Friday, December 7, 2007

IBRAHIM ISA - BERBAGI CERITA - PERGOLAKAN DIMANA-MANA ---

IBRAHIM ISA - BERBAGI CERITA

---------------------------------------------

Kemis, 29 NOV. 2007


PERGOLAKAN DIMANA-MANA --- PEMUDA-PELAJAR BELANDA PUN TAK KETINGGALAN !


Dimana-mana dalam kehidupan masyarakat dunia ini terjadi pergolakan! Selalu ada, tak pernah berhenti. Tak perduli, ada atau tidak teori reformasi atau teori revolusI. Apalagi bila kekuasaan diktatur militer atau sipil yang anti demokratis merajalela, seperti pengalaman kita dengan Orba di bawah Jendral Suharto, cepat atau lambat pergolakan akan bergelora. Ini bukan bicara politik atau renungan berfalsafah. Ini realita hidup.!

Sudah terbukti.


Pergolakan yang muncul, mungkin saja ditindas, . . . lenyap. Tetapi akan muncul lagi! Itu pasti! Dalam banyak hal termanifestasi dalam bentuk aksi-aksi massa. Aksi-aksi massa tak pernah berhenti dalam kehidupan insan bermasyarakat. Sekali tempo aksi itu besar, sekali tempo kecil, sekali tempo sedang-sedang saja. Semua itu tak perlu digelisahkan, tak perlu ditakuti. Juga tak perlu 'di-kipasi'. Itu wajar! Itu normal! That's life! Itulah kehidupan. Hadapi saja dengan tenang, tapi, tentu perlu persiapan fikiran, agar bisa mengambil sikap dan posisi yang adil dan benar.


Aksi massa itu biasanya muncul untuk menentang sesuatu. Ada pula aksi-aksi massa demi membela sesuatu. Yang ditentang atau yang dibela itu, bisa sesuatu yang salah, atau, diangap benar yang kemudian ternyata salah. Bisa juga yang dibela atau ditentang itu, sesuatu yang benar dan adil. Aksi-aksi massa bisa terjadi secara damai dan teratur. Bisa juga kemudian terjadi bentrokan antara massa yang melakukan aksi, dengan aparat keamanan. Bisanya terjadi bentrokan, mungkin karena disusupi 'oknum' provokator. Bisa juga aparat yang memprovokasinya, karena penguasa sejak awal menentang aksi-aksi massa tsb.


Sebagai contoh mengenai aksi massa yang salah, adalah aksi massa pada tanggal 17 Oktober 1952 di muka Istana Negara, Jakarta. Saat itu aksi massa ditopang dengan moncong-moncong meriam tentara yang diarahkan ke Istana. Dari fihak tentara yang bertanggung jawab adalah Letkol A. H. Nasution. Dikeluarkan tuntutan agar Presiden Sukarno membubarkan DPR, suatu lembaga demokratis. Maka, itu adalah aksi massa yang salah. Suatu aksi rekayasa sementara fihak di kalangan tentara! Juga aksi-aksi KAMI/KAPPI (1965-1966) menuntut Presiden Sukarno supaya turun, adalah KELIRU! Karena aksi itu kemudian menaikkan Jendral Suharto ke singgasana kekuasaan. Jendral Suharto terbukti adalah seorang Presiden yang bergelimang dengan KNN dan pelanggaran HAM. Sedangkan aksi massa yang bergelora pada Mei 1998 yang menuntut Presiden Suharto turun panggung kekuasaan, adalah aksi-massa yang adil, benar dan patut disokong.



Aksi-aksi massa, umumnya menyangkut masalah peri kehidupan. Massa rakyat yang menderita miskin dan kewewenang-wenangan penguasa, yang sudah bosan dan muak dengan janji-jani palsu para elite politik dan penguasa, cepat atau lambat akan bangkit berlawan. Aksi-aksi mereka itu adalah demi untuk bisa 'survive', demi keadilan. Aksi-aksi massa biasanya ada bobot politiknya. Bisa besar, bisa juga kecil.


* * *


Kali ini, ---- aku ingin berbagi-cerita tentang aksi-aksi massa yang belum lama berlangsung di Perancis maupun yang di Belanda. Tidak peduli, meski keadaan ekonomi di Belanda cukup baik, dan di Perancis juga tidak buruk, namun aksi-aksi massa berlangsung juga.


Mengapa? Karena di situ terdapat ketidak-adilan. Sebagian tidak kecil dari masyarakat, baik yang di Perancis maupun yang di Belanda, merasa diperlakukan tidak adil oleh kebijakan pemerintah. Ketidak adilan, ------ itulah sumber aksi-aksi massa tsb.


* * *


TIMUR TENGAH DAN AMERIKA SERIKAT

Har-hari belakangan ini, media dunia dipenuhi oleh berita dan komentar, liputan dan analisis sekitar pergolakan dan perkembangan politik di mancanegara. Maraknya kegiatan politik a.l. ditandai dengan dicetuskannya insiatif Amerika Serikat untuk diselengarakannya suatu pertemuan internasional di Annapolis, AS. Adapun maksud dan tujuan AS, seperti dinyatakannya sendiri, adalah untuk memulai kembali PERUNDINGAN PALESTINA-ISAREL. Pertemuan seperti itu, menurut Menlu AS Condoleeza Rice, dirasakan sudah waktunya, guna menembus kemacetan proses perdamaian sekitar kasus 'konflik' Palestina-Israel.


Oleh sementara fihak yang berpandangan optimis, inisiatif AS tsb dianggap akan bisa dijadikan pemicu dimulainya lagi perundingan Israel-Palestina. Dengan tujuan jelas, yaitu berdirinya negara Palestina merdeka yang hidup berdampingan (secara damai) dengan negara Israel.


Para pengkiritisi inisiatif AS, termasuk yang penting, seperti HAMAS yang berkuasa di Gaza Stroke, mengadakan aksi-massa menentang inisiatif AS. Inisiatif AS itu dilihat sebagai usaha, mengalihkan dan cari-muka semata dan cari nama Presiden Bush, sebelum ia turun dari jabatan Presiden AS. Umum diketahui bahwa Presiden Bush selalu mendukung Israel. Di dalam maupun di luarnegerinya, terjebak oleh kemacetan dan kegagalan petualangan militernya di Afghanistan dan Irak, bak orang yang pelan-pelan, tapi pasti, sedang tenggelam dalam pusaran-air bikinannya sendiri.

Sedangkan Presiden Abbas dari Palestina, yang menjadi peserta dan partner dalam perundingan tsb., dianggap praktis hanya didukung oleh adminstrasi Palestina di daerah West Bank S. Jordan. Di daerah Palestina Jalur Gaza, yang kuasa disitu adalah HAMMAS, Presiden Abbas ditolak. Hammas keras menentang Israel, menentang AS (di fihaknya AS menganggap Hammas adalah organisasi kaum teroris). Hammas juga menentang pemerintahan Presiden Abbas yang dituduhnya bergelimang dengan korupsi.


Isu besar dan utama antara Parlestina dengan Israel, masih tetap tak terpecahkan. Yaitu (1) tuntutan adil fihak Palestina sekitar (internasionalisasi kota Yerualem yang oleh Israel dijadikan ibukota Israel), --- (2) tuntutan Palestina agar pemukiman-pemukiman Jahudi di Tepi Barat Jordan (West Bank) dihentikan dan dibongkar, dan, ---- (3) tuntutan fihak Palestina, agar orang-orang Arab Palestina yang bertahun-tahun lamanya hidup sebagai 'pengungsi' di negeri sendiri, karena diusir-paksa dari kampung halamannya, oleh tentara Israel semasa perang Arab-Israel tahun-tahun 1948 dan 1967, -- agar mereka dibolehkan pulang ke kampung halamannya masing-masing, (yang sah), yang sekarang sudah menjadi wilayah negara Israel. Semua itu adalah kendala-kendala besar dalam masalah konflik Palestina-Israel. Belum lagi isu wilayah Dataran Tinggi Golan, wilayah Syria yang diduduki militer Israel.


Semua isu dan tuntutan Palestina tsb sampai sekarang ditolak keras oleh Israel. Jadik bagaimana perundingan bisa membawa hasil?


Jadi, menurut pandangan pesimis, pertemuan Annapolis, di AS, itu tidak akan menghasilkan apa-apa.

Hanya untuk memupur wajah politik pemerintah Presiden Bush!


PEMOGOKAN DAN DEMO KAUM PEKERJA DAN ANAK-ANAK MUDA AFRO-PERANCIS

Pergolakan lainnya adalah konfrontasi antara pemerintah Presiden Perancis, Sharkozy, dengan kaum pekerja kendaraan umum kota Paris. Akibatnya lalu-lintas umum lumpuh. Kaum pekerja Perancis terpaksa melakukan pemogokan tsb untuk membela nasibnya. Mereka menentang kebijakan pemerintah Presiden Sharkozy yang mengadakan 'reformasi' sistim pensiun, dikatakan, demi efisiensi dan demi pertumbuhan ekonomi yang wajar. Namun oleh kaum buruh dan karyawan., kebijakan Sharkozy tsb dirasakan merugikan mereka. Untung Presiden Sharkozy masih mau berunding, sehingga pemogokan tsb dihentikan (untuk sementara, kata serikatburuh)


Dua tiga hari belakangan ini muncul (lagi) aksi-aksi pemuda-pemuda Afro-Perancis (yang miskin, menganggur dan merasa selalu didiskriminasi oleh aparat keamanan) di jalan-jalan sekitar Paris. Mereka marah pada aparat kepolisian, berhubung dengan terbunuhnya dua pemuda Perancis asal Afrika, akibat tabrakan dengan kendaraan polisi, dan plintat-plintutnya polisi yang menolak tanggungjawab atas kematian dua pemuda Afrro-Perancis tsb. Terjadilah perusakan, pembakaran dan penangkapan terhadap kaum pendemo. Sejumlah polisi luka-luka dan puluhan demonstran ditangkap dan ditahan polisi.


* * *


PEMUDA-PELAJAR BELANDA TIDAK KETINGGALAN -- MEREKA TURUN KE JALAN-JALAN

Seakan-akan untuk menambah kemarakan aksi-aksi massa yang terjadi di Perancis, pemuda-pelajar Belanda tidak ketinggalan, ikut juga mengadakan aksi-aksi massa. Mereka menuntut agar dalam mengambil kebijakan kongkrit yang menyangkut nasib mereka, seryogianya pemerintah, mendengar dan mempertimbangkan pendapat dan fikiran yang bersangkutan. Nyatanya, pejabat yang bertanggungjawab soal pendidikan di Belanda, merasa serba tahu, hanya bersandar dan percaya pada birokrasinya, tanpa penelitian yang rapi, lalu mengambil kebijakan sendiri. Maka terjadilah konflik pemuda-pelajar dengan pemerintah. Itulah pasalnya mengapa, sejak Senin yl pemuda-pelajar Belanda meninggalkan gedung sekolah mereka, turun ke jalan-jalan dan lapangan di puluhan kota besar dan kecil seluruh Belanda. Suatu aksi mogok dan demo besar-besaran kaum pemuda dan pelajar Belanda yang lama tidak pernah terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini.


Aku memerlukan bertanya sendiri pada cucuku yang kebetulan sekolah di sebuah Lyceum di Amsterdam. Ia ikut berdemo hari itu. Apa pasalnya pemogokan pelajar itu, tanyaku. Menurut penjelasan cucuku, duduk perkaranya adalah sbb: Tuntutan aksi kami adalah adil! Kami mengadakan aksi, karena kebijakan pemerintah merugikan studi kami. Aksi turun ke jalan-jalan tsb di organisasi oleh LAKS. Demikian keterangan cucuku yang antusias ambil bagian dalam aksi-aksi tsb.


Kami-kami ini, kata cucuku, bersama para guru dan dosen, menyadari bahwa Belanda secara keseluruhan, mengalami kekurangan guru. Pekerjaan sebagai guru tidak menarik. Gajinya kecil terbanding pegawai negeri lainnya. Pekerjaannya berat dan tanggungjawabnya besar dalam mendidik generasi muda. Di segi lain taraf pendidikan di sekolah-sekolah menurun dibandingkan dengan dasawarsa yang lalu. Sudah sering masalah ini dibicarakan dan diseminarkan. Tetapi pemerintah sudah lama menunda-nunda mengambil langkah yang kongkrit dan efektif untuk menanggulangi masalah tsb. Pemerintah dalam hal ini tidak serius menangani masalah menurunnya mutu pelajaran, isu kekurangan guru, serta rendahnya penghasilan kaum guru. Jelas, cucuku itu bukan ikut-ikutan, tetapi ambil bagian dalam aksi dengan suatu pengertian dan sikap yang jelas.


Lalu muncul kebijakan Sekretaris Negara Urusan Pendidikan menentukan NORMA 1040 JAM PELAJARAN WAJIB SETAHUN. Tidak peduli ada gurunya atau tidak. Tidak peduli bahwa guru yang dipasang sebenarnya tidak cocok atau bahkan tidak berhak dan tidak mampu mengajar di bidang mata pelajaran yg bersangkutan. Murid-murid tsb tetap saja harus tinggal di kelas, untuk memenuhi norma 1040 jam pelajaran setahun. Murid-murid diharuskan tinggal di kelas. Kalau tak ada gurunya, disuruh cari kegiatan sendiri.


Keruan saja para pelajar tsb memprotes, marah dan turun ke jalan-jalan untuk beraksi, berdemo, karena pendapat mereka tidak digubris samasekali oleh pemerintah.


Sesungguhnya, tuntuan para pemuda-pelajar itu sederhana saja. Seperti yang dinyatakan oleh LAKS, Landen Aktie Komitee Scholieren (Komite Nasional Aksi Pelajar), mereka menuntut diturunkannya norma-minimum 1040 jam pelajaran yang diwajibkan pada para pelajar tsb. Mereka menolak dipaksa tinggal di kelasnya tanpa diberi pelajaran yang sepatutnya.


* * *

Seluruh Belanda dicengkam oleh pemogokan pemuda-pelajar. Mereka memprotes, mengeritik, melawan dan menentang kebijakan pemerintah, c.q. Sekretaris Negara Urusan Pendidikan, Marija van Bijsterveld. Dia ini sebelumnya adalah mantan ketua parpol Kristen Demokrat (CDA). Parpolnya Perdana Menteri Peter Balkenende.


Berhari-hari lamanya TV, Radio dan pers Belanda meliput aksi dan masalah sekitar pemogokan pemuda-pelajar itu. Seperti biasa, ada yang pro dengan aksi pemuda-pelajar tsb, dan, ada yang anti. Yang anti, biasanya adalah tokoh politik, pers dan parpol kanan dan konservatif. Biasalah ---- , mereka memfokuskan pemberitaan dan komentarnya serta menyoroti segi-segi yang merupakan akibat sampingan dari aksi tsb, seperti pengrusakan dan bentrokan dengan aparat kepolisian. Sedangkan yang pro dengan aksi, (biasanya golongan progresif dan dari parpol Kiri, seperti Partai Sosialis dan Groen Links,) menyatakan simpati, sekaligus mengungkap problim yang menjadi latar belakang dan penyebab munculnya aksi-aksi adil pemuda-pelajar Belanda itu.


Dalam sidang Tweede Kamer (Parlemen) Belanda kemarin, ternyata Sekretaris Negara Pendidikan, bersikeras membela kebijakannya. Ia tetap mempertahankan NORMA 1040 JAM PELAJARAN WAJIB. Meskipun disana-sini diusahakan 'penyesuaian'. Sikap ini ditolak oleh perhimpunan pemuda-pelajar yang tergabung dalam LAKS. Oleh karena itu, besok 'Jum'at, 30 November 2007, para pemuda-pelajar Belanda akan beraksi demo lagi. Turun ke jalan-jalan dan mengadakan rapat umum di lapangan Museumplein, Amsterdam. Menarik pelajaran dari terjadinya bentrokan dengan aparat pada aksi-aksi yang lalu, organisasi LAKS mengumumkan tata-tertib aksi sendiri.


Kepada cucuku, kukatakan bahwa aksi pemogokan itu adalah adil dan demokratis. Oleh karena itu pantas memperoleh dukungan masyarakat!. Pemerintah Belanda seyogianya mendengar baik-baik pendapat para pemuda-pelajar yang berdemo, (dan juga mendengar dan berunding dengan para guru dan dosen) , untuk kemudian mengambil sikap yang bijaksana. Karena ini menyangkut nasib mereka, para pemuda-pelajar dan para dosen dan guru. Menyangkut haridepan pendidikan di Belanda.



* * *



No comments: