Sunday, June 15, 2014

"SANG KANCIL", . . . Salah Satu "TOKOH FOLKLOR RAKYAT"

Kolom IBRAHIM ISA
Jum'at, 13 Juni 2014
-----------------------------

"SANG KANCIL", . . .

Salah Satu "TOKOH FOLKLOR RAKYAT"
* * *

Dikatakan . . . Sang Kancil itu adalah Lambang Kecerdikan yg Tenang Menghadapi Kesukaran, Selalu Dapat Memecahkan Masaalah Rumit Tanpa Ribut-ribut, Tanpa Banyak Emosi . .


Benarkah demikain? .. . (Tanya Isnaeni . . .)

* * *

Sahabatku dari Redaksi "MAJALAH HISTORIA", Jakarta, Hendri F. Isnaeni, mengirimkan sebuah tulisan sekitar 'folklor' Indonesia. Menarik, berjudul : "Di Balik Cerdik Licik Si Kancil", Benarkah si Kancil mewakili tipe ideal orang Jawa atau Melayu-Indonesia?


Dalam tulisannya itu Isnaeni mengutip pendapat seorang pakar asing bernama Philip Frick McKean. A.l sebagai berikut:

“Menurut James Danandjaja, dari semua peneliti tentang dongeng Kancil, yang menarik adalah karya Philip Frick McKean, The Mouse-deer (Kantjil) in Malayo-Indonesia Folklore: Alternative Analyses and the Significance of a Trickster Figure in South-East Asia. McKean menyimpulkan bahwa ideal folk (cerita rakyat) Jawa adalah selalu mendambakan keadaan keselarasan. Dari isi dongeng-dongeng si Kancil dapat diambil kesimpulan bahwa Kancil mewakili tipe ideal orang Jawa atau Melayu-Indonesia sebagai lambang kecerdikan yang tenang dalam menghadapi kesukaran, selalu dapat dengan cepat memecahkan masalah rumit tanpa ribut-ribut, dan tanpa banyak emosi. Benarkah demikian?

Tidak jelas, apakah pertanyaan Isnaeni tsb berkaitan dengan situasi, di saat pemilih Indonesia akan menentukan (09 Juli 2014), siapa yang dipercayainya untuk menjadi presiden Ke-8 Republik Indonesia. Rasa-rasanya mungkin begitu. Pertanyaan itu ada hubungannya dengan situasi mencari tokoh Indonesia yang ideal akan memimpin bangsa dan negeri ini.

* * *

Ingatanku jadi melayang ke Indonesia puluhan tahun yang lalu. Sudah dimulai masa bocah, oleh orangtua atau neneknya, anak-anak Indonesia diperkenalkan dengan cerita atau dongeng, yang diambil dari khazanah "folklore". Anak-anak amat menyukai cerita-cerita folklore.

* * *

Isinya ada kalanya dongeng atau cerita tentang penghuni hutan belukar. Seperti antara lain yang populer adalah CERITA SANG KANCIL. Biasanya, dongeng itu mengisahkan tokoh 'baik', dan lawannya tokoh 'jelek'. Akhirnya yang 'baik' sealu menang.

Jelas, dongeng itu mendidikkan kepada anak-anak itu, bahwa dalam kehidupan ini selalu ada konflik antara yang 'baik' lawan yang 'jahat'. Dan bahwa akhirnya yang baik selalu pasti menangnya. Ini adalah semacam pendidikan akhlak, membina watak baik ketika masih anak-anak. Dari yang tua kepada yang muda.

Namun, dalam dongeng “Sang Kancil”, tokoh “Kancil”itu, bukanlah menunjukkan tokoh 'licik' atau 'penipu'. Tapi suatu tokoh yang cerdas, pandai, bijak, banyak akalnya. Itu semua diperlukannya untuk membela diri, untuk bisa 'suvive' dalam kehidupan dimana yang berlaku adalah 'hukum-rimba' di hutan belantara.

Tokoh “Sang Kancil”, menggmbarkan keharusan yang kecil dan lemah itu, harus luar biasa pandai, bijak dan berani.

* * *

Mertuaku, neneknya putri-putri kami, misalnya. Aku masih ingat. Sambil membobokkan cucunya Pratiwi, beliau bercerita tentang Yuyu Kangkang dan Klenting Kuning.

Begitulah, menurut yang empunya cerita, suatu ketika adalah seorang perjaka gagah dan muda belia yang hendak mencari pasangan hidupnya. Mendengar itu beberapa gadis siap-siap menuju tempat Sang Pemuda. Mereka harus menyeberang sebuah sungai. Seekor Yuyu raksasa, bernama Yuyu Kangkang, siap-siap menyeberangkan gadis-gadis itu. Tetapi ia tidak mau diantara gadis itu ada yang terpilih menjadi istri sang Pemuda yang gagah perkasa itu. Sang Yuyu Kangkang sendiri yang ingin memperistri gadis itu.

Maka ketika menyeberangkan gadis itu Yuyu Kangkang ambil kesempatan mencium gadis itu. Karena sudah dicium Yuyu Kangkang, sang gadis gagal terpilih.

Kleting Kuning, adalah gadis cantik dan cerdas serta bijak. Ia memiliki sebuah cemeti 'istimewa'. Dengan sekali pecut, air sungai mengering, dan Kleting Kuning dapat melewati sungai tanpa 'bantuan' Yuyu Kangkang.

Akhirul kalam Yuyu Kangkang yang jecea dan marah itu lari terbirit-birit sambil melolong; “Kang, kang, kang, kang . . . . .

Dan Kleting Kuning terpilih oleh sang Pemuda nan gagah belia, sebagai istrinya.

Cerita tentang Yuyu Kangkang dan Kleting Kuning, mengisahkan bahwa 'yang jahat' bisa dikalahkan oleh 'yang baik'.

* * *

Bagaimana sebenarnya kedudukan, fungsi, pengaruh dongeng-dongeng dan cerita-certa dari 'folkore' kita.

Prof .Dr. James Danandjaja, gurubesar dalam imu antropologi dan folklore pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI pernah menulis buku berjudul “Folklore Indonesia; ilmu gosip, dongeng, dan lain lain, 1984.

Antara lain ditulisnya sbb: Definisi secara keseluruhan: folklore adalah sebagian kebudayaan secara kolektif, yang tersebar dan diteruskan turun-temurun, diantqra kolektif macam apa saja, secara tradisionil dalam versi yang berbeda, baik, dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingt (mnemonic device)”. Demikianlah rumusan seorang sarjana.

Sedangkn penerbit buku folklore tsb, Grafitipers, menyatakan, s.l.:

Tidak kenal maka tak sayang, begitu bunyi sebuah ungkapan. Dalam arti positif, niscaya ungkapan ini berlaku pula dalam upaya kita untuk memupuk kecintaan terhadap bangsa dan negara dengan segala keanekaragamannya. Artinya, semakin dalam pengenalan kita semakin besar pula keintaan kita terhadapnya.
Bagainakah pengenalan itu bisa dilakukan? Salah satu cara adalah dengan mempelajari bentuk-bentuk folklor yang terdapat dalam masyarakat kita”.

Direktur Jendral Kebudayaan ketika itu, Prof Dr Haryati Subadio, menyatakan:

Saya berharap buku ini dapat menggalakkan perhatian terhadap folklore Indonesia untuk dijadikan pokok penelitian dan penulisan, sehingga bahan folklor kita itu akan dikenal di kalangan luas sebagai bagian dari warisan budaya nasional bangsa”.

* * *

Diharapkan tulisan kecil ini bisa menggugah anak-anak bangsa untuk dengan gairah meneliti, menstudi dan menulis mengenai folklor bangsa kita. Dengan demikian menimba kebijakan dari budaya bangsa sendiri.

Sekaligus membantu memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh Hendri F. Isnaeni, dalam tulisannya itu.

* * *



No comments: