Thursday, March 11, 2010

PERJUANGAN EMANSIPASI WANITA BELUM SELESAI

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 08 Maret 2010
--------------------


PERJUANGAN WANITA INTERNASIONAL Untuk Emansipasi Masih Belum Selesai !!



Peringatan Seabad Hari Wanita Internasional, International Women's Day (IWD), tujuan terutamanya ialah agar kaum wanita khususnya dan masyarakat umumnya, jangan sampai lupa, bahwa hak-sama wanita dengan kaum priya yang diperjuangkan oleh wanita sedunia sejak seabad yang lalu, realisasinnya masih jauh dari tuntuan. Di banyak negeri mancanegara, termasuk dinegeri-negeri yang maju dan memproklamasikan diri sebagai pembela HAM, termasuk hak-sama kaum wanita dengan kaum priya, seperti di Amerika Serikat dan negeri-negeri Barat lainnya, hak-sama kaum wanita dengan kaum priya masih jauh dari terpenuhi.


* * *


Dimana kedudukan, tempat kaum wanita Indonesia dalam keluarga, masyarakat dan negara, menurut pandangan bangsa kita umumnya? Mengenai hal tsb pasti ada berbagai pandangan, jawaban dan tanggapan. Ambil satu contoh. Mengenai UU Pornografi. Jelas ada dua pendapat yang saling bertolak belakang. Satu pandangan menjadikan kaum wanita sebagai obyek yang menjadi 'masalah'. Satu pendangan linnya melihatnya dari ketidak setaraan hukum terhadap hak-sama antara wanita dan priya. Kita masih ingat, bagaimana perlawanan sementara tokoh golongan yang me(nyalah)gunakan agama untuk menjegal Megawati Sukarnoputri menjadi perempuan pertama yang menjabat kepala negara dan pemerintahan. Kita kesampingan dulu 'masalah' itu untuk kali ini.


Agak lain dengan tema utama memperingati IWD – International Women's Day, yaitu mengedepankan masalah perjuangan kaum wanita utuk hak-sama dengan kaum priya dalam rangka pelaksanaan HAM, kali ini ingin dikemukakan bagaimana pandangan tokoh pejuang kemerdekaan yang memberikan seluruh jiwa raganya untuk 'nation-building', BUNG KARNO.


Sejarah bangsa ini mencatat, mendokumentasi nama Bung Karno terkait erat dengan buku berjudul – “SARINAH”. Buku Bung Karno itu berisi kuliah beliau mengenai kedudukan wanita Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. “Sarinah-lah yang mengajarkan Sukarno untuk cinta kepada rakyat, sehingga rakyat pun akan mencintainya. . . . . .Sarinah adalah perempuan desa yang mengajari Sukarno mengenal cinta-kasih. Sarinah mengajari Sukarno untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata. Ajaran-ajaran itu bergulir setiap pagi, bersamaan Sarinah memasak di gubuk kecil yang berfungsi sebagai dapur, di dekat rumah. Sukarno selalu duduk di samping Sarinah. Pada saat-saat seperti itulah Sarinah berpidato, "Karno, pertama engkau harus mencintai ibumu. Kemudian, kamu harus mencintai rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya." (Goenadi, 17/7-2009).


Pada saat memperingati “SEABAD 08 MARET”, Hari (perjuangan ) Wanita Sedunia untuk sama-hak, ada baiknya mengingat kembali perhatian Bung Karno terhadap kedudukan wanita dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Ada baiknya membaca (kembali) buku beliau: * “Sarinah, Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia”*


Siapakah Sarinah? Kalau dilihat di buku “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, BK menceritakan tentang Sarinah berikut kutipannya:


”Sarinah adalah bagian dari rumah-tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami dia seorang anggota keluarga kami. Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa yang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapat gaji sepeser pun. Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta-kasih. Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menyebut itu. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata. Selagi ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan kemudian ia berpidato, ” Karno, pertama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian kau harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya.” Sarinah adalah nama yang biasa. Akan tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita yang biasa. Ia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidupku. “ (Roso Daras). Dsini Bung Karno mengangkat Sarinah, seorang wanita yang mengasuhnya sejak kecil, sebagai seorang wanita yang memberikan pendidikan moral bangsa kepadanya.


“Saya namakan (buku tsb) Sarinah, sebagai tanda terima kasih. Ketika masih kanak-kanak, pengasuh saya bernama Sarinah. Ia mbok saya. Ia membantu Ibu saya, dan dari dia saya telah menerima rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya menerima pelajaran untuk mencintai orang kecil. Dia sendiri orang kecil, tetapi budinya besar. Semoga Tuhan membalas kebaikannya.” (Roso Daras).


Dari uraian kecil diatas bisa disaksikan bagaimana sikap dan pandangan Bung Karno mengenai kedudukan wanita dalam keluarga dan masyarakat. Sebagai sumber rasa cinta. Cinta kepada orangtua dan cinta kepada rakyat dan bangsa.


Memperingati Hari 8 Maret seperti ini juga merupakan salah satu cara mengenangkan HARI WANITA INTERNASIONAL.*



* * *


Begitu pula nama R.A. Kartini, dalam sejarah bangsa, erat terkait dengan peranan beliau dalam mengangkat kaum wanita Indonesia, merebut hak untuk memperoleh pendidikan pengetahuan dan ilmu sama dengan kaum priya. Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kumpulan surat-surat kepada Mrs. Abendanon dan suaminya. Karya Kartini ini , patut menjadi perhatian generasi muda. Jadikan Kartini, suri teladan. Khayati semangat dan api perjuangan Kartini untuk pembaruan, untuk meningkatkan pengetahuan dan derajat kaum wanita Indonesia.


Pandangan 'mainstream' dalam masyarakat Indonesia, ialah, bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia. Kartini adalah tokoh nasional. Dalam usia semuda itu (25^th ) beliau tampil dan memperjuagkan ide dan gagasan pembaruan. Kartini telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional. (Roso Daras)


Mengangkat tokoh nasional KARTINI, dalam rangka memperingati hari IWD (International Women's Day), juga adalah cara edukatif untuk meningkatkan kesadaran dan mengenal identitas bangsa sendiri.


* * *


Juga dalam rangka IWD, dipublikasikan di bawah ini sebuah puisi penyair muda

DINI SETYOWATI:


100 TAHUN 8 MARET
Oleh: Dini S.Setyowati


Seratus tahun yang lalu
Ibu-ibu turun ke jalan
Karena hanya mereka yang tahu
Dan merasa tak tega
Melihat anak-anak mereka
Menahan sakit dan lapar
Melihat kawan-kawan tanpa kerja
Mati perlahan menjadi mayat terkapar
Ditengah “Sky scraper's” dinginnya udara New York

8 Maret adalah tanggal
Dimana buruh tekstil perempuan
Telah sepakat untuk turun berprotes ke jalan
Dengan spanduk-spanduk galak teriak
Bahan pangan untuk rakyat !
Hak pilih yang sederajat !
Hidup tanpa melarat !
Ganyang para fabrikant laknat !

Dan ketika bumi bangsa-bangsa
Dikoyak oleh perang dunia pertama
Dimana interes kapital
Mulai membugil maksudnya
Maka para isteri dan ibu bangkit lagi
Dalam memanggil para suami agar kembali
Keluar dari ancaman jadi korban perang absurd

Klara Zetkin dan Rosa Luxemburg
Menjadi pelopor dalam aksi menyulut
Obor kemerdekaan wanita seluruh dunia.
Akan tetapi jalan perjuangan
Masih jauh dari tujuan...
Sampai kini seolah berupa tradisi
Masih terus berlangsung penghisapan
Atas buruh perempuan di industri tekstil
Dan mereka dari dunia ke III dijerat

Jaringan dagang wanita dan pembantu migran
Sister's ! Mother's ! Wive's !
Perjuangan kita sudah nyata
Tak mungkin punkir keadaan fakta
Dalam sehari-hari diskriminasi gender
Tak habis-habisnya hak kita diperkosa
Di pekerjaan, masyarakat dan rumahtangga
Rantai belenggu tetap menjerat leher !

Sistem kapitalis yang macho
Adalah malapetaka bagi kita semua:
Yang mencita-citakan sistem adil dan makmur
Tanpa penghisapan manusia atas manusia !


Amsterdam, 8 maret 2010*
(Puisi ini dibacakan di Dam pada manifestatie wanita sedunia)



* * *


Kita beralih ke tokoh internasional yang merupakan STANDARD BEARER, pemegang panji perjuangan emansipasi kaum wanita, yaitu CLARA ZETKIN.

Siapa Clara Zetkin?

Ia lahir di Ezner, Jerman, tanggal 5 Juli 1857 (meninggal 20 Juni 1933). Sejak melakukan kegiatan masyarakat, Clara Zetkin adalah seorang politikus aktif dan berpengaruh yang berfaham Sosialis yang memperjuangkan hak-hak wanita. Beliau aktif di Partai Sosial Demokrat Jerman (USPD). Kemudian menjadi anggota Liga Spartakis dan tak lama kemudian masuk Partai Komunis Jerman (KPD). Ia mewakili Partai Komunis Jerman di Reichstag (1920-1933). Dalam kegiatannya ia punya hubungan luas dengan gerakan wanita dan gerakan buruh Jerman. Karena larangan gerakan dan kegiatan sosialis di Jerman oleh rezim Bismarck (1878), ia menjadi orang eksil, yang kemudian bermukim di Paris. Di sana ia aktif ikut membentuk Sosialis Internasional.



* * *



Bersama dengan Rosa Luxemburg, teman seperjuangannya, Zetkin merupakan salah seorang tokoh utama sayap kiri dalam SDP. Dalam perdebatan mengenai masalah Revisionisme pada permulaan abad ke-20, Zetkin melakukan serangan kritik tajam terhadap revisionisme Bernstein. Zetkin dengan teguh dan tegas berjuang melawan NAZI, Sosialisme-Nasionalnya kaum fasis Jerman.



Clara Zetkin adalah seorang pejuang WANITA BERPOLITIK. Di sini ia memperjuangkan kesempatan-sama dan hak pilih bagi kaum wanita. Dalam kaitan inilah Zetkin mengembangkan dan membangun gerakan sosial-demokrasi wanita Jerman. Dalam tahun 1907 Clara Zetkin menjadi pemimpin “Women's Office” dalam SPD. Adalah Clara Zetkin yang memulai menegakkan ide HARI WANITA INTERNASIONAL pada tanggal 08 Maret 1911. Ide tsb diluncurkannya di Kopenhagen, Denmark.



Selain sebagai anggota comite central Partai Komunis Jerman, dari 1927 s/d 1933 Clara Zetkin menjabat sebagai anggota dari ( Jangan kag├ęt, ya ) – COMINTERN – Komunis Internasional.



Seratus tahun yang lalu 99 orang tokoh gerakan wanita internasional dari 17 negeri, menghadiri Konferensi Wanita Sosialis di Kopenhagen. Pada saat itulah dicetuskan ide HARI WANITA INTERNSIONALoleh Clara Zetkin.



Pertanda dimulai dengan lebih mantap gerakan wanita internasional untuk emansipasi, bebas dari penindasan dan pemerasan, untuk hak-sama dengan kaum priya, khususnya hak-pilih dalam pemilihan umum.



* * *

No comments: