Thursday, October 21, 2010

Buku WILSON - "A LUTA CONTINUA!" -

Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 21 Oktober 2010
-------------------------------

WILSON - "A LUTA CONTINUA!"
Pembebasan Timor Leste>

Terima kasih banyak Wilson! Kiriman bukunya "A Luta Copntinua", sudah kuterima tanggal 16 Oktober 2010 y.l. Bonnie Tryana yang menyampaikannya. Buku karya Wilson , "A Luta Continua!", berisi 408 halaman, diterbitkan oleh Penerbit Tanah Lapang, pada bulan Agustus 2010 y.l.

Mengapa judul itu?
"A Luta Continua!' Imperatif dan kalimat perintah yang selalu mengilhami, menjiwai serta mendorong jutaan orang baik di Timor Leste pada masa perjuangan pembebasan bangsa dan negerinya maupun di Indonesia dalam perjuangan melawan rejim Suharto yang menindas secara kejam masyarakat Indonesia dan masyrakat Timor Leste." Kata-kata ini ditulis oleh Mari Alkatiri, mantan Perdana Menteri Republica Democratica de Timor-Leste Pendiri dan Sekretaris Umum FRETILIN.

Tulis Alkatiri selanjutnya a.l:
"Saya salut penulis atas keberanian, ketekunan dan penentuan dirinya untuk mencetuskan A Luta Continua! yang pertama dalam bahasa Indonesia dan mempersembahkan karya perdananya buat dua Bangsa bersaudara yakini Bangsa Timor-Leste dan Bangsa Indonesia."

"A Luta Continua! Suatu testimoni tentang salah satu nilai universal, yaitu solidaritas antar bangsa dan masyarakat manusia khususnya antara masyarakat Indonesia dan Timor Leste pada masa perjuangan dan masa kini, dalam proses mendemokratisasi diri masing-masing untuk memberantas kemiskinan di segala bidang dan membangun masyarakat yang adil dan makmur sesuai amanat konstitusi stiap negara."

* * *

Buku Wilson belum kubaca habis! Tokh merasa perlu menuliskan kesan permulaan. Buku ini menarik dan penting! Bonnie bilang buku tsb diluncurkan tahun ini di dua tempat. Jakarta dan Timor Leste! Tak jelas apa ada buku lainnya yang mengisahkan perjuangan rakyat Timor Leste membela kemerdekaan bangsanya melawan agresi dan pendudukan Indonesia selama seperempat abad. Rakyat Timor Leste telah menuliskan sejarah perjuangan mereka dengan keringat, airmata dan darah. Sebaliknya Orde Baru Suharto mencatatnya dengan tinta-kelabu yang mengotori lembaran-lenbaran sejarah bangsa kita.

Buku ini penting sekali. Selain sebagai sumbangsih penulisan sejarah menyangkut dua bangsa - Timor Leste dan Indonesia-, khusus bisa membantu masyarakat, generasi dan sejarawan muda, kaum cerdik pandai Indonesia, politisi dan elitenya membersihkan ingatan masing-masing dari racun kebohongan dan indoktrinasi Orba. Bahwa 'masuknya ABRI ke Timor Timur (1975), adalah atas 'undangan' rakyat Tim-Tim. Selanjutnya kebohongan lainnya lagi, yaitu bahwa Timor Timur, secara 'sukarela' bergabung dengan Republik Indonesia.

Perlawanan rakyat Timor Leste yang gigih dan ulet itu serta referendum di bawah PBB telah mengungkap dan mendemonstrasikan dengan jelas kebangkrutan agresi, pendudukan dan 'pencaplokan' TimorTimur oleh Orba.

Namun, pandangan 'nasionalis sempit', pandangan 'chauvinistik' bersangkutan dengan Timor Timur masih cukup bersitahan.

Buku ini penting, untuk membantu mencerahkan sementara 'nasionalis' Indonesia yang termakan oleh propaganda bohong Orba tsb.

* * *

Wilson, yang saat itu aktif di PRD, mengungkap dalam PRAKATA PENULIS bukunya, a.l sbb:

"Sejujurnya telah 10 tahun saya memendam obsesi dapat mengunjungi Timor Leste sebagai sebuah negeri merdeka. . . . . Selama di Timor Leste saya seperti bertemu dengan masa kini dan bagian dari masa lalu yang berserakan. Banyak kehangatan, perubahan dan kejutan ketika bertemu dengan kawan lama yang sudah beragam dalam hal profesi dan aspirasi politik. Namun yang paling membahagiakan adalah saya berkesempatan dengan kendaraan berkeliling ke tujuh distrik. Perjalanan dan pertemuan dengan orang biasa, serta pemandangan
indah sepanjang pantai, bukit-bukit dan padang rumput, membantu saya untuk lebih mengenal harapan-harapan tersembunyi yang tulus di luar dan analisa politk para aktivis di Dili."

Selanjutnya Wilson:
"Kenyataan ini mengingatkan penulis akan pentingnya memahami sejarah dan masa lalu sebagai suatu ingatan kolektif yang sangat dipenaruhi oleh bagaimana 'kesadran masa kini'.

Menulis tiap kepingan sejarah yang berserak mungkin sekali membantu menarik pelajaran dari jejak samar di masa lalu. Sebagai seorang aktivis yang menggemari sejarah, penulis menganggap masih banyak ruang kosong sejarah Timor Leste yang harus ditulis oelh kaum intelektuil dan aktivis di Timor Leste sendiri. Bangsa Timor Leste juga harus berdaulat atas sejarah dan masa lalunya sendiri.

Pada penutup pengantar bukunya itu, Wilson benar sekali ketika menandaskan, bahwa:
"Sejarah memang tak bisa mengubah masa kini, tapi menjadi amnesia atas masa lalu, akan membuat kita bingung menafsirkan masa kini dan kehilangan pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik di masa depan".

* * *

Hilmar Farid, sejarawan generasi muda, mencatat sbb:
"Ini adalah catatan kritis gerakan solidaritas Indonesia untuk Timor Leste, yang mengingatkan bahwa kemerdekaan adalah langkah awal dan bukan akhir, dari pembebasan sejati".

Aktivis solidaritas dengan perjuangan Leste lainnya, Budiman Sudjatmiko, menulis: "Lahirnya negara Timor Leste setelah era penguasaan Orde Baru memberikan pelajaran berharga bahwa bangsa ini tidak boleh lagi menjadi obyek dari pertarugan negara adi kuasa seperti dalam era perang dingin. Semoga buku ini ikut membantu proses untuk menciptakan rasa solidaritas dan saling pengertian antara kedua bangsa".

Andi Arief, mantan aktivis yang kini menjabat abagai Staf Presiden SBY, menulis:
"Buku ini penting karena menambah referensi tentang sejarah dan perjuangan rakyat Timor Leste serta hubungannnya dengan rakyat Indonesia. Saya berharap buku ini bisa menjadi salah satu acuan bagi kedua bangsa, Indonesia dan Timor Leste, untuk membangun peradaban dan komunikasi politik yang sejajar dan saling menghargai keunikan masing-masing bangsa:.

Sedangkan Xanana Gusmao, Perdana Menteri Timor Leste, menegaskan kepada Wilson, bahwa: 'Anda memperoleh juga kesempatan yang sangat penting untuk memberi kesaksian mengenai hubungan perjuangan dari pemuda Indonesia dengan perlawanan Maubere".

* * *

Barangkali interesan untuk sekadar mengetahui a.l judul-judul dari 12 Bab buku Wilson, sbb:

Bab I : Kaum Kiri dan Pembebasan Nasional.
Bab 2: Timor Leste dalam Era Pra Orde Baru Soeharto
Bab 3: Timor Leste dalam Politik Orde Baru Soeharto
Bab 4: Gerakan Demokrasi dan Persoalan Timor Timur
Bab 5: Demokrasi untuk Indonesia, Kemerdekaan untuk Timor Timur
Bab 6: Relasi dengan Gerakan Pembebasan Timor Leste.
Bab 7: Solidaritas Internasional Untuk Timor Leste
Bab 8: Bersama Xanana Gusmao di Penjara Cikpinang
Bab 9: Timor Leste dalam Politik Elektoral 1999
Bab 10: Menyikapi Hasil Referendum di Timor Timur
Bab 11: Kaum Kiri, Pasukan Keamanan PBB dan Neoliberalisme
Bab 12: Setelah Krisis Selalu Ada Harapan-harapan

* * *

Tentu perlu sedikit membaca apa yang tercantum dalam biodata Penulis Wilson: Sedikit saja, a.l sbb:

WILSON, (43Tahun), lahir di Jakarta, 28 Maret. Lulus sarjana SI dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1994, dengan skripsi "Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme; Respon Kaum Pergerakan 1930-an Atas Kemunculan Fasisme". Menikah dengan Nor Hiqmah, mantan aktivis yang kini menjadi peneliti di Yappika. Di karunia seorang anak perempuan berusia 9 tahun bernama Mernissi Bunga Opressia. Penggila musik rock 1970-an. Fans tanpa batas kesebelasan FC Barcelona dan tim nasional Argentina. Tinggal di rumah sederhana tipe 36 di Citayem, Depok, Jawa Barat, Indonesia. Sudah 10 tahun berhenti merokok. Sekarang juga menolak makanan yang berasal dari mahluk hidup berkaki dua dan berkaki empat. Dapat dikontak di alamat email:
ortubunga@yahoo.com. Selanjutnya mengenai biodata Wilson silakan baca di buku Wilson.

* * *

Pembaca! Jangan ayal lagi. Cari dan beli buku Wilson itu, dan baca. Penting!

* * *

No comments: