Sunday, November 11, 2007

Kolom IBRAHIM ISA -- 'Jalan Baru' dan 'True-Confession H. ROSIHAN ANWAR

Kolom IBRAHIM ISA

-------------------------------

Minggu, 11 Nov, 2007


'Jalan Baru' dan 'True-Confession H. ROSIHAN ANWAR


Belum lama ini aku sempat ngomong-ngomong dengan seorang kawanku, pejuang kawakan, yang kini sudah mencapai umur di atas 80. Usianya kira-kira setara dengan umur Rosihan Anwar, wartawan senior, sebagaimana Rosihan selalu menamakan dirinya. Kawanku itu kenal Rosihan sejak zaman Revolusi Kemerdekaan. Mengenai masalah politik, dalam banyak hal, mereka, pejuang kawakan itu dan Rosihan Anwar, sering bertolak belakang. Dalam cakap-cakap itu, kami menyinggung artikel yang belum lama ditulis Rosihan Anwar, berjudul: 'AKU MAU PRESIDEN BARU'. Tulisan yang patut dibaca. Aku menanyakan kepada kawan itu, apakah ia sudah membaca tulisan Rosihan Anwar tsb. Belum, katanya.


Tidak lama kawanku itu menilpunku lagi. Katanya, ia sudah membaca tulisan Rosihan itu.. Kesan kawan itu: Wah kali ini tulisan Rosihan itu baik. Ada perubahan pada Rosihan, tambahnya, tanpa menjelaskan persis apa alasannya, ia menyatakan bahwa 'ada perubahan baik' pada Rosihan Anwar.


* * *


Aku sendiri berpendapat bahwa memang, sejak ia menulis 'kenang-kenangannya' mengenai ultah ke-55 Konferensi Asia-Afrika, Bandung (1955) ---- mengenai sikap terhadap peristiwa sejarah, tulisan Rosihan Anwar, memang lebih baik, terbanding tulisan-tulisan sebelumnya. Rosihan menulis (22 April 2005) tentang pengalamannya ikut hadir sebagai wartawan muda pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung (1955). Dengan lugu ia menulis tentang keadaan wartawan-wartawan Indonesia, periode itu. Perlengkapan kerjanya yang amat sederhana, menjurus ke wartawan yang miskin. Rosihan berusaha menjelaskan betapa pentingnya arti sejarah Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Saat ketika para pejuang kemerdekaan dan pemimpin bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk pertama kalinya bertemu, berembuk bersama dalam suasana membina persatuan dan solidaritas demi perjuangan kemerdekaan, tanpa seizin dan restu fihak Barat. Blok Barat ketika itu, jelas sekali mengharapkan konferensi tsb akan gagal. Di Bandungnya Indonesia, tulis Rosihan, disitulah bertemu untuk pertama kalinya begitu banyak pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, membicarakan perihal perjuangan kemerdekaan dan perdamaian dunia. Disitulah bertemu tokoh-tokoh penting seperti Sukarno, Nehru, Ali Khan, Zhou En-lai, U Nu, Kotelawala, Nasser dll.


Arti penting apa yang ditulis Rosihan itu, disebabkan oleh gejala-gejala menyolok waktu itu dan sampai sekarangpun, di kalangn sementara fihak di negeri kita, termasuk kaum intelektuil dan pekerja medianya, yang tidak atau kurang menyadari, kurang mengkhayati arti penting Konferensi Bandung. Baik ditinjau secara strategi perjuangan bangsa-bangsa AA ketika itu, maupun dalam usaha untuk ikut aktif dalam memperjuangan perdamaian daunia. Mereka-mereka itu menganggap memperingati KAA sebagai 'nostalgia'. Tak lebih dari itu. Mereka tidak bisa melihat, betapa besar dampak 'Semangat 10 Prinsip Bandung' yang dideklarasikan oleh Konferensi , di masa itu, juga untuk masa depan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.


Rosihan juga menekankan pada generasi muda kita tentang arti penting mempelajari dan memahami sejarah bangsa sendiri. Menghargai usaha para pemimpin bangsa sendiri dalam membina bangsa dan kehidupan bersama bangsa-bangsa Asia dan Afrika.


Mari baca lagi secuplik dari tulisan Rosihan tsb tentang Konferensi AA di Bandung:


'Dewasa ini ada orang yang bertanya apakah gunanya bagi kita memperingati 50 tahun KAA Bandung, sedangkan dunia sudah berubah? Sebagai wartawan yang meliput KAA dulu saya ingin menjawabnya dengan mengemukakan bahwa betul dunia sudah berubah, namun kita mesti berusaha menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi muda Indonesia. Generasi muda jangan sampai melihat sejarah bangsa kita seperti terputus- putus, merasa hidup hanya dalam zamannya saja, bersikap bagaikan "muara melupakan hilirnya". 50 Tahun yang lalu Indonesia tampil aktif di gelanggang politik internasional dengan tujuan membebaskan bangsa Asia-Afrika dari kolonialisme.

'Indonesia sukses menyelenggarakan KAA walaupun keadaannya masih sukar dan pengalamannya masih kurang. Tapi, Indonesia tetap maju ke depan dan aktif bergerak dalam human pilgrimage, perjalanan umat manusia.

'Apakah pengetahuan sejarah tentang KAA itu tidak memberi inspirasi dan optimisme bagi generasi sekarang untuk menatap masa depan? Saya yakin ada, karena itu ada gunanya memperingati 50 tahun KAA Bandung. God bless Indonesia.' Demikian Rosihan Anwar tentang arti sejarah Konferensi AA di Bandung (1955).



Sungguh tepat dan kena sekali apa yang dikemukakan oleh Rosihan Anwar tertuju pada generasi muda, khususnya para wartawannya dewasa ini. Itulah antara lain, yang terpenting, mengapa kukatakan tulisan Rosihan itu baik.



* * *


Lalu, ------ Ada puisi Rosihan Anwar yang berjudul, 'SAYA TIDAK MALU JADI ORANG INDONESIA'


Di tengah-tengah pendapat yang direkayasa menjadi 'pendapat umum', bahwa Indonesia dewasa ini amat 'memalukan', disebabkan merajalelanya budaya KKN, situasi ketiadaan kepastian hukum, dsb. Sedangkan sementara orang meneriakkan dengan suara menyesal, bahwa ia 'MALU JADI ORANG INDONESIA'. Nah, dalam situasi demikian itulah, bak gebrakan di tengah-tengah cerita wayang yang bikin sementara orang ngantuk dan mulai bosan, muncullah puisi Rosihan. Seperti ia tulis sendiri, itulah bentuk perlawanan Rosihan terhadap korupsi.


* * *


Lihat cara Rosihan menumpahkan kritik sosialnya dalam puisi

SAYA TIDAK MALU JADI ORANG INDONESIA, a.l.


'Catatlah, Bung Karno menciptakan keamanan dan persatuan bangsa
Pak Harto menciptakan kemakmuran bangsa dan keluarganya
Habibie menciptakan demonstrasi
Gus Dur menciptakan partai kebangkitan bangsa
Megawati menciptakan kenaikan-kenaikan harga'


Semakin keras kritik Rosihan terhadap budaya korupsi, s.l.:


'Akan tetapi drakula-drakula Indonesia tetap perkasa
Beroperasi 24 jam, ya malam ya siang mencari korban
Sehingga sia-sialah aksi melawan korupsi membasmi drakula
Yang telah merasuki rongga dan jiwa aparat negara
Yang membuat media memberitakan
Akibat bisnis keluarga pejabat, Tutut-Tutut baru bermunculan.

'Aku orang terpasung dalam terungku kaum penjarah harta negara
Akan aneh bila berkata aku malu jadi orang Indonesia
Sorry ya, Aku tidak malu jadi orang Indonesia
Kuhibur diri dengan sajakku magnus opus karya sang Empu
Sajak pendek yang berbunyi:
Katakan beta
Manatah batas
Antar gila Dengan waras
Sorry ya, inilah puisiku melawan korupsi
Siapa takut?'

(Dibacakan pada acara Deklamasi Puisi di Gedung Da'wah Muhammadiyah di Jakarta, 31 Desember 2004. Juga dibacakan dalam acara pertemuan keluarga wartawan senior di rumah penulis pada tanggal 9 Januari 2005, di Jakarta)


Demikian Rosihan yang TAK MALU JADI ORANG INDONESIA.



* * *

Belakangan ada dua lagi tulisan Rosihan Anwar yang bagiku menunjukkan benarlah kata pejuang kawakan kawanku itu, bahwa Rosihan SUDAH BERUBAH jadi baik.


Yang ingin kubicarakan di sini ialah tulisannya yang berjudul '10 NOVEMBER, TANPA MITOS'.

Yang utama maksud tulisan itu adalah untuk menyampaikan kepada umum, sbb:


'Bulan November 1945 itu, saya sudah ke Surabaya, tetapi tidak pernah sampai ke front pertempuran paling depan. Jadi apa yang saya banggakan? Maka bila saya menulis bahwa saya adalah wartawan perang di zaman revolusi, hal itu tak lebih hanya mitos. (Kutipan selesai)


Sebelumnya Rosihan menjelaskan:

(Kutipan mulai) 'Hari ini, memperingati perjuangan arek Suroboyo 10 November 1945, saya

ingin berhenti memitoskannya atau mendewa-dewakannya, sejauh mengenai diri saya sebagai wartawan dan pelaku sejarah saat itu.


Untuk menghapuskan mitos, ada ungkapan, demitologisasi. Orang lain bilang debunking menolak aneka kepalsuan seseorang. Saya pakai istilah true confessions, pengakuan-pengakuan sejati'.(Kutipan selesai)


Bila diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari, maka begini kira-kira jadinya --- Selama ini sementara orang menganggap Rosihan Anwar, wartawan senior, suatu waktu ketika bekecamuk PERTEMPURAN SURABAYA (12 November, 1945), ia berkiprah sebagai wartawan perang. Sebagai wartawan yang meliput pertempuran Surabaya yang bersejarah itu.. Padahal keadaan sebenarnya tidak demikian. Memang Rosihan ke Surabaya, tetapi tidak hadir di front. Cerita-cerita seolah-olah Rosihan melaporkan situasi perang lawan Inggris di Surabaya, di tengah-tengah pertempuran yang sedang berkobar, itu tidak benar. Rosihan lama-lama merasa tidak énak keberadaannya di Surabaya ketika itui, dibikin menjadi mitos. Entah oleh siapa. Maka Rosihan sekarang ini, MELAKUKAN DEMITOLOGISASI, pengakuan-pengakuan sejati, atau TRUE-CONFESSION. Ngaku sendiri, bahwa mitos itu tidak benar.


Betullah adanya, . . . . . sungguh jarang ada orang, apalagi wartawan, yang berani berbuat seperti halnya Rosihan Anwar yang melakukan TRUE-CONFESSION secaras terbuka dan blak-blakan begitu. Meskipun nyerempet-nyerempet menyinggung Sumarsono, pemimpin PRI, yang dikatakannya tidak pernah dilihatnya pada waktu pertempuran di Surabaya (Ini dibantah oleh Sumarsono yang menegaskan bahwa dia hadir di Surabaya ketika itu, hanya Rosihan yang tidak melihatnya, karena memang Rosihan tidak pernah ke front pertempuran). Bagaimanapun Rosihan hendak menunjukkan bahwa ia seorang wartawan yang mau JUJUR. Yang tidak mengada-ada, yang tidak ngibul.Maka dalam hal ini, Rosihan Anwar memberikan teladan bagi para wartawan junior dewasa ini.


Rosihan menyatakan , ini saya lho, berterus terang saja. Saya adalah wartawan biasa yang tidak ikut berperang di zaman PERTEMPURAN SURABAYA. Titik.


* * *


'AKU MAU PRESIDEN BARU' dan 'JALAN BARU' BAGI INDONESIA

Selanjutnya. Sikap Rosihan yang kritis dan analitis mengenai pertemuan di Gedung Perpustakaan

Nasional di Salemba, Jakarta, siang, 1 November 2007, yang diselenggarakan oleh Komite Bangkit Indonesia, atas inisiatif mantan Menko Ekonomi Kabinet Abdurrahman Wahid, dr Rizal Ramli. Menurut Rosihan, dalam tulisannya 'AKU MAU PRESIDEN BARU', banyak selebriti politik dari tempo dulu hingga sekarang, tokoh intelektual di luar establishment, pemimpin lintas agama, hadir untuk memberi warna pada pertemuan itu.


Dengan panjang lebar Rosihan memberitakan sekitar orasi Rizal Ramli, mengenai 'Jalan Baru' yang perlu ditempuh negeri dan bangsa ini. Karena, kata Ramli, dalam 40 tahun terakhir Indonesia menjadi negara yang tertinggal dari negara lain di Asia Timur. Reformasi pada 1998 belum juga berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena watak feodal para pemimpin. Karena praktik neokolonialisme di mana kebijakan ekonomi Indonesia hanya menjadi subordinasi dan alat kepentingan internasional. Karena adanya kepemimpinan yang tidak efektif serta lemah secara visi dan karakter. Maka untuk keluar dari keterpurukan dan untuk menciptakan kesejahteraan

bagi mayoritas rakyat, Indonesia harus memperjuangkan jalan baru yaitu jalan yang anti-neokolonialisme dan lebih mandiri..


Bagaimana pendapat Rosihan sendiri? Inilah dia: SEKITAR 'JALAN BARU' BAGI INDONESIA.

Rosihan mengharapkan mudah-mudahan usaha elite politik dan oligarki hendak merintis JALAN BARU bagi Indonesia, menimbulkan harapan baru di kalbu rakyat, dapat bergaung dan berterima baik di kalangan rakyat. Saya teringat salah satu dikotomi lain yakni hall of fame (bangsal kemasyhuran) dan hall of shame (bangsal keaiban). Bila usaha berhasil, maka dalam sejarah mereka akan tercatat masuk ke dalam hall of fame. Bila gagal, tempat mereka dalam hall of shame.


Lanjut Rosihan:

Dalam pertemuan itu saya dengar, tulis Rosihan, banyak orang bertanya: What next? Apakah cuma bicara dan silaturahmi saja sebagaimana diperlihatkan oleh Komite Bangkit Indonesia? Apakah cuma tinggal pada NATO belaka yaitu akronim bukan dari North Atlantic Treaty Organization, melainkan dari No Action Talk Only? Tiada aksi ngomong doang? Saya pikir, bila mau sedikit lebih

serius, NATO itu bisa pula diartikan sebagai New Action Towards Oneself. Tindakan (gerakan) baru ke arah diri pribadi sendiri. Ke arah watak pribadi bangsa yang mandiri, yang menjunjung harkat dan martabat kemanusiaan. Sebagaimana sudah dikemukakan oleh Soebadio Sastrosatomo, tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) dalam bukunya Pengembang Misi Politik (1995), "Bangsa Indonesia harus kembali menegakkan be yourself".

Berarti jadilah kamu bangsa mandiri, punya harga diri, menolak dijadikan budak oleh kepentingan-kepentingan asing. Demikian liputan dan pendapat Rosihan mengenai situasi dewasa ini.


Rosihan mengutip ucapan tokoh PSI Soebadio Sastrosatomo. Mudah-mudahan, dalam rangka menempuh JALAN BARU tsb., ia tidak lupa strategi perjuangan Subadio Sastromo, yang mengimbau persatuan dengan Bung Karno, (sekarang tentunya dengan para Sukarnois dan pendukung Bung Karno yang sungguh-sungguh) dalam rangka membangun kekuatan nasional untuk MENEGAKKAN YOUSELF. Halmana adalah kebijakan strategi Bung Karno yang dirumuskannya dalam TRISAKTI dan PRINSIP BERDIKARI bagi Indonesia.


Hematku, Rosihan Anwar benar-benar telah berubah, bila ia memanfaatkan sisa umurnya, memberikan sumbangannya demi membangun kekuatan nasional seperti yang digariskan oleh Bung Karno dan juga oleh Subadio Sastrosatomo.



* * *






Monday, November 5, 2007

IBRAHIM ISA - KASUS PRAMUDYA - MASIH SAJA MAU MEMBALIKKAN PERKARA



IBRAHIM ISA

Minggu, 04 NOV 2007



KASUS PRAMUDYA - MASIH SAJA MAU MEMBALIKKAN PERKARA

*

Judul tulisan Kohar Ibrahim yang dimuat di adalah sbb: Pramoedya Ananta Toer Sang Penguasa Yang Cerah

Hidup Mati Penulis & Karyanya (2) Oleh A.Kohar Ibrahim

Bila ditelusuri 'artikel' yang berjudul seperti tsb diatas, ternyata itu bukan artikel. Tetapi sebuah wawancara seorang wartawan(?). Sebuah wawancara dengan fokus tokoh Pramudya Ananta Tur. Yang diwawancarai adalah sahabat saya, seorang penyair dan pelukis, A. Kohar Ibrahim. Wawancara, semua tau, berbeda dengan sebuah artikel. Sebuah wawancara memberikan kesempatan kepada sang wartawan untuk menentukan tema dan jalur serta arah yang ia kehendaki. Ia memberikan pembatasan-pembatasan yang tak tampak. Tapi mendorong, mengarahkan orang yang diwawncarai supaya bicara sesuai dengan arah yang diinginkannya. Lalu ada masalah publikasi. Tidak jarang terjadi, bahwa yang dipublikasi oleh pe-wawancara adalah bagian-bagian yang ia ingin hal itu diketahui pembaca. Yang kurang berkenan dihatinya tidak disiarkannya.



Seluruh wawancara tsb diatas, kesan saya (mudahan-mudahan kesan saya itu tidak benar) dimaksudkan untuk membenarkan persepsi atau tuduhan bahwa dunia sastra di periode Presiden Sukarno, penguasanya adalah Pram. Dan bahwa Pram ketika itu punya 'otoritas' untuk membikin takut penentangnya dan membungkamnya. Tentu saja, mengenai KASUS PRAM --- ini adalah suatu usaha untuk MEMUTARBALIKKAN PERKARA.



Tidaklah sulit untuk membalik-balik surat kabar pada periode itu, bahwa sesudah Pram menulis bukunya tentang 'Hoakiaw di Indonesia', tak lama kemudian ia dipendjarakan oleh fihak militer yang ketika itu sudah berkuasa melalui SOB, Undang-Undang Darurat Perang.



Saya ingat ketika di Bandung (1960) dilangsungkan Munas Perdamaian, yang diselenggrakan oleh Komite Perdamaian Indonesia. Saya diminta oleh Panitia Munas untuk bicara dengan Pram, salah seorang nara sumber dalam Munas ketika itu, untuk hati-hati bicara ketika mengeritik penguasa, khususnya fihak tentara, yang memang sedang cari dalih untuk membungkam Pram. Saya jelaskan pesan Panitia kepada Pram. Pram dengn tegas menolak pembatasan apapun terhadap tulisan atau makalahnya. Sesudah bicara, kontan, Pram 'dicari' fihak militer. Kawan-kawan berhasil menyelamatkan Pram. Untung tentara tidak berhasil mencekal Pram dan menjebloskannya lagi ke dalam penjara. Memang Pram adalah salah seorang penulis yang tajam sekali mengeritik penguasa yang sesungguhnya di Indonesia, yaitu tentara.


Pram berulangkali bicara dan memprotes tentang kenyataan bahwa yang mengobrak-abrik rumahnya, dan yang sampai sekarang menduduki rumahnya, membakar buku-buku dan dokumentsinya yang disusunnya dalam waktu panjang, yang membuangnya ke P. Buru, adalah fihak penguasa, yang membungkamnya untuk bicara dan menulis, adalah tentara. Pram sering mengulang-ulang bahwa yang berkali-kali mempersekusi dan memenjarakan dia, ya, penguasa yang itu-itu juga, yaitu tentara.


Jelas kiranya, bahwa Pram adalah KORBAN persekusi, Pram bukan penguasa, kapanpun dan dimanapun Pram tak pernah punya kekuasan. Yang pegang kekuasaan adalah tentara. Itu selalu dikemukakan Pram.


Bahkan sesudah jatuhnya Suharto, Pram masih bicara bahwa yang sesungguhnya kuasa adalah tentara. Bila Pram bicara demikian, banyak pendengarnya ingat bahwa ketika Gus Dur didongkel dari kedudukannya sebagai Presiden RI yang ke-4, adalah tentara yang memarkir kendaraan-kendaraan lapis baja dengan moncong-moncong meriamnya diarahkan ke Istana Negara, tempat domisili Gus Dur ketika itu. Kesimpulan umum ketika itu: Tanpa tentara, Mega, Amin Rais, Akbar Tanjung atau siapapun tidak akan mungkin menjatuhkan Gus Dur..


Pram juga pernah menggugat, mengapa ketika itu, ketika dimulainya perdebatan sekitar masalah apakah SENI UNTUK SENI ataukah SENI UNTUK RAKYAT, fihak pembela Manikebu tidak menggunakan kesempatan sebaik-baiknya, mengangat pena untuk melakukan perdebatan terbuka dengan fihak yang menentang faham SENI UINTUK SENI, yang dibela oleh Manikebu? Mengapa? Bukan tidak bisa, kata Pram. Tetapi memang tidak bersedia.


Dari sumber yang bisa dipercaya saya memperoleh keterangan bahwa Nyoto, salah seorang pimpinan Lekra ketika itu, juga salah seorang pimpinan PKI, heran dan menyayangkan mengapa Menteri PPK Prof Priyono (Murba), membubarkan Manikebu? Sayang, kata Nyoto. Sebaiknya, katanya, diadakan perdebatan terbuka, melalui argumentasi, mengenai masalah seni dan budaya. Teritistimewa mengenai masalah, apakah seni untuk seni, ataukah seni untuk rakyat, seni untuk revolusi.


Menurut Nyoto, dia sudah siap untuk melakukan perdebatan tsb. Dari keterangan tsb terungkap bahwa adalah Menteri PPK Prof Priyono (Murba) yang membubarkan Manikebu, bukan Presiden Sukarno, samasekali bukan Lekra. Mana Lekra punya kekuasaan untuk membubarkan Manikebu.


Dengan mengingat-ingat kembali, peristwa-peristiwa yang terjadi pada zaman Presiden Sukarno maupun periode Orba, jelas bahwa Pram, dan golongan Kiri, tidak pernah punya kekuasaan. Yang kuasa selalu adalah fihak yang punya bedil: Tentara.


Sesudah golongan Kiri, PKI, Lekra dsb dibubarkan, dilarang dan dijadikan golongan paria oleh rezim Orba, dan pendukung Manikebu dapat kesempatan, seingat saya, tokh Manikebu tidak mengangkat masalah yang diperdebatkan, dan membuka diskusi besar mengenai masalah apakah SENI UNTUK SENI atau SENI UNTUK RAKYAT, suatu msalah yang tidak sampai cukup diperdebatkan pada zaman Presiden Sukarno.


Suatu masalah yang sampai dewasa ini tetap berguna untuk dibicarakan bersama oleh para budayawan kita yang mencari kejernihan sekitar masalah tsb.


* * *




Kolom IBRAHIM ISA -- Senin, 05 November 2007

Kolom IBRAHIM ISA

-----------------------------------------

Senin, 05 November 2007

PENTING MENGENAL BETUL : -- SIAPA PAHLAWAN BANGSA

    Baru-baru ini Aku membaca sebuah berita menarik dan penting (Kompas, 02 Nov 2007). Bisa dilihat dari pilihan berita-berita yang dipublikasikan oleh kawanku TOSSI, di media internet. Tampaknya ini salah satu kegiatan Tossi setelah memasuki kehidupan 'baru' sebagai 'orang pensiunan'. Berita tsb menarik bagiku karena ada tanggapan khusus mantan Presiden RI, Ketua Umum PDI-P, Megawati Sukarnoputri. Yang ditanggapi adalah tokoh pejuang dan pahlawan, JUSUF RONODIPURO, dll.



JUSUF RONODIPURO, --- adalah mantan direktur Radio Republik Indonesia (RRI) di Jakarta, pada tahun-tahun awal Revolusi Kemerdekaan Indonesia . Para pejuang kemerdekaan dan setiap patriot Indonesia ketika itu selalu mengikuti dengan cermat siaran-siaran Radio Republik Indonesia, Jakarta. Kita semua menganggap RRI, sebagai 'Suara dan Benteng tangguh RI', yang menyuarakan SUARA REVOLUSI AGUSTUS 1945.



JUSUF RONODIPUTO, bersama anak-buahnya dengan berani melakukan tugasnya mengabdi Revolusi Agustus, mengabdi Republik Indonesia, betul-betul di bawah ancaman moncong senjata musuh, di tengah-tengah kepungan pendudukan militer Inggris dan Nica. (Baca tulisan khusus tentang Jusuf Ronodipuro, dibawah)



* * *



Tampaknya, dewasa ini, tokoh Jusuf Ronodipuro, seorang pejuang kawakan dan senior, pada periode revolusi kemerdekaan Indonesia, sudah dilupakan orang, khususnya oleh para elite dan penguasa. Keruan saja, pejuang, pengabdi bangsa yang bersih dari korupsi ini, nasibnya terlunta-lunta, sehingga tak cukup dana ketika menderita sakit dan harus diopname di rumah sakit..



Megawati secara tulus menyuarakan hati nuraninya dan kita semua, ketika beliau menyatakan bahwa bangsa ini jangan sekali-kali melupakan para pahlawan pejuang kemerdekaan yang sudah tiada, maupun yang masih hidup sekarang ini. Tergugah hati Megawati melihat keadaan Jusuf Ronodipuro sekarang ini, beliau menyingsingkan lengan-baju, cari bantuan sana-sini untuk menutupi ongkos rumah sakit bagi Jusuf Ronodipuro. Dikatakan oleh Megawati dengan nada agak kesal, a.l.: "Bagaimana ya kita ini, tidak menghargai jasa-jasa pejuang? Coba hitung, tinggal berapa orang lagi generasi 1945 yang tersisa? " katanya dengan nada meninggi.



Selanjutnya Megawati menyebut beberapa nama para pejuang dan pahlawan kemerdekaan. Disebutlah a.l. nama S.K. Trimurti, Joesoef Ronodipuro, . . . lulu . . .PAK HARTO . . . . . . dst. 'PakHarto?' ---- Wah, kok Suharto digolongkan sebagai pejuang/pahlawan? Ini bukan soal kecil!



PAHLAWAN ATAU KORUPTOR DAN PEMBANTAI ORANG TAK BERSALAH?

Mari fikirkan baik-baik, endapkan bersama, bagaimana kok Megawati sampai menderetkan nama Suharto dalam urutan nama-nama pejuang dan pahlawan. Merupakan suatu KEJUTAN, bahwa ucapan demikian mengenai Suharto keluar dari mulut Megawati Sukarnoputra, mantan Presiden RI dan Ketua Umum PDI-P, yang juga adalah salah seorang anak kandung mantan Presiden Sukarno - yang benar-benar pejuang dan pahlawan itu --- yang dipersekusi Jendral Suharto sampai meninggal dalam keadaan yang amat menyedihkan.



Masalah ini perlu benar-benar dijernihkan., sebelum 'kadung kebablasan'. Hitam dibilang putih. Jelek dbilang bagus. Pengkomplot dan koruptor terbesar dibilang pahlawan!



Apakah gerakan REFORMASI DAN DEMOKRATISASI (1998) yang telah menumbangkan rezin Orba; yang dengan keras dan lantang menuntut supaya Suharto, mantan Presiden RI, diadili karena kejahatannya melakukan korupsi besar-besaran; karena tanggungjawabnya atas pembantaian lebih sejuta rakyat yang tidak bersalah, yang begitu mengerikan dan biadab. ---- Apakah hal-hal itu sudah terlupakan? Apakah benar dan adil untuk begitu saja melupakan kejahatan-kejahatan yang dilakukannya? Apakah atas nama, 'melupakan yang sudah-sudah', 'jangan membuka luka-luka lama', dan 'supaya memandang kedepan' , lalu membiarkan saja kejahatan besar terhadap bangsa dan tanah air, terhadap negara yang dilakukan oleh Jendral Suharto dan kroni-kroninya? Bahkan, bolehkah, atas nama REKONSILIASI NASIONAL lalu Suharto diberi titel pejuang dan pahlawan??



Bangsa ini tak boleh lagi mengulangi, sikap yang 'nrimo' begitu saja. Tidak boleh lagi dibiarkan praktek sewenang-sewenang dan sembrono rezim Orba, yang dengan seenak perutnya , tanpa bukti apapun, tanpa proses pengadilan manapun, memfitnah orang-oranmg tak bersalah sebagai 'terlibat', 'pengkhianat' , 'orang bermasalah', dsb. Harus dihentikan kebijakan Orba yang setiap menjelang Hari Nasional 17 Agustus, membagi-bagi kado titel 'pahlawan bangsa', kepada kroni-kroni pendukung setia Suharto dan rezim Orba, menganugerahkan titel 'pahlawan' kepada istri atau sanak keluarganya. Bukankah praktek itu meniru-niru ulah sewenang-wenang, misalnya dari seorang NAPOLEON. Yang begitu mengangkat dirinya sendiri sebagai k a i s a r Perancis, Kaisar Napoleon, lalu dengan boros menganugerahkan titel 'pangeran' 'yang dipertuan putri' dan lain-lain titel kerajaan kepada siapa saja yang disukainya.



Megawati Sukanoputra menderetkan nama Suharto sebagai p e j u a n g .

Suharto memang p e r n a h ambil agian dalam perang kemerdekaan. Mengenai peristiwa bersejarah, 'Serangan Umum 1 Maret terhadap Jogyakarta, yang populer dengan nama, 'ENAM JAM DI JOGJA', sempat pula Suharto memelintir fakta sejarah, dengan mempublikasikan bahwa dialah yang punya ide-cemerlang menyerbu dan menduduki Jogja beberapa jam, dengn maksud menunjukkan pada bangsa dan dunia bahwa Republik Indonesia masih eksis dan berjuang terus.



Kepalsuan Suharto terungkap, karena catatan sejarah menunjukkkan bahwa ide 'Serangan Umum 1 Maret' adalah dari DOROJATUN, Sri Sultan Hamekubowono IX.



Dari sini saja sudah bisa dilihat bahwa Suharto bukan pejuang sejati yang tanpa pamrih.Ini satu hal. Bagaimana dengan pemberian nama 'pahlwan' kepada 'Pak Harto', yang diucapkan oleh Megawati? Bukankah sudah menjadi rahasia umum, bahwa kemudian, Jendral Suharto bergelimang dengan praktek manipulasi, menjadi penjelundup klas kakap ketika ia menjadi komandan militer di Jawa Tengah, sehingga ia kena tindakan disiplin militer, 'disekolahkan', ke Bandung.



Selanjutnya semua tau -- dalam tahun-tahun 1965-66 Jendral Suaharto melakukan makar dengan orang-orang militer sekitarnya, menggunakan 'Peristiwa G30S' untuk melakukan 'KUP MERANGKAK' terhadap negara Republik Indonesia. Kemudian menggulingkan Presiden Republik Indonesia Sukarno. Sesudah itu melalui suatu manipulasi dan rekayasa institusionil, menjadikan dirinya Presiden yang kedua Republik Indonesia.

Selain itu, Jendral Suharto bertanggung jawab atas persekusi dan pembunuhan lebih sejuta rakyat Indonesia yang tak bersalah. Selama periode rezim Orba yang ditegakkan dan dipimpinnya, selama 32 tahun, telah terjadi pelanggaran HAM terbesar dalam sejarah Indonesia. Telah mengubah Indonesia menjadi negara tanpa-hukum, yang paling besar hutang luarnegerinya, dalam periode itu berlangsung dengan sejadi-jadinya korupsi, kolusi dan nepotisme. Salah satu lembaga PBB menempatkan Suharto sebagai koruptor terbesar dan terkaya di dunia ini. Bisakah fakta-fakta ini ditiadakan begitu saja? Dengan pertimbangan hendak berkoalisi lagi dengan Golkar?



Maka, nama Suharto tak patut dideretkan sejajar dengan nama-nama : SK Trimurti, Jusuf Ronodipuro, Rosihan Anwar, Des Alwi dan lain-lain, seperti yang dikatakan oleh Megawati.



Masalahnya ialah, karena, Suharto telah mengkhianati Presiden Republik Indonesia Sukarno, telah mengkhianati bangsa , Undang-Undang Dasar RI, falsafah negara Pancasila. Suharto dengan sewenang-wenang telah mengenakan tahanan rumah terhadap Presiden RI, sampai beliau meninggal dunia. Bagaimana pula Megawati Sukarnoputri sampai menderetkan nama Suharto dengan SKTrimurti dll. yang benar-benar adalah pejuang-pejuang dan pahlawan kemerdekaan .



* * *



Untuk tambah pengenalan pembaca mengenai siapa JUSUF RONODIPURO, ada baiknya dipublikasikan lagi tulisan brikut ini mengenai KEPAHLAWANAN PEJUANG KEMERDEKAAN --- JUSUF RONODIPURO, sbb:



IBRAHIM ISA dari BIJLMER

Juma't, 18 Agustus 2006

----------------------------------------



KEPAHLAWANAN PEJUANG KEMERDEKAAN



Lahirnya satu bangsa baru, suatu nasion baru Indonesia, adalah hasil perjuangan dari seluruh bangsa, dari Sabang sampai ke Merauké. Sementara peranan dalam proses ini lebih dikenal dan dinilai lebih penting dari lainnya. Seperti peranan para pendahulu, tokoh-tokoh pemimpin bangsa ini dalam perjuangan pembangunan-bangsa dan perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme.



Seperti (untuk menyebut berapa nama saja) diantaranya : Dr. Soetomo, H.O.S, Tjokoroaminoto, Alimin, Tan Malaka, Husni Thamrin, Sukarno, Hatta, Syahrir, Amir Syarifuddin, K. Dewantoro, Leimena, Ratulangi, Tan Ling Djie, Siauw Giok Tjhan, Subadio Sastrosatomo, Yap Thiam Hien, dan banyak lainnya. Tak terhitung pula jumlah pahlawan yang tak dikenal namanya, yang berjuang, menderita dan gugur demi kemerdekaan bangsa dan tanah air.



Kiranya sudah tiba waktunya, kita mendirikan sebuah monumen nasional pejuang-pejuang kemerdekaan bangsa dan negeri, dimana ditatah nama-nama beliau-beliau yang telah memberikan jiwa dan raganya pada cita-cita mulya kemerdekaan bangsa dan nasion dan demi keadilan sosial bagi rakyat. Lebih penting lagi kiranya untuk tidak melupakan para PAHLAWAN YANG TAK DIKENAL. Tetapi yang sumbangan dan jasanya tidak kurang dari para tokoh dan founding fathers bangsa ini.



* * * *



Yang ingin aku kemukakan kali ini ialah: Tindakan kepahlawanan dari JUSUF RONODIPURO, dan kawan-kawannya dari kantor pemancar radio pendudukan militer Jepang di Jakarta. Berkat tekad dan keberanian revolusioner beliau dan kawan-kawannya maka PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA dapat disiarkan ke seluruh Indonesia dan dunia.



Betapa besar arti tindakan Jusuf Ronodipurro dan kawannya Bahtar tak ternilaikan, ketika mereka menerobos isolasi ketat Kenpeitai Jepang, menyelinap ke kamar siaran luarnegeri yang digunakan Jepang untuk siaran ke Indonesia dan ke luarnegeri. Kemudian di situ membacakan teks dari secarik kertas: PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA. Sesudah membacakan dan menyiarkan teks Proklamai tsb, mereka digerebeg Kenpeitei. Digebuki, ditendangi lars Kenpeitan, dan .... nyaris saja leher mereka ditebas samurai Kenpeitai Jepang. Syukur Alhamdulillah , rupanya masih ada yang melindungi dua orang pejuang itu.



Juga adalah berkat tindakan berani Jusuf Ronodipuro dan kawan-kawannya, melaksanakan saran teramat penting dari dr. Abdurrahman Saleh yang sering disebut Pak Karbol, tentang PERLUNYA REPUBLIK INDONESIA punya pemancar Radio sendiri. Maka, Jusuf Ronodiputro bersama kawan-kawan seperjuangannya membangun pemancar pertama Radio Republik Indonesia. Pemancar pertama Radio Republik Indonesia tsb tersembunyi di belakang "kamar mayat" di RSUP ketika itu (sekarang namanya RSCM).



Dalam rangka peristiwa bersejarah tsb diatas itulah, ku-ingin memboyong pembaca untuk membaca satu tulisan penting: Wawancara dalam KCM – Kompas Cyber Media, 18 Agustus 2006. Yang diwawancarai adalah Jusuf Ronodipuro mantan direktur Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta. Sekarang ini umur beliau kira-kira sekitar 80-an. Wartawan KCM yang menulisnya bernama --- LUSIA KUS ANNA.



* * *



Friday, November 2, 2007

IBRAHIM ISA --- BERBAGI CERITA -- LEIDEN MEMPERINGATI 'HARI SUMPAH PEMUDA'

IBRAHIM ISA --- BERBAGI CERITA

----------------------------------------

Kemis, 01 November 2007


LEIDEN MEMPERINGATI 'HARI SUMPAH PEMUDA'


KEUNGGULAN generasi muda kita, ----- ialah, --- mereka selalu berinisiatif dan aktif. Selalu rela berkorban demi cita-cita luhur kemerdekaan, keadilan, kemakmuran serta kebesaran bangsa dan tanah air INDONESIA. Ini terukir dalam sejarah perjuangan bangsa kita untuk kemerdekaan Tanah Air dan Bangsa. Bukti keras yang monumental, didemonstrasikan pada Hari SUMPAH PEMUDA 28 Oktober 1928, REVOLUSI AGUSTUS 1945 dan maraknya GERAKAN REFORMASI DAN DEMOKRATISASI 1998, yang telah menggulingkan rezim Orba di bawah Presiden Suharto.


Memperingati -- Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 -- , memang sudah menjadi suatu tradisi bangsa kita. Suatu tradisi yang baik. Yang sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Tradisi ini relevan dan perlu diteruskan. Memperingati Hari Sumpah Pemuda, mengingatkan kita kembali tentang perlunya mengkhayati arti penting memahami secara tepat, sejarah perjuangan bangsa kita dalam membangun nasion Indonesia dan memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.


Ada pendapat yang menyatakan, bahwa belakangan ini , peringatan Hari Sumpah Pemuda, lebih banyak dilakukan secara seremonial dan ritual belaka. Atau hanya bersifat formal. Maka,-- begitu diargumentasikan , --- sebaiknya hapuskan saja peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang bersifat seremonial dan ritual itu. Tidak perlu itu, demikian dikatakan.


Seremoni dan ritual, adalah bagian (bahkan bagian yang termasuk penting) dari kehidupan budaya manusia, termasuk budaya manusia Indonesia. Yang harus diperhatikan dan dijaga, ialah agar jangan sampai kebablasan dalam melakukan seremoni dan ritual. Perlu dicegah jangan sampai merayakan Hari Sumpah Pemuda semata-mata, atau lebih banyak bersifat seremonial dan ritual. Kebiasaan dan tradisi memperingati Hari Sumpah Pemuda, dan hari-hari penting nasional lainnya, termasuk segi seremoni dan ritualnya, samasekali tidak ada salahnya.


* * *


Seminar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang diadakan pada hari Miggu, 28 Oktober 2007 di Leiden, dengan mengambil tema -- 'SAMPAI DIMANA KEINDONESIAAN KITA' -- , telah berlangsung di gedung Teater LAK, Universiteit Leiden. Tidak ketinggalan dipentaskannya malam kebudayaan. Diisi dengan tari dan nyanyi Indonesia, merdu dan indah. Cukup meriah. Sayang Penulis tidak sempat hadir terus pada bagian kedua Seminar, dan juga tidak ambil bagian dalam malam kebudayaannya, karena, ada urusan lain.


Tema yang dipilih cukup menarik dan luas. Bisa dibayangkan betapa sulitnya panitya menyimpulkan hasil seminar nantinya. Ketika moderator memberikan orasinya, tersirat fikiran yang dipengaruhi oleh pesimisme mengenai hari depan bangsa dan tanah air. Padahal, seyogianya, memperingati Hari Sumpah Pemuda, tujuannya adalah untuk memperkokoh semangat dan jiwa opitmisme, kesadaran satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air, serta semangat nasionalisme patriotik yang optimis.


* * *


Perlu dikemukakan bahwa secara keseluruhan Hari Peringatan Sumpah Pemuda yang diisi dengan sebuah seminar, adalah positif. Namun, tidak boleh menutup mata terhadap kekurangan-kekurangan nya, baik mengenai pemanduan maupun mengenai isi pembicaraan sementara nara sumber. Panitya Penyelenggara Seminar (FKMIN bekerjasama dengan KBRI Den Haag) menunjukkan kesungguh-sungguhan dengan a.l. menyediakan bahan bacaan tercetak untuk keperluan seminar. Antara lain, yang disusun atau dikemukakan secara lisan oleh para nara sumber, termasuk Mintardjo SH (Yayasan Sapulidi Leiden), Prof. Amal Tamrin Tamagola, Leiden, Sofyan Siregar (Ketua FKMIN) dan J.E Habibie, Dubes RI untuk Kerajaan Belanda,dan lain-lain.


Perlu diperhatikan apa yang disampaikan oleh Mintardjo yang mengemukakan tentang peran masyarakat Indonesia di negeri Belanda dalam 'membentuk dan menjaga ke-Indonesiaan'. Tentang pentingnya membangkitkan kepedulian orang-orang Indonesia tehadap nasib bangsanya sendiri, dan perlunya memberikan keyakinan bahwa Indonesia bukanlah Negara yang tanpa harapan.


Namun, yang paling menarik perhatian adalah sumbangsih fikiran yang disampaikan oleh Prof. Dr Amal Tamrin Tomagola. Terutama karena yang diajukan itu, selain amat kritis dan juga analitis, --- juga karena ia mengangkat soal-soal yang nyata, yang riil, yang relevan mengenai kendala-kendala yang dihadapi bangsa kita dewasa ini, tanpa tedeng aling-aling. Baik dari yang terdapat di kalangan masyarakat maupun di kalangan yang berwewenang. Tamrin memfokuskan pada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan hidup, budaya korupsi dan kemiskinan, yan bila tidak ditangani dengan baik dan pandai, akan merupakan kendala bagi kemajuan bahkan kelangsungan hidup bangsa ini. Penting sekali apa yang dikemukakan Tamrin tertuju kepada para pemuda-pemudi yang sedang menempuh studi di Belanda. Yaitu, agar bila selesai studi dan pulang ke tanah air, jangan 'nongkrong' di Jakarta, hendaknya terjun ke daerah-daerah, ikut membangun kekuatan demokratis masyarakat dari tingkat bawah, akar rumput.


* * *


Kiranya perlu diperhatikan ( terutama oleh yang bersangkutan) pendapat sementara hadirin, yang menyatakan (kepada penulis) bahwa apa yang diajukan oleh Prof Amal Tamrin Tomagola, jauh lebih relevan dengan situasi tanah air dan bangsa. Apa yang disampaikan Tamrin, lebih bermutu. terbanding, misalnya, pembicaraan yang disampaikan oleh JE Habibie, Dubes RI untuk Kerajaan Belanda, yang tampil sebagai nara sumber. Dengan segala hormat kepada beliau, dinyatakan bahwa sebagai salah seorang nara sumber, apa yang diorasikan JE Habibie terlalu banyak yang terpaut dengan dirinya sendiri. Di satu fihak, pendengar menghargai semangat nasionalis yang dimanifestasikan JE Habibie. Pada segi lainnya dikemukakan dengan kesal (kepada penulis), bahwa Dubes kita, tidak tahan dan tidak bisa mendengar kritik, seperti tampak ketika berliau berrreaksi keras terhadap kritik mengenai kehidupan parpol, para elite (yang berkuasa) dan maraknya korupsi di tanah air. Suatu kritik tajam dan keras golongan muda, yang diajukan pembicara dari PPI Belanda. Kontan saja Dubes , melakukan 'serangan balas', sehingga kesannya, beliau ingin meredam pendapat yang berbeda dengan pendapatnya sendiri.


Selain itu ada pendapat JE Habibie yang menarik perhatian, ketika beliau memberikn tafsirannya sendiri sekitar digulingkannya Presiden Sukarno. Dengan maksud untuk menonjolkan 'peranan pemuda-pemuda' yang berdemo menentang Presiden Sukarno pada periode 1965-1966, dinyatakannya bahwa aksi-aksi yang dilakukan oleh KAPPI/KAMI pada periode 1965/1966, akhirynya menyebabkan TUMBANGNYA SUKARNO.


Padahal catatan dan analisis mengenai peristiwa pada masa itu, baik yang ditulis oleh pakar-pakar dan penulis-penulis Indonesia maupun luar negeri, cukup jelas mengungkapkan bahwa tergulingnya Presiden Sukarno, penyebabnya, pertama-tama dan terutama adalah kekerasan militer, adalah 'KUP MERANGKA' yang dilakukan oleh bagian dari AD yang dipimpin oleh Jendral Suharto dengan kekuatan pasukan KOSTRAD. Peranan AS dan CIA-nya tidak kalah penting dalam menumbangkan Presiden Sukarno, yang memang telah berusaha berkali-kali untuk menggulingkan Presiden Sukarno, seperti yang mereka lakukan melalui pemberontakan PRRI/Permesta http://dewa-api.blogspot.com/2007/07/soempah-pemoeda.html>


* * *

LAMPIRAN II

Diskusi Reflektif Sumpah Pemuda dan Nasionalisme Indonesia

==============================================

Dalam rangka menanggapi maraknya kembali gerakan restorasi dan

berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini, Rumah Kiri dan

Ultimus menyelenggarakan Diskusi Reflektif tentang Sumpah Pemuda dan

Nasionalisme Indonesia pada:

Hari Senin 5 November 2007; Narasumber : Hilmar Farid (Sejarawan) Samsir Mohamad (Bekas Anggota Konstituante, Penulis. Waktu Pukul 19.00 WIB – Selesai. Tempat Toko Buku Ultimus, Jalan Lengkong Besar No. 127 Bandung

Kegiatan ini Terbuka untuk Umum dan Gratis

Contact Person: Sadikin 081573218225

Informasi Selengkapnya di http://rumahkiri.net/

Link:http://rumahkiri.net/index.php?option=com_events&task=view_detail&agid=6&year=2007&month=10&day=27&Ite * * *



* * *


IBRAHIM ISA dari BIJLMER -- SUATU USAHA YANG PATUT DIDUKUNG

IBRAHIM ISA dari BIJLMER
----------------------------------
25 Februari 2005.



SUATU USAHA YANG PATUT DIDUKUNG



Hubungan saling-susup dan saling-pengaruh, di bidang budaya dan sastra antara Indonesia dan Nederland, sudah berlangsung lama. Salah satu tonggak penting dalam sejarah yang menjadi kenangan abadi ialah terbitnya buku MAX HAVELAAR, karangan Multatuli (Eduard Douwes Dekker). Buku tsb adalah curahan hati-nurani kalangan Belanda yang maju, yang dengan mata kepala sendiri, menyaksikan kejahatan kolonialisme bangsanya sendiri terhadap Indonesia. Douwes Dekker berani menuliskan kecamannya dan mempublikasinya.
Di segi lain tidak kebetulan pula bahwa buku Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri pertama Republik Indonesia, yang mensosialisasikan di bidang internasional, -- jiwa merdeka bangsa Indonesia yang punya tekad juang sampai akhir melawan kolonialisme Belanda, demi mencapai tujuan kemerdekaan, -- pertama terbit di negeri Belanda dalam bahasa Belanda, berjudul 'INDONESISCHE OVERPEINZINGEN" diterjemahkan dalam bahasa Indonesia "RENUNGAN INDONESIA" dan "ONZE STRIJD", "PERJUANGAN KITA".
Bisa dikatakan bahwa hubungan Indonesia-Belanda, termasuk hubungan budaya dan sastranya, sebagai hubungan "hate and love relationship".
Dalam sejarah hubungan dua negeri ini hubungan tsb melewati masa pasang surut. Penyebabnya ialah situasi perjuangan kemerdekaan di masa lalu, dan terutama sikap politik pemerintah Belanda ketika itu, yang masih sulit untuk melihat kenyataan bahwa bangsa Indonesia sudah sejak 1945 telah mengambil nasib di tangannya sendiri, dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Lebih dua tahun yang lalu, pada tanggal 28 Oktober 2002, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, adalah Indonesianist Belanda, Prof. Dr. Bob Hering, yang menulis dan meluncurkan buku biografi politik dalam bahasa Inggris tentang salah seorang penting founding father bangsa kita, -- IR SUKARNO - berjudul "SOEKARNO - FOUNDING FATHER OF INDONESIA 1901-1945". Buku tsb diluncurkan di Kedutaan Besar Indonesia, Den Haag.

Penerbitnya adalah sebuah lembaga kerajaan Belanda, yaitu KITLV. HASTA MITRA, penerbit edisi Indonesia dari buku Bob Hering itu, ketika mengomentari karya Bob Hering, menulis a.l. sbb:

. . . biografi Bung Karno, hasil penelitian seorang Belanda, Prof. Dr Bob Hering, yang untuk pertama kalinya mengedepankan satu visi lain ketimbang tulisan para Indonesianist sebelumnya. Lain daripada yang lain, karena Bob Hering adalah Indonesianist yang BERORIENTASI INDONESIA bukan Barat.

Baru-baru ini dua sahabat baik saya, Harry Poeze, Kepala Penerbit KITLV)dan Jaap Erkelens, Peneliti Indonesia dan puluhan tahun mewakili KITLV di Indonesia, berrencana akan memprodusir dalam CD, lagu-lagu Indonesia periode perjuangan melawan penjajahan Belanda dan khususnya periode yang disebut oleh Orba sebagai Orla. Bila berhasil rencana mereka ini, itu akan merupakan sumbangan penting dalam mencatat bagian dari kehidupan budaya, khususnya musik pada periode yang dimaksud.
Oleh karena itu, segyogianya, 'PROPOSAL' Harry Poeze dan Jaap Erkelens tsb dibantu sebisa-bisanya. Dengan sendirinya hal itu merupakan sumbangan penting dalam memajukan hubungan budaya antara bangsa Belanda dan bangsa Indonesia.
Pembaca kami persilakan untuk membaca sendiri HIMBAUAN kedua sahabat Belanda itu, (yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonsia sbb: (Himbauan aslinya dalam bahasa Belanda, disiarkan ulang)

--------------------------------------------------------

HIMBAUAN HARRY POEZE DAN JAAP ERKELENS

--------------------------------------------------------

Jaap Erkelenes, yang untuk bertahun-tahun lamanya menjadi wakil KITLV di Jakarta, dan Harry Poeze, kepala Penerbit KITLV, dengan bekerjsama dengan rekan-peneliti Indonesia, memproduksi sebuah CD, berisikan lagu-lagu nasionalistis, politik dan radikal, sebagaimana dinyanyikan pada zaman kolonial, dan semasa Orde Lama.
Untuk itu kami akan menggunakan piringan hitam lama (putaran 78 dan 33) dan selain itu juga dari sejumlah lagu-lagu baru membuat rekaman. Semua teks dan penjelasan mengenai lagu-lagu itu akan terbit dalam sebuah buku yang mengantar CD tsb. Fikir kami, dengan cara ini suatu bagian yang terlupakan dari kultur politik sampai dengan 1965 akan dapat dicatat (vastgelegd).

Untuk itu kami akan menggunakan piringan hitam lama (putaran 78 dan 33) dan selain itu juga dari sejumlah lagu-lagu baru membuat rekaman. Semua teks dan penjelasan mengenai lagu-lagu itu akan terbit dalam sebuah buku yang mengantar CD tsb. Fikir kami, dengan cara ini suatu bagian yang terlupakan dari kultur politik sampai dengan 1965 akan dapat dicatat (vastgelegd).

Yang nmengenai periode 1950-1965 - kami tidak bermaksud untuk merekam lag-lagu yang terkenal sebagai 'Lagu Perjuangan' ciptaan Ismail Marzuki dan Cornel Simanjuntak, karena ia sudah banuak kali diterbitkan - tetapi lagu-lagu seperti yang dinyanyikan di kalangan partai-partai politik radikal - untuk PKI umpamanya, 'Darah Rakyat', '12 Nopember' dan 'Internasionale'; untuk Partai Murba 'Mars Murba'; untuk PNI 'Mars Marhaen' dan 'Hidup Bapak Marhaenisme'. Selain itu ada lagu-lagu Sukarnois seperti 'Viva Ganefo', 'Api Cubana' dan 'Nasakom'.

Menerbitkan CD seperti itu tidak mudah, karena banyak - boleh dibilang semua - piringanhitam sudah musnah.

Dari periode kolonial kami masih masih memiliki rekaman Indonesia Raya (tanpa dan yang dengan teks - yang disesuaikan) dan rekaman 'Lagoe Marhaen' dan 'Kepada bendera kami'.

Apa yang kami cari ialah rekaman orisinil dari periode 11950 - 1965 mengenai lagu-lagu seperti itu. Pada kami hanyalah ada rekaman di Peking dalam tahun 1963 dari Rombongan Nyanyi dan Tari LEKRA.

Apakah ada dari kalangan pembaca yang memiliki rekaman lama, atau mengetahui dimana bisa memperoleh rekaman-rekaman tsb. Kami ingin sekali membuat rekamannya.

Selanjutnya kami mencari buku-buku berisikan kumpulan teks lagu-lagu (dengan sendirinya sebaiknya disertai catatan-musiknya), ataupun lembaran-lembaran lepas musik, atau teks-teks dari koran-koran dan majalah-majalah.

Juga pengalaman dari orang-orang yang pernah mendengar lagu-lagu ini, atau ambil bagian dalam suatu paduan suara yang menyanyikan lagu-lagu ini, sangat kami sambut.

Kami berharap dengan cara ini kami akan berhasil untuk mengabadikan bagian penting dan juga artistik menarik dari periode tahun limalpuluh dan enampuluhan dari abad lampau, sebagai warisan sejarah Indonesia.

Reaksi harap disampaikan kepada:
Harry Poeze, Postbus 9515, 2300 RA Leiden, Nederland
Tel. 071-5272465 atau 0251-653492

***


LAMPIRAN
-------- HIMBAUAN HARRY POEZE dan JAAP ERKELENS
DALAM BAHASA ASLINYA (BELANDA):
======================================

Jaap Erkelens, vele jaren lang de vertegenwoordiger van het KITLV in Jakarta, en Harry Poeze, hoofd van de KITLV Uitgeverij, willen in samenwerking met een Indonesische collega-onderzoeker, een CD uitbrengen waarop nationalistische, politieke en radicale liederen staan, zoals die werden gezongen in de koloniale tijd, en tijdens de Orde Lama.
We willen daartoe oude opnamen (op 78- en 33-toeren-platen) gebruiken, en daarnaast ook van een aantal liederen nieuwe opnamen maken. Alle teksten en toelichting daarop zullen verschijnen in een boekje dat de CD begeleidt. Wij denken dat op deze wijze een vergeten onderdeel van de politieke cultuur tot 1965 kan worden vastgelegd.

Voor wat betreft de periode 1950-1965 - op de CD willen we niet opnemen de bekende 'Lagu Perjuangan' van Ismail Marzuki en Cornel Simanjuntak, omdat deze reeds vele malen zijn uitgebracht - maar liederen zoals die werden gezongen in de radicale politieke partijen - voor de PKI bijv. 'Darah rakyat', '12 Nopember' en 'Internasionale'; voor de Partai Murba 'Mars Murba'; voor de PNI 'Mars Marhaen Indonesia' en 'Hidup Bapak Marhaenisme'. Daarnaast zijn er Soekarnoïstische liederen als 'Viva Ganefo', 'Api Cubana' en 'Nasakom'.

Het uitbrengen van zo'n CD is niet makkelijk, omdat veel - in feite vrijwel alle - grammofoonplaten verloren zijn gegaan.

Uit de koloniale periode beschikken wij nog over een opname van Indonesia Raya (zonder en met - aagepaste - tekst) en opnamen van 'Lagoe Marhaen' en 'Kepada bendera kami'.

Wat wij zoeken zijn originele opnamen uit de periode 1950-1965 van zulke liederen. In ons bezit is slechts een opname in Peking in 1963 van de Rombongan Nyanyi dan Tari LEKRA.
\Zijn er nog lezers van deze oproep die over deze oude opnamen beschikken, of weten waar deze nog te vinden zijn? Wij willen dan graag een kopie daarvan maken.

Verder zoeken wij boeken met een bundeling van liedteksten (natuurlijk liefst met muzieknotatie), of losse bladmuziek, of teksten in kranten en tijdschriften.
Ook ervaringen van mensen die deze muziek hebben gehoord, of deel uitmaakten van een koor dat deze liederen zong, zijn zeer welkom.

We hopen dat het ons op deze wijze lukt een belangrijk en ook artistiek aantrekkelijk onderdeel van de politieke cultuur van de jaren vijftig en zestig van de vorige eeuw vast te leggen als historisch erfgoed van Indonesië.

Reacties kunnen worden gezonden naar:

Harry Poeze
KITLV
Postbus 9515
2300 RA Leiden
Nederland
tel. 071-5272465 of 0251-653492
email: [EMAIL PROTECTED] * * *

IBRAHIM ISA - MENYAMBUT PELUNCURAN BUKU HARTATI NURWIDJAYA:

IBRAHIM ISA

------------------

Amsterdam, 27 Oktober 2007.



---------------------------------------------------------------------------------------

MENYAMBUT PELUNCURAN BUKU HARTATI NURWIDJAYA:

PEKAWINAN ANTAR BANGSA: LOVE AND SHOCK

----------------------------------------------------------------------------------------


Sdr. Hartati Nurwidjaya y.b.,


Saya menyambut hangat buku Anda,

============================================
'PERKAWINAN ANTAR BANGSA : LOVE ANE SHOCK',
============================================

yang akan segera diluncurkan di Jakarta,
bertepatan dengan HARI SUMPAH PEMUDA, 28 Oktober 2007.


Tema yang dipilih menunjukkan keberanian Hartati Nurwijaya

mengangkat masalah PERKAWINAN ANTAR BANGSA, menyorotinya dengan leluasa, menuturkan kisah 'suka-duka' bagi seorang wanita Indonesia yang memilih teman hidupnya seorang Junani.


Hartati berani menempuh jalan hidup bersama priya pilihannya, dengan berjuang dalam kehidupan sehari-harinya mengatasi pelbagai tantangan

dan kesulitan. Ini sesuatu yang patut dijadikan teladan bagi siapa saja dari bangsa kita yang telah menempuh jalan hidup bersama dengan priya berbangsa lain.


Dunia terus mengalami perubahan!

Dewasa ini sedang berlangsung terus proses globalisasi, atau katakanlah 'inernasionalisasi', yang menyangkut bidang hubungan ekonomi dan politik antara bangsa-bangsa di dunia ini.
Proses globalisasi tsb tidak saja berlangsung di bidang-bidang ekonomi dan politik, ----- tetapi juga terjadi di bidang kultur dan budaya. Bila di masa lampau bukan sesuatu yang mudah diterima, bila seseorang perempuan Indonesia bersuamikan bukan bangsanya sendiri, ----- namun, dewasa ini, bukanlah lagi sesuatu yang aneh, bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang 'tidak wajar' bila seorang wanita Indonesia memilih priya bangsa lain, sebagai teman hidupnya. Juga sebaliknya, bila seorang priya Indonesia memilih wanita berbangsa lain sebagai istrinya.


Dalam kehidupan nyata suami-istri, bukankah 'cinta-kasih' suami istri, bukankah sikap saling menghargai dan saling menghormati, saling memahami dan saling toleransi, saling 'give and take' yang memberikan dasar bagi kehidupan harmonis keluarga yang bersangkutan?


Dalam kehidupan keluarga, tak peduli itu menyangkut bangsa manapun di dunia ini --- Yang terpenting adalah sikap konsisten masing-masing, SALING-MENCINTAI dan SALING MEMAHAMI serta SALING BERSIKAP TOLERAN'.

Itulah dasar utama bagi kehidupan keluarga yang harmonis yang memberika sayrat baik bagi pendidikan umum terutama moral yang berhasil bagi anak-anak mereka.


HARTATI NURWIJAYA,


Dengan ini sekali lagi kusampaikan UCAPAN SELAMAT PELUNCURAN BUKU ANDA.

MAJU TERUS , PANTANG MUNDU!


Ibrahim Isa

-----------

Thursday, November 1, 2007

Kolom IBRAHIM ISA -- 17 OKT. 1952 - MERIAM NODONG ISTANA . . .

Kolom IBRAHIM ISA

-------------------------------------------

Rabu, 17 Oktober 2007



( Bagian - I )

17 OKT. 1952 - MERIAM NODONG ISTANA . . . .

Bagaimana REAKSI PRESIDEN SUKARNO?



* * *

17 Oktober 1952 --- Apakah yang terjadi di Jakarta, pada 55 tahun yang lalu?

Tanggal tsb adalah fakta penting dalam sejarah perkembangan negara Republik Indonesia. Kalau masih diingat, maka peristiwa itu samar-samar diingat sebagai 'Peristiwa 17 Oktober 1952'. Mungkin saja banyak yang sudah 'lupa' atau dengan tak disadari menjadi 'lupa' tentang apa yang terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952. Sementara kalangan, terutama militer, dengan sengaja melupakannya. Semacam 'lupa masa lampau'. Sulit mencari keterangan lain, bahwa hal itu (melupakan fakta tertentu dalam sejarah) dilakukan demi kepentingan politik tertentu.



Mungkin tak disadari masyarakat, apalagi dari kalangan generasi baru, yang hidup dan dibesarkan dalam periode rezim Orba, apa yang sesungguhnya terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952. Bagi orang-orang generasi-ku tak mungkin akan melupakan hari tanggal 17 Oktober 1952.

Ketika itu, pada pagi tanggal 17 Oktober 1952, sejumlah tank dan meriam Angkatan Darat, moncongnya diarahkan ke Istana Negara dan sejumlah besar tentara dan massa berkumpul di muka Istana Presiden Sukarno. Mereka membawa slogan-slogan politik sambil menyerukan yel-yel, menuntut dibubarkannyua DPR-RI, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.



PENJELASAN BUNG KARNO Tentang 17 OKTOBER 1952.

Pada tanggal 17 Oktober 1952, moncong-moncong meriam dan tank-tank AD jelas diarahkan ke Istana Negara, dan siapapun tahu bahwa yang berdomisili di Istana Negara adalah, Sukarno, Presiden Republik Indonesia. Mari kita ikuti penjelasan Presiden Sukarno sendiri tentang apa yang terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952 tsb.



* * *



Dari demikian banyaknya tulisan-tulisan Bung Karno --, yang kuanggap termasuk paling otentik, adalah 'memoar' Bung Karno berjudul: 'SUKARNO An Autobiography As Told To Cindy Adams' , Copyright 1965 by Cindy Adams's. Bagian yang diambil dan diterjemahkan di bawah ini adalah dari Edisi bahasa Belanda - terjemahan N.G. Hazelhoff, terbitan NV Uitgeverij W. Van Hoeve's-Gravenhage, 1967, berjudul : ' SUKARNO, Autobiografie Opgetekend door CINDY-ADAM'S.' >.



Inilah a.l. yang dijelaskan Presiden Sukarno mengenai Peristiwa 17 Oktober 1952. Baiklah ikuti dengan seksama, sbb:

'Pada pada pagi-pagi sekali, tanggal tujuhbelas Oktober 1952, dua buah tank, empat panser dan ribuan tentara menerjang pintu-pintu Istana Merdeka. Mereka membawa spanduk-spanduk yang bertuliskan teks 'bubarkan Parlemen'. Batalyon artileri dengan empat meriam dengan suaranya yang riuh rendah memasuki lapangan di depan Istana. Beberapa meriam buatan Inggris (peluru ukuran 12 pon) diarahkan pada saya. Unjuk kekuatan ini mencerminkan histeria hari-hari saat itu. Selain itu amatlah tidak bijaksana apa yang mereka lakukan itu, karena para komandan yang merancangkan itu, semuanya ada (di dalam) Istana bersama saya.

Kolonel Abdul Haris Nasution, yang memberikan pimpinan pada usaha yang menuju pada 'setengah kudeta', seperti yang dikatakannya sendiri, angkat bicara. 'Ini bukan ditujukan terhadap Bapak pribadi, Pak, tetapi ditujukan terhadap sistim pemerintahan. Bapak harus dengan segera membubarkan Parlemen.'



Itulah yang terjadi pada pagi hari 17 Oktober 1952. SUATU USAHA YANG MENGARAH KE SETENGAH KUDETA. Itu kata-kata A. H Nasution sendiri, yang ketika itu adalah pimpinan tertinggi AD. Lalu, bagaimana reaksi Bung Karno? Mari ikuti apa kata-kata Bung Karno sendiri ketika beliau menuturkan peristiwa pagi itu.



Bung Karno:

'Mata saya membelalak memancarkan api kemarahan. 'Apa yang kau katakan itu benar, tetapi cara yang kau ajukan tidak benar. Sukarno kapanpun tak akan tunduk terhadap tekanan. Tidak terhadap tentara Belanda dan tidak terhadap sebuah batalyon tentara Indonesia!'.

'Bilamana ada kesulitan di negeri ini, semua mengharapkan agar tentara turun tangan mencari penyelesaian', tukas Nasution balik. 'Kaum politisi yang menciptakan perang yang membawa korban di kalangan tentara. Maka adalah adil bahwa kami juga punya suara dalam masalah besar ini.'

'Kau bisa katakan apa yang kau ingin katakan kepada Bung Karno - JA.

'Tetapi mengancam Bapak Republik Indonesia -- TIDAK! SELAMANYA TIDAK!'

'Dengan tenang saya menuju ke luar ke arah massa yang telah dibikin marah oleh pelbagai pidato. Kebalikannya dari menjadi kecut menghadapi ancaman meriam, saya tatap langsung moncong meriam tsb tanpa gentar sedikitpun, dengan sekuat tenaga mencurahkan kemarahan saya pada mereka yang hendak membunuh demokrasi dengan bantuan suatu regu-tembak.

'O-o', . . . seru seorang prajurit terengah-engah, 'apa yang kita lakukan adalah salah. Ya, Bapak menghendaki yang lain', seru dua orang lainnya yang ada di dekat situ.

Yang lainnya lagi beteriak, 'Jika Bapak tidak menghendakinya, maka . . . . .' ; '. . . Kita juga tidak mau', demikian yang lain menyelesaikan kalimat itu.



'Perebutan kekuasaan negara' tsb menjadi suatu kegagalan yang mnyedihkan. Massa bubar menyebar sambil berseru , 'Hidup Bung Karno . . . . Hidup Bung Karno'.

Nasution kemudian dipecat dari jabatannya. Tetapi saya tidak menginginkan perpecahan antara saya dengan kekuatan bersenjata kita. Oleh karena itu kemudian saya rehabilitasi dia (Nasution) kembali di jabatannya (semula) dengan kata-kata berikut ini, 'Sukarno bukan anak kemarin dulu dan Nasution bukan anak kemarin dulu. Kita tetap bersatu karena bila musuh kita berhasil menyebarkan perpecahan, hal itu berarti berakhirlah kita sudah.'

Demikian antara lain Bung Karno dalam memoarnya.



* * *



Jelas sekali duduk perkaranya sekitar 'Peristiwa 17 Oktober 1952' itu. Bung Karno tegas menyatakan bahwa hal itu adalah suatu perobaan 'PEREBUTAN KEKUASAAN NEGARA' (oleh tentara) yang gagal amat menyedihkan. Kolonel Nasution yang karena itu dipecat dan kemudian direhabilitasi oleh Bung Karno demi persatuan, juga menyatakan dengan setengah hati, bahwa yang dilakukannya itu 'mengarah ke separuh kudeta'. Tetapi gagal karena ketegasan dan keberanian Bung Karno mempertahanakn demokrasi.

Baik juga mengikuti analisis Bung Karno, mengapa perkembangan sampai ke titik peristiwa 17 Oktober 1952.



Pada bagian berikutnya dari tulisan ini, akan bisa diikuti bersama, penjelasan dan analisis Bung Karno, mengenai situasi politik ketika itu.



Dalam penjelasannya yang akan dikutip lebih lengkap dalam tulisan berikut nanti, Bung Karno memulai penjelasannya, dengan mengingatkan bahwa Undang-Undang Dasar kita didasarkna pada suatu kabinet presidensil yang dikenal di Amerika Serikat. Tetapi Sekutu yang mendarat di Indonesia sesudah Jepang menyerah dalam Perang Pasifik, adalah orang-orang Inggris dan Belanda. Mereka-mereka itu terbiasa dengan dengan seorang kepala negara yang tituler seperti Ratu Belanda, Raja Inggris atau Presiden Republik Perancis, yang samasekali tidak punya tanggungjawab atas pekerjaan pemerintahan sehari-harinya..



Pendapat mereka mengenai suatu sistim kenegaraan dimana Presiden bertanggungjawab mengenai pekerjaan sehari-hari pemerintahan dengan samar-samar mengingatkan (mereka) pada Nazi-Jerman dan Kerajaan Jepang yang militeristik. 'Jika Presiden Sukarno sekaligus kepala negara, juga panglima angkatan bersenjata dan pemimpin kabinet, maka itu adalah fasisstis, teriak Sir Philip Christinson dan jendral-jendral Inggris lainnya.', tulis Bung Karno dalam memoarnya.



Nanti akan tampak pula, bahwa pada saat ketika Presiden Sukarno menyatakan DEKRIT PRESIDEN untuk kembali ke UUD-1945, membubarkan Parlemen dan Konstituante, Bung Karno sempat menyatakan bahwa pada ketika itu, TENTARA memperoleh apa yang mereka inginkan: BIBUBARKANNYA PARLEMEN!



Untuk jelasnya, bagaiamana situasi kehidupan politik di Republik Indonesia dengan sistim multi-partai ketika itu, baik kita ikuti nanti, tuturan Bung Karno dalam tulisan berikutnya.

(Bersambung) * * *