IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Senin, 31 Agustus 2009
--------------------------------------------
Bersama Paul Van Der GAAG < VPRO>
MENGENANGKAN JOESOEF ISAK
Jum'at siang lalu, seorang jurnalis Belanda dari Hilversum menilpun. Saya Paul van der Gaag, dari VPRO, katanya. Dulu Anda bersama dengan Francisca Fanggidaey ikut dalam salah satu acara Festival Seni-budaya 'Winternachten' di Den Haag, mengenai Indonesia. Saya ketika itu moderatornya, kata orang yang menyebut namanya Paul van der Gaag tadi. Oo ya, ketika itu juga ikut hadir wartawan Belanda, Ad van der Heuvel, yang kebetulan sedang ada di Jakarta ketika terjadi peristiwa G30S, kataku. Betul, katanya. Sudah lama juga ya, lima tahun yang lalu ketika kita berkenalan, jawabku.
Pasalnya Paul van der Gaag menilpun ialah, ia ingin aku ikut dalam acara OVT (Onvoltooid Verleden Tijd) dari programa radio VPRO. Hari Minggu, jam 10.00 pagi. Apa tidak terlalu pagi itu, tanyanya pula. Ah tidak, kataku, bagi kami jam 10.00 pagi hari Minggu itu, sungguh tidak terlalu pagi. Fikirku, bagus sekali bila bisa ambil bagian dalam satu siaran menyangkut Indonesia. Kesempatan ini baik dimanfaatkan. Ya, aku sedia, tegasku. Begitulah diatur pada hari Minggu pagi tanggal 30 Agustus, jam 10.00, Paul v.d. Gaag akan mengadakan percakapan tilpun yang langsung dipancarkan VPRO. Temanya: Mengenangkan Joesoef Isak.
Fokusnya: 1) Arti penting Joesoef Isak bagi perjuangan untuk kebebasan menyatakan pendapat. 2) Peranannya dalam menerbitkan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. 3) Arti Joesoef Isak bagi emansipasi Indonesia pada umumnya dan bagaimana selanjutnya Joesoef Isak dikenangkan di Indonesia.
* * *
Aku mulai mempersiapkan dalam fikiran, apa-apa saja yang akan kukatakan dalam acara percakapan radio dengan VPRO. Ini bukan pidato radio atau diskusi. Tetapi suatu percakapan. Percakapan itu kurekam. Hasilnya: Ada bagian-bagian yang kurang jelas kedengaran. Namun pada pokoknya rekaman itu bisa didengar kembali dan kuterjemahkan bebas ke dalam bahasa Indonesia.
Beginilah transkripsi percakapan radio itu:
PAUL Van Der GAAG - (PG):
Pada tanggal 15 Agustus 2009 yl Joesoef Isak meninggal dunia. Dua hari sebelum perayaan proklamasi Republik Indonesia. Joesoef Isak adalah peserta dalam perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Pada periode Sukarno, Joesoef Isak adalah jurnalis yang terkenal. Tetapi pada periode Suharto, Joesoef Isak dipenjarakan dalam waktu panjang.
Joesoef Isak, pejuang hak-hak manusia, selalu kritis. Tidak saja terhadap Suharto, tetapi juga terhadap sikap dunia Barat mengenai diktator tsb.
Mari dengar apa yang dikatakan oleh Joesoef Isak ketika itu.
* * *
SUARA JOESOEF ISAK – (yang rekamannya terdokumentasi oleh VPRO):
Amerika dan dunia Barat di Eropa sini, tau betul siapa Polpot. Apa yang dilakukanya di Kambodja. Pembunuhan massal dsb. Tetapi Amerika dan dunia Barat samasekali bungkam tentang kami. Di Indonesia ketika itu, lebih banyak yang dipenjarakan dan dibunuh. Tetapi terhadap peristiwa di Indonesia itu Amerika dan Barat bungkam saja. Siapa di Barat yang bicara mengenai peristiwa itu? Tetapi apa yang ditulis Barat tentang Suharto. Menurut Barat, Suharto adalah pahlawan. Karena dia bisa menyingkirkan Sukarno dari arena politik Indonesia, karena Sukarno dianggap bikin susah Barat. Mengenai drama politik tsb Barat amat berterima kasih dengan apa yang dilakukan Suharto
(rekaman suara Joesoef Isak selesai)
PAUL vd GAAG:
Itu tadi adalah Joesoef Isak ketika memberikan komentarnya terhadap sebuah buku biografi Suharto yang terbit di Australia.
* * *
PAUL van der GAAG:
Sekarang dengarkan Ibrahim Isa. Ia sekretaris Wertheim Stichting.
Meneer Isa, selamat pagi!
ISA:
Selamat pagi.
PAUL van der GAAG:
Joesoef Isak adalah wartawan dan penerbit. Apa arti penting Joesoef Isak untuk Indonesia, untuk Anda.
ISA:
Ja. Apa arti Joesoef Isak bagi nasion Indonesia? Untuk bisa memahami, orang harus tau apa yang difikirkan dan dilakukan Joesoef Isak untuk Indonesia, dulu dan sekarang. Sejak beliau dibebaskan, saat itu Suharto masih kuasa. Joesoef ketika itu menulis dan bicara, menekankan di pelbagai forum, terutama dimuka warga generasi baru, pada para pemuda. Ia mengingatkan kami, mengingatkan kaum muda, bahwa kekuasaan jendral Suharto telah merampok avant garde kita. Bahwa seluruh intelejensia kita sudah dibasmi. Bila kaum intelejensia direnggutkan, kata Joesoef, berarti orang telah merampok apa yang terbaik dari nasion ini. Sejarah manusia selamanya adalah sejarah kaum intelejensianya. Oleh karena itu, kata Joesoef, kita harus berusaha keras untuk membangun kembali manusia-manusia baru, generasi intelejensia baru yang teremansipasi dari 'reifikasi'-nya Suharto. Artinya yang bebas dari rekayasa yang disodorkan dan kemudian diterima serta dipercaya sebagai suatu kebenaran -- Kita harus membangun intelejensia yang berani dan mampu berfikir berdikari.
PAUL van der GAAG:
Saya ingin kembali ke apa yang dilakukan Joesoef Isak dengan penerbitan buku-buku Pramoedya. Saya dengar Joesoef Isak terlibat sekali dengan penerbitan buku Pramoedya. Bahwa Joesoef banyak melakukan pengeditan kembali. Bahwa tanpa Joesoef Isak buku-buku Pramoedya tak mungkin terbit.
ISA
Ja, persis. Diterbitkannya Tetralogi Pramoedya Ananta Toer merupakan suatu peristiwa sejarah di Indonesia. Merupakan kemenangan suatu visi, suatu awal dari suatu kebangkitan kembali kesadaran nasional, cinta tanah air, dari suatu nasion yang bebas dari dominasi asing. Kemenangan itu merupakan usaha susah payah bersama Pramoedya, Joesoef Isak dan Hasyim Rachman.
Joesoef mengatakan kepada saya, begitu ia membaca manusksrip bagian pertama dari Tetralogi Pramoedya, ia mulai merencanakan untuk menerbitkan buku-buku Pramoedya itu. Ia membaca semua manuskrip tsb dan menulis kembali banyak bagian penting dari Tetratologi tsb. Pramoedya telah memberikan kepecayaan penuh kepada Joesoef Isak. Joesoef Isak boleh melakukan apapun dengan manuskrip itu. Saya bisa mengatakan dengan lega, bahwa tanpa Joesoef Isak, tak akan ada Tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Tidak akan ada bestseller.
PAUL van der GAAG:
Buku-buku yang diterbitkan Joesoef Isak apakah masih tetap tercantum dalam daftar buku-buku terlarang? Tetapi Joesoef terus saja menerbitkannya.
ISA
Ya betul. Larangan terhadap buku-buku itu masih belum dicabut.
PAUL van der GAAG:
Tetapi, bukankah tidak ada larangan lagi?
ISA
Memang, buku-buku itu sekarang ada di toko-toko buku.
Tetapi larangan terhadap buku-buku itu masih belum dicabut.
PAUL van der GAAG:
Joesoef Isak telah memperoleh banyak penghargaan internasional, disebabkan oleh perjuangannya untuk hak-hak manusia. Stichting Anda, Stichting Wertheim, tahun 2005 juga telah memberikan Wertheim Award. Untuk apa Joesoef memperoleh award itu?
ISA
Award itu diberikan kepadanya sebagai pengakuan dan penghargaan terhadap keberanian dan keteguhannya dalam perjuangan untuk kebebasan menyatakan pendapat. Untuk sumbangannya dalam perjuangan untuk emansipansi nasion Indonesia.
PAUL van der GAAG:
Ja, begitulah beliah dikenangkan di Indonesia?
ISA
Ja, betul begitu.
PAUL van der GAAG:
Ibrahim Isa, terima kasih banyak untuk penjelasan ini.
* * *
Thursday, December 17, 2009
JOESOEF ISAK WAT HIJ BETEKENT VOOR INDONESIË
IBRAHIM ISA
Zondag, 30 augustus 2009
---------------------------------
JOESOEF ISAK
WAT HIJ BETEKENT VOOR INDONESIË
TER HERRINNERING AAN JOESOEF ISAK
Ik kende Joesoef Isak sinds het begin v.d jaren zestig vorige eeuw. Hij was toen hoofdredacteur van het dagblad 'Merdeka'. Een nationalistisch blad. Later was Joesoef aktief bij de I.O.J (International Organization of Journalists). In 1963 was hij gekozen tot secretaris generaal van de Afro-Asian Journalist Association, Jakarta. Na de coup van generaal Suharto, heeft de Orba (de zogenaamd Nieuwe Orde) honderden-duizenden mensen, onder ander Joesoef Isak, zonder enig rechtelijke proces, langer dan tien jaar in de gevangenis gezet. Zij werden bekend als de TAPOL, 'tahanan politik', de politieke gevangenen. Op hun identiteiskaart, bovenaan staan de letters – 'E.T'. Dat beteken eks-tapol, eks politieke gevangene.
Onder de Nieuwe Orde van Suharto, tot en met heden, een TAPOL, een ex-politieke gevangene, betekent dat je tot een 'underdog' hoort. Je bent de 'pariah' van de maatschappij. Burger zonder burgersrechten. Je mag niks. Je mag geen leraar of docent worden, geen landsambtenaar, geen poltieman of soldaat. Je ben niet kiesbaar, en hebt ook geen geen stemrecht. Zelfs al ben je een artist, is het je verboden jouw vak te beoefenen. Kortom, je bent an 'outcast'. En dat is wat Joesoef Isak heeft beleefd, sinds hij vijgelaten was van de Jakarta 'Salemba gevangenis'.
Wat betekent Joesoef Isak voor de Indonesische natie? Om het te begrijpen, moet je weten wat Joesoef denkt en doet voor Indonesia, toen en nu. Sinds zijn vrijlating, dat was nog onder de Suharto regiem, heeft Joesoef geschreven en gesproken, benadrukt in vershillende forums, voornamelijk bij mensen van de nieuwe generatie, de jonge mensen. Hij herrinnerde ons eraan, dat de macht van generaal Suharto de avant-garde van ons natie heeft berooft. Dat de hele intelegentsia werd weggevaagd. Als je de intelegentsia wegneemt, zegt Joesoef, berooft je een volk van het beste wat het heeft. Geschiedenis van de mens is altijd de geschiedenis van de intelegentsia. Daarom, zegt Joesoef : Wij moeten ons inzetten voor de opbouw van nieuwe mensen, nieuwe generatie intelegentsia die ge-emancipieerd is van Suharto's 'reificatie', i.e verzinsels uitgebracht en gepropageerd en later geaccepteerd en geloofd als waarheid ---. Intelegentsia die durf en zelfstandig kan denken. Die voor de eenheid en rechtvaardig-Indonesië bereid is te strijden.
Dat zijn de krachtige woorden van Joesoef. Ze brengen mensen aan het denken. Wat Joesoef geschreven en gesproken heeft, inspireren vele jonge mensen van nu. En vervolgens vele well-intentioned mensen, de maatshappij is geinspireerd. Joesoef stimuleert mensen die naar hem wil luisteren, om moedig te zijn in de strijd voor vrijemeningsuiting, voor gerechtigheid, democratie, en mensenrechten.
Eens, toen Suharto nog aan de macht was, heb ik Joesoef gevraagd of hij, met zijn toespraken, artikels, en voornamelijk met het oprichten van de uitgeverij 'Hasta Mitra', met het publiceren van tientallen verboden boeken, -- zoals o.a de 'Buru-Tetralogie' novels van Pramoedya Ananta Toer, and andere progressieve en links-georienteerde boeken, --- of hij niet bang was, dat de Suharto regering, hem weer in de gevangenis stopt.
Joesoef's antwoord was: 'Ik ben toch maar een gewone mens. Ik ben geen profeet. Ik heb ook mijn angst. Maar in de strijd voor de democratie, voor gerechtigheid, het recht voor vrijemeningsuiting en mensenrechten, mag je jouw angst niet laten merken aan de vijand. Met de vijand bedoelde hij de suppressieve regiem van Suharto. Tegenover de onderdrukkende staatsaparaat van de Suharto regime, moet je alleen je vastberadenheid tonen. In geen geval stoppen met de strijd.
* * *
Als een patriot, die voor een rechtvaardig Indonesië, zijn hele leven heeft gestreden, begrijpt Joesoef het best wat Indonesië heeft doormaakt na de coup van generaal Suharto. Hij heeft het zelf ervaren wat de risikos zijn als je daadwerkelijk je land wil dienen. Ondanks al de gevaren voor hemzelf en zijn familie, blijft hij moedig en standvastig in de strijd.
Joesoef Isak is een strijder, een vechter voor de democratie en mensenrechten. Als journalist is hij levenslang bezig met de strijd voor vrijemeningsuiting.
Onmiddelijk na zijn vrijlating, samen met oude vrienden die inmiddels ook vijgelaten waren vanuit Pulau Buru, -- zoals schrijver Pramoedya Ananta Toer en journalist Hasyim Rachman, hebben zij de strijd voor vrijemeningsuiting hervat. De uitgeverij Hasta Mitra was opgericht onder de neus van Suharto. Democratische rechten bestond niet. Er was geen vrije pers. Alles wat betreft informaties was onder strikt kontrole van de regering.
Voor eks-tapols als Joesoef Isak, Pramoedya en Hasyim Rachman is er alleen één manier om te overleven. Zoals Joesoef gezegd heeft in zijn acceptance speech voor de Wertheim Award 2005 : Er is geen ander weg om de barbaarheid van de regime te stoppen. Er is geen short cut, geen korte weg. Er is ALLEEN MAAR één weg, en dat is: VERZET! Joesoef Ishak is de man wat Indonesië vooral nu nodig heeft. Mensen met visie en vastberadenheid om het volk en land naar een betere toekomst te brengen. Hij en zijn vrienden waren het, die zo'n grote moed hebben, het uitgeven van verboden, progressive, waardevolle en kwaliteits boeken. Dat is de manier van Joesoef om de strijd voort te zetten voor vrijemeningsuiting, democratie, gerechtigheid en mensenrechten. Hij wist de risikos van zijn aktiviteiten. Sinds zijn vrijlating, Suharto was nog aan de macht, was hij nogmaals twee keer in de gevangenis gezet.
Desondanks, direct na de vrijlating, begon hij weer 'verboden' boeken te editten en uit tegeven.
* * *
Het uigeven van de Buru Tetralogie van Parmoedya Ananta Toer was een historisch-gebeurtenis in Indonesië. Het was een ovewinning van een visie, het begin van de wederontwaking van de nationale bewustzijn, van vaderlandsliefde, van een natie vrij van buitenlandse dominatie. Van een nieuw rechtvaardig, vrij en welvarend Indonesië. Die overwinning is mede door de gezamenlijke inzet van Pramoedya, Joesoef Hasyim Rachman, en vele medewerkers.
Joesoef vertelde mij, zodra hij de eerste deel van de Buru Tetralogie van Pramoedya (geschreven toen hij gevangen zat in de eiland Buru), begon hij plannen op te zetten om de boeken van Pram te publiceren. Hij las de manuscript en herschrijft vele belangrijke gedeelten van de Buru Tetralogie. Pram heeft Joesoef de volledige vertrouwen gegeven. Joesoef mag alles doen met de manuscript. Met een gerust hart kan ik zeggen: Zonder Joesoef Isak, was er geen Buru Tetralogie onder de Suharto regime. Was er geen bestseller!
Zoals schrijver en wetenschapper Hilmar Farid heeft geshreven ter nagedachtenis van Pram, zeg ik ook voor Joesoef Isak --
Goede reis, Bung! De fakkel die jij hebt ontstoken in de donkere nacht zal worden voortgedragen door de volgende generatie.
* * *
Zondag, 30 augustus 2009
---------------------------------
JOESOEF ISAK
WAT HIJ BETEKENT VOOR INDONESIË
TER HERRINNERING AAN JOESOEF ISAK
Ik kende Joesoef Isak sinds het begin v.d jaren zestig vorige eeuw. Hij was toen hoofdredacteur van het dagblad 'Merdeka'. Een nationalistisch blad. Later was Joesoef aktief bij de I.O.J (International Organization of Journalists). In 1963 was hij gekozen tot secretaris generaal van de Afro-Asian Journalist Association, Jakarta. Na de coup van generaal Suharto, heeft de Orba (de zogenaamd Nieuwe Orde) honderden-duizenden mensen, onder ander Joesoef Isak, zonder enig rechtelijke proces, langer dan tien jaar in de gevangenis gezet. Zij werden bekend als de TAPOL, 'tahanan politik', de politieke gevangenen. Op hun identiteiskaart, bovenaan staan de letters – 'E.T'. Dat beteken eks-tapol, eks politieke gevangene.
Onder de Nieuwe Orde van Suharto, tot en met heden, een TAPOL, een ex-politieke gevangene, betekent dat je tot een 'underdog' hoort. Je bent de 'pariah' van de maatschappij. Burger zonder burgersrechten. Je mag niks. Je mag geen leraar of docent worden, geen landsambtenaar, geen poltieman of soldaat. Je ben niet kiesbaar, en hebt ook geen geen stemrecht. Zelfs al ben je een artist, is het je verboden jouw vak te beoefenen. Kortom, je bent an 'outcast'. En dat is wat Joesoef Isak heeft beleefd, sinds hij vijgelaten was van de Jakarta 'Salemba gevangenis'.
Wat betekent Joesoef Isak voor de Indonesische natie? Om het te begrijpen, moet je weten wat Joesoef denkt en doet voor Indonesia, toen en nu. Sinds zijn vrijlating, dat was nog onder de Suharto regiem, heeft Joesoef geschreven en gesproken, benadrukt in vershillende forums, voornamelijk bij mensen van de nieuwe generatie, de jonge mensen. Hij herrinnerde ons eraan, dat de macht van generaal Suharto de avant-garde van ons natie heeft berooft. Dat de hele intelegentsia werd weggevaagd. Als je de intelegentsia wegneemt, zegt Joesoef, berooft je een volk van het beste wat het heeft. Geschiedenis van de mens is altijd de geschiedenis van de intelegentsia. Daarom, zegt Joesoef : Wij moeten ons inzetten voor de opbouw van nieuwe mensen, nieuwe generatie intelegentsia die ge-emancipieerd is van Suharto's 'reificatie', i.e verzinsels uitgebracht en gepropageerd en later geaccepteerd en geloofd als waarheid ---. Intelegentsia die durf en zelfstandig kan denken. Die voor de eenheid en rechtvaardig-Indonesië bereid is te strijden.
Dat zijn de krachtige woorden van Joesoef. Ze brengen mensen aan het denken. Wat Joesoef geschreven en gesproken heeft, inspireren vele jonge mensen van nu. En vervolgens vele well-intentioned mensen, de maatshappij is geinspireerd. Joesoef stimuleert mensen die naar hem wil luisteren, om moedig te zijn in de strijd voor vrijemeningsuiting, voor gerechtigheid, democratie, en mensenrechten.
Eens, toen Suharto nog aan de macht was, heb ik Joesoef gevraagd of hij, met zijn toespraken, artikels, en voornamelijk met het oprichten van de uitgeverij 'Hasta Mitra', met het publiceren van tientallen verboden boeken, -- zoals o.a de 'Buru-Tetralogie' novels van Pramoedya Ananta Toer, and andere progressieve en links-georienteerde boeken, --- of hij niet bang was, dat de Suharto regering, hem weer in de gevangenis stopt.
Joesoef's antwoord was: 'Ik ben toch maar een gewone mens. Ik ben geen profeet. Ik heb ook mijn angst. Maar in de strijd voor de democratie, voor gerechtigheid, het recht voor vrijemeningsuiting en mensenrechten, mag je jouw angst niet laten merken aan de vijand. Met de vijand bedoelde hij de suppressieve regiem van Suharto. Tegenover de onderdrukkende staatsaparaat van de Suharto regime, moet je alleen je vastberadenheid tonen. In geen geval stoppen met de strijd.
* * *
Als een patriot, die voor een rechtvaardig Indonesië, zijn hele leven heeft gestreden, begrijpt Joesoef het best wat Indonesië heeft doormaakt na de coup van generaal Suharto. Hij heeft het zelf ervaren wat de risikos zijn als je daadwerkelijk je land wil dienen. Ondanks al de gevaren voor hemzelf en zijn familie, blijft hij moedig en standvastig in de strijd.
Joesoef Isak is een strijder, een vechter voor de democratie en mensenrechten. Als journalist is hij levenslang bezig met de strijd voor vrijemeningsuiting.
Onmiddelijk na zijn vrijlating, samen met oude vrienden die inmiddels ook vijgelaten waren vanuit Pulau Buru, -- zoals schrijver Pramoedya Ananta Toer en journalist Hasyim Rachman, hebben zij de strijd voor vrijemeningsuiting hervat. De uitgeverij Hasta Mitra was opgericht onder de neus van Suharto. Democratische rechten bestond niet. Er was geen vrije pers. Alles wat betreft informaties was onder strikt kontrole van de regering.
Voor eks-tapols als Joesoef Isak, Pramoedya en Hasyim Rachman is er alleen één manier om te overleven. Zoals Joesoef gezegd heeft in zijn acceptance speech voor de Wertheim Award 2005 : Er is geen ander weg om de barbaarheid van de regime te stoppen. Er is geen short cut, geen korte weg. Er is ALLEEN MAAR één weg, en dat is: VERZET! Joesoef Ishak is de man wat Indonesië vooral nu nodig heeft. Mensen met visie en vastberadenheid om het volk en land naar een betere toekomst te brengen. Hij en zijn vrienden waren het, die zo'n grote moed hebben, het uitgeven van verboden, progressive, waardevolle en kwaliteits boeken. Dat is de manier van Joesoef om de strijd voort te zetten voor vrijemeningsuiting, democratie, gerechtigheid en mensenrechten. Hij wist de risikos van zijn aktiviteiten. Sinds zijn vrijlating, Suharto was nog aan de macht, was hij nogmaals twee keer in de gevangenis gezet.
Desondanks, direct na de vrijlating, begon hij weer 'verboden' boeken te editten en uit tegeven.
* * *
Het uigeven van de Buru Tetralogie van Parmoedya Ananta Toer was een historisch-gebeurtenis in Indonesië. Het was een ovewinning van een visie, het begin van de wederontwaking van de nationale bewustzijn, van vaderlandsliefde, van een natie vrij van buitenlandse dominatie. Van een nieuw rechtvaardig, vrij en welvarend Indonesië. Die overwinning is mede door de gezamenlijke inzet van Pramoedya, Joesoef Hasyim Rachman, en vele medewerkers.
Joesoef vertelde mij, zodra hij de eerste deel van de Buru Tetralogie van Pramoedya (geschreven toen hij gevangen zat in de eiland Buru), begon hij plannen op te zetten om de boeken van Pram te publiceren. Hij las de manuscript en herschrijft vele belangrijke gedeelten van de Buru Tetralogie. Pram heeft Joesoef de volledige vertrouwen gegeven. Joesoef mag alles doen met de manuscript. Met een gerust hart kan ik zeggen: Zonder Joesoef Isak, was er geen Buru Tetralogie onder de Suharto regime. Was er geen bestseller!
Zoals schrijver en wetenschapper Hilmar Farid heeft geshreven ter nagedachtenis van Pram, zeg ik ook voor Joesoef Isak --
Goede reis, Bung! De fakkel die jij hebt ontstoken in de donkere nacht zal worden voortgedragen door de volgende generatie.
* * *
IN MEMORIAM SOEDIRDJO HARSONO
IBRAHIM ISA
Kemis, 29 Agustus 2009
SEUMUR HIDUP DEMI CITA-CITA MULYA
Zus Darmini y.b. Kawan-kawan, Hadirin Yth,
Dalam perjalanan hidup manusia, saat-saat yang paling menyedihkan dan mengharukan ialah saat seperti yang terjadi hari ini. Ketika harus berpisah dari seseorang yang dicintai dan dihargai. Seorang suami, kawan dan kawan seperjuangan demi cita-cita mulya bersama. Hari ini dengan amat sedih kita mengucapkan kata-kata PERPISAHAN dengan Kawan SOEDIRDJO HARSONO.
Belasungkawa sedalam-dalamnya kita sampaikan kepada Zus Darmini. Semoga Zus Darmini tabah menghadapi musibah dengan kepergian Kawan SOEDIRDJO HARSONO tercinta, suami dan kawan seperjuangan seumur hidup.
Kita berpisah dengan Soedirdjo Harsono, dengan Bung Hary, sebagaimana ia dengan akrab disapa oleh kawan-kawan. Namun, kenangan kita mengenai Bung Hary tetap tersimpan dalam ingatan dan hati kita. Sebagai seorang kawan seperjuangan yang hidupnya amat sederhana, sepenuhnya demi cita-cita perjuangan, demi tanah air dan bangsa, demi rakyat kecil.
Ciri Bung Hary yang menjolok: Ia tak henti-hentinya melakukan kegiatan berkaitan dengan perjuangan. Ciri lainnya yang menyolok ialah, bahwa dalam kegiatannya itu, Bung Hary selalu bersama-sama dengan istrinya tercinta Zus Darmini.
* * * Pertama kali saya berkenalan dengan Bung Hary ( di negeri Belanda, th 1952). Saat itu Republik Indonesia baru saja memasuki periode pasca penandatanganan Persetujuan KMB. Suatu persetujuan antara Indonesia dengan Belanda, yang terlalu berat sebelah. Yang amat merugikan Republik Indonesia, negeri dan rakyatnya. Kami berkenalan di suatu pertemuan memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1952. Disitu hadir banyak pelaut Indonesia. Juga hadir kawan-kawan Belanda dan dari masyarakat setempat di Zaandam. Itu terjadi lebih setengah abad yang lalu. Ketika itu pemuda SOEDIRDJO HARSONO, sibuk dengan kegiatan bersama para pelaut Indonesia. Disitulah Bung Hary a.l. berkecimpung dalam aksi-aksi demi hak-hak sah kaum pelaut Indonesia yang sering mampir atau sedang istirahat di Belanda. Bersama kawan Indonesia lainnya, Bung Hary membimbing aksi-aksi pelaut Indonesia tsb.
Selain itu, ia melakukan kegiatan lainnya sehubungan dengan usaha memperkokoh solidaritas antara rakyat pekerja Belanda dengan rakyat Indonesia melawan penggerowotan kemerdekaan Indonesia oleh kekuatan kolonial Belanda yang masih berlangsung terus. Sesuai Persetujuan KMB, Belanda a.l masih tetap menguasai sebagian dari tanah air kita, Irian Barat, sebagai koloninya. Meskipun adanya perdamaian lewa Persetujuan KMB antara Indonesia dengan Belanda , tapi kaum reaksioner/kolonialis Belanda tetap aktif mendukung bekas kapten KNIL Westerling dengan gerakan 'Ratu Adilnya', yang melakukan percobaan kup di Bandung. Mereka melakukan aksi-aksi subversif lainnya untuk menggerowoti dan membangkrutkan Indonesia yang baru merdeka. Indonesia ada dalam periode perjuangan untuk bebas dari kekangan Persetujuan KMB. Suatu perjuangan yang akhirnya berhasil dengan dibatalkannya secara sefihak oleh Indonesia, seluruh Persetujuan KMB.
Itulah latar belakang situasi politik antara Indonesia dan Belanda. Dalam situasi demikian itulah Bung Hary melakukan kegiatan bersama kawan-kawan Indonesia di Belanda. Semua kegiatan di Belanda itu adalah demi mendukung perjuangan di tanah air. Pemerintah Belanda mengangap kegiatan tsb seperti 'duri didalam daging' bagi kelanjutan politik kolonialnya. Wartawan K.B. Antara, Go Gien Tjwan, dan Sunito -- salah seorang pimpinan Perhimpunan Indonesia di Belanda, yang pernah ditunjuk oleh pemerintah RI di Jogjakarta sebagai perwakilan RI di luarnegeri, – diusir dari Nederland. Saat-saat itu bagi Bung Hary, Nederland sudah menjadi tempat yang tak aman bagi kegiatan perjuangan. Oleh karena itu Bung Hary kembali pulang ke tanahair tercinta.
* * * Di Indonesia, Bung Hary segera bergabung dengan SBPP, Serikat Buruh Pelabuhan dan Pelayaran . Bung Hary meneruskan perjuangan sehari-hari bersama kawan-kawan lainnya di SBPP, – – - SBPP yang juga aktif dalam perjuangan nasional untuk membatalkan Persetujuan KMB, membebaskan Irian Barat serta menasionalisasi perusahaan-perusahaan raksasa milik Belanda yang menguasai urat nadi perekonomian Indonesia.
* * * Pemerintah Presiden Sukarno demi memperjuangkan terbentuk dan terkonsolidasinya kekuatan baru yang progresif revolusioner – yaitu THE NEW EMERGING FORCES, beranjak dari solidaritas Asia-Afrika, memperluas hubungan Indonesia dengan kekuatan progresif di kawasan Amerika Latin. Ketika itulah Indonesia merintis hubungan diplomatik dengan Republik Sosialis Kuba. Untuk meletakkan batu pertama dalam hubungan Indonesia-Cuba tsb, dikirim sebuah misi penting di bawah pimpinan Laksamana Udara SURYADARMA. Disitulah Bung Hary bersama kawan-kawan Indonesia lainnya memberikan sumbangannya dalam usaha Republik Indonesia melakukan perintisan penting ke Amerika Latin. Menjalin hubungan persahabatan dan saling sokong dengan suatu pemerintah sosialis di kawasan Amerika Latin , Cuba Sosialis di bawah piminan Presiden Fidel Castro.
* * * Banyak yang bisa ditimba dari pengalaman melakukan kegiatan bersama Bung Hary selama bertahun-tahun bekerjasama dengan dia. Bersama kawan lainnya Bung Hary ikut menseleksi bahan-bahan, mengelola majalah progresif 'THE INDONESIAN TRIBUNE', 'OISRAA BULLETIN' dan 'SUARA RAKYAT INDONESIA'. Dalam proses ini kawan-kawan makin mengenalnya sebagai kawan yang pendiam tanpa pamrih, berdisplin, rajin, tak kenal susah payah, berjuang terus demi cita-cita mulya bersama.
Banyak berita yang ikut di-edit Bung Hary dari koran-koran Indonesia. Semua untuk menjelaskan kepada pembaca situasi Indonesia yang sesungguhnya di bawah rezim Orba. Ia ikut aktif di dalam redaksi mendiskusikan situasi Indonesia ketika itu. Kemudian ikut serta pula dalam peng-editan dan pengelolaan siaran dan majalah yang kami terbitkan ketika itu. Dalam tulisan-tulisan tsb itulah terdapat sumbangsih Soedirdjo Harsono dalam rangka perjuangan yang lebih besar untuk demokrasi, keadilan dan hak-hak azasi manusia.
Sehubungan dengan pekerjaan penerbitan: Menseleksi dan mengedit pelbagai berita, artikel dan risalah, Bung Hary yang aktif terlibat dalam pekerjaan itu, juga memperhatikan hal-hal yang tampaknya kecil, tetapi punya arti penting dalam pekerjaan penerbitam. Ketika itu sedikit saja diantara kawan-kawan yang bisa mengetik dengan baik. Atau, kalaupun bisa ngetik, melakukannya hanya dengan dua jari, atau beberapa jari saja. Padahal untuk bisa menghasilkan tik-tikkan dengan cepat dan benar, paling baik melakukannya dengan 10 jari. Atas inisiatifnya Bung Hary mengorganisasi kursus ngetik untuk kawan-kawan muda dan tua, yang katanya sudah bisa ngetik maupun yang belum. Bung Hary menunjukkan dengan perbuatan kongkrit, bahwa ia juga memperhatikan hal-hal yang tampaknya kecil, tapi menyangkut pekerjaan besar.Tidak sedikit kawan yang menyelesaikan dengan baik kursus ngetik yang dikelola Bung Hary itu.
Di negeri Belanda Bung Hary bersama kawan-kawan lainnya aktif dalam suatu organisasi melawan Orba, bernama AKSI SETIAKAWAN. Dalam rangka kegiatan ini politik anti-rakyat Orba diekspos di muka publik Belanda dan internasional. Juga dilakukan aksi-aksi pembelaan terhadap para korban peristiwa 1965. 'Áksi Setiakawan' menggalang solidaritas internasional terhadap perjuangan rakyat kita melawan Orba. Dalam semua kegiatan tsb bersama kawan-kawan lainnya, Bung Hary dan Zus Darmini, senantiasa ada dalam barisan depan. Juga dalam aksi-aksi kongkrit massa yang diorganisi oleh pelbagai organisasi progresif lainnya di Belanda dan Eropah.
* * * Bung Hary, kawan Sudirdjo Harsono, telah tiada. Tetapi kita akan selalu mengenangkannya sebagai seorang penggiat, pejuang yang konsisten, gigih, tak kenal lelah dan tanpa pamrih. Dalam kesibukan kegiatan yang terus-menerus, Bung Hary bersama istrinya tercinta Darmini, selalu mempertahankan langgam hidup sederhana dan rajin bekerja. Semua itu merupakan pelajaran berharga bagi kita semua.
Mereka itu, seperti yang dengan baik diungkapkan dalam bahasa Jawa, adalah orang-orang yang
SEPI ING PAMRIH , RAMÉ ING GAWÉ!
BERISTIRAHATLAH DENGAN TENANG BUNG HARY.
Cita-cita mulya perjuangan kita pasti berlangsung terus!
---------------------------------------------------------------------------------
Ibrahim Isa, Publisis; Sekretaris Wertheim Foundation, Amsterdam.
Kemis, 29 Agustus 2009
SEUMUR HIDUP DEMI CITA-CITA MULYA
Zus Darmini y.b. Kawan-kawan, Hadirin Yth,
Dalam perjalanan hidup manusia, saat-saat yang paling menyedihkan dan mengharukan ialah saat seperti yang terjadi hari ini. Ketika harus berpisah dari seseorang yang dicintai dan dihargai. Seorang suami, kawan dan kawan seperjuangan demi cita-cita mulya bersama. Hari ini dengan amat sedih kita mengucapkan kata-kata PERPISAHAN dengan Kawan SOEDIRDJO HARSONO.
Belasungkawa sedalam-dalamnya kita sampaikan kepada Zus Darmini. Semoga Zus Darmini tabah menghadapi musibah dengan kepergian Kawan SOEDIRDJO HARSONO tercinta, suami dan kawan seperjuangan seumur hidup.
Kita berpisah dengan Soedirdjo Harsono, dengan Bung Hary, sebagaimana ia dengan akrab disapa oleh kawan-kawan. Namun, kenangan kita mengenai Bung Hary tetap tersimpan dalam ingatan dan hati kita. Sebagai seorang kawan seperjuangan yang hidupnya amat sederhana, sepenuhnya demi cita-cita perjuangan, demi tanah air dan bangsa, demi rakyat kecil.
Ciri Bung Hary yang menjolok: Ia tak henti-hentinya melakukan kegiatan berkaitan dengan perjuangan. Ciri lainnya yang menyolok ialah, bahwa dalam kegiatannya itu, Bung Hary selalu bersama-sama dengan istrinya tercinta Zus Darmini.
* * * Pertama kali saya berkenalan dengan Bung Hary ( di negeri Belanda, th 1952). Saat itu Republik Indonesia baru saja memasuki periode pasca penandatanganan Persetujuan KMB. Suatu persetujuan antara Indonesia dengan Belanda, yang terlalu berat sebelah. Yang amat merugikan Republik Indonesia, negeri dan rakyatnya. Kami berkenalan di suatu pertemuan memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1952. Disitu hadir banyak pelaut Indonesia. Juga hadir kawan-kawan Belanda dan dari masyarakat setempat di Zaandam. Itu terjadi lebih setengah abad yang lalu. Ketika itu pemuda SOEDIRDJO HARSONO, sibuk dengan kegiatan bersama para pelaut Indonesia. Disitulah Bung Hary a.l. berkecimpung dalam aksi-aksi demi hak-hak sah kaum pelaut Indonesia yang sering mampir atau sedang istirahat di Belanda. Bersama kawan Indonesia lainnya, Bung Hary membimbing aksi-aksi pelaut Indonesia tsb.
Selain itu, ia melakukan kegiatan lainnya sehubungan dengan usaha memperkokoh solidaritas antara rakyat pekerja Belanda dengan rakyat Indonesia melawan penggerowotan kemerdekaan Indonesia oleh kekuatan kolonial Belanda yang masih berlangsung terus. Sesuai Persetujuan KMB, Belanda a.l masih tetap menguasai sebagian dari tanah air kita, Irian Barat, sebagai koloninya. Meskipun adanya perdamaian lewa Persetujuan KMB antara Indonesia dengan Belanda , tapi kaum reaksioner/kolonialis Belanda tetap aktif mendukung bekas kapten KNIL Westerling dengan gerakan 'Ratu Adilnya', yang melakukan percobaan kup di Bandung. Mereka melakukan aksi-aksi subversif lainnya untuk menggerowoti dan membangkrutkan Indonesia yang baru merdeka. Indonesia ada dalam periode perjuangan untuk bebas dari kekangan Persetujuan KMB. Suatu perjuangan yang akhirnya berhasil dengan dibatalkannya secara sefihak oleh Indonesia, seluruh Persetujuan KMB.
Itulah latar belakang situasi politik antara Indonesia dan Belanda. Dalam situasi demikian itulah Bung Hary melakukan kegiatan bersama kawan-kawan Indonesia di Belanda. Semua kegiatan di Belanda itu adalah demi mendukung perjuangan di tanah air. Pemerintah Belanda mengangap kegiatan tsb seperti 'duri didalam daging' bagi kelanjutan politik kolonialnya. Wartawan K.B. Antara, Go Gien Tjwan, dan Sunito -- salah seorang pimpinan Perhimpunan Indonesia di Belanda, yang pernah ditunjuk oleh pemerintah RI di Jogjakarta sebagai perwakilan RI di luarnegeri, – diusir dari Nederland. Saat-saat itu bagi Bung Hary, Nederland sudah menjadi tempat yang tak aman bagi kegiatan perjuangan. Oleh karena itu Bung Hary kembali pulang ke tanahair tercinta.
* * * Di Indonesia, Bung Hary segera bergabung dengan SBPP, Serikat Buruh Pelabuhan dan Pelayaran
* * * Pemerintah Presiden Sukarno demi memperjuangkan terbentuk dan terkonsolidasinya kekuatan baru yang progresif revolusioner – yaitu THE NEW EMERGING FORCES, beranjak dari solidaritas Asia-Afrika, memperluas hubungan Indonesia dengan kekuatan progresif di kawasan Amerika Latin. Ketika itulah Indonesia merintis hubungan diplomatik dengan Republik Sosialis Kuba. Untuk meletakkan batu pertama dalam hubungan Indonesia-Cuba tsb, dikirim sebuah misi penting di bawah pimpinan Laksamana Udara SURYADARMA. Disitulah Bung Hary bersama kawan-kawan Indonesia lainnya memberikan sumbangannya dalam usaha Republik Indonesia melakukan perintisan penting ke Amerika Latin. Menjalin hubungan persahabatan dan saling sokong dengan suatu pemerintah sosialis di kawasan Amerika Latin , Cuba Sosialis di bawah piminan Presiden Fidel Castro.
* * * Banyak yang bisa ditimba dari pengalaman melakukan kegiatan bersama Bung Hary selama bertahun-tahun bekerjasama dengan dia. Bersama kawan lainnya Bung Hary ikut menseleksi bahan-bahan, mengelola majalah progresif 'THE INDONESIAN TRIBUNE', 'OISRAA BULLETIN' dan 'SUARA RAKYAT INDONESIA'. Dalam proses ini kawan-kawan makin mengenalnya sebagai kawan yang pendiam tanpa pamrih, berdisplin, rajin, tak kenal susah payah, berjuang terus demi cita-cita mulya bersama.
Banyak berita yang ikut di-edit Bung Hary dari koran-koran Indonesia. Semua untuk menjelaskan kepada pembaca situasi Indonesia yang sesungguhnya di bawah rezim Orba. Ia ikut aktif di dalam redaksi mendiskusikan situasi Indonesia ketika itu. Kemudian ikut serta pula dalam peng-editan dan pengelolaan siaran dan majalah yang kami terbitkan ketika itu. Dalam tulisan-tulisan tsb itulah terdapat sumbangsih Soedirdjo Harsono dalam rangka perjuangan yang lebih besar untuk demokrasi, keadilan dan hak-hak azasi manusia.
Sehubungan dengan pekerjaan penerbitan: Menseleksi dan mengedit pelbagai berita, artikel dan risalah, Bung Hary yang aktif terlibat dalam pekerjaan itu, juga memperhatikan hal-hal yang tampaknya kecil, tetapi punya arti penting dalam pekerjaan penerbitam. Ketika itu sedikit saja diantara kawan-kawan yang bisa mengetik dengan baik. Atau, kalaupun bisa ngetik, melakukannya hanya dengan dua jari, atau beberapa jari saja. Padahal untuk bisa menghasilkan tik-tikkan dengan cepat dan benar, paling baik melakukannya dengan 10 jari. Atas inisiatifnya Bung Hary mengorganisasi kursus ngetik untuk kawan-kawan muda dan tua, yang katanya sudah bisa ngetik maupun yang belum. Bung Hary menunjukkan dengan perbuatan kongkrit, bahwa ia juga memperhatikan hal-hal yang tampaknya kecil, tapi menyangkut pekerjaan besar.Tidak sedikit kawan yang menyelesaikan dengan baik kursus ngetik yang dikelola Bung Hary itu.
Di negeri Belanda Bung Hary bersama kawan-kawan lainnya aktif dalam suatu organisasi melawan Orba, bernama AKSI SETIAKAWAN. Dalam rangka kegiatan ini politik anti-rakyat Orba diekspos di muka publik Belanda dan internasional. Juga dilakukan aksi-aksi pembelaan terhadap para korban peristiwa 1965. 'Áksi Setiakawan' menggalang solidaritas internasional terhadap perjuangan rakyat kita melawan Orba. Dalam semua kegiatan tsb bersama kawan-kawan lainnya, Bung Hary dan Zus Darmini, senantiasa ada dalam barisan depan. Juga dalam aksi-aksi kongkrit massa yang diorganisi oleh pelbagai organisasi progresif lainnya di Belanda dan Eropah.
* * * Bung Hary, kawan Sudirdjo Harsono, telah tiada. Tetapi kita akan selalu mengenangkannya sebagai seorang penggiat, pejuang yang konsisten, gigih, tak kenal lelah dan tanpa pamrih. Dalam kesibukan kegiatan yang terus-menerus, Bung Hary bersama istrinya tercinta Darmini, selalu mempertahankan langgam hidup sederhana dan rajin bekerja. Semua itu merupakan pelajaran berharga bagi kita semua.
Mereka itu, seperti yang dengan baik diungkapkan dalam bahasa Jawa, adalah orang-orang yang
SEPI ING PAMRIH , RAMÉ ING GAWÉ!
BERISTIRAHATLAH DENGAN TENANG BUNG HARY.
Cita-cita mulya perjuangan kita pasti berlangsung terus!
---------------------------------------------------------------------------------
Ibrahim Isa, Publisis; Sekretaris Wertheim Foundation, Amsterdam.
MENGENANGKAN JOESOEF ISAK <3>
Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 24 Agustus 2009
==================
MENGENANGKAN JOESOEF ISAK
< Semboyannya: -- BERLAWAN! >
(3)
BERLAWAN, adalah seruan yang a.l diangkat Joesoef Isak menjadi semboyan
hidupnya. Berlawan terhadap kesewewenang-wenangan. Berlawan terhadap
ketidak-adilanan.
Pada penutup pidatonya ketika menerima 'Wertheim Award 2005', dengan kalem,
tapi tegas dan bersemangat Joesoef Isak manyatakan a.l sbb:
Tak ada jalan pintas. Dan tak ada jalan lain untuk menghentikan
kesewenang-wenangan selain seperti apa yang dinyatakan dengan indah oleh Wiji
Thukul, seorang seniman rakyat, pemenang Wertheim Award 1999: HANYA ADA SATU
JALAN: LAWAN! Jangan berhenti, bahkan sejenakpun, dalam perjuangan melawan
ketidakadilan.
Sekali tempo, dalam suatu percakapan santai, aku bertanya kepada Joesoef: Cup,
apa kau tak takut akan dijebloskan lagi dalam penjara? Begitu berani kau ke
luarnegeri sendirian. Itu 'kan mirip avontur. Kami bertemu di Keulen. Ketika
Joesoef berhasil meloloskan diri dari tangkalan ketat Kopkamtib Orba. Ia
menghapuskan huruf 'ET' pada KTP-nya. Mengkopinya dan menyerahkannya kepada
biro perjalanan. Selanjutnya biro perjalanan itu yang mengurus sampai ia
berhasil meninggalkan Jakarta. Dengan cara riskan itu Joesoef berhasil nyelonong
di depan hidung aparat, ke luar negeri sendirian. 'Begitu saja' melewati
imigrasi dan duane bandar udara.
Joesoef Isak berangkat ke Eropah dengan suatu tujuan strategis perjuangan yang
ditempuhnya. Rencana Joesoef dan kawan-kawanny di Hasta Mitra, ialah mendirikan
perwakilan penerbit Hasta Mitra yang dipimpinnya. Dengan demikian Tetralogi
Pramoedya bisa diterbitkan di lurnegeri tanpa gangguan Kejaksaan Agung RI Orba.
Lagipula buku pertama Tetralogi, Bumi Manusia, edisi bahasa asingnya sudah bisa
ditangani. Joesoef tau bila ia tidak 'nyerémpét-nyerémpét bahay' ia tak akan
bisa memenuhi tugas itu.
Menjawab pertanyaanku, apakah ia samasekali tidak takut, kata Joesoef: Aku ini
bukan nabi. Aku ini orang biasa, sama dengan yang lainnya, juga punya rasa
takut. Aku bukannya tidak ada rasa takut itu. Tetapi, kata Joesoef, ketakutan
itu tak boleh kita tunjukkan di hadapan musuh (maksudnya aparat keamanan Orba).
Terhadap mereka kita selalu harus menunjukkan, keberanian dan keteguhan
pendirian yang benar dan adil, serta semangat berlawan yang mantap.
* * *
Joesoef Isak adalah sahabat kentalku. Tetapi aku tidak akan mengatakan bahwa aku
kenal benar siapa Joesoef Isak. Terasa penyesalan tidak lebih banyak bicara dan
tukar fikiran dengan dia.Yang kukenal benar tentang Joesoef, ialah bahwa
selruruh hidupanya diabdikan pada perjuangan demi cita-cita mulya yang
diyakininya: Keadilan bagi rakyat! Ikut membangun Indonesia yang kaum
intlejensianya berani berfikir sendiri. Yang mandiri, cinta bangsa dan tanah air.
Cinta rakyat kecil dan siap berjuang dengan berani dan konsisten sampai akhir.
Apa yang diungkapkan oleh wartawan Belanda Michel Maas, mengenai wawancara dan
kesannya mengenai Joesoef Isak, kiranya akan menambah pengenalan kita tentang
Joesoef. Menarik bahwa Joesoef mengungkap 'soalnya' mengapa 'pisah' dengan
Pramoedya, dan peranannya sendiri dalam penerbitan buku-buku Pram. Joesoef
bicara terus terang bahwa ia bersimpati dengan PKI, tetapi bukan anggota PKI.
Bahwa ia banyak tau tentang apa yang terjadi di sekitar 30 September 1965. Bahwa
Joesoef punya analisis dan kesimpulan sendiri mengenai itu. Bahwa Joesoef punya
tekad dan semangat baja untuk terus berjuang, melalui kerja. Kerja dengan
menerbitkan buku-buku bermutu. Bahwa Joesoef tidak menganggap dirinya korban.
Apakah itu korban CIA, tentara atau Orba. Joesoef menganggap mereka itu musuh
yang harus dilawan dengan perjuangan kongkrit. Bahwa Joesoef menganggap ilusi
bisa tercapai rekonsiliasi dan rehabilirasi selama sistim rezim lama masih
diteruskan.
* * *
Michel Maas, adalah wartawan Belanda, berkedudukan di Jakarta. Ia mewakili
s.k. De Volkskrant, Amsterdam. Ia mengenal Joesoef Isak justru dari tindakannya
sebagai orang yang melakukan perlawanan.
Pada suatu ketika wartawan de Volkskrant itu mengunjungi Joesoef Isak. Ia
hendak mewawancarai Joesoef Isak. Kemudian wawancaranya itu disiarkan di De
Volkskratn pada tanggal 18 Juni 2005. Lalu disiarkan ulang dengan perubahan
disana-sini pada tanggal 21 Januari 2009, Michel Maas memberikannya judul 'EEN
DAAD VAN VERZET', 'SUATU TINDAKAN PERLAWANAN'!
Tulis Michel Maas a.l.: Sebagai penerbit Joesoef Isak (76) di Indonesia
melakukan perjuangan politik. Dengan menerbitkan 'DAS KAPITAL' olel Karl Marx,
Joesoef Isak lagi-lagi menerbtkan dan mengedarkan 'buku terlarang' di pasaran.
Disebabkan oleh kegiatan seperti itu, Joesoef Isak dua kali ditahan. 'Suharto
sudah jatuh, tetapi sistim kekuasaannya masih utuh', demikian Joesoef.
Buku itu baru saja terbit. Di Indonesia masih tetap dilarang, tetapi Joesoef
tak ada kerja lainnya selain menerbitkan buku terlarang, sejak mula ia mengelola
perbitannya itu. Hasta Mitra, memulai pekerjaannya dengan menerbitkan
buku-buku pertama Pramoedya Ananta Toer.
Penerbitan 'Kapital' merupakan tindakan baru perlawanan yang dilakukan Joesoef.
Bukunya diterbitkan, katanya, bukan karena di Indonesia masih ada orang yang
akan membaca buku setebal itu. Barangkali ada sepuluh orang, kata Joesoef.
Tidak ada lagi orang yang membaca. 'Orang-orang yang punya visi di Indonesia
bisa dihitung pada sebelah tangan. Kaum intelejensia kami telah dibabat habis.
Para pemimpin politik kami dewasa ini adalah aktor-aktor kelas tiga. Sekarang
berbondong-bondong pemuda kita mengikutinya dibelakang. Sudah lama saya
bertanya-tanya, bagaimana hal itu bisa terjadi. Saya telah mencari di (kamus)
Van Dale. Disitu tak saya temui. Akhirnya saya temui di 'Winkler Prins':
REIFICATIE, yang oleh orang Jerman disebut 'Verdinglichung'.
Saya baca dan memikirkan, inilah yang persis terjadi di sini: rekayasa fikiran
manusia diterima sebagai suatu kebenaran.
'Suharto adalah jagoan dalam menyebarluaskan 'kebenaran-kebenaran' serupa itu.
Ia memulainya sesudah terjadinya pembunuhan pada tanggal 30 September 1965. Ia
(Suharto) menceriterakan bahwa para jendral-jendral itu, sebelum dibunuh, mereka
ditikam berkali-kali dengan belati. Cerita itu bohong besar. Tetapi rekayasa itu
diberitakan di semua media sebagai sesuatu yang benar. Dan sekarang seperti
itulah tercantum dalam buku-buku sejarah '.
'Setiap lima tahun sekali, pemerintah mengeluarkan sebuah analisa. Kepada
rakyat diceriterakan bahwa ABRI (tentara) adalah organisasi terbaik di negeri
ini, terdiri dari orang-orang yang paling baik, orang-orang yang berpendidikan
paling hebat. Oleh karena itu tigapuluh tahun lamanya rakyat percaya bahwa tidak
mungkin tanpa ABRI. Dan sekarang hal itu masih dipercayai'.
'Joesoef berumur 76 . Jika ia berbicara apalagi bila ia tertawa, ia tampak
tambah muda sekali. Dan ia tampak jauh lebih kuat terbanding orang yang tiga
hari yang lalu terbaring di tempat tidur. Ia tiba-tiba tidak bisa bergerak
samasekali. Ini suatu pendarahan otak kecil, fikirnya. Maka ia sementara tak
merokok lagi. Di lantai terletak sobekan New York Times tertanggal 13 Februaru
2003. Separuh tulisan di situ adalah mengenai Joesoef Isak. Di atas sederet
buku-buku terdapat sebuah piagam pengharagaan: The Jeri Laber International
Freedom to Publish Award – penghargaan dari penerbit Amerika yang diperolehnya
tahun lalu sebagai penghargaan atas keberaniannya terus menerbitkan buku-buku
tanpa mempedulikan ancaman, intimidasi dan 'pemberangusan'. Disembunyikan di
belakang sejumlah buku tampak foto lama. Di situ tampak Joesoef dengan Pramoedya
Ananta Toer. Pramoedya novelis besar dan calon-Hadiah Nobel dengan siapa ia
hamir duapuluh lima tahun lamanya adalah penerbit dan editornya.
Sejenak ditatapnya foto itu dan ia terdiam. Foto itu telah menjadi sejarah
seperti foto lama dengan Profesor Wertheim ('benar-benar tukang-cela, dari
beliau saya banyak belajar', celetuk Joesoef). Dua tahun yang lalu dengan
menyedihkan telah berakhir kerjasama yang mesra. Ketika itu tiba-tiba saja
Pramoedya membatalkan semua kontrak dengan Joesoef. Penerbit terlalu sedikit
memberikan royalti kepadanya, begitu kata Pram. 'Joesoef yang melahap habis uang
saya itu'. Sekarang salah seorang dari putri Pramoedya yang menerbitkan
buku-bukunya. 'Sampai hari ini saya tidak bicara dengan dia. Saya menenangkan
diri saya dan mengatakan bahwa soal itu terletak pada telinganya. (Pramoedya
hampir tuli)'. Joesoef terlalu keras kepala, untuk pergi sendiri ke Pram.
'Tetapi jika ia mengundang saya besok, saya akan segera mendatanginya', kata
Joesoef.
Foto itu mengandung separuh kehidupan manusia. Selama duapuluh tahun Joesoef
adalah jurubicara Pramoedya. Adalah penerbit dan redaktur yang diberi kuassa
untuk mengadakan perubahan terhadap buku-buku sang master halmana memang
diperlukan. Tak pernah Pram berkeberatan terhadap suatu perubahan besar.
'Tampaknya, karena ia tidak pernah membaca lagi bukunya itu, kata Joesoef ',
demikianlah Pram. Ia lebih baik tidak melihatnya lagi teks yang ditulisnya. Pram
bilang, kaulah editor saya. Saya mempercayaimu. Lakukanlah apa yang kau anggap
perlu'. Joesoef puas tanpa nama . Kenyataan ialah bahwa bagian-bagian yang
banyak dipuji dari buku Pram itu, adalah bagian-bagian yang dibuat Joesoef.
'Saya selalu merasa bangga menjadi penerbit Pram. Pram adalah seorang literator
besar. Seorang yang benar-benr intelektuil.. Saya anggap adalah tugas politik
untuk menerbitkan buku-buku Pram. Tapi mungkin sikap saya itu juga sedikit suatu
sikap banga atas diri sendiri'.
Mereka berkenalan sejak sebelum 1965, ketika Pram anggota pengurus Lekra,
sebuah perhimpunan seniman kiri. Joesoef ketika itu pemimpin redaksi s.k.
Merdeka. Namun, kerjasama mereka baru dimulai dalam tahun 1970. Setelah mereka
keluar dari penjara. Pram datang dari pulau tahanan Buru dengan empat manuskrip
yang kemudian membikin dia terkenal di dunia. Dan Joesoef memilik kopi bawah
tanah dari sebuah dari buku-buku itu. Joesoef membacanya lalu menyimpulkan akan
baik sekali bila boleh menerbitkannya.
Dengan Hasyim Rachman, mereka sama-sama mendirikan Hasta Mitra (tangan sahabat).
Kemudian menerbitkan 'Bumi Manusia'. Bagian pertama dari tetralogi Buru itu.
Kontan buku itu jadi bestseller. Tetapi ketika terbit cetakan keenam, penguasa
Jakarta bertindak. Penguasa melarang Bumi Manusia dan bagian kedua 'Anak semua
bangsa'. Kemudian dua jilid lainnya yang menyusul juga dilarang. Namun,
kopi-kopi yang sudah terbit itu diperbanyak melalui pengkopian dalam jumlah
besar. Dan dijual diam-diam. Joesoef ditahan dan dua kali dipenjarakan (lagi).
Juga putranya ditangkap, ketika ia mengundang Pram untuk bicara di UI. Bapak dan
anak bagi penguasa merupakan bukti, bahwa hubungan keluarga bisa bahaya.
Penahanan bapak dan anak itu, merupakan permulaan politik baru. Selanjutnya
bukan saja para eks-tapol, tetapi juga anak-anaknya tidak boleh studi. Juga
tidak boleh bekerja di pemerintahan dan pekerjaan peka seperti guru, yustisi dan
jurnalistik.
Pramoedya selalu membantah bahwa ia komunis. Joesoef tidak membantah apapun.
(Karena) Ia bukan komunis. Tetapi ia ingin jadi komunis, katanya. 'Saya
benar-benar terpinspirasi. Pada PKI terdapat teman-teman saya. Seluruh
avant-garde ada di situ. Para pelopor dalam musik, dalam seni lukis, semua
komunis. Partai mengirimkan orang-orang ke konservatorium ke Berlin dan ke Roma.
Mereka mengangkat kesenian rakyat benar-benar pada taraf seni. Dari keroncong
mereka ciptakan simfoni. Simfoni Beethoven yang kelima dan keenam, tema-tema di
situ kecil saja. Soedarnoto mengambil tema dari empat baris dan menggubahnya
menjadi sebuah orkes simfoni. Kedengarannya seperti Per Gyntnya Edvard Grieg.
Joesoef tak pernah jadi anggota. 'Kamu fikir apa: Bahwa PKI itu adalah suatu
klab ibu rumahtangga. Sehingga kau bisa bergitu saja jadi anggota. Saya ketika
itu pemimpin redaksi s.k Merdeka, sebuah suratkabar yang benar-benar burjuis.
Dan saya beken sebagai anggota PSI, partai sosialis Indonesia. PSI, itu adalah
orang-orang salon-Sosialis. Sedikitnya orang harus lebih dahulu membuktikan
selama dua tahun jika mau jadi anggota PKI.'
Ia tidak sampai pembuktian dua tahun itu. Pada malam 30 September – 1 Oktober
1965, Indonesia tiba-tiba berubah.
Hampir seluruh pimpinan AD – enam jendral dan seorang perwira – malam itu
dibunuh. Orang-orang komunis yang disalahkan. PKI dilarang dan anggota-anggota
dan yang diduga simpatisan ditangkap. Mereka dibunuh atau hilang. Ratusan ribu
orang dibunuh dalam suatu kampanye yang disulut secara bernafsu oleh CIA
Amerika. Perebutan kekuasaan itu menjadikan Suharto penguasa. Indonesia dirampok
dari pelopornya zaman ketika itu. 'Seluruh intelejensia disapu bersih. Jika kau
merenggutkan kaum intelejensia, berarti kau telah merampok rakyat dari apa yang
paling berharga yang dimilikinya. Sejarah manusia selalu merupakan sejarah
intelejensia'.
Tak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi pada 30 September. Dan siapa
dibelakangnya. Tigapuluh tahun lamanya hanyalah versi Suharto yang
diceriterakan. Sekarang semua yang terlibat sudah mati. Joesoef banyak tau. Ia
juga 'banyak sekali tau' apa yang terjadi dalam tahun 1965, katanya. 'Seluruh
pimpinan tertinggi PKI sembunyi di rumah saya'. 'Tetapi makin banyak yang
diketahui, masalahnya semakin rumit'.
Tidak begitu sederhana sehingga dapat mengatakan bahwa PKI -lah yang
melakukannya. Ada dua PKI. Partai yang legal dan punya konstitusi. Ada yang
ilegal yang punya agenda lain. Yang ilegal yang terlibat dalam peristiwa 1965.
Apa yang terjadi pada tanggal 30 September, adalah suatu tumpang-tindih lebih
dari satu skenario. Yang dari CIA, yang dari PKI dan yang dari tentara. Semua
memata-matai semua.Tentara menyusupi PKI dan orang-orang komunis punya mata-mata
mereka di pimpinan tertinggi tentara. Dan semuanya punya rencananya
masing-masing. Itu adalah suatu 'masterpiece of intelligence'.
Yang tampak tidak jelas, ialah, pertanyaan 'masterpice' itu siapa punya. Yang
jelas ialah bahwa Suharto tampil sebagai pemenang. 'Suharto telah mampu
menggunakan itu semua. Ia tidak hodoh, seperti orang bilang. Ia cerdik. Ia
melihat kesempatan dan menggunakannya'. Joesoef masih melihat yang masih hidup
dari kaum intelejensi periode itu. 'Mereka semua eks-tapol, pada datang ketika
peluncuran 'Kapital'. Semua mereka marah: Marah pada CIA, dan marah pada
Indonesia. Sekarang mereka bicara tentang rekonsiliasi, tentang kompensasi,
tentang rehabilitasi. Harus dibentuk komisi rekonsiliasi , yang harus meluruskan
sejarah. Saya kira tak akan jadi apa-apa itu. Rehabilitasi yang mereka minta
adalah suatu ilusi. Mereka menginginkan sepucuk surat dengan ada stempelnya di
situ. Lagi-lagi itu adalah abstraksi yang jadi realita.
'Saya tidak mengatakan: Saya adalah seorang korban CIA, korban Suharto. Atau
korban Orde Baru. Saya bilang saya adalah musuh Suharto. Saya musuh Orde Baru.
Suharto telah tumbang. Tetapi seluruh sistim kekuasaan negara masih utuh.
Saya tidak akan menggerutu! Saya menerbitkan buku.
Bekerja! Itulah yang dapat dilakukan. Saya 76, tetapi saya jalan terus'.
Demikian singkatan teks wawancara Joesoef Isak dengan wartawan Belanda, Michel
Maas. Tulisan Michel Maas disiarkan di de Volkskrant dalam bahasa Belanda. Yang
diatas adalah terjemahan bebas dan sedikit dipadatkan.
* * *
Senin, 24 Agustus 2009
==================
MENGENANGKAN JOESOEF ISAK
< Semboyannya: -- BERLAWAN! >
(3)
BERLAWAN, adalah seruan yang a.l diangkat Joesoef Isak menjadi semboyan
hidupnya. Berlawan terhadap kesewewenang-wenangan. Berlawan terhadap
ketidak-adilanan.
Pada penutup pidatonya ketika menerima 'Wertheim Award 2005', dengan kalem,
tapi tegas dan bersemangat Joesoef Isak manyatakan a.l sbb:
Tak ada jalan pintas. Dan tak ada jalan lain untuk menghentikan
kesewenang-wenangan selain seperti apa yang dinyatakan dengan indah oleh Wiji
Thukul, seorang seniman rakyat, pemenang Wertheim Award 1999: HANYA ADA SATU
JALAN: LAWAN! Jangan berhenti, bahkan sejenakpun, dalam perjuangan melawan
ketidakadilan.
Sekali tempo, dalam suatu percakapan santai, aku bertanya kepada Joesoef: Cup,
apa kau tak takut akan dijebloskan lagi dalam penjara? Begitu berani kau ke
luarnegeri sendirian. Itu 'kan mirip avontur. Kami bertemu di Keulen. Ketika
Joesoef berhasil meloloskan diri dari tangkalan ketat Kopkamtib Orba. Ia
menghapuskan huruf 'ET' pada KTP-nya. Mengkopinya dan menyerahkannya kepada
biro perjalanan. Selanjutnya biro perjalanan itu yang mengurus sampai ia
berhasil meninggalkan Jakarta. Dengan cara riskan itu Joesoef berhasil nyelonong
di depan hidung aparat, ke luar negeri sendirian. 'Begitu saja' melewati
imigrasi dan duane bandar udara.
Joesoef Isak berangkat ke Eropah dengan suatu tujuan strategis perjuangan yang
ditempuhnya. Rencana Joesoef dan kawan-kawanny di Hasta Mitra, ialah mendirikan
perwakilan penerbit Hasta Mitra yang dipimpinnya. Dengan demikian Tetralogi
Pramoedya bisa diterbitkan di lurnegeri tanpa gangguan Kejaksaan Agung RI Orba.
Lagipula buku pertama Tetralogi, Bumi Manusia, edisi bahasa asingnya sudah bisa
ditangani. Joesoef tau bila ia tidak 'nyerémpét-nyerémpét bahay' ia tak akan
bisa memenuhi tugas itu.
Menjawab pertanyaanku, apakah ia samasekali tidak takut, kata Joesoef: Aku ini
bukan nabi. Aku ini orang biasa, sama dengan yang lainnya, juga punya rasa
takut. Aku bukannya tidak ada rasa takut itu. Tetapi, kata Joesoef, ketakutan
itu tak boleh kita tunjukkan di hadapan musuh (maksudnya aparat keamanan Orba).
Terhadap mereka kita selalu harus menunjukkan, keberanian dan keteguhan
pendirian yang benar dan adil, serta semangat berlawan yang mantap.
* * *
Joesoef Isak adalah sahabat kentalku. Tetapi aku tidak akan mengatakan bahwa aku
kenal benar siapa Joesoef Isak. Terasa penyesalan tidak lebih banyak bicara dan
tukar fikiran dengan dia.Yang kukenal benar tentang Joesoef, ialah bahwa
selruruh hidupanya diabdikan pada perjuangan demi cita-cita mulya yang
diyakininya: Keadilan bagi rakyat! Ikut membangun Indonesia yang kaum
intlejensianya berani berfikir sendiri. Yang mandiri, cinta bangsa dan tanah air.
Cinta rakyat kecil dan siap berjuang dengan berani dan konsisten sampai akhir.
Apa yang diungkapkan oleh wartawan Belanda Michel Maas, mengenai wawancara dan
kesannya mengenai Joesoef Isak, kiranya akan menambah pengenalan kita tentang
Joesoef. Menarik bahwa Joesoef mengungkap 'soalnya' mengapa 'pisah' dengan
Pramoedya, dan peranannya sendiri dalam penerbitan buku-buku Pram. Joesoef
bicara terus terang bahwa ia bersimpati dengan PKI, tetapi bukan anggota PKI.
Bahwa ia banyak tau tentang apa yang terjadi di sekitar 30 September 1965. Bahwa
Joesoef punya analisis dan kesimpulan sendiri mengenai itu. Bahwa Joesoef punya
tekad dan semangat baja untuk terus berjuang, melalui kerja. Kerja dengan
menerbitkan buku-buku bermutu. Bahwa Joesoef tidak menganggap dirinya korban.
Apakah itu korban CIA, tentara atau Orba. Joesoef menganggap mereka itu musuh
yang harus dilawan dengan perjuangan kongkrit. Bahwa Joesoef menganggap ilusi
bisa tercapai rekonsiliasi dan rehabilirasi selama sistim rezim lama masih
diteruskan.
* * *
Michel Maas, adalah wartawan Belanda, berkedudukan di Jakarta. Ia mewakili
s.k. De Volkskrant, Amsterdam. Ia mengenal Joesoef Isak justru dari tindakannya
sebagai orang yang melakukan perlawanan.
Pada suatu ketika wartawan de Volkskrant itu mengunjungi Joesoef Isak. Ia
hendak mewawancarai Joesoef Isak. Kemudian wawancaranya itu disiarkan di De
Volkskratn pada tanggal 18 Juni 2005. Lalu disiarkan ulang dengan perubahan
disana-sini pada tanggal 21 Januari 2009, Michel Maas memberikannya judul 'EEN
DAAD VAN VERZET', 'SUATU TINDAKAN PERLAWANAN'!
Tulis Michel Maas a.l.: Sebagai penerbit Joesoef Isak (76) di Indonesia
melakukan perjuangan politik. Dengan menerbitkan 'DAS KAPITAL' olel Karl Marx,
Joesoef Isak lagi-lagi menerbtkan dan mengedarkan 'buku terlarang' di pasaran.
Disebabkan oleh kegiatan seperti itu, Joesoef Isak dua kali ditahan. 'Suharto
sudah jatuh, tetapi sistim kekuasaannya masih utuh', demikian Joesoef.
Buku itu baru saja terbit. Di Indonesia masih tetap dilarang, tetapi Joesoef
tak ada kerja lainnya selain menerbitkan buku terlarang, sejak mula ia mengelola
perbitannya itu. Hasta Mitra, memulai pekerjaannya dengan menerbitkan
buku-buku pertama Pramoedya Ananta Toer.
Penerbitan 'Kapital' merupakan tindakan baru perlawanan yang dilakukan Joesoef.
Bukunya diterbitkan, katanya, bukan karena di Indonesia masih ada orang yang
akan membaca buku setebal itu. Barangkali ada sepuluh orang, kata Joesoef.
Tidak ada lagi orang yang membaca. 'Orang-orang yang punya visi di Indonesia
bisa dihitung pada sebelah tangan. Kaum intelejensia kami telah dibabat habis.
Para pemimpin politik kami dewasa ini adalah aktor-aktor kelas tiga. Sekarang
berbondong-bondong pemuda kita mengikutinya dibelakang. Sudah lama saya
bertanya-tanya, bagaimana hal itu bisa terjadi. Saya telah mencari di (kamus)
Van Dale. Disitu tak saya temui. Akhirnya saya temui di 'Winkler Prins':
REIFICATIE, yang oleh orang Jerman disebut 'Verdinglichung'.
Saya baca dan memikirkan, inilah yang persis terjadi di sini: rekayasa fikiran
manusia diterima sebagai suatu kebenaran.
'Suharto adalah jagoan dalam menyebarluaskan 'kebenaran-kebenaran' serupa itu.
Ia memulainya sesudah terjadinya pembunuhan pada tanggal 30 September 1965. Ia
(Suharto) menceriterakan bahwa para jendral-jendral itu, sebelum dibunuh, mereka
ditikam berkali-kali dengan belati. Cerita itu bohong besar. Tetapi rekayasa itu
diberitakan di semua media sebagai sesuatu yang benar. Dan sekarang seperti
itulah tercantum dalam buku-buku sejarah '.
'Setiap lima tahun sekali, pemerintah mengeluarkan sebuah analisa. Kepada
rakyat diceriterakan bahwa ABRI (tentara) adalah organisasi terbaik di negeri
ini, terdiri dari orang-orang yang paling baik, orang-orang yang berpendidikan
paling hebat. Oleh karena itu tigapuluh tahun lamanya rakyat percaya bahwa tidak
mungkin tanpa ABRI. Dan sekarang hal itu masih dipercayai'.
'Joesoef berumur 76 . Jika ia berbicara apalagi bila ia tertawa, ia tampak
tambah muda sekali. Dan ia tampak jauh lebih kuat terbanding orang yang tiga
hari yang lalu terbaring di tempat tidur. Ia tiba-tiba tidak bisa bergerak
samasekali. Ini suatu pendarahan otak kecil, fikirnya. Maka ia sementara tak
merokok lagi. Di lantai terletak sobekan New York Times tertanggal 13 Februaru
2003. Separuh tulisan di situ adalah mengenai Joesoef Isak. Di atas sederet
buku-buku terdapat sebuah piagam pengharagaan: The Jeri Laber International
Freedom to Publish Award – penghargaan dari penerbit Amerika yang diperolehnya
tahun lalu sebagai penghargaan atas keberaniannya terus menerbitkan buku-buku
tanpa mempedulikan ancaman, intimidasi dan 'pemberangusan'. Disembunyikan di
belakang sejumlah buku tampak foto lama. Di situ tampak Joesoef dengan Pramoedya
Ananta Toer. Pramoedya novelis besar dan calon-Hadiah Nobel dengan siapa ia
hamir duapuluh lima tahun lamanya adalah penerbit dan editornya.
Sejenak ditatapnya foto itu dan ia terdiam. Foto itu telah menjadi sejarah
seperti foto lama dengan Profesor Wertheim ('benar-benar tukang-cela, dari
beliau saya banyak belajar', celetuk Joesoef). Dua tahun yang lalu dengan
menyedihkan telah berakhir kerjasama yang mesra. Ketika itu tiba-tiba saja
Pramoedya membatalkan semua kontrak dengan Joesoef. Penerbit terlalu sedikit
memberikan royalti kepadanya, begitu kata Pram. 'Joesoef yang melahap habis uang
saya itu'. Sekarang salah seorang dari putri Pramoedya yang menerbitkan
buku-bukunya. 'Sampai hari ini saya tidak bicara dengan dia. Saya menenangkan
diri saya dan mengatakan bahwa soal itu terletak pada telinganya. (Pramoedya
hampir tuli)'. Joesoef terlalu keras kepala, untuk pergi sendiri ke Pram.
'Tetapi jika ia mengundang saya besok, saya akan segera mendatanginya', kata
Joesoef.
Foto itu mengandung separuh kehidupan manusia. Selama duapuluh tahun Joesoef
adalah jurubicara Pramoedya. Adalah penerbit dan redaktur yang diberi kuassa
untuk mengadakan perubahan terhadap buku-buku sang master halmana memang
diperlukan. Tak pernah Pram berkeberatan terhadap suatu perubahan besar.
'Tampaknya, karena ia tidak pernah membaca lagi bukunya itu, kata Joesoef ',
demikianlah Pram. Ia lebih baik tidak melihatnya lagi teks yang ditulisnya. Pram
bilang, kaulah editor saya. Saya mempercayaimu. Lakukanlah apa yang kau anggap
perlu'. Joesoef puas tanpa nama . Kenyataan ialah bahwa bagian-bagian yang
banyak dipuji dari buku Pram itu, adalah bagian-bagian yang dibuat Joesoef.
'Saya selalu merasa bangga menjadi penerbit Pram. Pram adalah seorang literator
besar. Seorang yang benar-benr intelektuil.. Saya anggap adalah tugas politik
untuk menerbitkan buku-buku Pram. Tapi mungkin sikap saya itu juga sedikit suatu
sikap banga atas diri sendiri'.
Mereka berkenalan sejak sebelum 1965, ketika Pram anggota pengurus Lekra,
sebuah perhimpunan seniman kiri. Joesoef ketika itu pemimpin redaksi s.k.
Merdeka. Namun, kerjasama mereka baru dimulai dalam tahun 1970. Setelah mereka
keluar dari penjara. Pram datang dari pulau tahanan Buru dengan empat manuskrip
yang kemudian membikin dia terkenal di dunia. Dan Joesoef memilik kopi bawah
tanah dari sebuah dari buku-buku itu. Joesoef membacanya lalu menyimpulkan akan
baik sekali bila boleh menerbitkannya.
Dengan Hasyim Rachman, mereka sama-sama mendirikan Hasta Mitra (tangan sahabat).
Kemudian menerbitkan 'Bumi Manusia'. Bagian pertama dari tetralogi Buru itu.
Kontan buku itu jadi bestseller. Tetapi ketika terbit cetakan keenam, penguasa
Jakarta bertindak. Penguasa melarang Bumi Manusia dan bagian kedua 'Anak semua
bangsa'. Kemudian dua jilid lainnya yang menyusul juga dilarang. Namun,
kopi-kopi yang sudah terbit itu diperbanyak melalui pengkopian dalam jumlah
besar. Dan dijual diam-diam. Joesoef ditahan dan dua kali dipenjarakan (lagi).
Juga putranya ditangkap, ketika ia mengundang Pram untuk bicara di UI. Bapak dan
anak bagi penguasa merupakan bukti, bahwa hubungan keluarga bisa bahaya.
Penahanan bapak dan anak itu, merupakan permulaan politik baru. Selanjutnya
bukan saja para eks-tapol, tetapi juga anak-anaknya tidak boleh studi. Juga
tidak boleh bekerja di pemerintahan dan pekerjaan peka seperti guru, yustisi dan
jurnalistik.
Pramoedya selalu membantah bahwa ia komunis. Joesoef tidak membantah apapun.
(Karena) Ia bukan komunis. Tetapi ia ingin jadi komunis, katanya. 'Saya
benar-benar terpinspirasi. Pada PKI terdapat teman-teman saya. Seluruh
avant-garde ada di situ. Para pelopor dalam musik, dalam seni lukis, semua
komunis. Partai mengirimkan orang-orang ke konservatorium ke Berlin dan ke Roma.
Mereka mengangkat kesenian rakyat benar-benar pada taraf seni. Dari keroncong
mereka ciptakan simfoni. Simfoni Beethoven yang kelima dan keenam, tema-tema di
situ kecil saja. Soedarnoto mengambil tema dari empat baris dan menggubahnya
menjadi sebuah orkes simfoni. Kedengarannya seperti Per Gyntnya Edvard Grieg.
Joesoef tak pernah jadi anggota. 'Kamu fikir apa: Bahwa PKI itu adalah suatu
klab ibu rumahtangga. Sehingga kau bisa bergitu saja jadi anggota. Saya ketika
itu pemimpin redaksi s.k Merdeka, sebuah suratkabar yang benar-benar burjuis.
Dan saya beken sebagai anggota PSI, partai sosialis Indonesia. PSI, itu adalah
orang-orang salon-Sosialis. Sedikitnya orang harus lebih dahulu membuktikan
selama dua tahun jika mau jadi anggota PKI.'
Ia tidak sampai pembuktian dua tahun itu. Pada malam 30 September – 1 Oktober
1965, Indonesia tiba-tiba berubah.
Hampir seluruh pimpinan AD – enam jendral dan seorang perwira – malam itu
dibunuh. Orang-orang komunis yang disalahkan. PKI dilarang dan anggota-anggota
dan yang diduga simpatisan ditangkap. Mereka dibunuh atau hilang. Ratusan ribu
orang dibunuh dalam suatu kampanye yang disulut secara bernafsu oleh CIA
Amerika. Perebutan kekuasaan itu menjadikan Suharto penguasa. Indonesia dirampok
dari pelopornya zaman ketika itu. 'Seluruh intelejensia disapu bersih. Jika kau
merenggutkan kaum intelejensia, berarti kau telah merampok rakyat dari apa yang
paling berharga yang dimilikinya. Sejarah manusia selalu merupakan sejarah
intelejensia'.
Tak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi pada 30 September. Dan siapa
dibelakangnya. Tigapuluh tahun lamanya hanyalah versi Suharto yang
diceriterakan. Sekarang semua yang terlibat sudah mati. Joesoef banyak tau. Ia
juga 'banyak sekali tau' apa yang terjadi dalam tahun 1965, katanya. 'Seluruh
pimpinan tertinggi PKI sembunyi di rumah saya'. 'Tetapi makin banyak yang
diketahui, masalahnya semakin rumit'.
Tidak begitu sederhana sehingga dapat mengatakan bahwa PKI -lah yang
melakukannya. Ada dua PKI. Partai yang legal dan punya konstitusi. Ada yang
ilegal yang punya agenda lain. Yang ilegal yang terlibat dalam peristiwa 1965.
Apa yang terjadi pada tanggal 30 September, adalah suatu tumpang-tindih lebih
dari satu skenario. Yang dari CIA, yang dari PKI dan yang dari tentara. Semua
memata-matai semua.Tentara menyusupi PKI dan orang-orang komunis punya mata-mata
mereka di pimpinan tertinggi tentara. Dan semuanya punya rencananya
masing-masing. Itu adalah suatu 'masterpiece of intelligence'.
Yang tampak tidak jelas, ialah, pertanyaan 'masterpice' itu siapa punya. Yang
jelas ialah bahwa Suharto tampil sebagai pemenang. 'Suharto telah mampu
menggunakan itu semua. Ia tidak hodoh, seperti orang bilang. Ia cerdik. Ia
melihat kesempatan dan menggunakannya'. Joesoef masih melihat yang masih hidup
dari kaum intelejensi periode itu. 'Mereka semua eks-tapol, pada datang ketika
peluncuran 'Kapital'. Semua mereka marah: Marah pada CIA, dan marah pada
Indonesia. Sekarang mereka bicara tentang rekonsiliasi, tentang kompensasi,
tentang rehabilitasi. Harus dibentuk komisi rekonsiliasi , yang harus meluruskan
sejarah. Saya kira tak akan jadi apa-apa itu. Rehabilitasi yang mereka minta
adalah suatu ilusi. Mereka menginginkan sepucuk surat dengan ada stempelnya di
situ. Lagi-lagi itu adalah abstraksi yang jadi realita.
'Saya tidak mengatakan: Saya adalah seorang korban CIA, korban Suharto. Atau
korban Orde Baru. Saya bilang saya adalah musuh Suharto. Saya musuh Orde Baru.
Suharto telah tumbang. Tetapi seluruh sistim kekuasaan negara masih utuh.
Saya tidak akan menggerutu! Saya menerbitkan buku.
Bekerja! Itulah yang dapat dilakukan. Saya 76, tetapi saya jalan terus'.
Demikian singkatan teks wawancara Joesoef Isak dengan wartawan Belanda, Michel
Maas. Tulisan Michel Maas disiarkan di de Volkskrant dalam bahasa Belanda. Yang
diatas adalah terjemahan bebas dan sedikit dipadatkan.
* * *
MENGENANG KAN JOESOEF ISAK (2)
Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 20 Agustus 2009
-------------------------------
MENGENANG KAN JOESOEF ISAK (2)
Tulisan untuk ´MENGENANGKAN SAHABATKU TERCINTA, JOESOEF ISAK, Bg 2, dimulai dengan sedikit cerita bagaimana pengenalanku terhadap Ucup – sapaan akrab. Ternyata beliau ini adalah seorang Sukarnois. Sulit dicari samanya. Tadinya banyak orang, termasuk penulis ini, mengira Joesoef adalah seorang PSI. Rosihan Anwar yang ´dekat sekali´ dengan PSI, meskipun tidak terang-terangan mau menyatakannya, juga punya pendapat seperti itu.
Nyatanya Joesoef Isak bukanlah orang PSI. Meskipun habitatnya – meminjam istilah Rosihan – adalah PSI. Joesoef Isak sendiri dalam wawancaranya dengan wartawan Belanda, de Volkskrant, untuk Jakarta, Michel Maas,menyatakan, bahwa orang umumnya menyangka Joesoef Isak itu orang PSI. Orang tambah terkejut karena Joesoef mengatakan kepada Michel Maas bahwa orang-orang PSI itu adalah ´salon-sosialis´. Tetapi Joesoef Isak juga menyatakan bahwa dia bukan anggota PKI. Tidak mudah jadi anggota PKI, kata Joesoef.
Joesoef Isak memang benar adalah seorang Sukarnois tulen! Antara lain bisa dibaca dalam perdebatannya di s.k. De Volkskrant, dengan Rudy Kausebroek, wartawan kawakan Belanda. Mereka berkonfrontasi dalam perdebatan mengenai pelbagai topik. Tetapi yang paling seru adalah mengenai Bung Karno, bagaimana sikap Bung Karno ketika periode pendudukan Jepang, dan mengenai Demokrasi Terpimpin konsep Bung Karno. Rudy Kousebroek yang melancarkan serangan. Joesoef yang membela Bung Karno dan konsepnya.
Memang dimana saja Joesoef menulis berkaitan dengan Bung Karno, maka Joesoef akan tampil dengan argumentasinya yang keras dan beralasan membela Bung Karno, sejarahnya, visinya dan misinya. Dari tulisan-tulisan Joesoef mengenai Bung Karno dan konsepsinya, orang akan tiba pada kesimpulan, bahwa Joesoef Isak benar-benar memahami, menguasai dan membela ide-ide dan ajaran Bung Karno.
* * *
Aku selamanya menganggap cukup mengenal Bung Karno sebagai konseptor, inspirator dan aktivis ulung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ternyata pengenalan dan pemahamanku itu, tidak semendalam apa yang difahami dan dihayati oleh Joesoef Isak. Harus kuakui, bahwa sesudah lebih dekat dengan Joesoef Isak, pemahaman dan pengenalanku terhadap ajaran-ajaran Bung Karno bertambah. Baik dalam keluasannya maupun kedalamannya.
Joesoef Isak, bukan dalam omongannya saja seorang SUKARNOIS.Tetapi terutama dalam tindakan dan tulisan-tulisannya. Justru pandangan Sukarnois ini yang membikin Joesoef Isak, bisa berdialog dengan siapa saja, yang beda pandangan dengan dia. Joesoef juga memahami langgam Bung Karno berkomunikasi dengan orang lain yang punya pandangan lain.
Kalau dikemukakan di sini tak ada kujumpai orang lain yang begitu gairah dan yakin mengenai ajaran-ajaran Bung Karno, yang bisa disamakan dengan Joesoef Isak, pernyataan ini sangat beralasan.
Aku kenal sejak dulu, seorang tokoh dan pemimpin politik, salah seorang intelektual dan budayawan Indonesia. Dia itu Komunis, -- Nyoto, namanya. Beliaulah yang beberapa kali menjadi ´gostwriter´nya Presiden Sukarno. Yang menyiapkan pidato-pidato Presiden untuk peringatan hari 17 Agustus. Ada juga lainnya yang mengajukan konsep pidato 17 Agustus kepada Presiden Sukanro. Tetapi Sukarno memilih konsep yang dibuat Nyoto. Sehingga, dari satu jurusan tertentu, ada yang mengkomentari bahwa Nyoto itu, lebih Sukarnois dari Sukarno sendiri. Yang tambah menarik ialah bahwa ´Sukarnois´ Nyoto itu, --- juga dekat dengan Sukarnois Joesoef Isak. Tidak kebetulan bahwa ketika Nyoto dikejar-kejar aparat sesudah G30S, dengan tuduhan terlibat – tanpa bukti dan tanpa diadili – tempat Nyoto bermalam adalah di rumah Joesoef Isak. Suatu risisko besar sekali bagi Joesoef Isak menjadikan rumahnya tempat Nyoto menyelamatkan diri. Aku fikir, yang membuat mereka dekat satu sama lainnya, ialah kesamaan pandangan Joesoef dan Nyoto mengenai Bung Karno dan ajaran-ajarannya. Makanya bisa dimengerti mengapa Tempo yang mempersiapkan penerbitan mengenai Nyoto, mengundang Joesoef Isak pada tanggal 14 Agustus malam yang lalu, berdiskusi bersama lainnya yang dianggap sedikit banyak kenal siapa Nyoto.
* * *
Sesuai dengan ajaran Bung Karno, Joesoef selalu menekankan, mutlak perlunya dibangun pesatuan bangsa Indonesia. Bukan sebarang persatuan, tetapi suatu PERSATUAN YANG PROGRESIF REVOLUSIONER. Inilah satu-satunya jalan menyelamatkan bangsa dan Republik Indonesia. Jalan menuju keadilan dan kemakmuran.
Oleh karena itu ketika Subadio Sastrosatomo, embahnya PSI, sesudah meninggalnya Sutan Sjahrir, menyatakan perlunya para pendukung Bung Karno, pendukung Bung Syahrir dan pendukung Bung Hatta bersatu demi menyelamatkan tanah air dan bangsa, pernyataan ini segera disambut oleh Joesoef Isak. Ia aktif pula mensosialisasikan ide tsb.
Dimana saja Joesoef Isak sempat bicara dengan kaum muda, ia selalu mengajukan ide tentang perlunya belajar dari sejarah bangsa. Joesoef setiap kali mengulang-ulang kata-kata Bung Karno -- SEKALI-KALI JANGAN MELUPAKAN SEJARAH BANGSA.
* * *
Ketika mengajukan ide-idenya berkenaan dengan SERATUS TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL, Joesoef mengajukan kepadaku a.l. Sbb.
´Apakah moral dan message paling inti dan paling hakekat dari peristiwa Kebangkitan Nasionlal 100 tahuh yang lalu itu???
This is it : PERSATUAN NASIONAL ! ! Karena Persatuan Nasional kita merdeka, karena Persatuan Nasional kita Kuat dan Mandiri, karena Persatuan Nasional amburadul negeri terimbas amburadul, akibatnya negeri serba tergantung, rakyat sengsara, cuma segelintir elit yang tetap senang.
Kata Joesoef -- Setelah menjalani100 Tahun, sudah waktunya bikin satu moment-opname tentang situasi dan kondisi Indonesia hari ini. Dengan berat dan sedih inilah kesimpulannya : Indonesia dengan bumi kaya-raya melimpah-ruah, memiliki rakyat yang sangat miskin di dunia; dan rakyat yang miskin ini memiliki paling banyak elit yang milyuner dollar. Opo ora sedih setelah 100 tahun bangkit dan 60 tahun lebih merdeka?
Seperti diamanatkan Bung Karno, sejarah jangan sekali-kali dilupakan. Sejarah harus dikuasai dan dipelajari betul bukan hanya untuk bernostalgi pada prestasi masa lalu, akan tetapi terpenting justru untuk menarik pelajaran guna dengan lebih baik lagi menangani dan memasuki masa-depan.
Sejarah memiliki kandungan moral, bagaimana secara benar dan tepat memaknainya???
Sejarah menuntut dari kita semua, kesediaan dan kemampuan untuk self-koreksi, mawas-diri. Meaning? Semua pihak, semua institusi birokrasi, orpol, ormas, perorangan, tanpa kecuali, mau dan berani membedah dan membenahi diri untuk tidak mengulangi, untuk mencegah semua bentuk kebodohan dan kesalahan yang mubasir di masa lalu ! ! ! Kemubasiran yang telah dan
masih terus harus dibayar dengan peringkat kemajuan negeri yang terpuruk dan rakyat yang berkelanjutan hidup miskin sampai hari ini.
Apa kandungan amanat yang built-in dalam manifestasi Kebangkitan Nasional. Ini : menegakkan kemerdekaan, kesejahteraan adil-makmur dan kemandirian dengan agenda permanen berlawan terhadap kekuatan yang menghambat dan mau mentiadakan kemerdekaan dan kemandirian tersebut - di mana, kapan dan oleh siapa pun. Tragis sekali kalau ada segmen masyarakat -- karena ketidak-matangan dan ignorance politik, malah membantu dan berjalan seiring-sejalan dengan kekuatan yang agendanya justru menggerogoti kemerdekaan, kemandirian dan
What to do, how and where to begin now?
Kita sudah cukupan menikmati demokrasi, tetapi defisit sekali nasionalisme. Demokrasi mutlak diperlukan, tetapi hanya demokrasi yang berisi nasionalisme modern yang cinta tanah-air, cinta rakyat -- dengan sendirinya watak nasionalisme yang selalu mementingkan rakyat di atas segala-galanyanya, jijik pada korupsi, konsiten menolak ketergantungan dalam segala bentuk. Untuk itu perlu dimulai dengan membenahi kerangka-berpikir (mind-set) rancu yang digendong-gendong selama ini.
Diperlukan mind-set revolusioner yang membangun nasionalisme modern, membangun kebiasaan (habit) cinta rakyat, habit memelihara persatuan yang positif, benar dan produktif bagi rakyat dan negeri, bukan persatuan asal persatuan sekalipun dengan unsur-unsur negatif yang justru
meredusir kemerdekaan dan kemandirian.
Demikian Joesoef Isak dalam salah satu pesannya kepadaku untuk MEMPERINGATI SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL
* * *
Siapa menduga bahwa hal-hal yang dikemukakan diatas --- adalah ide yang muncul dari Joesoef Isak?
Cobalah analisis teliti, semua yang dikatakan Joesoef Isak itu, – – – konsepsionil, seratus persen adalah SUKARNOISME yang ditrapkan dalam situasi kongkrit Indonesia dewasa ini!
* * *
Kemis, 20 Agustus 2009
-------------------------------
MENGENANG KAN JOESOEF ISAK (2)
Tulisan untuk ´MENGENANGKAN SAHABATKU TERCINTA, JOESOEF ISAK, Bg 2, dimulai dengan sedikit cerita bagaimana pengenalanku terhadap Ucup – sapaan akrab. Ternyata beliau ini adalah seorang Sukarnois. Sulit dicari samanya. Tadinya banyak orang, termasuk penulis ini, mengira Joesoef adalah seorang PSI. Rosihan Anwar yang ´dekat sekali´ dengan PSI, meskipun tidak terang-terangan mau menyatakannya, juga punya pendapat seperti itu.
Nyatanya Joesoef Isak bukanlah orang PSI. Meskipun habitatnya – meminjam istilah Rosihan – adalah PSI. Joesoef Isak sendiri dalam wawancaranya dengan wartawan Belanda, de Volkskrant, untuk Jakarta, Michel Maas,menyatakan, bahwa orang umumnya menyangka Joesoef Isak itu orang PSI. Orang tambah terkejut karena Joesoef mengatakan kepada Michel Maas bahwa orang-orang PSI itu adalah ´salon-sosialis´. Tetapi Joesoef Isak juga menyatakan bahwa dia bukan anggota PKI. Tidak mudah jadi anggota PKI, kata Joesoef.
Joesoef Isak memang benar adalah seorang Sukarnois tulen! Antara lain bisa dibaca dalam perdebatannya di s.k. De Volkskrant, dengan Rudy Kausebroek, wartawan kawakan Belanda. Mereka berkonfrontasi dalam perdebatan mengenai pelbagai topik. Tetapi yang paling seru adalah mengenai Bung Karno, bagaimana sikap Bung Karno ketika periode pendudukan Jepang, dan mengenai Demokrasi Terpimpin konsep Bung Karno. Rudy Kousebroek yang melancarkan serangan. Joesoef yang membela Bung Karno dan konsepnya.
Memang dimana saja Joesoef menulis berkaitan dengan Bung Karno, maka Joesoef akan tampil dengan argumentasinya yang keras dan beralasan membela Bung Karno, sejarahnya, visinya dan misinya. Dari tulisan-tulisan Joesoef mengenai Bung Karno dan konsepsinya, orang akan tiba pada kesimpulan, bahwa Joesoef Isak benar-benar memahami, menguasai dan membela ide-ide dan ajaran Bung Karno.
* * *
Aku selamanya menganggap cukup mengenal Bung Karno sebagai konseptor, inspirator dan aktivis ulung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ternyata pengenalan dan pemahamanku itu, tidak semendalam apa yang difahami dan dihayati oleh Joesoef Isak. Harus kuakui, bahwa sesudah lebih dekat dengan Joesoef Isak, pemahaman dan pengenalanku terhadap ajaran-ajaran Bung Karno bertambah. Baik dalam keluasannya maupun kedalamannya.
Joesoef Isak, bukan dalam omongannya saja seorang SUKARNOIS.Tetapi terutama dalam tindakan dan tulisan-tulisannya. Justru pandangan Sukarnois ini yang membikin Joesoef Isak, bisa berdialog dengan siapa saja, yang beda pandangan dengan dia. Joesoef juga memahami langgam Bung Karno berkomunikasi dengan orang lain yang punya pandangan lain.
Kalau dikemukakan di sini tak ada kujumpai orang lain yang begitu gairah dan yakin mengenai ajaran-ajaran Bung Karno, yang bisa disamakan dengan Joesoef Isak, pernyataan ini sangat beralasan.
Aku kenal sejak dulu, seorang tokoh dan pemimpin politik, salah seorang intelektual dan budayawan Indonesia. Dia itu Komunis, -- Nyoto, namanya. Beliaulah yang beberapa kali menjadi ´gostwriter´nya Presiden Sukarno. Yang menyiapkan pidato-pidato Presiden untuk peringatan hari 17 Agustus. Ada juga lainnya yang mengajukan konsep pidato 17 Agustus kepada Presiden Sukanro. Tetapi Sukarno memilih konsep yang dibuat Nyoto. Sehingga, dari satu jurusan tertentu, ada yang mengkomentari bahwa Nyoto itu, lebih Sukarnois dari Sukarno sendiri. Yang tambah menarik ialah bahwa ´Sukarnois´ Nyoto itu, --- juga dekat dengan Sukarnois Joesoef Isak. Tidak kebetulan bahwa ketika Nyoto dikejar-kejar aparat sesudah G30S, dengan tuduhan terlibat – tanpa bukti dan tanpa diadili – tempat Nyoto bermalam adalah di rumah Joesoef Isak. Suatu risisko besar sekali bagi Joesoef Isak menjadikan rumahnya tempat Nyoto menyelamatkan diri. Aku fikir, yang membuat mereka dekat satu sama lainnya, ialah kesamaan pandangan Joesoef dan Nyoto mengenai Bung Karno dan ajaran-ajarannya. Makanya bisa dimengerti mengapa Tempo yang mempersiapkan penerbitan mengenai Nyoto, mengundang Joesoef Isak pada tanggal 14 Agustus malam yang lalu, berdiskusi bersama lainnya yang dianggap sedikit banyak kenal siapa Nyoto.
* * *
Sesuai dengan ajaran Bung Karno, Joesoef selalu menekankan, mutlak perlunya dibangun pesatuan bangsa Indonesia. Bukan sebarang persatuan, tetapi suatu PERSATUAN YANG PROGRESIF REVOLUSIONER. Inilah satu-satunya jalan menyelamatkan bangsa dan Republik Indonesia. Jalan menuju keadilan dan kemakmuran.
Oleh karena itu ketika Subadio Sastrosatomo, embahnya PSI, sesudah meninggalnya Sutan Sjahrir, menyatakan perlunya para pendukung Bung Karno, pendukung Bung Syahrir dan pendukung Bung Hatta bersatu demi menyelamatkan tanah air dan bangsa, pernyataan ini segera disambut oleh Joesoef Isak. Ia aktif pula mensosialisasikan ide tsb.
Dimana saja Joesoef Isak sempat bicara dengan kaum muda, ia selalu mengajukan ide tentang perlunya belajar dari sejarah bangsa. Joesoef setiap kali mengulang-ulang kata-kata Bung Karno -- SEKALI-KALI JANGAN MELUPAKAN SEJARAH BANGSA.
* * *
Ketika mengajukan ide-idenya berkenaan dengan SERATUS TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL, Joesoef mengajukan kepadaku a.l. Sbb.
´Apakah moral dan message paling inti dan paling hakekat dari peristiwa Kebangkitan Nasionlal 100 tahuh yang lalu itu???
This is it : PERSATUAN NASIONAL ! ! Karena Persatuan Nasional kita merdeka, karena Persatuan Nasional kita Kuat dan Mandiri, karena Persatuan Nasional amburadul negeri terimbas amburadul, akibatnya negeri serba tergantung, rakyat sengsara, cuma segelintir elit yang tetap senang.
Kata Joesoef -- Setelah menjalani100 Tahun, sudah waktunya bikin satu moment-opname tentang situasi dan kondisi Indonesia hari ini. Dengan berat dan sedih inilah kesimpulannya : Indonesia dengan bumi kaya-raya melimpah-ruah, memiliki rakyat yang sangat miskin di dunia; dan rakyat yang miskin ini memiliki paling banyak elit yang milyuner dollar. Opo ora sedih setelah 100 tahun bangkit dan 60 tahun lebih merdeka?
Seperti diamanatkan Bung Karno, sejarah jangan sekali-kali dilupakan. Sejarah harus dikuasai dan dipelajari betul bukan hanya untuk bernostalgi pada prestasi masa lalu, akan tetapi terpenting justru untuk menarik pelajaran guna dengan lebih baik lagi menangani dan memasuki masa-depan.
Sejarah memiliki kandungan moral, bagaimana secara benar dan tepat memaknainya???
Sejarah menuntut dari kita semua, kesediaan dan kemampuan untuk self-koreksi, mawas-diri. Meaning? Semua pihak, semua institusi birokrasi, orpol, ormas, perorangan, tanpa kecuali, mau dan berani membedah dan membenahi diri untuk tidak mengulangi, untuk mencegah semua bentuk kebodohan dan kesalahan yang mubasir di masa lalu ! ! ! Kemubasiran yang telah dan
masih terus harus dibayar dengan peringkat kemajuan negeri yang terpuruk dan rakyat yang berkelanjutan hidup miskin sampai hari ini.
Apa kandungan amanat yang built-in dalam manifestasi Kebangkitan Nasional. Ini : menegakkan kemerdekaan, kesejahteraan adil-makmur dan kemandirian dengan agenda permanen berlawan terhadap kekuatan yang menghambat dan mau mentiadakan kemerdekaan dan kemandirian tersebut - di mana, kapan dan oleh siapa pun. Tragis sekali kalau ada segmen masyarakat -- karena ketidak-matangan dan ignorance politik, malah membantu dan berjalan seiring-sejalan dengan kekuatan yang agendanya justru menggerogoti kemerdekaan, kemandirian dan
What to do, how and where to begin now?
Kita sudah cukupan menikmati demokrasi, tetapi defisit sekali nasionalisme. Demokrasi mutlak diperlukan, tetapi hanya demokrasi yang berisi nasionalisme modern yang cinta tanah-air, cinta rakyat -- dengan sendirinya watak nasionalisme yang selalu mementingkan rakyat di atas segala-galanyanya, jijik pada korupsi, konsiten menolak ketergantungan dalam segala bentuk. Untuk itu perlu dimulai dengan membenahi kerangka-berpikir (mind-set) rancu yang digendong-gendong selama ini.
Diperlukan mind-set revolusioner yang membangun nasionalisme modern, membangun kebiasaan (habit) cinta rakyat, habit memelihara persatuan yang positif, benar dan produktif bagi rakyat dan negeri, bukan persatuan asal persatuan sekalipun dengan unsur-unsur negatif yang justru
meredusir kemerdekaan dan kemandirian.
Demikian Joesoef Isak dalam salah satu pesannya kepadaku untuk MEMPERINGATI SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL
* * *
Siapa menduga bahwa hal-hal yang dikemukakan diatas --- adalah ide yang muncul dari Joesoef Isak?
Cobalah analisis teliti, semua yang dikatakan Joesoef Isak itu, – – – konsepsionil, seratus persen adalah SUKARNOISME yang ditrapkan dalam situasi kongkrit Indonesia dewasa ini!
* * *
JOESOEF ISAK SUKARNOIS KONSISTEN
IBRAHIM ISA
----------------
23 Juli 2008
JOESOEF ISAK, Sukarnois, Penerbit 'Hasta Mitra' *)
Menulis tentang salah seorang sahabatku yang paling akrab, Sukarnois
JOESOEF ISAK , kali ini dalam rangka menyambut ultahnya yang ke-80, tak
bisa tidak, terkait nama 'HASTA MITRA', penerbit buku bermutu. Demikian
pula halnya, menulis tentang fikiran dan cita-cita perjuangan Joesoef
Isak, pasti tak bisa dilepaskan dari nama Bung Karno, serta ajaran Bung
Karno mengenai revolusi Indonesia.
Aku katakan Joesoef Isak adalah Sukarnois. Memang demikianlah
sesungguhnya! Memang fakta-faktanya demikianlah adanya.
Periksalah tulisan-tulisan pakar, wartawan, maupun penulis lainnya,
mengenai Bung Karno. Apalagi yang orang asing. Mereka itu merasa tidak
afdhal, merasa berdosa, bila tidak mengangkat sera menonjol-nonjolkan
kekurangan-kekurangan, atau 'cacad' Bung Karno dalam kehidupan
pribadinya. Mereka merasa kurang lengkap menulis jika tidak
mendeskreditkan Bung Karno secara politik, melakukan 'character
asassination' , memfitnah Bung Karno sebagai 'kolaborator Jepang' dan
penggerak kerja paksa 'romusha', sebagai 'petualangan revolusioner',
bahkan sebagai 'Komunis' dan dalang 'G30S'. Beberapa tulisan dan
wawancara penting Joesoef Isak, serta sementara sejarawan generasi baru
telah menangkis tuduhan dan fitnahan tsb, mendudukkan Bung Karno pada
tempat dan peranannya yang sesungguhnya dan teramat penting dalam
sejarah pergerakan dan revolusi kemerdekaan Indonesia. Pembelaan Joesoef
Isak mengenai peranan Bung Karno dalam sejarah Indonesia, serta
uraiannya yang konsisten dan mantap mengenai ide-ide dan fikiran Bung
Karno, merupakan fakta-fakta kongkrit yang menunjukkan bahwa Joesoef
Isak adalah murid setia Bung Karno, adalah Sukarnois sejati.
Lihat dan periksa sendiri tulisan-tulisan Joesoef Isak mengenai Bung
Karno dan ajaran-ajarannya. Asal saja orang punya sedikit kejujuran
terhadap kenyataan dan fakta, pastilah mengakui bahwa Joesoef Isak
termasuk yang paling banyak menulis serta menguraikan ajaran Bung Karno
sehubungan dengan gerakan kemerdekaan dan revolusi Indonesia.
Sehubungan dengan sosialisasi mengenai peranan dan kepemimpinan Bung
Karno dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, entah sudah berapa buah
buku yang diterbitkan oleh Penerbit Hasta Mitra.
* * *
Catat ini:
Hasta Mitra di bawah pimpinan Joesoef Isak, adalah satu-satunya penerbit
Indonesia yang berani muncul dan melakukan kegiatannya secara legal
selagi Indonesia masih ada di bawah kekuasaan rezim Orba. Penerbit Hasta
Mitra secara terbuka dan berani blak-blakan menantang penguasa, yang
menindas hak-hak warganegara, untuk dengan bebas menyatakan fikiran dan
menerbitkannya. Jangan lupakan satu lagi catatan penting dan unik: Itu
dilakukannuya sambil merangkul orang kedua berkuasa Orba ketika itu,
Wapres Adam Malik. Demi suksesnya rencana menerbitkan buku Pramudya yang
pertama dan paling terkenal BUMI MANUSIA (Jakarta, 1981), Joesoef dan
Hasyim Rakhman langsung pergi mengunjungi Wapres Adam Malik di rumah
wakil presiden RI. Hebatnya, rangkulan jalan pintas itu berhasil. Wapres
Adam Malik menyatakan OK serta memuji karya partama pulau Buru Pramudya.
Tetapi Jaksa Agung RI yang selalu bertindak sebagai pentung Orba,
cepat-cepat melarang buku Pram itu. Tokh cetakan pertama Bumi Manusia
oleh Hasta Mitra, dalam beberapa hari saja sudah habis terjual. Semua
itu tak terlepas dari ide dan perjuangan Joesoef Isak, Hasyim Rakhman
dan para sukarelawan terutama yang muda-muda. Nasib baik buku Bumi
Manusia, makin dilarang makin populer, makin dicari orang yang ingin
membacanya. Sampai-sampai petugas intel yang menginterogasi Joesoef,
berkenaan dengan terbitnya Bumi Manusia, dengan sembunyi-sembunyi takut
ketauan orang-orang kantornya, minta-minta kepada Joesoef sambil
bisik-bisik: Pak Joesoef, masih ada enggak satu buah Bumi Manusia untuk
saya, istri saya ingin membacanya!! Syukur alhamdulillah, masih ada
'orang dalam' yang akhirnya tokh benar-benar tertarik untuk membaca buku
Pram Bumi Manusia.
* * *
Mishi Sharam, wartawan s.k. Amerika 'International Herald Tribune'
(Neuilly-sur-Seine, France), 06 April 1999, menulis tentang hubungan
perjuangan Joesoef Isak dan Pramudya Ananta Tur. Terjemahan bebas ke
dalam bahasa Indonesia, sbb:
"Pramudya punya senjata rahasia. Orang yang memeriksa dan menyusun
kembali tumpukan kertas lepas mengenai masa lampau Pramudya,
mengumpulkan bahan-bahan tsb dan kemudian mengeditnya, adalah Joesoef
Isak. Mantan jurnalis yang senyum-kecil itu, adalah sahabat karib
penulis itu dan adalah seorang tahanan politik yang sepuluh tahun
lamanya meringkuk di sebuah penjara Jakarta. Untuk 20 tahun lamanya,
Joesoef membujuk Pram agar keluar dengan ceritanya yang benar dan ia
menyusun kembali tulisan Pram. Ia sibuk di sekitar Pram, menyemat
bajunya yang lepas dan sesekali bilang kepada Pram apa yang yang harus
dikatakannya.. . . Beberapa tahun yang lalu, seorang tentara memukul
kepala Pram dengan popor bedil; ia kemdian menderita gegar otak dan luka
itu infeksi, yang kemudian merintangi pendengarannya dan kemampuannya
untuk berkomunikasi. Itu membuat Pram segan untuk bicara dengan orang
luar, maka ia sering mengalihkan orang yang mau bicara dengan dia kepada
Joesoef.
"Kepercayaan Pram pada Joesoef adalah mutlak. Joesoef: -- 'Ketika Pram
'bebas', ia datang pada saya dengan setumpuk kertas usang, betul-betul
kertas usang. Ia mengatakan: 'Joesoef, saya menemukan kertas-kertas ini.
Bacalah. Bila menarik, barangkali kau bisa menyusun buku', kata Pram.
Demikianlah, Joesoef lalu menyusun masing-masing babak dalam memoir tsb
menjadi cerita tersendiri. Ia membagi fragmen-fragmen tulisan itu
menjadi tiga seksi."
Demikian tulis wartawan International Herald Tribune, Mishi Sharam,
sembilan tahun yang lalu.
Sesungguhnya apa yang ditulis oleh wartawan 'IHT' tsb sudah pernah
diceriterakan oleh Joesoef Isak kepadaku ketika kami bertemu pertama
kali pada saat Joesoef Isak berkunjung ke Keulen, Jerman. Dalam
cakap-cakap kami bersama Suraedi Tahsin (Amsterdam) dan Umar Said
(Paris) ketika itu Joesoef a.l. sempat menceriterakan tentang
kunjungannya ke Kedutaan AS di Jakarta, dan pembicaraannya dengan wakil
dubes AS di Jakarta, serta dengan utusan khusus Presiden AS Jimmy
Carter, yang dikirim oleh Presiden AS itu untuk melakukan tekanan kepada
Suharto agar tidak terus-menerus memenjarakan orang-orang tanpa proses
pengadilan.
* * *
Menulis tentang JOESOEF ISAK, duapuluh tahunan belakangan ini,
sesungguhnya tak bisa terlepaskan dari 'TETRALOGI' karya Pramudya Ananta
Tur: 'Bumi Manusia', 'Rumah Kaca', 'Jejak Langkah' dan 'Anak Semua
Bangsa'. Yang semuanya terbit di bawah asuhan editor Joesoef Isak dan
dimasyarakatkan oleh penerbit Hasta Mitra yang dipimpin oleh Joesoef
Isak bersama Pram dan Hasyim Rakhman. Tanpa Hasta Mitra, tidak bisa
dibayangkan bisa terbitnya di bawah rezim Orba, Tetralogi Pramudya tsb .
Kemudian dilanjutkan dengan terbitnya terjemahan karya-karya Pram tsb
dalam bahasa asing di luarnegeri, sehingga Pram dan Tetraloginya dikenal
luas di dunia internasional, sebagai novelis terbesar Indonesia dewasa
ini.
* * *
Joesoef Isak memang berani beravontur, berlanglang buana ke luarnegeri,
padahal ketika itu ia belum lama keluar penjara Orba. Selain itu, ia
tiap kali masih harus lapor ke penguasa militer setempat. Statusnya
masih ET, eks tapol. KTP-nya masih ada tulisan 'ET' di paling atas.
Lalu, apa pasalnya Joesoef mau ke luar negeri? Sasarannya ialah negeri
Belanda. Joesoef tau ada sahabatnya mantan pemimpin s.k Bintang Timur,
yang kemudian diangkat Bung Karno jadi dubes RI di Mali, Suraedi Tahsin,
yang akhirnya menjadi seorang eksil di Belanda. Sebagai hasil
kongko-kongko mereka berdua, berdirilah 'Manus Amici', penerbit dan toko
buku di Amsterdam, yang dimaksudkan mereka nantinya bertindak sebagai
perwakilan Hasta Mitra, di Amsterdam. Itulah yang akan menerbitkan
karya-karya Pram di luarnegeri. Memang, kemudian terbit edisi bahasa
Belanda pertama di Amsterdam oleh Manus Amici bersama penerbit Belanda
lainnya. Joesoef Isak berhasil menerobos intel tentara pergi ke Keulen,
Jerman, dengan menutup tanda ET pada KTP-nya, mengkopinya, dan
menyerahkannya kepada sebuah travelbureau untuk mengurus paspor dan
ticket.
Apa yang dilakukan Joesoef Isak, menerobos ke luar negeri, lolos dari
pengawasan Kopkamtib, pasti akan dibilang orang sebagai avontur yang
penuh risiko. Kan bisa dicekal lagi dan dijebloskan kembali ke penja ra
Salemba. Apa Joesoef tidak takut? Takut . . . . ? Joesoef Isak jelas
menyadari bahwa ia bukannya malaekat. Ia manusia biasa, yang juga punya
rasa takut. Hal itu, terus terang diceritakannya kemudian, ketika
cakap-cakap dengan sementara kawan Indonesia, di Restoran Indonesia
Paris. Joesoef terus terang menyatakan,
bahwa, sebagai manusia biasa, tentu saja ia juga punya rasa takut.
Tetapi, kata Joesoef, rasa takut itu jangan diperlihatkan di hadapan
musuh. Yang penting ialah dalam keadaan bagaimanapun teruskan perjuangan
itu.
* * *
Nama Joesoef Isak juga tak bisa terpisahkan lagi dengan Penerbit Hasta
Mitra, anak kandungnya sendiri. Di rumahnya itulah, Duren Tiga No 36,
Jakarta, Hasta Mitra berkantor. Diruangan ukuran pas-pasan itu ia
menerima tamu, sahabat, handai-taulan dari dalam dan luarnegeri. Joesoef
sudah sejak menjadi 'ET' - eks tapol, dikunjungi makin banyak orang.
Selain wartawan profesional, penulis dan penerbit, yang tak kalah
penting, Joesoef Isak adalah, kata orang Belanda, menjadi 'vraagbak'.
Alamat yang dicari dan didatangi orang. Ia menjadi tempat yang bisa
dipercayai untuk bertanya mengenai situasi aktual dan lampau Indonesia,
sebagai partner bertukar fikiran dan mendengar cerita penderitaan para
tapol di dalam tahanan Orba.
Bicara politik dengan Joesoef Isak, bertukar-fikiran mengenai hal-hal
yang sangat mendetail dan akurat, orang tak akan merasa khawatir, bahwa
Joesoef akan cerita 'yang tidak-tidak' atau isapan jempol belaka.
Joesoef tidak hanya mengungkap fakta-fakta dan episode-episode kejadian
politik, yang tak akan ditemukan di media terbuka. Tetapi juga
memberikan analisa dan penilaiannya sendiri. Joesoef banyak memiliki,
katakanlah, 'inside information', maka analisisnya terhadap situasi
sungguh mendasar, membikin pendengarnya ketika meninggalkan rumah
Joesoef, menjadi 'wel-informed' mengenai 'the who's and the why's'
tentang negeri ini.
Joesoef dan Hasta Mitra, dua kata itu sudah menyatu, senyawa. Sebab,
Hasta Mitra, itulah urusan dan perjuangan Ucup - sapaan akrab - begitu
ia keluar dari penjara Salemba. Sebelumnya ia aktif sebagai Sekjen PWAA,
Persatuan Wartawan Asia-Afrika. Pernah pemimpin surat kabar 'Merdeka'.
Ucup memang wartawan, kini wartawan senior dan kawakan, tetapi bukan
sebarang wartawan. Ia pertama-tama adalah seorang wartawan pejuang yang
punya visi dan misi. Perjuangannya merealisasi visi dan misinya,
mengimbau rasa hormat dan respek, terutama dari luarnegeri. Mungkin yang
di dalam negeri belum punya syarat atau bahkan belum berani terus terang
menyatakan penghargaan dan rasa respek kepada Joesoef Isak sehubungan
dengan perjuangannya demi kebebasan menyatakan pendapat dan
menerbitkannya. Meskipun aku yakin, tidak sedikit orang Indonesia
menghormati dan menghargai Joesoef Isak sebagai patriot dan pejuang
untuk demokrasi, khususnya untuk pelaksanaan hak untuk dengan bebas
menyatakan pendapat dan menyiarkannya.
Penghargaan awal dan terbuka yang datang dari lingkungan media, pembela
demokrasi dan HAM, yang pasti kita tau, adalah dari perkumpulan PEN
Amerika, kemudian Australia, Perancis dan Belanda. Penghargaan dari
Belanda ini patut dicatat khusus karena memang lain dari pada yang lain.
Siapa tidak tau bahwa Joesoef Isak adalah seorang yang
progresif-revolusioner, orang Kiri, Sukarnois, dalam praktek dan
konsistensinya, jauh melebihi Sukarnois-Sukarnois atau Marhaenis
lainnya, yang mengklaim diri atau kelompoknya sebagai Sukarnois atau
Marhaenis.
Tapi di luar dugaan siapapun, baik yang di luar negeri apalagi yang di
Indonesia, bahwa penyerahan Wertheim Award 2005 kepada Joesoef Isak dan
Goenawan Mohammad dilakukan di wilayah Republik Indonesia di Belanda,
yaitu di ruang Nusantara Kedutaan Besar Republik Indonesia, Tobias
Asserlaan 8, Den Haag, Holland. Bagaimana mungkin hal yang demikian bisa
terjadi!. Tokh terjadi. Seperti halnya pernah Wapres RI Adam Malik,
wakilnya Presiden Suharto, menyanbut baik terbitnya buku Pramudya 'Bumi
Manusia'. Seperti juga utusan khusus Presiden AS Jimmy Carter, Patricia
Derien, sengaja menemui Joesoef Isak, bicara dengannya dan kemudian
mantan Presiden Carter sendiri, menyatakan penghargaan terhadap Joesoef
Isak sebagai 'a respected publisher who represented himself and
thousands of other political prisoners, many of whom had been imprisoned
since the mid-1960s, . . . mantan Presiden AS Jimmy Carter mengenai Joesoef Isak: bahwa ia adalah .
. 'seorang publisis yang terhormat, yang mewakili dirinya sendiri dan
ribuan tapol lainnya, yang banyak diantara mereka itu ditahan sejak
pertengahan tahun 1960-an ... . . .>
* * *
Maka: - - Apa yang paling baik dinyatakan kepada Joesoef Isak ketika ia
memasuki umur 80th, selain, Happy birthday? SELAMAT ULTAH KE-80, semoga
sehat dan panjang umur, bahagia sekeluarga? Tentu, kata-kata itu harus
dinyatakan kepadanya. Karena harapan yag dinyatakan itu, memang
sesungguhnyalah demikian, bukan 'baso-basi' saja. Supaya Joesoef panjang
umur! Bahagia bersama istrinya, Asni, yang begitu cinta, peduli dan
setia padanya. Tanpa Asni mana mungkin Joesoef Isak bisa kiprah seperti
selama ini.
Siapa yang mengenalnya dari dekat, tau betul, setiap hari, setiap jam,
setiap detik yang berlalu, bagi Jusuf Isak, asal saja ia tidak sedang
tidur - - - waktu itu tak berlalu begitu saja. Ia terus mikir!
Memikirkan bagaimana dengan milik satu-satunya 'senjata' yang ada
ditangannya dan dikuasainya, PENERBIT HASTA MITRA, membikinnya
se-efektif mungkin ambil bagian dalam proses perjuangan besar dan
panjang, di bidang pencerahan fikiran. Suatu bidang dan wadah perjuangan
yang maha penting. Lebih-lebih karena saat itu berlangsung (masih) di
bawah kekuasaan politik dan kultur Orde Baru Suharto. Termasuk yang amat
sulit diatasi Hasta Mitra, adalah di bidang pendanaan penerbitan
buku-bukunya. Betapa sulitya usaha itu, bisa disadari. Disebabkan,
selama 30 tahun lebih di bawah rezim otoriter Orba, bangsa kita, lapisan
yang cukup luas cendekiawan Indonesia, kaum muda kita, sudah di
'brainwashed' demikian rupa, sehingga taraf kemampuan berfikir mandiri
sudah menjadi demikian terpuruknya. Sehingga tidak lagi mampu dan berani
berfikir bebas berinisiatif lepas dari kungkungan dan apa yang dinamakan
'pengarahan' para pemimpin, elite, terutama penguasa.
Joesoef memberikan perhatian besar pada usaha untuk ambil bagian aktif
dalam membersihkan kontaminasi Orba yang telah menyebabkan bangsa ini,
selama 30 tahun menjadi 'mandek' berfikir. 'Nrimo' saja
'kebenaran-kebenaran' yang disodorkan dan dijejalkan oleh penguasa
kepada masyarakat. Kebohongan yang disuguhkan sebagai fakta, sebagai
kebenaran itu, dimulai dengan cerita akhir 1965, mengenai 'keganasan'
dan 'kebiadaban' wanita-wanita anggota Gerwani yang dikatakan telah
menari-nari mesum didepan para jendral sebelum mereka dibunuh di Lubang
Buaya. Diberitakan terus menerus, bahwa kemaluan para jendral
disayat-sayat dan matanya dicungkil. Yang semuanya itu, seperti ditulis
oleh John Rosa, adalah dalih semata-mata untuk melancarkan pembantaian
masal terhadap anggota-anggota PKI, diduga PKI atau simpatisan PKI.
Dalam setiap kesempatan bicara atau menulis Joesoef selalu menekankan
arti penting dan perlunya masyarakat dan lapisan tidak kecil dari
masyarakat dan kaum cendekiawan kita mengubah sikap dan cara berfikir
mereka. Agar mereka berani dan mampu berfikir sendiri, berani dan
mandiri dalam berfikir dan mengambil kesimpulan. Disebabkan selama
periode Orba dan juga masih diteruskan sampai sesudah Reformasi, . . .
tidak berfikir kritis, menelan mentah-mentah kebohongan-kebohongan
penguasa yang akhirnya di terima sebagai 'kebenaran', sebagai 'kenyataan'.
* * *
Menjelang ultah ke-80 Joesoef Isak, yang jatuh bulan Juli 2008 ini,
sesuai pula dengan saran jurnalis dan sejarawan muda, Bonnie Triyana,
padaku untuk menulis sebuah 'surprise' bagi Joesoef Isak, berupa
tulisan, ---- kufikir, yang paling baik, ialah dari sisiku pribadi,
memperkenalkan kepada pembaca, manusia yang bagaimana Joesoef Isak,
seperti yang kutau selama mengenalnya.
Kebetulan, menjelang hari ultah ke-100 Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei
2008, masyarakat Indonesia di Nederland, dengan Perkumpulan Persaudaraan
Indonesia sebagai pemrakarsa, berrencana mengadakan peringatan penting
tsb dengan mengambil tempat di Diemen pada tanggal 18 Mei 2008. Karena
Panitia Penyelenggara minta aku bicara dalam peringatan tsb, aku
perlukan betul untuk berkonsultasi dengan Joesoef Isak, menanyakan
kepadanya, menurut dia, masalah apa yang patut diajukan dalam
pembicaraan itu.
Aku tau, Ucup, ketika itu, baru saja keluar dari
RS karena kesehatannya yang agak mundur belakangan ini. Tetapi, karena
aku tau juga bahwa Ucup tak pernah berhenti berfikir yang menyangkut
masa lampau dan haridepan bangsa ini, ku ajukan jugalah pertanyaan
berikut ini: Cup coba kasih saran, apa yang baik kuajukan dalam sambutan
100th Hari Kebangkitan Nasional di Diemen, Holland nanti.
Inilah respons Joesoef Isak:
"Dari perjalanan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, rakyat Indonesia sejak
1908 sampai 1945 mengalami kekuasaan kolonialisme Belanda dan pendudukan
Jepang yang singkat.
Sejak 1945 sampai 2008 ini, rakyat hidup dalam dua periode kemerdekaan :
periode Indonesia Mandiri 1945-1965, dan periode Indonesia Tergantung
1965 - . . . . (2008 dan masih terus sampai entah kapan).
Sesudah 40 tahun lebih merdeka dalam ketergantungan di bawah Golkarnya
Orde Baru dan kekuasaan kelanjutannya dalam "Era Reformasi", patut dan
wajar kita bertanya apakah rakyat Indonesia sudah sejahtera?
Jawabnya hanya ada fakta keras sebagai kesimpulan : bumi tanah-air
Indonesia
yang kaya melimpah-ruah sumber-sumber alamnya, dihuni oleh mayoritas
rakyat yang sangat miskin. Dan fakta keras lain lagi yang tidak
terbantahkan,
rakyat yang sangat miskin itu mempunyai banyak milyuner dollar di
kalangan elitnya.
Logika keledai pun bisa menjelaskan mengapa demikian.
Kalau kekayaan alam yang melimpah-ruah itu 40 tahun mengalir ke kantong
rakyat, jelas rakyat Indonesia sudah hidup makmur sejahtera.
Keledai yang tidak pernah kenal Rotterdam dan Berkeley, pun tahu bahwa
para manajer kekayaan alam Indonesia yang melimpah-ruah itu memang
mengatur supaya kekayaan alam Indonesia itu masuk ke kantong elit
Suharto, kroni-kroninya dan para pelanjut kekuasaan Suharto di Era
Reformasi sepuluh tahun belakangan ini.
Tetapi bagaimana pun Indonesia sudah maju. Kita tidak mengalami defisit
demokrasi, cuma defisit nasionalisme. Defisit manajer-manajer pengurus
negara yang mampu mendistribusikan kemakmuran secara adil merata.
Indonesia parah sekali mengalami defisit nasionalisme progresif
revolusioner*,
sebaliknya inflasi nasionalisme reaksioner* yang mengidentifilkasi
selapis elit kecil sebagai Rakyat yang harus dimakmurkan . . .
Penjelasan tambahan :
Nasionlaisme Progresif Revolusinert identik dengan Humanisme.
Nasionalisme reaksioner identik dengan chauvinisme authoritair
* * *
Rupanya Joesoef memang masih merasa lemah dan lelah. Kesehatannya belum
pulih betul. Responsnya terputus di situ. Tapi, beberapa jam kemudian
menyusul lagi e-mail dari Joesoef., sbb:
Rada segar sekarang, sesudah bisa dua jam tidursiang nyenyak.
Nyambung yang terputus tadi . . . . .
'Aku ingin dengar apa yang orijinal dan appealing dari bung dalam kaitan
Peringatan Kebangktan Nasional.
'Aku sendiri -- entah akan menggunakan saluran apa -- akan mencoba
melansir
ke publik pikiran kira-kira dengan singkat sebagai berikut :
'Khusus dalam kaitan Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional.
(1) Apakah moral dan message paling inti dan paling hakekat dari peristiwa
Kebangkitan Nasionlal 100 tahuh yang lalu itu???
This is it : PERSATUAN NASIONAL ! !
Karena Persatuan Nasional kita merdeka, karena Persatuan Nasional kita
Kuat
dan Mandiri, karena Persatuan Nasional amburadul negeri terimbas
amburadul,
akibatnya negeri serba tergantung, rakyat sengsara, cuma segelintir elit
yang tetap senang.
(2) Setelah menjalani100 Tahun, sudah waktunya bikin satu moment-opname
tentang situasi dan kondisi Indonesia hari ini. Dengan berat dan sedih
inilah
kesimpulannya : Indonesia dengan bumi kaya-raya melimpah-ruah, memiliki
rakyat yang sangat miskin di dunia; dan rakyat yang miskin ini memiliki
paling banyak elit yang milyuner dollar. Opo ora sedih setelah 100 tahun
bangkit dan 60 tahun lebih merdeka?
(3) Seperti diamanatkan Bung Karno, sejarah jangan sekali-kali dilupakan.
Sejarah harus dikuasai dan dipelajari betul bukan hanya untuk bernostalgi
pada prestasi masa lalu, akan tetapi terpenting justru untuk menarik
pelajaran
guna dengan lebih baik lagi menangani dan memasuki masa-depan.
(4) Sejarah memiliki kandungan moral, bagaimana secara benar dan tepat
memaknainya???
Sejarah menuntut dari kita semua, kesediaan dan kemampuan untuk
self-koreksi, mawas-diri. Meaning? Semua pihak, semua institusi
birokrasi, orpol, ormas, perorangan, tanpa kecuali, mau dan berani
membedah dan membenahi diri untuk tidak mengulangi, untuk mencegah semua
bentuk kebodohan dan
kesalahan yang mubasir di masa lalu ! ! ! Kemubasiran yang telah dan
masih terus harus dibayar dengan peringkat kemajuan negeri yang terpuruk
dan rakyat yang berkelanjutan hidup miskin sampai hari ini.
(5) Apa kandungan amanat yang built-in dalam manifestasi Kebangkitan
Nasional.
Ini : menegakkan kemerdekaan, kesejahteraan adil-makmur dan kemandirian
dengan agenda permanen berlawan terhadap kekuatan yang menghambat
dan mau mentiadakan kemerdekaan dan kemandirian tersebut - di mana, kapan
dan oleh siapa pun.
Tragis sekali kalau ada segmen masyarakat -- karena ketidak-matangan dan
ignorance politik, malah membantu dan berjalan seiring-sejalan dengan
kekuatan yang agendanya justru menggerogoti kemerdekaan, kemandirian dan
kekayaan alam Indonesia.
(6) What to do, how and where to begin now?
Kita sudah cukupan menikmati demokrasi, tetapi defisit sekali
nasionalisme.
Demokrasi mutlak diperlukan, tetapi hanya demokrasi yang berisi
nasionalisme
modern yang cinta tanah-air, cinta rakyat -- dengan sendirinya watak
nasionalisme yang selalu mementingkan rakyat di atas segala-galanyanya,
jijik pada korupsi, konsiten menolak ketergantungan dalam segala bentuk.
Untuk itu perlu dimulai dengan membenahi kerangka-berpikir (mind-set)
rancu
yang digendong-gendong selama ini.
Diperlukan mind-set revolusioner yang membangun nasionalisme modern,
membangun kebiasaan (habit) cinta rakyat, habit memelihara persatuan yang
positif, benar dan produktif bagi rakyat dan negeri, bukan persatuan
asal persatuan sekalipun dengan unsur-unsur negatif yang justru
meredusir kemerdekaan dan kemandirian.
Joesoef menyarakan agar mencurahkan pesannya itu dalam pembicaraanku
pada Hari Kebangkitan Nasional. Bila merasa cocok, kata Joesoef agar
butir-butir itu dikembangkan dan disempurnakan. Supaya menggunakan
bahasa yang tajam, karena, kalau bahasa rutin dan lembek, orang tidak
tersentak bangun dari kerangka berfikir (mind-set) yang rancu yang
digendong-gendong selama ini.
Diperlukan mind-set revolusioner yang membangun nasionalisme modern,
membangun kebiasaan (habit) cinta rakyat, habit memelihara persatuan yang
positif, benar dan produktif bagi rakyat dan negeri, bukan persatuan
asal persatuan sekalipun dengan unsur-unsur negatif yang justru
meredusir kemerdekaan dan kemandirian.
* * *
Demikian uraian dan saran Joesoef Isak kepadaku, yang pada pokoknya
kusetujui semuanya.
* * *
*)
Artikel ini dibuat atas permintaan, sebuah Panitia Untuk Memperingati Ultah Ke-80
Joesoef Isak, khusus untuk buku peringatan, 'LIBER OMICURUM'. Buku 'Liber Omicurum'
yang memuat tulisan-tuisan lainnya dari kenalan dekat Joesoef Isak, diluncurkan di Taman Ismail Marzuki,
Jakarta, pada tanggal 15 Juli 2008 y.l.
* * *
----------------
23 Juli 2008
JOESOEF ISAK, Sukarnois, Penerbit 'Hasta Mitra' *)
Menulis tentang salah seorang sahabatku yang paling akrab, Sukarnois
JOESOEF ISAK , kali ini dalam rangka menyambut ultahnya yang ke-80, tak
bisa tidak, terkait nama 'HASTA MITRA', penerbit buku bermutu. Demikian
pula halnya, menulis tentang fikiran dan cita-cita perjuangan Joesoef
Isak, pasti tak bisa dilepaskan dari nama Bung Karno, serta ajaran Bung
Karno mengenai revolusi Indonesia.
Aku katakan Joesoef Isak adalah Sukarnois. Memang demikianlah
sesungguhnya! Memang fakta-faktanya demikianlah adanya.
Periksalah tulisan-tulisan pakar, wartawan, maupun penulis lainnya,
mengenai Bung Karno. Apalagi yang orang asing. Mereka itu merasa tidak
afdhal, merasa berdosa, bila tidak mengangkat sera menonjol-nonjolkan
kekurangan-kekurangan, atau 'cacad' Bung Karno dalam kehidupan
pribadinya. Mereka merasa kurang lengkap menulis jika tidak
mendeskreditkan Bung Karno secara politik, melakukan 'character
asassination' , memfitnah Bung Karno sebagai 'kolaborator Jepang' dan
penggerak kerja paksa 'romusha', sebagai 'petualangan revolusioner',
bahkan sebagai 'Komunis' dan dalang 'G30S'. Beberapa tulisan dan
wawancara penting Joesoef Isak, serta sementara sejarawan generasi baru
telah menangkis tuduhan dan fitnahan tsb, mendudukkan Bung Karno pada
tempat dan peranannya yang sesungguhnya dan teramat penting dalam
sejarah pergerakan dan revolusi kemerdekaan Indonesia. Pembelaan Joesoef
Isak mengenai peranan Bung Karno dalam sejarah Indonesia, serta
uraiannya yang konsisten dan mantap mengenai ide-ide dan fikiran Bung
Karno, merupakan fakta-fakta kongkrit yang menunjukkan bahwa Joesoef
Isak adalah murid setia Bung Karno, adalah Sukarnois sejati.
Lihat dan periksa sendiri tulisan-tulisan Joesoef Isak mengenai Bung
Karno dan ajaran-ajarannya. Asal saja orang punya sedikit kejujuran
terhadap kenyataan dan fakta, pastilah mengakui bahwa Joesoef Isak
termasuk yang paling banyak menulis serta menguraikan ajaran Bung Karno
sehubungan dengan gerakan kemerdekaan dan revolusi Indonesia.
Sehubungan dengan sosialisasi mengenai peranan dan kepemimpinan Bung
Karno dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, entah sudah berapa buah
buku yang diterbitkan oleh Penerbit Hasta Mitra.
* * *
Catat ini:
Hasta Mitra di bawah pimpinan Joesoef Isak, adalah satu-satunya penerbit
Indonesia yang berani muncul dan melakukan kegiatannya secara legal
selagi Indonesia masih ada di bawah kekuasaan rezim Orba. Penerbit Hasta
Mitra secara terbuka dan berani blak-blakan menantang penguasa, yang
menindas hak-hak warganegara, untuk dengan bebas menyatakan fikiran dan
menerbitkannya. Jangan lupakan satu lagi catatan penting dan unik: Itu
dilakukannuya sambil merangkul orang kedua berkuasa Orba ketika itu,
Wapres Adam Malik. Demi suksesnya rencana menerbitkan buku Pramudya yang
pertama dan paling terkenal BUMI MANUSIA (Jakarta, 1981), Joesoef dan
Hasyim Rakhman langsung pergi mengunjungi Wapres Adam Malik di rumah
wakil presiden RI. Hebatnya, rangkulan jalan pintas itu berhasil. Wapres
Adam Malik menyatakan OK serta memuji karya partama pulau Buru Pramudya.
Tetapi Jaksa Agung RI yang selalu bertindak sebagai pentung Orba,
cepat-cepat melarang buku Pram itu. Tokh cetakan pertama Bumi Manusia
oleh Hasta Mitra, dalam beberapa hari saja sudah habis terjual. Semua
itu tak terlepas dari ide dan perjuangan Joesoef Isak, Hasyim Rakhman
dan para sukarelawan terutama yang muda-muda. Nasib baik buku Bumi
Manusia, makin dilarang makin populer, makin dicari orang yang ingin
membacanya. Sampai-sampai petugas intel yang menginterogasi Joesoef,
berkenaan dengan terbitnya Bumi Manusia, dengan sembunyi-sembunyi takut
ketauan orang-orang kantornya, minta-minta kepada Joesoef sambil
bisik-bisik: Pak Joesoef, masih ada enggak satu buah Bumi Manusia untuk
saya, istri saya ingin membacanya!! Syukur alhamdulillah, masih ada
'orang dalam' yang akhirnya tokh benar-benar tertarik untuk membaca buku
Pram Bumi Manusia.
* * *
Mishi Sharam, wartawan s.k. Amerika 'International Herald Tribune'
(Neuilly-sur-Seine, France), 06 April 1999, menulis tentang hubungan
perjuangan Joesoef Isak dan Pramudya Ananta Tur. Terjemahan bebas ke
dalam bahasa Indonesia, sbb:
"Pramudya punya senjata rahasia. Orang yang memeriksa dan menyusun
kembali tumpukan kertas lepas mengenai masa lampau Pramudya,
mengumpulkan bahan-bahan tsb dan kemudian mengeditnya, adalah Joesoef
Isak. Mantan jurnalis yang senyum-kecil itu, adalah sahabat karib
penulis itu dan adalah seorang tahanan politik yang sepuluh tahun
lamanya meringkuk di sebuah penjara Jakarta. Untuk 20 tahun lamanya,
Joesoef membujuk Pram agar keluar dengan ceritanya yang benar dan ia
menyusun kembali tulisan Pram. Ia sibuk di sekitar Pram, menyemat
bajunya yang lepas dan sesekali bilang kepada Pram apa yang yang harus
dikatakannya.. . . Beberapa tahun yang lalu, seorang tentara memukul
kepala Pram dengan popor bedil; ia kemdian menderita gegar otak dan luka
itu infeksi, yang kemudian merintangi pendengarannya dan kemampuannya
untuk berkomunikasi. Itu membuat Pram segan untuk bicara dengan orang
luar, maka ia sering mengalihkan orang yang mau bicara dengan dia kepada
Joesoef.
"Kepercayaan Pram pada Joesoef adalah mutlak. Joesoef: -- 'Ketika Pram
'bebas', ia datang pada saya dengan setumpuk kertas usang, betul-betul
kertas usang. Ia mengatakan: 'Joesoef, saya menemukan kertas-kertas ini.
Bacalah. Bila menarik, barangkali kau bisa menyusun buku', kata Pram.
Demikianlah, Joesoef lalu menyusun masing-masing babak dalam memoir tsb
menjadi cerita tersendiri. Ia membagi fragmen-fragmen tulisan itu
menjadi tiga seksi."
Demikian tulis wartawan International Herald Tribune, Mishi Sharam,
sembilan tahun yang lalu.
Sesungguhnya apa yang ditulis oleh wartawan 'IHT' tsb sudah pernah
diceriterakan oleh Joesoef Isak kepadaku ketika kami bertemu pertama
kali pada saat Joesoef Isak berkunjung ke Keulen, Jerman. Dalam
cakap-cakap kami bersama Suraedi Tahsin (Amsterdam) dan Umar Said
(Paris) ketika itu Joesoef a.l. sempat menceriterakan tentang
kunjungannya ke Kedutaan AS di Jakarta, dan pembicaraannya dengan wakil
dubes AS di Jakarta, serta dengan utusan khusus Presiden AS Jimmy
Carter, yang dikirim oleh Presiden AS itu untuk melakukan tekanan kepada
Suharto agar tidak terus-menerus memenjarakan orang-orang tanpa proses
pengadilan.
* * *
Menulis tentang JOESOEF ISAK, duapuluh tahunan belakangan ini,
sesungguhnya tak bisa terlepaskan dari 'TETRALOGI' karya Pramudya Ananta
Tur: 'Bumi Manusia', 'Rumah Kaca', 'Jejak Langkah' dan 'Anak Semua
Bangsa'. Yang semuanya terbit di bawah asuhan editor Joesoef Isak dan
dimasyarakatkan oleh penerbit Hasta Mitra yang dipimpin oleh Joesoef
Isak bersama Pram dan Hasyim Rakhman. Tanpa Hasta Mitra, tidak bisa
dibayangkan bisa terbitnya di bawah rezim Orba, Tetralogi Pramudya tsb .
Kemudian dilanjutkan dengan terbitnya terjemahan karya-karya Pram tsb
dalam bahasa asing di luarnegeri, sehingga Pram dan Tetraloginya dikenal
luas di dunia internasional, sebagai novelis terbesar Indonesia dewasa
ini.
* * *
Joesoef Isak memang berani beravontur, berlanglang buana ke luarnegeri,
padahal ketika itu ia belum lama keluar penjara Orba. Selain itu, ia
tiap kali masih harus lapor ke penguasa militer setempat. Statusnya
masih ET, eks tapol. KTP-nya masih ada tulisan 'ET' di paling atas.
Lalu, apa pasalnya Joesoef mau ke luar negeri? Sasarannya ialah negeri
Belanda. Joesoef tau ada sahabatnya mantan pemimpin s.k Bintang Timur,
yang kemudian diangkat Bung Karno jadi dubes RI di Mali, Suraedi Tahsin,
yang akhirnya menjadi seorang eksil di Belanda. Sebagai hasil
kongko-kongko mereka berdua, berdirilah 'Manus Amici', penerbit dan toko
buku di Amsterdam, yang dimaksudkan mereka nantinya bertindak sebagai
perwakilan Hasta Mitra, di Amsterdam. Itulah yang akan menerbitkan
karya-karya Pram di luarnegeri. Memang, kemudian terbit edisi bahasa
Belanda pertama di Amsterdam oleh Manus Amici bersama penerbit Belanda
lainnya. Joesoef Isak berhasil menerobos intel tentara pergi ke Keulen,
Jerman, dengan menutup tanda ET pada KTP-nya, mengkopinya, dan
menyerahkannya kepada sebuah travelbureau untuk mengurus paspor dan
ticket.
Apa yang dilakukan Joesoef Isak, menerobos ke luar negeri, lolos dari
pengawasan Kopkamtib, pasti akan dibilang orang sebagai avontur yang
penuh risiko. Kan bisa dicekal lagi dan dijebloskan kembali ke penja ra
Salemba. Apa Joesoef tidak takut? Takut . . . . ? Joesoef Isak jelas
menyadari bahwa ia bukannya malaekat. Ia manusia biasa, yang juga punya
rasa takut. Hal itu, terus terang diceritakannya kemudian, ketika
cakap-cakap dengan sementara kawan Indonesia, di Restoran Indonesia
Paris
bahwa, sebagai manusia biasa, tentu saja ia juga punya rasa takut.
Tetapi, kata Joesoef, rasa takut itu jangan diperlihatkan di hadapan
musuh. Yang penting ialah dalam keadaan bagaimanapun teruskan perjuangan
itu.
* * *
Nama Joesoef Isak juga tak bisa terpisahkan lagi dengan Penerbit Hasta
Mitra, anak kandungnya sendiri. Di rumahnya itulah, Duren Tiga No 36,
Jakarta, Hasta Mitra berkantor. Diruangan ukuran pas-pasan itu ia
menerima tamu, sahabat, handai-taulan dari dalam dan luarnegeri. Joesoef
sudah sejak menjadi 'ET' - eks tapol, dikunjungi makin banyak orang.
Selain wartawan profesional, penulis dan penerbit, yang tak kalah
penting, Joesoef Isak adalah, kata orang Belanda, menjadi 'vraagbak'.
Alamat yang dicari dan didatangi orang. Ia menjadi tempat yang bisa
dipercayai untuk bertanya mengenai situasi aktual dan lampau Indonesia,
sebagai partner bertukar fikiran dan mendengar cerita penderitaan para
tapol di dalam tahanan Orba.
Bicara politik dengan Joesoef Isak, bertukar-fikiran mengenai hal-hal
yang sangat mendetail dan akurat, orang tak akan merasa khawatir, bahwa
Joesoef akan cerita 'yang tidak-tidak' atau isapan jempol belaka.
Joesoef tidak hanya mengungkap fakta-fakta dan episode-episode kejadian
politik, yang tak akan ditemukan di media terbuka. Tetapi juga
memberikan analisa dan penilaiannya sendiri. Joesoef banyak memiliki,
katakanlah, 'inside information', maka analisisnya terhadap situasi
sungguh mendasar, membikin pendengarnya ketika meninggalkan rumah
Joesoef, menjadi 'wel-informed' mengenai 'the who's and the why's'
tentang negeri ini.
Joesoef dan Hasta Mitra, dua kata itu sudah menyatu, senyawa. Sebab,
Hasta Mitra, itulah urusan dan perjuangan Ucup - sapaan akrab - begitu
ia keluar dari penjara Salemba. Sebelumnya ia aktif sebagai Sekjen PWAA,
Persatuan Wartawan Asia-Afrika. Pernah pemimpin surat kabar 'Merdeka'.
Ucup memang wartawan, kini wartawan senior dan kawakan, tetapi bukan
sebarang wartawan. Ia pertama-tama adalah seorang wartawan pejuang yang
punya visi dan misi. Perjuangannya merealisasi visi dan misinya,
mengimbau rasa hormat dan respek, terutama dari luarnegeri. Mungkin yang
di dalam negeri belum punya syarat atau bahkan belum berani terus terang
menyatakan penghargaan dan rasa respek kepada Joesoef Isak sehubungan
dengan perjuangannya demi kebebasan menyatakan pendapat dan
menerbitkannya. Meskipun aku yakin, tidak sedikit orang Indonesia
menghormati dan menghargai Joesoef Isak sebagai patriot dan pejuang
untuk demokrasi, khususnya untuk pelaksanaan hak untuk dengan bebas
menyatakan pendapat dan menyiarkannya.
Penghargaan awal dan terbuka yang datang dari lingkungan media, pembela
demokrasi dan HAM, yang pasti kita tau, adalah dari perkumpulan PEN
Amerika, kemudian Australia, Perancis dan Belanda. Penghargaan dari
Belanda ini patut dicatat khusus karena memang lain dari pada yang lain.
Siapa tidak tau bahwa Joesoef Isak adalah seorang yang
progresif-revolusioner, orang Kiri, Sukarnois, dalam praktek dan
konsistensinya, jauh melebihi Sukarnois-Sukarnois atau Marhaenis
lainnya, yang mengklaim diri atau kelompoknya sebagai Sukarnois atau
Marhaenis.
Tapi di luar dugaan siapapun, baik yang di luar negeri apalagi yang di
Indonesia, bahwa penyerahan Wertheim Award 2005 kepada Joesoef Isak dan
Goenawan Mohammad dilakukan di wilayah Republik Indonesia di Belanda,
yaitu di ruang Nusantara Kedutaan Besar Republik Indonesia, Tobias
Asserlaan 8, Den Haag, Holland. Bagaimana mungkin hal yang demikian bisa
terjadi!. Tokh terjadi. Seperti halnya pernah Wapres RI Adam Malik,
wakilnya Presiden Suharto, menyanbut baik terbitnya buku Pramudya 'Bumi
Manusia'. Seperti juga utusan khusus Presiden AS Jimmy Carter, Patricia
Derien, sengaja menemui Joesoef Isak, bicara dengannya dan kemudian
mantan Presiden Carter sendiri, menyatakan penghargaan terhadap Joesoef
Isak sebagai 'a respected publisher who represented himself and
thousands of other political prisoners, many of whom had been imprisoned
since the mid-1960s, . . .
. 'seorang publisis yang terhormat, yang mewakili dirinya sendiri dan
ribuan tapol lainnya, yang banyak diantara mereka itu ditahan sejak
pertengahan tahun 1960-an ... . . .>
* * *
Maka: - - Apa yang paling baik dinyatakan kepada Joesoef Isak ketika ia
memasuki umur 80th, selain, Happy birthday? SELAMAT ULTAH KE-80, semoga
sehat dan panjang umur, bahagia sekeluarga? Tentu, kata-kata itu harus
dinyatakan kepadanya. Karena harapan yag dinyatakan itu, memang
sesungguhnyalah demikian, bukan 'baso-basi' saja. Supaya Joesoef panjang
umur! Bahagia bersama istrinya, Asni, yang begitu cinta, peduli dan
setia padanya. Tanpa Asni mana mungkin Joesoef Isak bisa kiprah seperti
selama ini.
Siapa yang mengenalnya dari dekat, tau betul, setiap hari, setiap jam,
setiap detik yang berlalu, bagi Jusuf Isak, asal saja ia tidak sedang
tidur - - - waktu itu tak berlalu begitu saja. Ia terus mikir!
Memikirkan bagaimana dengan milik satu-satunya 'senjata' yang ada
ditangannya dan dikuasainya, PENERBIT HASTA MITRA, membikinnya
se-efektif mungkin ambil bagian dalam proses perjuangan besar dan
panjang, di bidang pencerahan fikiran. Suatu bidang dan wadah perjuangan
yang maha penting. Lebih-lebih karena saat itu berlangsung (masih) di
bawah kekuasaan politik dan kultur Orde Baru Suharto. Termasuk yang amat
sulit diatasi Hasta Mitra, adalah di bidang pendanaan penerbitan
buku-bukunya. Betapa sulitya usaha itu, bisa disadari. Disebabkan,
selama 30 tahun lebih di bawah rezim otoriter Orba, bangsa kita, lapisan
yang cukup luas cendekiawan Indonesia, kaum muda kita, sudah di
'brainwashed' demikian rupa, sehingga taraf kemampuan berfikir mandiri
sudah menjadi demikian terpuruknya. Sehingga tidak lagi mampu dan berani
berfikir bebas berinisiatif lepas dari kungkungan dan apa yang dinamakan
'pengarahan' para pemimpin, elite, terutama penguasa.
Joesoef memberikan perhatian besar pada usaha untuk ambil bagian aktif
dalam membersihkan kontaminasi Orba yang telah menyebabkan bangsa ini,
selama 30 tahun menjadi 'mandek' berfikir. 'Nrimo' saja
'kebenaran-kebenaran' yang disodorkan dan dijejalkan oleh penguasa
kepada masyarakat. Kebohongan yang disuguhkan sebagai fakta, sebagai
kebenaran itu, dimulai dengan cerita akhir 1965, mengenai 'keganasan'
dan 'kebiadaban' wanita-wanita anggota Gerwani yang dikatakan telah
menari-nari mesum didepan para jendral sebelum mereka dibunuh di Lubang
Buaya. Diberitakan terus menerus, bahwa kemaluan para jendral
disayat-sayat dan matanya dicungkil. Yang semuanya itu, seperti ditulis
oleh John Rosa, adalah dalih semata-mata untuk melancarkan pembantaian
masal terhadap anggota-anggota PKI, diduga PKI atau simpatisan PKI.
Dalam setiap kesempatan bicara atau menulis Joesoef selalu menekankan
arti penting dan perlunya masyarakat dan lapisan tidak kecil dari
masyarakat dan kaum cendekiawan kita mengubah sikap dan cara berfikir
mereka. Agar mereka berani dan mampu berfikir sendiri, berani dan
mandiri dalam berfikir dan mengambil kesimpulan. Disebabkan selama
periode Orba dan juga masih diteruskan sampai sesudah Reformasi, . . .
tidak berfikir kritis, menelan mentah-mentah kebohongan-kebohongan
penguasa yang akhirnya di terima sebagai 'kebenaran', sebagai 'kenyataan'.
* * *
Menjelang ultah ke-80 Joesoef Isak, yang jatuh bulan Juli 2008 ini,
sesuai pula dengan saran jurnalis dan sejarawan muda, Bonnie Triyana,
padaku untuk menulis sebuah 'surprise' bagi Joesoef Isak, berupa
tulisan, ---- kufikir, yang paling baik, ialah dari sisiku pribadi,
memperkenalkan kepada pembaca, manusia yang bagaimana Joesoef Isak,
seperti yang kutau selama mengenalnya.
Kebetulan, menjelang hari ultah ke-100 Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei
2008, masyarakat Indonesia di Nederland, dengan Perkumpulan Persaudaraan
Indonesia sebagai pemrakarsa, berrencana mengadakan peringatan penting
tsb dengan mengambil tempat di Diemen pada tanggal 18 Mei 2008. Karena
Panitia Penyelenggara minta aku bicara dalam peringatan tsb, aku
perlukan betul untuk berkonsultasi dengan Joesoef Isak, menanyakan
kepadanya, menurut dia, masalah apa yang patut diajukan dalam
pembicaraan itu.
Aku tau, Ucup
RS karena kesehatannya yang agak mundur belakangan ini. Tetapi, karena
aku tau juga bahwa Ucup tak pernah berhenti berfikir yang menyangkut
masa lampau dan haridepan bangsa ini, ku ajukan jugalah pertanyaan
berikut ini: Cup coba kasih saran, apa yang baik kuajukan dalam sambutan
100th Hari Kebangkitan Nasional di Diemen, Holland nanti.
Inilah respons Joesoef Isak:
"Dari perjalanan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, rakyat Indonesia sejak
1908 sampai 1945 mengalami kekuasaan kolonialisme Belanda dan pendudukan
Jepang yang singkat.
Sejak 1945 sampai 2008 ini, rakyat hidup dalam dua periode kemerdekaan :
periode Indonesia Mandiri 1945-1965, dan periode Indonesia Tergantung
1965 - . . . . (2008 dan masih terus sampai entah kapan).
Sesudah 40 tahun lebih merdeka dalam ketergantungan di bawah Golkarnya
Orde Baru dan kekuasaan kelanjutannya dalam "Era Reformasi", patut dan
wajar kita bertanya apakah rakyat Indonesia sudah sejahtera?
Jawabnya hanya ada fakta keras sebagai kesimpulan : bumi tanah-air
Indonesia
yang kaya melimpah-ruah sumber-sumber alamnya, dihuni oleh mayoritas
rakyat yang sangat miskin. Dan fakta keras lain lagi yang tidak
terbantahkan,
rakyat yang sangat miskin itu mempunyai banyak milyuner dollar di
kalangan elitnya.
Logika keledai pun bisa menjelaskan mengapa demikian.
Kalau kekayaan alam yang melimpah-ruah itu 40 tahun mengalir ke kantong
rakyat, jelas rakyat Indonesia sudah hidup makmur sejahtera.
Keledai yang tidak pernah kenal Rotterdam dan Berkeley, pun tahu bahwa
para manajer kekayaan alam Indonesia yang melimpah-ruah itu memang
mengatur supaya kekayaan alam Indonesia itu masuk ke kantong elit
Suharto, kroni-kroninya dan para pelanjut kekuasaan Suharto di Era
Reformasi sepuluh tahun belakangan ini.
Tetapi bagaimana pun Indonesia sudah maju. Kita tidak mengalami defisit
demokrasi, cuma defisit nasionalisme. Defisit manajer-manajer pengurus
negara yang mampu mendistribusikan kemakmuran secara adil merata.
Indonesia parah sekali mengalami defisit nasionalisme progresif
revolusioner*,
sebaliknya inflasi nasionalisme reaksioner* yang mengidentifilkasi
selapis elit kecil sebagai Rakyat yang harus dimakmurkan . . .
Penjelasan tambahan :
Nasionlaisme Progresif Revolusinert identik dengan Humanisme.
Nasionalisme reaksioner identik dengan chauvinisme authoritair
* * *
Rupanya Joesoef memang masih merasa lemah dan lelah. Kesehatannya belum
pulih betul. Responsnya terputus di situ. Tapi, beberapa jam kemudian
menyusul lagi e-mail dari Joesoef., sbb:
Rada segar sekarang, sesudah bisa dua jam tidursiang nyenyak.
Nyambung yang terputus tadi . . . . .
'Aku ingin dengar apa yang orijinal dan appealing dari bung dalam kaitan
Peringatan Kebangktan Nasional.
'Aku sendiri -- entah akan menggunakan saluran apa -- akan mencoba
melansir
ke publik pikiran kira-kira dengan singkat sebagai berikut :
'Khusus dalam kaitan Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional.
(1) Apakah moral dan message paling inti dan paling hakekat dari peristiwa
Kebangkitan Nasionlal 100 tahuh yang lalu itu???
This is it : PERSATUAN NASIONAL ! !
Karena Persatuan Nasional kita merdeka, karena Persatuan Nasional kita
Kuat
dan Mandiri, karena Persatuan Nasional amburadul negeri terimbas
amburadul,
akibatnya negeri serba tergantung, rakyat sengsara, cuma segelintir elit
yang tetap senang.
(2) Setelah menjalani100 Tahun, sudah waktunya bikin satu moment-opname
tentang situasi dan kondisi Indonesia hari ini. Dengan berat dan sedih
inilah
kesimpulannya : Indonesia dengan bumi kaya-raya melimpah-ruah, memiliki
rakyat yang sangat miskin di dunia; dan rakyat yang miskin ini memiliki
paling banyak elit yang milyuner dollar. Opo ora sedih setelah 100 tahun
bangkit dan 60 tahun lebih merdeka?
(3) Seperti diamanatkan Bung Karno, sejarah jangan sekali-kali dilupakan.
Sejarah harus dikuasai dan dipelajari betul bukan hanya untuk bernostalgi
pada prestasi masa lalu, akan tetapi terpenting justru untuk menarik
pelajaran
guna dengan lebih baik lagi menangani dan memasuki masa-depan.
(4) Sejarah memiliki kandungan moral, bagaimana secara benar dan tepat
memaknainya???
Sejarah menuntut dari kita semua, kesediaan dan kemampuan untuk
self-koreksi, mawas-diri. Meaning? Semua pihak, semua institusi
birokrasi, orpol, ormas, perorangan, tanpa kecuali, mau dan berani
membedah dan membenahi diri untuk tidak mengulangi, untuk mencegah semua
bentuk kebodohan dan
kesalahan yang mubasir di masa lalu ! ! ! Kemubasiran yang telah dan
masih terus harus dibayar dengan peringkat kemajuan negeri yang terpuruk
dan rakyat yang berkelanjutan hidup miskin sampai hari ini.
(5) Apa kandungan amanat yang built-in dalam manifestasi Kebangkitan
Nasional.
Ini : menegakkan kemerdekaan, kesejahteraan adil-makmur dan kemandirian
dengan agenda permanen berlawan terhadap kekuatan yang menghambat
dan mau mentiadakan kemerdekaan dan kemandirian tersebut - di mana, kapan
dan oleh siapa pun.
Tragis sekali kalau ada segmen masyarakat -- karena ketidak-matangan dan
ignorance politik, malah membantu dan berjalan seiring-sejalan dengan
kekuatan yang agendanya justru menggerogoti kemerdekaan, kemandirian dan
kekayaan alam Indonesia.
(6) What to do, how and where to begin now?
Kita sudah cukupan menikmati demokrasi, tetapi defisit sekali
nasionalisme.
Demokrasi mutlak diperlukan, tetapi hanya demokrasi yang berisi
nasionalisme
modern yang cinta tanah-air, cinta rakyat -- dengan sendirinya watak
nasionalisme yang selalu mementingkan rakyat di atas segala-galanyanya,
jijik pada korupsi, konsiten menolak ketergantungan dalam segala bentuk.
Untuk itu perlu dimulai dengan membenahi kerangka-berpikir (mind-set)
rancu
yang digendong-gendong selama ini.
Diperlukan mind-set revolusioner yang membangun nasionalisme modern,
membangun kebiasaan (habit) cinta rakyat, habit memelihara persatuan yang
positif, benar dan produktif bagi rakyat dan negeri, bukan persatuan
asal persatuan sekalipun dengan unsur-unsur negatif yang justru
meredusir kemerdekaan dan kemandirian.
Joesoef menyarakan agar mencurahkan pesannya itu dalam pembicaraanku
pada Hari Kebangkitan Nasional. Bila merasa cocok, kata Joesoef agar
butir-butir itu dikembangkan dan disempurnakan. Supaya menggunakan
bahasa yang tajam, karena, kalau bahasa rutin dan lembek, orang tidak
tersentak bangun dari kerangka berfikir (mind-set) yang rancu yang
digendong-gendong selama ini.
Diperlukan mind-set revolusioner yang membangun nasionalisme modern,
membangun kebiasaan (habit) cinta rakyat, habit memelihara persatuan yang
positif, benar dan produktif bagi rakyat dan negeri, bukan persatuan
asal persatuan sekalipun dengan unsur-unsur negatif yang justru
meredusir kemerdekaan dan kemandirian.
* * *
Demikian uraian dan saran Joesoef Isak kepadaku, yang pada pokoknya
kusetujui semuanya.
* * *
*)
Artikel ini dibuat atas permintaan, sebuah Panitia Untuk Memperingati Ultah Ke-80
Joesoef Isak, khusus untuk buku peringatan, 'LIBER OMICURUM'. Buku 'Liber Omicurum'
yang memuat tulisan-tuisan lainnya dari kenalan dekat Joesoef Isak, diluncurkan di Taman Ismail Marzuki,
Jakarta, pada tanggal 15 Juli 2008 y.l.
* * *
SAHABAT KARIBKU TERCINTA JOESOEF ISAK
Kolom IBRAHIM ISA *)
18 Agustus 2009
-----------------------------
MENGENANG SAHABAT KARIBKU TERCINTA JOESOEF ISAK
(1)
Mengenangkan seorang sahabat karib tercinta yang begitu commited dengan cita-cita hidup mulya manusia: Perjuangan untuk KEBEBASAN dan KEADILAN, -- bisa terjadi melalui berbagai cara. Salah satu cara, ialah berusaha mengenalnya lebih baik, dan lebih baik lagi. Tidak jarang justru sesudah seseorang meninggal dunia, saat-saat itu bertambah pengenalan mengenai dirinya. Meninggalnya Joesoef Isak membawa ingatan kita pada masa lampau. Ketika masih leluasa bisa bergaul dan berkomunikasi dengannya.
Ini berlaku untuk semua kawan yang mengenal dan dikenalnya. Maka, sesudah beliau meninggal bermunculanlah cerita dan anekdot, tulisan dan kesan serta tanggapan banyak orang yang kenal baik dengan beliau. Manusia Indonesia yang langka ini: Joesoef Isak.
Keterlibatanku dengan 'The Wertheim Foundation', yang kepedulian utamanya adalah usaha emansipasi bangsa Indonesia, telah membawaku ke hubungan dan pengenalan yang lebih dekat lagi dengan Joesoef Isak.
Ketika mengenangkan kembali Joesoef Isak, cara yang kupilih, ialah dengan memulai tulisan terkait dengan salah satu peristiwa penting dalam hubungan dua negeri dan bangsa, Indonesia dan Belanda. Yaitu dengan diberikannya 'WERTHEIM AWARD 2005' kepada JOESOEF ISAK.
* * *
Dalam sidang Pengurusnya, pada tanggal 26 April 2005, The Wertheim Foundtion telah mengambil keputusan memberikan 'Wertheim Award 2005', kepada Joesoef Isak. 'Wertheim Award' itu diterimanya bersama budayawan Goenawan Mohammad, di Den Haag, di Ruangan Nusantara, Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Nederland. Suatu peristiwa yang luar biasa. Karena dua tokoh Indonesia tsb (dalam bahasa asingnya) adalah DESIDEN. Adalah penentang rezim Orba. Tokh, pemenang-pemenang Wertheim Award ini menerima Award tsb di ruang pertemuan KBRI Den Haag, yaitu ruang NUSANTARA.
Semua yang menerima undangan The Wertheim Foundation, ke KBRI Den Haag untuk menghadiri upacara penyampaian 'Wertheim Award 2005' kepada Goenawan Mohammad dan Joesoef Isak, ---- tak habis heran. Kok peristiwa demikian itu bisa terjadi. Bisa diduga hal itu bisa terjadi. Karena suasana gerakan REFORMASI masih menggema di KBRI Den Haag. Ini penting: Juga karena sikap pribadi Mohammad Joesoef, Dutabesar RI untuk Belanda ketika itu. Beliau kontan menyetujui usul Pengurus The Wertheim Foundation, agar penyerahan Wertheim Award kepada Goenawan Mohammad dan Joesoef Isak dilakukan di KBRI Den Haag. Di suatu wilayah Republik Indonesia!
* * *
Beberapa waktu sebelumnya atas nama Pengurus The Wertheim Foundation, aku menilpun Josoef Isak di rumahnya. Menanyakan kepadanya apakah ia bersedia menerima Wertheim Award 2005 bersama Goenawan Mohammad. Joesoef tertegun sebentar. Ia samasekali tak menduga akan mendapat penghargaan dan penghormatan demikain besarnya dari The Wertheim Foundation. Sebuah lembaga di Nederland, yang kepedulian utamanya adalan emansipasi bangsa Indonesia.
Wah, katanya. Itu suatu kehormatan besar menerima Wertheim Award. Joesoef tambah gembira mengetahui bahwa ia akan menerima Award tsb bersama Goenawan Mohammad.
Dalam keputusannya memberikan WERTHEIM AWARD 2005 kepada Joesoef Isak, dinyatakan, sebagaimana tertera pada teks yang tertera di Piagam Award Wertheim 2005 tsb sbb:
“In its meeting of April 26, 2005, the Board of the Wertheim Foundation has decided, following the advice of the external selection committee, to assign the Wertheim Award 2005 to JOESOEF ISAK, to honour him for his courage and talent and in particular for his unremitting efforts to publish politically banned but important and widely read books during the years of political oppression in Indonesia. In doing so he significantly contributed to the fight for the freedom of opinion and press in Indonesia and greatly furthered the struggle for emancipation of the Indonesia people.”
Diterjemahkan bebas, sbb:
Dalam sidangnya pada tanggal 26 April, 2005, Pengurus Wertheim Foundation telah memutuskan, sesuai saran suatu komisi seleksi internasional, untuk menyampaikan WERTHEIM AWARD 2005, kepada JOESOEF ISAK, sebagai penghormatan terhadapnya atas keberanian dan bakat kemampuannya dan teristimewa untuk usaha yang tak henti-henti untuk menerbitkan buku-buku yang dilarang secara politik dan banyak dibaca selama bertahun-tahun lamanya Indonesia mengalami penindasan politik. Dengan berbuat demikian ia telah memberikan sumbangan amat penting terhadap perjuangan untuk kebebasan menyatakan pendapat dan pers di Indonesia dan secara besar-bearan memajukan perjuangan untuk emansipasi rakyat Indonesia.
* * *
Keputusan The Wertheim Foundation yang memberikan penghargaan dan penghormatan demikian besarnya kepada Joesoef Isak, sepenyhnya tepat dan benar! Karena Joesoef Isak telah mengabdikan seluruh hidup dan karyanya demi kebebasan menyatakan pendapat, demi demokrasi dan hak-hak azasi manusia.
Demi emansipasi bangsa Indonesia.
Oleh karena itu meningalnya Joesoef Isak merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Sekaligus juga merupakan kehilangan besar untuk The Wertheim Foundation.
* * *
Mari kita simak dan kenangkan kembali 'ACCEPTANCE SPEECH' Joesoef Isak, ketika menerima 'Wertheim Award 005'. (Teks aslinya dalam bahasa Inggris. Berikut ini adalah terjemahan bebas>
PIDATO JOESOEF ISAK di KBRI DEN HAAG, ketika menerima Wertheim Award 2005:
Yang terhormat para anggota Pengurus Wertheim Foundatrion.
Yth pejabat pimpinan dan staf Kedutaan Indonesia
Goenawan Mohammad dan sahabat-sahabatku tercinta.
Para tamu yang terhormat,
Setelah menjalani bedah jantung tiga minggu yang lalu, fisik saya belum sepenuhnya pulih. Tetapi sekarang ini, jiwa dan fikiran saya dalam kesehatan baik. Dan saya sangat gembira hadir di sini berhadapan dengan hadirin semua dalam peristiwa ini. Suatu kejadian yang begitu signifikan khususnya bagi saya.
Wertheim Award yang akan saya terima hari ini, bersama dengan sahabat karib saya kawan bung Goenawan Mohammad, menjadikan saya bangga dan merupakan kehormatan besar bagi saya. Oleh karena itu perlu saya tekankan segera bahwa kehormatan ini jelas bukan sesuatu yang semata-mata bagi saya pribadi. Saya sepenuhnya sadar bahwa perjuangan untuk kebebasan menyatakan pendapat, bagi individu maupun bagi masyarakat, merupakan suatu usaha kolektif orang-per-orang yang mempunya prinsip dan pendirian yang sama. Teristimewa mengenai kegiatan Hasta Mitra yang bekerja di bidang publikasi. Di sini ingin saya sebut pertama-tama, sumbangsih Hasyim Rahman dan Pramudya Ananta Tur. Kemudian sumbangsih para karyawan, yang kerja dengan rajin dan setia pada cita-cita Hasta Mitra, diantaranya mendiang Kasto dan sahabat kita Sugeng. Semua empat orang tsb, yang saya sebut namanya tadi, semua mantan tapol Pulau Buru.
Saya jug tidak lupa para pemuda dan mahasiswa, juga toko-toko buku kecil-kecilan yang berani dan mengambil risiko ketika mendistribusikan buku yang kami terbitkan, teapi yang selalu dilarang oleh pemerintah Suharto.
Satu point ingin saya garisbawahi di sini. Penyampaian Award ini adalah inheren dengan pengakuan bahwa di dalam periode sejak didirikannya Republik Indonesia yang baru diproklamasikan dalam tahun 1945, telah terdapat suatu titik-hitam (black spot) yang sangat menghina martabat manusia. Selama lebih separuh dari 60 tahun berdirinya, Repulik Indonesia berada di bawah kekuasaan otoriter militer di bawah pimpinan jendral Suharto. Tetapi kita semua tau bahwa negeri-negeri yang menamakan dirinya 'dunia bebas' ('the free world') justru menganggap periode Suharto adalah periode demokrasi di Indonesia. Karena para jendral itu berhasil menggulingkan pemerintahan Sukarno yang dituduh pro-komunis. Saya menganggap Award yang akan saya terima ini sebagai suatu koreksi terhadap manipulasi politik dan penilaian rincu terhadap sejarah.
Selanjutnya, pemberian Award berarti pengakuan bahwa di tengah-tengah kekuasaan militer, telah lahir dan tumbuh kekuatan progresif yang dengan terang-terangan melakukan perjuangan melawan kesewwnang-wenangan rezim. Kekuatan progresif ini belum tampil sebagai pemenanng, Karena dengan turunnya jendral Suharto, bukan dengan sendirinya berarti kehancuran substansial kekuasaan otoriter yang menamakan dirinya rezim Orde Baru. Ini dibuktikan oleh award yang diberikan oleh partai Golkar kepada orang yang yang hakikatnya mengepalai rezim otoriter itu. Orang yang menjadikan korupsi sebagai kultur yang menguasai segenap lapisan kehidupan politik dan ekonomi di Indonesia. Arti penting dari kekuatan juang ini ialah bahwa kekuatan ini punya keberanian untuk terang-terangan tampil dan bahwa adalah penting sekali bahwa kekuatan juang ini tidak berhenti di tengah jalan. Karena, tugas untuk mencapai keadilan, hak kebebasan pribadi dan mempertahankan martabat manusia merupakan usaha seumur . Itu berlaku dimana saja dan dalam situasi yang bagaimanapun.
Saya merasa bangga menerima Wertheim Award ini, pertama-tama karena saya punya hubungan pribadi dengan Profesor Wertheim yang saya amat hormati dan kagumi otoritasnya dan kepribadian yang bermartabat sebagai manusia, sarjana dan sahabat.
Sejak saya keluar dari penjara dan berjumpa dengan beliau dalam tahun 1977 di Wageningen, saya memelihara komunikasi terus menerus dengan beliau sampai waktu beliau meninggal dunia.Yang saya maksud dengan hubungan pribadi ialah, bahwa adalah Profesof Wertheim yang mendampingi saya dan memberikan bimbingan, saran dan nasihat pada saat saya mengedit karya-karya Tetralogi Pramudya Ananta Toer. Dari hubungan yang intensif ini, menjadi jelas bagi saya bahwa simpati Profesor Wertheim tidak terbatas pada Hasta Mitra. Lebih dari itu. Bahwa beliau adalah sahabat sejati Indonesia, tanpa motif lain apapun. Profesor Wertheim adalah seorang warganegara Belanda yang tanpa syarat menyokong perjuangan kemerdekaan Indonesia. Teristimewa emansipasi rakyat kecil yang tertindas. Menyadari sikapnya yang sungguh-sungguh dan konsisten dalam membela rakyat kecil yang tertindas, saya bertanya-tanya apakah pemberian Award hari ini bukan merupakan suatu peristiwa yang terbalik. Bukankah akan lebih tepat bahwa rakyat Indonesia, yang memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terima kasihnya kepada Profesor WimWertheim yang secara kongkrit memberikan sumbangsihnya kepada perjuangan kemerdekaan dan emansipasi rakyat Indonesia? Dengan mengutip konsep politik BungKarno, Profesor Wertheim mreupakan elemen dari the new emerging forces in the midst of the old established fotrces yang ada di dalam masyarakat Belanda seperti halnya di dalam masyarakat Indonesia.
Bagi saya, Wim Wertheim adalah Mutatulinya abad ke-20, yang patut memperoleh penghargaan kita. Patut kita menundukkan kepala memberikan penghormatan kepada beliau, serta menyatakan terima kasih mendalam untuk sumbangsihnya yang tak terkira kepada rakyat Indonesia.
Para tamu.
Menutup 'acceptance speech' saya yang pendek ini, saya ingin bertukar pengalaman dengan sahabat-sahabat saya di negeri Belanda dalam masalah pekerjaan politik sehubungan dengan hak bagi individu untuk kebebasan menulis dan kebebasan untuk menyatakan pendapatnya sendiri. Yang ingin saya kemukakan di sini ialah pengalaman di Indonesia, meskipun secara pokok perjuangan untuk demokrasi dan hak-manusia dimana-mana wataknya universil. Karena kekuatan reaksioner, kekuatan otoriterisme sipil dan militer menganggap sepi martabat manusia, merusak emansipasi dan kemerdekaan individu. Ini sama saja dimana-mana di dunia ini.
Point pertama yang ingin saya kemukakan disini ialah, bahwa dalam berkonfrontasi dengan kekuasaan otoriter dan represif – yang diwakili oleh pemerintah atau oleh elemen-elemen fanatik dalam masyarakat – kia samasekali tidak boleh berilusi, seakan-akan kekuatan reaksioner itu akan menunjukkan pengertian, apalagi, toleran terhadap prinsip-prinsip demokratis yang kita perjuangkan.
Dengan ini saya ingin jelaskan bahwa sikap kompromis dalam bentuk seperti menyesuaikan diri , atau dengan lain kata, melakukan sensor-sendiri, tidak akan memperlemah kekuasaan represif atau otoriter. Sebaliknya, hal itu akan menimbulkan sikap yang lebih keras. Karena kekuatan represif tidak akan punya sikap baik untuk memahami prinsip-prinsip demokrasi. Self-censorship yang dilakukan oleh mereka-mereka yang merasa terancam, berarti kemenangan bagi kekuatan reaksioner yang represif. Self-censorship sama bahayanya dengan sensor aktif yang dilakukan oleh penguasa. Itu akan merupakan hasil besar bagi penguasa tanpa perlu mengotorkan tangan mereka sendiri.
Pengalaman lainnya yang ingin saya sampaikan ialah, jangan jemu-jemu, apalagi samasekali berhenti ditengah jalan dalam perjuangan untuk prinsip-prinsip demokrasi yang merupakan milik sah kita.
Menjadi lelah, lalu bosan, hilang harapan, takut, inilah hal-hal yang diharapkan oleh penguasa otoriter dari orang atau kelompok yang mereka ingin tindas. Melakukan perlawanan berhadap-hadapan terhadap kekuatan otoriter yang bisa melakukan kekejaman memang bukanlah permainan untuk jadi pahlawan. Adalah wajar bahwa bila kita dicengkam oleh rasa takut, tetapi merasa takut, menjadi lelah, menjadi bosan dan hilang harapan, justru itulah yang jangan kita berikan kepada orang-orang penguasa itu.
Kita tau dan kita dapat berkeyakinan bahwa kita tidak sendirian dalam perjuangan mempertahankan hak-hak manusia. Jutaan rakyat berbaris bersama kita di seluruh dunia. Tetapi dalam praktek melaksanakan perjuangan untuk mencapai tujuan itu, kita masing-masing harus memikul tanggungjawab sendiri. Kebersamaan dengan rakyat lain yang sejalan dengan kita dan sama pendiriannya dengan kita, akan berakhir dengan kemenangan berasma. Tetapi, untuk memenangkan kemerdekaan dan martabat manusia selalu pertama-tama merupakan perjuangan bagi setiap individu kita masing-masing.
Kami di Indonesia masih harus melalui jalan panjang untuk mencapai hak-hak manusia, jangan lagi dikatakan mencapai keadilan dan bahkan kemakmuran untuk seluruh rakyat. Saya samasekali tidak berilusi, bahwa perubahan politik siginifikan akan tercapai selama kekuatan sosial-politik yang bertanggujawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan selama lebih dari tigapuluhtahun masih berkuasa dan termasuk ikut menentukan jalannya politik Indonesia dewasa ini. Tak ada jalan pintas. Dan tak ada jalan lain untuk menghentikan kewenang-wenangan selain seperti apa yang dinyatakan dengan indah oleh Wiji Thukul, seorang seniman rakyat, pemenang Wertheim Award 1999:
HANYA ADA SATU JALAN: LAWAN!
Jangan berhenti, bahkan sejenakpun, dalam perjuangan melawan ketidakadilan.
Saya ingin sekali lagi menyatakan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua anggota Pengurus Wertheim Foundation memberikan kepada saya Wertheim Award.
Saya menerimanya atas nama teman-teman sepekerjaan di Hasta Mitra, dan pemuda-pemuda dan mahasiswa, yang dengan sadar dan berani mempertahankan dan berjuang untuk hak-hak manusia, untuk hak-hak setiap individu untuk kebebasan menulis dan menyatakan pendapat. * * *
*)
Ibrahim Isa adalah publisis
Sekretaris The Wertheim Foundation
Amsterdam.
* * *
18 Agustus 2009
-----------------------------
MENGENANG SAHABAT KARIBKU TERCINTA JOESOEF ISAK
(1)
Mengenangkan seorang sahabat karib tercinta yang begitu commited dengan cita-cita hidup mulya manusia: Perjuangan untuk KEBEBASAN dan KEADILAN, -- bisa terjadi melalui berbagai cara. Salah satu cara, ialah berusaha mengenalnya lebih baik, dan lebih baik lagi. Tidak jarang justru sesudah seseorang meninggal dunia, saat-saat itu bertambah pengenalan mengenai dirinya. Meninggalnya Joesoef Isak membawa ingatan kita pada masa lampau. Ketika masih leluasa bisa bergaul dan berkomunikasi dengannya.
Ini berlaku untuk semua kawan yang mengenal dan dikenalnya. Maka, sesudah beliau meninggal bermunculanlah cerita dan anekdot, tulisan dan kesan serta tanggapan banyak orang yang kenal baik dengan beliau. Manusia Indonesia yang langka ini: Joesoef Isak.
Keterlibatanku dengan 'The Wertheim Foundation', yang kepedulian utamanya adalah usaha emansipasi bangsa Indonesia, telah membawaku ke hubungan dan pengenalan yang lebih dekat lagi dengan Joesoef Isak.
Ketika mengenangkan kembali Joesoef Isak, cara yang kupilih, ialah dengan memulai tulisan terkait dengan salah satu peristiwa penting dalam hubungan dua negeri dan bangsa, Indonesia dan Belanda. Yaitu dengan diberikannya 'WERTHEIM AWARD 2005' kepada JOESOEF ISAK.
* * *
Dalam sidang Pengurusnya, pada tanggal 26 April 2005, The Wertheim Foundtion telah mengambil keputusan memberikan 'Wertheim Award 2005', kepada Joesoef Isak. 'Wertheim Award' itu diterimanya bersama budayawan Goenawan Mohammad, di Den Haag, di Ruangan Nusantara, Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Nederland. Suatu peristiwa yang luar biasa. Karena dua tokoh Indonesia tsb (dalam bahasa asingnya) adalah DESIDEN. Adalah penentang rezim Orba. Tokh, pemenang-pemenang Wertheim Award ini menerima Award tsb di ruang pertemuan KBRI Den Haag, yaitu ruang NUSANTARA.
Semua yang menerima undangan The Wertheim Foundation, ke KBRI Den Haag untuk menghadiri upacara penyampaian 'Wertheim Award 2005' kepada Goenawan Mohammad dan Joesoef Isak, ---- tak habis heran. Kok peristiwa demikian itu bisa terjadi. Bisa diduga hal itu bisa terjadi. Karena suasana gerakan REFORMASI masih menggema di KBRI Den Haag. Ini penting: Juga karena sikap pribadi Mohammad Joesoef, Dutabesar RI untuk Belanda ketika itu. Beliau kontan menyetujui usul Pengurus The Wertheim Foundation, agar penyerahan Wertheim Award kepada Goenawan Mohammad dan Joesoef Isak dilakukan di KBRI Den Haag. Di suatu wilayah Republik Indonesia!
* * *
Beberapa waktu sebelumnya atas nama Pengurus The Wertheim Foundation, aku menilpun Josoef Isak di rumahnya. Menanyakan kepadanya apakah ia bersedia menerima Wertheim Award 2005 bersama Goenawan Mohammad. Joesoef tertegun sebentar. Ia samasekali tak menduga akan mendapat penghargaan dan penghormatan demikain besarnya dari The Wertheim Foundation. Sebuah lembaga di Nederland, yang kepedulian utamanya adalan emansipasi bangsa Indonesia.
Wah, katanya. Itu suatu kehormatan besar menerima Wertheim Award. Joesoef tambah gembira mengetahui bahwa ia akan menerima Award tsb bersama Goenawan Mohammad.
Dalam keputusannya memberikan WERTHEIM AWARD 2005 kepada Joesoef Isak, dinyatakan, sebagaimana tertera pada teks yang tertera di Piagam Award Wertheim 2005 tsb sbb:
“In its meeting of April 26, 2005, the Board of the Wertheim Foundation has decided, following the advice of the external selection committee, to assign the Wertheim Award 2005 to JOESOEF ISAK, to honour him for his courage and talent and in particular for his unremitting efforts to publish politically banned but important and widely read books during the years of political oppression in Indonesia. In doing so he significantly contributed to the fight for the freedom of opinion and press in Indonesia and greatly furthered the struggle for emancipation of the Indonesia people.”
Diterjemahkan bebas, sbb:
Dalam sidangnya pada tanggal 26 April, 2005, Pengurus Wertheim Foundation telah memutuskan, sesuai saran suatu komisi seleksi internasional, untuk menyampaikan WERTHEIM AWARD 2005, kepada JOESOEF ISAK, sebagai penghormatan terhadapnya atas keberanian dan bakat kemampuannya dan teristimewa untuk usaha yang tak henti-henti untuk menerbitkan buku-buku yang dilarang secara politik dan banyak dibaca selama bertahun-tahun lamanya Indonesia mengalami penindasan politik. Dengan berbuat demikian ia telah memberikan sumbangan amat penting terhadap perjuangan untuk kebebasan menyatakan pendapat dan pers di Indonesia dan secara besar-bearan memajukan perjuangan untuk emansipasi rakyat Indonesia.
* * *
Keputusan The Wertheim Foundation yang memberikan penghargaan dan penghormatan demikian besarnya kepada Joesoef Isak, sepenyhnya tepat dan benar! Karena Joesoef Isak telah mengabdikan seluruh hidup dan karyanya demi kebebasan menyatakan pendapat, demi demokrasi dan hak-hak azasi manusia.
Demi emansipasi bangsa Indonesia.
Oleh karena itu meningalnya Joesoef Isak merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Sekaligus juga merupakan kehilangan besar untuk The Wertheim Foundation.
* * *
Mari kita simak dan kenangkan kembali 'ACCEPTANCE SPEECH' Joesoef Isak, ketika menerima 'Wertheim Award 005'. (Teks aslinya dalam bahasa Inggris. Berikut ini adalah terjemahan bebas>
PIDATO JOESOEF ISAK di KBRI DEN HAAG, ketika menerima Wertheim Award 2005:
Yang terhormat para anggota Pengurus Wertheim Foundatrion.
Yth pejabat pimpinan dan staf Kedutaan Indonesia
Goenawan Mohammad dan sahabat-sahabatku tercinta.
Para tamu yang terhormat,
Setelah menjalani bedah jantung tiga minggu yang lalu, fisik saya belum sepenuhnya pulih. Tetapi sekarang ini, jiwa dan fikiran saya dalam kesehatan baik. Dan saya sangat gembira hadir di sini berhadapan dengan hadirin semua dalam peristiwa ini. Suatu kejadian yang begitu signifikan khususnya bagi saya.
Wertheim Award yang akan saya terima hari ini, bersama dengan sahabat karib saya kawan bung Goenawan Mohammad, menjadikan saya bangga dan merupakan kehormatan besar bagi saya. Oleh karena itu perlu saya tekankan segera bahwa kehormatan ini jelas bukan sesuatu yang semata-mata bagi saya pribadi. Saya sepenuhnya sadar bahwa perjuangan untuk kebebasan menyatakan pendapat, bagi individu maupun bagi masyarakat, merupakan suatu usaha kolektif orang-per-orang yang mempunya prinsip dan pendirian yang sama. Teristimewa mengenai kegiatan Hasta Mitra yang bekerja di bidang publikasi. Di sini ingin saya sebut pertama-tama, sumbangsih Hasyim Rahman dan Pramudya Ananta Tur. Kemudian sumbangsih para karyawan, yang kerja dengan rajin dan setia pada cita-cita Hasta Mitra, diantaranya mendiang Kasto dan sahabat kita Sugeng. Semua empat orang tsb, yang saya sebut namanya tadi, semua mantan tapol Pulau Buru.
Saya jug tidak lupa para pemuda dan mahasiswa, juga toko-toko buku kecil-kecilan yang berani dan mengambil risiko ketika mendistribusikan buku yang kami terbitkan, teapi yang selalu dilarang oleh pemerintah Suharto.
Satu point ingin saya garisbawahi di sini. Penyampaian Award ini adalah inheren dengan pengakuan bahwa di dalam periode sejak didirikannya Republik Indonesia yang baru diproklamasikan dalam tahun 1945, telah terdapat suatu titik-hitam (black spot) yang sangat menghina martabat manusia. Selama lebih separuh dari 60 tahun berdirinya, Repulik Indonesia berada di bawah kekuasaan otoriter militer di bawah pimpinan jendral Suharto. Tetapi kita semua tau bahwa negeri-negeri yang menamakan dirinya 'dunia bebas' ('the free world') justru menganggap periode Suharto adalah periode demokrasi di Indonesia. Karena para jendral itu berhasil menggulingkan pemerintahan Sukarno yang dituduh pro-komunis. Saya menganggap Award yang akan saya terima ini sebagai suatu koreksi terhadap manipulasi politik dan penilaian rincu terhadap sejarah.
Selanjutnya, pemberian Award berarti pengakuan bahwa di tengah-tengah kekuasaan militer, telah lahir dan tumbuh kekuatan progresif yang dengan terang-terangan melakukan perjuangan melawan kesewwnang-wenangan rezim. Kekuatan progresif ini belum tampil sebagai pemenanng, Karena dengan turunnya jendral Suharto, bukan dengan sendirinya berarti kehancuran substansial kekuasaan otoriter yang menamakan dirinya rezim Orde Baru. Ini dibuktikan oleh award yang diberikan oleh partai Golkar kepada orang yang yang hakikatnya mengepalai rezim otoriter itu. Orang yang menjadikan korupsi sebagai kultur yang menguasai segenap lapisan kehidupan politik dan ekonomi di Indonesia. Arti penting dari kekuatan juang ini ialah bahwa kekuatan ini punya keberanian untuk terang-terangan tampil dan bahwa adalah penting sekali bahwa kekuatan juang ini tidak berhenti di tengah jalan. Karena, tugas untuk mencapai keadilan, hak kebebasan pribadi dan mempertahankan martabat manusia merupakan usaha seumur . Itu berlaku dimana saja dan dalam situasi yang bagaimanapun.
Saya merasa bangga menerima Wertheim Award ini, pertama-tama karena saya punya hubungan pribadi dengan Profesor Wertheim yang saya amat hormati dan kagumi otoritasnya dan kepribadian yang bermartabat sebagai manusia, sarjana dan sahabat.
Sejak saya keluar dari penjara dan berjumpa dengan beliau dalam tahun 1977 di Wageningen, saya memelihara komunikasi terus menerus dengan beliau sampai waktu beliau meninggal dunia.Yang saya maksud dengan hubungan pribadi ialah, bahwa adalah Profesof Wertheim yang mendampingi saya dan memberikan bimbingan, saran dan nasihat pada saat saya mengedit karya-karya Tetralogi Pramudya Ananta Toer. Dari hubungan yang intensif ini, menjadi jelas bagi saya bahwa simpati Profesor Wertheim tidak terbatas pada Hasta Mitra. Lebih dari itu. Bahwa beliau adalah sahabat sejati Indonesia, tanpa motif lain apapun. Profesor Wertheim adalah seorang warganegara Belanda yang tanpa syarat menyokong perjuangan kemerdekaan Indonesia. Teristimewa emansipasi rakyat kecil yang tertindas. Menyadari sikapnya yang sungguh-sungguh dan konsisten dalam membela rakyat kecil yang tertindas, saya bertanya-tanya apakah pemberian Award hari ini bukan merupakan suatu peristiwa yang terbalik. Bukankah akan lebih tepat bahwa rakyat Indonesia, yang memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terima kasihnya kepada Profesor WimWertheim yang secara kongkrit memberikan sumbangsihnya kepada perjuangan kemerdekaan dan emansipasi rakyat Indonesia? Dengan mengutip konsep politik BungKarno, Profesor Wertheim mreupakan elemen dari the new emerging forces in the midst of the old established fotrces yang ada di dalam masyarakat Belanda seperti halnya di dalam masyarakat Indonesia.
Bagi saya, Wim Wertheim adalah Mutatulinya abad ke-20, yang patut memperoleh penghargaan kita. Patut kita menundukkan kepala memberikan penghormatan kepada beliau, serta menyatakan terima kasih mendalam untuk sumbangsihnya yang tak terkira kepada rakyat Indonesia.
Para tamu.
Menutup 'acceptance speech' saya yang pendek ini, saya ingin bertukar pengalaman dengan sahabat-sahabat saya di negeri Belanda dalam masalah pekerjaan politik sehubungan dengan hak bagi individu untuk kebebasan menulis dan kebebasan untuk menyatakan pendapatnya sendiri. Yang ingin saya kemukakan di sini ialah pengalaman di Indonesia, meskipun secara pokok perjuangan untuk demokrasi dan hak-manusia dimana-mana wataknya universil. Karena kekuatan reaksioner, kekuatan otoriterisme sipil dan militer menganggap sepi martabat manusia, merusak emansipasi dan kemerdekaan individu. Ini sama saja dimana-mana di dunia ini.
Point pertama yang ingin saya kemukakan disini ialah, bahwa dalam berkonfrontasi dengan kekuasaan otoriter dan represif – yang diwakili oleh pemerintah atau oleh elemen-elemen fanatik dalam masyarakat – kia samasekali tidak boleh berilusi, seakan-akan kekuatan reaksioner itu akan menunjukkan pengertian, apalagi, toleran terhadap prinsip-prinsip demokratis yang kita perjuangkan.
Dengan ini saya ingin jelaskan bahwa sikap kompromis dalam bentuk seperti menyesuaikan diri , atau dengan lain kata, melakukan sensor-sendiri, tidak akan memperlemah kekuasaan represif atau otoriter. Sebaliknya, hal itu akan menimbulkan sikap yang lebih keras. Karena kekuatan represif tidak akan punya sikap baik untuk memahami prinsip-prinsip demokrasi. Self-censorship yang dilakukan oleh mereka-mereka yang merasa terancam, berarti kemenangan bagi kekuatan reaksioner yang represif. Self-censorship sama bahayanya dengan sensor aktif yang dilakukan oleh penguasa. Itu akan merupakan hasil besar bagi penguasa tanpa perlu mengotorkan tangan mereka sendiri.
Pengalaman lainnya yang ingin saya sampaikan ialah, jangan jemu-jemu, apalagi samasekali berhenti ditengah jalan dalam perjuangan untuk prinsip-prinsip demokrasi yang merupakan milik sah kita.
Menjadi lelah, lalu bosan, hilang harapan, takut, inilah hal-hal yang diharapkan oleh penguasa otoriter dari orang atau kelompok yang mereka ingin tindas. Melakukan perlawanan berhadap-hadapan terhadap kekuatan otoriter yang bisa melakukan kekejaman memang bukanlah permainan untuk jadi pahlawan. Adalah wajar bahwa bila kita dicengkam oleh rasa takut, tetapi merasa takut, menjadi lelah, menjadi bosan dan hilang harapan, justru itulah yang jangan kita berikan kepada orang-orang penguasa itu.
Kita tau dan kita dapat berkeyakinan bahwa kita tidak sendirian dalam perjuangan mempertahankan hak-hak manusia. Jutaan rakyat berbaris bersama kita di seluruh dunia. Tetapi dalam praktek melaksanakan perjuangan untuk mencapai tujuan itu, kita masing-masing harus memikul tanggungjawab sendiri. Kebersamaan dengan rakyat lain yang sejalan dengan kita dan sama pendiriannya dengan kita, akan berakhir dengan kemenangan berasma. Tetapi, untuk memenangkan kemerdekaan dan martabat manusia selalu pertama-tama merupakan perjuangan bagi setiap individu kita masing-masing.
Kami di Indonesia masih harus melalui jalan panjang untuk mencapai hak-hak manusia, jangan lagi dikatakan mencapai keadilan dan bahkan kemakmuran untuk seluruh rakyat. Saya samasekali tidak berilusi, bahwa perubahan politik siginifikan akan tercapai selama kekuatan sosial-politik yang bertanggujawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan selama lebih dari tigapuluhtahun masih berkuasa dan termasuk ikut menentukan jalannya politik Indonesia dewasa ini. Tak ada jalan pintas. Dan tak ada jalan lain untuk menghentikan kewenang-wenangan selain seperti apa yang dinyatakan dengan indah oleh Wiji Thukul, seorang seniman rakyat, pemenang Wertheim Award 1999:
HANYA ADA SATU JALAN: LAWAN!
Jangan berhenti, bahkan sejenakpun, dalam perjuangan melawan ketidakadilan.
Saya ingin sekali lagi menyatakan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua anggota Pengurus Wertheim Foundation memberikan kepada saya Wertheim Award.
Saya menerimanya atas nama teman-teman sepekerjaan di Hasta Mitra, dan pemuda-pemuda dan mahasiswa, yang dengan sadar dan berani mempertahankan dan berjuang untuk hak-hak manusia, untuk hak-hak setiap individu untuk kebebasan menulis dan menyatakan pendapat. * * *
*)
Ibrahim Isa adalah publisis
Sekretaris The Wertheim Foundation
Amsterdam.
* * *
Subscribe to:
Posts (Atom)
