Thursday, February 14, 2013

*EMPAT AWARDS Untuk Film Indonesia * " *SANG PENARI" Yang Mengungkap Pembantaian Masal oleh TNI*

*Kolom IBRAHIM ISA*

*Minggu, 03 Februari 2013**
----------------------------------*


*EMPAT AWARDS Untuk Film Indonesia *

" *SANG PENARI" Yang Mengungkap Pembantaian Masal oleh TNI*



Beberapa hari yang lalu, sahabat-baikku Yanti, Dosen di Universitas Hamburg, Jerman, menyampaikan (lewat Facebook) berita yang *menyamankan*: Membikin hati ini lega!! Sesungguhnya, isi brita tsb, *bukan berita baru lagi*. Tak jadi soal, mengenai waktu itu!


Yang penting ialah bahwa berita itu *BERITA MENYAMANKAN *bagi kita semua.


* * *


Yanti memberitakan bahwa dalam tahun 2011, sebuah film Indonesia berjudul *"THE DANCER"*, bahasa Indonesianya "*SANG PENARI"*, merupakan suatu *SUKSES BESAR*. Film *" Sang Penari" menggondol empat "awards" *pada Festival Film Indonesia, dan tahun ini film tsb mewakili Indonesia sebagai pembukaan, dalam seksi fim asing dari Academy Awards.


Sejak gerakan meggelora Reformasi dan Demokratisasi yang telah menggulingkan rezim otoriter Orde Baru, dan melorot Presiden Suharto dari jabatannya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan Indonesia, -- berangsur-angsur, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit pengetahuan dan kesadaran masyarakat Indonesia mengenai apa yang terjadi di sekitar Peristiwa 1965, semakin bertambah. Pencerahan fikiran dengan membanjirnya tulisan-tulisan dalam media dan buku-buku di sekitar Peristiwa 1965, G30S, digulingkannya Presiden Sukarno oleh Jendral Suharto, juga semakin meningkat, meluas dan mendalam.


*Film "Sang Penari" *yang dirilis tahun 2011, atas dasar buku penulis *Ahmad**Tohari*dan disutradarai oleh *Ifa Ifansyah*, dua-duanya tergolong generasi baru, merupakan sumbangan penting dalam pencerahan selanjutnya menuju Pelurusan Sejarah kita.


* * *


Film *"Sang Penari"*, karya *sutradara Ifa Ifansyah* menunjukkan situasi pasca tragedi 1965.



Film tsb menampilkan adegan- adegan pembunuhan masal ekstra-judisial oleh TNI terhadap anggota-anggota PKI, dituduh PKI atau simpatisan PKI, dan mereka-mereka yang dianggap pendukung Presiden Sukarno.



Ahmad Tohari, penulis buku novel *"Ronggeng Dukuh Paruk"* yang bukunya diolah jadi flim, menyatakan bahwa sutradara film "Sang Penari", lebih berani. ketika melukiskan pembunuhan masal tsb.

Kata Ahmad Tohari: "Novel ini saya tulis tahun 1980an. Saya takut jika menulis lebih dari itu, -- bisa-bisa peluru menembus kepala saya".



Pada suatu kesemptan sutradara Ifa Isfansyah mengatakan: Ketika saya dihubungi oleh produser untuk menyutradarai "Sang Penari", saya gembira sekali. Menurut saya novel (Ahmad Tohari) itu kuat sekali. Saya fikir akan baik sekali untuk mengemukakannya di publik yang lebih luas.



* * *



/"Alliance Fran├žaise de Singapour", yang untuk seminggu lamanya dari tanggal 21 sampai 25 Februari, 2012, mengadakan pekan kebudayaan Indonesia telah memepertunjukkan film "The Dancer"./



"*Sang Penari"*(Edisi Inggris, *The Dancer, November 2011*) adalah sebuah film drama Indonesia yang langka, karena berani mengungkap keterlibatan aparat negara (TNI) dalam pembantaian masal pasca Peristiwa 1965. Film ini diadaptasi dari novel trilogi*Ronggeng Dukuh Paruk (1982)*, karya *Ahmad Tohari*yang berasal dari Banyumas. Film "Sang Penari" mengisahkan cinta tragis seorang pemuda dengan seorang penari rongeng.



* * *



Film Sang Penari yang terinspirasi dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tersebut mengisahkan kehidupan*Srintil*ronggeng dari Dukuh Paruk pada era 1960an.



* * *


*SYNOPSIS:*

Dalam tahun 1953, dua orang pembuat tempe bongkrek di *Dukuh Paruk*, sebuah desa kecil, *Banyumas*, secara keliru telah menjual tempe bongkrek yang beracun. Tempe bongkrek yang beracun itu menimbulkan korban banyak penduduk desa. Termasuk a.l seorang ronggeng yang dihormati di desa. Penduduk desa menjadi panik dan timbul kerusuhan yang menyebabkan produsen tempe bongkrek bunuh diri. Anak perempuan mereka, *Srintil*, selamat dan dibesarkan oleh kakeknya, Sakarya.



* * *



Cerita cinta tragis ini terjadi di Jawa Tengah sekitar 1960-an. *Rasus*adalah anggota TNI dari sebuah desa miskin. Awal cerita terjadi ketika Rasus kembali dan menyusuri Dukuh Paruk, dan bertemu dengan Sakum, seorang tunanetra yang memintanya untuk mencari seseorang bernama *Srintil*. Cerita kemudian berkilas balik ke Dukuh Paruk dan hubungan cinta antara Rasus dan Srintil.

Srintil dan Rasus yang sama-sama yatim piatu, adalah teman yang sangat dekat sejak kecil. Rasus sendiri juga menyimpan perasaan cinta pada Srintil. Dengan kondisi Dukuh Paruk yang kelaparan dan mengalami depresi sejak kehilangan /ronggeng/. Srintil sendiri senang menari dari kecil. Kemampuan menarinya ternyata seperti mengandung kekuatan magis yang membuat Sakarya yakin bahwa Srintil bisa menjadi ronggeng.

Suatu hari Sakarya mendapat pertanda bahwa Srintil akan menjadi /ronggeng/besar dan mampu menyelamatkan Dukuh Paruk dari kelaparan.



Sementara itu, seorang aktivis dan *anggota PKI, Bakar *tiba di Dukuh Paruk dan meyakinkan petani Dukuh Paruk untuk bergabung dengan partai komunis, untuk menyelamatkan wong cilik Dukuh Paruk dari kelaparan, kemiskinan, dan penindasan para tuan tanah yang serakah.



Kepopuleran Srintil yang sampai ke Desa Dawuan, membuat Rasus, teman kecil sekaligus orang yang mencintainya, tidak senang dan tidak nyaman. Menjadi /ronggeng/ berarti bukan hanya dipilih warga dukuh untuk menari, namun juga untuk menjadi "milik bersama".



Srintil harus melayani banyak lelaki di atas ranjang setelah menari. Setelah keberhasilan Srintil menari di makam Ki Secamenggala, Srintil harus menjalani ritual terakhir sebelum dia benar-benar bisa menjadi /ronggeng/ yang disebut /Bukak Klambu/, di mana keperawanannya akan dijual kepada penawar tertinggi. Hal ini mengecewakan Rasus, yang mengatakan pada Srintil bahwa dia tidak senang dengan keputusannya menjadi /ronggeng/. Srintil mengatakan bahwa dia akan memberikan keperawanannya kepada Rasus, dan pada hari /Bukak Klambu/ mereka berhubungan seks di sebuah kandang kambing. Malam itu juga, Srintil berhubungan seks dengan dua "penawar tertinggi" lainnya dan menjadi /ronggeng/ sejati.



Hancur hatinya, Rasus memutuskan untuk pergi dari Dukuh Paruk, meninggalkan Srintil yang patah hati. Karena putus asa Rasus kemudian bergabung dengan sebuah batalyon TNI yang bermarkas tak jauh dari Dukuh Paruk, di mana ia berteman dengan Sersan Binsar yang juga mengajarkan dia membaca.



Sementara itu, warga Dukuh Paruk yang dirundung kelaparan dan kemiskinan mulai merangkul komunisme walaupun tidak paham tentang politik. Sepeninggalan Rasus, grup ronggeng Dukuh Paruk makin berjaya, dan politik juga mulai menjadi kehidupan Dukuh Paruk. Grup kesenian /ronggeng/Dukuh Paruk yang termasuk Kartareja, Sakarya, Sakum dan Srintil mulai sering diminta partai komunis dalam acara kesenian rakyat agar bisa menarik massa.

Namun kemudian malapetaka politik terjadi di Jakarta tahun 1965, dan karena kebodohan mereka tentang politik, warga dukuh Paruk pun ikut terseret karena "keterlibatan" mereka dalam acara-acara kesenian rakyat tersebut.



Setelah terjadinya G30S, Rasus dikirim oleh Sersan Binsar dalam misi untuk "mengamankan" orang-orang partai komunis di daerah. Namun, ketika giliran Dukuh Paruk tiba karena ikut terseret ke dalam pembantian masal itu, Rasus bergegas kembali, meninggalkan rekan pasukannya ke kampung halamannya untuk mencari dan menyelamatkan cintanya, Srintil. Cinta mereka harus menghadapi akhir yang tragis di tengah-tengah situasi tergelap dalam sejarah politik Indonesia.



Rasus menemukan Dukuh Paruknya telah hancur dan warganya telah hilang seperti ditelan bumi, hanya menyisakan Sakum yang buta. Sakum meminta Rasus untuk secepatnya mencari Srintil, namun pencarian Rasus akhirnya sia-sia. Rasus tiba di sebuah kamp konsentrasi tersembunyi tepat pada saat Srintil dan warga Dukuh Paruk dibawa oleh kereta pengangkut dan menghilang entah ke mana.



Sepuluh tahun kemudian, Rasus berpapasan dengan seorang penari kumal yang mirip dengan Srintil dan seorang penabuh /kendhang /buta yang mirip dengan Sakum di Desa Dawuan. Rasus memberikan pusaka ronggeng Dukuh Paruk kepada penari tersebut, dan penari tersebut berlalu meninggalkannya.

Rasus tersenyum, menandakan dia mengenali penari tersebut sebagai cintanya, Srintil.



Film diakhiri dengan sang penari kumal dan si pemusik buta yang menari dan menghilang di cakrawala.



* * *



*Gaya dan Tema*

"/Sang Penari/" menyinggng tema sejarah PKI di Indonesia, dengan fokus saat PKI menyebarkan politik dan ideologi. Dan sekitar pembersihan yang dilakukan tentara (TNI) terhadap PKI dan pengikut serta simpatisannya di periode 1965-1966. Diduga telah jatuh korban beberapa ratus ribu sampai sejuta lebih .

Film ini adalah film Indonesia ketiga yang bertemakan pembunuhan tersebut, menyusul film "Pengkianartan G30S/PKI (1984)", dengan sutradara Arifin C. Noer.



Ahmad Tohari kemudian mengatakan bahwa jika ia menulis tentang pembunuhan tersebut seperti digambarkan dalam film, pemerintah rezim Orba yang represif akan menembak dia.


   Penghargaan

Film ini memenangi 4 Penghargaan Piala Citra di Festival Film Indonesia 2011 untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik Ifa Isfansyah, Aktris Terbaik, Prisia Nasution dan Aktris Pendukung Terbaik Dewi Irawan. Film ini adalah film yang diajukan Indonesia untuk penghargaan Academy Awards Ke-85 untuk kategori Film Bahasa Asing Terbaik.

(Bahan-bahan dari sekitar Synopsis, Gaya dan Tema, diambil antara lain dari "The Jakarta Globe", Perkumpulan Perancis di Singapura, dan Wikipedia)



* * *



Sebuah komentar di s.k.Indonesia berbahasa Inggris, "The Jakarta Globe", menulis a.l : Meskipun terdapat kekurangan-kekurangan dalam film "Sang Penari", secara keseluruhan orang-orang Indonesia seyogianya berterimakasih, bahwa akhirnya telah dibuat sebuah film yang memberikan beberapa menit perhatian pada situasi sekitar pembunuhan massal 1965 .

Bahwa sementara pemuda-pemudi belasan tahun yang pada mulanya, sambil tertawa kecil meninggalkan ruang pertunjukkan film dengan muka yang terheran-heran, namun, akhirnya memulai diskusi-diskusi kecil, . . . *itu pasti itu adalah suatu pertanda baik. *


"Sang Penari" menimbulkan harapan bahwa akan lebih banyak dari generasi yang lebih muda yang berusaha untuk lebih baik memahami sejarah bangsanya, betapapun gelapnya apa yang telah terjadi.


* * *



No comments: