Tuesday, November 20, 2012

*INNA LILLAAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUUN . . .*

IBRAHIM ISA
Amsterdam, Senin ,  05 November 2012

------------------------------------

*INNA LILLAAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUUN . . .*


Bung Mintardjo y.b*,

INNA LILLAAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUUN . . .
Semoga arwah beliau diterima Tuhan Y.M.E  di sisiBeliau. Amien . . .

Terkejut dan sedih kami mendengar berita meninggalnya istrinda tercinta  Lilyana Gabriela Mintardjo pada hari Jum'at pekan lalu.
Mengharapkan Bung sekeluarga tabah dan tawakkal menghadapi hari-hari duka ini.

Gabriela, sejak saya kenal beliau di rumah Bung sekira 30 tahun yang lalu, memberikan kesan mendalam
sebagai seorangistri yang setia dan selalu mendampingi suaminya dengan sepenuh hati. Beliau, seperti
kukenal sejak dulu, adalah pendiam tetapi selalu RAMAH dan dengan segala senang hati, menerima banyak
kawan, baik kawan-kawan lama, maupun mahasiwa-mahasiswa serta tamu-tamu yang datang ke Leiden, berkunjung
 ke rumah Bung untuk bertemu muka, maupun cakap-cakap atau ceramah soal-soal penting tanah air.

Di situLilyana Gabriela selalu siap menerima tamu dengan hati yang hangat dan ceria.

Tak terfikirkan Bung Mintardjo tanpa ada Lilyana Gabriela di sisi Bung.

Kenang-kenangan ini mencengkam siapa saja yang datang berkunjung ke rumah Bung di Oestgeest, yang lama kita kenal sebagai OPEN HOUSE INDONESIA sejati!

Sekali lagi mengharapkan dan mendoakan keluarga Mintardjo tabah menghadapi hari-hari duka ini. Amien . . .

* *    *


*

WAYANG dalam SYMPHONY -- Di TAMAN ISMAIL MARZUKI,

*IBRAHIM ISA
Amsterdam, 01 Nov. 2012
------------------------



WAYANG dalam SYMPHONY --  Di TAMAN ISMAIL MARZUKI,

Minggu 04 Nov, 2012, Jakarta.



Kawan-kawan y.b.,

Kemarin aku menerima siaran dari John McGlyn, Ketua "The Lontar Foundation", bersangkutan dengan rencana mereka pada tanggal 04 November yad,  dengan bekerjasama dengan Orkes Simfoni Jakarta akan menghidangkan konser berjudul "Wayang in Symphony", di "Grand Performance Hall", di Pusat Seni Jakarta,  Taman Ismail Marzuki.
(Isi surat lengkap dari John McGlyn, terlampir).

Bagi penggemar dan pencinta budaya musik simfoni dan Cerita Wayang, yang tinggal di Jakarta maupun yang dekat-dekat situ, dan punya syaratnya, disarankan untuk hadir pada pertunjukan musik simfoni yang unik ini.

Suatu kesempatan  yang jarang ada ---
Selama 90 menit menikmati musik simfoni yang bertema Cerita Wayang.

Selamat menikmatinya,

I.Isa

*    *    *


October 31, 2012

Dear Ibrahim Bramijn,

This past Sunday, October 28, marked the 25th anniversary of the founding of the Lontar Foundation. Twenty-five years... That's a long time for an Indonesian non-profit organization to survive and well worth celebrating but because Idul Adha, the Muslim Feast of Sacrifice, fell on the preceding Friday we decided to postpone our celebration. Now, our party will be held on November 24 when we, in cooperation with the Jakarta Symphony Orchestra, will host a concert titled "Wayang in Symphony" at the new grand performance hall at Taman Ismail Marzuki, the Jakarta Arts Center.

You might remember that Lontar has for the past 5 years been working on a Wayang Education Package. Now almost ready for release, this package will contain 6 documentary films of 6 shadow puppet performances (with subtitles in English and Indonesian for a total duration of 35 hours), 6 volumes of text---2 in Javanese, 2 in Indonesian, and 2 in English---and a separate volume of gamelan notation from the 6 performances. Truly a landmark work!

One of the shadow plays we documented in the process of making the Package was Makutharama or Rama's Crown whose story revolves around a special heavenly power (wahyu) capable of bestowing on its owner glory, honor, and power. This particular wahyu, known as "Makutharama" contains eight elements (hasta brata) of the natural world that serve as models for the behavior of a country's leaders.

1.    Earth: a leader must strong and prosperous, capable of fulfilling the people's needs;
2.    Fire: a leader must be uncompromising, especially in dispensation of justice;
3.    Water: a leader must give spirit and life to his people;
4.    Wind: a leader must promote a sense of well being for the people;
5.    Starlight: a leader must provide direction for the people;
6.    Moonlight: even in darkness, a good leader provides light for the people;
7.    The Sun: a leader must give energy to the people; and
8.    Clouds: behind every cloud, a solution can be found and from dark clouds spring rains that bring benefit to the earth and its people.

At the concert, the Jakarta Symphony Orchestra will present a 90 minute orchestral piece inspired by these principles and their natural elements.

At this particular juncture in Indonesian history, when leadership is frequently viewed as either something that is inherited or a commodity that can be bought, we at Lontar feel that it is time for this country's leaders to review the many lessons for leadership that can be found in indigenous Indonesian texts.

Through the concert, we hope to raise funds to support future Lontar activities. For more information about the concert and how to buy tickets for Wayang in Symphony, go to: www.wayanginsymphony.weebly.com. Additional information may be found at www.facebook.com/WayangInSymphony.



Yours sincerely,


John McGlynn
Chairman, Board of Trustees



This message was sent to i.bramijn@chello.nl. If you do not wish to receive any further mailings from Lontar, please click here to unsubscribe.

The Lontar Foundation
Jl. Danau Laut Tawar No. 53, Pejompongan, Jakarta 10210 Indonesia
Tel:+62 21 574-6880 Email contact@lontar.org
Follow us on Twitter,  Join us on Facebook

*
*Kolom IBRAHIM ISA**
**Amsterdam, Rabu, 31 Okt 2012**
--------------------------------*



          JOKOWI --- MAKNA BERKURBAN PADA LEBARAN HAJI
          
          Atau BERKURBAN, MENGABDI MASYARAKAT SEUMUR HIDUP!
          * * *

          Hari ini kubaca berita menarik sekali (di mailist Gelora 45)
          tentang Pemahaman dan yang Dipraktekkan Jokowi Sekitar
          BERKURBAN, sbb:

          Jokowi , Marzuki ....uih jaaauuhh!

          Kurban Marzuki Alie dan Kurban Jokowi (Makna Hakiki Kurban)
          . . . . . . . . .

          Di bawah ini dimuat sebagian dari berita tsb.

          . . . . .


          . . . Berbeda dengan Marzuki, . . . . . .


          Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo alias Jokowi malah menolak
          mengatakan berapa banyak kurban yang diserahkan olehnya.
          Menurutnya, hal itu tidak etis untuk diungkapkan. "Tidak perlu
          disebutkan, ria' namanya, " ujar Jokowi seusai menghadiri
          penyerahan hewan kurban Presiden SBY kepada Masjid Istiqlal,
          Jumat, 26/20/2012. (Kompas.com, 26/10/2012).

          Jokowi bilang, baginya perayaan Idul Adha memiliki makna
          tersendiri. Yaitu, meningkatkan derajat manusia di hadapan
          Allah. Namun, untuk dapat menjadi demikian, seseorang harus
          berkurban kepada sesamanya. Berkurban bagi sesamanya itu
          diwujudkan oleh Jokowi dengan semangat pengabdiannya kepada
          warga masyarakat yang dipimpinnya. Baik ketika dia menjadi
          Walkota Solo, maupun setelah, kini, menjadi Gubernur DKI
          Jakarta, sebagaimana kita saksikan selama ini.

          Jokowi, tidak sekadar membatasi semangat berkurbannya itu
          hanya pada hari raya Idul Adha seperti sekarang, atau hanya
          sebatas berkurban dengan memberi sumbangan berapa banyak hewan
          kurban yang diserahkan. ***


          (October 30 2012 by Daniel H. T / Kps / IM)
          *http://www.indonesiamedia/*www.indonesiamedia
         


          * * *

*
*

*
*


*Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 30 Oktober, 2012
------------------------*



*BELANDA BENTUK (Lagi)) KABINET *

*KOALISI “KIRI” (PvdA) DAN “KANAN”(VVD)*



Gejala ini ni bukan untuk pertama kalinya. Yaitu terbentuknya koalisi antara parpol “Kiri” dan parpol “Kanan” dalam kehidupan 'perpolitikan' negeri Belanda.


Seusai Perang Dunia II, paling tidak telah berlangsung empat kali kabinet Drees (PvdA) yang berkoalisi dengan parpol-parpol “Kanan”(KVP,VVD dsb). Tidak heran Drees (PvdA) terlibat melakukan agresi (1948) terhadap Republik Indonesia. Agresi itu mereka bilang “Politieonele Actie”. Katanya, untuk menegakkan “kedamaian, hukum dan ketertiban” di Hindia Belanda. Ide keliru ini masih nyangkut sampai sekarang pada sementara politisi dan kalangan sejarawan Belanda.


Itulah sebabnya mereka sulit melakukan pelurusan sejarah Belanda. Mereka ada kesulitan untuk 'berdamai' dengan masa lampaunya sebagai negara penjajah. Mereka itu masih saja beranggapan bahwa “kita (Belanda) tokh juga melakukan hal-hal yang positif di Indonesia, terutama sejak awal abad keduapuluh (etische politiek). --


Ensiklopedia Bebas Wikipedia, menjelaskan sbb: *Politik Etis*atau *Politik Balas Budi*adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa (cultuurstelsel) pemerintah Hindia Belanda terhadap kaum tani Indonesia, yang menyebabkan kematian ribuan kaum tani, karena dipaksa mengelola di tanah mereka tanam-tanaman seperti kopi, teh dsb untuk mengisi kas negeri Hindia Belanda dan Den Haag. Perhatian kata mereka, harus ditujukan pada masalah pendidikan, irigasi dan emigrasi yang katanya akan “memperbaiki” peri kehidupan rakyat Bumiputra.


Dalam praktek “politik etis” Hindia Belanda itu tak banyak kebaikannya bagi rakyat. Karena di segi lain penindasan politik terhadap gerakan kemerdekaan bertambah keras dan kejam.


* * *


Dalam dua-tiga dasawarsa ini, Wim Kok (PvdA) dua tiga kali berkoalisi dengan papol Kanan (VVD). PvdA menamakan dirinya partai buruh; masih menyanyikan lagu kaum buruh sedunia “Internationale”, setiap memperingati ultah partainya. Tapi . . . . yah, sempat melakukan perang agresi terhadap Republik Indonesia. Selanjutnya memberikan dukungan politik dan finansiil terhadap rezim Orde Baru Suharto yang melakukan pelanggaran HAM berat.


Sebenarnya seperti apa dan bagaimana, yang di Belanda ini dinamakan “Kiri” dan mana pula yang “Kanan”. Terhadap pertanyaan ini bisa diperoleh berbagai jawaban. Tergantung siapa yang ditanya. Kalau yang ditanya orang Marxis Belanda yang merasa dirinya “Marxis murni”, ia akan menjawab bahwa VVD, Partai Liberal Belanda yang pemimpinnya adalah Mark Rutter, itu jelas adalah parpol “Kanan”. Karena VVD membela sistim ekomomi kapitalis. VVD adalah partainya orang kaya dan yang berada. Sering menuntut agar pajak orang-orang yang berduit, orang kaya, supaya dikurangi. Katanya demi “pertumbuhan” ekonomi. Di segi lain subsidi negara di bidang sosial/budaya agar dikurangi. Di bidang ekonomi dan finans mereka menganggap seharusnyalah jalannya ekonomi biar ditentukan oleh mekanisme “pasar” yang dengan sendirinya mengatur kehidupan dan jalannya ekonomi negri. Ini berarti memberikan kebebasan kepada kaum modal untuk semaunya mengeksploitasi kaum buruh dan karyawan. Negeris seharusnya jangan campur tangan dalam urusan ekonomi negeri.


VVD kira-kira sama dengan partai Republik di AS. Dan jawaban terhadap pertanyaan siapa atau parpol mana yang “Kiri”, maka “Marxis murni” Belanda tadi itu akan menjawab, yang “Kiri”, benar-benar Marxis, sekarang ini adalah parpol SP (Sosialis) dan “Groen Links”. Karena CPN (Partai Komunis) sudah dibubarkan dalam tahun 1991. Munculllah NCPN, yang menganggap dirinya “Marxis murni”.


Maka PvdA, dinilai sebagai parpol SOSDEM, Sosial Demorat. Partai Buruh dianggap “nyebal” dari Mar xisme. Mengkhianati Marxisme. PvdA sesungguhnya bukan parpol “Kiri”. Mereka itu hanya melakukan kegiatan sosial-ekonomi semata untuk memperbaiki peri kehidupan kaum 'minima'. Yang disebutnya tuntutuan-tuntutn sosial ekonomi kaum sosial demokrat.


Namun, masyarakat umumnya dan juga orang-orang PvdA, menganggap bahwa PvdA tergolong kekuatan politik “Kiri”. Demi kepentingan “negeri” dan “pertumbuhan ekonomi” harus berkoalisi dengan parpol Kanan (seperti VVD). PvdA mengajukan 'Solidaritas' sebagai salah satu semboyan utama politik mereka. Artinya harus bersolidaritas pada orang-orang yang “minima”, rakyat biasa yang berpenghasilan kecil. Harus memberikan pelbagai subsidi negara terhadap bidang pendidikan, kesehatan dan perumahan umum. Ini adalah kewajiban pemerintah memperhatikan peri kehidupan rakyat.


Dalam pemilihan umum untuk parlemen di Belanda yang baru lalu, pemilih telah menentukan pilihan mereka. Mayoritas pemilih memberikan suara mereka kepada VVD dan PvdA. Yaitu pada parpol-parpol yang dianggap “Kiri” dan “Kanan”. Dari sini dinilai bahwa mayoritas masyarakat menginginkan dua partai yang, sebenarnya dalam tujuan strategisnya bertentangan satu sama lainnya, harus melakukan kerjasama, berkoalisi membangun “pemerintahan yang stabil” demi keluar dari krisis ekonomi yang melanda Eropah, --- demi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Belanda selanjutnya. Agar negeri Belanda ada dalam posisi sanggup menghadapi persaingan ekonomi dunia.


Maka terjadilah lagi kompromi antara “Kiri” dan “Kanan”. Sebenarnya ini bukan gejala Belanda saja. Dan bukan baru sekarang. Dalam kehidupan politik internasional di masa lalu, antara Jerman Hitler dengan Barat pernah terjadi kompromi, sambil mengorbankan kepentingan negeri kecil di Eropah. Itu katanya demi untuk melawan “Komunisme Sovyet”. Stalin juga pernah kompromi dengan Jerman Hitler dengan tujuan agar Uni Sovyet tidak dikeroyok Barat bersama Jerman Hitler.


Kuomintang yang ketika itu berkuasa di Tiongkok juga “dipaksa” oleh keadaan untuk melakukan kerjasama, bahkan mengadakan “front nasional” dengan Partai Komunis Tiongkok, untuk menghadapi agresi Jepang terhadap Tiongkok. Dan Tingkok yang puluhan tahun lamanya berkonfrontasi terhadap Amerika Serikat, sekarang ini bekerjasama demi “pertumbuhan ekonomi kedua negeri, kestabilan ekonomi dunia, serta untuk perdamaian dunia” .


Coba tengok, saat ini dunia sedang menyaksikan dimulainya proses “perundingan perdamaian” antara pemerintah Kolombia yang “Kanan” dengan pejuang-pejuang gerilyawan FARC yang Marxis, yang “Kiri”, Itu semua adalah demi perdamaian dan pembangunan negeri..

* * *


Di Indonesia PKI pernah dituduh memberontak – halamana dibantah keras oleh PKI. Sampai-sampai PKI mengeluarkan Buku Putihnya sendiri. Dan DNAidit pernah mengajukan masalah tsb di pengadilan Jakarta pada tahun 1950-an. DN Aidit membantah yang dianggapnya kebohongan besar bahwa PKI memberontak di Madiun terhadap pemerintah RI di Jogyakarta. Belum lama ini Sumarsono, mantan Gubernur Militer Madiun, salah seorang pejuang dalam pertempuran terbesar melawan Inggris di Surabaya (1946), mengulangi lagi bantahannya: PKI tidak memberontak di Madiun.


Memang janggal tampaknya sikap pemerintah RI sejak 1950. Di satu pihak tidak menarik kembali tuduhannya bahwa PKI berontak di Madiun. Juga tidak mengajukan PKI ke pangdilan. Sebaliknya malah membiarkan wakil-wakil PKI di DPR, dan PKI ambil bagian dalam pemilu 1954. Lalu terjadilah kerjasama dan koalisi panjang antara Presiden Sukarno yang mewakili kekuatan kaum nasionalis tengah dan progresif dengan PKI.


Sejarah kita menunjukkan bahwa di masa lampau di Indonesia juga terjadi koalisi antara “Kiri” dengan “Tengah” dan “Kanan”, di saat terdapat landasan kerjasama yang lebih besar dan dianggap lebih penting. Ini dibuktikan ketika “Kiri”, “Tengah” dan “Kanan” bekerjasama bahkan bersatu mendukung Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan membela Republik Indonesia terhadap serangan kolonialisme dan imperialisme.


* * *


Dengan demikian “koalisi” dan kerjasama antara kekuatan politik “Kiri”, “Tengah” dan “Kanan” adalah bagian dari kehidupan politik nasional maupun internasional.


Maka ketika pagi ini, --- aku papasan dengan sahabat kami dari PvdA di Zuidoost, aku menjabat tangannya mengharapkan PvdA bisa berhasil membawa kebaikan pada negeri ini:


Dan sahabat Belanda dari PvdA, berreaksi dengan cerah sambil mengatakan:

Yah demi kemajuan negeri ini, saya harapkan club PvdA-VVD ini akan stabil.


* * *

*Ibrahim Isa-FILE– REFERENSI SEJARAH –
SUMPAH PEMUDA , 28 OKTOBR 1928*
--------------------------------------

 
 
*Hari Sumpah Pemuda- Sie Kok Liong *

Minggu, 28 Oktober 2012 | 19:02 WIB
*
Sie Kok Liong, Bapak Kos Deklarator Sumpah Pemuda *


TEMPO.CO, Jakarta--Pemilik bangunan di Jalan Kramat Raya Nomor 106, yang menjadi tempat deklarasi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dibacakan, Sie Kok Liong, jarang disebutkan dalam buku sejarah. Namun Sie Kok Liong adalah "bapak kos" sejumlah pemuda yang mencatat namanya dalam sejarah dengan mendeklarasikan Sumpah Pemuda.

Tercatat Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifuddin, A.K. Gani, Mohammad Tamzil, dan Assaat dt Moeda pernah tinggal di sana. "Perlu keberanian luar biasa untuk menyediakan tempat buat kelompok pergerakan pada masa itu," kata Ketua Umum Suara Kebangsaan Tionghoa Indonesia, Eddie Kusuma, dalam artikel Jejak Samar Bapak Kos Dokter Politik dari Timur di majalah Tempo, 2 November 2008.

Rumah Kramat 106 menjadi tempat pemondokan pelajar dan mahasiswa di Jakarta. Kala itu, rumah kos di kawasan Salemba dan sekitarnya bermunculan lantaran asrama tidak bisa menampung mahasiswa dan pelajar dari luar kota. Pemilik kos biasa disebut kosthuis. Sedangkan anak kos laki-laki disebut kostjongen dan kos perempuan disebut kostmeisjes.

  Dalam buku Panduan Museum Sumpah Pemuda, gedung Kramat 106 disebutkan sebagai tempat tinggal pelajar yang tergabung dalam Jong Java sejak 1925. Mereka kebanyakan pelajar Sekolah Pendidikan Dokter Hindia alias Stovia.

  Para pelajar menyewa gedung itu dengan tarif 12,5 gulden per orang setiap bulan, atau setara 40 lit er beras waktu itu. Mereka memiliki pekerja yang mengurus rumah, yang dikenal dengan nama Bang Salim. "Tamu yang menginap tidak dikenai bayaran, tapi harus mengusahakan makanannya sendiri," kata Dr Raden Soeharto, kostjongen dan peserta Sumpah Pemuda dalam buku Bunga Rampai, 50 Tahun Soempah Pemoeda.

  Aktivis Jong Java menyewa bangunan 460 meter persegi ini karena rumah kontrak sebelumnya di Kwitang terlalu sempit untuk menampung kegiatan diskusi politik dan latihan kesenian Jawa. Anggota Jong Java dan mahasiswa lainnya menyebut gedung ini Langen Siswo.

PDAT| EVAN| KODRAT

Minggu, 28 Oktober 2012 | 19:08 WIB
*
Bagaimana Para Deklarator Sumpah Pemuda Ngekos? * *

TEMPO.CO, Jakarta--Bangunan di Jalan Kramat Raya Nomor 106 menjadi saksi bisu dibacakannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Gedung ini merupakan pemondokan untuk pelajar dan mahasiswa waktu itu. Bagaimana kehidupan kos para pemuda saat itu?

Dalam Buku Panduan Museum Sumpah Pemuda, gedung Kramat 106 menjadi tempat tinggal pelajar yang tergabung dalam Jong Java sejak 1925. "Mereka kebanyakan pelajar Sekolah Pendidikan Dokter Hindia alias Stovia," seperti dikutip artikel Jejak Samar Bapak Kos Dokter Politik dari Timur di Majalah TEMPO 2 November 2008.

Tercatat Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifuddin, A.K. Gani, Mohammad Tamzil, atau Assaat dt Moeda, pernah tinggal di sana.

Para pelajar menyewa gedung itu dengan tarif 12,5 gulden per orang setiap bulan, atau setara dengan 40 liter beras waktu itu. Mereka memiliki pekerja yang mengurus rumah yang dikenal dengan nama Bang Salim.

"Tamu yang menginap tidak dikenai bayaran, tapi harus mengusahakan makanannya sendiri," kata Dr Raden Soeharto, kostjongen dan peserta Sumpah Pemuda dalam buku Bunga Rampai, 50 Tahun Soempah Pemoeda.

Aktivis Jong Java menyewa bangunan 460 meter persegi ini karena kontrakan sebelumnya di Kwitang terlalu sempit untuk menampung kegiatan mereka. Anggota Jong Java dan mahasiswa lainnya menyebut gedung ini Langen Siswo.

Sejak 1926, penghuni gedung ini makin beragam dari berbagai daerah. Pun kegiatannya. Selain kesenian, mahasiswa di gedung ini aktif dalam kepanduan dan olahraga.

Penghuni Kramat 106 juga sering berdiskusi soal konsep persatuan nasional. Gedun g ini pun menjadi markas Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), yang berdiri pada September 1926, usai kongres pemuda pertama. Penghuni kontrakan, dengan payung PPPI, sering mengundang tokoh seperti Bung Karno untuk berdiskusi. Tema perbincangan misalnya mencari bentuk negara ideal bagi Indonesia.

Di gedung ini juga muncul majalah Indonesia Raya, yang dikelola PPPI. Karena sering dipakai kegiatan pemuda yang sifatnya nasional, para penghuni menamakan gedung ini Indonesische Clubhuis, tempat resmi pertemuan pemuda nasional. Sejak 1927, mereka memasang papan nama gedung itu di depan. Padahal Gubernur Jenderal H.J. de Graff sedang menjalankan politik tangan besi.

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia mendeklarasikan Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda II di bangunan yang terletak di Jalan Kramat Raya Nomor 106 ini.

Kegiatan pemuda dialihkan ke Jalan Kramat 156 setelah para penghuni Kramat 106 tidak melanjutkan sewanya pada 1934.

PDAT| EVAN| KODRAT

* * *

IBRAHIM ISA – Bahan Referensi Sejarah - 
 
Peristiwa 10 November 1945

*    *     *
  
Sabtu, 27 Oktober 2012

------------------------------------------------------------------------------

*Sepuluh November 2012, *bulan depan adalah HARI PAHLAWAN! Bangsa kita, 
pemerintah Republik Indonesia sejak 1945, memperingati Hari Pahlawan 10 
November, saat dimulainya perang perlawanan terhadap tentara pendudukan Inggris 
yang bertindak atas nama Sekutu, dan embel-embelnya tentara Belanda yang 
menamakan dirinya NICA.

Perlawanan heroik yang dilakukan oleh para pemuda kita yang baru saja 
terorganisasi dalam TKR, Tentara Keamanan , bersama-sama dengan para gerilyawan 
dari pelbagai organisasi pelajar dan mahasiswa pejuang Republik Indonesia dan 
kekuatan-kekuatan rakyat yang berinisiatif menggabungkan diri dengan PERANG 
KEMERDEKAAN di Surabaya itu, berakhir dengan didudukinya kota heroik Surabya 
oleh tentara pendudukan Inggris, ditarik mundurnya ke luar kota semua kekuatan 
bersenjata Indonesia, serta pengungsian puluhan ribu rakyat Surabaya ke daerah 
kekuasaan Republik Indonesia di Jawa Timur.

NAMUN, Perlawanan ini, Perang Kemerdekaan yang berskala paling besar yang 
dilancarkan bangsa Indonesia , menghadapi kekuatan musuh yang bersenjata modern, 
dan yang didukung oleh angakatan udaranya, dan angkatan lautnya, ---- telah 
menyulut lebih lanjut serta mengobarkan dan memperkokoh semangat REVOLUSI 
KEMERDEKAAN kita. Di segi lain Pertempuran Surabaya menunjukkan serta meyakikan 
dunia internasional, bahwa REPUBLIK INDONESIA, yang diproklamasikan oleh 
Sukarno-Hatta, --- bukan republik boneka Jepang, bahwa Sukarno-Hatta bukan 
kolaborator antek-Jepang, tetapi adalah kekuatan poitik dan bersenjata riil 
bangsa Indonesia yang bersatu-padu untuk MEMBELA KEMERDEKAANNYA.

* * *

Ratusan bahkan ribuan tulisan dan literatur telah bermunculan sejak saat itu 
mengenai PERTEMPURAN SURABAYA. Merupakan bahan referensi berharga dalam 
penulisan sejarah bangsa kita.

Di bawah ini dipublikasikan  tulisan yang diambil dari Ensikopledia Bebas 
WIKIPEDIA. Ada baiknya untuk dijadikan salah satu bahan referensi sejarah dalam 
penulisan sejarah kita.


* * *


Peristiwa 10 November
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
*Belum Diperiksa *

Pertempuran Surabaya
Bagian dari Perang Kemerdekaan Indonesia 


Tentara India  Britania menembaki penembak 
runduk  Indonesia di balik tank 
 Indonesia 
 yang terguling dalam pertempuran di 
Surabaya, November 1945.
Tanggal  27 Oktober  - 20 November 
, 1945 

Lokasi  Surabaya , Jawa Timur 
, Indonesia 

Hasil  Inggris menguasai Surabaya

Pihak yang terlibat
Indonesia   Britania Raya 

Belanda 
Komandan
Bung Tomo   Brigjen 
 A. W. S. Mallaby 
_W._S._Mallaby> †
Mayjen  Robert Mansergh 

Kekuatan
20,000 tentara
100,000 sukarelawan^[1] 
 
30,000 (puncak)^[1] 

didukung tank , pesawat tempur 
, dan kapal perang 

Korban
6,000^[2] 
 - 
16,000^[1] 
 
tewas  600^[3] 
 
- 2,000^[1] 
 tewa

*Pertempuran Surabaya*
merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda . Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya , Jawa Timur . Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. ^[2] Kronologi penyebab peristiwa Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia Tanggal 1 Maret 1942 , tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa , dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942 , pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati . Setelah penyerahan tanpa syarat tesebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki . Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 . Kedatangan Tentara Inggris & Belanda Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945 , tentara Inggris mendarat di Jakarta , kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (/Allied Forces Netherlands East Indies/) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu _%28Perang_Dunia_II%29>, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda . NICA (/Netherlands Indies Civil Administration/) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA. Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya Artikel utama untuk bagian ini adalah: Insiden Hotel Yamato Hotel Oranye di Surabaya tahun 1911. Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit ) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya. Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945 , tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya. Pengibaran bendera Indonesia setelah bendera belanda berhasil disobek warna birunya di hotel Yamato Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman _%28politikus%29&action=edit&redlink=1>, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (/Fuku Syuco Gunseikan/) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu , sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol , dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya , dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih. Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi. Kematian Brigadir Jenderal Mallaby Artikel utama untuk bagian ini adalah: Aubertin Mallaby Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945 , keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby , (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur ), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah . Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA. Perdebatan tentang pihak penyebab baku tembak Mobil /Buick / Brigadir Jenderal Mallaby yang meledak di dekat Gedung Internatio dan Jembatan Merah Surabaya Tom Driberg , seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (/Labour Party/). Pada 20 Februari 1946 , dalam perdebatan di Parlemen Inggris (/House of Commons/) meragukan bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia. Dia menyampaikan bahwa peristiwa baku tembak ini disinyalir kuat timbul karena kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tidak mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi . Berikut kutipan dari Tom Driberg: "... Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya; yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby). Saya pikir ini tidak dapat dituduh sebagai pembunuhan licik... karena informasi saya dapat secepatnya dari saksi mata, yaitu seorang perwira Inggris yang benar-benar ada di tempat kejadian pada saat itu, yang niat jujurnya saya tak punya alasan untuk pertanyakan ... " ^[4] 10 NOVEMBER 1945 Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945. Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia. Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat . Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka. Bung Tomo di Surabaya , salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati. Foto terkenal ini bagi banyak orang yang terlibat dalam Revolusi Nasional Indonesia mewakili jiwa perjuangan revolusi utama Indonesia saat itu.^[5] Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris. Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari , KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri -santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) shingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris. Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. ^[2] . Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 - 2000 tentara. ^[3] Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai /Hari Pahlawan / oleh Republik Indonesia hingga sekarang. Referensi 1. *^* ^a ^b ^c ^d The Battle of Surabaya , /Indonesian Heritage/. 2. *^* ^a ^b ^c Ricklefs (1991), p. 217. 3. *^* ^a ^b Woodburn Kirby, S (17 Oktober 1965). /The War Against Japan Vol. V/. London: HMSO. ISBN 0-333-57689-6 . 4. *^ * Batara R. Hutagalung: "10 November '45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?" Penerbit Millenium, Jakarta Oktober 2001, cetakan xvi, 472 halaman 5. *^ * Frederick, William H. (April 1982). "In Memoriam: Sutomo" (^[/pranala nonaktif /] ). /Indonesia/ (Cornell University outheast Asia Program) *33*: 127–128. seap.indo/1107016901. Pranala luar * (Indonesia) Latar belakang hari Pahlawan di yulian.firdaus.or.id /> * (Indonesia) Menghayati arti penting Hari Pahlawan di annabelle.aumars.perso.sfr.fr oleh A. Umar Said. * (Indonesia) Beberapa artikel tentang hari pahlawan di opini.wordpress.com /> Halaman ini terakhir diubah pada 18.43, 11 September 2012.
*Kolom IBRAHIM ISA
Jum'at, 26 Oktober 2012.
------------------------*



*SEKITAR DEBAT “TV ONE” PRO-KONTRA REKOMENDASI KOMNASHAM 23/7/2012.*



Perdebatan Pro-Kontra REKOMENDASI KomnasHAM 23 JULI 2012, yang disiarkan oleh TV One, bisa kita ikut liputannya di Kompasiana, yang disiarkan di mailist kemarin. Liputan yang disiarkan kemarin memberikan gambaran umum mengenai isi perdebatan tsb.


Sahabat baikku, Witaryono Reksoprodjo,seorang aktivis HAM, putranya Ir Setiadi Reksoprodjo, mantan menteri dalam Kabinet 100 Menteri Presiden Sukarno, yang “diamankan” oleh aparat militer Jendral Suharto selama 12 tahun, --- memeberikan respons seperti yang disiarkan di bawah ini terhadap undangan yang disampaikan kepadanya. Ia tidak hadir atas pertimbangan seperti yang dikemukakannya.


Kolom ini mencoba memberikan respons dari segi lain berkenaan dengan acara TV One sperti itu.


* * *


Ini apa yang dikemukakan oleh sahabatku Witaryono Reksoprodjo, di Facebook hari ini:


“*Saya diundang, tapi pada detik2 terakhir saya putuskan untuk tidak hadir.... Karena acara debat ini sendiri diarahkan bukan untuk memberi kontribusi solusi, tapi sekedar sebagai komoditi penarik iklan.... Sebaiknya diperlukan kejelian untuk terhindar menjadi bagian dari permainan opini yang membodohi publik. Salam.” *


* * *


Benar Wit (Witaryono Reksoprodjo), - - - -


*JANGAN SAMPAI KEGIATAN SEKITAR REKOMENDASI KomnasHAM 23 JULI 2012, OLEH FIHAK-FIHAK KOMERSIAL DIGUNAKAN UNTUK KOMODITI PENARIK IKLAN!!!*


* * *


Di lain fihak kita harus memanfaatkan sosialisasi KESIMPULAN KOMNASHAM, 23 JULI 2012, agar diketahui oleh seluas mungkin masyarakat,


Dalam hal ini . . . . apa yang dikemukakan dalam debat TV One tsb., oleh Komisioner KomnasHAM, Joni Nelson Simanjuntak, adalah cukup bagus. Bahwa *“Komnas HAM tidak memiliki kepentingan politik dan dorongan untuk membela kepentingan politik siapa pun, entah PKI atau pun bukan. *


*"Yang dilakukan Komnas adalah penyelidikan yang dilakukan sudah lebih dari satu tahun, dan ituuntuk membela orang-orang yang tercabut hak dan rasa keadilannya pasca 1Oktober 1965 sampai sekarang,” . *


* * *


Pernyataan-pernyataan dari fihak KomnasHAM, seperti itu baik sekali dikemukakan di muka umum. Sebaiknya diulang-ulang sehingga menjadi pemahaman publik apa sebenarnya yang terjadi di sekitar Peristiwa 1965.


Selanjutnya pernyataan-pernyataan mereka-mereka yang menentang Rekomendasi KomnasHAM 23 Juli 2012 khusus mengenai pelanggaran berat HAM oleh aparat negara, telah membeberkan dimuka umum, siapa mereka-mereka itu.


*Coba dibaca lagi LIPUTAN Kompasiana yang dipublikasikan di mailist kemarin: *


*Bagus sekali . . . Liputan Perdebatan di TV One ttgl 22 Oktober 2012 yl, memberikan analisis dan menelanjangi lebih lanjut mereka-mereka itu (mantan-mantan jendral, "pancasilais" , yang menggunakan jubah religi dsb. Sayang tidak disebut siapa yang membuat LIPUTAN BAGUS ITU. *



Mereka-mereka yang menentang Kesimpulan KomnasHAM, 23 Juli 2012 mengenai pelanggaran berat HAM oleh aparat negara sekitar periode itu, -- bagi pemirsa TV yang mau berfikir (dan ini semakin tumbuh di kalangan masyarakat) --- telah MENELANJANGI lebih lanjut siapa mereka-mereka itu.


*Yaitu orang-orang pembela politik persekusi dan penjagalan rezim optoriter ORDE BARU, dengan jubah 'mebela negara', 'membela Pancasila' dsb.*


* * *