Saturday, September 7, 2013
Dialog Interaktif Akhir Pekan . . . . di FB: MEMPERKOKOH WACANA KESADARAN BERBANGSA DAN PATRIOTISME POSITIF
Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu, 07 September 2013
------------------------
Dialog Interaktif Akhir Pekan . . . . di FB:
MEMPERKOKOH WACANA KESADARAN BERBANGSA DAN PATRIOTISME POSITIF
* * *
Di bawah ini kutayangkan ulang … DIALOG INTER-AKTIF DI “FB”, yang berlangsung pada akhir pekan ini, sekitar Gedung Proklamasi di Jl, Pengangsaan Timur 56, Jakarta.
Sejarawan dr Hoesein Rusdhy adalah orangnya yang mencetuskan IDE BRILYAN di FB, agar GEDUNG PROKLAMASI, Pegangsaan Timur 56, Jakarta, yang sudah digusur dan di tempat itu dibangun bangunan lain . . . SUPAYA DIBANGUN KEMBALI SESUAI ASLINYA.
* * *
Berikut ini ikuti kembali dialog yang pernah terjadi tahun 2009 sekitar Gedung Prokalamasi, Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Disiarkan di Situs BIAR SEJARAH YANG BICARA . . .a.l sbb:
Pegangsaan Timur 56
Pegangsaan Timur 56 Jakarta
Pada 17 Agustus 1945 dibacakan Proklamasi di Pegangsaan Timur yang sekarang berdiri di sana Gedung Pola. Maka di muka Gedung Pola itu ada tugu, tugu itu ditaruh persis di tempat yang dulu saya injak membacakan Proklamasi itu. Jadi kalau Saudara-Saudara ingin mengetahui tempat yang saya membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945, tugu Pegangsaan Timur 56 itulah tempatnya. Di atas tugu itu diadakan gambarnya petir, gambar bledek, oleh karena di tempat itu dulu dibacakan naskah proklamasi. Dan naskah proklamasi itu memang boleh dikatakan petir, geledek, yang didengarkan oleh 5 benua dan 7 samudera!” (Soekarno)
Kemarin tanggal 7 Juni 2009 saya mendapat milis dari "komunitas historia" (tempat belajar saya dari para peminat sejarah), kiriman Bapak Hoesein tentang ihwal Pegangsaan Timur No.56. Bapak Hoesein menyatakan dalam emailnya :
Pada jam 11.30 waktu Nippon, bertempat di rumahnya di Pegangsaan Timur no.56 Jakarta, Bung Karno mem Proklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Amat Sederhana dan merakyat. Tapi pada tahun 1962, Bung Karno sendiri yang membongkar rumah tersebut. Inilah salah satu misteri perjalanan sejarah berbangsa dan bernegara di Indonesia, akibatnya setiap anak bangsa kalau ke monumen Proklamasi tahunya “Gedung Pola” itulah tempat berlangsungnya peristiwa besar lahirnya bangsa Indonesia tersebut. Saya sudah memperjuangkan hal ini sejak tahun 1995 (50 tahun Indonesia Merdeka). Ada maket, sejumlah besar gambar foto, termasuk cetak biru rumah asli dan foto penggalian arkheologi pada tahun 2001. Sesungguhnya fondasi Rumah Proklamsi masih utuh. Cuma rupanya tanggagapan petinggi negara memble aje.
Email lainnya saya terima juga dari Mas Kopdang tentang dukungan Pak Ibrahim Isa kepada Pak Hoesein untuk “membangun kembali gedung Proklamasi Pegangsaan Timur 56″ :
IBRAHIM ISA ———— ——— — 07 JUNI 2009 Bung Hoesein y.b., Saya mendukung saran Anda untuk membangun kembali Gedung Proklamasi Pegangsaan Timur 56, a.d. maket dan bahan informatif lainnya. Mari bikin petisi. Ajak para sejarawan, pedjuang kemerdekaan senior dan junior. Agar sense of history bangsa ini meningkat. Tapi, apa benar Bung Karno sendiri yang menyuruh bongkar gedung Pegangsaan Timur 56 itu? Coba periksa lebih teliti. Salam hangat, I. Isa
Ada Apa Dengan Pegangsaan Timur 56 ?
foto_2_proklamasi_indonesiaBila kita mendengar kata Pegangsaan Timur 56 bisa jadi orang akan langsung teringat kepada Bung Karno. Karena di halaman rumah sang proklamator di Jalan Pegangsaan Timur 56 itulah Bung Karno mendeklarasikan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Jalan Pegangsaan Timur telah berganti nama menjadi Jalan Proklamasi. Kediaman Bung Karno yang dijadikan tempat pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan pun sudah tidak ada lagi dan digantikan dengan kehadiran tugu Proklamasi yang dahulu pernah dibongkar atas perintah Bung Karno, dan di situ kemudian didirikan Gedung Pola Pembangunan Semesta. Belakangan gedung itu digunakan sebagai kantor BP-7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).
Sebenarnya, Pegangsaan 56 adalah kediaman pribadi Bung Karno. Di tempat tersebut proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Ir Soekarno dan Drs Moh Hatta pada Jumat Legi tanggal 17 Agustus 1945, pas bulan ramadhan ketika Bung Karno sedang menderita sakit malaria. Di rumah itu pula bendera Merah Putih (kini bendera pusaka) dijahit oleh Ibu Fatmawati.
Bila Anda melewati Jalan Pegangsaan 56 Jakarta Pusat, jangan harap masih bisa melihat bangunan asli peninggalan sejarah tersebut. Sebab rumah mantan Presiden RI pertama itu kini sudah hilang tanpa bekas.
Sebagai gantinya, berdiri Monumen Proklamasi dengan Monumen Petir setinggi 17 meter di tempat Bung Karno membacakan teks Proklamasi 64 tahun lalu.
Terdapat pula patung dua tokoh Proklamasi Bung Karno dan Bung Hatta yang dibangun pada tahun 1980 an. Sementara lapangan seluas 4 hektar yang mengelilingnya kini berfungsi sebagai taman publik untuk beristirahat atau berolahraga.
Yang disesalkan, bangunan bekas rumah Bung Karno sudah dirobohkan, padahal rumah tersebut merupakan salah satu peninggalan sejarah yang langsung terkait dengan perjuangan revolusi bangsa ini.
Tadi itu dialog tahun 2009, --- 4 tahun yang lalu, yang bisa diakses di SITUS BIAR SEJARAH YANG BICARA!:
* * *
Ini dialog 2013.
Hoesein Rusdhy:
“Kemarin dulu kami ngomong-ngomong di rstoran Hapy Day soal situs bersejarah Gedung Proklamasi Jakarta.
Tempat ini yang dahulu terletak di jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta adalah lahan keramat tempat berlangsungnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Hampir sebagian bangsa Indonesia sudah melupakannya.
“Alangkah baiknya kalau pada tempat ini bisa dikembalikan wujudnya seperti dahulu agar auranya tidak hilang sama sekali bahkan bisa berkembang menyemarakai pembangunan bangsa Indonesia dimasa depan.
“Tapi sudahlah mungkin bangsa Indonesia sudah berubah sekarang. Yang tinggal cuman bekasnya .....barangkali ? Foto: atas gedung Proklamasi tahun 1946 dan bawah monumen Proklamasi saat kini. Anak-anak sekolah yang berkunjung (itupun jarang sekali) sering terkecoh menganggap gedung pola adalah Rumah Proklamasi tempat Bung Karno membacakan naskah Proklamasi 68 tahun yang lalu.
“Sementara bangsa Indonesia lebih bangga menyelenggarakan peringatan kemerdekaan setiap tahun di istana Merdeka (ampasnya kolonial dahulu)....kasihan bangsa ini ? Lupa kacang pada kulitnya ? Tiang petir tempat persis dimana Bung Karno membacakan Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi hari jam 10.00, telah berubah fungsi menjadi tiang bendera ?Banyak keramik yang sudah terkelupas, sementara patung Proklamator di cat hitam ?
* * *
Bramantyo Prijosusilo: Menyedihkan Pak Prof.
* * *
Hoesein Rusdhy:
Inilah booklet yang pernah dibuat pada tahun 2005 untuk menggalakkan rencana pembangunan kembali Rumah Proklamasi, Rumah Kemerdekaan kami.
Tapi bagaikan beduk yang dipukul bertalu-talu tapi diantara kelompok masyarakat tuli. Apa juga tidak pernah diperhatikan
* * *
Ibrahim Isa:
Saran brilyan Pak Hoesein Rusdhy:
"Alangkah baiknya kalau pada tempat ini bisa dikembalikan wujudnya seperti dahulu agar auranya tidak hilang sama sekali bahkan bisa berkembang menyemarakai pembangunan bangsa Indonesia dimasa depan. . . .
Sepenuhnya tepat!. . . .
SEMUA HARUS SETUJU . . .!
* * *
MENGENANG ULTAH KE-9 WAFATNYA MUNIR - 05 SEPTEMBER BESOK
Kolom Ibrahim Isa,
Rabu, 04 September 2013
-----------------------
MENGENANG ULTAH KE-9 WAFATNYA MUNIR - 05 SEPTEMBER BESOK
Saya forwardkan dan dukung seruan Bung Wilson di bawah ini:
* * *
Wilson Wilson Obrigados
* * *HADIRILAH ! "Mengenang 9 Tahun Wafatnya Munir" dalamAksi Kemisan, besok, 5 sept, 16.00 sd 17,00 di depan Istana presiden bersama para korban pelanggaran HAM
Ingat, para pembunuh Munir masih berkeliaran. Negara harus mengungkap dan menangkap para pelaku utama. Bila tidak, anda dapat menjadi korban berikutnya:(
Kita Tidak akan pernah lupa
Bergabunglah !
* * *
CERITA TENTANG MANDELA OLEH MANDELA "LONG WALK TO FREEDOM", The Autobiography of NELSON MANDELA
Kolom Ibrahim Isa
Selasa, 03 Sept, 2013
---------------------
CERITA TENTANG MANDELA OLEH MANDELA
"LONG WALK TO FREEDOM",
The Autobiography of NELSON MANDELA
* * *
------ Bonnie Dear,
. . . Baru-baru ini aku dihadiahi sebuah buku berharga oleh cucuku, Maya Keuning dan temannya Tom. Nama buku: (edisi Belanda) "De Lange Weg Naar de Vrijheid", De Autobiografie van Nelson Mandela, 581 halaman; Cetakan ke-22, 2013;
Edisi asli Inggris:
LONG WALK TO FREEDOM. The autobiogrphy of Nelson Mandela. . . .
Ini adalah sebuah cerita mengenai suatu penjungkirbalikkan, yang mungkin paling menakjubkan dalam sejarah, dituturkan oleh orang yang mengalaminya sendiri, dan menggerakkannya. . . .
Cerita tentang Mandela oleh Mandela.
Demikian komentar penerbitnya . . .
Bonnie Dear,
Apakah sudah ada edisi Indonesianya?
Barangkali Majalah Historia berminat melahirkan edisi Indonesianya? Kalau belum ada edisi Indonesia. . . . .
Selamat berkarya . . . .
Salam hangat,
* * *
SEKITAR CIUM TANGAN PERWIRA & ISTRI PADA SBY
Kolom IBRAHIM ISA
Diaolog Interakif di FB hari ini
Senin, 02 Seotember 2013
--------------------------------
SEKITAR CIUM TANGAN PERWIRA & ISTRI PADA SBY
* * *
Yanti My
Para pejabat, TOLONG HENTIKAN TRADISI CIUM TANGAN! Yang mencium tangan seperti lebih rendah kedudukan dirinya daripada yang tangannya dicium! Ingat yah, kalau posisi jabatan Anda memang lebih rendah, bukan berarti harga diri Anda juga lebih rendah!
Kalau anak-anak kepada orang tua atau kakek nenek mereka o.k-lah sebagai rasa hormat bisa cium tangan (semoga tidak karena mereka lupa salaman tradisional). Kurang sreg setiap melihat foto seorang pejabat dicium tangannya oleh seorang 'bawahannya'.
Kalau di pesantern-pesantren kayaknya tradisi cium tangan para santri terhadap Kyai mereka sudah lama berlangsung dan sulit untuk diubah. Tapi kalau para pejabat mah lah nggak perlu. Apalagi para tentara militer yang berseragam, nggak cocok dan nggak berwibawa deh!
* * *
Ibrahim Isa
Mbak Yanti Dear . . ..
Ketika aku masih bocah . . . cium tangan itu ADA MAKSUDNYA . . . biasanya . . . yang mencium tangan mengharapkan sesuatu, dari orang yang tangannya dicium itu, entah duit, atau kado. . .
Mencium tangan orang menjelang hari Lebaran, artinya, mengharapkan dibeliin petasan . . . dsb. --------
Jaman sekarang entahlah . . . apakah mencium tangan orang itu ada maksud atau tidak . . .
* * *
Di kalangan elite atau bangsawan, kalau seorang wanita tangannya dicium oleh seorang laki-laki dari kalangn bangsawan atau elite lain . . . wanita (biasanya muda dan cantik) yang tangannya dicium itu akan merasa terhormat. . . . dan siapa tahu akan ada äpa-apanya" kemudian . . .
Ingatku dulu itu enggak ada perempuan cium tangan lelaki, kecuali, dilakukan oleh anak terhadap orangtuanya. . . .
*
Yanti My
In term of its funktion in spreading news and ideas, the innovation of facebook by Zuckerberg and his fellows is such a revolution!
Isa
Yes, indeed Yanti Dear . . .
And what is more significant is . . . . . IT IS FREE OF CHARGE . . . .. ..
As you know ONLY A SUCCESSfFUL REVOLUTION WILL RESULT IN A FREE OF CHARGE SERVICE TO THE PEOPLE . . . . . .
MENSEJAJARKAN SUKARNO-HATTA Dng SUHARTO Adalah PENGHINAAN Atas SEJARAH BANGSA
Kolom IBRAHIM ISA
Minggu, 01 September 2013
-------------------------
MENSEJAJARKAN SUKARNO-HATTA Dng SUHARTO
Adalah PENGHINAAN Atas SEJARAH BANGSA
* * *
Mensejajarkan tokoh-tokoh nasional Proklamator Kemerdekaan Indonesia Sukarno-Hatta, -- dengan Panglima Kopkamtib Jendral Suharto yang merebut kekuasaan negara dan pemerintah Indonesia melalui suatu kampanye pembatantaian masal , --- sungguh merupakan suatu penghinaan terhadap kesadaran bangsa ini mengenai fakta sejarah Indonesia. Suatu pemutar-balikkan fakta sejarah yang tak terbayangkan bagi siapa saja yang menghormati dan mengakui kenyataan sejarah bangsa Indonesia sekitar periode 1965/66.
Demi menyelamatkan bangsa dari meluasnya pertumpahan darah, pembantaian masal sekitar 1965, Bung Karno menolak saran sejumlah perwira-perwira tinggi AD, Auri, Korps Marinir, dan Kepolisian yang setia pada Presiden Sukarno, untuk mengambil tindakan militer menghukum serta menghancurkan usaha kudeta merangkak Jendral Suharto (inforamasi-inern ini diperoleh penulis dari Ibu Suryadarma, istri mantan Panglima dan pendiri AURI,yang ketika itu menjabat Rektor Universitas Respublica – dalam suatu pertemuan di Jakarta akhir Oktober 1965 dalam kesempatan Konferensi Internasional Anti-Pangkalan-Pangkalan Militer Asing (KIAPPMA). Meskipun ketika itu Bung Karno sadar bahwa menolak saran perwira-perwira ABRI yang setia pada Presiden RI, -- itu berarti memberi kesempatan kepada Jendral Suharto dan klik militernya, untuk meneruskan kudeta merangkaknya, serta meluaskan kampanye pembataian orang-orang Kiri.
Sikap negarawan yang dihormati terhadap Wakil Presiden Moh. Hatta, adalah ketika ia dengan rela mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Di satu fihak menunjukkan perbedaannya dengan Presiden Sukarno mengenai penilaian terhadap situasi politik nasional ketika itu. Di lain fihak secara terhormat, juga demi persatuan nasional bangsa, mengundurkan diri, berpisah politik dengan Sukarno. Dengan demikian menghindari terjadinya krisis nasional, demi Republik Indonsia, dan memberikan kesempatan kepada Prsiden Sukarno untuk menjalankan kebijakannya.
Pada peristiwa lainnya mantan Wakil Presiden Hatta menunjukkan sikap negarawan ketika ia tegas meluruskan pemelintiran sejarah sekitar Pancasdila, ketika pakar sejarah Orba Prof Nugroho Notosusanto dkk berkomplot untuk menegasi peranan Bung Karno sehubungan dengan lahirnya dasar falsafah negara PANCASILA.
* * *
Di lain fihak . . . sejarah bangsa ini mencatat, bahwa Jendral Suharto berhasil menyalah-gunakan “Supersemar” _ Surat Perintah Sebelas Maret, dan posisinya sebagai Panglima Kopkamtib, membungkam Presiden Sukarno dan selanjutnya melakukan tahanan rumah terhadap beliau, dalam keadaan sakit tanpa perawatan dokter yang wajar, sampai akhir hidupnya.
Seperti pernah diungkapkan oleh Dewi Sukarno dan Sukmawati Sukarnoputri, Bung Karno, Presiden Rpublik Indonesia telah dikihanati oleh Jendral Suharto demi merebut kekuasaan negara, secara pelan-pelang telah membunuh Prsiden RI.
Bung Karno “rela” jabatannya sebagai Presdien RI “diserobot” Jendral Suharto, demi mencegah pertumpahan darah dan demi kesatuan serta persatuan bangsa. Jendral Suharto sebaliknya, demi merebut kekuasaan negara, ia melakukan kudeta dengan mengorbankan hampir sejuta warga tidak bersalah .
Bukankah watak dan jiwa kebangsaan Sukarn-Hatta berbeda besar seperti bumi dan langit dengan jiwa pengkhianatan Jendral Suharto?
* * *
Bukankah absurd “usul” sementra elit politik dan militer mencantumkan nama Jendral Suharto, pada sebuah jalan, di Jakarta, mensejajarkannya dengan Proklamator RI, Sukarno-Hatta??
Nasion ini belum sampai begitu merosot kesadaran berbangsanya, kesadaran sejarahnya untuk bisa menerima saran “absurd” tsb.
Sejarawan muda Dr Aswi Warman Adam,
Peneliti Senior LIPI, memberikan resposnnya terhadap usul “absurd” tsb. Seperti diberitakan oleh Detiknews hari ini, a.l. Sbb:
Jasa Soeharto Tak Setara Dengan Soekarno-Hatta
Jakarta - Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam menyatakan usulan penamaan Jl Soeharto menggantikan Jl Medan Merdeka Barat terlalu kontroversial dan tak efektif. Jasa mantan presiden Soeharto tak sebesar jasa Soekarno dan Muhammad Hatta.
"Jasanya tidak setara dengan Soekarno-Hatta. Cukuplah Jl Medan Merdeka Barat dan Utara jadi Jl Soekarno, serta Jl Medan Merdeka Timur dan Selatan menjadi Jl Hatta," kata Asvi. . .
Menurut Asvi, catatan sejarah telah menyatakan Soeharto mempunyai banyak kesalahan saat berkuasa. Maka, Presiden Indonesia yang berkuasa selama 32 tahun itu tak perlu dijadikan nama jalan.
"Yang paling berjasa adalah proklamator, Soekarno-Hatta. Sementara Soeharto masih ada polemik. Ada yang mengatakan dia berjasa banyak membangun Indonesia, namun banyak juga yang mengatakan tangannya berlumuran darah,"
. . . . .masa pemerintahannya juga diidentikkan dengan aksi-aksi pelanggaran kemanusiaan seperti penculikan dan pembunuhan orang, Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), serta pengekangan kebebasan informasi. Menurut Asvi, penamaan Jl Soeharto lantas menjadi kontroversial.
"Soeharto sendiri pernah diusulkan menjadi pahlawan nasional, tapi malah menjadi kontroversial. Kemudian ini akan menjadi nama jalan. Ini bukan pantas tak pantas, tapi kontroversial. Tidak efektif,".
* * *
Tanggapan lainnya:
Kisah Jalan Medan Merdeka yang membakar semangat Soekarno. Merdeka.com – 3 jam yang lalu
Pada 19 September 1945, Soekarno menyampaikan pidatonya di Lapangan Ikada. Pidatonya yang menyuarakan kemerdekaan Indonesia dan menentang kolonialisme, imperialisme, dan penjajahan ini disampaikan di depan Rapat Akbar yang dihadiri banyak massa.
Semangat Soekarno membara saat berpidato di lapangan Ikada saat itu. Antusiasme massa dan semangat patriotik mereka membuat gaung kemerdekaan menyebar ke seantero negeri.
Soekarno lalu mengganti nama Lapangan Ikada menjadi Medan Merdeka. Karena di lapangan itulah kemerdekaan dipekikan dan disambut ribuan warga pribumi yang memadati lapangan Ikada.
Dan sejak itulah lapangan tersebut dinamai Medan Merdeka. Sedangkan jalan di empat sisi lapangan dinamai masing-masing Jalan Medan Merdeka Utara, Barat, Selatan dan Timur.
Soekarno lalu meminta agar dibuat sebuah monumen nasional yang bisa menjadi simbol kebanggaan bangsa Indonesia. Sokarno menginginkan rakyat Indonesia yang baru saja merdeka memiliki sesuatu simbol yang menjadi kebanggaan bangsa, sebuah monumen untuk memperingati perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Maka ia memprakarsai pembangunan Monumen Nasional (Monas) pada 1961.
. . . . . .
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo akan mengajukan penggantian nama jalan di kawasan Istana Negara kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ini merupakan usulan dari Panitia 17.
"Nanti Panitia 17 menyampaikan kepada Gubernur. Kemudian, Gubernur membuat surat dan menyampaikannya kepada Presiden RI," kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), di Padang, Sabtu (31/8).
Menurut dia, Tim panitia 17 mengusulkan Jalan Medan Merdeka Utara diubah menjadi Jalan Soekarno, "Jalan Medan Merdeka Selatan diusulkan menjadi Jalan Hatta, Jalan Merdeka Timur menjadi Jalan Soeharto, dan Jalan Merdeka Barat diubah menjadi Jalan Ali Sadikin," ujar dia.
Namun, yang telah disepakati panitia untuk diajukan kepada Presiden, hanya dua yakni Jalan Merdeka Utara menjadi Jalan Soekarno dan Jalan Merdeka Selatan diubah menjadi Jalan Hatta Sedangkan, dua nama jalan sisanya masih kontroversi beberapa pihak.
"Mengenai nama Bang Ali Sadikin dan Pak Soeharto masih kontroversial. Kita fokus dulu pada Bung Karno dan Pak Hatta," kata Jokowi.
Dia mengatakan, saat ini penggunaan nama Soekarno-Hatta sebagai nama jalan di Jakarta masih dibahas Panitia 17. "Rencananya pada awal September 2013, perubahan nama jalan ini akan disosialisasikan ke masyarakat luas," kata dia.
Menurut dia, kalau nama-nama jalan itu diubah, dampaknya akan berupa penyesuaian kode pos, kop surat dan lain-lain.
"Ini akan berpengaruh. Itu konsekuensinya, namun yang jelas pemerintah akan menyosialisasikan nama-nama jalan baru itu," ungkap dia.
Target pada tanggal 10 November, tambah Jokowi, Jalan Merdeka Utara dan Jalan Merdeka Selatan diresmikan menjadi Jalan Bung Karno (di Merdeka Utara) dan Bung Hatta (di Merdeka Selatan).
Dia menambahkan, rencana penggantian nama-nama jalan tersebut dengan pertimbangan untuk menghargai jasa-jasa para pahlawan nasional, serta bertujuan sebagai sarana rekonsiliasi."Kita ingin membangun sebuah rekonsiliasi melalui nama-nama pahlawan itu. Saya setuju. Sekarang, rencana ini masih dimatangkan," kata dia.
Namun hingga kini usulan tersebut masih menimbulkan pro dan kontra.*
Sumber: Merdeka.com
* * *
Saturday, August 31, 2013
DIALOG Inter-aktif Di FB Hari ini: TELE-CONF MEMBAHAS "TRAGEDI NASIONAL 1965"
Kolom Ibrahim Isa
Jum'at, 30 Agustus 2013
-----------------------------------
DIALOG Inter-aktif Di FB Hari ini:
TELE-CONF MEMBAHAS "TRAGEDI NASIONAL 1965"
* * *
Hari ini seusai Tele-Conference membahas “Peristiwa 1965”, yang berlangsung antara kota-kota Jakarta – Melbourne – Vancover – Kopenhagen, serta dipandu dari Jakarta oleh Romo Baskara T Wijaya (untuk pertama kalinya tele-conference serupa ini diadakan antar empat negara yang dipandu dari Jakarta), berlangsung dialog-interaktif di Facebook.
Di Jakarta hadir kira-kira 200 orang dan banyak dari generasi muda. Suatu pertanda bagus. Mencerminkan semakin meningkatnya perhatian kalangan terpelajar muda negeri kita mengenai sejarah bangsanya.
Berikut ini catatan sebagian dari dialog-interaktif:
Bonnie Triyana: ---
STF yang biasanya diledekin "Sekolah Tanpa Faedah" hari ini menunjukkan faedahnya.
Bahkan lebih berfaedah dari kampus-kampus lagi di Indonesia karena hari ini STF Driyarkara berhasil menyelenggarakan tele-konfrensi peristiwa 1965 melibatkan pembicara dari empat benua: Asia (Jakarta, Indonesia)-Australia (Melbourne)-Amerika (Vancouver, Kanada) dan Eropa (Kopenhagen, Denmark).
Peserta membludak.
Mungkin sekira 200-an orang. Yang menggembirakan, sebagian anak muda
Ibrahim Isa:
Bonnie, Dear . . . .
Saya ikuti di Computer saya, bagian permulaan Telekonf. hari ini. Dengar énté pidato, Hilmar dan Stanley . . . lalu terpaksa harus keluar ada urusan. Jadinya tidak mengikutinya sampai selesai.
Bon . . . . bikin liputan yang agak lengkap dong . . .
Anyway . . . . memang hebat kalian mengusahakan Telekonf untuk mengungkap "Tragedi 65".......
Bravo!
Dan dua jempol untuk ketua sidang Romo Baskoro. . . . dan kalian semua. . . .
Salam hangat,
* * *
Bonnie Triyana:
"Pak Ibrahim Isa terima kasih pak."
Yanti My:
Duh, sayang nggak bisa mengikuti, Pak Ibrahim Isa.
Iya, Bonnie Triyana bikin liputan lengkapnya dong nanti ...!
Bonnie Triyana:
Insya Allah akan menulis... tenang..
* * *
PERTEMUAN Dengan DR ROB LEMELSON, -- PRODUSER " 40 YEARS OF SILENCE"
Ibrahim Isa
Sabtu, 31 Agustus 2013
-------------------------------
PERTEMUAN Dengan DR ROB LEMELSON, -- PRODUSER " 40 YEARS OF SILENCE"
--------------------------------------------------------------------
Di bawah ini diteruskan berita-undangan (Chan CT -Gelora45) untuk suatu pertemuan dengan Dr Rob Lemelson, produser film dokumenter
"40 YEARS OF SILENCE", kisah tentang keluarga korban tragedi 1965, yg selama 40 tahun membisu.
Akan hadir Dr. Nani Nurrachman Sutojo (Penulis buku "Kenangan tak Terucap: Saya, Ayah dan Tragedi 1965).
Pertemuan direncanakan di:
Ruang Multi Media UNIKA Atma Jaya, Jakarta.
Rabu, 4 September 2013. 09.00-12.00.
* * *
----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: Chan CT
Kepada: GELORA_In
Dikirim: Jumat, 30 Agustus 2013 13:59
Judul: [GELORA45] Screening film "40 YEARS OF SILENCE"
Bagi kawan-kawan yang di Jakarta,
diharapkan bisa meluangkan waktu untuk menghadiri acara berbincang-bincang dengan Dr. Rob Lemelson, Produseer Film “40 Years Of Silence”, kisah tentang keluarga Tragedi 1965 yang membisu selama 40 tahun dan baru bersuara sekarang, dan Dr. Nani Nurrachman Sutojo, Penulis buku “Kenangan tak Terucapkan: Saya, Ayah dan Tragedi 1965”, .... dan ingat, karena tempat terbatas, lebih dahulu harus book tempat dengan telpon: Anna, 021-5719558.
Screening film "40 YEARS OF SILENCE"
Kisah tentang keluarga korban Tragedi 1965
yang membisu selama 40 tahun
dan baru bersuara sekarang.
Ruang Multi Media UNIKA Atma Jaya, Jakarta.
Rabu, 4 September 2013. 09.00-12.00.
Bincang-bincang dengan:
Dr. Rob Lemelson (Produser film)
dan
Dr. Nani Nurrachman Sutojo (Penulis buku "Kenangan tak Terucap: Saya, Ayah dan Tragedi 1965)
RSVP: Anna (021-5719558)
* * *
Subscribe to:
Posts (Atom)
