Sunday, February 14, 2010

*MENGENANG A.S. MUNANDAR*

*IBRAHIM ISA*

*Kemis, 21 Januari 2010*

*------------------------------*


*MENGENANG A.S. MUNANDAR*

**


Begitulah rasanya, bila sahabat lama, sahabat karib, yang dirasakan sebagai salah seorang yang terdekat, meninggalkan kita. Tiba-tiba kekosongan mendadak. Sedih! Kehilangan! Terasa ditinggalkan. Terasa kesepian merasuk mencengkam.


Meskipun sudah diperkirakan bahwa saat itu akan tiba, bahwa ia akan 'pergi lebih dulu'. Kali ini ia dua kali berturut-turut menjalani operasi jantung. Sejak 31 Desember 2009 y.l ia dioperasi by-pass. Dan sejak itu ia belum pulih. Belum siuman. . . . . Tokh, berita duka itu datangnya mengejutkan dan amat menyedihkan!


Mulai saat itu, kemana saja pandangan ini diarahkan, wajah A.S Munandar yang ramah dan yang suméh itu, tidak hendak pergi dari fikiranku. Mulailah ingatan melang-langbuana. Jauh ke masa-masa ia masih bersama kita. Dan meskipun masa-masa itu tidak selalu tenang dan santai, namun, dirasakan mendalam dasn mengesankan. Mencengkam dan membekas.


Aku pernah mengatakan bahwa A.S. Munandar, bagiku, seperti abangku sendiri. Sesungguhnya hubungan kami lebih dekat dari itu. Aku tak pernah membicarakan hal-hal yang begitu luas dan mendalam dengan abang-abangku, ataupun kakak-kakak perempuanku. Juga tidak pernah dengan orangtua ataupun sanak saudara lainnya. Dengan A.S. Munandar aku bisa bicara soal apa saja. Mulai masalah sehari-hari sampai ke soal politik, budaya dan ilmu pengetahuan. Juga soal-soal pribadi tidak terkecuali. Begitu dekatnya hubungan yang menjalin kami.


* * *


Mengingat-ingat kembali apa yang dikatakan A.S. Munandar, itu sering kulakukan. Atau membicarakannya dengan sementara kawan lainnya yang juga dekat dengan dia. Melihat-lihat kembali foto bersama yang sempat diambil diwaktu belakangan ini.


Tetapi yang paling dirasakan mengesankan dan merupakan semacam belajar lagi, seperti mendengarkan kuliah, ialah, membaca kembali tulisan-tulisannya. Disinilah terasa benar betapa tepat pada waktunya, masih 'keburu', ketika sahabat kita, M. Kasim dan beberapa kawan lainnya bercancut-taliwondo mengusahakan dan berhasil menerbitkan buku A.S. Munandar, "KUMPULAN TULISAN" -- Pendapat dan Pandangan (1990 -- 2009). Itu terjadi kurang dari setahun sebelum A.S. Munandar pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya.


Perhatikan tulisan "Sekapur Sirih" oleh M.Kasim, penyusun buku

A.S. Munandar tsb :


"Dalam kedudukan Bung Cip sebagai Ketua Pengurus Yayasan Studi Asia ( "Stichting Azïe Studies") dan tentu orang tak lepas melihat Bung Cip sebagai mantan Prorektor Akademi Ilmu Sosial "ALIARCHAM" di masa lalu dan pula sebagai orang "tua yang dituakan", beliau banyak diminta memberikan ceramah dan melakukan temuwicara dengan berbagai pihak dan kalangan."


. . . . . "Dari tulisan-tulisan Bung Cip yang terdapat dalam kumpulan ini ada dua hal yang penting yang ingin saya sampaikan. Pertama, pengenalan Bung Cip yang kaya akan obyek yang dibcarakan. Ini hanya lahir dari bacaan yang banyak dan kepustakaan yang lengkap. Kedua, kelihatan dengan jelas penguasaan Bung Cip akan karya-karya klasik dan dijadikannya sebagai panah untuk menyasar sasaran yang dibicarakan".


"Dengan berdasarkan dua hal tsb dan kemudian dituliskan, dirangkum dan dituangkan dengan bahasa Indonesia yang sederhana dengan kalimat-kalimat yang singkat dan padat. Dengan demikian kita akan berkesan dan merasakan bahwa tulisan-tuisan Bung Cip mudah dimengerti dan dicernakan. Adalah tidak berlebihan jika seorang anak muda mengatakan bahwa tulisan Bung Cip: "/Every word is meaningful"./


Kiranya ada baiknya ditambahkan *satu lagi faktor penting* untuk memahami mengapa tulisannya begitu padat dan 'every word is meaningful' . *Itu disebabkan karena sebagian terbesar dari hidupnya Bung Cip berkecimpung, ambil bagian langsung dalam gerakan revolusioner Indonesia. Demi merealisasi cita-cita rakyat Indonesia mencapai keadilan dan kemakmuran.*


* * *


Membaca artikel-artikel politik, ekonomi dan teori -- nasional dan mancanegara, dengan latar belakang pengetahuan perkembangan Indonesia sampai belakangan ini, tidak keliru bila orang menyimpulkan:


*A.S. Munandar adalah seorang pejuang, patriot yang cinta tanah air dan pengabdi bangsa. Ia juga seorang patriot dan Marxis. Seorang yan progresif revolsuioner. Yang berusaha menggunakan pengetahuannya mengenai Marxisme, untuk memahami keadaan kongrit perkembangan politik Indonesia maupun internasional, serta menjelaskannya. *


Tidak kebetulan bahwa artikel pertama dalam bukunya, adalah mengenai

MASALAH SOSIALISME DEWASA INI (April 1990). Ini adalah teks berdasarkan ceramah yang diselenggarakan AKSI SETIAKAWAN, Amsterdam, April 1990 dan dimuat dalam majalah MIMBAR dengan nama pena Asnan.


Disusul dengan artikel-artikel menyangkut situasi tanah air dan bangsa. Seperti:

"Masalah Kesatuan Bangsa Dalam Perspektif"(Beberapa Tesis) (20 Mei 1994). Lalu

"Demokratisasi Dan Masalah Kesatuan Bangsa (Awal Oktober 1995). Lagi mengenai masalah bangsa kita: "Masalah Kesatuan dan Persatuan Bangsa Indonesia Dalam Perpsektif (Beberapa Tesis) (23 Desember 2001).


Dan mengenai Marxisme: "Tentang Pamahaman Mengenai Materialisme Dialektika dan Histori" (20 Desember 2005). Lagi: "Tentang Sifat dan Kontradiksi Pokok Maysrakat Indonesia Dewasa ini"(11 April 2004).


Juga menarik dan edukatif adalah tulisan A.S. Munandar,

"Pengantar Pada Peluncuran Buku Kapital" ( Jilid III, Karl Marx (3 Mei 2007)


Dalam bahasa Inggris: "Random Notes On Marxist Philosophy"( 12 March 2008).

Makalah ini disampaikan di Den Haag di hadapan "Marxist Study Group" yang para pesertanya adalah mahasiswa dari berbagai negeri yang sedang melanjutkan studinya di Negeri Belanda. Ceramah ini diberikan oleh A.S. Munandar, atas saran dan permintaan para mahasiwa dari pelbagai negeri tsb.


Dan satu lagi artikel mengenai "Sosialisme -- Alternatif Pengganti Kapitalisme".


* * *


Judul-judul artikel dalam buku A.S. Munandar yang disebut diatas, adalah beberapa saja. Sekadar memberikan gambaran umum mengenai buku tsb untuk menggugah pembaca mencari, memiliki dan membaca sendiri buku penting karangan A.S. Munandar itu.


Mengakhiri tulisan ini, kiranya baik dicatat:


Bagi yang berminat hendak memesan buku tsb. Silakan catat alamat M. Kasim, distributor buku A.S.Munandar.


M.Kasim, Gravin Juliana Van Stolberglaan, 2263 Leidsendam, Holland.





* * *
IBRAHIM ISA
Selasa, 19 Januari 2010
-----------------------

IN MEMORIAM A.S. MUNANDAR
< 02 Mei 1924 -- 18 Januari 2010>

A.S. Munandar, Bung Cip, sapaan akrabnya, --- kukenal beliau sudah sejak di Indonesia tahun enampuluhan. Sejak kenal pertama, tak bertemu lagi. Kudengar kemudian beliau menambah studinya di Jerman. Peristiwa G30S 1965, yang berlanjut dengan kampanye pembantaian masal 1965 menyebabkan A.S. Munandar terdampar di luar negeri. Sama seperti korban Orba lainnya, paspor A.S. Munandar dicabut oleh rezim Orba.

Sejak sama-sama menjadi 'orang yang terhalang pulang', kami sering bertemu. Berdomisili di negeri Belanda, kami sering melakukan kegiatan bersama. Demikianlah, persahabatan kami semakin erat dan aku semakin kenal A. S. Munandar.

A.S. Munandar adalah seorang pejuang demokrasi dan HAM. Ia yakin benar kebenaran dan keadilan cita-cita yang diperjuangkannya. Adalah keyakinannya bahwa realisasi cita-cita sosiaisme, sosialisme dengan ciri Indonesia-lah, yang akan membebaskan Indonesia dari penderitaan, kemiskinan dan ketidakadilan.

* * *

Mendengar berita duka meninggalnya A.S. Munandar, reaksi pertama, ialah, amat merasa sedih dan begitu merasa berat kehilangan seorang kawan seperjuangan. Seakan-akan otomatis, kuambil dari rak bukuku, buku kumpulan tulisan A.S.Munandar yang diluncurkan pada tanggal 02 Mei 2009, berjudul "KUMPULAN TULISAN -- Pendapat dan Pandangan" (1990-2009, bertepatan dengan hari ultahnya yang ke-85 (02 Mei 2009). Ketika itu sejumlah sahabat berkumpul bersama keluarga A.S,. Munandar memperingati hari ultah ke-85 beliau. Amat berkesan. Kuminta agar ia menulis sesuatu pada bukunya yang kumiliki itu. A.S. Munandar menulis sbb: "Untuk Bung Isa tercinta. Sama-sama senasib seperjuangan". Sungguh mengharukan. Amat mengesankan!

Isi buku itu, adalah salah satu kenang-kenangan dan warisan A.S. Munandar yang paling berharga bagiku. Amat berguna sebagai bahan pemikiran dan petimbangan dari seorang pejuang senior, bagi generasi muda penerus cita-cita perjuangan demi Indonesia Baru yang adil dan makmur.

Di bawah dimuat sambutan yang ku-ucapkan ketika memperingati Ultah Ke-85 A.S. Munandar, 02 Mei 2009 y.l.

Pada kesempatan ini atas nama serluruh keluarga kami, kusampaikan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga A.S.Munandar, putrinya Amik Asmiyati, suaminya Nikon, dan putra-putrinya, dan kepada seluruh keluarga besar A.S, Munandar. Semoga mereka tabah menghadapi musibah ini.

Semoga arwah A.S. Munandar diterima disisi Tuhan Y.M.E.

INNA LILLAHI WA INNA ILLAHI RAJIUN.

* * *

Sambutan pada Ultah Ke-85 Bung SUCIPTO *
Amsterdam, 02 Mei 2009.

Kawan-kawan dan hadirin yang budiman,

Terlebih dulu kepada Bung Cipto saya ucapkan SELAMAT BERULTAH KE-85! Juga kepada Ami sekeluarga, selamat dan bahagia. Memang, pada tempatnya pada hari ini, kita semua merasa bahagia.

Merasa bahagia bersama Bung Cipto sekeluarga, baik yang ada di sini dan di tanah air, dimanapun terdapat anggota keluarga Bung Cipto. Semua merasa bahagia karena salah seorang kawan kita, hari ini telah mencapai usia 85 tahun. Bersama-sama memperingatinya dan mengucapkan selamat kepada beliau.

* * *

Sungguh tak sederhana bagi seseorang untuk mencapai usia 85 tahun. Saya ingat kata-kata pemimpin revolusioner rakyat Vietnam, Presiden Ho Chi Minh. Pada usianya yang ke tujuhpuluh tahun, beliau menyatakan bahwa tidaklah mudah bagi seseorang untuk mencapai usia 70 tahun. Sedangkan Bung Cipto sekarang ini telah mencapai usia 85 tahun. Apalagi dalam usia setinggi itu, pada pokoknya masih sehat, penglihatan masih jelas dan pendengaran masih bagus. Jalan masih bisa sendiri dsb.

Tetapi yang terlebih heibat lagi, ialah bahwa dalam umur sekian lanjut itu, Bung Cipto, fikirannya masih jernih, maju, progresif dan REVOLUSIONER. Diatas segala-galanya beliau optimis dan semangatnya tetap tinggi, kepeduliannya terhadap tanah air dan bangsa tak pernah kurang dalam keadaan bagaimanapun. Senyumnya menarik dan menyenangkan!

* * *

Apa yang saya katakan ini sangat beralasan. Ada dasarnya! Sejak di tanahair mengenal beliau selagi masih Bung Cip bertanggungjawab sebagai prorektor Akademi Ilmu Politik dan Sosial Aliarcham, kemudian sama-sama di Timur, sama-sama di Barat, sama-sama di SAS, sama-sama di pelbagai forum tukar fikiran, kiranya tidak salah bila saya katakan bahwa, saya cukup mengenal Bung Cip. Sebagai kawan seperjuangan yang sulit dicari samanya. Sebagai seoang kawan yang selalu bersedia diajak bertukar fikiran. Kapan saja bersedia memberikan saran-saran ataupun kritik yang berterus terang dan amat bersahabat. Dikritik betapapun kerasnya, tetap ia dengarkan dengan senjum. Tidak marah!

Maka saya menganggap beliau ini sebagai abang saya. Tempat bertanya dan berkonsultasi. Sebagai abang yang mendorong saya berfikiran kritis dan menggugah untuk berfikir dan berfikir berulang kali mengenai sesuatu hal.

Apa yang saya katakan mengenai kejernihan fikiran beliau, sikap dan pandangan revolusioner dan optimis --- itu semua dapat kita tau bila membaca buku AS MUNANDAR, Kumpulan Tulisan, Pendapat dan pandangan (1990-2009), yang diluncurkan pada hari ini.

Membaca buku tsb yang isinya, sebagian terbesar telah kita ketahui semua pada saat ikut mendengar ceramah dan pandangannya dalam pelbagai forum diskusi. Ada satu lagi yang menonjol, yaitu sikap dan pandangannya yang INDEPENDEN. Semua yang diutarakannya itu, adalah pandangan dan hasil pemikirannya sendiri. Sesungguhnya bila saya ditanya, apa yang paling menonjol dari sikap Bung Cipto mengenai segala.

Bagi saya, yang menonjol dan baik diteladani ialah fikirannya yang INDEPENDEN. YANG BERDIKARI.


Cara berfikir beliau inilah yang merupakan inspirasi dan memberikan semangat optimisme revolusioner yang menjadi teladan bagi saya.

* * *

Masih banyak hal yang dapat dikemukakan disini mengenai Bung Cipto. Bung Cipto sebagai kawan, sebagai manusia dan sebagai cendekiawan. Ya sebagai cendekiawan.

Meskipun tak bertitel, fikiran dan pengetahuan Bung Cipto, sikapnya yang tidak tergesa-gesa dan sabar mencari fakta dan alasan serta argumentasi, bagi saya adalah sesuatu yang lebih unggul dari kebanyakan yang tamat perguruan tinggi formal.

Bagi saya, itulah yang terutama yang merupakan teladan.

* * *

HARAP PERHATIKAN PAK!!! -- SENTILAN

IBRAHIM ISA – Catatan Partikeliran
Senin, 18 Januari 2010
----------------------------------





“APAKAH ORANG TIONGHOA SUDAH KEHILANGAN PERCAYADIRI?”


Minggu kemarin, salju yang menutupi Holland dua pekan lebih, akhirnya tokh mulai mencair. Sebetulnya mulai Sabtu yl dimulai proses pelumeran. Tapi dari Jerman kuterima berita bahwa di situ mulai lagi turun salju lebat. Berita radio Belanda hari ini mengatakan bahwa Selasa besok akan turun lagi salju. Sungguh,musim dingin kali ini sulit diramal.


Duduk santai membaca cerpen Lu Xun benar-benar mengasyikkan. Asyik mengagumi kamampuan dan ketajaman Lu Xun sebagai penulis cerpen. Menggugah pembacanya berfikir, sekali lagi berfikir. Cerpen-cerpen Lu Xun selalu berlatar belakang dan mengenai apa yang terjadi di masyarakat Tiongkok. Selalu bersumber dan berpijak pada kenyataan riil. Langsung ataupun tidak.


Membacanya dewasa ini, fikiran pembaca dibawanya jauh ke masa lampau di Tiongkok . Ketika itu Tiongkok sudah tujuh tahun lamanya dikuasai rezim Kuomintang di bawah Jenderalisimo Chiang Kai Sek. Cerpen Lu Xun yang kubaca Mnggu kemarin berjudul:


“*Apakah Orang Tionghoa Sudah Kehilangan Percaya Diri?”.* <25 September 1934>


Karya tsb keluar 7 tahun setelah berlangsung 'Pembantaian Shanghai', 12 April 1927. Ketika Chiang Ka Sek memulai kampanye anti-Komunis, mengakhiri kerjasama, atau suatu front nasional KMT-PKT yang digalang oleh mantan pemimpin KMT, Dr Sun Yatsen. Lebih 300 Komunis dan simpatisannya dieksekusi. Lebih seribu ditangkap dan dipenjarakan. Limaribu lainnya “hilang” atau 'dihilangkan'.


Namun, Partai Komunis Tiongkok tidak tinggal diam. Mereka berlawan. Dengan senjata ditangan. Partai Komunis Tiongkok memimpin Pemberontakan Panen Musim Rontok di propinsi Hunan, 7 Desember 1927. Dan melanccarkan pemberontkan Guangzhou, 19 Desember 1927. Sebelumnya berlangsung Pemberontakan (Tentara Nasional di) Nanchang, pada tanggal 1 Agustus 1927.. Hari 1 Agustus 1927 tsb kemudian diresmikan menjadi lahirnya Tentera Pembebasan Rakyat Tiongkok TPRT dari Republik Rakyat Tiongkok ( 1 Oktober 1949). Pada tanggal 1 Agustus 1927 itu sebagian dari Tentara Nasional Tiongkok, di bawah pimpinan Zhou Enlai, Ho Lung, Zhu Teh, Yeh Ting dan Liu Bo Cheng dll, melalui pemberontakan tsb mendirikan tentara sendiri di bawah pimpinan PKT.Tujannya adalah melakukan perlawanan bersenjata melawan teror militer KMT dan demi meneruskan revolusi Tiongkok yang dimulai oleh Dr Sun Yatsen, sampai selesai.



Keunggulan militer KMT dan kesalahan taktis dan strategis Tentara Merah Tiongkok di bawah pimpinan PKT menyebabkan kekalahan daerah basis revolusioner Tiongkok di Jiangxi, dengan ibukota Ruijing. Mulai saat itulah, Oktober 1934, Tentara Merah Tiongkok memulai yang kemudian dikenal dunia dengan “LONG MARCH”. Jasanya wartawan Amerika, Edgar Snow, menulis buku otentik dan historis “Red Star Over China”, 1935., yang antara lain mengabarkan ke seluruh dunia tentang kekuatan Partai Komunis Tiongkok, Tentara Merah Tiongkok yang dipimpinnuya serta darah basis revolsioner di Shaanxi. Edgar Snow diselundupkan oleh organisasi rahasia PKT menyelinap ke daerah basis revolsuioner Tiongkok di Yenan, Shaanxi.



Patut menjadi catatan sejarah yang tidak boleh dilupakan: Partai Komunis Tiongkok memimpin Tentara Merah Tiongkok, mencetuskan revolusi tani di sepanjang perjalanan panjang menuju Yenan. Mereka melakukan “Long March” bukan semata-mata untuk menghindarkan diri dari kampanye pemusnahan militer KMT. Mereka melakukan “Long March” menuju Tiongkok Barat Laut, dengan maksud di tempat baru itu membangun kekuatan besenjata rakyat. Dengan tujuan melakukan perang perlawanan terhadap agresi militer Jepang terhadap Tiongkok. Mereka menawarkan kepada KMT suatu kerjasama, suatu front menghadapi agresi Jepang, membela tanahair Tiongkok. Mendemonstrasikan kepada seluruh rakyat Tiongkok, bahwa kaum Komunis Tiongkok meletakkan kepentingan di atas kepenting lainnya. Akhirnya . KMT yang kepala batu anti- Komunis itu, terpaksa setuju dengan front bersama dengan PKT menghadapi agresi Jepang dan membela tanah air. Jendral Chiang Kaisek terpaksa setuju, sesudah ia diculik dan dipaksa oleh jenderal-jendralnya sendiri untuk menerima tawaran PKT dan aktif melawan agresi Jepang dan membela tanah air.



Betapa bijaksana dan lapang dadanya serta benarnya politik front persatuan PKT. Walaupun mereka sudah babakbelur, hampir saja dimusnahkan oleh KMT. Begitu luar biasa penderitaan mereka, namun, tidak mengutamakan balas dendam, tetapi, berlapang dada menawarkan persatuan dengan KMT demi melawan Jepang.



* * *



“LONG MARCH” Tentara Merah Tiongkok dibahwa pimpinan PKT, merupakan sebuah epik dalam sejarah modern Tiongkok. Sebuah pengalaman sejarah. Peristiwa tsb merupakan manifestasi heroisme patriotik, keberanian dan pengorbanan dan kepahlawan kekuatan revolusioner Tiongkok. “Long Mrach” adalah sejarah kampanye dan kontra-kampanye militer yang tak ada taranya dalam sejarah modern Tiongkok. Ia juga merupakan serjarah heroisme dan kemenangan Partai Komnis Tiongkok. Banyak penulis sejarah yang menamakan dirinya 'peneliti', 'pengenal' ataupun 'pakar Tiongkok' kurang atau samasekali tidak mempedulikan fakta sejarah ini. Bahkan ada penulis asing 'pengenal Tiongkok', yang berusha merekaya fakta sejarah ini.

Kelanjutan dari politik front persatuan bersama dengan KMT melawan agresi Jepang telah menghasilkan suatu TIONGKOK yang BANGKIT DIDUNIA! Telah melahirkan TIONGKOK BARU, Republik Rakyat Tiongkok. Menjadilannya setara bahkan kemudian unggul di dunia iternasional.



Tulisan ini, bisa saja dirasa seperti 'ngalor-ngidul'! Tidak! Tidak 'ngalor ngidul'. Sedikit pembebebran fakta sejarah ini PERLU SEKALI. Untuk memberikan latar belakar sejarah dalam situasi Tiongkok yang bagaimana Lu Xun menulis karyanya APAKAH ORANG TIONGHOA SUDAH KEHILANGAN PERCAYA DIRI?

Lu Xun telah memberikan jawabannya sendiri terhadap pertanyaan tsb:

“Dalam menelaah keadaan rakyat Tiongkok, kita tidak usah tertipu oleh lapisan tipis menipu diri-sendiri, tetapi harus melihat otot-otot dan tulang-belakangnya. Apakah percaya diri itu ada atau tidak ada tak dapat dilihat dari tulisan-tulisan para cendekiawan dan menteri-menteri, untuk menemukannya kita harus mencarinya DIBAWAH TANAH.”



Kekuatan itu tak diragukan adalah kekuatan revolusioner bersenjata kaum Komunis dan pendukungnya, yang ketika dimulainya 'Long March” berjumlah plus minus 300.000 orang; tiba di Yenan, Shaanxi, hanya tinggal 10% dari kekuatan semula, hanya 30.000 orang saja. Namun, dengan modal kekuatan ini mereka membangun dan mengembangkan kekuatan baru yang mampu mengalahkan pendudukan Jepang, dan memenangkan Revolusi Demokrasi Baru Tiongkok.



Kiranya: Yang dimaksud Lu Xun DIBAWAH TANAH itu, adalah otot-otot, tulang-belakang percdaya diri yang ada pada kaum Komunis Tiongkok dan kekuatan revolusioner yang dipimpinnnya.



* * *



Marilah ikuti cerpen Lu Xun yang luarbiasa analitis dan tajam:



“*APAKAH ORANG TIONGHOA SUDAH KEHILANGAN PERCAYA DIRI“?*

*Oleh LU XUN*

Ditinjau dari tulisan-tulisan yang disiarkan, adalah suatu kenyataan bahwa dua tahun yang lalu kita terus saja menyombongkan diri mengenai “wilayah luas dan sumber-sumber kekayaan kita”. Juga adalah kenyataan bahwa tidak lama kemudian kita berhenti menyombongkan diri, tetapi menaruh harapan kita pada “Liga Bangsa-Bangsa”. Dan lagi-lagi adalah suatu kenyataan bahwa dewasa ini kita tidak lagi menyombongkan diri, juga tidak lagi melimpahkan kepercayaan kita pada “Liga Bangsa-Bangsa”, tetapi, kita telah beralih bersembahyang pada Tuhan-Tuhan serta menyembah Budha atau bergelimang dengan kenang-keangan nostaljik.



Begitulah, kita menemukan orang yang meratap-ratap: Orang-orang Tionghoa sudah kehilangan kepercayaan pada diri sendiri.



Bila kita cermati dari gejala sedikit ini saja, maka kita akan kehilangan kepercayaan pada diri kita sendiri. Bahkan andaikatapun kita punya kepercayaan atas diri sendiri mula-mula pada “wilayah” dan “sumber-sumber”, kemudian pada ”Liga Bangsa-Bangsa”, kita tidak lagi punya kepercayaan 'pada diri sendiri'. Bilamana itu bisa dihitung sebagai semacam “kepercayaan pada hal-hal lain”, tetapi inipun sudah lenyap sejak kita merasa kecewa terhadap”Liga Bangsa-Bangsa”.



Bila seseorang kehilangan kepercayaan pada hal-hal lain, maka ia menjadi ragu-ragu; tetapi akhirnya ia bisa memiliki kepercayaan hanya pada dirinya sendiri, dan ini merupakan jalan baru. Sayangnya ialah bahwa kita menjadi mistik. Kepercayaan pada “wilayah” dan pada “sumber-sumber” adalah sesuatu yang gamblang; “Liga Bangsa-Bangsa” lebih remang-remang, tetapi setidak-tidaknya tidak makan waktu lama untuk menyadari bahwa itu tak dapat dipercaya. Bilamana seseorang mulai sembahyang menghadap Tuhan-Tuhan atau menyembah Budha, hal ini begitu mistiknya sehingga ia tidak bisa cepat menyadari apakah hal itu baik atau tidak; oleh karena itu ia bingung dalam waktu lebih panjang

Dewasa ini orang-orang Tionghoa mengembangkan “penipuan diri sendiri”. Tetapi “menipu diri sendiri” juga bukan barang baru, hanya sekarang ini semakin lama semakin tampak dan meliputi semua hal. Tetapi di balik gaun ini masih ada orang-orang Tionghoa yang tidak kehilangan kepercayaannya pada diri sendiri.



Sejak purbakala kita memiliki orang-orang yang bekerja diam-diam, orang-orang yang gigih bekerja keras dengan risiko nyawa mereka, mereka itu berjuang untuk menyelamatkan orang lain, merka menantang maut untuk mencari kebenaran . . . Bahkan sejarah dinasti yang standarpun, yang itu adalah semata-mata catatan keluarga raja-raja, menteri-menteri dan jendral-jendral, tak dapat menyembunyikan kebesaran mereka (orang-orang yang tidak kehilangan kepercayaan pada diri sendiri tsb. I.I.): orang-orang tsb adalah tulang-punggung Tiongkok.



Bahkan sekarangpun banyak orang serupa itu. Mereka punya kepercyaan teguh dan tidak menipu diri sendiri. Bila seorang di garis depan gugur, yang lainnya di belakang maju kedepan dan meneruskan perjuangan. Hanyalah karena mereka diinjak-injak, di blackout dari pemberitaan, disembunyikan di kegelapan, sehingga kebanyakan orang tidak ada cara untuk mengenal mereka. Untuk mengatakan bahwa beberapa orang Tionghoa telah kehilangan kepercyaan pada diri mereka adalah benar, tetapi untuk mengatakan bahwa ini menyangkut seluruh nasion. Itu tidak lain tak bukan, adalah suatu penghinaan.



Dalam menelaah rakyat Tiongkok, kita tidak boleh tertipu oleh penutup yang menyembunyikan penipuan terhadap diri sendiri, teapi harus melihat otot-otot dan tulang-belakang. Apakah rasa percaya pada diri sendiri itu ada atau tidak, tidak bisa dilihat dari tulisan-tulisan para cendekiawan dan menteri-menteri -- untuk menemukannya kita harus mencarinya di bawah tanah.

25 September 1934. * * *

TED NEWS AND VIEWS

IBRAHIM ISA'S – SELECTED NEWS AND VIEWS
Thirsday, 14 january 2010*
---------------------------------------


A FORGOTTEN PIECE OF HISTORY


BOOK BANNING IN INDONESIA . . . JOHN ROOSA


MULYANI FELT SHE WAS FOOLED . . .


HOUSE COMMITTEE BEGINS QUESTENING J. KALLA


ICW – SUPREME COURT RULING S DISCOURAGE FIGHT AGAINST GRAFT

-----------------------------------------------------------------------------------

RI’s IDEPENDENCE DAY – A FORGOTTEN PIECE OF HISTSORY
Karina Soemarwoto* , Leiden, The Netherlands | Thu, 01/14/2010 9:24 AM | Opinion

On Nov. 15, 2009, a seminar was held at the Central Museum of Utrecht, the Netherlands. Besides its title, “Images of the Truth”, what made the event interesting was that it analyzed the Indonesian
independence movement from a Dutch perspective in the presence of experts on Indonesia, such as Prof. Dr. Nico Schulten Nordholt, as guests.

Had an Indonesian attended the meeting, they would have felt offended at the occasion. If they were familiar with the Dutch view of the issue, only the element of surprise would have vanished.

An expressive attitude on the Dutch behalf created the impression that the demand for independence by the indigenous East Indian population was truly notable only after the Japanese presence and the “occupation” by the Westerners. Occasionally, the view that colonization is beneficial to the occupied population was dropped in.

Sometimes this was done explicitly, for instance by casually mentioning that roads were built during the Dutch presence, and that the VOC traded with the East Indies.

At other times this was done implicitly, for instance by showing Eddy Cahyono’s movie Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang (Between the Past and Present) to end the seminar.

The latter could be interpreted as taking the essence of the movie of its context, creating an offensive implication of Indonesians.

The above forms only one example of an occasion in which Indonesia’s independence is perceived as such. This is not a rare perception of Dutch East Indian history in the Netherlands.

It is important that the Indonesian people devote their attention to Dutch disagreements on the topic of Indonesian independence, simply because the injustices thrust upon them in the past have not been resolved to this very day.

Indonesia declared independence on Aug. 17, 1945, while the Netherlands only recognized Indonesia’s sovereignty on Dec. 27, 1949. In the period in between, laws in the Netherlands were hurriedly amended to allow newly drafted soldiers to be deployed to Indonesia at a younger age, starting 1947.

It is well known that some of these draftees committed actions akin to genocide and war crimes, often referred to as gewelddadige pacificatie (violent pacification), during the politionele acties (political action).

Understandably, it is very unfavorable for today’s Dutch government to apologize for “having
stood on the wrong side of history” (as former Dutch foreign minister Bernard Rudolf Bot formulated in 2005) and recognize that Aug. 17, 1945, was the day Indonesia became a sovereign state.

Had they done so, it would mean the Netherlands had illegally invaded a sovereign state in the period between August 1945 and December 1949, and may have to pay high compensation for all kinds of damage done unto Indonesia and its people.

Yet one may question what right the Netherlands had to send their military to a state that had declared itself independent.

As if the newborn country had not undergone enough turmoil, when the Netherlands finally recognized its sovereignty, Indonesia was made to inherit the debts of the former Dutch East Indies.

The final amount to be paid was more than 4 billion Dutch guilders, which also covered the costs for the politionele acties, paid off from 1950 to 1956.

This amount was almost as much as the money that the Netherlands received from the Marshall Plan. As the amount would have created a leap forward for the Dutch economy, it would have been a significant burden/setback for the newly sovereign nation.

It would be utterly unacceptable to simply forget this past by means of invalid excuses such as “leaving the past behind to aim for the future”, for it is the past that determines the present, and the present that creates the future.

In August 2005, then Dutch foreign minister Bot delivered a speech in which he accepted Indonesia’s Independence Day to be on Aug. 17, 1945.

However, to accept is not to recognize. Bot further stated that the realization existed in the Netherlands that de facto Indonesian sovereignty began in 1945, indicating this statement was not necessarily lawful.

Recognition remains missing. Yet Bot will be granted the Bintang Mahaputra Utama medal at the 2010 Independence Day ceremony, along with another Dutch politician, the VVD (Dutch People’s Party for Freedom and Democracy) lawmaker van Baalen.

Indonesian Ambassador to the Netherlands J.E. Habibie was interviewed on the Indonesian TV
show Impact on QTV on March 28, 2008. In the past, including in previous interview, the ambassador repeated that the Dutch government had since 2005 recognized Aug. 17, 1945, to be Indonesian Independence Day.

In the interview, the ambassador also spoke of the very smooth and increasingly friendly relations developing between Indonesia and the Netherlands.

He further said the progressing relations and trade with the Netherlands were beneficial to Indonesia.
The Dutch article “Band met Indonesië Spiegelglad” (Bond with Indonesia Mirror Smooth) from Oct. 13, 2008, stated Bot would be awarded the Bintang Mahaputra Utama particularly because in 2005 “he officially recognized Indonesia’s independence”.

Aanvaard, the Dutch word for “accept”, is repeated several times, whereas erken, the word for “recognize”, is nowhere to be found in the speech that former foreign minister Bot delivered at the Indië commemoration at the Hague on Aug. 15, 2005.

The recipients of the Bintang Mahaputra Utama become our national heroes, whom our soldiers salute with great honor. Given the current situation, such a gesture on Indonesia’s behalf is an inappropriate excess of intimacy; a motion of appreciation way beyond necessary, between the two countries involved. With all due respect to Ambassador Habibie, sometimes it becomes ambiguous concerning which team you are rooting for.

The writer is an International Baccalaureate graduate based in the Netherlands.

* * *

BOOK BANNING – A BLAST FROM THE PAST

John Roosa , Vancouver, Canada | Wed, 01/13/2010 9:41 AM | Opinion



When I heard the news that the Indonesian translation of my book, Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Soeharto’s Coup d’État in Indonesia, was banned, I was perplexed.
What year was it? Was Soeharto still in power? In the midst of the remarkable progress in legal reform since Soeharto’s fall in 1998, book banning has become anachronistic. The Dec. 23 announcement by the Attorney General’s Office (AGO) is like some antique brought out from a dusty storeroom.
Indonesian citizens have gained a sense of self-confidence in the face of officialdom. University rectors, historians, lawyers, journalists, students, among others, have condemned the banning.

The typical comment today is that the banning insults the intelligence of citizens to judge books for themselves. To borrow a phrase from Benedict Anderson, who was banned from the country for decades for his writing on the Sept. 30 Movement, Indonesia has a new society and an old state.

As a historian, I am impressed by the long-term continuity of Indonesian laws on censorship. The AGO announcement banning my book cites Law no. 4 of 1963 – a presidential order (penetapan) of President Sukarno’s that harkened back to colonial-era laws.

Its preamble states that it was designed to “safeguard the path of the Indonesian Revolution.” That was Sukarno’s language. Is the AGO today banning publications for the sake of “the Indonesian Revolution”? Are we still out to crush Malaysia?

If the AGO is committed to Sukarnoism it should praise my book. However much I dislike his authoritarian Guided Democracy, I have great respect for Sukarno’s intelligence, basic decency, and anti-imperialist foreign policy.

I think my book works nicely as an elaboration of his all-too-brief, three-fold analysis of the Sept. 30 Movement: The cunning of imperial and neo-colonial subversion, the foolishness of the PKI leaders, and the presence of many individuals who were “not right” (apparently meaning Soeharto and his
associates).

My book endorses his simile about the mass violence carried out in the name of repressing the Sept. 30 Movement: It was like burning down a house to kill a rat.
The key task of the Reformasi period has been to overcome the legacy of two authoritarian polities and create a government based on the rule of law.

Two outstanding achievements have been President B.J. Habibie’s canceling of the notorious Anti-Subversion Law of 1963 and the late President Abdurrahman Wahid’s closing of Bakorstanas, an intelligence body with sweeping, undefined powers originating in the emergency of October 1965.

Reformasi has wounded Law no. 4 of 1963 but has not yet killed it. The laudable press law of 1999 eliminated its application to newspapers, magazines, and serials, while leaving untouched its application to other printed materials.

So we have the strange situation now where the AGO is forbidden from censoring or banning the press but has been left free to ban books, pamphlets and posters.

The former head of the Constitutional Court, Jimly Asshiddiqie, has stated that Law no. 4 is “out of date.”

My publisher and I have no idea why my book was banned. Right now we’re in Kafka-land: Declared guilty without being told what the crime is.

The AGO’s press statement claims that my book “disrupts public order.” How it does that goes unexplained. So far the AGO hasn’t even provided the text of the “letter of decision” (Surat Keputusan).

The AGO spokesperson mentioned that his office had catalogued 143 objectionable passages in my book. It would be edifying for me, other scholars of Indonesian history, and the general public to see the full report.

In most democratic polities that allow for the banning of books (in the name of suppressing pornography for instance), the banning is usually done through the courts. Prosecutors have to publicly explain their case against a publication and persuade a judge or jury that it is indeed in violation of the law.

Authors and publishers present their counter-arguments. The German laws against Holocaust denial work in this way; prosecutors there do not unilaterally ban books. While I am opposed to any kind of book banning, I will admit that an open, transparent procedure in the judiciary is preferable to a secretive, arbitrary procedure inside an inscrutable bureaucracy.

Many books have been published in the last ten years that have been critical of the Soeharto regime’s version of the events of 1965-1966. Except for some textbooks in 2007, none have been officially banned. I do not think my book is special enough to deserve the AGO Prize.

My book actually endorses part of the Soeharto regime’s version (on the role of the PKI’s Special Bureau) even while it rejects other parts (such as the claim that every PKI member should be held responsible for the Sept. 30 Movement). My book is a work of scholarship that brings out new primary sources and critically evaluates the fullest possible range of sources. It should be useful even to people who disagree with my conclusions.
Some publishers want their books to be banned so they can use the AGO for free advertising. To ensure that no one thinks we will profit from the new interest in my book, my publisher and I have decided to withdraw the copyright on it.

The entire text of the Indonesian translation is available online to be downloaded for free. My publisher, the Indonesian Institute of Social History, has stated that there should be no barriers to knowledge except narrow-mindedness – and I suppose a slow internet connection.

The AGO banning of my book does a disservice to the great advances in legal reform that Indonesia has achieved since 1998. It gives the international community the wrong impression of the country.

If I were an Indonesian – to modify the title of Ki Hajar Dewantara’s famous essay banned by the colonial state in 1913 for “disrupting public order” – I would believe, along with Ki Hajar, Indonesia’s “Father of Education,” that the nation’s progress lies in reading more books, not banning more books, and in the self-assurance and free-thinking of its people, not in state-imposed intellectual conformity.



The writer is Associate Professor of History at the University of British Columbia, Vancouver, Canada.

* * *


*MULYANI FELT SHE WAS FOOLED*

*Hans David Tampubolon* , The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 01/14/2010 3:10 PM | National

Former vice president Jusuf Kalla says that Finance Minister Sri Mulyani told him that she felt as if she was being manipulated in the Bank Century bailout case.

"[Mulyani] felt as if she was being fooled over the final amount of the bailout, [Rp 6.76 trillion (US$734.86 million)]," Kalla told the House of Representatives’ special committee of inquiry into the bailout on Thursday.

Kalla said that Mulyani's remarks were made during a private meeting between them at his house on Sept. 30, 2009.

On Wednesday, Mulyani told the committee that she was only responsible for a bailout fund amounting to Rp 632 billion.



House committee begins questioning Kalla over Century

*Hans David Tampubolon* , The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 01/14/2010 10:38 AM | National

The House of Representatives' inquiry committee into the Bank Century bailout has begun its hearing with former vice president Jusuf Kalla on Thursday.

Kalla arrived at the committee chamber at around 10:30 a.m.

"Kalla is an important witness, because he received the report of the bailout decision straight from Finance Minister Sri Mulyani," one of the committee deputy chairmen, Mahfudz Siddiq from the Prosperous Justice Party (PKS), said Thursday.

Earlier, Kalla said he had not prepared any evidence for the hearing as he “was not the policymaker” at the time of the Rp 6.76 trillion (US$736.84 million) bailout, but promised to say whatever he knew.

On Wednesday, the House inquiry committee heard from Finance Minister Sri Mulyani Indrawati, who played a key role in deciding on the Rp 6.76 trillion (US$716 million) bailout, along with then Bank Indonesia governor and current Vice President Boediono, during a meeting of the Financial System Stability Committee (KSSK) in November 2008.

Both Mulyani and Boediono said the decision was made to protect the country’s banking sector from a systemic threat amid the global financial crisis.

Allegations have arisen that the bailout was illegal and that some of the funds may have been channeled to President Susilo Bambang Yudhoyono’s re-election campaign.


** * **


*ICW – SUPREME COURT RULINGS DISCOURAGE FIGHT AGAINST GRAFT*

*The Jakarta Post* , Jakarta | Thu, 01/14/2010 12:18 PM | National

Indonesia Corruption Watch (ICW) says the Supreme Court has discouraged the fight against corruption by reducing prison terms handed down to six high-profile graft convicts in 2009.

ICW said in a statement Thursday the Supreme Court rulings weakened the deterrent effect the country needed to combat the widespread corruption.

The watchdog found that the Supreme Court, for example, cut the jail sentence of former Pelalawan regent Tengku Azmun Jaafar by five years from the 16 years handed down by the Corruption Court; that of former Bank Indonesia governor Burhanuddin Abdullah by two years to three years; that of former House of Representatives lawmaker Al Amin Nur Nasution by two years from eight years; and the sentence of former fishery minister Rokhmin Dahuri from seven years to 4.5 years.

Rokhmin was released from prison on parole last November.

ICW expressed fears that the Supreme Court might issue more lenient jail sentences for corruption convicts in the future.

“BUKAN ROMAN, ITU ADALAH GUGATAN”

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Rabu, 13 Januari 2010
----------------------------

Buku “Max HAVELAAR” Oleh Multatuli

“BUKAN ROMAN, ITU ADALAH GUGATAN”



Sudah kurang lebih dua minggu, orang-orang yang tinggal di negeri
Belanda ini menggigil kedinginan. Hampir setiap hari ada kemacetaan
lalu-lintas. Jalan-jalan licin. Sang suhu bertahan terus di bawah
nol derajat Celcius. Sejauh mata memandang . . . . putih, putih, dan
putih oleh salju yang menutupi bumi dan pepohonan. Ketika menulis
ini aku melongok sejenak keluar lewat jendela kaca kamar kerjaku, .
. . . tak ada tanda-tanda salju akan lumer. Dan begitulah di
kebanyakan negeri-negeri Eropah Barat/Utara lainnya, Tiongkok,
Jepang dan Amerika Utara.

* * *

Beginilah Belanda. Musimnya ada empat. Musim panas yang paling
menyenangkan dan indah dengan pameran jutaan bunga di Taman Bunga
Keukenhof, tapi . . . yang musim dinginnya begini ini.


Ironisnya . . . belum lama para pemimpin dunia berkumpul di
Kopenhagen, Denmark, membicarakan bagaimana caranya . . . . .
mencegah planit bumi ini jangan sampai menjadi lebih cepat panas
(yang disebabkan oleh pengotoran alam oleh industri) sehingga tak
mungkin lagi hidup tanaman apalgi dihuni machluk apapun. Bisa
dibayangkan, betapa sibuknya para organisator konferensi Kopenhagen
itu, menyusun dokumen konferensi untuk dipublikasikan, dalam cuaca
yang . . . . dingin begini ini.

Setiap hari, setiap jam, radio, TV selalu sibuk melaporkan cuaca. Papasan dengan kenalan dan tetangga, yang jadi kata-kata sapaan juga adalah mengenai cuaca yang . . . . Het is koud heh . . .? Ya, ya, ya! Het is winter. . . . . . toch?! Oleh karena itu, tidak diteruskan pembicaraan mengenai cuaca dan suhu!

* * *

Dalam suasana dingin seperti ini, ada juga yang membikin hati kita menjadi hangat dan antusias. Khususnya dalam hubungan perkembangan hubungan Indonesia-Belanda. Hari ini kuterima lewat pos sebuah undangan dari direksi “Bijzondere Collecties van de Universiteit van Amsterdam”, dan pengurus “Multatuli Genootschap”. Undangan tsb untuk tamggal 2 Februari, 2010 yad, -- berkenaan dengan 150 tahun diterbitkannya buku Dr Douwes Dekker (Multatuli), berjudul “MAX HAVELAAR”.

Lengkapnya judul buku tsb adalah *"*/*Max Havelaar*/* of de koffieveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy".*

Peringatan yang diselenggarakan bersama oleh “Universiteit van Amsterdam” dan “Multatuli Genootschap”, pada tanggal 2 Februari 2010 yad, adalah suatu langkah positif lebih lanjut kearah membagusnya hubungan Indonesia-Belanda. Jelas ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh mantan Menteri Luar Negeri Belanda Josias Van Aartsen dulu. Pada November 2000, van Aartsen menugaskan Institut Sejarah Belanda (ING) untuk menulis sebuah 'studi' berkenaan dengan kasus Act of Free Choice tahun 1969 di Papua.* *Sayang, hasil studi Prof Piet Drooglever yang dapat tugas (sial itu!) tidak membikin hubungan Indonesia-Belanda menjadi lebih baik.

Hasil 'studi' Drooglever yang diluncurkan dengan pelbagai pidato dan sambutan di gedung Amnesty International Amsterdam, adalah guyuran air dingin pada suasana membaiknya hubungan Belanda-Indonesia. Kongkritnya hungan yang membaik setelah Menteri Luar Negeri Belanda Ben Bot hadir pada “Perayaan 17 Agus” di Jakarta, di saat ketika beliau minta maaf pada Indonesia, serta menunjukkan pengertian/pengakuan bahwa hari “17 Agustus 1945”, adalah hari PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA. Yang disusul belum lama ini dengan munculnya SARAN kepada pemerintah Belanda oleh lebih duapuluh sejarawan dan cendekiawan Belanda. Mereka mendesak pemerintah Belanda supaya secara r e s m i MENGAKUI 17 AGUSTUS 1945, sebagai HARI KEMERDEKAN INDONESIA.

Mengapa dinyatakan di sini bahwa peringatan 150 th BUKU MAX HAVELAAR, sebagai suatu peristiwa yang positif menuju perkembangan lebih bagus lagi antara Indonesia dan Belanda. Karena itu menunjukkan pasnya pemahaman mengenai masa lampau di Indonesia. Mari baca bersama penilaian para organisator PAMERAN 150 tahun MAX HAVELAAR:

“*HET IS GEEN ROMAN, 'T IS EEN AANKLACHT”. *

Begitulah ditulis pada halaman pertama kartu undangan tsb. Artinya (terjemahan bebas, I.I.): Buku Max Havelaar itu,* “BUKAN ROMAN, ITU ADALAH SUATU GUGATAN”. * Memang demikianlah isi buku Multatuli (Douwes Dekker). Memang itulah tujuan beliau menulis buku itu: MENGGUGAT kekejaman feodalisme dan kolonialisme di Hindia Belanda waktu itu.

Dijelaskan selanjutnya: 150 th yang lalu, Multatuli menulis bukunya yang termasyhur MAX HAVELAAR. Suatu karya yang tidak hanya memiliki kwalitas literer yang luar biasa, tetapi juga memberikan pada sejarah Belanda di bidang kemasyarakatan dan politik arah yang lain. Itulah sebabnya hal itu dimasukkan dalam Canon Sejarah Belanda.

Multatuli, nama samaran sebagai penulis, adalah seorang pegawai negeri Hindia Belanda yang lalu, yang nama aslinya adalah Douwes Dekker. (1820-1887). Dengan bukunya itu ia secara definitif telah mengubah pemikiran di Nederland tentang masalah kolonialisme.

Setelah terbitnya buku Max Havelaar, orang tidak bisa lagi membantah bahwa di koloni (maksudnya di Indonesia, I.I.) banyak sekali hal-hal yang tidak beres. Diterbitkannya buku penting ini, diperingati dengan sebuah pameran di “Bijzondere Collecties van de Universiteit van Amsterdam”, tempat dimana tulisan-tulisan tangan Multatuli disimpan.

Dalam pameran ini ditunjukkan arti penting politik, kemasyarakatan dan literer dari buku Max Havelaar tsb. Pameran diusahakan oleh Bijzondere Collecties van de Unibersiteit van Amsterdam, bersama-sama dengan “Multatuli Genootschap”.*Fokus ditujukan pada gugatan terhadap penindasan, suatu pesan yang sampai sekarang masih aktuil (*cetak tebal oleh penulis I*.I)*

Maka jelaslah kiranya, -- bicara soal jembatan hubungan Indonesia – Belanda, maka yang menjadi jembatan itu adalah penulis buku MAX HAVELAAR, Multatuli, yang nama aslinya adalah Dauwes Dekker. Itu adalah orang-orang dan tokoh-tokoh yang mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia, seperti Prof. Dr Wertheim, banyak kaum progresif dan Kiri Belanda, teristiwewa mereka-mereka yang dari CPN, Partai Komunis Belanda, yang konsisten menukung perjuangan anti kolonialisme bangsa Indonesia.

Adalah mereka-mereka itu yang menjembatani hubungan Indonesia-Belanda, yang didasarkan atas sama derajat dan sama hak. Bukanlah Persetujuan Linggarjati, Revnville apalagi persetujuan Koferenai Meja Bundar (KMB).

Persetujuan-persetujuan tsb adalah taktik dan strategi pemerintah Belanda ketika itu untuk mencekik dan memusnahkan Republik Indonesia, dan menjadikan Indonesia tetap tergantung pada kerajaan Belanda. Sedangkan di fihak kita, Republik Indonesia, karena dalam keadaan masih asor, maka terpaksa berkompromi dengan Belanda dan memberikan konsesi-konsesi besar. Oleh karena itu setelah berdirinya Republik Indonesia Serikat (RIS), Belanda resmi keluar dari Indonesia, fihak Indonesia di bawah pimpinan Presiden Sukarno telah membatalkan Persetujuan KMB itu, mengembalikan Irian Barat ke pangkuan REPUBLIK INDONESIA yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agusstus 1945.

* * *

Aku akan berusha hadir dalam pertemuan PERINGATAN 150^th terbitnya buku “MAX HAVELAAR”. Tidak sedikitpun ada keraguan bahwa peringatan yang dilakukan itu, dari fihak Belanda, jelas bertujuan meningkatkan pengertian dan pemahaman masyarakat Belanda mengenai masa lampau kolonialisme Belanda di Indonesia. Agar dengan demikian masyarakat Belanda bisa lebih memahami kejahatan kolonialisme Belanda terhadap Indonesia, memahami mengapa rakyat Indonesia perlu berrevolusi untuk mencapai kemerdekaannya. Dan dengan demikian terjalinlah saling pengertian, saling menghargai yang wajar antara Indonesia dan Belanda.

* * *

MERESAPI & MENIKMATI CERPEN LU XUN

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Senin, 11 Januari 2010
----------------------------

MERESAPI & MENIKMATI CERPEN
LU XUN – “NASIB”

Menyambut Tahun Baru 2010, telah kuterjemahkan dan perkenalkan salah satu dari banyak karya Lu Xun, berjudul “TAHUN BARU”. Kali ini kuterjemahkan cerpen Lu Xun lainnya, yaitu: “NASIB”. Mengapa memilih cerpen “NASIB”? Sebabnya? Masalah 'nasib', mungkin adalah salah satu isu yang paling banyak dibicarakan, difikirkan atau ditulis sejak manusia ini sadar diri bahwa dia tidak sama dengan makhluk lainnya dan mulai berfikir mengenai dirinya dan alam sekitar.

Bila seseorang termenung, seorang diri, biasanya yang difikirkannya adalah mengenai diri atau keluarganya. Kekasih atau musuh atau saingannya, atau lainnya. 'Bagaimana selanjutnya' ? Bagaimana nasibnya, bulan ini, tahun ini dan seterusnya? Nasib-baikkah atau nasib-burukkah. Makanya tidak kebetulan, di banyak media, radio ataupun TV tidak ketinggalan dicantumkan rubrik 'horoskop'. Barangkali rubrik ini yang paling dulu dibaca.

Secara lebih luas dan lebih serius. Siapa yang tidak memikirkan NASIB TANAH AIR dan BANGSANYA. Meskipun jauh dari tanah air, seperti 'kita-kita' ini yang bermukim di luarnegeri. Nasib tanah air dan bangsa selalu dalam fikiran kita.

Jadi: --- Soal “NASIB”, adalah soal besar dan selalu relevan. Bayangkan, bagaimana NASIB seseorang setelah meninggalkan dunia yan fana ini. Kalau dia orang Indonesia mau dimakamkan di negeri ia tinggal, atau mau dibawa ke Indonesia? Mau dikubur di kuburan keluarga, mungkin. Dikubur atau dikremasi? Dimana dan pakai batu nisan yang berapa harganya? Itu semua jadi urusan 'Uitvaart Verzekering' di negeri maju seperti Belanda ini. Hampir setiap warga menjadi klien dari asuransi kematian. “Uitvaart Verzekering” itu adalah perusahaan asuransi kematian yang ' kaya' di negeri-negeri maju. Urusannya adalah 'nasib' sesudah mati! Urusan orang mati ini seringkali menghabiskan ongkos ribuan euro. Tidak jarang, sesudah musibah kematian menimpa keluarga, tambah lagi hutang baru!

* * *

Tentu, yang lebih menjadi perhatian adalah masalah “NASIB” selama orang masih hidup.

Di sinilah kita tiba pada sastrawan Lu Xun. Salah seorang penulis RAKSASA di dunia sastra. Tak diketahui seberapa jauh masyarakat kita, teristimewa di kalangan budayawannya, yang mengenal dan suka membaca karya-karya Lu Xun. Atau pertanyaan ini: Sudah berapa banyak karya Lu Xun yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Pengenalanku yang terbatas ini mengatakan, --- tidak banyak karya penulis-penulis Asia lainnya yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Silakan yang mengetahuinya untuk memberikan infornasi yang beguna bagi pembaca.

Di sini bukan maksudnya untuk panjang lebar membicarakan siapa Lu Xun. Yang pokok ialah hendak menyajikan pada pembaca cerpen Lu Xun, “NASIB”. Namun, barangkali ada perlunya sedikit lagi ada catatan mengenai Lu Xun.

Lu Xun, nama aslinya adalah Zhou Shuren. Ia lahir tahun 1981 dan meninggal 19 Oktober tahun 1936. Lu Xun, oleh banyak orang dianggap pelopor kebudayaan Tiongkok Baru, seorang penulis cerpen, esayis dan kritikus serta teoretikus sastra. Oleh kalangan sastra Tiongkok Baru, Lu Xun dinilai sebagai tokoh terbesar dalam kesusasetraan Tiongkok abad Ke-XX. Karya-karyanya , terutama ceritera-ceriteranya telah diterjemahkan ke lebih dari 12 bahasa dunia. Di antara tahun 1923 – 1935 fiksi-fiksi pendeknya yang terkenal diterbitkan dalam tiga koleksi. Selain itu ia telah menulis sebanyak 13 jilid esai, kenangan, prosa, sajak, dongeng sejarah. Juga menulis tidak kurang dari 30 sajak klasik, 12 julid studi ilmiah dan sejumlah besar terjemahan. Dari penulis asing yang dikaguminya a.l adalah penulis Rusia Nikolay Gogol. Penulis asing terkenal lainnya juga dibacanya. Tapi, Lu Xun tak pernah menulis novel.

Lu Xun pernah setahun lamanya belajar di Akademi Angkatan Laut. Kemudian ia meneruskan studinya di Sendai, Jepang. Jurusan kedokteran. Berhenti di tengah jalan. Karena ia menganggap yang harus diobati pada bangsa Tionghoa ketika itu bukan penyakit pada fisiknya, tetapi penyakit pada mentalnya. Keputusan itu diambilnya sesudah menyaksikan sendiri di Jepang, ketika seorang berbangsa Tionghoa yang dituduh mata-mata Rusia, dieksekusi di muka umum. Lu Xun marah sekali menyaksikan kebiadaban itu. Tetapi lebih marah lagi melihat mahasiswa-mahasiwa Tionghoa yang ikut menyaksikan eksekusi itu, samasekali tak berreaksi apa-apa.

Dari peristiwa itu ia menyimpulkan ada sesuatu yang harus dilempangkan pada mental orang Tionghoa. Sejak itu ia menekuni sastra Tionghoa. Menganggap pena adalah senjata utama baginya dalam perjuangan melawan kebudayaan feodalisme Tiongkok, kekuasaan kerajaan dan imperialisme asing.

* * *

Pada permulaan tahun 1920-an Lu Xun berkenalan dengan Marxisme. Sejak itu ia menjadi seorang Marxis. Namun ia tidak pernah menjadi anggota Partai Komunis Tiongkok. Selama tahun-tahun ketika di Shanghai Lu Xun menjadi salah seorang pemimpin Liga Penulis Kiri. Pada tahun 1920-an dan 30-an Lu Xun aktif sekali dalam perdebatan sastra yang berlangsug di Tiongkok. Ketika di Tokyo Lu Xun menjadi editor dari majalah Kehidupan Baru di Jepang dan majalah Komunis Henan.

Lu Xun adalah salah seorang pendiri organisasi-organisasi Kiri, termasuk Liga Penulis Sayap Kiri, Liga Pembebasan Tiongkok dan Liga Pembela Hak-Hak Warganegara. Lu Xun juga anggota pimpinan dari Gerakan Empat Mei yang terkenal di Tiongkok sebagai permulaan gerakan pembaruan atau pencerahan. Gerakan Empat Mei, 1919, di Tiongkok, dimulai dengan demonstrasi mahasiswa dan pelajar memprotes imperialisme yang disokong secara internasional serta fasal-fasal yang pro-Jepang dalam Persetujuan Perdamaian Paris. Gerakan ini adalah gerakan kebudayaan dan politik progresif terbesar di Tiongkok waktu itu, yang dilakukan pada pokoknya oleh para mahasiwa dan kaum terpelajar. Gerakan 4 Mei, juga sering disebut sebagai Gerakan Kebudayaan Baru. Menandakan antara lain kebangkitan nasionalisme Tiongkok.

* * *

Stop sampai di sini dulu mengenai Lu Xun. Lain kali bisa diteruskan lagi. Sekarang, sesuai maksud semula, mari kita ikuti bersama cerpen tsb. Perhatikan bagaimana Lu Xun berusaha menyadarkan pembacanya untuk tidak percaya pada 'Nasib' , agar membuang takhayul. Menggantikannya dengan ide-ide dan tindak-tanduk yang rasional! Yang ilmiah!

“*NASIB”*

Oleh Lu Xun

Pada suatu hari, ketika sedang duduk-duduk ngobrol di Uchiyama Bookshop – suatu ketika saya diserang dan dikasih topi pengkhianat oleh sementara orang dari 'kalangan sastrawan', yang memusuhi saya, karena saya sering berkunjung ke Uchiyama Bookstore dan ngobrol di situ, tetapi sayang toko buku itu harus tutup --- saya dengar bahwa gadis Jepang yang lahir di tahun cyclic /bing-wu, /yang sekarang ini mencapai 29 tahun, adalah makhluk yang paling sial. Umum diyakini bahwa wanita yang lahir tahun itu, akan memusnahkan suami-suami mereka, dan bilamana mereka itu kawin lagi, akan terjadi hal yang sama. Dan memang, hal itu bisa terjadi berulang sampai enam – tujuh kali. Oleh karena itu bagi wanita-wanita itu sangatlah sulit untuk mendapatkan suami. Tentu saja, ini adalah takhayul, superstisi. Tetapi di Jepang masih banyak sekali orang percaya takhayul.

Saya bertanya: Apakah mereka itu tak ada jalan keluar untuk menghindar dari nasib sial itu? Jawabya adalah: Tidak ada.

Ini bikin saya berfikir tentang Tiongkok.

Banyak sinolog asing mengatakan bahwa orang-orang Tionghoa itu fatalis, yang percaya bahwa bila sesuatu telah ditentukan nasibnya maka apapun tidak bisa mengubahnya, dan sekarang ini bahkan sementara orang terpelajar Tionghoa mengatakan hal yang sama. Tetapi ditimbang dari apa yang saya ketahui, wanita-wanita Tiongkok tidak punya nasib yang begitu kebal. Ada nasib 'buruk' atau 'kekerasan' pada nasib mereka. Bila seorang wanita sudah ditentukan nasibnya akan memusnahkan lima atau enam orang suami, seorang dukun atau yang semacam itu selalu siap dengan suatu pengobatan; ia akan tampilkan lima atau enam orang yang dipahat dari pohon persik, lalu menggambarkan ornamen khasiat pada patung-patung tsb dan setelah 'mengawinkan' (patung-patung) tsb dengan wanita itu, akan membakarnya. Lalu laki-laki yang sesungguhnya mengawini wanita itu, dihitung sebagai suami yang ketujuh, tidak lagi ada dalam bahaya.

Orang Tionghoa percaya pada nasib, tetapi pada nasib yang bisa dicegah. Mengatakan 'tak ada jalan keluar' kadang-kadang merupakan cara untuk mencoba cari jalan keluar lain – suatu cara untuk menhindari nasib. Bila seseorang benar-benar percaya bahwa ini adalah “nasib” dan 'tidak ada jalan keluar' – itulah sesungguhnya saatnya jika semua cara gagal dan ia nyaris musnah. Bagi orang Tionghoa, nasib itu bukanlah sesuatu yang menentukan kejadian tetapi, suatu keterangan sederhana yang diberikan setelah sesuatu terjadi.

Tentu, orang Tionghoa punya takhayul, mereka juga punya “kepercayaan” mereka, tetapi rupanya 'kepercayaan teguh' yang sedikit sekali. Dulu kita menghormati raja diatas segala-galanya, tetapi dalam waktu yang bersamaan mencoba mengendalikannya. Kita juga menghormati ratu-ratu, tetapi beberapa orang dari kita memcoba merayunya. Kita takut pada tuhan-tuhan, tetapi membakar uang dari kertas untuk menyuap (nyogok) tuhan-tuhan itu. Kita mengagumi pahlawan-pahlawan, tetapi tidak mau mengorbankan jiwa kita untuk pahlawan-pahlawan itu. Para sarjana Konghucu menyembah Budha juga; pejuang yang sekarang percaya A besok percaya pada B. Tiongkok tidak pernah melakukan perang religi, dan meski sejak Wei Utara sampai pada akhir Dinasti Tang Budisme dan Taoisme berkembang dan menurun silih berganti, itu semua disebabkan oleh kata-kata madu beberapa orang yang berbisik di telinga sang raja. Geomency, magic, jampean, doa-doa . . . . . betapa gawatnyapun nasib itu, mengeluaran sedikit uang atau menyembah-menyembah, akan membuatnya lain samasekali terbanding apa yang sudah dinasibkan itu – dengan kata lain, hal itu hakikatnya tidak ditentukan sebelumnya.

Diantara nenek-moyang kita yang bijaksana ada beberapa yang mengetahui bahwa ketidakpastian “sesuatu nasib” tidak cukup untuk memberikan orang suatu perasaan kepastian, oleh karena itu mereka mengatakan bahwa hasil dari semua cara yang telah dicoba adalah ''nasib” yang sesungguhnya dan bahwa penggunaan pelbagai cara untuk menghindar dari nasib juga telah ditentukan. Tetapi nyatanya orang-orang biasa tidak sefaham dengan pandangan tsb.

Mungkin tidak baik bagi orang-orang bila kekurangan “kepercayaan teguh” dan bimbang, karena ini menunjukkan bahwa mereka “tidak punya kemauan sendiri”. Tetapi menurut fikiran saya adalah baik bahwa orang-orang Tionghoa yang percaya pada nasib itu juga percaya bahwa nasib itu bisa diubah. Hanya sebegitu jauh kita telah menggunakan takhayul untuk melawan takhayul lainnya, sehingga hasilnya akhirnya sama saja. Bila andaikata dimasa datang kita menggunakan ide-ide dan tingkah laku rasional – menggnakan ilmu bukannya takhayul – orang-orang Tionghoa akan mencampakkan pandangan mereka yang fatalistik itu.

Bila tiba saat seperti itu, memang, mahkota-mahkota yang ada pada biksu Budhis, pendeta-pendeta Tao, para dukun, astrolog-astrolog, para jururafsir nasib, dan semua orang-orang seperti itu, akan jatuh pada para sarjana, dan kita akan mampu mencampakkan segala omong kosong itu sepanjang tahun.

23 Oktober 1934.



* * *

Andrée Feillard: MENENGOK KHIDUPAN GUS DUR

IBRAHIM ISA
-----------------------------------------
Sekretaris Wertheim Foundation, Amsterdam
Publisis



Komentar mengenai tulisan Andrée Feillard - Peneliti Senior bidang sejarah di CNRS (Pusat Penelitian Prancis), mengenangkan Gus Dur.

Kesan pertama: Sebuah tulisan yang jujur dan terbuka. Objektif dan berimbang.

Makin terasa bagaimana kita 'KEHILANGAN' Gus Dur. Tetapi Gus Dur tak akan hilang dalam sejarah PENCERAHAN di INDONESIA.
Diharapkan lembaga yang didirikan Gus Dur dan putrinya Jenny, 'ABDURRACHMAN INSTITUTE' mulai membuat sebuah buku yang kira-kira berjudul GUS DUR DAN ARTI FIKIRAN PENCERAHANNYA BAGI MUSLIM INDONESIA.

Amsterdam, Minggu, 10 Januari 2010

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=d1fe1fd1f1a352f229bf4d
24630264e2&jenis=

b706835de79a2b4e80506f582af3676a

http://www.surabayapost.co.id/images/logo_cetak.gif

* * *

MENENGOK KEHIDUPAN GUS DUR YANG BERGEJOLAK

Dari Paris bersalju, menengok kehidupan Gus Dur yang Bergolak
Sabtu, 9 Januari 2010 | 09:12 WIB

http://www.surabayapost.co.id/gambar/4c813bd947fdac02c67d7808831d351b.jpg

Andre Feillard

http://www.surabayapost.co.id/images/hRule2.gif

Oleh : Andrée Feillard - Peneliti Senior bidang sejarah di CNRS (Pusat
Penelitian Prancis)

Berada sangat jauh di kota Paris yang dingin---hari ini bersuhu di bawah 7
derajat celcius dan salju dimana mana---kabar mengenai wafatnya Gus Dur
menjadi sulit dipercaya. Pernah Gus Dur mengunjungi saya disini, satu hari
siang pada bulan september 1999 di pinggiran kota Paris yang hijau --
sekarang putih semua. Waktu pulang, dia pun terpaksa naik kereta api seperti
orang biasa untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Orang lain mungkin
sudah menggerutu, tetapi Gus Dur tidak. Ia pun bersukacita dan bergurau,
mirip seorang pemuda ceria yang melakukan kegiatan jalan-jalan yang tak
terduga. Gus Dur senang dengan hal-hal yang tak terduga. Di kereta api
pinggiran kota itu, kami berbicara sebentar tentang arah politik yang mau ia
ambil, dan tentang kesempatan yang akan dilewatkannya bila itu terjadi
(termasuk rencana mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Prancis bersama
isteri dan empat putrinya, sesuatu yang sudah lama diinginkannya).

September 1999 itu merupakan bulan terakhir dalam hidupnya sebagai pemimpin
sebuah komunitas keagamaan untuk menjadi kepala negara di sebuah negara yang
multiagama.

Abdurrahman Wahid bukan sembarangan orang untuk memegang posisi seperti ini.
Bukankah dia adalah anak pertama Wahid Hasyim, mantan menteri agama
Indonesia, yang pidatonya pada 2 Januari 1950 mungkin bisa dilihat sebagai
sebuah pertanda prophetic?

Izinkan saya mengutip pidato Wahid Hasyim itu yang diucapkan di tempat
khusus pada hari khusus : di istana negara, pada perayaan Maulud Nabi..
Pidato ini saya baca pertama kali waktu mulai meneliti Nahdlatul Ulama, pada
tahun 1980an, di buku Aboebakar Atjeh yang diterbitkan Departemen agama
setelah wafatnya Wahid Hasyim. Entah kenapa, pidato itu muncul kembali di
benak saya:

"Bismillah hirrahman nirrahim. Sungguh sangat menggembirakan hati, bahwa
hari-hari pertama daripada Republik Indonesia Serikat, sebagai bentuk jang
dianggap sah daripada kemerdekaan Rakjat Indonesia jang telah ditjapai pada
17 Agustus 1945, djatuh pada hari-hari dari dua orang pemimpin dunia jang
sangat kenamaan, jalah Nabi Muhammad s.a.w. pembawa adjaran-adjaran
al-Qur'an dan sjari'at Islam, serta Nabi Isa bin Marijam a.s., pembawa
adjaran-adjaran Indjil dan sjari'at Nasrani.

Djarang terdjadi dalam perhitungan tahun, bahwa dua peristiwa itu berlaku
dalam masa jang berdekatan, ialah hari lahir suatu negara dengan hari lahir
seorang nabi Allah. Tetapi lebih djarang lagi terjadinya hari lahir sesuatu
negara dengan hari-hari lahir dua orang pesuruh Allah seperti pada peristiwa
lahirnya Republik Indonesia Serikat ini.... " (Aboebakar Atjeh, Sedjarah Hidup
KH Wahid Hasjim, 1957, hlm. 677).

Sekarang ini, sebagian besar pers Indonesia merayakan Gus Dur sebagai "tokoh
pluralis," dan ini tampaknya dibenarkan dengan rasa duka mendalam dari kaum
Buddha dan Kristen yang bersatu untuk berkabung dengan kaum Muslim.

Memang, selama ini, tak diragukan, banyak orang datang pada Gus Dur untuk
meminta perlindungan dan "keadilan" pada masa transisi yang riuh: pada
1990an, kaum minoritas datang waktu mereka sedang mengalami efek buruk
"identity politics" (politik identitas menekankan perbedaan kelompok untuk
tujuan politik), dengan perusakan gereja yang makin banyak. Demikian juga
datang kaum demokrat yang saat itu menghadapi rezim Soeharto yang mencoba
bertahan "at all costs". Selanjutnya pada 2000an, yang datang pada Gus Dur
adalah kaum Muslim pluralis (dan liberal) saat mereka menghadapi kelompok
Islamist radikal. Mereka semua mendatangi Gus Dur dengan harapan besar,
mungkin juga harapan yang terlalu besar, yang terkadang bisa saja
dikecewakan. Namun siapa lagi selain dia yang bisa menyatukan begitu banyak
kelompok lemah? Dan siapa lagi yang memiliki keberanian untuk melakukan
pembelaan dengan membawa gaung yang begitu kuat?

Tahun 1980an dan tahun 1990an berbeda. Pada 1980an, Gus Dur mengambil peran
kunci untuk menghentikan kebuntuan politik, setelah mendengarkan ulama
senior yang lelah dengan politik dan dampak negatifnya terhadap kegiatan
keagamaan. Sedangkan sepuluh tahun kemudian, pada 1990an, peran kuncinya
adalah menjaga pluralisme. Saya teringat pada satu momen istimewa di
Lampung pada tahun 1992, ketika di suatu malam yang sunyi, duduk bersama
beberapa kaum intelektual, dia menyampaikan ungkapan panjang amarah yang
merupakan ungkapan rasa kekecewaannya yang mendalam dengan pembentukan ICMI,
yang Gus Dur lihat sebagai sindrom akan munculnya politik identitas.
Diprediksinya ini akan menghancurkan masyarakat Indonesia yang pluralis
sejak kemerdekaan sekaligus akan membendung gelombang demokrasi yang sedang
coba muncul sejak akhir tahun 1980an. Beberapa orang intelektual yang hadir
menyimak dalam kesunyian.

Saat saya melakukan kunjungan tahunan saya ke Indonesaia pada November 1996,
Gus Dur mengajak saya untuk melakukan perjalanan ke Malang, tempat dia
diundang setelah pembakaran serangkaian Gereja dan sekolah di Situbondo pada
Oktober 1996. Saat itu tepat satu bulan setelah insiden pembakaran tersebut.
Aula tempat pertemuan sudah penuh ketika kami tiba, orang-orang datang dari
tempat yang jauh. Kami mendengarkan berbagai laporan yang mengkhawatirkan
dari tokoh katolik lokal mengenai ketegangan dan ancaman terselubung. Kita
semua baru menyadari sedang muncul satu era baru yang tak terduga. Itu kali
pertama saya melihat orang Katolik berdoa begitu dalam bagi seorang teman
mereka, Gus Dur, yang dinilai satu-satunya yang mungkin mampu membalik arus.
Perkembangan baru memang begitu antinomis bagi reputasi pluralisme
Indonesia, yang kontras dengan kekerasan yang dialami Pakistan sejak
berdirinya tahun 1947. Waktu itu negara itu muncul dengan memisahkan diri
dari Hindia dalam pertumpahan darah (bloodbath) yang menakutkan. Saya
mengakhiri perjalanan di Jawa Timur dengan satu kunjungan menyedihkan di
Situbondo, saat sebuah perayaan massa digelar dalam sebuah gereja katolik
yang usai dibakar, tanpa atap, tanpa kursi, tanpa benda2 sakral, hanya
tembok-tembok tinggi yang menghitam. Orang-orang duduk di atas tikar di
lantai. Hidup berlanjut. Misa belum selesai, saya pun meneruskan perjalanan
dengan teman-teman NU yang mendampingi saya.

Mengapa Gus Dur begitu penting sepanjang tahun-tahun tersebut? Pasti ada
banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Keberaniannya mungkin berasal dari
keunikannya. Dia mempunyai legitimasi keagamaan yang luar biasa tinggi lewat
garis keturunanya, sebagai cucu dari sekaligus dua kiai pempimpin ormas
Islam terbesar di Indonesia : Hasyim Asy'ari dan Bisri Syansuri. Legitimasi
ini menjadi sangat penting dengan makin banyaknya rujukan religius dalam
politik Indonesia selama tahun 1990an. Keberanian ini ditambah dengan
kepercayaan diri yang berasal dari didikannya yang tinggi : ia telah membaca
literatur Barat dan Arab. Bukan itu saja, dia bukan seorang intelektual yang
hanya tahu buku, dia kenal banyak manusia setelah bertemu orang dari
berbagai ras, agama dan negara. Yang mungkin lebih penting, dia biasa
bertemu banyak orang Indonesia, dari kepala negara hingga kaki lima, selama
perjalanan atau di rumahnya yang terbuka bagi orang-orang lintas batas
sosial. Mungkin itu semua bergabung untuk menjadikannya sosok yang berani
sangat vokal.

Meskipun memiliki garis keturunan luar biasa, namun tahun-tahun 1990an tetap
menjadi masa yang berat bagi Gus Dur setelah ia menjadi target dari para
politisi yang jelas-jelas terganggu dengan kehadirannya. Pada 1994, di
Cipasung, tanpa perlindungan dan pembelaan intensif dari para kiai senior,
dia tak akan terpilih lagi sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama. Namun menarik
dicatat bahwa tidak ada kiai yang ikut bergabung dengan Forum Demokrasinya.
Kenapa? Terlalu banyak risiko politik buat mereka justru pada saat Presiden
Soeharto telah berhasil mengkooptasi sebagian elit intelektual muslim dengan
menunjukkan wajah yang lebih bersahabat pada agama islam.

Era pasca Soeharto membawa satu kemenangan besar bagi Gus Dur dengan
terpilihnya sebagai Presiden Indonesia, namun tahun-tahun itu juga justru
menjadi masa penuh tantangan dan kesakitan. Sebagian pengamat telah
menyalahkan para lawan politiknya yang kurang fair. Gus Dur sendiri yakin
bahwa dia menjadi korban dari sebuah plot. Yang jelas, salah langka
strategis sedikit bisa fatal bagi mereka yang berada di puncak kekuasaan.
Segala bisa dijadikan senjata yang siap pakai oleh para sekutu kecewa.
Menawarkan hubungan komersial dengan Israel dan rehabilitasi komunisme tentu
akan membuat musuh di koalisi yang baru memilihnya sebagai presiden -- yang
justru paling anti-Israel dan paling anti-komunis. Gus Dur sang intelektual
dengan kuat meyakini misinya dan menjalankannya segera. Namun Gus Dur sang
kiai dituntut mencari penyesuaian pada seting politik baru. Dan ini jauh
lebih rumit dibandingkan dunia agamis homogen yang mengelilingnya di NU.
Tetapi mungkinkah menjadi presiden saat itu adalah misi tak mungkin, "une
mission impossible"?

Sebuah ironi bahwa adalah hal politik (penolakan terhadap politik praktis)
yang mengantarkan Gus Dur pada garda depan ruang publik pada awal 1980an
(ingat para kiai yang menyebut politikus sebagai "tikus-tikus" pada 1979?),
dan justru politik lagi (sekali ini pilihan kembali ke politik praktis
dengan menjadi calon presiden) yang ikut menjatuhkannya dua puluh tahun
kemudian. Akhir 1999 adalah satu momen bahaya memang, seperti diakui oleh
para kiai senior, Sahal Mahfudh dan Kiai Muchith Muzadi, yang telah
memberikannya nasehat agar tidak maju mencalonkan diri pada jabatan nomor
satu negeri ini.

Menengok ke belakang, sungguh luar biasa bagaimana satu orang saja bisa
mempunyai pengaruh begitu besar dalam perpolitikan selama tiga puluh tahun
sementara mengemban amanat sebagai presiden hanya kurang dari dua tahun.

Sementara itu, orang akan terus berziarah di makamnya seperti halnya saat
mereka mencoba menyentuh mobil yang Gus Dur naiki seusai pengajian,
istighosah atau pertemuan lainnya. Bila orang berbicara tentang "barokah"nya
terkadang membuatnya tertawa, namun terkadang dia juga menyikapinya dengan
serius. Sesewaktu dia menarik tangannya dengan cepat bila orang ingin
mencium tangannya, namun di lain waktu dia juga membiarkan tangannya itu
dicium. Gus Dur selalu akan merupakan orang yang berbeda untuk orang yang
berbeda di masa yang berbeda. Dia akan tetap demikian.

Tak diragukan, bagaimanapun, di samping semua kekurangan yang akan
disebutkan orang, dia akan juga dikenang (tentunya saya akan mengenangnya)
sebagai seorang teman (bahkan pahlawan?) dari pluralisme dan kebudayaan
lokal. *

Penulis buku NU vis-à-vis Negara, Pencarian Bentuk, Isi dan Makna, LkiS,
1997.