Thursday, April 7, 2011

Kolom IBRAHIM ISA

Kemis, 07 April 2011


DIMULAI Dng ARGENTINA , Lalu URUGUAY – KAPAN INDONESIA ??!!


Jorge Rafael Videla, JENDRAL, mantan Presiden Argentina, orang paling

bertanggungjawab atas persekusi dan penglikwidasian lawan-lawan politiknya, yang umumnya terdiri dari kekuatan demokratis/progresif Kiri, telah dijatuhi hukuman seumur hidup (22 Desember 2010).



Dalam tahun-tahun 70-an dan 80-an abad lalu, Amerika-Latin dilanda persekusi dan teror junta-junta-militer Kanan. Aksi-aksi teror tsb dikordinasi oleh suatu badan yang terkenal dengan nama “OPERATION CONDOR”, yaitu aliansi junta-militer Kanan Amerika Latin. Gembong-gembongnya adalah Jendral Jorge Rafael Videla dari Argentina dan Pinnocochet dari Chili. Badan intelejen AS, CIA, langsung terlibat dalam operasi ini . Media Amerika

Latin mengungkapkan bahwa kaum teroris Kanan AL itu memperoleh latihan militer dan intel di pusat pelatihan CIA di Fort Benning, AS. Tujuan 'Operation Condor' adalah berkordinasi dalam mempersekusi dan melikwidasi kekuatan demokratis-progresif di masing-masing negeri ketika itu.



Operation Condor” telah mempersekusi, menteror sekitar 400.000 warganegara.Termasuk 50 sampai 60 ribu yang dibunuh. Empatpuluh ribu orang yang 'hilang'. 'Operation Condor' atau 'Plan Condor' formalnya didirikan untuk melawan 'subversi dari luar' terhadap Amerika Latin. Dalam susana strategi 'Perang Dingin' AS, 'Operation Condor' prakteknya adalah suatu persekusi dan teror terhadap golongan rakyat yang beraliran Kiri, progresif dan Marxis, meliputi pemimpin dan anggota serikat buruh, anggota Partai Sosialis,cendekiawan, seniman atau golongan lainnya.



* * *


Seiring dengan tegaknya demokrasi dan berdirinya pemerintahan yang progresif, pengadilan Argentina telah menjatuhkan hukuman seumur hidup terhadap Jendral Jorge Rafael Videla, diktator Argentina tahun tujupuluhan abad ke-20. Ini terjadi tahun lalu, pada tanggal 22 Desember. Sekarang negara Uruguay dapat giliran!


Sedikit demi sedikit, tetapi pasti, di Amerika Latin keadilan bagi korban rezim-rezim junta-militer Kanan, berkembang terus. Sehingga makin bertambahlah keyakinan, bahwa, , memperjuangkan dan mencapai sukses demi keadilan bagi para korban persekusi dan pembunuhan, bukanlah suatu impian belaka; Bukanlah suatu ilusi!


* * *


Kemis, 31 Maret, 2011, yl, mantan Jendral Eduardo Cabanillas, juga dijatuhi hukuman seumur hidup oleh sebuah pengadilan di Buenos Aires, Argentina. Berhubung keterlibatannya dengan kejahatan terhadap kemanusiaan yg dilakukannya selama kekuasaan junta-militer Kanan Videla (1976-1983). Cabanillas ketika itu menjabat kepala pusat penyiksaan Automoteres Ortletti. Tiga orang lainnya, anggota intel tentara, diganjar hukuman antara 20 s/d 25 tahun. Di antara 300 orang yang disiksa di pusat penyiksaan tsb sebagian terbesar dibunuh atau 'hilang'. Di antaranya terdapat banyak aktivis prodem dari Uruguay, Peru, Boklivia dan Chili.


Dalam tanggapannya mengenai dijatuhinya hukuman berat oleh badan pengadilan terhadap para pelaku kejahatan kemanusiaan, jurubicara 'Ibu-Ibu Plaza de Mayo' menyatakan bahwa keputusan pengadilan terhadap para pelaku pelanggaran HAM berat di Argentina tsb

sebagai “hari bersejarah yang gilang-gemilang”.


* * *


Bulan Maret y.l, keluarga penyair Argentina, Juan Gelman, melalui perjuangan cukup panjang dan berliku-liku (sedikitnya5 tahun), dengan dukungan solidaritas kuat para aktivis demokrasi dan HAM banyak negeri, terutama Amerika Latin, --- akhirnya berhasil merebut keadilan bagi keluarganya. Juan Gelman adalah penyair budayawan orang Argentina dan

aktivis demokasi yang terpaksa menjadi orang buangan di Meksiko, karena persekusi dan teror rezim militer-Kanan Jorge Videla pada tahun-tahun 1976-1983.


Dalam tahun 2007 Juan Gelman memperoleh Hadiah Cervantes, suatu penghargaan tertinggi untuk literatur Spanyol.


Penculikan, kemudian 'hilangnya' putra Juan Gelman, Marcelo Gelman, dan menantunya, Claudia Gelman sertra cucunya, --- itu terjadi di URUGUAY. Uruguay, sebuah negara A.L ketika itu dikuasai oleh rezim militer-Kanan.


URUGUAY terlibat dengan kasus penculikan, 'hilangnya'- 'disappearance' kemudian dibunuhnya wanita aktivis Caludia Gelman.


Penyair Juan Gelman khusus mengajukan nagi pribadinya, ia tidak hendak diberi kompensasi. Maria Claudia dan Marcello Gelman diculik di Buenos Aires pada tanggl 24 Agustus, 1976, lima minggu sesudah Videla melakukan kudeta. Marcello kemudian dibunuh dengan satu tembakan ditengkuknya dan jenazahnya ditemukan pada tahun 1989, dalam suatu kuburan masal tanpa papan nisan, bersama tujuh korban lainnya.


Ketika diculik Maria Claudia sedang hamil tua (7 bulan). Ia diangkut ke Uruguay. Setelah melahirkan bayinya di penjara Uruguay, Claudia dieksekusi. Sampai kini jenazah Cladia masih belum ditemukan. Penguasa dengan sewenang-wenang menyerahkan bayi Maria kepada polisi Uruguay. Setelah 23 tahun melakukan usaha pencarian cucunya, akhirnya Juan Gelman menemukan cucunya, Macarenna Gelman. Dengn demikian cucunya menemukan kembali identitasnya sebagai Macarena Gelman.



* * *


Menoleh ke situasi HAM di negeri kita sendiri Indonesia: --- Sejak kudeta Jendral Suharto disusul dengan ditegakkanya rezim Orba yang melakukan pelanggaran HAM terberat di Indonesia, -- Sejak itu, kekuatan demokratis masyarakat Indonesia terlibat dalam perjuangan dan kegiatandemi demokrasi, reformsi dan keadilan. Berangsur-angsur kesadaran dan

keberanian mereka meningkat. Mereka yakin bahwa adalah tugas berjuang terus demi terlaksananya keadilan di Indonesia.


Hasil penting telah dicapai dengan tergulingnya Presiden Suharto. Hak-hak demokratis yang penting, seperti hak dengan bebas menyatakan pendapat, menerbitkan, membangun organisasi masyarakat, berdemo dan hak mogok, juga telah dimulai sejak jatuhnya Suharto.


Tetapi masalah besar HAM, seperti kasus persekusi, teror dan pembantaian

warga tak bersalah, oleh aparat penguasa militer, atas tanggung jawab Presiden Suharto, -- itu samasekali belum dijamah oleh lembaga pengadilan maupun oleh pemerintah.


Para korban Tragedi 1965, yang berjumlah jutaan yang tak bersalah, masih belum memperoleh keadilan, masih belum direhabilitasi nama baik dan hak-hak warganegaranya. Dan pelaku kejahatan kemanusiaan tsb masih bebas. Malah sampai di bawah pemerintah SBY yang hasl pemilu, masih banyak pelaku kejahatan HAM yang menduduki jabatan penting lembaga negara, seperti di pemerintahan, kehakiman dan badan legeslatif.


* * *


Apakah suatu ilusi? --- memperjuangkan keadilan bagi korban persekusi dan pembunuhan masal sekitar Tragedi 1965? Dimana telah jatuh korban sedikitnya sejuta lebih orang tak bersalah?


Perkembangan sejarah berkali-kali memberikan pelajaran, seperti yang terjadi di Amerika Latin dewasa ini, -- bahwa betapapun besarnya usaha dilakukan untuk membungkam kebenaran dan mencegah diberlakukannya keadilan, usha itu akhirnya gagal. Dan kebenaran terungkap serta keadilan ditegakkan.


* * *


Suatu pengadilan inter-Amerika Latin sejak beberapa waktu memproses perkara yang diajukan kepengadilan oleh Juan Gelman dkk. Juan Gelman akhirnya memperoleh keadilan. Negara Uruguay dinyatakan bersalah dalam kasus pelanggaran HAM berat terhadap anggotga-anggota keluarga Juan Gelman. Pengadilan memvonis Negara Uruguay divonis bersalah telah melakukan pelanggaran HAM berat. Terlibat dalam 'penghilangan' – 'dissappearance' cucunya Juan Gellman, Macarena, oleh aparat kekuasaan junta militer Kanan di tahun tujuhpuluhan abad lalu. Duapuluh enam tahun lamanya Macarena hidup tak mengenal siapa identitas sesungguhnya.Negara Uruguay diharuskan membayar kompensasi sebanyak 300.000 dolar AS kepada Macarena Gelman.



Kali ini, keadilan bagi korban persekusi dan teror junta militer Kanan Argentina, Juan Gelman dan cucunya Macarena, --- akhirnya menjadi kenyataan. Dan keadaan seperti itu, dimana pelaku pelanggaran Ham dan demokrasi diseret ke pengadilan dan memperoleh keadilan, -- bukan hanya terjadi dengan kasus Juan Gelman dan keluarganya.


URUGUAY, adalah kasus pertama kalinya, yang sebagai negara, dinyatakan bersalah, oleh Pengadilan HAM Inter-Amerika, (Inter-American Court of Human Rights, IACHR), yang bermarkas di San Jose, Costa Rica. Uruguay dijatuhi hukuman karena keterligbatannya dengan kejahatan-kajahatan yang terjadi selama periode kediktatoran junta-militer-Kanan dalam tahun-tahun 1973-1985.



* * *


Suatu pelajaran kongkrit dan teramat penting dari pengalaman sejarah

perjuangan untuk demokrasi dan HAM di Amerika Latin, ialah, -- Syarat paling fundamental bisanya mencapai kemenangan penting, seperti halnya di banyak negeri di Amerika Latin dewasa ini, --- Ialah, hal itu terjadi setelah berhasil ditegakkannya suatu kekuasaan pemerintahan yang dalam kata-kata dan perbuatan berbuat untuk hak-hak azasi manusia dan demokrasi.


Perkembangan peta-politik di Amerika Latin dewasa ini, membuktikan kebenaran logika sejarah itu. Terutama sejak gerakan perlawanan rakyat, yang a.l terdiri dari parpol-parpol Progresif-Kiri/Demokratis dan LSM-LSM melawan pemerintahan junta-militer-Kanan, berhasil mengakhiri rezim-rezim junta-militer Kanan. Setidaknya sejak berdirinya pemerintahan pro-demokrasi di sembilan negeri Amrika Latin.


Seperti di --- Hugo Chaveznya-Venezuela, --- Lula da Silvanya-Brazil, --- Kirchnernya-Argentina --- Baceletnya-Chili--- Evo Moralesnya-Bolivia--- Careranya-Ecuador --- Orteganya-Nicaragua dan --- Vazqueznya-URUGUAY.


Seiring dengan tegaknya demokrasi dan berdirinya pemerintahan yang progresif, pemerintah Argentina telah menjatuhkan hukuman seumur hidup terhadap Jorge Videla, diktator Argentina tahun tujupuluhan abad ke-20.


Ini terjadi pada tanggal 22 Desember 2010. Sekarang negara Uruguay dapat giliran! Jadi,

memperjuangkan dan mencapai sukses demi keadilan bagi para korban

persekusi dan pembunuhan, bukanlah suatu impian belaka; Bukanlah suatu ilusi!


* * * * *



No comments: