Saturday, July 18, 2009

Kolom IBRAHIM ISA - < Kesan Terhadap Tulisan SOE TJEN MARCHING>

Kolom IBRAHIM ISA

-----------------------------

Sabtu, 13 Juni 2009


BERANI BERFIKIR, BERANI MENULIS YG BENAR!

<>


Kali ini aku ingin memperkenalkan, – – – – menyebarluaskan sebuah esay-politik. Penulisnya adalah: SOE TJEN MARCHING, seorang penulis muda. Sahabat baru yang belum lama kukenal!. Teks asli di tulisnya dalam bahasa Inggris. Dimuat di 'The Jakarta ', September tahun lalu <25-09-2008).>


Tulisan ini, faktual, berbobot, relevan, lugu dan berani. Juga unik. Judulnya 'Bahaya Laten Komunisme'.


Tetapi, isi esay-politik tsb, tidak seperti dugaan orang semula. Pesan yang ingin disampaikan oleh penulis Soe Tjen Marching, justru sebaliknya. Penulis hendak mengungkap dan menguraikan, membuka mata pembaca, apa sebenarnya yang terkandung didalam 'seruan siap-siaga', 'peringatan' atau 'canang' – Bahaya Laten Komunisme' itu. Bila kita menoleh ke belakang sedikit: Versi aslinya dari 'canang' atau 'peringatan' yang populer selama 30 tahun lebih periode Orba, juga sampai sekarang di Indonesia, sesungguhnya lama dikenal sudah di manca negara. Pada periode itu canang yang diserukan oleh burjuasi-reaksioner Eropah pada permulaan abad ke-18, ketika di Eropah massa rakyat khususnya kaum pekerja yang miskin, mulai bangkit melawan pemerasan dan penindasan kapitalisme, bunyinya sbb : 'AWAS HANTU KOMUNISME'.


* * *


Menggembirakan sekali, begitu esay-politik Soe Tjen di muat di FB terjemahan Indonesianya, bermunculan tanggapan dan reaksi yang gairah dari pemmbaca. Khususnya pembaca dari kalangan muda. Mari kita baca sebagian dari tanggapan dan komentar atas tulisan Soe Tjeng itu:


Salah satu begini tanggapannya:


. . . . Pernah di Yogya ada spanduk kalo ndak salah begini tulisannya: Waspadai bahaya laten Komunisme, HIV/AIDS dan apa lagi ya...hahaha...levelnya jadi aneh...yang satu urusannya kemana, lainnya kemana...


Satu lagi:


. . . . Terima kasih mbak...translatenya...bisa aku Copas dan share ke teman yang lainnya..kebetulan di Madiun khan banyak anak-anak yang bapaknya hilang karena peristiwa 1965...


Lalu satu lagi:
. . . . Bagus tulisannya mbak.
Mbak Soe Tjen, saya minta ijin note anda ini saya taruh di note FB saya ya...
Mitos memang akan jadi keyakinan kalau didengungkan terus-menerus.


Satu lagi:


   . . . . .  "Powerful writing Mbak..   
Tulisan Mbak bisa dilengkapi dengan cerita-cerita dari banyak saksi sejarah yang tersebar di beberapa daerah di Jawa Tengah. Sebutlah Solo, Sragen, Boyolali, Klaten dan lain-lain..Juga ada penelitian tesis beberapa teman saya yang mengungkap fenomena stigmatisasi kiri, khususnya komunis.

. . . . Secara umum saya menangkap, pergesekan-pergesekan aliran ideologi sebelum '65 merupakan peristiwa 'wajar' sehari-hari, bahkan di tingkatan masyarakat akar rumput. Hanya saja efeknya tidak sampai berujung pada pembantaian massal seperti terjadi pada tahun '65-'66, paling banter terjadi bentrok fisik yang relatif seimbang.

Bentrokan ini menjadi malapetaka mengerikan, ketika militer, terutama Angkatan Darat, terlibat langsung di lapangan, membantu kaum anti-left untuk membasmi kaum the left


. . . . Di Sragen,saya mendengar cerita bahwa tudingan jari telunjuk pun bisa mencabut nyawa manusia. Banyak orang tdk berdosa, dieksekusi karena dituding sbg komunis oleh tetangganya yang membencinya"

. . . . "Persis, komunitas yang ku riset di Jakarta utara juga begitu. Padahal jelas-jelas lahan mereka akan dijadikan pabrik multi nasional. Tapi karena beberapa warga di situ tidak mau, maka digulirkan isu mereka yang menolak menjual lahannya dinyatakan Barisan Tani Indonesia (BTI), stigmatisasi PKI. Lantas ini apa hubungannya ??? Lahan untuk pabrik = BTI = PKI. Suatu rumusan yang menyesatkan. Anarkisme"

  . . . .  "Thanks mbakyu...aku masih ingat:  Temanku dulu ada yang namanya Marxis Tri Handono..  Begitu masuk SD langsung di ganti jadi  Agus Tri Handono. Itulah yang terjadi di sini. Sebuah cara Orba untuk mempunyai alat "menggebuk" mereka yang tidak setuju dengan program-program  dan ke-otoriterannya. Masih ingat Kedung Ombo khan?  Begitu penduduknya tidak mau di gusur karena mau dibuat waduk.. . . . Presiden Suharto langsung bilang..Memang Kedung Ombo dulu basis PKI... Ya, sudah,  masyarakat Kedung Ombo sudah langsung menjadi warga negara yang menjadi musuh negara....... T hanks for tag..
Salam dari Madiun.


Dan banyak lagi komentar positif yang bisa memahami dan menerima kebenaran yang diungkapkan penulis Soe Tjen Marching.


* * *


Menulis sesuatu untuk dibaca oleh masyarakat, adala seperti menebar jala layaknya. Menantikan tanggapan dari pembaca. Ada yang positif. Seperti banyak tanggapan dan komentar dari kalangan generasi baru yang dikutip diatas. Namun, ada tanggapan yang marah, merasa tersinggung, tidak bisa menerima. Lalu menuduh penulis macam-macam sampai-sampai ada yang memfitnah. Terhadap tanggapan dan komentar yang negatif seperti itu, juga tidak salah membacanya. Mungkin saja ada hal-hal yang perlu diperhatikan.


Namun, bagi penulis muda dari generasi baru, seperti Soe Tjen Marching, hal-hal itu sedikitpun tidak mengecillkan hatinya, atau mengendurkan semangat dan kegairahannya untuk menulis sesuatu yang dianggapnya benar dan adil.


Maju terus Mbak Soe Tjen Marching – – – Pantang Mundur!


Silakan pembaca menelusiri tulisan berjudul BAHAYA LATEN KOMUNISME karya penulis muda dari kalangan generasi baru kita.


Bahaya Laten Komunisme

----------------------------------

Penulis: Soe Tjen Marching

Kalau Komunis tidak diberantas di Indonesia, ia akan menyebar, menindas dan meranggas siapa saja yang tak sepaham dengan ideologi mereka, seperti yang terjadi di Tiongkok dan Vietnam. Apakah kita rela Negara kita menjadi demikian? Ini adalah pernyataan yang dilontarkan oleh sejumlah pelajar Indonesia yang saya temui di London beberapa bulan yang lalu.

Jangan salah sangka terlebih dulu. Para pelajar ini kebanyakan telah sadar akan manipulasi Orde Baru, dan bahkan mengritik kekejaman Pemerintah ini. Tapi, mereka hanya ingin membayangkan apa yang mungkin terjadi: bila PKI dibiarkan tumbuh dan berkembang, kata para pelajar ini, merekalah yang akan menyembelih dan menyiksa orang-orang tak berhalauan kiri. Bila Pramoedya tidak dijebloskan ke bui, dia akan melanjutkan antipatinya pada karya-karya yang dipandangnya kurang mencerminkan ideologi sosialis, dan para penulis Manikebu lah yang dibungkam atau dikirim ke pulau Buru.

Tetapi, gambaran yang disodorkan oleh mereka hanyalah satu kemungkinan yang berlawanan. Ada ribuan bahkan jutaan kemungkinan lainnya bila Kudeta Suharto tidak terjadi. Dan kemungkinan-kemungkinan ini jarang sekali disebutkan. Namun yang pasti adalah: jutaan rakyat Indonesia telah disembelih dan dipenjara tanpa proses pengadilan. Bahkan banyak dari para korban ini bukanlah komunis atau orang kiri.

Bahaya laten komunism yang telah ditanamkan oleh indoktrinasi Suharto telah mengakar dalam, sehingga komunis pada masa Orde Baru disamakan dengan iblis yang siap menyerang siapa saja. Mereka yang tak beragama dan tak ber-Tuhan, adalah mahluk yang siap menerkam. Bahkan mereka seringkali tidak lagi dipandang sebagai manusia. Karena kecurigaan dan ketakutan itulah, banyak orang memaklumi segala kekejaman yang terjadi pada para komunis dan orang-orang kiri. Politik ketakutan yang dipraktikkan oleh Suharto begitu dahsyat dalam hal ini.

Rasa takut memang dapat menjadi efektif untuk mengontrol masa. Dalam ketakutan, kita biasanya akan lari untuk mendapat perlindungan. Dalam ketakutan, kita biasanya tidak lagi bisa rasional: satu-satunya yang kita kuatirkan adalah keselamatan kita. Dalam ketakutan, kita akan lebih mudah tunduk pada yang berkuasa, karena kita mempercayai bahwa mereka dapat melindungi kita. Dan terkadang, kita tidak lagi perduli apapun yang mereka lakukan, asalkan kita selamat. Karena ketakutan yang teramat sangat, dapat membuat seseorang bersandar pada dua pilihan: “Membunuh atau dibunuh”. Sebuah logika yang tumpul – namun masih meresap dalam para pelajar yang saya sebut di atas: bila tidak kita, maka haruslah para komunis yang musnah.

Ketakutan seringkali bermetamorfosa menjadi kekejaman. Binatang yang terancam bahaya dapat menjadi sangat agresif. Anjing yang baru saja mempunyai bayi biasanya jauh lebih garang, karena mereka juga merasa riskan pada periode ini: mereka bahkan dapat menyerang pemiliknya bila didekati secara tiba-tiba. Dan bila Anda diserang oleh anjing Anda sendiri, mungkin inilah pertanyaan yang mencuat: “Aku nggak berbuat apa-apa kok digigit? Padahal aku sayang sekali dengan anjing ini!”. Bila Anda masih bisa bertanya demikian, paling tidak Anda belum wafat. Kalau Anda sudah dibunuh dan dibuang mayatnya di kali, seperti jutaan manusia-manusia di tahun 1965, Anda tidak akan mempunyai kesempatan untuk bersuara sama sekali.

Sungguh, kita tidak perlu membawa-bawa nama “komunis” untuk menjadi kejam. Begitu juga, kita tidak perlu membawa-bawa nama “agama” untuk menjadi bermoral. Kekejaman dan kriminalitas dapat dilakukan dalam nama keduanya – penyerangan 11 September, pengeboman di Bali dan kereta bawah tanah London dilakukan dalam nama Islam. Di Amerika Serikat dan Britania, Islam seringkali mendapat stigma negatif, sehingga banyak umat yang tak bersalah terkena getah. Berapa banyaknya manusia-manusia yang telah ditahan dan disiksa di Guantanamo Bay tanpa proses pengadilan, dan ini jugalah yang telah terjadi pada jutaan manusia tak berdosa di tahun 1965. Karena George Bush juga menerapkan politik ketakutan. Sehingga banyak rakyat-pun percaya: Bila tidak kita, pastilah mereka.

Dalam kepercayaan seperti itu, memberi label tanpa pandang bulu menjadi lumrah. Komunis mempunyai satu wujud saja: kejam, anti Tuhan dan tak berperi kemanusiaan. Menghantam rata seperti ini, adalah cara untuk mengelabui masyarakat. Semakin menyeleweng and menipu label itu, semakin leluasa para penguasa untuk bergerak. Di Afrika Selatan, misalnya, pada tahun 1950-an sampai 1980-an, para aktifis yang menentang Apartheids akan dituduh sebagai komunis oleh pemerintah – sebuah cara yang mudah untuk memojokkan mereka.

Dan bila suatu saat Anda menjadi sasaran dari label ini, Anda mungkin akan terheran-heran dengan penggambaran tersebut. Di Australia, gambaran Indonesia yang agresif dan mengancam sempat berdengung sejak tahun 1950 sampai 1990-an. Dalam novel trilogi oleh John Marsden, penjajah berkulit coklat yang licik meraja-lela dan menguasai benua kangguru ini. Walau Marsden tidak menamai penjajah berkulit coklat ini, namun ciri-ciri mereka begitu mirip dengan orang Indonesia. Bayangan Indonesia yang demikian sempat menjadi alat propaganda pemerintah Australia di bawah John Howard. Sekarang, saudara sebangsa dan setanah air, inilah pertanyaan yang saya ajukan pada Anda: Apakah Anda pernah mempunyai rencana untuk menjajah Australia?

Memang, hidup itu membingungkan. Hal yang pasti dalam hidup adalah ketidak-pastian, yang terkadang meresahkan. Memberi label pada pihak lain dapat memberi kita rasa nyaman dari dunia yang perubahannya tak berhingga, dan membantu kita untuk melimpahkan apapun yang terjadi pada hidup kita, pada orang lain. Karena itulah, pihak penguasa seringkali menciptakan “Iblis”, sehingga mereka bisa lolos dari kesalahan mereka sendiri. Stigmatasi seperti ini masih tercermin dalam perayaan Kesaktian Pancasila. Ada masalah dalam Negara? Salahkan saja Komunis!

(Versi Bahasa Inggris artikel ini telah dimuat di The Jakarta Post tanggal 25 September 2008).


* * *


Kolom IBRAHIM ISA - NIAT MEGAWATI MENERUSKAN CITA-CITA BUNG KARNO

Kolom IBRAHIM ISA

-Selasa, 09 Juni 2009


NIAT MEGAWATI MENERUSKAN CITA-CITA BUNG KARNO, PATUT DISAMBUT


Putra-putri Indonesia, di manapun ia berada, yang di dalam dadanya tetap menyala jiwa patriotisme progresif serta kesetiaan pada ajaran Bung Karno – Bapak Nasion Indonesia – – pasti gembira dan menyambut baik tekad Megawati Sukarnoputeri, seperti yang dideklarasikannya baru-baru ini. Yaitu tekad -- untuk MENERUSKAN CITA-CITA BUNG KARNO.


Sudah sewajarnyalah putra-putri Bung Karno, diharapkan kalangan luas rakyat kita, bahwa, fikiran dan tindakan mereka-mereka itu, sesuai-sejalan dengan amanah dan cita-cita serta ajaran orangtua mereka, Bung Karno. Dengan demikian, mereka itu, tidak semata -mata sebagai anak-anak biologis Bung Karno, -- tetapi lebih penting lagi, menjadi putra dan putri IDEOLOGIS BUNG KARNO.


* * *

Berita yang disiarkan mengenai tekad Mega untuk meneruskan cita-citga Bung Karno, bertepatan dengan peringatan Hari Ultah Bung Karno. Pernyataan Mega dan Guntur dicetuskan di lokasi yang bersejarah. Yaitu di Lapangan Tugu Monumen Kebulatan Tekad, Rengasdengklok. Bunyi berita (Kompas. Com) tsb antara lain sbb: 'Putra putri Bung Karno, Guntur Soekarnoputra dan Megawati Soekarnoputri , menyimpan keinginan kuat melanjutkan cita-cita ayahnya, Presiden I RI. Mega, mantan Presiden ke-5 RI, yang kini menjadi capres, berharap dapat mewujudkan cita-cita Sang Proklamator . . . ..


"Kami ingin melanjutkan cita-cita Bung Karno yang tertunda . . . . .

Selanjutnya Mega menyebutkan TRISAKTI. Yaitu konsep Bung Karno, yaitu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan (Selesai kutipan dari sebagian berita Kompas 6/6-09)


* * *


Dalam waktu panjang sejak menduduki tampuk pimpinan PDI-P, dalam masyarakat, khususnya di kalangan pendukung Bung Karno yang tetap setia pada ajarannya, terdapat kesan dan pendapat, bahwa, tindak-tanduk dan sikap Megawati, seperti mengambil jarak dengan ide-ide pembangunan nasion serta politik Presiden Sukarno yang programatis. Boleh dikatakan Mega, sebagai tokoh politik nasional, di waktu yl, tidak ambil bagian dalam penyebaran aktif ajaran Bung Karno mengenai persatuan nasisonal serta, pembangunan bangsa dan negeri.

Juga ketika menduduki jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia, Megawati tidak banyak menyinggung ajaran-ajaran Bung Karno. Sedangkan sebagai salah seorang tokoh utama nasional dan pimpinan PDI-P, sudah sewajarnya beliau dengan sadar dan tegas memperjuangkan agar ajaran Bung Karno menjadi dasar ideologi dan penyusunan program kegiatan dan pembangunan nasional dari PDI-P.

Sebagai suatu partai yang berazaskan nasionalisme progresif, menjadikan pembelaan dan pelaksanaan dasar falsafah Negara RI – Pancasila, sebagai tugas utamanya, menjadikan pembelaan kedaulatan Republik Indonesia sebagai negara sekular yang mentrapkan Bhinneka Tunggal Ika, membela persatuan bangsa dan kesatuan negeri dari Sabang sampai Merauké, sebagai misi sejarahnya, --- sewajarnya Megawati dan PDI-P yang dipimpinnya menjadikan AJARAN-AJARAN BUNG KARNO, sebagai pembimbing dan pedoman perjuangan.


* * *


Dengan pernyataan Megawati Sukarnoputeri yang tegas untuk MENERUSKAN CITA-CITA BUNG KARNO, diharapkan Megawati dan PDI-P yang dipimpinnya, meninggalkan sikap dan kebijakan masa lampau PDI-P terhadap Ajaran-ajaran Bung Karno. Selanjutnya dengan tegas dan jelas membela serta memprakltekkan dalam kegiatan politik sehari-hari AJARAN-AJARAN BUNG KARNO.


Meneruskan cita-cita Bung Karno, berarti dengan tegas menjadikan dasar pendidikan untuk kader-kader bangsa -- karya-karya politik, pidato-pidato penting Bung Karno, seperti terdapat di dalam karya-karya politik Bung Karno, mengenai persatuan bangsa, seperti yang tercantum dalam karya Bung Karno 'Tentang Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme' ; mengenai perjuangan kemerdekaan nasional, seperti dalam karya Bung Karno 'INDONESIA MENGGUGAT'.

Serta karya besar Bung Karno mengenai pembangunan dan persatuan bangsa, serta dasar falsafah negara Republik Indonesia, seperti dituangkannya dalam PIDATO 1 JUNI 1945, TENTANG PANCASILA.


Begitu pula ajaran-ajaran dan visi Bung Karno sebagai pemimpin bangsa, mengenai bagaimana seharusnya bangsa ini dibangun, seperti tercantum di dalam banyak pidato beliau. Yang terutama yaitu: TRISAKTI: Berdaulat secara politik, Berdikari di bidang ekonomi dan Berkepribadian nasional (Bhinneka Tunggal Ika) di bidang kebudayaan.


Selanjutnya, meneruskan cita-cita Bung Karno, berarti melakukan studi dan berusaha mentrapkan dalam kondisi kongkrit Indonesia dewasa ini, ide-ide politik Bung Karno, seperti tercantum dalam buku REVOLUSI BELUM SELESAI, Jildi I, II.

* * *


Dtelaah dari segi manapun, sebagai suatu partai politik yang berhaluan NASIONAL PROGERESIF, dasar perjuangan dan politik kongkrit PDI-P, tidak bisa lain seyogianya berpedoman pada Ajaran-ajaran Bung Karno.


Dalam sejarah perjuangan kita melawan kolonialisme, bagaimana membangun persatuan nasional yang meliputi seluruh kekuatan nasional yang maju, hanyalah Bung Karno, sebagai bapak bangsa, yang memberikan dasar, arah dan tujuan yang jelas dan sesuai dengan kondisi Indonesia.

Sampai akhir hidupnya Bung Karno tetap setia pada persatuan nasional yang progresif, demi Indonesia Merdeka yang kokoh, berdaulat, berdikari dan berkepribadian nasional.

Dengan demikian Bung Karno telah memberikan pendidikan yang paling lengkap mengenai pembangunan nasion ini.


* * *


Itulah sebabnya deklarasi Megawati Sukarnoputri mengenai tekad beliau untuk MENERUSKAN CITA-CITA BUNG KARNO, patut disambut.


INSYA ALLAH!


* * *

IBRAHIM ISA - membangun kembali Gedung Proklamasi Pegangsaan Timur 56, a.d.

IBRAHIM ISA
-----------------------
07 JUNI 2009


Bung Hoesein y.b.,

Saya mendukug sarana Anda untuk membangun kembali Gedung Proklamasi Pegangsaan Timur 56, a.d.
maket dan bahan informatif lainnya.

Mari bikin petisi. Ajak para sejarawan, pedjuang kemerdekaan senior dan junior. Agar sense of history bangsa ini meningkat.

Tapi, apa benar Bung Karno sendiri yang menyuruh bongkar gedung Pegangsaan Timur 56 itu?

Coba periksa lebih teliti.


Salam hangat,

I. Isa

-----------------------------------------------






hoesein schreef:

Pada jam 11.30 waktu Nippon, bertempat di rumahnya di Pegangsaan Timur no.56 Jakarta, Bung Karno mem Proklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Amat Sederhana dan merakyat. Tapi pada tahun 1962, Bung Karno sendiri yang membongkar rumah tersebut. Inilah salah satu misteri perjalanan sejarah berbangsa dan bernegara di Indonesia, akibatnya setiap anak bangsa kalau ke monumen Proklamasi tahunya "Gedung Pola" itulah tempat berlangsungnya peristiwa besar lahirnya bangsa Indonesia tersebut. Saya sudah memperjuangkan hal ini sejak tahun 1995 (50 tahun Indonesia Merdeka). Ada maket, sejumlah besar gambar foto, termasuk cetak biru rumah asli dan foto penggalian arkheologi pada tahun 2001. Sesungguhnya fondasi Rumah Proklamsi masih utuh. Cuma rupanya tanggagapan petinggi negara memble aje. Silahkan kalau ada tambahan
Terima kasih.

Kolom IBRAHIM ISA - MENTRAPKAN AJARAN-AJARAN BUNG KARNO

Kolom IBRAHIM ISA

Kemis, 04 Juni 2009

-----------------------------


MARI BERUSAHA MEMAHAMI DAN MENTRAPKAN

AJARAN-AJARAN BUNG KARNO



Suatu gejala yang menggembirakan belakangan ini, ialah semakin banyaknya tulisan dan ucapan yang mengingatkan kita semua, pada AJARAN BUNG KARNO. Banyak usaha dilakukan untuk menjelaskan apa itu ajaran-ajaran Bung Karno. Apa itu PANCASILA, ajaran Bung Karno yang programatis dan visionair. Apa itu ide Bung Karno mengenai persatuan bangsa dan kesatuan negeri dari Sabang sampai Merauké. Apa itu mempersatukan semua kekuatan nasional yang terdiri dari kaum nasionalis, Islam dan Marxis.


Berbagai kegiatan sekitar Hari Ultah Bung Karno, diambil positifnya, bermaksud, bukan sekadar formalitas belaka, atau lamis-lamis di bibir saja. Bukan pula ikut-ikutan saja memperingati Hari Ultah Bung Karno. Tidak, maksudnya tidak ikut-ikutan saja. Tetapi, untuk benar-benar menggali kembali ajaran Bung Karno. Berusaha memahami kemudian mentrapkannya.


Perhatian dan keinginan menyelami kembali ajaran-ajaran Bung Karno, memperoleh inspirasi dan pegangan serta penyuluh untuk bangsa dan negeri, -- itu semua erat kaitannya dengan situasi bangsa dewasa ini. Yang tidak menggembirakan. Bahkan terkadang memilukan. Terutama yang menyangkut nasib dan peri-kehidupan rakyat kecil, yaitu jumlah terbesar bangsa kita. Melihat perkembangan situasi dari hari ke hari, hati menjadi gundah khawatir. Menyakasikan berbagai cara yang digunakan para elite politik dan pelbagai parpol dalam berkampanye selama pemilu caleg yang lalu yang diteruskan dalam kampanye pilpres.


Ketika membicarakan masalah ekonomi neo-liberisme yang sedang gencar disoroti belakangan ini, dikemukakan hasil studi dan analisis bahwa malapetaka yang diderita Indonesia dewasa ini adalah akibat kebijakan ekonomi Orba yang ternyata fatal. Ditunjukkan bahwa Orba membangun negeri dan bangsa, dengan sepenuhnya bersandar pada 'bantuan', pinjaman dan 'grants' dari luarnegeri. Garis umum pembangunan ekonomi Orba, sepenuhnya bersandar pada IMF, World Bank, dan bank-bank berduit lainnya di luar negeri. Kebijakan Orba yang fatal tsb, dulu diuar-uarkan sebagai 'win-win solution'. Karena, demikian dikatakan, dengan bantuan luar negeri, serta membuka pasaran dalam negeri serta kesempatan penanaman modal asing, Indonesia, demikian dikampanyekan, akan memperoleh kesempatan 'terbaik' untuk membangun ekonomi negeri. Tambah lagi dengan memberikan konsesi besar-besaran serta membuka lebar-lebar sumber kekayaan bumi dan laut negeri untuk dieksploitasi oleh perusahaan-perusaan asing. Kebijakan pembangunan Orba ini ternyata mengakibatkan dikuras habisnya kekyaan bumi dan laut Indnesia oleh perusahaan-perusahaan raksasa asing.


Kebijakan pembangunan ekonomi Orba, merupakan pelaksanaan dari konsep 'pembangunan' versi IMF dan World Bank, yang mereka sodorkan bagi negeri-negeri dunia ketiga. Konsep tsb nyatanya hanya mendatangkan keuntungan berlimpah-limpah bagi kaum kapital monopoli, bagi perusahaan-perusahaan asing. Di dalam negeri memberikan 'kemakmuran' dan kemewahan bagi sementara petinggi militer, birokrasi dan lapisan atas masyarakat. Sedangkan rakyat kecil masih tetap hidup di bawah garis kemiskinan. Kecuali membebankan kas negara dan rakyat dengan hutang luarnegeri sekitar 150 milyar USD, kebijakan ekonomi Orba tsb, melahirkan prakek KKN yang subur, menjadikan budaya korupsi merajalela dari atas sampai ke bawah. Menjadi suatu praktek yang sudah MEMBUDAYA.


Siapa yang tidak menyaksikan, -- begitu gampangnya para elite politik, yang baru maupun yang lama berjubah baru, menyebar janji. Memikat rakyat, dan . . . . bergelimang dengan cara-cara 'money-politics'. Tujuannya satu: untuk merebut suara pemilih sebanyak mungkin. Sebenarnya, di bawah sistim demokrasi, pemilu dan kampanye pemilu adalah wajar dan merupakan salah satu elemen demokrasi. Dengan syarat, kampanye dan pemilu itu dilakukan secara wajar, jujur, menurut aturan hukum, serta sesuai etika politik demokrasi. Namun, yang kita lihat dan ikuti selama ini, adalah di luar kewajaran. Mereka-mereka itu tidak sega-segan untuk kesekian kalinya menghamburkan banyak uang dan janji-janji pemilu dan pilpres, tapi, yang tak pernah akan dilaksanakannya.


Belakangan ini, negeri kita untuk kesekian kalinya kena terjang krisis moneter dan finansil dunia kapitalis. Suatu krisis yang dimulai di Amerika, melanda Eropah dan Asia kemudian menerjang Indonesia. Saat ini keadaan ekonomi dan keuangan Indonesia masih dalam keadaan mencemaskan. Belum ada tanda-tanda yang nyata dan hakiki, bahwa, negeri ini sudah lepas dari dampak krisis kredit dan krisis moneter global. Mungkin juga karena keseleo omong, SBY baru-baru ini saja, sampai terucap bahwa Indonesia dewasa ini sudah 'broke'. Menuruti bahasa Jakarta, artinya -- Indonesia sudah 'boké'.


Situasi ekonomi negeri kia, sampai detik ini, samasekali belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Jangan lagi dikatakan dimulainya suatu proses pembangunan ekonomi nasional yang berorientasi pada kemakmuran merata bagi rakyat. Janji-janji hendak melaksanakan 'ekonomi-rakyat', sejak berdirinya pemerintah pasca-Reformasi, sampai sekarang ternyata hanya tinggal janji saja.


* * *


Lapisan luas cendekiawan, media dan politisi sedang sibuk mencari-cari, jalan mana yang mau ditempuh negeri ini selanjutnya. Bagaimana bunyinya konsep pembangunan dan konsolidasi Republik Indonesia, yang lebih sesuai dengan syarat-syarat di Indonesia, dan sesuai dengan amanah yang tertera dalam UUD RI. Tampak ada kesibukan memikirkan konsep mana yang paling baik dan sesuai untuk memulai pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kepentingan nasional, pada rakyat kecil.

Telah diungkap dan dianalisis pula apa itu neo-liberalisme, yang dianggap merupakan sumber malapetaka ekonomi Indonesia sekarang ini. Neo-liberalisme yang diartikan, ketergantungan Indonesia pada luar, pada modal asing, pada IMF dan World Bank, pada pinjaman dari negara-negara 'maju' seperti AS, Jepang, Eropah Barat, dll negeri-negeri yang mempraktekkan sistim ekonomi kapitalis mondial. Ditegaskan pula keharusan pemerintah Indonesia dengan tegas menolak syarat-syarat 'bantuan' dan 'penanaman modal' yang disodorkan oleh fihak luar, sebagai syarat kesediaan mereka berbisnis dengan Indonesia.


* * *


Bila ditelaah secara jujur, sejak Presiden Sukarno menjadi kepala pemerintahan, yang sesuai dengan UUD RI 1945, beliau samasekali belum diberi kesempatan yang cukup untuk memusatkan perhatian pada pembangunan ekonomi Indonesia. Negeri dan bangsa dihadapkan pada strategi 'Perang Dingin' fihak Barat, yang menggiring negeri-negeri dunia ketiga untuk menjadi pion-pion dalam pelaksanaan 'Perang Dingin'. Imperialisme dan kolonialisme sangat giat merongrong RI dengan cara memcetuskan gerakan separatis yang dilanjutkan dengan pemberontakan PRRI dan Permesta. Selanjutnya Indonesia dihadapkan pada tugas nasional untuk membebaskan Irian Barat dari sisa-sisa kolonialisme Belanda di Indonesia. Itu semua memerlukan banyak dana yang harus diambil dari kas negeri. Di lain fihak kaum imperialis dan kolonialis berusaha keras untuk menggulingkan Presiden Sukarno dengan cara-cara yang biasa digunakan oleh CIA.


Namun, Presiden Sukarno tokh berhasil menyusun suatu konsep pembangunan ekonomi nasional yang berdikari dan berorientasi pada kepentingan seluruh rakyat, yang dikenal dalam konsep DEKON – Deklarasi Ekonomi. Konsep pembangunan yang disusun demi menciptakan suatu ekonomi nasional yang kuat dan makmur, sayang, tak sempat dilaksanakan.


Penyebabnya ialah KUDETA MERANGKAK' Jendral Suharto, yang akhirnya berhasil menggulingkan pemerintahan Presiden Sukarno, memenjarakan beliau sampai akhir hidupnya.


* * *


Dengan demikian, dalam usaha mencari konsep pembangunan ekonomi nasional yang berdikari dan merakyat, seyogianya, bermanfaat mempelajari kembali apa yang tertera dalam konsep pembangunan ekonomi DEKON.


Menggalakkan mempelajari kembali ajaran-ajaran Bung Karno, pada tempatnya, untuk menyimak kembali konsep pembangunan ekonomi DEKON, yang dirumuskan dan disahkan oleh pemerintahan Presiden Sukarno. Suatu rencana pembangunan ekonomi yang pertama-tama dan terutama berdasarkan kekuatan dan kemampuan sendiri, tanpa menolak faktor luar yang saling menguntungkan. Suatu pembangunan ekonomi yang terutama dan pertama-tama dilakukan dengan bersandar pada kekuatan sendiri.


Kiranya ini adalah salah satu cara yang baik untuk memperingati HARI ULTAH BUNG KARNO, 06 Juni 2009, lusa.


* * *


Kolom IBRAHIM ISA - BANGGA JADI ORANG INDONESIA

Kolom IBRAHIM ISA

Sabtu, 30 Mei 2009

----------------------------

BANGGA JADI ORANG INDONESIA



* * *

Sepuluh hari sudah berlalu, 20 Mei 2009. Ketika itu, LAKSMI PAMUNTJAK, penulis muda, budayawan Indonesia dari generasi kini, diminta bicara dalam pertemuan di Gedung Stovia lama di Jakarta. Kumpulan itu diadakan untuk memperingati 'HARI KEBANGKITAN NASIONAL'. Aku katakan Laksmi Pamuntjak dari generasi muda. Tercatat ia kelahiran tahun 1971.



Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2009. Seyogianyalah, peristiwa itu tak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Apalagi di kala bangsa ini sedang bergolak, bergejolak melintasi jalan lika-liku, menuju masa dewasa.



Di media Indonesia, yang dalam batas tertentu tercermin pada puluhan mailis, maupun di berbagai 'online', luput aku membacanya. Tak kuketahui ada orasi budaya Laksmi Pamuntjak dalam kesempatan memperingati HARI KEBANGKITAN NASIONAL. Baru beberapa hari belakangan ini kujumpainya di sebuah situs.



Begitu selesai baca, aku fikir: Paling tidak, yang biasa membaca tulisanku di media internet harus juga membacanya. Maka harus disiarkan. Ditulis oleh seorang sastrawan muda Indonesia. Muda, benar masih muda. Namun, apa yang diuraikannya mencerminkan keseriusan penulisnya. Memikirkan nasib bangsa. Kepedulian serta keterlibatan yang mantap terhadap negeri. Bangsa di masa kini, lampau, lebih-lebih masa depamnya.



* * *



Salah satu yang tegas diajukannya, ialah bahwa: Ia, . . . Laksmi Pamuntjak, adalah SALAH SATU YANG BANGGA JADI ORANG INDONESIA. Jiwa dan semangat demikian dari seorang generasi muda, – – – – inilah, yang antara lain AMAT DIPERLUKAN bangsa ini.



Karena, bukankah pernyataan ini diucapkan dalam situasi dimana tidak sedikit orang mulai bosan. Selanjutnya mengambil sikap masa bodoh. Seakan-akan bersikap persetan dengan situasi yang dialami negeri dan bangsa. Berpeluk tangan terhadap kepiluan penderitaan. Merasa tak berdaya, pasif ditengah-tengah semakin ramainya kampanye pilpres 2009. Halmana dirasakan sebagai timbunan carut-marut yang semakin bertumpuk. Dari hari ke sehari semakin gawat layaknya. Bukankah tidak sekali dua, kita menjumpai cetusan perasaan seperti pernah diucapkan, ataupun tidak diucapkan: . . . AKU MALU JADI ORANG INDONESIA.



Tetapi, tidak demikian halnya dengan budayawan, penulis muda Laksmi Pamuntjak.



Orasi Laksmi Pamuncak, adalah suatu reaksi dan tanggapan positif yan berani. Tidak tunduk-runduk tetapi kepala diangkat tegak. BERTAHAN -- Bagaimanapun melelahkan dan menjengkelkannya mengikuti perkembangan situasi nasib rakyat yang semakin terbengkalai. Teguh dan mantap berpijak pada pandangan OPTIMISME REALIS. Terhadap yang sekarang, apalagi yang jauh ke depan!



* * *



Siapa Laksmi Pamuntjak?

Nama itu cukup terkenal di Indonesia. Di luar negeri, di kalangan dunia sastra mancanegara, juga begitu. Sejak April yang lalu ia diminta duduk dalam sebuah Juri Internasional dari Prince Clause Funds. Ia seorang wanita Indonesia, yang sering mewakili Indonesia di banyak negeri. Seorang penulis dari generasi baru, salah seorang yang namanya mencuat. Bukan saja karena tulisan-tulisannya, tetapi juga karena banyak tulisannya itu ditulis dalam bahasa Inggris. Tapi sebab terutama menjadi dikenal luas di luarnegeri ialah disebabkan oleh novel-novelnya, artikel, komentar dan kritiknya selama ini.



Kali ini bukan dimaksudkan untuk menulis siapa penulis LAKSMI PAMUNTJAK. Itu, kiranya pada kali dan kesempatan lain. Kali ini dimaksudkan terutama agar pemb aca dengan seksama mengikuti ORASI BUDAYA LAKSMI PAMUNTJAK, sehubungan dengan HARI KEBANGKITAN NASIONAL.



Selakan membacanya:



HARI KEBANGKITAN NASIIONAL –

SAYA SALAH SATU DARI JUTAAN YANG BANGGA MENJADI ORANG INDONESIA



* * *


Hari ini kita berkumpul di gedung bersejarah ini antara lain untuk mengenang para korban

tragedi Mei 98. Marilah kita luangkan satu menit hening untuk mengingat perjuangan mereka

demi sebuah Indonesia yang bebas, adil, terbuka dan lepas dari segala bentuk kekerasan

dan penindasan.


Saudara-saudara yang saya hormati:


Saya salah satu dari jutaan orang yang bangga menjadi orang Indonesia. Telah dicatat dengan baik

oleh sejarah bahwa Indonesia adalah sebuah republik dengan 13 ribu pulau yang tahan dalam

persatuan bukan karena kekuatan militernya. Adanya satu bahasa yang berbeda – sebuah bahasa

yang tidak dipaksakan oleh mayoritas, bahkan sebuah bahasa yang dikembangkan oleh kalangan

yang dulu disebut sebagai keturunan "asing" merupakan prestasi yang tak dapat dipungkiri.


Tapi akhir-akhir ini kata nasionalisme sering membuat saya terpekur. Setiap kali saya mendengar

kata itu, saya ingat setidaknya tiga pengalaman.


Yang pertama terjadi suatu petang di bulan Juli 2006. Saya dan sejumlah kawan sedang duduk di

sebuah restoran di puncak bukit di Ambon. Esoknya kami berniat berlayar ke Pulau Buru. Bersama

kami seorang ibu separuh baya -- ia mantan kepala Badan Urusan Logistik daerah --- dan adik laki-lakinya. Keduanya

bermata sipit, dengan tutur kata lembut. Mereka bicara tentang kekerasan antar

agama di Maluku: tentang hamparan mayat, tentang tetangga yang saling membantai, tentang kota

yang terbelah menjadi merah dan putih.


Mereka menyesali pertumpahan darah di bumi Maluku. "Nama keluarga kami Chua.” Kata

perempuan itu. "Kami berdua Muslim keturunan Cina. Keluarga besar kami menamakan diri

Marga Ambon, dan kami adalah generasi kelima. Berabad-abad kami hidup dengan perbedaan. Bhineka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan."


Pengalaman kedua: Hari Kartini, tiga bulan sebelumnya, di Jakarta. 6000 manusia, mayoritas

perempuan, berpawai dari Lapangan Monas ke Bunderan Hotel Indonesia. Meski mereka turun

ke jalan untuk menentang rancangan undang-undang pornografi yang mengancam

kebhinekaan Indonesia, ini sebuah aksi damai. Suasana karnaval sangat kental. Pakaian mereka

dari Sabang sampai Merauke. Ada tari singa Cina, ada kelompok waria, ada penari

sing-sing berbalut celana pendek. Hidup Pancasila! Hidup Bhineka Tunggal Ika! Marilah kita

kemajemukan Indonesia! Demikian mereka bersorak.


* * *


Hadirin yang saya hormati,


Tak banyak yang ingat bahwa pada suatu hari di tahun 1962, dari Hotel Indonesia

berkumandang hingar-bingar nasionalisme. Dalam acara peresmian hotel itu, Presiden Sukarno

menggelar sebuah pentas akbar berjudul Bhineka Tunggal Ika. Pagelaran 80 menit itu terdiri dari

12 tari tradisional yang masing-masing diperpendek menjadi tujuh menit dengan harapan ia akan

lebih mudah dicerna oleh penonton asing dan ibukota.


Kita tahu, Bung Karno di tahun-tahun itu mulai menjadi seorang penguasa yang otokratik.

Tapi ia tetap seorang pemersatu. Bagi Sukarno, dengan segala cacat dan musykilnya, persatuan

di atas segala-galanya.


Bagi saya, yang lebih menarik tentang retorika nasionalisme Hotel Indonesia saat itu adalah

eklektismenya. Sebuah bangsa memang lahir melalui proses (dalam tanda kutip) “melupakan”.

Di satu sisi ia mengatasi rasa ketidak-berdayaan yang ditinggalkan penjajahan Belanda.

Di sisi lain ia hasil dari "imagining" -- untuk mengikuti Benedict Anderson -- membentuk

citra, tentang sebuah identitas baru dengan melepaskan apa yang dihayati sebagai identitas

lama: Indonesia yang tidak sama dengan Jawa atau Sunda atau Minang.


Paradoks ini mengingatkan kita akan seorang tokoh lagi: Kartini. Kartini telah

mempelopori sebuah kesadaran identitas diri yang merupakan dasar nasionalisme Indonesia

kelak, yang tidak berdasarkan identitas etnik atau budaya yang permanen. Bisa jadi

Kartini mendahului pemikiran kaum nasionalis di Indonesia yang kemudian datang:

nasionalisme yang berdasarkan sifat universal manusia.



Kartini menunjukkan bahwa tuntutan untuk merdeka juga bisa datang dari seorang

perempuan Jawa, ketika perempuan itu tertindas. Tuntutan itu universal, bisa datang dari

semua bangsa di muka bumi. Dan ini semua hanya bisa dikemukakan oleh seorang seperti dia,

yang selamanya berdiri sebagai "Yang Lain", yang bukan ini dan bukan itu. Kartini yang

menghayati nilai-nilai emansipasi itu bukan sepenuhnya "Timur" tapi bukan pula "Barat".

Dengan kata lain, identitasnya tidak dikurung dalam sesuatu yang partikular.


* * *


Kartini, demikian juga semangat nasionalisme, adalah tanda bahwa identitas mengalir, berubah

dan menyerap dari sana sini. Ia tak pernah baku, atau tunggal, melainkan selalu mengelak

dari upaya-upaya untuk mendirikan batas atau menutup diri, entah lewat formalisasi,

penyeragaman, apalagi pemaksaan nilai-nilai sebuah golongan (apalagi yang belum

tentu merupakan mayoritas) ke golongan lainnya.


Beberapa tahun yang lalu ada Parade Penari Tayub di Solo untuk menentang rancangan

undang-undang pornografi. Sebagai perempuan, saya menganggap Tayub menyiratkan

eksploitasi perempuan. Namun, lewat aksi itu, para penari Tayub itu seakan hendak

mengingatkan kita tentang budaya abangan, yang kini mulai pudar. Mereka menunjukkan

bahwa ada 'Jawa' yang lain yang dicoba direpresi. Sikap orang Indonesia dari Bali dan Papua yang

menolak aturan yang anti-pluralisme itu juga menandaskan hal yang sama: bahwa menjadi

orang Indonesia adalah menjadi orang yang terbiasa hidup dengan perbedaan.


Pengalaman ketiga: Pada perayaan Hari Pancasila tanggal 1 Juni 2006, koor Universitas

Indonesia menyanyikan sejumlah lagu nasional. Mengikuti acara yang disiarkan di radio itu

banyak penonton menangis. Pada saat-saat seperti itu, kita memaknai ulang kata-kata tersebut

justru karena kita merasa kebhinekaan kita terancam, persatuan kita terlumpuhkan. Justru

karena kita tak ingin Tragedi Mei 98---sebuah horor anti-pluralisme---berulang, justru karena

kita tak ingin Kekerasan Monas.


2008 terjadi lagi, kita merasa butuh akan apa yang dibawakan Pancasila itu -- Pancasila

yang selama bertahun-tahun diculik oleh Orde Baru untuk dikuasai sendiri.


* * *


Kita layak bersyukur, kita masih merindukan persatuan dalam perbedaanitu. Semenjak

Boedi Oetomo mendirikan Jong Sumatranen Bond pada tahun1917, dan yang lalu disusul oleh

Jong Jong lainnya hingga Sumpah Pemuda, semangat inklusif itu telah terpancang bagai

batu peradaban. Saat itu, nasionalisme Indonesia, sebagaimana yang akhirnya diresmikan

setelah Reformasi -- ketika perbedaan antara "pribumi" dan "non-pribumi" ditiadakan

dalam konstitusi yang disahkan di tahun 1999 – telah mengatasi dasar-dasar etnis ini.


Sejalan dengan ini, Indonesia tak menyebut dirinya negeri sekuler, tapi negeri dengan

jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia ini juga tak pernah memproklamirkan dirinya

Negara Islam. Semakin tak lakunya partai-partai yang mengusung ke-Islaman adalah

testimoni bahwa Indonesia begitu besar.


* * *


Saudara-saudara yang saya hormati,


Batas senantiasa berubah, dan dengan demikian acuan-acuan kita tentang diri kita sendiri

pun berubah pula.


Dalam konteks tersebut, generasi saya acap mendengar dua pertanyaan: Benarkah,

seperti dikeluhkan orang tua, patriotisme anak muda meluntur? Dan dalam persaingan-

persaingan internasional, bisakah kita percaya ada takdir yang menentukan bahwa Indonesia

akan terpuruk selama-lamanya?


Kita tahu bahwa media massa hidup dari berita-berita tentang kejadian yang tidak lazim, tidak

rutin, dan seringkali dramatis. Tapi kita tahu bahwa dalam kenyataannya, Indonesia tidak hanya itu. Indonesia lebih dari

sekedar berita buruk.


Semenjak tahun 1999, republik ini bahkan telah merupakan negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan sekaligus sebuah

demokrasi yang hidup, di mana media massa tidak disensor, di mana perdebatan pikiran berlangsung leluasa dan kehidupan kesenian praktis

tumbuh tanpa kekangan. Pemuda-pemudi republik mencapai prestasi unggul di bidang

kegiatan ilmiah dalam perlombaan internasional; pelbagai bentuk teknologi baru diciptakan.


Dari semua itu, saya merasakan ada dua macam patriotisme: patriotisme yang menjunjung

tradisi dan nilai-nilai luhur sebuah bangsa, dan patriotisme yang senantiasa memperbaharui

dirinya. Keduanya membutuhkan kerja keras, keterbukaan, rendah hati, dialog, harap.


Dengan memperingati hari kebangkitan nasional hari ini, kita merayakan warisan sejarah

bahwa bangsa kita adalah bangsa yang bangkit dan bangga dalam pluralisme.



Laksmi Pamuntjak


Jakarta, 20 Mei 2009


* * * * *



  No virus found in this incoming message. 
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.5.339 / Virus Database: 270.12.46/2143 - Release Date: 05/30/09 05:53:00


Kolom IBRAHIM ISA - PERHATIKAN FAKTA SEJARAH Yg BICARA

Kolom IBRAHIM ISA

Kemis, 28 Mei 2009


PERHATIKAN FAKTA SEJARAH Yg BICARA


Hari ini kubuka computerku: Di-klik pada 'Postvak In'. Seperti biasa berderet e-mail yang baru masuk. Dari sahabat, dari teman, dari relasi dan yang banyak adalah dari berbagai milist di internet, seperi Apakabar, Wahana, Mediacare, HKSIS, dll. Dari BBC, VOA, New York Time, NRC Handeslblad, de Volkrabt, dll. Bahkan ada dari Partai Demokrat dan Republik, AS. Ada juga email kuterima yang isinya sematamata makian. Berusha memancing untuk ´debat kusir´. Jika dilayani segera akan berubah jadi konflik pribadi. Akhirnya dilontarkanlah macam-macam fitnah!. Yang begitu itu, pasti tak perlu digubris.


* * *


Sehari, terkadang sampai dua ratus email kuterima. Kalau tidak segera diseleksai, celaka. Jadi penuh 'Postvak In' itu. Berita baru tak bisa lagi masuk. Memang, tidak harus dibaca semua. Perlu dilihat judulnya. Juga perlu tau siapa pengirimnya. Baru ambil keputusan, mana-mana saja yang perlu dibuka keseluruhannya untuk dibaca seluruhnya. Dan mana-mana yang di 'delete' saja. Masuk 'prullenbak´.


* * *


Sambil lalu, – – – – – memang perkembangan ilmu dan teknik komunikasi, khsusunya perkembangan computer dan internet, tak terbilang kegunaannya. Tentu, pelbagai kalangan, banyak fihak menggunakannya. Ya, yang bisnis, ya yang dalam rangka kegiatan ilmiah, ya, yang mensalah gunakannya. Barangkali pembaca pernah mendengar bahwa sekelompok orang (penipu), menggunakan internet, mailist, untuk menggiur pembacanya, dengan cepat meraih ketuntungan ribuan bahkan jutaan dolar, asal, asal . . . . . . Nah, asal mau serahkan nomor rekening bank anda dsb. Mulailah penipuan.


* * *


Tapi tulisan kali ini, yang utama untuk melihat ke belakang. Ke sejarah perjuangan bangsa kita begitu Republik Indonesia, dari Sabang sampai Merauké di PROKLAMASIKAN oleh Bung Karno dan Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia.


Yang menggugah kita menoleh ke belakang, ke sejarag perjuangan ialah BAHAN DOKUMENTASI yang dikirikimkan oleh sahabat baikku di Jakarta, sejarawan Hoesein R. Yang dikirimkannya ialah foto zaman Revolusi Agustus± Bisa dilihat dalam foto historis itu, ketika Adnan Kapau Gani, Menteri Kemakmuran RI, dan Mr Amir Syarifuddin, Menteri Penerangan RI.

Mereka sedang diinterviw oleh seorang wartawan asing Barat, di ketika itu, Istana Gubernur Jendral Hindia Belanda, di Rijswijk, Batavia. Begini penjelasan, Hoesein R. ±


´Foto ini dibuat kira-kira pada awal tahun 1947. Tempat Istana Negara d/h Istana Rijswijk. Saat itu dalam kesempatan perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda, dr AK Gani dan Mr Amir Sjarifudin sedang diwawancarai wartawan asing. Apa yang mereka pikirkan kira-kira ya ?. Tentusaja bukan soal apa yang negara bisa perbuat untuk mereka, tapi kemungkinan besar apa yang dapat mereka perbuat untuk negara ? AK Gani meninggal hampir dalam keadaan miskin sehingga harus berpraktek lagi sebagai dokter umum di Palembang padahal dia pernah menjadi Menteri Kemakmuran (Mungkin sekarang gabungan dari Menteri Perdagangan, dan Perindustrian). Saat meninggal mobil yang dipinjamkan seseorang, diminta kembali. Amir Sjarifudin tidak pernah mengalami zaman Indonesia diakui kedaulatannya termasuk kembali ke negara kesatuan pada 17 Agustus 1950. Dirinya keburu dieksekusi terkait pada peristiwa Madiun pada tahun 1948. Tapi apapun sejarah hidupnya, dia adalah putra-putra Indonesia terbaik negeri ini. Ada yang bisa menambahkan ?


Foto ini dibuat kira-kira pada awal tahun 1947. Tempat Istana Negara d/h Istana Rijswijk. Saat itu dalam kesempatan perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda, dr AK Gani dan Mr Amir Sjarifudin sedang diwawancarai wartawan asing. Apa yang mereka pikirkan kira-kira ya ?. Tentusaja bukan soal apa yang negara bisa perbuat untuk mereka, tapi kemungkinan besar apa yang dapat mereka perbuat untuk negara ? AK Gani meninggal hampir dalam keadaan miskin sehingga harus berpraktek lagi sebagai dokter umum di Palembang padahal dia pernah menjadi Menteri Kemakmuran (Mungkin sekarang gabungan dari Menteri Perdagangan, dan Perindustrian). Saat meninggal mobil yang dipinjamkan seseorang, diminta kembali. Amir Sjarifudin tidak pernah mengalami zaman Indonesia diakui kedaulatannya termasuk kembali ke negara kesatuan pada 17 Agustus 1950. Dirinya keburu dieksekusi terkait pada peristiwa Madiun pada tahun 1948. Tapi apapun sejarah hidupnya, dia adalah putra-putra Indonesia terbaik negeri ini. Ada yang bisa menambahkan ?


Kolom IBRAHIM ISA - WAWANCARA DNG RADIO NEDERLAND, 18 MEI 09

Kolom IBRAHIM ISA *)

Rabu, 20 Mei 2009

-----------------------------


SEKITAR KOALISI MEGA – PRABOWO


Pagi hari Senin, 18 Mei yang lalu, melalui tilpun di rumah, suara seorang wanita, memperkenalkan dirinya sebagai Fedi, atau lengkapnya Fediya Andina dari Radio Nederland. Ia bertanya apakah aku bersedia ditanyai pendapatku oleh Radio Nederland, mengenai perkembangan terakhir di Indonesia. Maksud kongkrit pertanyaan yg akan diajukan ialah sekitar pencalonan Megawati Sukarnoputri, Ketua Umum PDI-P sebagai capres untuk pemilihan presiden yad, -- dan Prabowo Subianto, Ketua Umum Gerindra, sebagai cawapresnya dalam pemilihan presiden yad.


Fikirku, ini memang masalah aktuil dan sedang hangat dibicarakan oleh media dan berbagai fihak. Tidak heran, Radio Nederland ingin memberitakan bagaimana pendapat seorang Indonesia di negeri Belanda mengenai kasus ini. Dalam Kolom Ibrahim Isa, tertanggal 09 April, berjudul APAKAH PEMILU KALI INI, SUDAH BENAR-BENAR DEMOKRATIS, sudah kucoba beberkan pendapatku sekitar masalah pemilu 2009. Intinya pemilu-pemilu yang diadakan sejak Reformasi, masih jauh dari benar-benar demokratis. Salah satu faktor yang menyebabkannya ialah masih adanya larangan terhadap pelbagai parpol. Antara lain yang terpenting larangan terhadap PKI, Masyumi, PSI dan Partai Murba. Pelarangan terhadap parpol-parpol tsb di masa lampau, tidak melalui proses hukum, yang adil, transparan dan benar. Khususnya larangan terhadap PKI. Lebih gawat lagi, sesudah itu dilakukan kampanye pembunuhan masal terhadap anggota-anggota PKI, yang dituduh PKI, simpatisan dan yang dianggap pendukung PKI.


Selama Tap MPRS No XXV/1966 yang melanggar UUD-RI dan Hak-hak Demokrasi, -- tidak dicabut, -- selama para korban pelanggaran HAM beserta keluarga mereka, khsusunya korban pelanggaran HAM terbesar pada Peristiwa Pembuhuhan Masal 1965, -- BELUM DIREHABILITASI hak-hak kewarganegaraan dan hak-hak politiknya, beserta belum dipulihkannya nama baik mereka, selama itu pula, tak ada demokrasi yang benar di negeri kita. Selama itu pula kapanpun pemilihan umum diadakan, -- pemilihan umum tsb bukan pemilihan umum yang sudah benar-benar demokratis.


* * *


Memang mengenai sandingan Megawati sebagai capres dan Prabowo Subianto, cawapres dalam pemilu yad belum ada tulisanku, karena hal itu adalah perkembangan belakangan.


Aku diberi waktu lima menit saja untuk siap-siap. Secepat kilat kususun dalam fikiran apa yang hendak kukatakan dengan terus terang dan jelas kepada Radio Nederland, untuk disiarkan ke publik Indonesia, bagaimana bunyi salah satu pendapat orang Indonesia di negeri Belanda terhadap koalisi PDI-P -- Gerindra tsb.


Berikut ini adalah Transkrip lengkap wawancara wartawan Radio Nederland tsb yang berlangsung melalui tilpun pada pagi hari, tanggal 18 Mei 2009.


*) Ibrahim Isa adalah seorang publisis

Sejak 2002, Sekretaris Wertheim Stichting, Amsterdam.


Sekitar KOALISI MEGA-PRABOWO.

Transkrip – Wawancara dengan RADIO NEDERLAND, , 18.05. '09.


Radio Nederland (RN):

Hallo!

Ibrahim Isa:

Ya!

RN:

OK! Selamat pagi ya pak!

Ibrahim Isa:

Selamat pagi. Saya bicara dengan siapa ini?

RN:

Dengan Fediya Andina.

Ibrahim Isa:

Dari Radio Nederland, ya?


* * *


RN:

Ya. Pak Ibrahim Isa, kan, juga mengikuti perkembangan di Indonesia, ya Pak?


Ibrahim Isa:

Ya, selalu!


RN:

Bapak mengetahui bawa Ibu Megawati itu akhirnya bersanding dengan Prabowo Subianto


Ibrahim Isa:

Apa ini sudah pasti, ya?


RN:

Pasti! Bagaimana ini menurut Bapak. Seorang anak Sukarno yang sebenarnya bergabung dengan musuhnya, boleh dibilang, Pak.


Ibrahim Isa:

Ya, sejauh mana itu musuhnya. Boleh saja dikatakan begitu.

Mengenai Megawati sendiri, tentu, seperti yang sudah kita dengar, banyak menyatakan bahwa, Megawati itu, biologis saja anaknya Bung Karno. Secara ideologis tidak begitu.

Itu suatu keterangan ia tidak bisa dikaitkan dengan masalah, apakah setia atau

pengikut atau tidak dari bapaknya, ya.

Itu satu.

Kedua: Kenyataan ini menunjukkan, bahwa, pendanaan dalam pemilu, terutama sekarang ini, masalah dana merupakan faktor yang berat sekali. Hal ini dipertimbangkan betul oleh macam-mcama partai yang mau menang dalam pemilihan ini.

Ketiga: Koalisi itu dengan siapa saja bisa terjadi. Karena, seperti juga banyak komentar dari berbagai kalangan, sebetulnya partai-partai yang tidak berdasarkan agama, tidak jelas perbedaan ideologi dan programnya. Sehingga kemungkinan koalisi itu bisa saja terjadi.


RN:

Jadi Bapak bilang, Megawati itu biologisnya saja Sukarno, tidak ideologinya.


Ibrahim Isa:

Memang banyak dikatakan demikian.


RN:

Tapi dia justru tampil ke depan , sebagai anak Sukarno, sebagai penerus cita-cita Sukarno.


Ibrahim Isa:

Itu hanya belakangan saja! Permulaan tidak. Karena, sekarang ini, mungkin karena ada faktor-faktor seperti masuknya Sudjatmiko dan kawan-kawannya ke PDI-P. Kalau dalam hal ini, Sudjatmiko secara ideologis dan programatis, itu lebih dekat dengan ide-ide dan konsep Bung Karno. Dibanding Ketua Umum PDI-P, Megawati, ya.


RN:

Kalau saya boleh bilang, ya, Bapak sebagai salah satu orang yang terhalang pulang dalam tanda kutip. Bagaimana menurut pandangan Bapak dalam pemilihan presiden kali ini. Dua dari calonnya itu menggandeng orang-orang yang tidak beres latar belakangnya. Melanggar hak-hak azasi manusia.


Ibrahim Isa:

Betul, Anda tegas sekali, ya! Yang Anda maksudkan itu, Wiranto dan Prabowo, ya?


RN:

Ya, betul!


Ibrahim Isa:

Yah, bagi saya itu, memang hal yang sulit diterima. Bahwa orang yang begitu terlibat dengan masalah-masalah kekerasan terhadap rakyat sendiri, itu bisa menduki jabatan tinggi demikian. Andaikata dia berhasil. Sulit untuk diterima itu!


RN:

Apa pemikiran di belakanganya, menurut Bapak.


Ibrahim Isa:

Kalau dilihat secara politis, antara PDI-P dengan Gerindra, dari pernyataan-pernyataan politiknya, memang ada kesamaan bahwa, dari segi mempertahankan RI atas dasar UUD, mempertahankan persatuan, dan melawan, apa namanya, usaha mensyariatkan Republik Indonesia ini, menjadikan RI, Republik Syariah Islam, ada kesamaan kedua partai ini. Kemudian, dari segi konsep ekonomi, yang merakyat, begitulah, yang populis, katakanlah yang Marhaenis, atau mirip-mirip sosialis, begitu, memang ada kesamaan.



Kalau dari segi habitat, Prabowo itu habitatnya itu orang-orang PSI, Partai Sosialis Indonesia. Bapaknya sendiri adalah salah seorang tokoh besar dari PSI. Jadi qua habitat itu pandangan-pandangan ekonominya, ekonomi kerakyatan, atau ekonomi sosialis, tidak asing kiranya bagi Prabowo. Mungkin lebih dekat terbanding dengan orang-orang PDI-P. Ekonomi marhaenis atau sosialis begitu. Bagi saya itu tidak heran, dari segi itu.


RN:

Yang Bapak herankan?


Ibrahim Isa:

Itu watak. Tokok-tokoh itu terlibat, meskipun belum dibuktikan secara juridis. Terutama Prabowo. Dia kembali lagi dan tidak diperkarakan, tokh? Tetapi secara umum, secara pengetahuan masyarakat, mereka terlibat dengan kekerasan. Jadi, sulit itu menerima satu pemimpin yang demikian.


RN:

Apakah menurut Bapak, rakyat Indonesia itu, melupakan atau tidak mau tau, tidak peduli, atau memang, bagaimana?


Ibrahim Isa:

Rakyat itu macam-macam pandangannya. Sesuai dengan kedudukannya, ya. Kalau rakyat yang umum, itu sebagian yang tidak kecil sudah bosan sebetulnya. Maka kalau dikatakan golput itu mendapat pasaran, atau mendapat dukungan, mengambil sikap golput, tidak ikut dalam pemilih, itu juga bisa difahami.


Tetapi di lain fihak, partai-partai yang aktif dalam pemilihan umum seperti partai PDI-P dan Golkar, juga Partai Demokrat meskipun baru terbentuk punya kekuatan, itu juga aktif untuk membawa pandangan masyarakat, atau pandangan rakyat ke arah pendiriannya. Rakyat itu pada suatu ketika, tidak akan anblok menjadi golput. Mereka akan menentukan pilihannya. Mereka juga mengerti baik dengan SBY , dengan Mega, dengan Jusuf Kala, itu mereka sudah ada pengalaman.

Saya percaya, satu ketika, rakyat itu sendiri, tentu tidak semua, akan menentukan pilihannya.


RN:

Bagaimana menurut Bapak di Belanda sendiri. Pandangan teman-teman Bapak misalnya.


Ibrahim Isa:

Saya harus tegaskan, saya tidak bisa bicara atas nama mereka, ya. Mereka punya pandangan yang berbeda-beda. Tidak sedikit yang memahami bahkan, berpendapat, memang lebih baik golput saja. Tetapi sebagian besar yang belum memiliki paspor, dan belum bisa kembali, karena kedudukannya sebagai orang yang dicabut paspornya, berfikir: Yah kita liat saja, kita liat saja. Jadi, siapapun yang akan terpilih, tidak akan menaruh harapan apa-apa. Ini bagaimanapun harus dilalui.


RN:

Tetapi, apakah mereka tidak melihat ini justru sebagai suatu proses yang justru balik lagi ke belakang, begitu?


Ibrahim Isa:

Dari satu segi, ada proses kemunduran itu. Tetapi, dari segi lain itu juga, merupakan, apa namanya itu, ya, merupakan gugahan untuk lebih banyak berfikir. Saya lihat di kalangan masyarakat Indonesia, maupun di kalangan mahasiswa, itu secara teratur diadakan pertemuan-pertemuan untuk membicarakan, masalah politik dalam negeri. Sebentar lagi juga akan membicarakan masalah pemilu. Ya, suatu pertemuan yang banyak peminatnya, kana diadakan oleh JKI. JKI itu adalah Jaringan Kerja Indonesia. Kebanyakan terdiri dari para mahasiswa.


RN:

Dan bagaimana menurut Bapak sampai sekarang, apakah mereka berfikir ini adalah suatu jalan demokrasi atau suatu langkah yang bagaimana. Bagaimana ini.


Ibrahim Isa:

Perkembangan itu, saya bilang lagi ya, pendapat ini di berbagai lingkungan tidak sama. Tapi ada kesamaan. Yaitu: bahwa biar bagaiamanapun, kalau kita memang ingin menempuh demokrasi, menempuh jalan menjadikan negara ini negara yang betul-betul konstitusionil dan negara hukum, maka perkembangan ini, tak bisa tidak harus dilalui.


Bagaimanapun harus dilalui!


RN:

Ya, nanti akan tiba saatnya, akan ada tahap yang berikutnya., begitu,


Ibrahim Isa:

Ya, tahap yang berikutnya. Banyak yang menyatakan, memang dalam parlemen yad ini, bukan tidak mungkin banyak orang-orang muda, dan juga ada orang-orang yang ada kemauan baik. Karena pemilihan sekarang ini, kan, tidak semata-mata partai. Orang tokh, yang dipilih. Pemilihan untuk parlemen tokh.


RN:

Pemilihan presiden itu nanti, memang tokoh yang dipilih, jadi orang.


Ibrahim Isa:

Tapi parlemen juga begitu, kan? Yang dicontreng adalah namanya, bukan tanda gambar partai. Namanya. Jadi, bukan mustahil, bahwa, akan duduk di parlemen orang-orang yang ada kemauan baik, begitu. Tetapi, tidak bisa bersandar pada mereka itu.

Jadi, bagaimana? Harus mengembangkan aksi-aksi yang ekstra-parlementer. Tetapi yang tidak melanggar undang-undang. Ekstra parlementer yang menggugah masyarakat luas.


RN:

Dan itu yang dilakukan oleh banyak orang di Belanda sini. Jadi mereka melakukan aksi-aksi yang menggugah. Supaya berfikir politik yang lebih luas.


Ibrahim Isa:

Ya! Aksi-aksi itu, antara lain mengadakan seminar, pertemuan, dan semacam itulah. Yang bertentuk tukar fikiran. Mengundang orang-orang tertentu, tokoh-tokoh dari Indonesia dari kalangan aktivis. Jadi juga berusaha mempengaruhi fikiran yang berkembang di Indonesia sekarang ini.


RN:

Bagaimana tanggapan Bapak, banyak fihak yang mengatakan di Indonesia, bahwa kita sebanyak mungkin bersuara, agar rakyat mengetahui yang akan mereka pilih itu siapa. Latar belakangnya apa, dan apa yang telah mereka lakukan. Misalya, apa yang dilakukan oleh Suciwati, itu yang jelas-jelas menolak Prabowo, begitu.


Ibrahim Isa:

Jadi, banyak fikiran ini, sejalan dengan itu. Sejalan dengan fikiran menyoroti dan mengungkap terutama tokoh-tokoh seperti Wiranto dan Prabowo itu.


RN:

Jadi, memberi pelajaran, ya Pak?


Ibrahim Isa:

Bagi saya sendiri ini juga sesuatu hal yang tidak bisa dikatakan negatif. Sebab, kalau kita betul-betul ingin masuki alam kegiatan perjuangan demokrasi, harus melalui jalan ini. Begitu!


RN:

Pak Ibrahim Isa, terima kasih banyak, atas tanggapannya.


Ibrahim Isa:
Ya, sama-sama. Semoga anda sehat dan sukses dalam pekerjaan.


RN:

Pak, terima kasih banyak.


Ibrahim Isa:

Mari.