Thursday, February 26, 2009

Kolom IBRAHIM ISA - Tigapuluh Th. REVOLUSI IRAN

Kolom IBRAHIM ISA

Kemis, 12 Februari 2009

--------------------------------

Tigapuluh Th. REVOLUSI IRAN


Tampaknya tidak banyak yang menulis tentang 30 Th REVOLUSI IRAN (11 Februari 1979). Secara menyolok Iran menandai hari peringatan ultah revolusinya dengan meluncurkan satelit pertama Iran, yang diberi nama OMID (Harapan). Dengan itu Iran memaklumkan kepada dunia bahwa Iran telah mencatat kemajuan-kemajuan penting di bidang ilmu dan teknologi.


Di Belanda, karena keberadaan seorang sastrawan kenamaan Iran, Kader Abdollah., pemancar TV Belanda, NOS Journaal, secara khusus mewawancarai Kader Abdollah. Kader adalah seorang eksil Iran yang mengambil kewarganegaraan Belanda dan aktif terus sebagai penulis Iran - dalam bahasa Belanda.


Kiranya jelas, bagi Indonesia Revolusi Iran 30 th yang lalu, punya pengaruh cukup besar. Revolusi yang dijuluki 'Revolusi Islam' itu paling tidak menimbulkan keyakinan baru di kalangan umat Islam Indonesia, bahwa kekuatan politik yang berideologi Islam, telah berhasil menumbangkan rezim reaksioner Syah Reza Pahlevi. Mampu menggantikan suatu rezim kerajaan yang dalam waktu panjang ditopang satu negara adikuasa, Amerika Serikat. Sekalipun umum tak banyak memahami sejarah Iran, tetapi tidak sulit untuk melihat bahwa dukungan AS pada rezim Syah Iran, pertama-tama demi kepentingan AS sendiri atas sumber minyak di Timur Tengah. Sebab lainnya ialah bahwa AS bertolak dari kepentingan strategi Perang Dingin-nya menghadapi blok Sovyet.


Bagaimana pemahaman orang-orang Indonesia mengenai Revolusi Iran. Belum lama dalam suatu diskusi dengan tema masalah ISLAM KONTEMPORER di Indonesia, seorang pembicara yang menekuni masalah ISLAM KONTEMPORER di Indonesia, membenarkan bahwa perkembangan Islam kontemporer di Indoneis, selain disebabkan sejumlah faktor lainnya, faktor penting yang memberikan pengaruh tumbuh pesatnya pengaruh Islam di Indonesia, adalah REVOLUSI IRAN (1979).


* * *


Artikel ini bukan dimakudkan untuk menganalisis tentang Revolusi Iran. Bukan suatu studi mengenai bagaimana tumbuh dan perkembangannya sekarang. Tulisan ini, terutama dan pertama-tama hendak memperkenalkan pendapat seorang sastrawan Iran, KADER ABDOLLAH. Dalam usia 24 tahun, ia ikut ambil bagian aktif dalam revolusi menumbangkan Syah Pahleivi. Kekuasaan negara di Iran hasil revolusi yang didukung lapisan masyarakat yang luas, di bawah pimpinan Ayatollah Khomeini, dalam perkembangannya berubah menjadi suatu kekuasaan totaliter berdasarkan ajaran Islam. Rezim Khomeini tidak mentolerir oposisi dan pandangan lain terhadap rezimnya. Itulah yang menyebabkan Kader Abdollah sebagai seorang sastrawan revolusioner yang berfikiran independen meninggalkan Iran dan menjadi orang eksil di negeri Belanda.


Dalam kolomnya di s.k. Belanda, 'de Volkskrant', 09 Feb 2009, Kader Abdollah yang menggunakan penname MIRZA menulis sebuah esay berjudul 'Dertig jaar voorbij', artinya 'Tigapuluh tahun berlalu'. Penulisannya bukan dengan gaya seorang historikus atau politikus dengan titel Ph.D. Kader Abdollah menulis sebagai seorang sastrawan revolusioner. Singkat tetapi hampir semua yang penting ada di situ.


Beberapa dari pokok-pokok pandangannya adalah sbb:


--- Revolusi Iran menakjubkan, menyakitkan dan sekaligus indah


--- Revolusi Iran adalah revolusi yang dalam bentuk klasik merupakan yang terakhir


--- Revolusi Iran lebih besar dan mengesankan terbanding revolusi-revolusi lainnya yang kita kenal karena para ayatollah bisa menggunakan satelit, pesawat terbang dan TV.


--- Menyesal? Tidak pernah! Bagi kami semua peristiwa tsb adalah yang paling mengesankan pada masa kami. Dan bagi saya peristiwa itu menjadi fundamen atas mana saya membangun hidup saya selanjutnya. Datangnya kaum ayatollah tak mungkin dicegah.


--- Revolusi tsb tidak salah, bukan suatu kesalahfahaman generasi kami, bukannya suatu pemberontakan yang disebabkan oleh ketidakmengertian. Ayatollah harus muncul. Generasi kami tak dapat mencegahnya.


--- Syah Persia dengan sengaja membiarkan kami dalam kebodohan. Syah adalah rajaboneka Amerika. Selama 35 tahun kekuasaannya kami tidak pernah tau apa itu demokrasi, ia tak pernah menunjukkan betapa perlunya kebebasan berbicara.


--- Penjara-penjara Syah penuh sesak dengan kaum intelekuil, mahasiswa dan kaum disiden yang melancarkan kritik terhadapnya.


--- Saya harus mengenyampingkan kebencian pribadi saya terhadap rezim tsb.


--- Kami tidak boleh melihat Iran sebagai sesuatu yang mutlak salah , sebagai suatu negeri yang berbahaya.


--- Masih ada imam-imam lainnya, yang dalam pemerintahan Islam dewasa ini bisa menempuh politik yang independen. Salah satu contohnya adalah Mohammad Khatami.


--- Iran telah menjadi suatu kekuatan penting yang stabil di Timur Tengah. Kita tidak bisa meremhkan kenyataan ini. .



* * *



Situasi dunia dewasa ini sedang mengalami pergolakan dan perubahan terus. Di Amerika Serikat telah terjadi prubahan penting dengan kemenangan Barack Obama dalam pemilihan Presiden 2008. Berbeda dengan Presiden Bush, Barack Obama bersedia untuk berdialog dengan Iran. Dengan latar belakang ini bisa di lihat arti dan makna apa yang diutarakan Kader Abdollah dalam esaynya itu.


Melalui suatu dialog diharapkan akan tercipta suatu saling pengertian yang akan mendorong maju perkembangan politik di Timur Tengah dan dunia Islam, demi stablitas dan perdamaian. Dengan itu juga dimaksudkan perkembangan usaha demokratisasi di Iran.


Kita bertanya sekarang: Apa peranan Indonesia dalam usaha ke arah yang dimaksud tsb? Bisakah Indonesia berperanan, sebagai suatu negeri dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia ini? Andaikata Indonesia saat ini punya pemimpin, negarawan bervisi seperti Presiden Sukarno, tidak diragukan lagi Indonesia akan mampu memberikan sumbangan berarti ke arah perekembangan positif di Timur Tengah.


Perkembangan dunia sekarang, dengan munculnya pemerintah-pemerintah pilihan rakyat yang berhaluan sosialis di Amerika Latin, dengan kemenangan seorang tokoh Afro-Amerika menjadi presiden di Amerika Serikat, serta muncultnya fakta-fakta keras yang menunjukkan rapuhnya sistim perkonomian kapitalis dunia, --- pasti orang ingat kembali betapa relevannya visi BUNG KARNO mengenai bangkitanya THE NEW EMERGING FORCES di dunia.



* * *



No comments: