Sunday, January 13, 2013

Pengakuan ALGOJO PEMBANTAIAN MASAL 1965 ??

Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu, 12 Januari 2013
-----------------------------

----- Pengakuan ALGOJO PEMBANTAIAN MASAL 1965 ??
----- YANG “KAKAP” BELUM MENGAKU TERUS-TERANG


* * *


Atas undangan terbatas sahabat-karibku, jurnalis/penulis Chalik Hamid, Jum'at siang kemarin, kami berkesempatan menonton film “THE ACT OF KILLING” di rumah Chalik di Amsterdam Noord. Judul bahasa Inggris film tsb diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh para pembuat film menjadi “JAGAL”.


Hadir pada pemutaran film “Jagal”: --- M.D Kartaprawira, Ketua Lembaga Pembela Korban 65 Holland (LPK65 Holland), Soelardjo, Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia (YSBI); Sungkono, Ketua Perhimpunan Persaudaraan; Husin, Arisan Utrecht, Sarmaji, Perdoi, dan Aminah Idris dari grup wanita Indonesia DIAN. Undangan terbatas. Sesuai yang dipesankan oleh produser film Joshua Oppenheimer kepada Chalik Hamid. Ini, disebabkan adanya pengaturan bahwa film tsb baru bisa dipertunjukkan untuk umum setelah diputar di Festival Film Internasional yag akan diadakan di Den Haag dan Berlin dalam waktu dekat ini.


* * *
Seorang cinematograf berbangsa Inggris, Joshua Oppenheimer, belum lama menyelesaikan sebuah film dokumenter – historis sekitar tahun-tahun 1965 di Indonesia. Di saat ketika Jendral Suharto dengan memanfaatkan gagalnya G30S, telah merebut kekuasaan negara dan pemerintah Indonesia dari Presiden Sukarno ketika itu.. Pada waktu bersamaan Jendral Suharto dan divisi KOSTRAD dengan bantuan para pendukungnya, memulai kampanye persekusi, pembantaian dan pemusnahan anggota-anggota PKI, diduga PKI atau simpatisan PKI serta pendukung Presiden Sukaarno lainnya. Pada periode itu seperti terjadi juga di Jatim, Bali dan tempat-tempat pembantaian lainnya, Jendral Suharto dan tentara di bawah komandonya menggunakan, mengomandoi, dan berkordinasi dengan para preman seperti Anwar Congo dkk.
Sebagian dari kampanye pembantaian, genosida terhadap warganegqara tak bersalah, sekitar tahun 65-an abad lalu, telah diabadikan oleh cinematograf berbangsa Inggris, JOSHUA OPPENHEIMER, dalam sebuah film dokumenter berjudul “THE ACT OF KILLING”. Patut dicatat, bahwa Oppenheimer telah memberikan sumbangsih penting,mengungkap pelanggaran HAM berat yang berlangsung di Indonesia, menunjukkan di depan kamera siapa-siapa para pelanggar HAM berat tsb.


Namun, patut dicatat untuk diungkap lebih lanjut, tentang para algojo yang KAKAP di kalangan aparat negara dan bukan TERI seperti Anwar Congo dkk para oreman Pemuda Pancasila. Perlu diungkap pentingnya, menegakkan hukumm. Yaitu menindak lanjuti pengakuan yang diungkapkan oleh mantan Mayjen Sarwo Edhi yang menyatakan bahwa fihak militer dan pendukung-pendukungnya telah membantai dalam satu periode GENOSIDA, kira-kira 3 juta orang Komunis, dituduh Komunis atau simpatisan Komunis.
Menyaksikan film dokumenter “Jagal”, dari mula sampai akhir, tidak habis-habisnya pertanyaan muncul di fikiran: BAGAIMANA BISA TERJADI BERLANGSUNGNYA di INDONESIA, TINDAKAN ALGOJO seperti yang dipertontonkan sendiri oleh para pelakunya in person; -- Begitu blak-blakan tanpa tédéng aling-aling, . . . . diperragakan dalam adegan-adegan rekonstruksi di depan kamera. Persis seperti serial-serial TV mutakhir berjudul REALITY Serie atau “waargebeurde verhalen” (cerita-cerita yang sungguh terjadi) di TV Belanda.


Yang lebih mengherankan lagi ialah bahwa para pelaku pembantaian itu, para algojo a.l terdiri dari ANWAR CONGO dkk, mengisahkannya dengan santai, tertawa sinis , menyeringai serta bangga melakukan pembunuhan dengan menggunakan dua belah tangannya sendiri, --- menarik kawat besi yang dililitkan pada leher sang korban, --- atau meletakkan leher korban di bawah kaki meja dan meja diduduki ramai-ramai oleh para algojo, terhadap manusia-manusia tak bersalah, orang-orang PKI, dituduh PKI, Pemuda Rakyat, atau simpatisan Komunis. Sulit bisa memahami bagaimana para pelaku Jagal tsb, Anwar Congo dkk, menyatakan di depan kamera, bahwa dirinya adalah pahlawan-pahlawan yang telah “menyelamatkan Indonesia dari Komunisme”. Bahwa mereka tidak merasa bersalah. Ini setelah salah seorang dari para preman algojo itu menyatakan di depan kamera, bahwa apa yang mereka lakukan itu sesungguhnya LEBIH KEJAM DARI APA YANG DILAKUKAN OLEH G30S.


Sebelum terjadi G30S, Anwar Congo dkk adalah preman-preman, gangster-gangster pencatut gelap karcis bioskop di Medan dll tempat.


Dalam film dokumenter ini tetdapat adegan yang memberikan gambaran bagaimana saling hubungan, tali-menali antara para preman dan penguasa pada sistim kekuasaan di Indonesia pada sebelum dan sesudah Reformasi. Anwar Congo, sang Jagal, berpeluk-pelukan dengan Gubernur Sumatera Utara (ketika itu sang gubernur masih menjabat, . . . . tapi kemudian masuk penjara karena terlibat kasus korupsi besar). . . . . Anwar Congo diterima dengan ramah sebagai kawan lama, di rumah kediaman resmi Gubernur Sumatera Utara. Mencerminkan hubungan mesra antara penguasa dengan para algojo.


* * *


Di bawah ini, adalah SYNOPSIS film tsb yang merupakan perpaduan dari yang ditulis oleh CATHERINE SHOARD -- Guardian.co.uk. Jum'at 14 Sept 2012 sumber Wikipedia, --- dengan sedikit di edit dari sumber film itu sendiri.


Melalui film dokumenternya, JOSHUA OPPENHEIMER telah menciptakan kembali korban-korban tahun 1960-an yang dilakukan oleh regu-pembantai Indonesia.
The Act of Killing (“Jagal”) adalah film yang paling baik dan paling menakutkan di Festival Film Toronto; -- sebuah iflm yang paling baik tahun lalu.


* * *
Film ini adalah sebuah dokumenter mengenai regu-pembunuh Indonesia pada pertengahan tahun 1960-an, yang melakukan penyiksaan dan membunuh orang-orang komunis. Tetapi film itu juga merupakan film di dalam film. Seperti ketika Joshua Oppenheimer mendesak ganster-gangser yang sudah manula itu, untuk memperragakan kembali tindakan-tindakan mereka, dalam skala yang semakin terperinci. Mereka menyeringai sambil melakukannya dengan amat serius. Suatu adegan pencekikan agak terhenti, tersela oleh suara orang azan menyerukan solat. Tetapi mereka kemudian meneruskan aksi mereka.

. . . .
Dalam wawancara selanjutnya terlihat organisasi para-militer Pemuda Pancasila menjelaskan bagaimana mereka terinspirasi dalam penampilan mereka dan kekejamana mereka oleh film-film (Amerika) ketika itu.
Tokoh yang paling karismatik di antara mereka adalah, ANWAR CONGO. Rambutnya dicelup hitam keriting. Dalam salah satu adegan tampak Anwar Congo sedikit dihantui oleh tindakan-tindakan kejamnya itu. Congo mengakui bahswa ia berusaha, untuk melupakannya dengan mendengarkan musik dan dansa, dengan minum bir, minuman keras lainnya, extasi dan marihuana. Kerjasama politik antara politsi, kalangan media dan para preman diungkapkan melalui celetukan seorang penerbit sekutu preman, yang menyatakan “kita kedip saja mata kita, dan matilah mereka”. Seorang deputi menteri menyatakan terang-terangan : --- “kami memerlukan gangster-gangster ini untuk melakukan pekerjaan itu””(melakukan pembunuhan).
Ada kritik terhadap Oppenheimer karena tidak mewawancarai para korban yang lolos dari pembantaian para preman itu.


Tetapi tidak jadi apa..Karena kita tahu apa yang dilakukan oleh para preman itu adalah suatu GENOSIDA. Demikianlah a.l synopsis yang ditulis oleh waartawan “Guardian”, dengan sedikit pengeditan) .


* * *






8 comments:

Ki Ageng Similikithi said...

Mereka adalah preman yang naik pangkat jadi pembunuh lalu bintang film.
Cerita horor.
Mengapa di Indonesia ? Bukankah panggung politik juga banyak diduduki oleh preman?

hartini hartini said...

Hati2 dalam menarik kesimpulan, terlihat disini seolah2 PKI adalah korban kekerasan dan pelanggaran ham karena hanya bagian eksekusi terhadap mereka yg diceritakan, mana bagian yg menggambarkan PKI yg membantai ulama,santri umat islam di madiun 1948.??? Mana cerita bagian yg menggambarkan PKI telah mengkudeta pemerintahan dan sudah menguasai RRI 30 september 1965, mana gambaran tentang pemaksaan pki untuk merekrut simpatisan.. Tidak tergambarkan sedikitpun disitu, saya sudah lihat film ini.. PKI menganut paham komunis yg tidak berasas pada agama, mereka mempunyai teori bahwa agama adalah penghalang kebebasan.. Dia mau buat negara sendiri diatas NKRI, dan sekarang mulai bermunculan buku , film dan doktrin2 bahwa mereka adalah korban,, kita tidak mengetahui apakah para pembuat buku atau film tersebut tidak mengetahui sejarahnya atau ini merupakan upaya pemutarbalikan sejarah..?? Kalau benar ini pemutarbalikan fakta sejarah telah dilakukan maka secara tidak langsung di dalam negara ini sedang diupayakan adu domba secara terang2an, atau bisa jadi ini upaya balas dendam, karena HAM sepertinya jadi pemicu kebangkitan perlawanan mereka, hanya saja banyak mata awam yg tidak paham atau belum tau maksud dari ini semua.. Memang benar ada juga korban salah tangkap dan sebagainya, tp itu disebabkan masalah sentimen pribadi atau fitnah-mempitnah sebenarnya, bukan karna pembantaian yg membabi buta.

Raihan ID said...

akhirnya terungkap kebenaran dibalik genosida yang di tutup tutupi rezim suharto. dalam sejarah, dia yang berkuasa yang akan menuliskan sejarah.

Dinaz Dinaz said...

Pki emang bejat..bisa bisanya memutar belitkan fakta...peristiwa g 30 s pki bener taw gak ( kbnyakn benernya) adalah kemenangan bagi umat manusia yg beragama..seandanya komunis yg menguasai indonesia mngkin(pasti) penggeconidaan makin ganas n kejam...seperti kamboja yg di kuasai komonis polpot..apa yg terjadi disana..??? Sejarawan, cendiakiawan, guru, sejarwan , tokoh masyarakat semuanya dibunuh dengan kejam n g berprikemanusian. Tujuaannya untuk menghilangkan budaya dan tradisi kamboja yg kemudian akan diganti dengan ajaran dan budaya komunis yg g bertamadun...apakah qt masih mau menerima komunis..??? Apakah qt setuju minta maaf ma komunis bangsat??? Pikirkanlah

Dinaz Dinaz said...

Pki emang bejat..bisa bisanya memutar belitkan fakta...peristiwa g 30 s pki bener taw gak ( kbnyakn benernya) adalah kemenangan bagi umat manusia yg beragama..seandanya komunis yg menguasai indonesia mngkin(pasti) penggeconidaan makin ganas n kejam...seperti kamboja yg di kuasai komonis polpot..apa yg terjadi disana..??? Sejarawan, cendiakiawan, guru, sejarwan , tokoh masyarakat semuanya dibunuh dengan kejam n g berprikemanusian. Tujuaannya untuk menghilangkan budaya dan tradisi kamboja yg kemudian akan diganti dengan ajaran dan budaya komunis yg g bertamadun...apakah qt masih mau menerima komunis..??? Apakah qt setuju minta maaf ma komunis bangsat??? Pikirkanlah

Dinaz Dinaz said...

Pki emang bejat..bisa bisanya memutar belitkan fakta...peristiwa g 30 s pki bener taw gak ( kbnyakn benernya) adalah kemenangan bagi umat manusia yg beragama..seandanya komunis yg menguasai indonesia mngkin(pasti) penggeconidaan makin ganas n kejam...seperti kamboja yg di kuasai komonis polpot..apa yg terjadi disana..??? Sejarawan, cendiakiawan, guru, sejarwan , tokoh masyarakat semuanya dibunuh dengan kejam n g berprikemanusian. Tujuaannya untuk menghilangkan budaya dan tradisi kamboja yg kemudian akan diganti dengan ajaran dan budaya komunis yg g bertamadun...apakah qt masih mau menerima komunis..??? Apakah qt setuju minta maaf ma komunis bangsat??? Pikirkanlah

Dinaz Dinaz said...

Pki emang bejat..bisa bisanya memutar belitkan fakta...peristiwa g 30 s pki bener taw gak ( kbnyakn benernya) adalah kemenangan bagi umat manusia yg beragama..seandanya komunis yg menguasai indonesia mngkin(pasti) penggeconidaan makin ganas n kejam...seperti kamboja yg di kuasai komonis polpot..apa yg terjadi disana..??? Sejarawan, cendiakiawan, guru, sejarwan , tokoh masyarakat semuanya dibunuh dengan kejam n g berprikemanusian. Tujuaannya untuk menghilangkan budaya dan tradisi kamboja yg kemudian akan diganti dengan ajaran dan budaya komunis yg g bertamadun...apakah qt masih mau menerima komunis..??? Apakah qt setuju minta maaf ma komunis bangsat??? Pikirkanlah

avin said...

Mas, ini adalah pengungkapan fakta secara obyektif, bukan utk mengarahkan siapa yg benar siapa yg salah. Jd sangat tidak relevan klo kalian berkomentar menyudutkan salah satu pihak. Skali lg, ini hanya pengungkapan fakta berdasarkan kesaksian. Be a smart reader bung.....