Wednesday, February 23, 2011

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL – 8 MARET”

Kolom IBRAHIM ISA

Rabu, 23 Februari 2011

------------------------------------------

MENYONGSONG “HARI WANITA INTERNASIONAL – 8 MARET”, Dan GERWANI <Bagian Dua>


* * *


Di antara hal-hal menarik dan penting untuk diperhatikan, dalam buku Prof Dr Wieringa di “Kata Pendahuluan” untuk karya studi-ilmiahnya, “Penghancuran Gerakan Perempuan Indonesia”, yang disiarkan di bagian kedua ini, antara lain, ialah sbb:


Pada periode Orde Baru, masyarakat, khususnya dalam hal ini kaum wanita, serta organisasi-organisasinya, dikontrol dan terus-menerus diindoktrinasi, di 'brainwashed', dicuci otaknya, agar tidak mempersoalkan politik pemerintah Orde Baru. Bila bicara tentang emansipasi kaum wanita, akan menghadapi risiko dikaitkan dengan periode pemerintahan Sukarno dan 'Komunisme'. Pemerintah Orde Baru, benar-benar melakukan pembodohan terhadap bangsa.(huruf tebal dari saya, I.I.)


Dewasa ini, setelah lebih sedasawarsa disingkirkannya Presiden Suharto, pada periode yang sering dikatakan periode 'Reformasi', --- apakah mempersoalkan emansipasi kaum wanita, apalagi memperjuangkannya, juga sama halnya seperti di bawah rezim Orba, akan mengalami nasib serupa? Yaitu, akan menghadapi risiko dikaitkan dengan pelbagai insinuasi dan fitnah seperti yang terjadi pada periode Orba. Tekanan atau fitnah itu dilakukan dengan berjubah baru. Misalnya, dengan melemparkan tudingan bahwa 'feminisme' itu adalah 'atheis', 'a-moral', bahkan bertentangan dengan ajaran agama.


* * *


Hal berikutnya yang seyogianya mengimbau perhatian dan pemikiran, adalah yang a.l dikemukakan oleh Wieringa, bahwa ia akan menguraikan sejarah yang terselubung itu (ingat: Ketika Wieringa selesai menulis bukunya, Orde Baru masih berjaya di Indonesia – Oktober 1995). (huruf tebal dari saya, I.I.)


Bahwa Wieringa akan menguraikan sejarah feminisme Indonesia, yang mengenal saat-saat radikal dan berani lebih banyak lagi dari yang diakui para penulis sekarang.

Selanjutnya memaparkan sejarah yang terlarang, yaitu sejarah Gerwani. Tentang anggota-aggotanya yang dibunuh, yang dipenjara dan yang hilang, serta dokumen-dokumen tentangnya yang di Indonesia dimusnahkan. (huruf tebal dari saya, I.I.). Untungnya perpustakaan-perpustakaan di Negeri Belanda dan Amerika Serikat masih menyimpan bahan-bahan, yang atas dasar itulah kisah masa lampau Gerwani dapat disusun kembali.


Kemudian, tulis Wieringa, dengan meneliti kejadian-kejdian tahun 1965 dan 1966 atas dasar analisa gender dari periode itu, menyingkap aspek-aspek tertentu mengenai lahirnya Orde Baru, yang sampai sekarang (1995) digelapkan (oleh militer Indonesia) atau diingkari (oleh para peneliti sejarah modern Indonesia).


* * *


Mari lanjutkan menyimak uraian Prof Dr Wieringa:

Prof Dr |Saskia Wieringga <>


Kampanye tsb membawa implikasi-implikasi yang luas, dan memerlukan proses indoktriniassi yang terus menerus. Indoktrinisasi ini tak lain ialah brainwashing bagi seluruh bangsa agar mempercepat pandangan penguasa tentang masa lampau kolektif mereka, dan agar tidak mempersoalkan politik pemerintah Orde Baru. Bicara tentang masalah emansipasi perempuan, yang mengandung pandangan tentang keadilan sosial yang lebih luas, dapat menimbulkan kecurigaan. Bukan hanya akan dikaitkan dengan “Komunisme”, tapi juga dengan “cara berpikir Orde Lama” pada umumnya. Seperti salah seorang pemimpin Perwari mengatakan: “Jika saya bicara tentang pandangan saya mengenai gerakan kaum perempuan Indonesia, dan harus menyebut cita-cita yang hendak saya capai atau membahas soal emansipasi perempuan, seketika saya akan dituduh “orang Orde Lama”. Pemerintah sekarang ini benar-benar mengajar rakyatnya agar menjadi bodoh. Padahal, tidaklah orang hanya akan bisa merdeka jika dia tidak berfikir, bukan? Kemerdekaan itu benar-benar tidak ada di sini. Di sini tidak ada jalan, bagaimana caranya supaya kita bisa berbicara atau berfikir menurut apa yang kita mau” (interviu 73, 31 Januari 1984).


Karena itu kajian ini tidak hanya merupakan kebutuhan sejarah. Analisa dari sudut gender tentang kejadian-kejadian tahun 1965-1966 yang dikemukakan di sini, ada hubungannya secara langsung dengan pemahaman terhadap persekongkolan kekuasaan Orde Baru pada umumnya, dan dengan cara pelecehan martabat perempuan pada khususnya, yang telah digunakan sebagai pembenaran kelangsungan basis kekuasaan totaliter Presiden Suharto yang berwatak patriarkal, yang telah dibangunnya itu. Sesungguhnya itulah alasannya, mengapa saya menjadi tertarik pada topik kajian sekarang ini. Dalam akhir tahun 1970-an, saya terkesima melihat kadar ketaatan dan dominasi laki-laki pada organisasi-organisasi terpenting kaum perempuan di Indonesia saat sekarang. Khususnya pada organisasi-organisasi istri para pejabat sipil (Dharma Wanita) dan pejabat militer (Dharma Pertiwi), demikian juga pada organisasi Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang disponsori negara dan meluas ke seluruh negeri itu.


--- Footnote 10, halaman xlvi: Dalam makalah tahun 1985 yang berjudul “The perfumed Nightmare”saya tunjukkan, bahwa di bawah Jendral Suharto, Angkatan Darat telah membikin kampanye di sekitar peranan yang dituduhkan pada Gerwani dalam kup 1 Oktober 1965. Belum lama yang lalu Leclerc (1991), dalam makalah tak diterbitkan, telah mengangkat tema yang sama dengan memusatkan perhatiannya pada monumen yang dibangun para jendral. Tema ini akan saya uraikan dalam Bab II.


-- Footnote 11: Perwari, Persatuan Wanita Republik Indonesia, didirikan segera sesudah proklamasi kemerdekaan. Seperti akan saya uraikan dalam Bab 7, selama waktu yang panjang organisasi ini tetap bersemangat radikal dan lantang membela hak-hak kaum perempuan, khususnya dalam perkawinan. Dewasa ini Perwari telah “dijinakkan”, kegiatan-kegiatannya yang menjurubicarai perempuan miskin tidak dimungkinkan, dan keanggotaannya menjadi merosot hebat. Gejala terakhir ini terutama disebabkan oleh kenyataan, bahwsa setiap ;istri pegawai atau tentara harus menjadi anggota organisasi istri-istri tentara dan karuyawan, yaitu Dharma Wanita edan Dharma Pertiwi.


Footnote 12: Untuk uraian tentang Dharma W|anit dan Dharma Pertiwi, lihat: Wieringa 1985. Dalam karangan belakangan saya membicarakan “feminisme yang keguguran” di Indonesia ( 1988b), dan lebih belakangan lagi saya tulis dua karangan yang membandingkan Gerwani dengan PKK (1992; 1993a). lihat juga laporan yang diterbitkan oleh tim Indonesia untuk Proyek Sejarah Perempuan DGIS/ISS (Wieringa et all. 1985; |Wieringa (ed) 1990). Lihat juga Suryakusuma (1990) untuk Dharma Wanita.


Belakangan saya tahu, organisasi-organisasi dibangun di atas reruntuhan sejarah organisasi-organisasi kaum perempuan yang mandiri dan giat. Seperti pada 1985 pernah saya kemukakan organisasi-organisasi baru ini didirikan oleh militer, sengaja untuk menomor-duakan kembali kedudukan kaum perempuan Indonesia. < Huruf tebal dari saya: I.I.)


Sekarang setiap suara yang mempersoalkan tentang sulitnya keadaan sosial dan ekonomi mendapat cap sebagai berbau politik. Maka soal-soal yang berimplikasi sayap kiri dan “kaum kiri”, yang dikaitkan dengan “kaum perempuan semacam itu, membuka seluruh kotak asosiasi-asosiasi Pandora dengan pembunuhan-pembunuhan ritual dan pesta-pesta seksual (Wieringa 1985:38.


Semula berkat cambukan Sukarno sendiri, sehingga kaum perempuan Indonesia giat berppartisipasi dalam perang kemerdekaan nasional. Namun, sesudah kemerdekaan tercapai, berlangsunglah proses pemuliohan kembali kekuasaan kaum laki-laki. Selama tahun-tahun pertama pemerintahan Sukarno, kaum perempuan selalu menjadi subyek yang vopkal di tengah percaturan politik Indonesdia, dengan menyerang benteng dominasi laki-laki dari dua penjuru. Pertama-tama mereka menyerng hak prerogatif laki-laki berpoligami. Perjuangan mereka kalah, karena tak lain dari Presiden Sukarno sendiri yang menuntut hak beristri lebih dari satu orang. Ke dua, sebagian dari gerakan ini, itulah Gerwanio, menuntut tempat di tengah gelanggang politik bagi kaum perempuan.


Langkah ini membawa sejumlah konsekwensi. Pertama-tama, mereka memancing amarah organisasi-orgaqnisasi perempuan lainnya, yang berpendirian bahwa kedudukan perempuan di masuyarakat tidak di bidang politik, tetapi di bidang sosial. Selanjutnya Gerwani yang menjadi semakin rapat mendekatkan diri pada PKI (yang tak banyak perhatiannya pada “soial perempuan”itu) kehilangan banyak pendirian feminismenya yang semula. Ketiga, saya ingin mengemukakan, bahwa langkah Gerwani memasuki bidang yang sampai sekarang dipandang daerah kawasan laki-laki, telah memicu ketakutan di kalangan kelompok-kelompok tradisionil di Indonesia, khususnya kalangan Muslim salih. Kalangan inilah yang pada waktunya merupakan lahan subur bagi kampanye Suharto tentang fitnahan seksual dalam akhir 1965.


Untuk mengerti bagaimana organisasi-organisasi kaum perempuan dewasa ini berfungsi, baik sebafgai tiang penyangga rezim Orde Baru maupun sebagai alat untuk menopmor-duakan kembali kedudukan perempuan, saya merasda perlu menliti periode Orde Lama dan lahirnya kekuasaan Orde Bareu. Sementara meneliti sejarah dalam periode ini, saya melihat sehingga mana kiasan seksual dan penghinaan terhadap perempuan mengelilingi asal-muasal rezim Suharto. Namun dengan ini tidak bermaksud mengatakan, bahwa metafora-metafora seksual merupakan faktor satu-satunya yang turut menyebabkan terjadinya pembunuhan masal, dan tampilnya Suharto di atas singgasana kekuasaan.


Faktor-faktor lain, selain dari kekacauan pereokonimian, yang mengakibatkan rasa sangat kuatir baik di kalangan Angkatan Darat maupun kauumKomuinis, termasuk juga percobaan-percobaan pembunuhan terhadap Sukarnom (Mei 19.8), sakitnya Sukarno, dan seruan Sukarno untuk pembentukan Angkatan ke-5.l Walau Angkatan ke-5 ini sedikit banyak sekadar merupakan retorika medio 1960-an belaka, namun Angkatan Darat merasa sangatcemas melihat kemungkinan akan dipersenjatainya sekitar 21 juta kaum tani dan kaum buruh, yang samasekali terlepas dari kendali pimpinan Angkatan Darat. Walaupun begitu, sugesti-sugesti tentang perbuatan seksual yang tak senonoh itulah, yang telah menjadi penyebab kotak mesiu meledak.


Saya berpendapat bahwa untuk mengerti tentang dalamnya krisis yang telah menenggelamkan Indonesia paa 1965 itu, tidak cukup dengan memberikan analisis politik saja, tetapi juga analisis dari sudut gender perlu dikemukakan. Analisis gender yang dikemukakan di sini akan menyoroti aspek-aspek tertentu dalam sejarah politiki moderen Indonesia, yang sedemikian jauh masih tetap merupakan misteri bagi banyak para peniliti, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai pokok-pokok masalah yang umumnya diabaikan.


Halaman-halaman selanjutnya akan menguraikan sejarah yang terselubung itu dalam tiga tahap.


Tahap pertama menguraikan sejarah feminisme Indonesia, yang mengenal saat-saat radikal dan berani lebih banyak lagi dari yang diakui para penulis sekarang.


Tahap ke dua memaparkan sejarah yang terlarang, yaitu sejarah Gerwani. Tentang anggota-aggotanya yang dibunhuh, yang dipenjara dan yang hilang, serta dokumen-dokumen tentangnya yang di Indonesia dimusnahkan. Untungnya perpustakaan-perpustakaan di Negeri Belanda dan Amerika Serikat masih menyimpan bahan-bahan, yang atas dasar itulah kisah masa lampau Gerwani dapat disusun kembali.


Ke tiga, dengan mengamati kejadian-kejadian tahun 1965 dan 1966 atas dasar analisa gender dari periode itu, akan menyingkap aspek-aspek tertentu mengenai lahirnya Orde Baru, yang sampai sekarang digelapkan (oleh militer Indonesia) atau diingkari (oleh para peneliti sejarah modern Indonesia). ---



* * *






No comments: