Saturday, June 28, 2014

MENGGUNAKAN RELIGI SEBAGAI KOMODITI demi KEKUASAAN

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 23 Juni 2014
------------------------------
MENGGUNAKAN RELIGI SEBAGAI KOMODITI demi KEKUASAAN

Kepercayaan, agama, religi digunakan sebagai komoditi --- sebagai barang dagangan, sebagai reklame – untuk mencapai kekuasaan politik negeri, dan atau untuk mempertahankan kekuasaan golongan sendiri, dengan menzholimi golongan atau fihak lawan (politik). . . . . Sering bicara atas nama agama, mengangkat diri sebagai jurubicara tunggal kepercayaan tertentu --- mengatas-namai Yang Maha Kuasa, --- sedangkan hakikatnya adalah untuk merebut kekuasaan atau mempertahankannya bagi golongan sendiri --- .
ITU SEMUA ADALAH FAKTA-FAKTA SEJARAH.
Tanpa menjadi seorang historikus, siapa saja yang mau membuka catatan sejarah, akan menemui fakta-fakta dan kejadian-kejadian serupa itu. Bisa peristiwa itu terjadi di Irlandia Utara, Libanon, Nigeria, Mesir, Central Afrika atau Sudan Selatan--- bisa terjadi di Irak atau Syria, Mesir atau Israel, di India atau Pakistan; Birma atau Muangthai . . . . . . . . tidak sulit untuk mengetahuinya.
Menjadikan religi sebagai komoditi --- Untuk merebut kekuasaan – – – kasus seperti ini – – – Indonesia mengalaminya sendiri. Konflik kekerasan dalam negeri dengan mengatas-namai agama yang banyak makan korban pernah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Misalnya sekitar peristiwa DI/TII. Juga pernah terjadi di Maluku di tahun-tahun permulaan Reformasi dan Demokratisasi, ketika terjadi konflik Islam – Kristen. Serta di berbagai tempat lainnya. Halmana nyaris menghancurkan samasekali keharmonisan dan langgam hidup rukun berdampingan dengan tenteram antara penganut kepercvayaan Kristen dan Islam.
* * *
Abdillah Toha, adalah salah seorang pendiri dan mantan Ketua PAN, Partai Amanat Nasional. Ia memberanikan diri menganalisis hal- hal yang terjadi sekitar kampanye pilpres 2014, dimana kepercayaan, agama, religi 'dijual demi kekuasaan'.
Abdillah Toha mencanangkan bahaya yang terkandung dalam cara-cara yang menggunakan agama demi kekuasaan. Ia juga mengingatkan pembaca bahwa kaum Muslim Indonesia adalah kaum yang toleran terhadap kepercayaan dan agama lainnya. Toha mencanangkan sekitar transaksi menjual agama dengan cara yang paling berbahaya demi meraih kekuasaan. Berbahaya karena isu agama adala isu sara yang sangat peka dan berpotensi memecah belah bangsa.


* * *

Silakan telusuri tulisan Abdillah Toha sekitar digunakannya agama demi kekuasaan (huruf tebal di tulisan di bawah ini oleh penulis kolom):

Abdillah Toha ( lahir1942):

Menjual Agama DEMI KEKUASAAN

Saya sebenarnya segan membahas topik ini. Namun karena masalahnya sudah berkembang terlalu jauh belakangan ini, saya merasa harus ikut urun rembug sebagai bagian dari tanggung jawab saya sebagai warga negara dan sebagai bagian dari muslim Indonesia.

Muslim Indonesia? Ya, muslim yang berbeda karakter dari muslim di banyak negara lain, khususnya di beberapa negara Timur Tengah yang sedang dilanda perang antar muslim demi merebut kekuasaan dan mendirikan "Islam yang murni". Muslim Indonesia berbeda, karena kita adalah muslim yang toleran, menghargai perbedaan, serta sangat luwes dalam mengadaptasikan keislaman kita dengan kearifan lokal.

Sayang sekali karakteristik dan perilaku tasamuh muslim Indonesia yang sudah berjalan ratusan tahun ini belakangan menghadapi serangan kelompok garis keras yang sebenarnya minoritas tetapi militan, fanatik, dan agresif. Toleransi atau tasamuh dianggap sebagai tanda kelemahan. Orang-orang ini dihinggapi penyakit kejiwaan yang bisa disebut sebagai paranoid, yakni selalu merasa ketakutan kepada segala sesuatu yang berbeda dan diluar diri atau kelompoknya. Pihak luar ini dipersepsi oleh mereka sebagai ancaman terhadap eksistensinya. Inilah kelompok yang hanya mengenal dua warna, hitam dan putih. Tidak boleh ada warna lain diantara keduanya.

Kelompok Islam garis keras ini tidak hanya terjangkit bayangan ancaman dari penganut agama lain tapi justru belakangan ini dia juga khawatir terhadap apa yang dipersepsinya sebagai ancaman atas benteng akidah mereka dari muslim sendiri yang tidak sealiran dengan mereka. Maka satu-satunya jalan adalah melakukan pre-emptive strike kepada lawannya yang dikhawatirkan akan menjadi besar bila dibiarkan.

Mereka bergerak dalam semua front, dari masjid-masjid sampai ke pengajian, selebaran, tabloid, media sosial dan bahkan ke kehidupan politik. Pukulan mereka belum sampai kepada menggorok leher lawan seperti yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah, tapi sudah dalam bentuk pengusiran dari rumah tinggal korban, ancaman pembunuhan, intimidasi, provokasi, sampai kepada penyebaran berita-berita bohong dan fitnah. Modus operandi yang terakhir ini, penyebaran berita bohong dan fitnah, sudah diterapkan dalam kampanye pilpres kali ini dalam rangka menjauhkan konstituen muslim dari memilih lawan politik mereka. Capres Jokowi, seorang muslim yang taat, adalah salah satu korban yang dikampanye hitamkan sebagai penganut kristen dan keturunan Tionghoa yang membahayakan umat Islam Indonesia.

Yang menyedihkan adalah bahwa kampanye hitam yang sistematis ini ternyata cukup efektif. Banyak kalangan Islam yang percaya, dan yang mengherankan pula, tidak kurang dari kalangan warga muslim terdidik yang termakan oleh isu ini, walau berbagai sanggahan telah disampaikan secara lisan, tulisan, dan dalam bentuk video yang menafikan kebenaran dari tuduhan itu. (lihat video :
http://m.youtube.com/watch?v=0fRJZIBDztc&sns=tw ). Tuduhan dan sanggahan saling bergantian ini seakan membuat ramalan Amien Rais tentang "Perang Badar" dalam pilpres kali ini menjadi sebuah kenyataan.

Mereka lupa akan adanya hadis Nabi yang setengah mengutuk pengkafiran sesama muslim secara tidak benar. Muhammad SAW bersabda  " Dan barangsiapa yang menuduh seseorang dengan panggilan “kafir” atau “musuh Allah” padahal dia tidak kafir, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh". ( Dari Abu Dzar di Shahih Bukhari)

Kasus yang mirip dengan ini pernah pula dialami oleh presiden Amerika Barack Obama yang sempat difitnah ketika menyalonkan diri sebagai presiden. Lawan politiknya, termasuk Hillary Clinton, menyebar luaskan isu bahwa Obama sesungguhnya adalah seorang Muslim yang berkehendak menguasai Gedung Putih di negeri yang mayoritas warganya beragama Kristen. Isu ini disebarkan antara lain dengan menunjuk kenyataan bahwa nama tengah Obama adalah Husein. Untunglah pada akhirnya Obama tetap terpilih sebagai presiden Amerika.

Inilah salah satu strategi menghalalkan cara demi memenangkan calon yang didukungnya. Inilah pula transaksi menjual agama dengan cara yang paling berbahaya demi meraih kekuasaan. Berbahaya karena isu agama adala isu sara yang sangat peka dan berpotensi memecah belah bangsa.


Bila sesungguhnya hal ini tidak dilakukan oleh tim sukses resmi capres Prabowo tapi oleh para pendukungnya yang fanatik, maka sejauh ini kita tidak mendengar pernyataan tim sukses mereka dan partai-partai Islam pendukungnya yang mengecam kampanye hitam jenis ini. Ketiadaan kritik atau kecaman itu bisa dipersepsi sebagai restu resmi atas cara-cara tidak terpuji itu.

Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan bahwa andaikata tuduhan itu benar maka Jokowi tidak layak menduduki jabatan presiden di negeri yang mayoritas penduduknya muslim.

Konstitusi kita menjamin setiap warga negara, apapun agama dan keyakinannya, hak pilih dan hak untuk dipilih dalam semua jabatan.

Tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa betapapun keras dan ketatnya persaingan dalam pilpres kali ini, sebagai warga negara yang bertanggung jawab kita harus tetap menjauhkan diri dari cara kampanye yang memojokkan lawan lewat disinformasi, kebohongan, apalagi fitnah.

Abdillah Toha
22-06-201



No comments: