Monday, July 14, 2014

BUNG KARNO: - - JAS MERAH - JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH

Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu Pagi, 05 Juli 2014

---------------------------------------

BUNG KARNO: - - JAS MERAH - JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH


* * *

MESKIPUN PAKÉ PICI - -
BAJUNYA MIRIP KEMEJA BUNG KARNO
PIDATO PUN MENIRU-NIRUKAN GAYA BK BERPIDATO

*    *    *

SORRY , AKU TIDAK PERCAYA CALPRES INI . . . .!!!

KARENA MASA LAMPAUNYA ITU . . .LHO . . .

* * *

Bung Karno selalu mengajarkan . . . . . JAS MERAH

JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH

RACUN ITU AKAN BISA MENGGANGGU SAMPAI KE DALAM KEHIDUPAN ANAK CUCU KITA

Kolom IBRAHIM ISA
Jum'at sore, 04 Juli 2014
----------------------------------


RACUN ITU AKAN BISA MENGGANGGU SAMPAI KE DALAM KEHIDUPAN ANAK CUCU KITA

* * *

Artikel Goenawan Mohammad di bawah ini, cukup rinci, dan mengemukakan alasan serta argumentasi sekitar KAMPANYE HITAM   di
Amerika Serikat dan Meksiko. Itu di negeri-negeri lain.

Soalnya, ---  cara kampanye  itu, kini tampak dilakukan juga di   negeri kita tercinta, INDONESIA.
Apalagi personil yang terlibat KAMPANYE HITAM di AS dan Meksiko,
kini adalah penasihat capres nomor 1, Prabowo Subianto.

Sehingga Goenawan Mohammad,  dalm tulisannya itu, menyimpulkan a.l. :
"Di Indonesia, di tahun 2014, teknik yang mirip dengan yang dilakukan terhadap McCain (dan Obrador) kini dilakukan. Jokowi mula-mula disiarkan sebagai orang Kristen yang akan meng-kristen-kan Indonesia -- meskipun dalam kenyataan ia seorang dengan tradisi muslim yang lebih kuat ketimbang Prabowo.
Ketika ini mulai tak meyakinkan, disebarkan bahwa Jokowi seorang PKI atau keturunan PKI -- bahkan PDI-P dikaitkan dengan Partai terlarang itu. Dikatakan bahwa semboyan Jokowi "Rolusi mental" berasal dari Marxisme. Ini suatu kampanye yang membodohkan, karena Marxisme justru tidak yakin akan ada revolusi mental; yang jadi program Marxisme adalah revolusi sosial: kondisi sosial, sebagai basis, harus diubah agar kondisi mental berubah.
Tapi selebaran, khotbah, twitter, dan bahkan siaran TV menyebutkan hal yang menyesatkan itu.
Jika teknik kampanye hitam berhasil, Indonesia akan memulai era persaingan kotor dalam politik, yang dibeayai dengan uang bermilyar-milyar. Bekasnya -- berupa kebencian -- akan berlanjut sampai bertahun-tahun mendatang. Racun itu akan bisa mengganggu sampai ke dalam kehidupan anak cucu kita."

* * *

GOENAWAN MOHAMMAD
FaceBook hari ini:

KAMPANYE HITAM:
DARI AMERIKA, KE MEKSIKO, LALU KE INDONESIA

Sudah beberapa lama diketahui bahwa seorang konsultan Amerika, Rob Allyn, bekerja untuk Prabowo. Ia membuat film, trilogi "Merah Putih", yang disutradarai anaknya sendiri, dan dibeayai Hasyim Djojohadikusumo -- yang bisa dilihat sebagai awal promosi citra keluarga jauh-jauh hari sebelum masuk ke dalam kompetisi jabatan presiden.

Tak ada salahnya membuat film seperti itu. Bagaimanapun kalau itu dianggap kampanye, itu contoh kampanye positif.

Yang belum secara detail diketahui ialah bagaimana Allyn berpengalaman dalam hal "kampanye negatif" untuk menjatuhkan lawan politik.
Allyn pernah bekerja untuk Partai Republik negara bagian Texas. Di tahun 2000 ia membantu kampanye George Bush untuk mengalahkan John McCain dalam pertarungan memenangi posisi sebagai calon presiden Partai Republik. Untuk itu, sebuah "kampanye negatif" diluncurkan -- sesuatu yang agaknya baru dalam politik Amerika, setidaknya dalam ukuran dana dan intensitasnya.
Salah satu "kampanye negatif" itu adalah memburuk-burukkan kebijakan McCain dalam masalah lingkungan. Pada suatu hari, tiba-tiba muncul sebuah iklan: wajah McCain dipasang, tapi dengan ditimpa gambar asap tebal polusi. Disebutkan: McCain menolak penggunaan energi surya dan energi terbarukan, sementara Bush adalah yang pemimpin yang menutup pabrik-pabrik yang menyebabkan polusi.
Padahal, sebaliknya yang terjadi. Di masa Bush sebagai gubernur Negara Bagian Texas, orang Republiken yang dekat dengan bisnis minyak bumi itulah yang menyebabkan ibukota Texas, tertinggi polusinya di AS -- dalam catatan The Environmental Protection Agency.
Dikatakan iklan itu dipasang oleh grup yang menyebut diri "Republicans for Clean Air". Setelah ditelusuri, grup itu tidak ada. Yang diketahui kemudian: Allyn dapat bayaran $ 46 ribu untuk adpertensi yang banyak dikecam sebagai kampanye curang tu.
Kampanye hitam terhadap McCain selanjutnya bisa lebih kotor. Wartawan Richard Gooding, yang sudah 30 tahun bekerja sebagai editor di New York, melaukan investigasi dengan melacak kembali kampanye menghantam McCain itu dalam Majalah terkenal Vanity Fair, November 2004. Tulisannya, "The Trashing of John McCain" menceritakan betapa keji dan cerdiknya kampanye yang berlangsung di tahun 2000 itu di Carolina Selatan.
Salah satunya: sejumlah besar selebaran dibagikan dan dipasang oleh anak-anak yang mengaku dibayar 50 dollar untuk kerja itu. Selebaran itu menyebut McCain "punya anak Negro". Ada juga foto dipasang: keluarga McCain bersama seorang anak berkulit hitam. Dikesankan bahwa anak itu berasal dari perhubungan di luar nikah McCain -- anak yang kemudian dipungut sebagai bagian keluarga. Setidaknya dikesankan kepada masyarakat yang mengandung kebencian kepada kulit hitam bahwa McCain membiarkan keluarganya "cemar" oleh adanya ras hitam di dalamnya.
Bagaimana kenyataannya? Gadis hitam itu adalah Bridget. Di tahun 1991, Cindy McCain, putri politikus itu, pergi ke Bangladesh untuk serta dalam misi pemberian pertolongan kepada rakyat setempat. Bunda Teresa, biarawati yang bekerja untuk orang miskin di India itu, memintanya menolong seorang bocah yang menderita cacat rongga mulut. Cindy menerbangkannya ke Amerika untuk dioperasi. Putri Senator McCain itu tak sampai hati melepaskannya setelah itu. Bersama suaminya memutuskan mengadopsi si anak, yang mereka beri nama Bridget.
Tak banyak orang mengetahui fakta ini. Fitnah itu pun berjalan dan berhasil. Citra McCan rusak di wilayah yang konservatif itu. Tak cuma itu: disebarkan pula McCain meniduri pelacur dan kena sifilis yang ditularkannya kepada isterinya. Disebarkan pula cerita palsu bahwa McCain, yang sebagai pilot tempur di Vietnam ditangkap musuh dan dipenjarakan, telah berkhianat selama dalam tahanan, atau bahwa jiwanya terganggu karena penyekapan di Hanoi itu.
Desas-desus dusta itu disebarkan melalui apa yang disebut "push polls". Semacam pengumpulan pendapat diselenggarakan. Caranya: menelepon orang banyak buat menyatakan opini mereka tentang sesuatu -- tetapi "sesuatu" itu sebenarnya berita bohong. Misalnya si penelepon bertanya: "Akanlah anda memilih McCain bila anda tahu bahwa ia punya anak di luar nikah?"
Ada juga e-mail yang dikirim ke pelbagai alamat, dilakukan oleh Richard Hand, tokoh Kristen fundamentalis dari Bon Jones University: "McCain memilih untuk melahirkan anak tanpa menikah". Disiarkan seorang tokoh Kristen, e-mail itu punya dampak yang luas.
Akhirnya, Bush, yang suaranya mula-mula ketinggalan, menang. Apalagi ia punya dana $ 8 juta, dibandingkan dengan McCain yang cuma punya $ 3 juta.
Tidak semua kampanye hitam terhadap McCain dilakukan Allyn. Tetapi Allyn pasti melihat bagaimana efektifnya kampanye macam itu. Ada sebuah tulisan yang mencatat, ia salah satu dari dua konsultan politik Amerika yang memperkenalkan "teknik" itu dalam pemilihan presiden di Meksiko.
Itu di tahun 2006, yang akan dimenangkan adalah calon sayap kanan Felipe Calderón. Di sana Allyn bekerja bersama seorang Amerika lain, Dick Morris. Keduanya jadi penasihat partai PAN yang sedang menyiapkan pengganti Presiden Fox, Calderón.
Calderón mula-mula melakukan kampanye yang sopan dan positif. Tapi peran Dick Morris and Rob Allyn tampaknya mengubah itu. Armand Peschard-Sverdrup, direktur the Mexico Project pada Center for Strategic and International Studies di Washington, sebagaimana dikutip The Mex Files, (http: // the mexfiles.net) mengatakan: “Ada sidik jari para pakar strategis politik Amerika elektoral di sana, satu hal yang dalam tradisi pemilihan Meksiko tak pernah dilakukan."
Atau kata Daniel Lund, penyenggara pol pendapat yang mendukung López Obrador, lawan Calderón. "Kampanye negatif Calderón memperlihatkan tulisan tangan Morris, yang merupakan pakar dalam urusan mengancurkan suara harapan dengan membangkitkan suara ketakutan."
Terbukti, López Obrador, yang mula-mula unggul dalam pol pendapat, pelan-pelan runtuh.
Di Indonesia, di tahun 2014, teknik yang mirip dengan yang dilakukan terhadap McCain (dan Obrador) kini dilakukan. Jokowi mula-mula disiarkan sebagai orang Kristen yang akan meng-kristen-kan Indonesia -- meskipun dalam kenyataan ia seorang dengan tradisi muslim yang lebih kuat ketimbang Prabowo.
Ketika ini mulai tak meyakinkan, disebarkan bahwa Jokowi seorang PKI atau keturunan PKI -- bahkan PDI-P dikaitkan dengan Partai terlarang itu. Dikatakan bahwa semboyan Jokowi "Rolusi mental" berasal dari Marxisme. Ini suatu kampanye yang membodohkan, karena Marxisme justru tidak yakin akan ada revolusi mental; yang jadi program Marxisme adalah revolusi sosial: kondisi sosial, sebagai basis, harus diubah agar kondisi mental berubah.
Tapi selebaran, khotbah, twitter, dan bahkan siaran TV menyebutkan hal yang menyesatkan itu.
Jika teknik kampanye hitam berhasil, Indonesia akan memulai era persaingan kotor dalam politik, yang dibeayai dengan uang bermilyar-milyar. Bekasnya -- berupa kebencian -- akan berlanjut sampai bertahun-tahun mendatang. Racun itu akan bisa mengganggu sampai ke dalam kehidupan anak cucu kita.






* * *

BANTU NO. 2 - TONGKRONGI HASIL PILPRES - Jangan Sampai Suara Anda Dicuri


Kolom Ibrahim Isa
Jum'at, 04 Juli 2014
---------------------------

BANTU NO. 2 -
TONGKRONGI HASIL PILPRES -
Jangan Sampai Suara Anda Dicuri


* * *

Membaca uraian Jend LUHUT PANJAITAN, yang disiarkan oleh Wit Reksoprodjo di bawah ini . . . .

Rasanya MANTEP SEKALI . .
LUGU dan
CES PLENG . . .

Luhut Panjaitan dengan tenang dan pasti anjurkan:

"Bantu No 2,
"Tongkrongi hasil pilpres.
"Jangan sampai suara Anda dicuri. . . .



*    *    *

Jend. LUHUT PANJAITAN :

Sy kenal Jokowi sejak 6thn lalu, sy kenal Prabowo sejak 30thn lalu. Dia wakil sy dulu. Sy pnh menolong saat paspornya expired di Sing waktu sy dubes. Para purnawiran membandingkan kedua capres ini baik dari segi latar belakang, pengalaman, kredibilitas, success story, kami berkesimpulan pak Jokowi sangat 'leading' dalam segala hal. Sy tdk berkepentingan utk kekuasaan, sy sdh pernah jd menteri, sy pembayar pajak 100juta dollar thn lalu.

Sy hanya ingin republik ini dipimpin oleh orang yang kredibel. Sy tau ada ancaman macam2, tapi anda tidak perlu takut. Negara ini adalah negara demokratis, anda punya hak yang sama. Saat sy letnan, sy diterjunkan d Timtim anak buah sy gugur 6 orang. Sy tidak pernah takut saat itu. Demikian juga anda, jgn pernah secuilpun merasa takut. Bila ada yang merasa terancam, silakan lapor saya. Saya mau lihat!!! Asal anda tau, anak bungsu saya kapten di Kopassus. Mantu saya kolonel di Kopassus juga. Saya tidak pernah intervensi. Mereka semua mulai dari bawah. Jadi jgn pernah takut, kalau ada yang berani macam2, libas saja!! Kita harus berdemokrasi dengan tentram di negeri ini.

Kenapa kita harus pilih Jokowi? Dia jujur, sederhana, visioner. Sy tdk gamp mengagumi orang. Sy selalu no 1 di sekolah dulu. Tanya p Sutijoso, rekan sy di Kopassus. Sy sedang memasang mata-kuping bila ada anggota TNI yg macam2. Tp sy tdk yakin ada. Jokowi orang yang bersahaja, komit, perkawanannya selalu baik. Sayang dia terlalu santun, itu kelemahan yang juga kekuatan dia. Siapa yang melakukan peristiwa 98? Kita tidak mau peristiwa itu terulang.

Kalau kita kompak kita akan menang. Sy pernah menggantikan JK jd menperindag. JK sangat loyal pd Jokowi. Dan keduanya ini saya yakin akan bisa memajukan Indonesia.

Bantu No 2, tongkrongi hasil pilpres.
Jangan sampai suara Anda dicuri.

*    *    *

BERTELADAN DAN BELAJAR DARI PAHLAWAN NASIONAL DR SAM RATULANGI

Kolom  IBRAHIM ISA
Kemis, 03 Juli 2914


----------------------------


BERTELADAN DAN BELAJAR DARI PAHLAWAN NASIONAL DR SAM RATULANGI

*    *    *

Inilah salah satu cara baik dan efektif  mengenangkan PAHLAWAN NASIONAL KITA

Dengan demikian meneruskan berteladan dan belajar dari semangat juang,  keberanian, konsistensi dan daya tahan . . .dalam memperjuangkan dan membela KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA . . .

Belajar dan berteladan pada Dr Sam Ratulangi . .
Meneruskan cita-cita beliau untuk suatu Indonesia yang merdeka, makmur dan adil . . . .

Amsterdam

*    *    *


By Lani Ratulangi

Rukun Ratulangi Ziarah ke Makam Sam Ratulangi
TONDANO – Rasa bangga dirasakan seluruh keturunan pahlawan nasional Dr GSSJ Ratulangi saat ziarah dalam mengenang 65 tahun meninggalnya Sam Ratulangi sekaligus pertemuan tahunan keturunan Ratulangi di makam Dr GSSJ Ratulangi di Kelurahan Wawalintouan Kecamatan Tondano Barat, Senin (30/6) kemarin.

“Dr GSSJ Ratulangi adalah seorang pemikir bangsa dan merupakan pahlawan nasional.
Pemerintah sangat menjunjung tinggi landasan pemikiran dari Sam Ratulangi di mana sekarang sedang ditindaklanjuti pemerintah daerah terlebih pemerintah provinsi melalui Gubernur SHS yang mencanangkan Sulut sebagai pintu gerbang Asia Pasifik,” ungkap Bupati Minahasa Drs Jantje Wowiling Sajow MSi (JWS) melalui Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Drs Denny Mangala MSi saat memberikan sambutan dalam ziarah rukun Ratulangi.

Ketua Rukun Ratulangi yang juga sebagai Wadir Narkoba Polda Sulut AKBP Pitra Ratulangi SIK MM mengatakan, leluhur mereka menjadi pahlawan nasional bukan karena kiprah di bidang politik namun merupakan tokoh pendidikan yang menyumbangkan pola pikirnya untuk bangsa dan Negara.

“Terima kasih kepada pemerintah yang menghargai leluhur kita yang merupakan tokoh pendidikan nasional ini. Bukan hanya di Sulut tapi di kota-kota lain juga samgat tampak sumbangsih pengaruh Dr GSSJ Ratulangi. Buktinya nama Sam Ratulangi diabadikan menjadi nama-nama jalan protokol di kota-kota besar di Indonesia,” pungkasnya.

Ziarah yang dihadiri oleh perwakilan keturunan Ratulangi se-Sulut ini juga dirangkaikan dengan pengheningan cipta mengenang pahlawan bangsa Dr GSSJ Ratulangi, juga memilih pengurus untuk rukun Ratulangi di daerah-daerah.
“Saat ini kita juga membentuk pengurus rukun Ratulangi di daerah-daerah agar hubungan lebih baik lagi. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan keturunan Ratulangi dari 15 kabupaten/kota se Sulut serta ada juga yang dari Jakarta,” tukas Camat Tondano Selatan Robert Ratulangi yang juga koorinator acara dalam pertemuan tahunan ini.(tr-03/gyp) — with Robert Ratulangi.


GUNAKAN OTAK SENDIRI - BERANI BERFIKIR BERDIKARI

Kolom IBRAHIM iSA
Kemis 03 Juli 2014
-----------------------------


GUNAKAN OTAK SENDIRI -
BERANI BERFIKIR BERDIKARI


SEKARANG INI ADALAH SALAH SATU MASA BAIK UNTUK BELAJAR BERFIKIR SENDIRI,

BEGITU BANYAK . . . . BLA, BLA, BLA . . . SILAKAN SAJA . ..

* * *

    GUNAKAN FIKIRAN SENDIRI, JANGAN EMOSI, JANGAN MARAH . . . TENANG . . FIKIR SENDIRI, ANALISIS SENDIRI . . .

    TIDAK GAMPANG . . TAPI INI LATIHAN BAIK SEKALI . . .
    UNTUK BELAJAR BERFIKIR SENDIRI . . .
    * * *

    SUAMI, ISTRI, BAPAK, ANAK, BOSS, KOMANDAN, KELUARGA . .. PARTAI

    SIAPA SAJA BOLEH PILIH SATU, ATAU DUA . . . .
    * * *

    TAPI SEKALI LAGI . .. . GUNAKAN FIKIRAN SENDIRI . . . BERFIKIR, BELAJAR MENGANALISIS SENDIRI . . ..

    UTAMAKAN APA YANG NYATA DIPERBUAT SESEORANG CALON , ., ., YANG DULU DAN YANG SEKARANG . .,. ,
    BUKAN OMONGAN DAN JANJINYA . . .

    HIDUP MEREKA YANG BERANI BERFIKIR SENDIRI . ..
    BERANI BERDIKARI DALAM BERFIKIR . . .

    INI BUKAN KULIAH
    TAPI CURHAT . . ..CURHAT . . . CURHAT .

Buku Terbaru MAY SWAN, Novelis SINGAPUR –

Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 3 Juli 2014
----------------------------

Buku Terbaru MAY SWAN, Novelis SINGAPUR –

* * *

Buku terbaru penulis MAY SWAN, asal etnikTionghoa Indonesia, yang sekarang warga dan berdomisili di Singapur, SITI NURBAYA BRIDGE, sudah sejak tahun lalu bisa dibeli di toko-toko buku. Novelnya yang menarik, ditulis dalam bahasa Inggris --- lancar dan enak dibaca, bukan buku pertamanya.

Antara lain yang sudah terbit adalah “Montmartre In Bondowoso“, “Fragrand Deception”*, dan “Hidayat”.

* * *

Seperti novel-novel May Swan sebelumnya --- “Siti Nurbaya Bridge”, juga berlatar belakang kejadian sejarah. Sekitar Konferensi Asia-Afrika, 1955, di Bandung,

Dengan mengambil latar belakang peristiwa sejarah itu, May Swan menunjukkan kepeduliannya pada peristiwa sejarah terpenting yuag terjadi di Asia-Afrika di abad ke-20. Untuk pertama kalinya wakil-wakil bangsa Asia-Afrika yang baru merdeka, duduk bersama di sekeliling meja musyawarah, dimana terdapat wakil-wakil bangsa-bangsa yang negrinya menempuh sistim sosialis, seperti Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Demokrasi Vietnam.

Meskipun bukan seorang pengamat politik, tetapi May Swan dengan tepat menilai bahwa Konferensi Bandung yang sukses itu, merupakan suatu pertemuan untuk memajukan kerjasama ekonomi dan kebudayaan diantara megara-negara Asia-Afrika yang baru merdeka, untuk menentang kolonialisme dan neo-kolonalisme oleh bangsa manapun.

May Swan mengemukakan bahwa Konferensi Asia-Afrika di Bandung itu, merupakan langkah pertama dan embryo dari Gerakan Non Aligned sedunia di tengah-tengah berkecamuknya Perang Dingin.

* * *

Juga seperti noval sebelumnya, cerita May Swan banyak berkisasr pada hubungan antar-manusia, khususya hubungan cinta. Dengan segala problim-problimnya.

Seorang warga Singapura, Koon Seng, yang mengepalai (kantor) Lee Rubber Company di Jakarta, diundang untuk hadir pada hari ultah sekolah itu. Di Jakarta. Ia memenuhi undangan tsb. Dengan harapan bisa menemui PM Chou Enlai dari RRT yang juga akan ke Bandung lewat Jakarta. Diberitakan bahwa PM Chou akan hadir sebagai tamu kehormatan di sekolah itu. Tetapi ternyata harapan Koon Seng gagal, karena PM Chou tidak hadir di sekolah itu.

Di situ Koon Seng berkenalan dengan guru-sekolah Swee Lan. wanita muda yang atraktif. Koon Seng jatuh cinta pada Swee Lan dan sebaliknya. Mereka melalui kehidupan saling mencinta yang wajar.

Suatu ketika Koon Seng berlibur ke kampung halamannya di Singapur. Ia akan menyampaikan kepada ibunya bahwa ia sudah punya pacar di Indonesia, dan sekembalinya dari berlibur nanti, ia akan melamar Swee Lan.

Sayang, ketika Koon Seng kemballi ke Indonesia, ia dihadapkan pada situasi yang tidak terduga samasekali. Ternyata Ibunya Swee Lan sudah mengatur pertunangan Swee Lan dengan pemuda Wang, anak orang kaya. Itu dilakukannya demi menyelamatkan keadaan ekonomi perusahaan bapaknya Swee Lan dari kebangkrutan.

Swee Lan juga akhirnya menyetujui bertunangan dengan seorang pemuda yang tidak dikenalnya lebih dulu, semata-mata, demi untuk menyelamatkan bapaknya yang perusahaannya sudah ditepi kebangkutan. Tapi bagi Koon Seng, masih saja merupakan tanda tanya besar, bagaimana ia bisa diperlakukan demikian oleh pacar yang dicintainya itu.

* * *

Untuk kedua kalinya Koon Seng menemui kekandasan dalam jalan hidup cintanya ketika ia jatuh hati pada seorang teman sekerjanya, yang kemudian juga ternyata 'sudah ada yang punya'.

Namun Koon Seng terus melanjutkn hidupnya, karena betapapun 'life must go on'

* * *

Novel May Swan juga menggambarkan sekitar 'vulnerability' – mudah kena serang – 'kepekaan' – yang diidap oleh masyarakat minoritas Tionghoa di Indonesia. Yang merupakan bahaya laten bila ada hasutan sosial atau religius yang disebabkan oleh suatu motif politik. Namun dengan jatuhnya rezim Orde Baru Jendral Suharto, dan proses reformasi dimulai, posisi orang-orang Tionghoa di Indonesia, mengalami sedikit kemajuan. < Nyatanya – – Wakil Gubernur Jakarta, AHOK , hasil pemilihan langsung, adalah seorang warga Indonesia asal etnik Tionghoa – >

* * *

Setelah pukulan kegagalan dalam cinta, Koon Seng, tulis May Swan pada penutup ceritanya, merenungkan:

Bisakah, masalahnya bahwa, kendatipun dirinya sendiri, ia masih terlibat di jaring hubungan emosi yang merupakan penjara-manusia (human prison), sebuah penjara yang sudah terbiasa terjadi dalam hidupnya.

Tetapi, lalu siapa yang mengatakan bahwa hidup itu harus seperti mercon, harus mengarungi segala sesuatunya yang sulit. Adalah tidak salah samasekali, untuk hidup dengan damai dan tenang. Betapapun keindahan itu datang dalam segala bentuknya, dan kebahagiaan muncul dari dalam.

Adalah suatu kenyataan, bahwa, pada akhirnya segala sesuatu akan menghilang ditelan oleh samudra kehidupan, bagaikan air sunyi dan hening yang mengalir di bawah Siti Nurbaya Bridge -- Jembatan Siti Nurbaya.

* * *

Orang akan menyimpulkan, bahwa, itulah falsafah hidup penulisnya sendiri, May Swan.

Pada awal bukunya May Swan memuat kutipan kata-kata Johan Wolfgang von GOETHE, sebagai berikut:

Setiap penulis dengan satu atau lain cara, menunjukkan dirinya sendiri di dalam karya-karyanya, meskipun itu berlawanan dengan kemauannya”.

* * *

Silakan pembaca menikmati sendiri novel May Swan itu, yang diterbitkan oleh Penerbit ULTIMUS, Bandung. 2013. * * *

Tuesday, July 1, 2014

"INDONESIA, ISLAM Dan DEMOKRASI” (Tema Seminar Prof. Azyumardi di Universitas Leiden)

Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 01 Juli 2014
-----------------------------

"INDONESIA, ISLAM Dan DEMOKRASI”
(Tema Seminar Prof. Azyumardi di Universitas Leiden)

Tema menarik yang dikemukakan diatas, “INDONESIA, ISLAM Dan DEMOKRASI; Sebuah Comparative Perspective Dengan Dunia Arab”, adalah kertas kerja yang disampaikan oleh Prof Dr Azyumardi Azra, pada tgl 26 Juni, 2014, di ruangan kuliah Gedung Lipsius Universitas Leiden.

Seminar diselenggarakn bersama oleh KITLV- Leiden, KBRI Den Haag, dan INS (Indonesia-Netherlands Society). Yang hadir – menurut ukuran Belanda – cukupan. Kira-kira limapuluhan.

Sayang, untuk seminar penting demikian hanya sebegitu saja yang datang. Juga disayangkan, dari kalangan masyarakat Indonesia tidak banyak. Ketika Dr Harry Poeze meluncurkan bukunya tentang sejarah TAN MALAKA, yang hadir paling tidak tiga kali lipat banyaknya. Suasanaya juga lebih hangat dan menarik. Rupanya tema seminar sekitar Tan Malaka lebih dapat perhatian, terutama dari mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Belanda.!

Pada seminar Kemis kemarin itu, kulihat hadir dari masyarakat Indonesia di belanda, a.l. Ciska Pattipilohy, DIAN; Aboepriyadi Santoso (Tossi), mantan jurnalis Indonesia di Ranesi – Radio Nederland Seksi Indonesia – bersama istri dan putrinya dan Denny Gerberding. Untunglah Denny Gerberding (koresponden TEMPO), khusus memanggil aku untuk memperoleh teks uraian Prof Azyumardi yang tercetak dalam bahasa Inggris. Juga tampak Yayah Siegers dari KITLV, yang rajin dan sibuk ngatur-ngatur. Kalau tidak membaca teks tsb, tidak banyak yang bisa kudengar masalah yang diseminarkan. Terima kasih kepada Denny Gerberding, yang membagikan kertas kerja Prof Azyumardi.

Soalnya: – – Ruangan seminar cukup luas. Tapi pengeras suaranya kurang pol. Maklumlah, bagi orang Indonesia, seperti aku ini, yang pendengarannya juga sudah tidak lagi seperti pendengaran orang muda , -- terkadang tidak mudah memahami bila orang Indonesia bicara dalam bahasa Inggris, apalagi melalui pengeras suara, yang kedengarn berdengung dan sayup-sayup sampai.

* * *

Siapa Prof Dr Azyumardi Arza? Beliau dikenal sebagai ahli sejarah, sosial dan intelektual Islam. Sebagai Rektor pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ia melakukan terobosan besar terhadap institusi pendidikan tsb. Mei 2002 IAIN berubah nama menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, hal mana merupakan kelanjutan ide Rektor Prof Dr Harun Nasution yang menginginkan lulusan IAIN haruslah orang yang berpikiran rasional, modern, demokratis dan toleran (sumber Wikipedia).

Memang penting tema yang dikemukakan pada seminar tsb. Untuk menyiapkan kertas kerjanya, Prof Azyumardi mengemukakan daftar bibliografi tidak kurang dari 31 buku dan kertas kerja serta artikel.

Dikemukakan oleh Prof Azyumardi, a.l . . bahwa, di kalangan para Islamis, ada kecenderungan menganggap Indonesia bukan Islam yang sesungguhnya. Menurut mereka, kata Azyumardi, Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang di daerah Arab atau bagian lain dunia Muslim.

Azyumardi membantah dengan menyatakan bahwa bicara soal keyakinan dan praktek, kaum Muslim Indonesia tidak sedikitpun kurang ke-Islamannya dibandingkan dengan kaum Muslim di tempat lain.

Kemudian Azyumardi menandaskan, bahwa, ia akan tunjukkan, bahwa Islam Indonesia, punya sifat istimewa yang memberikan lahan subur untuk berakarnya demokrasi.

* * *

ISLAM DI NEGERI-NEGERI ARAB DAN LAINNYA.
Menurut Azyumardi di dunia Arab terdapat resistensi (perlawanan) kuat terhadap diberlakukannya perubahan demokratis. Sejak awal 1970-an, disaat gelombang besar historis demokratisasi dimulai, di dunia Islam dengan teristimewa Arab sebagai intinya, terdapat sedikit kemajuan yang berarti dalam hal keterbukaan politik, respek terhadap hak-hak manusia dan transparansi. Gap demokrasi antara dunia Islam dan dunia selebihnya sungguh dramatis.

Hakikat banyak negara di dunia Arab menyebabkan ada yang menyamakan negara-negara Arab yang modern itu, sebagai negara-negara 'Lubang Hitam' ('Black Hole'). Di negara-negara seperti ini bagian eksekutif dari pemerintah sama dengan suatu 'lubang hitam', yang mengubah keadaan sosial sekelilingnya menjadi suatu setting, dimana tidak ada gerak samasekali dan darimana tidak ada yang lolos. Demikian Azyumardi.

* * *
Lanjut Azyumardi a.l :
Di bidang legeslatif, dewasa ini di semua negeri Arab, kecuali di Saudi Arabia, terdapat parlemen yang secara keseluruhan ataupun sebagian dipilih. Namun, hak untuk ambil bagian dalam (kehidupan) politik sering-sering tidak lebih dari ritual belaka. . .

Dalam kebanyakan hal, pemilihan menghasilkan sesuatu yang secara salah mewakili kehendak pemilih dan di tingkat bawah mewakili hal yang kebalikannya. Karena itu, pemilihan-pemilihan tsb tidak memainkan peranan yang harus dilakukannya sebagai alat untuk adanya kekuasaan alternatif secara damai. Pemilihan-pemilihan tsb umumnya menghasilkan kembalinya kekuasaan elite yang sama.

Azyumardi: -- Menoleh kembali ke pengalaman Arab, ketidak-cocokkan (incompatibility) antara Islam dn demokrasi, banyak disebabkan oleh faktor kultur terbanding oleh Islam. Kultur Arab pada dasarnya merupakan kultur-yg didominasi kaum lelaki, yang menempatkan kesetiaan pada suku (tribe) dan keluarga – halmana menyebabkan sedikit sekali ruang bagi tumbuhnya demokrasi. Yang juga tidak kalah pentingnya ialah, sektarisme agama, sosial dan politik yang kuat, menyebabkan sulitnya demokrasi memperoleh ruang.

* * *

ISLAM INDONESIA PADA DASARNYA MODERAT DAN TOLERAN

Menurut Azyumardi, ISLAM INDONESIA pada dasarnya MODERAT. Pada ujung lainnya dari dunia Muslim, Islam Indonesia, tak diragukan, sejak periode dini sejarah pada akhir abad ke-XII, adalah Islam yang moderat dan toleran. Ini bukan saja karena transisi dan tersebarnya Islam secara damai di kepulauan Indonesia, tetapi juga disebabkan oleh sistim sosial dan budaya rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, ekspresi sosial, budaya dan politik Islam di Indonesia merupakan hal yang khusus sekali, bila membandingkannya dengan Islam di tempat lain.

Meskipun terdapat kekhususan budaya, sosial dan politik, Islam Indonesia tidak kurang ke-Islamannya dibandingkan dengan Islam di dunia Muslim. Muslim Indonesia mengkhayati kepercayaan fundamental yang sama dengan Islam yang berdasarkan Al Qur'an dan tradisi Nabi Muhammad.

Oleh karena itu adalah keliru menganggap bahwa Islam Indonesia, secara teologis, doktrin, dan ritual (ada di pinggiran) peripheral, . . . . semacam Islam yang tidak murni, atau “Islam yang buruk” atau semacam itu. Pendapat semacam itu tidak bisa lagi dipertahankan.

Penegasan Azyumadi: Islam Indonesia kaya sekali, tidak hanya dibidang ekspresi budaya dan sosial, tetapi juga di bidang kelembagaan. Islam Indonesia memiliki dua cabang aliran utama (mainstreams). Yaitu Muhammadiyah (didirikan 1921) dan NU (Nahdatul Ulama) didirikan 1926. Sejak berdirinya mereka melakukan kegiatn yang dinamakan 'Islam budaya' –sebagai lawan dari 'Islam politik'. Mereka tepat sekali mewakili mainstream Islam di Indonesia.

Secara politik, jelas sekali, Indonesia bukan negara Islam. Islam juga bukan merupakan agama resmi negara. Indonesia adalah negara Pancasila. Pilar pertama adalah kepercayaan pada Tuhan YME. Pilar selanjutnya adalah kemanusiaan, kesatuan Indonesia, demokrasi dan keadilan sosial.. Itulah sebabnya Indonesia bukan negara teokratis juga bukan negara sekular.

* * *

ISLAM INDONESIA DAN DEMOKRASI

Pemilihan yang adil, bebas dan damai menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia -- sebagai bangsa Muslim terbesar di dunia – bahwa Islam Indonesia memang cocok (compatible) dengan demokrasi. Tetapi harus diakui bahwa warganegara Indonesia memiliki pengetahuan dan pengalaman sedikit sekali dengan demokrasi yang nyata dan yang sesungguhnya. Demikian lanjut Azyumardi.

Suksesnya Indonesia mengadakan pemilihan umum secara damai seharusnya membungkam kaum skeptik yang secara salah percaya bahwa demokrasi tidak bisa punya akar kuat di sebuah negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Berbeda dengan negri lain, pengalaman di Indonesia menunjukkan bahwa tidak benar dikatakan Islam itu secara inheren tidak demokratis atau tidak kompatibel dengan demokrasi.

* * *

KESALAHAN BESAR DAN FUNDAMENTAL

Prof Azyumardi juga bicara soal Islam dan Transformasi Politik. Sesungguhnya cukup menarik. Tetapi pada kesempatan ini tidak kita singgung. Mungkin kali lain bisa kita bicarakan lagi.

Ada satu hal yang TIDAK DISINGGUNG -- APALAGI DISOROTI dalam seminar. Ketika membicarakan masalah DEMOKRASI DI INDONESIA, Azyumardi seolah-olah sambil lalu saja bicara sekitar Demokrasi Terpimpin Presiden Sukarno dan Demokrasi Pancasila Presiden Suharto. Juga sambil lalu, menyatakan baik Demokrasi Terpimpin Sukarno maupun Demokrasi Pancasila Suharto, sama-samna OTORITER. Tidak demokratis!

Adalah suatu SUATU KESALAHAN BESAR dan fandamental menilai sama, Demokrasi Terpimpin Sukarno, dengan Demokrasi Pancasila Suharto.

Presiden Sukarno mendeklarasikan Demokrasi Terpimpin sebagai alternatif atas demokrasi parlementer model Barat yang berlangsung di Indonesia ketika itu., yang menyebbkan pemerintah Indonesia silih berganti dalam waktu singkat. Sehingga tidak mampu meneruskan perjuangan untuk pembebasan Irian Barat. Tidak mampu menghadapi tekanan dan subversi kolonialisme dan imperialisme. Apalagi menangani pembangunan ekonomi nasional.

Demokrasi Terpimpin Sukarno diberlakukan setelah Konstituante gagal mencapai kata sepakat mengenai dasar dan sistim kenegaraan Republik Indonesia selanjutnya. Terdapat kemacetan yang membahayakan kelanjutan eksistensi negara.

Pada penghujung tahun 1956 – - kondisi dan situasi politik Indonesia semakin memburuk dan kacau. Daerah-daerah semakin bergejolak. Muncul aksi-aksi separatis yang didukung Barat, dengan dibentuknya Dewan Banteng, Dewan Gajah, Dewan Garuda, Dewan Manguni dan Dewan Lambung Mangkurat. Dengan dukungan finansil dan militer imperialisme, kaum separatis itu mendirikan pemerintahan PRRI dan PERMESTA sebagai pemberontakan terhadap pemerintah pusat.

Menghadapi tantangan krisis nasional ini Presiden Sukarno (termasuk atas desakan kuat fihak militer) dan dengan persetujuan parpol-parpol besar, memberlakukan Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

    Proses sejarah ini seratus-delapanpuluh derajat bertolak belakang dengan situasi terbentuknya Demokrasi Pancasila Jendral Suharto.
Memanfaatkan kegagalan G30S, --- Jendral Suharto memulai kudeta merangkaknya terhadap negara dan pemerintah Republik Indonesia di bawah Presiden \Sukarno. Dimulai dengan pembangkangan terhadap Presiden Sukarno, Suharto menyalahgunakan Supersemar, melakukan pembantaian masal yang membawa korban sejuta lebih warga Indonesia yg tak bersalah. Memenjarakan puluhan ribu dan mengasingkan sepuluh ribu ke Pulau Buru. Membubarkan PKI kemudian menggulingkan Presiden Sukarno, ----- adalah tujuan utama Jendral Suharto sejak semula.

Proses sejarah itu, merupakan bagian penting dari perkembangan bangsa Indonesia dalam perjuangannya untuk hak-hak demokrasi dan HAM. Kekuatan yang menghancurkan proses demokratisasi Indonesia selama tidak kurang 32 tahun (selama rezinm Orde Baru), adalah kudeta Jendral Suharto dan kekuatan militer serta parpol yang mendukungnya. Proses demokratisasi Indonesia mengalami kemunduran besar-besaran justru selama priode rezim Orde Baru.

* * *

Pelajaran sejarah tsb diataa tidak boleh di- 'skip' begitu saja seperti yang dilakukan oleh Prof Azyumardi, didalam uraian seminarnya di Leiden.

Inilah kekurangan utama uraian Prof Azyumardi Arza, yang seolah-olah melupakan pelajaran sejarah mundurnya proses demokratisasi Indonesia selama berkuasanya rezim Orde Baru. * * *