Wednesday, April 16, 2014

IRIAN JAYA ATAU PAPUA ADALAH INDONESIA . . Asvi Warman Adam -- KEMBALIKAN IRIAN PADA BANGSA INDONESIA !

Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 15 April 2014
----------------------------

IRIAN JAYA ATAU PAPUA ADALAH INDONESIA . .

Asvi Warman Adam -- KEMBALIKAN IRIAN PADA BANGSA INDONESIA !


Minggu lalu aku menerima kiriman artikel yang ditulis oleh historikus Asvi Warman Adam. Judulnya sungguh menarik dan penting sekali: “KEMBALIKAN IRIAN PADA BANGSA INDONESIA!”


Dalam tulisannya itu Asvi Warman Adam mengkonfrontasikan dua fakta sejarah:


Yang satu: Terjadi pada tanggal 1 Desember 1961. Ketika itu 70 figur politik Papua (yang masih merupakan koloni Belanda) mengibarkan bendera Bintang Kejora, bersanding dengan bendera Merah-Putih-Biru (Nederland). Para elite Papua pengikut Belanda menyepakati nama Papua Barat untuk bangsa mereka. Juga diresmikan lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua”, lambang negara “Burung Mambruk”dan semboyan “Satu rakyat, satu jiwa” (One People, One Soul).


Fakta sejarah satunya: Pemerintah Indonesia menganggapnya sebagai percobaan Belanda untuk mendirikan negara boneka Papua. Nieuw Guinea memang termasuk bagian Hindia Belanda yang status wilayahnya belum selesai dengan Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Setelah itu dilakukan beberapa kali perundingan baik bilateral maupun di PBB, namun tidak membuahkan  hasil.


Sebagai penolakan pembentukan negara boneka Papua itu, (18 hari setelah percobaan Belanda membentuk negara boneka Papua) – Presiden Soekarno mencanangkan Trikora (Tri Komando Rakyat) di Yogyakarta pada 19 Desember 1961. Salah satu komando adalah mengibarkan bendera Merah Putih di Irian Barat. Jadi yang akan direbut dari penjajah Belanda adalah Irian Barat bukan Papua.    


Dua fakta sejarah yang dikonfrontasikan oleh peneliti senior LIPI, Asvi Warman Adam. Yaitu percobaan Belanda mendirikan negara boneka Papua, pada tanggal 1 Desember 1961, dan, – – – – Komando Trikora Presiden Sukarno, tanggal 19 Desember 1961, untuk mengibarkan bendera Merah Putih di Irian Barat. Inilah hakikat konflik Indonesia-Belanda setelah perginya Belanda dari Indonesia dan berdirinya negara Republik Indonesia Serikat.


Konflik RI-Nederland ini berakhir dengan dibebaskannya Irian Barat melalui proses pelaksanaan perjuangan Trikora yang disusul dengan penyelesaian lewat PBB.


Bagi bangsa ini soalnya mengenai sengketa dengan Belanda sekitar Irian Barat, telah selesai dengan PEMBEBASAN IRIAN BARAT.


Namun, kolonialisme Belanda meninggalkan 'bom waktu' berupa persiapan dengan sementara figur politik Papua untuk membentuk negara boneka Papua.
'Bom waktu' ini beroperasionil dengan pembentukan dan kegiatan OPM yang bertujun sama denga pertemuan 70 figur politik Papua dengan penguasa Belanda di Irian Barat, ketika Irian Barat masih merupakan koloni Belanda.


* * *    


Aswi Warman Adam mengungkap lebih lanjut, mendalami konflik yang terjadi di Papua dewasa ini. Tulis Asvi:
Sejak tahun 1969 telah dilakukan pembangunan fisik di bumi Irian yang sayangnya disertai dengan kekerasan dan tidak luput dari pelanggaran HAM Berat. Ini menjadi memoria passionis (masa kelam) masyarakat Irian. Oleh sebab itu menurut hemat saya berbagai pelanggaran HAM Berat yang terjadi di sana sepanjang Orde Baru sampai era Reformasi harus diusut tuntas. Kasus pembunuhan Theys Eluai hanya mengadili pelaku lapangan bukan antor intelektualnya. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Irian perlu pula dibentuk


Aswi mengungkapkan:
1 Januari 2000 Presiden Abdurrachman Wahid mengubah kata Irian Jaya dengan Papua. Katanya untuk meredam konflik.
Penggantian kata tersebut tidak menyelesaikan masalah mendasar.
Persoalan orang Papua yang utama adalah menyangkut sumber daya alam dan kewenangan daerah. Otonomi Khusus harus dilakukan secara efektif demi kesejahteraan rakyat Irian bukan elitnya saja. Selanjutnya pemerintah Indonesia tidak berdaya menekan Freeport agar membangun smelter yang jelas menguntungkan dan membuka lapangan kerja di daerah. Kebijakan keamanan pun masih lemah


Asvi selanjutnya menandaskan, bahwa:


Penggantian nama Papua itu menghilangkan sejarah perjuangan merebut Irian Barat dari penjajah Belanda. Padahal perjuangan itu dapat disambungkan dengan benih persemaian nasionalisme di bumi Irian melalui para Digulis sejak tahun 1926/1927. Dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia para tokoh Irian juga turut serta, Frans Kaisiepo, Martin Indhey, Silas Papare dan Abraham Dimara telah diangkat menjadi pahlawan nasional karena jasa-jasa dan pengorbangan mereka untuk negara dan bangsa Indonesia. Bahkan ditarik lebih jauh lagi, sejarah Irian juga berhubungan dengan Tidore sebagaimana digambarkan dengan bagus dalam disertasi Muridan S Widjojo (alm) tentang perjuangan Pangeran Nuku  di Universitas Leiden.

* * *

Silakan pembaca membaca selengkapnya artikel penting Asvi Warman Adam, berikut ini:



Dimuat pada Koran Tempo, 10 April 2014
KEMBALIKAN IRIAN PADA BANGSA INDONESIA !
                                   Asvi Warman Adam


Tanggal 1 Desember 1961, 70 figur politik Papua mengibarkan bendera Bintang Kejora (disebut juga Bintang Fajar, Sampari, atau The Morning Star) bersanding dengan bendera Belanda Merah-Putih-Biru. Para elite Papua pengikut Belanda itu juga menyepakati nama Papua Barat untuk bangsa mereka, lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua”, lambang negara “Burung Mambruk”dan semboyan “Satu rakyat, satu jiwa” (One People, One Soul).

Peristiwa ini dipandang pemerintah Indonesia sebagai percobaan untuk membuat negara boneka Papua oleh pihak Belanda. Nieuw Guinea memang termasuk bagian Hindia Belanda yang status wilayahnya belum selesai dengan Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Setelah itu dilakukan beberapa kali perundingan baik bilateral maupun di PBB, namun tidak membuahkan  hasil.
Sebagai penolakan terhadap pembentukan negara boneka Papua itu Presiden Soekarno mencanangkan Trikora (tri komando rakyat) di Yogyakarta pada 19 Desember 1961. Tanggal 19 Desember dipilih untuk mengingatkan tanggal agresi militer Belanda ke ibukota Yogyakarta tahun 1948. Salah satu komando adalah mengibarkan bendera Merah Putih di Irian Barat. Jadi yang akan direbut dari penjajah Belanda adalah Irian Barat bukan Papua.    

Nama Irian (ada pula yang mengeja Iryan) diusulkan Frans Kaisiepo (sumber lain menyebutkan sepupunya Marcus Kaisiepo) dalam Konferensi Malino tahun 1946. Dalam bahasa Biak kata Irian berarti “negeri yang panas hawanya” atau juga “mentari yang menghalau kabut”. Ini bermula dari kisah nelayan Biak yang naik sampan menuju menuju Pulau Besar (daratan Papua). Jika melihat sebersit sinar mentari pagi, mereka berteriak “Irian”, artinya mentari akan menghalau kabut dan harapan mencapai pulau besar akan tercapai. Kaisiepo menegaskan dia tidak sudi lagi disebut "Papua", karena nama itu di Nieuw Guinea identik dengan "bodoh, malas, kotor".   

Residen Van Eechoud tidak senang dengan usulan Kaisiepo tadi. Tapi apa lacur? Jawatan Penerangan Belanda (RVD) di Batavia di mana bekerja J.H. Ritman mantan Pemred Bataviaasch Niuesblad dan H. Van Goudoever mantan Pemred De Locomotif sudah terlanjur menggunakan nama Irian. Bahkan di tengah masyarakat Biak beredar ungkapan bahwa  Irian ialah singkatan dari "Ikut  Republik Indonesia Anti-Nederland." Kelak Presiden Soekarno juga menggunakan sebutan Irian.
Setelah Trikora diumumkan, segera dibentuk Komando Mandala yang dipimpin Soeharto. Infiltrasi dilakukan oleh tentara Indonesia. Jos Sudarso gugur dalam pertempuran di laut Arafuru. Sementara itu di sisi lain, diplomasi Indonesia sangat menentukan. Soekarno melakukan perundingan dengan Presiden Amerika Serikat JF Kennedy. Menteri Luar Negeri Soebandrio berpidato di PBB.  A.H.Nasution bermanuver dengan rencana pembelian senjata kepada Uni Soviet. Akhirnya AS mendukung Indonesia dan memojokkan Belanda. Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi 1 Mei 1963 dan tahun 1969 dilakukan Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) yang walaupun dilakukan tidak dengan sistem one man one vote, sudah diakui sah oleh PBB.

Sejak tahun 1969 telah dilakukan pembangunan fisik di bumi Irian yang sayangnya disertai dengan kekerasan dan tidak luput dari pelanggaran HAM Berat. Ini menjadi memoria passionis (masa kelam) masyarakat Irian. Oleh sebab itu menurut hemat saya berbagai pelanggaran HAM Berat yang terjadi di sana sepanjang Orde Baru sampai era Reformasi harus diusut tuntas. Kasus pembunuhan Theys Eluai hanya mengadili pelaku lapangan bukan antor intelektualnya. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Irian perlu pula dibentuk. 

Tanggal 1 Januari 2000 Presiden Abdurrachman Wahid menyampaikan bahwa kata Irian Jaya diganti dengan Papua. Ini katanya untuk meredam konflik. Menurut hemat saya penggantian kata tersebut tidak menyelesaikan masalah mendasar. Persoalan orang Papua yang utama adalah menyangkut sumber daya alam dan kewenangan daerah. Otonomi Khusus harus dilakukan secara efektif demi kesejahteraan rakyat Irian bukan elitnya saja. Dewasa ini pemekaran kabupaten dan kota yang sudah berjumlah 33 buah ini di Irian lebih banyak menjadi masalah ketimbang solusi. Sementara itu pemerintah Indonesia tidak berdaya menekan Freeport agar membangun smelter yang jelas menguntungkan dan membuka lapangan kerja di daerah. Kebijakan keamanan pun masih lemah.

Penggantian nama Papua itu menghilangkan sejarah perjuangan merebut Irian Barat dari penjajah Belanda. Padahal perjuangan itu dapat disambungkan dengan benih persemaian nasionalisme di bumi Irian melalui para Digulis sejak tahun 1926/1927. Dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia para tokoh Irian juga turut serta, Frans Kaisiepo, Martin Indhey, Silas Papare dan Abraham Dimara telah diangkat menjadi pahlawan nasional karena jasa-jasa dan pengorbangan mereka untuk negara dan bangsa Indonesia. Bahkan ditarik lebih jauh lagi, sejarah Irian juga berhubungan dengan Tidore sebagaimana digambarkan dengan bagus dalam disertasi Muridan S Widjojo (alm) tentang perjuangan Pangeran Nuku  di Universitas Leiden.  

Gus Dur tidak mengeluarkan Keputusan Presiden, namun penggantian nama tersebut terdapat dalam Undang-Undang no 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Propinsi Papua. Tergantung kepada parlemen yang baru dipilih 9 April 2014 untuk merevisi Undang-Undang tentang Otonomis Khusus sehingga Papua kembali menjadi Irian. (Dr Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI)

Demikian selengkapnya artikel Asvi Warman Adam.

* * *

Untuk menambah bahan sejarah selanjutnya sekitar IRIAN BARAT, atau PAPUA, baik kiranya membaca buku tulisan Koesalah Subagyo Toer, berjudul:

KRONIK IRIAN BARAT (Abad-abad Pertama Masehi Sampai 1965). Penerbit Teplok Pres, 2011.

Penerbit a.l berkomentar sbb:

Buku ini sangat berharga bagi siapapun yang ingin membangun pemahaman sosiologis-historis tentang Irian Barat. Penyusun kronik tentang Irian Barat oleh pemerhati budaya kawakan Koesalah Subagyo Toer ini sangat kaya akan informasi dari sumber-sumber tidak terduga dan jarang dipublikasikan karena semangat keberfihakannya. “

* * *






  



.








   








 










MEROKOK ATAU BERHENTI MEROKOK?

Kolom Ibrahim Isa
Senin 14 April, 2014
----------------------------

----------------------------------------------------------
MEROKOK ATAU BERHENTI MEROKOK?
----------------------------------------------------------



Bung Anjar Abinaya Basupati y.b. (namanya cukup panjang) ------

Ya, memamg - . . . (lucu, ya,-- baru kenalan sudah berdialog, welcome) ----


Industri rokok menyangkut nasib, bukan saja pemilik pabrik dan pedagang rokok, tapi juga menyangkut nasib ribuan karyawan di kebun-kebun tembakau dan di pabrik-pabrik rokok...


Juga nyerempet-nyerempet karyawan perkebunan cengkeh . . . Banyak tali temalinya. .. jika merokok dan industri rokok mau dilarang. Tidak sesederhana itu soalnya, , , betul . .


Segi lainnya, pemerintah banyak dapat pajak rokok . . Jadi, tidak bisa dilarang begitu saja. . . . . . .

Saya sendiri dulunya PALING JAGO MEROKOK. Kemudian atas dasar pertimbangan sendiri (kesehatan dan keuangan) . . memutuskan BERHENTI MEROKOK.

Setelah berhenti merokok . .,


Rasanya dan nyatanya jadi lebih segar dan lebih sehat. . selain 'uang rokok' bisa untuk keperluan lain.. .


Walhasil, it is up to you to decide . . .

TO SMOKE OR NOT TO SMOKE . . .
Salam, isa.

SEBUAH “CANANG” UTK PDI-P DAN MEGAWATI

Kolom IBRAHIM ISA
Minggu, 13 April 2014
------------------------------

SEBUAH “CANANG” UTK PDI-P DAN MEGAWATI

* * *

Situasi politik tanah air Pasca “09/4”, pemilihan legeslatif yang lalu, di dunia media . . . nasional maupun internasional, menampilkan berbagai analisis yang menarik.

Diantara sekian banyak komentar dan analisis, tulisan Michel Maas (12 April '14), wartawan “de Volkskrant” yang bertugas di Jakarta, termasuk mengandung analisis yang baik direnungkan dan dipertimbangkan. Teristimewa bagi PDI-P dan para pendukungnya.

Analisis tsb baik dijadikan canang bagi para petinggi PDI-P, khususnya bagi Ketum Megawati Sukarno Putri dan Puan Maharani.

* * *

Tulis Michel Maas dengan tajam: “Kampanye pemilihan telah menjelaskan sebuah problem fundamental: pemimpin partai Megawati dan putrinya Puan Maharani, ---- merekalah yang berkuasa”.

Penganalisis khawatir nanti akan terulang lagi praktek 'dagang sapi' di dunia perpolitikan. Sebagaimana terjadi selama ini di Indonesia.

Tulis wartawan Belanda itu selanjutnya: “PDI, singkatnya, masih saja seperti selama ini, adalah sebuah kendaraan (politik) untuk kekuasaan bagi ex-presiden Megawati, putri Sukarno. Dia yang melakukan perundingan dengan yang kemungkinan diajak berkoalisi. Dialah juga yang memilih siapa-siapa yang akan jadi calon wapres. Baru nanti belakangan Jokowi boleh memilih dari tiga kandidat (yang sudah dipilih lebih dulu oleh Mega). Katanya ia (Jokowi) yang terakhir yang menentukan, tapi tidak lebih dari itu.

Lalu saran yang cukup bersahabat yang diajukan oleh Michel Maas, sbb:

Jokowi hanya bisa memenuhi harapan, bila ia diberikan kebebasan, untuk menentukan politiknya dan menyusun kabinetnya sendiri. Sebagai gubernur Jakarta Jokowi telah menciptakan keajaiban. Ia menangani problim-problim yang dulunya dianggap merupakan problim yang tidak mungkin dipecahkan. Dan ia menanganinya dengan kejernihan dan kesegaran. Yang membuatnya jadi fonomena, menjadi luar biasa, terkenal jauh di luar kota (Jakarta).

Ia lain: Ia bukan bagian dari 'establishment politik'. Ia tidak memutar-balikkan hukum dan undang-undang demi kepentingannya sendiri. Dan ia tidak ambil bagian dalam praktek 'salam témpél', korupsi.

Sebagai orang yang jujur ia telah menjadi pahlawan rakyat, yang mengharapkan bila ia (nanti) jadi presiden, juga bisa mengadakan pembersihan besar yang seperti ia lakukan selama ini.

Tapi setelah apa yang terjadi akhir minggu ini – – apa hal itu bisa terjadi atau tidak kita lihat saja.

Demikian Michel Maas, wartawan 'de Volkskrant” di Jakarta.

* * *

Untuk para pemilih yang telah 'mencoblos' tanda gambar NOMOR 4, PDI-P, hasil pemilihan 09 April y.l merupakan suatu 'kekecewaan' . Pemimpin-pemimpin PDI-P meramalkan bahwa PDI-P paling tidak akan menggondol 25% suara.

Diberitakan bahwa Jokowi pernah 'nyeletuk' PDI-P akan capai 35%. Pemilihan 09 April lalu, PDI-P dapat HANYA sekitar 20% SAJA. Benar PDI-P keluar dari pemilihan sebagai parpol terbesar, tetapi jauh dari harapan PDI-P dan pendukungnya.

* * *

Wartawan Aboeprijadi Santoso, menulis di Facebook, bahwa yang keluar sebagai pemenang adalah PKB. PDI-P malah kalah.

Dari Jakarta seorang kawan menyampaikan bahwa hasil diluar harapan PDI-P disebabkan oleh sebab pokok a.l dalam masalah kampanye pemilihan yang dilakukan oleh PDI-P.

Ini nyambung dengan apa yang dinyatakan oleh Jokowi sendiri:

Seharusnya mereka (PDI-P) secara besar-besaran melakukan kampanye pada saat saya menyatakan kandidatur saya, tetapi mereka tidak melakukannya”. . Kami bahkan tidak memperoleh anggaran sama sekali untuk memasang iklan. Baru tiga hari menjelang pemungutan suara. Ada perubahan. Itu sudah terlambat. Kata Jokowi.

Analisis wartawan Michel Maas, bagi sementara pembaca mungkin nyambung dengan analisis mereka sendiri. Bagi banyak pembaca merupakan suatu pengungkapan.

* * *

Bagi PDI-P dan Megawati, analisis Michel Maas patut menjadi canang.

Masalahnya menyangkut kehidupan intern parpol PDI-P. Seyogianya PDI-P dengan serius memperhatikan dan mempertimbangkan suara-suara kritis mengenai langgam pimpinan PDI-P di dalam partainya, khususnya peranan Megawati dan putrinya Puan Maharani. Dalam satu kata “tidak demokratis”.

Ditengah ramainya komentar dan analisis bisa juga dibaca yang bagi banyak pendukung Jokowi merupakan angin segar:

Jokowi akan pimpin tim sukses sendiri, tak di bawah Puan. "Iya berbeda. Mbak Puan tetap di Pemilu.

Dan saya juga akan turun sendiri untuk pemenangan," tegasnya di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (11/4).

* * *

Bravo untuk MAYANTI TRIKARINI II C.S. . .

Kolom Ibrahim Isa
Rabu, 09 April 2014
---------------------------

Bravo untuk MAYANTI TRIKARINI II C.S. . . .

*    *    *


Karena MEMILIH BERARTI PEDULI DAN PRIHATIN . . .
JUGA BERARTI MENARUH HARAPAN PADA HARIDEPAN TANAH AIR DAN BANGSA . . . .

- - DITENGAH-TENGAH LAUTAN PESIMISME DAN APATISME. . . . BERUSAHA MENEGAKKAN OPTIMISME . ..

BERARTI JUGA MAU IKUT BERTANGGUNG-JAWAB . . BERARTI JUGA BERANI TANGGUNG RISIKO SEANDAINYA "SALAH-PILIH" - - -


LEBIH BAIK KETIMBANG bersikap, 'lepas tangan' . . . melihat saja dari jauh . .. bagaimana demokrasi Indonesia diberlakukan dan DIPERJUANGKAN . . .



SALAM HANGAT UNTUK KELUARGA FNGIDAEJ - SUPRIJO . . .
ISA
Jangan Golput !

MENTOR POLITIK SAYA ---- BUNG KARNO, MEGAWATI SUKARNOPUTRI DAN RAKYAT

Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 08 April 2014
------------------------------

MENTOR POLITIK SAYA ---- BUNG KARNO, MEGAWATI SUKARNOPUTRI DAN RAKYAT

* * *

Mengapa memilih JOKOWI?

Pertanyaan ini sering kedengaran. Diajukan oleh yang belum atau tidak “mengetahui”, MENGPA HARUS MILIH JOKOWI, calon PDI-P? Mengapa bukan Prabowo Subianto, calpres Gerindra. Atau Aburizal Bakrie, pemimpin Golkar? Atau lainnya?

Menurut Anies Baswedan, salah seorang yang dicalpreskan oleh Partai Demokrasi, PD, partainya SBY, -- Prabowo Subianto, yang mantan jendral itu, maupun Aburizal Bakrie, yang pengusaha besar, adalah calpres-calpres yang “bermasalah”. Prabowo ada “masalah pelanggran HAM”, dan Aburizal Bakrie ada masalah “lumpur Lapindo”.

* * *

Agung Gumelar, jendral (prnw) TNI, menyatakan (Rmol,7/4/'14), a.l bahwa
Sosok Prabowo Subianto memiliki nilai minus . . . Prabowo Subianto tidak layak memimpin Indonesia.

"Saya tahu persis siapa dia. Karena bekas anak buah saya. Jangankan menjadi presiden, untuk mencalonkan diri sebagai presiden saja harusnya dia malu,"

Jelas Agum selanjutnya: --- "Berawal pada kasus '98, sebuah kasus yang terjadi di jajaran Kopassus penculikan beberapa aktifis terjadi. Pada kasus ini, Prabowo lah tersangkanya,"

Agum: “. . .kasus penculikan beberapa aktifis ini mendapat reaksi cukup keras dari dunia internasional. Kerjasama Indonesia dengan beberapa negara luar diputus. Saat itu Pimpinan ABRI, langsung melakukan penyelidikan terhadap kasus yang masuk katagori pelanggaran berat. Harusnya kasusnya ditangani Mahkamah Militer, . . .

Untuk melanjutkan pemeriksaan, petinggi ABRI membentuk Dewan Kehormatan Perwira (DKP) . . . Dalam pemeriksaan, DKP menyimpulkan dalam bentuk rekomendasi panglima ABRI untuk memberhentikan Prabowo Subianto Djojohadikusumo yang saat itu berpangkat Letnan Jendral (Letjen).

Demikian mantan jendral TNI Agung Gumelar, menjelaskan apa sebabnya SUBIANTO tidak layak memimpin Indonesia . .

* * *

Tinggallah calpres PDI-P yang prestasinya a.l selama walikota di Solo dan kemudian menjabat Gubernur Jakarta, adalah tokoh yang dinilai dekat dengan rakyat, langsung membenahi masalah yang dihadapi . .. berani mengahadapi pejabat yang tidak becus dan tidak mampu maupun yang korup,

Dalam ruangan ini pernah ditulis bahwa “tanpa PDI-P dan Megawati, Jokowi, tidak ada apa-apanya”. Tulisan tsb sekadar menekankan dan mengangkat serta mengingatkan bahwa Jokowi adalah seorang kader politik yang dibina oleh PDI-P dan ketua umumya Megawati Sukarnoputri. Menjelaskan saling hubungn dan keterpautan kegiatan politik Jakowi dengan PDI-P dan ketumnya Megawati.

* * *

Dewasa ini, -- PDI-P adalah satu-satunya parpol yang dengan tegas menyatakan bahwa visi dan misi politiknya dalam membangun Indonesia yang adil dan makmur, dan strategi besar pembangunan Indonesia Merdeka, yang akan ditempuhnya adalah seperti yang digariskan BAPAK NASION, Bung Karno, dalam TRISAKTI.

Bagaimana visi dan misi Jokowi sebagai calon presiden Pemilihan Presiden 2014?

Minggu yang lalu Jokowi menjelaskan:

"Tiga mentor politik saya. Bung Karno, Megawati Soekarnoputri dan rakyat,".

Selanjutanya Jokowi menjelaskan sekitar: Surat Perintah Empat Perjuangan,"


Pertama, amankan Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika.
Kedua, jalankan Trisakti secara konsisten melalui pembangunan semesta berencana.
Ketiga, utamakan prinsip musyawarah dan gotong royong serta
Keempat dedikasikan hidupmu untuk rakyat.


* * *

Bagi banyak aktivis pro-Reformasi dan pro-Demokrasi, dalam melaksanakan pemilihan umum untuk caleg dan presiden, perlu memanfatkan situasi secara maksimal .. dengan menggalakkan pendidikan politik bagi rakyat

Ini berarti memberikan dorongan semangat baru, agar mengakhiri kenyatan 'jalan di tempat' dalam peroses perubahan Reformasi dan Demokratisasi –

Berarti dengan segera memulai lagi kegiatan dan perjuangan demi pemberlakuan Reformasi dan Demoratiasi yang lebih kongkrit, konsisten dan aktuil.

* * *
WAWANCARA DENGAN MUKHTI --- SEKITAR OISRAA – Senin, 07 April 2014

* * *

Beberapa pertanyaan dan jawaban seputar OISRAA:

    1 -- Bisa Anda ceritakan secara singkat berdirinya OISRAA (siapa pencetus, penggerak, kapan berdiri, di mana, siapa anggotanya, tujuan pendirian, dan lain sebagainya)?
    Jawab:
    OISRAA, Organisasi Indonesia Untuk Setiakawan Rakyat-Rakyat Asia-Afrika, didirikan dalam tahun 1959. atas seruan AAPSO , Afro-Asian Peoples Solidarity Organization. AAPSO didirikan di Cairo, pada Konferensi Pertama Setiakawan Rakyat-Rakyat Asia-Afrika1, 1957/58.
    Konferensi AAPSO, adalah konferensi di tingkat ormas dan atau badan perjuangan kemerdekaan negeri-negeri Asia dan Afrika, yang pertama di Cairo. AAPSO adalah kelanjutan dari Konferensi Asia-Afrika, Bandung 1955, (yaitu konferensi dari 29 negeri-negeri A|sia dan Afrika yang kebanyakan terdiri dari wakil-wakil pemerintahan) yang diadakan dalam rangka mengintensifkan perjuangan anti-kolonialisme dan anti- imperialisme untuk kemerdekaan nasional yang penuh. Juga dalam rangka setiakawan dengan Mesir yang baru saja mengalami agresi tiga negara (Tripartite Agresssion, 1957), oleh Inggris-Perancis dan Israel. Penggerak utama Konferensi AAPSO di Cairo, adalah SEMANGAT BANDUNG, The Bandung Principles, (1955), yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika di Bandung, April 1955.

OISRAA didirikan di Jakarta, oleh pelbagai tokoh dari parpol; dari PNI – Mansur -- dari PKI, Nyoto; -- Partindo, PSII, PKI, NU, dari serikat buruh, tani, mahasiswa dan dari Komite Perdamaian Indonesia. Dari PSSI antara lain H. Anwar Tjokroaminoto; -- dari PERTI, K.H., Sirajuddin Abbas; .. tokoh non-Partai, a.l. Ibu Suryadharma, rektor Universitas RESPUBLICA. Ibu Utami Suryadharma dipilih menjdi Ketua OISRAA – Sekjen: Ibrahim Isa (dari Komite Perdamaian).

Tujuan OSIRAA adalah mengefektifkan dan mengembangkan setiakawan rakyat Indonesia terhadap perjuangan rakyat AA untuk kemerdekaan nasional. Ketika itu masih berlangsung “Perang Vietnam” melawan kolonialisme Perancis. Sedangkan di benua Afrika, lebih separuh rakyat Afrika masih terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme Inggris, Perancis, Potugal, Spanyol dan rezim Apartheid di Afrika Selatan.

Di satu fihak kita memberikan setiakawan kita kpd rakyat-rakyat AA yang sedang berjuang demi kemerdekaan nasional melawan kolonialisme-imperialisme .. di lain fihak kita juga menggalang solidaritet AA terhadap perjuangan kita, bangsa Indonesia, untuk pembebasan Irian Barat dari kolonialisme Belanda.

* * *


    2 -- Satu hal yang saya masih belum pahami dengan baik, apakah OISRAA dan AAPSO organisasi yang sama, atau OISRAA bagian dari AAPSO, atau bagaimana? Di mana kantor OISRAA Jakarta berada waktu itu?

Jawab -------
Dua organisasi itu --- AAPSO dan OISRAA ... tidak sama. AAPSO adalah organisasi internasional terdiri dari negeri-negeri Asia daqn Afrika . . . Sedangkan OOISRAA adalah organisasi nasional Indonesia, dan menjadi anggota dari organisasi internasinal -- AAPSO.

-- Sebelum berdirinya rezim ORBA -- kantor OISRAA, beralamat di Jalan Raden Saleh No 52, Jakarta, -- bersama di satu gedung dengan Kantor Komite Perdamaian Indonesia.


    3 -- Bisa ceritakan awal mula keterlibatan Anda di OISRAA (siapa yang mengajak, tugas utama, dsb)?

Jawab ---- :
Ketika itu saya aktivis Komite Perdamaian Indonesia dan menjabat Sekretaris Komite Perdamaian Indonesia... Kawan-kawan yang hendak menirikan OISRAA, minta agar saya bersedia menjabat sebagai Sekjennya.
Saya bersedia untuk juga melakukan kegiatan sebagai aktivis gerakan Setiakawan Rakyat-Rakyat Asia-Afrika.

Dalam tahun 1960, Organisasi AAPSO yang bermarkas di Cairo, Mesir, minta agar ada wakil Indonesia yang menempati Badan Sekretariat Tetap AAPSO (yaitu badan eksekutif, terdiri dari 9 negeri Asia-Afrika, yang melakukan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari dari AAPSO). Ketika itu eksekutif OISRAA minta kesediaan saya untuk mewakili Indonesia di organisaswi AAPSO di Cairo. Akhhir 1960 saya berangkat ke Cairo untuk memenuhi tugas itu.

    4 -- Apa saja yang dilakukan OISRAA, semisal mempersiapkan Konferensi Tri Kontinental di Havana, bisa ceritakan?

Jawab ----:
OISRAA menghubungi pemerintaah Indonesia ketika itu, dan mendesak
Deparlu agar memberikan bantuan dan fasilitas untuk dibuka dan bisa bekerjanya kantor-kantor perwakilan badan perjuangan kemerdekaan dari Viatnam Selatan, Aljazair dan Afrika Selatan. Deparlu memenuhi permintaan kami, dengan demikian dibuka kantor perwakilan badan perjuangan dari Vetnam Selatan (FNPVS, Front Nasional Pembebsan Vietnam Selatan); dari Aljazair, ( Front Pembebasan Nasional Aljazair), dan dari badan perjuangan Afrika Selatan melawan Apartheid. OISRAA mengusahakan agar pemerintah Indonesia memberikan bantuan kongkrit kepada ketiga badan perjuangan tsb.

OISRAA ambil bagian dalam persiapan Konferenssi Trikontinental AAA di |Havana (1966). Saya ditugaskan untuk hadir di sana dalam panitia persiapannya.

    5 --- Di buku "Bui Tanpa Jerajak Besi" Anda menuliskan bahwa jabatan Anda di OISRAA Anda pergunakan untuk kampanye Pembebasan Irian Barat di dunia internasional. Apakah hanya untuk itu Anda menerima jabatan tersebut atau itu hanya sampingan? Apa saja yang OISRAA lakukan untuk mengkampanyekan Irian Barat?

Jawab: -----
Tugas utama ke Cairo, adalah mewakili Indonesia di badan setiakawan rakyat AA, AAPSO. Bersama dengan wakil=-wakil Asia-Afrika lainnya melakukan segala macam usaha dan kegiatan untuk menyokong perjuangan rakyat AA melawan kolonialisme dan imperialisme untuk kemerdekaan nasional. Tugas sehubungan dengan perjuangan I|ndonesia untuk pembebasan Irian Barat adalah tugas yang dilakukan bersamaan.

    6 -- Bagaimana kaitan OISRAA dengan organisasi-organisasi Asia-Afrika yang lain, semisal Persatuan Wartawan Asia-Afrika?

Jawab: Kaitannya, adalah kerjasama, saling bantu dan saling memberikan informasi dan fasilitas – dalam rangka memajukan gerakan solidaritas Asia-Afrika umumnya. Antra lain dengan Konferensi Wartawan AA.


    7 -- Sejarawan Boni Triyana mengatakan, pernah mendengar informasi dari Pak Isa bahwa OISRAA aktif bekerjasama dengan ANC (African National Congress) dan NLF (National Liberation Front)     Aljazair, sampai-sampai NLF punya kantor perwakilan di Jakarta di mana Lakhdar Brahimi menjadi kepala perwakilannya. Bisakah ceritakan tentang hal tersebut?

Jawab ---- :
Diatas sudah dijelaskan - -- bahwa berkat kegiatan dan desakan OISRAA kepada pemerintah RI ketika itu, Deparlu RI memberikan bantuan dan fasilitas untuk dibuka dan bekerjanya kantor tiga badan perjuangan kemerdekaan dari negeri-negeri tsb.

    8 -- Bagaimana peran Presiden Sukarno dalam pembebasan negara-negara Asia-Afrika, adakah dia ikut menyokong dana dan/atau persenjataan laiknya RRT?

Jawab:

Peranan dan kegiatan utama Presiden Sukarno ialah mengkampanyekan dan mengorganisasi terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika di Bandung (1955). Terselenggaranya dengan sukses Konferensi AA di Bandung, merupakan kemenangan besar rakyat-rakyat AA dalam perjuangan selanjutnya. Dalam berkordinasi, bersatu dan saling sokong.

Presiden Sukarno berhasil meyakinkan bangsa- bangsa AA yang diwakili dalam Konferensi AA di Bandung, untuk mengesampingkan perbedaan di kalangan sendiri dan memusatkan pada persamaan besar dalam perjuangan bersama demi kemerdekaan, menggalang setiakawan AA dan persatuan bangsa-bangsa dua benua ini.


    9 -- Bisakah Anda sebutkan sumbangsih OISRAA bagi rakyat di negeri-negeri Asia dan Afrika hingga nama Sukarno dijadikan sebagai nama jalan di beberapa negara Afrika?

Jawab ----  :
Sumbangan OISRAA yang utama adaloah mengusahakan terselenggaranya persatuan dan kerjasama serta solidaritas bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam perjuangan mereka . .. Cara yang ditempuh dalam mengusahakan dn merelasisi kerjasama dan baling bantu diantara pelbqagai bidang kegiata, . misalnya mengusahakan dan menyenggarkqan Sidang Biro Asia-Afrika di Bandung (1961); menyelenggaarakan Sidang Biro Pengarang Asia-Afrika di Bali; menyelenggarakan Konferensi Wartawan Asia-Afrika di Jakarta. Megngusahakn Festival Film AA di Jakarta.

OISRAA ambil bagian aktif dalam Komite Dana Asia-Afrika yang berkantor di Conakri, Guinea. Oisraa aktif ambil bagiqn dalam penuyelenggaraan Konferensi Juris AA (Conakry). Kemudian mengusahakan adanyta wakil Indonesia di Biro Pengarang AA di Colombo, dan wakil Indonesia di |Sekretariat Juris AA di Conakry, Guinea.


    10 -- Bagaimana kelanjutan nasib OISRAA pasca-kejatuhan pemerintahan Sukarno, yang sangat mendukungnya, apakah masih berjalan? Sementara, AAPSO sendiri hingga kini masih berjalan.

    Jawab -----:
    Setelah Jendral Suharto merebut kekuasaan di Indonesia dan mendirikan rezim Orde Baru, OISRAA dibubarkan oleh Orba. Sebagian besar anggotanya dipersekusi, ditangkap atu dibunuh.

AAPSO masih berdiri. Kantornya masih ada di Cairo. Tapi fungsinya sudah jauh berbeda dengan dulu. Kantor AAPSO di Cairo sekadar sebagai badan informasi.

Sebab utama, karena situasi Asia-Afrika sudah jauh berbeda dengan periode ketika itu. Dewasa ini semua negeri dan daerah di Afrika sudah mencapai kemerdekaan. Begitu juga di Asia situasi sudah banyak berubah.

* * *


Sekian pertanyaan-pertanyaan saya. Besar harapan saya semoga Pak Isa berkenan meluangkan waktu untuk menjawabnya. Terimakasih banyak atas kerjasamanya. Sukses selalu untuk Pak Isa.

Salam,

MF Mukthi






-------- Origineel bericht --------
Onderwerp: OISRAA
Datum: Mon, 7 Apr 2014 17:33:21 +0800 (SGT)
Van: Farohul Mukthi
Antwoord-naar: Farohul Mukthi
Aan: i.bramijn@chello.nl


Selamat sore, Pak Isa. Ini beberapa pertanyaan saya seputar OISRAA:

1. Bisa Anda ceritakan secara singkat berdirinya OISRAA (siapa pencetus, penggerak, kapan berdiri, di mana, siapa anggotanya, tujuan pendirian, dan lain sebagainya)?

2. Satu hal yang saya masih belum pahami dengan baik, apakah OISRAA dan AAPSO organisasi yang sama, atau OISRAA bagian dari AAPSO, atau bagaimana? Di mana kantor OISRAA Jakarta berada waktu itu?

3. Bisa ceritakan awal mula keterlibatan Anda di OISRAA (siapa yang mengajak, tugas utama, dsb)?

4. Apa saja yang dilakukan OISRAA, semisal mempersiapkan Konferensi Tri Kontinental di Havana, bisa ceritakan?

5. Di buku "Bui Tanpa Jerajak Besi" Anda menuliskan bahwa jabatan Anda di OISRAA Anda pergunakan untuk kampanye Pembebasan Irian Barat di dunia internasional. Apakah hanya untuk itu Anda menerima jabatan tersebut atau itu hanya sampingan? Apa saja yang OISRAA lakukan untuk mengkampanyekan Irian Barat?

6. Bagaimana kaitan OISRAA dengan organisasi-organisasi Asia-Afrika yang lain, semisal Persatuan Wartawan Asia-Afrika?

7. Sejarawan Boni Triyana mengatakan, pernah mendengar informasi dari Pak Isa bahwa OISRAA aktif bekerjasama dengan ANC (African National Congress) dan NLF (National Liberation Front)     Aljazair, sampai-sampai NLF punya kantor perwakilan di Jakarta di mana Lakhdar Brahimi menjadi kepala perwakilannya. Bisakah ceritakan tentang hal tersebut?

8. Bagaimana peran Presiden Sukarno dalam pembebasan negara-negara Asia-Afrika, adakah dia ikut menyokong dana dan/atau persenjataan laiknya RRT?

9. Bisakah Anda sebutkan sumbangsih OISRAA bagi rakyat di negeri-negeri Asia dan Afrika hingga nama Sukarno dijadikan sebagai nama jalan di beberapa negara Afrika?

10. Bagaimana kelanjutan nasib OISRAA pasca-kejatuhan pemerintahan Sukarno, yang sangat mendukungnya, apakah masih berjalan? Sementara, AAPSO sendiri hingga kini masih berjalan.


Sekian pertanyaan-pertanyaan saya. Besar harapan saya semoga Pak Isa berkenan meluangkan waktu untuk menjawabnya. Terimakasih banyak atas kerjasamanya. Sukses selalu untuk Pak Isa.

Salam,

MF Mukthi