Friday, October 18, 2013

17 OKTOBER 1952 – TANK-TANK DAN MONCONG MERIAM DIHADAPKAN KEPADAKU . . .

Kolom IBRAHIM ISA Kemis, 17 Oktober 2013 ---------------------- 17 OKTOBER 1952 – TANK-TANK DAN MONCONG MERIAM DIHADAPKAN KEPADAKU . . . SUATU USAHA “KUP” YANG (Sementara) GAGAL DIULANGI Pada 01 OKTOBER 1965 . . BERHASIL!! * * * PERISTIWA 17 OKTOBER 1952 Masih segar dalam ingatanku! Betapa gedung DPR di Jakarta diobrak-abrik oleh “massa”. Besama seorang kawan, salah seorang guru Perguruan Kris, pada tanggal 17 Oktober 1952 itu, kami sengaja pergi melihat sendiri kerusakan yang terjadi di Gedung DPR. “Aksi massa” ini, merupakan bagian dari aksi tuntutuan Angkatan Darat di bawah Letkol Abdul Haris Nasution, KASAD ketika itu. Tuntutannya, ialah agar Presiden Sukarno “membubarkan Parlemen”. Namun, -- bagian yang terpenting dari “gerakan 17 Oktober” tsb adalah diturunkannya beberapa kesatuan bersenjata AD. Mereka menyerbu masuk halaman Istana Medeka. Sejumlah kendaraan lapis baja dan beberapa meriam diposisikan dengan moncongnya diarahkan ke Istana Merdeka. Apakah yang sesungguhnya terjadi pada pagi hari 17 Oktober 1952 itu? Sesungguhya tidak sulit untuk memahaminya. “Aksi militer plus sipil” tsb adalah suatu tindakan permulaan dari suatu “KUP”. Tetapi, karena sasaran kup, --- Presiden Sukarno, bersikap berani dan dengan tegas menantang langsung menghdapi “massa” yang berdemo dan pasukan yang mengancam di depan Istana tsb; Maka KUP GAGAL! Dua perwira tinggi Angkatan Darat yang mendalanginya, A.H. Nasution dan T.B. Simatupang dicopot dari jabatannya oleh Presiden Sukarno. Tetapi Presiden Sukarno memang negarawan berlapang dada, --- dan bermurah hati. Beliau lebih peduli keselamatan bangsa dan lebih mengutamakan keutuhan bangsa serta jangan sampai terjadi perpecahan di kalangan angkatan bersenjata. * * * Sejarah mencatat, percobaan KUDETA yang gagal pda 12 Oktober 1952, tigabelas tahun kemudian, 01 Oktober 1965, yaitu KUP militer di bawah Jendral Suharto BERHASIL meyingkirkan Presiden Sukarno. Membunuh demokrasi dan menegakkan rezim Ode Baru. Melalui suatu “genosida” terhadap golongan Kiri dan pendukung Presiden Sukarno. Dengan megorbankan sekitar 3 juta warga tidak bersalah! * * * Mari ikuti tulisan BUNG KARNO, tentang peristiwa tsb dan baca kemudian apa ulasan dan analisi sumber asing mengenai hal itu: “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, Cindy Adams, Edisi Revisi, 2007 -- a.l sbb: “. . . . Pagi-pagi pada tanggal 17 Oktober 1952 dua buah tank, empat kendaraan berlapis baja dan ribuan orang menyerbu memasuki pintu gerbang Istana Merdeka membawa spanduk “Bubarkan Parlemen”. Satu batalyon artileri dengan empat buah meriam menderu-deru memasuki halaman istana. Merimameriam 25-pon bikinan Inggris digerakkan dan dihadapkan kepadaku. Pameran kekuatan ini mencerminkan kelatahan dari zaman itu. Tindakan ini tidak dapat dikatakan bijsaksana, karena para pamglima yang memimpin gerakan itu berada bersamaku di dalam Istana. Kolonel Abdul Haris Nasution, yang memimpin percobaan “setengah kup”, sebagaimana ia kemudian menamakannya, menyampaikan masaalahnya. “Ini tidak ditujukan kepada Bung Karno pribadi, melainkan untuk menentang sistim pemerintahan. Bung Karno harus segera membubarkan Prlemen.” Mataku memerah karena marah. Engkau benar dalam tuntutanmu tetapi salah dalam caranya. Sukarno tidak akan menyerah menghadapi paksaan. Tidak pernah kepada seluruh tentara Belanda dan tidak kepada satu batalyon Tentara Nasional Indonesia”. “Bila ada kekacauan di negara kita, setiap orang berpaling kepada tentara”, balas Nasution. “Tokoh-tokoh politik membikin peperangan, tetapi si prajurit yang harus mati. Wajar bila kami turut berbicara tentang apa yang sedang berlangsung”. “Mengemukakan apa yang terasa di hatimu kepada Bung Karno -- YA. Tetapi mengancam Bapak Republik Indonesi -- TIDAK! JANGAN SEKALI-KALI”. Dengan tenang aku berjalan keluar langsung berhdapan dengan massa yang telah dirasuki suasana kegila-gilaan dalam arti kata sesungguhnya. Seluruh kawasan itu berada dalam keadaan perang. Alih-alih gemetar ketakutan di bawah kekuasaan meriam-meriam lapangan, aku menatap langsung ke mulut-mulut senjata itu dan tanpa rasa takut kulampiaskan kemarahanku kepada mereka yang mencoba membunuh demokrasi dengan pasukan bersenjata. “Hah . . . hah,” kata seorang prajurit terengah-engah.”Tindakan kita ini salah, Bapak Presiden tidak menyetujuinya.” “Yahh . . .” “Bapak ingin cara lain,” dua orang yang berdekatan menyatakan persetujuannya. Yang lain berteriak. “Bila Bil;a Bapak Presiden tidak menyetujui cara ini . . .” “Kita pun tidak setuju,” sambung yang lain pula. “Kup” itu mengalamai kegagalan total. Barisan itu membubarkan diri sambil berteriak, “Hidup Bung Karno . . . ! Hidup Bung Karno!” Nasution diberhentikan dari jabatannya. Aku tidak ingin menimbulkan perpecahan antara diriku dengan Angkatan Darat, karena itu kemudian aku mengangkatnya kembali pada jabatannya dan mengatakan, “Sukarno bukanlah anak kecil dan Nasution pun bukan anak kecil. Kita akan tetap bersatu, karena jika musuh-musuh berhasil memecah-belah kita, maka Republik kita pasti hancur.” Demikian Bung Karno. * * * Sebuah analisis “Wikipedia” berbahasa Indonesia, mengemukakan a.l. sbb: . . “Akibat pertentangan internal di dalam Angkatan Darat maka ia (Letkol A.H Nasustion) menggalang kekuatan dan melawan pemerintahan yang terkenal dengan peristiwa 17 Oktober 1952. Akibat peristiwa ini Presiden Sukarno mencopotnya dari jabatan KASAD . .. Setelah islah akhirnya pada November 1955 ia menjabat kembali posisinya sebagai KASAD. Tidak hanya itu, pada Desember 1955 ia pun diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Analisis Wikipedia yg berbahasa Inggris mengemukakan: “. . Dalam tahun 1952, Nasution dan Simatupang menyimpulkan melakukan poitik restrukturisasi dan reorganisasi ABRI. Di bawah pengaturan ini, Nasution dan Simatupang berharap menciptakan tentara yang lebih kecil tetapi lebih modern dan profesional. Tidak lama kemudian , mncullah konflik kepentingan faksionil.Nasution dan Simatupang did not take long however, before factional interests came into play. Nasution and Simatupang, yag memperoleh didikan pemerintah kolonial Belanda hendak memecat militer didikan Jepang, dan memsukkan prajurit-prajurit yang dilatih oleh Belanda. Tentara yang mendapat latihan Jepang di bawah pimpinan Bambang Supeno, mulai tampil menentang politik ini. Dalam menjalankan politik mereka, Nasution dan Simatupang memperoleh dukungan dari PM Wilopo dan Menteri Pertahanan Hamengkubuwono IX. Namun Bambang Supeno menemukan dukungan dari partai-partai oposisi di DPR. Para angggota DPR meulai menyatakan oposisi mereka terhadap rencana restrukturisasi ABRI tsb. Nasution dan Simatupang tidak senang dengan keadaan ini karena menganggapnya sebagai campur tangah sipil dalam urusan militer. Pada tanggal 17 Oktober 1952 Nasution dan Simatupang memobilisasi pasukan dalam suatu “unjuk kekuatan”. Mereka memprotes campur tangan sipil ke urusan militer. Nasution dan Simatupang memerintahkan pasukannya mengepung Istana Presiden dan mengarahkan mocong senjatga mereka ke Istana. Nasution dan Simatpang juga memobilisasi fihak sipil. Sukarno keluar dari \Istana dan meyakinkan prajurit dan massa untuk pulang ke rumah masing-masing. Nasution dan Simatupang dikalahkan. * * *

No comments: