Wednesday, October 9, 2013

MANDELA KAGET TK ADA FOTO BUNG KARNO DI GEDUNG ASIA-AFRIKA

Kolom IBRAHIM ISA Senin, 07 Oktober 2013 ---------------------- Bacalah artikel di bawah ini: Pertama kali kubaca hari ini di FB-nya Amir Hendradi (Jerman), berjudul: ============================================================= MANDELA KAGET TK ADA FOTO BUNG KARNO DI GEDUNG ASIA-AFRIKA ============================================================= Penulis: Jay Akbar Jay --- Jay Akbar adalah Alumni Sejarah Universitas Diponegoro Semarang. Saat ini bekerja sebagai wartawan di salah satu media nasional. Meminati kajian sejarah, budaya, dan militer. * * * Artikel penting ini, mengungkapkan betapa parahnya rezim oriter Orde Baru Jendral Suharto bertindak dalam usahanya MEMULAS SEJARAH BANGSA. Politik de-Sukarno-sasi Orba tidak kepalang tanggung: Presiden Sukarno yang memprakarsai Konferensi Asia-Afrika di Bandung (1955), dan yang mengucapkan KEYNOTE SPEECH, pidato pembukaan, yang memberikan arah politik strategis bangsa-bangsa Asia-Afrika dalam perkembangan selanjutnya, - - - FOTONYA. GAMBARNYA DICOPOT DARI GEDUNG MERDEKA, Gedung Asia-AFrika di Bandung. Ketika pemimpin perjuangan kemerdekaan Afrika Selatan melawan rezim rasis apartheid, Nelson Mandela, berkunjung ke Bandung dalam bulan Oktober 1990, beliau SENGAJA BERTANYA DIMANA GAMBAR SUKARNO??? Mandela tahu betul bahwa gambar Presiden Sukarno memang telah disingkirkan oleh rezim Orba -- Maka sebagai "teguran sopan" beliau mengajukan pertanyaan itu. Yang membikin para pengantar dan petugas di situ "kalang kabut". * * * Serentetan fakta lainnya sudah banyak diungkap, ditulis dan diucapkan mengenai POLITIK REKAYASA DAN PEMALSUAN SEJARAH YANG DIJALANKAN OLEH ORBA . . . Yang dikemukakan dalam artikel Jay Akbar di bawah ini adalah salah satu dari pemalsuan sejarah yang dilakukan oleh rezim Orba. Makanya sering kita heran dibuatnya . . . bagaimana mungkin orang-orang yang menamakan dirinya dan merasa cendekiawan sejarah di bawah rezim Orba, -- seperti Prof Nugoroho Notosusanto, Taufik Abdulah c.s., sebagai ilmuwan, sebagai cendekiawan bisa mentolerir, -- bahkan aktif melakukan pemalsuan sejarah seperti itu. Kalaulah kita bicara mengenai KERUSAKAN JIWA DAN MENTAL CENDEKIAWAN PENDUKUNG REZIM ORBA, ---- selain keterlibatan mereka dengan berdirinya dan berlangsungnya rezim Orba, dengan pelanggaran HAM berat sekitar Peristiwa 65, ---- kerusakan jiwa dan mental mereka sebagai cendekiawan, ------- adalah keterlibatan secara aktif atau setidak-tidaknya mentolerir PEMALSUAN SEJARAH BANGSA YANG DILAKUKAN OLEH PENGUASA REZIM ORBA. * * * MANDELA KAGET TAK ADA FOTO BUNG KARNO DI GEDUNG ASIA AFRIKA ----------------------------------------------------------------------------------------------------- 06 October 2013 * * * Dekade 1990-an pemimpin Afrika Selatan, Nelson Mandela berkunjung ke Indonesia. Dalam kunjungan selama 19-22 Oktober Mandela menyempatkan diri mengunjungi Gedung Museum Konfrensi Asia Afrika di Bandung. Bagi Mandela, Gedung Konfrensi Asia Afrika punya makna penting. Di gedung ini, pada 1955 semangatnya untuk memerdekakan Afrika Selatan dibakar Soekarno. Tapi betapa terkejut dan herannya Mandela, ketika di gedung yang amat bersejarah bagi bangsa-bangsa di Asia-Afrika, itu tak ada foto mantan Presiden Soekarno. Yang ada hanyalah foto Ali Sastroamidjojo dan Roeslan Abdulgani sebagai pejabat yang terlibat mengurus Konferensi Asia Afrika. Padahal di mata Mandela, Soekarno lah penggagas Konfrensi Asia Afrika. “Where is the picture of Soekarno. Every leaders from Asia Africa came to Bandung because Soekarno, where is his picture? (Dimana gambar Soekarno. Seluruh pemimpin di Asia Afrika datang ke Bandung karena Soekarno. Dimana gambarnya?)” tanya Mandela kepada para pejabat Muspida Jawa Barat yang saat itu mendampinginya. Mendengar pertanyaan Mandela, para pejabat Muspida Jawa Barat kalang kabut. Mereka kebingungan mencari jawaban. “Gambar Soekarno saat itu tidak terpasang di tempat yang seharusnya sesuai peran sejarah beliau,” kata Sidarto Danusubroto, ajudan terakhir Soekarno, saat menceritakan kisahnya kepada saya di Jakarta, Rabu (14/8) Saat Mandela ke Bandung, Sidarto menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat periode 1988-1991. Mantan ajudan terakhir Soekarno yang sekarang menjabat sebagai Ketua MPR ini mengatakan pertanyaan Mandela membuktikan betapa kuat proses de-soekarnoisasi yang dilakukan pemerintah Orde Baru terhadap Soekarno. Berbagai upaya dilakukan untuk mereduksi peran sejarah Soekarno. “Padahal Konfrensi Asia Afrika 1955 dihadiri banyak pemimpin Asia Afrika seperti Gamal Abdul Nasser (Mesir), Jawaharlal Nehru (India), Chou En Lai (Cina), Ho Chi Minh (Vietnam), Nrukamh, Norodom Sihanouk (Kamboja). Ini adalah bukti pengakuan bangsa Asia Afrika kepada kepemimpinan Soekaro-Hatta,” ujar Sidarto. Dalam memoarnya “Sidarto Danusubroto Ajudan Bung Karno: Sisi Sejarah Yang Hilang Masa Transisi Di Seputar Supersemar”, Sidarto menceritakan alasan Mandela sangat apresiatif dan menghormati Soekarno. Menurut Sidarto, Mandela terkesima dengan pidato pembukaan Soekarno di Konferensi Asia-Afrika. “Kalau saya melayangkan pandangan saya dalam gedung ini dan melihat para tamu yang terhormat berkumpul di sini, saya sungguh terharu. Inilah konferensi antarbenua yang pertama dari bangsa-bangsa kulit berwarna sepanjang sejarah umat manusia!,” kata Soekarno, saat berpidato ketika itu. “Adalah satu babakan baru dalam sejarah dunia, bahwa pemimpin bangsa-bangsa Asia Afrika dapat berkumpul di dalam negeri-negerinya sendiri untuk merundingkan dan mempertimbangkan masalah-masalah mengenai kepentingan bersama.” o. Mendengar pidato Soekarno itu, kata Sidarto, semangat Mandela untuk memerdekakan rakyat Afrika Selatan dari penjajahan Inggris terlecut! Sampai akhirnya pada 31 Mei 1961 Afrika Selatan berhasil mencapai kemerdekaan. Kekaguman Mandela terhadap Soekarno bukan sekadar basa-basi politik yang biasa terjadi dalam kunjungan kenegaraan seorang pejabat negara. Kekaguman itu mengakar terus hingga ke masa kepresiden Megawati Soekarnoputri. Ketika itu, pada September 2002, Megawati mengunjungi Johannesburg Afrika Selatan. “Lazimnya para pemimpin negaralah yang berkunjung ke kediamannya tapi justru Mandela menemui Presiden Megawati ke Johannesburg sebagai putri Bung Karno yang dikaguminya,” kata Sidarto. Peran Soekarno di kancah dunia bukan cuma harum di Afrika Selatan. Di Kairo, Mesir misalnya, terdapat nama jalan “Ahmed Soekarno St.” yang letaknya bersebelahan dengan Jalan Sudan, Daerah Kit-Kat Agouza Geiza. Pemberian nama jalan “Soekarno” itu merupakan bukti penghormatan Bangsa Mesir terhadap Soekarno. Dalam catatan sejarah, Soekarno memang pernah beberapakali mengunjungi Mesir di antaranya pada 18 Juli 1955 dan sebelum tahun 1965. Dalam kunjungan itu Soekarno selalu disambut hangat oleh Presiden Mesir, Gamal Abdul Naseer dan rakyat Mesir. Tak cuma di Mesir, peran sentral Soekarno di Konfrensi Asia Afrika juga harum di Maroko. Nama Soekarno di abadikan sebagai nama jalan di kawasan Rabat. Bahkan jalan ini langsung diresmikan sendiri oleh Soekarno bersama Raja Muhammad V pada 2 Mei 1960. “Semula jalan ini bernama Sharia Al-Rais Ahmed Soekarno namun sekarang dikenal dengan Rue Soekarno,” ujar Sidarto. Tak cuma Mesir dan Maroko, nama Soekarno juga diabadikan di Paskitan. Di negara ini nama Soekarno dipakai untuk dua nama tempat penting yakni Soekarno Square Khyber Bazar di Peshawar dan Soekarno Bazar di Lahore. Kita belajar banyak hal soal kepemimpinan bangsa ini. Kepemimpinan yang didasarkan pada ketulusan dan cita-cita kemanusiaan, akan selalu dikenang oleh peradaban manusia itu sendiri. Upaya de-soekarnoisasi yang dilakukan pemerintah Orde Baru terbukti tidak mampu membunuh jiwa, ide, dan semangat Soekarno dalam sejarah. “Never leave history (Jangan pernah meninggalkan sejarah),” kata Sidarto.

Sekitar TAN MALAKA -- Berdialog Dng GOENAWAN MOHAMMAD

Kolom IBAHIM ISA Minggu, 06 Oktober 2013 ----------------------- Sekitar TAN MALAKA -- Berdialog Dng GOENAWAN MOHAMMAD * * * Saya baru saja membuka Facebook hari ini, melihat wajah Mas Goen. saya selalu segera memperhatikan apa yang ditulis beliau kali ini . . . TAN MALAKA . . . tokoh pejuang kemerkekaan ini yang menjadi perhatian Mas Goen. . . . Tulisanku di bawah ini adalah sekadar r e s p o n s e terhadap pertanyaan Mas Goenawan Mohammad, sahabatku, yang bertanya: Bung Ibrahim Isa mungkin bisa menjawab? * * * Goenawan Mohammad: PERTANYAAN TENTANG TAN MALAKA DAN TROSTKY Salah satu bagian hidup Tan Malaka yang jarang diketahui, setidaknya tak saya ketahui, adalah permusuhan Partai Komunis Indonesia terhadapnya. Di kalangan PKI, ia disebut "Trotskyist". Tapi label ini jamak dipakai Stalin dan para pengikutnya untuk menyebut musuh-musuh mereka. Kita tahu setelah Lenin meninggal, dan pergulatan antara pimpinan Partai Bolsyewik berlangsung, Trostky akhirnya dibuang dan kemudian dibunuh dengan dihantam kapak es oleh seorang agen Stalin di Meksiko di tahun 1940 -- sebuah riwayat permusuhan yang paling dramatis antara orang kuat Soviet itu dan para anggota Politbiro Partai Komunis di bawah Lenin. Bagaimana sebenarnya hubungan Tan Malaka dengan gagasan Trotsky? Apa yang saya baca dari buku-buku pengarang Madilog itu tak menunjukkan tanda hubungan itu ada. Tapi mungkin saya salah. Saya berharap para peneliti sejarah politik dan gagasan akan dapat menjawabnya -- terutama melalui riset yang kuat, bukan hanya dengan makalah-makalah seadanya yang banyak dipakai dalam diskusi-diskusi sekarang. 2 Oktober 2013 .Menarik sebenarnya untuk bertanya kepada para anggota PKI dewasa ini (kalau masih ada), adakah pandangan mereka berubah tentang Tan Malaka. Atau sekalian tentang Stalin dan Trostky. Bung Ibrahim Isa mungkin bisa menjawab? 7 hours ago via mobile · * * * Ibrahim Isa: Cerita sedikit, ya . . Beberapa saat setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945 . . . sebelum saya bergabung dengan BKR, Badan Keamanan Rakyat Republik Indonesia, abang-ipar saya, Sidi Mohammad Syaaf, yang kemudian jadi redaktur sk Pemandangan (Mr Sumanang) lalu Mingguan Hikmah (Msyumi). SM Syaaf bersama Suraedi Tahsin (kemudian pemimpin s.k. Bintqng Timur lalu diangkat Presiden Sukarno jadi Dubes RI di Bamako, Mali, Afrika Barat, kalau tidak salah dengan S. Tasrif mendirikan s.k. Pertama Republik Indonesia, BERITA INDONESIA di Jakarta.. . . )Ya abang iparku SM Syaaf itu mendekati aku dengan sebuah bahan stensilan ditangannya . .. Nih, baca bahan ini, katanya.. . . . Bahan stensilan yg sudah agak kumal itu . . . adalah brosurnya TAN MALAKA, “DARI PENJARA KE PENJARA” . . . Sejak itu berangsung-angsur saya mulai tahu tentang perjuangan kemerdekaan kita, dan langsung ambil bagian dalam BKR . . .. Selain dari pidato-pidatonya (sejak jaman Jepang) dan karya-karya Bung Karno, --- pengaruh politik awal yang saya peroleh bersangkutan dengan perjuangan kemerdekaan dan keadilan, adalah dari buku TAN MALAKA itu. . . . . kemudian dari buku-buku Tan Malaka lainnya, seperti GERPOLEK, MADILOG dll. Ketika Dr Harry Poeze meluncurkan karya hidupnya “VERGUISD EN VERGETEN, Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949”. . . beliau minta saya membuat resensi tentang bukunya yang 2200 halaman itu. . . Saya penuhi permintaan itu sebagai tanda penghormatan terhadap saya, sebagai sehabatuya. * * * Di buku DR Harry Poeze yang ada pada saya . .. Harry menulis . . . UNTUK SAHABAT IBRAHIM ISA REKAN SAYA DALAM MELESTARIKAN SEJARAH . . . HARRY POEZE, Leiden 08 Juni 2007. Buku itu sudah ada edisi Indonesainya. Silakan baca barangsiapa yang ingin tahu siapa Tan Malaka. Sebuah buku yang GEWELDIG kata orang Belanda. Mas Goen, . . . tanggapan ini tidak ada sangkut pautnya dengan apakah seseorang itu anggota PKI atau bukan. . . . Tokh? * * * Lampiran: Agar lebih lengkap kesan pembaca mengenai pandangan saya sekitar TAN MALAKA, di bawah ini disiarkan ulang dua tulisan saya: Kolom IBRAHIM ISA - TAN MALAKA Oleh DR. HARRY POEZE 11-Jun-2007, 09:50:40 WIB KabarIndonesia – Aku harus berterus terang: Tak terduga sama sekali bahwa ruangan LAK-theater (140 kursi), Universitas Leiden, pada hari Jumát, tanggal 08 Juni, 2007, penuh dengan hadirin pada peluncuran buku DR Harry Poeze, dalam bahasa Belanda, berjudul: (dalam bahasa Indonesianya): -- "TAN MALAKA DIHUJAT DAN DILUPAKAN" --, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, 1945-1949. Selain Pengurus dan anggota KITLV, yang pada hari yang sama mengadakan rapat tahunan KITLV, para sahabat (termasuk orang-orang Indonesia) dan rekan-rekan Harry Poeze, -- tampak pula banyak mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh (umumnya) post-graduate studies mereka, atau sedang mempersiapkan desertasi untuk PhD mereka masing-masing. Aku sengaja menanyakan kesan sahabat-sahabat baik yang Belanda maupun yang orang Indonesia, bagaimana kesan mereka mengenai peluncuran buku Harry Poeze itu. Umumnya punya kesan baik. Yang kutanyakan itu semua menganggap bahwa baik pengantar yang diberikan oleh Harry Poeze maupun suasana keseluruhannya adalah baik. Bukan saja karena pada pertunjukkan foto-foto di layar yang dipasang diruangan, dimulai dengan ditayangkannya teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditandatangi oleh Sukarno dan Hatta, tetapi, ini yang paling mengesankan bagiku, adalah diperdengarkannya suara Bung Karno membacakan teks Proklamasi 17 Agustus 1945. Suasana Indonesia jadinya menguasai seluruh pertemuan siang dan sore itu. Dengan diterbitkannya buku Harry Poeze, tidak mungkin orang akan berpendapat lain: Harry Poeze menunjukkan kesungguhan, ketekunan serta dedikasinya yang telah menghabiskan waktu total jendral 30 tahun, termasuk tinggal di Indonesia selama 3 bulan terus menerus (1980), dan beberapa kali mengunjungi Indonesia, untuk meriset dan meneliti tentang tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia Tan Malaka, serta Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia. Poeze menjelaskan bahwa ia juga meneliti arsip-arsip Komintern di Moskow, yang telah memberikan kepadanya pandangan-pandangan baru. * * * Hasil riset dan studi sejarah dan biografi Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, ditulis dalam 3 jilid, semuanya setebal 2200 halaman. Disertai pula dengan foto-foto mengenai Bung Karno, Hatta, Syahrir, Amir Syarifuddin, Tan Malaka dll tokoh pejuang kemerdekaan yang baru pertama kali ini aku melihatnya. Sayang, ada satu salah muat. Yaitu mengenai sebuah foto Ir Setiadi, mantan Menteri Listrik Negara Kabinet 100 Menteri Presiden Sukarno. Ir Setiadi, ditangkap oleh Jendral Suharto (1966) dengan alasan 'diamankan'. Salahnya: Di bawah foto Ir Setiadi, ditulis nama S e t i a d j i t . Jelas teks dan foto tidak cocok. Maksud Poeze adalah memasang foto Setiadjit, tapi yang dipasang foto Ir Setiadi. * * * Betapa tidak senang hati menyaksikan begitu banyak perhatian hadirin terhadap masalah sejarah Indonesia, khususnya sejarah gerakan Kiri Indonesia dan salah satu tokoh utamanya, Tan Malaka. Terlepas apakah orang setuju atau tidak setuju dengan hasil penelitian dan studi Dr Poeze itu, tiga jilid karya Poeze itu merupakan sumbangan terhadap khazanah literatur mengenai sejarah Indonesia. Perhatian terhadap masalah sejarah Indonesia, seperti yang terlihat dari kehadiran orang-orang Indonesia dan para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda, melegakan hati dan menggembirakan. Setelah kutulis mengenai akan diluncurkannya buku Harry Poeze, kontan ada reaksi dari Indonesia. Mereka menyambut terbitnya buku studi biografi dan sejarah seperti yang ditulis oleh Harry Poeze. Seorang kawan dekat bahkan sudah tidak sabar lagi menunggu, ingin cepat membacanya. Buku itu begitu tebal, tiga jilid dan kalau dibawa dengan tangan terasa sekali beratnya yang 3,5 kg itu. Entah kapan buku Harry Poeze itu akan sampai ke tangan pembaca Indonesia di Indonesia, belum ada yang tahu. Belum lagi harganya yang tidak murah. Ketika kusampaikan kepada Poeze pada peluncuran itu, bahwa ada teman-teman di Indonesia yang sudah menyatakan kesediaannya untuk ikut membantu dalam penerbitan edisi bahasa Indonesia, dengan riang dan cerah Poeze menyatakan: 'Itu sudah pasti, itu sudah pasti'. Poeze menjelaskan bahwa dana untuk itu sudah tersedia. Dikatakannya selanjutnya bahwa menurut pikirannya, sebaiknya edisi bahasa Indonesia dari bukunya itu, tidak terbit sekaligus tiga jilid. Berangsur-angsur, dari jilid pertama, kemudian sesudah beberapa saat lamanya, jilid kedua. Baru beberapa saat kemudian lagi diterbitkan jilid ke-3. Tidak diragukan penerbitan edisi bahasa Indonesia akan disambut oleh masyarkat, teristimwa masyarakat pencinta sejarah dan para pakar dan siswa yang menggeluti masalah sejarah Indonesia. * * * Tulisan ini pasti bukan suatu resensi tentang buku Harry Poeze tsb. Sekadar sedikit memperkenalkan tentang adanya buku yang dengan teliti telah disusun oleh seorang pakar Belanda. Meskipun fokus utama buku Poeze adalah pada tokoh Tan Malaka, namun, dengan cukup detail Poeze mengungkap situasi kongkrit menjelang dan sekitar Proklamasi Kemerdekaan oleh Sukarno dan Hatta, dan setelah itu. Mengapa misalnya pada saat-saat gawat dan genting, Tan Malaka, yang seumur hidupnya telah melakukan kegiatan politik untuk saat-saat menentukan seperti itu, justru tidak tampak permunculannya. Baik kiranya, kusampaikan sekelumit saja, apa yang disampaikan oleh Hary Poeze tentang situasi menjelang proklmasi dan mengapa pada saat-saat yang genting dan gawat di Indonesia, menjelang kekalahan Jepang dan persiapan di kalangan pemuda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia lepas dari kegiatan persiapan yang dilakukan pada waktu pendudukan Jepang atas persetujuan tentara pendudukan Jepang, agar jangan timbul tuduhan bahwa RI yang diproklamsikan adalah boneka Jepang semata. Antara lain Poeze menulis: . . . Dimana Tan Malaka ketika ini semua terjadi, dan Republik Indonesia diproklamasikan, suatu realisasi dari cita-cita yang selama puluhan tahun diperjuangkannya? Dari Rengasdengklok, pada tanggal 9 Agustus ia (Tan Malaka) ke Jakarta. Kepastian tentang keberadaannya baru pada sore tanggal 14 Agustus diperoleh ketika ia melapor kepada Sukarni. Apa yang dikerjakannya (Tan Malaka) pada har-hari sebelumnya untuk melaksanakan tugas-tugas yang dibawanya atas nama Pemuda Banten? Apakah ia menyampaikannya kepada Chairul Saleh? Tampaknya tidak. Barangkali paling dapat dipahami oleh karena Tan Malaka waspada, oleh karena itu telah gagal mencari kontak. Disebabkan oleh masa lampaunya yang begitu lama sebagai orang buangan, yang terus menerus ada di bawah ancaman penahanan, ke-hati-hatiannya menjadi obsesi dan ia hampir-hampir tidak berani mempercayai siapapun. Ia belum begitu kenal hubungan-hubungan di Jakarta untuk mengetahui dengan siapa ia dapat dengan aman melakukan hubungan, tulis Poeze. Kemudian ditambahkannya: Bisalah dimengeri bahwa ia tidak bisa ambil risiko untuk mengungkap identitasnya yang sebenarnya. Lalu ditambahkan Poeze bahwa, . . . . demikianlah pada saat-saat historis ini, Tan Malaka dengan pengikut-pengikutnya saling tidak ketemu. Dengan demikian Tan Malaka tidak langsung terlibat dalam merealisasi idam-idaman dan cita-citanya, sesuatu yang tanpa henti-hentinya diperjuangkannya. Demikian antara lain Poeze. Dengan sedikit saja mengkuakkan yang ditulis oleh Poeze dalam bukunya itu, bisa diketahui, bahwa memang buku Poeze tentang biografi Tan Malaka, bukan hanya menyinggung, tapi, mendalami dan bahkan menganlisis situasi perjuangan kemerdekaan Indonesia, dengan mengemukakan fakta-fakta hasil risetnya, yang sebegitu jauh jarang atau bahkan tidak pernah kita dengar atau baca sebelumnya. Menyinggumg masalah dua konsep mengenai perjuangan kemerdekaan: Satu konsep yang dilaksanakan oleh empat serangkai, Sukarno - Hatta - Syahrir - Amir Syarifddin, yang (menurut Poeze) mengutamakan d i p l o m a s i , dan konsep Tan Malaka yang (lagi menurut Poze) mengutamakan p e r j u a n g a n , ternyata pada saat-saat yang menentukan ia (Tan Malaka) kalah. Ditambahkan Poeze bahwa kiri, gerakan komunis dimana Tan Malaka tergabung, ternyata amat berkeping-keping. Lanjut Poeze a.l., ---- Aspirasi Tan Malaka untuk mengambil alih kekuasaan dengan suatu alternatif yang radikal, berakhir pada bulan Maret 1946. Federasi politik PERSATUAN PERJUANGAN-nya Tan Malaka, yang tampaknya tak terkalahkan itu, ternyata hanyalah raksasa yang berkaki lumpur belaka. Demikian antara lain Harry Poeze dalam bukunya. * * * Mengakhiri tulisan ini, menarik kiranya untuk mengutip lagi apa yang a.l. dikemukakan oleh Poeze tentang Tan Malaka, sbb: Dari halaman-halaman buku ini ternyata, Tan Malaka selain sebagai pelaku dalam percaturan politik juga kemudian menjadi lambang - suatu lambang yang oleh pengikut-pengiutnya dimulyakan dan oleh orang-orang yang untuk sementara bersamanya, digunakan sebagai lambang berguna dan oleh penentang-penentangnya sebagai lambang yang dihujat. Pemahaman dan penilaian terhadap hasil studi Harry Poeze yang tak terbatas pada hanya satu tokoh TAN MALAKA, kiranya akan mengundang diskusi baru lagi, penelitian baru lagi, dan studi baru lagi, mengenai Tan Malaka, tentang banyak tokoh pejuang kemerdekaan lainnya dan mengenai REVOLUSI INDONESIA. Situasi demikian itu, merupakan dorongan bagi pemikiran baru, mengenai pelurusan sejarah atau klarifikasi sejarah bangsa kita Dalam hal ini, seperti yang dikatakannya sendiri, sebagai 'orang luar yang unik', telah memberikan sumbangannya yang berarti. EDISI INDONESIA Buku HARRY POEZE “TAN MALAKA . . . . ” Kolom IBRAHIM ISA Selasa, 17 Juli 2012 ----------------------------- EDISI INDONESIA Buku HARRY POEZE “TAN MALAKA . . . . ” * * * Beberapa waktu yang lalu, belum lama, gembira sekali aku bertemu lagi dengan sahabat-karibku Harry Poeze. Kutanyakan kepadanya perkembangan baru mengenai penerbitan edisi Indonesia bukunya berjudul : “Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de Linkse Beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949″ “Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949)”. Harry Poeze menyampaikan kepadaku, bahwa, edisi Indonesia dari bukunya itu, akan terbit dalam enam jilid. Dalam tahun 2008 telah diluncurkan di Jakarta, jilid 1, di bawah judul Tan Malaka, gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia. Sementara itu telah terbit tiga jilid, Jilid 1: Agustus 1945- Maret 1946 – Jilid 2: Maret 1946 – Maret 1947 (2009), Jilid 3, Maret 1947 – Agustus 1948 (2010) Bab mengenai Madiun sudah terbit dalam tahun 2011 sebagai: Madiun 1948; PKI bergerak”. Dalam tahun ini akan terbit Jilid 4, a.l. sekitar eksekusinya dan tanda-tanya (yang saya berikan solusinya), mengenai kematiannya. Demikianlah informasi yang kuterima dua pekan y.l dari Harry Poeze sekitar penerbitan edisi Indonesia dari bukunya tentang Tan Malaka. Sampai hari ini tak habis-habisnya rasa kagum, hormat dan penghargaanku pada HARRY POEZE yang telah menggunakan PULUHAN TAHUN untuk melakukan studi mengenai salah seorang pemimpin nasionnal Indonesia TAN MALAKA. Sebegitu jauh belum kita jumpai ada historikus asing lainnya yang begitu rajin dan tekun dalam kepeduliannya terhadap SEJARAH BANGSA KITA, seperti yang dilakukan oleh Harry Poeze. Untuk 'refreshing' sekitar terbitnya buku Harry Poeze tentang Tan Malaka, di bawah ini disiarkan ulang sebagian tanggapanku sekitar buku Harry Poeze tsb, a.l seperti di bawah ini: * * * TAN MALAKA Oleh HARRY A. POEZE Tanggal 08 Juni, 2007 pada kesempatan Rapat Tahunan KITLV, di Leiden, diluncurkan karya (luar biasa) Dr Harry A. Poeze, kenalan baikku, berjudul:< VERGUISD EN VERGETEN> TAN MALAKA, De Linkse Beweging En De Indonesische Revolutie, 1945-1949 -- Drie delen in cassette, XVII+VI+VI+2194 HLM TAN MALAKA, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, 1945-1949. Perhatian terhadap tokoh Tan Malaka cukup besar di kalangan orang-orang Indonesia, apalagi para pencinta sejarah dan sejarawannya. Buku Harry Poeze itu pasti akan disambut dengan rasa syukur, karena besarnya perhatian dan kepedulian pakar Belanda seperti Harry A. Poeze terhadap masalah sejarah bangsa Indonesia. Pada presentasi buku dipamerkan foto-foto,dipertunjukkan film dan diperdengarkan suara. Juga diperdengarkan beberapa lagu revolusioner Indonesia, yang padamasa Orba dilarang diperdengarkan di Indonesia. * * * KITLV PRESS memperkenalkan Tan Malaka, antara lain sbb: Tan Malaka yang misterius dan legendaris itu muncul lagi, segerasesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agusutus1945, sesudah 20 tahun dibuang dan melakukan kegiatan di bawah tanah, Tan Malaka mengajukan suatu alternatif radikal terbanding arah moderat Soekarno dn Hatta, para pemimpin Republik Indonesia. Tetapi ia kalah dan dalam bulan Maret 1946 ia ditangkap. Baru dalam bulanSeptember 1948 ia bebas. Kemudian ia mendirikan Partai Murba, yang dimaksudkan mengambil tempat PKI yang dikalahkan dalam peristiwa Madiun. Setelah agresi II Belanda, Desember 1948, Tan Malaka melancarkan perlawanan gerilya; dalam bulan Februari 1949 Tan Malaka ditembak mati pada suatu perhitungan intern. Ditulis KITLV PRESS selanjutnya: Jalan hidup Tan Malaka sering terselubung misteri --- dalam buku Harry A Poeze misteri ini sebagian besar diungkap-uraikan, umpamanya, dimana dan siapa yang membunuh Tan Malaka. Peranan terkemuka selama Revolusi Indonesia -- aktif dan sebagai lambang - membuatnya menjadi perlu untuk menulis secara luas perkembangan politik di Republik dan di dalam gerakan kiri yang tercerai-berai. Dalam banyak hal mengenai peristiwa yang menentukan di dalam Revolusi (Indonesia) diberikan data-data dan visi yang baru. Dalam epilog yang luas diikuti peristiwa-peristiwa petualangan buah karya Tan Malaka, Partai Murba dan mengenai kehidupan Tan Malaka sendiri, yang baru sesudah dimulainya pemilahan pada gambaran buku 'DIHUJAT DAN DILUPAKAN'. * * * Harry A. Poeze (lahir 1947) -- adalah Direktur KITLV PRESS – . Ia meraih gelar PhD di Universitas Amsterdam (1976) dengan tema desertasi penulisan Biografi Tan Malaka sampai dengan 1945. Tulisan Harry Poeze yang terkenal di kalangan para pakar Indonesia antara lain, adalah SUKARNO'S POLITICAL TESTAMENT, dan serentetan kertas-kerja maupun artikel mengenai Indonesia. Tiga jilid yang sekarang ini didasarkan atas penelitian yang berlangsung dengan banyak penundaan sampai pada saat ia tinggal di Indonesia untuk studi tsb dalam tahun 1980. Demikian Penerbit KITLV. * * * Pekerjaan riset dan kemudian penulisan oleh Harry A Poeze tsb, adalah suatu prestasi yang terpuji. Dengan bukunya itu, Dr. Harry A. Poeze telah memberikan sumbangan penting pada khazanah literatur asing mengenai Indonesia, khususnya mengenai Tan Malaka, gerakan kiri Indonesia dan Revolusi Indonesia. * * Dengan diterbitkannya buku Harry Poeze, tidak mungkin orang akan berpendapat lain: Harry Poeze menunjukkan kesungguhan, ketekunan serta dedikasinya yang telah menghabiskan waktu total jendral 30 tahun, termasuk tinggal di Indonesia selama 3 bulan terus menerus (1980), dan beberapa kali mengunjungi Indonesia, untuk meriset dan meneliti tentang tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia Tan Malaka, serta Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia. Poeze menjelaskan bahwa ia juga meneliti arsip-arsip Komintern di Moskow, yang telah memberikan kepadanya pandangan-pandangan baru. * * * Hasil riset dan studi sejarah dan biografi Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, ditulis dalam 3 jilid, semuanya setebal 2200 halaman. Disertai pula dengan foto-foto mengenai Bung Karno, Hatta, Syahrir, Amir Syarifuddin, Tan Malaka dll tokoh pejuang kemerdekaan yang baru pertama kali ini aku melihatnya. Sayang, ada satu salah muat. Yaitu mengenai sebuah foto Ir Setiadi, mantan Menteri Listrik Negara Kabinet 100 Menteri Presiden Sukarno. Ir Setiadi, ditangkap oleh Jendral Suharto (1966) dengan alasan 'diamankan'. Salahnya: Di bawah foto Ir Setiadi, ditulis nama S e t i a d j i t . Jelas teks dan foto tidak cocok. Maksud Poeze adalah memasang foto Setiadjit, tapi yang dipasang foto Ir Setiadi. * * * Mengakhiri tulisan ini, menarik kiranya untuk mengutip lagi apa yang a.l. dikemukakan oleh Poeze tentang Tan Malaka, sbb: Dari halaman-halaman buku ini ternyata, Tan Malaka selain sebagai pelaku dalam percaturan politik juga kemudian menjadi lambang - suatu lambang yang oleh pengikut-pengiutnya dimulyakan dan oleh orang-orang yang untuk sementara bersamanya, digunakan sebagai lambang berguna dan oleh penentang-penentangnya sebagai lambang yang dihujat. Pemahaman dan penilaian terhadap hasil studi Harry Poeze yang tak terbatas pada hanya satu tokoh TAN MALAKA, kiranya akan mengundang diskusi baru lagi, penelitian baru lagi, dan studi baru lagi, mengenai Tan Malaka, tentang banyak tokoh pejuang kemerdekaan lainnya dan mengenai REVOLUSI INDONESIA. Situasi demikian itu, merupakan dorongan bagi pemikiran baru, mengenai pelurusan sejarah atau klarifikasi sejarah bangsa kita Dalam hal ini, seperti yang dikatakannya sendiri, sebagai 'orang luar yang unik', telah memberikan sumbangannya yang berarti. * * * 13 Juni 2007. Belum disebut tentang awal acara yang amat mengesankan dan mengharukan. Ketika itu diperdengarkan (live) lagu historis-revolusioner, 'DARAH RAKYAT'. Memang pas acara itu dipasang di depan. Bukankah perhatian pada sore itu difokuskan pada TAN MALAKA, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia? * * * Baru saja kuterima lagi tanggapan-tanggapan berkenaan dengan bedah buku Harry Poeze mengenai Tan Malaka. Dari Indonesia, seorang kawan tua menyampaikan kegembiraaanya. Ia cerita, bahwa di Jakarta masih cukupan orang-orang yang punya rasa hormat pada Tan Malaka. Begitu mengetahui bahwa sudah terbit buku baru tentang Tan Malaka, mereka segera saling bertanya-tanya, kapan edisi Indonesia atau edisi Inggris diterbitkan. Mengenai dimuatnya f o t o Ir S e t i a d i , tapi teks dibawahnya nama SETIADJIT, yang dimaksudkan adalah memasang foto Setiadjit di situ. Dalam emailnya kepadaku, Poeze memastikan bahwa dalam edisi Indonesia nanti, kekeliruan itu akan diralat. Menurut Poeze foto itu dipesan dari IPPHOS (Jakarta) dalam tahun 1980. Jelas, IPPHOS salah kirim. OK! ---- yang penting ialah bahwa, kekeliruan itu akan diralat secepat mungkin. * * * Poeze menanyakan bagaimana kesanku mengenai dinyanyikannya lagu DARAH RAKYAT, dalam acara peluncuran tanggal 08 Juni itu. Memang, lagu Darah Rakyat yang dinyanyikan oleh seorang wanita muda, mungkin mahasiswa Universitas Leiden, dengan iringan jukelélé, tambah lagi latar belakang musik yang diputar dari CD. . . . . . Aduuh, . . . . memang indah dan mengharukan! Bersemangat dan menyemangati!. Mendengar lagu Darah Rakyat bergema di ruang pertemuan, ingatan segera meluncur jauh ke masa Revolusi 1945. Ketika itu lagu Darah Rakyat dan banyak lagu progresif-revolusioner lainnya, dinyanyikan dan terdengar dimana-mana, khususnya di kalangan para pejuang perang kemerdekaan. Namun, lagu Darah Rakyat, seperti halnya dengan puluhan lagu-lagu progresif dan revolusioner lainnya yang tidak sedikit penciptanya adalah para budayawan LEKRA, --- pada periode rezim Jendral Suharto, DILARANG KERAS! Pokoknya rakyat Indonesia hanya boleh mendengar lagu, yang oleh seniman dan pendukung Orba dianggap indah dan baik. Nah, pada tanggal 08 Juni, 2007 itulah, di LAK-theater Universitas Leiden, lagu Darah Rakyat diperdengarkan lagi. Hadirin dengan tekun dan asyik mendengarkan. Dalam hati mereka, bisa dibayangkan, akan ada yang berkomentar dalam bahasa Belanda: ONGELOOFLIJK, GEWELDIG! TAK BISA TERBAYANGKAN', -- LUAR BIASA!. Bahwa lagu revolusioner DARAH RAKYAT diperdengarkan di Leiden, di LAK-theater Universitas Leiden. Lagu Darah Rakyat kudengar terakhir di Indonesia sebelum Presiden Sukarno digulingkan oleh Jendral Suharto. Mari kita telusuri lirik lagu DARAH RAKYAT DARAH RAKYAT Darah rakyat masih berjalan Menderita sakit dan miskin Pada datangnya pembalasan Rakyat yang menjadi hakim Rakyat yang menjadi hakim Ayuh, ayuh Ref: Bergerak! Sekarang! Kemerdekaan sudah datang Merahlah panji-panji kita Merah warna darah rakyat Merah warna darah rakyat Entah apa sebabnya, ketika mendengar lagu tsb dinyanyikan oleh seorang perempuan Kaukasus dengan iringan jukulélé, yang dua-duanya itu adalah orang Bulé, hari Jumat pekan lalu itu, berdiri bulu kudukku! * * * Dengan membaca buku Harry Poeze, siapa saja akan menemukan begitu banyaknya data dan fakta yang dkumpulkan, distudi, disusun dan diteliti oleh Poeze menyangkut Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia. Sebagai ilustrasi, untuk memperoleh sedikit gambaran mengenai isi buku Harry Poes, mari ikuti bagian-bagian tertentu dari bagian PENUTUP (Slot) dari bukunya. Tulis Harry Poeze a.l. : -- Pendukungnya (Tan Malaka) mengalami kekalahan dalam urusan yang mereka perjuangkan, orang-orang yang (tadinya) bersama dia meninggalkannya sebagaimana biasa berlaku dalam oportunisme-politik, dan penentang-penentangnya membuangnya ke dalam keranjang sampah sejarah. Pelecehan dan tuduhan, dengan begitu perlahan-lahan memberikan tempatnya pada pembisuan. -- ia (Tan Malaka) disingkirkan dari sejarah. --- Apakah peranan (Tan Malaka) tak ada artinya, (karena) dari seorang 'renegat Trotskis', bagi siapa setiap perhatian dianggap memberikan kemulyaan yang berkelebihan, (atau) apakah malah justru penting? Dalam Republik Indonesia yang lemah, secara kebetulan, ia (Tan Malaka) , disebabkan oleh suatu kebetulan, oleh nasib sial, tidak memperoleh peranan samasekali pada saat-saat Proklamasi. Peranan serupa itu bisa besar - - nama dan kemasyhurannya adalah legendaris. Sukarno mengakuinya sebagai seorang guru, seseorang yang lebih dari dirinya dalam hal pengetahuan revolusioner dan pengalaman. Sayangnya tak terjadi seperti itu, tetapi nyatanya baru beberapa minggu kemudian Tan Malaka mendapat tempatnya di coterie Jakarta yang memimpin Republik pada taraf sentral. Selain itu ia mempengaruhi aksi-aksi di basis. Namun 'revolusi sosial' di Banten dengan cepat macet dalam ketiadaan rarah. Dan 'revolusi sosial' di Banten tidak berdiri sendiri. Di Jakarta ia (Tan Malaka) terlibat dengan pengorganisasian rapat raksasa tanggal 19 September (1945) dan disitu Sukarno memanifestasikan kekagumannya dalam sebuah Testamen Politik, yang isinya agak diperlemah oleh Hatta. Tetapi Tan Malaka tetap di bawah tanah dan ragu untuk tampil secara terbuka. Ini terutama disebabkan oleh hal-hal yang berasal dalam kepribadiannya sendiri, yang ditandai oleh lebih dari duapuluh tahun dikejar-kejar dan (hidup) dalam ilegalitas. Seperti dikatakam oleh orang-orang dekatnya, ia (Tan Malaka) tidak lagi cocok untuk hidup sebagai orang yang 'normal'. Langgam-hidup keduanya telah menghalanginya untuk bertindak efektif. Jika ia dapat mengatasinya, maka, ia adalah seorang pembicara yang luarbiasa, yang membangkitkan kesetiaan dan kepercayaan besar di kalangan pengikutnya - perasaan-perasaan yang puluhan tahun sesudah ia mati, masih saja berlangsung terus sedikitpun tak berkurang. * * *. Masih cukup banyak hal-hal penting dan menarik yang mengimbau pembaca ke arah pemikiran yang lebih luas dan mendalam mengenai peristiwa dan masalah sejarah bangsa kita. Baik itu yang berkenaan dengan biografi dan kegiatan Tan Malaka, begitupun mengenai peristiwa dan fakta-fakta mengenai Gerakan Kiri dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Juga membuka fikiran bagi siapapun yang ingin meninjau kembali, menstudi kembali pemikiran ataupun penyimpulannya mengenai Tan Malaka, peranannya dalam perjuangan kemerdekaan dan mengenai Gerakan Kiri di Indonesia. Tidak meleset kiranya pilihan yang diambil Poeze untuk bukunya itu. Bukankah di satu fihak ia membuka wawasan yang lebih luas lagi mengenai peristiwa dan fakta sekitar peranan Tan Malaka, Gerakan Kiri dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Dewasa ini generasi muda kita, para pemerhati, penggelut, penstudi dan peduli sejarah bangsa tanpak mulai pulih dari kedunguan dan ke-masabodoh-an mental sebagai akibat dari kebidjaksanaan otoriter Orba di bidang ilmu dan pengetahuan sejarah. Bagi Orba fakta dan kebenaran sejarah sudah diplintir sedemikian rupa, kemudian dijejalkan sebagai kebenaran satu-satunya. Oleh karena itu, buku sejarah seperti yang ditulis oleh Poeze, merupakan dorongan positsif ke arah pencerahan, berani berfikir dengan bebas, obyektif dan adil terhadap jutaan fakta-fakta yang diketahui dan masih belum terungkap mengenai sejarah bangsa ini. * * *

Saturday, October 5, 2013

HUBUNGAN INDONESIA -- TIONGKOK BERKEMBANG PESAT . . .

Kolom IBRAHIM ISA Kemis, 03 Oktober 2013 ---------------------- HUBUNGAN INDONESIA -- TIONGKOK BERKEMBANG PESAT . . . * * * Hubungan dua negeri Asia: -- Indonesia dan Tiongkok-- , Yang satu negeri kepulauan terbesar di Asia dan di Dunia (17.508 pulau-pulau),-- Yang satu negeri daratan terbesar di Asia. Indonesia berpenduduk 245 juta; Tiongkok 1,3 milyar. Melihat peta geopolitik demikian ini, orang bisa menyimpulkan betapa pentingnya peranan Indonesia dan Tiongkok di Asia maupun di dunia. Terutama dari segi pertumbuhan ekonomi dan kestabilan di Asia dan dunia. Dari sini bisa dilihat betapa pentingya Indonesia dan Tiongkok menjalin hubungan normal yang didasarkan atas prinsip saling menghormati, saling mengerti, saling tidak campurtangan dalam urusan dalam negeri masing-masing dan saling menguntungkan. Ini adalah Prinsip Konferensi Bandung (1955), mengenai saling hubungan antara negeri-negeri. Sejarah mencatat bahwa Indonesia dengan Presiden Sukarno-nya, menjadi pemrakaarsa dan tuan rumah Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Sedangkan RRT melalui PM Zhou Enlai, memainkan peranan bersejarah dalam memberikan sumbangan penting untuk suksesnya Konferensi Asia-Afrika tsb. * * * Kita sekali-kali tidak boleh dilupakan, bahsa, sutu peristiwa dalam hubungan Indonesia-Tiongkok, yang perlu ditarik pelajaran. Bahwa selama periode Orde Baru, hubungan Indonesia dan Tiongkok “terganggu” -- lebih tepat dikatakan “porak poranda”, dan jadi “beku”. Adapun penyebabnya ialah, kebijakan Orde Baru yang anti-Tiongkok dan mempersekusi serta melakukan diskrimnasi total terhadap warga Indonesia serta penduduk Indonesia asal etnis Tionghoa. Selama periode tsb rezim Orba melakukan politik rasis dan diskriminasi yang luar biasa biadabnya . Orba melarang penggunaan bahasa Tionghoa, melarang penduduk Indonesia asal etnis Tionghoa merayakan Hari Raya Imlek dan kegiatan ibadah sehubungan dengan kepercayaannya, serta kebiasaan tradisionil Tionghoa lainnya. Semua sekolah-sekolah dan penerbitan Tionghoa ditutup. Sampai-sampai dengan berbagai cara dan tekanan memaksa warga Indonesia untuk mengganti nama Tionghoanya dengan nama “asli-Indonesia”. * * * Juga tercatat dalam sejarah hubungan dua negeri, bahwa, sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, hubungan dua negeri, weajar dan bersahabat. Suatu kenyatan ialah, hubungn dua negeri Indonesia dan Tiongkok, paling baik, sejak Republik Indonesia (termasuk) negeri yang pertama mengakui Republik Rakyat Tiongkok (hanya beberapa bulan saja setelah diproklakamasikannya Republik Rakyat Tiongkok). Periode itu adalah ketika Presiden Sukarno menjabat Presiden Republik Indonesia. Begitu Jendral Suharto naik panggung kekuasaan mulailah pemburukan sampai pembekuan hubungan Indonesia – Tiongkok. * * * Kunjungan Sukses Presiden Tiongkok Xi Jinping Dalam pada itu hubungan Indonesia-Tiongkok berangsur-angsur mengalami perkembngan positif yang berguna dan saling menguntungkan. Dalam kunjungannya ke Indonesia, Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menekankan bahwa . . “Kedua negara memiliki target yang hampir sama dalam pembangunan masing-masing negara,memiliki kepentingan bersama yang luas dalam pemeliharaan kemakmuran dan kestabilan di kawasan ini, sekaligus memiliki suara yang sama dalam urusan internasional.” Selanjutnya Xi Jinping menjelaskan a.l sbb: “Hubungan Tiongkok-Indonesia tidak hanya tercermin pada hubungan bilateral, tetapi juga di bidang urusan internasional dan regional. Kerja sama saling menguntungkan antara kedua negara telah membuahkan hasil bernas dan memiliki prospek yang cerah. Saat ini situasi internasional dan regional semakin kompleks dan berubah, sehingga peningkatan kerja sama strategis kedua negara telah menjadi pilihan wajar yang berpandangan jauh bagi kedua negara. Tiongkok memandang Indonesia sebagai sasaran prioritas diplomasinya untuk daerah di sekitar. Tiongkok bersedia meningkatkan kerja sama yang menyeluruh dengan Indonesia demi mewujudkan perkembangan bersama, menyejahterakan rakyat kedua negara, memelihara kestabilan dan kemakmuran jangka panjang di Asia, serta mendorong persatuan dan kerja sama negara-negara berkembang dalam rangka mendorong perdamaian dan pembangunan dunia. * * * Bagaimana sikap pemerintah Indonesia mengenai hubungan kedua negeri kini dan perspektifnya? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengingatkan, bahwa sejak 2005 dalam hubungan Indonesia-Tiongkok telah digalang hubungan kemitraan strategis. Sejak itu hubugan dua negeri mengalami perkembangan pesat. Selanjutnya PresidenSBY: menjelaskan a.l sbb: Kekuatan terpadu Tiongkok kian meningkat dan posisinya di dunia juga semakin meningkat. Perkembangan stabil Tiongkok berperan penting bagi kawasan ini maupun seluruh dunia. Indonesia memandang penting hubungan dengan Tiongkok, dan berharap meningkatkan kerja sama dengan Tiongkok dengan memanfaatkan peluang peningkatan hubungan kemitraan strategis komprehensif Indonesia dan Tiongkok. Tiongkok mengusulkan pembentukan Bank Investasi Infrastruktur Asia guna mendorong pembangunan konektivitas dan integrasi ekonomi kawasan ini. Susilo memberikan tanggapan positif terhadap usulan Tiongkok tersebut. * * * Kepala kedua negara Tiongkok dan Indonesia sepakat untuk meningkatkan kerja sama di semua bidang dan melakukan kerja sama dan pertukaran yang bertaraf lebih tinggi dan di panggung dunia yang lebih luas. Pertama, selalu berpegang teguh pada arah perkembangan hubungan kdua negara, saling mendukung dalam masalah yang menjadi fokus perhatian masing-masing, dan meningkatkan kepercayaan strategis guna meletakkan dasar yang kokoh bagi pemeliharaan stabilitas hubungan kedua negara dalam jangka panjang. Kedua, meningatkan kerja sama di bidang pembangunan infrastruktur, manufaktur, pertanian, investasi dan pendanaan, bersama menciptakan titik pertumbuhan yang baru, dan berusaha mewujudkan target peningkatan volume perdagangan kedua negara menjadi US$ 80 miliar pada 2015. Mendukung perusahaan Tiongkok berpartisipasi dalam pembangunan enam koridor ekonomi dan pembangunan konektivitas Indonesia, dan mendukung pembangunan taman industri terpadu kedua negara. Meningkatkan kerja sama kedua negara di bidang migas dan energi baru. Mendukung pembangunan taman industri terpadu kedua negara. Meningkatkan kerja sama kedua negara di bidang migas dan energi baru, dan membangun hubungan kemitraan kerja sama di bidang energi dalam jangka panjang. Meningkatkan kerja sama di bidang finansial dan fiskal, memperpanjang kontrak swap mata uang lokal bilateral dengan nilai totalnya tercatat 100 miliar RMB. Ketiga, meningkatkan kerja sama di laut, membentuk mekanisme kerja sama perikanan antar pemerintah, dan memulai perundingan tentang penangkapan ikan. Membentuk mekanisme kerja sama antariksa, yakni melakukan kerja sama di bidang pemantauan antariksa, peluncuran satelit dan aplikasinya. Keempat, meningkatkan koordinasi dan komunikasi kedua negara melalui mekanisme seperti konsultasi pertahanan dan keamanan serta dialog antara angkatan laut kedua negara. Meningkatkan pemberantasan kejahatan transnasional dan terorisme serta kerja sama di bidang penanggulangan bencana alam. Kelima, memperluas pertukaran kedua negara di bidang humaniora, mendukung pemuda, media, lembaga kecerdasan dan agama kedua negara untuk melakukan kontak, meningkatkan kerja sama pariwisata, dan melalukan penelitian bersama tentang satwa liar. Tiongkok ingin membangun pusat kebudayaan Tiongkok di Jakarta dan membuka konsulat jenderal di Bali. Tiongkok mengusulkan kedua negara melakukan kunjungan timbal balik pemuda dalam bentuk delegasi seratus orang. Tiongkok mengundang tetua Islam Indonesia untuk berkunjung ke Tiongkok. Keenam, kedua negara meningkatkan koordinasi dan kerja sama dalam masalah regional dan internasional guna mendorong perkembangan kemitraan strategis Tiongkok-ASEAN. * * * Xi Jinping mengusulkan pembentukan bank investasi infrastruktur Asia untuk mendorong pembangunan konektivitas dan proses integrasi ekonomi kawasan ini. Tiongkok bersedia memberikan bantuan dana kepada negara-negara berkembang termasuk negara anggota ASEAN dalam pembangunan infrastruktur. Bank investasi infrastruktur Asia yang direncanakan akan melakukan kerja sama dengan bank pembangunan multilateral yang ada sekarang demi saling melengkapi dan bersama-sama mendorong perkembangan kontinyu dan stabil ekonomi Asia. * * * BBC dalam komentarnya mengenai perkembangan hubungan Indonesia dengan Tiongkok sekarang ini, menulis: “Indonesia menginginkan Tiongkok meningkatkan investasinya ke berbagai bidang.Pemerintah Indonesia mengatakan kerja sama ekonomi dengan Tiongkok yang ditandatangani oleh petinggi kedua negara di Jakarta hari Rabu (02/10) merupakan penanda dimulainya era baru kerjasama kedua negara. Kerjasama kedua negara yang selama ini didominasi oleh perdagangan saat ini sudah mulai bergeser ke arah industrialisasi dan pembangunan non perdagangan. Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengatakan nilai kerjasama kedua negara yang disepakati kali ini mencapai lebih dari US$ 30 miliar. "Ini merupakan era baru dari hubungan Indonesia dan Tiongkok yaitu dari sebelumnya yang didominasi oleh trading dan sekarang masuk ke era industrialisasi dan pembangunan non trading," kata MS Hidayat. "Mudahan-mudahan kerjasama ini memperbaiki neraca pembayaran kita karena jika dia investasi maka FDI (Foreign Direct Investment) masuk." * * * "Tiongkok berupaya mendorong kerjasama pragmatis yang mendorong kesejahteraan bersama. Kedua negara selama ini punya kepentingan luas mulai investasi, infrastruktur dan energi." Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, nilai investasi Tiongkok ke Indonesia pada Kuartal I 2013 nilainya mencapai US$ 60,2 juta dari 99 proyek yang dijalankan. Sedangkan nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok pada Semester I 2013 mencapai US$ 10,09 miliar. "Ini merupakan era baru dari hubungan Indonesia dan Cina yaitu dari sebelumnya yang didominasi oleh trading dan sekarang masuk ke era industrialisasi dan pembangunan non trading" * * * Dipandang secara keseluruhan situasi hubungan dua negeri dewasa ini, ada sementara komentar yang menyatakan situasi ini “mirip” dengan keadaan yang berlangsung pada periode Presiden Sukarno. Bedanya dewasa ini ekonomi Tiongkok ada dalam posisi yang jauh lebih kuat dan mampu untuk berpatisipasi dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Di fihak Indoneisa, kemampuan juga sudah berkembang untuk meningkatkan hubungan dua negeri ini benar-benar ke taraf KEMITRAAN STRATEGIS. * * *

TIONGKOK BERSATU MENYUSURI JALAN SOSIALIS BERCIRI KHAS TIONGKOK

Kolom IBRAHIM ISA Selasa, 01 Oktober 2013 ---------------------------------- TIONGKOK BERSATU MENYUSURI JALAN SOSIALIS BERCIRI KHAS TIONGKOK * * * Pada perayaan Ultangtahun ke-64 Republik Rakyat Tiongkok, 01 Oktober 2013, Perdana Menteri Republik Rakyat Tiognkok, Li Keqiang, menyatakan bahwa "sejak berdirinya RRT dan diterapkannya kebijakan Reformasi dan Keterbukaan, Partai Komunis Tiongkok telah memimpin rakyat dari berbagai etnis di seluruh negeri agar bersatu kompak dan berjuang, maju menyusuri jalan sosialis yang berciri khas Tiongkok, mencapai prestasi besar yang mengundang perhatian seluruh dunia dan meletakkan fondasi kokoh bagi pembangunan masyarakat yang sejahtera”. Tahun lalu, bersama Murti, kami berkunjung ke Tiongkok selama dua minggu, atas undangan “Chinese Association for Friendship With Foreign Countries” -- Perhimpunan Tiongkok untuk Persahabatan dengan Negeri-Negeri Asing. Dari kunjungan tsb kami dapat membenarkan apa yang dinyatakan oleh PM Li Keqiang, bahwa menyusuri jalan sosialis yang berciri khas Tiongkok, selama 30 tahun belakangan ini Tiongkok telah mencapai kemajuan luar biasa, di bidang pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dan peningkatan kemakmuran rakyatnya. Namun, mereka tidak menutup mata terhdap kekurangan dan kekeliruan yang terdapat dalam proses pelaksanaan politik Reformasi Dan Keterbukaan. Salah satu dampak sampingan politik Reformasi dan Keterbukaan adalah timbulnya perbedaan yang besar antara yang lebih dahulu kaya dengan yang masih miskin. Dinyatakan bahwa selama pertumbuhan ekonomi puluhan tahun belakangan ini sekitar 400 juta rakyat telah mengalami peningkatan nyata dalam taraf hidupnya. Dengan secara terbuka mengakui bahwa salah satu dampak sampingan politik Reformasi dan Keterbukaan adalah timbulnya perbedaan yang besar antara yang lebih dahulu kaya dengan yang masih miskin; maka, selama beberapa tahun belakangan ini salah satu titik berat politik pemerintah adalah dengan berrencana mengejar keterbelakangan pembangunan daerah-daerah Tiongkok yang masih "terbelakang" – khususnya daerah pedalaman, serta memperbesar usaha kesejahteraan rakyat, memperkecil perbedaan antara yang miskin dan yang kaya. * * * Sebagai sesama bangsa Asia yang tergolong negeri Dunia Ketiga, Indonesia dan Tiongkok berkepentingan untuk terus membina hubungan dua negeri yang normal dan sehat, berjuang memperkuat hubungan persahabatan yang didasarkan atas PRINSIP-PRINSIP KONFERENSI BANDUNG (1955). Indnesia yang ekonominya amat tergantung pada luar, dan mengharapkan pada penanaman modal asing untuk pertumbuhan ekonomi negeri, hakikatnya masih menjadi 'embel-émbel' ekonomi kapitalis sejagat. Sedangkan kekayaan bumi dan laut negeri kita lebih banyak dimanfaatkan oleh modal asing. Seyogianya kita bisa menarik pelajaran dari pengalaman Tiongkok, bagaimana melalui kebijakan REFORMASI DAN KETERBUKAAN. mereka bisa memanfaatkan modal asing yang diundang melakukan usaha Tiongkok. Mereka dengan pandai belajar dan akhirnya berhasil menugasai ilmu dan teknologi serta kemahiran pengelolaan dari fihak asing dan dunia, untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran rakyat sendiri. Tidak sedikit modal asing yang diundang mengadakan bisnis di Tiongkok, namun ini samasekali tidak menjadikan ekonomi Tiongkok tergantung pada luarnegeri. Melalui kebijakan ekononi yang cerdik, Tiongkok telah berhasil membangun ekonomi negerinya menjadi YANG TERKUAT DIDUNIA setelah ekonomi Amerika Serikat. Selain itu selama dua kali krisis ekonomi kapitalis dunia belakangan ini,Tiongkok adalah salah satu negeri di dunia yang tidak menderita dari krisis itu. Sebaliknya Tiongkok mampu mempertahankan pertumbuhan ekonominya tetap mantap. Suatu hubungan saling mengerti dan saling menghormati serta saling menguntungkan, -- adalah satu-satunya politik luarnegeri yang tepat bagi Republik Indonesia dan Republik Rakayat Tiongkok. * * *

'Hidupku Jungkir Balik Akibat G30S'

Kolom IBRAHIM ISA Selasa, 01 Oktober 2013 ---------------------------------- 'Hidupku Jungkir Balik Akibat G30S' * * * 30 September 2011, dua thun yang lalu, JulianiWahjana, jurnalis Radio Hilversum, Belanda, Seksi Indonesia, berinisiatif, mewawancarai aku, dalam rangka Radio Nederland Wereldomroep (Radio Belanda Siaran Inernasional) ketika itu “memperingati” kejadian drastis yang menjungkir balikkan perkembangan politik di Indonesia, -- Peristiwa Gerakan 30 September – “G30S”. Kemarin, aku sudah menulis Kolom, sekitar Peristiwa “:G30S” dan situasi dewasa ini. Kali ini disiarkan kembali wawancara JULIANI WAHJANA dari Radio Nederland: * * * 'Hidupku Jungkir Balik Akibat G30S' Diterbitkan : 30 September 2011 Oleh: JULIANI WAHJANA ( www.ranesi.nl) * * * Peristiwa 30 September 1965 terjadi 46 tahun lalu. Bisa dibilang lama bagi yang tidak mengalaminya. Tapi bagi mereka yang terlibat langsung, peristiwa yang mengubah sejarah Indonesia dan jalan hidup banyak anak manusia itu, ibarat kejadian kemarin saja. Walaupun sudah 46 tahun berlalu dan belakangan terdapat upaya untuk mengungkap apa yang terjadi pada waktu itu, tapi kebenaran belum seluruhnya muncul ke permukaan. Warisan beban masa lalu dari peristiwa G30S, harus suatu saat dituntaskan, semakin cepat semakin baik. Penting, bukan saja bagi mereka yang terlibat langsung serta anak-cucu mereka yang sampai sekarang masih menyandang dampaknya, tapi juga bagi generasi-generasi seterusnya, supaya mereka tidak perlu lagi menyandang beban ini. Ibrahim Isa, 81 tahun, menyebut diri sebagai nasionalis Indonesia dan bermukim di Belanda, adalah satu dari sekian banyak anak manusia yang jalan hidupnya berubah drastis akibat peristiwa G30S itu. Getir "Getir ... ya ... karena paspor saya dicabut, dibatalkan. Pada permulaan Januari 1966, di Havana (ibukota Kuba, Red) berlangsung konperensi internasional untuk rakyat bangsa-bangsa Asia-Afrika-Amerika Latin. Konperensi penting yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi termasuk organisasi kami di Kairo, di mana saya duduk sebagai wakil Indonesia. Jadi saya ambil bagian aktif dalam konperensi ini. Ketika saya ada di Jakarta pada bulan Oktober (1965, Red), saya lihat keadaan jungkir balik di Indonesia. Saya sudah perhitungkan pasti dari Indonesia tidak akan mengirimkan delegasi sebab ini delegasi rakyat. Gerakan ini di Indonesia isinya banyak orang kiri dan sudah banyak yang ditangkap dan hilang. Bentuk Delegasi Ketika saya tiba di Havana, Desember 1965, saya jelaskan pada panitia pengorganisasi bahwa di Indonesia terjadi begini-begini sehingga tidak akan mampu mengirim orang ke Havana. Terus panitia mengatakan, kalau begitu Bung Isa saja yang mewakili karena Bung kan mewakili Indonesia di Kairo di gerakan Asia Afrika. Saya jawab saya tidak bisa sendiri, mesti bersama-sama dengan yang lain. Kebetulan banyak teman lain yang ada di luar negeri. Saya minta mereka, akhirnya ada tujuh atau delapan orang membentuk delegasi Indonesia. Dua Delegasi Tiba-tiba datang delegasi dari Indonesia, diketuai Brigjen Latief Hendraningrat. Saya lihat komposisi delegasi ini, ketuanya jenderal, salah satu orang terpenting letkol, yang lain-lain saya tidak kenal. Saya jelaskan pada panitia. Saya bilang ini bukan delegasi rakyat, non governmental, tapi dikontrol militer. Dilemanya, Pak Latief ini adalah teman saya. Dia Anggota Parlemen Komisi Luar Negeri, mewakili PNI (Partai Nasional Indonesia, Red), tapi masih jenderal. Secara hirarkis, dia di bawah Soeharto. Ketika ketemu Pak Latief, saya tanya apa yang mau dibicarakannya dalam konperensi. Dia bilang: "Saya garis PNI, garis Presiden Soekarno, anti imperialisme, ganyang Malaysia, dan sebagainya." Saya jawab mereka tidak mau dengar tentang itu. Mereka tahu ada pergolakan di Jakarta dan mereka ingin tahu bagaimana Presiden Soekarno. Sebab Presiden Soekarno diketahui sebagai tokoh yang mendukung gerakan kemerdekaan. Karena dia bilang tidak bisa jelaskan hal itu, saya bilang saya yang akan jelaskan. Tapi dia bilang tidak bisa. Tidak tercapai sepakat, maka diajukanlah ke komite. Mereka putuskan menerima wakil yang dipimpin Isa. Jakarta Marah Di situlah Jakarta marah sekali. Di Jakarta hanya ada dua koran, Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata. Di situ dimuat bahwa Isa ini adalah orangnya G30S yang ada di luar negeri, melakukan subversi, menjelek-jelekkan Indonesia, dan sebagainya. Itulah yang menyebabkan paspor saya dan teman-teman dicabut tanpa proses, tanpa ditanya. Kalau boleh dibilang, itulah satu titik balik besar pada hidup saya. Tapi kalau ditanya apakah saya menyesal? Tidak. Saya tidak menyesal. Kalau kita berbuat demi cita-cita yang kita anggap benar, adil, dan mulia, itu pasti ada resikonya. Ini saya anggap sebagai resiko yang harus dihadapi. Saya hanya sedih ... sampai sekarang, melihat teman-teman yang ditangkap, banyak yang disiksa, dan juga banyak yang sudah tidak ada. Ini sangat sedih. Tapi kesedihan ini tidak merintangi saya untuk meneruskan kegiatan." Ibrahim Isa dalam laporan J.Wahjana * * *

-- “Gerakan 30 September”, “G30S” Adalah ”Gerakan 1 Oktober “ (“GESTOK”) . . .

Kolom IBRAHIM ISA Senin, 30 September 2013 ------------------------------------ -- “Gerakan 30 September”, “G30S” Adalah ”Gerakan 1 Oktober “ (“GESTOK”) . . . -- Meningkatnya Kesedaran Mengungkap Kebenaran dan Keadilan . . Sekitar Peristiwa '65 Suatu peristiwa teramat krusial dalam sejarah Republik Indonesia, yang terjadi pada dinihari tanggal 1 Oktober 1965, telah mengubah jalannya sejarah negeri dan bangsa ini secara drastis, radikal dan berdarah. Peristiwa tsb diawali oleh suatu aksi militer “blitzkrieg”. Seperti yang dinyatakan oleh pencetus peristiwa” Gerakan 30 September”, aksi tsb bertujuan membela Presiden Sukarno terhadap suatu komplotan kudeta oleh suatu “Dewan Jendral”, – –. “G30S” mengklaim bertujuan membela Pesiden Sukarno. Enam orang perwira tinggi dan seorang perwira bawahan Angkatan Darat jadi korban pembunuhan. “G30S” membentuk suatu “Dewan Revolusi” . Yang dideklarasikan pada hari pembentukannya sebagai badan kekuasaan tertinggi Indonesia. Praktis menyisihkan Presiden Republik Indonesia Ir Sukarno dari kedudukannya sebagai pejabat dan pimpinan tertinggi negara dan pemerintah. Makanya aksi “G30S” tsb oleh banyak fihak dikatagorikan sebagai suatu perebutan kekuasaan. Juga tercatat dalam dokumentasi media, bahwa tokoh-tokoh pimpinan “G30S” , seperti Brigjen Supardjo yang melapor kepada Presiden Sukarno dan Kol Untung, semua patuh pada perintah Presiden Sukarno untuk menghentikan aksi-aksi “G30S . Dengan demikian telah mencegah konfrontasi berdarah antara kekuatan militer Jendral Suharto versus “G30S”. “G30S” yang memulai aksi militer, taat pada Presiden Sukarno dan meletakkan senjata. Dengan demikian tuduhan bahwa “G30S” melakukan perebutan kekuasaan atau pemberontakan terhadap pemerintah, kembali dipersoalkan keabsahannya. * * * Dalam perkembangan yang bersamaan waktunya, YANG AKTUIL, NYATA, MELAKUKAN KUDETA (merangkak) terhadap Presiden Sukarno adalah Jendral Suharto. Jendral Suharto melakukan “penahanan rumah”(hakikatnya lebih ketat dari pemenjaraan) -- terhadap Presiden Repubik Indonesia, Ir Sukarno, mengasingkannya dari kontak dengan dunia luar, selain anggota keluarganya yang diseleksi. Selanjutnya, secrara berrencana diatur secara programatis, fihak militer dibawah Jendral Suharto dan Jendral Nasution, akhirnya menyingkirkan Presiden Sukanro, melalui suatu sidang MPRS yang direkayasa. Perkembangan berikutnya Jendral Suharto dan para pendukungnya di kalangan militer dan parpol serta sementara kekuatan sosial termasuk yang nasionalis dan religius --- menegakkan rezim Orde Baru (Orba). Suatu rezim paling otoriter yang melakukan pelanggaran HAM berat. Yaitu persekusi dan pembunuhan masal, serta pemenjaraan, termasuk pembuangan ke P. Buru. Keselurahan korban sekitar 3 juta warga yang tidak bersalah. . . . . Atas tuduhan terlibat “G30S”, anggota PKI, diduga atau simpatisan PKI dan para pendukung setia politik Presiden Sukarno. * * * Entah apa sebabnya, para pencetus “G30S” menamakan dirinya “Gerakan 30 September”. Kesatuan militer AD dibawah Jendral Suharto, yang berhasil mengalahkan “G30S”, menamakan gerakan itu sebagai “Gestapu”. Dengan maksud mengidentikan gerakan tsb dengan “GESTAPO”, dalam bahasa Jerman, “Geheime Staatspolizei”. Yaitu polisi rahasia negara rezim Jerman Hitler. “Gestapo” diberi kekuasaan tak terbatas oleh Hitler, untuk menangkap siapa saia, atas nama “shutzhaft”, “diamankan”. Suatu cara yang seratus persen dipraktekkan oleh “Koptamtib” dan “BIN”, Badan Intelijen rezim .Orba, Ratusan ribu orang tak bersalah yang “diamankan” itu lalu “hilang”, yang masih hidup tak tentu dimana rimbanya, yang mati tak seorangpun tahu dimana kuburannya. Orde Baru menuduh “G30S” adalah “Gestapo”. Dalam praktek yang dilakukan oleh Kopkamtib dan BIN, lebih kejam dan lebih biadab dibanding “Gestapo”-nya Nazi Hitler. Presiden Sukarno dengan tepat sekali menamakan “G30S” itu “GESTOK”, “Gerakan Satu Oktober”. Karena, nyatanya gerakan tsb dimulai sekitar jam 03.00 pagi tanggal 1 Oktober 1965. Dengan tujuan jelas, Orba mengembangkan lanjut penamaan untuk “G30S”, menjadi “G30S/PKI”. Untuk melegitimasi klaimnya bahwa PKI adalah dalang “G30S”. Pada periode pemerintahan Megawati, nama itu dikembalikan pada aslinya, “G30S”. Tanpa embel-embel PKI. Karena memang para pelakunya menamakan gerakan mereka itu “Gerakan 30 September, G30S”. Tapi penguasa kemudian kembali menggunakan nama “G30S/PKI”. Apa itu “G30S”, bagaimana “the who's and the “why's”-nya, bisa dibaca di banyak dan berbagai penulis dan analisis serta hasil studi. Orba punya versinya sendiri yang penuh rekayasa, fitnah dan dusta. Pakar-pakar sejarah dan politik nasional dan internasional, menuliskan varian mereka sendiri. Kebanyakan hasil studi dan kesimpulan serta penulisan, menuding bahwa “G30S” adalah dalih untuk suatu perebutan kekuasaan oleh militer di bawah Jendral Suharto. * * * Empatpuluh delapan tahun telah lalu sejak terjadinya “G30S”. Namun, akibat serius dengan jatuhnya korban ditangan aparat dan pendukungya, sekitar 3 juta warga tidak bersalah serta diksriminasi dan pengucilan sosial dan politik terhadap keluarga korban yang tidak bersalah. Namun, sampai dewasa ini tidak satu kasuspun yang sudah ditangani oleh pemerintah-pemerintah yang didirikan sesudah digulingkannya rezim Orde Baru dan dimulainya proses Reformasi dan Demokratisasi. * * * Di lain fihak, – – perkembangan positif juga tampak nyata. Kesedaran masyarakat luas, teristimewa di kalangan generasi muda, mengenai sejarah bangsa, khususnya mengenai peristiwa yang terjadi sekitar 1965, mengenai hak-hak demokirasi dan HAM semakin hari semakin bertambah. Aksi-aksi masyarakat menuntut diungkapkannya KEBENARAN dan ditegakkannya KEADILAN sekitar PERISTIWA 1965 semakin meningkat. Peningkatan ini tercermin antara lain dengan berhasilnya KomnasHAM membuat laporan (23 Juli 2012) yang menyimpulkan telah terjadinya pelanggaran HAM berat oleh aparat keamanan negara sekitar Peristiwa 1965/'66. KomnasHAM telah mengajukan rekomendasinya kepada Kejaksaan Agung untuk menindak lanjuti pelaanggaran HAM berat tsb. Dihasilkannya Uud Komisi Kebenaran dan Rekonsilasi merupakan pertanda lainnya bahwa peningkatan kesadaran publik mengenai perlunya menanganan akibat dari pelanggarn HAM berat sekitar Peristiwa 1965, perlunya mengungkap kebenaran dan diusahakannya rekonsiliasi nasional. Yang tidak kalah penting gejala yang menunjukkan peningkatnya kesadaran masyarakat mengenai perlunya mengungkap kebenaran dan menegakkan keadilan sekitar Peristiwa 1965, adalah berlangsungnya TeleConference antar kota-kota Jakarta – Melbourne – Vancover – Kopenhagen, yang dipandu oleh Prof Dr Baskara T. Wijaya pada akhir Agustus 2013 y.l. Di Jakarta hadir kira-kira 200 orang dan banyak dari generasi muda. Suatu pertanda bagus. Mencerminkan semakin meningkatnya perhatian kalangan terpelajar muda negeri kita mengenai sejarah bangsanya * * * Di mancanegara masalah pelanggaran HAM berat di sekeitar Perisitiwa Tragedi Nasional 1965, mendapat sorotan meningkat besar-besaran dengan dirilisnya film dokumenter “THE ACT OF KILLING” , karya produser film Amerika, Joshua Oppenheimer. Situasi dewasa ini, 48 tahun sesudah terjadinya Tragedi 1965, menegaskan kegagalan sisa-sisa kekuatan Orde Baru yang berusaha keras untuk mencegah terungkapnya kebenaran dan tegaknya keadilan sekitar Pelanggaran HAM berat oleh aparat negara dalam Peristiwa 1965. Di fihak lain situasi tsb juga menunjukkan bahwa kekuatan retrogres sisa-sisa Orba itu tidak tinggal diam. * * * Di bawah ini disiarkan sebuah tautan untuk film “The Act of Killing”, diriliss oleh mailis ”Exlibris 1965”, yang saya terima dari sahabatku Prof Said Salim, mantan Dubes R.I. di Praha, yang tekun menforwardkan berita-berita penting nasional dan internasional, sbb: Pembaca yang budiman, Kami kirim tautan untuk melihat film "The Act of Killing" yang disutradarai oleh Yoshua Oppenheimer/ http://viooz.co/movies/20433-the-act-of-killing-2012.html “Jagal “ – (''The Act of Killing'') Adalah film dokumenter karya sutradara asal Amerika. Dokumenter ini menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti-PKI yang terjadi di tahun 1965-1966 memproyeksikan dirinya ke dalam sejarah untuk menjustifikasi kekejamannya sebagai perbuatan heroik. Setelah PKI dituduh oleh TNI sebagai pelaku G30S di tahun 1965, Anwar dan kawan-kawan "naik pangkat" dari preman kelas teri pencatut karcis bioskop menjadi pemimpin pasukan pembunuh. Mereka membantu tentara membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa, dan intelektual, dalam waktu kurang dari satu tahun. Sebagai seorang algojo dalam pasukan pembunuh yang paling terkenal kekejamannya di Medan, Anwar telah membunuh ratusan orang dengan tangannya sendiri. Hari ini, Anwar dihormati sebagai pendiri organisasi paramiliter sayap kanan Pemuda Pancasila (PP) yang berawal dari pasukan pembunuh itu. Organisasi ini begitu kuat pengaruhnya sehingga pemimpinnya bisa menjadi menteri, dan dengan santai menyombongkan segala macam hal, dari korupsi dan mengakali pemilu sampai melaksanakan genosida. Dalam Jagal, para pembunuh bercerita tentang pembunuhan yang mereka lakukan, dan cara yang mereka gunakan untuk membunuh. Tidak seperti para pelaku genosida Nazi atau Rwanda yang menua, Anwar dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun dipaksa oleh sejarah untuk mengakui bahwa mereka ikut serta dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka justru menuliskan sendiri sejarahnya yang penuh kemenangan dan menjadi panutan bagi jutaan anggota PP. Jagal adalah sebuah perjalanan menembus ingatan dan imajinasi para pelaku pembunuhan dan menyampaikan pengamatan mendalam dari dalam pikiran para pembunuh massal. Jagal adalah sebuah mimpi buruk kebudayaan banal yang tumbuh di sekitar impunitas ketika seorang pembunuh dapat berkelakar tentang kejahatan terhadap kemanusiaan di acara bincang-bincang televisi, dan merayakan bencana moral dengan kesantaian dan keanggunan tap-dance. Pada masa mudanya, Anwar dan kawan-kawan menghabiskan hari-harinya di bioskop karena mereka adalah preman bioskop: mereka menguasai pasar gelap karcis, dan pada saat yang sama menggunakan bioskop sebagai markas operasi untuk kejahatan yang lebih serius. Di tahun 1965, tentara merekrut mereka untuk membentuk pasukan pembunuh dengan pertimbangan bahwa mereka telah terbukti memiliki kemampuan melakukan kekerasan, dan mereka membenci komunis yang berusaha memboikot pemutaran film Amerika—film-film yang paling populer (dan menguntungkan). Anwar dan kawan-kawan adalah pengagum berat James Dean, JohnWayne, dan Victor Mature. Mereka secara terang-terangan mengikuti gaya berpakaian dan cara membunuh dari idola mereka dalam film-film Holywood. Keluar dari pertunjukan midnight, mereka merasa “seperti gangster yang keluar dari layar.” Masih terpengaruh suasana, mereka menyeberang jalan ke kantor dan membunuh tahanan yang menjadi jatah harian setiap malam. Meminjam teknik dari film mafia, Anwar lebih menyukai menjerat korban-korbannya dengan kawat. Dalam Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan tersebut kepada sutradara. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: mereka ingin menjadi bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi pencatut karcis bioskop. Sutradara menangkap kesempatan ini untuk mengungkap bagaimana sebuah rezim yang didirikan di atas kejahatan terhadap kemanusiaan, yang belum pernah dinyatakan bertanggung jawab, memproyeksikan dirinya dalam sejarah. Kemudian sutradara film menantang Anwar dan kawan-kawannya untuk mengembangkan adegan-adegan fiksi mengenai pengalaman mereka membunuh dengan mengadaptasi genre film favorit mereka—gangster, koboi, musikal. Mereka menulis naskahnya. Mereka memerankan diri sendiri. Juga memerankan korban mereka sendiri. Proses pembuatan film fiksi menyediakan sebuah alur dramatis, dan set film menjadi ruang aman untuk menggugat mereka mengenai apa yang mereka lakukan di masa lalu. Beberapa teman Anwar menyadari bahwa pembunuhan itu salah. Yang lain khawatir akan konsekuensi kisah yang mereka sampaikan terhadap citra mereka di mata publik. Generasi muda PP berpendapat bahwa mereka selayaknya membualkan horor pembantaian tersebut karena kengerian dan daya ancamnya adalah basis bagi kekuasaan PP hari ini. Saat pendapat berselisih, suasana di set berkembang menjadi tegang. Bangunan genosida sebagai “perjuangan patriotik”, dengan Anwar dan kawan-kawan sebagai pahlawannya, mulai berguncang dan retak. Yang paling dramatis, proses pembuatan film fiksi ini menjadi katalis bagi perjalanan emosi Anwar, dari jumawa menjadi sesal ketika ia menghadapi, untuk pertama kali dalam hidupnya, segenap konsekuensi dari semua yang pernah dilakukannya. Saat nurani Anwar yang rapuh mulai terdesak oleh hasrat untuk tetap menjadi pahlawan, Jagal menyajikan sebuah konflik yang mencekam antara bayangan tentang moral dengan bencana moral. Selamat menonton. Maaf kalau terjadi pengiriman ganda. Pengelola ExLibris 1965 * * *

Dialog-Interaktif Di “FACEBOOK” Sekitar REHABILITASI Dr SOEBANDRIO

Kolom IBRAHIM ISA Sabtu, 28 September 2013 ------------------------------------- Dialog-Interaktif Di “FACEBOOK” Sekitar REHABILITASI Dr SOEBANDRIO * * * Seteladah kusiarkan di “Facebook” Surat Terbuka Dr Asvi Adam kepada Presiden SBY, yang mendesak Presiden agar Dr Soebandrio DIREHABILITASI, . . . di Facebook berlangsung dialog-interaktif mengenai masalah tsb. Menarik untuk mengikuti sebagian dari dialog tsb., a.l sbb: Hoesein Rushdy: Kemarin saya menerima email dari Bapak Ibrahim Isa. Terus terang sebagai ketua Yayasan Prapatan 10 yaitu yayasan mahasiswa Pendidikan Dokter dizaman Jepang (Ika Daigaku) saya mendukung gagasan "Rehabilitasi Dr Soebadrio SB (Spesialis Bedah). Kolom IBRAHM ISA Jum'at, 27 September 2013 Ibrahim Isa Pak Rushdy, saya pernah bersama Menlu Soebandrio dalam suatu MISI SAFARI BEDIKARI KE AFRIKA DAN TIMUR TENGAH, pertengahan 1965. Misi itu dalam rangka persiapan Konferensi AA Ke-II di Aljazair (rencanasnyas 1965). Misi penting RI itu diketuai oleh Pak Bandrio. Lebih banyak disapa MAS BAN. Dua minggu lamanya kami bersama menjalankan tugas mulya itu. Dan saya dapat kesempatan mengenalnya dari dekat. Orangnya ramah, periang dan cerdas sekali. Saya berusaha untuk menemui beliau lagi di Jakarta dalam tahun 2000. Yang menerima tilpun istrinya. Ibu Bandrio menyatakan bahwa Bapak lemah dan tidak bisa menerima tamu. Ketika itu Mas Ban sedang ditekan oleh kekuatan tertentu untuk menarik kembali buku yang ditulisnya mengenai G30S.. . . . . Fahmi Amiruddin Iya bener. bukunya ttg PKI tentu memiliki validitas yg bisa dipertanggungjawabkan, mengingat beliau terlibat langsung dalam pusaran konflik. Bukunya bisa jadi pisau membedah dan referensi untuk rekonstruksi sejarah. Hoesein Rushdy Buku dimaksud tersimpan baik pada perpustakaan pribadi saya di Bogor. Van Limburg Stirrum Saya langsung "deg" mendengar surat terbuka di atas.. sebagai penggemar sejarah yg selalu copy paste, saya menantikan bagaimana kisah selanjutnya.. Ibrahim Isa Di buku Dr Soebandrio tsb beliau cerita mengenai percakapannya dengan tokoh G30S, Untung, ketika sama-sama di penjara . . . Soebandrio banyak dengar info dari Untung. Maka Soebandrio tahu batul bahwa Jendral Suharto tahu dari A sampai Z tentang G30S, tapi tidak lapor pada atasannya . . . karena dia punya agenda sendiri ----- apa yang akan dikerjakannya . . . . Memang "pintar"Jen. Suharto . .. Bramantyo Prijosusilo Rehabilitasi nama baik Soebandrioo !!! Betul Soeharto sangat pintar, mampu membantai 3 juta rakyatnya, menjual SDA dan meraih hutang mencekik bergenerasi sepeninggalnya, tetapi tetap dianggap pahlawan oleh mereka yang diuntungkan penghianatannya pada cita-cita Proklamasi. Blup-Blup: Meskipun sulit terealisasi (apalagi mengingat SBY itu anak mantu siapa), namun upaya2 seperti yang dilakukan pak Asvi ini harus terus ditularkan. btw, saya pernah bekerja bersama pak Asvi, dan saya kenal integritas beliau dalam memerjuangkan kebenaran dan keadilan, sekalipun harus menghadapi "tembok tebal" milik para penguasa yang berdiri kokoh untuk melanggengkan "kebenaran" versi mereka. Bramantyo Prijosusilo Betul Soeharto sangat pintar, mampu membantai 3 juta rakyatnya, menjual SDA dan meraih hutang mencekik bergenerasi sepeninggalnya, tetapi tetap dianggap pahlawan oleh mereka yang diuntungkan penghianatannya pada cita-cita Proklamasi. Hoesein Rusdhy: Pada awal Revolusi kira-kira akhir tahun 1945, Dr Soebandrio adalah kader partai Sosialis yang handal. Dia aktif di kementerian luar negeri yang dipimpin Sutan Sjahrir. Berbagai kegiatan, misalnya awal perintisan perundingan Indonesia-Belanda, dia hadir. Perundingan yang klimaksnya yang nanti adalah Persetujuan Linggarjati, Soebandrio sering mendampingi Perdana Menteri. Bukan suatu kebetulan kalau Sjahrir amat dekat dengan mahasiswa kedokteran Salemba 6 (sekarang FKUI). Sejumlah mahasiswa malahan menjadi pegawai sipil pemerintah pusat.saat itu seperti, Soedjatmoko, Soedarpo, Hadi Thajeb, Aboebakar Loebis, dan masih banyak lagi. Diantaranya adalah Soebandrio yang saat itu sebenarnya sudah menjadi dokter. Tokoh senior Salemba 6 yang dekat dengan Sjahrir seperti Dr Halim, Dr Sarwono, Dr Soetomo, Tadjuludin dll. Foto, awal tahun 1946 di Kemayoran, ketika Perdana Menteri Sjahrir dan staf mengantar Van Mook yang akan pulang ke Belanda untuk melapor perkembamgan perundingan awal Indonesia-Belanda. Tampak Soebandrio (tanda X) sudah aktif mendamping pimpinan pemerintahan RI di Kementerian Luar Negeri. Nano Estananto: Om, kira2 apa kontribusi Soebandrio pada ditangkapnya Sjahrir di Bali dan pembubaran PSI? Hoesein Rushdy: Itu cerita yang lain yang episodenya, kenapa Soebandrio selanjutnya berbeda pendapat dengan para kambart-kambratnya ? Bisa saja ada penilaian baru tentunya....nanti kita sambung pada waktu dan kesempatan yang berbeda. FX Widiarso: sampai dengan Soebandrio berangkat ke London, beliau bekerja di Kementerian Penerangan dan terakhir menjabat sebagai sekjen. Hoesein Rushdy Itu cerita yang lain yang episodenya, kenapa Soebandrio selanjutnya berbeda pendapat dengan para kambrat-kambratnya ? Bisa saja ada penilaian baru tentunya....nanti kita sambung pada waktu dan kesempatan yang berbeda. Persetujuan New York. Indonesia dipimpin Dr Soebandrio... Hadidjojo Nitimihardjo : Ketika Bunker yg mulai tidak sabar berbicara dgn Adam maka hal itu disampaikan bahwa syarat berunding itu Belanda mundur. Klo tidak mundur terpaksa perang dan Armada Rusia sudah siap membantu Indonesia lengkap dgn kapal selam nya. Bunker mengecek Pentagon dan laporan intel mereka membenarkan. AS tidak siap membantu Belanda karena Armada Ke VII nya menjaga Taiwan dan sebagian lagi Armada AL nya menjaga pantai timur AS - konflik di Kuba. Belanda ditekan habis AS utk mengalah sehingga dibuat rapat mendadak NATO di Athena. Kennedy membuat telegram ke Menlu Dean Rusk yg diteruskan ke Menlu Belanda. AS itu yg paling berkuasa di NATO sehinga Belanda mundur dan menyetujui semua syarat Indonesia. * * * *