Sunday, August 12, 2007

Kolom IBRAHIM ISA - 'NEW WORLD-ORDER-NYA' BUSH

Kolom IBRAHIM ISA
21 September 2002

-------------------------------------------

'NEW WORLD-ORDER-NYA' BUSH -
ADALAH - - HEGEMONISME- - TULEN!

Selain Presiden Bush dan PM Blair (lewat pernyataan
menlunya), ; Sekretaris Jendral PBB, Kofi Anan,
demikian pula sebagian besar negara-negara anggota
PBB--- juga komentar media mancanegara, umumnya,
menyambut baik kesediaan Irak, yang pada tanggal 16
September, 2002, y.l., dalam surat resminya kepada
Sekjen PBB, menyatakan KESEDIAAN IRAK, TANPA SYARAT,
MENERIMA TEAM INSPEKSI-PBB. Irak menjelaskan bahwa
sikapnya itu ditorong oleh hasrat mencegah perang,
karena AS menjadikan masalah Team Inspeksi sebagai
"dalih" untuk mencetuskan perang terhadap Irak.

Bagaimana AS menanggapinya? Reaksi Amerika Serikat,
sudah banyak yang menduganya.

Presiden Bush mencibirkan dan mencemoohkan kesediaan
Irak itu. Presiden Bush, wapresnya Dick Cheny,menlun
dan menteri pertahanannya, semua menghujat kesediaan
Irak itu, sebagai suatu "delaying tactics" , taktik
"mengulur-ulur waktu". Fihak-fihak yang sedikit banyak
bersimpati, "mengagumi" atau bahkan takut terhadap
Amerika Serikat, dengan pelbagai motivasi di balik
sikap mereka, menyatakan bahwa sikap Irak itu
disebabkan oleh "tekanan mliter " AS. Jadi, mereka
menganggap ancaman agresi militer Amerika terhadap
Irak itu sebagai sesuatu yang "baik" dan "positif".
Kalau tidak ada tekanan AS, kata mereka, maka Sadam
Hussein akan tetap ngotot, mengangap sepi dan
membelakangi setiap Resolusi DK PBB. Para simpatisan
Amerika itu pura-pura tidak tahu, bahwa, Kofi Anan,
sebagai Sekjen PBB, selama ini terus berkomunikasi
dengan Bagdad, mendorong dan mengingatkan Bagdad agar
mematuhi Resolusi PBB. Kofi Anan juga memberikan
saran agar Team Ispeksi PBB bisa secepatnya memulai
kembali tugasnya di Irak, tanpa syarat. Juga Liga Arab
dan banyak negeri lainnya, termasuk negara anggota Uni
Eropah yang penting, seperti Jerman -- dan
Perancis, mendorong Irak, agar Irak mematuhi Resolusi
Dewan Keamanan PBB yang berkenaan dengan pekerjaan
Team Isnpeksi ke Irak. Pokoknya negara-negara yang
menyambut baik sikap terakhir Irak itu, menegaskan
kembali, bahwa mereka menganggap jalan satu-satunya
untuk menyelesaikan masalah Irak, adalah lewat lembaga
internasional PBB, dan menekankan bahwa, tidak ada
jalan yang harus ditempuh kecuali jalan damai. Mereka
keras menentang perang baru yang dirancangkan Amerika
terhadap Irak.

Bila dicermati perkembangan situasi yang menyangkut
masalah Irak, orang tidak bisa lain akan mengambil
kesimpulan, bahwa, pada pokoknya, kesediaan Irak itu
adalah akibat dari desakan internasional, termasuk
desakan dari tokoh internasional , negarawan senior
seperti mantan presiden Afrika Selatan, Nelson
Mandela.

Amerika Serikat hari-hari ini mencuat arogansinya. AS
menganggap dirinya adalah negara yang paling kuat
secara militer dan ekonomi, dan terkaya didunia dewasa
ini, yang memiliki persenjataan yang paling moderen
dan canggih. Amerika Serikat bermimpi untuk menjadi
negara hegemonis yang harus ditaati oleh seluruh
dunia. Bukankah ini nampak sekali dari sikap Amerika
yang telah memberikan ultimatum demi ultimatum kepada
badan internasional PBB. AS mengancam, kalau Dewan
Keamanan PBB dalam mengurusi masalah Irak, tidak
bersedia bertindak menuruti kemauan Amerika, maka
Amerika Serikat akan bertindak sendiri. AS akan
melakukan serangan militer terhadap Irak dan
menggantikan rezim Sadam Hussein dengan pemerintah
yang dikehendakinya.

Sesudah Irak menyatakan kesediaannya untuk menerima
Team Pemeriksa PBB, serta memulai persiapan untuk
kembali bekerjanya Team Pemeriksa PBB tsb, yang
direncanakan pada bulan Oktober 2002 ini, maka AS
cepat-cepat mengulangi tuntutannya, agar Dewan
Keamanan PBB, tokh mengambil resolusi yang di dalamnya
dinyatakan ancaman militer terhadap Irak. Presiden
Bush juga menunut kepada Kongres AS , suatu "blanche
cheque" , "cek kosong", yang memberikan kekuasaan tak
terbatas dan kebebasan kepada Bush, untuk melakukan
tindakan militer terhadap Irak, "bila diperlukan".
Kata-kata "bila diperlukan" ini adalah rumusan karet,
yang bisa digunakan oleh Bush sekehendak hatinya.
Menlu AS, C. Powel, mengancam, -- bila Dewan Keamanan
PBB tidak mengambil resolusi mengenai Irak seperti
yang dikehendaki AS, maka AS akan merintangi rencana
pekerjaan Team Pemeriksa PBB ke Irak. Dalam sejarah
PBB, mungkin baru kali ini ada suatu negara yang
mengeluarkan ancaman yang begitu kurang ajar terhadap
lembaga dunia ini.

Begitu arogannya AS, yang hendak memaksakan suatu
"new world-order", suatu "orde baru" bagi dunia,
yang bila dilihat dari ulah-pulah dan tindak lakunya
belakangan ini, yang dimaksudkan oleh AS dengan "new
world-oder" itu nyatanya adalah "hegemonisme AS
terhadap dunia". Dunia harus tunduk padanya, inilah
""new world-order"nya Amerika.

Melihat ulah-polah AS, yang menganggap sepi seluruh
dunia, sampai-sampai seorang menteri Jerman, yaitu
Mentri Kehakimannya, secara implisit menyamakan Bush
dengan Hitler - - - - - Dan tidak kurang dari seorang
tokoh dunia Nelson Mandela, pada tanggal 17 Sept
y.l., seperti disiarkan KB Reuters, menyatakan sbb:

"Kita harus mengutuk (sikap AS) ini, karena mereka
berfikir bahwa mereka adalah satu-satunya negara yang
ada di dunia ini. Tidak betul itu, dan mereka
melakukan politik yang berbahaya. Bush ada hak apa
untuk tampil menyatakan bahwa tawaran Irak itu tidak
sungguh-sungguh. Kita harus mengutuk keras sikap AS
itu"

"Maka saya mengeritik banyak pemimpin dunia yang
berdiam diri saja, disaat, dimana satu negeri hendak
mengancam dan merajai seluruh dunia".
Mandela juga mengharapkan agar kesediaan Irak itu
"menuju kepada diakhirinya sanksi terhadap Irak".

nyatanya juga hanya menimbulkan penderitaan dan
kesengaraan belaka yang harus dipikul oleh rakyat
Irak.>

Bukan saja dunia internasional yang menolak sikap
hegemonis AS yang arogan itu, tetapi juga dari dalam
negeri AS sendiri tidak kurang keras kritik terhadap
presiden Bush. Ini antara lain dikemukakan baru-baru
ini disampaikan kepada BBC, oleh seorang anggota
Kongres AS dari negara bagian Ohio. Congressman dari
Ohio itu menyatakan bahwa Presiden Bush hendak
memperdagangkan darah tentara AS dengan minyak Timur
Tengah. Ditekankannya bahwa rakyat Amerika menentang
terorisme, tetapi juga menentang dilancarkan prang
terhadap Irak. Utusan Kongres AS dari Ohio itu
menyatakan bahwa politik Amerika terhadap Irak dan
Timur Tengah dilatarbelakangi oleh ambisi AS untuk
menguasai sumber-sumber minyak dunia, yang terpusat di
Timur Tengah. Bila Presiden Bush mencetuskan perang
terhadap Irak, hal itu hanya akan membikin senang dan
menguntungkan kaum industrialis senjata dan
perusahaan minyak raksasa AS saja. Demikian Congresman
dari Ohio.

Menghadapi ambisi dan arogansi AS ini, sikap Indonesia
pada pokoknya sudah benar, yaitu, mengusahakan
penyelesaian masalah Irak, hanya melalui badan
internasional PBB.

Seyogianya Indonesia tidak beranjak dari politik yang
sudah ditetapkan itu. Lebih baik lagi, kiranya, bila
Indonesia, paling tidak, mengambil sikap yang senada
dengan sikap Nelson Mandela.

Berani melawan politik hegemonisme Amerika Serikat!
Berani membela kedaulatan negeri kita terhadap politik
negara manapun yang hendak memaksakan politiknya
terhadap Indonesia.
< Dimuat di'Nusantara', 22 Sept 2002 >
* * * *

Kolom IBRAHIM ISA - TAKTIK-KAH? - STRATEGI-KAH?- , . . . . .

Kolom IBRAHIM ISA
3 September, 2002.

---------------------------

TAKTIK-KAH? - STRATEGI-KAH?- , ATAUKAH . . . .PRAGMATISME POLITIK?

Dua-tiga minggu belakangan ini telah berlangsung "polemik" atau "diskusi"
di media internet berbahasa Indonesia. Masalah yang disinggung cukup banyak,
misalnya -- mengenai "Pansus Buloggate II", yang "gugur dalam kandungan";
peranan IMF terhadap Indonesia; hasil-hasil ST MPR 2002; apa itu
'nasionalisme', dan . . . masalah dukungan Ketua Umum PDI-P dan Presiden
Republik Indonesia, Megawati Sukarnoputeri terhadap Sutiyoso, untuk kembali
menjabat gubernur Jakarta, dll. Masalah-masalah yang dibawa ke diskusi itu
semuanya penting. Semuanya bertalian dengan situasi kongkrit yang dihadapi
bangsa dan negeri ini. Berlangsungnya diskusi seperti ini, menandakan
bahwa kepedulian terhadap bangsa ini tetap tinggi.

<< CATATAN : --Namun, sayang sekali, - - - tidak jarang sementara tulisan
melenceng menjadi begitu emosionil, sampai tidak jelas lagi, apakah
masalah-masalah, problim-problim yang didiskusikan, - - - ataukah
pribadi-pribadi yang bersangkutan yang menjadi masalah utama. Tidak sedikit
pembaca internet, bukan saja menjadi kecewa dan bosan, tetapi juga jemu dan
jengkel, melihat perkembangan itu. Dikhawatir, dan disayangkan,
jangan-jangan media internet ini, tanpa disadari dan diinginkan oleh yang
bersangkutan sendiri, yang tadinya adalah sumber yang berguna untuk
informasi dan juga sebagai wadah tempat bertukar-fikiran, berubah menjadi
arena pertarungan. Suatu arena dimana seolah-olah tampil di situ "para
gladiator" , yang turun ke medan-laga arena, untuk saling "membeleti" dan
"menghabisi" pribadi masing-masing lawannya, yang terlibat dalam diskusi .
Akibatnya, ialah, masalahnya sendiri sudah jauh ketinggalan, terselubung
dibalik emosi, atau sudah terlupakan. Keadaan seperti ini diharapkan jangan
sampai berlarut-larut. Para moderator- - - umpamanya, dari CARI, WAHANA,
HKSIS, APAKABAR, NASIONAL, DLL, diharapkan pada waktunya turun tangan,
memberikan saran, minta perhatian para MAILIST, agar berkepala dingin dan
jangan membiarkan diri dikuasai oleh emosi, agar, jangan sampai -- tanpa
disengaja, tanpa diinginkan, melupakan tujuan bertukar informasi dan
bertukar fikiran. Jangan sampai lupa, bahwa sesungguhnya diskusi dan tukar
fikiran itu adalah antara sesama sahabat, bahkan sesama penggiat untuk
reformasi dan demokratisasi di Indonesia. >>

Yang tampak menjadi sorotan agak terpusat, ialah yang menyangkut tokoh
militer-politisi gubernur Jakarta Raya, Sutiyoso. Sutiyoso telah terpilih
kembali menjadi gubernur Jakarta Raya, berkat dukungan PDI-P dan pribadi
Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri. Kwik Kian Gie, sebagai salah seorang
Ketua PDI-P tampil menjelaskan politik PDI-P mengenai pelbagai masalah,
termasuk tentang politik PDI-P, kongkritnya beleid Ketua Umumnya, Megawati
Sukarnoputri, yang mendukung Sutiyoso. Dukungan Ketua Umum PDI-P Megawati
Sukarnoputri, yang juga adalah Presiden Republik Indonesia, banyak
dipermasalahkan dan dipersoalkan.

Mengapa dukungan Ketua Umum PDI-P ini begitu tajam dipersoalkan?
Sebab utama ialah, karena Jendral Sutiyoso, sebagai mantan Panglima TNI di
Jakarta, adalah orang yang seharusnya dituntut di pengadilan, karena tuduhan
menggunakan kekerasan senjata terhadap massa PDI dan pendukung-pendukungnya,
sampai jatuh tidak sedikit korban, pada kasus penggerebegan dan
pendudukan Kantor PDI Mega dalam tahun 1996. Sutiyoso punya latar belakang
sebagai tokoh militer yang melakukan penindasan terhadap hak-hak Demokrasi.
Selain itu selama jabatannya sebagai gubernur Jakarta (1997-2002), sejak
masih berkuasanya Suharto, Sutiyoso bukanlah gubernur yang memberikan
perhatian dan kepeduliannya pada rakyat kecil di wilayah Jakarta-Raya.
Kebalikannya, ia paling sering berkonfrontasi dengan para Wong Cilik
Jakarta. "Prestasinya" hanya "dikenal" dan "dirasakan" oleh para elite,
sedangkan di kalangan rakyat namanya dikaitkan (bukan tanpa alasan) --
dengan masalah penggusuran dan pelarangan beroperasi terhadap abang-abang
becak.

Maka, tidaklah aneh jika orang mempertanyakan APAKAH DUKUNGAN MEGAWATI
TERHADAP SUTIYOSO BISA DIBENARKAN? Tidak kebetulan bahwa diantara yang
mengajukan pertanyaan demikian itu, a.l. adalah Prof. Arief Budiman, dosen
pada University of Melbourne, Australia. Orang kenal, bahwa Prof. Arief
Budiman, orangnya memang kritis! Apakah itu terhadap Bung Karno, Suharto,
Habibie, Gus Dur, Megawati, atau yang lain-lain.

Kiranya, pertanyaan seperti yang diajukan itu, bertolak dari kenyataan
bahwa PDI-P yang diketuai oleh Megawati Sukarnoputri, adalah korban dari
"tangan besi" Sutiyoso, ketika sang jendral menjabat sebagai panglima TNI
di Jakarta Raya, -- dalam kasus penggerebekan dan pendudukan Kantor
PDI-Mega di Jalan Diponegoro, Jakarta. Banyak fihak, yang mempertanyakan itu
bertolak dari asumsi, dan, atau, harapan, bahwa PDI-P adalah kekuatan
yang mendukung Reformasi dan Demokratisasi, dan bahwa mereka-mereka itu juga
adalah pemilih PDI-P pada pemilu 1999. Mengapa sekarang ini, sang korban
yang sudah menduduki tampuk kekuasaasan pemerintahan, lalu (kok) membela
sang algojo? Bukankah beralasan sekali adanya kekecewaan dan tidak bisa
memahami politik PDI-P dewasa ini.

Mengapa? Mengapa? Mengapa?
Pertanyaan itulah yang menenuhi sebagian tidak kecil dari masyarakat.
Pertanyaan itu bukan saja timbul dari kalangan pendukung Reformasi dan
Demokrasi, dan dari simpatisan PDI-P; -- tetapi juga dari kalangan
intern-PDI-P sendiri, bahkan dari kader-kadernya sendiri. Jadi terang,
masalahnya dinilai amat-amat SERIUS. Kwik Kian Gie, sebagai Ketua PDI-P,
sudah berusaha memberikan penjelasan. Tetapi, inti penjelasannya itu ialah
bahwa ia (Kwik Kian Gie) BISA MEMAHAMI beleid PDI-P dan Ketua Umumnya
Megawati. Sayang, "penjelasan" Kwik Kian Gie itu, sesungguhnya bukanlah
penjelasan, tetapi sekadar pernyataan bahwa IA BISA MEMAHAMINYA. Apa yang
dipahaminya itu, juga tidak jelas.

Paling tidak, tidak jelas bagi sementara kalangan yang masih punya harapan,
PDI-P benar-benar akan tetap merupakan kekuatan politik yang mengusahakan
berlangsungnya Reformasi dan Demokratisasi di Indonesia, suatu partai yang
berniat membela Wong Cilik. Bahwa PDI-P akan tetap merupakan kekuatan
politik yang bisa diharapkan dan dipercaya akan sepenuh hati menggalakkan
gerak Reformasi dan Demokratisasi.

Nah, yanag berharap dan percaya ini, jadi TERSENTAK oleh antara lain,
politik dukungan PDI-P terhadap Sutiyoso.

Ada sementara analisis, yang mengemukakan, bahwa beleid PDI-P mendukung
Sutiyoso kembali jadi gubernur Jakarta, adalah suatu TAKTIK dalam suatu
STRATEGI yang lebih besar dan lebih penting lagi. Yaitu suatu taktik politik
yang pada suatu saat tertentu, melakukan langkah mundur, yaitu, tidak
mengajukan orang PDI-P sendiri, sebagai calon gubernur pengganti Sutiyoso.
Taktik mundur selangkah ini dimaksudkan, untuk nantinya bisa maju dengan
langkah yang lebih besar dan menentukan. Karena, bukankah STRATEGI, lebih
penting dari TAKTIK? Bagaimanapun, bukankah TAKTIK harus mengabdi
STRATEGI?Oleh karena itu, taktik mencalonkan Sutiyoso kembali jadi gubernur
Jakarta, betapapun hal itu 'sulit dimengerti', oleh masyarakat, termasuk
sulit dimengerti oleh tidak sedikit kader-kader PDI-P sendiri, taktik itu
adalah politik yang "tepat". Maka taktik itu harus diterima dan dibenarkan.
Begitu sementara fihak menganalisis.

Diperhitungkan (oleh pimpinan PDI-P, menurut analisis tadi) , dengan
memberikan jaminan kepada Sutiyoso untuk kembali sebagai gubernur, ia
(Sutiyoso) akan lebih mudah "diatur", "diurus" bahkan "dikendalikan(?)"
oleh pimpinan PDI-P dalam rangka "mengamankan" dan "menstabilkan"
Jakarta-Raya, dan "membikin lancar pemilu 2004".

Resmi ataupun tidak resmi, Sutiyoso, kecuali militer juga adalah orang
Golkar. Juga dikalkulasikan, bila, katakanlah, muncul gubernur baru,
meskipun orang itu adalah calon dari PDI-P, PDI-P akan menghadapi situasi
dimana "gubernurnya" itu belum berpengalaman, belum punya relasi-relasi,
bleum punya sistim dan struktur kekuasaan yang diperlukan untuk bisa dengan
baik mengurus Jakarta menghadapi pemilu. Apalagi bila diingat, pemilu 2004
cuma tinggal dua tahun lagi. Dan siapa bisa menjamin, . . . . bahwa sang
gubernur baru itu akan lebih patuh, lebih mudah dikontrol dan diawasi,
terbanding Sutiyoso. Mungkin juga, - - - gubernur baru dari PDI-P itu,
tidak tahan menghadapi rayuan "money politics". Sehingga nantinya sang
gubernur baru bisa-bisa akan menjadi tawanan dari Golkar, yang punya dana
tidak terbatas itu. Atau menjadi tawanan fihak-fihak yang punya duit, yang
ada konflik dengan PDI-P. Lagipula, begitu ditimbang-timbang, dengan
mendukung Sutiyoso, paling tidak, telah tambah satu angka plus lagi untuk
PDI-P, vis-à-vis anggaran-politik TNI dan Golkar, dalam skala lokal maupun
nasional. Dengan demikian 'sekali merangkuh dayung dua-tiga pula
terlampaui" , seperti kata pepatah. Bagi PDI-P adalah penting untuk
mengamankan koalisi PDI-P pertama-tama dengan TNI, kemudian, dengan Golkar.
Ini memang bisa dikatakan TAKTIK atau apa sajalah, tetapi hakikatnya
adalah PRAGMATISME YANG SETULEN-TULENNYA. Seperti yang dikemukakan oleh Kwik
Kian Gie, yang kira-kira maksudnya: BEGITULAH CARANYA KALAU ORANG MAU
BERPOLITIK. ITULAH YANG NAMANYA POLITIK!

Bagaimanapun jangan dilupakan, bahwa yang memerintah Indonesia dewasa ini,
adalah suatu koalisi antara PDI-P, Golkar, TNI, PPP, PAN, PBB dan lain-lain.
Porosnya ialah PDI-P, Golkar dan TNI. Kita harus realis, koalisi semacam ini
sungguh sulit untuk diharapkan akan mampu, ataupun punya 'political will'
untuk mendorong maju Reformasi dan Demokratisasi, apalagi membimbingnya,
tak peduli taktik yang bagaimanapun yang akan ditrapkan.

Mengikuti perkembangan politik Indonesia, khususnya sejak berhasil
dilangsungkannya pemilihan umum 7 Juni 1999 y.l. , yang syukur sudah
berjalan secara "LUBER" - Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia - bisa kiranya
dicatat tahap-tahap perkembangan, sbb:

-- Sebagai kelanjutan dari pemilu 1999, telah lahir pemerintahan Abdurrahman
Wahid-Megawati Sukarnoputeri, sesuai pula dengan ketentuan-ketentuan di
dalam UUD-45. Telah berdiri pemerintahan presidensiil. Suatu pemerintahan
Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputeri, yang berporoskan PDI-P dengan
PKB, sesungguhnya adalah suatu pemerintahan yang bisa berbuat positif untuk
kepentingan keberlansungan Reformasi dan Demokratisasi, meskipun itu bukan
suatu pemerintahan yang seharusnya menurut hasil pemilu.

- - Melihat, bahwa PDI-P keluar dari pemilu sebagai partai terbesar, maka
seyogianya, "logikanya", kursi peresiden akan jatuh pada Megawati
Sukarnoputeri. Seharusnya Megawati yang menjadi presiden RI ke-4.

Namun, jalannya cerita adalah lain samasekali.

Mengapa? - - Sebabnya banyak. Yang bisa dicatat sebagai alasan-alasan
penting mengapa Mega tidak bisa menjadi presiden ketika itu, pertama-tama
bisa disebutkan -- disebabkan oleh tentangan atau perlawanan habis-habisan
yang dibangun dan dikembangkan oleh Golkar-TNI- dan Poros Tengah dengan
Ketua Umum PAN, Amien Rais -- Koalisi Golkar-TNI- dan Poros Tengah. Aliansi
itulah yang menggagalkan terpilihnya Megawati sebagai presiden.
Macam-macam argumentasi, alasan atau dalih yang dikemukakan, mengapa aliansi
anti-Mega berkeras menentang dan mengganjel Mega. Sekali tempo, digunakan
alasan agama, --- digembar-gemborkan bahwa menurut agama, perempuan tidak
dihenarkan untuk menjadi pemimpin negara; kali lain, dibilang bahwa Mega
adalah ibu rumah tangga yang biasa-biasa saja, sama dengan ibu rumah tangga
lainnya. Dilontarkan asumsi bahwa sebagai perempuan Mega pasti tidak
punya kemampuan untuk jadi presiden. Pribadinyapun diogrok-ogrok. Terjadilah
usaha "character assassination" terhadap Mega dengan cara mencemoohkan
kehidupan pribadi dan pendidikannya.

Bisa dipastikan bahwa semua lawan Mega masih ingat bahwa Mega adalah
orangnya yang berani berhadap-hadapan menantang Suharto, bahkan pada suatu
ketika menyatakan bahwa ia sanggup menggantikan Suharto, memikul jabatan
sebagai presiden, bila rakyat menghendakinya.

Tidak sulit untuk melihat bahwa, Golkar yang lewat pemilu telah berhasil
menggondol kedudukan dalam DPR sebagai partai terbesar nomor 2, amat takut
pada PDI-P dan oleh karena itu dengan keras menolak Megawati menjadi
presiden. Bukankah adalah Golkar, sebagai parpol penyangga kekuasaan Orba,
yang langsung terlibat dengan persekusi ORBA terhadap Megawati dengan sayap
PDI yang dipimpinnya. Ketika itu PDI pimpinan Megawati, adalah satu-satunya
parpol yang berani terang-terangan melawan pengontrolan Suharto terhadap PDI
yang ia pimpin. Golkar menentang Megawati menjadi presiden, karena Golkar
sendiri ingin berkuasa penuh lagi, dan - ini penting: Golkar amat khawatir,
bila PDI-P dengan Megawati sebagai pemimpinnua, akan melakukan politik
"balas denam" terhadap Golkar. Begitu juga TNI, PPP, dll khawatir bahwa
bila Mega jadi presiden, mereka akan mengalami "pembalasan" dari PDI-P.
Selain itu. mereka-mereka itu juga mengidap kekhawatiran, bahwa dengan
Megawati sebagai presiden, gerak Reformasi dan Demokratisasi akan
menggebu-gebu kembali, seperti saat sekitar gerakan menggulingkan Suharto
pada tahun 1998. Dan kita tahu betul bagaimana takutnya Golkar, TNI dan para
pendukung Orba itu takut setengah mati pada Reformasi dan Demokratisasi,
meskiopun di mulut mereka meniakkan Reformasi dan Demokratisasi.

Manuver demi manuver, yang keluar tampak dipelopori oleh Amien Rais, yang
juga adalah penentang keras Mega jadi presiden, berhasil mendapatkan calon
alternatif sebagai presiden RI yang ke-4: ABDURRAHMAN WAHID, Ketua Umum PB
NU. Bersamasama, mereka-mereka itu berhasil pula meyakinkan Mega dan PDI-P
untuk menyetujui menjadi Wapres saja, meskipun dilihat dari jumlah kursi
dalam MPR, PDI-P yang diketuainya berada jauh diatas PKB yang kelahirannya
dibidani oleh Abdurrahman Wahid. Kompromi ini dilakukan demi "mengatasi
krisis" dalam pemilihan presiden dan wapres. Begitulah menurut yang empunya
analisis.

Hanya lebih sedikit setahun kombinasi Gus Dur-Mega bisa bertahan sebagai
presiden dan wakil presiden. Sayang, karena, di lihat dari latar belakang
politik kedua tokoh maupun parpolnya, koalisi kedua partai ini, PDI-P dan
PKB, adalah kombinasi yang terbaik saat itu untuk membuat roda Reformasi
dan Demokratisasi bisa jalan terus.

Yang berikut ini adalah mungkinlah merupakan kunci untuk memahami mengapa
PDI-P yang dipimpin oleh Megawati sampai begitu jauh dalam berpolitik
sampai-sampai menyokong Surtiyoso kembali menjadi gubernur Jakarta Raya.
Begini analisis saya:

Pada suatu ketika, para partisipan koalisi sudah begitu tidak cocoknya
dengan politik dan cara memimpin pemerintahan dan negara oleh Gus Dur,
mereka - para partisipan koalisi pemerintahan Gus Dur-Mega, mengadakan
pertemuan tanpa Gus Dur, dan memutuskan untuk menggulingkan Gus Dur dan
menggantikannya dengan Megawati sebagai presiden yang ke-5. Mengenai
sebab-musabab mengapa mereka-mereka itu tidak cocol lagi dengan Gus Dur,
bisa dianalisis lagi belakang hari, bila berkenan untuk itu. Walhasil, Gus
Dur jatuh dan Megawati naik. Nah, koalisi baru yang menjatuhkan Gus Dur dan
menaikkan Mega, inilah yang sekarang sedang memerintah. Pemerintah ini
sudah berniat untuk bertahan terus sampai pemilu 2004. Untuk itu dari waktu
harus mengadakan kompromi demi kompromi. Jalan lain tak ada.

Jadi, bila suatu koalisi, pada suatu ketika, sudah sebegitu jauh sampai
menjatuhkan partner koalisinya sendiri, yaitu Gus Dur, melalui berbagai
manuver politik, maka apa perlu mempertanyakan lagi, mengapa PDI-P
mendukung sang militer Sutiyoso. Bukankah Sutiyoso, adalah partner baru dari
koalisi yang berkuasa dewasa ini? Kalau tokh ada yang masih mau
dipertanyakan, maka kiranya pertanyaan berikut ini adalah lebih interesan
untuk dicari jawabnya:

APAKAH BISA DIBENARKAN SUATU KEKUATAN POLITIK YANG MENGANGGAP DIRINYA
SEBAGAI KEKUATAN REFORMASI DAN DEMOKRASI, BERKOALISI BERSAMA KEKUATAN
STATUSQUO, PENINGGALAN ORBA, AMBIL BAGIAN DALAM MENJATUHKAN PRESIDEN
ABDURRAHMAN WAHID?

* * * * *

Saturday, August 11, 2007

Kolom IBRAHIM ISA - 'LE BANIAN' Nr Jubilium . . .

Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu, 11 Agustus 2007

----------------------

'LE BANIAN' Nr Jubilium de l 'Association
Franco-Indonesienne .

Ya, benar! 'Le Banian', judul kolom kali ini, itu adalah nama sebuah penerbitan, sebuah majalah yang dikeluarkan oleh sebuah perkumpulan di Paris. Nama perkumpulan: 'l'Association Franco-Indonesienne Pasar Malam', association Loi 1901, pour l'amité entre les peuples francais et indonésien. . Tujuan perkumpulan persahabatan Perancis - Indonesia itu, ialah memajukan hubungan kebudayaan dan persahabatan antara Perancis dan Indonesia.



Untuk pengetahuan pembaca (siapa tau mungkin ada yang kenal), berikut ini adalah Dewan Redaksi dari majalah (non-profit) 'Le Banian: Direktur: Johanna Lederer; anggota-anggota redaksi: Thomas Beaufils, Nathalie Belin-Ridwan, Helene Poitevin-Blancard, Jacqueline Camus, Dominique Maison, Etienne Naveau, Nathalie Wirja, Monique Zaini-Lajoubert.



KBRI di Paris, sesungguhnya, secara tak langsung terbantu dalam salah satu tugas keberadaannya di Paris. Wajarlah diasumsikan bahwa KBRI di Paris, telah menjalin jalur komunkasi dan kerjasama yang harmonis dengan perkumpulan Perancis tsb. Sebagai orang Indonesia, patut menyatakan penghargaan dan terima kasih atas usaha perkumpulan Perancis itu, yang dengan tulus dan sungguh-sungguh giat mempromosi Indonesia di Perancis. Suatu kegiatan yang merupakan manifestasi simpati orang-orang Perancis terhadap bangsa Indonesia.



Bukankah salah satu tugas KBRI, sebagaimana KBRI di semua negeri di dunia ini, ialah memajukan hubungan kebudayaan dan persahabatan antara rakyat Indonesia dengan negeri dan bangsa dimana ia ditugaskan? Yaitu tugas a.l. memperkenalkan kultur dan kebudayaan Indonesia kepada negeri dimana KBRI ditugaskan oleh negara untuk mewakili kepentingannya. Syukur-syukur komunikasi antara KBRI di Paris dengan Association, yang diketuai oleh Ny. Johanna Lederer, sudah digalang. Kalau belum, sebaiknya dimulai saja. Kalau sudah ada komunikasi itu manfaatkan secara maksimal demi usaha persahabatan dua negeri dan bangsa.



* * *



Segi lain, yang perlu difahami (oleh setiap KBRI), ialah bahwa jangan mengharapkan, apa yang dilakukan perkumpulan semacam perkumpulan yang menerbitkan 'Le Banian' di Paris, semuanya sesuai dengan selera KBRI. Malah bisa saja terjadi bahwa sesuatu perkumpulan non pemerintah, yang punya tujuan mempromosi Indonesia, di suatu negeri, namun,, kegiatannya oleh KBRI dianggap sebagai kegiatan 'anti-Indoneia'. Ini adalah masalah perbedaan pemahaman bagaimana menilai apa yang dinamakan promosi. Sering-sering, yang dilakukan oleh organisasi masyarakat yang mempromosi Indonesia itu, adalah sekadar kritik seperlunya dan wajar (yang merupakan salah satu pilar dari kegiatan demokratis) terhadap politik-politik tertentu dari pemerintah yang diwakili oleh KBRI pada suatu ketika.



Ambillah sikap rezim Orba. Umum dikenal dimana-mana bahwa rezim Orba, karena wataknya yang otoriter dan supresif, tidak mentolerir kritik macam apapun terhadap pemerintah Presiden Suharto. Apalagi bila kritik itu menyangkut masalah yang paling gawat, seperti pelanggran HAM seperti yang terjadi sekitar Peristiwa 1965, kekerasan di Aceh dan Papua, dll, antara lain yang menyangkut korupsi di kalangan birokrasi Indonesia..



Sedikit saja dikritik, apalagi bila kritik itu bersangkutan dengan pelanggaran HAM, langsung saja yang mengeritik dicap 'anti-Indonesia' atau, dicap sebagai kegiatan yang disponsori atau diinspirasi oleh 'orang-orang G30S' atau 'PKI' di luarnegeri.



Pada zaman Orba pernah seorang menteri Belanda, Jan Pronk namanya, tergolong menteri yang pandangannya maju, di persona-nongrata-kan oleh pemerintah Suharto. Sang menteri tidak boleh berada di Indonesia. Apa 'salah' Pronk? Pronk dianggap mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Pasalnya, karena Pronk 'kebanyakan' ngomong soal pelanggaran HAM dan korupsi di Indonesia yang masih belum ditangani pemerintah ketika itu. Juga sama halnya sikap gegabah Menteri Menkumdang Yusril Ihza Mahendra, dalam kabinet Presiden Megawati. Ketika itu Yusril mengeluarkan pernyataan, 'I hate the Netherlands'. Karena Belanda, menurut Yusril, selalu menjelek-jelekkan Indonesia. Untuk diketahui, kritik yang dilakukan adalah oleh seorang jurnalis Belanda ketika itu, lagi-lagi yang bersangkutan dengan masalah pemberlakuan HAM di Indonesia, yang masih jauh dari yang seharusnya.



* * *



Mempromosi kultur dan kebudayaan Indonesia di luarnegeri, supaya orang-orang Perancis lebih baik mengenal Indonesia, bukan saja mengenal Bali atau Jakarta, seperti yang dilakukan oleh l'association franco-indonésienne Pasar Malam', ada miripnya dengan apa yang dilakukan oleh RESTORAN INDONESIA PARIS. Restoran itu berdiri berkat prakarsa dan jerih payah orang-orang Indoneisa 'yang terhalang pulang': seperti Umar Said, Budiman Sudharsono (almarhum), Emile Kusni, Sobron Aidit dll, dan kini dikelola oleh Suyoso dkk . Restoran Indonesia Paris, bukan sekadar restoran yang melayani para tamu yang suka masakan Indonesia, tetapi (ini penting sekali) juga melakukan kegiatan teratur dan berrencana memperkenalkan kultur dan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Perancis. Khsususnya para pelanggan Restoran Indonesia.



Pengalaman pahit masa lalu. Yang hendaknya jangan sampai terulang lagi ialah, bahwa, KBRI di Paris ketika zaman Orba, melarang orang-orang Indonesia mengunjungi Restoran Indonesia Paris. Alasan? Orang-orang KBRI memfitnah bahwa Restoran Indonesia Paris itu, adalah kegiatan 'orang-orang G30S' di luarnegeri. Tengoklah, betapa kerdilnya jiwa dan piciknya pengetahuan politik dan budaya aparat rezim Orba .



Syurkurlah sejak Reformasi, sejak Abdurrahman Wahid jadi Presiden, sudah ada perubahan sikap KBRI Paris. Mudah-mudahan jangan 'angék, angék cirik ayam', kata orang Minang. 'Hangat-hangat tai ayam'. Insyaallah, jangan lagi KBRI kembali lagi ke semangat dan sikap phobi terhadap sesuatu yang mengeritik pemerintah.



* * *



Apa pasalnya kolom ini dibuat khusus mengenai majalah 'Le Banian'?

Memang, 'Le Banian' nomor Jubilium, adalah majalah Perancis yang terbit hampir dua bulan yang lalu. Namun terlalu penting untuk tidak dibicarakan di sini. Kemarin dulu baru saja aku terima per pos dari Paris. Tebalnya 203 halaman lebih. Isinya cukup menarik dan penting. Ada masalah sejarah, ada masalah politik, kultur dan budaya. Pula dimasukkan di situ beberapa foto Indonesia menarik dan bagus mengenai Indonesi, termasuk foto penulis, esayis, penyair dan jurnalis Laksmi Pamuntjak ( di halaman 202).



'Le Banian', nomor Jubilium, Nomor 3 tahun 2007, terbit tanggal 02 Juli yang lalu. Majalah semester kali ini terbit dengn nomor khusus, yaitu dengan tema berjudul : LES ANNÉES TRENTE: Des Inders néerlandaises vers la Republique d'indonésie. Nomor Jubilium ini bisa diperoleh dari penerbitnya seharga Euro 5, diluar ongkos kirim. (Alamat: 14 rue du Cardinal Lemoine -- 75005 Paris. Tel. 01 56 24 94 53). Barangkali ada baiknya dikutip juga disini daftar isi majalah tsb dalam bahasa aslinya. Karena, majalah Perancis itu diperuntukkan terutama bagi masyarakat Perancis, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Perancis.Jadi tak ada edisi Inggris atau Indonsia. Sayang, apa boleh buat!.



Nah inilah isi majalah nomor khusus Le Banian itu.



-Editorial, Johanna Lederer.
-Robert Aarsse, Aux origines du PKI, Sneevliet à Java, 1913 – 1918
-Jean-Luc Aguerra, L'objet d'une rencontre : le pendentif de Ghislaine
-Thomas Beaufils, Des trésors indonésiens partis en fumée
-François-René Dallie, Pantun et pantoum, le fantôme de Victor
-Bernard Dorléans, L'exploitation coloniale et les mouvements nationalistes en Indonésie

de 1825 à 1945
-Martine Estrade, La création d'un Bali littéraire et mythique
-Saraswati Gramich, Le français, langue exotique ?
-David Hanan, Traditions minangkabau, réforme islamique et droits de la femme dans deux films de la fin de la période coloniale à Sumatra-Ouest
-Kunang Helmi Picard, Radical Chic (sur la première épouse indonésienne de Henri Cartier-Bresson)
-Ibrahim Isa, L'émergence d'une nation : l'Indonésie
-Peter Keppy, Le keroncong, les femmes et le combat de l'Indonésie pour la modernité, 1900-1940
-Etienne Naveau, Amir Hamzah, poète indonésien
-Solange Paul-Cavallier, Lointain intérieur (sur Un barbare en Asie de Henri Michaux)
-Josef Prijotomo, Vers la modernité dans l'Indonésie des années 1920-1940
-Jean Rocher, Rijsttafel et années trente
-Kees Snoek, La lutte multiple de Sutan Sjahrir
-Monique Zaini-Lajoubert, La « polémique sur la culture », 1935-1939
-Photo bureaux par F.J.L. Ghijsels
-Laksmi Pamuntjak, Le journal de R.S., nouvelle inédite



* * *



Dilihat sepintas begitu, maka isi majalah 'Le Banian' nomor Jubilium, termasuk representatif yang dengan gairah mempromosikan Indonesia, politik, kultur dan budayanya, di kalangan orang-orang Perancis. Juga untuk kita yang orang-orang Indonesia, isinya patut dibaca. Sayang bagi yang tak mengenal bahasa Perancis, karena 'Le Banian' hanya terbit dalam bahasa Perancis. Kalau ada perhatian, tokh bisa tanya kepada kenalan atau sahabat yang tau bahasa Perancis.



Sebagai perkenalan , berikut ini disiarkan teks Editorial 'Le Banian' nomor Jubilium, No. 3, Juni 2007, yang ditulis oleh Ketua Asssciation, Ny. Johanna Lederer. Juga dalam bahasa Perncis!

Editorial
Johanna Lederer

Des Indes néerlandaises vers la République d'Indonésie

Si Le Banian, troisième numéro (mais quatrième sortie) est consacré à une période, appelée ici rapidement, les « années trente », c'est que celle-ci est très riche en évènements qui forment les traits caractéristiques du visage de l'Indonésie actuelle. Une période exaltante avec une vie politique en ébullition, avec l'intensification des luttes pour l'indépendance, bien sûr, mais aussi avec la naissance de cercles littéraires, de confédérations du travail, et avec une curiosité nouvelle ou accrue pour le cinéma, la musique et la danse indonésiennes – dont le célèbre spectacle de danse et chant kecak, créé à Bali en 1930 par Wayan Limbak pour le film Insel der Dämonen (L'île des démons) du peintre allemand Walter Spies, ou la danse legong qui a donné son nom au film tourné en 1930 à Bali par le Français Henri de La Falaise.
L'architecture occupera une place importante dans ce numéro qui voudrait évoquer l'histoire de l'héritage d'une certaine époque de l'Indonésie moderne.
Si plusieurs villes indonésiennes offrent de beaux exemples du plus pur style d'Art Déco tropical, c'est Bandung qui, aujourd'hui encore, compte comme la ville la plus « années trente », privilège qu'elle partage avec deux autres villes tropicales Miami (Florida) et Napier (Nouvelle Zélande). Si depuis longtemps elle ne peut plus prétendre au titre qu'elle portait jadis, « Bandung, Parijs van Java » (Bandung, le Paris de Java), la ville est toujours aujourd'hui la plus grande vitrine Art Déco de l'Indonésie avec une centaine de bâtiments imposants, dont le Gedung Merdeka (bâtiment de l'Indépendance), entièrement refait dans les années vingt, qui a accueilli Chou-en-Lai, Nasser, Nehru etc. à la première conférence des pays non alignés, organisée par Soekarno en 1955.
Soekarno, personnage très actif pendant la période décrite dans ce numéro et architecte formé par l'Institut de Technologie de Bandung (école et bâtiment créés par les Hollandais dans les années vingt), devenu par la suite le premier président de l'Indonésie, qui est à la fois père fondateur de la nation et grand frère (Bung comme on l'appelait affectueusement), a parfaitement compris et assimilé l'importance du symbolique architectural dans la ville. Contrairement à un pays comme le Brésil qui a construit Brasilia spécialement dans ce but, Soekarno n'a pas changé de capitale, n'a pas choisi Bandung, (il en était plus ou moins question), mais a maintenu l'ancienne Batavia créée par les Hollandais, aujourd'hui Jakarta, comme la capitale de la République d'Indonésie. C'est donc dans la capitale qu'il construit, avec grandeur, visibilité et magnificence, entre autres, le Monument National (Monas) et la mosquée Istiqlal (indépendance en arabe). Tous deux, sont de bons exemples de communication maîtrisée, la mosquée qui communique sur un plan religieux, le Monas sur un plan laïc. Ce dernier, construit sur l'ancienne et coloniale Place du Roi (Koningsplein) , aujourd'hui nommée Medan Merdeka (Champs de bataille pour la liberté), montre un énorme et puissant obélisque, surmonté d'une flamme, jaillissant d'un socle massif et carré, symbolisant, sans doute, le yin et le yang, fécondité de l'ère ambiante…
Nous espérons que vous aurez autant de plaisir à lire ce Banian que nous en avons eu à le concocter. Tous nos remerciements enthousiastes aux contributeurs pour leurs articles écrits ou traduits avec grand sérieux et grande générosité (pensez que Le Banian est tout petit).
Une remarque-on n'y résiste pas- à propos de l'article sur le rijsttafel, ou la « table de riz » qui est, comme on l'apprend dans l'article de Jean Rocher, une invention typiquement hollandaise datant de l'époque coloniale. En effet, on trouve le rijsttafel en premier sur le menu de tous les restaurants indonésiens aux Pays-Bas. Alors qu'en Indonésie il faut, pour le goûter, se rendre dans un restaurant pour touristes… Le concept de rijsttafel lorsqu'on y pense, est en fait très bizarre, puisqu'il consiste à se servir du riz en y ajoutant beaucoup de différents plats de viande, de légumes, etc. Plus il y en a dans l'assiette, mieux c'est. Le résultat est un féroce mélange de plats originaires de Java, de Sumatra, de Bali et d'autres îles encore. Un acte barbare ... Car en Indonésie on ne mélange pas les différentes spécialités.

Ni aux Pays-Bas, d'ailleurs. Y aurait-on l'idée de servir de la choucroute au fromage fondu, avec quelques harengs vinaigrés, le tout arrosé de soupe aux poids cassés ?

Un remerciement spécial à Monsieur Mahatmanto, architecte indonésien, spécialiste de l'architecture coloniale qui, après une thèse sur Maclaine Pont (architecte néerlandais des années vingt et trente), enseigne à l'Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta et à qui nous devons la très belle illustration de la couverture. * * *













Kolom IBRAHIM ISA - IMBAUAN Syafe'i Ma'arif

Kolom IBRAHIM ISA
Jum'at, 03 Agustus 2007
-----------------------
IMBAUAN Syafe'i Ma'arif:
Sekitar 'FAKTOR ISLAM'.

Sebuah artikel di Mingguan Gatra pekan lalu, oleh Ahmad Syafe'i Ma'arif, mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, patut dibaca, dipelajari dan dibicarakan di kalangan umat Islam. Pemerhati perkembangan dan pengaruh Islam di Indonesia, pasti kenal tokoh-tokoh cendekiawan Islam, seperti Cak Nur, Gus Dur, Azyumardi Azra dan sejumlah kaum muda cendekiawan Islam lainnya. Mereka-mereka itu dikenal sebagai tokoh-tokoh Islam Indonesia yang berpandangan luas, akomodatif serta rasional, didasarkan atas kenyataan sejarah, bahwa di dunia ini, termasuk negeri kita, yang hidup adalah insan-insan yang multi-religi multi-kepercayaan, dan multi keyakinan.Dan bahwa ummat Islam adalah sebagian dari padanya, bagian yang bukan mayoritas.

Tokoh ilmuwan Islam A. Syafe'i Ma'arif, adalah salah seorang dari tokoh Islam yang seperti itu. Para tokoh Islam moderat tsb, jelas pandangan mereka itu, tidak sama dalam semua hal. Namun, satu kesamaan mereka, ialah, bahwa agama, kepercyaan dan keyakinan politik, seyogianya diabdikan pada pemberlakuan demokrasi, sekularisme, multi-kulturalisme dan pluralisme. Semua itu demi keharmonisan hidup di kalangan seluruh ummat Illahi di planit yang fana ini.

* * *

Dengan artikelnya, berjudul 'FAKTOR ISLAM', Ma'arif, di satu fihak berusaha menganalisis: Mengapa di dunia Islam dewasa ini, tak terasa dan tak tampak adanya solidaritas (imaniah) yang tanpa pamrih. Halmana a.l. menjadi penyebab berlangsungnya terus situasi konflik, termasuk konflik kekerasan di kalangan umat Islam sendiri, bahwa sejumlah (kecil) negara dan ummat Islam kaya raya serta hidup mewah, sedangkan sejumlah (besar), bagian mayoritas ummat seagama, terpaksa memperpanjang hidupnya dalam penderitaan, kemiskinan dan keterbelakangan.

Yang menonjol dialami ummat, justru adalah konflik-konflik antara sesama Muslim, seperti yang pernah terjadi di Libanon, kini terjadi di Irak, Afghanistan dan Palestina.

Di lain fihak, tulisan Ma'arif adalah suatu I M B A U A N , supaya umat Islam, sedunia, khususnya yang ada di negeri sendiri, agar benar-benar mengkhayati ajaran Al Qur'an. Dengan nada setengah mengeluh, setengah mengkritik, tapi lebih banyak mengimbau, Ma'arif mengingatkan pembacanya pada 'Cita-cita Al-Quran' tentang persaudaraan imaniah. Yang menurut Ma'arif, ajaran Al-Qur'an itu sudah 'kita campakkan begitu saja ke dalam limbo sejarah.'

* * *

Mayoritas penduduk Indonesia, nyatanya, adalah pemeluk Islam. Tetapi juga bisa dilihat bahwa mayoritas kaum Muslim Indonesia tak suka, bahkan menentang kekerasan, menentang tindakan-tindakan teror yang dilakukan atas nama melaksanakan ajaran Al Qur'an, menentang penyalahgunaan agama untuk kepentingan politik segolongan tertentu.

Juga bisa disaksikan bahwa mayoritas kaum Muslim Indonesia berpandangan sekular, pluralis dan multikultural. Suatu pandangan yang memilih hidup berdampingan secara harmonis dan gotong-royong di kalangan rakyat, pemeluk pelbagai keyakinan agama dan kepercayaan. Yang memisahkan, yang tidak mencampur adukkan urusan kenegaraan dengan ajaran agama. Suatu pandangan yang sesuai dengan falsafah negara Republik Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Eka, Kesatuan dalam Keragaman, atau Berbeda-beda tapi Satu.

Eksistensi dan survival bangsa ini, serta keyakinan akan haridepan yang lebih baik, bahwa, bisanya dipertahankan terus, dikembangkan dan didorong maju peri kehidupan bangsa ini, demikian pula dibangunnya kesadaran dan pengokohan identitasnya, semua itu, berkat suatu pandangan mayoritas bangsa yang rela dan sedia berpijak pada, serta bertolak dari prinsip-prinsip hidup bernegara seperti yang diuraikan oleh Bapak Nasion, Bung Karno dalam 'Lahirnya PANCASILA' (1 Juni 1945).

Tetapi juga adalah suatu realita yang tak bisa dibantah, bahwa dalam perjuangan bangsa ini untuk suatu 'nationhood' untuk tegaknya suatu negara Indonesia yang demokratis dan adil, yang sama derajat dengan bangsa-bangsa dan negara-negara lain, bahwa ISLAM telah memainkan dan akan terus memainkan peranan penting, fital serta positif. Faktor Islam yang demikian itu adalah faktor Islam yang menenggang terhadap kepecayaan dan keyakinan lainnya, yang bersatu dengan kekuatan politik Nasional dan keuatan politik yang berpandangan Sosialis.

Sejarah bangsa ini mencatat bahwa dengan persatuan dan kesatuan kemauan dan semangat, antara kaum Muslimin, Nasionalis dan kaum Sosialis (Bung Karno merumuskan sebagai persatuan antara kaum Nasionalis, Islamis dan Marxis), nasion ini berhasil mengusir kolonialisme dari bumi persada, menegakkan negara Republik Indonesia, berhasil mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi, berhasil pula mempertahankan kesatuan negara Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Tak dapat dipungkiri, kiranya, bahwa adalah berkat kesatuan kemauan dari kalangan pembela Reformasi dan Demokratisasi, baik yang beraliran Islamis, nasionalis maupun Sosialis, yang telah memungkinkan ditumbangkannya rezim otoriter, anti demokratis dan korup, seperti Orba yang dikepalai oleh Jenderal Suharto.

Demikian pula halnya, adalah kesatuan kemauan dari pelbagai aliran agama dan keyakinan politik di Indonesia yang memungkinan dilaksanakannya pemilihan umum demokratis pertama pasca Suharto.
Begitu pula adalah kekuatan ini yang telah memungkinkan Abdurrahman Wahid menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-4.

Apakah tuntutan-tuntutan Reformasi dan Demokrasi bisa memperoleh kemajuan atau tidak, bisa juga dipastikan, --- hal tsb tergantung pada ada dan kokohnya kesatuan kemauan dan 'political will' dari kekuatan-kekuatan demokratis di dalam masyarakat, baik yang beraliran Islamis, nasionalis maupun sosialis.

Di bawah ini dipublikasikan kembali tulisan Syafe'i Maa'rif tsb. berjudul FAKTOR ISLAM.

* * *

AHMAD SYAFI'I MA'ARIF

---------------------------------------------------------
FAKTOR ISLAM
Dalam sebuah kuliah di Universitas Chicago awal 1980-an, guru saya, almarhum Fazlur Rahman, pernah mengeluhkan tentang betapa carut-marutnya dunia Islam. Sampai-sampai terlontar ucapan ini: "We live in a different kind of Islam, not in a Qur'anic Islam (Kita hidup dalam sebuah Islam yang lain, bukan Islam Qurani.)"

Pernyataan itu sering saya ulang di berbagai forum untuk menunjukkan betapa jauhnya rentangan jarak antara cita-cita Al-Quran tentang persaudaraan dan realitas umat yang berkeping-keping. Kita ambil contoh tentang betapa sulit dan rumitnya umat Islam menggalang semangat persaudaraan yang begitu tegas dan tajam diperintahkan Kitab Suci. Tengoklah contoh yang masih hangat di Irak dan Afghanistan yang tercabik-cabik oleh berbagai faksi dan golongan.

Tengoklah faksi Fatah dan faksi Hamas yang menembakkan peluru untuk saling membunuh. Tengok pula negeri-negeri muslim di mana persaudaraan inter-umat sering benar terkoyak. Umumnya faktor politiklah yang menjadi pemicu utama mengapa umat ini masih saja sempoyongan berjalan di muka bumi.

Kita tentu boleh dan sah saja membidik pihak lain sebagai kekuatan yang mengadu domba kita sesama muslim. Tetapi hendaklah senantiasa diingat bahwa pihak asing itu hanyalah mungkin mengacaukan barisan kita yang memang sudah dalam keadaan kacau. Ketika umat sedang diracuni oleh proses pembusukan yang parah dari dalam, ketika itu pulalah musuh luar semakin bergairah melemahkan, jika bukan menghancurkan kita, kemudian "merampok" kekayaan kita.

Kita sering benar tak berdaya. Apalagi beberapa negeri muslim memang punya daya tarik besar bagi pihak asing berupa kekayaan bumi yang dahsyat: minyak, batu bara, emas, dan perkayuan. Semuanya ini sangat menggoda dunia, khususnya minyak yang hampir 70% berada di bumi muslim.

Tetapi, mengapa sebagian besar negeri muslim tetap saja menderita dan miskin, sementara sedikit yang lain makmur? Jawabannya sederhana: rasa kesetiakawanan kita masih rapuh. Ada tetesan bantuan sekadarnya di sana-sini untuk bangsa miskin, tetapi tidak untuk memberdayakan, hanya sekadar tidak mati kelaparan.

Itulah sebabnya, mengapa kepiluan kita terasa amat dalam dan menghunjam karena melihat kekayaan itu tidak semakin mendekatkan hati sesama muslim untuk saling membantu, malah semakin menjauhkan. Tidak jarang senjata minyak telah dijadikan alat oleh negeri-negeri muslim yang kaya untuk menekan dan memaksa bangsa muslim lain untuk tunduk ke bawah duli hegemoninya, demi politik kekuasaan.

Dalam perjalanan sejarah umat, faktor Islam sebagai perekat persaudaraan sering benar diabaikan, sepertinya Islam tidak dapat diandalkan lagi untuk mempertemukan kita. Yang lebih ironis lagi adalah kenyataan, tidak jarang sebuah negeri muslim kaya minyak malah menyerahkan pundi-pundinya untuk "diperas" pihak asing yang jelas tidak rela melihat Islam muncul sebagai kekuatan yang turut menentukan perjalanan peradaban global.Anehnya, yang diperas merasa dilindungi. Kawasan Asia Barat yang kaya itu sudah agak lama berada di bawah pengaruh kuat Amerika, sementara retorika politik mereka mengatakan anti-dominasi asing. Alangkah tidak seronoknya pertunjukan ini!

Dalam pada itu, perlu pula dicatat bahwa kesadaran untuk saling membantu sesama umat Islam terasa lemah dari waktu ke waktu. Kita memang hidup dalam sebuah Islam yang lain. Bukan Islam otentik, bukan Islam yang diajarkan Nabi, kecuali dalam bentuk-bentuk ritual yang sarat simbol serimonial, tetapi seringkali telah menjadi tunamakna. Nyaris tidak terlihat korelasi signifikan antara simbol dan perilaku kita sesama bangsa muslim. Cita-cita Al-Quran tentang persaudaraan imaniah kita campakkan begitu saja ke dalam limbo sejarah.

Engkau Mahatahu, ya Allah, sampai berapa lama kondisi tidak menentu ini akan berlangsung. Hamba-hamba-Mu yang baik tentu masih ada, tetapi alangkah tidak berdayanya mereka. Mereka tak henti-hentinya berdoa, tetapi masih berkenankah Engkau memberi jawaban? Engkau melarang kami berputus asa, betapapun pahit dan getirnya perasaan kami. Dan kami memang tidak akan berputus asa.

Firman Engkau dalam surat Yusuf ayat 110 yang maknanya berbunyi: "Sehingga manakala para rasul tidak punya harapan lagi dan mengira bahwa mereka telah didustakan, (barulah) datang pertolongan Kami, lalu diselamatkan siapa yang Kami kehendaki; sedangkan siksaan Kami tidak bisa ditolak oleh para pendosa" memberi isyarat kepada kami untuk terus berbuat sambil menunggu datangnya pertolongan-Mu, demi menginsafkan kami semua yang telah larut dalam dosa dan dusta.

Kami tidak akan berpaling sampai Islam datang menjadi faktor penentu untuk mempertautkan kembali hati dan jiwa kami yang masih berserakan, berantakan! Mohon jeritan ini Engkau dengarkan, ya Allah!

Ahmad Syafi'i Ma'arif
Guru besar sejarah, pendiri Ma'arif Institute, Jakarta
* * *

Tuesday, August 7, 2007

IBRAHIM ISA - SETUJU DENGAN PERNYATAAN SIKAP ATAS PEMBAKARAN BUKU SEJARAH

IBRAHIM ISA
07 AGUSTUS 2007


SAYA SETUJU DENGAN PERNYATAAN SIKAP
Masyarakat Pencinta Buku Dan Demokrasi
ATAS PEMBAKARAN BUKU SEJARAH


====================================================

Nama: IBRAHIM ISA < Publisis, Sekretaris Wertheim Foundation>

====================================================


* * *

Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku Sejarah

"Where books are burned, human beings are destined to be burned too..."


Pada 20 Juli lalu, Kejaksaan Negeri Depok membakar 1.247 buku sejarah,
bahan pelajaran sekolah menengah pertama dan atas, karya guru-guru
sejarah. Pembakaran ini dilakukan Kepala Kejaksaan Negeri Bambang
Bachtiar, Kepala Dinas Pendidikan Asep Roswanda dan Walikota
Nurmahmudi Ismail.

Penyitaan maupun pembakaran buku-buku sejarah ini juga terjadi di
Bogor, Indramayu, Kendari, Kuningan, Kupang, Pontianak, Purwakarta
dan kota-kota lain di Indonesia. Dasar hukumnya, menurut para jaksa,
adalah keputusan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh pada Maret 2007
dimana Kejaksaan Agung melarang buku-buku itu yang dibuat dengan
dasar kurikulum pendidikan tahun 2004. Mereka dituduh tak
mencantumkan kata "PKI" dalam menerangkan Gerakan 30 September 1965.
Penelitian terhadap isi buku-buku sejarah itu dilakukan Kejaksaan
Agung atas permintaan Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo.

Kami prihatin menyaksikan peristiwa ini. Pembakaran buku ini
mengingatkan kami pada pembakaran buku-buku yang dilakukan di Berlin
dan berbagai kota lain di Jerman pada Mei 1933. Ketika itu, sambil
menyanyikan lagu-lagu Nazi, para pendukung Adolf Hitler tersebut
menghanguskan buku-buku karya Sigmund Freud, Albert Einstein, Thomas
Mann, Jack London, HG Wells serta berbagai penulis lain. Buku-buku
itu dianggap musuh Nazisme.

Kami menyayangkan peristiwa pelarangan dan pembakaran buku ini, yang
bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Membakar dan merusak buku,
dengan dalih apapun, merupakan tindakan yang lebih berbahaya dan
lebih biadab daripada sensor atau pelarangan.

Kami belum tentu setuju dengan isi dari buku-buku itu. Namun kami
tidak setuju pembakaran. Sulit untuk tak menyamakan pembakaran buku-
buku ini dengan apa yang telah dilakukan kaum Nazi. Sulit juga bagi
kami untuk menyamakan tindakan pembakaran ini dengan semangat
fasisme, yang anti demokrasi dan anti hak asasi manusia.

Pembakaran buku menunjukkan bahwa pelaku pembakaran tak dapat
menerima perbedaan pandangan, sesuatu yang niscaya dalam demokrasi.
Lebih dari itu, pembakaran buku juga merupakan bentuk teror, tindakan
menakut-nakuti bagi orang yang hendak menulis buku, dalam perspektif
yang berbeda dengan penguasa.

Membakar buku merupakan tindakan kaum fasis yang tak pernah toleran
kepada pendapat lain. Benito Mussolini, tokoh Itali yang
memperkenalkan fasisme, merangkan bahwa fasisme adalah segala sesuatu
untuk memerangi sistem dan ideologi demokrasi, serta melawannya dalam
aras teori maupun praktek.**

Oleh karena itu, atas dasar akal sehat dan demokrasi, kami menyatakan:

PERTAMA, menuntut permintaan maaf secara terbuka para pelaku
pembakaran buku sejarah di Depok dan kota-kota lain, atas tindakannya
yang bertentangan dengan sila kedua dalam Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945.

KEDUA, menuntut kepada pemerintah di semua tingkatan, terutama
jajaran kejaksaan, untuk tak lagi menyikapi perbedaan pendapat dengan
teror dan tindakan menakut-nakuti atau membakar buku -- melainkan
dengan membuka dialog ataupun debat publik secara terbuka demi
melindungi demokrasi.

KETIGA, menuntut dihentikannya tindakan pelarangan buku atas alasan
apapun. Bila terdapat perbedaan pandangan yang diwakili sebuah buku,
hendaknya dijawab dengan menerbitkan buku baru yang mencerminkan
pandangan yang berbeda -- bukan dengan larangan.

Demikian pernyataan kami. Semoga demokrasi di negeri ini tetap abadi.

LAWAN FASISME, REBUT DEMOKRASI!

Jakarta, 7 Agustus 2007


Masyarakat Pencinta Buku Dan Demokrasi**
-------------------------------------------------------

Abdul Malik (aktivis Garda Kemerdekaan)
Abdullah Alamudi (Dewan Pers)
Abdurrahman Wahid (mantan presiden Republik Indonesia)
Agus Suwage (pelukis tinggal di Jogjakarta)
Ahmad Taufik (wartawan majalah Tempo, seorang deklarator Aliansi
Jurnalis Independen)
Alex Asriyandi Mering (wartawan, Borneo Tribune di Pontianak)
Amalia Pulungan (aktivis Institute Global Justice)
Andreas Harsono (wartawan, ketua Yayasan Pantau)
Andy Budiman (wartawan SCTV)
Anick H.T. (Jaringan Islam Liberal)
Asvi Marwan Adam (sejarahwan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Ayu Utami (novelis "Saman" dan "Larung")
Bonnie Triyana (sejarahwan, Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
Budi Setiyono (sejarahwan, Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
Daniel Dhakidae (penulis "Cendekiawan dan Kekuasaan dalam negara Orde
Baru")
Eva Danayanti (direktur eksekutif Yayasan Pantau)
Eva Sundari (anggota DPR, Fraksi PDI-Perjuangan)
Fadjroel Rahman (kolumnis harian Kompas)
Faisal Basri (ekonom)
Franz Magnis Suseno (dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara)
Ganjar Pranowo (sekretaris Fraksi PDI-Perjuangan DPR)
Garda Sembiring (People's Empowerment Consortium)
Garin Nugroho (sutradara)
Goenawan Mohamad (kolumnis "Catatan Pinggir" majalah Tempo)
Hamid Basyaib (Freedom Institute)
Imam Syuja (anggota DPR dari Partai Amanat Nasional, Banda Aceh)
Linda Christanty (penulis "Kuda Terbang Mario Pinto", pemimpin
redaksi sindikasi Pantau)
Lutfhi Assyaukanie (Universitas Paramadina)
M. Ridha Saleh (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia)
Marco Kusumawijaya (ketua Dewan Kesenian Jakarta)
Melani Budianta (dosen Universitas Indonesia)
Mira Lesmana (sutradara)
Mohamad Guntur Romli
(Teater Utan Kayu)
Muhlis Suhaeri (penulis, tinggal di Pontianak)
Musda Mulia (direktur Indonesian Conference on Religion and Peace)
Nong Darol Mahmada (Jaringan Islam Liberal)
Nurani Soyomukti (aktivis Yayasan Komunitas Taman Katakata, Jakarta)
Riri Riza (sutradara)
Rizal Mallarangeng (Freedom Institute)
Rosiana Silalahi (direktur pemberitaan SCTV)
Santoso (direktur Kantor Berita Radio 68H)
Sapariah Saturi-Harsono (wartawan, Ikatan Perempuan Pelaku Media)
Setya Darma Aji (ketua Ikatan Penerbit Buku Indonesia)
Siti Nurrofiqoh (ketua Serikat Buruh Bangkit Tangerang)
Syafii Maarif (ulama, Muhammadiyah)
Saiful Mujani (Lembaga Survei Indonesia)
Syamsudin Harris (peneliti, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Titarubi (perupa, tinggal di Jogjakarta)
Todung Mulya Lubis (pengacara)
Ucu Agustin (novelis)
Ulil Abshar Abdalla (Jaringan Islam Liberal, mahasiswa Universitas
Harvard)
Wandy N. Tuturoong (Komunitas Utan Kayu)
Yeni Rosa Damayanti (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika)
Siti Maemunah (Jaringan Advokasi Pertambangan)
Subro (aktivis Madura, Sekolah Mitra Masyarakat di Pontianak)
Ibrahim Isa, Publisis

* * *

Kolom IBRAHIM ISA - BOM-ATOM di HIROSHIMA, Apakah itu bukan 'TERORISME'?

Kolom IBRAHIM ISA
07 Agustus 2007
--------------------------
BOM-ATOM di HIROSHIMA,
Apakah itu bukan 'TERORISME'?

HIROSHIMA, 06 Agustus 1960 ------ : Empatpuluh tujuh tahun yang lalu, jam 08.15 pagi waktu setempat. Ketika itu kami berempat dari Indonesia: E.A. Martalegawa, anggota Komisi Luarnegeri DP-RI; - seorang lagi anggota Komisi Luarnegeri DPR-RI, orang Sunda, sayang aku sudah tidak ingat lagi namanya; kemudian Supriyo, Redaktur KB Antara, dan Ibrahim Isa, Sekretaris Komite Perdamaian Indonesia --- :

Bersama-sama, sebagai utusan Indonesia yang diorganisasi oleh Komite Perdamaian Indonesia (dan atas pembiyaan Deplu RI) , kami hadir di Tokyo dan Hiroshima atas undangan Komite Anti Bom A dan Bom H di Jepang, untuk ambil bagian dalam Konferensi Internsional Anti Bom A dan Bom H di Tokyo, dan dalam upacara peringatan dijatuhkannya Bom Atom Amerika Serikat atas kota Hiroshima, 06 Agustus, 1945, dan tiga hari kemudian bom A kedua, atas kota Nagasaki.

Seluruh dunia tak akan melupakan sesudah mendengar berita-berita dunia, melihat foto-foto mengenai 'kedahsyatan' dan daya rusak bom AS yang terbaru itu. Dan betapa penderitaan penduduk sipil korban bom Atom, tak terbayangkan, bahwa bisa terjadi pemusnahan dan korban yang bagitu besar. Apalagi yang pasti tak akan bisa lupa, ialah pelaku pilot pesawat pembom Superfortress B-29 AS, 'ENOLA GAY', yang ngedrop bom Atom pertama AS di atas penduduk sipil Hiroshima dan tiga hari kemudian atas kota Nagasaki. Dalam seketika, kota Hiroshima menyala!. Hancur musnah dan terbakar habis. Bagaikan neraka di dunia layaknya.Begitu pula nasib kota Nagasaki.

Dua hari sebelumnya kami tiba di Tokyo, atas undangan Komite Anti Bom A dan Bom H di Jepang, untuk ambil bagian dalam Konferensi International Anti Bom A dan H, di Tokyo. Bisanya kami berempat hadir di suatu Konferensi Internasional di Tokyo dan ikut dalam upacara peringatan di Hiroshima , adalah sesuatu kejadian yang tipikal di Indonesia ketika itu. Indonesia dan Presiden Sukarno, dimana-mana di arena internasional, terkenal sebagai pemrakasa Konferensi Bandung, yang melahirkan PRINSIP-PRINSIP BANDUNG untuk PERDAMAIAN DUNIA DAN KEMERDEKAAN NASIONAL. Maka adalah sesuatu yang wajar dan sering, baik yang diwakili pemerintah, maupun yang non-organisasi pemerintah, Indonesia aktif ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang bertujuan menyokong perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah, serta perjuangan untuk perdamaian dunia.

Konferensi di Tokyo yang kami hadiri itu adalah dengan tujuan meningktkan kesadaran internasional untuk menentang senjata-senjata Atom dan Hidrogen. Konferensi Internasional Anti-Bom A dan H, pada periode itu, diadakan di Jepang setiap tahun.

* * *

Kemarin, 06 Agustus 2007, upacara peringatan dijatuhkannya Bom A di kota Hiroshima dilangsungkan dengan khidmat di kota Hiroshima. Media dunia menyiarkannya. Penduduk Hiroshima dengan dukungan pencinta dan para aktivis gerakan Perdamaian Dunia di Jepang dan banyak negeri lain, menjadikan peringatan itu sebagai kegiatan setiap tahun yang perlu diteruskan. Demi mencamkan serta mengkhayati makna dan arti tuntutan adil: NO MORE HIROSHIMA!


* * *

BOM ATOM DI ATAS HIROSHIMA, BAGAIKAN NERAKA DI DUNIA
Beberapa saat sesudah bom Atom diledakkan di atas kota Hiroshima, dari penduduk Hiroshima yang berjumlah 350.000 orang, dalam sekejap mata, tidak kurang 140.000 orang mati hangus terbakar oleh panasnya Bom A. Ribuan lagi luka-luka bakar dan menderita akibat radiasi atom yang fatal. Dalam tahun 1995, karena bertambahnya jumlah korban yang kena radiasi, jumlah total yang tewas karena Bom A Hiroshima itu, mencapai 192.000. Tambahkan 74.000 lagi korban yang di Nagasaki akibat pemboman atom ke dua AS ( 9 Agustus, 1945), maka keseluruhan korban menjadi 268.000 orang yang tewas.

Mendengar penjelasan akhli-akhli fisika dan ilmu kedokteran Jepang di Hiroshima dan tuturan penderitaan para korban penduduk Hiroshima yang masih hidup, kemudian mengunjungi Musium Korban Bom Atom Hiroshima, melihat pentayangan film pemboman Atom atas Hiroshima dan Nagasaki, sejak itu, kesadaran dan hati nuraniku, bergejolak ingin meneriakkan keras-keras supaya didengar oleh sebanyak mungkin orang:

Menjatuhkan bom A atas kota Hiroshima (dan tiga hari kemudian,09 Agustus, 1945, di atas kota Nagasaki) --- Itu ADALAH PERBUATAN BIADAB! KEJAM dan TAK BER-PERIKEMANUSIAAN!

Sekarang di zaman segala sesuatu dimobilisasi melawan terorisme, nasional maupun internasional, timbul pertanyaan dalam fikiranku: Apakah yang dimaksudkan dengan terorisme? Bukankah korban bom Atom Amerika yang didrop di Hiroshima itu jauh lebih banyak jumlahnya, bila itu dibandingkan dengan korban kurang lebih 3000 orang tewas pada peristiwa pemboman Twin Towers di New York, oleh orang-orang Al Qaedan-ya Osama Bin Laden?

Dua peristiwa pemboman tsb sama-sama dilakukan demi suatu tujuan politik tertentu, dengan mengorbankan ribuan orang-orang sipil tak bersalah, termasuk perempuan, anak-anak dan orangtua yang tak berdaya. Secara terrencana mengorbankan begitu banyak orang sipil (140.000 orang terbunuh seketika) - dan itu terjadi diluar wilayah kancah peperangan, apakah itu tidak melanggar tata-cara berperang menurut hukum internasional?

Maka, tidaklah salah bila ditandaskan bahwa, ngedrop bom Atom oleh AS, di atas kota Hiroshima dan Nagasaki, 62 tahun yang lalu: --- ADALAH TERORISME! --- Sampai dewasa ini fihak Amerika tidak berhasil meyakinkan dunia, karena tidak ada yang mau percaya alasan dan dalih yang diajukan untuk membenarkan pembunuhan yang dilakukan oleh AS atas ratusan ribu manusia sipil tak bersalah kota Hiroshima dan Nagasaki. Tujuan yang hendak dicapai oleh Presiden AS Truman ketika itu, bukan tujuan militer semata, tetapi lebih penting lagi adalah tujuan politik. Dan tujuan politik itu dicapai tanpa mempedulikan pengorbanan ratusan ribu warga sipil yang tidak terlibat langsung dalam peperangan itu. Seperti dikatakan oleh Presiden Harry S Truman ketika itu, ketika mengumumkan ledakan bom tsb dari kapal penjelajah AS 'USS Augusta', bahwa kekuatan bom Atom baru AS itu, lebih dari 2000 kali lipat terbanding bom yang paling kuat saat itu.Menurut para pengkritisi banyak negeri, alasan AS menggunakan bom atom terhadap penduduk sipil Hiroshima dan Nagasaki, dikatakan untuk mempercepat berakhirnya perang ketika itu, tidak benar. Karena, saat itu, kekuatan militer dan ekonomi Jepang sudah demikian lemahnya, ditambah lagi dengan faktor baru, yaitu dimaklumkannya perang oleh Uni Sovyet atas Kerajaan Jepang, - tidak lama lagi Jepang sudah akan kalah, dan berakhirlah Perang Pasifik. Orang mempertanyakan apakah dijatuhkannya bom Atom atas Jepang, tujuan penting AS a.l. ialah, untuk mencegah jangan sampai Uni Sovyet yang mengalahkan Jepang, dan kemudian menduduki Jepang. Jadi tujuan AS adalah untuk menjadi hegemonis tuggal di Asia.

Seorang mahasiwi Jepang dari Nagasaki, Kayoko Iwanaga , putri dari orangtua yang menderita penyakit tak tersembuhkan disebabkan radiasi ledakan bom atom Nagasaki, mengatakan: 'Saya tahu alasan mengapa AS meledakkan dua macam bom atom di dua tempat (Hiroshima dan Nagasaki). Sebabnya ialah karena AS ingin mengetahui efek bom-bom tsb. Melalui penelitian akibat pemboman itu, dengan tujuan untuk merebut hegemoni sebagai kekuatan adikuasa seusai perang. Tindakan AS itu tak lain tak bukan, adalah tindakan 'AGAINST HUMANITY', tindakan yang melawan kemanusiaan.

Ini bukan untuk pertama kali fihak militer (Sekutu) yang beraliansi melawan fasisme Jerman, Itali dan Jepang, pada periode Perang Dunia II, melakukan TEROR terhadap PENDUDUK SIPIL untuk mencapai tujuan politiknya.

DIHANCURKANNYA KOTA DRESDEN
Bukalah kembali halaman catatan sejarah Perang Dunia II, ketika Sekutu mengerahkan pesawat-pesawat pembom, untuk menghancurkan kota DRESDEN, sebuah kota indah pusat budaya di Jerman Timur, yang berpenduduk padat.

Analis Detlef Siebert, mengungkap mengenai pemboman atas kota Dresden, sbb:
Beberapa minggu sebelum berakhirnya Perang Dunia II, PM Winston Churchil merancang sebuah memorandum tertuju pada Kepala-kepala Staf Angkatan Perang Inggris, sbb: 'Tampaknya bagi saya telah tiba waktunya, bahwa masalah pemboman atas kota-kota Jerman, yang semata-mata untuk meningkatkan TEROR, meskipun dilakukan dengan dalih yang lain, ---- untuk ditinjau kembali . . . . Dihancurkannya Dresden merupakan suatu masalah serius yang bertentangan dengan perilaku pemboman Sekutu.' Seru Siebert: Bagaimana suatu bangsa yang begitu bangga dengan standar moralnya yang tinggi, bisa menjatuhkan bom-bom atas wanita dan anak-anak?

Pada hari-hari tanggal 13-14 Februari 1945, selama tiga gelombang berturut-turut serangan pesawat pembom Inggris dan AS, dengan menggunakan lebih dari 1.300 pesawat pembom telah dijatuhkan lebih dari 3.300 ton bom di atas kota pusat budaya yang non-militer DRESDEN. Menurut berita pers waktu itu , penduduk kota Dresden yang tewas seketika berkisar antara 35.000 sampai 135.000. Seluruh kota hancur musnah. .

Adalah jelas bahwa PM Churchil bertanggung jawab atas pemboman kota Dresden dan kota-kota sipil lainnya, yang tujuannya ialah: mematahkan moral bangsa Jerman. Mengetahui bahwa timbul banyak reaksi atas pemboman kota-kota berpenduduk padat dan yang bukan merupakan sasaran militer, Churchil cepat-cepat membuat memorandum seperti yang dikutip terdahulu, yang ditujukan kepada para kepala staf angkatan perang.

Churchil ingin membebaskan diri dari tanggung jawab memerintahkan pemboman terhadap sasaran sipil yang padat penduduk, khususnya kota Dresden. Seolah-olah Churchil mengutuk pemboman kota-kota yang telah membawa begitu banyak korban. Tetapi fakta-fakta sejarah tak tertipu oleh manuver Churchil yang ingin bebas dari kritik yang dikemukakan bahwa pemboman atas-kota-kota Jerman berpenduduk padat, adalah suatu tindakan TEROR. Tak lain tak bukan adalah TERORISME!
Cobalah fikirkan:
Bukankah janggal, bahwa, sekarang ini terdengar seruan-seruan kutukan begitu vokal terhadap terorisme, yang datangnya justru dari jurusan para pelaku perbuatan TEROR dan TERORISME semasa PERANG DUINIA II. * * *

Monday, August 6, 2007

Kolom IBRAHIM ISA - SAKSIKAN ORBA MEREKAYASA SEJARAH!

Kolom IBRAHIM ISA

Selasa, 24 JUli 2007


SAKSIKAN ORBA MEREKAYASA SEJARAH!




** * **


Karena kesibukan beberapa hari ini, hampir saja terluput artikel

cendekiawan generasi muda Indonesia, ASWI WARMAN ADAM, berjudul 'KASUS BIOGRAFI SOEKARNO'(Kompas, 6 Juni 07). Dalam pada itu 14 Juli y.l. sudah muncul lagi tulisan baru Aswi Adam mengenai tokoh pejuang kemerdekaan nasional Mr Amir Syarifudin, berjudul 'Revolusi Memakan Anaknya Sendiri!'. Mudah-mudahan artikel mengenai Mr Amir Syarifuddin ini, yang mengisahkan tentang peranan beliau dalam perjuangan kemerdekaan, dan jasa-jasanya, kemudian nasibnya di hadapan regu tembak tentara tanpa proses pengadilan apapun, akan kubicarakan dalam kesempatan berikutnya.


Kali ini yang hendak dibicarakan adalah artikel Aswi mengenai 'Kasus Biografi Sukarno'. Artikel ini kuanggap penting sekali karena telah mengungkap beberapa hal yang memerlukan perhatian dan pemikiran lebih mendalam. Agar kita bisa menarik pelajaran yang bermanfaat mengenai rezim Orba di bawah Jenderal Suharto.


Tiga point seperti yang diajukan berikut di bawah ini yang menjadi pertimbangan untuk menganggap bahwa artikel Aswi Adam tsb penting.


Pertama, bahwa Aswi, sejarawan muda Indonesia yang melakukan kegiatannya a.l. sebagai 'Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia', kita ikuti selama ini ia dengan teliti dan tekun menstudi sejarah bangsa kita. Khususnya sejarah modern Indonesia. Sejarawan Aswi Adam menaruh perhatian khusus terhadap tokoh dan peranan Bung Karno, teristimewa sekitar periode ketika kekuasaan Presiden Sukarno 'digoyang', 'disekat dan diisolasi ketat yang memisahkannya secara 'hermetis' dari kontak-kontak dan dukungan bangsa', -- kemudian diserobot Jendral Suharto dengan cara, seperti ditulis oleh banyak pakar-pakar peneliti sejarah, nasional maupun mancanegara, yang disebut, 'creaping coup d'etat', 'kup merangkak'. Yaitu perebutan kekuasaan negara secara perlahan-lahan.


Kedua, bahwa, Aswi Adam menemukan 'kejanggalan' dalam edisi bahasa Indonesia buku BIOGRAFI SOEKARNO. 'Kejanggalan tsb mengungkap hal yang lebih dalam dan fundamental. Bukan sekadar 'kejanggalan'. Judul asli (bahasa Iggris) Otobiografi Sukarno tsb, adalah: 'SOEKARNO, AUTOBIOGRAPHY, AS TOLD TO CINDY ADAMS', Indianapolis: Bobbs-Merril (1965). Edisi Indonesia terbit setahun kemudian,1966. Penerbitnya GUNUNG AGUNG. Judulnya: 'BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA'. Pasti dari kalangan generasi perjuangan kemerdekaan masih ingat, ketika Bung Karno masih hidup, beliau memang pernah menegaskan bahwa, pada saatnya harus meninggalkan dunia yang fana ini, beliau ingin dimakamkan di daerah Bogor. Selanjutnya, beliau minta diatas batu-nisan, supaya ditulis sekadar teks berikut ini: 'BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT'.


* * *


Memang, edisi Indonesia dari buku BIOGRAFI SOEKARNO tsb, menunjukkan 'kejanggalan' yang menyolok sekali. Suatu keanehan yang menjurus ke sesuatu misteri. Buku Bung Karno, sebuah otobriografi, terbit di zaman Orba, sampai 5 kali. Bukankah hal ini sesuatu yang benar-benar aneh, janggal dan sulit difahami??


Ketiga, inilah yang paling istimewa dari studi Aswi Adam: Sejarawan Aswi Warman Adam menemukan suatu 'kejanggalan', yang kiranya pantas disebut suatu 'bikinan'. Namun, bila dikuak lagi, menjadi jelas, yang dikatakan 'misteri' itu, tersimpul dalam jawban apa yang diberikan atas pertanyaan berikut ini:


Mengapa ---- ? ? ?, sekali lagi mengapa, penguasa militer di bawah Jendral Suharto ketika itu (1966), (yang menimbulkan orang menjadi heran) tokh mengizinkan PENCETAKAN Edisi bahasa Indonesia buku tentang Bung Karno. Bukan saja mengizinkan terbit edisi Indonesia, buku tentang Bung Karno, bahkan, Jendral Suharto sendiri yang memberikan semacam 'kata pengantar'. Siapapun tidak mungkin 'menelan' begitu saja kejanggalan ini. Soalnya, karena, pada saat yang bersamaan itu juga, fihak militer di bawah Jendral Suharto (orang yang sama itu juga) sedang sibuk-sibuknya melancarkan kampanye pemfitnahan terhadap Presiden Sukarno (dibilang terlibat, bahkan 'dalang G30S', dsb). Kampanye anti-Sukarno ini dikenal sebagai 'character asassination'. Tujuan tunggal, menghitamkan nama baik dan peranan Bung Karno sebagai pemimpin bangsa. Kampnye fitnah terhadap Presiden Sukarno mereka perlukan sebanyak mungkin, sebagai 'alasan' dan dalih, sebelum sepenuhnya menggulingkan Bung Karno dari kepresidenan Republik Indonesia.


Sulit menemukan jawaban lain terhadap pertanyaan tsb, selain jawaban ini: Diterbitkannya buku Bung Karno edisi Indonesia tsb., ditengah-tengah sedang gencar-gencarnya kampanye 'anti Bung Karno'(1966), ialah, bahwa hal itu merupakan bagian dari kampanye untuk menghitamkan nama baik Bung Karno. Maksud lainnya penerbitan buku itu, adalah untuk memecahbelah lebih lanjut kekuatan nasional bangsa kita. Kongkritnya menimbulkan pertentangan dan konflik serta saling benci, antara pendukung Presiden Sukarno, lawan pendukung mantan Wakil Presiden Dr Moh Hatta.


* * *


Mengapa dikatakan penerbitan buku Bung Karno edisi Indonesia itu (terbitan pertaman 1966), adalah untuk menghitamkan nama baik Bung Karno dan memecah-belah lebih lanjut, mempertajam pertentangan dan saling benci antara pendukung Bung Karno dan pendukung Moh Hatta? Bisa diambil kesimpulan demikian, karena di dalam buku edisi Indonesia terdapat 'kalimat-kalimat selundupan', yang diselundupkan oleh (siapa?? tanya Aswi Adam), yang di dalam edisi asli buku tsb SAMASEKALI TAK ADA! Jadi sutu rekayasa, suatu p e m a l s u a n , suatu pemelintiran fakta-fakta sejarah. Suatu 'karangan', 'cerita bikinan sendiri', 'suatu isapan jempol' yang sengaja dijejalkan dalam buku Bung Karno edisi Indonesia. Semakin jelas maksud yang merekayasa dan memelintir fakta sejarah itu bila dibaca, kalimat-kalimat yang bagaimana yang diselundupkan ke dalam buku Bung Karno itu.


Dalam tulisannya seperti yang dilampirkan di bawah, Aswi Adam menjelaskan sbb:


'Pada halaman 341 tertulis, "Rakyat sudah berkumpul. Ucapkanlah Proklamasi." Badanku masih panas, akan tetapi aku masih dapat mengendalikan diriku. Dalam suasana di mana setiap orang mendesakku, anehnya aku masih dapat berpikir dengan tenang. "Hatta tidak ada," kataku. "Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada." "Dalam detik yang gawat dalam sejarah inilah Sukarno dan tanah-air Indonesia menunggu kedatangan Hatta".



Namun, di antara kedua kalimat itu ternyata disisipkan dua alinea yang tidak ada dalam buku asli berbahasa Inggris yaitu: (dua alinea berikut yang 'disisipkan', direkayasa. Aswi menunjukkan dua alinea yang di bawah ini cetak-miring), sbb:

/"Tidak ada yang berteriak Kami menghendaki Bung Hatta. Aku tidak memerlukannya. Sama seperti aku tidak memerlukan Sjahrir yang menolak untuk memperlihatkan diri di saat pembacaan Proklamasi. Sebenarnya aku dapat melakukannya seorang diri dan memang aku melakukannya sendirian. Di dalam dua hari yang memecahkan urat saraf itu maka peranan Hatta dalam sejarah tidak ada." /

/"Peranannya yang tersendiri selama masa perjuangan kami tidak ada. Hanya Sukarno-lah yang tetap mendorongnya ke depan. Aku memerlukan orang yang dinamakan pemimpin ini karena satu pertimbangan. Aku memerlukannya oleh karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatera dan di hari-hari yang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatera. Dia adalah jalan yang paling baik untuk menjamin sokongan dari rakyat pulau yang nomor dua terbesar di Indonesia." /

/Soekarno tidak memerlukan Hatta dan Sjahrir bahkan "peranan Hatta dalam sejarah tidak ada". ( Dua alinea tsb ternyata bukan kata-kata Bung Karno tetapi sisipan, selundupan)/

Dua alinea tsb diatas, menurut Aswi, adalah dua alinea 'tambahan', yang DIDALAM EDISI ASLI BERBAHASA INGGRIS SAMAEKALI TAK ADA. Dua alinea (selundupan) tsb yang hendak memberikan gambaran (keliru)itu adalah yang ditampilkan sebagai 'sikap dan penilaian negatif Bung Karno terhadap mantan Presiden Moh. Hatta dan mantan Perdana Menteri Sutan Syahrir'. Siapapun yang kenal dan tahu, apalagi ambil bagian langsung dalam perjuangan kemerdekaan, jujur dan menghormati kebenaran, sedikitpun tak bisa terima 'pemelintiran fakta-fakta sejarah' demikian rupa. Kenyataan edisi bahasa Indonesia buku Bung Karno disertai semacam KATA PENGANTAR dari Jendral Suharto, bisa dipastikan bahwa sisipan selundupan dua alniea itu, paling tidak DIKETAHUI Suharto, kalau bukan orangnya Suharto sendiri yang menyelundupkannya, atas perintah Suharto.



Pemelintiran fakta-fakta dan pemalsuan fakta sejarah, menyajikan pemlasuan sebagai kebenaran, cara ini 100 persen sama dengan pamalsuan fakta sejarah lainnya yang dilakukan Orba. Seperti a.l. yang bersangkutan dengan: siapa tokoh nasional yang memprakarsai 'SERANGAN UMUM 1 MARET 1949, TERHADAP JOGYAKARTA. Sejarawan Orba sesumbar bahwa pemrakarsanya adalah Letkol Suharto. Tetapi kenyataan sejarah berbicara lain. Yang benar ialah, bahwa pemrakarsa SERANGAN UMUM 1 MARET 1949 ATAS JOGYAKARTA, adalah SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX. Juga sama dengan pemelintiran fakta sejarah lainnya oleh rezim Orba, ketika sejarawan TNI-AD Jendral Prof. Dr Nugroho Notosusanto, mengklaim bahwa adalah Prof Moh Yamin yang mencipta 'Pancasila', dan bukan Bung Karno. Padahal, asal saja mau membaca LAHIRNYA PANCASILA oleh Bung Karno, serta merta akan mengerti bahwa PANCASILA adalah ide falsafah strategis yang diajukan oleh Bung Karno, untuk dijadikan dasar falsafah dari negara Indonesia yang akan kita bentuk. Juga menjadi terungkap pemalsuan dan rekayasa faka sejarah lainnya,yaitu, ketika pers Orba menyebarluaskan bahwa 'perempuan-perempuan Gerwani melakukan orgi, kemudian memotong-motong kemaluan jenazah para jenderal, mencungkil matanya' dsb. Untuk memberikan alasan melakukan pengejaran dan pembunuhan masal kejam terhadap orang-orang PKI, dan yang dianggap simpatisan pendukung PKI. Rekayasa dan pemalsuan fakta oleh tentara sekitar 'perempuan-prempuan GERWANI' ini telah diungkap dan terbantahkan oleh pakar Belanda Prof Dr Saskia Wieringa, dalam bukunya mengenai 'The Birth of the New Order State in Indonesia Sexual Politics and Nationalism'.



* * *



Demikianlah adanya: Maka sungguh adillah tuntutan, usaha dan kegiatan untuk MELURUSKAN SEJARAH, atau MENGKLARIFIKASI FAKTA-FAKTA SEJARAH, ataupun MENULIS KEMBALI SEJARAH --- 'what is in a name', kata pujangga penyair Inggris William Shakespeare, --- MASALAH INTINYA ialah selama periode Orba, sudah berlangsung pemalsuan, rekayasa, pemelintiran, pembohongan dalam penulisan sejarah bangsa kita. Maka hal itu, bila hendak jujur dan ada niat baik untuk meninggalkan penulisan sejarah yang benar mengenai bangsa kita, praktek-praktek pemalsuan seperti yang dilakukan sementara sejarawan zaman Orba, itu SEPANTASNYA DIKOREKSI, secepat mungkin! Ini adalah suatu tantangan, sekaligus tugas bagi sejarawan muda kita!



* * *

Di bawah ini artikel lengkap ASWI WARMAN ADAM, mengenai KASUS BIOGRAFI SUKARNO, yang baru kita bicara di atas.

-- LAMPIRAN --

*KASUS BIOGRAFI SOEKARNO*

*Oleh: ASWI WARMAN ADAM*

Kompas, 06 Juni 2007


* * *

/Kasus Biografi Soekarno /

Asvi Warman Adam

Beberapa biografi Soekarno pernah dibuat pengamat asing seperti Bernhard Dahm, John Legge, Lambert Giebels, dan Bob Hering. Namun, buku yang ditulis Cindy Adams yang paling "hidup" karena merupakan penuturan langsung Soekarno sendiri.

Buku itu pertama kali muncul dalam bahasa Inggris tahun 1965 berjudul Sukarno, Autobiography as told to Cindy Adams, Indianapolis: Bobbs-Merril. Satu tahun kemudian, edisi bahasa Indonesia diterbitkan Gunung Agung (Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia).

Ketika buku Soekarno yang lain sulit ditemukan pascatahun 1965, maka buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia mengalami cetak ulang beberapa kali (1966, 1982, 1984, 1986, 1988). Pada cetakan pertama tertulis nama penerjemah Mayor Abdul Bar Salim, sedangkan pada cetakan kedua, pangkatnya tidak disebut lagi.

Dalam pengantar penerbit disebutkan, dalam tugas penerjemahan ini sang penerjemah sudah direstui Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Soeharto. Selain itu sejak cetakan pertama terdapat kata sambutan Soeharto. "Dengan penerbitan ini, diharapkan dapat terbaca luas di kalangan rakyat, Bangsa Indonesia," ujar Soeharto. Apakah pernyataan ini yang menyebabkan buku itu bisa tetap terbit pada era Orde Baru?

Duta Besar AS Howard Jones, saat makan nasi goreng di paviliun istana Bogor, menyarankan agar Bung Karno menulis biografi. Akhirnya Soekarno setuju bila itu dilakukan Cindy Adams, wartawati AS yang ada di Indonesia mendampingi suaminya, Joey Adams, yang memimpin misi kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara.

Cukup banyak kepentingan yang ikut bermain di balik penerbitan buku ini. Namun, bagi Bung Karno, biografi ini memberi kesempatan menjawab serangkaian tuduhan yang pernah ditujukan pada dirinya antara lain sebagai kolaborator Jepang dan komunis serta terlalu sering ke luar negeri. "Buku ini tidak ditulis untuk mendapatkan simpati atau meminta supaya setiap orang suka kepadaku. Harapanku hanyalah, agar dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta."

*Alinea tambahan*

Dalam diskusi yang diselenggarakan Yayasan Bung Karno di Gedung Pola tahun 2006, Prof Sjafii Ma’arif, mengutip buku Cindy Adams, mengatakan, Soekarno amat melecehkan Hatta karena menganggap perannya tidak ada dalam sejarah Indonesia. Karena itu, ketika buku ini akan diterbitkan ulang saya meminta kepada Yayasan Bung Karno untuk mengecek kembali terjemahan buku ini. Sebetulnya bagaimana bunyi asli dalam bahasa Inggris pernyataan yang merendahkan Hatta. Yayasan Bung Karno kemudian menugasi Syamsu Hadi untuk menerjemahkan ulang buku itu.

Yang mengagetkan, pada temuannya, selain ada kekeliruan terjemahan adalah dua alinea tambahan dalam edisi bahasa Indonesia sejak tahun 1966. Padahal kedua alinea itu tidak ada dalam edisi bahasa Inggris.

Pada halaman 341 tertulis, "Rakyat sudah berkumpul. Ucapkanlah Proklamasi." Badanku masih panas, akan tetapi aku masih dapat mengendalikan diriku. Dalam suasana di mana setiap orang mendesakku, anehnya aku masih dapat berpikir dengan te- nang.

"Hatta tidak ada," kataku. "Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada."

Kalimat ini akan dilanjutkan —kalau dicek teks asli bahasa Inggris adalah "Dalam detik yang gawat dalam sejarah inilah Sukarno dan tanah-air Indonesia menunggu kedatangan Hatta".

Namun, di antara kedua kalimat itu ternyata disisipkan dua alinea yang tidak ada dalam buku asli berbahasa Inggris yaitu:

"Tidak ada yang berteriak ’Kami menghendaki Bung Hatta’. Aku tidak memerlukannya. Sama seperti aku tidak memerlukan Sjahrir yang menolak untuk memperlihatkan diri di saat pembacaan Proklamasi. Sebenarnya aku dapat melakukannya seorang diri dan memang aku melakukannya sendirian. Di dalam dua hari yang memecahkan urat saraf itu maka peranan Hatta dalam sejarah tidak ada."

"Peranannya yang tersendiri selama masa perjuangan kami tidak ada. Hanya Sukarno-lah yang tetap mendorongnya ke depan. Aku memerlukan orang yang dinamakan ’pemimpin’ ini karena satu pertimbangan. Aku memerlukannya oleh karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatera dan di hari-hari yang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatera. Dia adalah jalan yang paling baik untuk menjamin sokongan dari rakyat pulau yang nomor dua terbesar di Indonesia."

Soekarno tidak memerlukan Hatta dan Sjahrir bahkan "peranan Hatta dalam sejarah tidak ada". Demikian pernyataan Bung Karno dalam edisi bahasa Indonesia yang terbit sejak tahun 1966. Kalau tambahan dua alinea itu hasil rekayasa, siapa yang melakukannya?

*Asvi Warman Adam* /Pengurus Pusat Masyarakat Sejarawan Indonesia/



* * *