Friday, November 2, 2007

IBRAHIM ISA --- BERBAGI CERITA -- LEIDEN MEMPERINGATI 'HARI SUMPAH PEMUDA'

IBRAHIM ISA --- BERBAGI CERITA

----------------------------------------

Kemis, 01 November 2007


LEIDEN MEMPERINGATI 'HARI SUMPAH PEMUDA'


KEUNGGULAN generasi muda kita, ----- ialah, --- mereka selalu berinisiatif dan aktif. Selalu rela berkorban demi cita-cita luhur kemerdekaan, keadilan, kemakmuran serta kebesaran bangsa dan tanah air INDONESIA. Ini terukir dalam sejarah perjuangan bangsa kita untuk kemerdekaan Tanah Air dan Bangsa. Bukti keras yang monumental, didemonstrasikan pada Hari SUMPAH PEMUDA 28 Oktober 1928, REVOLUSI AGUSTUS 1945 dan maraknya GERAKAN REFORMASI DAN DEMOKRATISASI 1998, yang telah menggulingkan rezim Orba di bawah Presiden Suharto.


Memperingati -- Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 -- , memang sudah menjadi suatu tradisi bangsa kita. Suatu tradisi yang baik. Yang sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Tradisi ini relevan dan perlu diteruskan. Memperingati Hari Sumpah Pemuda, mengingatkan kita kembali tentang perlunya mengkhayati arti penting memahami secara tepat, sejarah perjuangan bangsa kita dalam membangun nasion Indonesia dan memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.


Ada pendapat yang menyatakan, bahwa belakangan ini , peringatan Hari Sumpah Pemuda, lebih banyak dilakukan secara seremonial dan ritual belaka. Atau hanya bersifat formal. Maka,-- begitu diargumentasikan , --- sebaiknya hapuskan saja peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang bersifat seremonial dan ritual itu. Tidak perlu itu, demikian dikatakan.


Seremoni dan ritual, adalah bagian (bahkan bagian yang termasuk penting) dari kehidupan budaya manusia, termasuk budaya manusia Indonesia. Yang harus diperhatikan dan dijaga, ialah agar jangan sampai kebablasan dalam melakukan seremoni dan ritual. Perlu dicegah jangan sampai merayakan Hari Sumpah Pemuda semata-mata, atau lebih banyak bersifat seremonial dan ritual. Kebiasaan dan tradisi memperingati Hari Sumpah Pemuda, dan hari-hari penting nasional lainnya, termasuk segi seremoni dan ritualnya, samasekali tidak ada salahnya.


* * *


Seminar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang diadakan pada hari Miggu, 28 Oktober 2007 di Leiden, dengan mengambil tema -- 'SAMPAI DIMANA KEINDONESIAAN KITA' -- , telah berlangsung di gedung Teater LAK, Universiteit Leiden. Tidak ketinggalan dipentaskannya malam kebudayaan. Diisi dengan tari dan nyanyi Indonesia, merdu dan indah. Cukup meriah. Sayang Penulis tidak sempat hadir terus pada bagian kedua Seminar, dan juga tidak ambil bagian dalam malam kebudayaannya, karena, ada urusan lain.


Tema yang dipilih cukup menarik dan luas. Bisa dibayangkan betapa sulitnya panitya menyimpulkan hasil seminar nantinya. Ketika moderator memberikan orasinya, tersirat fikiran yang dipengaruhi oleh pesimisme mengenai hari depan bangsa dan tanah air. Padahal, seyogianya, memperingati Hari Sumpah Pemuda, tujuannya adalah untuk memperkokoh semangat dan jiwa opitmisme, kesadaran satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air, serta semangat nasionalisme patriotik yang optimis.


* * *


Perlu dikemukakan bahwa secara keseluruhan Hari Peringatan Sumpah Pemuda yang diisi dengan sebuah seminar, adalah positif. Namun, tidak boleh menutup mata terhadap kekurangan-kekurangan nya, baik mengenai pemanduan maupun mengenai isi pembicaraan sementara nara sumber. Panitya Penyelenggara Seminar (FKMIN bekerjasama dengan KBRI Den Haag) menunjukkan kesungguh-sungguhan dengan a.l. menyediakan bahan bacaan tercetak untuk keperluan seminar. Antara lain, yang disusun atau dikemukakan secara lisan oleh para nara sumber, termasuk Mintardjo SH (Yayasan Sapulidi Leiden), Prof. Amal Tamrin Tamagola, Leiden, Sofyan Siregar (Ketua FKMIN) dan J.E Habibie, Dubes RI untuk Kerajaan Belanda,dan lain-lain.


Perlu diperhatikan apa yang disampaikan oleh Mintardjo yang mengemukakan tentang peran masyarakat Indonesia di negeri Belanda dalam 'membentuk dan menjaga ke-Indonesiaan'. Tentang pentingnya membangkitkan kepedulian orang-orang Indonesia tehadap nasib bangsanya sendiri, dan perlunya memberikan keyakinan bahwa Indonesia bukanlah Negara yang tanpa harapan.


Namun, yang paling menarik perhatian adalah sumbangsih fikiran yang disampaikan oleh Prof. Dr Amal Tamrin Tomagola. Terutama karena yang diajukan itu, selain amat kritis dan juga analitis, --- juga karena ia mengangkat soal-soal yang nyata, yang riil, yang relevan mengenai kendala-kendala yang dihadapi bangsa kita dewasa ini, tanpa tedeng aling-aling. Baik dari yang terdapat di kalangan masyarakat maupun di kalangan yang berwewenang. Tamrin memfokuskan pada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan hidup, budaya korupsi dan kemiskinan, yan bila tidak ditangani dengan baik dan pandai, akan merupakan kendala bagi kemajuan bahkan kelangsungan hidup bangsa ini. Penting sekali apa yang dikemukakan Tamrin tertuju kepada para pemuda-pemudi yang sedang menempuh studi di Belanda. Yaitu, agar bila selesai studi dan pulang ke tanah air, jangan 'nongkrong' di Jakarta, hendaknya terjun ke daerah-daerah, ikut membangun kekuatan demokratis masyarakat dari tingkat bawah, akar rumput.


* * *


Kiranya perlu diperhatikan ( terutama oleh yang bersangkutan) pendapat sementara hadirin, yang menyatakan (kepada penulis) bahwa apa yang diajukan oleh Prof Amal Tamrin Tomagola, jauh lebih relevan dengan situasi tanah air dan bangsa. Apa yang disampaikan Tamrin, lebih bermutu. terbanding, misalnya, pembicaraan yang disampaikan oleh JE Habibie, Dubes RI untuk Kerajaan Belanda, yang tampil sebagai nara sumber. Dengan segala hormat kepada beliau, dinyatakan bahwa sebagai salah seorang nara sumber, apa yang diorasikan JE Habibie terlalu banyak yang terpaut dengan dirinya sendiri. Di satu fihak, pendengar menghargai semangat nasionalis yang dimanifestasikan JE Habibie. Pada segi lainnya dikemukakan dengan kesal (kepada penulis), bahwa Dubes kita, tidak tahan dan tidak bisa mendengar kritik, seperti tampak ketika berliau berrreaksi keras terhadap kritik mengenai kehidupan parpol, para elite (yang berkuasa) dan maraknya korupsi di tanah air. Suatu kritik tajam dan keras golongan muda, yang diajukan pembicara dari PPI Belanda. Kontan saja Dubes , melakukan 'serangan balas', sehingga kesannya, beliau ingin meredam pendapat yang berbeda dengan pendapatnya sendiri.


Selain itu ada pendapat JE Habibie yang menarik perhatian, ketika beliau memberikn tafsirannya sendiri sekitar digulingkannya Presiden Sukarno. Dengan maksud untuk menonjolkan 'peranan pemuda-pemuda' yang berdemo menentang Presiden Sukarno pada periode 1965-1966, dinyatakannya bahwa aksi-aksi yang dilakukan oleh KAPPI/KAMI pada periode 1965/1966, akhirynya menyebabkan TUMBANGNYA SUKARNO.


Padahal catatan dan analisis mengenai peristiwa pada masa itu, baik yang ditulis oleh pakar-pakar dan penulis-penulis Indonesia maupun luar negeri, cukup jelas mengungkapkan bahwa tergulingnya Presiden Sukarno, penyebabnya, pertama-tama dan terutama adalah kekerasan militer, adalah 'KUP MERANGKA' yang dilakukan oleh bagian dari AD yang dipimpin oleh Jendral Suharto dengan kekuatan pasukan KOSTRAD. Peranan AS dan CIA-nya tidak kalah penting dalam menumbangkan Presiden Sukarno, yang memang telah berusaha berkali-kali untuk menggulingkan Presiden Sukarno, seperti yang mereka lakukan melalui pemberontakan PRRI/Permesta http://dewa-api.blogspot.com/2007/07/soempah-pemoeda.html>


* * *

LAMPIRAN II

Diskusi Reflektif Sumpah Pemuda dan Nasionalisme Indonesia

==============================================

Dalam rangka menanggapi maraknya kembali gerakan restorasi dan

berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini, Rumah Kiri dan

Ultimus menyelenggarakan Diskusi Reflektif tentang Sumpah Pemuda dan

Nasionalisme Indonesia pada:

Hari Senin 5 November 2007; Narasumber : Hilmar Farid (Sejarawan) Samsir Mohamad (Bekas Anggota Konstituante, Penulis. Waktu Pukul 19.00 WIB – Selesai. Tempat Toko Buku Ultimus, Jalan Lengkong Besar No. 127 Bandung

Kegiatan ini Terbuka untuk Umum dan Gratis

Contact Person: Sadikin 081573218225

Informasi Selengkapnya di http://rumahkiri.net/

Link:http://rumahkiri.net/index.php?option=com_events&task=view_detail&agid=6&year=2007&month=10&day=27&Ite * * *



* * *


IBRAHIM ISA dari BIJLMER -- SUATU USAHA YANG PATUT DIDUKUNG

IBRAHIM ISA dari BIJLMER
----------------------------------
25 Februari 2005.



SUATU USAHA YANG PATUT DIDUKUNG



Hubungan saling-susup dan saling-pengaruh, di bidang budaya dan sastra antara Indonesia dan Nederland, sudah berlangsung lama. Salah satu tonggak penting dalam sejarah yang menjadi kenangan abadi ialah terbitnya buku MAX HAVELAAR, karangan Multatuli (Eduard Douwes Dekker). Buku tsb adalah curahan hati-nurani kalangan Belanda yang maju, yang dengan mata kepala sendiri, menyaksikan kejahatan kolonialisme bangsanya sendiri terhadap Indonesia. Douwes Dekker berani menuliskan kecamannya dan mempublikasinya.
Di segi lain tidak kebetulan pula bahwa buku Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri pertama Republik Indonesia, yang mensosialisasikan di bidang internasional, -- jiwa merdeka bangsa Indonesia yang punya tekad juang sampai akhir melawan kolonialisme Belanda, demi mencapai tujuan kemerdekaan, -- pertama terbit di negeri Belanda dalam bahasa Belanda, berjudul 'INDONESISCHE OVERPEINZINGEN" diterjemahkan dalam bahasa Indonesia "RENUNGAN INDONESIA" dan "ONZE STRIJD", "PERJUANGAN KITA".
Bisa dikatakan bahwa hubungan Indonesia-Belanda, termasuk hubungan budaya dan sastranya, sebagai hubungan "hate and love relationship".
Dalam sejarah hubungan dua negeri ini hubungan tsb melewati masa pasang surut. Penyebabnya ialah situasi perjuangan kemerdekaan di masa lalu, dan terutama sikap politik pemerintah Belanda ketika itu, yang masih sulit untuk melihat kenyataan bahwa bangsa Indonesia sudah sejak 1945 telah mengambil nasib di tangannya sendiri, dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Lebih dua tahun yang lalu, pada tanggal 28 Oktober 2002, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, adalah Indonesianist Belanda, Prof. Dr. Bob Hering, yang menulis dan meluncurkan buku biografi politik dalam bahasa Inggris tentang salah seorang penting founding father bangsa kita, -- IR SUKARNO - berjudul "SOEKARNO - FOUNDING FATHER OF INDONESIA 1901-1945". Buku tsb diluncurkan di Kedutaan Besar Indonesia, Den Haag.

Penerbitnya adalah sebuah lembaga kerajaan Belanda, yaitu KITLV. HASTA MITRA, penerbit edisi Indonesia dari buku Bob Hering itu, ketika mengomentari karya Bob Hering, menulis a.l. sbb:

. . . biografi Bung Karno, hasil penelitian seorang Belanda, Prof. Dr Bob Hering, yang untuk pertama kalinya mengedepankan satu visi lain ketimbang tulisan para Indonesianist sebelumnya. Lain daripada yang lain, karena Bob Hering adalah Indonesianist yang BERORIENTASI INDONESIA bukan Barat.

Baru-baru ini dua sahabat baik saya, Harry Poeze, Kepala Penerbit KITLV)dan Jaap Erkelens, Peneliti Indonesia dan puluhan tahun mewakili KITLV di Indonesia, berrencana akan memprodusir dalam CD, lagu-lagu Indonesia periode perjuangan melawan penjajahan Belanda dan khususnya periode yang disebut oleh Orba sebagai Orla. Bila berhasil rencana mereka ini, itu akan merupakan sumbangan penting dalam mencatat bagian dari kehidupan budaya, khususnya musik pada periode yang dimaksud.
Oleh karena itu, segyogianya, 'PROPOSAL' Harry Poeze dan Jaap Erkelens tsb dibantu sebisa-bisanya. Dengan sendirinya hal itu merupakan sumbangan penting dalam memajukan hubungan budaya antara bangsa Belanda dan bangsa Indonesia.
Pembaca kami persilakan untuk membaca sendiri HIMBAUAN kedua sahabat Belanda itu, (yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonsia sbb: (Himbauan aslinya dalam bahasa Belanda, disiarkan ulang)

--------------------------------------------------------

HIMBAUAN HARRY POEZE DAN JAAP ERKELENS

--------------------------------------------------------

Jaap Erkelenes, yang untuk bertahun-tahun lamanya menjadi wakil KITLV di Jakarta, dan Harry Poeze, kepala Penerbit KITLV, dengan bekerjsama dengan rekan-peneliti Indonesia, memproduksi sebuah CD, berisikan lagu-lagu nasionalistis, politik dan radikal, sebagaimana dinyanyikan pada zaman kolonial, dan semasa Orde Lama.
Untuk itu kami akan menggunakan piringan hitam lama (putaran 78 dan 33) dan selain itu juga dari sejumlah lagu-lagu baru membuat rekaman. Semua teks dan penjelasan mengenai lagu-lagu itu akan terbit dalam sebuah buku yang mengantar CD tsb. Fikir kami, dengan cara ini suatu bagian yang terlupakan dari kultur politik sampai dengan 1965 akan dapat dicatat (vastgelegd).

Untuk itu kami akan menggunakan piringan hitam lama (putaran 78 dan 33) dan selain itu juga dari sejumlah lagu-lagu baru membuat rekaman. Semua teks dan penjelasan mengenai lagu-lagu itu akan terbit dalam sebuah buku yang mengantar CD tsb. Fikir kami, dengan cara ini suatu bagian yang terlupakan dari kultur politik sampai dengan 1965 akan dapat dicatat (vastgelegd).

Yang nmengenai periode 1950-1965 - kami tidak bermaksud untuk merekam lag-lagu yang terkenal sebagai 'Lagu Perjuangan' ciptaan Ismail Marzuki dan Cornel Simanjuntak, karena ia sudah banuak kali diterbitkan - tetapi lagu-lagu seperti yang dinyanyikan di kalangan partai-partai politik radikal - untuk PKI umpamanya, 'Darah Rakyat', '12 Nopember' dan 'Internasionale'; untuk Partai Murba 'Mars Murba'; untuk PNI 'Mars Marhaen' dan 'Hidup Bapak Marhaenisme'. Selain itu ada lagu-lagu Sukarnois seperti 'Viva Ganefo', 'Api Cubana' dan 'Nasakom'.

Menerbitkan CD seperti itu tidak mudah, karena banyak - boleh dibilang semua - piringanhitam sudah musnah.

Dari periode kolonial kami masih masih memiliki rekaman Indonesia Raya (tanpa dan yang dengan teks - yang disesuaikan) dan rekaman 'Lagoe Marhaen' dan 'Kepada bendera kami'.

Apa yang kami cari ialah rekaman orisinil dari periode 11950 - 1965 mengenai lagu-lagu seperti itu. Pada kami hanyalah ada rekaman di Peking dalam tahun 1963 dari Rombongan Nyanyi dan Tari LEKRA.

Apakah ada dari kalangan pembaca yang memiliki rekaman lama, atau mengetahui dimana bisa memperoleh rekaman-rekaman tsb. Kami ingin sekali membuat rekamannya.

Selanjutnya kami mencari buku-buku berisikan kumpulan teks lagu-lagu (dengan sendirinya sebaiknya disertai catatan-musiknya), ataupun lembaran-lembaran lepas musik, atau teks-teks dari koran-koran dan majalah-majalah.

Juga pengalaman dari orang-orang yang pernah mendengar lagu-lagu ini, atau ambil bagian dalam suatu paduan suara yang menyanyikan lagu-lagu ini, sangat kami sambut.

Kami berharap dengan cara ini kami akan berhasil untuk mengabadikan bagian penting dan juga artistik menarik dari periode tahun limalpuluh dan enampuluhan dari abad lampau, sebagai warisan sejarah Indonesia.

Reaksi harap disampaikan kepada:
Harry Poeze, Postbus 9515, 2300 RA Leiden, Nederland
Tel. 071-5272465 atau 0251-653492

***


LAMPIRAN
-------- HIMBAUAN HARRY POEZE dan JAAP ERKELENS
DALAM BAHASA ASLINYA (BELANDA):
======================================

Jaap Erkelens, vele jaren lang de vertegenwoordiger van het KITLV in Jakarta, en Harry Poeze, hoofd van de KITLV Uitgeverij, willen in samenwerking met een Indonesische collega-onderzoeker, een CD uitbrengen waarop nationalistische, politieke en radicale liederen staan, zoals die werden gezongen in de koloniale tijd, en tijdens de Orde Lama.
We willen daartoe oude opnamen (op 78- en 33-toeren-platen) gebruiken, en daarnaast ook van een aantal liederen nieuwe opnamen maken. Alle teksten en toelichting daarop zullen verschijnen in een boekje dat de CD begeleidt. Wij denken dat op deze wijze een vergeten onderdeel van de politieke cultuur tot 1965 kan worden vastgelegd.

Voor wat betreft de periode 1950-1965 - op de CD willen we niet opnemen de bekende 'Lagu Perjuangan' van Ismail Marzuki en Cornel Simanjuntak, omdat deze reeds vele malen zijn uitgebracht - maar liederen zoals die werden gezongen in de radicale politieke partijen - voor de PKI bijv. 'Darah rakyat', '12 Nopember' en 'Internasionale'; voor de Partai Murba 'Mars Murba'; voor de PNI 'Mars Marhaen Indonesia' en 'Hidup Bapak Marhaenisme'. Daarnaast zijn er Soekarnoïstische liederen als 'Viva Ganefo', 'Api Cubana' en 'Nasakom'.

Het uitbrengen van zo'n CD is niet makkelijk, omdat veel - in feite vrijwel alle - grammofoonplaten verloren zijn gegaan.

Uit de koloniale periode beschikken wij nog over een opname van Indonesia Raya (zonder en met - aagepaste - tekst) en opnamen van 'Lagoe Marhaen' en 'Kepada bendera kami'.

Wat wij zoeken zijn originele opnamen uit de periode 1950-1965 van zulke liederen. In ons bezit is slechts een opname in Peking in 1963 van de Rombongan Nyanyi dan Tari LEKRA.
\Zijn er nog lezers van deze oproep die over deze oude opnamen beschikken, of weten waar deze nog te vinden zijn? Wij willen dan graag een kopie daarvan maken.

Verder zoeken wij boeken met een bundeling van liedteksten (natuurlijk liefst met muzieknotatie), of losse bladmuziek, of teksten in kranten en tijdschriften.
Ook ervaringen van mensen die deze muziek hebben gehoord, of deel uitmaakten van een koor dat deze liederen zong, zijn zeer welkom.

We hopen dat het ons op deze wijze lukt een belangrijk en ook artistiek aantrekkelijk onderdeel van de politieke cultuur van de jaren vijftig en zestig van de vorige eeuw vast te leggen als historisch erfgoed van Indonesië.

Reacties kunnen worden gezonden naar:

Harry Poeze
KITLV
Postbus 9515
2300 RA Leiden
Nederland
tel. 071-5272465 of 0251-653492
email: [EMAIL PROTECTED] * * *

IBRAHIM ISA - MENYAMBUT PELUNCURAN BUKU HARTATI NURWIDJAYA:

IBRAHIM ISA

------------------

Amsterdam, 27 Oktober 2007.



---------------------------------------------------------------------------------------

MENYAMBUT PELUNCURAN BUKU HARTATI NURWIDJAYA:

PEKAWINAN ANTAR BANGSA: LOVE AND SHOCK

----------------------------------------------------------------------------------------


Sdr. Hartati Nurwidjaya y.b.,


Saya menyambut hangat buku Anda,

============================================
'PERKAWINAN ANTAR BANGSA : LOVE ANE SHOCK',
============================================

yang akan segera diluncurkan di Jakarta,
bertepatan dengan HARI SUMPAH PEMUDA, 28 Oktober 2007.


Tema yang dipilih menunjukkan keberanian Hartati Nurwijaya

mengangkat masalah PERKAWINAN ANTAR BANGSA, menyorotinya dengan leluasa, menuturkan kisah 'suka-duka' bagi seorang wanita Indonesia yang memilih teman hidupnya seorang Junani.


Hartati berani menempuh jalan hidup bersama priya pilihannya, dengan berjuang dalam kehidupan sehari-harinya mengatasi pelbagai tantangan

dan kesulitan. Ini sesuatu yang patut dijadikan teladan bagi siapa saja dari bangsa kita yang telah menempuh jalan hidup bersama dengan priya berbangsa lain.


Dunia terus mengalami perubahan!

Dewasa ini sedang berlangsung terus proses globalisasi, atau katakanlah 'inernasionalisasi', yang menyangkut bidang hubungan ekonomi dan politik antara bangsa-bangsa di dunia ini.
Proses globalisasi tsb tidak saja berlangsung di bidang-bidang ekonomi dan politik, ----- tetapi juga terjadi di bidang kultur dan budaya. Bila di masa lampau bukan sesuatu yang mudah diterima, bila seseorang perempuan Indonesia bersuamikan bukan bangsanya sendiri, ----- namun, dewasa ini, bukanlah lagi sesuatu yang aneh, bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang 'tidak wajar' bila seorang wanita Indonesia memilih priya bangsa lain, sebagai teman hidupnya. Juga sebaliknya, bila seorang priya Indonesia memilih wanita berbangsa lain sebagai istrinya.


Dalam kehidupan nyata suami-istri, bukankah 'cinta-kasih' suami istri, bukankah sikap saling menghargai dan saling menghormati, saling memahami dan saling toleransi, saling 'give and take' yang memberikan dasar bagi kehidupan harmonis keluarga yang bersangkutan?


Dalam kehidupan keluarga, tak peduli itu menyangkut bangsa manapun di dunia ini --- Yang terpenting adalah sikap konsisten masing-masing, SALING-MENCINTAI dan SALING MEMAHAMI serta SALING BERSIKAP TOLERAN'.

Itulah dasar utama bagi kehidupan keluarga yang harmonis yang memberika sayrat baik bagi pendidikan umum terutama moral yang berhasil bagi anak-anak mereka.


HARTATI NURWIJAYA,


Dengan ini sekali lagi kusampaikan UCAPAN SELAMAT PELUNCURAN BUKU ANDA.

MAJU TERUS , PANTANG MUNDU!


Ibrahim Isa

-----------

Thursday, November 1, 2007

Kolom IBRAHIM ISA -- 17 OKT. 1952 - MERIAM NODONG ISTANA . . .

Kolom IBRAHIM ISA

-------------------------------------------

Rabu, 17 Oktober 2007



( Bagian - I )

17 OKT. 1952 - MERIAM NODONG ISTANA . . . .

Bagaimana REAKSI PRESIDEN SUKARNO?



* * *

17 Oktober 1952 --- Apakah yang terjadi di Jakarta, pada 55 tahun yang lalu?

Tanggal tsb adalah fakta penting dalam sejarah perkembangan negara Republik Indonesia. Kalau masih diingat, maka peristiwa itu samar-samar diingat sebagai 'Peristiwa 17 Oktober 1952'. Mungkin saja banyak yang sudah 'lupa' atau dengan tak disadari menjadi 'lupa' tentang apa yang terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952. Sementara kalangan, terutama militer, dengan sengaja melupakannya. Semacam 'lupa masa lampau'. Sulit mencari keterangan lain, bahwa hal itu (melupakan fakta tertentu dalam sejarah) dilakukan demi kepentingan politik tertentu.



Mungkin tak disadari masyarakat, apalagi dari kalangan generasi baru, yang hidup dan dibesarkan dalam periode rezim Orba, apa yang sesungguhnya terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952. Bagi orang-orang generasi-ku tak mungkin akan melupakan hari tanggal 17 Oktober 1952.

Ketika itu, pada pagi tanggal 17 Oktober 1952, sejumlah tank dan meriam Angkatan Darat, moncongnya diarahkan ke Istana Negara dan sejumlah besar tentara dan massa berkumpul di muka Istana Presiden Sukarno. Mereka membawa slogan-slogan politik sambil menyerukan yel-yel, menuntut dibubarkannyua DPR-RI, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.



PENJELASAN BUNG KARNO Tentang 17 OKTOBER 1952.

Pada tanggal 17 Oktober 1952, moncong-moncong meriam dan tank-tank AD jelas diarahkan ke Istana Negara, dan siapapun tahu bahwa yang berdomisili di Istana Negara adalah, Sukarno, Presiden Republik Indonesia. Mari kita ikuti penjelasan Presiden Sukarno sendiri tentang apa yang terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952 tsb.



* * *



Dari demikian banyaknya tulisan-tulisan Bung Karno --, yang kuanggap termasuk paling otentik, adalah 'memoar' Bung Karno berjudul: 'SUKARNO An Autobiography As Told To Cindy Adams' , Copyright 1965 by Cindy Adams's. Bagian yang diambil dan diterjemahkan di bawah ini adalah dari Edisi bahasa Belanda - terjemahan N.G. Hazelhoff, terbitan NV Uitgeverij W. Van Hoeve's-Gravenhage, 1967, berjudul : ' SUKARNO, Autobiografie Opgetekend door CINDY-ADAM'S.' >.



Inilah a.l. yang dijelaskan Presiden Sukarno mengenai Peristiwa 17 Oktober 1952. Baiklah ikuti dengan seksama, sbb:

'Pada pada pagi-pagi sekali, tanggal tujuhbelas Oktober 1952, dua buah tank, empat panser dan ribuan tentara menerjang pintu-pintu Istana Merdeka. Mereka membawa spanduk-spanduk yang bertuliskan teks 'bubarkan Parlemen'. Batalyon artileri dengan empat meriam dengan suaranya yang riuh rendah memasuki lapangan di depan Istana. Beberapa meriam buatan Inggris (peluru ukuran 12 pon) diarahkan pada saya. Unjuk kekuatan ini mencerminkan histeria hari-hari saat itu. Selain itu amatlah tidak bijaksana apa yang mereka lakukan itu, karena para komandan yang merancangkan itu, semuanya ada (di dalam) Istana bersama saya.

Kolonel Abdul Haris Nasution, yang memberikan pimpinan pada usaha yang menuju pada 'setengah kudeta', seperti yang dikatakannya sendiri, angkat bicara. 'Ini bukan ditujukan terhadap Bapak pribadi, Pak, tetapi ditujukan terhadap sistim pemerintahan. Bapak harus dengan segera membubarkan Parlemen.'



Itulah yang terjadi pada pagi hari 17 Oktober 1952. SUATU USAHA YANG MENGARAH KE SETENGAH KUDETA. Itu kata-kata A. H Nasution sendiri, yang ketika itu adalah pimpinan tertinggi AD. Lalu, bagaimana reaksi Bung Karno? Mari ikuti apa kata-kata Bung Karno sendiri ketika beliau menuturkan peristiwa pagi itu.



Bung Karno:

'Mata saya membelalak memancarkan api kemarahan. 'Apa yang kau katakan itu benar, tetapi cara yang kau ajukan tidak benar. Sukarno kapanpun tak akan tunduk terhadap tekanan. Tidak terhadap tentara Belanda dan tidak terhadap sebuah batalyon tentara Indonesia!'.

'Bilamana ada kesulitan di negeri ini, semua mengharapkan agar tentara turun tangan mencari penyelesaian', tukas Nasution balik. 'Kaum politisi yang menciptakan perang yang membawa korban di kalangan tentara. Maka adalah adil bahwa kami juga punya suara dalam masalah besar ini.'

'Kau bisa katakan apa yang kau ingin katakan kepada Bung Karno - JA.

'Tetapi mengancam Bapak Republik Indonesia -- TIDAK! SELAMANYA TIDAK!'

'Dengan tenang saya menuju ke luar ke arah massa yang telah dibikin marah oleh pelbagai pidato. Kebalikannya dari menjadi kecut menghadapi ancaman meriam, saya tatap langsung moncong meriam tsb tanpa gentar sedikitpun, dengan sekuat tenaga mencurahkan kemarahan saya pada mereka yang hendak membunuh demokrasi dengan bantuan suatu regu-tembak.

'O-o', . . . seru seorang prajurit terengah-engah, 'apa yang kita lakukan adalah salah. Ya, Bapak menghendaki yang lain', seru dua orang lainnya yang ada di dekat situ.

Yang lainnya lagi beteriak, 'Jika Bapak tidak menghendakinya, maka . . . . .' ; '. . . Kita juga tidak mau', demikian yang lain menyelesaikan kalimat itu.



'Perebutan kekuasaan negara' tsb menjadi suatu kegagalan yang mnyedihkan. Massa bubar menyebar sambil berseru , 'Hidup Bung Karno . . . . Hidup Bung Karno'.

Nasution kemudian dipecat dari jabatannya. Tetapi saya tidak menginginkan perpecahan antara saya dengan kekuatan bersenjata kita. Oleh karena itu kemudian saya rehabilitasi dia (Nasution) kembali di jabatannya (semula) dengan kata-kata berikut ini, 'Sukarno bukan anak kemarin dulu dan Nasution bukan anak kemarin dulu. Kita tetap bersatu karena bila musuh kita berhasil menyebarkan perpecahan, hal itu berarti berakhirlah kita sudah.'

Demikian antara lain Bung Karno dalam memoarnya.



* * *



Jelas sekali duduk perkaranya sekitar 'Peristiwa 17 Oktober 1952' itu. Bung Karno tegas menyatakan bahwa hal itu adalah suatu perobaan 'PEREBUTAN KEKUASAAN NEGARA' (oleh tentara) yang gagal amat menyedihkan. Kolonel Nasution yang karena itu dipecat dan kemudian direhabilitasi oleh Bung Karno demi persatuan, juga menyatakan dengan setengah hati, bahwa yang dilakukannya itu 'mengarah ke separuh kudeta'. Tetapi gagal karena ketegasan dan keberanian Bung Karno mempertahanakn demokrasi.

Baik juga mengikuti analisis Bung Karno, mengapa perkembangan sampai ke titik peristiwa 17 Oktober 1952.



Pada bagian berikutnya dari tulisan ini, akan bisa diikuti bersama, penjelasan dan analisis Bung Karno, mengenai situasi politik ketika itu.



Dalam penjelasannya yang akan dikutip lebih lengkap dalam tulisan berikut nanti, Bung Karno memulai penjelasannya, dengan mengingatkan bahwa Undang-Undang Dasar kita didasarkna pada suatu kabinet presidensil yang dikenal di Amerika Serikat. Tetapi Sekutu yang mendarat di Indonesia sesudah Jepang menyerah dalam Perang Pasifik, adalah orang-orang Inggris dan Belanda. Mereka-mereka itu terbiasa dengan dengan seorang kepala negara yang tituler seperti Ratu Belanda, Raja Inggris atau Presiden Republik Perancis, yang samasekali tidak punya tanggungjawab atas pekerjaan pemerintahan sehari-harinya..



Pendapat mereka mengenai suatu sistim kenegaraan dimana Presiden bertanggungjawab mengenai pekerjaan sehari-hari pemerintahan dengan samar-samar mengingatkan (mereka) pada Nazi-Jerman dan Kerajaan Jepang yang militeristik. 'Jika Presiden Sukarno sekaligus kepala negara, juga panglima angkatan bersenjata dan pemimpin kabinet, maka itu adalah fasisstis, teriak Sir Philip Christinson dan jendral-jendral Inggris lainnya.', tulis Bung Karno dalam memoarnya.



Nanti akan tampak pula, bahwa pada saat ketika Presiden Sukarno menyatakan DEKRIT PRESIDEN untuk kembali ke UUD-1945, membubarkan Parlemen dan Konstituante, Bung Karno sempat menyatakan bahwa pada ketika itu, TENTARA memperoleh apa yang mereka inginkan: BIBUBARKANNYA PARLEMEN!



Untuk jelasnya, bagaiamana situasi kehidupan politik di Republik Indonesia dengan sistim multi-partai ketika itu, baik kita ikuti nanti, tuturan Bung Karno dalam tulisan berikutnya.

(Bersambung) * * *




Wednesday, October 24, 2007

Kolom IBRAHIM ISA - PERJUANGAN RAKYAT PALESTINA & - KEWAJARAN SOLIDARITAS ASIA - AFRIKA

Kolom IBRAHIM ISA

-----------------------------

Rabu, 24 Oktober 2007


PERJUANGAN RAKYAT PALESTINA &

KEWAJARAN SOLIDARITAS ASIA - AFRIKA


Sebuah berita dari Jakarta, -- (Tempo, 23 Oktober 2007) -- , mengungkapkan bahwa, bersama Afrika Selatan, Indonesia berrencana menggelar konferensi untuk Palestina. Konferensi ini akan diikuti negara-negara Afrika dan Asia. Tujuannya: - - - Meningkatkan kapasitas Palestina. Demikian berita dari Jakarta.


Meskipun berita tsb belum dikonfermasi resmi oleh Kementerian Luarnegeri RI, -- ide menggelar konferensi negeri-negeri Asia-Afrika, dengan tujuan membantu perjuangan rakyat Palestina, itu sepenuhnya nyambung dengan SEMANGAT BANDUNG. Hal itu menjawab tuntutan perjuangan rakyat Palestina untuk kemerdekaan bagi bangsa dan negerinya.


Salah satu keputusan Konferensi Asia-Afrika di Bandung (1955), adalah mendukung perjuangan rakyat Palestina. Indonesia sebagai salah satu pemrakarsa dan tuanrumah dari Konferensi Bandung yang bersejarah dan membikin sejarah itu, seharusnya sudah lebih dulu mencetuskan IDE SOLIDARITAS ASIA-AFRIKA terhadap perjuangan rakayat Palestina. Jangan sekal-kali melupakan bahwa ketika bangsa kita sedang berjuang melawan kolonialisme dan imperialisme untuk kemerdekaan nasional yang penuh, banyak bangsa-bangsa lain, khususnya Asia dan Afrika dengan sepenuh hati mendukung dan membantu perjuangan kita. Jangan sekali-kali melupakan solidaritas Asia-Afrika tsb.


Konferensi Asia-Afrika, Bandung, 18 - 29 April 1955, yang dihadiri oleh 29 negeri dan wilayah Asia dan Afrika, menandaskan dalam Komunike Akhir Konferensi bahwa:


'Mengingat ketegangan di Timur Tengah yang disebabkan oleh keadaan di Palestina serta ketegangan tersebut dapat membahayakan perdamaian dunia, Konferensi Asia - Afrika menyatakan dukungannya terhadap hak-hak penduduk Arab Palestina dan menyerukan agar resolusi tentang Palestina dilaksanakan serta dicapainya penyelesaian damai persoalan Palestina.' <>.


* * *


Dalam keterangan pers bersama Presiden MAHMOUD ABBAS, Presiden Bambang Susilo Yudhoyono, dalam kesempatan itu, telah mengeluarkan prakarsa yang benar dan tepat. Prakarsa SOLIDARITAS ASIA-AFRIKA, yang bersumber pada KONFERENSI Asia-Afrika di BANDUNG, 52 tahun yang lalu.


Pernyataan SBY tsb seyogianya, sudah sejak lama direncanakan dan diusahakan, tanpa menunggu kunjungan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Yang diperlukan sekarang adalah tindak-lanjut, suatu follow-up yang tegas dan segera. Kementerian Luar Negeri RI, tanpa menanti-nanti lagi, seyogianya mengambil langkah-langkah kongkrit pendekatan dengan negara-negara Asia dan Afrika demi perealisasian solidartas Asia-Afrika dengan perjuangan rakyat Palestina.


HIDUPNYA KEMBALI SEMANGAT SOLIDARITAS ASIA -AFRIKA

Sejarah Asia-Afrika dan sejarah dunia mencatat, bahwa, yang paling ditakuti dan dibenci oleh kolonialisme, imperialisme, apartheid Arika Selatan dan 'zionisme' ---- ketika itu, adalah SEMANGAT PERJUANGAN KEMERDEKAAN serta SOLIDARITAS dalam perjuangan demi bebas dari kolonialisme dan imperialisme. Solidaritas, atau SEMANGAT Bandung yang lahir dari KONFENRENSI ASIA-AFRIKA di Bandung adalah semangat dan solidaritas perjuangan untuk lepas dari kolonialisme. Adalah solidaritas memperjuangkan identitas sendiri yang berdikari, yang bebas dari pertarungan dan tekanan negara-negara besar supra dalam 'Perang Dingin' ketika itu. Suatu semangat perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang mengambil posisinya sendiri dalam kehidupan bangsa-bangsa, yang sama derajat dengan bangsa-bangsa lainnya. Suatu semangat yang memperjuangkan suatu politik luarnegari yang bebas dan aktif untuk perdamaian dunia.


Dalam peryataan solidaritas Indonesia dengan Palestina dalam perjuangan demi kemerdekaan bangsa dan tanah air Palestina, Presiden SBY a.l. menyatakan:


'Harapan kami, komunitas Asia-Afrika memiliki tanggung jawab ikut memberikan bantuan kapasitas sehingga Palestina memiliki kemampuan yang akhirnya nanti menjadi negara yang berdaulat dan merdeka'.


Dalam sambutannya atas prakarsa Indonesia tsb, Presiden Mahmoud Abbas (Juga Ketua Komite Eksekutif PLO - Palestinian Liberation Organization - organisasi pejuang pembebasan Palestina yang utama terpenting di Palestina --) menyatakan:


"Itu dukungan yang nyata yang diharapkan bangsa kami,"



* * *


PENGARUH IMBANGAN KEKUATAN DALAM PETA POLITIK DUNIA


Dengan sedikit menoleh ke balakang, ke situasi dan peta politik serta imbangan kekuatan di dunia internasional dewasa itu, sedikit-banyak bisa difahami mengapa dukungan yang diberikan Konferensi Asia-Afrika terhadap perjuangan rakyat Palestina, belum sampai dengan jelas-jelas menyebut hak rakyat Palestina untuk berdiri sendiri sebagai suatu bangsa yang merdeka dan sama derajat dengan bangsa-bangsa lainnya. Bisa dibaca sendiri rumusan Komunike Konferensi Asia-Afrika, betapa 'moderatnya' sikap Konferensi terhadap masalah Palestina ketika itu. Itu sepenuhnya mencerminkan latar belakang politik negeri-negeri yang hadir dalam Konferensi Asia - Afrika tsb.


Disatu fihak kekuatan politik pro-perjuangan kemerdekaan hadir dengan baik, seperti Indonesia, India, Burma, Mesir dll --- Kekuatan ini diperkokoh lagi dengan kekuatan pro-perjuangan kemerdekaan, dengan hadirnya negeri-negeri Sosialis yang tegas anti-kolonial dan anti-imperialis seperti Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Demokrasi Vietnam.


Tapi di fihak lain, hadir juga negeri-negeri yang pro-Barat dan pro-Amerika Serikat, sperti Republik Vietnam Selatan yang siapapun tau adalah negara ciptaan kolonialis Perancis dan AS; Filipina yang pemerintahnya sepenuhnya mendukung politik AS dan Barat; serta pemerintah-pemerintah lainnya seperti Muangthai dan Jepang, yang mengenai masalah-masalah internasional penting umumnya memihak Barat. Tambah lagi dengan sikap PBB ketika itu yang masih didominasi oleh AS, yang jelas mendukung terbentuknya negara Israel. Padahal negara Israel didirikan, melalui perang dengan membantai dan mengusir penduduk Arab Palestina di wilayah tsb.


Namun, betapapun moderatnya rumusan Konferensi Asia-Afrika di Bandung, pernyataan yang dikeluarkannya dengan tegas mengambil sikap mendukung 'terhadap hak-hak penduduk Arab Palestina.'


* * *


LIKU-LIKUNYA -- PERJUANGAN RAKYAT PALESTINA

Perjuangan rakyat Palestina melawan pendudukan Israel untuk kemerdekaan tanah air dan bangsanya, telah berlangsung lama dan telah melalui lika-liku yang tak terbayangkan serta pengorbanan yang tak terhitung nilainya.


Situasi perjuangan rakyat Palestina belakangan ini memang mengalami kesulitan baru. Kesulitan muncul ketika daerah Gaza (Palestina) yang merupakan bagian dari wilayah adminstrasi Palestina, - - - terdiri dari Tepian Barat Jordan (West Bank of Jordan) dan Gaza, --- mengalami perubahan drastis. Penyebabnya ialah, karena, salah satu kekuatan perjuangan kemerdekaan Palestina, yaitu HAMAS - Gerakan Perlawanan (Islam) Palestina , yang muncul sebagai pemenang dalam pemilu (2006). dengan kekerasan mengambil oper kekuasaan di Gaza dari pemerintahan Presiden Abbas yang oleh PNA - Palestinian National Authority - dalam tahun 2005 telah dipilih sebagai Presiden Palestina.. Sehingga dengan demikian terjadilah perpecahan dalam kekuatan politik yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Situasi baru yang muncul itu, menyebabkan terhentinya usaha pemecahan masalah Palestina lewat perundingan dengan Israel.


PENGARUH AMERIKA YANG DOMINAN HARUS DIAKHIRI


Selama ini usaha perundingan mengenai masalah Palestina, hanya bisa berlangsung, bila itu disponsori oleh AS. Hal itu disebabkan oleh pengaruh dominan AS terhadap mati-hidupnya Istael. Suatu hal yang tidak mengherankan karena Israel bisa bertahan di tengah-tengah negeri-negeri Arab yang menentangnya, berkat bantuan dana, ekonomi, manusia (imigran orang-orang Yahudi dari AS) dan senjata dari AS.


Situasi ini tidak boleh berlangsung terus. Sudah waktunya bangsa-bangsa Asia-Afrika yang peduli kemerdekaan nasional, simpati dan solider dengan perjuangan pembebasan rakyat Palestina, mengusahakan perubahan. Suatu perubahan yang mendasar dalam pemecahan masalah Palestina. Di sinilah arti penting keterlibatan bangsa-bangsa dan negeri-negeri Asia dan Afrika dalam proses penyelesaian dan pembebasan Palestina.


Maka rencana untuk menyelenggarakan konferensi negeri-negeri Asia - Afrika untuk membantu perjuangan rakyat Palestina, bila diusahakan dengan baik, tanpa syarat apapun dan dengan sikap tidak mecampuri masalah yang timbul di kalangan perjuangan rakyat Palestina ---- berangsur-angsur bisa mengarah ke perubahan imbangan kekuatan-kekuatan politik yang terlibat dalam penyelesaian masalah Palestina. Bila hal ini berhasil diusahakan akibatnya tidak lain hanya menguntungkan rakyat Palestina.


* * *




Monday, October 22, 2007

Kolom IBRAHIM ISA - QUO VADIS KOMISI KEBENARAN & REKONSILIASI

Kolom IBRAHIM ISA

-----------------------------

Senin, 22 Oktober 2007



QUO VADIS KOMISI KEBENARAN & REKONSILIASI

<- K K R ->


Tercetus berita -- mudah-mudahan benar dan menjadi kenyataan adanya -- bahwa sedang

diusahakan, didesakkan kepada SBY oleh kalangan aktivis HAM, untuk menghidupkan kembali usaha sekitar KKR - Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi .


Berkat 'jasa' Mahkamah Konstitutsi yang kontroversial dan sering bikin 'kejutan' itu, maka UU KKR yang sudah disahkan oleh DPR, begitu saja dibatalkan. Tersimpul harapan kecil bahwa berita yang masih sayup-sayup sampai itu, merupakan pertanda yang bisa dipercaya, bahwa memang, mengenai masalah KKR dan uu-nya yang belum lagi berkiprah sudah dibunuh dalam kandungan.


Para pembunuh usaha KKR, mengidap pengertian yang keliru besar. Mereka menganggap bahwa penanganan masalah korban Peristiwa 1965, dimulainya suatu KKR, itu akan 'membuka luka-luka lama'. Padahal, -- begitu diberikan alasan -- , peristiwa tsb 'sudah begitu lama'. .


Mereka bicara tentang keadilan dan hukum, HAM dan Demokrasi, tetapi tidak memahami bahwa masalah pembantaian masal dalam Peristiwa 1965 terhadap warganegara yang samasekali tidak bersalah, bukanlah semata-mata masalah pelanggaran HAM terbesar. Bukanlah semata-mata mengenai masalah merehabilitasi para korban tersebut, memulihkan nama baiknya yang sudah dirusak samasekali, dihina, difitnah sebagi pengkhianat dsb, hak-hak kewarganegaraan dan hak-hak politiknya dicabut sewenang-wenang, tanpa proses pengadilan apapun ---. Bukan itu saja.


Segi lainnya dari pelanggaran HAM terbesar sekitar Peristiwa 1965 tsb, ialah, bahwa peristiwa tsb merupakan titik pangkal dan dasar dari pelanggaran fundamental terhadap prinsip-prinsip negara Republik Indonesia sebagai NEGARA HUKUM. Pengrusakan negara RI sebagai negara hukum, dimulai a.l. dengan pembangkangan Jendral Suharto ( seorang bawahan) terhadap atasannya Presiden Panglima Tertinggi Sukarno. Kemudian diikuti dengan menjegal ketetapan Presiden Sukarno menunjuk Jendral Pranoto Reksosamudro sebagai caretaker sehari-hari pimpinan AD. Diteruskan lagi dengan tindakan Jendral Suharto mengangkat dirinya sendiri sebagai panglima AD. Kemudian ia berkompolot (dengan Jendral Sarwo Edhi) mensabot, membubarkan sidang Kabinet 100 Menteri di Istana Negara. Dilanjutkan lagi dengan mamaksa Presiden Sukarno mengeluarkan 'Surat Perintah Sebelas Maret' --- Tindakan mendongkel wewenang Presiden Sukarno tsb ditindak lanjuti dengan menyalahgunakan SUPERSEMAR. Padahal jelas-jelas terkandung di dalam SUPERSEMAR, bahwa di situ ada instruksi penting untuk menjaga kewibawaan Presiden Sukarno ---. Itu semua dilakukan untuk menggulingkan dan mengenakan tahanan rumah terhadap Presiden RI, kemudian lewat MPR yang sudah direkayasa sepenuhnya merebut kekuasaan negara dari Presiden Sukarno, serta mengangkat Jendral Suharto menjadi Presiden RI.


Itu semua adalah pelanggaran prinsipil atas dasar-dasar sebuah NEGARA HUKUM. Menunjukkan dengan jelas bahwa rezim Orba yang dibangun Jendral Suharto yang bersimaharajalela sebagai suatu kekuasaan yang semata-mata didasarkan pada kekerasan militer belaka. Berdirinya rezim Orba adalah suatu pelanggaran hukum terbesar dalam sejarah RI.. Rezim Orba pelanggar Negara Hukum RI inilah, yang kemudian melakukan kekerasan militer, kekejaman dan pelanggaran HAM di Aceh, Papua, Maluku, dan melakukan agresi ke Timor Timur serta menganeksasi negara Timor Leste yang baru diproklamasikan itu.


Jadi, bicara perkara HAM dan KKR, jangan sekali-kali melupakan suatu segi yang penting dari pelanggaran HAM sekitar Peristiwa 1965, yaitu, dilanggarnya prinsip dan fundamen negara Republik Indonesia sebagai NEGARA HUKUM.


Dengan demikian, bila KKR dilaksanakan di negeri kita, maka itu seyogianya dimulai dengan berangsur-angsur merehabilitasi negara RI sebagai NEGARA HUKUM.


* * *


Sebagai bahan pertimbangan dibawah ini disiarkan kembali tulisan mengenai bagaimana pemerintah Chili, Presiden terpilih Ricardo Lagos, melalui proses perjuangan yang berlangsung terus di dalam masyarakat, -- telah memulai proses KRR dengan tindakan-tindakan nyata, a.l. dengan MENGAKUI BAHWA PELANGGARAN HAM yang pernah terjadi sekitar perebutan kekuasaan dan semasa rezim militer Pinochet, adalah POLITIK NEGARA. Adalah tanggungjawab negara untuk menanganinya dewasa ini.


* * *


IBRAHIM ISA dari BIJLMER,

29 NOV. 2004.
--------------------------------------


- - CHILI KONGKRIT LURUSKAN SEJARAHNYA!

Pemerintah Indonesia yang silih berganti, mulai dari Presiden Habibie, pemerintah Presiden Abdurrahman Wahid, sampai pemerintah Presiden Megawati Sukarnoputri, belum mengakui kesalahan negara di waktu yl. (tentang G30S). Bagaimana dengan pemerintah Presiden SBY sekarang ini. Di sinilah perlunya dengan rendah hati belajar dari Chili, pertama-tama mengakui kesalahan negara di waktu y.l. Kemudian rehabilitasi dan kompensasi para korban tsb. Dengan demikian merintis jalan ke pelurusan sejarah, mencari kebenaran dan rekonsiliasi nasional.

Kekuatan utama dan paling konsisten di Chili adalah gerakan rakyat yang luas untuk demokrasi dan kebebasan, yang dilakukan oleh rakyat Chili di bawah mendiang Presiden Salvador Gossen Allende (pemimpin Partai Sosialis Chili), yang dibunuh oleh tentara Chili di bawah Jendral Pinochet, ketika tentara Chili dengan bantuan dan keterlibatan CIA/AS mengadakan perebutan kekuasaan negara (September 1973).


Dewasa ini di saat banyak dibicarakan mengenai Rekonsiliasi atas dasar Kebenaran serta kaitannya dengan pelurusan sejarah. Telah pula dilakukan usaha sementara organisasi dan tokoh masyarakat untuk menarik pelajaran dari Chili dan Afrika Selatan misalnya.


Maka: Sekadar supaya ingat kembali: Pemerintah dan pers AS, yang berusaha menutupi keterlibatan CIA dalam coup Jendral Pinnochet tsb.,tidak beda dengan sikapnya terhadap coup Jendral Suharto terhadap Presiden Sukarno dan keterlibatan CIA. Namun, lama-lama terbongkar juga yang hendak ditutup-tutupi itu. Pada tahun 1974 Michael J. Jarrington (D-MA) membocorkan bagian-bagian dari kesaksian rahasia William Colby di muka Congres AS. Kita juga masih ingat, pada penghujung tahun 1975 Komite Senat yg dikepalai oleh Frank Church mengeluarkan laporan mengenai “Aksi Rahasia di Chili, 1963-1973”. Kemudian dalam tahun 1982 Hollywood membuat film yang menggemparkan dunia politik dan perfileman, berjudul “Missing”. Film itu disutradarai oleh Costa Gravas, dibintangi oleh Jack Lemon dan Sissy Spacek. Film itu menuturkan secara dramatis tentang nasib Charles Horman, seorang jurnalis free-lance AS berumur 30 th, yang ditahan fihak militer Chili, kemudian dieksekusi. Satu-satunya penyebab ia dieksekusi: Karena Horman memiliki bahan-bahan mengenai coup Jendral Pinnochet dan kekejaman-kekajamn pelanggaran HAM luar biasa yang dilakukan tentara terhadap pengikut-pengikut Allende dan rakyat yang berlawan terhadapnya.


“BREAKING NEWS”

Berita ini disiarkan pers mancanegara hari ini a.l. oleh BBC, CNN, Reuter, Herald Tribune, atau dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai: “berita penjebolan/kejutan”, ialah tentang tindak politik Presiden terpilih Chili, Ricardo Lagos, yang “menjebol” dan merupakan “kejutan”, terutama bagi pelanggar HAM di mana saja mereka berada. Yang disebut “breaking news” itu ialah tawaran Presiden Lagos untuk memberikan pensiun seumur hidup (kira-kira US$ 185 seorang sebulannya) kepada 28.000 rakyat Chili, korban penyiksaan oleh agen-agen pemerintah militer Jendral Pinochet. Presiden Lagos menekankan bahwa sesungguhnya apapaun tidak memadai untuk menebus penderitaan para korban penyiksaan militer dan polisi. Kebijaksanaan Presiden Ricardo Lagos dari Chili ini betul-betul merupakan langkah penting dan kongkrit ke arah pelurusan sejarah, menemukan kebenaran dan rekonsiliasi nasional di Chili.


Kebijaksanaan Presiden Lagos ini keluar bersamaan dengan diumumkannya sebuah laporan resmi mengenai penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh pemerintah antara tahun 1973 – 1990, yaitu semasa pemerintah Jendral Pinochet. Presiden Lagos menyatakan bahwa laporan yang didasasrkan atas kesaksian korban-korban yang masih hidup, membuktikan bahwa PENYIKSAAN ADALAH POLITIK NEGARA ketika itu. Korban penyiksaan itu mencakup 3.400 wanita dan bahkan anak-anak. Penyiksaan yang dilakukan agen-agen tentara dan polisi itu meliputi penenggelaman (kepala sang korban) dalam air, pelistrikan dan pemukulan berulang-ulang. Laporan tsb juga mengungkapkan bahwa banyak tindakan pelanggaran tsb dilakukan oleh tentara dan polisi Chili. Bahwa 12% dari korban yang disiksa itu terdiri dari perempuan dan anak-anak. Dari jumlah anak-anak yang ditahan, 88 adalah anak-anak berumur 12 tahun kebawah. Mereka diambil dari rumah-rumahnya pada malam hari, diangkut dengan truk, kemudian dijebloskan di lebih dari 800 tempat-tempat tahanan dan penjara.


Presiden Lagos menyatakan bahwa: “Laporan tsb membuat kita harus menghadapi kenyataan politik yang tidak bisa dihindarkan, bahwa penahanan politik dan penyiksaan merupakan praktek yang inkonstitusionil oleh negara, yang sepenuhnya tidak bisa diterima dan asing bagi tradisi sejarah Chili.” Diungkapkan oleh Lagos bahwa banyak dari korban melakoni penderitaan tanpa buka mulut. Namun, akhirnya mereka tampil ke depan menuturkan ceritera penderitaan mereka. Seperti diketahui kompensasi yang diberikan negara kepada para korban tsb adalah tindakan terbaru dari banyak kebijaksanaan yang sudah diambil sebelumnya oleh tiga pemerintahan koalisi tengah-kiri di Chili, untuk mengkoreksi pelanggaran HAM di bawah pemerintah militer Jendral Augusto Pincochet.


Chili sudah memberikan semacam ganti-rugi keuangan kepada para keluarga yang dibunuh atau ‘hilang’, dan para korban yang dipaksa untuk menjadi orang buangan, selama periode kediktatoran Jendral Pinochet. Presiden Lagos menekankan bahwa negara harus memberikan kompensasi, betapapun harus menghemat, sebagai suatu cara mengakui tanggungjawabnya atas pelanggaran itu.

Pada saat ini bangsa kita sedang bergumul dalam perjuangan sengit untuk menegakkan negara hukum Indonesia, bertindak terhadap KKN, terhadap pelanggaran HAM dan diskriminasi untuk mengakhiri kebudayaan “tanpa hukum”. Pemerintah sekarang ini seyogyanya belajar dengan rendah hati dari pengalaman dan praktek Presiden Ricardo Lagos dari Chili. Pertama-tama pemerintah Indonesia harus mengakui kesalahan dan pelanggaran HAM oleh negara, kongkritnya oleh Orba pada tahun-tahun 1965, 1966 dst, juga sampai saat ini. Akui hal ini secara terus terang dan terbuka. Pasti akan disambut oleh seluruh bangsa.Kemudian pemerintah mengambil langkah-langkah kongkrit ke arah pengkoreksian kesalahan tsb, kearah rehabilitasi dan kompensasi para korban. Bila hal-hal itu dilaksanakan barulah ada syarat nyata untuk melangkah ke arah Rekonsiliasi Nasional, ke arah persatuan nasion yang hakiki.


* * *




Sunday, October 21, 2007

Kolom IBRAHIM ISA - 17 OKT. 1952 - MERIAM NODONG ISTANA . .

Kolom IBRAHIM ISA

-------------------------------------------

Rabu, 17 Oktober 2007



( Bagian - I )

17 OKT. 1952 - MERIAM NODONG ISTANA . . . .

Bagaimana REAKSI PRESIDEN SUKARNO?



* * *

17 Oktober 1952 --- Apakah yang terjadi di Jakarta, pada 55 tahun yang lalu?

Tanggal tsb adalah fakta penting dalam sejarah perkembangan negara Republik Indonesia. Kalau masih diingat, maka peristiwa itu samar-samar diingat sebagai 'Peristiwa 17 Oktober 1952'. Mungkin saja banyak yang sudah 'lupa' atau dengan tak disadari menjadi 'lupa' tentang apa yang terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952. Sementara kalangan, terutama militer, dengan sengaja melupakannya. Semacam 'lupa masa lampau'. Sulit mencari keterangan lain, bahwa hal itu (melupakan fakta tertentu dalam sejarah) dilakukan demi kepentingan politik tertentu.



Mungkin tak disadari masyarakat, apalagi dari kalangan generasi baru, yang hidup dan dibesarkan dalam periode rezim Orba, apa yang sesungguhnya terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952. Bagi orang-orang generasi-ku tak mungkin akan melupakan hari tanggal 17 Oktober 1952.

Ketika itu, pada pagi tanggal 17 Oktober 1952, sejumlah tank dan meriam Angkatan Darat, moncongnya diarahkan ke Istana Negara dan sejumlah besar tentara dan massa berkumpul di muka Istana Presiden Sukarno. Mereka membawa slogan-slogan politik sambil menyerukan yel-yel, menuntut dibubarkannyua DPR-RI, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.



PENJELASAN BUNG KARNO Tentang 17 OKTOBER 1952.

Pada tanggal 17 Oktober 1952, moncong-moncong meriam dan tank-tank AD jelas diarahkan ke Istana Negara, dan siapapun tahu bahwa yang berdomisili di Istana Negara adalah, Sukarno, Presiden Republik Indonesia. Mari kita ikuti penjelasan Presiden Sukarno sendiri tentang apa yang terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952 tsb.



* * *



Dari demikian banyaknya tulisan-tulisan Bung Karno --, yang kuanggap termasuk paling otentik, adalah 'memoar' Bung Karno berjudul: 'SUKARNO An Autobiography As Told To Cindy Adams' , Copyright 1965 by Cindy Adams's. Bagian yang diambil dan diterjemahkan di bawah ini adalah dari Edisi bahasa Belanda - terjemahan N.G. Hazelhoff, terbitan NV Uitgeverij W. Van Hoeve's-Gravenhage, 1967, berjudul : ' SUKARNO, Autobiografie Opgetekend door CINDY-ADAM'S.' >.



Inilah a.l. yang dijelaskan Presiden Sukarno mengenai Peristiwa 17 Oktober 1952. Baiklah ikuti dengan seksama, sbb:

'Pada pada pagi-pagi sekali, tanggal tujuhbelas Oktober 1952, dua buah tank, empat panser dan ribuan tentara menerjang pintu-pintu Istana Merdeka. Mereka membawa spanduk-spanduk yang bertuliskan teks 'bubarkan Parlemen'. Batalyon artileri dengan empat meriam dengan suaranya yang riuh rendah memasuki lapangan di depan Istana. Beberapa meriam buatan Inggris (peluru ukuran 12 pon) diarahkan pada saya. Unjuk kekuatan ini mencerminkan histeria hari-hari saat itu. Selain itu amatlah tidak bijaksana apa yang mereka lakukan itu, karena para komandan yang merancangkan itu, semuanya ada (di dalam) Istana bersama saya.

Kolonel Abdul Haris Nasution, yang memberikan pimpinan pada usaha yang menuju pada 'setengah kudeta', seperti yang dikatakannya sendiri, angkat bicara. 'Ini bukan ditujukan terhadap Bapak pribadi, Pak, tetapi ditujukan terhadap sistim pemerintahan. Bapak harus dengan segera membubarkan Parlemen.'



Itulah yang terjadi pada pagi hari 17 Oktober 1952. SUATU USAHA YANG MENGARAH KE SETENGAH KUDETA. Itu kata-kata A. H Nasution sendiri, yang ketika itu adalah pimpinan tertinggi AD. Lalu, bagaimana reaksi Bung Karno? Mari ikuti apa kata-kata Bung Karno sendiri ketika beliau menuturkan peristiwa pagi itu.



Bung Karno:

'Mata saya membelalak memancarkan api kemarahan. 'Apa yang kau katakan itu benar, tetapi cara yang kau ajukan tidak benar. Sukarno kapanpun tak akan tunduk terhadap tekanan. Tidak terhadap tentara Belanda dan tidak terhadap sebuah batalyon tentara Indonesia!'.

'Bilamana ada kesulitan di negeri ini, semua mengharapkan agar tentara turun tangan mencari penyelesaian', tukas Nasution balik. 'Kaum politisi yang menciptakan perang yang membawa korban di kalangan tentara. Maka adalah adil bahwa kami juga punya suara dalam masalah besar ini.'

'Kau bisa katakan apa yang kau ingin katakan kepada Bung Karno - JA.

'Tetapi mengancam Bapak Republik Indonesia -- TIDAK! SELAMANYA TIDAK!'

'Dengan tenang saya menuju ke luar ke arah massa yang telah dibikin marah oleh pelbagai pidato. Kebalikannya dari menjadi kecut menghadapi ancaman meriam, saya tatap langsung moncong meriam tsb tanpa gentar sedikitpun, dengan sekuat tenaga mencurahkan kemarahan saya pada mereka yang hendak membunuh demokrasi dengan bantuan suatu regu-tembak.

'O-o', . . . seru seorang prajurit terengah-engah, 'apa yang kita lakukan adalah salah. Ya, Bapak menghendaki yang lain', seru dua orang lainnya yang ada di dekat situ.

Yang lainnya lagi beteriak, 'Jika Bapak tidak menghendakinya, maka . . . . .' ; '. . . Kita juga tidak mau', demikian yang lain menyelesaikan kalimat itu.



'Perebutan kekuasaan negara' tsb menjadi suatu kegagalan yang mnyedihkan. Massa bubar menyebar sambil berseru , 'Hidup Bung Karno . . . . Hidup Bung Karno'.

Nasution kemudian dipecat dari jabatannya. Tetapi saya tidak menginginkan perpecahan antara saya dengan kekuatan bersenjata kita. Oleh karena itu kemudian saya rehabilitasi dia (Nasution) kembali di jabatannya (semula) dengan kata-kata berikut ini, 'Sukarno bukan anak kemarin dulu dan Nasution bukan anak kemarin dulu. Kita tetap bersatu karena bila musuh kita berhasil menyebarkan perpecahan, hal itu berarti berakhirlah kita sudah.'

Demikian antara lain Bung Karno dalam memoarnya.



* * *



Jelas sekali duduk perkaranya sekitar 'Peristiwa 17 Oktober 1952' itu. Bung Karno tegas menyatakan bahwa hal itu adalah suatu perobaan 'PEREBUTAN KEKUASAAN NEGARA' (oleh tentara) yang gagal amat menyedihkan. Kolonel Nasution yang karena itu dipecat dan kemudian direhabilitasi oleh Bung Karno demi persatuan, juga menyatakan dengan setengah hati, bahwa yang dilakukannya itu 'mengarah ke separuh kudeta'. Tetapi gagal karena ketegasan dan keberanian Bung Karno mempertahanakn demokrasi.

Baik juga mengikuti analisis Bung Karno, mengapa perkembangan sampai ke titik peristiwa 17 Oktober 1952.



Pada bagian berikutnya dari tulisan ini, akan bisa diikuti bersama, penjelasan dan analisis Bung Karno, mengenai situasi politik ketika itu.



Dalam penjelasannya yang akan dikutip lebih lengkap dalam tulisan berikut nanti, Bung Karno memulai penjelasannya, dengan mengingatkan bahwa Undang-Undang Dasar kita didasarkna pada suatu kabinet presidensil yang dikenal di Amerika Serikat. Tetapi Sekutu yang mendarat di Indonesia sesudah Jepang menyerah dalam Perang Pasifik, adalah orang-orang Inggris dan Belanda. Mereka-mereka itu terbiasa dengan dengan seorang kepala negara yang tituler seperti Ratu Belanda, Raja Inggris atau Presiden Republik Perancis, yang samasekali tidak punya tanggungjawab atas pekerjaan pemerintahan sehari-harinya..



Pendapat mereka mengenai suatu sistim kenegaraan dimana Presiden bertanggungjawab mengenai pekerjaan sehari-hari pemerintahan dengan samar-samar mengingatkan (mereka) pada Nazi-Jerman dan Kerajaan Jepang yang militeristik. 'Jika Presiden Sukarno sekaligus kepala negara, juga panglima angkatan bersenjata dan pemimpin kabinet, maka itu adalah fasisstis, teriak Sir Philip Christinson dan jendral-jendral Inggris lainnya.', tulis Bung Karno dalam memoarnya.



Nanti akan tampak pula, bahwa pada saat ketika Presiden Sukarno menyatakan DEKRIT PRESIDEN untuk kembali ke UUD-1945, membubarkan Parlemen dan Konstituante, Bung Karno sempat menyatakan bahwa pada ketika itu, TENTARA memperoleh apa yang mereka inginkan: BIBUBARKANNYA PARLEMEN!



Untuk jelasnya, bagaiamana situasi kehidupan politik di Republik Indonesia dengan sistim multi-partai ketika itu, baik kita ikuti nanti, tuturan Bung Karno dalam tulisan berikutnya.

(Bersambung) * * *