Sunday, February 14, 2010

“BUKAN ROMAN, ITU ADALAH GUGATAN”

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Rabu, 13 Januari 2010
----------------------------

Buku “Max HAVELAAR” Oleh Multatuli

“BUKAN ROMAN, ITU ADALAH GUGATAN”



Sudah kurang lebih dua minggu, orang-orang yang tinggal di negeri
Belanda ini menggigil kedinginan. Hampir setiap hari ada kemacetaan
lalu-lintas. Jalan-jalan licin. Sang suhu bertahan terus di bawah
nol derajat Celcius. Sejauh mata memandang . . . . putih, putih, dan
putih oleh salju yang menutupi bumi dan pepohonan. Ketika menulis
ini aku melongok sejenak keluar lewat jendela kaca kamar kerjaku, .
. . . tak ada tanda-tanda salju akan lumer. Dan begitulah di
kebanyakan negeri-negeri Eropah Barat/Utara lainnya, Tiongkok,
Jepang dan Amerika Utara.

* * *

Beginilah Belanda. Musimnya ada empat. Musim panas yang paling
menyenangkan dan indah dengan pameran jutaan bunga di Taman Bunga
Keukenhof, tapi . . . yang musim dinginnya begini ini.


Ironisnya . . . belum lama para pemimpin dunia berkumpul di
Kopenhagen, Denmark, membicarakan bagaimana caranya . . . . .
mencegah planit bumi ini jangan sampai menjadi lebih cepat panas
(yang disebabkan oleh pengotoran alam oleh industri) sehingga tak
mungkin lagi hidup tanaman apalgi dihuni machluk apapun. Bisa
dibayangkan, betapa sibuknya para organisator konferensi Kopenhagen
itu, menyusun dokumen konferensi untuk dipublikasikan, dalam cuaca
yang . . . . dingin begini ini.

Setiap hari, setiap jam, radio, TV selalu sibuk melaporkan cuaca. Papasan dengan kenalan dan tetangga, yang jadi kata-kata sapaan juga adalah mengenai cuaca yang . . . . Het is koud heh . . .? Ya, ya, ya! Het is winter. . . . . . toch?! Oleh karena itu, tidak diteruskan pembicaraan mengenai cuaca dan suhu!

* * *

Dalam suasana dingin seperti ini, ada juga yang membikin hati kita menjadi hangat dan antusias. Khususnya dalam hubungan perkembangan hubungan Indonesia-Belanda. Hari ini kuterima lewat pos sebuah undangan dari direksi “Bijzondere Collecties van de Universiteit van Amsterdam”, dan pengurus “Multatuli Genootschap”. Undangan tsb untuk tamggal 2 Februari, 2010 yad, -- berkenaan dengan 150 tahun diterbitkannya buku Dr Douwes Dekker (Multatuli), berjudul “MAX HAVELAAR”.

Lengkapnya judul buku tsb adalah *"*/*Max Havelaar*/* of de koffieveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy".*

Peringatan yang diselenggarakan bersama oleh “Universiteit van Amsterdam” dan “Multatuli Genootschap”, pada tanggal 2 Februari 2010 yad, adalah suatu langkah positif lebih lanjut kearah membagusnya hubungan Indonesia-Belanda. Jelas ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh mantan Menteri Luar Negeri Belanda Josias Van Aartsen dulu. Pada November 2000, van Aartsen menugaskan Institut Sejarah Belanda (ING) untuk menulis sebuah 'studi' berkenaan dengan kasus Act of Free Choice tahun 1969 di Papua.* *Sayang, hasil studi Prof Piet Drooglever yang dapat tugas (sial itu!) tidak membikin hubungan Indonesia-Belanda menjadi lebih baik.

Hasil 'studi' Drooglever yang diluncurkan dengan pelbagai pidato dan sambutan di gedung Amnesty International Amsterdam, adalah guyuran air dingin pada suasana membaiknya hubungan Belanda-Indonesia. Kongkritnya hungan yang membaik setelah Menteri Luar Negeri Belanda Ben Bot hadir pada “Perayaan 17 Agus” di Jakarta, di saat ketika beliau minta maaf pada Indonesia, serta menunjukkan pengertian/pengakuan bahwa hari “17 Agustus 1945”, adalah hari PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA. Yang disusul belum lama ini dengan munculnya SARAN kepada pemerintah Belanda oleh lebih duapuluh sejarawan dan cendekiawan Belanda. Mereka mendesak pemerintah Belanda supaya secara r e s m i MENGAKUI 17 AGUSTUS 1945, sebagai HARI KEMERDEKAN INDONESIA.

Mengapa dinyatakan di sini bahwa peringatan 150 th BUKU MAX HAVELAAR, sebagai suatu peristiwa yang positif menuju perkembangan lebih bagus lagi antara Indonesia dan Belanda. Karena itu menunjukkan pasnya pemahaman mengenai masa lampau di Indonesia. Mari baca bersama penilaian para organisator PAMERAN 150 tahun MAX HAVELAAR:

“*HET IS GEEN ROMAN, 'T IS EEN AANKLACHT”. *

Begitulah ditulis pada halaman pertama kartu undangan tsb. Artinya (terjemahan bebas, I.I.): Buku Max Havelaar itu,* “BUKAN ROMAN, ITU ADALAH SUATU GUGATAN”. * Memang demikianlah isi buku Multatuli (Douwes Dekker). Memang itulah tujuan beliau menulis buku itu: MENGGUGAT kekejaman feodalisme dan kolonialisme di Hindia Belanda waktu itu.

Dijelaskan selanjutnya: 150 th yang lalu, Multatuli menulis bukunya yang termasyhur MAX HAVELAAR. Suatu karya yang tidak hanya memiliki kwalitas literer yang luar biasa, tetapi juga memberikan pada sejarah Belanda di bidang kemasyarakatan dan politik arah yang lain. Itulah sebabnya hal itu dimasukkan dalam Canon Sejarah Belanda.

Multatuli, nama samaran sebagai penulis, adalah seorang pegawai negeri Hindia Belanda yang lalu, yang nama aslinya adalah Douwes Dekker. (1820-1887). Dengan bukunya itu ia secara definitif telah mengubah pemikiran di Nederland tentang masalah kolonialisme.

Setelah terbitnya buku Max Havelaar, orang tidak bisa lagi membantah bahwa di koloni (maksudnya di Indonesia, I.I.) banyak sekali hal-hal yang tidak beres. Diterbitkannya buku penting ini, diperingati dengan sebuah pameran di “Bijzondere Collecties van de Universiteit van Amsterdam”, tempat dimana tulisan-tulisan tangan Multatuli disimpan.

Dalam pameran ini ditunjukkan arti penting politik, kemasyarakatan dan literer dari buku Max Havelaar tsb. Pameran diusahakan oleh Bijzondere Collecties van de Unibersiteit van Amsterdam, bersama-sama dengan “Multatuli Genootschap”.*Fokus ditujukan pada gugatan terhadap penindasan, suatu pesan yang sampai sekarang masih aktuil (*cetak tebal oleh penulis I*.I)*

Maka jelaslah kiranya, -- bicara soal jembatan hubungan Indonesia – Belanda, maka yang menjadi jembatan itu adalah penulis buku MAX HAVELAAR, Multatuli, yang nama aslinya adalah Dauwes Dekker. Itu adalah orang-orang dan tokoh-tokoh yang mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia, seperti Prof. Dr Wertheim, banyak kaum progresif dan Kiri Belanda, teristiwewa mereka-mereka yang dari CPN, Partai Komunis Belanda, yang konsisten menukung perjuangan anti kolonialisme bangsa Indonesia.

Adalah mereka-mereka itu yang menjembatani hubungan Indonesia-Belanda, yang didasarkan atas sama derajat dan sama hak. Bukanlah Persetujuan Linggarjati, Revnville apalagi persetujuan Koferenai Meja Bundar (KMB).

Persetujuan-persetujuan tsb adalah taktik dan strategi pemerintah Belanda ketika itu untuk mencekik dan memusnahkan Republik Indonesia, dan menjadikan Indonesia tetap tergantung pada kerajaan Belanda. Sedangkan di fihak kita, Republik Indonesia, karena dalam keadaan masih asor, maka terpaksa berkompromi dengan Belanda dan memberikan konsesi-konsesi besar. Oleh karena itu setelah berdirinya Republik Indonesia Serikat (RIS), Belanda resmi keluar dari Indonesia, fihak Indonesia di bawah pimpinan Presiden Sukarno telah membatalkan Persetujuan KMB itu, mengembalikan Irian Barat ke pangkuan REPUBLIK INDONESIA yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agusstus 1945.

* * *

Aku akan berusha hadir dalam pertemuan PERINGATAN 150^th terbitnya buku “MAX HAVELAAR”. Tidak sedikitpun ada keraguan bahwa peringatan yang dilakukan itu, dari fihak Belanda, jelas bertujuan meningkatkan pengertian dan pemahaman masyarakat Belanda mengenai masa lampau kolonialisme Belanda di Indonesia. Agar dengan demikian masyarakat Belanda bisa lebih memahami kejahatan kolonialisme Belanda terhadap Indonesia, memahami mengapa rakyat Indonesia perlu berrevolusi untuk mencapai kemerdekaannya. Dan dengan demikian terjalinlah saling pengertian, saling menghargai yang wajar antara Indonesia dan Belanda.

* * *

MERESAPI & MENIKMATI CERPEN LU XUN

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Senin, 11 Januari 2010
----------------------------

MERESAPI & MENIKMATI CERPEN
LU XUN – “NASIB”

Menyambut Tahun Baru 2010, telah kuterjemahkan dan perkenalkan salah satu dari banyak karya Lu Xun, berjudul “TAHUN BARU”. Kali ini kuterjemahkan cerpen Lu Xun lainnya, yaitu: “NASIB”. Mengapa memilih cerpen “NASIB”? Sebabnya? Masalah 'nasib', mungkin adalah salah satu isu yang paling banyak dibicarakan, difikirkan atau ditulis sejak manusia ini sadar diri bahwa dia tidak sama dengan makhluk lainnya dan mulai berfikir mengenai dirinya dan alam sekitar.

Bila seseorang termenung, seorang diri, biasanya yang difikirkannya adalah mengenai diri atau keluarganya. Kekasih atau musuh atau saingannya, atau lainnya. 'Bagaimana selanjutnya' ? Bagaimana nasibnya, bulan ini, tahun ini dan seterusnya? Nasib-baikkah atau nasib-burukkah. Makanya tidak kebetulan, di banyak media, radio ataupun TV tidak ketinggalan dicantumkan rubrik 'horoskop'. Barangkali rubrik ini yang paling dulu dibaca.

Secara lebih luas dan lebih serius. Siapa yang tidak memikirkan NASIB TANAH AIR dan BANGSANYA. Meskipun jauh dari tanah air, seperti 'kita-kita' ini yang bermukim di luarnegeri. Nasib tanah air dan bangsa selalu dalam fikiran kita.

Jadi: --- Soal “NASIB”, adalah soal besar dan selalu relevan. Bayangkan, bagaimana NASIB seseorang setelah meninggalkan dunia yan fana ini. Kalau dia orang Indonesia mau dimakamkan di negeri ia tinggal, atau mau dibawa ke Indonesia? Mau dikubur di kuburan keluarga, mungkin. Dikubur atau dikremasi? Dimana dan pakai batu nisan yang berapa harganya? Itu semua jadi urusan 'Uitvaart Verzekering' di negeri maju seperti Belanda ini. Hampir setiap warga menjadi klien dari asuransi kematian. “Uitvaart Verzekering” itu adalah perusahaan asuransi kematian yang ' kaya' di negeri-negeri maju. Urusannya adalah 'nasib' sesudah mati! Urusan orang mati ini seringkali menghabiskan ongkos ribuan euro. Tidak jarang, sesudah musibah kematian menimpa keluarga, tambah lagi hutang baru!

* * *

Tentu, yang lebih menjadi perhatian adalah masalah “NASIB” selama orang masih hidup.

Di sinilah kita tiba pada sastrawan Lu Xun. Salah seorang penulis RAKSASA di dunia sastra. Tak diketahui seberapa jauh masyarakat kita, teristimewa di kalangan budayawannya, yang mengenal dan suka membaca karya-karya Lu Xun. Atau pertanyaan ini: Sudah berapa banyak karya Lu Xun yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Pengenalanku yang terbatas ini mengatakan, --- tidak banyak karya penulis-penulis Asia lainnya yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Silakan yang mengetahuinya untuk memberikan infornasi yang beguna bagi pembaca.

Di sini bukan maksudnya untuk panjang lebar membicarakan siapa Lu Xun. Yang pokok ialah hendak menyajikan pada pembaca cerpen Lu Xun, “NASIB”. Namun, barangkali ada perlunya sedikit lagi ada catatan mengenai Lu Xun.

Lu Xun, nama aslinya adalah Zhou Shuren. Ia lahir tahun 1981 dan meninggal 19 Oktober tahun 1936. Lu Xun, oleh banyak orang dianggap pelopor kebudayaan Tiongkok Baru, seorang penulis cerpen, esayis dan kritikus serta teoretikus sastra. Oleh kalangan sastra Tiongkok Baru, Lu Xun dinilai sebagai tokoh terbesar dalam kesusasetraan Tiongkok abad Ke-XX. Karya-karyanya , terutama ceritera-ceriteranya telah diterjemahkan ke lebih dari 12 bahasa dunia. Di antara tahun 1923 – 1935 fiksi-fiksi pendeknya yang terkenal diterbitkan dalam tiga koleksi. Selain itu ia telah menulis sebanyak 13 jilid esai, kenangan, prosa, sajak, dongeng sejarah. Juga menulis tidak kurang dari 30 sajak klasik, 12 julid studi ilmiah dan sejumlah besar terjemahan. Dari penulis asing yang dikaguminya a.l adalah penulis Rusia Nikolay Gogol. Penulis asing terkenal lainnya juga dibacanya. Tapi, Lu Xun tak pernah menulis novel.

Lu Xun pernah setahun lamanya belajar di Akademi Angkatan Laut. Kemudian ia meneruskan studinya di Sendai, Jepang. Jurusan kedokteran. Berhenti di tengah jalan. Karena ia menganggap yang harus diobati pada bangsa Tionghoa ketika itu bukan penyakit pada fisiknya, tetapi penyakit pada mentalnya. Keputusan itu diambilnya sesudah menyaksikan sendiri di Jepang, ketika seorang berbangsa Tionghoa yang dituduh mata-mata Rusia, dieksekusi di muka umum. Lu Xun marah sekali menyaksikan kebiadaban itu. Tetapi lebih marah lagi melihat mahasiswa-mahasiwa Tionghoa yang ikut menyaksikan eksekusi itu, samasekali tak berreaksi apa-apa.

Dari peristiwa itu ia menyimpulkan ada sesuatu yang harus dilempangkan pada mental orang Tionghoa. Sejak itu ia menekuni sastra Tionghoa. Menganggap pena adalah senjata utama baginya dalam perjuangan melawan kebudayaan feodalisme Tiongkok, kekuasaan kerajaan dan imperialisme asing.

* * *

Pada permulaan tahun 1920-an Lu Xun berkenalan dengan Marxisme. Sejak itu ia menjadi seorang Marxis. Namun ia tidak pernah menjadi anggota Partai Komunis Tiongkok. Selama tahun-tahun ketika di Shanghai Lu Xun menjadi salah seorang pemimpin Liga Penulis Kiri. Pada tahun 1920-an dan 30-an Lu Xun aktif sekali dalam perdebatan sastra yang berlangsug di Tiongkok. Ketika di Tokyo Lu Xun menjadi editor dari majalah Kehidupan Baru di Jepang dan majalah Komunis Henan.

Lu Xun adalah salah seorang pendiri organisasi-organisasi Kiri, termasuk Liga Penulis Sayap Kiri, Liga Pembebasan Tiongkok dan Liga Pembela Hak-Hak Warganegara. Lu Xun juga anggota pimpinan dari Gerakan Empat Mei yang terkenal di Tiongkok sebagai permulaan gerakan pembaruan atau pencerahan. Gerakan Empat Mei, 1919, di Tiongkok, dimulai dengan demonstrasi mahasiswa dan pelajar memprotes imperialisme yang disokong secara internasional serta fasal-fasal yang pro-Jepang dalam Persetujuan Perdamaian Paris. Gerakan ini adalah gerakan kebudayaan dan politik progresif terbesar di Tiongkok waktu itu, yang dilakukan pada pokoknya oleh para mahasiwa dan kaum terpelajar. Gerakan 4 Mei, juga sering disebut sebagai Gerakan Kebudayaan Baru. Menandakan antara lain kebangkitan nasionalisme Tiongkok.

* * *

Stop sampai di sini dulu mengenai Lu Xun. Lain kali bisa diteruskan lagi. Sekarang, sesuai maksud semula, mari kita ikuti bersama cerpen tsb. Perhatikan bagaimana Lu Xun berusaha menyadarkan pembacanya untuk tidak percaya pada 'Nasib' , agar membuang takhayul. Menggantikannya dengan ide-ide dan tindak-tanduk yang rasional! Yang ilmiah!

“*NASIB”*

Oleh Lu Xun

Pada suatu hari, ketika sedang duduk-duduk ngobrol di Uchiyama Bookshop – suatu ketika saya diserang dan dikasih topi pengkhianat oleh sementara orang dari 'kalangan sastrawan', yang memusuhi saya, karena saya sering berkunjung ke Uchiyama Bookstore dan ngobrol di situ, tetapi sayang toko buku itu harus tutup --- saya dengar bahwa gadis Jepang yang lahir di tahun cyclic /bing-wu, /yang sekarang ini mencapai 29 tahun, adalah makhluk yang paling sial. Umum diyakini bahwa wanita yang lahir tahun itu, akan memusnahkan suami-suami mereka, dan bilamana mereka itu kawin lagi, akan terjadi hal yang sama. Dan memang, hal itu bisa terjadi berulang sampai enam – tujuh kali. Oleh karena itu bagi wanita-wanita itu sangatlah sulit untuk mendapatkan suami. Tentu saja, ini adalah takhayul, superstisi. Tetapi di Jepang masih banyak sekali orang percaya takhayul.

Saya bertanya: Apakah mereka itu tak ada jalan keluar untuk menghindar dari nasib sial itu? Jawabya adalah: Tidak ada.

Ini bikin saya berfikir tentang Tiongkok.

Banyak sinolog asing mengatakan bahwa orang-orang Tionghoa itu fatalis, yang percaya bahwa bila sesuatu telah ditentukan nasibnya maka apapun tidak bisa mengubahnya, dan sekarang ini bahkan sementara orang terpelajar Tionghoa mengatakan hal yang sama. Tetapi ditimbang dari apa yang saya ketahui, wanita-wanita Tiongkok tidak punya nasib yang begitu kebal. Ada nasib 'buruk' atau 'kekerasan' pada nasib mereka. Bila seorang wanita sudah ditentukan nasibnya akan memusnahkan lima atau enam orang suami, seorang dukun atau yang semacam itu selalu siap dengan suatu pengobatan; ia akan tampilkan lima atau enam orang yang dipahat dari pohon persik, lalu menggambarkan ornamen khasiat pada patung-patung tsb dan setelah 'mengawinkan' (patung-patung) tsb dengan wanita itu, akan membakarnya. Lalu laki-laki yang sesungguhnya mengawini wanita itu, dihitung sebagai suami yang ketujuh, tidak lagi ada dalam bahaya.

Orang Tionghoa percaya pada nasib, tetapi pada nasib yang bisa dicegah. Mengatakan 'tak ada jalan keluar' kadang-kadang merupakan cara untuk mencoba cari jalan keluar lain – suatu cara untuk menhindari nasib. Bila seseorang benar-benar percaya bahwa ini adalah “nasib” dan 'tidak ada jalan keluar' – itulah sesungguhnya saatnya jika semua cara gagal dan ia nyaris musnah. Bagi orang Tionghoa, nasib itu bukanlah sesuatu yang menentukan kejadian tetapi, suatu keterangan sederhana yang diberikan setelah sesuatu terjadi.

Tentu, orang Tionghoa punya takhayul, mereka juga punya “kepercayaan” mereka, tetapi rupanya 'kepercayaan teguh' yang sedikit sekali. Dulu kita menghormati raja diatas segala-galanya, tetapi dalam waktu yang bersamaan mencoba mengendalikannya. Kita juga menghormati ratu-ratu, tetapi beberapa orang dari kita memcoba merayunya. Kita takut pada tuhan-tuhan, tetapi membakar uang dari kertas untuk menyuap (nyogok) tuhan-tuhan itu. Kita mengagumi pahlawan-pahlawan, tetapi tidak mau mengorbankan jiwa kita untuk pahlawan-pahlawan itu. Para sarjana Konghucu menyembah Budha juga; pejuang yang sekarang percaya A besok percaya pada B. Tiongkok tidak pernah melakukan perang religi, dan meski sejak Wei Utara sampai pada akhir Dinasti Tang Budisme dan Taoisme berkembang dan menurun silih berganti, itu semua disebabkan oleh kata-kata madu beberapa orang yang berbisik di telinga sang raja. Geomency, magic, jampean, doa-doa . . . . . betapa gawatnyapun nasib itu, mengeluaran sedikit uang atau menyembah-menyembah, akan membuatnya lain samasekali terbanding apa yang sudah dinasibkan itu – dengan kata lain, hal itu hakikatnya tidak ditentukan sebelumnya.

Diantara nenek-moyang kita yang bijaksana ada beberapa yang mengetahui bahwa ketidakpastian “sesuatu nasib” tidak cukup untuk memberikan orang suatu perasaan kepastian, oleh karena itu mereka mengatakan bahwa hasil dari semua cara yang telah dicoba adalah ''nasib” yang sesungguhnya dan bahwa penggunaan pelbagai cara untuk menghindar dari nasib juga telah ditentukan. Tetapi nyatanya orang-orang biasa tidak sefaham dengan pandangan tsb.

Mungkin tidak baik bagi orang-orang bila kekurangan “kepercayaan teguh” dan bimbang, karena ini menunjukkan bahwa mereka “tidak punya kemauan sendiri”. Tetapi menurut fikiran saya adalah baik bahwa orang-orang Tionghoa yang percaya pada nasib itu juga percaya bahwa nasib itu bisa diubah. Hanya sebegitu jauh kita telah menggunakan takhayul untuk melawan takhayul lainnya, sehingga hasilnya akhirnya sama saja. Bila andaikata dimasa datang kita menggunakan ide-ide dan tingkah laku rasional – menggnakan ilmu bukannya takhayul – orang-orang Tionghoa akan mencampakkan pandangan mereka yang fatalistik itu.

Bila tiba saat seperti itu, memang, mahkota-mahkota yang ada pada biksu Budhis, pendeta-pendeta Tao, para dukun, astrolog-astrolog, para jururafsir nasib, dan semua orang-orang seperti itu, akan jatuh pada para sarjana, dan kita akan mampu mencampakkan segala omong kosong itu sepanjang tahun.

23 Oktober 1934.



* * *

Andrée Feillard: MENENGOK KHIDUPAN GUS DUR

IBRAHIM ISA
-----------------------------------------
Sekretaris Wertheim Foundation, Amsterdam
Publisis



Komentar mengenai tulisan Andrée Feillard - Peneliti Senior bidang sejarah di CNRS (Pusat Penelitian Prancis), mengenangkan Gus Dur.

Kesan pertama: Sebuah tulisan yang jujur dan terbuka. Objektif dan berimbang.

Makin terasa bagaimana kita 'KEHILANGAN' Gus Dur. Tetapi Gus Dur tak akan hilang dalam sejarah PENCERAHAN di INDONESIA.
Diharapkan lembaga yang didirikan Gus Dur dan putrinya Jenny, 'ABDURRACHMAN INSTITUTE' mulai membuat sebuah buku yang kira-kira berjudul GUS DUR DAN ARTI FIKIRAN PENCERAHANNYA BAGI MUSLIM INDONESIA.

Amsterdam, Minggu, 10 Januari 2010

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=d1fe1fd1f1a352f229bf4d
24630264e2&jenis=

b706835de79a2b4e80506f582af3676a

http://www.surabayapost.co.id/images/logo_cetak.gif

* * *

MENENGOK KEHIDUPAN GUS DUR YANG BERGEJOLAK

Dari Paris bersalju, menengok kehidupan Gus Dur yang Bergolak
Sabtu, 9 Januari 2010 | 09:12 WIB

http://www.surabayapost.co.id/gambar/4c813bd947fdac02c67d7808831d351b.jpg

Andre Feillard

http://www.surabayapost.co.id/images/hRule2.gif

Oleh : Andrée Feillard - Peneliti Senior bidang sejarah di CNRS (Pusat
Penelitian Prancis)

Berada sangat jauh di kota Paris yang dingin---hari ini bersuhu di bawah 7
derajat celcius dan salju dimana mana---kabar mengenai wafatnya Gus Dur
menjadi sulit dipercaya. Pernah Gus Dur mengunjungi saya disini, satu hari
siang pada bulan september 1999 di pinggiran kota Paris yang hijau --
sekarang putih semua. Waktu pulang, dia pun terpaksa naik kereta api seperti
orang biasa untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Orang lain mungkin
sudah menggerutu, tetapi Gus Dur tidak. Ia pun bersukacita dan bergurau,
mirip seorang pemuda ceria yang melakukan kegiatan jalan-jalan yang tak
terduga. Gus Dur senang dengan hal-hal yang tak terduga. Di kereta api
pinggiran kota itu, kami berbicara sebentar tentang arah politik yang mau ia
ambil, dan tentang kesempatan yang akan dilewatkannya bila itu terjadi
(termasuk rencana mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Prancis bersama
isteri dan empat putrinya, sesuatu yang sudah lama diinginkannya).

September 1999 itu merupakan bulan terakhir dalam hidupnya sebagai pemimpin
sebuah komunitas keagamaan untuk menjadi kepala negara di sebuah negara yang
multiagama.

Abdurrahman Wahid bukan sembarangan orang untuk memegang posisi seperti ini.
Bukankah dia adalah anak pertama Wahid Hasyim, mantan menteri agama
Indonesia, yang pidatonya pada 2 Januari 1950 mungkin bisa dilihat sebagai
sebuah pertanda prophetic?

Izinkan saya mengutip pidato Wahid Hasyim itu yang diucapkan di tempat
khusus pada hari khusus : di istana negara, pada perayaan Maulud Nabi..
Pidato ini saya baca pertama kali waktu mulai meneliti Nahdlatul Ulama, pada
tahun 1980an, di buku Aboebakar Atjeh yang diterbitkan Departemen agama
setelah wafatnya Wahid Hasyim. Entah kenapa, pidato itu muncul kembali di
benak saya:

"Bismillah hirrahman nirrahim. Sungguh sangat menggembirakan hati, bahwa
hari-hari pertama daripada Republik Indonesia Serikat, sebagai bentuk jang
dianggap sah daripada kemerdekaan Rakjat Indonesia jang telah ditjapai pada
17 Agustus 1945, djatuh pada hari-hari dari dua orang pemimpin dunia jang
sangat kenamaan, jalah Nabi Muhammad s.a.w. pembawa adjaran-adjaran
al-Qur'an dan sjari'at Islam, serta Nabi Isa bin Marijam a.s., pembawa
adjaran-adjaran Indjil dan sjari'at Nasrani.

Djarang terdjadi dalam perhitungan tahun, bahwa dua peristiwa itu berlaku
dalam masa jang berdekatan, ialah hari lahir suatu negara dengan hari lahir
seorang nabi Allah. Tetapi lebih djarang lagi terjadinya hari lahir sesuatu
negara dengan hari-hari lahir dua orang pesuruh Allah seperti pada peristiwa
lahirnya Republik Indonesia Serikat ini.... " (Aboebakar Atjeh, Sedjarah Hidup
KH Wahid Hasjim, 1957, hlm. 677).

Sekarang ini, sebagian besar pers Indonesia merayakan Gus Dur sebagai "tokoh
pluralis," dan ini tampaknya dibenarkan dengan rasa duka mendalam dari kaum
Buddha dan Kristen yang bersatu untuk berkabung dengan kaum Muslim.

Memang, selama ini, tak diragukan, banyak orang datang pada Gus Dur untuk
meminta perlindungan dan "keadilan" pada masa transisi yang riuh: pada
1990an, kaum minoritas datang waktu mereka sedang mengalami efek buruk
"identity politics" (politik identitas menekankan perbedaan kelompok untuk
tujuan politik), dengan perusakan gereja yang makin banyak. Demikian juga
datang kaum demokrat yang saat itu menghadapi rezim Soeharto yang mencoba
bertahan "at all costs". Selanjutnya pada 2000an, yang datang pada Gus Dur
adalah kaum Muslim pluralis (dan liberal) saat mereka menghadapi kelompok
Islamist radikal. Mereka semua mendatangi Gus Dur dengan harapan besar,
mungkin juga harapan yang terlalu besar, yang terkadang bisa saja
dikecewakan. Namun siapa lagi selain dia yang bisa menyatukan begitu banyak
kelompok lemah? Dan siapa lagi yang memiliki keberanian untuk melakukan
pembelaan dengan membawa gaung yang begitu kuat?

Tahun 1980an dan tahun 1990an berbeda. Pada 1980an, Gus Dur mengambil peran
kunci untuk menghentikan kebuntuan politik, setelah mendengarkan ulama
senior yang lelah dengan politik dan dampak negatifnya terhadap kegiatan
keagamaan. Sedangkan sepuluh tahun kemudian, pada 1990an, peran kuncinya
adalah menjaga pluralisme. Saya teringat pada satu momen istimewa di
Lampung pada tahun 1992, ketika di suatu malam yang sunyi, duduk bersama
beberapa kaum intelektual, dia menyampaikan ungkapan panjang amarah yang
merupakan ungkapan rasa kekecewaannya yang mendalam dengan pembentukan ICMI,
yang Gus Dur lihat sebagai sindrom akan munculnya politik identitas.
Diprediksinya ini akan menghancurkan masyarakat Indonesia yang pluralis
sejak kemerdekaan sekaligus akan membendung gelombang demokrasi yang sedang
coba muncul sejak akhir tahun 1980an. Beberapa orang intelektual yang hadir
menyimak dalam kesunyian.

Saat saya melakukan kunjungan tahunan saya ke Indonesaia pada November 1996,
Gus Dur mengajak saya untuk melakukan perjalanan ke Malang, tempat dia
diundang setelah pembakaran serangkaian Gereja dan sekolah di Situbondo pada
Oktober 1996. Saat itu tepat satu bulan setelah insiden pembakaran tersebut.
Aula tempat pertemuan sudah penuh ketika kami tiba, orang-orang datang dari
tempat yang jauh. Kami mendengarkan berbagai laporan yang mengkhawatirkan
dari tokoh katolik lokal mengenai ketegangan dan ancaman terselubung. Kita
semua baru menyadari sedang muncul satu era baru yang tak terduga. Itu kali
pertama saya melihat orang Katolik berdoa begitu dalam bagi seorang teman
mereka, Gus Dur, yang dinilai satu-satunya yang mungkin mampu membalik arus.
Perkembangan baru memang begitu antinomis bagi reputasi pluralisme
Indonesia, yang kontras dengan kekerasan yang dialami Pakistan sejak
berdirinya tahun 1947. Waktu itu negara itu muncul dengan memisahkan diri
dari Hindia dalam pertumpahan darah (bloodbath) yang menakutkan. Saya
mengakhiri perjalanan di Jawa Timur dengan satu kunjungan menyedihkan di
Situbondo, saat sebuah perayaan massa digelar dalam sebuah gereja katolik
yang usai dibakar, tanpa atap, tanpa kursi, tanpa benda2 sakral, hanya
tembok-tembok tinggi yang menghitam. Orang-orang duduk di atas tikar di
lantai. Hidup berlanjut. Misa belum selesai, saya pun meneruskan perjalanan
dengan teman-teman NU yang mendampingi saya.

Mengapa Gus Dur begitu penting sepanjang tahun-tahun tersebut? Pasti ada
banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Keberaniannya mungkin berasal dari
keunikannya. Dia mempunyai legitimasi keagamaan yang luar biasa tinggi lewat
garis keturunanya, sebagai cucu dari sekaligus dua kiai pempimpin ormas
Islam terbesar di Indonesia : Hasyim Asy'ari dan Bisri Syansuri. Legitimasi
ini menjadi sangat penting dengan makin banyaknya rujukan religius dalam
politik Indonesia selama tahun 1990an. Keberanian ini ditambah dengan
kepercayaan diri yang berasal dari didikannya yang tinggi : ia telah membaca
literatur Barat dan Arab. Bukan itu saja, dia bukan seorang intelektual yang
hanya tahu buku, dia kenal banyak manusia setelah bertemu orang dari
berbagai ras, agama dan negara. Yang mungkin lebih penting, dia biasa
bertemu banyak orang Indonesia, dari kepala negara hingga kaki lima, selama
perjalanan atau di rumahnya yang terbuka bagi orang-orang lintas batas
sosial. Mungkin itu semua bergabung untuk menjadikannya sosok yang berani
sangat vokal.

Meskipun memiliki garis keturunan luar biasa, namun tahun-tahun 1990an tetap
menjadi masa yang berat bagi Gus Dur setelah ia menjadi target dari para
politisi yang jelas-jelas terganggu dengan kehadirannya. Pada 1994, di
Cipasung, tanpa perlindungan dan pembelaan intensif dari para kiai senior,
dia tak akan terpilih lagi sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama. Namun menarik
dicatat bahwa tidak ada kiai yang ikut bergabung dengan Forum Demokrasinya.
Kenapa? Terlalu banyak risiko politik buat mereka justru pada saat Presiden
Soeharto telah berhasil mengkooptasi sebagian elit intelektual muslim dengan
menunjukkan wajah yang lebih bersahabat pada agama islam.

Era pasca Soeharto membawa satu kemenangan besar bagi Gus Dur dengan
terpilihnya sebagai Presiden Indonesia, namun tahun-tahun itu juga justru
menjadi masa penuh tantangan dan kesakitan. Sebagian pengamat telah
menyalahkan para lawan politiknya yang kurang fair. Gus Dur sendiri yakin
bahwa dia menjadi korban dari sebuah plot. Yang jelas, salah langka
strategis sedikit bisa fatal bagi mereka yang berada di puncak kekuasaan.
Segala bisa dijadikan senjata yang siap pakai oleh para sekutu kecewa.
Menawarkan hubungan komersial dengan Israel dan rehabilitasi komunisme tentu
akan membuat musuh di koalisi yang baru memilihnya sebagai presiden -- yang
justru paling anti-Israel dan paling anti-komunis. Gus Dur sang intelektual
dengan kuat meyakini misinya dan menjalankannya segera. Namun Gus Dur sang
kiai dituntut mencari penyesuaian pada seting politik baru. Dan ini jauh
lebih rumit dibandingkan dunia agamis homogen yang mengelilingnya di NU.
Tetapi mungkinkah menjadi presiden saat itu adalah misi tak mungkin, "une
mission impossible"?

Sebuah ironi bahwa adalah hal politik (penolakan terhadap politik praktis)
yang mengantarkan Gus Dur pada garda depan ruang publik pada awal 1980an
(ingat para kiai yang menyebut politikus sebagai "tikus-tikus" pada 1979?),
dan justru politik lagi (sekali ini pilihan kembali ke politik praktis
dengan menjadi calon presiden) yang ikut menjatuhkannya dua puluh tahun
kemudian. Akhir 1999 adalah satu momen bahaya memang, seperti diakui oleh
para kiai senior, Sahal Mahfudh dan Kiai Muchith Muzadi, yang telah
memberikannya nasehat agar tidak maju mencalonkan diri pada jabatan nomor
satu negeri ini.

Menengok ke belakang, sungguh luar biasa bagaimana satu orang saja bisa
mempunyai pengaruh begitu besar dalam perpolitikan selama tiga puluh tahun
sementara mengemban amanat sebagai presiden hanya kurang dari dua tahun.

Sementara itu, orang akan terus berziarah di makamnya seperti halnya saat
mereka mencoba menyentuh mobil yang Gus Dur naiki seusai pengajian,
istighosah atau pertemuan lainnya. Bila orang berbicara tentang "barokah"nya
terkadang membuatnya tertawa, namun terkadang dia juga menyikapinya dengan
serius. Sesewaktu dia menarik tangannya dengan cepat bila orang ingin
mencium tangannya, namun di lain waktu dia juga membiarkan tangannya itu
dicium. Gus Dur selalu akan merupakan orang yang berbeda untuk orang yang
berbeda di masa yang berbeda. Dia akan tetap demikian.

Tak diragukan, bagaimanapun, di samping semua kekurangan yang akan
disebutkan orang, dia akan juga dikenang (tentunya saya akan mengenangnya)
sebagai seorang teman (bahkan pahlawan?) dari pluralisme dan kebudayaan
lokal. *

Penulis buku NU vis-à-vis Negara, Pencarian Bentuk, Isi dan Makna, LkiS,
1997.

Sarkawi MANAP, Dan Karya-nya

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Sabtu, 09 Januari 2010
----------------------------


Sarkawi MANAP, Dan Karya-nya

'KISAH PERJALANAN'


Bertemu muka dengan Sarkawi Manap, bagiku selalu menyenangkan. Melihat wajahnya saja, suasana sudah diliputi oleh optimisme. Sederhana alasannya. Karena pembawaannya yang terbuka, ramah, tidak pelit dengan senjumnya yang menarik. Dan ia selalu gembira. Maka, aku ikut gembira bertemu dengan Sarkawi. Apalagi kali ini. Dalam kesempatan hadir pada Hari Peringatan Tahun Baru 2010, di Diemen, Belanda, yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Persaudaraan dan beberapa organisasi Indonesia lainnya, Sarkawi datang berkunjung ke Amsterdam bersama Salwiana, istrinya. Di situlah kami jumpa lagi.


Yang terasa mendekatkan hubungan kami, ialah karena salah seorang putrinya, NILA UTAMA, persis sama namanya dengan nama Ibuku. Aku pernah bilang pada Sarkawi: Bung, nama putri Bung yang sulung itu, persis nama ibu saya. Sayang, tak pernah kutanyakan, ia dapat ilham dari mana, memberikan nama NILA UTAMA pada putri sulungnya. Pasti ini sesuatu yang kebetulan saja.


Namun yang merupakan surprise bagiku, ialah bukunya yang baru terbit *'KISAH PERJALANAN'*. Senang sekali menerima buku itu dari tangan penulisnya sendiri. Isinya juga menarik dan punya arti sejarah. Merupakan kisah-kisah yang berjudul sbb:

*Berorganisasi, Eks Tapol, Mawar yang Gugur Sebelum Mekar,*

*Nasib Tidak Beruntung, Kehilangan, Tidak Bersih Lingkungan, Nostalgia, Pulau Kemarau, Saksi Hidup dan Selamat Jalan. *


* * *


Memang kami bersahabat kental. Bukan karena sama-sama 'orang Seberang', orang Sumatera. Bukan! Tetapi karena dia – terus terang saja – adalah kawan seperjuangan! Yang selama kukenal, sedikitpun tidak ada penyesalan, tidak ada keraguan tentang keadilan dan kebenaran tujuan cita-cita yang diperjuangkannya demi kebebasan, keadilan dan kemakmuran rakyat Indonesia.


Kalau dr Ciptaning, anggota fraksi PDI-P di DPR, di kantor kerjanya terpampang gambar besar bukunya 'AKU BANGGA JADI ANAK PKI', maka, Sarkawi Manap melalui kisahnya itu, dengan caranya sendiri hendak menyampaikan suatu pesan kepada pembaca, bahwa : AKU BANGGA JADI ANGGOTA PKI!


Setelah PKI ditumpas punah oleh Jendral Suharto melalui penangkapan, pembunuhan, pemenjaraan dan pembuangan, ---- jarang ditemukan orang Indonesia yang blak-blakkan mengatakan: Saya anggota PKI, dan di bawah pimpinan PKI saya berjuang demi keadilan dan kemakmuran serta pembebasan rakyat Indonesia. Saya berjuang dan mengabdi kepada negara Republik Indonesia melalui tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan PKI kepada saya. Demikian Sarkawi Manap.


Mengenal orangnya, membaca tulisan-tulisannya dalam perdebatan tajam dan terbuka di intenet -- versus seorang bekas anggota PKI yang nyeberang ke fihak Suharto, membaca bukunya 'KISAH PERJALANAN', aku berani menyatakan bahwa: Begitu itulah Sarkawi Manap. Anggota PKI.


Ia tidak rela partainya, PKI, difitnah, dinista dan dibusukkan oleh Orba dan lawan-lawan politik PKI. Ia hendak menunjukkan bahwa ia dikirim oleh PKI ke luarnegeri untuk belajar, menambah ilmu dan ketrampilan. Semua itu demi mengabdi kepada tanah air dan bangsa, demi negara Republik Indonesia di bawah pimpinan Presiden Sukarno. Sarkawi Manap dengan dengan lugu dan berani menyatakan: Saya, anggota PKI, saya akan terus berjuang demi keadilan dan pembebasan rakyat Indonesia.


Melihat sikap dan pendirian Sarkawi Manap seperti itu, aku bangga punya teman seperjuangan seperti dia.!



* * *


Buku karya S. Manap ini adalah buku yang kedua yang ditulisnya selama berada di luar negeri. Yang pertama berjudul 'DI PENGASINGAN'.

'KISAH PERJALANAN', keluar Maret, 2009. Penerbit: Ultimus Bandung. Samsir Mohammad, mantan anggota Konstituante dan MPRS, sempat menulis Kata Pengantar untuk buku Sarkawi.


Benar sekali yang dikemukakan oleh Samsir Mohammad dalam kata pengantarnya:


Buku Sarkawi Manap, 'KISAH PERJALANAN' menyajikan dan memperkenalkan kejadian-kejadian yang dialami dan dijalani secara lurus dan benar. 'Kisah Perjalanan' mengisahkan perjalanan yang amat panjang yang melintasi tiga benua, Amerika tepatnya Kuba, Eropa (Moskow, Praha) dan Asia (Tiongkok, Birma, dan Vietnam). Kesan Samsir selanjutnya: KISAH PERJALANAN dan cerpen-cerpen yang dinukilkan oleh Sarkawi menjelaskan kepada kita apa yang terjadi di awal paro kedua abad yang baru silam, secara lurus dan benar, baik tentang dirinya maupun mengenai komunitas-komunitas berbagai bangsa dimana dia berada”.


S. Manap (58^th ), sebelum berangkat ke luarnegeri pada bulan Januari 1965 ke Kuba untuk belajar, adalah mahasiswa Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, Jakarta.

Setelah terjadi peristiwa G30S, paspornya dicabut penguasa militer Jakarta. Seperti nasib ratusan warganegara Indonesia yang sedang di luar negeri ketika itu, paspornya telah dicabut oleh penguasa militer Jakarta tanpa porses hukum apapun, atas tuduhan dan fitnahan terlibat dengan G30S. Jadilah S. Manap 'orang yang terhalang pulang'. Akhirnya ia bersama keluarga memperoleh suaka politik di Swedia, dan kemudian mengambil kewarganegaraan Swedia. Kini ia tinggal di Stockholm, bersama keluarganya.


* * *


Membaca tulisan kisah dan cerpen Sarkawi Manap, terkesan lancarnya ia mengisahkan apa yang dialami dalam kisah perjalanannya. Lancar dan samasekali tidak menjemukan. Membaca satu kisah, pembaca akan terdorong untuk membaca kisah selanjutnya.


*Ada sesuatu yang khusus dan istimewa pada kisah yang diceriterakan Sarkawi Manap. Seperti dikatakannya kepada teman-teman, ia menulis buku atas pertimbangan sbb:*


Bahwa apa yang ditulisnya itu tidak lain berupa sejarah perjalanan hidup yang pahit maupun yang manis yang pernah dialaminya. Apa yang sudah terjadi itu adalah sejarah, sesuatu yang sudah lewat dan takkan terulang lagi. Jika tidak ditulis semuanya akan berlalu tanpa bekas. Karena sifatnya adalah sejarah yang sudah lewat, maka ia menulis saja apa adanya.



Demikianlah pertimbangan dan prinsip yang mendorong Sarkawi menulis 'apa adanya'.



Sikap dan langkah Sarkawi menulis 'KISAH PERJALANAN' sebagai masalah serjarah, khususnya yang menyangkut dirinya, dan harus ditulis apa adanya, -- bukanlah sesuatu yang baru. Sikap Sarkawi seperti tsb diatas itu, adalah suatu sikap yang b e r a n i . Sudah lama diketahui bahwa mengenai masalah tsb terdapat pelbagai sikap dan pandangan, pendirian dan kebijakan. Bahkan sikap dan pandangan tsb tidak jerang bersifat kontroversial.



Sebabnya ialah, karena, hal tsb menyangkut masalah: -- apakah 'membuka' atau 'tidak membuka' 'hal-hal yang lalu'. Kalau dibuka apa positifnya dan apakah hal tsb tidak hanya menguntungkan 'musuh' yang akan menggunakannya dalam usahanya yang terus menerus membasmi gerakan revolusioner rakyat kita.



Mengenai masa lampau, mengenai hal-ihwal yang menyangkut sejarah bangsa kita, sudah banyak yang diucapkan, diceriterakan, dibikin memoar dan otobiografi. Dijadikan tema studi dan ditulis buku dan dokumentasi. Sementara sudah ada yang menyimpulkannya. Semua itu meyangkut peristiwa sekitar perjuangan bangsa kita melawan kolonialisme Belanda, pada periode pendudukan militer Jepang, dan pada periode perang kemerdekaan.



Sejak jatuhnya rezim Orba, ratusan bahkan ribuan tulisan, dokumen, artikel dan buku telah ditulis. Khususnya yang meyangkut peristiwa G30S. Lebih khusus lagi yang berkaitan dengan Peristiwa Pembunuhan Masal 1965/' 66/'67 sesudah terjadinya G30S. Sasaran kampanye pembunuhan adalah orang-orang Kiri dan penudukung Presiden Sukarno, lebih khusus lagi ialah anggota-anggota PKI dan simpatisannya.



Mengenai masalah-masalah tsb terdapat varian dan perbedaan kesimpulan, analisa, pandangan dan pendirian, bahkan bertentangan. Hal ini dalam mempersoalkan sejarah, bukanlah hal yang aneh atau luar biasa. Sejak sejarah ditulis dan diinterpretasikan, -- selalu terdapat perbedaan bahkan kontroversi. Baik dalam pencatatan, pendokumentasian maupun dalam interpretasinya.



Dalam proses melakukan studi serta mendokumentasikan hasil studi tsb erat sekali kaitannya dengan masalah *PELURUSAN SEJARAH*. Para korban Pristiwa 1965, para sejarawan muda, dan kalangan luas di masyarakat kita, baik mahasiswa maupun media yang memperjuangkan demokrasi dan keadilan, mencantumkan masalah PELURUSAN SEJARAH dalam agenda masing-masing. Ini tidak bisa lain.



Sejalan dengan gerakan Reformasi, terdapat arus dan kegiatan yang deras sekali dalam rangka PELURUSAN SEJARAH. Karena selama periode Orba, telah berlangsung 'pemalsuan' dan 'pemelintiran' sejarah yang teramat kasar dan tak tahu malu oleh rezim Orba, para sarajana dan pers pendukungnya. Keterbukaan dan pembeberan fakta-fakta dianggap sebagai sesuatu yang 'conditio sine qua non'. Sebagai sesuatu yang tidak-boleh-tidak harus dilakukan.

Menurut informasi yang diperoleh dari tanah air, sejumlah anggota-anggota PKI bahkan termasuk diantaranya mantan pimpinannya, dengan sungguh-sungguh merpertimbangkan dan mengambil kesimpulan, bahwa:


SUDAH TIBA WAKTUNUYA UNTUK MEMBEBERKAN, UNTUK MENGUNGKAPKAN DI KALANGAN PKI, KEMUDIAN DI HADAPAN RAKYAT, -- SEGALA SESUATU YANG DIKETAHUI MENYANGKUT PERISTIWA G30S SERTA PEMBANTAIAN MASAL YANG DILAKUKAN JENDRAL SUHARTO DAN KLIK MILITERNYA SERTA PENDUKUNGNYA.


Itu semua, menurut pandangan mereka itu, adalah demi usaha penjernihan mengenai masa lampau, agar bisa sebaik-baiknya menarik pelajaran dari masa lampau. Demi usaha untuk mengadakan PELURUSAN SEJARAH Indonesia dan sejarah PKI. Di lain seginya, juga demi merehabilitasi nama baik PKI, sebagai partai politik yang selalu berada di garis paling depan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tetapi, yang selama ini difitnah dan dituduh, sebagai partai politik yang anti-Indonesia, anti-Tuhan dsb. Menjadi dalang G30S, yang dikatakan sebagai suatu usaha perebutan kekuasaan negara.


Dalam barisan PKI tampaknya masih terdapat pandangan lain. Melakukan pembeberan mengenai masa lampau, dianggap akan digunakan oleh musuh-musuh PKI dalam usaha untuk membasmi PKI sampai ke akar-akarnya, serta mencegah timbulnya kembali PKI. Selain itu dianggap bahwa pembeberan seperti tsb diatas, bisa merugikan serta menyangkut keamanan pribadi yang bersangkutan!


* * *


Memang kenyataannya selama 15 tahun (1950 -1965) PKI melakukan kegiatan politik legal dan terbuka. PKI menerima dan mendukung UUD RI dan Pancasila. Dalam periode tsb PKI adalah sekutu terdekat Presiden Sukarno dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional yang penuh bagi Indonesia. Oleh karena itu, dianggap tak ada keperluannya untuk tidak melakukan pembeberan dalam suasana keterbukaan. Melakukan pembeberan dan pengungkapan bahkan dianggap akan memberikan sumbangan bagi usaha pernjernihan. Agar tidak ada lagi yang misterius bagi anggota-anggota PKI dan masyarakat mengenai masa lampau. Adanya kejernihan dianggap memberikan syarat baik untuk menarik pelajaran secara lebih mendalam dan lebih menyeluruh. Agar generasi muda dapat memanfaatkannya!


Sesudah terjadinya G30S sikap Presiden Sukarno yang berkeyakinan bahwa PKI adalah suatu parpol yang telah memberikan sumbangan besar dalam perjuangan rakyat Indonesia melawan kolonialisme dan untuk kemerdekaan nasional, tetap tidak berubah. Membaca pernyataan Sudiman di Mahmilub – Uraian Tanggung Jawab – sikap PKI juga tidak berubah, tetap menganggap Bung Karno, seperti dikatakan dalam ungkapan Jawa: Yo sanak, yo kadang, yen mati aku sing kelangan!


* * *


Dengan begitu, ditinjau dari pendangan usaha pelurusan sejarah, buku Sarkawi Manap, dapat dilihat sebagai suatu sumbangan pribadi yang serius dan berarti ke arah itu.


* * *

Aku Ingat Kembali Pablo Neruda

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Rabu, 06 Januari 2010
----------------------------


Aku Ingat Kembali Pablo Neruda




Hari ini, Rabu 06 Januari, 2010, kulihat di Mikrogids, sebuah terbitan mengenai acara TV Belanda, bahwa malam ini akan ditayangkan lagi film Itali (1994). Jam 20.40, stasiun TV Belgia, Canvas, akan menyajikan film Itali “Il Postino” tsb. Dengan sendirinya, kalau bukan film yang disenangi penonton, pasti tidak berulang kali disiarkan kembali di TV.



Mengapa film pemenang Oscar Award tsb begitu populer. Baiklah pembaca ikuti tulisanku yang cukup panjang-lebar mengenai film tsb. Yang paling pokok bagiku ialah bahwa film tsb memfokuskan seorang penyair raksasa di dunia,* PABLO NERUDA*. Bahwa Pablo Neruda yang Komunis itu begitu populer, mungkin bagi orang-orang yang 'komunisto-phobi' sulit untuk dicernakan dalam fikirannya. Tetapi itu urusan merekalah!



Silakan pembaca mengikuti tulisanku yang disiarkan hampir dua tahun y.l.



* * *

IBRAHIM ISA - Berbagi Cerita
Minggu, 06 Juli 2008
----------------------------------------

Film Italia - 'Il Postino' Yang Inspiratif




Sabtu malam Minggu, kecuali bila diajak anak-anak keluar atau bila ada
undangan, -- seperti biasa kami berdua suami-istri, di rumah saja.
Tinggal di rumah lebih irit, lebih berhemat ketimbang jalan-jalan ke
luar. Meskipun di rumah saja, namun tidak merasa kesepian. Karena acara
TV yang bisa ditangkap lewat kabel-TV di tempat kami ini, cukup 'kaya'.
Terserah mau pilih mengikuti acara apa, 'talk-show' bernuansa politik,
Larry King-nya CNN, CBS-nya Oprah Winfrey Show, atau nonton film yang
mana. Silakan pilih sendiri. Mana suka, ada drama, ada komedi ada krimi,
'horror' ataupun 'thriller'.


Tadi malam pilihan kami jatuh pada acara film Itali, 'Il Postino', di
kanal Nederland 2, yang bisa menyiarkan acara-acara yang bersifat
religius. Arti judul tsb, dalam bahasa Indonesia adalah 'Pengantar Pos'.
Pada periode 'tempo doeloe', orang-orang menamakannya 'postbode', tukang
antar benda-benda pos PTT. Biasanya berpakaian seragam dan bersepedah.


Film Itali 'Il Postino' dengan sutradara Inggris Michael Redford.
(produksi 1994), adalah sebuah 'late-night film' yang biasa ditayangkan
pada waktu-waktu 'week-end'. Kupilih nonton 'Il Postino', bukan karena
ceritanya -- seperti yang dimaksudkan sutradaranya. Yaitu cerita
mengenai Sang pengantar pos Mario, yang sebagai postbode kerjanya
mengantarkan surat-surat kepada PABLO NERUDA. Karena pandangan dan sikap politiknya, Pablo Neruda diasingkan pemerintah Chili, ke sebuah pulau
kecil Itali. Memang ceirtanya seperti tertera pada judulnya adalah
mengenai Mario si postbode yang karena lugu dan kesetiaannya
mengantarkan surat kepada Pablo, jadi sahabat kental Pablo Neruda.
Selanjutnya Mario jatuh cinta pada seorang gadis tercantik pulau itu.


Adegan-adegan dialog antara Mario dengan Pablo benar-benar menarik.
Mario minta pada Pablo untuk mengajarkannya membuat syair. Kita saksikan
bagaimana Pablo menjelaskan dengan sederhana, mengenai syair-syairnya
yang terkenal itu. Bisa diikuti Pablo dengan tekun membimbing Mario
membuat syair. Metamorfoso, kata Pablo. Perhatikan dan nikmati serta
kagumi keindahan alam sekitarmu, . . . alunan gelombang laut yang
menampar gua dan batu-batu, pantai, dan gunung-gumunungnya. Saksikan dan
khayati keindahan alammu itu. Lalu gunakan cara metafora, untuk
menuliskan syair atau sajakmu. Lucunya ketika Pablo menanyakan kepada
Mario apa yang paling indah dipulau itu, jawab Mario dengan lugu: Yang
paling indah bagku adalah wanita Beatrice Russo yang amat dicintainya.


Cobalah, buat sendiri sajak itu, kata Pablo.

Sungguh, di sini terasa betapa dekatnya hati dan perasaan Pablo sebagai
penyair Komunis Chili dengan Komunis wong cilik Itali. Bagi Pablo, Mario
adalah 'orang sendiri', tak ada perbedaan samasekali dengan dirinya.
Barangkali ini yang dimaksudkan bahwa mereka itu, seperti jargon yang
digunakan ketika itu, memiliki perasaan s e k l a s. Klas yang terindas!


Karena film ini menyangkut orang-orang Komunis, aku semula tidak
menyangka bahwa film ini ditayangkan oleh sebuah siaran TV yan biasa
acaranya mengenai masalah kegamaan. Tadinya tersirat dalam fikiranku,
paling-paling film ini akan menjelek-jelakkan orang-orang Komunis saja.
Tetapi ternyata tidak. Pantitia pemberi hadiah Oscar dari Amerikapun,
msih bisa melihat kenyataan. Film 'Il Postino' dinominasi hadiah Oscar,
kemudian benar juga dapat hadiah Oscar itu. Di sini mungkin orang-orang
yang sudah punya pandangan absolutisme yang tak tertolong, sulit
mengerti bagaimana film yang membagus-baguskan tokoh-tokoh Komunis, kok
ddiberi hadiah Oscar. Kok ditayangkan oleh sebuah stasiun TV Belanda,
yang biaa menyiarkan masalah kegamaan? Mereka tidak bisa menerima
realita, bahwa setiap manusia, apakah dia Komunis, Kapitalis, Demokrat
atau Katolik, diantaranya pasti ada yang jelek, tetapi juga pasti ada
yang baik. Bahkan baik dan hebat sekali, seperti Pablo Neruda. Penilaian
seperti ini, apakah ada di negeri kita?


*

* *

Ikuti sedikit lagi adegan lanjutan: -- Suatu ketika Mario minta
kepada
Pablo untuk jadi saksi dalam perkawinannya dengan kekasihnya Beatrice
Russo. Pak Pendeta Katolik di gereja itu keras sekali menolak. Dan
dengan tegas pula penolakannya itu. Tidak bisa, kata Pak Pendeta.
Pablo
itu Komunis. Komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Jadi tidak bisa
orang yang tidak mengakui Tuhan, menjadi saksi perkawinan orang
Katolik.


Tetapi Mario tetap mendesak. Karena, selain seorang Katolik, Mario
juga
adalah Komunis. Dan ia ingin perkawinannya itu dengan Pablo Neruda
sebagai saksi. Akhirnya Pak Pendeta merima juga Komunis Pablo jadi
saksi perkawinan Mario, di gereja Katolik. Soalnya, suatu ketika,
Pak Pendeta
melihat bahwa Pablo Neruda juga pergi ke gereja untuk beribadah.
Sulit
dimengerti? Ah, tidak. Kalau mau jujur bersedia mengakui kenyataan
seperti apa adanya, maka tidaklah sulit untuk menerima semua itu.
Demikianlah, perkawinan Mario yang KOmunis dengan Beatrice Russo
berlangsung menurut tradisi Katolik dan dihadiri oleh banyak Komunis
lainnya dipulau itu. Gembira dan harmonis!


Kira-kira pada periode itu juga, banyak pendeta dikirimkan oleh
Vatikan
ke daerah perburuhan dan kaum miskin kota. Tujuannya untuk melawan
menyebarnya pengaruh Komunis di kalangan kaum buruh tsb. Berlalu
beberapa waktu kemudian, bukan kaum buruh yang dibebaskan dari
pengaruh Komunis, tetapi para pendeta yang turun ke akar rumput
itu yang kemudian jadi Komunis. Mereka adalah pendeta-pendeta
Katolik termasuk pertama yang jadi Komunis. Cerita ini kudapat
dari orang Itali sendiri.



* * *


Pasti menjadi perhatian, bahwa cerita 'Il Postino' berkisar antara
orang-orang Koumnis Itali dan Komunis Chili. Komunis-komunis Itali
adalah wong-wong cilik. Yang seorang kepala kantor pos setempat, yang
satunya adalah postbode Mario. Tapi orang Komunis yang satu lagi,
adalah adalah salah seorang RAKSASA di kalangan penyair dunia.


Di sinilah a.l menariknya film 'Il Postino' bagiku, teristimewa
ketika
mengikuti dialog antara komunis-komunis Itali dan Komunis Chili Pablo
Neruda, yang dalam tahun 1971 mendapat Hadiah Nobel. Tidakkah menarik
bagi pembaca, khususnya pembaca Indonesia yang, --- disebabkan
pengaruh
mesin propaganda ala Goebels yang dilancarkan oleh fihak Barat dan
Orba
selama puluhan tahun belakangan, sampai sekarang, kebanyakan menjadi
Komunisto-phobi? Tidak bisa lagi melakukan analisis obyektif atas
kehidupan yang nyata. Sudah lupa bahwa dalam pemilu tahun 1955 dan
1957,
kaum Komunis Indonesia pernah punya pengaruh di kalangan seperempat
pemilih Indonesia yang sah. Tetapi Indonesia pun tidak bisa lepas
dari
hukum masyarakat, hukum alam, bahwa segala sesuatu itu mengalami
perubahan!


* * *


Barangkai ada baiknya kukutip sedikit apa yang kutulis mengenai Pablo
Neruda setahun yang lalu, yaitu pada hari Natal tahun 2007, sbb:


Sebelum mengakhiri INTERMEZO ini, ada satu hal menarik dan penting
yang ingin kusampaikan mengenai seorang penyair Chili, kaliber
dunia, PABLO NERRUDA ( 12 Juni 1904 - 23 Sept 1973 ). Buku PABLO
NERUDA (tebal 455 halaman), edisi bahasa Belanda, berjudul -- 'IK
BEKEN IK HEB GELEEFD, Herinneringan', dalam bahasa Indonesianya
kira-kira, 'SAYA AKUI SAYA HIDUP, Kenang-kenangan' (Cetakan
pertama 1975), dalam waktu panjang tidak kujamah.


Mengapa aku bilang aku ini keterlaluan. Soalnya buku itu sudah tiga
tahun nangkring dimeja kecil di bagian kepala tempat tidurku.
Kubeli di
Toko Buku 'Vrije Universiteit Amsterdam', pada tanggal 13 Desember
2004.
Masyaalah baru hari ini, betul-betul aku mulai membacanya. Tentu,
pada
waktu membelinya sudah kubalik-balik juga halamannya dan membaca
semacam kata pendahuluan buku pada halaman 8.

Di situ Pablo Neruda menulis bahwa, 'Memori kenang-kenangan ini
bukanlah suatu cerita yang sambung menyambung menjadi suatu
keseluruhan yang utuh, dan di sana sini tampak adanya kekosongan.
Persis sama dengan kehidupan itu sendiri'. . . . . .


Aku tertarik membaca permulaan kata pengantarnya itu. Jauh pada
tahun limapuluhan abad lalu, aku sudah mendengar nama Pablo Neruda
yang tenar. Menjadi kebanggaan kalangan progresif dunia. Kemudian
kubaca sendiri beberapa tulisannya. Jelas Pablo Neruda adalah
seorang KOMUNIS. Seorang penyair besar! René De Costa dalam THE
POETRY OF PABLO NERUDA, menulis bahwa 'Sekali tempo ia (Pablo
Neruda) disebut Picassonya poësi, berkat pandangannya yang
banyak-seginya dan talennya untuk selalu berada di barisan depan'.

Setelah Pablo Neruda dianugerahi HADIAH NOBEL UNTUK SASTRA (1971),
perhatian khalayak sedunia semakin meningkat terhadap diri dan
syair-syair serta tulisan-tulisannya. Bukunya ' MEMORI . . . ' yang
penerbitannya ditangani oleh istrinya sendiri, amat
dinanti-nantikan dan
disambut hangat. Bukan kebetulan bahwa terbitnya buku Memori Pablo
Neruda tsb berlangsung pada tahun 1975. Yaitu tahun ketika pemerintah
progresif Kiri Partai Sosialis Presiden Salvador Allende digulingkan
oleh suatu kup militer anti-Komunis di bawah pimpinan Jendral
Pinnochet. Syukur alhamdulillah, akhirnya almarhum Presiden
Jendral Pinnochet yang telah melakukan pelanggaran HAM
besar-besaran terhadap rakyat Chili, akan diadili.


Sebelum ia meninggal (1973), Pablo Neruda sempat menjadi Dubes
Chili di Perancis. Ia menerima jabatan itu karena merasa bangga
bahwa di
negerinya, Chili, ketika itu telah berdiri suatu pemerintah Sosialis
yang progresif, di bawah Preisiden Allende. Dan ia bersedia mewakili
pemerintah Kiri seperti itu.


Meskipun umum tau bahwa PABLO NERUDA adalah seorang Komunis. Namun
tidak membikin mata mereka cadok, tapi masih mampu bersikap
obyektif, untuk melihat dan mengakui bahwa Pablo Neruda yang
Komunis itu, adalah seorang raksasa di dunia sastra , dunia
persairan internasional.


Aku lega mengetahui ini, karena ternyata di dunia ini, tidak semua
orang
matanya cadok, yang membikin mereka tidak bisa atau tidak rela
melihat
dan mengakui, bahwa orang Komunis itu tidak sedikit yang hebat-hebat.
Yang telah memberikan suri teladan, telah mengabdi pada rakyat dan
negerinya, yang patriotik dan internasionalis, dan telah memberikan
sumbangan penting dalam khazanah poësi dunia. Orang-orang yang
fikiran dan mata hatinya sudah cadok begitu mendengar nama
KOMUNIS, hati nuraninya sudah bisu, fikirannya membatu, macet,
persis seperti pahlawan anti-Komuinis MAC CARTHY di Amerika pada
tahun limapuluhan. * * *

PEREMPUAN INDONESIA

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita

Selasa, 05 Januari 2010
-----------------------


PEREMPUAN INDONESIA



Hari Minggu kemarin dulu itu, pada kesempatan perayaan 'Menyambut Tahun Baru 2010', di Diemen, Belanda – Murti ditawari dan membeli buku dari kawan-kawanya yang tergabung dalam Grup Wanita DIAN. Tidak mahal hanya 10 Euro saja. Sebuah buku yang sebenarnya sudah beredar dua tahun yang lalu. Diterbitkan oleh Galangpress (Anggota Ikapi). Judul buku:


“SUARA PEREMPUAN, Korban Tragedi 1965”


Entah apa sebabnya baru sekarang kutahu ada buku ini. Padahal sudah terbit Cetakan I, 2007; Cetakan II 2008. Penulis: ITA F. NADIA. Diantar oleh Prof. Dr. Saskia E. WIERENGA, Universiteit van Amsterdam (UVA).


Dalam Prakata Penulis ditegaskan bahwa buku itu adalah mengenai 'Pengalaman Perempuan Sebagai Pusat Penafsiran Sejarah'. Sedangkan Wierenga, dalam pengantarnya menjelaskan bahwa SEJARAH TELAH MEMBERSIHKANMU. Ikutilah sedikit apa kata Wieringa:


'Yanti, seorang dari sepuluh orang perempuan, yang kisah-kisah sedih dan mengerikan mereka telah diceriterakan dalam halaman-halaman buku ini, hanya mempunyai satu keinginan saya sebelum ia mati. Ia ingin menceriterakan kepada keluarga jenderal-jenderal yang terbunuh di Lubang Buaya pada tahun 1965, bahwa cerita-cerita yang telah beredar, atau dengan sengaja telah diedarkan, tentang kematian mereka itu tidak benar adanya. Jenderal-jenderal itu tidak mati karena dibunuh oleh perempuan-perempuan muda sambil telanjang menari-nari di tengah malam, tidak dipotong penis mereka dan tidak dicungkil mata mereka. Bagaimana jenderal-jendral itu dibunuh, dan mengapa, masih merupakan mistri bagi Yanti, perempuan muda belia yang ketika ditangkap baru berumur 14 tahun, dan yang kemudian diperkosa beramai-ramai dan disiksa habis-habisan. Hidupnya telah hancur. Dipenjara selama sepuluh tahun lebih tanpa pernah diadili.'


* * *


Aku sela dulu di sini kata pengantar Wieringga. Kita baca sedikit apa kata Ita F. Nadia, sebagai penghimpun dari kisah-kisah perempuan Indonesia yang lolos dari penderitaan kebiadaban rezim Orba, sbb:


“Awalnya adalah sebuah foto rontgen 'X-ray” dari Ibu Sujinah di tahun 1995, yang ditunjukkan kepada saya, dan catatatan dokter yang memeriksanya: Fraktur di tengkorak kepala, tulang pinggang dan dada akibat benda tumpul”. “Itu tubuh saya”,

kata ibu Sujinah pelan. Tiba-tiba airmatanya menggenang di kedua pelupuk mata, dan tatapannya jauh. Tapi kemudian beliau berkata: “Sudahlah yang lalu biar menjadikan sejarah hidup saya”.


Demikian ktata-kata Ibu Sujinah, yang sesudahnya mengusik perasaan saya. Berhari-hari saya tidak bisa tidur memikirkan foto rontgen itu, dan saya berkeyakinan

telah terjadi suatu peristiwa kekerasan yang dahsyat pada Ibu Sudjinah. Apakah hanya Ibu Sudjinah sendiri yang mengalaminya?


“Saya mulai mencari tahu lebih dalam pada Ibu Sujinah, tapibeliau diam. Pertanyaan-pertanyaan yang mencoba mengungkap pengalaman kekerasan masa lalunya, selalu dijawabnya dengan: “Berat. Aku sendiri lupa. Kalau kamu ingin tahu bagaimana kami ketika diinterogasi, tengoklah keadaan ibu Sri Ambar.” Begitulah nasihat Ibu Sujinah. Dan suatu pagi masih di tahun 1995, dengan diantar almarhum mbah Harti, saya mengunjungi ibu Sri Ambar. Almarhumah mbah Harti ialah Suharti, mantan anggota DPRD JawaTengah dari Fraksi BTI (Barisan Tani Indonesia). Almarhum suaminya, Harsono Ali Markaban, juga salah seorang anggota DPPBTI dan anggota DPR-GR (DPR Gotong Royong). Sebutan “mbah” untuk mbah Harti adalah sapaan kekeluargaan, yang diberikan anak-anak saya kepada beliau, yang pada tahun-tahun terakhir telah menjadi bagian kehidupan keluarga kami.


“Memasuki rumah ibu Sri Ambar yang sederhana, saya bertemu dengan seorang eks-aktivis SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) tahun 1960-an yang memperjuangkan persamaan hak buruh perempuan. Seorang perempuan bertubuh rapuh! Ia menatap kosong, seakan kehilangan memori. Menurut diagnosa rumah sakit, ibu Sri Ambar mengalami retak tempurung kepala yang berat dan pergeseran otak akibat penganiayaan. Oleh karenanya beliau menjadi kehilangan memori dan luka-luka dalam tubuh, yang mengakibatkan ibu Sri Ambar menderita berbagai penyakit. Beliau tidak bisa menceriterakan kembali pengalaman hidupnya. Ibarat satu sosok tubuh yang tinggal bernapas namun sedjatinya tidak lagi hidup. Untung bersama saya ada almarhum mbah Harti, yang di masa lalu menjadi saksi proses penyiksaan terhadap ibu Sri Ambar dan Ibu Sujinah.”


Selanjutnya Ita Nadia menuraikan tentang bagaimana caranya memberikan kemungkinan kepada masyarakat agar mengetahui mengapa begitu banyak orang dibunuh, ditangkap, diperkosa, dibuang dan dipenjarakan, sesudah terjadinya G30S.


Ita mulai meneliti tentang kekerasan yang terjadi pasca peristiwa G30S. Hasilnya adalah terbitnya buku ini: SUARA PEREMPUAN INDONESIA , Korban Tragedi '65.


Dijelaskan lebih lanjut oleh Ita F Nadia:


“Penulisan pengalaman perempuan-perempuan korban ini, merupakan upaya untuk menghentikan “politik pembisuan” yang lazim digunakan oleh para pelaku kekerasan, sebagai alat teror agar korban dan masyarakat dicengkam rasa-takut. Sejarah lisan menjadi salah satu cara untuk memecah kebisuan, dan dengan demikain untuk menciptakan “ruang sejarah”. Tuturan pengalaman korban adalah elemen penting untuk penyusunan kembali masa lalu yang tidak adil. Bagi perempuan korban kekerasan, metode sejarah lisan menjadi media penting untuk membawa perempuan masuk ke dalam sejarah, dan menjadikan pengalaman perempuan sebagai bagian dari catatan tertulis. Untuk selanjutnya merupakan jalan melakukan revisi sejarah dan mengubah penggambaran peristiwa yang sebelumnya pernah ditulis secara tidak adil dan tidak memperhitungkan pengalaman perempuan”


Buku tsb mencakup sepuluh kisah perempuan Indonesia, yang diberi judul sbb:


1.Ibu Rusminah: Akhirnya Pemerkosa Itu Jenderal Pensiun

2.Ibu Parti: Perempuan Eks-Tapol Sampah Segala Sampah

3.Ibu Yanti: Membangun Kekuasaan di Atas Perkosaan

4.Ibu Maryati: Perempuan Tapol Sasaran Aniaya Moral dan Politik

5.Ibu Sukarti: Ya, PKI Itu Impoten

6.Ibu Sudarsi: Mengapa Perempuan Harus Punya Vagina dan Payudara

7.Ibu Sus: Membuang Jati Diri Demi Harkat dan Martabat Diri

8.Ibu Suparti: Hidup Saya Dihancurkan Karena Suami Saya Orang PKI

9.Ibu Badriah: Penginjil Orang Miskin

10.Ibu Darmi: Saya Tinggal Sebatang Jasad


* * *


Kiranya akan memberika pandangan umum yang lebih lengkap bila kita ikuti apa yang ditulis oleh Prof Dr Wieringga kaitannya perempuan Indonesia dan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia), sbb:


“GERWANI”

Gerwani ialah organisasi kaum perempuan yang berkaitan dengan PKI. Gerwani, atau Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar), demikianlah namanya pada tahun 1950-1954, didirikan oleh sekelompok perempuan muda yang ingin melaksanakan cita-cita mereka tentang revolusi Indonesia. Beda dari anggota organiasi-organisasi perempuan lainnya, mereka tidak menarik diri ke dalam apa yang umum melihatnya sebagai bidang kaum perempuan, tetapi berjuang untuk masalah-masalah sosial dengan selalu berada di gelanggang politik. Perhatian para anggotanya yang semula pada undang-undanga perkawinan yang berdasarkan monogami menjadi menyusut sesudah Presiden Sukarno kawin-madu dengan Hartini pda tahun 1954. Perhatian utama organisasi lalu beralih pada perjuangan untuk hak kerja dan bertanggungjawab yang sama antara kaum perempuan dan kaum laki-laki, dalam perjuangan untuk mencapai kemerdekaan nasional yang penuh dan untuk sosialisme. Hak-hak untuk perempuan dan anak-anak, termasuk penyelenggaraan penitipan anak dan pembangunan 'keluarga revolusioner', tetap menjadi tema pokok dalam sepanjang sejarah Gerwani. Sesudah kongres pada tahun 1954 organisasi ini mengikuti 'garis massa' PKI seperti yang telah ditetapkan. Beribu-ribu kader diberi pelatihan. Para anggota pegi ke desa-desa dan kampung, untuk mendiskusikan masalah sehari-hari dengan perempuan tani di desa dan di kampung, terutama dengan kaum buruh perempuan. Lalu dilakukanlah kegiatan besar-besaran untuk melawan burahuruf di kalangan perempuan.”


Sekian dulu dari Wieringga. Bicara soal gerakan perempuan Indonesia, khususnya masa sebelum Orba, lebih khusus lagi mengenai Gerwani, Wierenga adalah seorang yang menekuni masalah ini. Ia meraih gelar PhD-nya dengan mengadakan studi dan tesis berjudul::


*The politicization of gender relations in Indonesia: The
Indonesian women's movement and Gerwani until the New Order
state, Amsterdam: Universiteitsbibliotheek (PhD thesis), 1995. *



* * *

Pesan yang dilantunkan para perempuan Indonesia korban Tragedi '65, sungguh patut dicamkan oleh masyarakat:



“Kami bukan pembunuh dan pelaku kekerasan terhadap para jenderal sperti dituduhkan selama ini kapada kami. Kami ingin dikembalikan sebagai manusia merdeka dan bermartabat. Bukan karena dendam, tapi agar kekerasan yang pernah kami alami tak terulang pada perempuan Indonesia yang akan datang.

KAMI BERJUANG DEMI PERDAMAIAN DAN KEADILAN RAKYAT INDONESIA.



* * *

Tulisan ini sekadar untuk menggugah pembaca membaca buku penting tsb: *SUARA PEREMPUAN, Korban Tragedi 1965”*

Kepada Ita F. Nadia yang telah berusaha keras sampai terbitnya buku ini, patutlah disampaikan kepadanya rasa hormat dan penuh penghargaan.



* * *
IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Senin, 04 Januari 2010
----------------------------




Menyambut Tahun Baru 2010


Minggu, 03 Januari 2010.

Tanpa mempedulikan cuaca musim dingin yang suhunya mencapai di bawah 0 derajat Celcius, para peminat dan pemeduli silaturahmi 'Menyambut Tahun Baru 2010' memenuhi ruangan pertemuan gedung 'Schakel', Diemen, Holland. Penuh sesak ruangan pertemuan itu. Mengingat ruangan pertemuan memang terbatas, jumlah 167 orang yang datang pagi itu, sudah memenuhi seluruh ruangan. Beberapa tamu terpaksa berdiri.


Chalik Hamid, dari Perkumpulan Perhimpunan Persaudaraan, menyatakan, bahwa: Beberapa perkumpulan orang-orang Indonesia di Belanda, membentuk sebuah panitiya mengorganisasi Hari Silaturakhmi Menyambut Tahun Baru 2010 tsb. Dikatakannya bahwa bila hari tidak sedingin itu, pasti lebih banyak yang datang.


Cuaca yang luar biasa dingin, salju yang masih menutupi segala – serta hari ini turun lagi salju di Belanda, membikin penggemar olah raga musim dingin di Belanda bersuara: Sebentar lagi di Belanda akan bisa dinikmati pertandingan skate di alam terbuka.



* * *


Cuaca dingin yang jarang melanda Belanda di musim ini sedikitpun tidak diperdulikan oleh para peserta silaturakhmi tsb. Yang berdatangan itu bukan saja dari Belanda. Ada teman-teman Indonesia yang datang dari Swedia. Ada yang datang dari Paris dan Achen, Jerman. Juga ada sementara hadirin yang dari Indonesia, kebetulan sedang berada di Amsterdam, memerlukan untuk hadir dalam pertemuan TAHUN BARU 2010 itu.


Tidak semua mereka itu, orang Indonesia. Di antaranya tampak beberapa orang bulé. Tidak jelas apakah mereka orang Belanda atau bangsa lainnya. Yang jelas mereka itu adalah orang-orang asing yang PEDULI INDONESIA. Yang SUKA dan SENANG INDONESIA. Ya, suka pada orangnya, ya makanannya. Lebih-lebih lagi suka dan cinta pada budaya Indonesia, tari-tarian dan nyanyiannya.


Acara kebudayaan yang ditampilkan dalam pertemuan itu: Tarian Bali, Jawa dan Sunda, -- itulah kiranya yang paling menarik dan disambut hadirin. Adalah putri-putri anak teman-teman kita sendiri yang dengan indahnya membawakan tari-tarian daerah Indonesia itu. Kusebutlah nama-nama mereka: Asih – putrinya Sungkono; Agustin – putrinya A. Supardi; Putri – putrinya Hendra; Linda dan Riana. Tari-tarian Bali, Jawa dan Sunda tsb merupakan suguhan yang mengasyikkan. Paling menyenangkan dan BERMUTU.


Juga sumbangan nyayian bersama, tunggal dan pembacan sajak memberikan kesan mendalam pada hadirin. Menambah meriah suasana peringatan dan silaturakhmi.


Acara yang dibuka Melia Sulardjo dan dipandu oleh Novelin Manueke, berjalan lancar dan mulus. Sungguh merupakan suatu silaturahkmi Menyambut Tahun Baru 2010 yang hangat, berisi dan sukses. Beginilah orang-orang Indonesia dirantau mengekspresikan kerinduan dan kecintaan mereka pada tanah air Indonesia.


* * *


Tokh ingin kusoroti satu lagi aspek penting dari pertemuan 'Menyambut Tahun Baru 2010Masyarakat Indonesia di Luarnegeri.


Dalam pidato menyanbut Tahun Baru 2010, Sungkono, salah seorang ketua Perhimpunan Persaudaraan, memulainya dengan minta perhatian hadirin pada Abdurachman Wahid, mantan Presiden RI, yang wafat beberapa hari sebelumnya. Dilakukan pengheningan cipta untuk mengenang tokoh pimpinan organisasi kaum Muslimin Indonesia terbesar di Indonesia.


Pengheningan cipta untuk Gus Dur itu dirasakan memang perlu. Agar kita selanjutnya tidak melupakan sumbangsih besar Gus Dur kepada nasion dan tanah air Indonesia. Tidak melupakan ajaran dan anjuran Gus Dur kepada masyarakat, sehingga beliau sering dijuluki sebagai 'guru bangsa'.


Bukankah Gus Dur sebagai kiayai Islam, yang tak henti-hentinya menganjurkan toleransi di kalangan berbagai ummat beragama di Indonesia. Juga bukankah Gus Dur yang tak jemu-jemunya membela prinsip-prinsip kehidupan pluralis dan sekuler, tidak mencampur adukkan urusan keyakinan agama dengan urusan kenegaraan, urusan politik praktis?


Orang tak akan melupakan, bahwa Gus Dur sebagai pemimpin NU, tokoh Islam berpengaruh, ----- Tanpa tedeng aling-aling menyatakan penyesalan dan minta maaf atas keterlibatan pemuda Ansor dan sementara anggota NU, dalam pembantaian masal Peristiwa 1965!!!


Bukankah Gus Dur yang menyatakan terbuka dan tegas bahwa TAP MPRS No. XXV Th 1966, disahkan pada pemulaan periode Orba, adalah suatu keputusan yang bertentangan dengan UUD RI, bertentangan dengan prinsip-prinsip Demokrasi? Dan Gus Dur mendesak supaya TAP MPRS No XXV/1966 itu, dibatalkan?


Bukankah Gus Dur yang mengeluarkan Instruksi Presiden No. 1/Th 2000 untuk mengurus masalah orang-orang Indonesia di luarnegeri 'yang terhalang pulang' karena paspornya dengan sewenang-wenang dicabut oleh Orba?


Bukankah Gus Dur yang dengan tegas mengembalikan urusan tanggungjawab keamanan dalam negeri kepada Kepolisian. Dan dengan itu memisahkan tugas-tugas dan urusan Tentara dari urusan Kepolisian. Bukankah juga adalah Gus Dur yang dengan tegas pula memerintahkan tentara meninggalkan kegiatan politik, tidak boleh campur dalam kegiatan politik. Dan berkaitan dengan itu telah dengan berani memecat Jendral Wiranto yang membangkang.


Selanjutnya bukankah Gus Dur yang dengan lantang menyatakan agar dihidupkannnya kembali budaya etnis Tionghoa warganegara Indonesia. Halmana oleh rezim Orba dilarang selama lebih dari tiga dasawarsa!


Dan masih banyak lagi kegiatan Gus Dur, yang menunjukkan betapa beliau peduli dengan nasib bangsa dan tanah air.


* * *


Demikianlah kesan-kesan mendalam dan tak mudah dilupakan mengenai pertemuan silaturakhmi 'Menyambut Tahun Baru 2010', yang diadakan oleh orang-orang Indonesia yang bermukim di Belanda, Swedia, Jerman dan Paris.


* * *