Monday, July 14, 2014

Buku Terbaru MAY SWAN, Novelis SINGAPUR –

Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 3 Juli 2014
----------------------------

Buku Terbaru MAY SWAN, Novelis SINGAPUR –

* * *

Buku terbaru penulis MAY SWAN, asal etnikTionghoa Indonesia, yang sekarang warga dan berdomisili di Singapur, SITI NURBAYA BRIDGE, sudah sejak tahun lalu bisa dibeli di toko-toko buku. Novelnya yang menarik, ditulis dalam bahasa Inggris --- lancar dan enak dibaca, bukan buku pertamanya.

Antara lain yang sudah terbit adalah “Montmartre In Bondowoso“, “Fragrand Deception”*, dan “Hidayat”.

* * *

Seperti novel-novel May Swan sebelumnya --- “Siti Nurbaya Bridge”, juga berlatar belakang kejadian sejarah. Sekitar Konferensi Asia-Afrika, 1955, di Bandung,

Dengan mengambil latar belakang peristiwa sejarah itu, May Swan menunjukkan kepeduliannya pada peristiwa sejarah terpenting yuag terjadi di Asia-Afrika di abad ke-20. Untuk pertama kalinya wakil-wakil bangsa Asia-Afrika yang baru merdeka, duduk bersama di sekeliling meja musyawarah, dimana terdapat wakil-wakil bangsa-bangsa yang negrinya menempuh sistim sosialis, seperti Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Demokrasi Vietnam.

Meskipun bukan seorang pengamat politik, tetapi May Swan dengan tepat menilai bahwa Konferensi Bandung yang sukses itu, merupakan suatu pertemuan untuk memajukan kerjasama ekonomi dan kebudayaan diantara megara-negara Asia-Afrika yang baru merdeka, untuk menentang kolonialisme dan neo-kolonalisme oleh bangsa manapun.

May Swan mengemukakan bahwa Konferensi Asia-Afrika di Bandung itu, merupakan langkah pertama dan embryo dari Gerakan Non Aligned sedunia di tengah-tengah berkecamuknya Perang Dingin.

* * *

Juga seperti noval sebelumnya, cerita May Swan banyak berkisasr pada hubungan antar-manusia, khususya hubungan cinta. Dengan segala problim-problimnya.

Seorang warga Singapura, Koon Seng, yang mengepalai (kantor) Lee Rubber Company di Jakarta, diundang untuk hadir pada hari ultah sekolah itu. Di Jakarta. Ia memenuhi undangan tsb. Dengan harapan bisa menemui PM Chou Enlai dari RRT yang juga akan ke Bandung lewat Jakarta. Diberitakan bahwa PM Chou akan hadir sebagai tamu kehormatan di sekolah itu. Tetapi ternyata harapan Koon Seng gagal, karena PM Chou tidak hadir di sekolah itu.

Di situ Koon Seng berkenalan dengan guru-sekolah Swee Lan. wanita muda yang atraktif. Koon Seng jatuh cinta pada Swee Lan dan sebaliknya. Mereka melalui kehidupan saling mencinta yang wajar.

Suatu ketika Koon Seng berlibur ke kampung halamannya di Singapur. Ia akan menyampaikan kepada ibunya bahwa ia sudah punya pacar di Indonesia, dan sekembalinya dari berlibur nanti, ia akan melamar Swee Lan.

Sayang, ketika Koon Seng kemballi ke Indonesia, ia dihadapkan pada situasi yang tidak terduga samasekali. Ternyata Ibunya Swee Lan sudah mengatur pertunangan Swee Lan dengan pemuda Wang, anak orang kaya. Itu dilakukannya demi menyelamatkan keadaan ekonomi perusahaan bapaknya Swee Lan dari kebangkrutan.

Swee Lan juga akhirnya menyetujui bertunangan dengan seorang pemuda yang tidak dikenalnya lebih dulu, semata-mata, demi untuk menyelamatkan bapaknya yang perusahaannya sudah ditepi kebangkutan. Tapi bagi Koon Seng, masih saja merupakan tanda tanya besar, bagaimana ia bisa diperlakukan demikian oleh pacar yang dicintainya itu.

* * *

Untuk kedua kalinya Koon Seng menemui kekandasan dalam jalan hidup cintanya ketika ia jatuh hati pada seorang teman sekerjanya, yang kemudian juga ternyata 'sudah ada yang punya'.

Namun Koon Seng terus melanjutkn hidupnya, karena betapapun 'life must go on'

* * *

Novel May Swan juga menggambarkan sekitar 'vulnerability' – mudah kena serang – 'kepekaan' – yang diidap oleh masyarakat minoritas Tionghoa di Indonesia. Yang merupakan bahaya laten bila ada hasutan sosial atau religius yang disebabkan oleh suatu motif politik. Namun dengan jatuhnya rezim Orde Baru Jendral Suharto, dan proses reformasi dimulai, posisi orang-orang Tionghoa di Indonesia, mengalami sedikit kemajuan. < Nyatanya – – Wakil Gubernur Jakarta, AHOK , hasil pemilihan langsung, adalah seorang warga Indonesia asal etnik Tionghoa – >

* * *

Setelah pukulan kegagalan dalam cinta, Koon Seng, tulis May Swan pada penutup ceritanya, merenungkan:

Bisakah, masalahnya bahwa, kendatipun dirinya sendiri, ia masih terlibat di jaring hubungan emosi yang merupakan penjara-manusia (human prison), sebuah penjara yang sudah terbiasa terjadi dalam hidupnya.

Tetapi, lalu siapa yang mengatakan bahwa hidup itu harus seperti mercon, harus mengarungi segala sesuatunya yang sulit. Adalah tidak salah samasekali, untuk hidup dengan damai dan tenang. Betapapun keindahan itu datang dalam segala bentuknya, dan kebahagiaan muncul dari dalam.

Adalah suatu kenyataan, bahwa, pada akhirnya segala sesuatu akan menghilang ditelan oleh samudra kehidupan, bagaikan air sunyi dan hening yang mengalir di bawah Siti Nurbaya Bridge -- Jembatan Siti Nurbaya.

* * *

Orang akan menyimpulkan, bahwa, itulah falsafah hidup penulisnya sendiri, May Swan.

Pada awal bukunya May Swan memuat kutipan kata-kata Johan Wolfgang von GOETHE, sebagai berikut:

Setiap penulis dengan satu atau lain cara, menunjukkan dirinya sendiri di dalam karya-karyanya, meskipun itu berlawanan dengan kemauannya”.

* * *

Silakan pembaca menikmati sendiri novel May Swan itu, yang diterbitkan oleh Penerbit ULTIMUS, Bandung. 2013. * * *

No comments: