Thursday, December 17, 2009

IBRAHIM ISA
-----------------------
Minggu, 16 Agustus 2009

----------------------------------------------------------------------------
Dengan Hati Teramat Duka - Menyampaikan Belasungkawa Kepada Zus Asni Joesoef Sekeluarga
----------------------------------------------------------------------------



Zus Asni Joesoef, Verdi, Ludfi Sekeluarga,


Dengan terkejut dan teramat sedih kami sekeluarga menerima berita dari Verdi Yusuf mengenai kepergian sahabat karibku tercinta – UCUP ( Joesoef Isak), pada hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2009 y.l.

Meninggalnya Joesoef Isak, adalah suatu kehilangan besar bagi kehidupan jurnalistik yang memihak rakyat; bagi perjuangan demi kebebasan menyatakan pendapat; serta bagi usaha reformasi, demokrasi dan HAM.

Meninggalnya Joesoef Isak merupakan kehilangan besar bagi bangsa dan tanah air, bagi rakyat, serta bagi usaha penyebaran ajaran-ajaran Bung Karno, bagi perjuangan mempertahankan Pancasila.

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.

Semoga arwahnya diterima oleh Tuhan Y.M.E di sisi Beliau.

Mengharapkan serta mendoakan Zus Asni serta seluruh keluarga tabah menghadapi musibah ini.

Amien ya rabuul alamien

Amsterdam Bijlmer Arena, 16 Agustus 2009.


* * *


Verdi Yusuf:

Kepada Yth.

Ibrahim Isa

Amsterdam



Innalillahi wa innailaihi rojiun.


Telah meninggal dunia suami/Ayah/kakek kami tercinta: Joesoef Isak jam 01.00 pagi ini, tgl. 15 Agustus 2009. Rumah duka: Jl. Duren Tiga No.36, Pancoran, Ps. Minggu, Jakarta Selatan.


Jenazah akan dikebumikan di TPU Jeruk Purut ba'da Zuhur, Saptu 15 Agustus 2009.

Wass. Asni Joesoef


(Om - tolong sampaikan beritanya ke teman2 almarhum di Paris dan Amsterdam. Saya - Verdi, putra Almarhum. Terima kasih).



* * *
IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita

Jum'at, 14 Agustus 2009

----------------------------------------------------


Joop Morrien dan Dua Bukunya

Tentang INDONESIA


Joop Morrien, sahabat lamaku, mengingatkan aku bahwa, di waktu yang lalu ia menulis a.l dua buku, ditulis dalam bahasa Belanda yang bersangkutan dengan SEJARAH INDONESIA. Ini dikemukakannya padaku setelah ia dengan seksama mengikuti tulisanku berjudul: 'KITLV dan Seratus Tahun Sutan Sjahrir' dan 'Buku Sejarah Indonesia di Reigersbos'.


Benar, aku ingat Joop Morrien, wartawan kawakan yang sudah pensiun itu, tidak sekali berkunjung ke Indonesia pada periode Presiden Sukarno. Lagipula banyak menulis artikel dan laporan tentang Indonesia. Ketika Indonesia masih di bawah rezim Orba, Joop ketika itu aktif sebagai anggota pengurus Komite Indonesia-Holland yang pendiri dan ketuanya adalah Prof Dr W.F Wertheim. Tulis Joop kepadaku, bahwa ia pernah menulis buku bersangkutan dengan sejarah Indonesia, berjudul 'INDONESIË LOS VAN HOLLAND'. Dengan subjudul – De CPN En De PKI Hun Strijd Tegen Het Nederlandse Kolonialisme' -- . Kemudian sebuah lagi berjudul 'INDONESIË LIET ME NOOIT LOS' – Vijftig Jaar Antikoloniale Strijd, Amsterdam 1995. Buku-buku Joop Morrien mengenai Indonesia itu, ditulis ketika Indonesia masih dalam periode Orba. Kiranya para peneliti, sejarawan, Indonesianis, atau, siapa saja yang berkecimpung dengan sejarah Indonesia, kiranya mengetahui keberadaan buku-buku tulisan Joop Morrien tsb.


* * *


Yang khusus patut mendapat perhatian ialah buku Joop Morrien, berjudul INDONESIË LOS VAN HOLLAND. Judul itu adalah sebuah varian dari salah satu semboyan yang disahkan oleh Kongres SDP, Sociaal Democratische Partij di Nederland. SDP kemudian mengubah namanya menjadi CPN . Dalam tahun 1914 SDP mengangkat semboyan : “Indië, Los van Holland”. Dalam bahasa Indonesia 'Hindia Lepas dari Holland. Pada waktu itu SDP telah mencantumkan di dalam programnya, masalah perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di Indonesia.


Menjadi jelas, bahwa sejak awal, SDP, sebagai suatu partai politik Belanda yang beraliran Kiri Marxis, telah mengambil posisi yang jelas dan tegas menentang kolonialisme Belanda di Indonesia.


Joop Morrien dengan rinci menguaraikan saling hubungan antara SDP-CPN dengan gerakan buruh di Indonesia, serta dengan PKI. Kedua gerakan Marxis tsb, Belanda dan Indonesia, erat bersolidaritas sampai tercapainya kemerdekaan Indonesia, lepas dari Belanda.


Untuk memperoleh sedikit gambaran umum, baik dikemukakan di sini susunan buku Joop tsb sbb: 1. Hindia lepas dari Holland dalam program SDP. 2. Watak revolusi Indonesia di negeri-negeri kolonial. 3. Indonesia, kebangkitan nasional dan pan-islamisme. 4. Pemberontakan Indonesia tahun 1926. 5. Kamp konsentrasi Boven-Digul/Liga Anti-kolonial. 6. Kongres Ke-6 Komintern. Wijnkoop dan De Visser. 7. CPN, SDAP dan 'debat kesegeraan'. 8. Ancaman fasis tahun tigapuluhan. 9. Proklamasi Republik Indonesia. 10 Linggadjati dan perang kolonial perama. 11. Perundingan Renville/Provokasi Madiun. 12. Perang kolonial kedua dan Persetujuan KMB. 13. Pemilihan umum pertama di Indonesia. 14. Nyaris Perang kolonial ketiga mengenai Niews-Guinea. 15. Perebutan kekuasaan Suharto, diktatur militer. 16. IGGI dan perlawanan.


* * *


Dalam bukunya itu Joop Morrien menunjukkan dengan tegas, bahwa penguasaan terhadap Indonesia oleh kapital kolonial selama berabad-abad adalah suatu penguasaan politik, militer dan kulturil. Imperialisme Nederland memperoleh posisi dan arti internasionalnya – dari 'pemilikannya' terhadap salah satu wilayah kolonial yang terkaya di dunia.


Di fihak lain, penguasaan kolonial Indonesia oleh Nederland menimbulkan saling-pengaruh terhadap masing-masing negeri tsb dan tumbuhnya keterjalinan sejarah antara Indonesia maupun Nederland. Hal itu telah memberikan stempel pada pertumbuhan kapitalisme di Nederland dan pengaruhnya terhadap pelbagai aliran dalam gerakan buruh Nederland dan terhadap perutmbuhan kesadaran politik klas buruh Nederland. Dan bahwa situasi tsb juga memberikan stempelnya pada situasi ekonomi di Indonesia, pada lahirnya klas buruh Indonesia, pada kebangkitan kesadaran nasional dan terhadap perjuangan untuk menbangun negara sendiri yang merdeka.


Suatu pengertian terhadap sejarah masalah Indonesia adalah penting sekali. Oleh karena dari situ banyak yang bisa dijelaskan dan difahami dalam kaitannya dengan masa sekarang dalam hubungannya dengan negeri-negeri berkembang. Demikian Joop Morrien, antara lain dalam kata pengantar bukunya itu.


* * *


Bukunya yang berjudul 'INDONESIË LIET ME NOOIT MEER LOS', 'Indonesia tak pernah melepaskan saya' – Limapuluh Tahun Perjuangan Antikolonial, Joop Morrien menyatakan sbb:

'Indonesië Los van Holland Nu' – Indonesia Lepas Dari Holland Sekarang', adalah semboyan CPN sebelum meletusnya Perang Dunia II. Bahwa sejak lahirnya, CPN menyokong perjuangan antikolonial bangsa Indonesia.


Joop mengakui bahwa Indonesia sejak 1946 mengambil tempat penting dalam kehidupan politik dan pribadinya. Dikatakannya bahwa Indonesia tidak pernah melepaskannya.


Sebagai jurnalis, Joop menulis puluhan artikel mengenai hubungan Nederland- Indonesia. Serta mengenai perkembangan masyarakat di Indonesia. Dalam beberapa bukunya ia menulis mengenai hubungan erat dan solidaritas antara kedua rakyat.


Dengan bukunya ini Joop hendak memberikan perhatian pada kepedulian pribadinya dengan Indonesia. Terhadap pengalaman dan kejadian. Dinyatakannya bahwa dalam masa limapuluh tahun telah banyak orang-orang Indonesia yang dikenalnya dan terkadang dalam waktu panjang bersama mereka.


Karena pandangan dan sikap politiknya terhadap perjuangan rakyat Indonesia, Joop di waktu lalu menjadi sasaran BVD – Dinas Keamanan Dalamnegeri Belanda.


Di dalam buku ini Joop menulis mengenai dirinya sebagai jurnalis s.k. De Waarheid. Kemudian jadi tentara wajib-militer, lalu pertemuannya dengan kaum nasionalis Indonesia. Antara lain dengan eks-Digulis di Makasar. Lalu mengenai Pitojo dan tentara Belanda yang menentang perang di Indonesia. Joop menulis juga tentang perebutan kekuasaan oleh Suharto, dalam tahun 1965-1966.


* * *

SUKA-DUKA NASIB KARYAWAN-WANITA BANGKOK

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Kemis, 13 Agustus 2009

------------------------------------



Cerita 'EI – KWANRAVEE WANGUDOM

SUKA-DUKA NASIB KARYAWAN-WANITA BANGKOK

Sahabatku mahasiwa Thai itu, nama sapaannya, adalah 'Ei'. Nama lengkapnya: *Kwanravee Wangudom. *Dewasa ini sedang menekuni studi di Belanda. Beberapa hari yang lalu 'Ei mengirimkan kepadaku sebuah cerpen berjudul 'BRA STORY'. Dalam bahasa Inggris. Ei sendiri yang menterjemahkannya dari bahasa Thai. Dikutip dari 'Bangkokbiznews.com'. Tema: Sekitar nasib, 'suka-duka' sebanyak 1959 karyawan-wanita perusahaan 'Body Fashion Unlimited' , sebuah pabrik 'BH' – , di Bangkok. Disinggung pula sikap mahasiswa umumnya di Bangkok, terhadap nasib buruk karyawan wanita pabrik 'BH'. Karena kaum mahasiswa itu terlibat dengan kehidupan di kampusnya sendiri, maka kurang peduli pada nasib rakyat kecil, yang diperas dan diperlakukan sewenang-wenang./

Cerpen, tapi beneran! Sebenarnya kiriman itu adalah sebuah 'liputan' atau laporan. Ditulis oleh salah seorang jurnalis 'Bangkokbiznews.com'.

Éi, merasa cerpen mengenai nasib suka-duka 1959 karyawan wanita Bangkok ini, menarik. Juga memilukan. Wahai, begitulah nasib karyawan buruh-kasar wanita di Bangkok. Diperas habis-habisan dengan kejam oleh modal konglomerat. 'Ei berharap supaya lebih banyak pembaca, lebih banyak orang tau tentang nasib karyawan wanita – di Bangkok. 'Ei minta padaku untuk meneruskan cerita buruh wanita Bangkok ini kepada siapa saja yang mau.



* * *



Cerita ini laporan-lapangan dan wawancara jurnalis dengan Sekjen Serikatburuh 'The Triumph Labour Union' yang hadir pada waktu para karyawan melakukan demo memprotes pemecatan oleh pemilih pabrik. Alasan 'populer' yang diberikan majikan adalah 'krisis finansil dan ekonomi global'.

Ternyata nasib kaum buruh Thailand, tidak banyak beda dengan nasib buruh di Indonesia. Idem dito nasib buruh di negeri-negeri Dunia Ketiga lainnya. Diperas habis-habisan. Selain itu memperoleh perlakuan sewenang-wenang. Cerita jurnalis memperinci ongkos produksi untuk sepotong BH yang hanya 40 baht itu. Lalu perusahaan menjualnya dengan harga tidak kurang dari 500 baht. Sedangkan upah buruh seharinya hanya 355 baht. Dalam 3-5 hari mereka harus menghasilkan 2000 sampai 5000 potong 'BH'. Pabrik menggunakan sistim gaji menurut jumlah potongan 'BH' yang dihasilkan setiap buruh. Selain itu ada pembatasan jumlah minimum 'BH' yang harus dihasilkan buruh dalam waktu tertentu. Hitung saja berapa besar keuntungan yang diperoleh kaum modal deri pemerasan terhadap kaum buruh dengan menggunakan sistim upah yang betul-betul memperpendek umur kaum buruh. Pokoknya luar biasa kejamnya sistim penghisapan yang berlaku di dunia bisnis kapitalis global dewasa ini.


* * *

Yang menarik sekali, ialah semacam kesimpulan yang ditarik dari nasib suka-duka karyawan pabrik 'BH' Bangkok, sbb:

Pertama, kaum buruh harus memperjuangkan nasibnya sendiri, dengan bersandar pada kekuatan organisasi mereka. Kedua, berusaha memperjuangkan suatu undang-undang perburuhan yang adil. Ketiga, Tidak menempuh cara aksi perjuangan pemboikotan -- Misalnya, dengan menyerukan agar dilakukan aksi pemboikotan terhadap hasil produk perusahaan tsb.

Silakan pembaca menelaah sendiri kiriman CERPEN Sahabatku 'EI, sbb:



* * *

*Bra story*– Send and translated from the Thai language,

by *Kwanravee Wangudom*

Tue, 11/08/2009 - Tippimol Kiatwateerattana

A journey of a bra does not begin at the department store but in the hands of petite women who are 100% committed to their jobs. What they get in return for their love of their work comes in white envelopes.

What do you consider when buying a bra? Quality, colour, fabric, or sexiness? No need to answer now. I want to first introduce you to three women.

Meet Thanyanun Praseotsang, 49, Yeung Kaewbuadee, 49, and Surin Hongklad, 52, the best assets of the factory. They are experts at sewing underwear for Body Fashion Limited (Thailand), producer and seller of underwear and swimming suits under the brands of Triumph, Valisere, Sloggi, Amo and Hom. All of them have worked for about 20 years, sewing more than 100,000 bras, panties and swimming suits. When asked what they liked sewing most, they answered “bras”.

Before moving their production base to Bangphli Industrial Estate, the first Body Fashion Unlimited factory was in Silom. At the beginning, it was built to produce underwear. The 150 new employees included Thanyanun. At that time, 22 years ago, they received wages of 28 baht per day.

*40 Steps*

“Do you know that making a bra takes as many as 40 steps?” Thanyanun, more experienced than the others, starts to explain about the production process. “It is not like one piece done by one employee; we divide our work according to different steps. Even a tiny bow attached to a bra still takes 3 steps to get done.

“It starts with our supervisor dividing the job into 40 steps. She will then see who is good at what and distribute the tasks accordingly, together with a time coupon or the amount of time for each task.”

“To sew a bra, you first make the cups and join them to the band, then add elastic, straps, a closure, then attach the number and so on. In constructing each cup alone, it takes several steps including placing the upper and lower cup pieces right side together and pinning at each end of the seam and at the dot or notch … God … too many steps,” Surin said. She got too tired to continue explaining as there were a lot of technical terms used.

“The most difficult part is to insert the underwire into the channeling of the bra.” Yeung is considered the expert at this particular task. By working on this, what she also got were crooked fingers.

“Too tight will not be beautiful, too loose is also not good. It must be well-balanced,” Yeung told us briefly as she does not normally talk much. Her friend had to interrupt. “Difficult or not you can see from her fingers that are now in such a crooked shape. It took her a long time before she went to see the doctor”.

The one who has just been teased confessed that she was scared that she might have to undergo surgery on her fingers. She was not scared because of pain but that somebody might steal her position while she recovered.

“There might be a younger worker who can work faster than me. The fact that I am now old, my energy has also reduced. So I have to stay strong. There was one time when my mom was sick and I had to take her to the hospital at night. In the morning I had to get my sister to take care of her as I had to rush to work at 7 am.” In a humble way, she said that all parts of the (production) process are essential because if one particular task is ruined, all the products will be returned for us to redo. It ruins the whole process.

“Even over-sewing lace by 1 mm, the work will be returned”. Thanyanun confirmed the intricacy and demand of the work.

In a year, these three senior women hardly took any days off. Surin used the words “even when you are sick, you must drag yourself to work”. For the best employee award, Thanyanun said that there was one time she woke up late and missed the bus from where she lived in faraway Rangsit. She had to take a taxi to Bangphli. “It cost more than my wages but I still had to come”, she said.

Do you still wonder why these three women are so diligent? Why do they love their jobs this much? If a worker has taken no sick leave or any other kind of leave and never reported late for work, they can earn 1,200 baht or receive a yearly pension of around 450 baht. The amount is not actually worthwhile but it is a result of the time coupon system of work that the factory practices.

*Rushing to beat the time coupons*

This time coupon system may sound like a lottery but actually because of this, the employees have become nothing but “lean and weak”.

The time coupon system basically means the worker’s wage is paid according to the wholesale price of a finished product. Each assigned task will come with fixed amount of time its completion. “For example, if we are tasked to stick on 20 bows with a 20 minute coupon, that means we have to get it done within 20 minutes. Each day, we have to do the task at this rate for up to the 480 minutes they assign. If we cannot match the given amount of time, we will only get the minimum rate (355 baht per day). But if we can, they will count the excess time at 1.03 baht per minute,” explained Boonrod Saiwong, Secretary-General of Triumph International Labour Union.Workers who cannot finish the tasks within the fixed time get told off by the supervisor. At the same time, colleagues who are involved in the process will automatically put pressure on them too as the output of each worker also affect their work.

“So there is no surprise if you see some employees cry while sewing,” said Thanyanun.

Since this system stimulates employees to produce more because nobody wants to receive just the minimum rate, what everyone does is to rush to get their tasks done. They do not drink if they are not desperately thirsty and will hold off going to the toilet. They will not eat anything that will put them at risk of getting diarrhoea. At the lunch break, they keep working until a guard blows a whistle meaning they will just have to stop. For all these efforts, they are rewarded with kidney diseases, cystitis, pyelonephritis and stress.

In the making of a bra, each step requires high dedication, skill, lightness of touch, good concentration, and love for the job.

“If you do not love the job, you will not be able to do it. Each step is very detailed and the end result must look nice,” Surin said.Beauty is increasingly demanded and accords to fashion trends, not excluding underwear.

“When we focus on making it more fashionable, the tasks also get more difficult and complex. It is more difficult to sew and patterns are never the same. Some stock orders come only in 2,000 – 5,000 pieces and are required to be done in 3 – 5 days. No matter how difficult it is, we have to speed up. This is totally contrary to the time coupons given to us which are never increased. This way, 480 baht per day is tougher to strive for. We often have no problem with bulk orders of more than 10,000 pieces because of the simple patterns we are familiar with,” Boonrod explains.
Persons who do not speak much like Yeung also could not help telling us that with this current system, hardly anyone gets to work on what they are really good at. “Once we are getting used to the work, our supervisor will move us to a different task.

“If we are used to the task, that means we will be able to finish quickly and they will deduct our time, or if they see that we can produce a lot, when new stock orders come, they will give it to different workers and deduct their time instead”. As long as this system continues, there will be tricky workers who will find a shortcut by trying to please the boss to avoid being assigned difficult tasks so that they will be able to negotiate more easily.



*Happiness that workers never get to wear*

In spite of the dire work situation at Body Fashion Limited, none of the factory workers wants to quit their jobs. The reputation and stability of the factory are of concern to them but there are also other reasons that are more important to them.

“Each bra that we made, we made with our hearts… not for the sake of merely making one. If we do not love the job, we will not be able to do it nicely. There is a kind of happiness when you see your end result come out nicely,” Surin revealed her feelings.

…Even if it is a kind of happiness that they will never get to wear.

“People who produce bras that are sold throughout the world have no chance of buying them for themselves because they are incredibly expensive. There are quotas for employees, but these are often of a different grade which are made in Vietnam. Otherwise, we have to wait for post season sales in department stores, but those are also not durable. Often the elastic will not last long”, Boonrod said.

Despite that, when we walk past the lingerie sections in department stores, we can not help smiling when we see our own work hanging there attached to such incredibly high price tags.

“We are like… Wow!! each of them costs as much as 2,000 baht. We feel proud inside that those are our work”, Thanyanun grinned.

Surin said, “We are happy just to look at them, hoping people who buy them would be happy like we are too”.

Today, out of the blue, the happiness of these four women and their other 1,954 colleagues has come to the end. They were laid off two months ago, the reason given being that the company has had to change their business structure worldwide.

At 1 am. on Friday 26th June, unlucky employees received bad news through mobile phone messages telling them to come to hear what the company had to say at BTEC, Bangna on Monday 29th June.

“When we arrived, those who came to hand us envelopes were soldiers in black uniforms, equipped with arms. Before entering the venue, they checked our bags. Even bottles of water were not allowed. Think about it, who would bring weapons? We did not even know why they told us to go there”.

The Secretary-General of the Triumph Labour Union added that 1,959 employees were put into 4 categories including 1) those who took leave, were absent or late for work 2) pregnant women 3) those who had been working for a long time, and 4) those who had occupational illnesses. Thanyanun, Surin and Yeung fell into the last two categories. Boonrod also faced the same fate as the Secretary-General of the Union.

“We used to calculate the cost of production for one bra starting from ordering raw materials to the cost of cutting. The average cost was 40 baht but they sell at 1,000–2,000 baht. Where does the difference go to? Normally each day one order produced no less than 1,000 pieces and there are all together 57 orders. Imagine how much profit they make,” Boonrod gave us the information.
Boonrod did not tell us the amount of compensation she got, but compared it to 40 good-quality swim suits. “All the effort that we had put in all the way was worth only 40 good-quality swim suits” the Secretary-General repeated.

Although they are no longer employees, today they still go to the factory. What has made it different is that now they can only stay in the front of the factory, setting up tents, protesting and demanding for justice.

When asked the classic question, “what will you do next?” they all shake their heads with mild smiles before saying that “(we have) no idea. Now we only do one thing, which is to look at the factory and ask ourselves how they could do this to us. That Friday we were still doing OT (overtime). There was no sign and out of the blue, they laid off us through mobile phone messages. Is 300,000 baht worth your whole life?”, Thanyanun asks back.

The interviewer could not answer but would like to ask again the same question:

*What do you consider when buying a bra?*

• No bra , No way

Not many people from the younger generation have a chance to learn that the journey of a bra does not start in the department store.

Suluck Lamubol is a 4th year student from the Faculty of Arts, Chulalongkorn University. She is part of a group called ‘Food Not Bombs’ which is a loose-knit group of independent collectives, serving free vegetarian food to others including to those in the tents in front of the factory of Body Fashion (Thailand) Limited.

Normally the girl buys underwear at department stores especially those with special prices. But still she chooses based on the price, quality and brand. In the past, Triumph was one of the few brands she bought.

“Before that when I bought (bras), I was only concerned about the quality. But since I have come to know the stories from our sisters here, we started to question”.

Suluck’s question came from the average price she normally pays for a bra which is no less than 500 baht, compared to the daily wage a worker earns, which is 355 baht, and the fact that they got laid off by their employers claiming that they lost money in their business due to the financial crisis.

“When I came to learn of the cost of production from our sisters here, we became even more sceptical about where the difference between the 40 baht and 500 baht has gone to. Obviously not to the workers.”

Before that, Suluck used to think that if she did not like any products, she will just not buy or boycott them. “But having been able to participate in this protest, with this very problem the workers have faced, I learned that the problem is not whether we buy or not buy, but rather relies on the strength of the labour union and labour law. And it might not be only these workers working for this brand that face this particular problem.

Suluck confessed that “no bra” was one of the options she used to take. But it did not work for her anymore since they are still considered necessity. “In a capitalist world, we still need to consume. But what got me to think more was what else we could do to help the workers. This has brought us here and we carry back what we learned to share with our friends at our faculties”.

The result was -- “They still do not feel that the matter relates to them that much. They think it is still far away from them”. But for Suluck, at least she does know.

Published in Bangkokbiznews.com, 6 August 2009

Translated by Kwanravee Wangudom. * * *

IN MEMORIAM W.S. RENDRA (1935-2009)

Kolom IBRAHIM ISA *)
Sabtu, 08 Agustus 2009
------------------------------

IN MEMORIAM W.S. RENDRA (1935-2009)

Hari Kemis 06 Agustus 2009, penyair/budayawan W.S. Rendra meninggal dunia di Jakarta, dalam usia 74 thun. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan Y.M.E. Teriring pula doa agar keluarga yang ditinggalkan tabah adanya.



* * *

Bagi seorang t o k o h penyair sekaliber Rendra meninggalkan dunia yang fana ini, seumur itu, dianggap terlalu cepat. Tidak sedikit di kalangan budayawan dan pencinta puisinya yang mengharapkan terus munculnya karya-karya seni Rendra. Banyak yang menganggap puisi Rendra punya arti dan peranan amat positif dalam periode Reformasi dewasa ini.

Meninggalnya W.S. Rendra mengangkat kembali penulisan dan komentar-komentar di masa lalu, dan saat sesudah meninggalnya Rendra. Munculnya tulisan-tulisan tsb adalah wajar. Karena Rendra adalah tokoh penyair dan budayawan terkenal -- tidak saja di Indonesia, tetapi juga di kalangan dunia sastra dan budaya internasional.

Sebagai pengakuan dan penilaian terhadap karya-karya budayanya, W.S Rendra memperoleh pelbagai award dari pelbagai kalangan budaya internasional. Dalam th 1991 W.S. Rendra meperoleh a.l WERTHEIM AWARD. Itu terjadi masih pada periode rezim Orba. Wertheim Award tsb diterimanya bersama penulis Pramudya Antara Toer (yang belum lama dibebaskan dari P. Buru dan Wiji Thukul yang sampai sekarang tak diketahui dimana rimbanya. Rendra datang sendiri ke Amsterdam untuk menerima Werthein Award tsb. Stichting Wertheim yang didirikan dalam tahun 1988 di Leiden, Holland, menjadikan emansipasi bangsa Indonesia sebagai usahanya dengan memberikan Wertheim Award bagi karya emansipatoir teladan bagi orang-orang Indonesia yang masih hidup. Orang-orang Indonesia yang sejak itu telah menerima Wertheim Award adalah penyair Rendra dan Widji Thukul, penulis Pramoedya Ananta Toer, penerbit Joesoef Isak dan jurnalis Goenawan Mohammdad serta Benny G Setiono, penulis dan aktivis. Dengan emansipasi yang dimaksudkan ialah proses sejarah kemerdekaan negeri-negeri oleh warganegara mereka, dari ketidaksamaan, keterbelakangan pendidikan dan penindasan, dari partisipasi yang tak mencukupi di bidang pengadaan hukum dan dalam pengambilan keputusan.

* * *

W.S. Rendra tahun 1991, pada masa Stichting Wertheim menyampaikan Wertheim Award kepadanya, bukanlah lagi Rendra – tahun 60-an. Rendra sudah tumbuh menjadi penyair dan budayawan yang amat peduli nasib rakyat dan bangsa. Peduli nasib rakyat kecil. Peduli warga yang tinggal di daerah-daerah kumuh di kolong-kolong jembatan. Peduli nasib jutaan anak didik Indonesia, harapan hari depan Indonesia.

Simak kepedulian Rendra terhadap apa yang terjadi di masyarakat, kongkritnya mengenai penindasan penguasa terhadap aksi-aksi mahasiswa. Baca cuplikan dari sajak Rendra yang berjudul PAMFLET CINTA , a.l sbb:

. . .

Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindui wajahmu.
Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan.
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.



* * *

Sebuah tulisan di Kompas.Com (7/08/09) menguraikan betapa kepedulian Rendra terhadap nasib negeri dan rakyat. Dalam tulisan berjudul 'Setelah Pergi, Baru Sadari Betapa Pentingnya Rendra', disimpulkannya:

Kini Rendra telah pergi. Ia tak cuma meninggalkan catatan-catatan susastra yang diakui komunitas sastra dunia, tapi juga pemikiran-pemikiran brilian tentang bangsa ini. Dialah yang senantiasa mengingatkan para penguasa negeri ini agar selalu berpihak kepada rakyat. Dia pula yang selalu membela orang-orang tertindas untuk bangkit. Rendra telah berpulang. Bukan cuma ini kali kita ditinggal pergi oleh orang-orang besar macam Rendra. Sebelum Rendra ada Ali Sadikin, Soekarno, Mbah Surip, dan tokoh-tokoh lainnya. Tapi selalu saja kita tak pernah belajar bagaimana kita menghargai dan memulyakan orang-orang besar itu secara sepatutnya semasa hidupnya.

* * *

Rendra konsisten hidup, berjuang dan menyatu dengan nasib bangsa dan rakyat.Ikuti bagian-bagian dari sajak Rendra terkait: (Cuplikan dari sajak Rendra ' Sajak Sebatang Lisong' ). . . . .

. . . . . .

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya

* * *

Pada lain kesempatan Rendra mengungkapkan nasib kaum miskin. (Cuplikan dari DOA JAKARTA)

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Perhatikan sikap dan pendirian Rendra sehubungan dengan gerakan masyarakat, kongkritnya gerakan yang menuntut keadilan. Perhatikan pula, tuntutan Rendra

dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu – ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ? (cuplikan dari sajak Pertemuan dengan Mahasiswa


Perhatikan lagi keberpihakan Rendra, terhadap rakyat yang terhina dan yang luka, serta a.l terhadap sengketa kaum tani dengan pemilik dan pengusa:

. . . . .

ya bertanya : “maksud baik untuk siapa ?”

ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
“maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?”

kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah – tanah di gunung telah dimiliki orang – orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat – alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

tentu, kita bertanya :
“lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
sekarang matahari semakin tinggi
lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu – ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?

sebentar lagi matahari akan tenggelam
malam akan tiba
cicak – cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang

dan esok hari
matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan – pertanyaan kita menjadi hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra

di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana ! (cuplikan dari sajak 'Pertemuan dengan Mahasiswa')

* * *

Jalan hidup W.S. Rendra, seorang penyair dan budayawan langka, menunjukkan betapa ia dari suatu pandangan hidup dan sikap ('non-politis'?) – 'Humanisme Universil' dan 'Seni untuk Seni', menjadi penyair dan budayawan yang PEDULI RAKYAT dan PEDULI POLITIK. Suatu perkembangan, SUATU PERUBAHAN KE ARAH YANG BENAR!

Benar kiranya, bangsa ini, rakyat ini, amat menyayangkan dan bersedih berduka dengan kepergian W.S. Rendra. Nasion kita memerlukan lebih banyak lagi penyair/budaywan seperti dia. *

*) Ibrahim Isa adalah Publisis. Sejak 2002, Sekretaris Stichting Wertheim



* * *

Sejarah INDONESIA Di Openbare Bibliotheek

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Rabu, 05 Agustus 2009
--------------------------
----------------
Sejarah INDONESIA Di Openbare Bibliotheek Reigersbos
Salah satu 'peninggalan' gerakan massa Reformasi 1998, yang amat berharga, adalah membeludaknya tulisan dan informasi. Munculnya seakan-akan tiba-tiba. Bagaikan gelombang perkasa menghempaskan kebohongan, rekayasa dan kebodohan masa Orba. Periode itu adalah masa tumbuh seperti jamur di musim hujan, -- puluhan, ratusan, bahkan ribuan tulisan, bersangkutan dengan SEJARAH INDONESIA. Khususnya penulisan mengenai periode pasca- Presiden Sukarno. Difokuskan pada periode Orba. Sebabnya banjir informasi tsb, ialah, karena pada periode Orba, penulisan dll yang menyangkut sejarah Indonesia, sepenuhnya ditentukan oleh Orba. Mutlak dikuasai oleh aparat intel dan Kejaksaan Agung. Terutama sekitar peristiwa G30S, persekusi dan pembunuhan masal ekstra-judisial yang terjadi sesudah itu. Lebih-lebih lagi yang menyangkut apa yang dipropagandakan sebagai 'perpindahan secara damai dan konstitusionil' kekuasan negara Indonesia dari Presiden Sukarno ke Jendral Suharto.

Salah satu contoh, munculnya penerbitan yang dimaksudkan, ialah, buku yang berjudul 'TAHUN YANG TAK PERNAH BERAKHIR', Memahami Pengalaman Korban 65, Esai-esai sejarah lisan. Editor: John Roosa, Ayu Ratih & Hilmar Farid. Diterbitkan oleh Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), bersama dengan Tim Relawan untuk Kemanusiaan an Institut Sejarah Sosial Indonesia, Jakarta, 2004.

Satu buku lagi, yang merupakan suatu studi khusus dan terfokus, adalah yang diulis oleh John Roosa, berjudul: 'A PRETEXT FOR MASS MURDER, The September 30 Movement & SUHARTO'S Coup d'Etat in Indonesia'. Diterbitkan dengan bantuan the Centre for Southeast Asian Studies and the Anonymous Fund for the Humanities of the University of Winconsin-Madison. Edisi Indonesianya diterbitkan oleh Hasta Mitra, 2008.
Buku-buku tsb diatas bisa terbit di Indonesia, hanya sesudah disingkirkannya Presiden Suharto. Hanya sesudah rezim Orba formal digantikan oleh pemerintah-pemerintah Reformasi berikutnya.

* * *

BELANDA, termasuk negeri yang banyak menaruh perhatian terhadap Indonesia.
Selain itu kalangan cendekiawan, lembaga ilmu dan perguruam tinggi Amerika, sejak berdirinya Republik Indonesia, seiring dengan perkembangan hubungan kedua negeri, memberikan perhatian lebih besar kepada masalah Indonesia. Ini bisa dilihat dari buku-buku hasil studi dan analisis yang ditulis oleh a.l. George Kahin. Khusus mengenai peristiwa sekitar G30S, muncul tulisan-tulisan dan buku oleh a.l. Ben Anderson dan Ruth McVey.
Belakangan bisa dilihat di buku BARACK OBAMA, berjudul THE AUDICITY OF HOPE . . . . Penerbit Canon Books Ltd, 2007. Pada Bab 8, halaman 271 s/d hlm 279 (seluruhnya 9 halaman) terdapat penulisan analisis mengenai INDONESIA. Kiranya pertama kali seorang politikus AS (ketika itu Obama anggota Senat AS), menulis demikian panjang dan mendetail mengenai Indonesia. Suatu gugahan bagi cendekiawan, mediawan dan penggiat politik Indonesia untuk membacanya!!!
Kalangan cendekiawan Australia juga menaruh perhatian cukup besar terhadap masalah Indonesia.

Di kalangan masyarakat Belanda, khususnya misalnya Stichting Wertheim, Komite Indonesia, KITLV, ISSG, NIOD, dll , perhatian itu tampak lebih banyak terbanding yang datang dari bangsa-bangsa lainnya. Ini disebabkan oleh latar belakang sejarah yang berlangsung 3,5 abad dalam hubungan dua negeri. Suatu latar belakang dominasi kolonialisme Belanda terhadap Indonesia.

Bisa dikatakan ini juga pencerminan dari situasi 'love and hate relation' antara kedua nasion ini. Kadang-kadang ia muncul di permukaan. Misalnya, yang termanifestasi dalam satu peristiwa, ketika Ratu Beatrix dan Pengeran Claus yang waktu itu dalam perjalanan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Mendadak sontak, kedua tamu agung itu mampir dulu untuk 'shopping' di Singapore.

Mengapa tidak langsung ke Jakarta? Rupanya ada 'message kilat' dari Den Haag. Agar jangan ke Jakarta dulu. Soalnya karena pas hari-hari itu, Indonesia sedang memperingati dan merayakan HARI KEMERDEKAAN 17 AGUSTUS. Kedua tamu agung Kerajaan Belanda tsb berada dalam posisi yang 'kikuk' dn 'serba salah'. Sedangkan Indonesia dalam posisi 'tersinggung' dan 'mendongkol'. Pasalnya, sampai saat itu pemerintah Den Haag masih berkeras-kepala belum mau mengakui kenyataan sejarah. Bahwa Kemerdekaan Indonesia, terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Yaitu saat sejak PROKLAMASI KEMERDEKAAN, 17 Agustus 1945, oleh Sukarno dan Moh Hatta atas nama bangsa Indonesia. Pemerintah Belanda berpegang pada pendirian bahwa Negara Indonesia (RIS) baru lahir pada tanggal 29 Desember 1949. Setelah yang dinamakan 'penyerahan kedaulatan' berlangsung dari tangan pemerintah Kerajaan Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS). Sebagai pelaksanaan persetujuan Indonesia-Belanda akhir Desember 1949 (Persetujuan Konferensi Meja Bundar).

* * *

Namun, 'ketegangan' tsb jadi reda. Disebabkan oleh kunjungan resmi Menteri Luarnegeri Kerajaan Belanda Ben Bot, untuk menghadiri Peringatan Kemerdekaan Indonesia, pada taggal 17 Agustus 2005. Kata Menlu Ben Bot dalam pidatonya a.l:

Op 17 augustus zal ik dan ons land vertegenwoordigen bij de Indonesische herdenking van de op 17 augustus 1945 uitgeroepen onafhankelijkheid. Ik zal aan het Indonesische volk uitleggen dat mijn aanwezigheid mag worden gezien als een politieke en morele aanvaarding van die datum. Maar waar het nu in de eerste plaats om gaat is dat wij de Indonesiërs eindelijk klare wijn schenken. Al decennialang zijn Nederlandse vertegenwoordigers op 17 augustus aanwezig bij vieringen van de Indonesische onafhankelijkheid. Ik zal met steun van het Kabinet aan de mensen in Indonesië duidelijk maken dat in Nederland het besef bestaat dat de onafhankelijkheid van de Republiek Indonesië de facto al begon op 17 augustus 1945 en dat wij - zestig jaar na dato - dit feit in politieke en morele zin ruimhartig aanvaarden.

Diterjemahkan secara bebas, kurang-lebih beginilah bunyi pernyataan Menlu Belanda Ben Bot:

'Pada tanggal 17 Agustus saya akan mewakili negeri kita pada peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Saya akan menjelaskan kepada rakyat Indonesia bahwa keberadaan saya boleh dianggap sebagai suatu penerimaan politik dan moril bersangkutan dengan tanggal tsb. Tetapi yang pertama-tama di sini ialah bahwa kita akhirnya menghidangkan anggur yang jernih kepada orang-orang Indonesia. Sudah berlangsung puluhan tahun para wakil Nederland hadir pada perayaan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus. Dengan dukungan pemerintah, saya akan menjelaskan kepada orang-orang di Indonesia bahwa di Nederland terdapat pengertian bahwa kemerdekaan Republik Indonesia, de facto telah dimulai pada tanggal 17 Agustus 1945 dan bahwa kita – enampuluh tahun sesuah tanggal itu – menerima kenyataan ini politik dan moril dengan hati yang luas'.

* * *

Meskipun melalui lika-liku dan mengambil waktu tidak kurang dari 60 th, akhirnya Den Haag mengakui juga fakta sejarah bahwa INDONESIA MERDEKA pada tanggal 17 AGUSTUS 1945.

Dalam arti tertentu pengakuan pemerintah Belanda bisa dikatakan tergolong PELURUSAN SEJARAH. Sekalipun datangnya terlalu terlambat, mendapat sambutan juga di kalangan masyarakat Indonesia. Di lain fihak ada reaksi bahwa pengakuan Belanda tsb bukan timbul dari kesadaran murni. Tetapi disebabkan oleh pelbagai kritik dan tekanan terhadap pemerintah Belanda, yang begitu lama mempertahankan pandangan kolonialnya. Pengakuan tsb juga ada yang menganggapnya sebagai 'plintat-plintut' dan 'malu-malu kucing'. Disebabkan a.l oleh sikapnya yang terlalu menenggang dan 'takut' oposisi yang datang dari jurusan para mantan-KL dan KNIL. Mereka-meraka itu ikut ambil bagian langsung dalam perang kolonial melawan Republik Indonesia. Juga ada kekhawatiran bahwa oposisi akan menuntut ganti rugi kepada pemerintah, karena mereka merasa tertipu dan dibodohkan oleh pemerintah ketika diperintahkan terjun dalam perang di Indonesia melawan Republik Indonesia.

* * *

Tulisan ini maksudnya menunjukkan bahwa sebuah buku yang terpampang di rek buku Openbare Bibliotheek Reigersbos, Nederland, adalah mengenai SEJARAH INDONESIA. Seperti ditulis oleh penerbitnya, buku sejarah Indonesia ini, menjelaskan sejarah Indonesia kuno maupun yang terbaru. Dijelaskan tentang kerajaan-kerajaan besar dan jaya sebelum datangnya orang-orang Eropah, masuk dan ekspansi Islam dan hubungan yang tak serasi antara pelbagai kerajaan di Jawa. Dan akhirnya mengenai VOC pada abad ke-17 dan abad ke-18. Juga ditulis agak mendetail mengenai masa kolonial, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan dan penyerahan Irian Barat.

Yang bikin buku sejarah Indonesia ini agak unik, ialah perhatian yang diberikan terhadap orang-orang Belanda-Indo. Mereka itu menempati kedudukan yang agak 'terjepit' diantara lapisan atas yang kolonial – yaitu orang-orang Belanda totok – dan, mayoritas mutlak rakyat Indonesia. Perang Dunia II dan selanjutnya mereka menghadapi kesulitan untuk memilih antara dua tanah air, membikin sejrah dari orang-orang Belanda Indo amat mengharukan (bewogen).

Dikatakan selanjutnya bahwa buku SEJARAH INDONESIA ini, ditulis dengan jernih dan merupakan karya standar. Dihiasi banyak gambar dan foto berwarna, menjadikannya sebuah sejarah yang komplit, yang punya hubungan erat ratusan tahun dengan Nederland. Demikian tulis penerbitnya antara lain. Aku kira apa yang digambarkan oleh penerbit mengenai buku SEJARAH INDONESIA, bolehlah.

* * *

Salah satu ukuran penting --- obyetif-tidaknya penulisan peristiwa sejarah Indonesia sejak lahir dan tumbuhnya gerakan kemerdekaan nasional, ialah --- bagaimana ditulis mengenai PKI. Tentang lahir- tumbuh, kegiatan dan andilnya dalam perjuangan kemerdekaan nasional. Bagaimana duduknya saling hubungan antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Sarekat Islam (SI). Bagaimana peranan para pemimpin perjuangan anti-kolonial. Seperti Sukarno, Moh. Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Alimin, Amir Syarifuddin, Husni Thamrin, dll. Bila itu ditulis sesuai fakta-fakta seperti terdapat dalam arsip/fakta/foto, di banyak perpustakaan, arsip, dokumentasi dan lembaga studi yang tersebar di dunia ini, khususnya di negeri Belanda, --- maka boleh dikatakan penulisnya berusaha obyektif. Dengan catatan bahwa harus selalu diingat, adalah wajar, bahwa penulisan sejarah, tidak bisa mutlak bebas dari pandangan subyektif penulisnya mengenai peristiwa sejarah tsb.

Bila itu ditulis dengan pelbagai rekayasa dan pemalsuan, dipotong di sini, ditambah di sana, atau samasekali 'dihilangkan', maka penulisan sejarah seperti itu adalah subyektif. Bahwa penulisan seperti itu adalah pembengkokan atau pemalsuan terhadap fakta sejarah. Apalagi bila fakta atau peristiwa itu s a m a
s e k a l i tak ditulis. Seperti umpamanya, 'kekosongan' catatan dan pemberitaan mengenai pembunuhan masal ekstra-judisial terhadap ribuan, bahkan lebih sejuta warga yang tak bersalah, s e s u d a h terjadinya G30S. Dimana jelas tanggungjawabnya ada pada aparat keamanan. Kejadian pelanggaran kemanusiaan itu boleh dibilang samasekali tak ada dalam dokumentasi, pemberitaan resmi atau catatan umum sejarah semasa rezim Orba. Atau penulisan yang direkayasa, seperti penulisan Orba terhadap penamaan Gerakan 30 September (G30S). Penulisan oleh Orba, tidak seperti apa yang dinyatakan sendiri oleh pelakunya, yaitu: Gerakan 30 September disingkat G30S. Pencatatan dan penyiaran Orba menambahkan kata – 'PKI'- dibelakang kata 'G30S'. Sehingga kata G30S menjadi: G30S/PKI. Suatu penemuan atau rekayasa penulisnya sendiri. Apa yang dilakukan Orba bukan penulisan atau pencatatan sejarah! Tetapi PEMALSUAN atau PEMBENGKOKAN SEJARAH!

Lihat contoh bagaimana buku sejarah Indonesia yang ditulis oleh orang-orang Belanda dan ditempatkan di Openbare Bibbliotheek Reigersbos. Pada buku 'Geschiedenis van Indonesië' itu, di halaman 98, dimuat sebuah foto dari sepuluh orang pemuda Indonesia berjas putih. Ada yang memakai kopiah hitam ada yang tidak. Dua orang diantaranya mengenakan sarong. Di belakang mereka ada papan-tulis hitam dengan tulisan PKI (gambar palu-arit) SI. Di bawah foto terdapat teks berbunyi sbb: Foto van een bijeenkomst van leden van de PKI en van de Sarekat Islam te Makassar (Zuid-Celebes) op 8 April 1923. Communisten en Moslims vonden elkaar in de strijd tegen het zondige Europese kapitalisme. De samenwerking hield echter niet lang stand. Bahasa Indonesianya kira-kira sbb: Foto suatu rapat anggota-anggota PKI dan Sarekat Islam di Makasar (Celebes-Selatan) pada tanggal 8 April 1923. Orang-orang Komunis dan orang-orang Muslim saling bertemu dalam perjuangan melawan kapitalisme Eropah yang durhaka. Namun, kerjasama itu tak tahan lama. Dst. Itu sekadar contoh, bagaimana hubungan PKI dan SI ditulis dalam buku tsb.

Contoh lain yang menarik: -- Pada Bab 5, buku yang sedang kita bicarakan ini, ditulis judul KEBANGKITAN NASIONALISME. Foto yang dimuat adalah foto-foto Abdoel Rivai (pendiri majalah BINTANG HINDIA, kemudian jadi anggota Volksraad, sebagai wakil Sarekat Islam); Abdoel Moeis (salah seorang pendiri majalah KAOEM MOEDA di Bandung); dan Tirtoadisoerjo (salah seorang pemdiri a.l SAREKAT DAGANG ISLAM).
Lebih menarik lagi adalah foto profil Tirtoadisoerjo yang dimuat di situ. Foto itu adalah foto yang sepenuhnya foto-kopi buku Pramoedya Ananta Toer, berjudul SANG PEMULA, terbitan Lentera Noesantara.

Selanjutnya ada tulisan pada fasal 3 bab tsb, berjudul Organisasi Nasionalis Pertama dan Asal-usulnya. Dinyatakan bahwa OSVIA, STOVIA dan ELS adalah kolam budidaya NASIONALISME. Ditulis bahwa Rivai, Moeis dan banyak kaum nasionalis lainnya adalah siswa-siswa pertama OSVIA (sekolah pendidikan bagi pamongpraja bumiputera) dan STOVIA (Sekolah pendidikan dokter bumiputera). Dua sekolah tsb adalah dua badan perguruan tinggi yang dianggap sebagai kolam-budidaya (buaian) nasionalisme (Indonesia).
(Bersambung) * * *

Wednesday, August 26, 2009

KITLV – DAN SE-ABAD SUTAN SJAHRIR

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita

Rabu, 29 Juli 2009

-------------------------------------


KITLV – DAN SE-ABAD SUTAN SJAHRIR




Tak lama setelah menerima undangan KITLV – lewat email, aku menilpun sahabat lama Francisca Pattipilohy. Menanyakan apakah ia ada minat untuk bersama-sama memenuhi undangan KITLV. Aku tau Cisca Pattipilohy sudah lama anggota KITLV, Leiden. Mungkin saja ada pembaca yang sudah lupa apa makna nama KITLV: -- Ini dia -- KITLV adalah singkatan dari suatu lembaga di Nederland, bernama: 'Koninklijke Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, atau dalam bahasa Inggrisnya, ditulis sbb: Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies.


Francisca bermaksud mengajak sahabat lainnya, Sutji. Jadilah kami bertiga, sore kemarin itu, menghadiri pertunjukan film dan 'seminar' SJAHRIR 100 HARI,

Begini bunyi lengkapnya teks undangan tsb: THE LEIDEN SOUTHEAST ASIA SEMINAR ---
We kindly invite you to attend the following film and seminar : “Syahrir 100 hari” by Des Alwi (1927), filmmaker and head of the Orang Kaya of the Banda islands. Date:Tuesday 28 July
Time:15.30 h – 17.00 h. Venue:Room 005 (ground floor), Lipsius building, University of Leiden
Cleveringaplaats 1, 2311 BD Leiden Please register if you wish to attend:kitlv@kitlv.nl . drs. S.R. (Yayah) Siegers-Samaniri -- Directiesecretaris / Director's Office and Supporting Staff

Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde / Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies. The Leiden Southeast Asia Seminar is a cooperation of the KITLV, IIAS, VVI and the Departments of Languages and Cultures of Indonesia and of Cultural Anthropology & Development Sociology, Leiden University.


* * *


Untung, ketika kami hendak masuk ke gedung KITLV, bertemu dengan orang KITLV, sahabatku Gerry van Klinken. Hai, katanya, apa kalian tidak pergi nonton film tentang Sjahrir? Wah, kebetulan jawabku. Kami juga mau nonton film dan seminar 100 th Sjahrir. Mari bersama ke sana, kata Gerry. Jalanlah kami bersama-sama menuju ruangan 005 di gedung Lipsius, yang letaknya berseberangan dengan gedung KITLV.


* * *


SUTAN SJAHRIR, adalah salah seorang tokoh nasional pejuang kemerdekaan sejak zaman kolonial. Beliau populer pada periode Revolusi Kemerdekaan. Ketika itu Sjahrir dikenal di dunia diplomasi internasional sebagai diplomat yang ulung. Di kalangan teman-teman dekat beliau, juga di kalangan orang-orang Republikén, beliau populer dengan nama panggilan BUNG KETJIL. Panggilan ini disebabkan penampilan tubuhnya yang memang 'kecil'.


Maret 2009 adalah tahun ke-100 lahirnya Sutan Sjahrir. Tanpa diragukan, Sutan Sjahrir adalah salah seorang FOUNDING FATHERS nasion Indonesia. Ketika memperingati Seratus Tahun Sjahrir, aku teringat kepada Subadio Sastrosatomo, mantan Sekjen PSI. Sesudah meninggalnya Sutan Sjahrir, beliau dianggap embahnya orang-orang PSI, meskipun ketika itu PSI sudah menjadi parpol terlarang. Suatu ketika, pada zaman Orba, Subadio pernah mengatakan kepada seorang kawan dekatnya, kira-kira begini: 'Menentang Bung Karno, adalah salah. Ini membikin Bung Karno bersandar pada PKI. Sekarang ini kita (maksudnya orang-orang PSI dan pendukungnya) harus bersatu dengan Sukarnois, dalam melawan Orde Baru'. Subadio Sastrosatomo, yang konsisten dalam kegiatan politiknya, – - bekerja giat untuk mengkoreksi yang dianggapnya suatu kesalahan PSI yang pada suatu masa panjang menentang Presiden Sukarnol


DES ALWI mengaku dia adalah anak angkat Sutan Sjahrir. Menganggap sangat mengenal Sutan Sjahrir. Jangan lupa: Sutan Sjahrir bukan sebarang orang seperti kita-kita ini. Beliau semasa hidupnya adalah embahnya PSI. Wajarlah dianggap bahwa Des Alwi hidup dan kegiatannya ada dalam habitat orang-orang PSI. Mestinya Des Alwi kenal siapa Subadio Sastrosatomo, embahnya PSI sesudah Syahrir meninggal dunia. Maka seyogianya mengerti, perubahan politik PSI yang tadinya menentang Bung Karno, menjadi politik bekerjasama, serta bersatu dengan para Sukarnois dan pendukungnya melawan rezim Orba.


Sungguh, tidak habis heran aku dibikinnya! Bagaimana bisa terjadi bahwa, Des Alwi membikin sebuah film dokumenter dengan judul SERATUS TAHUN SJAHRIR, tetapi isinya banyak mendeskreditkan Presiden Sukarno dan politiknya. Tambahkan fakta ini lagi: KITLV mengundang orang-orang untuk memberikan kesempatan kepada Des Alwi mempertunjukkan film dokumenter yang begitu berat sebelah dan tendensius. Juga menimbulkan tandatanya tertentu dalam benakku, mau kemana KITLV ini? Apalagi Des Alwi sendiri menyatakan dalam orasinya bahwa film dokumenternya itu, yah, seperti GADO-GADO layaknya.


Sayang, sesungguhnya ada sementara bagian dari film dokumentasi Des Alwi yang punya arti sejarah. Malah ada bagian-bagian yang baru kali itu dipertunjukkan untuk umum. Tetapi, karena pengeditannya amaturis, lebih-lebih karena 'ada udang dibalik batu', maka tak salahlah bila orang membenarkan penilaian Des Alwi sendiri bahwa film dokumenter itu – GADO-GADO! Gado-Gado tetapi jelas bagi penonton bahwa film tsb berat sebelah. Jelas pula, menyasar Presiden Sukarno.


Dipertunjukkanlah a.l. adegan demo KAMI/KAPPI di Jakarta pada akhir 1965/1966 menuntut dilorotnya Presiden Sukarno. Dikemukakan wawancara mahasis-mahasiswa KAMI/KAPPI yang menentang Presiden Sukarno, Diambillah wawancara Mr Moh Roem, salah seorang tokoh Masjoemi yang ngegongi bahwa era Sukarno sudah selesai, dsb.


Bisa dilihat juga antara lain, Presiden Sukarno menyatakan bahwa DALAM REVOLUSI TIDAK ADA KEBEBASAN PERS. Pernyataan Presiden Sukarno itu menimbulkan reaksi gelak-tawa di kalangan penonton sore itu. Suatu reaksi yang mengandung cemooh terhadap pernyataan Sukarno itu. Padahal setiap orang tau, bahwa pada periode revolusi kemerdekaan kita, mana ada kebebasan pers seperti yang diartikan Barat. Di daerah Republik Indonesia yang bebas dari pendudukan tentara Belanda, dan di daerah pengaruh RI lainnya, memang benar tidak ada kebebasan pers, yang memberikan hak kepada media untuk membela kolonialisme Belanda, dan bermaksud hendak mengahncurkan Republik Indonesia. Dalam hal ini sesungguhnya pernyataan Bung Karno itu benar! Pada waktu revolusi sedang berlangsung, tidak ada dan tidak mungkin akan ada kebebasan pers. PERS HARUS MENGABDI REVOLUSI. Memang demikianlah tuntutan suatu revolusi. Itu fakta sejarah. Revolusi mana saja tidak akan mengizinkan 'kebebasan pers' untuk menentang dan menyabot revolusi itu sendiri.


Orang tinggal milih. Setuju revolusi, atau, menentang revolusi tsb. Dalam hal itu pilihan itu bebas.

Itulah apa yang dinamakan LOGIKA REVOLUSI. Dengan sendirinya yang tidak setuju revolusi, bahkan menentang revolusi, tidak akan mengerti logika revolusi ini.


* * *


Selesai film dokumenter ditayangkan, Des Alwi menegaskan lagi betapa banyaknya, puluhan ribu romusha atau lebih, yang jadi korban pada waktu pendudukan militer Jepang. Semua kesalahan dan tanggungjawabnya dipikulkannya di atas pundak Bung Karno. Padahal di dalam buku otobiografinya yang ditulis oleh wartawan Amerika Cindy Adams (1965), Bung Karno memberikan penjelasan tentang peranan politiknya bersama Hatta pada waktu pendudukan Jepang. Timbullah tandatanya pada penonton seperti aku ini, mengapa penjelasan Bung Karno tsb tidak ditunjukkan dalam film dokumenter Des Alwi. Sehingga film dokumenter itu, beralih dari semula hendak memperingati '100 th Sutan Sjahrir' menjadi suatu film dokumenter yang sasarannya adalah Presiden Sukarno.


Seusai orasi Des Alwi dan seorang hadirin mengajukan pertanyaan, aku minta waktu untuk bicara. Kunyatakan sbb: Sayang, film dokumenter yang memuat hal-hal yang berguna, telah menjadi sebuah film dokumenter yang BERAT SEBELAH. Bila aku seorang Sukarnois, maka AKU AKAN MARAH! Sekian saja pendapatku. Baik Des Alwi maupun Dr Henk Schulte Nordholt, yang menjadi moderator, tidak memberikan reaksi apapun terhadap pernyataanku itu.


Sementara hadirin, termasuk beberapa mahasiswa Indonesia postgraduatestudies, menghampiri aku dan mengatakan bahwa mereka sependapat dengan apa yang kunyatakan tadi itu.


* * *


Akhirulkalam, ingin kusarankan kepada para sabahat, dan kepada orang yang baru kukenal itu, yaitu filmproduser Des Alwi, agar melihat film dokumenter yang dipublikasi oleh Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie, NIOD, 2005. Semuanya dalam 3 buah DVD. Temanya adalah: Nederlands Indië in De Tweede Wereldoorlog. Masing-masing DVD, terdiri dari 1) Indië Paraat,2) De Japanse Overheerzing dan 3) Nederlanders geinterneerd en de capitulatie van Japan. Dalam pengantarnya ditulis a.l bahwa, Pemimpin Nasionalis Indonesia, ir Sukarno, hendak merealisasi kemerdekaan negerinya melalui kerjasama erat dengan Jepang.


Jika pembaca berkenan silakan melihat sendiri 3 DVD mengenai Indonesia, yang dikeluarkan oleh NIOD pada tahun 2005.


Secara kebetulan belum lama aku dipinjami 3 DVD tsb oleh seorang sahabat yang hobinya antara lain adalah membaca literatur dan/atau melihat film-film dokumenter mengenai Indonesia. Melihat 3 DVD tsb dan membandingkannya dengan film dokumenter Des Alwi, tibalah orang pada kesimpulan bahwa, film dokumenter yang dibuat NIOD, rasanya lebih obyektif dan berimbang.


* * *


Bahwa SERATUS TAHUN SUTAN SJAHRIR, diperingati oleh bangsa Indonesia, memang begitulah seharusnya. Ini adalah sebagian dari prinsip TIDAK MELUPAKAN SEJARAH BANGSA SENDIRI. Tidak lupa pada pejuang-pejuang kemerdekaan yang telah mendahuli kita.


Tetapi memperingatinya seperti yang dilakukan oleh Des Alwi, cara yang demikian itu kontra-produktif dengan maksud baik semula.


* * *

BAGAIMANA MEMAHAMI MAKNA REVOLUSI

Kolom IBRAHIM ISA

Jum'at, 24 Juli 2009

---------------------------------

BAGAIMANA MEMAHAMI MAKNA REVOLUSI



Beberapa hari belakangan ini ramai politisi, elite dan media Indonesia mempersoalkan masalah REVOLUSI. Dalam hatiku: Bagus sekali ! Bahwa masalah REVOLUSI menjadi hangat dibicarakan. Dengan sendirinya masing-masing menyatakan pemahamannya sendiri mengenai apa itu Revolusi. Sehubungan dengan pemberitaan adanya 'ancaman' (kepada SBY), bila SBYmemang akan timbul revolusi,tampaknya memancing reaksi fihak lainnya. Muncul berita di media bahawa Mega dan Prabowo juga akan melaksanakan revolusi (bila menang) . Tak lama lagi disusul pula dengan pernyataan fihak SBY/Partai Demkrat tentang 'QUITE REVOLUTION' atau 'REVOLUSI SENYAP' yang mereka adakan. .

Menjadi jelas bahwa kata REVOLUSI itu, interpretasi apa itu revolusi bukanlah monopoli penguasa, politisi, pakar ataupun elite. Nyatanya yang mula membicarakan masalah revolusi, mungkin, adalah para pemikir. Mereka mencoba merumuskan: APA SIH YANG DINAMAKAN REVOLUSI ITU. Sekali tempo di negeri kita, revolusi itu tabu untuk diomongkan. Namun kalangan lainnya menganggap bahwa revolusi itu adalah sesuatu yang positif! Yang diperlukan oleh masyrakat itu sendiri agar tidak mandek, tidak jalan di tempat! Malah ditegaskan bahwa revolusi itu merupakan hukum alam. Tidak bisa ditangkal atau dicegah. Ia akan muncul, meletus bila syarat-syaratnya sudah tersedia. Disukai atau tidak. Ditakuti atau diharapkan, disepanjang sejarah masyarakat manusia, Revolsui itu bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan dan perkembangan masyarakat. Bisa dilihat di catatan sejarah, bahwa sesudah terjadinya Revolusi, biasanya disusul oleh lompatan kemajuan dan perkembangan yang lebih cepat dalam masyarakat sesuatu bangsa. Cobalah liat hal ini pada Revolusi Perancis, Revolusk Amerika, Revolusi Oktober Rusia, Revolusi Tiongkok, Revolusi Vietnam, Revolusi Aljazair, Revolusi Cuba, dan . . . . REVOLUSI INDONESIA.

Bagi kita sejak semula kata revolusi itu bukan barang tabu. Bukan sesuatu yang aneh. Bukan sesuatu yang tidak difahami. Republik Indonesia lahir berkat atau dimulai denga kalimat, pengumuman PROKLAMASI KEMERDEKAAN. SUATU REVOLUSI. Maka sering disebut REVOLUSI AGUSTUS 1945. Sebagai suatu nasion muda yang lahirnya dimulai dan digembleng dalam kancah perjuangan damai dan peperangan, kata REVOLUSI bukan suatu istilah yang tidak dimengerti. Bagi bangsa kita REVOLUSI itu adalah suatu berkah. Sesuatu yang pecah sebagai puncak perlawanan terhadap ketidakadilan, penindasan dan dominasi kolonialisme dan kekuasaan militer Jepang. Republik Indonesia lahir dan terkonsolidasi di dalam kancah Revolusi Agustus 1945. Maka siapa berani bilang kita takut atau emoh revolusi. Siapa bilang kita tidak mengerti revousi.

* * *

Hanyalah sejak rezim Orde Baru berkuasa, kata revolusi itu menjadi 'tabu'. Orang jadi takut membicarakan masalah revolusi. Karena masyarakat dibikin takut terhadap revolsui. Revolusi digambarkan sebagai suatu bencana, sebagai sutu kejahatan. Tidak aneh. Karena Orde Baru lahir dan berjaya, dengan menggulingkan Bapak Nasion dan Guru Revolusi Indonesia, Bung Karno. Yang menjadi soal. Apakah sesudah menggulingkan rezim Orde Baru, memasuki periode Reformasi, warisan Orba tsb masih hendak diteruskan?

Syukur alhamdulillah, karena sekarang ini partainya Presiden SBY sendiri, Partai Demokrat yang menyatakan bahwa selama ini Partai Demokrat beragendakan dan melakukan Revolusi. Jelasnya suatu QUITE REVOLUTION. Revolusi Senyap, begitu! Mungkin ini sebagai reaksi terhadap pernyataan dari fihak PDI-P, bahwa Mega dan Prabowo, bila menang, akan mengadakan REVOLUSI.

Mari ikuti penjelasan yang diberikan oleh Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, apa yang dimaksudkannya dengan 'quiet revolution' . Partai Demokrat yang didirikan dan dibina sejak 2001 telah melakukan quiet revolution (revolusi senyap). Makanya mampu menang dalam pemilihan umum legislatif pada 9 April 2009.

Revolusi senyap itu dilakukan sejak 2005 melalui sebuah perencanaan dan persiapan. "Diam-diam, melaksanakan quiet revolution."

Revolusi senyap itu memperkuat infrastruktur, meningkatkan kemampaun kader, dan pembekalan lain. "Tiap-tiap kader ikut pelatihan kepemimpinan selama dua minggu".

Revolusi senyap dikatakan salah satu dari lima faktor atau kunci keberhasilan Partai Demokrat meningkatkan raihan suara hampir 300 persen. Empat faktor lain adalah rahmat Tuhan, kerja keras, kekompakan, dan program prorakyat yang digelontorkan dalam bentuk BLT dan sebagainya.

Lima tahun tanpa banyak publikasi, kami menata diri, membenahi diri untuk hasil yang lebih baik,"

Demikian penjelasaqn SBY sendiri mengenai apa yang dimaksudkannya dengan QUIET REVOLUTION .



Maka, dalam dunia kehidupan yang nyata, tidak ada tempat bagi siapa saja yang 'alergi', takut, atau phobi revolusi. Karena alergi, takut dan phobi terhadap revolusi, tak ada gunanya, karena pada suatu ketika REVOLUSI ITU TOH AKAN TERJADI.

Sehingga, bisa timbul kesan seolah-seolah tak ada isu atau kasus lain yang lebih urgen dan menarik di Indonesia dewasa ini, selain masalah REVOLUSI. Ditelusuri ke belakang, isu ini muncul dan membengkak terus, diawali oleh pemilu kemudian pilpres. Jadi hangat dibicarakan, karena ternyata 'incumbant president', presiden yang sedang berfungsi menggondol kemenangan. Kemudian diberitakan bahwa telah dideteksi sejumlah ketidak-wajaran atau kekisruhan, bahkan disebut ksesengajaan menjurus rekayasa sekitar pencatatan daftar pemilih. Tidak aneh, bahwa fihak yang kalah yang mempersoalkan 'ketidak-beresan' pemilu, teristimewa pilpres.

Dimana-mana begitu! Di Iran masih saja 'ramai' sekitar 'rekayasa' yang terjadi dalam pemilihan presiden. Presiden Ahmadinejad keluar sebagai pemenang. Oposisi yang dikepalai oleh Mousavi, menggugat hasil pemilu. Muncul demonstrasi berhari-hari diikuti oleh ribuan massa. Aparat keamanan bertindak melarang dan menindas kaum oposisi. Tampil para ayatolah dan mullah membenarkan Ahmadinejad. Kemudian tampil mantan presiden Rafsanjani, yang sedikit banyak menunjukkan keberfihakannya pada oposisi. Sampai sekarang masalah pemalsuan pemilu sebagai dituduhkan oposisi, masih belum selesai di Iran. Mantan presiden Iran, Ali Khatami, seperti halnya mantan calon presiden Ali Akbar Rafsanjani, tiga hari yang lalu menyatakan bahwa krisis yang ada sekarang sekitar terpilihanya kembali Presiden Mahmoud Ahamdinejad hanya bisa diselesaikan lewat referendum. Ini bertentangan dengan keputusan kekuasaan tertinggi Iran dibawah ayatollah Ali Khamenei, bahwa pemilihan lalu sudah sah.

Nah, muncul suara-suara, bahwa akan terjadi Revolusi Iran Edisi Kedua, sesudah Revolusi Iran th 70-an yang juga diklaim sebagai Revolusi Islam menggulingkan Syah Reza Pahlevi.

* * *

Meragukan hasil pemilihan bukan sesuatu yang baru. Di banyak negeri sering terjadi pemenang pemilihan tsb memang melakukan rekayasa. Artinya terjadi ketidakjujuran. Jangan jauh-jauh ambil contoh. Liat saja hasil pemilihan presiden Amerika dimana Georege Bush keluar sebagai pemenang. Di Amerika saja, suatu negara yang dikatakan merupakan negara demokrasi terbesar di dunia, berumur 200 tahun lebih masih bisa terjadi 'kehebohan' sekitar hasil pemilihan persiden. Begitu 'rumitnya' menentukan siapa yang menang, sehingga akhirnya diserahkan kepada Mahkamah Agung untuk menentukan siapa yang benar-benar telah memenangkan pemilihan presiden AS tahun itu.

Timbullah klaim, bahwa Bush jadi presiden bukan hasil pemilihan, tetapi adalah ketentuan oleh Mahkamah Agung. Jadi Bush bukan presiden pilihan rakyat. Namun, George Bush sempat berkuasa 8 tahun. Sempat melancarkan perang agresi di Irak. Dengan dalih bahwa rezim Hussein, menyimpan 'senjata pemusnahan masal'. Presiden Bush juga sempat membangun penjara Guantanmo yang meninjak-injak hukum internasional mengenai tawanan perang. Dalih Bush memperlakukan tawanan Guantanamo di luar kemanusiaan memperlakukan tawanan. Presiden Bush bilang meraka itu bukan tawanan perang, tetapi 'foreign combattant', 'pejuang asing'. Tapi Presiden baru AS Barack Obama, memutuskan menutup penjara Guantanamo. Karena warisan Bush itu telah memerosotkan wajah AS di dunia iternasional sebagai suatu pelanggaran terhadap HAM.

* * *

Mari liat apa yang dikatakan oleh kalangan linguist seperti yang dimuat di 'Websters New International Dictionary', Volume II, H to R – Encyclopaedia Britannica, INC. 1981. Mengenai makna kata REVOLUSI, a.l dijelaskan, sbb: Revolusi adalah . . . 'suatu perubahan tiba-tiba, radikal atau keseluruhan. Selanjutnya, Revolusi itu adalah: Suatu perubahan fundamental dalam organisasi politik, atau dalam pemerintah,atau konstitusi dan digantikannya dengn pemerintah yang lain.

Memang, sebagai bangsa yang memulai revolusinya pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa kita telah mengadakan perubahan tiba-tiba, radikal dan menyeluruh atas kekuasaan di Indonesia, yang ketika itu masih dikuasai oleh balatentara Jepang. Revolsi Agustus pada mulanya tidak mengambil bentuk kekerasan, seperti umpamanya pemberontakan bersenjata dalam Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, maupun Revolusi Sosialis Oktober 1917 di Rusia. Secara keseluruhan Revolusi Kemerdekaan Indonesia dimulai dengan damai. Di sana-sini terjadi kekerasan. Hanyalah sesudah tentara Inggris memulai konflik bersenjata di Surabaya, Revolusi memasuki tahap kekerasan bersenjata.

Bagaimana dengan 'revolusi' yang katanya hendak dilaksanakan oleh Mega-Prawobo? Nyatanya sekadar hendak mengadakan perubahan bersangkutan dengan diat/makanan anak-anak Indonesia. Yang dimaksudkan dengan revolusi adalah 'perubahan besar -besaran' dalam menu makanan anak-anak. Agar secara keseluruhan dan besar-besaran anak-anak Indonesia mulai minum susu. Supaya sehat dan pandai.

Tidakkah agak 'sederhana' bila begini caranya memaknakan arti REVOLUSI?

* * *