IBRAHIM ISA - Berbagi Cerita
-------------------------------
Selasa, 12 Februari 2008
INTERMEZO <>
Tjrék, tjrék, tjrék . . . . . Untuk 'Amnesty International'
'Tjrék, tjrék, tjrék . . . . Untuk Amnesty International', judul yang kupakai untuk 'Intermezo <16>, maskudnya ialah berbagi cerita-kecil mengenai kampanye pengumpulan dana yang dilakukan oleh Amnesty International Nederland. (10 - sampai dengan16 Feb 2008).
Ketika menulis ini kubaca e-mail yang baru masuk dari Amnesty International yang kuterima dari Mascha Spanjers, Manager Pengelola Pengumpulan Dana.
Di dalam www.youtube yang aku terima dari Mascha Spanyer, ditayangkan upacara resmi pembukaan kampanye pengumpulan dana Amnesty International Nederland. Hal itu dilakukan oleh salah seorang pimpinan AI Nederland, Lars v Troost dan Walikota Amsterdam Job Cohen. Tahun ini tidak kurang dari 23.000 sukarelawan ambil bagian dalam pengumpulan dana. Mereka dilengkapi tabung-tabung plastik bermerek AMNESTY INTERNATIONAL dengan slogan 'Berilah Demi Kebebasan'. Mulai tanggal 11 Februari 2008, puluhan ribu sukwan berkeliling di seluruh Nederland untuk kampanye pengumpulan dana.
Perhatian masyrakat Belanda terhadap kegiatan Amnesty International, tampak meningkat. Ini bisa dilihat dengan bertambahnya tidak kurang dari 5.000 jumlah sukarelawan yang ambil bagian dalam kampanye, terbanding tahun 2007.
Tahun ini, seperti tahun lalu, aku 'kiprah' lagi dengan para sukwan lainnya. Ambil bagian dalam kampanye pengumulan dana AI Nederland. Uang yang terkumpul selama dua hari berdiri di Winkelceentrum Amsterdamse Poort, mungkin tidak banyak. Meskipun tabung-Amnestyku jadi berat, karena banyaknya uang récéh yang dijebloskan ke dalamnya.
Tapi aku gembira melakukannya. Merasa senang beresempatan kontak, meskipun sedikit saja 'berdialog' dengan 'orang-oramg biasa' yang ada perhatian. Dengan senyum optimis mereka membuka koceknya, dan memberikan sumbangannya untuk kegiatan Amnesty International. Terasa bahwa publik Belanda, baik yang bulé maupun hitam, coklat, kuning, tua, muda, semua ada perhatian dan memperhatikan masalah Hak-Hak Azasi Manusia, dan kegiatan Amnesty International khususnya.
Seorang laki-laki bulé muda berperawakan tinggi datang menghampiriku. Ia menyemplungkan beberapa mata uang euro ke dalam tabung-Amnestyku. Sambil tersenyum mengatakan: 'Baik sekali bahwa Anda bersedia melakukan hal seperti ini'.
Ada lagi yang bilang. 'saya tau apa itu Amnesty International' dan kegiatan apa yang dilakukan 'Anda melakukan ini baik. Teruskan' . Kata-kata itu sederhana, tetapi bagiku apa yang diucapkan itu keluar dari hati sanubari mereka-mereka yang punya keyakinan bahwa hak-hak azasi menusia, hak-hak demokrasi tidak bisa datang sebagai hadiah. Hal-hal itu hanya terrealisasi melalui usaha, kegiatan dan perjuangan.
Hari itu kukunjungi juga kantor PTT. Kebetulan hendak mengirimkan surat ekspres ke Jakarta. Beberapa orang pegawai PTT memerlukan masuk ke dalam untuk mengambil uang untuk disumbangkan.
Ketika aku ke huisartsku Dr Sinke, untuk memeriksa tekanan darahku Senin pagi itu, kubawa tabung-Amnesty itu. Asisten Dr Sinke memerlukan untuk bicara dengan pasien yang menunggu di kamar tunggu bahwa di sini ada orang Amnesty yang mengumpulkan dana.
Apa yang menjadi tujuan gerakan Amnesty International, ialah berusaha melalui berbagai cara kampanye dan kegiatan untuk meningkatkan kesadaran HAM dan Demokrasi. Untuk mensosialisasikan kepada seluruh dunia bahwa, di banyak negeri di dunia ini masih banyak sekali terjadi pelanggaran HAM dan Hak-hak Demokrasi. Bahwa terhadap pelanggaran-pelanggaran tsb harus dilakukan perjuangan yang terus menerus melawannya.
* * *
Senin siang, 11 Februari, dan Selasa sore, 12 Februari, aku berdiri lagi di Winkelcentrum di Amsterdamse Poort. Hari yang kedua aku bersama seorang sukarelawan AI yang paling tidak sama umurnya dengan aku. Diatas 75th. Senin dan Selasa minggu ini termasuk cuaca bagus dan indah. Menyegarkan dan menyenangkan. Meskipun masih terasa angin musim dingin yang bertiup sesekali. Ada yang bilang sekarang ini sudah musim semi di Belanda. Apakah masih musim dingin atau sudah masuk musim semi, bagiku yang terpenting ialah bahwa hatiku gembira, keadaan kesehatan masih memungkinkan untuk melakukan kegiatan seperti ini. Dua jam berdiri sambil minta perhatian orang terhadap Amnesty International, tujuan dan kegiatannya. Hati merasa nyaman juga karena hangatnya Sang Surya yang memancarkan cahayanya dengan penuh. Katanya, sayang, cuaca dingin masih akan kembali lagi. Mungkin minggu depan.
* * *
Hari Minggunya, 10 Februari, ketika beberapa teman bersama merayakan ala kadarnya Hari Imlek di rumah salah seorang teman di Amsterdam, cuacanya juga bagus, indah dan hangat. Berdua dengan istriku Murti, kami ikut juga merayakan Imlek di situ. Hangatnya musim dingin, hangatnya ber-Imlek, benar-benar terasa ke sanubari. Sehingga mengesankan. Pada kesempatan itu, kubawa juga tabung-Amnesty. Sementara kawan dengan gembira memberikan sumbangannya.
Ada kawan yang bertanya: Bagaimana sikap Amnesty International sekarang. Sampai dimana perhatian mereka terhadap para korban pembantaian masal 1965, yang sampai kini masih menderita diskriminasi.
Aku bilang, untuk minta perhatian Amnesty International terhadap para korban Peristiwa 1965 yang jumlahnya jutaan itu, tidaklah mudah. Karena di dalam gerakan Amnesty International terdapat pelbagai aliran dan kecenderungan. Secara umum dan formal AI memperjuangan HAM dan Hak-hak Demokrasi, tetapi dalam kenyataan kongkritnya, tidak sederhana. Kalau kita menghendaki sesuatu demi para korban Peristiwa 1965, maka itu harus dilakukan melalui usaha dan perjuangan. Baik dari luar, lebih-lebih lagi dari dalam.
Tapi yang ingin sedikit kuceritakan kali ini ialah yang berkenaan dengan kampanye pngumpulan dana oleh Amnesty International Nederland. Sebenarnya Amnesty International Belanda, cukup padat kasnya. Sebagai misal: Tanggal 04 Februari y.l. Nationale Postcode Loterij menghibahkan tidak kurang dari Euro 4.000.000 kepada Amnesty Interational Belanda. Dan itu bukan baru tahun ini saja. Tahun-tahun sebelumnya juga sudah pernah dapat dari Poscode Loterij. Pernah aku berkomentar: AI Nederland harus hati-hati. Karena kasnya boleh dibilang sudah terjamin, tambah lagi dengan direkrutnya tenaga-tenaga personil yang digaji, apalagi kalau personil itu menduduki jabatan-jabatan penting, maka kultur dan praktek birokrasi bisa terjadi di Amnesty International. Sehinga motivasi dan visi Amnesty International yang didasarkan pada kegiatan dan perjuangan untuk Hak-Hak Azasi Manusia, sedikit banyak terpengaruhi. Pernah juga kukemukakan kekhawatiranku bahwa dana-dana besar yang diterima, apakah tidak akan punya dampak negatip yang mempengaruhi kebijakan Amnesty International, sebagai lembaga non-politis yang bebas mandiri.
Aku bicara begini ini, bukan tanpa alasan dan bukan tanpa dasar.
Pada periode 'Perang Dingin' yang sudah lama berakhir itu, hal-hal seperti keberat-sebelahan, bukan tidak pernah terjadi. Pernah kukemukakan terus terang. Kenyatan yang tidak jarang terjadi adalah begini: Bila yang jadi korban itu orang-orang Kiri apalagi Komunis, maka kegairahan kegiatan Amnesty International, tampak hambar, malah 'orgah-ogahan' seperti ungkapan orang Jakarta. Alasan untuk suatu kampanye membela para korban yang Kiri atau yang dianggap Komunis itu ada-ada saja. Membela korban pelanggaran HAM . . . . OK, tapi lihat-lihat siapa korban pelanggaran HAM dan Hak-hak Demokrasi itu.
Seperti halnya menanggapi nasib lebih duapuluh juta korban Peristiwa 1965 di Indonesia. Suatu kenyataan kongkrit: Para korban dan keluarganya tsb, hingga kini, masih belum dipulihkan nama baiknya; masih belum direhabilitasi hak--hak politik dan kewarganegaraannya. Tapi mengapa fakta-fakta itu semua luput begitu saja dari perhatian Amnesty International. Baik yang dipusatnya di London, maupun yang di Nederland.
Tapi bila hal itu menyangkut korban-korban yang terjadi di sementara negeri lain, dimana pelaku pelanggaran HAM dinyatakan adalah penguasa Komunis atau kiri lainnya, maka tampak sekali kegairahan AI untuk melakukan kegiatan yang ditujukan terhadap penguasa Kiri atau yang dikatakan Komunis.
* * *
'Tjrék, tjrék, tjrék' adalah sekadar panamaanku saja terhadap kampanye pengumpulan dana yang dilakukan oleh Amnesty International setiap tahunnya. Aku berharap kampanye pengumpulan dana kali ini sukses lagi. Seperti halnya tahun lalu. Mungkin minggu depan kami para pengumpul dana akan rapat di rumah kordinator Ny Raffa dan akan menghitung berapa jumlah uang yang masuk.
Jumlah uang yang terkumpul bukanlah yang terutama dan yang terpenting. Yang pokok ialah melalui kampanye ini, lagi-lagi dibangkitkan perhatian publik terhadap misi dan tujuan serta kegiatan Amnesty International demi HAM dan Hak-Hak Demokrasi. * * *
Sunday, March 16, 2008
IBRAHIM ISA - SELAMAT TAHUN BARU IMLEK,
IBRAHIM ISA
-------------------
07 Februari 2008
===========================
SELAMAT TAHUN BARU IMLEK,
TERIRING HARAPAN TERBAIK !
===========================
Di saat Tahun Baru Imlek dirayakan di banyak negeri di dunia ini, khususnya di Indonesia, dan apalagi di Republik Rakyat Tiongkok, harapan dan doa kita tak lain agar TAHUN TIKUS ini akan membawakan kita semua ke suasana yang lebih toleran dan harmonis antara pelbaga bangsa dan etnik di dunia ini.
* * *
Menjadi perhatian dan keprihatinan kita semua bahwa dewasa ini, di Tiongkok, di mana HARI TAHUN BARU IMLEK dirayakan besar-besaran oleh seluruh bangsa Tionghoa, sebagian tidak kecil, yaitu di bagian selatan negeri, penduduk menderita kemalangan berhubung musim dingin yang luar biasa kerasnya.
Musim dingin yang keras itu telah memutuskan pelbagai jaringan komunikasi darat, sungai dan udara, halmana menyebabkan terganggunya suplai bahan bakar dan makanan yang justru lebih banyak diperlukan pada hari-hari ini.
Namun, kita lega melihat perhatian besar pemerintah Tiongkok yang a.l. mengerahkan ratusan ribu TPR dan Polisi untuk memberikan bantuan langsung pada rakyat.
Semoga bencana musim dingin ini segera dapat diatasi dan rakyat Tiongkok bisa merayakan IMLEK sebagaimana biasanya.
Kita juga merasa gembira bahwa sejak jatuhnya pemerintah Presiden Suharto, perayaan Imlek berangsur-angsur bisa dirayakan dengan lega. Khususnya pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid/ Wapres Megawati Sukarnoputri, telah benyak sekali menghapuskan poilitik dan kebijakan, peraturan dan ketentuan Orba yang telah demikian rasis dan anti-Tionghoa dalam tindakannya, sanmpai melarang dirayakannya secara wajar TAHUN BARU IMLEK.
Perlu dicatat juga bahwa diskrimnasi rasial terhadap warganegara Indonesia sendiri yang asal etnik Tionghoa, masih terdapat dan dipraktekkan di sana sini di Indonesia. Menjadi tuntutan kita semua, sebagai bangsa Indonesia, diakhirinya segala politik dan tindakan diskriminasi dan rasis terhadap warganegara sendiri yang asal etnis Tionghoa.
Semoga hari-hari IMLEK ini berlalu dengan ketenangan, keharmonisasi dan toleransi.
Ibrahim Isa
07 Februari 2008
-------------------
07 Februari 2008
===========================
SELAMAT TAHUN BARU IMLEK,
TERIRING HARAPAN TERBAIK !
===========================
Di saat Tahun Baru Imlek dirayakan di banyak negeri di dunia ini, khususnya di Indonesia, dan apalagi di Republik Rakyat Tiongkok, harapan dan doa kita tak lain agar TAHUN TIKUS ini akan membawakan kita semua ke suasana yang lebih toleran dan harmonis antara pelbaga bangsa dan etnik di dunia ini.
* * *
Menjadi perhatian dan keprihatinan kita semua bahwa dewasa ini, di Tiongkok, di mana HARI TAHUN BARU IMLEK dirayakan besar-besaran oleh seluruh bangsa Tionghoa, sebagian tidak kecil, yaitu di bagian selatan negeri, penduduk menderita kemalangan berhubung musim dingin yang luar biasa kerasnya.
Musim dingin yang keras itu telah memutuskan pelbagai jaringan komunikasi darat, sungai dan udara, halmana menyebabkan terganggunya suplai bahan bakar dan makanan yang justru lebih banyak diperlukan pada hari-hari ini.
Namun, kita lega melihat perhatian besar pemerintah Tiongkok yang a.l. mengerahkan ratusan ribu TPR dan Polisi untuk memberikan bantuan langsung pada rakyat.
Semoga bencana musim dingin ini segera dapat diatasi dan rakyat Tiongkok bisa merayakan IMLEK sebagaimana biasanya.
Kita juga merasa gembira bahwa sejak jatuhnya pemerintah Presiden Suharto, perayaan Imlek berangsur-angsur bisa dirayakan dengan lega. Khususnya pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid/ Wapres Megawati Sukarnoputri, telah benyak sekali menghapuskan poilitik dan kebijakan, peraturan dan ketentuan Orba yang telah demikian rasis dan anti-Tionghoa dalam tindakannya, sanmpai melarang dirayakannya secara wajar TAHUN BARU IMLEK.
Perlu dicatat juga bahwa diskrimnasi rasial terhadap warganegara Indonesia sendiri yang asal etnik Tionghoa, masih terdapat dan dipraktekkan di sana sini di Indonesia. Menjadi tuntutan kita semua, sebagai bangsa Indonesia, diakhirinya segala politik dan tindakan diskriminasi dan rasis terhadap warganegara sendiri yang asal etnis Tionghoa.
Semoga hari-hari IMLEK ini berlalu dengan ketenangan, keharmonisasi dan toleransi.
Ibrahim Isa
07 Februari 2008
Kolom IBRAHIM ISA
----------------------------
Senin, 04 Februari 2008
IN MEMORIAM - Tilly Go Gien Tjwan
Tadi pagi kira-kira jam 10.00 ketika aku menilpun Go Gien Tjwan untuk urusan sehubungan dengan kegiatan Stichting Wertheim ---- suara sedih kudengar dari Go Gien Tjwan:
TILLY TELAH MEINGGAL DUNIA pagi ini jam 08.00.
Terkejut dan sedih, kurasakan kedukaan yang diderita Bung Go pagi itu. Seperti otomatis saja kunyatakan kepada Go:
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUUN,
Semoga arwah Tilly diterima disisi Allah SWT.
Ya, kata Go spontan: Innalillahi . . . . . . , mengikuti kata-kata yang kuucapkan.
Mengharapkan Bung Go tabah menghadapi musibah ini. Go terdiam saja. Kemudian katanya:
Terima kasih, terima kasih.
Kukatakan: Bung Go, ini Murti istriku ingin menyampaikan condoleance kami sekeluarga.
Kepada Murti Go menyatakan dengan sedih tentang kepergiaan istrinya Tilly, dua jam yang lalu. Kata Go: Kami hidup sebagai suami istri telah mencapai 63 tahun. Hidup bahagia dan harmonis, kata Go terharu. Ya, kata Murti, kami masih ingat ketika kami mengunjungi Bung di rumah, Bung dengan bangga memperlihatkan foto pekawinan kalian 60 tahun yang lalu. Sambil menunjuk pada foto mereka berdua, ukuran tubuh normal, Murti mengatakan kepada Go: Kalian tampak bahagia sekali. Enampuluh tahun telah berlalu, namun, masih tetap demikian, kata Murti. Jaga baik-baik kesehatan Bung, kata Murti sambil mengharapkan agar Go tabah menghadapi kepergian istrinya tercinta Tilly.
Terakhir aku masih sempat bertemu dan memeluk Tilly di rumahnya, ketika ia sebentar boleh pulang dari rumah perawatan. Ketika itu tampak wajahnya tetap gembira, kupeluk dia dan nyatakan salam hangat dari Murti. Tilly senjum saja. Pengurus Stichting Wertheim, selalu mengadakan rapatnya di rumah Go Gien Tjwan. Jadi, kami dari pengurus Wertheim Stichting sering bertemu dengan Tilly.
Tilly sudah tiada. Kami sekeluarga dan kawan-kawan Go dan Tilly akan selalu mengenangnya sebagai sahabat karib dan teman seperjuangan!
Keluarga Go Gien Tjoan - Tilly adalah kenalan dan sahabat lama kami. Kami mengenal Tilly sebagai seorang istri yang setia, sumeh, gembira dan ramah terhadap kawan. Kukenal keluarga Go Gien Tjwan ketika untuk pertama kalinya aku ke Amsterdam dalam tahun 1952. Tidak lama kemudian karena kegiatan Go Gien Tjwan yang pro Republik Indonesia dan anti-KMB, bersama keluarga Sunito - kemudian Sekretaris DPR - Go Gien Tjwan dan Tilly, dipersona-non-gratakan oleh pemerintah Belanda. Dalam masa-masa sulit ketika mereka diusir dari negeri Belanda dan ketika Go Gien Tjwan dipenjarakan oleh Jendral Suharto (1965-1966) karena kedudukannya sebagai salah seorang pimpinan Baperki dan piminan KB Antara, Tilly senantiasa dengan teguh dan setia mendampingi suaminya Go Gien Tjwan. * * *
----------------------------
Senin, 04 Februari 2008
IN MEMORIAM - Tilly Go Gien Tjwan
Tadi pagi kira-kira jam 10.00 ketika aku menilpun Go Gien Tjwan untuk urusan sehubungan dengan kegiatan Stichting Wertheim --
TILLY TELAH MEINGGAL DUNIA pagi ini jam 08.00.
Terkejut dan sedih, kurasakan kedukaan yang diderita Bung Go pagi itu. Seperti otomatis saja kunyatakan kepada Go:
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUUN,
Semoga arwah Tilly diterima disisi Allah SWT.
Ya, kata Go spontan: Innalillahi . . . . . . , mengikuti kata-kata yang kuucapkan.
Mengharapkan Bung Go tabah menghadapi musibah ini. Go terdiam saja. Kemudian katanya:
Terima kasih, terima kasih.
Kukatakan: Bung Go, ini Murti istriku ingin menyampaikan condoleance kami sekeluarga.
Kepada Murti Go menyatakan dengan sedih tentang kepergiaan istrinya Tilly, dua jam yang lalu. Kata Go: Kami hidup sebagai suami istri telah mencapai 63 tahun. Hidup bahagia dan harmonis, kata Go terharu. Ya, kata Murti, kami masih ingat ketika kami mengunjungi Bung di rumah, Bung dengan bangga memperlihatkan foto pekawinan kalian 60 tahun yang lalu. Sambil menunjuk pada foto mereka berdua, ukuran tubuh normal, Murti mengatakan kepada Go: Kalian tampak bahagia sekali. Enampuluh tahun telah berlalu, namun, masih tetap demikian, kata Murti. Jaga baik-baik kesehatan Bung, kata Murti sambil mengharapkan agar Go tabah menghadapi kepergian istrinya tercinta Tilly.
Terakhir aku masih sempat bertemu dan memeluk Tilly di rumahnya, ketika ia sebentar boleh pulang dari rumah perawatan. Ketika itu tampak wajahnya tetap gembira, kupeluk dia dan nyatakan salam hangat dari Murti. Tilly senjum saja. Pengurus Stichting Wertheim, selalu mengadakan rapatnya di rumah Go Gien Tjwan. Jadi, kami dari pengurus Wertheim Stichting sering bertemu dengan Tilly.
Tilly sudah tiada. Kami sekeluarga dan kawan-kawan Go dan Tilly akan selalu mengenangnya sebagai sahabat karib dan teman seperjuangan!
Keluarga Go Gien Tjoan - Tilly adalah kenalan dan sahabat lama kami. Kami mengenal Tilly sebagai seorang istri yang setia, sumeh, gembira dan ramah terhadap kawan. Kukenal keluarga Go Gien Tjwan ketika untuk pertama kalinya aku ke Amsterdam dalam tahun 1952. Tidak lama kemudian karena kegiatan Go Gien Tjwan yang pro Republik Indonesia dan anti-KMB, bersama keluarga Sunito - kemudian Sekretaris DPR - Go Gien Tjwan dan Tilly, dipersona-non-gratakan oleh pemerintah Belanda. Dalam masa-masa sulit ketika mereka diusir dari negeri Belanda dan ketika Go Gien Tjwan dipenjarakan oleh Jendral Suharto (1965-1966) karena kedudukannya sebagai salah seorang pimpinan Baperki dan piminan KB Antara, Tilly senantiasa dengan teguh dan setia mendampingi suaminya Go Gien Tjwan. * * *
IBRAHIM ISA -- Berbagi Cerita - < Intermezo - 14 >
IBRAHIM ISA -- Berbagi Cerita
-----------------------------------------
Senin, 04 Februari 2008
<>
*Sejarawan Muda BONNIE TRIYANA *
*Gugat 'Kepahlawanan' Mantan Presiden Suharto*
Pagi ini kubaca sebuah artikel yang ditulis oleh sahabatku Sejarawan Muda Bonnie Triyana. Bagus! Tidak terlalu panjang, termasuk cekak aos. Singkat padat tetapi berisi dan memasuki kasus-kasus sejarah yang belum terlalu banyak diketahui umum, dan sementara kasus yang direkayasa atau dimanipulasi oleh Orba mengenai peranan sejarah mantan Presiden Suharto.
Antara lain kasus penyelundupan karet dan beras yang dilakukan oleh panglima tentara di Jawa Tengah. Pelakunya adalah Jendral Suharto bersama Bob Hassan. Lalu tindakan pimpinan AD (Jendral Nasution cs) terhadap kasus penyelundupan tsb. Jendral Suharto kemudian digeser dari kedudukannya sebagai panglima di Jawa Tengah. Disoroti pula rekayasa atau pemelintiran sejarah sekitar pemrakarsa 'Serangan Umum 1 Maret 1949' atas Jogyakarta yang diduduki Belanda ketika itu. Selanjutnya dikemukakan usaha Jendral Suharto sebagai panglima 'Operasi Mandala', di luar pengetahuan Presiden Sukarno yang sedang sibuk memimpin kampanye 'Ganyang Malaysia', diam-diam menghubungi fihak Malaysia untuk menempuh 'jalan lain' dalam kontroversi Indonesia-Malaysia. Lalu taggung jawab mantan Jendral Suharto dalam kasus 'Pembantaian Masal' terhadap kaum Komunis, Kiri lainnya dan para pendukung Presiden Sukarno.
Dalam kasus-kasus sejarah mantan Presiden Suharto yang diangkat dan difokusikan oleh sejarawan muda Bonnie Triayana, bisa dilihat bahwa Suharto bukan orang yang tanpa cacat dalam sejarah dan tanggungjawabnya selama Orba, bahkan sebelumnya.
Halmana menunjukkan bahwa mantan Presiden Suharto tidak punya syarat untuk dibenum jadi pahlawan nasional. Karena soalnya jelas, peraturan negara menentuka bahwa, calon pahlawan itu tidak boleh punya cacat dalam sejarahnya.
Dengan demikian, terhadap mantan Presiden Suharto bukannya gelar pahlawan yang menantinya tetapi proses pengadilan terhadap tindakan-tindakan menyalahi hukum dan HAM selama ia berkuasa.
* * *
Tulisan Bonnie Triyana gamblang dan obyektif dalam mempersoalkan kasus CACATNYA SUHARTO. Mari dibaca lagi artikel tsb seperti yang sikutip di bawah ini
*Bonnie Triyana:*
*Menimbang Kepahlawanan Soeharto *
Dari Jurnal Nasional, Minggu, 27 Januari 2008
Bung Karno baru digelari pahlawan 14 tahun setelah kematiannya, sedangkan Bung Hatta harus menunggu lima tahun. Bagaimana dengan Soeharto?
Setelah Soeharto meninggal dunia pada 27 Januari lalu, ada beragam pendapat yang mengemuka: sebagian masyarakat mengenangnya sebagai bapak pembangunan, sementara yang lain mengenangnya sebagai diktator. Bahkan Partai Golkar melalui beberapa petingginya mengusulkan agar mantan Presiden Soeharto digelari pahlawan. Munculnya berbagai kontroversi itu tak lepas dari keberhasilan Orde Baru di dalam mempropagandakan figur Soeharto sebagai penyelamat bangsa dari kehancuran ekonomi dan pencipta stabilitas negara. Ingatan sebagian masyarakat terhadap Soeharto pun tak pernah lepas dari citra yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru.
Pengertian pahlawan menurut Peraturan Presiden No. 33/1964 adalah: a) warga negara RI yang gugur dalam perjuangan dalam membela bangsa dan negara, b) warga negara RI yang berjasa membela bangsa dan negara yang dalam riwayat hidupnya selanjutnya tidak ternoda oleh suatu perbuatan yang membuat cacat nilai perjuangannnya. Apakah mantan presiden Soeharto memenuhi ketentuan ini?
Nama Soeharto mulai populer ketika ia disebut-sebut sebagai perwira yang menginisiasi sekaligus memimpin Serangan Oemoem 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Melalui serangan itu tentara Indonesia berhasil menduduki Yogyakarta selama enam jam sekaligus menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih eksis. Pada 1979, untuk menunjukkan peran penting Soeharto dalam SO 1 Maret 1949 itu dibuatlah film Janur Kuning yang disutradarai oleh Alam Rengga Surawidjaja. Film itu kemudian menjadi tontonan wajib bagi semua lapisan rakyat, tak terkecuali siswa SD yang diharuskan menontonnya di bioskop-bioskop. Tak berhenti di sana, versi sejarah itu pun ditulis dalam buku-buku sejarah yang kemudian diajarkan kepada siswa sekolah.
Namun ketika tahun 1998 Soeharto tak lagi menjabat presiden muncul versi lain tentang peran Soeharto dalam SO 1 Maret 1949. Tentu saja versi-versi itu berbeda dengan apa yang selama Orde Baru sajikan kepada masyarakat. Dalam Pledoi Kolonel Abdul Latief misalnya, dikatakan bahwa pada saat serangan itu berlangsung ia menemui Soeharto sedang berada di front belakang sembari menyantap soto babat. Pengakuan lain yang juga berlawanan dengan versi resmi Orde Baru adalah tentang penggagas SO 1 Maret 1949 yang ternyata bukan digagas oleh Soeharto sendiri, melainkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Awal 1956 Soeharto jadi Panglima TT-IV/Diponegoro di Semarang. Pada saat itu, bekerjasama dengan pengusaha Bob Hasan, ia menjalankan aktivitas extra-militer menyelundupkan gula ke Singapura untuk dibarter dengan beras. Kelak Bob Hasan menjadi “partner” bisnisnya ketika ia berkuasa sebagai presiden di masa Orde Baru. Dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan penyelundupan itu ia lakukan untuk mengatasi kekurangan pangan di Jawa Tengah. Namun demikian aktivitas extra-militer itu pula yang menyebabkannya diberhentikan sebagai panglima dan diperintahkan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Bandung.
Robert Elson dalam Biografi Politik Soeharto mencatat pemberantasan korupsi di kalangan tentara tak terlepas dari peran penting Jenderal Nasution yang membentuk Inspektorat Jenderal Angkatan Bersenjata sebagai “tangan kanannya”. Pada April 1957 ia mengeluarkan perintah untuk menyelidiki tindakan korupsi di setiap komando teritorial, termasuk di antaranya TT IV pimpinan Soeharto. Atas mediasi Jenderal Gatot Subroto kepada pucuk pimpinan Angkatan Darat, Soeharto urung dipecat dari kedinasan tentara. Kariernya pun terselamatkan.
Pada saat konfrontasi dengan Malaysia berlangsung, Soeharto dipercaya menjabat Wakil Panglima Komando Siaga Mandala (Kolaga). Dalam pada itu ia telah memperhitungkan kalau kekuatan militer Indonesia tak sebanding dengan Malaysia yang didukung oleh Inggris dan Australia. Upaya penerjunan pasukan infiltran ke wilayah Malaysia seringkali gagal. Melihat beberapa kegagalan itu Soeharto lebih memilih untuk melakukan “jalan lain” di dalam menyelesaikan konfrontasi. Ia menugasi beberapa pembantunya untuk mengadakan kontak dengan pihak Malaysia yang kemudian menjadi langkah awal normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia. Tentu saja operasi-operasi itu dilakukan tanpa sepengetahuan Bung Karno sebagai Panglima Tertinggi ABRI.
Pintu menuju kekuasaan semakin terbuka lebar ketika terjadi peristiwa 1 Oktober 1965. Posisi lowong yang ditinggalkan oleh Jenderal A Yani memberikan kesempatan kepada Soeharto untuk melancarkan perang terhadap PKI, musuh bebuyutan Angkatan Darat. Soeharto mengatakan ”....kegiatan saya yang utama adalah menghancurkan PKI, menumpas perlawanan mereka di mana-mana, di ibukota, di daerah-daerah, dan di pegunungan tempat pelarian mereka.” Dalam otobiografi yang disusun oleh Ramadhan KH dan G Dwipayana itu pula ia jelaskan taktik Angkatan Darat membasmi komunis, “Tetapi saya tidak mau melibatkan AD secara langsung dalam pertentangan-pertentangan itu, kecuali pada saat-saat yang tepat dan terpaksa. Saya lebih suka memberikan bantuan kepada rakyat untuk melindungi dirinya sendiri dan membersihkan daerahnya masing-masing...” ujar Soeharto.
Cara yang ditempuh Soeharto itu justru membawa petaka besar bagi bangsa Indonesia. Ratusan ribu orang (sumber lain mengatakan 3 juta) tewas dalam tragedi pembantaian massal sepanjang tahun 1965 - 1969. Sekira 10 ribu anggota dan simpatisan PKI ditahan di Pulau Buru tanpa terlebih dulu melalui proses pengadilan. Mereka dituduh terlibat, baik secara langsung maupun tidak, dalam peristiwa pembunuhan tujuh jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat. Di banyak daerah, anggota PNI (Ali Sastro-Surachman) pun tak luput dari penangkapan. Beberapa sarjana menyebut peristiwa itu sebagai “periode sejarah tersembunyi” yang tak pernah diungkap secara bebas semasa Soeharto berkuasa.
Konsolidasi kekuasaan Orde Baru membutuhkan kepastian stabilitas politik. Bukan hanya komunisme, semua yang hal yang dinilai bertalian erat dengan kekuasaan Soekarno dan memiliki potensi kontra dengan Orde Baru diminimalisasi sedemikian rupa. Hal itu sesuai dengan tugas Kabinet Pelita I: pemilihan umum; stabilitas politik; pembersihan aparatur negara; dan stabilitas ekonomi serta pembangunan lima tahun pertama.
Atas dasar stabilitas politik pula pemerintah Soeharto melakukan fusi terhadap partai-partai politik di tahun 1973. Golongan Karya jadi mesin politik Orde Baru yang hampir bisa dipastikan selalu memenangkan setiap kali penyelenggaraan pemilu. Soeharto selalu punya argumen bahwa era liberal di tahun 1950-an dengan sistem multipartai tak membawa Indonesia pada kemakmuran.
Pembangunan, stabilitas politik dan keamanan jadi tolok ukur keberhasilan Orde Baru, kendati pencapaian tersebut harus ditempuh dengan cara-cara yang mengabaikan demokrasi dan hak azasi manusia. Keberhasilan pembangunan yang dipuja-puji banyak pihak menjadi selubung penutup penderitaan rakyat di pelbagai sudut lain Indonesia. Harus pula dilihat sebagai sebuah fakta bahwa pembangunan di masa Soeharto berkuasa bertumpu pada “bantuan lunak” lembaga donor internasional yang semakin lama semakin berlipat ganda bunganya. Ketika Soeharto berhenti pada 1998, ia meninggalkan warisan utang (pemerintah dan swasta) sebesar US$ 150 miliar.
Warisan lain yang juga perlu diingat adalah korban pelanggaran kemanusiaan yang sejak Soeharto berkuasa (secara de facto) pada 1965, mulai dari pembantaian massal 1965-1969, pembuangan ke Pulau Buru, terlunta-luntanya nasib eksil di luar negeri, Tanjung Priok, penembakan misterius, Peristiwa Lampung, 27 Juli 1996, korban operasi militer di Aceh dan Papua, penculikan aktivis dan penembakan mahasiswa Trisakti.
Bahwa ada sebagian oranga mengatakan ia pernah melakukan sesuatu yang bermanfaat sah-sah saja, tapi bagaimana dengan mereka yang justru dirugikan oleh pemerintah Orde Baru? Bukankah Perpres No.33/1964 mengatur bahwa seseorang yang membuat cacat nilai perjuangannnya tak memenuhi syarat untuk jadi pahlawan. Maka demi keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia baik yang sempat merasakan manisnya kue pembangunan maupun yang sebaliknya, cukup rasanya Soeharto dikenang sebagaimana adanya, tidak secara berlebihan apalagi sampai terlontar ide untuk memberinya gelar pahlawan.
* * *
-----------------------------------------
Senin, 04 Februari 2008
<>
*Sejarawan Muda BONNIE TRIYANA *
*Gugat 'Kepahlawanan' Mantan Presiden Suharto*
Pagi ini kubaca sebuah artikel yang ditulis oleh sahabatku Sejarawan Muda Bonnie Triyana. Bagus! Tidak terlalu panjang, termasuk cekak aos. Singkat padat tetapi berisi dan memasuki kasus-kasus sejarah yang belum terlalu banyak diketahui umum, dan sementara kasus yang direkayasa atau dimanipulasi oleh Orba mengenai peranan sejarah mantan Presiden Suharto.
Antara lain kasus penyelundupan karet dan beras yang dilakukan oleh panglima tentara di Jawa Tengah. Pelakunya adalah Jendral Suharto bersama Bob Hassan. Lalu tindakan pimpinan AD (Jendral Nasution cs) terhadap kasus penyelundupan tsb. Jendral Suharto kemudian digeser dari kedudukannya sebagai panglima di Jawa Tengah. Disoroti pula rekayasa atau pemelintiran sejarah sekitar pemrakarsa 'Serangan Umum 1 Maret 1949' atas Jogyakarta yang diduduki Belanda ketika itu. Selanjutnya dikemukakan usaha Jendral Suharto sebagai panglima 'Operasi Mandala', di luar pengetahuan Presiden Sukarno yang sedang sibuk memimpin kampanye 'Ganyang Malaysia', diam-diam menghubungi fihak Malaysia untuk menempuh 'jalan lain' dalam kontroversi Indonesia-Malaysia. Lalu taggung jawab mantan Jendral Suharto dalam kasus 'Pembantaian Masal' terhadap kaum Komunis, Kiri lainnya dan para pendukung Presiden Sukarno.
Dalam kasus-kasus sejarah mantan Presiden Suharto yang diangkat dan difokusikan oleh sejarawan muda Bonnie Triayana, bisa dilihat bahwa Suharto bukan orang yang tanpa cacat dalam sejarah dan tanggungjawabnya selama Orba, bahkan sebelumnya.
Halmana menunjukkan bahwa mantan Presiden Suharto tidak punya syarat untuk dibenum jadi pahlawan nasional. Karena soalnya jelas, peraturan negara menentuka bahwa, calon pahlawan itu tidak boleh punya cacat dalam sejarahnya.
Dengan demikian, terhadap mantan Presiden Suharto bukannya gelar pahlawan yang menantinya tetapi proses pengadilan terhadap tindakan-tindakan menyalahi hukum dan HAM selama ia berkuasa.
* * *
Tulisan Bonnie Triyana gamblang dan obyektif dalam mempersoalkan kasus CACATNYA SUHARTO. Mari dibaca lagi artikel tsb seperti yang sikutip di bawah ini
*Bonnie Triyana:*
*Menimbang Kepahlawanan Soeharto *
Dari Jurnal Nasional, Minggu, 27 Januari 2008
Bung Karno baru digelari pahlawan 14 tahun setelah kematiannya, sedangkan Bung Hatta harus menunggu lima tahun. Bagaimana dengan Soeharto?
Setelah Soeharto meninggal dunia pada 27 Januari lalu, ada beragam pendapat yang mengemuka: sebagian masyarakat mengenangnya sebagai bapak pembangunan, sementara yang lain mengenangnya sebagai diktator. Bahkan Partai Golkar melalui beberapa petingginya mengusulkan agar mantan Presiden Soeharto digelari pahlawan. Munculnya berbagai kontroversi itu tak lepas dari keberhasilan Orde Baru di dalam mempropagandakan figur Soeharto sebagai penyelamat bangsa dari kehancuran ekonomi dan pencipta stabilitas negara. Ingatan sebagian masyarakat terhadap Soeharto pun tak pernah lepas dari citra yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru.
Pengertian pahlawan menurut Peraturan Presiden No. 33/1964 adalah: a) warga negara RI yang gugur dalam perjuangan dalam membela bangsa dan negara, b) warga negara RI yang berjasa membela bangsa dan negara yang dalam riwayat hidupnya selanjutnya tidak ternoda oleh suatu perbuatan yang membuat cacat nilai perjuangannnya. Apakah mantan presiden Soeharto memenuhi ketentuan ini?
Nama Soeharto mulai populer ketika ia disebut-sebut sebagai perwira yang menginisiasi sekaligus memimpin Serangan Oemoem 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Melalui serangan itu tentara Indonesia berhasil menduduki Yogyakarta selama enam jam sekaligus menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih eksis. Pada 1979, untuk menunjukkan peran penting Soeharto dalam SO 1 Maret 1949 itu dibuatlah film Janur Kuning yang disutradarai oleh Alam Rengga Surawidjaja. Film itu kemudian menjadi tontonan wajib bagi semua lapisan rakyat, tak terkecuali siswa SD yang diharuskan menontonnya di bioskop-bioskop. Tak berhenti di sana, versi sejarah itu pun ditulis dalam buku-buku sejarah yang kemudian diajarkan kepada siswa sekolah.
Namun ketika tahun 1998 Soeharto tak lagi menjabat presiden muncul versi lain tentang peran Soeharto dalam SO 1 Maret 1949. Tentu saja versi-versi itu berbeda dengan apa yang selama Orde Baru sajikan kepada masyarakat. Dalam Pledoi Kolonel Abdul Latief misalnya, dikatakan bahwa pada saat serangan itu berlangsung ia menemui Soeharto sedang berada di front belakang sembari menyantap soto babat. Pengakuan lain yang juga berlawanan dengan versi resmi Orde Baru adalah tentang penggagas SO 1 Maret 1949 yang ternyata bukan digagas oleh Soeharto sendiri, melainkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Awal 1956 Soeharto jadi Panglima TT-IV/Diponegoro di Semarang. Pada saat itu, bekerjasama dengan pengusaha Bob Hasan, ia menjalankan aktivitas extra-militer menyelundupkan gula ke Singapura untuk dibarter dengan beras. Kelak Bob Hasan menjadi “partner” bisnisnya ketika ia berkuasa sebagai presiden di masa Orde Baru. Dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan penyelundupan itu ia lakukan untuk mengatasi kekurangan pangan di Jawa Tengah. Namun demikian aktivitas extra-militer itu pula yang menyebabkannya diberhentikan sebagai panglima dan diperintahkan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Bandung.
Robert Elson dalam Biografi Politik Soeharto mencatat pemberantasan korupsi di kalangan tentara tak terlepas dari peran penting Jenderal Nasution yang membentuk Inspektorat Jenderal Angkatan Bersenjata sebagai “tangan kanannya”. Pada April 1957 ia mengeluarkan perintah untuk menyelidiki tindakan korupsi di setiap komando teritorial, termasuk di antaranya TT IV pimpinan Soeharto. Atas mediasi Jenderal Gatot Subroto kepada pucuk pimpinan Angkatan Darat, Soeharto urung dipecat dari kedinasan tentara. Kariernya pun terselamatkan.
Pada saat konfrontasi dengan Malaysia berlangsung, Soeharto dipercaya menjabat Wakil Panglima Komando Siaga Mandala (Kolaga). Dalam pada itu ia telah memperhitungkan kalau kekuatan militer Indonesia tak sebanding dengan Malaysia yang didukung oleh Inggris dan Australia. Upaya penerjunan pasukan infiltran ke wilayah Malaysia seringkali gagal. Melihat beberapa kegagalan itu Soeharto lebih memilih untuk melakukan “jalan lain” di dalam menyelesaikan konfrontasi. Ia menugasi beberapa pembantunya untuk mengadakan kontak dengan pihak Malaysia yang kemudian menjadi langkah awal normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia. Tentu saja operasi-operasi itu dilakukan tanpa sepengetahuan Bung Karno sebagai Panglima Tertinggi ABRI.
Pintu menuju kekuasaan semakin terbuka lebar ketika terjadi peristiwa 1 Oktober 1965. Posisi lowong yang ditinggalkan oleh Jenderal A Yani memberikan kesempatan kepada Soeharto untuk melancarkan perang terhadap PKI, musuh bebuyutan Angkatan Darat. Soeharto mengatakan ”....kegiatan saya yang utama adalah menghancurkan PKI, menumpas perlawanan mereka di mana-mana, di ibukota, di daerah-daerah, dan di pegunungan tempat pelarian mereka.” Dalam otobiografi yang disusun oleh Ramadhan KH dan G Dwipayana itu pula ia jelaskan taktik Angkatan Darat membasmi komunis, “Tetapi saya tidak mau melibatkan AD secara langsung dalam pertentangan-pertentangan itu, kecuali pada saat-saat yang tepat dan terpaksa. Saya lebih suka memberikan bantuan kepada rakyat untuk melindungi dirinya sendiri dan membersihkan daerahnya masing-masing...” ujar Soeharto.
Cara yang ditempuh Soeharto itu justru membawa petaka besar bagi bangsa Indonesia. Ratusan ribu orang (sumber lain mengatakan 3 juta) tewas dalam tragedi pembantaian massal sepanjang tahun 1965 - 1969. Sekira 10 ribu anggota dan simpatisan PKI ditahan di Pulau Buru tanpa terlebih dulu melalui proses pengadilan. Mereka dituduh terlibat, baik secara langsung maupun tidak, dalam peristiwa pembunuhan tujuh jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat. Di banyak daerah, anggota PNI (Ali Sastro-Surachman) pun tak luput dari penangkapan. Beberapa sarjana menyebut peristiwa itu sebagai “periode sejarah tersembunyi” yang tak pernah diungkap secara bebas semasa Soeharto berkuasa.
Konsolidasi kekuasaan Orde Baru membutuhkan kepastian stabilitas politik. Bukan hanya komunisme, semua yang hal yang dinilai bertalian erat dengan kekuasaan Soekarno dan memiliki potensi kontra dengan Orde Baru diminimalisasi sedemikian rupa. Hal itu sesuai dengan tugas Kabinet Pelita I: pemilihan umum; stabilitas politik; pembersihan aparatur negara; dan stabilitas ekonomi serta pembangunan lima tahun pertama.
Atas dasar stabilitas politik pula pemerintah Soeharto melakukan fusi terhadap partai-partai politik di tahun 1973. Golongan Karya jadi mesin politik Orde Baru yang hampir bisa dipastikan selalu memenangkan setiap kali penyelenggaraan pemilu. Soeharto selalu punya argumen bahwa era liberal di tahun 1950-an dengan sistem multipartai tak membawa Indonesia pada kemakmuran.
Pembangunan, stabilitas politik dan keamanan jadi tolok ukur keberhasilan Orde Baru, kendati pencapaian tersebut harus ditempuh dengan cara-cara yang mengabaikan demokrasi dan hak azasi manusia. Keberhasilan pembangunan yang dipuja-puji banyak pihak menjadi selubung penutup penderitaan rakyat di pelbagai sudut lain Indonesia. Harus pula dilihat sebagai sebuah fakta bahwa pembangunan di masa Soeharto berkuasa bertumpu pada “bantuan lunak” lembaga donor internasional yang semakin lama semakin berlipat ganda bunganya. Ketika Soeharto berhenti pada 1998, ia meninggalkan warisan utang (pemerintah dan swasta) sebesar US$ 150 miliar.
Warisan lain yang juga perlu diingat adalah korban pelanggaran kemanusiaan yang sejak Soeharto berkuasa (secara de facto) pada 1965, mulai dari pembantaian massal 1965-1969, pembuangan ke Pulau Buru, terlunta-luntanya nasib eksil di luar negeri, Tanjung Priok, penembakan misterius, Peristiwa Lampung, 27 Juli 1996, korban operasi militer di Aceh dan Papua, penculikan aktivis dan penembakan mahasiswa Trisakti.
Bahwa ada sebagian oranga mengatakan ia pernah melakukan sesuatu yang bermanfaat sah-sah saja, tapi bagaimana dengan mereka yang justru dirugikan oleh pemerintah Orde Baru? Bukankah Perpres No.33/1964 mengatur bahwa seseorang yang membuat cacat nilai perjuangannnya tak memenuhi syarat untuk jadi pahlawan. Maka demi keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia baik yang sempat merasakan manisnya kue pembangunan maupun yang sebaliknya, cukup rasanya Soeharto dikenang sebagaimana adanya, tidak secara berlebihan apalagi sampai terlontar ide untuk memberinya gelar pahlawan.
* * *
Kolom IBRAHIM ISA - In Memoriam JOESOEF RONODIPOERO
Kolom IBRAHIM ISA
------------------------
Selasa, 29 januari 2008
In Memoriam JOESOEF RONODIPOERO
Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Rajiuun
Minggu malam, dari Jakarta kuterima berita dari sahabatku Husein.
Husein menyampaikan bahwa Pak JOESOF RONODIPOERO (84), Jakarta,
telah berpulang ke Rakhmatullah, pada hari Minggu , tanggal 27
Januari 2008, jam 08.00 WIB, setelah menderita sakit beberapa lamanya.
Joesoef Ronodipoero bersama kawan-kawannya adalah yang pertama
memancarkan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia .
Joesoef Ronodipoero adalah salah seorang pendiri dan pemimpin Radio
Republik Indonesia yang didirikan pada tanggal 11 September 1945.
Tak lama kemudian kuterima lagi berita dari Joesoef Isak, pemimpin
Penerbit Hasta Mitra, berita tentang telah berpulangnya Joesoef
Ronodipuro. Dan bahwa Joesoef Isak pergi melayat ke rumah mendiang
Joesoef Ronodipuro. Baru saat itu kuketahui dari berita Joesoef Isak
itu bahwa, istri mendiang Joesoef Ronodipuro adalah éték (tante)
Joesoef Isak. Jadi mereka itu ada hubungan kekeluargaan.
Dari kenyataan hadirnya Joesoef Ronodipoero, mantan pejabat tinggi
pemerintah, di Kedubesan Perancis di Jakarta dalam kesempatan
pemberian penghargaan pemerintah Perancis kepada Joesoef Isak,
Editor Hasta Mitra, atas perjuagannya demi kebebasan menyatakan
pendapat dan hak-hak demokrasi --- orang sudah dapat melihat sikap
Joesoef Ronodipoero terhadap masalah demokrasi umumnya dan terhadap
Joesoef Isak, mantan tahanan politik Orba.
* * *
Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Radjiuun.Semoga arwah Joesoef
Ronodipoero diterima oleh Allah SWT di sisi beliau.
Siapa Joesoef Ronodipoero? Beliau adalah seorang pahlawan nasional
Indonesia, yang telah meriskir nyawanya, menembus penjagaan
Kenpeitai Jepang, untuk menyiarkan teks PROKLAMASI KEMERDEKAAN
INDOENSIA. Kemudian dalam periode perang kemerdekaan melawan Inggris
dan Nica, Joesoef Ronodipoero, sepenuhnya mengabdikan fikiran dan
tenaganya demi perjuangan kemerdekaan Indonesia, demi mempertahankan
Republik Indonesia Merdeka!
* * *
Mengenai sakitnya Joesoef Ronodipoero, pertama kuketahui setelah
membaca berita sekitar imbauan mantan Presiden Republik Indonesia
Megawati Sukarnoputri. Mega menyerukan untuk memberikan perhatian
kepada para pejuang dan pahlawan bangsa, agar jangan melupakan
mereka, dalam hal ini Joesoef Ronodipoero. Mega melihat betapa
tiadanya perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap keadaan Josoef
Ronodipoero. Ada masalah kongkrit, yaitu keadaan Josoef Ronodipuro
yang menderita sakit keras dan keluarganya dalam kesulitan berkenaan
pembiayaan pengobatan dan perawatan di rumah sakit yang amat tinggi
di Jakarta.
Mega sendiri telah memberikan perhatian dan sumbangannya. Dalam pada
itu Mega mengimbau masyarakat untuk menaruh perhatian dan membantu
Joesoef Ronodiuro. Mega menilai Joesoef Ronoipoero sebagai salah
seorang pahlawan nasional Indonesia.
Kemudian kuterima lagi berita dari salah seorang putra Joesoef
Ronodipoero memberitakan bahwa memang betul ayahnya telah diopname
di rumah sakit. Beliau ditunggui terus oleh keluarganya karena
menurut dokter yang merawat, kecil harapan Joesoef Ronoipoero bisa
pulih. Meskpun demikian keadaan kesehatan Joesoef Ronodipoero, aku
sampaikan harapan dan doa agar Joesoef Ronodipoero bisa pulih kembali.
* * *
Membaca imbauan Mega tsb aku teringat kembali pada nama itu: JOESOEF
RONODIPOERO. Pertama kudengar nama tsb (September 1945) dari
kakakku, Roekayah Syaaf. Kakakku itu sehari-harinya melakukan
pekerjaan di RRI, Jakarta, sebagai pembaca (penyiar) berita, pada
periode awal perang kemerdekaan Indonesia. Joesoef Ronodipuro adalah
mantan Direktur Radio Republik Indonesia periode awal perang
kemerdekaan Indonesia, di saat Jakarta berada di bawah kekuasaan
militer Inggris dan Belanda (NICA).
Aku sungguh heran! Amat heran! Atau mungkin juga karena aku begitu
awam, maka sulit mengerti. Soalnya --- aku tidak mengetahui
bagaimana situasi kongkrit di Radio Republik Indonesi dewasa ini,
teristimewa sikap yang mengelola website Radio Repulbik Indonesia
sebagai 'ORANG BERMASALAH'.
Mudah-mudahan aku keliru!
Mungkin aku benar! Alasan? Belum lama kutemui sebuah berita lama
yang mengungkapkan bahwa, ketika masih berkuasanya mantan Presiden
Soeharto, Joesoef Ronodipoero, yang mantan Sekdjen Departemen
Penerangan dan kemudian mantan Dubes RI di Argentina, -------- suatu
ketika 'dipanggil dan diperiksa' oleh Kejaksaaan Agung, bersama Bang
Ali, alias Ali Sadikin, mantan Jendral KKO, mantan menteri dan
mantan Gubernur DKJ.
Pasalnya - - - :
Mereka berdua dituduh telah ikut menyebarkan buku Soebadio
Sastrosatomo, mantan anggota DPR dan mantan pemimpin PSI, Partai
Sosialis Indonesia. Joesoef Ronodipoero dan Ali Sadikin dipanggil
berkaitan dengan beredarnya buku *"Era Baru Pemimpin Baru, Badio
Menolak Rekayasa Rezim Orde Baru"*, karangan Soebadio Sastrosatomo.
Tulisan Soebadio lainnya, adalah a.l 'Politik Dosomuko Rezim Orde
Baru Rapuh dan Sengsarakan Rakyat --- Renungan Gunung Lawu'. Dua
tulisan Soebadio tsb sangat tajam mengeritik Orba.
Kedekatan Joesoef Ronodiporo dengan Ali Sadikin yang merupakan salah
seorang tokoh 'PETISI 50' -- suatu forum (boleh dibilang) para
'sesepuh' Indonesia yang vokal dan berani mengajukan pendapat dan
kritik terhadap Orba, disaat Presiden Suharto masih kuasa,
menjadikan Joesoef Ronodipoero di mata Orba sebagai 'ORANG YANG
BERMASALAH'.
Itulah jawaban yang amat mungkin, yang bisa kutemukan, atas
pertanyaan mengapa nama Joesoef Ronodipoero yang begitu tenar di
periode permulaan perang kemerdekaan, sebagai pemberani bersama
kawan-kawannya menembus penjagaan Polisi Militer Jepang, Kenpetai,
demi menyiarkan berita PROKALAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA ke seluruh
dunia. Dan kemdian mendirikan stasiun Radio Republik Indonesia yang
pertama di Jakarta.
Jawban ini pulalah yang bisa diberikan terhadap kenyataan tidak
adanya perhatian dari fihak pemerintah terhadap situasi kesehatan
Joesoef Ronodipoero, ketika beliau menderita sakit, sehingga
meninggal pada malam hari Minggu, tanggal 27 Januari 2008.
Bagiku, sikap pemerintah yang di satu fihak 'melupakan' salah
seorang pejuang dan pahlawan nasional seperti JOESOEF RONODIPOERO,
dan di lain fihak begitu royal dengan limpahan pujian,
pengagung-agungan terhadap 'jasa-jasa' mantan Presiden Soeharto',
dengan paduan suara heibat mengimbau masyarkat supaya mantan
Presiden Suharto dimaafkan dan dibebaskan dari segala tuntutan hukum
-- Itu semua merupakan tambahan lagi terhadap sekian
banyak fakta, -- bahwa kultur politik dan kekuasaan Orba, masih
berjalan terus, masih kuat dan masih diteruskan dengan pelbagai
macam selubung yang menipu rakyat.
Sikap pemerintah dan para pendukungnya terhadap sakitnya dan
kemudian meninggalnya Joesoef Ronodipoero --- menunjukkan pula bahwa
rezim Orba dan kekuasaan sekarang ini masih saja meneruskan
kebijakan 'pemelintiran' dan 'pemulasan' fakta-fakta sejarah.
* * *
JOESOEF RONODIPOERO telah tiada.
Namun, akan selalu dikenang tindakan kepahlawanan beliau sebagai
pejuang kemerdekaan dan tokoh pemberani yang tak takut mengahdapi
bahaya yang paling besar sekalipun terhadap jiwanya, demi
kemerdekaan bangsa. Beliau akan selalu dikenanag sebagai orang yang
berani punya pendapat sendiri, yang lain dari fikiran penguasa,
berani berpegang teguh pada pendirian yang benar.
Oleh karena itu, betapapun, Joesoef Ronodipoero, selalu merupakan
suri teladan bagi kaum muda, bagi generasi baru Indonesia yang
sedang tumbuh di tengah pergolakan perjuangan dewasa ini untuk
demokrasi, kebenaran dan keadilan.
* * *
Monday, January 28, 2008
Kolom IBRAHIM ISA -- MENILAI MANTAN PRESIDEN SUHARTO
Kolom IBRAHIM ISA
----------------------
27 Januari 2008.
MENILAI MANTAN PRESIDEN SUHARTO
Sejak terjadinya Peristiwa G30S, berkutnya dilancarkan kampanye pembersihan dan penumpasan tentara dan para pendukungnya dari kalangan politik dan religius. terhadap: PKI , para simpatisn dan yang diduga PKI, serta para pendukung Presiden Sukarno yang terdiri dari patriot-patriot progrresif baik yang Muslim, Nasionalis, Kristen, Hindu Bali dan lain-lain kepercayaan:
Banyak pengamat dalam dan luar negeri memberikan berbagai macam penilaian terhadap Panglima KOSTRAD, Jendral Suharto, yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-2.
Lebih dari tigapuluh dua tahun lamanya Orba memerintah Indonesia dengan tangan besi, memberlakukan sistim perundang-undangan dan hukum khas mililteristik dengan berlandaskan ideologi 'DWIFUNGSI Abri', --- telah memberikan tidak sedikit bahan input untuk mempertimbangan, mengenai 'baik' - 'buruknya' peranan dan 'legacy' Jendral Suharto dan rezim yang dipimpinnya dalam sejarah Indonesia.
Berkonfrontasinya dua pandangan dan sikap terhadap peranan mantan Presiden Suharto selama 30 tahun lebih sejak ia menggulingkan Presiden Sukarno , sampai ia sendiri memegang jabatan tertinggi negara dan pemerintah Indonesia, menyebabkan munculnya dua sikap yang bertolak belakang.
Satu sikap:
Maafkan Suharto. Mengingat besarnya 'jasa-jasa' mantan Presiden Suharto terhadap negeri dan bangsa, sepantasnya beliau dibebaskan dari segala tuntutan hukum.
Sikap lainnya:
Adili Suharto meskipun ia sudah meninggal dunia. Hal tsb harus diberlakukan terhadap mantan Presiden Suharto, demi ditegakkannya prinsip bahwa setiap warganegara adalah sama di depan hukum, juga demi ditegakkanya NEGARA HUKUM INDONESIA. Demi keadilan dan ditegakkannya kebenaran dan kemurnain hati nurani bangsa.
* * *
Aku menerima sebuah kiriman tulisan dari Jakarta. Otentik dan faktual. Penulis yang satu memilih untuk anonim. Yang satu lagi blak-blakan, dari sahabatku TRI RAMIDJO, eks-Dugilis dan anggota PKI (Perintis Kemerdekaan Inadonesia, yang keanggotaanya bisa dibuktikan dengan surat keterangan yang asli dan sah).
Silakan pembaca menyimaknya.
Seyogianya pembaca mempertimbangkan sendiri, bagaimana setepatnya menilai mantan Presiden Suharto, yang dalam sejarah Republik Indonesia, adalah presiden yang paling lama memegang tampuk kekuasaan negara dan pemerintahan.
Di bawah ini adalah salah satu sikap yang disampaikan kepada publik sesudah meninggalnya mantan Presiden Suharto.
Penulis memilih untuk anonim.
Bahan tersebut ASLI dan OTENTIK.
* * *
JASA-JASA JENDRAL SUHARTO
Hari ini 27 Januari 2008 tepat pk. 13.10, Presiden Jendral Suharto
meninggalkan kita semua memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Adil.
Dalam suasana duka ini, kita menundukkan kepala kepada seorang putera
Indonesia yang luar biasa jasanya bagi nusa dan bangsa. Cukup banyak warga
Indonesia yang tidak tahu menghargai jasa-jasa beliau, di antaranya ada yang
menamakan beliau sebagai “Bapak Koruptor Agung Indonesia”.
Dilupakan sudah semua jasa-jasa besar beliau yang sebenarnya bukan
semata-mata bagi rakyat dan negara Indonesia, melainkan juga kepada dunia
sejagat, terutama “dunia bebas kubu demokrasi” – the free world sejati.
Dengan singkat kita perlu catat di bawah ini, butir-butir paling esensial
dari “jasa-jasa besar” Pak Harto yang sekali-kali jangan sampai dilupakan dan
terlupakan sampai kapan pun.
PERTAMA:
Jendral Suharto berjasa besar menyingirkan Presiden Sukarno dari
panggung politik Indonesia. Suatu tindakan sangat penting pada saat
dunia bebas sedang menghadapi Perang Dingin, Perang Vietnam. dan
perang menghadapi subversi komunisme sedunia, sedangkan Soekarno
pada saat itu betul-betul menjadi duri dalam daging bagi demokrasi dan
dunia bebas. Jendral Suharto dengan gemilang bukan saja telah merobah
peta politik Indonesia, tetapi juga peta politik Asia Tenggara, bahkan
dunia, dan membawa Indonesia bergabung dalam kubu Dunia Bebas dan
Demokrasi.
KEDUA:
Hanya Jendral Suharto yang berhasil dengan cemerlang menumpas partai
komunis berikut para anggotanya sampai keakar-akarnya – suatu prestasi
yang tidak pernah mampu dilakukan oleh politikus dan negarawan di mana
pun di dunia.
KETIGA:
Hanya Jendral Suhartolah yang dalam kebijakan ekonominya berhasil luar
biasa menciptakan elit Indonesia yang dalam waktu relatif singkat menjadi
multi-milyuner dollar. Multi-milyuner dollar bukan saja bagi istri dan anakanaknya,
akan tetapi beliau menunjukkan solidaritas corps yang tinggi –
beliau memikirkan juga sesama rekan perwira tinggi dalam ABRI sehingga
para jendral Indonesia pun menjadi milyuner dollar dalam waktu singkat.
Daftar jasa ini sesungguhnya sangat panjang, akan tetapi kita batasi pada tiga
butir di atas yang paling penting dan esensial saja. Tidak kita sebut betapa
besar jasa Pak Harto mengeliminir unsur-unsur subversi dalam negeri, seperti
Barisan Sukarno dan jendral KKO Hartono – bahkan beliau lebih dulu
daripada Amerika Serikat menumpas gerakan fanatik Islam yang sekarang
menjadi musuh utama demokrasi dan dunia bebas.
* * *
Selanjutnya adalah tulisan yang baru bebera saat yang lalu kuterima dari sahabatku Tri Ramidjo. Sikap Tri Ramidjo diametral bertolak belakang dengan tulisan pertama yang juga berasal dari Jakarta tercinta.
* * *
Tulisan TRI RAMIDJO:
Masak Gak Tahu Siapa Sebenarnya Suharto --- Kebangetan!
Teman-teman tercinta,
Sungguh teman2 bernasib baik berada di luar negeri.
Kalau teman2 berada di dalam negeri seperti diriku ini, betapa sakitnya rasa hati ini melihat tayangan televisi dan berita radio yang semuanya mengagungkan dan memuja2 Suharto, yang telah meninggal tadi siang jam 13.10 WIB.
Aku bukanlah orang yang pendendam, tapi aku mencintai keadilan dan kebenaran. Tak perlu aku menulis panjang tentang keadilan dan kebenaran. Sebab semua teman2ku adalah juga pencinta keadilan dan kebenaran.Begitu butanya kah mata pengcover berita, baik elektronik maupun cetak di negeri ini, sehingga berita-berita tentang meninggalnya Suharto the smiling general itu tak sedikit pun mengungkapkan kesalahan dan pelanggaran yang begitu besar dari Suharto tentang pelanggaran HAM?
Memang sudah sepantasnya kita harus mengakui, bahwa laras senapan yang seiring dengan kekuasaan politiklah yang bisa menentukan hitam atau putih segalanya. Bukankah memang benar begitu kenyataannya?
Aku sedih, bukan sedih karena Suharto meninggal, tapi sedih karena kekuasaan Orba masih cukup sakti, masih berkuasa dan keras kepala.
Jangan harap mereka2 antek2 orba itu mengenal malu, sebab mereka memang perlu dipecahkan kepalanya dengan palu.
Teman2 yang di luar negeri bisa berteriak-teriak lewat mail atau internet sepuas hati tapi tidak terdengar dan tidak mungkin menyadarkan rakyat kecil di pelosok2 desa, Dan rakyat tetap tuli dan buta dan tidak mengerti siapa itu SUHARTO sebenarnya.
Tangerang, 27 Januari 2008.
Tri Ramidjo.
* * *
IBRAHIM ISA - BERBAGI CERITA -- INTERMEZO (12) -- 'PERMINTAAN MAAF' ---SEBUAH ESAY YANTI MIRDAYANTI
IBRAHIM ISA - BERBAGI CERITA
---------------------------------------
Jum'at , 25 Januri 2008
INTERMEZO (12)
'PERMINTAAN MAAF' ---SEBUAH ESAY YANTI MIRDAYANTI
Hari ini kuterima kiriman sebuah esay dari Jakarta, berjudul 'Permintaan Maaf Dari Keluarga Suharto Lebih Baik Sekarang'. Penulisnya adalah sahabatku cendekiawan muda, YANTI MIRDAYANTI.
Membaca esay Yanti, kesanku ialah bahwa essay itu ditulis dengan tulus. Disarankan kepada keluarga mantan Presiden Suharto, mumpung yang bersangkutan hayat masih dikandung badan, sadarlah, mintalah maaf kepada rakyat Indonesia, yang telah menjadi korban dari politik pembasmian secara politik dan fisik siapa saja yang menentang Jendral Suharto pada tahun-tahun 1965-67 dst.
Sejarah mencatat bahwa bukan pelanggaran HAM terbesar itu saja yang dilakukan mantan Presiden Suharto sejak ia berkuasa sampai 'lengser'. Suharto sendiri terlibat dengan korupsi besar-besaran atas kerugian kas negara yang notabene banyak diperoleh dari pinjaman luarnegeri, yang harus diangsur kembali oleh rakyat Indonesia turun temurun.
Maka Yanti, di dalam esaynyai itu, tidak saja menyarankan agar keluarga mantan Presiden Suharto minta maaf, tetapi selanjutnya mengembalikan jumlah dana milik negara yang telah dikorup dan dicurinya bersama anak-beranak, sesanak-sesaudara, sekroni-kroninya.
Bacalah essay Yanti Mirdayanti, di bawah ini.
* * *
YANTI MIRDAYANTI
Permintaan Maaf Dari Keluarga Soeharto Lebih Baik Sekarang
Kata 'maaf' hanyalah terdiri dari empat huruf, tetapi maknanya sangat dalam. Namun mengapa kata yang pendek ini sampai hari ini belum juga terucap lantang dari pihak keluarga Soeharto kepada seluruh rakyat Indonesia? Padahal sebenarnya mungkin sekaranglah waktunnya yang paling tepat, ketika Sang Bapak dalam kondisi yang sangat sakit.
Sejak masuknya Soeharto ke Rumah Sakit di penghujung tahun 2008 ini, para pejabat telah beramai-ramai secara estafet mengajak rakyat Indonesia untuk memaafkan Soeharto dari segala kesalahannya. Ada yang menerima ajakan tersebut, tetapi kebanyakan sebenarnya
menanggapinya bagaikan sebuah lelucon.
Nah, ternyata lama juga Tuhan memanjangkan usia Soeharto. Terbukti pula bahwa para dokter Indonesia - kalau mau - sangat pintar dalam memperpanjang usia seorang yang sakit, terutama jika sang pasen termasuk level yang demikian 'dipusakakan', bukan si pasen dari
kaum papa yang terpinggirkan.
Tuhan barangkali sedang menguji seluruh keluarga Soeharto, ingin melihat sampai sejauh mana kebesaran hati mereka. Apakah mereka akan segera berbicara di depan layar televisi untuk menyampaikan kata maaf atas nama Soeharto kepada seluruh rakyat Indonesia? Kepada para keluarga korban HAM semasa Sang Bapak berkiprah dalam dunia kepresidenan? Ataukah cukup berdiam saja, karena kebisuan itu adalah bagaikan emas?
Barangkali beban berat kondisi Soeharto saat ini akan turut teringankan, jika kata maaf kepada rakyat segera disampaikan. Tidak perlu lama-lama dan muluk-muluk. Satu atau dua kalimat saja. Lebih baik sekarang di saat Soeharto masih hidup daripada terlambat nanti.
Tak ada gunanya permintaan maaf disampaikan kalau yang berkepentingan misalnya sudah dipanggil yang MahaKuasa.
Tentu saja teriring ucapan maaf tersebut keluarga Soeharto pun sebaiknya mem-follow up kata maaf dengan pengembalian seluruh uang yang dianggap milik negara ke kas negara. Maka barangkali kalau ini dilakukan sisa hidup Soeharto maupun proses kepergiannya nanti
akan mendapat keringanan dari Sang Pencipta.
Bumi Indonesia makin panas. Di dalam rumah pun tak ada kesejukkan lagi. Selama tiga minggu aku berada di tanah air, hujan baru dialami dua kali. Yang terakhir adalah hari ini ketika aku berdiri di depan makam Ibu, menatapnya dengan penuh kerinduan. Di atas pusaranya tertera tanggal kepergian Ibu: 30 September 2003. Tanggal ini mengingatkan aku ke awal masa gelapnya sejarah Indonesia yang sampai hari ini masih penuh dengan misteri: 30 September 1965.
Last day in Indonesia,
Salam,
Yanti
* * *
Subscribe to:
Posts (Atom)
