IBRAHIM ISA – Bahan Referensi Sejarah -
Peristiwa 10 November 1945
* * *
Sabtu, 27 Oktober 2012
------------------------------------------------------------------------------
*Sepuluh November 2012, *bulan depan adalah HARI PAHLAWAN! Bangsa kita,
pemerintah Republik Indonesia sejak 1945, memperingati Hari Pahlawan 10
November, saat dimulainya perang perlawanan terhadap tentara pendudukan Inggris
yang bertindak atas nama Sekutu, dan embel-embelnya tentara Belanda yang
menamakan dirinya NICA.
Perlawanan heroik yang dilakukan oleh para pemuda kita yang baru saja
terorganisasi dalam TKR, Tentara Keamanan , bersama-sama dengan para gerilyawan
dari pelbagai organisasi pelajar dan mahasiswa pejuang Republik Indonesia dan
kekuatan-kekuatan rakyat yang berinisiatif menggabungkan diri dengan PERANG
KEMERDEKAAN di Surabaya itu, berakhir dengan didudukinya kota heroik Surabya
oleh tentara pendudukan Inggris, ditarik mundurnya ke luar kota semua kekuatan
bersenjata Indonesia, serta pengungsian puluhan ribu rakyat Surabaya ke daerah
kekuasaan Republik Indonesia di Jawa Timur.
NAMUN, Perlawanan ini, Perang Kemerdekaan yang berskala paling besar yang
dilancarkan bangsa Indonesia , menghadapi kekuatan musuh yang bersenjata modern,
dan yang didukung oleh angakatan udaranya, dan angkatan lautnya, ---- telah
menyulut lebih lanjut serta mengobarkan dan memperkokoh semangat REVOLUSI
KEMERDEKAAN kita. Di segi lain Pertempuran Surabaya menunjukkan serta meyakikan
dunia internasional, bahwa REPUBLIK INDONESIA, yang diproklamasikan oleh
Sukarno-Hatta, --- bukan republik boneka Jepang, bahwa Sukarno-Hatta bukan
kolaborator antek-Jepang, tetapi adalah kekuatan poitik dan bersenjata riil
bangsa Indonesia yang bersatu-padu untuk MEMBELA KEMERDEKAANNYA.
* * *
Ratusan bahkan ribuan tulisan dan literatur telah bermunculan sejak saat itu
mengenai PERTEMPURAN SURABAYA. Merupakan bahan referensi berharga dalam
penulisan sejarah bangsa kita.
Di bawah ini dipublikasikan tulisan yang diambil dari Ensikopledia Bebas
WIKIPEDIA. Ada baiknya untuk dijadikan salah satu bahan referensi sejarah dalam
penulisan sejarah kita.
* * *
Peristiwa 10 November
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
*Belum Diperiksa *
Pertempuran Surabaya
Bagian dari Perang Kemerdekaan Indonesia
Tentara India Britania menembaki penembak
runduk Indonesia di balik tank
Indonesia
yang terguling dalam pertempuran di
Surabaya, November 1945.
Tanggal 27 Oktober - 20 November
, 1945
Lokasi Surabaya , Jawa Timur
, Indonesia
Hasil Inggris menguasai Surabaya
Pihak yang terlibat
Indonesia Britania Raya
Belanda
Komandan
Bung Tomo Brigjen
A. W. S. Mallaby
_W._S._Mallaby> †
Mayjen Robert Mansergh
Kekuatan
20,000 tentara
100,000 sukarelawan^[1]
30,000 (puncak)^[1]
didukung tank , pesawat tempur
, dan kapal perang
Korban
6,000^[2]
-
16,000^[1]
tewas 600^[3]
- 2,000^[1]
tewa
*Pertempuran Surabaya*
merupakan peristiwa sejarah
perang
antara pihak tentara Indonesia
dan pasukan Belanda
. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal
10 November 1945
di Kota Surabaya
, Jawa Timur
. Pertempuran ini adalah perang pertama
pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
dan satu
pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia
yang menjadi simbol
nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. ^[2]
Kronologi penyebab peristiwa
Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia
Tanggal 1 Maret 1942
, tentara
Jepang
mendarat di Pulau Jawa
, dan tujuh hari kemudian tanggal 8
Maret 1942
, pemerintah kolonial Belanda
menyerah tanpa syarat kepada Jepang
berdasarkan Perjanjian Kalijati
.
Setelah penyerahan tanpa syarat tesebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh
Jepang.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah
dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika
Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki
. Peristiwa itu terjadi pada bulan
Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan
asing tersebut, Soekarno kemudian
memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus
1945 .
Kedatangan Tentara Inggris & Belanda
Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti
senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan
korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang
berkobar, tanggal 15 September 1945
, tentara Inggris
mendarat di Jakarta
, kemudian mendarat di Surabaya pada
tanggal 25 Oktober 1945. Tentara
Inggris datang ke Indonesia tergabung
dalam AFNEI
(/Allied
Forces Netherlands East Indies/) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu
_%28Perang_Dunia_II%29>, dengan tugas
untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan
Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara
Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada
administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda
. NICA
(/Netherlands Indies Civil Administration/)
ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini
memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat
Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.
Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Insiden Hotel Yamato
Hotel Oranye di
Surabaya tahun 1911.
Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus
1945
yang menetapkan bahwa mulai 1 September
1945
bendera nasional Sang Saka Merah Putih
dikibarkan terus di seluruh
wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap
pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi
pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru
/ Hotel Yamato
(bernama Oranje Hotel
atau Hotel Oranye
pada zaman kolonial, sekarang
bernama Hotel Majapahit ) di Jl.
Tunjungan no. 65 Surabaya.
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman
pada sore hari tanggal 18 September
1945 , tepatnya pukul 21.00, mengibarkan
bendera Belanda
(Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang
pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para
pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda
telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di
Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang
berlangsung di Surabaya.
Pengibaran bendera Indonesia setelah bendera belanda berhasil disobek warna
birunya di hotel Yamato
Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman
_%28politikus%29&action=edit&redlink=1>,
pejuang dan diplomat
yang saat itu
menjabat sebagai Wakil Residen (
/Fuku Syuco Gunseikan/) yang masih diakui
pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu
,
sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati
kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai
perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta
agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam
perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak
untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman
mengeluarkan pistol
, dan terjadilah
perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang
kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan
pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel
Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera
Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan
terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo
berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya
, dan mengereknya ke puncak tiang bendera
kembali sebagai bendera Merah Putih.
Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober
1945
meletuslah pertempuran pertama antara
Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian
hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua
belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn
meminta bantuan Presiden Sukarno
untuk
meredakan situasi.
Kematian Brigadir Jenderal Mallaby
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Aubertin Mallaby
Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby
Setelah gencatan senjata
antara
pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober
1945
, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun
begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan
tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut
memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby
, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa
Timur
), pada 30 Oktober
1945
sekitar pukul 20.30. Mobil Buick
yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby
berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan
Merah
. Kesalahpahaman menyebabkan
terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal
Mallaby oleh tembakan pistol
seorang
pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan
terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat
yang menyebabkan jenazah
Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby
ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada
keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal
Eric Carden Robert Mansergh
untuk mengeluarkan
ultimatum 10 November
1945
untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan
persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.
Perdebatan tentang pihak penyebab baku tembak
Mobil
/Buick
/ Brigadir Jenderal Mallaby yang meledak di
dekat Gedung Internatio dan Jembatan Merah
Surabaya
Tom Driberg
,
seorang Anggota Parlemen Inggris
dari Partai Buruh Inggris
(/Labour Party/). Pada 20 Februari
1946 , dalam perdebatan di Parlemen Inggris
(/House of Commons/) meragukan
bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia. Dia menyampaikan
bahwa peristiwa baku tembak ini disinyalir kuat timbul karena kesalahpahaman 20
anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tidak
mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari
kontak dan telekomunikasi . Berikut
kutipan dari Tom Driberg:
"... Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris), di sebuah bangunan di
sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak
tahu tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa
(Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata),
berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak
kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya.
Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi.
Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu
India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan
Bren dan massa bubar dan lari
untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar.
Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan
lagi, perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara
lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby)
sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benar-benar yakin
apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya; yang meledak
bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby). Saya pikir ini tidak
dapat dituduh sebagai pembunuhan licik... karena informasi saya dapat
secepatnya dari saksi mata, yaitu seorang perwira Inggris yang benar-benar
ada di tempat kejadian pada saat itu, yang niat jujurnya saya tak punya
alasan untuk pertanyakan ... " ^[4]
10 NOVEMBER 1945
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal
Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan
orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di
tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas.
Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan
rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum
tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia
waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk
sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang
telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar
yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran
tentara Inggris di Indonesia.
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala
besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan
Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat
terbang, tank, dan kapal perang.
Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam
dari laut
dan darat
.
Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota,
dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran
ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan
tersebut, baik meninggal maupun terluka.
Bung Tomo di Surabaya
, salah satu pemimpin revolusioner
Indonesia yang paling dihormati. Foto terkenal ini bagi banyak orang yang
terlibat dalam Revolusi Nasional Indonesia
mewakili jiwa
perjuangan revolusi utama Indonesia saat itu.^[5]
Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa
ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda
Bung Tomo yang berpengaruh besar di
masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya
sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.
Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama
serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH.
Hasyim Asy'ari , KH. Wahab
Hasbullah serta kyai-kyai
pesantren lainnya juga mengerahkan
santri -santri mereka dan masyarakat sipil
sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada
pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) shingga
perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari
minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara
spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala
besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya
akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.
Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat
sipil mengungsi dari Surabaya. ^[2]
.
Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 - 2000 tentara.
^[3]
Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah
menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan
mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang
menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai /Hari
Pahlawan / oleh Republik Indonesia
hingga sekarang.
Referensi
1. *^* ^a
^b
^c
^d
The Battle of Surabaya ,
/Indonesian Heritage/.
2. *^* ^a
^b
^c
Ricklefs (1991), p. 217.
3. *^* ^a
^b
Woodburn Kirby, S (17 Oktober 1965). /The War Against Japan Vol. V/. London:
HMSO. ISBN
0-333-57689-6 .
4. *^ * Batara
R. Hutagalung: "10 November '45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?" Penerbit
Millenium, Jakarta Oktober 2001, cetakan xvi, 472 halaman
5. *^ *
Frederick, William H. (April 1982). "In Memoriam: Sutomo"
(^[/pranala nonaktif
/]
). /Indonesia/ (Cornell University outheast Asia Program) *33*: 127–128.
seap.indo/1107016901.
Pranala luar
* (Indonesia) Latar belakang hari Pahlawan di yulian.firdaus.or.id
/>
* (Indonesia) Menghayati arti penting Hari Pahlawan di
annabelle.aumars.perso.sfr.fr
oleh A. Umar Said.
* (Indonesia) Beberapa artikel tentang hari pahlawan di opini.wordpress.com
/>
Halaman ini terakhir diubah pada 18.43, 11 September 2012.