Thursday, April 4, 2013

*Kolom IBRAHIM ISA*
*Senin, 18 Maret 2013**
-----------------------*

** *Di CHILI Referendum JATUHKAN Diktator PINOCHET*

*Di INDONESIA AKSI-MASSA Gulingkan Diktator SUHARTO*

** * **

*Baik CHILE – Maupun INDONESIA . . . .*

*Dasarnya: -- Kekuatan Massa Yang Bangkit Bergelora . . .*


** * **


Sahabatku *Yanti My*, seorang dosen di Universitas Hamburg, memberikan kesannya tentang sebuah *film berjudul “NO”.* Film *yang disutradarai Pablo Larrain* dan dibintangi Gael Garcia Bernal (Mexiko) bercerita tentang kemenangan rakyat Chile dalam referendum 1989. Hasil referendum: menolak Pinochet sebagai satu-satunya calon presiden untuk Pemilu Chile tahun 1990.


Saran Yanti My tegas dan jelas -- Untuk para pemerhati sejarah, film ini sangat wajib untuk ditonton.Tulis Yanti My selanjutnya: Melalui fim inilah saya baru tersadarkan bahwa di Chile pernah ada referendum semacam ini, sebuah referendum yang telah menjatuhkan seorang diktator kuat militer. Saya kira, inilah satu-satunya referendum di dunia yang telah berhasil menjatuhkan seorang doktator.


Selengkapnya tulisan Yani My:

*YANTI MY -- Di FB*

18 Maret 2013

Di Indonesia setelah adanya resesi ekonomi dan demontrasi besar-besaran para mahasiswa yang didukung sebagian besar rakyat, Soeharto jatuh tahun 1998 setelah berkuasa selama 32 tahun (1966-1998).

Di Chile melalui sebuah referendum nasional pada tahun 1989, Pinochet ditolak rakyat Chile sebagai calon presiden tunggal dalam Pemilu 1990. Setelah referendum untuk kemenangan pihak 'No', Pinochet kemudian kalah dalam Pemilu berikutnya, setelah berkuasa selama 17 tahun (1973-1990).

Baik Soeharto maupun Pinochet sampai akhir khayatnya berhasil selamat dari semua tuntutan untuk diadili di depan meja hijau. Seluruh pelanggaran HAM yang dituduhkan kepada keduanya berhasil mereka bawa ke liang kubur tanpa harus mendekam di penjara dulu.

*Film 'No' yang disutradarai Pablo Larrain* dan dibintangi Gael Garcia Bernal (Mexiko) bercerita tentang kemenangan rakyat Chile dalam referendum 1989 yang menolak Pinochet sebagai satu-satunya calon presiden untuk Pemilu Chile tahun 1990.

Untuk para pemerhati sejarah, film ini sangat wajib untuk ditonton.
Di Jerman sejak beberapa minggu ini film 'No' sedang diputar, diantaranya di bioskop Abaton - Hamburg. Melalui fim inilah saya baru tersadarkan bahwa di Chile pernah ada referendum semacam ini, sebuah referendum yang telah menjatuhkan seorang diktator kuat militer. Saya kira, inilah satu-satunya referendum di dunia yang telah berhasil menjatuhkan seorang doktator.

Seperti di fim-film lainnya, aktor Gael Garcia Bernal tampil meyakinakan dalam film, berperan sebagai salah seorang motor utama dalam kubu 'No'.

Perlawanan kubu 'No' dan kubu 'Si' berjalan dengan penuh adu iklan televisi yang cukup menarik. Dengan perjuangan yang penuh pengorbanan dan sarat dengan ancaman teror dari pihak kubu Pinochet, akhirnya kubu 'No' menang dengan suara di atas 50 %. Maka di Pemilu berikutnya, beberapa capres muncul, tidak lagi hanya Pinochet. Demikian kesan Yanti My tentang film “NO”.


* * *


Sekadar menyegarkan kembali peristiwa pergolakan di Chile, kusajikan di bawah ini sebuah tulisan yang kubuat pada tahun 2004: *Ibrahim |sa – --29 NOV. 2004.*

'BREAKING NEWS':
*CHILI KONGKRIT LURUSKAN SEJARAHNYA*

*"CHILI-KAN INDONESIA":*
Maksudnya ialah mari belajar dari Chili; dalam hal meluruskan sejarah, mencari
kebenaran, mengurus korban-korban pelanggaran HAM oleh pemerintahan lampau
(diktatur Jendral Pinochet), merehabilitasi hak-hak kewarganegaraan dan politik
mereka, memberikan kompensasi sebagai ganti rugi kepada rakyat yang tak
bersalah. *Pertama-tama negara, pemerintah harus mengakui bahwa di masa lampau
telah melakukan kejahatan pelanggaran HAM terhadap warganegaranya sendiri yang
tak bersalah.*

<"Chili-kan Indonesia", adalah suatu 'variant' dari judul Kolom IBRAHIM ISA,
"PINOCHET-KAN SUHARTO", yang kutulis pada tanggal 1 Des. 1998.>

*Jarak waktu enam tahun dalam sejarah tidaklah lama. Tetapi di Chili perjuangan
untuk meluruskan sejarah, untuk menegakkan HAM, dan yang terpenting, menghukum
pelanggar-pelanggar hukum, dan HAM secara menyeluruh, sejak peristiwa ditahannya
Jendral Pincochet di London, mengalami kemajuan yang lebih mendasar dan nyata
terbanding Indonesia. Boleh dikatakan suatu kemajuan yang mantap dalam
perjuangan untuk memberlakukan HAM di Chili dan di mancanegara.
*
Mudah-mudahan ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Chili belum
lama berselang, bisa menarik pelajaran dari perkembangan di Chili, demi
perjuangan untuk HAM di Indonesia. Menarik pelajaran Chili, bahwa negara,
pemerintah lebih dahulu, mengakui kesalahannya diwaktu yang lalu melakukan
pelanggaran HAM yang paling serius dalam sejarah Indonesia, khususnya pada
periode Orba.

*Pemerintah Indonesia yang silih berganti, mulai dari Presiden Habibie,
pemerintah Presiden Abdurrahman Wahid, sampai pemerintah Presiden Megawati
Sukarnoputri, --- belum mengakui kesalahan negara di waktu yl.
*
Bagaimana dengan pemerintah Presiden SBY sekarang ini. Di sinilah perlunya
dengan rendah hati belajar dari Chili, pertama-tama mengakui kesalahan negara di
waktu y.l.. Kemudian rehabilitasi dan kompensasi para korban tsb. Dengan
demikian merintis jalan ke pelurusan sejarah, mencarri kebenaran dan
rekonsiliasi nasional.

*Kekuatan utama dan paling konsisten di Chili adalah gerakan rakyat yang luas
untuk demokrasi dan kebebasan, yang dilakukan oleh rakyat Chili di bawah
mendiang Presiden Salvador Gossen Allende (pemimpin Partai Sosialis Chili), yang
dibunuh oleh tentara Chili di bawah Jendral Pinochet, ketika tentara Chili
dengan bantuan dan keterlibatan CIA/AS mengadakan perebutan kekuasaan negara
(September 1973).*

Dewasa ini di saat banyak dibicarakan mengenai Rekonsiliasi atas dasar Kebenaran
serta kaitannya dengan pelurusan sejarah. Telah pula dilakukan usaha sementara
organisasi dan tokoh masyarakat untuk menarik pelajaran dari Chili dan Afrika
Selatan misalnya.

Maka: Sekadar supaya ingat kembali: Pemerintah dan pers AS, yang berusaha
menutupi keterlibatan CIA dalam coup Jendral Pinnochet tsb.,tidak beda dengan
sikapnya terhadap coup Jendral Suharto terhadap Presiden Sukarno dan
keterlibatan CIA. Namun, lama-lama terbongkar juga yang hendak ditutup-tutupi
itu.


Pada tahun 1974 Michael J. Jarrington (D-MA) membocorkan bagian-bagian dari
kesaksian rahasia William Colby di muka Congres AS. Kita juga masih ingat, pada
penghujung tahun 1975 Komite Senat yg dikepalai oleh Frank Church mengeluarkan
laporan mengenai *"Aksi Rahasia di Chili, 1963-1973". *


Kemudian dalam tahun 1982 Hollywood membuat film yang menggemparkan dunia politik dan perfileman, berjudul *"Missing"*. Film itu disutradarai oleh Costa Gravas, dibintangi oleh Jack Lemon dan Sissy Spacek.


*Film itu menuturkan secara dramatis tentang nasib Charles Horman, seorang jurnalis free-lance AS berumur 30 th, yang ditahan fihak militer Chili, kemudian dieksekusi. Satu-satunya penyebab ia dieksekusi: Karena Horman memiliki bahan-bahan mengenai coup Jendral Pinnochet dan kekejaman-kekajamn pelanggaran HAM luar biasa yang dilakukan tentara terhadap pengikut-pengikut Allende dan rakyat yang berlawan terhadapnya.*

*"BREAKING NEWS" *- Berita ini disiarkan pers mancanegara hari ini, 29 Nov, 2004, a.l. oleh BBC, CNN, Reuter, Herald Tribune, atau dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai: "berita penjebolan", ialah tentang tindak politik Presiden terpilih Chili, *Ricardo Lagos,* yang "menjebol" dan merupakan "kejutan", terutama bagi pelanggar HAM di mana saja mereka berada.


Yang disebut "breaking news" itu ialah tawaran Presiden Lagos untuk memberikan pensiun seumur hidup (kira-kira US$ 185 seorang sebulannya) kepada 28.000 rakyat Chili, korban penyiksaan oleh agen-agen pemerintah militer Jendral Pinochet. Presiden Lagos menekankan bahwa sesungguhnya apapaun tidak memadai untuk menebus penderitaan para korban penyiksaan militer dan polisi. Kebijaksanaan Presiden Ricardo Lagos dari Chili ini betul-betul merupakan langkah penting dan kongkrit ke arah pelurusan sejarah, menemukan kebenaran dan rekonsiliasi nasional di Chili.

Kebijaksanaan Presiden Lagos ini keluar bersamaan dengan diumumkannya sebuah laporan resmi mengenai penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh pemerintah antara tahun 1973 - 1990, yaitu semasa pemerintah Jendral Pinochet.


*Presiden Lagos menyatakan bahwa laporan yang didasasrkan atas kesaksian korban-korban
yang masih hidup, membuktikan bahwa PENYIKSAAN ADALAH POLITIK NEGARA ketika itu.
*

*Korban penyiksaan itu mencakup 3.400 wanita dan bahkan anak-anak. Penyiksaan yang dilakukan agen-agen tentara dan polisi itu meliputi penenggelaman (kepala sang korban) dalam air, pelistrikan dan pemukulan berulang-ulang. Laporan tsb juga mengungkapkan bahwa banyak tindakan pelanggaran tsb dilakukan oleh tentara dan polisi Chili. Bahwa 12% dari korban yang disiksa itu terdiri dari perempuan dan anak-anak. Dari jumlah anak-anak yang ditahan, 88 adalah anak-anak berumur 12 tahun kebawah. Mereka diambil dari rumah-rumahnya pada malam hari, diangkut dengan truk, kemudian dijebloskan di lebih dari 800 tempat-tempat tahanan dan penjara.*

Presiden Lagos menyatakan bahwa: "Laporan tsb membuat kita harus menghadapi kenyataan politik yang tidak bisa dihindarkan, bahwa penahanan politik dan penyiksaan merupakan praktek yang inkonstitusionil oleh negara, yang sepenuhnya tidak bisa diterima dan asing bagi tradisi sejarah Chili."*Diungkapkan oleh Lagos bahwa banyak dari korban melakoni penderitaan tanpa buka mulut. Namun, akhirnya mereka tampil ke depan menuturkan ceritera penderitaan mereka.*

Seperti diketahui kompensasi yang diberikan negara kepada para korban tsb adalah tindakan terbaru dari banyak kebijaksanaan yang sudah diambil sebelumnya oleh tiga pemerintahan koalisi tengah-kiri di Chili, untuk mengkoreksi pelanggaran HAM di bawah pemerintah militer Jendral Augusto Pincochet.

*Chili sudah memberikan semacam ganti-rugi keuangan kepada para keluarga yang dibunuh atau 'hilang', dan para korban yang dipaksa untuk menjadi orang buangan, selama periode kediktatoran Jendral Pinochet.
*
*Presiden Lagos menekankan bahwa negara harus memberikan kompensasi, betapapun
harus menghemat, sebagai suatu cara mengakui tanggungjawabnya atas pelanggaran
itu.*

Pada saat-saat bangsa kita sedang bergumul dalam perjuangan sengit untuk menegakkan negara hukum Indonesia, bertindak terhadap KKN, terhadap pelanggaran HAM dan diskriminasi untuk mengakhiri kebudayaan "tanpa hukum", -----

Pada saat bangsa ini sedang memperjuangkan keadilan bagi Munir yang dibunuh karena perjuangannya sebagai penggiat HAM yang konsisten, adalah sesuatu yang sewajarnya bangsa ini, pemerintah sekarang ini, belajar dengan rendah hati dari pengalaman dan praktek Presiden Ricardo Lagos dari Chili.

*Pertama-tama pemerintah Indonesia harus mengakui kesalahan dan pelanggaran HAM
oleh negara, kongkritnya oleh Orba pada tahun-tahun 1965, 1966 dst, juga sampai saat ini. Akui hal ini secara terus terang dan terbuka. Pasti akan disambut oleh seluruh bangsa.

Kemudian pemerintah mengambil langkah-langkah kongkrit ke arah pengkoreksian
kesalahan tsb, kearah rehabilitasi dan kompensasi para korban.

Bila hal-hal itu dilaksanakan barulah ada syarat nyata untuk melangkah ke arah Rekonsiliasi Nasional, ke arah persatuan nasion yang hakiki.*


*****






No comments: