Saturday, March 15, 2014

MEMECAH “KEBISUAN” – Mengkahiri “IMPUNITY”

Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 13 Maret, 2014
------------------------------
MEMECAH “KEBISUAN” –
Mengkahiri “IMPUNITY”

Kali ini disampaikan sedikit tentang pertemuan silaturahmi antara generasi tua dan muda di rumah Dini Setyowati. Lalu tentang Soe Tjen Marching – pemrakarsa PETISI MELAWAN MAKSUD APRESIDEN SBY MENOBATKAN JENDRAL SARWO EDHIE jadi pahlawan nasional – – yang memeruskan kegiatannya di Eropah MENSOSIALISASIKAN ide pentingnya kegiatan MELAWAN DIAM . . . . . . . Dan Melawan Lupa . .

* * *

Senin pagi kemarin dulu, -- Murti mengingatkan lagi, agar “jangan lupa” untuk membeli bunga ANGREK ketika berbelanja. Pasti tak akan lupa, kataku, 'kan untuk disampaikan pada sahabat kita Dini Setyowati, yang hari itu merayakan hari ultahnya. Pertemua di rumah Dini itu itu sifatnya . . bertukar fikiran antara generasi tua tua dan muda -- mengenai hal-hal aktuil dan masa lampau, tentang kegiatan “Melawan Lupa” dan “Melawan Impunity”.

Terjadilah cakap-cakap tukar pengalaman dan silaturahmi dengan SOE TJEN MARCHING dari generasi muda, yang khusus datang dari London.

Soe Tjen meneruskan perjalanan kegiatan penting di Eropah dalam rangka 'MEMECAH KEBISUAN' . . . .

* * *

Senin sore itu belasan kawan-kawan tua, yang sengaja diundang Dini Setiyowati, dalam kesempatan itu, untuk berkenalan dan cakap-cakap dengan Soe Tjen. (antara lain tampak Cisca Patipilohy dan Aminah Idris dari Yayasan DIAN -- Sungkono, Ketua Perhimpunan Persaudaraan; Chalik Hamid, Perhimp Persaudaraan; YSBI; Soelardjo – YSBI; Sarmaji, PERDOI; I. G Arke; dll.)

* * *

Dalam undangan untuk pertemuan publik di Amsterdam pada tanggal 11 Maret 2014 dengan tema MELAWAN DIAM (diselenggarakan oleh “Friends of 1965-People’s Tribunal Indonesia”), dimana Soe Tjen bicara, dijelaskan kan bahwa:

Soe Tjen Marching adalah  penulis dan komponis. Ia memenangkan kompetisi nasional untuk piano yang diadakan oleh Kedutaan Besar Jerman di Indonesia pada tahun 1998. juga memenangkan kompetisi internasional untuk komponis yang diselenggarakan di Singapura pada tahun 2010. Soe Tjen telah menerbitkan 5 buku dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Antara lainThe Discrepancy between the Public and Private Selves of Indonesian Women dan memoarnya tentang kanker, Kubunuh Di Sini. Dia sekarang sedang menulis tentang kisah-kisah keluarga korban 1965 Indonesia. Dia juga koordinator IPT1965 di Britania.

* * *


Ketika menguraikan tentang tema yang disampaikanya dalam perjalanan kegiatannya di Eropah kali ini, dalam rangka sosialisasi tema Melawan Diam – Melawan Lupa diam . . . Soe Tjen menuturkankan antara lain:


"Saya melihat kepala teman saya digondol anjing."“Sungai dekat rumah saya tersumbat karena timbunan mayat.""Bapak diberitahu kalau komunis itu iblis. Kalau membiarkan mereka hidup berarti mendukung kejahatan mereka. Kami diharuskan membunuh siapa saja yang komunis".


Pernyataan ini terlontar dari beberapa saksi kepada saya tentang periode kelam di Indonesia, periode yang menjadi salah satu pembunuhan massal terbesar di dunia. Film Joshua Oppenheimer telah ikut membuka sejarah kelam ini, sehingga memungkinkan bagi banyak orang untuk mengungkapkan apa yang mereka lihat, dengar atau alami pada massa itu.


Kebanyakan dari orang-orang ini mengatakan bahwa inilah pertama kalinya mereka telah menceritakan hal di atas kepada orang lain di luar keluarga mereka. Sebagian besar menyimpan kisah ini untuk diri mereka sendiri selama bertahun-tahun. Tragedi yang terjadi sekitar lima puluh tahun yang lalu, telah dibungkam, karena takut. Itulah yang dilakukan mama saya juga. Dia telah membuat dirinya sendiri cerita tentang siapa papa saya sebenarnya, sampai tahun lalu.


Ketakutan masih dominan di antara para korban, dan para preman masih berkeliaran dengan bebas untuk melecehkan mereka. FAKI (Forum Anti - komunis Indonesia) telah menyerang pertemuan para keluarga korban di Jogja - Jawa Tengah pada 27 Oktober tahun lalu. Dan tahun ini pada tanggal 16 Februari, FPI (Front Pembela Islam) menyerang pertemuan para mantan tahanan politik di Semarang - Jawa Tengah.


Ya , beberapa orang telah berani membuka diri tentang tragedi ini, tetapi mereka dengan cepat dilupakan, diabaikan, atau bahkan dibungkam.


Pada kesempatan ini, saya ingin melawan keterbungkaman yang telah berlarut-larut.


Saya ingin menceritakan kisah keluarga saya dan berbagai ketakutan kami. Saya sadar bahwa saya tidak bisa melakukan ini sendiri, dan untuk ini, saya meminta saudara-saudara semua mendukung saya untuk melawan kediaman, serta menuntut pemerintah Indonesia untuk segera mengambil tindakan ataskekejian yang terjadi pada tahun ‘65.


* * *


Pertemuan Publik yang berakhir dengan sukses (hadir – sekitar 75 orang) berlangsung pada tanggal 11 Maret di Amsterdam. Tema yang diusung adalah MELAWAN DIAM.


Prof Dr Saskia Wieringa  menguraikan sekitar Kampanye penyebaran rasa benci serta pembantaian masal di Jawa Timur. Ia memaparkan hasil  penelitian awal bersama dengan para jagal.

Soe Tjen Marching  bicara sekitar  Kesaksian dari generasi ke dua


 Cisca Pattipilohy  , menyampaikan    Kesaksian dari generasi pertama.


Ton van Naerssen [Indonesiёgroep Nijmegen 1966-1976] bicara tentang Kampanye isyu 1965 di Belanda; Keterlibatan Belanda: IGGI, Fak. Psikhologi  [KUN/Katholieke Universiteit Nijmegen].  


Joop van Wijk [sedang menyiapkan Imitatio Ignacio, sebuah filem dokumenter fiktip tentang Pater Beek] | …mencoba menyoroti peran pokok rohaniwan Jesuit asal Belanda ini sebagai ‘otak’ di dalam kudeta, serta perannya di balik layar sebagai penasehat penting rezim Suharto pada tahun-tahun kemudian.


* * *


No comments: