAWAH REZIM DIKTATUR MILITER VADELA.


Dua mantan pemimpin militer Argentina divonis bersalah dalam kasus pencurian secara sistematis ratusan bayi dari orang tuanya yang menjadi tahanan politik di masa rezim militer berkuasa.

Pengadilan di Buenos Aires menghukum Jorge Videla 50 tahun pidana penjara, sementara rekannya Reynaldo Bignone dihukum 15 tahun penjara. Keduanya sudah menjalani hukuman penjara atas kejahatan yang mereka lakukan di masa rezim militer berkuasa, antara 1976 dan 1983.

Setidaknya ada 400 bayi diduga diambil paksa dari orangtuanya yang menjadi tahanan politik di masa rezim militer berkuasa.
Selain dua pensiunan militer itu, ada sembilan orang mantan pejabat militer dan polisi lainnya yang menghadapi tuduhan yang sama.

Sembilan orang terdakwa, termasuk Videla dan Bignone, dihukum dalam kasus pengambilan paksa 34 bayi. Sementara dua orang dinyatakan tidak bersalah.

"Melihat wajah-wajah mereka yang bertanggung jawab dalam kasus ini, membuktikan bahwa ada kemajuan dalam proses peradilan."

Macarena Gelman, korban penculikan.

Videla, yang kini berusia 86, menerima putusan hakim dan mengakui perbuatannya atas kasus pencurian 20 bayi.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan Videla bersalah melakukan "penculikan, penahanan serta menyembunyikan secara sistematis anak-anak di bawah usia 10 tahun". Ketika hakim membacakan putusannya, Videla terlihat tanpa ekspresi. Bersama
Bignone, Videla sebelumnya telah menjalani proses hukuman penjara.

Videla sebelumnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada 2010 lalu untuk kasus penyiksaan dan kematian 31 orang pembangkang selama pemerintahan rezim
militer.Sementara Bignone dihukum seumur hidup pada April 2011 untuk kasus penyiksaan dan pembunuhan terhadap para lawan politik.


'Vonis bersejarah'

Sorak-sorai membahana di ruang pengadilan, ketika majelis hakim membacakan putusan bahwa para tersangka terbukti bersalah dalam kasus pencurian ratusan bayi itu.

Para korban dan keluarganya menyambut baik vonis pengadilan ini dan menganggapnya sebagai konfirmasi atas kejahatan paling keji yang dilakukan di masa kekuasaan militer.

Salah satu korban, Macarena Gelman, mengatakan putusan hakim ini "bersejarah".

"Melihat wajah-wajah mereka yang bertanggung jawab dalam kasus ini, membuktikan bahwa ada kemajuan dalam proses peradilan," katanya kepada kantor berita Efe.
Selama Jenderal Jorge Videla (1983) masih berkuasa, diduga ada ratusan bayi yang dipisahkan dari orang tuanya yang ditahan karena alasan politik.

Selama ini Gelman dibesarkan oleh keluarga polisi di Uruguay setelah orang tuanya diculik oleh rezim militer pada 1976. Ibunya digelandang ke sebuah penjara rahasia di Uruguay dan akhirnya 'hilang', sementara jasad ayahnya ditemukan dalam tong yang dibuang ke sungai.
Gelman kemudian bertemu lagi kakeknya, Juan Gelman, penyair terkenal Argentina.

Selama rezim militer berkuasa di Argentina, lebih dari 100 anak diambil paksa dari orang tuanya dan diadopsi oleh keluarga militer atau polisi. Namun ketika rezim ini runtuh, sebagian besar mereka kemudian bersatu kembali dengan keluarga biologis mereka.

Sebuah kelompok yang menamakan diri sebagai 'The Grandmothers of the Plaza de Mayo', yang selama ini aktif memperjuangkan kasus pencurian bayi ini, meyakini ada ratusan bayi yang diculik selama rezim militer bertampuk di kursi kekuasaan.

Namun demikian, ada beberapa anak yang menjadi korban penculikan mengaku tidak tahu-menahu tentang asal-usul mereka, karena khawatir akan nasib orang tua angkat mereka yang dianggap melakukan kejahatan.

Kelompok-kelompok HAM mengatakan,selama pemerintahan militer, yang dikenal sebagai "Perang Kotor", sekitar 30.000 orang tewas atau dihilangkan oleh militer dalam rangka kampanye melawan aktivis oposisi dan gerilyayan sayap kiri. (BBC, 06 jULI, 2012)

* * *


Thursday, July 5, 2012

Dua SISWA SMA MENGGONDOL MEDALI EMAS


Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 05 Juli 2012
-----------------------------
Dua SISWA SMA MENGGONDOL MEDALI EMAS di International Exhibition for Young Invenstors (IEIY) , Bangkok 2012>

* * *

Sebagai bangsa Indonesia, siapa yang tidak ikut merasa bangga dengan penampilan Hermawan Maulana dan Zihramma Afdi, -- dua siswa SMA Negeri 3, Semarang yang berhasil menggondol Medali Emas di International Exhibition for Young Invenstors (IEIY) , Bangkok 2012. Kedua remaja SMA itu berhasil membuat alat/mesin yang bisa mengubah asap rokok menjadi Oksigen. Suatu prestasi yang luar biasa! Sungguh mengagumkan dan mengharukan, menyaksikan kepedulian generasi muda Indonesia tsb pada masalah kesehatan masyarakat. Kita kagum dan bangga karena penemuan tsb adalah hasil kecerdesan dan daya-cipta dua orang dari generasi muda Indonesia.

Selain itu, medali emas di ajang sama diperoleh oleh siswa dari SMP Petra Surabaya dengan inovasi Water Coated Helmet. Siswa SMA Negeri 2 Yogyakarta dan SD Muhammadiyah Manyar, Gresik meraih perunggu.

Para siswa SMA dan SMP dari Indonesia tsb telah dengan gemilang mengungguli rekan-rekannya dari Tiongkok, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Taiwan, dan Jepang.

* * *

Hermawan mengatakan bahwa mereka memiliki ide membuat alat untuk memfilter karbon dioksida (CO2) menjadi oksigen itu diawali kegelisahannya melihat para perokok yang kian banyak.

Suatu keteladanan bagi masyrakat kita yang sudah sarat dengan masalah birokrasi dan korupsi, penyalahgunaan wewenang pejabat dan intoleransi religius dan etnis. Keteladanan ini, yaitu kepedulian mereka terhadap masalah yang dihadapi masyarakat kita, justru muncul dari kalangan generasi muda.

Menurut catatan tak resmi, (ini juga terjadi di sementara negeri-negeri yang sudah berkembang di Eropah dan Amerika) jumlah perokok di kalangan anak-anak muda dan wanita bertambah. Tak peduli penerangan yang diberikan bahwa MEROKOK ITU MEMATIKAN, “Smoking is Deadly. Tak peduli teks maut itu dicetak di setiap bungkusan rokok yang dijual. Jumlah yang merokok tokh tambah terus.

Yang tidak setuju merokok dilarang mutlak dan selanjutnya pabrik-pabrik rokok ditutup, -- memberikan argumentasi mengapa pabrik-pabrik rokok jangan diutup. Mereka menunjukkan bahwa, pabrik-pabrik rokok kretek Indonesia adalah pembayar pajak negeri yang cukup beasar dan pasti. Berapa banyak kas negeri akan kehilangan sumber pembayar pajak yang setia, jika pabrik-pabrik rokok kretek ditutup, katanya. Lagipula bukankah pabrik-pabrik rokok keretek itu mempekerjakan puluhan ribu karyawan? Selain itu mereka sering memberikan dana untuk promosi pertandingan badminton, misalnya.

Kalau pabrik-pabrik rokok kretek itu ditutup, berapa banyak lagi bertambahnya jumlah penganggur Indonesia? Dan sejumlah importir cengkeh Indonesia akan bangkrut. Begitulah argumentasinya.

Tentu, argumentasi ini akan membuka ruang debat panjang lebar! Karena, akan lebih bayak lagi argumentasi yang bisa diajukan mengapa orang harus berhenti merokok.

Maka itu, kata kedua siswa SMA: Kami ciptakan (alat-alat) ini karena belum mampu mengurangi jumlah perokok".

Di bawah ini, dimuat selengkapnya berita yang bersangkutan mengenai prestasi dua siswa SMA Semarang itu:

* * *

Siswa SMA Berhasil Ubah Asap Rokok Jadi Oksigen
Rabu, 4 Juli 2012

Shutterstock Langkah pertama adalah menghilangkan bau asap rokok yang menempel pada aksesoris maupun furnitur kesayangan adalah dengan mengelap perabot dan aksesoris dengan cairan pembersih.
SEMARANG, KOMPAS.com - Dua siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Semarang menciptakan alat pengubah asap rokok menjadi oksigen yang memenangi International Exhibition for Young Inventors (IEIY) 2012 di Bangkok, Thailand.

"Alat itu kami namakan T-Box Application to Reduce the Danger Impact of CO dan CO2 in Smoking Room," kata Hermawan Maulana, salah satu siswa SMA Negeri 3 Semarang pemenang IEIY 2012 saat ditemui di Semarang, Rabu (4/7/2012).


Selain , medali emas di ajang sama diperoleh oleh siswa dari SMP Petra Surabaya dengan inovasi Water Coated Helmet. Siswa SMA Negeri 2 Yogyakarta dan SD Muhammadiyah Manyar, Gresik meraih perunggu.

Didampingi Zihramma Afdi, rekannya satu tim, Hermawan mengatakan bahwa mereka memiliki ide membuat alat untuk memfilter karbon dioksida (CO2) menjadi oksigen itu diawali kegelisahannya melihat para perokok yang kian banyak.

Putra pasangan Suwaji dan Setijawati Noegraheni itu mengungkapkan bahwa sekarang memang sudah banyak disediakan ruang untuk merokok (smoking room). Namun, tidak banyak dimanfaatkan karena ruangan akan menjadi penuh asap.

Dengan alat tersebut, kata dia, asap rokok yang mengandung CO2 akan diurai menjadi oksigen, kemudian oksigen dialirkan kembali ke smoking room, sehingga fasilitas itu bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh perokok.

"Minimal, perokok 'betah' di smoking room dan tak merokok sembarangan sehingga tidak mengganggu orang lain. Kami ciptakan ini karena belum mampu mengurangi jumlah perokok," kata remaja kelahiran Pekanbaru, 24 Mei 1996 itu.

Berkaitan dengan cara kerja alat itu, giliran Afdi yang menjelaskan bahwa alat yang semula dinamai "Carbofil Application" itu bekerja menghisap asap rokok masuk ke dalam mesin yang sudah dirangkai komponen.

"Di dalam alat ini, asap rokok akan diurai menjadi oksigen kemudian dialirkan kembali. Selain oksigen, filterisasi juga meninggalkan karbon. Namun, karbonnya berbentuk padat yang bisa dimanfaatkan kembali," katanya.

Afdi mengakui bahwa mereka sempat tidak percaya diri tatkala alat itu diadu dengan hasil penemuan siswa dari berbagai negara, apalagi mereka ditempatkan di stan yang letaknya berdampingan dengan siswa dari Jepang.

Namun, kata putra pasangan Abdul Hafid dan Ninik Budi yang lahir di Grobogan, 17 Februari 1995 itu, alat ciptaan mereka ternyata mampu mengalahkan penemuan-penemuan dari siswa berbagai negara di ajang tersebut.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 3 Semarang Hari Waluyo mengaku bangga dengan prestasi siswanya dalam ajang yang berlangsung di Bangkok pada tanggal 28 Juni - 1 Juli 2012 dan mampu mengalahkan peserta dari berbagai negara.

"Mereka berhasil mengalahkan pesaingnya dari China, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Taiwan, dan Jepang. Kedua siswa ini duduk di kelas XI IPA, mereka bisa menjadi teladan adik-adik kelasnya," katanya.

Selain kedua siswa SMA Negeri 3 Semarang, medali emas di ajang sama diperoleh oleh siswa dari SMP Petra Surabaya dengan inovasi Water Coated Helmet. Siswa SMA Negeri 2 Yogyakarta dan SD Muhammadiyah Manyar, Gresik meraih perunggu.

Mini Multi Commander, karya Dini Esfandiari dan Shofi Delaila Herdi dari SMA Semesta Semarang dan "Jarimatika Game" karya Nur Chabibur Rohim, Muhammad Asrori, dan Risang Yogardi dari SMK Negeri 1 Tengaran meraih "Special Award".

* * *


Wednesday, July 4, 2012

AWARD OF EXCELLENCE Untuk Film "40 TAHUN KEHENINGAN"


Kolom IBRAHIM ISA
Rabu, 04 Juli 2012
-----------------------------

AWARD OF EXCELLENCE Untuk Film
"40 TAHUN KEHENINGAN", Suatu Tragedi Indonesia.
Suatu penghargaan dan kehormatan diberikan untuk film berbahasa Inggris produksi luarnegeri dengan tema Indonesia. Berjudul 40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy”Directed by Robert Lemelson, USA. Film itu tidak sebarang cerita. Temanya berkenaan dengan apa yang terjadi dalam sejarah bangsa kita. Suatu peristiwa berdarah yang begitu parah, disekitar tahun-tahun 1965-66-67. Yang diangkat di film itu ialah sekitar peristiwa “Gerakan 30 September” (G30S) dan apa yang terjadi kemudian. Yaitu kekerasan militer Indonesia dalam kampanye pengejaran, penahanan, penyiksaan, pemenjaraan, pembuangan dan pembunuhan masal terhadap warga yang tidak bersalah. Dengan dalih bahwa mereka terlibat dalam G30S, bahwa mereka itu adalah anggota, diduga anggota atau simpatisan PKI, serta orang-orang Kiri lainnya yang membela Presiden Sukarno.

Kejadian itu, suatu pelanggaran HAM terbesar yang pernah terjadi di Indonesia, yang sering disebut tragedi atau malapetaka nasional, telah direkayasa dan dipalsukan sedemikian rupa oleh rezim otoriter Orba, dalam sebuah film berjudul “Pengkhianatan G 30 S/PKI”. Film pemalsuan sejarah tergawat tsb dibuat dengan keterlibatan sejumlah pelaku, penulis dan artis periode rezim Orba.

Film yang disutradarai oleh Robert Lemelson, adalah sebuah film 'antipode' terhadap film sekitar G30S yang diprodusir oleh rezim Orba. Film 40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy” , bisa dinilai sebagai pengkoreksian atas pemalsuan sejarah yang dilakukan rezim Orba.

* * *

Sebagai ilustrasi mari kita telusuri sedikit apa yang ditulis a.l oleh WIKIPEDIA tentang film rekayasa sejarah yang dibuat Orba: Pengkhianatan G 30 S/PKI: Sutradara Arifin C. Noer, Produser G. Dwipayana. Penulis Arifin C. Noer, Bram Adrianto, Syu'bah Asa, Ade Irawan, dan Amoroso Katamsi.Pemeran, Omar Kayam dll. Panjang: 220 menit. Dapat penghargaan Festival Film Indonesia 1984.

Pengkhianatan G 30 S/PKI” adalah judul flm propaganda Indonessia dari tahun 1984 yang disutradarai oleh Arifin C Noer. Cerita film ini adalah versi resmi pemerintah Orde Baru tentang peristiwa yang terjadi pada malam 30 September dan pagi 1 Oktober di Jakarta. Pada malam dan pagi hari itu terjadi pergolakan politik di Indonesia yang kemudian berujung pada pergantian rezim dari Sukarno ke Suharto.
Pihak Orba di bawah pimpinan Suharto mengatakan bahwa PKI melakukan pemberontakan yang kemudian digagalkan oleh Suharto sendiri. Inilah yang menjadi dasar film tersebut. Sampai hari ini
masih banyak orang yang mempertentangkan kebenaran hal tersebut dan topik ini masih diselimuti banyak kontroversi dan rahasia.
Pemerintahan Suharto kemudian memerintahkan satu-satunya stasiun TV di Indonesia ketika itu, TVRI, untuk menayangkan film ini setiap tahun pada tanggal 30 September malam. Pada saat stasiun-stasiun TV swasta bermunculan, mereka juga dikenai kewajiban yang sama. Peraturan ini kemudian dihapuskan pada tahun 1998 dan sejak saat itu film ini belum pernah lagi diputar di stasiun televisi Indonesia. Demikian Wikipedia.

Setelah Suharto tersingkir oleh gelombang kebangkitan Reformasi dan Demokratisasi, pemerintah yang menggantikannya menghentikan pengedaran film rekayasa dan kebohongan sejarah “Pengkhianatan G 30 S/PKI”. Namun pemerintah Megawati, Gus Dur maupun SBY sampai sekarang tidak pernah mengkoreksi pemalsuan sejarah dan pembohongan yang disebarkan oleh rezim Orba.
Patutlah film “40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy”, disambut sebagai suatu usaha untuk melempangkan sejarah yang dibengkokkan rezim Orba.



* * *



Kita mengucapkan SELAMAT, dengan diraihnya AWARD OF EXCELLENCE untuk film "40 TAHUN KEHENINGAN"di Festival Film Internasional untuk Perdamaian, Inspirasi dan Kesetaraan. Semoga pementasan film bersejarah tsb di Indonesia bisa berlangsung dengan lancar dan sukses tanpa gangguan dari fihak-fihak yang khawatir dan takut pada pengungkapan fakta-fakta sejarah bangsa dengan pementasan film "40 TAHUN KEHENINGAN". Suatu TRAGEDI INDONESIA.

Awards Night Premiere akan berlangsung pada tanggal 30 Agustus 2012 di Blitzmegaplex bioskop, Grand Indonesia, Jakarta. Penyelenggara mengundang para penggemar di Indonesia untuk menyaksikannya. Penggemaer film juuga bisa menyaksikannya di http://www.internationalfilmfestivals.org/winners.htm.
Pementasan berlangsung dari tanggal 30 Agustus s/d 21 September, 2012 untuk merayakan International Peace Day. Demikian diumumkan oleh fihak penyelenggara.

* * *




Saturday, June 30, 2012

RADIO HILVERSUM Ke INDONESIA DI STOP


Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu, 30 Juni 2012
----------------------------

RADIO HILVERSUM Ke INDONESIA DI STOP
Katanya Karena INDONESIA Sdh “DEMOKRATIS . .”

Sudah beberapa waktu diketahui, bahwa siaran Radio Belanda untuk Indonesia akan distop. Ini diketahui dari sumber Ranesi (Radio Nederland Seksi Indonesia). Pada mula memancarkan siarannya 65 tahun yang lalu, siaran radio Belanda itu populer dengan nama RADIO HILVERSUM. Sudah agak lama para karyawan Ranesi, teman-teman Indonesia yang dikenal, sudah 'ketar-ketir' dan 'dak-dik-duk' hatinya. Pada suatu hari kelak mereka akan di 'PHK”-kan! Teman-teman Indonesia yang berkarya di Ranesi, termasuk diantaranya yang sudah memberikan fikiran dan tenaganya antara 20-30 tahun di situ, akan berubah statusnya. Mereka akan jadi 'penganggur'.

Menjadilah kenyataan apa yang dikhawatirkan itu :
Pada tanggal 29 Juni 2012, Ranesi – MENGAKHIRI SIARANNYA . Tragisnya ialah bahwa peristiwa itu dilangsungkan dengan suatu upaca 'meriah'. Tetapi sesungguhnya 'memilukan' bagi karyawannya. Sesunguhnya demikian juga perasaaan pendengar Indonesia yang selama ini merasakan manfaatnya mengikuti Ranesi dari Hilversum. Di Jakarta upacara 'duka' ini sudah lebih dulu diadakan, yaitu pada tanggal 14 Juni di Erasmushuis. Salah seorang pimpinan Radio Belanda khusus terbang ke Jakarta untuk 'meramaikan' upacara 'duka' penyetopan siaran ke Indonesia.

Yang kita ingin fokuskan di sini ialah alasan (lebih tepatnya adalah dalih) yang disampaikan oleh salah seorang pimpian Radio Nederland Wereld Omroep (RNW), ketika ia bicara di pertemuan di Erasmushuis di Jakarta. Ia dengan bangga mengatakan bahwa penyebabnya mengapa Ranesi menghentikan siarannya ke Indonesia adalah karena KALIAN SENDIRI. Kalian, Indonesia, dewasa ini, sudah DEMOKRATIS. Di Indonesia sudah ada 'kebebasan pers' , 'freedom of speech'. Maksudnya di masa lalu 'kebebasan pers' di Indonesia masih merupakan masalah. Maka diperlukan siaran Ranesi dari Holand, untuk mengisi kekosongan kebebasan informasi di Indonesia.

Kira-kira begitulah maksudnya. Sorry maar meneer. , aku baru tahu bahwa Ranesi didirikan untuk mengisi ketiadaan kebebasan informasi di Indonesia! Dan juga baru dengar bahwa Indonesia “Amboi, amboi” sudah 'benar-benar demokratis'. Was het maar waar meneer! Belum lama kita ikuti berita sekitar pembakaran buku oleh penerbit yang dipimpin jurnalis kawakan Jacob Oetama. Belum lama sekelompok preman yang atas nama religius, mengadakan 'sweeping' toko-toko buku di beberapa kota di Indonesia untuk 'membersihkan' toko-toko buku dari buku-buku 'terlarang'. Dan siapa tidak tahu, banyak berita penting yang menyangkut pelanggaran HAM berat atau tindak korupsi, karena menyangkut sementara elite, atau mengenai tindakan kekerasan aparat kepada warga, yang tidak muncul di media. S.k, stasiun radio dan TV, yang besar-besar pemiliknya adalah dari kalangan yang berkuasa. Sehingga bicara tentang sudah adanya kebebasan informasi yang sungguh-sungguh di Indonesia, itu lebih banyak merupakan 'igauan' belaka!

Nanti, kita singgung lagi isu yang diajukan oleh salah seorang pimpinan Radio Belanda di pertemuan di Erasmushuis di Jakarta.

* * *

Ketika ramai diberitakan di media tentang kesulitan ekonomi di Belanda, sudah diketahui juga bahwa politik utama pemerintah Belanda untuk mengatasi kesulitan ekonomi: adalah mengadakan “BEZUINIGING”. Dalam bahasa Indonesianya: PENGHEMATAN. Celakanya yang dihemat itu justru adalah bidang-bidang kegiatan pemerintah dimana yang sesungguhnya harus diintensifkan. Di situ pemerintah sesungguhnya perlu mealakukan pengucuran INVESTASI baru. Termasuk investasi modal. Kebijakan 'bezuinining' ini sejiwa dengan 'bezuining' di bidang lainnya yang mau diberlakukan pemerintah (koalisi liberal dan Kristen) Perdana Menteri Rutte. Yaitu 'bezuining' di bidang bantuan Belanda kepada negeri-negeri yang sedang berkembang, termasuk Indonesia.

'Bezuining' lainnya adalah di bidang jaminan kesehatan dan sosial serta pendidikan. Tipikal kebijakan pemerintah-pemerintah parpol Kanan di Eropah: Untuk mengatasi kesulitan ekonomi, mereka mengurangi bahkan menghentikan subsidi dan pengeluaran negara yang menyangkut peri kehidupan rakyat kecil. Justru yang jadi korban politik 'bezuining' ini adalah golongan rakyat yang disebut 'minima'. Rakyat biasa yang berpenghasilan rendah, yang memerlukan bantuan dan subsidi pemerintah. Kita jadi ingat politik ekonomi pemerintah SBY yang hendak mengakhiri subsidi atas BBM demi mengatasi kesulitan ekonomi Indonesia.

* * *

Kita ikuti sejenak apa yang disiarkan di situs Ranesi sekitar penutupan siaran tsb a.l sbb:



“Hari yang mendebarkan sekaligus menyedihkan. Hari ini Jumat 29 Juni 2012, Radio Nederland Siaran Indonesia, yang telah mengudara selama 65 tahun, akan mengakhiri siarannya untuk waktu yang tidak ditentukan.
"Runtuhnya sebuah monumen," demikian komentar banyak orang. Acara penutupan antara lain akan diakhiri dengan sebuah pertunjukan human shadowplay atau wayang orang, langsung dari studio Radio Nederland di Hilversum, Belanda.
. . . . . semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu dan kesempatan. Dengan ini seluruh kru Ranesi di Hilversum dan Jakarta pamit kepada para pendengar, pembaca, fans di Facebook dan teman-teman semua.
“Tabik Ranesi!!” Demikianlah a.l yang disiarkan oleh situs Radio Nederland.
Benar kan? Disatu fihak mengadakan suatu pesta, di lain fihak merupakan “Hari yang mendebarkan sekaligus menyedihkan”.
Terus terang, perasaan yang muncul membaca situs tsb dan mendengar sendiri langsung dari kalangan Ranesi, tidak bisa lain ingin aku berteriak kepada mereka-mereka yang berwenang di Belanda: MENGAPA KALIAN BEGITU BODOH!! BEGITU KELIRU!
Coba perhatikan perkembangan hubungan Indonesia-Belanda di bidang keilmuan baru-baru ini: Yang menunjukkan masih sangat diperlukannya hubungan dan kerjasama antara Indonesia dan Belanda menyangkut masa lampau dua negeri ini.
Belum lama diajukan prakarsa dan ajakan kerjasama tiga lembaga penelitian sejarah Belanda untuk melakukan riset dan studi, mengkaji kembali sejarah hubungan Indonesia-Belanda, khususnya mengenai kekerasan militer yang dilakukan oleh Belanda di Indonesia dalam periode 1945-1949. Suatu periode peperangan yang berlangsung antara Indonesia dan Belanda, disebabkan politik Belanda ketika itu untuk menghancurkan Republik Indonesia, mengembalikan Indonesia di bawah kekuasaan kolonial Belanda.

Kiranya perlu fihak Indonesia menyambut perkembangan positif di kalangan cerndekiawan Belanda tsb.

Sejarwan Indonesia Bambang Purwanto, menurut de Volkskrant, menyatakan bahwa inisiatif fihak Belanda itu adalah suatu "ide yang baik sekali". Karena di Indonesia dilakukan usaha yang keras
untuk suatu karya-standar mengenai sejarahnya sendiri. Historikus terkenal Belanda, Cees Fraseur, menyatakan kegembiraannya dengan munculnya prakarsa dari tiga lembaga penelitian Belanda tsb. Saya berharap hal ini ditangani sebaiknya, demikian Fraseur.

De Volkskrant, menulis bahwa pada akhir tahun lalu, hampir 70 tahun dihitung dari terjadinya peristiwa itu, Belanda menyatakan minta maaf dan bersedia membayar ganti rugi untuk pertumpahan darah di desa Rawagede. Beberapa minggu yang lalu, diajukan tuntutan ganti rugi untuk pelanggaran-hukum perang di Sulawesi Selatan.

Dinyatakan bahwa diperlukan penelitian baru untuk bisa memahami peperangn yang macam apa yang berlangsung di situ. Mengapa dan bagaimana peperangan dilangsungkan di sana. Bagaimana kekejaman itu berlansung dari dua belah fihak. Juga diperlukan fakta-fakta keras dan jawaban atas pertanyaan siapa yang bertanggung-jawab. Diharapkan (kali ini) kita bisa menanganinya sampai tuntas. Para ilmuwan Belanda yang berinisiatf itu, ingin terlibat langsung dalam penelitian tsb. Menurut perkiraan mereka dengan enam orang peneliti berpengalaman diperlukan waktu tiga tahun. Dengan biaya sekitar 2 -- 3 juta Euro.




Inilah masalah yang ingin kita fokuskan:
Dalam situasi adanya kehendak baik di fihak kesarjanaan Belanda dan kesediaan fihak Indonesia untuk inisitif baru melakukan studi bersama di bidang sejarah hubungan dua bangsa ---- BUKANKAH KOMUNIKASI RADIO merupakan cara yang baik dan efektif untuk mempromosi kehendak baik di fihak Belanda dan Indonesia. Maka dengan dengan latar belakang pandangan seperti disebut diatas, -- semakinlah tampak nyata betapa ABSURDNYA politik menghentikan siaran RANESI pada saat ini.
Pendapat mengenai masalah ini dan kritik terhadap kebijakan Belanda itu, kusampaikan secara pribadi dan langsung kepada salah seorang petinggi Belanda yang kebetulan kujumpsi pada resepsi perpisahan kemarin, yang diadakan oleh Dutabesar Indonesia di Belanda, Ibu Retno L.P Marsudi, untuk orang kedua di KBRI, Minister Councellor Umar Hadi.
Tadinya aku menduga bahwa petinggi Belanda itu anggota EERSTE KAMER Belanda (Senat), salah satu lembaga perwakilan tinggi negeri Belanda disamping Tweede Kamer (DPR). Dr. Chrisward |J. Gradewitz, ternyata adalah Deputy Secretary General of the Senate, Wk Sekjen Senat. Kepada beliaulah kusampaikan 'unek-unekku' sekitar kebijakan Belanda yang kuanggap keliru dan bodoh! Mudah-mudahan meneer Gradewitz berkenan menyampaikan informasi yang didengarnya kepada yang bersangkutan di Senat.



Maksudnya tak lain tak bukan, agar semua cara dan kemungkinan dimanfaatkan dalam menggalakkan hubungan antar Indonesia dan Belanda, demi kebaikan dan kemanfaatan bagi kedua negeri dan bangsa. Termasuk memanfaatkan media radio.



Dengan demikian siaran radio seyogianya tidak seperti yang dikemukakan oleh kalangan pimpinan Radio Belnda, seakan-akan sekadar untuk 'menberikan pendidikan demokrasi' kepada Indonesia. Bukan, bukan untuk memberikan 'pelajaran demokrasi' semata. Siaran radio dari Belanda itu seyogianya, pertama-tama dan terutama demi menggalakkan hubungan baik kedua negeri dan bangsa!



* * *





Tuesday, June 26, 2012

SELAMAT ULTAH KE-33 BONNIE TRIYANA

IBRAHIM ISA
AMSTERDAM, RABU, 27 JUNI 2012
-----------------------------------------------

SELAMAT ULTAH KE-33 BONNIE TRIYANA

MY DEAR BONNIE TRIYANA, --- HARI INI, 27 JUNI, MURTI DAN AKU MENGUCAPKAN SELAMAT BERULTAH, YANG KE-33.

SELAMAT DAN BAHAGIA KEPADA BONNIE DAN SOFIA SEKELUARGA .  

TERIRING HARAPAN DAN DOA SEMOGA SUKSES DAN KEBAHAGIAAN SELALU MENYERTAI ANDA, DEAR BONNIE.

SEMOGA BONNIE SEBAGAI EDITOR IN CHIEF "MAJALAH HISTORIA ONLINE" -- MAJU TERUS PANTANG MUNDUR, SEBAGAI SATU-SATUNYA (BAGIKU) MAJALAH HISTORIA YANG DIKELOLA OLEH GENERASI MUDA, PROGRESIF DAN POPULER. MEMBERLAKUKAN AJARAN BUNG KARNO  -- "DJAS MERAH  - JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH".

HAPPY BIRTHDAY BONNIE TRIYANA!!!!

SEKITAR RENCANA PEMBELAN TANK(bekas) Belanda oleh Indonesia.


Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 26 Juni 2012
-------------------------------

KESAN MEMBACA TULISAN JOS WIBISONO
SEKITAR RENCANA PEMBELAN TANK(bekas)
Belanda oleh Indonesia.

* * *

Artikel Jos Wibisono seperti dikutip di bawah ini, ditulis dengan gaya siaran-radio yang lancar dan santai. Banyak masukan yang bisa diperoleh dari tulisan Jos itu. Yaitu sekitar kehidupan perpolitikan (tak tahu apa istilah ini cocok dipakai di sini) di kalangan parpol-parpol Belanda yang punya perwakilan di Tweede Kamer. Serta saling hubungannua dengan politik Indonesia-Belanda dari waktu ke waktu. Terima kasih, Bung Jos.

Cuma yang jadi perhatian sbb:
(Hendak diangkat di sini segi lainnya dari rame-rame jual beli tank bekas Belanda tsb)

Ribut-ribut . . . . Kok beli senjata yang 'second-hand', sih? Dan tank-tank Leopard itu, begitu banyak (katanya 200 buah) . . . . Indonesia siap-siap mau perang apa? Perang lawan siapa? Paling-paling untuk nakuti-nakuti rakyatnya sendiri. “Jangan berani-berani lho, nanti tak tembak dari . . . . tank?” Kira-kira begitukah yang dimaksudkan??

Tapi pengalaman tentara menumpas PKI, dan golongan Kiri lainnya dan akhirnya menggulingkan Presiden Sukarno, serta mendepak Gus Dur dari Istana Merdeka, juga tidak diperlukan begitu banyak tank! Paling-paling perlu beberapa kendaraan lapis saja. Dengan semburan air, bom-gas air-mata, tembakan pistol dan senapan saja, kan sudah bisa merebut kekuasaan negara dan membikin rakyat takut selama lebih 30 tahun, tokh?

Dulu saja, ketika kampanye pembebasan Irian Barat kemudian GANYANG MALAYSIA, rasanya RI tidak begitu banyak memerlukan tank? Yang mengancam kestabilan Indonesia dewasa ini dianggap paling-paling datangnya dari gerakan OPM dan (mungkin hidup kembalinya) GAM? Tapi, untuk aksi-aksi militer sekitar itu rasanya TNI tidak memerlukan begitu banyak tank. Apalagi tank-tank second-hand. Yang belum tentu cocok dengan kondisi Indonesia!

Masih ingatkah cerita pembelian (lagi-lagi) kapal perang second-hand dari Jerman ketika masih berjayanya Habibie? Malah banyak pengamat mengungkap,bahwa kapal yang dibeli Habibie itu adalah kapal rongsokan!!!

Berapa besar negara mengalami kerugian ketika itu? Dan kapal-kapal perang rongsokan itu, apa betul efektif bagi Alri? Padahal Indonesia punya galangan kapal sendiri. Mengapa bukannya galangan kapal sendiri itu yang dimodernisasi? Supaya mampu bikin kapal perang sendiri? Kan bisa belajar dari Korea Selatan bagaimana bikin kapal perang yang cepat-tangkas dan dipersenjatai modern, untuk melindungi para penangkap ikan Indonesia, dan menjaga keutuhan wilayah dan kedaulatan negeri.

Lalu mengapa kok pada ribut mau beli tank second-hand dari Belanda? Apa sekadar mau kasih unjuk bahwa pemerintah Indonesia mampu membantu Belanda yang sedang sibuk MENGHEMAT? Belanda perlu uang cepat, lalu mau jual tank-tank bekasnya. Datanglah Indonesoa mengulurkan tangan-persahabatan??

Ataukah, ataukah . . . .Mungkin masalahnya . . . . . yang tidak pernah disebut . . .. yaitu adanya KOMISI. Lalu dari siapa dan untuk siapa KOMISI itu? Bisa sampaikah tangan KPK kesitu??

Demi KOMISI ini kok tega-teganya penguasa Indonesia, menugaskan, memobilisasi para diplomat kita ??

Komentar ini bukan semata-mata dari pandangan kecurigaan, bagaimana yang berwenang-wenang di Indonesia memperoleh Komisi dari pembelian senjata atau keperluan lainnya bagi angkatan perang Indonesia. Seperti dulu ketika membeli kapal laut bekas dari Jerman? Ini sekadar menguak sedikit pengalaman jual-beli senjata antara RI dengan luarnegeri.

Kalau bukan karena masalah KOMISI, cobalah ajukan alasan dan penjelasan yang meyakinkah mengapa di saat ini kok ribut sekali mau beli tank-tank bekas dari Belanda??? Apa Indonesia betul-betul memerlukan tank-tank bekas Belanda itu?

Demikianlah, sahabat-baikku – Bung Jos Wibisono, --- kesan setelah membaca artikel Bung di Tempo.

* * *

Tank Leopard dan Diplomasi Kita”
oleh Joss Wibisono

* * *

Versi jang sedikit lain dan dalem EYD nongol di Koran Tempo
edisi 26 Djuni 2012

Debat /de Tweede Kamer/, parlemen Belanda, hari Kamis 21 Djuni itu berachir
aneh. Di luar kebiasaan, usai debat tidak diadakan pemungutan suara. Sore itu
tidak ada keputusan jang diambil. Apa pasal? Maklum pemerintah, dalam hal ini
Menteri Luar Negeri Uri Rosenthal, mentjabut rentjananja minta izin parlemen
untuk mendjual 80 unit Tank Leopard kepada Indonesia.

Tampaknja memang itulah satu2 nja pilihan sang Menlu. Maklum dia berhadapan
dengan parlemen jang, dalam majoritas, menentang rentjana itu. Dengan mentjabut
usulnja, berarti pemerintahan demisioner Perdana Menteri Mark Rutte jang djatuh
April silam, menjerahkan soal pendjualan tank ini kepada pemerintah baru hasil
pemilu 12 September mendatang.

Menghadapi debat ini, pemerintah Belanda sebenarnja sudah mengambil langkah2
memadai. Misalnja telah dilakukan pengetjekan pada peraturan ekspor Uni Eropa,
dan dipastikan rentjana pendjualan tank ke Indonesia tidak melanggar aturan itu.
Lebih dari itu, duta besar hak2 asasi manusia Lionel Veer djuga sudah diutus ke
Indonesia untuk mentjari tahu perihal situasi hak2 asasi manusia. Veer
menjatakan dalam bidang demokrasi dan hak2 asasi manusia Indonesia sudah
mengalami kemadjuan pesat. Tetapi sang dubes masih mengchawatirkan situasi
Papua, walaupun pemerintah Belanda jakin Tank Leopard tidak akan dikerahkan ke sana.

Sudah sedjak achir tahun lalu, tak lama setelah Indonesia mengumumkan niatnja
membeli tank Belanda jang diobral, parlemen Belanda menentang rentjana ini.
Anggota Fraksi GroenLinks Arjan El Fassed jang berdarah tjampuran Palestina
Belanda mengadjukan mosi menentang rentjana itu. Alasannja kinerdja hak2 asasi
manusia Indonesia tidak mejakinkan. Mosi ini mendapat dukungan partai2 oposisi
lain, termasuk, menariknja, PVV, partai pimpinan Geert Wilders jang anti muslim
serta anti pendatang.

Wilders waktu itu masih merupakan /gedoogpartner/ (mitra koalisi jang tak ikut
memerintah) dua partai jang berkuasa, jaitu partai konservatif VVD dan partai
kristen demokrat CDA. Bagaimana bisa demikian? Bukankah sebagai mitra koalisi
Wilders djuga harus mendukung pemerintah? Ternjata waktu itu ada kesepakatan
dengan PVV bahwa partai ini akan bersikap “se-olah2 tidak melihat” kalau
parlemen memperdebatkan pendjualan tank kepada Indonesia

Masalahnja bertambah rumit ketika Kabinet Perdana Menteri Mark Rutte djatuh
achir April lalu. PVV pimpinan Wilders merasa tidak terikat lagi pada
kesepakatan itu. Artinja, mereka tetap mendukung mosi parlemen jang menentang
pendjualan Tank Leopard kepada Indonesia. Kalau partai2 lain mempermasalahkan
hak2 asasi manusia, PVV punja alasan lain. Partai ini bersitegang Belanda tidak
boleh berhubungan dengan negara Islam dan karena penduduknja majoritas Islam,
Indonesia bagi mereka termasuk negara Islam.

Penolakan /de Tweede Kamer/ menimbulkan pertanjaan baru. Apalagi kalau mengingat
parlemen Belanda mengizinkan pendjualan kapal perang Korvet kepada Indonesia.
Mengapa Korvet diizinkan sedangkan Leopard tidak?

Ada tiga kemungkinan jawaban. Pertama komposisi kabinet Belanda waktu izin
pendjualan Korvet keluar. Waktu itu, tahun 2004, di Belanda berkuasa Kabinet
Balkenende II jang terdiri dari partai kristen demokrat CDA, partai konservatif
VVD dan partai demokrat D66. Tiga partai ini menguasai majoritas parlemen,
sehingga mosi menentang pendjualan Korvet jang diajukan Partai Sosialis SP tidak
memperoleh majoritas.

Djawaban lain adalah pemilihan umum jang akan berlangsung 12 September
mendatang. Untuk itu pelbagai partai politik Belanda ingin tampil se/sexy/
mungkin di hadapan pemilih. Karena itu kalangan partai kiri memegang teguh
prinsip mereka, termasuk prinsip menghormati hak2 asasi manusia. Mereka menolak
berkompromi dengan dua partai kanan jang berkuasa.

Kemungkinan ketiga adalah kemampuan politisi Belanda membedakan Angkatan Laut
dari Angkatan Darat kita. Di zaman Orde Baru AD lebih banjak terlibat pada
pelanggaran hak2 asasi manusia ketimbang AL. Selain itu Belanda djuga paham
Indonesia perlu mendjaga integritas wilajahnja dan bagi negara kepulauan, itu
adalah tugas Angkatan Laut.

Pada dasarnja memang partai2 kirilah jang menentang pendjualan sendjata kepada
negara2 jang dianggap melanggar hak2 asasi manusia. Selain PVV jang punja
alasan sendiri, mosi anti pendjualan Tank Leopard kepada Indonesia digerakkan
oleh partai2 kiri: GroenLinks (kiri hidjau), SP (Partai Sosialis), Partij van
de Arbeid (Partai Buruh). Lalu masih ada partai ketjil ChristenUnie jang
beraliran kristen ortodoks dan selalu membela orang2 Papua.

Di sini langsung tampak betapa partai2 kiri merupakan ladang jang masih belum
digarap oleh diplomasi Indonesia. Harus diakui selama ini diplomasi kita hanja
merapat pada partai2 kanan. Maklum hanja kalangan kanan jang mendukung
Indonesia di masa Orde Baru. Sebagai pengganjang PKI dan partai kiri lain, Orde
Baru selalu alergis terhadap kalangan kiri.

Puntjaknja adalah ketika orang kuat Orba murka terhadap Jan Pronk (Menteri
Kerdjasama Pembangunan, anggota Partai Buruh PvdA) karena mengetjam bandjir
darah Santa Cruz, November 1991. Waktu itu batuan Belanda dihentikan, organisasi
donor IGGI dibubarkan dan si menteri kiri Jan Pronk ditjekal.

Dengan bubarnja Orde Baru zaman tentu sadja berubah. Kalau di zaman reformasi
ini Djakarta terus2 an mendesak pihak luar negeri supaja menggunakan katjamata
lain dalam melihat Indonesia, maka Indonesia sendiri pada gilirannja harus sadar
pula bahwa diplomasinja selama ini djuga berat sebelah.

Ketika mendjabat duta besar RI untuk Keradjaan Belanda, mendiang Fanny J. E.
Habibie djuga dikenal dekat dengan politisi kanan Belanda. Dua di antara mereka,
Hans van Baalen (partai konservatif VVD) dan Ben Bot (partai kristen demokrat
CDA) bahkan dianugerahi bintang Mahaputra pada tahun 2009. Djangankan
dianugerahi bintang, dekat dengan kalangan kiri sadja tidak pernah diupayakan
oleh diplomasi Indonesia jang menganggap dirinja negara besar.

Hanja ketika Gus Dur mendjabat RI satu, politisi kiri Belanda merapat ke
Indonesia. Dipelopori oleh Ad Melkert (ketua fraksi PvdA di parlemen) jang kawan
dekat Gus Dur semasa INFID, mereka memudji demokratisasi jang melanda Indonesia.
Walau begitu, Marijke Vos, politikus GroenLinks (kiri hidjau), sempat mendebat
Gus Dur soal kekerasan di Maluku. Sajang kedekatan ini tidak dikembangkan lebih
landjut. Salah satu sebabnja, mungkin, Indonesia sampai sekarang belum djuga
mengenal partai berhaluan kiri. Ini djelas berbeda dengan zaman awal republik,
waktu itu PvdA masih bisa menemukan /geestverwant/ (mitra sealiran) pada diri PSI.

Sekarang sudah tiba saatnja diplomasi Indonesia diperlebar dengan mendekati
partai2 kiri Belanda. Duta Besar Retno Marsudi jang sempat ditolak ketika mau
bertemu Diederik Samson, pemimpin Partai Buruh, harus pandai2 mengerahkan
segenap daja pesona diplomasinja supaja bisa dekat dengan kalangan kiri. Apalagi
karena djadjak pendapat meramalkan partai2 kiri itu akan menang pemilu 12
September mendatang.

Tanpa upaja mendekati kalangan kiri, penundaan pendjualan Tank Leopard bisa
berubah mendjadi pembatalan. Ketjuali kalau memang mau belandja Leopard di
Djerman jang djelas2 lebih mahal.***


Sunday, June 24, 2012

“DJAS MERAH”, kata BUNG KARNO



Kolom IBRAHIM ISA
Minggu, 24 Juni 2012
---------------------------------------

DJAS MERAH”, kata BUNG KARNO
Djangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”

Ini adalah kata-kata, adalah ajaran, dan petuah Bung Karno pada generasi penerus dan seluruh bangsa. Ajaran Bung Karno tsb dikemukakannya dalam pidato beliau pada “Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, 17 Agustus, 1966. Imbauan Bung Karno tsb amat menyolok dan punya arti sejarah poenting sekali. Mengundang perhatian, karena justru diserukannya pada saat ketika dimulainya kudeta merangkak Jendral Suharto dan pendukung-pendudukungnya.

Pada saat dimulainya persekusi, pengejaran, penyiksaan, pemenjaraan dan eksekusi ekstra-judisial besar-besaran terhadap golongan Kiri dan pendukung Presiden Sukarno.

Imbauan Presiden Sukarno mengenai JASMERAH, punya nilai sejarah yang harus dicamkan bangsa ini. Karena mulai period ini Jendral Suharto menegakkan rezim Orde Baru, yang memporak-porandakan pengertian dan makna sejarah bangsa. Rezim Orde Baru adalah suatu kekuasaan yang tak-tahu-malu dan terang-terangan memalsu dan merekayasa sejarah semata-mata untuk berkuasa dan melanggengkan kekuasaannya.

Namun Orde Baru gagal total dalam niat jahatnya hendak menenggelamkan dan menghapuskan samasekali peranan dan jasa-jasa seorang tokoh nasional penegak-pembina bangsa serta proklamator kemerdekaan bangsa: BUNG KARNO.

Ajaran Bung Karno mengenai arti penting pemahaman sejarah bangsa, selalu harus diingat dan berupaya diberlakukan di sepanjang hidup kita sebagai bangsa. Pengalaman membangun dan memperkokoh nasion Indonesia yang masih muda, dibanding dengan nasion-nasion lainnya seperti India, Tiongkok dan Jepang umpamanya; -- Menunjukkan sekaligus betapa dalam dan fundamentilnya pengertian dan visi Bung Karno mengenai masalah bangsa.

Bangsa kita, --- di satu segi berjuang untuk kemerdekaan nasional. Di segi lainnya, bersamaan dengan itu terus-menerus bergumul dan berjuang, pantang mundur dalam proses membangun dan memperkokoh KESADARAAN BERBANGSA serta mengkonsolidasi persatuan bangsa.

Proses Kesadaran berbangsa itu, berjalan bersamaan dengan proses perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme, untuk menjadikan nasion muda ini suatu bangsa yang merdeka, berdaulat, berdiri sama derajat dengan bangsa-bangsa lainnya di mancanegara, adil dan makmur.

Berbahagialah bangsa kita ini memiliki pemimpin-pemimpin, pendahulu-pendahulu dalam perjuangan gagah berani melawan kolonialisme Belanda, pejuang-pejuang melawan pendudukan militer Jepang. Berbahagialah kita memiliki pemimpin-pemimpin Republik Indonesia yang memimpin perjuangan bangsa ini berperang melawan tentara Inggris, yang datang atas nama Sekutu untuk mengurus penyerahan Jepang di Indonesia dan para warganegara Hindia Belanda yang ditawan Jepang.

Kita mengalaminya, bahwa Inggris yang datang atas nama Sekutu itu, diam-diam membawa 'boncengan', a.l yang terpenting adalah Van Mook, dari Australia. Van Mook yang punya tugas utama NICA ( Netherlands Indies Civil Administgration). Yaitu untuk mengembalikan kekuasaan Hindia Belanda atas Indonesia. Mengembalikan 'kedaulatan' Kerajaan Belanda atas 'daerah-daerah seberang lautan', khususnya atas Indonesia, yang sudah memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negeri. Yang sudah menegakkan NEGARA REPUBLIK INDONESIA.

* * *

Berbahagialah kita memiliki pemimpin-pemimpin nasional yang juga TIDAK LUPA MENULIS, mendokumentasikan jadi aset sejarah. Yaitu hal-hal bersangkutan dengan perjuangan kita menjadi suatu bangsa baru, dengan perjuangan kermerdekaan nasional. Maka kita memiliki pemimpin-pemimpin perjuangan kemerdekaan seperti Ir Sukarno yang menuliskan visi, strategi dan taktik perjuangan bangsa, seperti a.l tertera dalam dua bukunya “Di Bawah Bendera Revolusi”. Perlu khusus diangkat pidato beliau dimuka Pengadilan kolonil Belanda, di Bandung berjudul “Indonesia Menggugat” dan pidato beliau pada tanggal 1 Juni 1945 “Lahirnya Pancasila”, dll.

Tercatat pula dalam tulisan bersejarah visi nasional dan pengalaman perjuangan seperti ditulis oleh Tan Malaka (“Dari Penjara ke Penjara” dan “Madilog”, dll). Seperti tulisan Drs Moh Hatta mengenai Masalah Koperasi dan Otobiorgrafinya. Tulisan Sutan Syahrir , “Perjuangan Kita” dan “Renungan Indonesia”; serta tulisan tulisan Haji Agus Salim, Ki Hajar Dewantoro dll. Semuanya itu merupakan dokumen otentik sekitar perjuangan bangsa ini dalam proses menjadi suatu nasion baru yang bersatu, untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Dari tokoh-tokoh partai politik kita temui tulisan-tulisan yang sistimatis dan programatis mengenai perjuangan kemerdekaan bangsa untuk kemerdekaan dan keadilan; untuk suatu Indonsia yang sosialis. Menonjol diantaranya serta terdokumentasi adalah tokoh pemimpin parpol D.N. Aidit, Ketua CC PKI. Tulisan-tulisan dan pidato DN Aidit yang terpenting di muat dalam bukunya “Pilihan Tulisan Aidit” (PTA), terbitan Yayasan Pembaruan. DN Aidit dengan jelas mengemukakan visinya mengenai bangsa dan perjuangan untuk mencapai suatu Indonesia yang kokoh, adil dan makmur.

* * *

Tulisan-tulisan para pejuang kemerdekaan pendahulu kita itu, selain menguraikan visi dan misi mereka, strategi dan taktik perjuangan bangsa untuk kemerdekaan nasional, juga menguraikan situasi dan kondisi bangsa dan negeri ini dalam periode-periode penting dalam sejarah bangsa.

Dengan demikian merupakan aset berharga dalam penelitian, penulisan dan pendidikan sejarah untuk generasi muda. Merupakan bahan input tak ternilai dalam menyusun penulisan yang menyeluruh dan kesatuan utuh tentang sejarah bangsa.

* * *

Disinilah relevansi prakarsa dan ajakan kerjasama tiga lembaga penelitian sejarah Belanda untuk melakukan riset dan studi, mengkaji kembali sejarah hubungan Indonesia-Belanda, khususnya mengenai kekerasan militer yang dilakukan oleh Belanda di Indonesia dalam periode 1945-1949. Suatu periode peperangan yang berlangsung antara Indonesia dan Belanda, disebabkan politik Belanda ketika itu untuk menghancurkan Republik Indonesia, mengembalikan Indonesia di bawah kekuasaan kolonial Belanda.

Salah seorang sejarwan muda Indonesia, Bambang Purwanto telah menyatakan sambutannya sehubungan dengan uluran tangan sejarawan-sejarawan Belanda itu.

Kita baca a.l dalam tulisan Joss Wibosono dari Ranesi (Radio Nederland Seksi Indonesia), bagian dari Radio Nederland Wereld Omroep, sbb:

“Usul mengadakan penelitian ini juga dilengkapi dengan seruan untuk melibatkan kalangan Indonesia. Dan sudah ada seorang gurubesar sejarah Indonesia yang diwawancarai, itulah Prof. Bambang Purwatno dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Menyambut baik ajakan ini Bambang Purwanto tetap berhati-hati, katanya, kalau ia memahami langkah Belanda, maka itu bukan berarti ia juga menyetujuinya.

“Bambang paham: dalam soal istilah saja Indonesia sudah berbeda dari Belanda. Belanda misalnya menggunakan istilah politionele actie (aksi polisi) sementara bagi Indonesia itu adalah agresi militer. Kemudian pada akhirnya Indonesia menyebut Belanda mengakui kemerdekaannya, seperti berlangsung di Amsterdam pada tanggal 27 Desember 1949. Belanda menyebut upacara di Istana De Dam itu sebagai "penyerahan" kedaulatan.

"Bagi saya Hindia Belanda itu sudah berakhir pada tahun 1942. Tuan penjajah kita waktu itu ganti dengan masuknya Jepang", demikian Bambang Purwanto. Baginya yang terjadi pada tahun 1945 sampai 1949 itu adalah langkah Indonesia mempertahankan proklamasi kemerdekaannya. Belanda yang belum bisa menerima itu mencoba membangun kembali kekuasaan kolonialnya. "Ya, otomatis yang terjadi adalah konflik!" Tegas Bambang.

“Bambang juga melihat di Indonesia sendiri kenyataannya tidak semudah yang digambarkan orang. Tidak semua orang Indonesia menghendaki Belanda diusir dengan kekerasan militer. Ada kelompok yang mau bernegosiasi sehingga muncullah pelbagai macam perjanjian damai, mulai dari Linggarjati sampai Renville. Sampai kemudian menghasilkan apa yang disebut Meja Bundar. Di lain pihak juga ada kelompok yang mengatakan Indonesia merdeka 100%. Mereka tidak setuju dengan diplomasi atau perundingan, karena Indonesia sudah merdeka.

"Kenapa kita tidak memanfaatkan data Belanda. Kalau kita bicara tentang periode 1945-1949 seakan-akan datanya hanya yang berasal dari Indonesia saja. Padahal data Belanda tentang itu banyak sekali".

“ . . . . Bambang juga berpendapat Belanda tidak bisa hanya menggantungkan diri pada dokumen yang ada di arsip Belanda. Menurutnya Belanda juga harus mendengar apa yang dikatakan dan dialami oleh orang Indonesia. "Jadi saya kira ini akan membangun sebuah keseimbangan historiografis sehingga orang bisa saling mengerti". Demikian a.l. Tulis Joss Wbisono dari Radio Hilversum ( yang sayang pada tanggal 29 Juni 2012 nanti menghentikan siarannya).

* * *

Bila proyek penelitian bersama berkenaan dengan sejarah hubungan Indonesia-Belanda, menjadi realita, maka yang terpenting adalah agar yang bersangkutan dengan sungguh-sungguh mengikutsertakan banyak historikus muda kita, dan melibatkan seluruh masyarakat cinta-sejarah dalam usaha besar ini.

Semoga akan menjadi kenyataan dan memperoleh dukungan semakin meluas AJARAN BUNG KARNO---

JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH -- “DJAS MERAH”.

* * *