Sunday, March 16, 2008

IBRAHIM ISA - Berbagi Cerita - INTERMEZO - <17> - < Buku Sekitar Zaman 'BERSIAP' (1) > -

IBRAHIM ISA - Berbagi Cerita
-------------------------------
Senin, 25 Februari 2008


INTERMEZO - <17> -

Mengunjungi Perpustakaan Amsterdam Lagi

<>


Belakangan, aku berkunjung lagi ke 'Openbare Bibliotheek Amsterdam' (Bangunan baru). Ada kawanku yang bilang: 'Kamu, tiap hari di sana, ya?' Tidak, aku bilang. Tetapi memang, aku secara teratur berkunjung ke Openbare Bibliotheek Amsterdam. Yang baru-baru ini ialah pada akhir Januari y.l.


* * *


Subjudul diatas tertulis: -- 'Sekitar Zaman 'Bersiap'. Maksudnya adalah tanggapanku sendiri secara umum mengenai buku yang baru saja kupinjam dari Openbare Bibliotheek Amsterdam. Judul lengkapnya ialah -- ' BE RS I A P ! - Opstand in Het Paradijs -- De Bersiap Periode op Java en Sumatra 1945-1946' -- Dalam bahasa Indonesia, kira-kira: ' BERSIAP, Pemberontakan di Surga - Periode Bersiap di Jawa dan Sumatra 1945-1946'. Penerbitnya Uitgveverij Walburg Pers, Zutphen, Holland (2005). Ditulis oleh seorang historikus bangsa Belanda turunan Indonesia. Historikus Belanda yang juga dikenal sebagai orang 'INDO' itu bernama Dr H.J. Bussemaker.


Kubilang saja sekarang-sekarang ini -- bila Anda sempat membaca buku Bussemaker tsb, jangan harap akan membaca kisah perjuangan dan kepahlawan para pemuda Indonesia melawan tentara Inggris, Jepang dan Belanda pada periode perang kemerdekaan kita. Bukan hal itu yang menjadi isi pokok bukunya. Nanti akan kujelaskan belakangan.


Bagi kita, terutama bagi yang pernah ikut ambil bagian langsung dalam periode awal perang kemerdekaan, teriakan 'BERSIAP' di sekitar periode itu, a.l. di Jakarta, terang masih jelas dalam ingatan. Teriakan 'Bersiap' atau 'Siaaaaaaap!' . . . . bagi para pejuang kemerdekaan ketika itu adalah seruan dan teriakan perjuangan, teriakan keberanian melawan musuh kemerdekaan bangsa.: Tentara Inggris, Gurka, Jepang, Nica dan antek-anteknya.


Bagi kita periode 'Bersiap' itu kemudian tidak begitu dibicarakan lagi. Juga tidak terlalu luas dikenal. Yang terutama dikenal adalah berita dan kisah sekitar kepahlawanan pemuda dan rakyat umumnya, pada saat-saat berlangsungnya 'Pertempuran melawan Inggris di Surabaya'. Juga pertempuran sekitar Bandung yang telah menjadi 'lautan api', karena dibakar musuh, dan pertempuran sekitar Magelang- Ambarawa.


Bicara masalah seruan dan teriakan perjuangan, yang menonjol ialah seruan dan teriakan sambil mengepalkan tangan kanan keatas, 'MERDEKA, Sekali Merdeka Tetap Merdeka'. Merdeka Bung! 'Maju Terus Pantang Mundur! Maju ke Front!


Namun, lain kesan dan ingatan nyantol pada golongan dan kaum yang berbeda. Bagi segolongan bangsa Belanda, yang jumlahnya hampir setengah juta orang, khususnya bagi orang-orang Belanda yang pada zaman pendudukan militer Jepang dimasukkan ke kamp-kamp interniran Jepang (kira-kira 130.000 orang dengan segala penderitaan yang mereka alami), dan bagi mereka, umumnya golongan 'Belanda Indo' yang oleh Jepang tidak dijebloskan dalam kamp interniran (sekitar 300.000-an); --- 'Periode Bersiap' itu merupakan saat-saat m e n g e r i k a n dan menakutkan. Periode 'Bersiap' tsb akhirnya merupakan semacam 'trauma' . Mungkin sampai saat ini masih demikian adanya. Mereka-mereka itu, khususnya golongan Belanda- Indo adalah orang-orang yang tergolong menjadi korban akibat konflik dan kekerasan pada periode tsb.


Buku yang ditulis oleh Dr. H.J. Bussemaker tsb terutama mengenai orang-orang Belanda Indo tsb.


* * *


Pada kunjunganku ke Openbare Bibliotheek Amsterdam kali ini , aku dihadapkan pada surprise baru lagi.


BUKU OTOBIOBRAFI BUNG KARNO

Surprise pertama dulu, ialah ketika mula-awal aku berkunjung ke perpustakaan Openbare Bibliotheek Amsterdam yang baru dibangun ketika itu. Ketika itu aku menemukan buku Bung Karno di situ. Dengan sendirinya aku gembira. Sekaligus angkat topi pada penulis-penulis Belanda, baik yang jurnalis, pakar maupun historikus. Di negeri Belanda ini, seperti juga halnya di pelbagai perpustakaan perguruan tinggi dan nasional lainnya, termasuk di Amerika Serikat, London, Australia dll. terdapat literatur tentang tokoh Proklamator Republik Indonesia, Ir Sukarno, yang boleh dikatakan berimbang. Ada yang mati-matian anti-Sukarno, ada yang berusaha obyektif. Tapi ada juga yang atas dasar penelitian sendiri, kemudian menjadi kagum terhadap tokoh Sukarno dan menyimpulkan bahwa Bung Karno adalah BAPAK NASION INDONESIA. Pendirian orang asing seperti ini, a.l. adalah pendirian Prof. Dr Bob Hering, historikus terkenal berbangsa Belanda.


Tidak ketinggalan pula adanya orang-orang yang mengidap dendam kesumat terhadap Bung Karno. Mereka itu bukan saja terdiri dari orang-orang asing, dan orang-orang Belanda yang pandangan kolonialnya belum berubah, tetapi . . . diantaranya ada orang-orang Indonesia. Mereka berargumentasi, bahwa Sukarno adalah 'kolaborator Jepang', Sukarno 'pembunuh demokrasi di Indonesia dan, yang memimpin Indonesia secara 'otoriter'. Bahwa 'Sukarno tukang kawin' dsb. Tuduhan dan cacian mereka itu, tidak beda dengan propaganda NICA, pada periode perjuangan kemerdekaan rakyat kita melawan Jepang, Inggris dan Belanda. Banyak diantaranya adalah pengikut-pengikut Dr H.J. Van Mook. Tidak sedikit dari mereka itu adalah orang-orang bayaran NICA, yaitu Netherlands Indies Civil Adminstration. Suatu pemerintah Hindia Belanda sesudah Perang Dunia II, yang berusha menegakkan kembali kolonialisme Belanda di Indonesia.


Orang-orang bayaran NICA tsb kerjanya mencari 'bahan bukti' tentang kekurangan-kekurangan Bung Karno. Orang-orang anti-Sukarno seperti itu tampaknya sudah 'tak tertolong lagi'. Karena, jalan fikiran dan logika mereka sudah kadung diracuni oleh cara memandang, cara berfikir dan kultur seperti yang berlangsung di Indonesia pada periode rezim Orba. Mereka-mereka itu tidak bisa berfikir bebas, tak mampu melihat hal-ihwal secara keseluruhan, dalam segala seginya. Kalau dengar nama Bung Karno, kontan berdiri bulu tengkuknya. Bisa karena timbul nafsunya yang berkobar-kobar untuk mencaci-maki dan memburukkan nama Bung Karno. Bisa juga karena khawatir, jangan-jangan 'Sukarnoisme' tambah populer di Indonesia.


Orang-orang seperti itu tidak suka bahkan tidak pernah dengan teliti membaca karya-karya politik Bung Karno, baik yang klasik maupun yang kontemporer. Bisa diduga bahwa mereka tidak pernah membaca Otobiografinya Bung Karno sendiri, seperti yang dikisahkannya kepada seorang penulis Amerika, Cindy Adams. Sayang yang ada di Openbare Bibliotheek Amsterdam, bukan buku yang orisinil. Tapi edisi bahasa Belanda. Berita mengenai buku otobiografi Bung Karno edisi Belanda ini kusampaikan kepada Jusuf Isak. Jusuf Isak adalah salah seorang wartawan Indonesia, pejuang demokrasi yang menguasai riwayat dan ajaran-ajaran Bung Karno, terbanding banyak orang yang mengaku dirinya Sukarnois atau Marhaenis.


Jusuf Isak cepat saja minta supaya dicarikan satu kopi edisi bahasa Belanda itu. Memang, Jusuf Isak fasih bahasa Belanda. Dan dalam percakapan sehari-hari dengan kawan yang mengerti bahasa Belanda, Jusuf Isak lebih banyak menggunakan bahasa Belanda.


Dalam cakap-cakap kami, -- sering Jusuf Isak menyatakan bahwa tidak sedikit orang termasuk penulis asing, yang 'sok tau' dan 'sok paling kenal' , 'sok pinter' tentang siapa dan apa peranan Bung Karno dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk kemerdekaan. Dari tulisan dan ucapan mereka tentang Bung Karno, kata Jusuf Isak, jelas bisa dilihat bahwa mereka-mereka itu samasekali tidak mau tau dan tidak mau mengerti peranan Bung Karno dalam sejarah Indonesia. Jusuf beberapa kali mengatakan bahwa novelis Pramudya A. Tur pernah mengatakan, siapa yang tidak mengerti Bung Karno, tidak mungkin kenal bangsa Indomesia.


* * *


Kujumpai di Openbare Bibliotheek Amsterdam kali ini, d u a buah buku karangan dua orang Belanda mengenai, atau, yang berkaitan dengan REVOLUSI KEMERDEKAAN INDONESIA. Bagiku buku-buku itu baru, meskipun sudah dua tahun terbitnya. Masih ada orang-orang Belanda, baik yang historikus maupun lainnya, yang tertarik, berusaha memahami apa yang terjadi ketika terjadi perjuangan kemerdekaan oleh bangsa Indonesia. Apa pengaruh dan akibatnya terhadap mereka-mereka, orang-orang Belanda maupun Indo, yang pada zaman pendudukan Jepang masuk kamp-kamp tahanan Jepang.


Aku kira selanjutnya tetap masih akan ada bahkan mungkin bertambah orang-orang Belanda yang tertarik bahkan terpesona. Selain berusaha memahami apa itu Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Suatu gejala yang menunjukkan perhatian terhadap hubungan Indonesia Belanda, baik sebagai partner bisnis maupun dalam kaitannya dengan masa lampau, katakanlah masa 'tempo doeloe', maupun dalam rangka memperbaiki dan memajukan hubungan saling mengerti dan bersahabat antara dua negeri dan dua bangsa kita.


Aku tak tau sudah berapa banyak buku mengenai, atau, yang bersangkutan dengan Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis oleh orang Belanda. Terakhir kita tau, yang menyangkut periode revolusioner tsb dan bersangkutan dengan kekuatan bersenjata Republik Indonesia, adalah buku yang ditulis oleh Dr. B. Bouman, purnawirawan Brigjen Artileri Tentara Kerajaan Belanda,. Buku tsb berjudul -- 'De Logistiek Achter de Indonesische Revolutie, 1945-1950'. (Latar Belakang Logistik Revolusi Indonesia').



* * *


Ada dua buah buku yang kupinjam.

Buku yang pertama yang ditulis oleh Dr H.J. Bussemaker (sudah kusinggung dimuka tadi) pada sampul buku dimuat sebuah lukisan sketsa truk-truk penuh pemuda-pejuang. Kiranya iring-iringan truk pemuda tsb sedang menuju ke Front. Sang Saka Merah Putih berkibar-kibar di atas truk-truk yang penuh dengan para pemuda. Pada truk paling depan tertulis besar-besar REPOEBLIK INDONESIA.


Buku kedua yang kupinjam berjudul: 'REVOLUTIE IN SOERABAJA' -- 17 augustus - 1 december 1945'. Seremnya , pada kulit luar buku ini terpampang besar-besar gambar yang populer kita kenal pada periode permulaan revolusi kita, yaitu foto Bung Tomo yang sedang pidato berapi-api dengan mata membelalak, sambil mengacungkan tangan kanannya dengan tulunjuk jari diarahkan ke atas. Bung Tomo berrambut gondrong, mengenakan pakaian seragam tentara berpici tentara (tidak jelas lencana apa yang disematkan di picinya). Mengenai buku ini baru kemudian akan ku bicarakan.



Sedikit menyela :

Sebutan kata 'INDO' tadi itu, jangan dikisruhkan dengan penyebutan kata 'Indon' yang belakangan ini digunakan oleh orang-orang di Malaysia bila yang dimaksudkan ialah orang Indonesia. Bagi orang-orang Indonesia, sebutan itu tidak énak kedengarannya. Maka sekali tempo pernah diajukan kritik dan protes keras terhadap penamaan tsb oleh orang-orang Malaysia. Juga, dirasakan bahwa, penamaan itu, oleh orang-orang Malaysia bersangkutan, memang sengaja dimaksudkan untuk sedikit-banyak, merendahkan orang-orang Indonesia, 'ngenyék', kata orang Jawa. Maka siapapun, pertimbangkanlah masak-masak, janganlah menggunakan penamaan ' I n d o n ' , bila yang dimaksudkan itu adalah orang-orang Indonesia. Bila maksudnya orang Indonesia, sebut saja, ya, INDONESIA. Kan gampang saja. Jangan mengada-ada. Bukankah lebih baik mencegah timbulnya soal yang tidak dikehendaki dan tidak perlu terjadi. OK?!


* * *


Buku Dr. H.J. Bussemaker, yang dibangun secara kronologis serta membicarakan pelbagai fase periode 'BERSIAP', mencakup peranan Jepang dan Inggris. Bertolak dari sumber bahan luas dipersoalkan dan dikemukakan kritik mengenai ke-efektifan Inggris. Juga diajukan pendapat/kritik terhadap kebijakan Nederland.


Dikatakan bahwa sekitar periode 'BERSIAP' tsb dalam banyak hal telah menentukan pembentukan identitas orang-orang Belanda Indo. Hal itu juga yang telah mendorong mereka a.l. secara masal meninggalkan Indonesia, negeri tempat kelahiran dan hidup mereka puluhan tahun, dan kembali ke negeri Belanda pada tahun 50-an (sesudah diberlakukannya Persetujuan Konferensi Meja Bundar, (KMB) disaat Belanda 'menyerahkan kedaulatan' Hindia Belanda kepada Republik Indonesia Serikat). Mereka-mereka itu (helaas!) tidak mendapatkan sambutan hangat di Nederland.


Pembicaraan mengenai buku H.J. Bussemaker ini akan kulanjutkan dalam tulisan berikutnya. (Bagian ke-2 dari tulisan ini)


* * *

No comments: