Saturday, November 12, 2011

Peluncuran Buku - "Bui Tanpa Jerajak Besi" Karya Ibrahim Isa.

U N D A N G A N

Peluncuran Buku - "Bui Tanpa Jerajak Besi"
Karya Ibrahim Isa.


Selasa, 18 Oktober 2011


Undangan Peluncuran Buku
Oleh Ahmad Makki, Senin , 17 Oktober 2011

Kami mengundang kawan-kawan untuk menghadiri acara diskusi buku
"Bui Tanpa Jerajak Besi" karya Ibrahim Isa. Acara akan diselenggarakan pada:

Hari : Jumat, 21 Oktober 2011, Pukul: 14:00-selesai.
Tempat : "Theater Room", lantai 4, Fakultas Adab & Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pembicara :
Dr. Ari Junaedi (pengamat politik)
Wilson (sejarawan)
Johan Wahyudi (aktivis)

Moderator: Ahmad Makki (reporter Majalah Historia Online)

Ketika sekretariat tetap AAPSO di Kairo, Mesir, terbentuk pada 1960,
pihak OISRAA meminta Indonesia mengirimkan perwakilannya ke sana.
Tawaran datang kepada Isa.

Sebelum berangkat menuju Cairo (1960), Isa berpikir bagaimana bisa dengan baik melakukan pekerjaan dalam rangka kampanye pembebasan Irian Barat. Misi dari Isa melalui keikutsertaannya di OISRAA adalah kampanye pembebasan Irian Barat di dunia internasional.

Ada beberapa hal yang kemudian Isa lakukan dan itu ditulisnya dalam buku
ini.

Saat Isa sibuk di Kuba, tersiar kabar rencana penyanderaan keluarga Isa
yang berada di Kairo. Memang saat itu Suharto berusaha menyingkirkan
siapa pun yang dianggapnya sebagai pengikut Sukarno, dengan jalan apa
pun. Bagi yang ]di luar negeri, baik untuk tugas belajar maupun untuk
tugas diplomatik, diminta memberikan sikap mereka terhadap Sukarno.

Apabila mendukung, maka tentara yang ditugasi menanyai itu langsung
mencapnya sebagai komunis atau pendukung Sukarno.
Jalan nasib berikutnya menentukan kalau separuh lebih dari usianya akan
ia lewati di Tiongkok dan kemudian di Belanda sebagai aktivis yang
terhalang pulang ke Indonesia. Sebelum ke Tiongkok, Isa terlebih dulu
berada di Cairo (1960-1965) bertugas mewakili Organisasi Indonesia untuk
Setiakawan Rakyat-Rakyat Asia-Afrika (OISRAA) di Sekretariat Tetap
Afro-Asian People's Solidarity Organization /(AAPSO) dan juga sebagai
anggota dari Komite Dana Setiakawan Asia Afrika.


Dengan bantuan beberapa kawan, akhirnya keluarga Isa bisa diselamatkan.
Mereka diterbangkan ke Tiongkok, dan kemudian tinggal di sana selama 20
tahun lebih. Isa menyusul ke Peking, terbang dari Havana, Kuba.
Selanjutnya keluarga mereka hidup sebagai “political dissident”, sebelum
akhirnya pada awal tahun 1980-an memutuskan untuk pindah ke Belanda dan
meminta suaka politik di sana.


(Dipetik dari pengantar Bonnie Triyana untuk buku "Bui tanpa Jerajak Besi")


* * *




No comments: