Thursday, June 5, 2014

( 2 ) “ MENAMBAH PENGERTIAN YG LEBIH BAIK TTG SUKARNO. . . Dan Dengan Itu” “MENAMBAH PENGERTIAN YG LEBIH BAIK TERHADAP INDONESIA TERCINTA”

Kolom IBRAHIM ISA
Rabu, 04 Juni 2014
-------------------------------

                                                    ( 2 )

MENAMBAH PENGERTIAN YG LEBIH BAIK TTG
SUKARNO. . . Dan Dengan Itu”

MENAMBAH PENGERTIAN YG LEBIH BAIK TERHADAP INDONESIA TERCINTA”

. . . <”Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat'- Cindy Adams, Edisi Revisi – Penerbit -- Yayasan Bung Karno, Cetakan Kedua, 2011>

* * *

Masih dalam rangka memperingati Ultah Bung Karno. Ketika itu Hasta Mitra, Penerbit buku bermutu, di bawah pimpinan Jusuf Isak, meluncurkan penerbitan khusus -- “100 Tahun Bung Karno”. Buku itu disebut “Sebuah Liber Amicorum”.

Memang sutu penerbitan istimewa untuk memperingati seabad Bung karno, dan menghormat Bapak Nasion Indonesia. Tidak kurang dari 23 tulisan yang khusus dibuat sekitar Bung Karno. Ada yang orang Indonesia dan ada yang sahabat asing. Mereka itu adalah;

Peter Dale Scott, Pramoedya Ananta Toer, Ali Hasjmi, Chairil Anwar, Sitor Sitoemorang, Marsha Anggit, Bob Hering, Soebadio Sastrosatomo, Partono Karnaen, Dawam Rahardjo, Ibrahim Isa, S.B. Yudhoyono, Noam Chomsky, Hersri Setiawan, Ben Anderson, Harry Poeze, Joop Morriën, H. Manggil, Hafis Azhari, T.M.Siregar, Franciska Fanggidaej, dan Jusuf Isak (Editor).



Buku bermutu yang terbit Juni 2001 tsb, patut dimiliki setiap warga pencinta Bung Karno. Tidak tebal, hanya 316 halaman. Andaikata buku ini sudah tidak ada lagi di toko-toko buku, karena habis terjual. Haraplah ada penerbit yang bersedia mengadakan cetak-ulang.

* * *

Peter Dale Scott a.l menulis “Soekarno dan Pancasila masih tetap memimpin Indonesia masa-kini”

Pramoedya: “Semua lawan Bung Karno sekarang terseret ke meja Mahkamah Sejarah”.

Ben Anderson: “Masalah utama bukan defisit demokrasi, tetapi defisit nasionalisme”.

Sitor Sitoemorang: “Moment of Truth” Soekarno memilih Kebenaran di atas keselamatan pribadi”

Susilo Bambang Yudhoyono: Warisi wawasan BK sebagai pemikirn terbuka, menembus dimensi ruang dan waktu sebagai Keniscayaan Sejarah”.

Dawam Rahardjo: “Selain nasionalis, Bung Karno adalah juga pemikir Islam”.

* * *

Joesoef Isak: “Pada saat seperti sekarang ini, penulis teringat kepada seorang tokoh tua yang usianya masih di bawah generasi Sukarno-Hatta yang sayang sekali sudah lebih dulu menedahului kita semua, yaitu Soebadio Sastrosatomo. Semua kenal dia sebagai tokoh PSI, pengagum, pewaris dan penerus cita-cita Sutan Sjahrir. Pada saaat Jendral Suharto masih sekuasa-kuasanya, dia pernah berkata kepada penulis:

Berhentilah melecehkan Soekarno! Berhenti melecehkan Hatta-Sjahrir! Bangkitkan strategi persatuan Soekarno-Hatta-Sjahrir untuk melawan fasisme Suharto! Sebagai seorang Sjahririst dia berkata:

Soekarno adalah Presiden ku! Soekarno adalah Indonesia – Indonesia adalah Soekarno!”

Pada saat Soebadio mengucapkan kata-kata itu, sedetik pun dia tidak bermaksud mengecilkn apalagi meninggalkan Hatta-Sjahrir. Yang terbayang dihadapannya mungkin adalah kawan-kawannya separtai, para Sukarnoist dan anggota-anggota PKI yang berjalan seakan tanpa arah”.

* * *

Baiklah kita akhiri tulisan ini dengan mengenangkan kembali kata-kata Bung Karno:

Apabila aku telah mencapai sesuatu selama di atas dunia, ini adalah karena rakyatku, Tanpa rakyat aku tidak berarti apa-apa. Kalau aku mati, kuburlah Bapakmu menurut agama Islam dan diatas batu kecil yang biasa engkau tulislah kata-kata sederhana:

DISINI BERISTIRAHAT BUNG KARNO, PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT.

. . . . .

Dan aku ingin beristirahat diantara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan. Benar-benar keindahan dari tanah-airku yang tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal. Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Periangan yang sedjuk, bergunung-gununung dan subur, dimana aku pertama kali bertemu dengan petani Marhaen . . . . “

(Dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyaat Indonesia – Cindy Adams-- Edisi Revisi -Cetakan Kedua, 2011)

* * *

INDONESIA DAN SPANYOL, FRANCO DAN SUHARTO - BEDA DAN SAMANYA

Kolom Ibrahim Isa
Selasa, 03 Juni 2014
------------------------------

INDONESIA DAN SPANYOL,
FRANCO DAN SUHARTO - BEDA DAN SAMANYA


Trims atas 'colekan' Mas Joss . .


*    *    *

Salah satu perbedaan perkembangan Spanyol dan Indonesia, ialah mengenai masalah penghancuran dan pembantaian terhadap kum  Komunis/Kiri.


------  Jendral Franco tangannya berlumuran darah rakyat, Komunis, Kiri Spanyol . 


------Tetapi Jendral Suharto sekujur baju jendralnya basah kuyup darah orang Komunis/Kiri .


Tambah lagi Suharto ciptakan  kamp-konsentrasi Pulau Buru . .



*    *    *


-------- Makanya ketika syaratnya muncuL, . . .

Kaum Komunis/Kiri Spanyol bisa cepat hidup lagi.
Ketika diikejar-kejar juga banyak kaum Komunis/Kiri Spanyol bisa menyelamatkan diri ke luarnegeri dan dari situ membina kekuatan baru.


*    *    *


Di Indonesia agak berbeda. Suharto lebih lihay dari Franco . .

Tapi Franco juga agak lain, sebelum mati ia sempat kembalikan Spanyol ke suatu monarkhi-konstitusional . . .



ini 'analisis' sementara sebagai respons atas 'colekan' Mas Jos .

“ MENAMBAH PENGERTIAN YG LEBIH BAIK TTG SUKARNO. . . Dan Dengan Itu” “MENAMBAH PENGERTIAN YG LEBIH BAIK TERHADAP INDONESIA TERCINTA”

Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 03 Juni 2014
----------------------------


MENAMBAH PENGERTIAN YG LEBIH BAIK TTG
SUKARNO. . . Dan Dengan Itu”

MENAMBAH PENGERTIAN YG LEBIH BAIK TERHADAP INDONESIA TERCINTA”

. . . <”Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat'- Cindy Adams, Edisi Revisi – Penerbit -- Yayasan Bung Karno, Cetakan Kedua, 2011>

( 1 )

* * *

Seingatku, pertama kali Hari Ultah Ke-100 seorang tokoh pemimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia, diperingati secara demikian besar-besaran dan meluas di seluruh negeri, sampaipun ke kalangan masyarakat Indonesia di luarnegeri ( teristimewa dikalangan masyarakat Indonesia di negeri Belanda|), ---- adalah mengenai tokoh pemimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia S U K A R N O . Berhari-hari, bahkan lebih, kegiatan peringatan SEABAD BUNG KARNO berlangsung di Indonesia dalam tahun 2001.

Kami, Murti dan aku sempat menghadiri Pameran Seabad Bung Karno di Pegangsaan Timur, Jakarta, ketika itu. Pameran itu sedikit banyak mempersembahkan sejarah Bung Karno, sebagai individu dan pemimpin bangsa.

* * *

Ini bukan kebetulan! Secara umum di dunia sering dikatakan INDONESIA adalah SUKARNO dan SUKARNO adalah INDONESA. Ada lagi yang lebih spesifik dan kuat menyatakan Tanpa Mengenal Sukarno, tidak mngkin mengenal Indonesia.

Peter Dale Scott, penulis politik terkenal, pernah menulis bahwa Sukarno dan Pancasila masih tetap memimpin Indonesia masa kini.

* * *

Menyinggung masalah “mengenal Sukarno dengan baik”, jelas, hal itu samasekali tidak mungkin terjadi, tanpa membaca sendiri karya-karya Bung Karno yang begitu banyak jumlahnya. Yang terutama tentu yang sudah terkumpul, terseleksi baik di dalam buku 'DIBAWAH BENDERA REVOLUSI', jilid I dan II. Kemudian 'BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT' (Otobiografi), lalu 'REVOLUSI BELUM SELESAI', Jilid I dan II. Paling tidak karya-karya politik/ideologi bangsa tsb itulah yang harus dibaca dan berusaha difahami serta dikhayati . .. . seandainya hendak mengenal SIAPA SUKARNO.

Membaca buku atau tulisan tentang Sukarno yang ditulis oleh banyak pakar, jurnalis dan penulis lainnya, tentu berguna. Khususnya yang hendak diangkat dan disoroti di sini ialah buku yang ditulis oleh Prof Bob Hering berjudul “SUKARNO FOUNDING FATHER OF INDONESIA”, 1901 – 1945.

Keistimewaan buku Bob Hering tsb ialah bahwa itu diuncurkan pada tg 28 Oktober 2002, di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Den Haag. Memang ini yang diidam-idamkan oleh Bob Hering. Agar bukunya tentang Sukarno itu, bisa dilunurkan di wilayan Republik Indonesia. Penerbitnya adalah sebuah lembaga kerajaan Belanda, yaitu KITLV.

* * *

    HASTA MITRA, penerbit edisi Indonesia dari buku Bob Hering itu, ketika mengomentari karya Bob Hering, menulis a.l. sbb:

    . . . biografi Bung Karno, hasil penelitian seorang Belanda, Prof. Dr Bob Hering, yang untuk pertama kalinya mengedepankan satu visi lain ketimbang tulisan para Indonesianist sebelumnya. Lain daripada yang lain, karena Bob Hering adalah Indonesianist yang BERORIENTASI INDONESIA bukan Barat.

Bob Hering adalah sahabat karib dan sejati yang tak akan terlupakan seumur hidup. Pertama kali aku jumpa langsung dengan Prof Dr Bob Hering adalah pada hari peluncuran karyanya historiobiografi brilyan, 'SOEKARNO FOUNDING FATHER OF INDONESIA 1901-1945 '. Sebagai orang Belanda yang dari lubuk hatinya adalah pencinta Indonesia, negeri dan rakyatnya Bob Hering punya s a t u idam-idaman yang teramat sangat, yang perealisasiannya tidak sederhana, yaitu ---- agar peluncuran bukunya itu dilakukan di WILAYAH REPUBLIK INDONESIA. Tak ada tempat lain di negeri Belanda untuk itu, salain di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Den Haag.

Yaitu: -- Di Aula NUSANTARA, KBRI Den Haag.

Tak terkirakan betapa gembiranya Bob Hering, ketika Dubes Indonesia Untuk Nederland ketika itu, Abdul Irsan, mendukung keinginan Bob Hering itu. Demikianlah terjadi suatu peristiwa bersejarah: – – Diluncurkannya buku Bob Hering 'SOEKARNO FOUNDING FATHER OF INDONESIA 1901 – 1945', di KBRI Den Haag, Nederland. Bertepatan pula dengan hari bersejarah, yaitu Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2002.

Bagi Bob Hering tak ada hari yang lebih menggembirakan baginya ketika peluncuran bukunya itu berlangsung di wilayah Republik Indonesia, di KBRI Den Haag, Nederland.

Ketika memperkenalkan buku Prof Dr Bob Hering tsb, penerbitnya 'Koningklijke Instituut voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV) Nederland, menulis sbb: Bob Hering adalah seorang (mantan) Pofesor Studi Asia Tenggara di James Cook University of North Queensland, Austrlia --- yang kini tinggal di Stein, Belanda. Biografi yang ditulisnya tentang Soekarno, ditulis dengan menggali banyak sumber yang hingga dewasa ini tidak diketahui, adalah h a s i l dari studi-seumur hidup yang dilakukannya mengenai Soekarno.

* * *

Adalah untuk pertama kalinya seorang asing, dalam hal ini seorang Belanda, yang menjadikan masalah Bung Karno, sebagai tema pokok studi seumur hidup dan penulisannya. Dalam pembicaraan yang berkali kulakukan dengan Bob Hering, terkesan sekali betapa beliau terpesona, mengagumi dan mencintai tokoh Bung Karno.

Aku balik sangat kagum dan hormat sekali pada Bob Hering. Melalui studi yang cermat ia tiba pada kesimpulan yang begitu tegas dan mantap mengenai Bung Karno. Lebih-lebih kita yang kagum karena kesimpulan itu muncul dari seorang Bob Hering yang tadinya adalah seorang letnan KNIL yang ketika itu dapat tugas sebagai personil Belanda dalam Misi Militer Belanda (MMB) di Indonesia, dalam rangka pelaksanaan Perjanjian Konferensi Meja Bunda (KMB).

Demikianlah, setelah melakukan penelitian dan studi yang menyeluruh dan mendalam, selama bertahun-tahun, Bob Hering akhirnya tiba pada kesimpulan dan pandangan yang baru samasekali terhadap Indonesia dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya terhadap Bung Karno.

JOESOEF ISAK , pemenang pelbagai Award internasional termasuk Wertheim Award 2005, untuk usaha, kegiatan serta perjuangannya demi hak kebebasan menyatakan pendapat, menulis dalam sambutan terbitnya buku Bob Hering itu, antara lain.:

'Walaupun tidak hadir, saya sungguh gembira menyambut hari ini, hari peluncuran buku Biografi Bung Karno oleh sahabat baik saya, Bob Hering, hari yang sudah saya tunggu-tunggu sejak lima tahun yang lalu.

'Selamat sehangat-hangatnya kepada Penulis! Dan juga penghargaan saya sampaikan kepada KITLV Leiden sebagai penerbit yang memungkinkan inteligensia dunia mengenal Bung Karno dari satu sudut-pandang berbeda dari biografi-biografi sebelumnya yang pernah ditulis mengenai Soekarno.

'Saya melihat dua aspek istimewa dalam peluncuran buku biografi Soekarno ini; pertama karena untuk pertama kali Soekarno disorot dengan satu sudut-pandang yang saya anggap sudah bersih sama sekali dari berbagai "reïficaties", kedua - meskipun ditulis dalam bahasa Inggris - buku ini ditulis oleh seorang Belanda dan diluncurkan pertama kali di negeri Belanda.

'Saya garis-bawahi -- oleh orang Belanda dan terbit di negeri Belanda, karena saya mengharapkan buku baru Bob Hering sekarang ini akan merangsang publik Belanda untuk menilai kembali Soekarno secara lebih wajar dan proporsional. Sebenarnya sejarah telah membuat Indonesia-Belanda memiliki hubungan kultural yang khusus, tetapi semua itu lenyap atau rusak karena sikap keliru pemerintah Belanda mau pun pers Belanda secara umum terhadap Soekarno.

Demikian antara lain penilain tinggi Joesoef Isak, Pemimpin Penerbit Buku Bermutu HASTA MITRA, Jakarta.
(Bersambung)

* * *


POLITIK ANTI-TIONGHOA YG PALING KEJAM, PALING BIADAB DAN PALING BERDARAH!



Kolom Ibrahim Isa
Senin, 02 Juni 2014
----------------------------


POLITIK ANTI-TIONGHOA  YG PALING KEJAM, PALING BIADAB
DAN PALING BERDARAH!


Jangan lupa. . ..  jangan sekali-kali lupa, bahwa politik menjadikan warga keturunan Tionghoa sebagai "kambing hitam" , adalah politik tradisionil tapi efektif yang dimulai oleh VOC, . . . suatu asosiasi perseroan dagang Belanda, yang diberi hak istimewa oleh penguasa untuk memiliki serdadu, senjata, kapal dan HAK MONOPOLI dagang dengan Indonesia. . . . . .

Politik 'mengkambing-hitamkan' warga keturunan Tionghoa di Indonesia (dulu Hindia Belanda) ... adalah bagian dari politik DEVIDE ET IMPERA kaum kolonialis Belanda. . . . . . . . .

Politik 'mengkambing-hitamkan' warga keturunan Tionghoa . . . dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi salah satu tiang-penyangga penting dari rezim Orde Baru . . .

*    *    *

Bisa disimpulkan bahwa politik Orde Baru itu adalah politik anti-Tionghoa yang PALING KEJAM, . . . . PALING BIADAB, . . . . DAN PALING BERDARAH . . . .


Jangan sekali-kali lupakan itu!!.
.

LAIN DI JERMAN -- LAIN DI INDONESIA

Ibrahim Isa
Amsterdam, 01 Juni 2014
---------------------------


Ibrahim Isa
Amsterdam, 01 Juni 2014
---------------------------

Kolom IBRAHIM ISA
Minggu, 01 Juni 2014
------------------------------

LAIN DI JERMAN -- LAIN DI INDONESIA


Di Indonesia,  namaku masuk 'daftar hitam' Orde Baru. Sebabnya,  karena punya fikiran lain dan menentang represi Orde Baru . . 
 
Di Indonesia , keluarga kami masuk daftar 'orang bermasalah'. .

Di Jerman, . . . . lain lagi . . .

Di situ tidak ada daftar 'orang bermasalah', cucu kami (dalam foto ditengah) adalah 'mantan' anggota - pernah dinas di  -  Angkatan Udara Jerman . . .

That is life of the world of today . .

Makanya (jangan heran) . . .  banyak kaum Kiri yang 'asil' di Barat. 
 
Dan dari situ merasa bisa berbuat,  urun sumbangan kecil untuk 'perubahan' dan 'pembaruan' di Indonesia. .





Photo

JOKOWI – KEUNGGULAN DALAM PENGABDIAN & KEPEMIMPINAN YG JADI CIRI UTAMANYA . . . . .

Kolom IBRAHIM ISA
Jum'at, 30 Mei 2014
------------------------------

JOKOWI – KEUNGGULAN DALAM PENGABDIAN & KEPEMIMPINAN YG JADI CIRI UTAMANYA . . . . .

* * *

Jika ada seorang pemimpin pada periode Reformasi dan Demokratisasi dewasa ini, YANG BEGITU TRANSPARAN, baik dalam pengabdiannya kepada masyarakat, kehidupan sehari-hari, kegiatannya, maupun laggam memimpin, yang mengutamakan musyawarah dengan rakyat, . . . . maka orang itu adalah . . . JOKOWI.

Siapa dia? Bagaimana asal-usulnya, masa hidupnya sebagai anak keluarga yang tinggal di rumah 'kontrakan' di daerah perumahan rakyat di Solo; masa sekolah mulai dari SD sampai tamat universitas; kemudian memasuki kehidupan bersuami-istri yang dianugerahi anak-anak lelaki dan perempuan; bagaimana kehidupan keluarganya; hidup sebagai pegawai perusahaan kehutanan di hutan-belukar Provinsi Aceh; menjadi pengusaha mebel, sampai sukses menghimpun dan mengorganisai produsen hasil kayu Indnesia Solo ke luarnegeri . . . . akhirnuya terpilih menjadi walikota Solo, kemudian Gubernur DKI Jakarta. . . …

* * *

Semua itu dikisahkannya terbuka, transparan, blak-blakkan di dalam bukunya. Berjudul “JOKOWI MEMIMPIN KOTA MENYENTUH JAKARTA” – 'Sebuah 'Official Memoir Book'.

Tidak ada yang disembunyikan. Semua jelas. Semua bisa dicek dengan fakta-fakta praktek kegiatan dan hidupnya selama ini.


* * *

Pada halaman utama buku tsb tertulis kata-kata sederhana tapi berarti:

SEBUAH KEPEMIMPINAN AKAN BERHASIL BILA MAMPU MELAYANI KALANGAN TERBAWAH”

Sebagai Walikota Solo, Jokowi menjadi terkenal dan dicintai wong cilik, karena ia telah berhasil dengan sukses menemukan jalan keluar bagi pedagang kaki lima (PKL). Karena ia pertama-tama bertolak dari pandangan bahwa penggiat-ekonomi wong cilik (PKL) itu bukanlah “Hama”. Suatu anggapan banyak pejabat walikota selama itu“

Jokowi berpandangan sebaliknya, ia memandang

PKL “adalah rakyat, adalah wakil dari wajah rakyat kita . PKL adalah simbol kemandirian rakyat kecil untuk bertahan hidup dengan mengerahkan kemampuan dagang dengan modal kecil. PKL merupakan cara kreatif rakyat untuk melakukan kebertahanan ekonomi tanpa merepotkan pemerintah, Mereka tidak minta dana bantuan atau berutang pada bank, lalu menyisakan kredit macet. PKL adalah hak azasi rakyat yang merasa perlu melakukan sesuatu yang halal untuk hidup. PKL tiada lain merupakan ujung tombak perekonomian masyarakat kelas bawah. Mereka sama seperti manusia Indonesia oainnya, juga memerlukan ruangan untuk bergerak”.

Pandangan Jokowi ini 'menjungkir-balikkan' sikap dan pandangan banyak para pemerintah kota di negeri kita. Orang mengatakan, ini suatu 'pandangan revolusioner'. Suatu analisa dan pandangan yang bertolak dari dan demi kepentingan rakyat yang dipimpinnya,

* * *

Dari sekelumit analisis kongkrit atas situasi kongkrit kaum PKL Solo, dan bagaimana pandangan dasarnya mengenai masaah tsb. . sudah tampak, bahwa JOKOWI ADALAH PEMIMPIN yang sikap dan pandangannya adalah sikap dan pandangan RAKYAT! Yang bertolak dari kepentingan nyata rakyat yang dipimpinnya.

* * *

Hari ini bisa dibaca di media Indonesia, pandangan dan sikap Abdillah Toha, salah seorang yang ikut mendirikan parpol PAN. PAN mencalonkan Hatta Rajasa sebagai calwapres mendampingi Prabowo Subianto dari Gerindra.

Logikanya . . . Toha Abdillah akan memilih Prabowo dan Hatta Rajasa.

Tetapi TIDAK.

Toha Abdillah, pendiri PAN itu, MEMILIH JOKOWI. Di bawah ini sebab-musababnya mengapa pemdiri parpol PAN itu memilih Jokowi:

TOHA ABDILLAH:

10 Alasan Mengapa Saya Memilih Joko Widodo
30 Mei, 2014 – Kompasiana.com.
10 Alasan Mengapa Saya Memilih Joko Widodo
Sebagai salah seorang pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), bersama beberapa pendiri lain serta beberapa anggota dan ex anggota PAN, saya memutuskan akan memilih calon presiden yang tidak didukung PAN pada pemilihan presiden mendatang. Paling sedikit ada 10 alasan kelebihan Jokowi yang mendasari keputusan saya tersebut.

Pertama, Jokowi tidak tercela. Jelas dia bukan manusia sempurna, tetapi setidaknya dia tidak punya beban masa lalu yang berpotensi mengganggu tugasnya sebagai presiden. Sejauh ini dia telah terbukti jujur dan bersih, serta tulus, dan terbuka. Ditangan orang bersih seperti inilah kita seharusnya lebih memercayakan program pemberantasan korupsi yang telah menggerogoti negeri ini selama berpuluh tahun.

Kedua
, Jokowi berprestasi. Tidak diragukan lagi bahwa Jokowi telah menunjukkan prestasi kerja masa lalu (track record) yang meyakinkan. Sebagai wali kota Solo, dia adalah salah satu kepala daerah terbaik di negeri ini, bahkan mungkin di dunia. Kepentingan rakyat didahulukan sehingga ketika terpilih kembali sebagai wali kota untuk periode kedua, dia mendapatkan dukungan tidak kurang dari 90% pemilih. Sebagai Gubernur DKI Jakarta, walau belum sampai 2 tahun, dia telah menununjukkan hasil kerja yang bagus dengan merancang dan sekaligus mengimplementasikan beberapa program  pro rakyat dengan cepat dan tanpa ragu (kartu sehat, kartu pintar, BPMKS di Solo, MRT dsb).

Ketiga
, Jokowi bukan pengurus partai. Walau dia anggota partai dan dicalonkan oleh partai, dia bukan pengurus partai< apalagi ketua umumnya. Sebagai presiden RI dia tidak akan disibukkan dengan rapat-rapat dan persoalan partai sehingga perhatiannya tidak akan terbelah dan dapat memusatkan pikirannya kepada kerja negara. Permintaan ketua umum PDIP kepadanya untuk menjadi “petugas partai” harus diartikan sebagai imbauan untuk menjalankan ideologi partai.

Keempat
, Jokowi pengambil keputusan. Gayanya yang lemah lembut mengelabui kita seakan dia seorang pemimpin yang tidak tegas. Ketegasan dalam mengambil keputusan telah sering dibuktikannya dalam possinya sebagai wali kota Solo (menolak usul pembangunan mal oleh gubernur Jawa Tengah saat itu), memberhentikan pejabat tinggi DKI yang tidak berprestasi (walikota Jakarta Selatan) dan banyak lagi. Ketegasan seseorang tidak dicerminkan oleh cara bicaranya yang keras dan meledak-ledak.

Kelima
, Jokowi pluralis. Sangatlah berbahaya bila di negeri yang sangat majemuk seperti Indonesia, kita dipimpin oleh seorang presiden yang berwatak ekslusif. Jokowi seorang Muslim yang taat dan telah menunaikan ibadah haji serta empat kali umroh dengan biaya sendiri, tetapi juga sangat toleran terhadap mereka yang beragama dan berkeyakinan lain. Dia telah membuktikan sebagai pemimpin pluralis yang membela dan melindungi hak minoritas (kasus lurah Susan), dan berkomitmen menjaga kebinekaan bangsa demi keutuhan NKRI. Jokowi tidak punya program “pemurnian agama” dalam visi misinya yang berbahaya bagi persatuan bangsa.

Keenam, Jokowi bukan pedagang politik. Walaupun dia berlatar belakang seorang  pengusaha, tapi urusan kursi pemerintahan tidak diperdagangkannya. Sejak awal dia telah mengatakan bahwa prinsip koalisinya non-transaksional. Artinya, dia tidak akan membagi-bagikan posisi kabinet hanya atas dasar garis partai tetapi mencari dan menempatkan the right man in the rght place. Ini sudah dibuktikannya ketika dia menjabat sebagai gubernur DKI dengan melelang berbagai jabatan penting di DKI.

Ketujuh
, Jokowi penyelesai konflik. Hal ini telah dibuktikannya berkali-kali baik di Solo maupun di DKI seperti dengan menyelesaikan masalah PKL di Solo serta masalah Tanah Abang dan rumah-rumah liar di DKI. Konflik kraton Surakarta yang gagal diselesaikan oleh pemerintah pusat, berhasil diselesaikannya dalam waktu beberapa bulan. Keunggulannya terletak pada cara penyelesaian yang damai tanpa menimbulkan kerusuhan dan keresahan, karena rakyat kecil “korban” penyelesaian tidak diabaikan begitu saja tetapi ditampung atas tanggungan pemerintah. Kemampuannya di bidang ini akan dilipat gandakan dengan bantuan cawapres Jusuf Kalla yang berprestasi besar menyelesaikan masalah Aceh dan Poso.

Kedelapan, Jokowi reformis. Sangatlah menonjol ketika belum sampai 2 tahun menjabat gubernur DKI dia telah berhasil membobol kebiasaan-kebiasaan lama birokrasi yang cenderung koruptif dan tidak efisien. Membuat KTP di DKI sekarang hanya memerlukan waktu sehari, bukan sebulan seperti sebelumnya. Sebagai wira usahawan, cara berpikirnya segar dengan selalu mencari terobosan dan pemikiran out of the box. Bertahap tapi konsisten, rasionalisasi pegawai negeri DKI terus dilaksanakan dan disiplin ditingkatkan. Dia juga memberi suri tauladan dengan menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras. Jokowi seorang demokrat tulen yang tidak percaya kepada keuatan uang untuk memenangkan pemilihan.

Kesembilan
, Jokowi sederhana dan hemat. Kesederhanaan dan wajah kerakyatan Jokowi tak terbantahkan dan kasat mata. Beberapa anggaran DKI yang mubazir dipotongnya sedangkan penerimaan APBD DKI melonjak drastis berkat tarnsparansi pengelolaan pajak.  Dia bukan orang yang gila hormat, lebih suka bersepeda dan jalan kaki dan menolak selalu dikawal dengan vorijder. Tidak pandai berbicara tetapi santun. Bukan pendendam dan tidak pernah melayani berbagai kampanye hitam terhadapnya. . Menolak menerima gaji sebagai walikota Solo dan Gubernur DKI karena sudah merasa cukup dari penghasilannya sendiri sebagai pengusaha.

Kesepuluh
, Jokowi kepala keluarga sakinah. Memimpin negara atau institusi apapun harus dimulai dengan kemampuan memimpin keluarga. Keluarga Jokowi dikenal sebagai keluarga yang bahagia. Istrinya,  Iriana, seorang wanita yang sederhana dan tidak banyak menuntut serta lebih senang mengurusi urusan rumah tangga daripada ikut campur dalam urusan politik suami. Ketiga anaknya adalah anak-anak idaman setiap orang tua. Berpendidikan cukup dan yang sulung seorang pengusaha catering yang tidak mau menggantungkan sumber permodalannya dari orang tuanya.

Abdillah Toha
Pendiri dan mantan ketua Partai Amanat Nasional (PAN)




Wednesday, May 28, 2014

SEKITAR Catatan: Dr. Nono Anwar Makarim "FASISME DI INDONESIA INGIN KEMURNIAN AGAMA DAN JUGA UUD 45” Dan Komentar Prof Dr Magnis Suseno SJ. Terhadap Visi Prabowo menyangkut Toleransi Agama

Kolom Ibrahim Isa
Selasa, 27 Mei 2014
----------------------------


SEKITAR Catatan: Dr. Nono Anwar Makarim

"FASISME DI INDONESIA INGIN KEMURNIAN AGAMA DAN JUGA UUD 45”


Dan Komentar Prof Dr Magnis Suseno SJ. Terhadap Visi Prabowo menyangkut Toleransi Agama

* * *

Artikel Nono Anwar Makarim, di bawah ini (diusung oleh Goenawan Mohammad), punya arti relevan dan nilai praktis di saat masyarakat kita , disajikan visi dan misi oleh para calpres 2014, menjelang pilpres 9 Juli 2014. Seperti yang diajukan oleh Jokowi dan PDI-P (Trisakti), dan yang diajukan oleh Prabowo dan Gerindra (Manifesto Gerindra).

Artikel Makarim mengangkat masalah (bahaya) FASISME di Indonesia, kaitannya dengan usaha 'pemurnian' konsep ketatanegaraan maupun keyakinan agama.

Maka artikel Makarim tsb patut dibaca dan dipertimbangkan.

* * *

Begitu juga patut dibaca dan dipertimbangkan komentar Prof. De Franz-Magnis Suseno SJ. Ia menyoroti bahaya yang bisa timbul dari visi Prabowo/Gerindra menyangkut kebebasan dan toleransi bagi dan di kalangan penganut agama. Tulis Magnis a.l , :

"Negara dituntut utk menjamin kemurnian ajaran agama yg diakui oleh negara dari segala bentuk penistaan & penyelewengan dari ajaran agama."
. . . . Itu berarti bahwa bagi Prabowo suatu pemerintah akan merasa berhak menindas semua agama & kepercayaan di luar enam agama yg diakui dalam UU Penodaan Agama, misalnya Achmadiyah, Syia, Saksi Yehowa, Mormon, Bahai, Taman Eden & sekian tarekat Islami. Demikian Magnis Suseno.


* * *

Maksud penyajian dua pendapat tsb, ialah, agar masyarakat memanfaatkan periode menjelang pilpres 9 Juli 2014, demi menggalakkan pendidikan politik dan ideologi bagi masyarakat. Banyak berfikir dan mempertimbangkan, Dengan kritis berusaha menganalisis pelbagai visi dan misi menyangkut kelangsungan hidup bangsa dan negeri ini.

* * *

Goenawan Mohamad

FASISME DI INDONESIA INGIN KEMURNIAN AGAMA DAN JUGA UUD 45 -- Oleh Nono A. Makarim (menyambut komentar Franz-Magnis Suseno)

Gerakan pemurnian agama atau moralitas di sepanjang sejarah selalu berbuntut persekusi terhadap yang menyimpang atau menyeleweng. Di Indonesia kita sedang menyaksikan drama ini hampir setiap hari di Jawa Barat, di Madura, di Jawa Timur dan Sulawesi. Yang menganggap dirinya “murni”, melihat sesuatu yang berbeda sebagai “polusi” atas kemurniannya. Yang beda dianggap ancaman, dan yang mengancam dinyatakan sah untuk dibasmi demi dipertahankannya kemurnian itu. Dan terjadilah pengusiran, pengenyahan, dan pemburuan terhadap yang menyimpang.

Pembasmian akan berlangsung lebih bengis, kejam, dan lewat batas kemanusiaan bila didukung oleh keyakinan bahwa perbuatannya tidak hanya dihalalkan, bahkan berpahala.

Susahnya adalah bahwa tidak ada suatu ide di dunia yang menguasai hampir seluruh aspek kehidupan manusia yang lambat laun tidak mengalami sempalan yang memenuhi kebutuhan khusus sebagian masyarakat yang tidak dipenuhi oleh ide induknya. Aliran, sekte, dan pemikiran baru selalu muncul. Yang yakin akan kemurniannya selalu merasa terancam, dan yang dianggap menyeleweng akan selalu dikejar, dan dihabisi. Apalagi jika dijanjikan oleh suatu Manifesto yang begitu didambakan oleh banyak orang.

Gerindra tidak hanya berjanji berjuang untuk pemurnian agama. Partai Gerakan Indonesia Raya juga menggandrungi UUD 45 yang murni. Kita mengerti bahwa kalau orang takut akan apa yang akan terjadi di hari depannya, dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya di masa kini, ia akan bernostalgi ke masa lalu.

Nostalgia akan UUD yang secara gemilang digunakan oleh Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno untuk melaksanakan demokrasi dan ekonomi terpimpinnya dan secara keras dipakai oleh Jenderal Besar Suharto dalam tangan besi Demokrasi Pancasilanya adalah UUD 45 yang "murni", sebelum terkena “polusi” hak-hak asasi, yang menolak Trias Politika, yang dilandasi filsafat Kawula Gusti. Bagi pandangan ini, bangsa seperti keluarga. Yang memimpin keluarga, yang menjadi Kepala keluarga adalah seorang Bapak. Seorang Bapak dan keluarga nya merupakan suatu kesatuan harmonis yang tidak boleh dipisah.

UUD 45 yang murni berkemampuan mendukung pemerintahan yang otoriter, baik sipil maupun militer berpuluh-puluh tahun, melintasi pembunuhan masal terbesar dalam sejarah bangsa, dan legitimasi praktek sistemik pemerintahan korup. Konsepsi kawulo gusti mungkin lebih dikenal di kawasan Eropa dibawah semboyan “ein Volk, ein Führer, ein Ja” , atau “ein Volk, ein Reich, ein Führer”, "satu bangsa, satu pemimpin, satu suara"
Ini filsafat yang dicanangkan oleh partai nasional sosialis (NAZI) Adolf Hitler di Jerman, oleh Benito Mussolini di Italia.

Semangat UUD 45 yang aseli, sebelum Reformasi, sebelum hak-hak asasi ditegaskan, di samping tergali dari sumber peradaban aseli Jawa, banyak menemukan resonansi dalam doktrin NAZI di Jerman dan Fasci di Combattimento Italia. Sungguh tidak mengherankan kalau UUD 45 yang murni dan yang memungkinkan diktatur bertahta begitu lama disebut sebagai konstitusi fasis. Bebarapa perumusnya tidak terlalu keberatan pada julukan itu.

Karena pertama, Indonesia dalam keadaan diduduki militer Jepang, dan yang membentuk BPUPKI adalah Markas Besar Militer Jepang di Jawa. Kedua, jaman dulu belum ada TV yang mempertontonkan kekejian perang dan dampaknya dalam saat seketika kejadiannya. Horor kamp-kamp konsentrasi Negara-negara poros fasis Eropa di Dachau, di Buchenwald, Auschwitz, Salerno, Padua dan Trieste tidak diketahui oleh dunia. Bagi Negara-negara jajahan perang Jerman, Italia, dan Jepang melawan poros Negara kolonialis dan imperialis justru dipuji dan didoakan agar menang. FASIS di saat perbincangan filsafat yang mendasari UUD45 yang murni belum memperoleh arti makian, cercaan, hinaan seperti sekarang. Dianggap fasis pada saat itu bahkan berarti berjuang melawan para imperialis.

Sekarang kita tahu dan mengerti lebih banyak. Sekarang kita sudah mengalami dan menderita lebih banyak di bawah cepolan tangan besi UUD 45 yang murni dan falsafah pendukung kekuasaannya. Cukup sudah penggalian unsur-unsur “Luhur” dari masa lalu sejarah faktual atau imaginer yang sebenarnya adalah sekadar kedok bahasa untuk diktatur. Kerinduan akan UUD45 yang murni, dengan sikap yang menganggap pengadilan hak asasi yang “berlebihan” mudah disimpulkan sebagai FASISME yang untuk berusaha kembali.

Barangkali Manifesto Gerindra perlu dirumuskan kembali dengan vernakular jaman sekarang, bukan bahasa 1945. RI butuh partai yang dikelola secara modern, partai yang tidak dijadikan pondok penginapan anak-cucu.
________________
Catatan: Dr. Nono Anwar Makarim adalah jurnalis dan pakar hukum yang

* * *

Kutipan KOMENTAR Dr. FRANZ-MAGNIS SUSENO S.J. Tentang MANIFESTO GERINDRA.

Sampai sekarang saya selalu berusaha untuk tidak menjawab apa "kita" "harus" memilih Prabowo atau Jokowi. Itu bukan hak saya. Tetapi dengan diumumkannya Manifesto Gerindra saya tidak dapat diam lagi. Di dalamnya ada dua hal yang serius.

Yang pertama, dalam manifesto itu ditulis: "Adanya Pengadilan HAM merupakan sesuatu yg overbodig (berlebihan)."

Yg kedua, ditulis "Negara dituntut utk menjamin kemurnian ajaran agama yg diakui oleh negara dari segala bentuk penistaan & penyelewengan dari ajaran agama."

Dua-duanya gawat. Kalau yang pertama, sikap Prabowo tentu sangat bisa dimengerti. Dan belum tentu kubu Jokowi lebih baik. Apalagi Ibu Megawati belum pernah peduli pd kurban apa pun. Jadi 1 : 1.

Tetapi yg kedua gawat betul. Itu berarti bahwa bagi Prabowo suatu pemerintah akan merasa berhak menindas semua agama & kepercayaan di luar enam agama yg diakui dalam UU Penodaan Agama, misalnya Achmadiyah, Syia, Saksi Yehowa, Mormon, Bahai, Taman Eden & sekian tarekat Islami.

Baca juga jawaban yg diberikan oleh "administrasi Gerindra" atas sebuah pertanyaan kritis: "Bung, seluruh WNI harus dilindungi. Jika mereka berada di jalan yang salah, kita buat lembaga utk membuat mereka jera."
"Membuat mereka jera !" Ini bukan lagi main-main. Itu bertentangan dengan hak-hak asasi manusia maupun dengan Pancasila dan UUD-NRI 1945 Pasal 28 E,G(1), I(1) & (2) & Pasal 29(2); yang semuanya tidak mengenal pembatasan pd "6 agama yg diakui".

Dan kalau pemaksaan dlm hal agama & keyakinan religius sudah dimulai, apa akan berhenti di situ? Jangan-jangan lantas kita akan mendapat suatu "UU Kerukunan Agama" yg dalam kenyataan berarti penyumbatan kebebasan beragama & berkeyakinan. Apalagi Gerindra dalam koalisi akrab dengan PKS dan PPP Suryadarma)?

* * *

Eratum:
Dalam tulisan Kolom IBRAHIM ISA, 26 Mei 2014, berjudul: “MELIA DAN SOELARDJO – SETENGAH ABAD SUKA & DUKA”, yang menyangkut kelahiran Ita, putri Soelardjo dan Melia, tedapat hal yg perlu diralat. Soelardjo menjelaskan sbb:

Ita dilahirkan pada 8 Juli 1965. Ketika saya mendapat tugas ke Peking menghadiri Perayaan ulang tahun berdirikan Republiek Rakyat Tiongkok, anak saya sudah lahir dan sudah berusia 2 bulan 7 hari. “

* * *