Thursday, May 16, 2013

*Kolom IBRAHIM ISA*
*Kemis, 16 Mei 2013**
--------------------*

*Sahabatku CHALIK HAMID (75)*



Pernah sambil gurau kubilang kepada sahabatku Chalik Hamid: Bung tahu enggak apa artinya "Chalik"? Serta-merta Chalik menjawab: "Ya, tau!" Apa arti kata itu, tanyaku lagi? Chalik menengadah ke atas! Aku sela: "TUHAN yang Maha Kuasa", kataku. . . . . Ya, saya tahu, kata Chalik senyum. Chalik mengerti dan menyambut gurau akrab tsb. Orangnya memang suka gurau, periang dan jenaka pula!


* * *


Hari ini ketika kubuka komputer dan mengklik "Postvak In", salah satu berita yang masuk berjudul *"AKU 75 TAHUN".* Berita ini dikirim oleh "the King himself". Chalik sendiri yang menigirimkannya. Jarang aku membaca sajak yang demikian mengesankan dan mengharukan. Juga jarang orang merenung sedemikian rupa ketika usianya bertambah satu tahun lagi.


Chalik melukiskan masa kecilnya nun jauh di kampung halaman. Itu membikin banyak pembaca (pasti) juga mengenang masa bocahnya. . . . .


"/sembahyang dan mengaji di mesjid tua /

/mencuri jambu dan melempari mangga, . . . dst./


Ya, ya, . . . . sembahyang dan mengaji lalu mencuri jambu dan melempari mangga,

milik orang lain tentunya. Suatu ungkapan masa bocah yang betul-betul "kena".


Namun, yang paling megesankan memberikan inspirasi dan semangat, adalah

sikapnya sebagai pejuang dan patriot Indonesia yang cinta dan tanah air dan bangsa dimanapun ia berada.


Sering wartawan atau peneliti yang mewawancarai "orang eksil" bertanya: Bagaimana perasaan bapak, begitu lama menjadi warganegara asing, di negeri jauh dari tanah air.


Chalik memberikan jawaban yang "cespleng dan mantap":


"/Hari ini ulangtahunku ke 75 /

/tubuh di negeri orang hati di kampung halaman, /

/dan perjalanan masih panjang /

/di atasnya terbentang cita-cita dan harapan, /

/suatu ketika pasti terwujudkan /

/oleh generasi muda mendatang. /


* * *


Dari Murti dan aku:


*SELAMAT BER-ULTAH BUNG CHALIK *

*TERIRING DOA DAN HARAPAN TERBAIK UNTUK BUNG DAN ISTRI, AISYAH .*



Berikut ini sajak Chalik Hamid ketika ia terinspirasi menulis sajak mengenangkan

perjalanan hidupnya, . . . . . . sebagai pejuang.


* * *


*Chalik Hamid:*

Aku 75 tahun



Langit biru masih tetap seperti dulu

kadang dilindungi awan bergumpal putih,

degup jantung tak pernah henti

mengikuti gerak putaran bumi.



Hari ini aku 75 tahun

tubuh mengelana di negeri orang

hati merayap ke kampung halaman

menjelajahi lorong dan tepian sungai

merasuk ke pepohonan dan suara beduk tua.



Di kampung ini makam ayah dan bunda

di sini terkubur seluruh keluarga

sungai kampung ini menghanyutkan korban enam lima

tak dikenal entah mayat siapa.


Kenangan mengalir bagaikan air

ke masa kanak-kanak belum dewasa

sembahyang dan mengaji di mesjid tua

mencuri jambu dan melempari mangga,

berenang-renang ketika banjir tiba

berbaur bocah peria dan wanita,

berjalan kaki pergi sekolah

payung daun keladi ketika hujan,

bunyi klom yang membisingkan,

berteduh di bawah pohon pisang

menyusun angan setinggi kayangan,

duduk di pelaminan menjelang sunatan

menerima hadiah dari keluarga handai-tolan.



Ah, semua mengalir dalam ingatan

di hari tua di negeri seberang

ketika tubuh semakin renta untuk bertahan,

kawan-kawan dibunuh dibantai dengan kejam

dipinjam lalu menghilang ditengah malam,

wanita-wanita cantik diperkosa komandan penjara

yang gajinya dibayar oleh negara,

sekolah disulap jadi tempat tahanan

kantor buruh berubah jadi milik tentara.


Hari ini ulangtahunku ke 75

tubuh di negeri orang hati di kampung halaman,

dan perjalanan masih panjang

di atasnya terbentang cita-cita dan harapan,

suatu ketika pasti terwujudkan

oleh generasi muda mendatang.



Amsterdam, 16 Mei 2013.


* * *


Kemudian responsnya Chalik Hamid:


Teman-teman dan para sahabat,


Saya mengucapkan banyak terimakasih atas ucapan selamat ulangtahun saya yang ke 75 ini. Semoga kita semua selalu sehat dan panjang umur serta bisa menyaksikan kemenangan-kemenangan yang dicapai di Indonesia, betapa pun kecilnya. Antara lain: Keputusan Komnas HAM yang menyatakan adanya pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Orba Suharto atas pembantaian 1965/66. Adanya pengakuan para jagal di Medan Sumatera Utara, dalam pembunuhan kader-kader PKI dan para pengikut Bung Karno lainnya. Pengakuan ini sudah mereka nyatakan dalam sebuah film ´´The Act of Killing/ Jagal yang dihasilkan produser/sutradara Joshua Oppenheimer.

Perlahan-lahan semua kejahatan Orba itu akan terungkap dan sejarah akan memihak rakyat tertindas Indonesia.

Salam: Chalik Hamid.


* * *



*IBRAHIM ISA'S FOCUS: *
*Wednesday, May 15, 2013*
*-----------------------*


*LABOUR UNIONS *

*TAKING THE MILITANT WAY*

 

*    *    * 


*--- Taking the Militant Way*

*--- Workers Commemorate May Day*

*--- May Day, Not Mayday*

*--- Marsinah's Unfulfilled Dream*

*--- Workers Need MoreThan a Holiday on May Day *




** * **


  Said Iqbal: Taking the militant way


Ridwan Max Sijabat, The Jakarta Post, May 01 2013,

*(Courtesy of Said Iqbal)*

With his charismatic leadership, Said Iqbal, the chairman of the Confederation of Indonesian Workers Union (KSPI) undoubtedly convinced other labor unions to hold a national labor action.

The workers will still go on strike on Wednesday in observance of May Day, despite a recent meeting with President Susilo Bambang Yudhoyono at the Presidential Palace.

Iqbal has already checked with organizing committees in the regions. At least a million workers are set to rock millions more in Jakarta and other cities in North Sumatra, Riau Islands, West Java, Central Java and East Java.

"The national strike will be a reminder to tycoons and the regime. It is a necessity because justice will not come down from the sky but must be fought for," he told The Jakarta Post recently.

The strike, organized by several confederations grouped under the Indonesian Labor Union Council (MPBI), has won support from other unions and civil society groups in their efforts to reform the employment and remuneration policies.

Iqbal, also a member of the National Tripartite Forum and the National Wage Committee, gave a nod to the importance of militancy, not extremism, amid the deadlocked negotiations between employers and the government. "A strong labor union movement can be an agent of change to lift up the economic livelihood of workers."

"Labor unions have forcibly taken the militant way because other ways and roads to settle unresolved major labor issues have been closed down."

Labor relations deteriorated between 2011 and 2013, as hundreds of thousands of workers have staged national strikes each year. The ensuing chaos has led regional heads to increase local minimum wages
significantly.

Union organizers have also launched a sweeping movement against 14 of 122 companies that have attempted to introduce outsourcing for part of their core businesses in Bekasi and Cikarang, West Java.

The movements, which have included paralyzing blockades of strategic state assets such ports and toll roads, have sparked strong protests from executives, since they took place under the nose of security guards.

Iqbal, who claimed he was still working as a manager at PT Panasonic Health (PHCI) in Cibitung, said that he was questioned three times by the National Intelligence Agency (BIN). He told agents that he was true lover of the state ideology, Pancasila, to counter charges that he was left-wing socialist or a Communist.

"We are fighting just for a little justice. Our struggle is to have employers provide better jobs and pay a decent wage to workers amid good economic growth of six percent. Workers will demand nothing if the country is in a deep economic downturn."

Iqbal said that unions were fighting for better remuneration and for the implementation of the national healthcare scheme by January 2014, and were demanding that the government drop plans to raise subsidized fuel prices for private cars on fears of follow-on increases for in the price of basic commodities and rental prices.

To avoid prolonged industrial conflict, local executives should learn from Japan, South Korea and US and bargain with unions as equals, Iqbal said.

"Executives should bear in mind that workers have great solidarity and will remain loyal if management sticks to transparency, accountability and equal partnership in industrial relations," he said.

The way Iqbal has led the Federation of Indonesian Metal Worker Unions (FSPMI) and the KSPI has made him a strong candidate for the prestigious Ebee Elizabet Award given by the government of the Netherlands. Previously the Netherlands Labor Union (FNV) brought the story of Iqbal's militancy to the big screen, hoping that a film about him would inspire Dutch union members.

Iqbal, born in Jakarta in 1968 and graduating as an engineer from the University of Indonesia, conveyed his thanks to Panasonic Group boss Rachmat Gobel, who has allowed him and three other organizers to take an active part in the union movement while working at the company.

"[Rahmat] sets a good example as to what business tycoons should do to create harmonious industrial ties and maintain worker loyalty and productivity," Iqbal said.

On mushrooming labor unions, Iqbal said that, based on lessons that his has learned from the establishment of the International Free Trade Union (ICFTU) in Europe and the merger of the AFL-CIO in the United States, he has an obsession to merge the nation's 98 major labor unions to offer a powerful united front in negotiations with employers and the government.

"Aside from the merger issue, the labor unions should find common ground and objectives for workers. They have to stay independent, but not neutral because they take workers' side. They must be free from political intervention from the outside and must forge strong political bargains to fight for their common interests," he said.

According to Iqbal, labor unions should not be elitist and should rely on financing from members to cover their operations. "The FSPMI and KSPI have actively supported industrial strikes because they collect Rp 4 billion [US$412,000] and Rp 200 million annually respectively from their members' monthly dues."

Iqbal, who unsuccessfully ran as a legislative candidate for the Prosperous Justice Party (PKS) in 2009, confirmed that he no longer had an obsession to become a politician and would dedicate his life to his career at Panasonic, labor unions and his family.



* * *


  Workers Commemorate May Day


The Jakarta Post | May 02 2013,

International Workers Day, or May Day as it is more popularly called, was commemorated differently across the archipelago on Wednesday, ranging from entertaining performances to street rallies demanding improved working conditions and wages.

In Pekanbaru, Riau province, local workers and those from surrounding regencies including Siak and Kampar gathered at Politeknik Caltex Rumbai Square to watch an art performance and to participate in various traditional games.

The same fanfare was also evident in Dumai city, where workers held social activities and strolled along PT Pelindo Dumai's Pier D. Local unions had agreed not to stage rallies but instead organize positive activities, such as donating to workers' families or orphanages.

"This is our way of showing joy for the raise in the province's sectoral minimum wage [UMS]," said the Riau coordinator of the Federation of Indonesian Prosperity Trade Unions (FSBSI), Patar Sitanggang, referring to an 8.6 percent wage hike.

Workers in other regions protested on the streets. In Batam, Riau Islands, sweeps by unions to force workers to take part in rallies prompted engineering and construction company PT McDermott to send home its 3,000 workers, some of whom joined protestors at Alun-Alun Engku Putri Square.

In Palembang, South Sumatra, workers demanded the government ban outsourcing that disadvantaged workers and urged the Indonesian Employers Association (Apindo) to withdraw its challenge against province's minimum wage (UMP) at the Palembang State Administrative Court (PTUN).

In Yogyakarta, workers distributed flowers to female manual workers. "We expect a wage increase to meet our daily needs," said Tinah, one of the workers, adding that she usually worked from 5 a.m. to 4 p.m. and earned a daily average of Rp 30,000 (US$3.09).

In Samarinda, East Kalimantan, workers called for better work safety and demanded local administrations force companies to implement the health and work safety program.

In Palu, Central Sulawesi, non-governmental organizations and workers grouped under Central Sulawesi People's Struggle Front staged a rally to demand the government revoke the licenses of recalcitrant oil palm plantation companies and those without environmental impact analysis (Amdal) documents.

In Semarang, Central Java, workers marched on the city's main streets, rejecting fuel price increases and demanding decent wages and a ban on outsourcing.

Separately, journalists in the city urged media companies to pay more attention to the welfare of their journalists, especially those working as contributors and correspondents in the regions.

Protest coordinator Arif Nugroho said contributors and correspondents received low wages. The same call was made by dozens of journalists in Bandung, West Java.

Alliance of Independent Journalists' (AJI) Bandung chairman Zaky Yamani said many mass media outlets in the city violated the law.

"They pay their journalists less than the city minimum wage, lower than others working in other fields, despite the fact that their jobs is high risk while at the same time their companies do not give them health and accident insurance," Zaky said.



* * *


  May Day, not Mayday


The Jakarta Post, Editorial , May 01 2013,

Today, the world, including workers in the nation's major cities and industrial centers, are commemorating May Day. Jakarta's residents are bracing themselves and hoping that the congestion will not be too bad; although memories of previous May Day rallies blocking toll-road entrances remain fresh.

*Union leaders have warned of "1 million" protesters on Jakarta's streets alone on Wednesday, if the government shows no sign of granting the unions' wishes --- such as ending the cheap labor policy and abusive outsourcing practices, and canceling any plan to raise fuel prices. *

Employers have said such demands are unrealistic, arguing that the government will continue the subsidies for low-income people once the price of gasoline is increased. But workers say only scrapping the fuel-price hike will enable them to avoid the usual skyrocketing commodity prices that accompany every price increase of vital goods.

*Despite the arduous process of seeking common ground between workers and employers, it is clear that the nation's estimated 120 million workers need a clear voice to represent their demands to employers. *Recently the Indonesian Employers Association (Apindo) met with President Susilo Bambang Yudhoyono, requesting among other things that the government verifies the labor unions so they would have a clearer understanding of who they should be talking to. True, the post-Soeharto years have seen a mushrooming of unions to the point where it can be confusing even for the workers themselves; workers can --- at least in theory --- choose a union in a specific sector, such as the metal workers' or bus drivers' unions, or one affiliated to their personal political party or religion. Other union members, however, have been labelled preman or hoodlums.

Whoever leads the unions, employers have reiterated their concerns about the lack of legal certainty; indeed, a number of mayors and regents have backed down and changed local ordinances on the regional minimum wage increases, a measure that is feared will set a precedent for future wage decisions.

For their part, workers do not see any relevance in verifying unions with their demands, maintaining that the demands will remain the same even if the hoodlums are identified and separated from the legitimate workers. Strikes, they say, are a last resort, with talks having almost collapsed regarding a remuneration system that they regard as fairer compared to the current "cheap labor" policy, and other demands.

Beyond the detested traffic congestion, people rarely get a close look at the lives of the country's workers. What they mostly see is the vibrant "informal sector", whose workers and owners are engaged in a wide range of economic activities throughout the day and night. However, people do not witness the daily toil of workers behind factory doors --- whose complaints are only rarely expressed if they can participate in protest rallies.

The problem is that despite the rowdy and occasionally intimidating unions, workers have little bargaining power precisely because of the informal sector, which is estimated to make up two-thirds of the workforce and whose workers are labelled "underemployed" because of the low income they earn despite their long working hours.

Workers' unions have seen the result of their clout, with so many mayors and regents changing agreements reached with employers over the annual minimum wage. However, this affects only those few million workers in the formal sector, raising questions as to the effectiveness of the unions.

Their strategy must take into account the majority of Indonesian workers who do not expect any part of the labor policy to benefit them.

If the rallies do prove to be a headache for many of us, it would at least be worthwhile to know they were held for the sake of the majority of Indonesian workers. Otherwise, the unions will urgently need to revamp their strategy or risk becoming merely loud, but not all that relevant.



  Marsinah's Unfulfilled Dream


The Jakarta Post,Editorial, May 08 2013,

Over the weekend 34 young workers finally regained their freedom, after being forced to work for two years at a factory in Tangerang, Banten. Police are still investigating the treatment of the men as it is alleged they were forced to work without pay, were crammed into a single bedroom and were subjected to torture.

This appears to be one isolated case that the police will hopefully resolve. Jakarta Police spokesman Sr. Comr. Rikwanto said investigators would probe allegations that military and police personnel were involved in the case. The perpetrators may be charged under the Criminal Code for the abuse.

A thorough investigation and trial to hold perpetrators accountable would be an achievement in this nation. Though it is just one case in one of the country's major industrial areas, resolving it would at least symbolize a gesture to end impunity, at least on the factory floor.

*Today Indonesia remembers another unresolved case, hidden deep in the closet --- the death of activist Marsinah on May 8, 1993. This case, in Sidoardjo, East Java, is now 20 years old and, thus, the case has expired. Two managers from her watch factory were convicted but alleged perpetrators from the Sidoarjo military command never reached court.*

*Marsinah was among the workers who led a protest against the management and the military command for abusing workers, following their demands for better pay and work conditions.
*
Activists today are demanding an official Marsinah Day while others earlier suggested moving International Workers Day, in Indonesia, to May 8 to honor her struggle.

The protest was held at the height of the New Order's power, where close collaboration between the management and the local military were the rule. As a woman Marsinah suffered even more --- an autopsy revealed she was sexually assaulted and her inner organs were severely damaged. Subsequent leaders promised to reopen the case but with the passing of today this is no longer possible.
*
Sweeping cases like Marsinah under the carpet maintains the legacy of impunity and continued abuse against vulnerable citizens because no one gets punished.
*
The Tangerang case also opens our eyes to the unmentioned practice of slavery-like treatment within the safe borders of our country. To improve the condition of servants, for many years activists have pushed for the domestic workers law, unfortunately, so far, it has been unsuccessful.

An anti-slavery law is needed for Indonesian employers, who think nothing of having lowly paid maids at their beck and call.

*Marsinah, at 24 years old, demanded the recognition of workers as humans. The least Indonesians owe to her is to ensure the end of slavery in the country.*



** * **


  *Workers Need MoreThan a Holiday on May Day***


Margareth S. Aritonang, The Jakarta Post, May 01 2013,

Labor activists have applauded the government's decision to make May 1 a national holiday starting next year but they called on the government to better uphold the rights of workers in the country.

President Susilo Bambang Yudhoyono is expected to officially proclaim May Day a national holiday on Wednesday. Chairman of the Confederation of Indonesian Workers Union (KSPI) Said Iqbal said the plan was just the first step in a long journey to improve the lives of workers in the country.

"After more than 10 years, the government will finally establish International Workers Day as a national holiday. It is of course symbolic because making it a national holiday would not directly improve the welfare of Indonesian workers. Nonetheless, it is important to show that the state actually recognizes the labor movement in this country," Iqbal told The Jakarta Post on Tuesday.

He said that the holiday would not affect workers' productivity. "I believe that on the contrary it will encourage workers to work harder because they will feel that their existence is recognized," Iqbal said.

Separately, member of the House of Representatives Rieke Diah Pitaloka of the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) urged the government to take immediate action to improve the lives of workers and not just stop at making May Day a national holiday.

"For one thing, the government should enforce the law against errant employers so that they will think twice before doing anything wrong to workers," Rieke said.

Rieke, who lost her bid for the West Java governorship recently, also urged Yudhoyono to prod his Democratic Party into supporting bills that would promote the rights of workers. "This will prove that the President doesn't only aim at polishing his or his party's image approaching the election. Prove that you actually care about workers," Rieke said.

Workers unions, including the KSPI, are set to stage rallies across Indonesia, protesting against, among other issues, cheap labor, union busting and the government's plan to increase fuel prices, which they claim will cause hardship for the country's workers.



* * *




*Kolom IBRAHIM ISA*
*Senin, 13 Mei 2013**
-------------------------------*

*Nama AHOK, Memang COCOK Dengan Julukan: *

*-- “(A)was (H)antu (O)rang (K)omunis” – *

*-- AHOK Jadi KALAP, Arogan Dan Provokatif *


* * *


Kasus seperti ini bisa terjadi di mana saja. Pada banyak gejala dalam kehidupan masyarakat yang sarat dengan berita-berita sensasi … sering di belakang ucapan, pernyataan, tulisan . .. . tersembunyi suata “permainan politik”. Para elite politik sipil dan militer, yang kuasa atau pernah ikut kuasa sering menggunakan cara ini. Mereka ada maksud tertentu yang menjadi motif sesungguhnya.


Mereka melemparkan sesuatu yang 'sensasionil' ke masyarakat. Seperti yang terjadi baru-baru ini. Suatu kelompok warga atau individu distigmtisasi, sebagai komunis, oleh seorang pejabat, Wagub, Ahok. Jika diteliti dan dianalisa lebih lanjut, bisa terungkap hakikatnya. Bahkan tidak jarang yang bersangkutan membuka dirinya sendiri dalam proses pembicaraan, kritik-kontra-kritik dan munculnya pengungkapan baru.


Apakah hal yang disinyalir diatas, seperti yang dilakukan AHOK itu --- “ngototnya” Ahok menggunakan cara “stigmatisasi komunis” terhdap penduduk Pluit yang “bandel” dan “berani” menyanggah sang Wagub, . . . . apakah karena mengandung motif lain di belakang pernyataan stigma itu? Perhatikan: --- Ahok kemudian memperluas sasaran ujung tombaknya ke KomnasHAM . . . apakah ulah Ahok itu semua, merupakan cara saja untuk sesuatu tujuan yang sebenarnya.? Menyangkut dua kasus diatas sikap Ahok, menampakkan watak pejabat yang kalap, arogan dan provokatif.


* * *


Ahok terus saja menuding para penghuni lahan di daerah Pluit, sebagai Komunis. Sikap Wagub DKI Ahok ini sekarang jelas!. Bukan karena ia latah, atau ngomong “kebablasan”. Bukan kebetulan! Itu memang sikap dan 'taktik politik”Ahok dalam “bernegosiasi.” *Bisakah diartikan Ahok begitu itu, adalah untuk “cari muka” pada jendral-jendral dan sementara elite politik di kekuasaan sekarang ini. Di peti arsenal mereka masih tersimpan rapi senjata stigma “hantu komunis” untuk mengintimidasi dan memojokkan lawannya. *


Dan tidak mustahil merupakan suatu pengungkapan sikap politiknya kepada kekuatan warisan politik Orba yang sekarang masih bercokol di eksekutif, legeslatif, yudikatif , media dan ekonomi. Ahok tampak getol menepuk dada:


*Sesungguhnya Ahok hendak memaklumkan: “– – – SAYA (Ahok) ANTI-KOMUNIS!” *



* * *


Dari sini bisa disimpulkan bahwa:


 1.

    Ahok tidak akan berhenti dengan cara menstigmatisasi sekelompopk
    warga, bila diperlukannya, ia akan lagi-lagi menaku-nakuti warga
    Pluit tsb (dan siapa saja yang dianggapnya lawan politiknya) dengan
    stigma “hantu-Komunis” !

 2.

    Sudah dipastikan dalam benak Ahok. bahwa Komunis itu 'perampas
    tanah'. Kata Ahok: "Kalau merebut lahan negara, itu namanya otak
    orang komunis. Itu ingetin kita ke cerita komunis yang merampok
    tanah orang. Kita harus tegas. Saya tidak menuduh Anda komunis loh
    tapi kalau Anda meminta begitu, berarti Anda otak komunis


** * **


Benarlah jadinya canang banyak orang ketika itu, bahwa Ahok menggunakan cara Orba. Yaitu suatu cara kotor, cara stigmatisasi, memburukkan, menjadikan komunis itu sebagai penjahat,

kemudian menuduh warga Pluit yang berani menggugat kemauan Ahok, sebagai pengikut ide Komunis.


Ulah Ahok menggunakan stigma “hantu-Komunis” dalam urusannya dengan penduduk Pluit yang akan digusur rumahnya, tidak berhenti di situ saja. Di satu fihak Ahok bersikeras, “ngotot”, meneruskan cara stigma Komunis untuk meredam kritik lawannya. Di lain fihak ia menngambil sikap provpokatif, arogan dan “berlagak pembesar” yang punya kuasa untuk bertindak sewenang-wenang. Telusuri saja tanggapannya terhadap undangan KomnasHAM pada Jokowi untuk membicarakan masalah penggusuran terkait.


* * *


Ahok 'mencak-mencak' menuding KomnasHAM, seperti dibritakan a.l oleh Indopos, sbb:

Sikap tidak bersahabat ditunjukkan Wakil Gubernur DKI Jakarta mengungkapkan ketidak senangannya pada lembaga negara yang telah memanggil Gubernur DKI Joko Widodo terkait rencana penggusuran warga di bantaran Waduk Pluit, Jakarta Utara.

’’KomnasHAM tak seharusnya memanggil Jokowi karena masalah ini. Kalau gitu tolong dudukin Monas sekalian. Iya dong, jadi nanti kalau saya kirim orang dari Belitung dudukin Monas nih, kalau diusir saya lapor Komnas HAM, melanggar HAM. Boleh gak? Terus minta ganti rugi dan bagi hasil tanah. Gimana?’’ Ujar Ahok, di Balai Kota Jakarta, kemarin (10/5).

’’Kami tidak peduli, lagipula sejak Februari lalu pihak Pemprov DKI telah meletakkan alat berat di sekitaran Waduk Pluit,’’ tegas Ahok.


* * *


Ikuti sura-suara yang mengecam sikap dan pernyataan Ahok:



*Rudin Akbar Lubis, anggota DPRD DKI Jakarta*, menyayangkan sikap Ahok yang tidak menghormati Komnas HAM. Juga disayangkannya ketidak hadiran Jokowi memenuhi panggilam Komnas HAM.


Sebagai pemimpin yang dikenal taat hukum, harusnya mereka menghormati lembaga Komnas HAM. "Lagipula dengan memenuhi panggilan Komnas HAM, bukan berarti mereka melanggar HAM. Justru seharusnya mereka datang dan menjelaskan duduk persoalan penggusuran tersebut pada Komnas HAM."


* * *


*Seorang penulis berkomentar di FB* (12/5):

Wagub Jakarta Ahok masih hidup di abad lalu, dia kena sindrom Orde Baru. Istilah "komunis" digunakan oleh moralis kelas penguasa-penindas Orde Baru untuk pembenaran-diri dan penghancuran lawan politik... Jadi, "Komunisme Ahok" tidak ada kaitan dengan pemahaman terkini tentang tatakelola/governance lahan kota Global Selatan, termasuk Jakarta, yang mengakui istilah lahan "formal-informal" bagi kaum miskin kota BUKAN "legal-ilegal" karena, ternyata... warga miskin juga berhak akan kota!


* * *

*Bowo dari Indopos berreaksi* sbb:


Sikap Ahok yang sinis dan arogan itu seperti yang dikatakannya di |Balai Kota Jakarta (10/5), a.l.sbb:

’’Komnas HAM tak seharusnya memanggil Jokowi karena masalah ini. Kalau gitu tolong dudukin Monas sekalian. Iya dong, jadi nanti kalau saya kirim orang dari Belitung dudukin Monas nih, kalau diusir saya lapor Komnas HAM, melanggar HAM. Boleh gak? Terus minta ganti rugi dan bagi hasil tanah. Gimana?’’


Sebelumnya *Komisioner KomnasHAM Siane Indriani*mengatakan sekitar 30-an warga bantaran Waduk Pluit, Muara Baru, Jakarta Utara, mendatangi Komnas HAM untuk mengadukan penggusuran yang dilakukan Pemprov DKI.


Menurut warga, selama ini belum ada pembicaraan mengenai rencana penggusuran tersebut sebelumnya. Pada Rabu (8/5) lalu Jokowi pun dipanggil oleh Komnas HAM untuk menyelesaikan kasus warga Muara Baru. Namun, Jokowi mangkir dari panggilan dengan alasan belum menerima surat panggilan dari Komnas HAM. Padahal, pihak Komnas HAM sejak 2 Mei lalu sudah melayangkan surat tersebut kepada mantan wali kota Solo tersebut.


*Menanggapi hal ini, anggota DPRD DKI Jakarta Rudin Akbar Lubis, *menyayangkan sikap Wagub Ahok yang tidak menghormati Komnas HAM. Ia juga menyayangkan ketidak hadiran Jokowi memenuhi panggilam Komnas HAM.


Menurut Lubis, sebagai pemimpin yang dikenal taat hukum, harusnya mereka menghormati lembaga KomnasHAM. "Lagipula dengan memenuhi panggilan KomnasHAM, bukan berarti mereka melanggar HAM. Justru seharusnya mereka datang dan menjelaskan duduk persoalan penggusuran tersebut pada KomnasHAM," tandasnya. (wok)


* * *


Sebagai penutup di bawah ini dilampirkan sebuah tulisan yang serius dan berargumentasi sekitar pernyataan Ahok tentang Koannya mengenai Komunisme. Sebagai pejabat pilihan penduduk Jakarta, ada baiknya Ahok membaca dan memperluas sedikit pengetahuannya tentang Komunis. Tulisan Coen tsb ada baiknya dipertimbangkannya secara serius.


Tulisan *Coen Husain Pontoh *di bawah ini baik dijadikan bahan pemikiran kembali oleh Ahok, dan mereka-mereka yang pandangannya kurang lebih sama dengan pandangan Ahok.


* * *


*COEN HUSAIN PONTOH : *


*M*/*ahasiswa Ilmu Politik di City University of New York (CUNY), a.l menulis sbb (4 /5):*/




DALAM beberapa waktu terakhir ini, media Indonesia memberitakan kasus tentang kemarahan warga Bantaran Waduk Pluit, Jakarta Utara, terhadap Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahaja Purnama alias Ahok, karena menuduh warga tersebut sebagai komunis.

Di zaman Orde Baru, tuduhan komunis jelas bukan perkara main-main, karena itu bisa berarti kematian hak-hak sipil dan politik serta hak ekonomi, sosial dan budaya bagi si tertuduh. Karena itu, setelah kejatuhan rezim orba, seluruh elemen pro-demokrasi berusaha sekuat mungkin untuk tidak menggunakan kata komunis sebagai alat untuk memojokkan lawan-lawan politiknya.

/*Pertama*//,/karena faktor kesejarahannya yang berdarah dan brutal tersebut; dan/,/karena memang telah terjadi pemutarbalikkan dan penjungkirbalikkan yang luar biasa terhadap sejarah gerakan dan pemikiran komunis itu sendiri.

Tentu saja tetap ada yang getol menggunakan kata komunis untuk menyerang atau menyingkirkan lawan politiknya. Siapa mereka? Tidak lain adalah tentara dan kalangan Islam Politik. Tapi, sejauh ini tuduhan-tuduhan komunis itu sudah dianggap sebagai lelucon belaka, sebuah cara berpolitik yang tak beradab. *Mereka yang menuduh lawan politiknya sebagai komunis, pasti si penuduh dianggap sebagai politisi yang goblok dan tukang konspirasi.*

Karena itu, saya heran mengapa Ahok berani sekali mengumbar kata-kata komunis dalam pertemuan-pertemuan resminya. Apalagi, pemahaman Ahok akan komunisme itu sepenuhnya salah. Ia mendefinisikan komunis bukan berdasarkan pada sebuah telaah teoritik yang mendalam, melainkan hasil dari logika /utak atik gathuk-/nya. Logika /ngawur /Ahok itu begini:

A: Tanah milik negara (legal).

B: Warga menduduki tanah negara (legal) tersebut secara illegal.

A+B: Karena warga yang digusur menuntut ganti rugi atas tanah negara yang didudukinya secara illegal tersebut, maka warga (oknum, dalam bahasa Ahok) tersebut adalah komunis.

Kalau pinjam bahasa gaulnya Ahok, saya mau bilang, ‘/komunis nenekmu yang definisinya seperti itu.’/

Darimana Ahok belajar atau membaca buku bahwa komunis itu adalah seperti yang disebutkannya itu? Kalau melihat usianya, yang kira-kira sekitar 40an tahun, maka bisa dipastikan pemahaman Ahok akan komunisme itu hasil didikan rezim orba. Ia mungkin masih hapal betul buku-buku Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) produk sejarawan ABRI atau sejarawan yang bersekutu dengan rezim orba. Dan karena Ahok sudah tak punya waktu lagi membaca secara serius (sesuai pengakuannya), maka pemahaman yang salah itu tetap melekat di kepalanya. Omongan Ahok yang keliru ini menjadi masalah karena ia adalah pejabat publik yang kini lagi digandrungi oleh banyak orang, sehingga walaupun omongan itu salah secara akademik maupun politik, bisa dianggap benar oleh publik.

Lalu apa makna komunis menurut Karl Marx dan Friedrich Engels? Saya menggunakan definisi kedua orang ini, karena mereka adalah pendiri sekaligus teoritikus utama gerakan komunisme. Engels mengatakan, komunisme adalah sebuah doktrin mengenai kondisi-kondisi pembebasan proletarian (kelas pekerja). Artinya, ini doktrin yang secara sengaja diperuntukkan buat kelas pekerja, bukan buat seluruh kelas. Dengan kata lain, tidak mungkin kelas kapitalis akan menggunakan doktrin komunis ini dalam upayanya melindungi dan memenangkan kepentingannya sebagai sebuah kelas. Kenapa demikian?

Di sini, kita mesti lihat bagaimana Marx dan Engels menganalisa corak produksi kapitalisme. Menurut keduanya, esensi kapitalisme itu adalah adanya dua kelas yang sangat dominan dalam masyarakat, yakni kelas yang memiliki (mengontrol dan menguasai) alat-alat produksi yang disebut sebagai kelas kapitalis; serta kelas yang hanya bisa hidup jika ia menjual tenaga kerja (alat produksi satu-satunya) kepada kelas kapitalis. Intinya, masyarakat kapitalis itu adalah masyarakat yang dicirikan oleh sistem kerja upahan. Tentu saja masyarakat kapitalis tidak hanya terdiri dari dua kelas ini. Yang dikatakan Marx dan Engels bahwa dua kelas inilah yang paling dominan untuk mengatakan bahwa inilah ciri dari corak produksi kapitalisme.

Dengan demikian, selama kedua kelas ini eksis maka kapitalisme tetap eksis. Tetapi, walaupun keduanya berhubungan satu sama lain, tetapi hubungannya yang paling mendasar bersifat konfliktual. Si kapitalis ingin terus menindas buruh, sementara si buruh ingin bebas dari penindasan tersebut. Nah, dalam konteks itulah maka komunisme memberikan panduan teoritik kepada kelas buruh untuk membebaskan dirinya dari penindasan kelas kapitalis. Tujuan dari perjuangan kelas buruh itu adalah terwujudnya masyarakat komunis, yakni  masyarakat tanpa kelas, dimana tidak ada lagi kelas buruh dan kelas kapitalis. Karena ciri masyarakat berkelas adalah adanya kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, maka dalam komunisme kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi harus dihapuskan. Mengapa harus dihapuskan? Karena kepemilikan pribadi itulah sumber dari tegaknya masyarakat berkelas.

Ketika dalam perjuangan itu kelas pekerja berhasil menang, maka mereka harus membangun sebuah sistem kekuasaan yang bisa menjawab permasalahan sosial, politik, ekonomi, dan budaya pada zamannya masing-masing. Marx dan Engels tidak berpretensi membangun sebuah sistem pemikiran yang telah lengkap dan sempurna dari A – Z, yang tidak boleh diubah oleh para pengikutnya. Yang dikemukakan keduanya bahwa dalam masyarakat pasca-kapitalis ini, hal pertama yang harus dilakukan oleh negara adalah menyediakan hak-hak paling mendasar bagi seluruh warga negaranya, seperti pendidikan, kesehatan dan perumahan gratis; dan tidak boleh ada lagi orang atau kelompok orang menjadi kaya karena menindas orang atau kelompok lainnya. Namun, karena masyarakat baru ini lahir dari reruntuhan masyarakat kapitalis, maka pada tahap ini insentif berbasis pasar tetap berlangsung, dimana ‘setiap orang dihargai sesuai dengan hasil kerjanya//to each according their work.’ /

Sebagai contoh jika ada dua perempuan buruh, yang satu memiliki lima orang anak dan yang lain hanya dua orang anak, jika keduanya sama-sama bekerja delapan jam sehari, maka pada setiap akhir bulan keduanya akan mendapatkan gaji yang sama. Jika perempuan buruh dua anak itu bekerja 9 jam, maka ia digaji satu jam lebih banyak dari perempuan buruh dengan 5 anak tadi. Tetapi, ketika kerja bukan hanya sekadar alat untuk hidup, tapi telah menjadi medium realisasi potensi kemanusiaannya secara bebas, sehingga konsekuensinya level produksi menjadi meningkat, maka adalah mungkin masyarakat diorganisir melampaui mekanisme penghargaan pasar, dimana penghargaan//reward/ tidak lagi berbasis pada kerjanya (berapa lama dan apa jenis kerjanya), tetapi sesuai dengan kebutuhannya (/from each according their needs). /

Kembali menggunakan contoh kedua perempuan buruh tersebut, maka pada tahap lanjut masyarakat komunis perempuan yang memiliki lima anak harus memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dari perempuan buruh yang hanya memiliki dua orang anak, walaupun jam kerja keduanya sama. Bukankah ini diskriminasi? Benar, ini diskriminasi dalam pengertian yang positif, bahwa penghargaan harus diberikan kepada mereka yang kebutuhannya lebih besar. Bagaimana jika seorang perempuan dokter dengan satu anak, apakah penghargaannya harus lebih kecil dari perempuan sopir bis dengan lima orang anak? Jawabannya adalah ya.

Dari prinsip inilah kemudian muncul kesalahpahaman yang luar biasa, bahwa komunisme itu bersifat totaliter karena tidak menghargai pencapaian individual; berprinsip sama rata sama rasa, karena semua orang, tanpa peduli kemampuan personalnya diperlakukan sama, yang artinya juga adalah totaliter. Saya mau menjawab kesalahpahaman ini: /pertama/ tudingan itu keliru karena setiap orang kebutuhan mendasarnya telah disediakan oleh negara secara gratis pada masa-masa awal pengorganisiran masyarakat pasca-kapitalis;



* * *



*Kedua*/*,*/**tidak ada lagi orang menjadi kaya karena menindas orang lain, yang berarti orang bekerja sesuai dengan keputusan personal yang bebas, karena kebutuhan dasarnya sudah sepenuhnya tersedia. Ia mau jadi dokter bukan karena adanya iming-iming uang segudang yang bakal diperolehnya, tapi karena ia memang senang menjadi dokter. Ini berbeda dengan masyarakat kapitalis, dimana keputusan untuk bekerja itu bersifat terpaksa karena suplai tenaga kerja jauh melampui kebutuhan pasar tenaga kerja, atau karena mimpi akan uang sekoper, sehingga orang bersedia kerja apa saja yang penting bisa punya uang untuk makan, bayar kuliah, bayar kontrakan, dsb.

*Ketiga*/,/ masyarakat komunis ini bukan sesuatu yang bisa dipaksakan keberadaannya sejak awal masyarakat pasca-kapitalis terbentuk. Tidak ada satu kalimat pun dari Marx-Engels bicara soal ini. Bagi keduanya, masyarakat komunis itu adalah sebuah proses historis, yang akan berkembang sesuai dengan kondisi-kondisi historis pada masanya, seperti tingkat perkembangan teknologi, tingkat perkembangan ekonomi, sosial dan budaya, perjuangan kelasnya, serta kebijakan pemerintah yang berkuasa. Tidak ada /sim salabim, abracadabra /di sini.



* * *






Saturday, May 11, 2013

*IBRAHIM ISA*
*Sabtu, 11 Mei 2013**
--------------------*


*SEJARAH - IRONI - DAN OPTIMISME PERJUANGAN*


*    *    *


Secara keseluruhan perkembangan sejarah, adalah perkembangan MAJU. . . .

Majunya perkembangan merupakan produk berlangsungnya perjuangan antara :


*progres vs retrogres . .. *

*antara revolusi vs kontra-revolusi; *

*antara progresif vs reaksioner; *

*antara rakyat tertindas melawan penguasa lalim . . . *

*antara kesewenang-wenangan vs keadilan . . . . *


* * *


Di negeri kita dewasa ini antara . . . .

REFORMASI, DEMOKRASI DAN HAM vs WARISAN ORBA YANG MASIH BERCOKOL. . . .


IRONI . . . . nyelinap diantaranya . . . . .


* * *


NAMUN . . . PERKEMBANGAN SEJARAH ITU ADALAH KEMAJUAN . . . .

TESE - ANTI-TESE - SINTESE . .


INILAH GERAK MAJU SEJARAH . . . dimana-mana!! . . . .


Makanya diatas segala-galanya pejuang-pejuang KEMAJUAN TETAP OPTIMIS . . !!!


* * *

*Kolom IBRAHIM ISA*

*Sabtu, 11 Mei 2013**

--------------------*



“*NATIONALE MOLENDAG” Belanda – “Hari Kincir-angin Nasional” Mememupuk “History minded” Dan “Kesedaran Berbangsa”*


** * **


  *Orang Belanda adalah salah satu bangsa di dunia ini, yang memberikan
  perhatian secukupnya pada sejarah bangsanya. Mereka giat mendorong
  maju semangat “history-minded” dan cinta bangsa dan negeri, di
  kalangan masyarakat Belanda, melalui berbagai cara dan usaha. Sungguh
  inspiratif!*


  *Belum lama sudah dibuka kembali “Musium Kerajaan” di Amsterdam.
  Musium tsb selama 10 tahun ditutup karena dipugar yang menelan ongkos
  ratusan juta euro. Tapi orang Belanda tidak segan-segan mengeluarkan
  dana ratusan juta euro demi memlihara peninggalan sejarah bangsanya.
  “Rijksmuseum” di Amsterdam, dengan 200 ruangan pamerannya yang
  besar-besar itu, menghimpun, menyimpan, memelihara dan memamerkan
  kakayaan benda-benda sejarah dan seni Belanda. Juga terdapat
  benda-benda sejarah dan seni bangsa-bangsa Asia disitu.*



*Jumlah benda-benda sejarah dan seni yang dipamerkan di Musium Kerajaan bejumlah sekitar***1 juta buah***. Termasuk lukisan ***Rembrandt*** yang terkenal***“DE NACHTWACHT”.***Juga lukisan-lukisan terkenal lainnya seperti karya pelukis ***Johannes Vermeer, Jan Steen***dll. Luar biasa! Tidak cukup seminggu waktu untuk bisa melihatnya secukupnya.*



** * **


  *Hari Sabtu dan Minggu, 11 dan12 Mei, 2013, Belanda mengadakan
  “Nationale Molendag”. “Hari Kincir-angin Nasional”. Suatu cara
  tradisionil yang pandai dan santai untuk memperkuat “history-minded”,
  rasa identitas bangsa Belanda dan memupuk rasa kebersamaan dan
  kebangsaan. Sekaligus untuk mengenal perikehidupan bangsa dalam
  sejarahnya.*



*Hari-hari itu memberikan kesempatan jang jarang bagi warga Belanda, tua dan muda, juga untuk orang asing yang tinggal di Belanda maupun para turis, untuk menyaksikan “pabrik kecil” yang digunakan berabad-abad lamanya oleh nenek-moyang mereka untuk menggiling gandum dan lain-lain bijian. Juga untuk menyalurkan air bagi kepentingan pertanian. Kincir angin memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat Belanda sejak dulu.*



** * **



*Beberapa tahun yang lalu, Murti, bersama seorang kemenakan kami yang kebetulan sedang berkunjung ke Belanda, diajak oleh sahabat lama kami Dr Joop Spijker dan istrinya, Tinneke, berjalan-jalan ke sebuah “desa-sejarah” tidak jauh dari Leeuwarden. Dalam kesempatan itu kami melihat-lihat sebuah “kincir-angin” yang masih 'bekerja' dengan angin sebagai sumber-dayanya. Sangat menarik. Betapa cerdiknya rakyat Belanda dimasa lalu memanfaatkan tenaga angin untuk mengabdi kehidupan ekonomi mereka. *



*Sekarangpun tenaga angin di Belanda secara berangsur-angsur dan semakin banyak dimanfaatkan untuk memproduksi tenaga listrik. Jadilah yang dinamakan “tenaga listrik bersih”. Tidak menggunakan bahan bakar yang menimbulkan polusi. *



*Pernahkah terfikir oleh pembaca, berapa banyak jumlah Kincir-angin di Belanda? Menakjubkan! -- Tidak kurang dari 900 buah bangunan kincir-angin yang dari jauh mudah dikenal. Bangunannya spesifik Holland dan tampak tidak kalah indah dengan bangunan lainnya. Malah dikota-kota penting seperti Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, Utrecht, Nijmegen, Maastricht, Leiden, Gronigen, Leeuwarden dan banyak kota lainnya, kita akan selalu menjumpai bangunan kincir angin yang berdiri di situ menambah keindahan pemandangan kota. *



*Pada hari “Nationale Molendag” para pengelola kincir-angin yang tersebar di seluruh negeri, membuka pintu kincir-angin mereka untuk dikunjungi masyarakat yang luas. Kecuali dengan indahnya menghiasi pemandangan di pedesaan, kincir-angin adalah benda sejarah yang dilindungi dan dipelihara baik di negeri ini. Bangunan serupa itu dikatagorikan sebagai “monumen nasional”. Telah didirikan pula banyak yayasan dan perkumpulan untuk mengelolanya. Yang dibantu oleh ratusan sukarelawan. *



*Perhatian masyarakat terhadap pemeliharaan kincir-angin merupakan salah satu indikasi bagaimana bangsa ini menghargai dan memelihara salah satu bangunan “monumen nasional” mereka. Tetapi juga merupakan suatu usaha untuk menanamkan semangat yang 'history minded' terutama di kalangan generasi baru. *



*Dewasa ini di sementra daerah di Belanda, di sekitar Kincir-angin yang tampak kuno itu, dibangun daerah parawisata yang mutakhair. Dengan demikian sambil bersantai mengingatkan kembali perjalanan sejarah bangsa.*



*Masyarakat Belanda belakangan ini tampaknya semakin besar perhatiannya terhadap kincir-kincir angin yang merupakan “benda sejarah” dan sering merupakan salah satu “logo” dari negeri Belanda. Timbullah prakarsa untuk mendirikan “Akademi Kincir-angin”, “De Hollandsche Molen Academie”. Pemrakarsanya adalah “Vereniging De Hollandsche Molen”. Akan dimulai tahun ini. Dari Akademi ini akan diorganisasi pelbagai pertemuan yang meliputi skla luas.Pertemuan-pertemuan itu memfokuskan pada pelimpahan pengetahuan, memberikan inspirasi, memperbesar ketrampilan dan jaringan-kerja.*



** * **



*Demikianlah, . . . . weekend ini, kalau berkenan, kita bisa bersantai mengunjungi salah satu “kincir-angin” Belanda, --- sambil sedikit-sedikit mengenal sejarah Belanda. Mengikuti salah satu acara dalam rangka memperingati “Nationale Molendag” yang ke-41.*




** * **


























*Kolom IBRAHIM ISA*
*Kemis, 09 Mei 2013**
---------------------*



*Saya Yang Bernama MARHATUN *


*(Istri Ipul Kepada Presiden SBY)*


* *



/** * **/


Alkisah . . . adalah seorang penduduk Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, wong cilik, istri pedagang "warung nasi pecel lélé", bernama *MARHATUN.* Suatu ketika Marhatun menulis sepucuk "surat pengaduan" kepada Presiden SBY. Pasti pembaca mau tahu. Ada apa . . . seorang pemilik "warung nasi pecel léIé", warga miskin kota, kok sampai menulis surat pengaduan kepada SBY, Presiden Republik Indonesia?


Rakyat kecil ini mencurahkan isi hatinya, imbauannya dan harapannya kepada SBY. Ia juga menggugat pada kepala negara mengenai perlakuan sewenang-wenang aparat keamanan: Polisi, terhadap suaminya, Syaifulloh,. Sehingga menjadikan pasangan miskin itu semakin parah-merana.


* * *


Tulis Marhatun a.l : . . . . /*SAEFULLOH alias IPUL sekarang dalam Tahanan Jaksa di Rumah Tahanan Negara LP Cipinang sejak tanggal 16 April 2013 s/d 05 Mei 2013. Suami saya di tuduh atau dikenakan Pasal 114 (1) dan Pasal 111 (1) Undang -- undang nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.*/


"/*Di sini juga saya sampaikan ke Bapak Presiden bahwa apa yang dituduhkan kepada suami saya adalah TIDAK BENAR dan kelihatannya dipaksakan oleh oknum Kepolisian Polsek Metro Cilandak Jakarta Selatan untuk ditahan. */


"/*Suami saya di tangkap pada tanggal 15 februari 2013 tanpa adanya surat -- surat atau tidak sesuai dengan ketentuan yang di atur dalam KUHAP . . . di tuduh tanpa ada barang bukti dan hanya berdasarkan katanya katanya. Apa bisa seperti itu, apa itu hukum yang berlaku di Indonesia, apakah hukum sebenarnya hanya tajam ke bawah Pak SBY ?. */


Marhatun selanjutnya:


/*Saya dan keluarga Mohon kepada Bapak Presiden SBY untuk dapat memberikan Perhatian, Perlindungan Hukum dan Keadilaan kepada kami orang kecil ini. Sudah jatuh ketimpah tangga lagi, Suami saya sekarang di LP Cipinang di minta biaya untuk keamanan dan fasilitas (kasur dan bantal, mandi dan ibadah) kalo tidak di bayar, maka suami saya di dalam LP akan mengalami kekerasan. Dan uang tersebut katanya untuk komandan LP Cipinang. Dari mana lagi kami mendapati uang sedangkan suami saya sebagai tulang punggung keluarga, sekarang lagi mendekam di tahanan, apalagi sekarang saya sedang mengandung anak pertama yang memerlukan biaya untuk perawatan (obat) dan melahirkan nantinya. */


MARHATUN mengakhiri suratnya dengan suatu permohonan dan imbauan keadilan tertuju Presiden SBY:


/*Sekali lagi saya dan keluarga sangat Memohon Kepada Bapak Presiden SBY untuk dapat memperhatikan dan membantu masalah kami tersebut, kami tidak tau harus mengadu kepada siapa lagi dan hanya ALLAH SWT lah yang dapat membalas kebaikan dan atau atas bantuan yang Bapak berikan kepada kami.*/


/*. . . . surat yang dikirim oleh suami saya kepihak pihak terkait dan yang sampai saat ini belum juga dapat jawaban, apakah karena kami orang kecil ya Pak ?*/


/** * **/


Sahabatku penulis *Chalik Hamid*, seorang mailist (Perhimpunan Persaudaraan Indonesia) yang rajin meneruskan berita-berita penting kepada pembaca . . . , menyiarkan bahan masukan sbb:


"*Surat ini (Surat Marhatun kepada SBY -- I.I.) sangat menyentuh hati*, menuntut keadilan atas tindakan aparat negara. Oleh sebab itu saya teruskan ke berbagai milis lainnya. Semoga mendapat dukungan rakyat kecil yang selalu menjadi korban kekerasan aparat negara (nakal).


* * *


Maka betapa gundahnya fikiran kita! Demikian merosot dan "amburadulnya" situasi hukum dan HAM di Indonesia dewasa ini. Belum lagi bila diikuti dan diteliti berita-berita kasus pelanggaran hukum dan HAM lainnya. Yang menonjol a.l ditolaknya oleh Kejaksaan Agung -- "Laporan dan Rekomendasi KomnasHAM 23 Juli 2012" mengenai Peristiwa 65, dimana aparat keamanan negeri terlibat dalam pelanggaran HAM berat.


Masih segar dalam ingatan tentang kasus*penyerbuan 11 anggota KOPASSUS*, *ke LP Cebongan*, *dan mengeksekusi 4 orang tahanan*. Menjadi semakin gawat kasus tsb ialah karena perbuatan ekstra-judisial pelanggaran HAM tsb dipuji-puji oleh atasan mereka.


Aparat keamanan negara yang seyogianya melindungi warga-negara terhadap para pelanggar hukum dan undang-udang, -- -- -- -- JUSTRU . . . adalah aparat keamanan negeri itu, -- yang melakukan pelanggran tsb.


* * *


Kita teruskan sedikit lagi ilustrasi sekitar pelanggaran hukum oleh aparat negara:


*Terungkapnya praktek perbudakan di pabrik kuali*di Kampung Bayur Opak, Kecamatan Sepatan Timur, Tangerang. Kasus tsb terekspos di muka publik karena dua orang buruh yang bekerja di pabrik itu, Andi Gunawan (20) dan Junaidi (22) berhasil melarikan diri setelah 3 bulan dipekerjakan dengan tidak layak. VIVAnews, Jumat 3 Mei 2013


Ditemukan lokasi kerja usaha tanpa izin. Kondisi tempat kerja menyedihkan.Tempat istirahat buruh hanya berukuran 8x6 meter, hanya beralaskan tikar dan gelap. Kamar ini dihuni puluhan pekerja. Kondisi udara juga terasa lembab, sesak, dan gelap. Kamar mandi terlihat jorok dan tidak terawat.


"Kami menemukan tempat istirahat karyawan berukuran 8x6 meter, yang sangat tidak layak untuk diisi 46 orang dan hanya beralaskan tikar," kata

Komisaris Shinto."Kami mandi jarang, kalau mandi juga pakai sabun krim cuci piring (sabun colek). Kerjanya nggak enak, kayak budak. Saya dikasari, dipukul, tidak dikasih makan. Saya tidak akan kerja di sana lagi," kata Andi, pekerja yang berhasil melarikan diri ke Lampung, saat diwawancara di kampung halamannya. Lampung Utara.


Kondisi Andi sangat lemah dan tampak tirus. Pada kepalanya yang rambutnya telah dipangkas habis, terlihat sebuah luka bekas pukulan benda tumpul. Wajahnya tampak lebam dan bibirnya terlihat bengkak biru kehitaman. Ia mengaku trauma atas kejadian tersebut.



Sambil sesekali menyeka air mata, ia mengatakan, kegeramannya kepada pemilik pabrik yang telah memperlakukan mereka seperti bukan manusia selama bekerja. Ia mengungkapkan, saat bekerja di pabrik tersebut, kondisinya bersama pekerja lainnya sangat mengenaskan.


"Kami sering disiksa oleh pemilik dan anak buahnya. Kami ditempatkan di satu ruangan bersama, sempit-sempitan, seperti di penjara. Kalau kerja seperti budak, tidak boleh bersosialisasi dengan warga sekitar," katanya dengan mata nanar. Kekerasan-kekerasan yang dialami antara lain luka bakar akibat sundutan api rokok, siraman bahan kimia, hingga penyakit kulit. "Badan saya melepuh di kaki kanan dan kiri, serta lengan kiri," ujarnya.


Menurut pengakuan para pelapor, saat bekerja, barang pribadi mereka seperti *handphone*, dompet, uang, dan pakaian yang dibawa buruh ketika awal bekerja disita oleh pemilik usaha. Karyawan tidak diperbolehkan keluar pabrik dan berkomunikasi dengan orang luar.


Setiap buruh harus menyelesaikan 200 wajan setiap bulannya. Bila tidak, siksaan dari mandor dan bos Yuli Irawan pun mendera para buruh. "Saya sering disiksa, dipukul, kepala saya dijedukin, kalau saya tidak mencapai target 200 wajan," kata Rahmat Nugraha, salah satu buruh asal Cianjur, Jawa Barat.


Syaifulah, salah satu karyawan menjelaskan, karyawan hanya digaji Rp 600 ribu, itu pun diberikan kadang-kadang. Selain itu, ada beberapa karyawan di bawah umur yang dipekerjakan. Saat penggerebekan, polisi menemukan empat buruh yang masih berstatus anak-anak. Polisi lalu membawa 25 buruh, 5 mandor, pengusaha Yuli Irawan dan istrinya ke polres untuk diminta

keterangan.


* * *


Sahabatku *Salim Said,* mantan Dubes RI di Republik Ceko, mengirimkan bahan masukan *(Sumber berita VIVANews) *sbb:

*Siapa Beking Perbudakan di Tangerang . . .Siapa aparat Polisi dan TNI yang diduga jadi beking. Kita baca a.l. *


*. . . Perbudakan. -- -- -- Ini kata dari masa lalu. Tapi hari-hari ini kita menemukannya di Tangerang*, yang tak begitu jauh dari Jakarta. Puluhan orang diperlakukan sebagai budak pada sebuah perusahaan yang memproduksi wajan.Lama diperlakukan secara tak manusiawi tubuh mereka ringkih.


*Ulah si majikan wajan ini aman lantaran dibekingi dua orang aparat.*


. . . . aparat yang membekingi itu adalah teman dari tersangka Yuli Irawan, sang pemilik pabrik wajan itu.*"Memang ada dua orang, satu anggota kepolisian, satu lagi anggota TNI. . . . *

Anggota polisi dan TNI itu, lanjutnya, rutin mengunjungi Yuli. . . . Setiap datang berkunjung, keduanya selalu dikasih uang bensin oleh tersangka. . . .


* * *


*Maka orang bertanya-tanya :*


*SAMPAI DIMANA PENEGAKKAN HUKUIM *

*DAN TOLERANSI Di Negeri ini Berlaku DALAM PRAKTEK . . . ?*


Bersangkutan dengan kasus sejauh mana toleransi dipraktekkan terhadap warganya yang punya kepercayaan berbeda dengan masyarakat umum beragama Islam.. --- Berkali-kali bisa dibaca berita tentang perlakuan kekerasan sewenang-wenang yang dialami oleh para pengikut Ahmadiyah. Dalam peristiwa tsb aparat keamanan, Polisi, diberitakan mengambil sikap 'masa bodoh'.


Mencerminkan keresahan politisi DPR, *Eva Kusuma Sundari, anggota DPR* Fraksi PDI Perjuangan menyatakan kepada Harian "Sinar Harapan" (6/5): Polri harus menghentikan perampasan hak-hak konstitusional kelompok minoritas Ahmadiyah dengan memberikan keadilan, bukan ketidakadilan. Caranya adalah proaktif melakukan pencegahan atas bentrok dan menangkap pelaku kekerasan . . . . .


*Wakil Direktur Human Rights Watch, Moh. Choirul Anam, *dalam sebuah pernyataan, mengemukakan: -- Mengenai kasus-kasus kekerasan religius dan intoleransi, *Presiden (SBY), gagal menjunjung tinggi hukum dengan cara yang adil,*baik dalam mencegah kekerasan yang dilakukan atas nama agama dan dalam menjamin agar para korban memperoleh keadilan. Anam juga menuding pejabat-pejabat dalam pemerintahan SBY terlibat dalam tindakan intoleransi dan bahkan kriminalisasi terhadap para korban.


Ia menunjuk pada fakta bahwa SBY sering sekali bersikap diam mengenai diperkosanya hak-hak minoritas. "Dalam banyak hal, seperti halnya kasus Ahmadiyah, 2005, hingga saat ini Presiden tidak pernah menjerukan kepada pejabat-pejabatnya untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku kekerasan yang jelas-jelas telah melanggar Konstitutsi". Katanya.

**    *    **

       Kita menyaksikan pelanggaran hukum, eksekusi ekstra-jujdisial oleh anggota-anggota KOPASSUS;  tindakan aparat keamanan yang melindungi pelanggaran HAM  dan membekingi praktek sistim perbudakan terhadap buruh-buruh. Juga kita saksikan  intoleransi religius dimana aparat dan pejabat  berpeluk tangan menghadapinya.

       Sikap dan  perasaan kritis masyarakat  mendorong  timbulnya rasa keheran-heranan, tidak mengerti bagaimana dalam situasi hukum dan hak-hak warga sedang AMBURADUL . . .*  bisa-bisanya Presiden SBY  akan menerima penghargaan World Statesman Award 2013 dari Appeal of Conscience Foundation. Dikatakan karena*  *jasa-jasanya dalam meningkatkan perdamaian, toleransi beragama dan menyelesaikan konflik antaretnik.*

    Berkaitan dengan rencana tsb, Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan (7/5),  bahwa penganugerahan World Statesman Award 2013 itu akan diberikan pendiri Appeal of Conscience Foundation Rabbi Arthur Schneier dalam suatu acara bertajuk "2013 Special Awards Dinner" di New York, Amerika Serikat, pada 30 Mei mendatang.

    *    *    *

    Kembali kita  pada surat pengaduan yang dikirimkan oleh*  MARHATUN*  kepada Presiden SBY. Ternyata perlakuan Polisi yang sewenang-wenang yang diderita oleh suami Marhatun, bukan gejala yang berdiri sendiri. Pelanggaran hak hukum warga  secara sewenang-wenang melibatkan pelanggar hukum --- baik itu oleh individu-individu maupun oleh aparat keamanan negeri sendiri.

    *Pelanggaran hukum dan Konstitusi di negeri ini bukan merupakan gejala kebetulan, tapi sudah menjadi pelanggaran yang bersifat struktural.*

    *    *    *

IBRAHIM ISA
Kemis, 09 Mei 2013
--------------------------

SEKITAR PERJALANAN MAY SWAN KE EROPAH


-------------------------------------

May Swan Dear,

Saya ikuti sejak semula tulisan-tulisan May Swansekitar perjalanan ke Eropah. Menarik, menarik, dan menarik.
May memang pandai berceritera. Pada akhir setiap tulisan selalu kita dibikin kecewa, karena tulisan itu
berhenti di situ.

Nah, kali ini ceritera Maymerupakan suatu k e s i m p u la n kecil mengenai perjalanan ke Eropah. . . lagi-lagi menarik dan santai dibaca,
Pokoknya enak dibaca dan memberikan masukan yang jugamenarik tentang kesan-kesan umum negeri-negeri
yang dikunjungi.

Yang juga menarik dan menggelitik danbikin sementara pembaca juga 'garuk-garuk kepala, meskipun tidak gatal',
ialah pengalaman tentang "mesin computer yang menggantikan pekerjaan buruh", di sebuah hotel di Perancis. Lalu, tanya May, bagaimana
dengan pejuangan kaum buruh selanjutnya? Kirta-kira begitulah, May melemparkan suatu bahan
pemikiran secara "sambil lalu" dan sederhana, tetapi justru merupakan soal besar dalam perjuangan kaum
buruh untuk perbaikan nasib, dewasa ini.

* * *

Bukan karena putri kami sekeluarga sekarang ini adalah warga-negara Jerman, . . . . saya pertanyakan
kesan May mengenai oprang-orang Jerman yang tidak seramah orang Inggris. Sementara
suara menyatakan bahwa orang Inggris itu agak 'sombong' . Mereka sering bilang orang Inggris tidak
perlu belajar bahasa asing lain. Karena bahasa Inggris adalah 'bahasa dunia'.

Saya punya teman-teman asing, antara lain orang Inggris dan Jerman. Kesan saya . . . kalau'sudah dekat',
semua mereka ramah, sopan dan amat bersahabat . . . . khususnya mereka yang progresif . . Yah, lagi-lagi ini kesan . . . May.

* * *

May, belum ceritera bagaimana dengan orang Turki? Murti dan saya sering makan di restoran Turki. Mereka
sangat ramah, dan bangga dengan ke-TURKI-ANNYA, meski menyandang paspor Belanda. Dulu kata teman Turki itu,
orang Turki banyak yang pada keluar cari kerja. Sekarang banyak orang luar berdatangan ke Turki mencari kerja. Artinya
Turki sekarang ini meningkat kemakmurannya. Menarikpembicaraan dengan seorang supir taxi orangTurki.
Dalam suatu percakapan supir Turki itu menyatakan: Dulu kami memang ingin jadi anggota Uni Eropah.
Sekarang "enggak paté-en". Tak perlumasuk Uni Eropah. Mereka sedang dilanda krisis. Lihat Junani, Spanyol,
Itali .. .. hampir bangkrut. Sedangkan Turki ekonominya tumbuh dan berkembang terus.
Hidup Erdogan, katanya.

* * *

Sering menulis yang pendek-pendek dan padat . .. seperti yang sering May lakukan sungguh bagus.

Mengenangkan buku-buku yang ditulis May selama ini, saya fikir

MAY INI ADALAH DUBES BERKELILING, memperkenalkan Indonesia dimana-mana, mesk tidak pernah dibenum oleh pemerintah RI

* * *

Sampai sini dulu. Salam hangat dan sampai jumpa lagi di internet dan siapa tahu . .
May akan sekali lagi mengunjungi Eropah .


Amsterdam,

I. Isa

Op 9-5-2013 6:38, Chalik Hamid schreef:
> SURAT DARI SINGAPUR
>
> === PERJALANAN ===
>
> BY
>
> MAY SWAN
>
> Duduk santai berbaring di private compartment dalam pesawat SIA,
luas, nyaman, bersebelahan dengan compartment tidur, dengan ramah ditawari berbagai layanan, dari hot towels, minuman, snacks hingga hidangan full course dinner yang dapat dipilih dari dinner menu, baru terasa sudah berada dalam alam perjalanan. Perjalanan yang dipilih sendiri.
>
> Dikelilingi dengan berbagai kemudahan fasilitas, tapi pikiran hanya
fokus kepada empat belas jam perjalanan terbang yang sedang menunggu. Empat belas jam baru akan tiba di Frankfurt, Jerman; tapak pertama dalam lima minggu perjalanan ke Eropa dari bulan Maret hingga bulan Mei 2013.

> Setibanya di Frankfurt setangkai mawar merah dan senyum ramah dari
wajah tampan sosok tinggi gagah special datang jauh dari Stockholm menjemput ketibaanku di bandara. Kehangatan pertemuan berhasil menantang angin malam dingin menggigil menyerang seluruh tubuh.
>
> Dengan mobil sewaan sepanjang malam menyelusuri jalan highway Jerman
terkenal panjang lurus, luas, teratur dan tak terbatas laju bagi kendaraan. Sinar lampu di sepanjang jalan raya menerangi alam kelam disekitar. Lalu lintas kendaraan, terlebih pula kendaraan industry berat pengangkut containers tampak bersimpang siur walaupun hari sudah larut malam, mencerminkan ekonomi Jerman berjalan sehat diantara Euro zone yang mengalami krisis.
>
> Malam pertama nginap di Roermond, berdekatan dengan designer outlet
center. Sebagai orang Singapur tentunya sangat tertarik dengan kesempatan jalan jalan shopping melihat designer goods di luar negeri, membandingkan harga dan barang branded yang terdapat di tempat.
>
> Hari hari sesudahnya berada di Amsterdam, bertemu dengan teman teman
lama dan baru, antaranya: Siauw Maylie dan Burhan. Ibrahim Isa, Chalik Hamid, K. Soelardjo, Djie Kiong Hoo, Sungkono dan para isteri masing masing. Curahan hangat persahabatan berupa sebuah kenangan yang melekat dalam sanubari. Dengan penuh harapan persahabatan akan tumbuh berkembang selalu.
>
> Pada tanggal 31 Maret 2013, YSBI (Yayasan Sejarah dan Budaya
Indonesia) mengadakan undangan bagi umum menghadiri acara buku May Swan memperkenalkan dua novel bahasa Inggeris terbaru: “Montmartre In Bondowoso” dan “Sons And Daughters Of Bangka.” Acara diadakan di Gedung De Schakel, Diemen, beberapa kilometer di luar kota Amsterdam. Panel of discussion terdiri dari Ibrahim Isa sebagai pembedah buku, Chalik Hamid sebagai moderator dan May Swan sendiri melayani tanya / jawab dari para hadirin. Acara dibuka oleh K. Soelardjo sebagai pemimpin YSBI. Atas bantuan teman teman, terutama hubungan network dari Djie Kiong Hoo dan Bertha isterinya, banyak masyarakat Indonesia di luar YSBI turut hadir dalam acara. Suasana cukup meriah. Tercatat 106 hadirin memenuhi ruangan pertemuan. Perlu disebut, pada akhir acara, Asahan Alham mewakili YSBI menyerahkan hadiah kenang kenangan kepada May Swan. Disini, saya ucapkan banyak terimakasih
> atas kehadirannya, juga atas pemberian novelnya berjudul “Perang dan
Kembang” terbitan Pustaka Jaya setebal 484 halaman yang sudah lama saya dengar tapi baru kali ini memilikinya.
>
> Selama di Amsterdam, saban hari dapat undangan makan malam di rumah
para teman, kesempatan yang tentunya kami terima dengan sangat gembira. Yang paling terkesan, di samping hidangan para ibu ibu adalah animated conversation yang mengambil bagian dalam semua pertemuan. Bagaikan aliran listerik yang bersambungan, setelah dipasang langsung menyala. Arus pembicaraan lancar tanpa ada yang mengatur, penuh dengan cerita kejadian di masa lalu, kejadian yang pernah dialami bersama, soal yang dulunya dianggap sangat serious, sekarang terasa ringan bahkan menjadi bahan humor. Agaknya usia telah mendewasakan pandangan. Tapi rasa cinta tanah air tetap berkumandang dalam jiwa, sekalipun menjelma dalam forma yang berlainan.
>
> Lima hari di London, cuaca semakin dingin. Jalan jalan di sekitar
Marble Arch, Piccadilly dan di tempat tempat dimana turis biasa datang seperti Soho dan China Town, tentunya tidak lupa mendatangi Harrods, toko lux yang menjadi lebih tenar karena hubungan Diana dengan Dodi yang tewas bersama dalam sebuah kecelakaan mobil di Paris. Ingin melihat kota kota lain di luar London, naik train ke Wimbledon dan Birmingham. Ketika jalan jalan ke London Bridge suhu tercatat – 4 C. Mantel tebal tidak berhasil menahan serangan angin dingin yang membawa gumpalan salju tipis, melayang di udara lalu jatuh mencair di lantai, membuat jalanan becek dan licin.
>
> Dari London berangkat ke Paris. Dijemput oleh Iba Ruri di stasion
bus. Sayangnya kali ini tidak berkesempatan bertemu dengan Johanna Lederer seperti yang diharapkan, karena kebetulan sekali ia telah berangkat keluar negeri sehari sebelumnya. Sorenya kami berangkat lagi ke Normandie berempat dengan Ninon isteri mendiang Umar Said. Iba yang bawa mobil. Perjalanan mengambil lebih dari empat jam. Sampai di Normandie sudah larut malam, setelah mencari cari, kami memilih Ibis Budget sebuah penginapan kecil namun bersih dan nyaman. Yang paling terkesan, lain dari yang lain, penginapan ini sama sekali tidak ada concierge di counter. Di ruang masuk, semua kosong, tidak ada satu manusia pun disitu. Untuk buka pintu masuk harus pakai credit card, antara lain menyatakan mau menginap berapa malam, mau berapa kamar, mau breakfast atau tidak dan langsung dipotong beayanya dari credit card yang disodorkan ke dalam mesin. Computer telah
> menggantikan tenaga manusia, dalam kasus ini menggantikan karyawan
concierge di hotel counter. Kami berempat yang belum pernah mengalami semua ini tercengang cengang dibuatnya, lalu ketawa terbahak bahak. Rupanya hotel ini telah mampu bikin uang sendiri tanpa bantuan tenaga manusia. Sekiranya konsep ini diperluas dan membudaya, apa mungkin akan merubah ideology dunia mengenai arti penindasan kaum buruh yang kita kenal? Apa arti penindasan itu masih relevant kalau yang dinamakan buruh adalah mesin bukannya manusia? Lalu, apa yang akan dikerjakan oleh manusia? Aakh, ini sudah menjauh dari lingkaran tulisan kali ini. Tapi mungkin teman kita Kiong Hoo dapat menjawabnya?
>
> Hari kedua di Normandie Iba membawa kami ke daerah pantai dimana
tentara sekutu mendarat melawan tentara Jerman dalam WW II, juga melihat tayangan film documentary terdapat dalam teater disitu juga. Setelah itu, sorenya melanjutkan perjalanan ke St. Michel, dan akhirnya ke fortress of St. Malo di Britania sebuah benteng kuno yang dirubah menjadi kota modern penuh dengan toko toko indah dan restoran. Bawa mobil kembali ke Paris, sampai ditempat sudah dini hari. Tidur sebentar di rumahnya Ninon, lalu berangkat ke Stockholm dengan pesawat pagi. Lagi lagi Iba yang mengantar kami ke bandara. Pertemuan kami di Paris kali ini singkat tapi padat. Banyak melihat tempat dan kejadian yang belum pernah kami ketahui, dan semua ini demi bantuan Iba. Disini, saya mengucap Banyak Trimakasih pada Iba.
>
> Acara buku kedua diadakan di Stockholm. Selain para anggota paguyuban
setempat, yang datang turut meramaikan termasuk anak anak muda generasi kedua dari masyarakat diaspora Indonesia di Stockholm. Sekalipun jumlah yang datang tidak seramai di Amsterdam, tapi ruang tamu tuan rumah penuh sesak dengan para hadirin, suasana jauh lebih meriah, terasa sangat intim dan santai bagaikan di rumah sendiri. Mereka datang serombongan bersama sama, suara tawa gembira mendahului mereka sebelum memenuhi ruangan. Semua buku diborong, bahkan ada yang memesan beberapa buku lagi. Penerimaan dan perhatian yang diberikan kepada May Swan sangat mengharukan.
>
> Perjalanan seterusnya ke Turki bagian baratdaya, daerah pertanian dan
perkebunan. Dari tetumbuhan di ladang tampak lahan Turki sangat subur. Dalam delapan hari perjalanan guided tour, banyak waktu dilewati dalam perjalanan. Menginap di sebuah hotel di kota Antalya, lalu pindah ke kota Pamukka, dari situ naik kapal river boat melintasi Sungai Manavgat, dan berhenti di pantai Laut Mediterranean. Banyak yang terjun berenang, menikmati terik panas matahari dengan suhu 36 derajat C. Aku tidak. Dari situ dibawa ke daerah Hierapolis dimana terdapat banyak puing puing sejarah, termasuk jembatan kuno warisan pendudukan Roma. Kesan keseluruhan mengenai Turki cukup bersih, aman dan teratur, sekalipun tidak mewah. Dimana mana tidak pernah nampak adanya kemiskinan, seperti yang terdapat di bagian Itali.
>
> Hari terakhir perjalanan kembali ke Frankfurt, dan berangkat dari
situ ke Singapur.
>
> Secara keseluruhan, sebagai turis dapat pelayanan cukup baik dari
masyarakat setempat, terutama ketika bertanya mengenai direction. Sebagai perbandingan, orang lokal di London sangat bersahabat dan selalu bersedia membantu jika diminta. Kata “Thank you” dan “Excuse me” sangat murah diucapkan dengan senyum di wajah. Sedangkan di Paris ekspresi wajah agak cuek, bahkan tidak ada ekspresi sama sekali, tapi dalam train mereka cukup sopan, anak muda seringkali dengan suka rela memberi tempat duduknya kepada yang lebih tua, sekalipun tanpa mengucapkan kata kata. Orang Jerman lain lagi, bukan saja kaku kelihatannya, tapi juga kaku pembawaannya. Tentunya ini hanya kesan seorang turis yang kebetulan numpang jalan. Tidak dapat dianggap sebagai biblical truth.
>
>
>
>
>