Kolom
IBRAHIM ISA
Minggu,
20 Mei 2012
---------------------------
HARI
KEBANGKITAN NASIONAL
DAN DR. GSSJ
RATULANGIE (1)
Pelbagai
cara dapat ditempuh, --- pada saat kita memperingati HARI
KEBANGKITAN NASIONAL 20 MEI 1908. Hari
ini aku mengimbau perhatian pembaca pada salah seorang tokoh
nasional. Beliau adalah salah seorang yang tergolong PAHLAWAN
NASIONAL. Tokoh tsb bernama DR.
G.S.S.J Ratulangi.
Mengenal
pejuang-pejuang pendahulu kita, para 'founding-fathers' dari
kemerdekaan dan berdirinya negara Republik Indonesia, adalah salah
satu cara untuk mengenal sejarah bangsa kita. Juga merupakan salah
satu faktor untuk mengenal identitas dan kepribadian bangsa. Ia
merupakan syarat terpelihara dan diperkokohnya kesedararan berbangsa.
Dan dengan itu pula memperkokoh persatuan bangsa.
Menyinggung
masalah persatuan bangsa, terkenanglah pada sahabat karibku
Jusuf Isak,
pemimpin Penerbit Buku Bermutu “HASTA MITRA”. Aku tidak bisa lupa
komunikasiku dengan Jusuf Isak menjelang Hari Kebangkitan Nasional
beberapa tahun yang lalu. Ketika mengajukan ide-idenya berkenaan
dengan seratus tahun Hari Kebangkitan Nasional. Jusuf menulis
kepadaku antara lain sebagai berikut:
“Apakah
moral dan message
paling
inti dan paling hakikat dari peristiwa Kebangkitan Nasional 100 tahun
yang lalu? This is it: Persatuan nasional. Karena persatuan nasional
kita merdeka, karena persatuan nasional kita kuat dan mandiri, karena
persatuan nasional amburadul negeri terimbas amburaqdul, akibatnya
negeri serba tergantung, rakyat sengsara, cuma segelintir elit yang
tetap senang.
*
* *
Bisa
dipastikan tidak banyak pembaca, terutama generasi mudanya, yang
bisa memberikan jawaban yang benar, siapa Dr. Sam Ratulangi itu.
Termasuk orang-orang Indonesia asal Minahasa, biasa disebut KAWANUA,
mungkin tidak bisa memberikan jawaban yang lengkap.
Mungkin pernah mendengar bahwa Dr Sam Ratulangi adalah salah seorang
tokoh pejuang kemerdekaan asal Sulawesi dan salah seorang pemrakarsa
dan pendiri organisasi pejuang kemerdekaan Kebaktian Rakyat Indonesia
Sulawesi, KRIS.
Kita
punya banyak tokoh nasional dan juga yang telah dianugerahi gelar
sebagaI Pahlawan Nasional, karena jasa beliau-beliau terutama dalam
perjuangan melawan kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang dan perang
kemerdekaan melawan Belanda.
Salah
satu tokoh yang unik dan terkenal namanya pada tahun-tahun
perjuangan kemerdekaan dan beridirinya Republik Indonesia, adalah DR
SAM RATULANGI.
Kukatakan u n i k, karena setelah diangkat oleh pemerintah Republik
Indonesia sebagai Gubernur Sulawesi, beliau ditangkap pemerintah NICA
yang dikepalai oleh Letnan Gubernur Jendral Dr. H.J. VanMook dan
dibuang ke Serui.
Tokoh
dan pahlawan nasional Dr GSSJ Ratulangi, yang namanya dikokohkan
dalam sejarah antara lain dengan dipancangkannya nama beliau untuk
sebuah jalan di daerah Gondangdia, Menteng.. . . Jalan tsb sebelumnya
bernama Jalan Asembaru. Ditahun
1976 DKI menyetujui usulan dari beberapa orang Manado agar jalan
tersebut diberikan nama Jalan Sam Ratulangie. Ini
ada hubungannya dengan sebuah gedung di Jalan Asembaru 26. Gedung itu
adalah gedung “PERGURUAN
KRIS”.
Seperti
diceriterakan oleh Pangalila Ratulangi: Perumahan Perguruan KRIS
adalah rumah bersejarah. Di masa Perang Dunia II, di situ bermarkas
organisasi yang bernama Penolong Kaum Sulawesi. Merupakan pusat
pertolongan di seluruh Jawa, untuk wanita-wanita Minahassa yang
terlantar karena suami-suami mereka (KNIL) diinternir oleh tentara
Nippon. Sesudah perang wanita-wanita itu berangkat ke Minahassa.
Kembali kekampung halaman mereka menyebarkan kesedaran Kebangsaan
Indonesia!
Ternyata
wanita-wanita itu telah menjadi soko-guru pertahanan Barisan Nasional
di Minahassa. Ketika para orangtua merek dipenjarakan Belanda,
para pemuda remaja mereka pun berontak melawan tentara Belanda pada
bulan Februari 1946. Hal itu terjadi walaupun ayah-ayah mereka
berfihak KNIL kembali.
Salah
satu kegiatan sosial yang dikordinir dan dilakukan oleh Dr Sam
Ratulangi ialah mengurus para keluarga bekas tentara KNIL. Agar
kehidupan dan pendidikan anak-anak mereka bisa berjalan terus dengan
baik. Kegiatan ini
dikoordinasikan dalam satu organisasi yang dinamakan Penolong Kaum
Selebes (PeKaSe) dan markasnya adalah di Nieuwe Tamarinde Laan No 26
jalan mana kemudian diberi nama Jalan Asem Baru.
Situasi
amat rumit. Di satu fihak para keluarga KNIL itu merupakan bagian
dari rakyat Minahasssa dan harus diurus dengan baik penghidupan dan
pendidikan bagi anak-anak mereka. Di lain fihak perjuangan nasional
melawan Belanda harus berjalan terus seirama dengan perjuangan
kemerdekaan seluruh negeri. Dalam
situasi rumit seperti inilah, Dr Sam Ratulangi bersama kawan-kawannya
melakukan pekerjaan menangani tugas berat yang mereka hadapi.
Dr
GSSJ Ratulangi (lahir di Tondano, Sulawesi Utara, pada tanggal 05
September 1890) meninggal dunia pada tanggal 30 Juni 1949, setelah
menderita sakit beberapa lamanya. Ketika itu kantor berita AP dan
Reuters menyiarkan kabar dari Jakarta, a.l sbb:
Dr
GSSJ Ratulangi penasihat Delegasi Republik Indonesia, dan mantan
Gubernur Sulawesi meninggal dunia. < Ketika itu Republik
Indonesia dan pemerintah Belanda sedang dalam periode perundingan
Konferensi Meja Bundar, I.I.). Dr. Ratulangi menempuh studinya di
Amsterdam dan Zurich. Pada masa itu ia aktif dalam gerakan dan
perkumpulan mahasiswa Indonesia. Pada zaman kolonial Hindia Belanda
Ratulangi adalah anggota 'Volksraad'. Selain itu ia pemimpin sebuah
mingguan nasionalis.
*
* *
Maka
tidak heranlah kita membaca laporan Pangalila Ratulangi, yaang a.l
berbunyi sbb:
Pada saat
jenazah Ayah saya akan ditempatkan diperistirahatan sementara di
Tanah Abang maka diadakan Ibadah (1949). Tanpa termasuk dalam
rencana/acara maka tiba2 satu barisan perwira2 KNIL memasuki tempat
upacara dan berbaris dengan rapih mengesankan.
Mereka lalu memmberikan salam hormat kepada jenazah sebagai ucapan terima kasih atas jasa almarhum membantu memberikan perhatian kepada keluarga2 mereka sewaktu mereka terpaksa berpisah karena harus menunaikan tugas kemiliteran mereka.
Inilah yang dimaksudkan uniknya Dr Sam Ratulangi. Di satu fihak ia adalah pejuang kemerdekaan anti kolonialisme Belanda, yang kemudian dipenjarakan pemerintah NICA di Serui. Di lain fihak sejumlah opsir KNIL datang berbaris memberikan penghormatan pada (jenazah) Dr Sam Ratulangi, karena kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya terhadap para keluarga anggota-anggota KNIL.
*
* *
Referensi: "DR.G.S.S.J.RATU LANGIE & YAYASAN KRIS" oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 1978.
Sejak Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, sebagai realisasi daripada kemerdekaan tersebut maka pada tanggal 5 Oktober 1945 Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk, hal ini merupakan langkah pertama bagi pengisian kemerdekaan dengan membentuk suatu alat kekuasaan yang terorganisir. Segenap rakyat di seluruh Nusantara tua-muda, laki-perempuan mengangkat senjata rela berkorban baik harta maupun nyawa untuk membela nusa dan hangsa.
Disamping Tentara resmi yang terbentuk dalam organisasi Tentara Keamanan Rakyat, terdapat pula berbagai macam organisasi-organisasi lain seperti Barisan Pelopor, Barisan Benteng Indonesia, Laskar Hisbullah, Barisan Rakyat Indonesia, Angkatan Pemuda Indonesia, Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi, Gabungan Pemuda Indonesia Sulawesi dan lain-lain. Pata pemimpin Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) dan Gabungan Pemuda Indonesia Sulawesi (GAPIS) mengadakan perundingan, yang kemudian diperoleh kesepakatan bahwa organisasi APIS dan GAPIS bersepakat untuk meleburkan diri kedalam satu wadah, yang akhirya pada tanggal 10 Oktober 1945 terbentuklah satu badan baru secara resmi dengan nama Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), dengan formasi pimpinan sebagai berikut:
Ketua : A.R.S.D. Ratu Langie; Wakil Ketua : Baharuddin ; Sekretaris I : Kahar Muzakar ; Sekretaris II : J. W.Waworuntu ; Bendahara I : S. A. Pakasi; Bendahara II : H. M. Idrus; Pembantu Umum : M. Idris, Mahmud
Pembantu Bidang : Frans Panelewen; Penerangan
Program Perjuangan sebagai berikut :
1. Berusaha tetap memelihara perjuangan dengan sistem perlawanan rakyat total, serta selalu kerjasama bahu membahu dengan badan-badan perjuangan lainnya : Koordinator : Daan Mogot, Kepala Pasukan : J. Rapar
2. Mengirimkan utusan ke daerah-daerah pedalaman untuk membentuk cabang-cabang KRIS, serta menampung keluarga-keluarga Minahasa
3. Sekolah Rakyat PEKASE dilanjutkan dengan nama baru yaitu Sekolah KRIS. Mengingat keadaan di Jakarta sering terjadi pertempuran-pertempuran, para guru diwajibkan mengantar jemput murid-murid Sekolah KRIS.
4. Disamping itu, juga Sekolah KRIS dijadikan markas KRIS cabang Jakarta Raya yang bertugas mengatur strategi perjuangan para pemuda KRIS
5. Menjalankan usaha-usaha sosial, antara lain menangani para pengungsi akibat peperangan
6. Mengobarkan peperangan diseluruh wilayah Jakarta dengan taktik “Hadang-Tempur-Rampas”.
Para Pemuda KRIS di Jakarta mengadakan perlawanan dalam bentuk pertempuran-pertempuran yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil terdiri dari 3 sampai dengan 5 orang. Dengan keberanian yang luar biasa mereka mengadakan serangan dari berbagai penjuru kota Jakarta seperti daerah Senen, Keramat, Cikini, Jatinegara, Petojo hingga Tanjung Priok secara serentak tanpa memperdulikan siapa komandan mereka, bertempur dengan hasil yang gilang gemilang.
Kelompok-kelompok kecil seperti Kelompok Lukas Palar, Jopi Pesak, Endi Ruminggit, Piet Sumilat, Piet Sibih, Alex Pangemanan dan lainnya, mereka bertempur dengan gayanya masing masing. Mereka inilah yang membawa harum nama KRIS dimata masyarakat, tanpa adanya hasil daripada perjuangan kelompok-kelompok kecil ini, kiranya KRIS tidak akan mungkin menjadi faktor yang menentukan langkah-langkah perjuangan dalam arti perjuangan kemerdekaan Rakyat Indonesia kita ini.
Selain perjuangan-perjuangan fisik yang telah disebutkan diatas, KRIS cabang Jakarta Juga memikul beban tugas untuk mengadakan infiltrasi ke dalam tubuh pasukan KNIL, guna mencari kontak dengan daerah-daerah Sulawesi yang masih di bawah kekuasaan KNIL.
Untuk merealisasi tugas tersebut pimpinan KRIS menempuh dua jalan yakni : pertama : mengadakan infiltrasi langsung ke dalam tubuh KNIL untuk merongrong kekuatan militer Belanda; kedua, mengurus dan membentuk barisan-barisan rakyat yang berjuang di daerah kekuasaan KNIL.
Dengan kedua cara ini perjuangan KRIS sangat berhasil, hal ini terbukti dengan terjadinya pernberontakan di Manado yang terkenal dengan peristiwa 14 Februari 1946. Sabotase-sabotase yang terjadi di dalam markas Belanda seperti di Makassar, Jayapura dan Kupang. Terorganisirnya gerakan pasukan gerilya di Sulawesi Selatan dibawah pimpinan Nan Pondaag, bekas ketua KRIS cabang Jakarta yang dikirim ke Makassar. Organisasi tersebut ialah Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS).
Demikianlah salah satu sumbangsih para Pemuda Indonesia tergabung dalam organisasi KRIS, yang lahir dalam kancah Revolusi rakyat Indonesia, dengan konsep perjuangan Nasional sendiri, tanpa menuntut balas jasa ataupun penghargaan, itulah salah satu sumbangan daripada para Pemuda Sulawesi bagi tuntutan perjuangan kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia.
Diatas telah dibicarakan secara singkat tentang perjuangan para pemuda KRIS dalam perjuangan bersenjata, berupa pertempuran-pertempuran melawan pemerintah kolonial Belanda, yang ingin tetap menjadikan negara kita sebagai negara jajahannya, dimana dapat diperlakukan bagaimana saja sesuai dengan keinginan dan kemauan mereka secara semena-mena. Di samping itu KRIS juga berjuang di lapangan pendidikan, setelah perjuangan senjata berakhir, dalam fase itu para pemuda memerlukan ilmu pengetahuan yang merupakan syarat mutlak untuk terjun ke dalam masyarakat sebagai pengganti generasi tua yang harus digantikannya, untuk itu harus mempunyai bekal ilmu pengetahuan yang cukup sebagai senjata perjuangan guna mengisi kemerdekaan.
Untuk mewujudkan hal tersebut harus mewujudkan dan memajukan dunia pendidikan, maka pemimpin-pemimpin KRIS yang berpusat di Jalan Asam Baru No. 26 (sekarang Jalan Dr. Ratu Langie No. 26) pada tanggal 15 Januari 1946 membuka Sekolah Rakyat KRIS, mula-mula sekolah di buka di jalan Mampang, kemudian pada bulan Mei 1945 pindah ke Jalan Asam Baru No. 26 Jakarta.
Sekolah Rakyat KRIS dibuka untuk segenap lapisan masyarakat. Murid-murid diterima tanpa memandang suku ataupun agama, sekolah terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar disitu. .
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer ke I pada bulan Juli 1947, secara paksa sekolah-sekolah Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta dirampas oleh Belanda (NICA), disebabkan kebanyakan guru serta para orang tua murid menolak untuk menjadi pegawai Belanda (NICA), juga para muridnya pun tidak mau lagi masuk sekolah pemerintah akan tetapi memilih sekolah swasta seperti : Taman Siswa, Muhammadiyah, Perguruan Rakyat, Perguruan Sinar Baru, Perguruan KRIS, dan lain-lain yang waktu itu tergabung dalam badan Koordinasi Perguruan Nasional, yang diketuai oleh M. Said dari Perguruan Taman Siswa.
Pada waktu Belanda menjalankan kembali Agresi Militer ke II pada bulan Desember 1948, seluruh pimpinan Pengurus KRIS antara lain : H. A. Pandelaki, A. J. Supit, A.Z. Abidin, W.H.M. Kaunang di tangkap oleh Belanda karena dianggap orang-orang republik, dengan adanya kejadian itu, menjadikan Perguruan KRIS bertambah teguh baik semangat maupun pendiriannya, untuk mengikuti jejak langkah Pemerintah Republik Indonesia.
Untuk mencapai stabilitas dan penyelenggaraan yang sebaik-baiknya, yang sesuai dengan ketentuan Hukum dan Undang-Undang, maka pada tanggal 28 Januari 1949, Perguruan KRIS diberi status hukum, dengan diresmikan sebagai satu yayasan yakni “Yayasan Perguruan KRIS” (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) dengan akte Notaris R. Kardiman No. 47 tahun 1949.
AKTIVITAS GEDUNG YAYASAN PERGURUAN KRIS
Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26, Jakarta
Apabila kita berbicara mengenai peranan dan perjuangan para Pemuda KRIS, sebagai salah satu sumbangannya untuk tercapainya kemerdekaan Negara Republik Indonesia kita ini, kita tidak akan terlepas dari pada sebuah gedung yang terletak di Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26 Jakarta (dulu Jalan asam Baru 26), yang merupakan pusat kegiatan politik perlawanan rakyat serta usaha-usaha sosial dan pendidikan pada masa sebelum dan sesudah Prokarnasi 17 Agustus 1945.
Sejak zaman Pendudukan Tentara Jepang sampai pada masa revolusi fisik, berbagai macam kegiatan, baik politik maupun sosial, telah dipikirkan digerakkan dan dikendalikan dari gedung Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26 ini, yang hingga saat ini ditempati “Yayasan Perguruan KRIS” yang menjalankan kegiatan dalam bidang pendidikan yang meliputi SD, SMP, SMA dan AMI/ASMI.
Pada zaman pendudukan tentara Jepang, Gedung Sekolah Yayasan Perguruan KRIS dipergunakan sebagai tempat kantor Badan amal PEKASE (Penolong Kaum Selebes) dalam kegiatan sosialnya menampung keluarga-keluarga Pelaut, Pelajar / Mahasiswa yang tidak mendapat lagi kiriman biaya dan orang tuanya akibat keadaan perang, keluarga-kelaurga ex KNIL yang ditawan Jepang dan lam-lain.
Selain menangani kegiatan sosial dan pendidikan Kantor PEKASE di Jalan
Dr. Ratu Langie, juga merupakan tempat pertemuan para pemuda Sulawesi ex anggota MAESA yang kegiatannya dibekukan oleh Tentara Jepang. Kontak hubungan tetap berjalan antara Pemuda MAESA dengan para mahasiswa Ika Dai Gakku, hal mana membuka kesempatan untuk berdiskusi tentang situasi politik, yang menjurus pada persiapan dan peranan pemuda untuk masa depan bangsa dan tanah air Indonesia. Para pemuda segera membuat rencana penyusunan kekuatan masa untuk mempersiapkan diri dan menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Setelah tersiar kabar bahwa Tentara Jepang telah menyerah kalah kepada Tentara Sekutu, terjadi saat-saat yang menentukan, Bung Karno dan Bung Hatta di bawa ke Rengasdengklok, sekembalinya dari Rengasdengklok yang kemudian pada tanggal
17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, dimuka eksponen Pemuda dan masyarakat lainnya, saat itu semakin bergelora tekad perjoangan untuk membela dan mernpertahankan Kemerdekaan Bangsa dan Tanah Air Indonesia.
Sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, segera dibentuk organisasi Angkatan Muda Sulawesi (AMS) di bawah pimpinan Gajus Gagola, mereka mengadakan aksi pencoretan seperti pada tembok-tembok, kereta api dan lain-lain, hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan semangat oang dan seluruh pemuda beserta rakyatnya.
Usia AMS tidak lama, ketika Barisan Keamanan Rakyat (BKR) terbentuk, AMS bergabung ke dalam BKR ini, dalam wadah organisasi inilah para pemuda AMS bertemu dengan para pemuda Rapar yang sejak lama telah dibina sebagai pasukan tempur istimewa dibawah bimbingan politis dari Mr. Ahmad Subardjo, Mr. A.A. Maramis dan Dr. G.S.S.J. Ratu Langie.
Perjuangan para pemuda beserta rakyat bergerak sangat cepat, komando pemuda berkumandang secara revolusioner dari markasnya di Menteng Raya 31. Serentak pula kelompok pemuda Sulawesi menggabungkan diri dengan para pemuda Menteng Raya 31, yang tergabung dalam satu wadah organisasi Angkatan Pemuda Indoensia (API), sehubungan dengan itu para pemuda Sulawesi pun membentuk organisasi di bawah koordinator API dengan nama Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) dengan markasnya di Jalan : Dr. Sam Ratu Langie No 2, namun demikian APIS ini di dalam segala aktivitas perjuangannya bergerak searah dan satu tujuan dengan formasi perjuangan API Menteng Raya 31, APIS selalu memelihara persatuan dan kesatuan antara pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang untuk melenyapkan segala bentuk penjajahan atas dasar perjuangan nasional seutuhnya.
Demikian catatab yang dibuat oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 1978.
(BERSAMBUNG)
* * *
No comments:
Post a Comment