Thursday, February 26, 2009

IBRAHIM ISA – BERBAGI CERITA - Pak DJAUHARI ORATMANGUN . . . SAMPAI DJUMPA

IBRAHIM ISA – BERBAGI CERITA

Sabtu, 24 Januari 2009
----------------------------


Pak DJAUHARI ORATMANGUN . . . SAMPAI DJUMPA . . . Doei !



Karena merasa dekat dengan Pak Djauhari Oratmangun, maka aku tulis kepada beliau: Pak Djauhari , , , , , sampai jumpa lagi. Doeoei!

Kalau tak salah, kira-kria empat tahun yang lalu aku berkenalan dengan Djauhari Oratmangun. Begitu kenal, kontan merasa seperti bertemu lagi dengan sahabat lama. Ketika itu beliau menjabat Kuasa Usaha KBRI Den Haag. Dubesnya Mohammad Joesoef, seorang karier diplomat. Beliau pernah bertugas sebagai Kepala Perwakilan RI di PBB New York. Dengan beliau aku merasa dekat sekali. Sama halnya dengan dubes sebelumnya: Abdul Irsan. Mengapa merasa dekat: Nanti akan tau sendiri ceriteranya. Djauhari orangnya ramah, gembira dan selalu antusias serta optimis.

Ketka itu Djauhari Oratmangun praktis orang pertama di KBRI Den Haag. Karena Dubes Moh. Joesoef, pas selesai tugasnya di Belanda. Beliau kembali ke Jakarta. Siapa yang akan menggantikan Moh. Joesoef sebagai dubes RI di Den Haag, masih belum ada berita dari Jakarta.

Hampir lima tahun kemudian, Wakil Kepala Perwakilan Djauhari Oratmangun kini selesai dengan tugasnya di KBRI Den Haag, dan akan kembali ke Jakarta. Wakil Kepala Per Haag. Untuk menyampaikan selamat jalan, KBRI mengadakan malam perpisahan pada hari Minggu, tanggal 25 Januari, di Sociaal Cultureel Centrum De Leuningjes, Poeldijk.

Dalam undangan KBRI untuk malam itu, yang kuterima melalui internet, a.l dinyatakan, sbb:

/*Besar harapan kami agar Bapak/Ibu/Sdr/i dapat pula mengajak masyarakat Indonesia lainnya untuk memeriahkan acara ini untuk bertatap muka dengan Bapak Djauhari Oratmangun di akhir masa baktinya sebagai Wakeppri di Belanda.' */

Karena pada hari itu aku sudah ada komitmen maka sayang tak bisa menghadiri malam perpisahan dengan Pak Jauhari Oratmangun. Maaf ya Pak! Terima kasih atas undangan!

* * *

Siapa saja di KBRI, kapanpun, apakah beliau-beliau itu dubes, orang keduanya, diplomat lainnya, atau bahkan staf-lokalnya sekalipun, apabila bersikap lurus, tak berat sebelah, tidak diskriminatif, tidak korup, jujur dan adil, memberikan cukup perhatian dan melakukan hubungan yang baik dengan masyarakat Indonesia di Belanda, pasti disambut baik oleh yang bersangkutan. Bukankah merupakan salah satu kewajiban perwakilan Indonesia di luarnegeri, untuk a.l. memperhatikan, membantu dan membela hak-sah dan kepentingan warga Indonesia yang bekerja, studi atau bermukim di luarnegeri. Tidak boleh berlaku dan bersikap acuh tak acuh, segan, bahkan tidak mau tau. Seperti yang pernah terjadi dengan sementara perwakilan RI di luarnegeri terhadap nasib para TKI yang mencari nafkah di situ dan memperoleh perlakuan sewenang-wenang dari sementara majikan dan pejabat negara bersangkutan! Padahal para TKI kita itu, sejak lama memberikan sumbangan tidak kecil terhadap sumber devisi RI.

* * *

Sedikit menoleh ke belakang: Dalam tahun 1965 meletus pergolakan dahsyat yang membawaa perubahan yang menjungkir balikkan situasi politik di Indonesia. Kelanjutannya tegak Orde Baru di Indonesia. Perubahan besar ini membawa perubahan pula di kalangan masyarakat Indonesia di luarnegeri.Situasi politik dalam negeri, tercermin pula pada sikap dan pendapat di kalangan masyarakat Indonesia di luar negeri. Mereka terpecah menjadi dua golongan besar. Satu golongan menyambut gembira dan memberikan dukungan pada rezim Orde Baru. Segolongan lainnya, mengambil sikap berprinsip yang tegas anti-Orba. Golongan ini umumnya adalah warga Indonesia yang cinta dan setia kepada prinsip demokrasi dan HAM, cinta pada Indonesia serta pendukung Presiden Sukarno. Banyak diantaranya adalah mantan pejuang kemerdekaan.

Dalam golongan yang anti rezim Orba, terdapat sejumlah besar warga Indonesia yang paspornya dengan sewenang-wenang dicabut oleh KBRI, kewarganegaraan mereka dirampas. Perlakuan KBRI tsb adalah sebagai reaksi terhadap sikap warga Indonesia yang menentang Orba, membela demokrasi dan membela Presiden Sukarno. Mereka menolak keras disuruh mengecam Presiden Sukarno. Karena sikap itu mereka dicap 'terlibat' atau mendukung 'G30S'. Dituduh orang-orang PKI atau pendukung PKI.

Di mancanegara, termasuk di Belanda berlangsung pelbagai kegiatan dan aksi massa yang mengecam rezim Jendral Suharto. Mereka minta perhatian mancanegara serta membela para korban persekusi dan pembantaian masal 1965. Dalam aksi-aksi tsb terdapat orang-orang Indonesia yang menentang rezim Orba. Pemerintah Orba dan KBRI dengan gempang-gampangan menuduh aksi-aksi dan gerakan tsb sebagai 'anti-Indonesia'. Betul mereka sering mendemo kedutaan RI, membuat pernyataan mengutuk Orba, bicara di media internasional dan menerbitkan bahan-bahan yang mengekspos korupsi, mengungkap diobralnya kekayaan INDONESIA kepada modal asing.

* * *

Sekitar pertengahan 1998 dunia menyaksikan berkobarnya gejolak besar yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Suatu gerakan massa yang luas bergelora dengan heibatnya. Mereka menuntut demokrasi dan reformasi. Menuntut stop terhadap korupsi dan diadilinya para pelaku. Di situ ikut juga kekuatan politik dan sosial, oknum-oknum birokrasi, sementara pejabat tinggi, sampai pada sementara menteri-menteri (tentu dengan perhitungan untung-rugi pribadi). Yang disebut belakangan ini tadinya merupakan bagian dari kekuasaan rezim Orba. Mereka berbalik. Dengan menyolok sekali tampil menuntut turun panggungnya Presiden Suharto. Sikap mereka itu sesungguhnya tidak mengherankan. Karena, situasi umum seluruh negeri sampai dikatakan sebagai 'suasana revolusioner'. Sementara negeri Barat yang tadinya kuat sekali mendukung dan merupakan talinyawa Jendral Suharto dan Orde Barunya, juga berbalik. Barat pun sudah emoh dengan Presiden Suharto, dan ingin Suharto diganti.

Bergeloranya gerakan Reformasi dan Demokratisasi yang telah menggulingkan rezim Presiden Suharto, dan memunculka pemerintahan Presiden Wahid/ Wapres Mega, sedikit banyak tercermin pengaruhnya pada pelbagai aparat negara. Termasuk tampak pada Kementerian Luarnegeri Indonesia dan pelbagai kedutaan Indonesia diluar negeri, inklusif KBRI di Belanda.

Juga jelas, bahwa tidak semua birokrasi dan aparat negara, termasuk KBRI, mendukung reformasi. Tidak semua rela menerima jatuhnya Presiden Suharto. Tidak semua rela dilepaskannya semua tahanan politik. Namun, mereka diam dan pasif karena khawatir akan dapat ´ganjaran´ atas sikap mereka yang bergelimang di satu lumpur dengan rezim Orba.

Kenyataan juga menunjukkan bahwa sebagian besar diplomat Indonesia, dalam kedududkannya sebagai pegawai negeri yang patuh , seperti biasa melaksanakan bagaimana PERINTAH ATASAN. Bagaimanapun warna dan isinya atasan itu.

* * *

KBRI Den Haag, teristimewa dubesnya ketika itu, ABDUL IRSAN, mununjukkan bahwa ia memahami dan bersedia melangkah seirama dengan arus Reformasi dan Demokratisasi.

Pada zaman Orba, warga Indonesia yang dicabut paspornya, tidak pernah menginjakkan kakinya di KBRI.

Barulah menjelang kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid ke Belanda, mulai banyak orang-orang Indonesia penentang Orba, bersedia datang ke KBRI.

* * *

Baik kiranya dijelaskan sedikit, apa sebabnya banyak sahabat dan orang-orang Indonesia mulai merasa dekat dengan dubes Abdul Irsan. Itu dikarenakan oleh sikap beliau yang tanpa memandang pebedaan pendapat bersedia menerima dan mendatangi orang-orang Indonesia di Belanda. Demikianlah, menjelang kedatangan Menkumdang Yusril Izha Mahendra ke Den Haag (Januari 2000), atas instruksi Presiden Wahid untuk mengurus ´kepulangan´ orang-orang Indonesia yang dicabut paspornya, sementara kawan, termasuk penulis ini, berkunjung ke KBRI, menemui para penaggungjawabnya. Dengan sikap tulus, fihak KBRI menyatakan, agar memperlakukan KBRI ini sebagai ´rumah sendiri´. Aku fikir: Wah, bagus sekali pernyataan itu. Mudah-mudahan betul-betul dipraktekkan.

Pada suatu hari Dubes Irsan disertai sementara staf KBRI berkunjung ke rumah TM Siregar, Ketua SAS (Stichting Azië Studies) di Ganzenhoef, Amsterdam Bijlmer. Disitu beliau menemui kawan- kawan yang mengalami nasib paspornya dicabut Orba. Di situ kami makan bersama dan bertukar fikiran dengan leluasa. Tak lama kemudian Dubes Irsan mengundang teman-teman ke Wisma Duta di Wassenaar, untuk makan bersama. Gongnya adalah dilangsungkannya bersama hari PERINGATAN SEABAD BUNG KARNO, yang diorganisasi oleh kawa-kawan yang paspornya dicabut itu, bersama sahabat, handai lainnya dan KBRI. Bukankah ini situasi baik, dimana KBRI dan Wisma Indonesia melangkah ke WISMA INDONESIA yang ´beneran´, tanpa diskriminasi terhadap orang-orang yang pandangan politik dan keyakinannya berbeda (dengan Pemerintah) .

* * *

Yang benar-benar dirasakan hadirnya suasana Reformasi dan Demokratisasi di KBRI Den Haag, ialah ketika Dubes Moh Joesoef setuju terhadap satu permintaan penting yang kuajukan atas nama Stichting Wertheim. Bunyi permintaan yang tak sederhana itu ialah, sbb: Bisakah upacara pemberian 'Wertheim Award 2005', kepada budayawan Goenawan Mohammad, redaktur senior majalah Tempo, dan Joesoef Isak, pemimpin penerbit Hasta Mitra, dilangsungkan di ruangan WISMA NUSANTARA KBRI Den Haag. Jawaban Dubes Mohamad Joesoef kontan: Ya, bisa, silakan. Lakukan itu di ruangan 'Wisma Nusantara', KBRI Den Haag.

Jawaban yang diberikan Dubes Moh. Joesoef bagi kebanyakan orang samasekali tidak terduga. Sesuatu yang tak terbayangkan bisa terjadi sepuluh tahun sebelumnya.

Coba fikir, upacara penyerahan ´WERTHEIM AWARD´ kepada Goenawan Mohammad dan Joesoef Isak akan berlangsung di ruang Wisma Nusantara KBRI Den Haag. Siapa tidak kenal Goenawan Mohahamd? Siapa tidak lupa dengan pembereidelan majalah Tempo, yang dipimpin oleh Goenawan Mohammad. Siapa tidak kenal Joesoef Isak, eks-tapol, wartawan senior, penerbit novel Tetralogi Parmoedya Ananta Toer yang dilarang Orba.

Tengoklan, sekarang mereka jadi tamu terhormat KBRI Den Haag.

Selanjutanya, siapa yang memberikan kata sambutan atas peristiwa penting itu dari fihaK KBRI Den Haag. Tidak lain tidak bukan, orangnya adalah Wakeppri KBRI Den Haag,

DJAUHARI ORATMANGUN.

Nah, itulah ceriteranya kalau ingin tau mengapa aku merasa dekat dengan Djauhari Oragmangun. Sikapnya yang bebas dan memperlakukan kenalan dan sahabat sama sedrajat, tanpa diskriminasi meskipun ada perbedaan pandangan mengenai ha-hal tertentu, itulah Djauhari Oratmangun.

Selamat jalan Pak Djauhari. Mengharapkan sukses melaksanakan tugas baru nanti.

Harapan terbaik kami untuk Anda sekeluarga.

Sampai jumpa lagi.



* * *













IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita - WINTERNACHTEN - (1)

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Rabu, 21 Januari 2009

----------------------------


WINTERNACHTEN - (1)

Dengan NURUDDIN FARAH


Dinginnya sih dingin! Hari itu lebih dingin dari kemarinnya. Merasuk sampai ke tulang-belulang apalagi bagi orang yang sudah manula . Masya Allah!


Tokh kami 'lakoni' juga, orang-orangtua seperti kami ini, ber-metro, ber-kereta-api dan ber-tram sore/malam itu. Tujuan: Theater Aan Het Spui, Den Haag. Demi memenuhi undangan yang kuterima untuk dua acara 'WINTERNACHTEN', Den Haag. Direktur Ton van de Langkruis dan / Administratur Pengelola/ Tineke van Manen sungguh baik hati! Tahun ini aku terima lagi empat 'ticket undangan' untuk dua acra masing-masing, untuk hari Kemis tanggal 15 Januari dan Jum'at keesokan harinya. Kuajak teman-lama Cisca Pattipilohy bersamasama memenuhi undangan 'Winternachten'. Kalau harus beli ticket sendiri, harganya Euro 25 per ticket untuk acara satu hari.


Begitulah ceriteranya.

Kami berdua, bisa 'berkenalan' dengan penulis Somali kenamaan, NURUDDIN FARAH (64th), yang tampil dalam acara 'WINTERNACHTEN' Den Haag, 15 Januari, 2009 yang lalu.


* * *


Siapa Nuruddin Farah?

Farah adalah seorang penulis dan guest-lecturer di pelbagai universitas Eropah dan Amerika. Di mancanegara Farah dijuluki sebagai seorang 'COSMOPOLIT'. Namun, tak diragukan Farah amat mecintai tanah-tumpah-darahnya, Somali. Dan . . . Farah akan selalu menulis mengenai tanahirnya, Somali.


Ada daya tarik istimewa bagiku mengapa ingin hadir mendengar Nuruddin Farah. Meskipun sebelumnya tidak pernah kudengar atau membaca nama Nuruddin Farah. Daya tarik istimewa itu: Kesamaan besar dengan aku, sebagai ORANG EKSIL. Orang yang pasti dipenjarakan bila tidak meninggalkan tanahairnya. Sedikit beda dengan aku : Farah, adalah seorang 'self-exiled'.


Sebelum melanjutkan cerita ini baik kiranya disegarkan dalam ingatan masing-masing tentang apa itu 'WINTERNACHTEN'. Apa pula kegiatannya? Sudah pernah kutulis mengenai 'Winternachten' tahun lalu. Tapi tak ada salahnya ditulis lagi. Mungkin masih ada yang belum kenal.


Kegiatan 'WINTERNACHTEN' sejak berdirinya, 1995, diabdikan pada usaha untuk membangun dan memelihara jaringan penulis dan penyair Nederland dengan negeri-negeri yang punya hubungan historis dengan Nedeland. Yaitu: Indonesia, Suriname dan Antilia Nederland serta Afrika Selatan. Sejak 'Winternachten 2008' jaringan tsb juga termasuk Maroko dan wilayah Arab serta Turki. 'Winternachten' bukan lembaga resmi pemerintah. Namun mendapat dukungan termasuk bantuan finansil dari pelbagai lembaga masyarakat lainnya, termasuk dari Kotapraja Den Haag.


Setiap tahunnya 'Winternachten' menyelenggarakan festival di Den Haag, dengan sastrawan, seniman, musik dan film-film. Lebih dari 60 penulis, penyair dan musikus terutama dari negeri-negeri non-Barat. Mereka mepertunjukkan acaranya di pelbagai panggung. Selain menyelenggarakan festival tahunan, 'Winternachten' adalah partner di pelbagai acara kegiatan di negeri-negeri yang bersangkutan. 'WINTERNACHTEN' bekerjasama dengan organisasi-organisasi lokal di Indonesia, Afrika Selatan, Antilia Nederland dan Suriname. Dalam tour-tour yang mereka selenggarakan seorang penulis atau penyair dari negeri yang bersangkutan ikut bersama dalam tour itu dan merupakan bagian dari program luarnegeri. Dengan berbuat demikian, pertemuan para penulis dan penyair dari pelbagai latar belakang kulturil juga berlangsung di tempat-tempat di luar Belanda. Temu muka dan dialog lintas bangsa dan lintas kultur tsb merupakan salah satu cara efektif untuk memajukan saling mengerti dan saling menghargai antara Barat dan Timur.


Festival 'Winternachten' 2009, yang ke-15 kalinya ini, di mana kami beruntung bisa ikut hadir, dibuka di Nieuwe Kerk di Den Haag dengan ceramah Nuruddin Farah. Dari situ tiga hari selanjutnya dipentaskan acara-acara selanjutnya. Lebih dari delapanpuluh penulis, artis dan musikus dari mancanegara memberikan pertunjukan. Antara lain: Amitay Ghosh, Alain botton, Nury Vittachi, Shrinivsi, Cpnnie Palmen, Nyangyal Lhamo, Gerrit Komrij, Izaline Calistern dan lain-lain.



* * *

Suatu ketika Nuruddin Farah, dosen dan penulis yang selalu menulis mengenai negerinya, menyatakan sbb:

'Orang-orang Somali sangat menginginkan agar ada yang bangkit dan menulis tentang negerinya. Tetapi ketika saya menulis buku saya 'The Crooked Rib', yang mengandung banyak kritik terhadap bagaimana masyarakat Somali memperlakukan perempuan dan anak-anak, kontan mereka menghujat saya . 'Masya Allah, suruh orang itu menutup mulutnya', ujar mereka.



Diktator Jendral Syad Bare telah membungkam semua. Kritik-kritik terhadap Somali dilarang. Jika saya dari luarnegeri menilpun anggota keluarga saya, mereka akan dipecat. Nama saya tidak boleh disebut. Datang ke Somali tidak boleh membawa buku saya. Nah, sekarang orang-orang itu mengatakan: 'Ya Allah, suruh dia buka lagi mulutnya'.



'Ketika saya masih lebih muda, pernah saya mengklaim bahwa saya ingin mempertahankan Somali tetap eksis. Soalnya, dalam ingatan kaum eksil, negeri ini nyaris punah. Sekarang saya ingin memberikan formulasi lain. Saya akan mengatakan bahwa, bagaimanapun, saya akan tetap mempertahankan Somali dalam ingatan saya'.



Dengan jatuhnya diktator Jendral Syad Bare, terbuka kemungkinan penulis Nuruddin Farah berkunjung ke tanah airnya. Tetapi situasi politik dan keamanan Somali masih labil. Maka Farah tidak pulang untuk menetap di negerinya sendiri. Benar saja, rezim Somali yang terdiri dari raja-raja perang terus saja saling berperang. Disusul oleh suatu rezim yang menjadikan Islam sebagai dasar negara. Kelanjutan dari sini timbul lagi perpecahan yang menjadi-jadi. Sebagai seorang sekularis Farah memilih sementara tinggal di luar dulu.

Kata Farah: Formal saya sekarang boleh lagi berkunjung ke Somali, dan sudah berkali-kali saya berkunjung.

Interesan mengikuti pemikiran Nuruddin Farah mengenai masalah 'pulang' ke tanahairnya untuk menetap. Farah:



'Saya pertama-tama kembali ke Somali atas keperluan artistik, untuk pemulihan dari 'neurose' - suatu penyakit syaraf disebabkan oleh faktor-faktor psikologis - . Saya juga melakukan riset terhadap problim, apa yang terjadi dengan suatu negeri, dimana orang-orang mengalami rusak-ingatan dan samasekali kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Terhadap ketiadaan-kemanusiaan yang merupakan lanjutan dari perang-saudara yang berkepanjangan.



Selanjutnya: 'Saya ingin punya lebih banyak waktu untuk menangani masalah ini sendiri. Terkadang saya mencuri waktu sendiri. Untuk seminggu lamanya saya bisa memusatkan pada usaha-keras demi perdamaian di Somali.

'Selalu ada perasaan memikul kesalahan, disebabkan harus meninggalkan negeri ini. Ada keinginan untuk bisa berbuat sesuatu. Pergi ke Somali lalu menjadi seperti melihat ke dalam sebuah kaca pecah. Apakah pecahnya kaca itu disebabkan oleh kesalahan sendiri, atau salahnya kaca itu sampai jadi pecah?'



* * *



Dalam diskusi yang berlangsung sesudah ceramahnya pada malam Winternachten, 15 Januari y.l. Nuruddin Farah mengungkapkan apa yang selalu dikatakannya kepada orang-orang Somali yang sudah bermukim di Belanda.

Farah -- ´Kalian ini, jadilah se-Belanda mungkin, tanpa meninggalkan identitas budaya Somali dalam dirimu´.



Nuruddin Farah menganggap bahwa orang-orang Somali yang sudah menjadikan negeri Belanda sebagai tanah airnya sendiri, supaya mengambil sikap dengan sungguh-sungguh dan serius berintegrasi dalam masyarakat Belanda. Pada titik ini aku teringat pada konsep Bapak Baperki, Siauw Giok Tjhan, yang menganjurkan kepada orang-orang keturuan Tionghoa untuk berintegrasi dengan bangsa INDONESIA. Menjadi orang Indonesia, tanpa melupakan tradisi dan kebudayaan leluhurnya. Melaksanakan dengan baik-baik prinsip BHINNEKA TUNGGAL IKA.



Namun, Farah dengan tajam juga mempertanyakan, sampai dimana orang-orang Belanda, masyarakat Belanda, bangsa Belanda, bersedia menerima orang-orang migran atau eksil yang mau berintegrasi di Belanda. Sama seperti orang Belanda yang ´otochtoon´. (Bersambung)





* * *








Kolom IBRAHIM ISA - IN MEMORIAM PENULIS BERCITA-CITA LUHUR HD HARYO SASONGKO

Kolom IBRAHIM ISA
------------------
SABTU, 17 JAN. 2009

----------------------------------------------------------------------------------------------------
IN MEMORIAM PENULIS BERCITA-CITA LUHUR HD HARYO SASONGKO
----------------------------------------------------------------------------------------------------



Telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya HD HARYO SASONGKO (15 Januari 2009), dalam usia relatif muda (60th).

INNA LILLAHI WA INNA LILLAHI RAJIUN.

Barisan penulis, sastrawan sejarawan Indonesia kehilangan seorang pejuang untuk tegaknya kebenaran dan keadilan di Indonesia.

Pandangan kritis demi pelurusan sejarah bangsa dan tanah air, ketajaman dan luas horizon pandagan HD Haryo Sasongko, yang begitu besar kepeduliannya dengan cita-cita hidupnya, tidak banyak ditemui di kalangan penulis dan sejarawan Indonesia dewasa ini.

Dedikasinya, kepeduliannya, ketekunan dan produktivitasnya dalam sumbangan ke khazanah literatur perlawanan, seperti halnya HD Haryo Sasongko, juga tidak banyak ditemui di Indonesia dewasa ini .

Bangsa Indonesia, sungguh telah kehilangan seorang putera bangsa yang masih belum selesai dalam misinya mencari kebenaran dan keadilan.

Kiranya, jalan paling baik mengenang HD HARYO SASONGKO, adalah membaca kembali tulisan-tulisannya yang begitu banyak, serta menyebarluaskannya.


Dibawah ini dicatat beberapa buku dan tulisan HD Haro Sasongko sekadar untuk memudahkan menemukannya.

-- 'BUNG KARNO DAN PAK HARTO DARI REVOLUSI KE KORUPSI'

-- 'MENEMBUS TIRAI ASAP: KESAKSIAN TAHANAN POLITIK 1965'

-- 'KERUKUNAN BERAGAMA, DAULAT POLITIK DAN KERETA REFORMASI'

-- 'CATATAN HARIAN ANAK BANGSA TERPIDANA: KISAH SEPENGGAL

-- SEJARAH DARI TRAGEDI NASIONAL YANG BERLUMURAN DARAH'

-- 'EKSEKUSI: KUMPULAN PUISI TRAGEDI 1965'

-- 'RADIKALISMME KEAGAMAAN'

-- SEBUAH RENUNGAN MENGANTISIPASI PEMBANGUNAN EKONOMI ERA REFORMASI', MENCARI SISTEM PEREKONOMIAN YANG BAGAIMANA?


* * *



Bung Samiaji y.b. dan keluarga,


Terimalah rasa ikut berdukacita ini , dengan harapan seluruh keluarga dalam kedukaan tabah menghadapinya.


Semoga arwahnya diterima di sisi TUHAN YME.



* * *






_*
*_


sts Kolom IBRAHIM ISA - PERJUANGAN KAUM TANI SUlUK BONGKAL

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 12 Januari 2009
----------------------

PERJUANGAN KAUM TANI SUlUK BONGKAL, RIAU,
Adalah PERJUANGAN UTK TANAH DAN KEADILAN!

Akan salah samasekali bila tinggal diam saja, tidak berbuat apapun, terhadap kesewenang-wenangan dan kekerasan brutal Brimob Kepolisian RI plus preman setempat, terhadap kaum tani Suluk Bongkal, Bengkalis, Riau. Bila kita katakan bahwa kaum tani desa Suluk Bongkal pada 18 Desember 2008, telah menjadi korban terorisme, maka pernyataan itu tidaklah berkelebihan adanya.


Sebab, faktanya memang menunjukkan bahwa kaum tani Suluk Bongkal diteror oleh aparat keamanan negara. Aksi Mobrig plus preman itu tidak berbeda, sepenuhnya sama dengan aksi t e r o r . Tak lebih tak kurang! Pasti tindakan Brimob bersama preman setempat itu, menimbulkan kemarahan siapa saja yang punya rasa keadilan dan menganggap bahwa kaum tani adalah bagian dari nasion kita, bahkan bagian yang amat penting.

Nyatanya, bangsa ini, masyakat ini, tidak tinggal diam. Masih cukup banyak yang punya rasa keadilan, yang masih punya hati nurani. Pemeduli nasib kaum tani menuntut pengusutan oleh pemerintah agar keadilan diberlakukan!
Juga putra-putri Indonesia, yang berada di Swedia, Belanda, Perancis, dll negeri tidak ketinggalan telah menyatakan solidaritas mereka secara kongkrit kepada perjuangan kaum tani Suluk Bongkal.

Kepedulian masyarakat yang tidak bersikap masa-bodh bisa dilihat a.l.dari pernyataan Komnasham, Walhi, sembilan serikat tani Riau, dan sejumlah pers yang menuntut kasus kekerasan terhadap kaum tani Suluk Bongkal, ditangani dan segera diinvestigasi oleh pemerintah. Supaya pemerintah Jakarta cepat mengambil tindakan terhadap kesewenang-wenangan itu, serta menghukum yang bersalah. Juga lembaga internasional seperti Amnesty International telah menyatakan protes keras, serta menghimbau pemerintah Indonesia segera turun tangan mengadakan investigasi.

* * *

Apa kesewenang-wenangan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan RI dan sejumlah preman yang mereka organisir?
Mari telusuri cuplikan liputan dua orang wartawan, yaitu Yuliawati (Jakarta) dan Jupernalis Samosir (Riau), sbb:

'Dusun Suluk Bongkal, Bengkalis, Riau, pada akhir Desember itu jadi kampung mati. Kini penghuni kampung itu lari ke hutan dan daerah lain. Sebelumnya, Kamis 18 Desember lalu, sekitar 700 polisi Riau mengusir 800-an warga dengan peluru karet dan gas air mata. Aparat menganggap warga tinggal di lahan konsesi hak pengusahaan hutan tanaman industri milik PT Arara Abadi. Pongah, seorang warga Suluk Bongkal, kini "diamankan" Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ke Jakarta untuk diminta keterangan.
'Ketika polisi diminta menunjukkan surat perintah atau surat putusan pengadilan untuk eksekusi, aparat hanya berkata: mereka hanya menjalankan perintah atasan. Karena tak ada surat perintah, warga meminta polisi membatalkan penggusuran. Polisi berkeras. Aparat lalu merangsek. Warga menghalangi. Warga membentuk barisan di depan pintu dusun sambil memekikkan salawat badar dan Indonesia Raya.
'Gas air mata lalu dilontarkan. Pasukan tambahan polisi masuk dan mengepung warga: Suasana panik. Beberapa orang terluka. Intan, 23 tahun, melahirkan lebih cepat karena disepak polisi. Putri, 2,5 tahun, anak pasangan Herman Purba dan Maria, meninggal jatuh ke sumur karena panik. Seperti umumnya warga desa yang lain, mereka kini mengungsi entah ke mana.
'WALHI dan 24 organisasi nirlaba hingga kini masih bertahan di sana untuk menginvestigasi.
'Dalam waktu lima jam, 500 rumah kayu itu hancur berantakan. Dengan eskavator, polisi meratakan dusun itu. Menurut seorang warga, pada saat helikopter polisi terbang di atas dusun, sejumlah rumah warga terbakar. Seusai penggusuran, polisi menangkap 81 orang warga.

'Direktur Kelompok Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Bambang Aswandi, menyesalkan tindakan polisi yang main gusur. Menurut dia, Walhi kini berniat mengajukan gugatan praperadilan kepada polisi.
Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, M. Ridha Saleh, menuding polisi melanggar hak asasi. Kata Ridha, "Tindakan mereka bukan melindungi masyarakat, tapi justru menyiksa."
* * *



Soalnya, itu bukan semata-mata kekerasan brutal aparat keamanan plus preman setempat. Di satu segi kekerasan tsb telah menimbulkan korban dua orang anak tewas. Kaum tani diusir dari tanah garapannya, dan dipaksa meninggalkan rumah mereka, yang kemudian dibakar habis. Beberapa orang tani dijebloskan dalam tahanan polisi. Ratusan lainnya menyelamatkan diri dari kejaran dan lari ke hutan-hutan di sekitar desa itu.

Yang teramat serius ialah bahwa aparat keamanan negara telah melakukan kekerasan brutal terhadap kaum tani, terhadap rakyat, dalam rangka membela kepentingan pengusaha PT Arara Abadi. Untuk kesekian kalinya bisa disaksikan betapa aparat keamanan berdiri berhadap-hadapan menodong rakyat miskin. Kejadian seperti itu tidak aneh, bila terjadi pada periode Orba Presiden Suharto.

Tetapi pada periode pasca Suharto dewasa ini, ketika gerakan massa telah berhasil menggulingkan Presiden Suharto dan negeri ini memasuki periode REFORMASI, seyogianya, aparat keamanan negara mengubah diri, ikut ambil bagian dalam REFORMASI. Yang peranannya tadinya menakut-nakuti dan menindas rakyat kecil, melakukan pemersan dan pungli, melindungi koruptor, sekarang ini agar berusaha sedikit-sedikit berbuat positif untuk masyarakat. Jangan terus-terusan hanya melindungi diri sendiri, konco-konconya, orang-orang kaya dan kaum yang berkuasa umumnya, seperti dalam periode rezim Orba.

Tetapi Brimob Kepolisian RI yang berkordinasi dengan preman melakukan tindakan teror terhadap kaum tani. Ini amat disesalkan.

* * *

Teringatlah aku suatu ketika beberapa tahun yang lalu ketika sempat bertemu dan cakap-cakap dengan almarhum Cak Ruslan Abdulgani di kantor beliau di Pejambon, Jakarta. Cak Rus merasa bangga dan gembira sudah punya kantor (baru) untuk bekerja.

Dengan bangga pula Cak Rus cerita bahwa kantor itu diperolehnya berkat Gus Dur yang baru menjabat Presiden RI. Dalam percakapan ketika itu, kutanyakan: Cak Rus! Sampai sekarang ini apa hal positif yang sudah dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid. Dengan tegas Cak Rus menjawab: Saya sebut satu saja yang penting: Presiden Wahid telah melakukan hal yang amat penting dalam urusan ketatanegaraan kita. Gus Dur telah memisahkan tugas-tugas dan kewajiban TNI dari Kepolisian. Dengan demikian masalah keamanan (rakyat), tugas memembela hukum dan menjunjung undang-uandang dan hukum, akan ada pada Kepolisian Negara. Kepentingan rakyat akan mendapat perhatian yang lebih baik! Demikian Cak Ruslan Abdulgan, yang menyatakan harapannya pada kepolisian negara sesudah kita memasuki era Reformasi.

Sayang sekali, harapan Cak Ruslan itu, ternyata tinggal harapan saja. Kecuali penanganan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir yang pada akhir tahun ini tampak mundur jauh kebelakang, dengan divonis-bebasnya Jendral Muchdi oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, ada lagi peristiwa teror kepolisian dan preman terhadap kaum tani Suluk Bongkal.
* * *
Berkali-kali kita dengar bahwa negeri kita adalah negeri agraria, mayoritas bangsa kita tinggal di pedesaan dan pegununangan. Rakyat yang hidupnya dari bercocok tanam, dari bertani. Berkali-kali juga bisa dibaca, tanpa kaum tani yang memberikan dukungan frontal terhadap revolusi kemerdekaan kita, tanpa dukungan kaum tani terhadap perjuangan gerilya melawan tentara kolonial Belanda, bangsa ini tak akan bisa membela dan mempertahankan Republik Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945.

Tetapi sesudah tercapainya kemerdekaan, nasib kaum tani tak banyak berubah. Perubahan agraria dan perubahan tanah,meskipun sudah ada UU Perubahan Tanah dan UU Bagi Hasil, yang disahkan selama periode Presiden Sukarno, kaum tani miskin yang masih merupakan mayoritas bangsa samasekali belum mengenyam bagaimana rasanya sebagai bangsa yang merdeka, yang punya negara dan pemerintah sendiri. Apa yang sering mereka alami, bahwa dalam pelbagai konflik tanah, aparat kekuasaan negara biasanya berpihak pada tuan-tuan pemilik tanah, pada perusahaan-perusaan swasta yang di belakangnya adalah penguasa juga.

Pengalaman menunjukkan bahwa untuk mmengubah nasib mereka, kaum tani Indonesia harus bersandar pada kekuatannya sendiri, pada organisasi-organisi mereka yang rapi dan pandai melakukan perjuangan. Tidak diragukan bahwa dalam perjuangan kaum tani Indonesia, mereka amat-amat memerlukan dukungan dan solidaritas dari seluruh masyarakat.

Perjuangan kaum tani Suluk Bongkal, Bengkalis,Riau adalah bagian dari perjuangan seluruh kaum tani Indonesia untuk tanah dan perbaikan nasib!

* * *


Kolom IBRAHIM ISA

Kemis, 08 Januari 2009
----------------------


KEKERASAN Di GAZA BUKAN KARENA ROKET-ROKET HAMAS



Abdallah Kassem, salah seorang dari 1,5 juta penduduk Palestina di Gaza, -- yang dalam duabelas hari belakangan ini, siang malam, dihujani peluru Israel dari helikopter dan tank-tank penyebar maut, --- mengutarakan kesedihannya, rasa putus asa tak berdaya, tetapi juga . . . . . marah dan geram. Ia amat khawatir dengan keselamatan diri dan keluarganya. Mereka mendambakan, mengharapkan dan mendoakan perdamaian. Ini diutarakannya melalui CNN beberapa hari yang lalu.


Namun, juga jelas, sebagaimana halnya orang-orang Palestina lainnya, tak ada orang Palestina yang bisa menerima terus berlangsungnya keadaan dimana setiap hari maut mengancam.


Abdallah Kassem bersama keluarganya tidak tau lagi, mau berlindung dimana! Karena tempat perlindungan yang dianggap paling aman, berupa sekolah, dua hari yang lalu jadi sasaran serangan Israel. Empatpuluh orang termasuk perempuan dan anak-anak jadi korban. Enampuluh lainnya luka-luka dan cedera.



BBC mewartakan kemarin bahwa menurut para pejabat PBB, serangan Israel Selasa yl terhadap sebuah gedung sekolah yang dikelola PBB, adalah lokasi yang digunakan sebagai tempat berlindung warga yang menyelamatkan diri dari rumah-rumah mereka. Militer Israel mengklaim bahwa penduduk di Israel diserang mortir Hamas yang berada di dalam sekolah itu. Sedangkan jurubicara UNWRA, Christopher Gunness mengatakan badan PBB yakin Hamas tidak menggunakan gedung sekolah tersebut untuk menyerang tentara Israel. Seorang jurubicara Hamas membantah bahwa serangan dilancarkan dari dalam sekolah.

Sejak pemboman Israel dimulai di Gaza, 680 orang Palestina tewas. Kurang lebih 3000 lainnya luka-luka dan harus di kirim ke rumah-rumah sakit dan klinik yang sudah penuh sesak.


* * *


Selain merasa sedih dan geram, banyak orang di Gaza tak habis heran menghadapi kebiadaban angkara murka tentara Israel. Dengan gampang-gampangan tentara Isarel menyatakan bahwa sebelum mereka melakukan pemboman, katanya, sudah mengeluarkan pengumuman agar penduduk setempat menghindar dari daerah yang menurut Israel menjadi tempat peluncuran roket Hamas ke wilayah Israel. Warga Gaza yang panik bertanya-tanya: Disuruh menyingkir, baiklah! Tetapi mau menyingkir kemana?! Mencari selamat ke sekolah PBB sekalipun, tetap saja menjadi sasaran bom-bom Israel. Tidak ada perumusan lain untuk tindakan Israel ini, selain, TERORISME.


Mengikuti berita-berita media mengenai serangan ganas Israel terhadap Gaza orang jadi heran dan marah! Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Orang-orang Yahudi sendiri pernah mengalami kebiadaban fasis Jerman menjelang dan selama Perang Dunia II. Tetapi dewasa ini, ketika mereka sudah punya negara sendiri, bisa bertindak sama seperti yang dilakukan oleh Jerman fasis terhadap mereka.


Mungkin saja sekarang ini tidak ada lagi yang mengajukan peranyaan berikut ini: Mengapa bangsa Yahudi, yang melalui lika-liku kemudian bisa menetap di Palestina dan mendirikan negara Israel di situ, kok bisa-bisanya berbuat demikian kejam dan biadabnya terhadap penduduk Palestina yang tak bersalah dan tak berdaya di Gaza. Tambahan lagi Israel begitu kejamnya sudah setahun setengah lamanya melakukan blokade terhadap Gaza. Sehingga penduduk Gaza amat menderita hidupnya karena kekurangan air, kelaparan, langka obat-obatan dan tanpa aliran listrik yang memadai..


Bukankah sekitar Perang Dunia II, bangsa Yahudi telah mengalami sendiri bagaimana duka-deritanya diperlakukan secara biadab oleh kekuasaan Hitler Jerman? Bukankah mereka telah mengalami apa yang terjadi di Auswitz? Dijebloskan di kamar-kamar gas, kemudian mayat-mayat mereka dibakar musnah. Apakah bangsa Yahudi sudah lupa penderitaan yang disebabkan oleh kejahatan terbesar terhadap kemanusiaan : HOLOCAUST?


Tetapi sekarang, setelah berhasil merebut wilayah Palestina untuk bisa hidup serta menegakkan negara Israel, --- akhirnya mereka sendiri melakukan hal yang mereka kutuk, yang tidak berbeda dengan apa yang dilakukan Hitler.


Dunia menyaksikan bagaimana negara Yahudi Israel melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap bangsa PALESTINA di Gaza. Masyarakat internasional yang cinta damai mengutuk kekerasan yang dilakukan tentara Israel di Gaza.


* * *


Mari dilacak serentetan serangan Israel atas Gaza, yang sudah berlangsung hampir dua minggu lamanya. Momentum yang dipilih untuk melakukan serangan tsb, cara dan sasaran pemboman terhadap Gaza, menunjukkan bahwa sasaran Israel itu bukan semata-mata tempat-tempat peluncuran roket Hamas. Orang sulit menerima penjelasan tentara Israel bahwa serangan atas Gaza itu, dilakukan demi keamanan dan keselamatan penduduk Israel. Mereka menyatakan bahwa sasaran mereka hanya Hamas yang melakukan serangan roket terhadap penduduk Israel. Tetapi, nyatanya korban terbesar jatuh di fihak penduduk Gaza yang tak bersalah dan tak berdaya.


Bukan saja fihak luar, yang tidak bisa menerima alasan yang dibuat-buat Israel untuk melakukan serangan dahsyat terhadap Gaza.


Perhatikan ini: Dua hari yang lalu, sebuah stasiun TV Belanda, kanal Nederland 1, mentayangkan acara 'Een vandaag'. Temanya adalah wawancara wartawan stasiun TV tsb dengan seorang mahasiswi Israel di sebuah kota di Israel mengenai serangan atas Gaza. Pas ketika itu sang mahasiswi sedang melakukan demo memprotes pemboman Israel atas Gaza. Ia menyatakan bahwa tindakan tentara Israel itu harus segera distop. Harus ada penyelesaian politik. Israel, katanya, sudah mencoba pelbagai cara kekerasan militer dan milisia untuk menundukkan Palestina, telah pula menimbulkan korban besar di kedua belah fihak, tapi tak berhasil. Oleh karena itu, harus ada penyelesain melalui perundingan damai.


Yang menarik ialah, bahwa mahasiswi itu bukan anggota partai oposisi atau warganegara Israel asal etnis Arab. Ia adalah putri seorang perwira tinggi (prnw) MOSSAD . Berbeda dengan sebagian besar pemuda dan pemudi Israel, putri perwira tinggi ini menentang dinas militer. Ia menolak dijadikan cadangan tentara Israel. Oleh karena itu ia pernah dipenjarakan tiga bulan lamanya. Sang mahasiswi menjelaskan bahwa persekusi yang dialaminya pertama-tama dan terutama disebabkan oleh sikap politiknya yang menentang poitik perang pemerintah. Oleh petugas keamanan Israel mahasiswi itu dianggap menderita sakit sayraf.


/Dalam wawancara dengan wartawan TV Belanda itu sang mahasiswi menjelaskan bahwa serangan yang dilakukan demikian heibatnya terhadap Gaza, sepenuhnya bermotif politik. Dewasa ini partai-partai pemerintah sedang siap-siap untuk masuk pemilu. Untuk memperoleh popularitas di kalangan pemilih dan sebanyak mungkin merebut suara , itulah sebabnya momentum serangan terhadap Gaza dipilih pada saat ini. Pemerintah ingin tampil menunjukkan bahwa mereka berani bertindak tegas dan keras terhadap Hamas. Demikian ditegaskan oleh sang mahasiswi. Ini bukan propaganda Hamas, tetapi keluar dari mulut seorang mahasiswi Israel./


/* * */


Ketika membela dan membenarkan serangan mereka terhadap Gaza, fihak resmi Israel mengecam pandangan umum internasional, yang, katanya, tidak mau melihat 'segi lainnya' dari konflik Israel-Hamas. Fihak resmi Israel minta perhatian atas serangan roket yang dilakukan Hamas dari wilayah Gaza. Serangan-serangan Hamas tsb menimbulkan ketakutan, rasa tidak aman, dan korban di kalangan penduduk Israel. Maka Israel menuntut supaya mengenai kasus konflik di Gaza, jangan hendaknya dilihat dari satu segi saja.


Baik, mari kita usahakan melihatnya dari segi lain. Sedikit saja meninjau ke belakang.


Sampailah kita pada saat-saat di masa lalu, ketika PBB mengeluarkan beberapa resolusi mengenai masalah Palestina. Diantaranya terdapat Resolusi PBB No 242 (22 Nov 1967). Resolusi 242 tsb menuntut Isarel menarik tentaranya kembali ke perbatasan sebelum meletusnya perang Israel- Arab tahun 1967. Resolusi PBB yang mewajibkan Israel mengakhiri pendudukan militernya atas Gaza, Tepian Jordan (Westbank) dan Dataran Tinggi Golan (Golan Hight) ditolak mentah-mentah oleh Israel. Kemudian ada Resolusi PBB No 252 yang menyatakan Israel tidak punya hak memasukkan Yerusalem Timur menjadi wilayah negara Israel. Juga resolusi PBB ini tidak digubris oleh Israel. Mengenai kasus kota Yerusalem hal ini selalu menjadi salah satu titik konflik Israel-Palestina. Palestina menganggap Yerusalem harus di-internasionalisasi. Sedangkan Israel menjadikannya ibukota negara Israel.


Dari dua sikap Israel terhadap lembaga internasional bangsa-bangsa dimana Israel sendiri menjadi anggota, orang bisa mengambil kesimpulan, bahwa masalah hakiki konflik Israel-Palestina, adalah didudukinya wilayah Palestina oleh militer Israel. Meskipun sudah ada apa yang dinamakan wilayah Palestina yang terdiri dari Gaza Strip dan Tepian Barat, yang dikatakan di kelak kemudian hari akan merupakan wilayah negara Palestina, namun dalam kenyataan wilayah tsb tetap ada di bawah kekuasaan militer Israel. Kapan saja Israel mau, ia bisa masuk Gaza, seperti apa yang dilakukannya sekarang ini. Kapan saja Israel menghendakinya, ia bisa membangun perkampungan-perkampungan baru Yahudi di wilayah Palestina di Tepian Jordan, Dataran Tinggi Golan dan Gaza.


Sedangkan di lain fihak, ratusan ribu pengungsi Palestina yang diusir dengan kekerasan oleh militer Israel dari kampung halaman mereka yang sekarang sudah menjadi wilajah negara Israel, harus tinggal berjejal-jejal di Gaza. Soal besar: -- para pengungsi Palestina tb dirampas haknya oleh Israel untuk kembali ke kampung halamannya.


Kalau hendak meninjau masalah konflik Israel-Palestina, tidak usah terlalu jauh ke belakang, mengenai latar belakang 'konflik' tsb, jelas adalah hal-hal yang dibebeberkan diatas tadi itu yang merupakan sumber, atau sabab-musahab konflik yang berkepanjangan antara Israel dengan rakyat Palestina. Hak rakyat Palestina akan wilayahnya, untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka, hal-hal itulah yang dilanggar oleh Israel.


Kekerasan yang terjadi di Palestina, penyebab utamanya bukan serangan roket-roket Hamas. Sumber konflik terletak pada kenyataan, bahwa sampai sekarang Palestina masih diduduki oleh kekuatan militer Israel dan secara ekonomi menderita blokade. Sumber konflik terletak pada kenyataan bahwa Israel dengan seenaknya membangun perkampungan-perkampungan baruYahudi di wilayah-wialayah Palestina. Sumber konflik terletak pada kenyataan terkatung-katungnya nasib ratusan ribu pengungsi Palestina yang diusir dari kampung halamannya di wilayah yang sejak 1948 diproklamsikan menjadi negara Israel. Hak mereka untuk kembali ke kampung halaman tempat kelahirannya dimana mereka tinggal turun temurun, dengan sewenang-wenang dirampas oleh Israel.


* * *


Perkembangan terakhir sekitar masalah serangan Israel atas Gaza, diprediksi mendekati suatu persetujuan 'ceasefire' dan segera dimulainya perundingan perdamaian.


Namun, dari jurusan manapun datangnya inisiatif menuju ke solusi masalah Palestina, -- apakah itu dari Presiden Perancic Sharkozy, dari Presiden Mesir Hosni Mobarrak atau dari Barack Obama bila ia sudah dilantik menjadi Presiden AS, --- perdamaian di Timur Tengah tidak akan tercapai selama masalah-masalah inti yang menjadi sumber konflik Palestina-Israel, ditangani dan dipecahkan secara tuntas sesuai dengah hak bangsa Palestina untuk mempunyai negara sendiri, wilayah kedaulatan nasional sendiri, serta sama sederajat dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini.


* * *







Kolom IBRAHIM ISA

Sabtu, 03 Januari 2009

----------------------------


CUBA TAK PERNAH SEKUAT SEKARANG

<50>


CUBA TAK PERNAH SEKUAT SEKARANG!

Kalimat ini, adalah yang antara lain diucapkan oleh Presiden Raul Castro, pada hari peringatan setengah abad REVOLUSI CUBA, 1 Januari 2009. Apa yang dinyatakan oleh Raul Castro itu, bukanlah kata-kata kosong tanpa isi. Sejarah Republik Sosialis Cuba, sejak ia diproklamasikan, adalah sejarah rakyat membela hasil-hasil revolusinya. Sejarah Cuba Sosialis terutama adalah sejarah kemenangan yang dicapainya melawan usaha AS mencekik Revolusi Cuba dan melikiwidasi pemimpin-pemimpin Cuba, Fidel Castro dkk.


Andaikata Republik Cuba Sosialis tidak sekuat itu dan tidak didukung oleh rakyatnya, maka sudah lama AS berhasil menghancurkannya. Sudah lama kapitalisme internaional kembali berkuasa di Cuba.


* * *


Mengamati sejarah REVOLUSI CUBA, kita akan menemukan fakta-fakta keras, bahwa sejarah modern Cuba, adalah sejarah intervensi, subversi dan invasi AS terhadap Cuba Sosialis. Sejarah Cuba modern adalah sejarah p e r l a w a n a n heroik rakyat Cuba terhadap imperialisme AS. Tetapi penguasa AS dan pendukungnya dimana-mana, memutarbalik perkara! Mereka berpropaganda sejadi-jadinya bahwa Cuba adalah 'bahaya' terhadap keamanan AS dan seluruh Amerika Latin.


Kalangan 'ill-wishers' Cuba, yaitu fihak-fihak yang sejak digulingkannya rezim diktatorial dan korup Batisa, dan diproklamasikannya Cuba Sosialis, sejak itu, mereka bermimpi untuk menggulingkan Cuba Sosialis. Itu dilakukan antara lain dengan melancarkan operasi klandestin CIA yang gagal untuk membunuh pemimpin revolusi Cuba, Fidel Castro,


Tidak lama sesudah diproklamasikannya Republik Sosialis Cuba (1 Januari 1959), Presiden Eisenhower menyetujui rencana CIA (17 Maret 1960) untuk mempersiapkan penyerbuan terhadap Cuba. Jelas CIA merasa mendapat angin, karena 'sukses' yang diperolehnya dalam operasi klandestin menggulingkan pemerintah Iran di bawah Perdana Menteri Mossadegh yang patrioitik dan berrencana menempatkan seluruh kekayaan sumber minyak Iran dibawah kekuasaan negara.


INVASI AS DI PLAYA GIRON.

Awan gelap meliputi Cuba. Pada tanggal 16 April 1961, dengan menggunakan 1000 lebih imigran reaksioner Cuba yang lari ke AS ketika pemerintah pro-AS diktator Fulgencio Batista digulingkan oleh revousi Cuba, --- CIA melakukan invasi militer di Playa Giron (Bay of Pigs), Cuba. Invasi Playa Giro yang sepenuhnya diorganisir dan dipersenjatai (termasuk pesawat-pesawat terbang B-26) oleh CIA dihancurkan oleh tentara dan rakyat Republik Sosialis Cuba.


Kegagalan invasi Playa Giron, tidak menghentikan nafsu AS untuk menggulingkan pemerintah Sosialis Cuba. Operasi-operasi CIA terutama untuk membunuh Presiden Fidel Casrto berjalan terus.


BLOKADE EKONOMI

Usaha berikutnya penghancuran Cuba Sosialis dilanjutkan dengan cara blokade ekonomi, finans dan perdagangan, dimulai tanggal 21 Februari 1962. Ini berlansung terus sampai sekarang. Selain operasi-operasi klandestin CIA yang diteruskan, Amerika bertekad menghancurkan Cuba melalui blokade ekonomi. Tetapi nyatanya sampai detik ini, semua usaha AS itu gagal total.


Selain berusaha menghancurkan Cuba Sosialis secara ekonomi, Amerika Serikat melakukan isolasi politik terhadap terhadap Cuba. Khususnya, mengisoloasi Cuba dari negeri-negeri Amerika Latin lainnya. Tetapi usaha inipun ternyata tak mencapai tujuannya. Bahkan hasilnya kontra- produktif. Sebaliknya yang terjadi. Di Amerika Latin dewasa ini, adalah Amerika Serikat yang terisolasi.


Mari saksikan:

Bulan lalu (Desember 2008) CARICOM, The Caribean Community (Ketua Konferensinya ketika itu adalah PM Spencer dari Antiqua Barbuda) dengan tegas mengutuk blokade ekonomi, finans dan perdagangan yangdilakukan AS terhadap Cuba. CARICOM mengharapkan pemerintah AS yang baru nanti meninggalkan politik gila-perang seperti itu. Ini adalah tambahan fakta terhadap kenyataan bahwa politik Amerika Serikat terhadap Cuba Sosialis, semakin terisloasi. Ketua Konferensi PM Spencer malah memuji Cuba Sosialis yang merupakan sahabat sejati negeri-negeri Carribia .


* * *


Tidak ketinggalan pula para pemimpin gereja reformasi negeri-negeri Carribia dan Amerika Utara. Dalam tahun 2008, mereka menyerukan kepada AS agar menghentikan blokade ekonomi terhadap Cuba. Dinyatakan bahwa blokade AS itu telah amat mempersulit kehidupan rakyat Cuba.


Para pemimpin tsb mengeluarkan pernyataan itu dalam Konferensi Carribbean and North American Area Council (CANAAC) dari World Alliance of Reformed Churches (WARC), yang diadakan di Georgetown, Guyana. Konferensi tsb mengambil tema yang menyolok sekali, yaitu 'PATAHKAN RANTAI-RANTAI' itu. Konferensi menyatakan solidaritas penuh terhadap rakyat Cuba.


Namun, Presiden Raul Castro sebagaimana halnya Fidel Castro, tidak berilusi bahwa embargo AS itu akan cepat berakhir, meskipun Presiden terpilih AS Barac Obama, berbeda dengan Presiden Bush, menyatakan bersedia mengadakan komunikasi dengan Cuba tanpa syarat.


Oleh karena itu, pada peringatan setengah abad REVOLUSI CUBA, Presiden Raul Castro, menyatakan bahwa, di satu fihak perasaan gembira rakyat adalah besar sekali, namun, masih banyak yang harus ditangani. Jangan kita menipu diri bahwa sejak hari ini segala sesuatu akan mudah. Bahkan, barangkali kita masih akan menghadapi situasi yang lebih sulit lagi. Maka perjuangan harus diteruskan. Rakyat Cuba patut berbangga dapat bertahan terhadap embargo AS.

Limaputuh tahun mendatang, kita juga akan tetap melakukan perjuangan, demikian Raul Castro.


Semboyan Cuba Libre: PATRIA O MUERTE, bukan hanya di mulut saja. Di Cuba Sosialis, semboyan ini adalah realita, adalah kenyataan hidup, adalah jiwa perjuangan revolusioner!


VIVA CUBA LIBRE!

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita - BERAKHIR 2008 -- DAN JEJAKLAH KITA KE - 2009

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
31 Desember 2008
------------------------------------

BERAKHIR 2008 -- DAN JEJAKLAH KITA KE - 2009
-------------------------------------------------------------

(1)


Di pagi dingin pada penghujung winter 2008 ini suhunya terhitung paling rendah. Salju turun agak malu-malu. Seperti kapas tipis melayang-layang perlahan-lahan turun ke bumi. Aduh, dinginnya mak! Ketika aku berpapasan dengan tetangga di lift, terdengar keluhan: Kok begitu dingin, ya? Ya, ya, belakangan ini kita benar-benar diguyur winter yang beneran. Memang menyegarkan! Tapi dingin!!! Pada malam hari suhu selalu di bawah nol derajat.


Kemarin siang sampai malam hari, seluruh keluarga kami kumpul di rumah putrinda Yasmin dan suaminya Homayun Zahidi serta putri mereka Anusha, di Hoofddorp. Di situ pemandangan musim dingin tampak indah. Faktor penting, karena sang surya sempat menampakkan dirinya sepanjang hari. Di belakang rumah keluarga Yasmin, suatu daerah perumahan baru, terbentang sungai buatan. Sebuah kanal yang jauh memanjang lurus. Karena suhunya sudah sesuai, maka air kanal itu membeku. Kelanjutan dari berhari-hari cuaca dingin dan suhunya menurun terus, permukaan air saluran berubah menjadi ssmacam permadani terbuat dari es. Inilah saatnya pesta untuk anak-anak, pemuda-pemudi dan juga orangtua yang berkenan suka main skate. Berluncuran di atas es dengan antusias dan riang. Orang Belanda agak terkenal sering jadi kampiun pertandingan balapan skate di atas es. Olahragawan Belanda sering menggondol kejuaraan balapan kecepatan skate, baik se Eropah maupun sedunia. Bermain-main, berolah raga di atas sungai, kanal dan danau yang membeku, sudah menjadi oalah-raga masal dan nasional di Belanda.


* * *


Kemarin itu juga adalah hari dimulainya resmi penjualan mercon. Petasan, kata orang Jakarta. Sebelum itu tak boleh orang menjual/membeli mercon, kembang api dsb. Sungguh mengherankan, media ribut-ribut, mancanegara hiruk-pikuk memberitakan dan membicarakan soal krisis finans yang mengglobal. Tapi, coba tengok panjangnya orang yang antri di toko-toko khusus di Winkelcentrum Amsterdamse Poort. Tujuannya hanya satu: membeli mercon. YA, UNTUK APA LAGI KALAU BUKAN UNTUK DIBAKAR. Dibakar habis!


Bakar duit tuh, kata orang yang lewat. Begitu pula pendapat orangtua yang khawatir anak-anak mereka kena musibah karena ikut-ikut membakar mercon. Juga begitu pendapat semantara orang yang penghasilannya minima. Dilihat dari satu sudut pandangan, memang begitulah: Membakar duit. Untuk apa? . . . .


Dalam kehidupan manusia bermasyarakat, memang tidak bisa melihat hal-ihwal HANYA dari satu segi pandangan saja. Lama-lama orang menjadi biasa juga dengan mentrapkan pandangan yang banyak segi. Karena sesungguhnyalah dunia yang nyata itu banyak - banyak sekali seginya. Jauhilah pandangan satu segi atau satu macam saja. Supaya jangan berat sebelah, kata orang-orang tua yang bijak! Demikianlah, seorang penjual perempuan pada toko mercon dengan riang memberikan jawaban tegas atas pertanyaan sang wartawan, mengapa orang pada beli merson, kembang api yang aneka warna dan ragam itu, hanya untuk dibakar dalam beberapa menit saja.


Jawab perempuan penjual mercon itu sederhana saja: Setahun lamanya orang bekerja bersusah-payah mencari nafkah. Maka pada hari-hari penutup tahun, adalah masanya untuk bersantai dan BERGEMBIRA serta BERSENANG-SENANG. Antara lain dengan melihat dan mendengar pembakaran mercon. Atau . . . bahkan membeli sendiri mercon dan kemban api serta membakarnya habis pada malam tahun baru. Tak peduli harus keluar ongkos yang tidak sedikit.


Pendek saja penjelasannya. Membakar petasan untuk bergembira-ria dan bersenang-senang! Gembira dan senang, merayakan Tahun Baru dengan menikmati kembang-api berwarna-warni dan suara-suaranya yang macam-macam itu, menerangi dan menghiasi angkasa malam gelap gulita, bersiul dan mengaum membikin suasana pesta ria yan gegap gempita. Jelas ini pandagan lainnya terbanding pendapat yang semula bahwa beli mercon, kan sayang kalau nantinya hanya untuk dibakar. Bukanka itu adalah bakar duit, buang-buang uang saja!


Pandangan dari perempuan penjual mercon di Belanda itu, jelas, bukan pandangan dia sendiri saja. Bisa dipastikan di banyak negeri di dunia ini, begi juga pandangannya!. Bangsa besar seperti bangsa Tionghoa umpamanya, menganggap membakar mercon dan kembang api adalah bagian penting dari kultur dan tradisi mereka. Sampai sekarang masih diteruskan!


Tahukah pembaca berapa orang Belanda kali ini mengeluarkan uang untuk membeli meson tahun ini? Diperkirakan paling tidak Euro 70 juta!


* * *


'BREAKING NEWS' BEBASNYA JENDRAL MUCHDI DALAM KASUS PEMBUNUHAN MUNIR


Juga pada hari ini, hari terkahir tahun 2008, kita dibikin kaget (atau tidak??!! barangkali banyak orangt sudah menduganya) dengan berita 'breaking news' dari Jakarta.


Jendral Muchdi, mantan Deputi V Badan Intelijen Negara, yang dituduh telah menganjurkan atau membujuk Pollycarpus untuk melakukan pembunuhan berrencana terhadap Munir, DIVONIS BEBAS oleh Majlis Hakim Pengadilan Jakarta Selatan. Alasan: Hakim berpendapat bukti-bukti keterlibatan Muchdi tidak cukup. Entah berapa ongkos yang sudah dikeluarkan untuk kasus Munir, halmana memang diperlukan. Namun, hasilnya hanya untuk MEMBERSIHKAN NAMA SANG JENDRAL yang bertanggungjawab.


Yang bikin hati orang tambah runyam ialah serangan balik yang dilakukan oleh fihak sang Jendral yang tertuduh. Ini dia serangan-balik itu: Pengacara Muchdi mengatakan akan menggugat balik 4 orang yang disebutnya melakukan fitnah dan pencemaran 'nama baik' Jendral Muchdi.


Suciwati, istrinya Munir, Usman Hamid, Pungky Indarti, dan Hendardi, dituduh melakukan fitnah dan pencemaran nama baik Jendral Muchdi.



Dianalisa secara mendalam, peristiwa pembebasan Jendral Muchdi, hanyalah tambahan pembuktian bahwa orde yang berlangsung di dunia Pengadilan Jakarta Selatan, adalah 100 persen ORDE BARU!.

Tentu saja, aktivis HAM di Indonesia tidak akan tinggal diam. Tak akan menyerah pada keputusan Pengadilan Jakarta Selatan yang menginjak-injak keadilan dan hukum di Indonesia. Suciwati, istri Munir akan NAIK BANDING terhadap keputusan Majlis Hakim Pengadilan Jakarta Selatan tsb.



* * *



Ada satu lagi kejadiah penting yang berlangsung di TimurTengah sebagai akibat dari pendudukan Israel terhadap Palestina, yang tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa perlawanan mancanegara yang setimpal.



PEMBOMAN BIADAB ISRAEL PADA GAZA, PALESTINA.

Berita yang memilukan dan membikin marah dan geram setiap orang yang masih berhati-nurani adalah pemboman berrencana yang sudah berlangsung berhari-hari terhadap rakyat Palestina di Gaza. Sekitar 300 warga Palestina yang tak bersalah, anak-anak, perempuan dan orangtua, tewas menjadi korban pemboman biadab Israel. Lebih banyak penduduk yang luka-luka dan cidera.



Terang itu adalah tindakan sewenang-wenang Israel terhadap penduduk Gaza yang tak bersalah. Jelas pula kiranya bahwa pemboman ganas Istael terhadap Gaza itu, merupakan pelaksanaan prinsip HUKUMAN KOLEKTIF, yang sudah sering dilakukan tentara Israel terhadap rakyat Palestina yang berjuang melawan pendudukan tentara Israel. Perbuatan Israel itu ama halnya dengan praktek tentara nazi Jerman selama pendudukan Eropah; sama dengan tindakan balatentara Jepang ketika melakukan agresi dan pendudukan terhadap banyak negeri Asia. Sama halnya dengan kebijakan tentara AS ketika menduduki Vietnam, dan kini di Irak dan Afghanistan.



Masih syukur suara hati-nurani bangsa kita, bisa disampaikan oleh Gus Dur, mantan Presiden Republik Indonesia, yang memprotes keras tindakan wewenang-wenang Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza, dan menuntut tindakan biadab Isarel itu dihentikan segera.



Berita-berita sekitar t pemboman sewenang-wenang Israel terhadap penduduk Gaza, yang telah menimbulkan begitu banyak korban rakyat yang tak bersalah, memenuhi media internasional. Tapi apa yang dilakukan untuk melawan dan menyetop tindakan Israel itu? Pernyataan mengutuk dan tuntutan penghentian pemboman semata-mata, jauh dari memadai.



Sudah terbukti Israel tidak menggubris segala protes dan tuntutan penghentian pemboman daerah Gaza. Israel malah mempersiapkan penyerbuan tentara Israel ke Gaza, dengan dalih untuk membela dan melindungi penduduk Isrel. Untuk itu menghukum HAMAS yang meluncurkan roket ke arah wilayah Israel.



Inilah logika tentara pendudukan Israel. Setiap perlawanan rakyat yang diduduki tentara Israel, dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan penduduk dan negara Israel. Oleh karena itu, HUKUMAN KOLEKTIF terhada penduduk Gaza dapat dibenarkan! Tidak peduli bahwa yang jadi korban adalah rakyat penduduk biasa Gaza. (Bersambung)



* * *



PENULIS MENYAMPAIKAN SELAMAT TAHUN BARU 2009!



MENGHARAPKAN PEMBACA SUKSES BARU DALAM KERJA DAN KEHIDUPAN!