Wednesday, July 3, 2013

BERUSAHA MEMAHAMI TIONGKOK (2)

Kolom IBRAHIM ISA
Minggu, 16 Juni 2013
------------------------------

BERUSAHA MEMAHAMI TIONGKOK (2)

* * *

SHENZHEN, Kota Terpenting Yang Membuka Ekonomi Tiongkok:

Sahabatku Witaryono, Jakarta, – – – putera Ir Setiadi Reksoprodjo, mantan menteri dalam dua kali Kabinet Presiden Sukarno, memberikan reponsnya terhadap tulisanku yang pertama sejak kembali dari kunjungan ke Tiongkok., a.l sbb:

. .. . . Tiongkok . . . . . . Luar biasa adil-makmur loh jenawinya negara itu sekarang..... Saya jadi teringat ucapan alm Ali Sadikin kepada alm ayah saya, ketika beliau baru pulang berobat dari Tiongkok sekitar tahun 2000-an.

Kira2 begini : "Pak Setiadi, kunjungan saya pertama ke Beijing sekitar tahun 1965 dan terakhir kemarin ketika saya operasi ginjal selama 3 bulan lebih... Dari situ saya memahami bahwa kemajuan yang dialami Tiongkok itu, sesungguhnya apa yang ingin diwujudkan oleh Bung Karno pada tahun '60an.....

Saya melihat impian Bung Karno itu justru berhasil direalisasikan oleh bangsa Cina di Tiongkok." . . . .

* * *

Sahabat lainnya Yefta Tandiyo,Magelang, mengutarakan kesannya padaku baru-baru ini tentang Shenzhen yang belum lama dikunjunginya a.l sbb|:

. . . . Kini saya memperoleh perspektif lebih tajam lagi mengenai negeri Tembok Besar itu, apalagi saya juga sempat menyaksikan Shen Zhen yang tadinya rawa2 disulap oleh Deng Xiaoping jadi kota modern dalam tempo 30 tahun saja. Kota yang dipenuhi para pendatang dari provinsi lain dengan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding laki2 karena ditunjang oleh industri diantaranya, elektronik . . .

* * *

Mengapa membicarkan tema “Sosialisme dengan Ciri-Ciri Tiongkok” dimulai dengan memasuki sedikit sekitar kota Shenzhen?

Sebabnya ialah:
Karena kebijakan Reformasi dan Buka Pintu ke dunia luar, yang diluncurkan Republik Rakyat Tiongkok sejak 1970, dimulai a.l dengan membangun Zone-zone Ekonomi Khusus , diantaranya yang terpenting ialah kota SHEN ZHEN (1980). Reformasi ekonomi yang berorientasi pasar, telah membuka zone-zone tsb terhadap dunia luar. Dan telah menggerakkan transisi dari ekonomi tertutup ke ekonomi terbuka.

* * *

Dalam kunjungan kali ini pesawat kami yang berangkat dari Nanchang, mendarat di landasan pelabuhan udara internasional Shenzhen, pada tnggal 4 Juni 2013.

Dari udara tampak kota Shenzhen dengan gedung-gedung tinggi menjulang dan moderen serta infra-struktur yang canggih. Tidak kalah dengan kota metropolitan dunia yang manapun. Kota Shenzhen bersih dan indah. Dengan lalu lintas ribuan mobil yang teratur.

Kota Zone Ekonomi Khusus (ZEK) Shenzhen meliputi areal seluas 327,5 kilometer persegi.

Di Tiongkok tedapat 6 buah Zone Ekonomi Khusus (ZEK), yaitu: Shenzhen, Zhuhai dan Shantou , Xiamen, dan Hainan. Zone Ekonomi Khusus yang terbesar arealnya adalah Zone Ekonomi Khusus Hinan, 34.000 kilometr persegi. Meliputi seluruh pulau Hainan.

Di sini bisa disaksikan bahwa politik Buka Pintu dan Reformasi Tiongkok dilaksanakan dengan rencana yang cermat, dan teratur. Dengan selalu menarik kesimpulan dan pelajaran dalam rangka membetulkan kebijakan yang tidak cocok dengan rencanan keseluruhan membangun sosialisme dengan ciri-ciri Tiongkok. Serta untuk mendorong maju pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Untuk itu di Hainan mereka membangun sebuah lembaga penelitian dan studi mengenai berlangsung dan perkembangan ZEK di Tiongkok.

Sebegitu jauh dibangunna zone-zone ekonomi khusus itu telah membuktikan kesuksesannya. Disimpulkan sbb;

1- Zone-zone Ekonomi Khusus tsb merupakan jembatan yang menghubungkan Tiongkok dengan Pasar Internasional. Sekaligus merupakan Jendela Bagi Tiongkok Untuk Melihat Dunia dan Dunia mengikuti dan memahami Tiongkok.

2- ZEK merupakan “Lapangan Eksperiman” yang Sukses dalam mengeksplorasi dan Membangun Ekonomi Pasar Sosialis.

3- ZEK Tiongkok merupakan “Pembimbing” dalam Mengadakan Perubahan Strategis.

Di satu fihak masing-masing ZEK ada kekhususannya sendiri. Namun ada kebersamaannya, yaitu sbb:

1- Politik ekonominya serta peraturan-peraturannya beda dengan bagian lainnya dari negeri.

2- Terdapat langkah-langkah preferensial, seperti penurunan pajak dan bebas pajak, ditujukan pada investor-investgor asing.

3- Diperhatikan pembangunan lingkungan (enivronment) dengan maksud menarik olebih banyak investasi asing.

4- Perushaan-perusahaan di ZEK didorong untuk memperluas ekspor, memasuki pasaran luarnegeri dan ambil bagian dalam kompetisi internasional.

* * *

SHEN ZHEN Sekarang:

Kota Shenzhen yang terletak di delta Sungai Mutiara, menurut catatan sejarah Tiongkok sudah ada sejak kurang lebih 6000 tahun yang lalu. Benda-benda sejarah dan reruntuhan dari periode Neolithic ditemukan di Xiantoling. Shenzhen 6000 tahun yang lalu, adalah sebuah kota kuno di tepi pantai yang banyak rawa-rawa. Namun, kini telah berubah menjadi kota moderen dan canggih dalam jangka waktu 32 tahun belakangan , sejak diluncurkannya kebijakan ekonomi BUKA PINTU dn REFORMASI (1980). Dari kota kecil dengan penduduk 30.000, -- Shenzhen dewasa ini telah berubah menjadi kota besar metropolis dengan penduduk lebih dari 10 juta.

Dikatakan bahwa petumbuhan cepat Shenhen merupakan l a m b a n g atau t e l a d a n usaha besar Tiongkok menuju modernisasi.

GDP (Gross Deomestic Product) Shenzhen sekarang sudah mencapai yang ke-empat terbesar di seluruh negeri. Sedangkan volume ekspornya meliuti 13 persen dari total ekspor seluruh negeri, Yang menjadikan kota Shenzhen kota pengekspor terbesar negeri.

Sehingga sebuah majalah Amerika “Forbes” menempatkan Shenzhen sebagai kota yang paling kaya dengan inovasi di Tiongkok dalam tahun 2011. Sedangkan majalah Inggris “The Economist”, menilai Shenzhen sebagai kota yang menduduki tempat kedua di dunia dalam hal “kekuatan ekonominya” (2012)

Di bidang lingkungan alam, oleh s.k “The New York Times”, kota Shenzhen dinilai menduduki tempat di antara 31 yang ngetop menurut ukuran global.

Kehidupan kebudayaan penduduk Shenzhen juga tinggi. Terdapat sejumlah universitas dan sekolah tinggi kejuruan, perpustakaan dan jaringan lokasi-lokasi budaya yang tersebar di seluruh kota dengan pertunjukan-pertunjukan budaya sepanjang tahun.

Kami menyaksikan betapa kota Shenzhen sebagai kota dengan udara bersih yang segar. Empatpuluh-lima persen dari kota terdiri dari sabuk-hijau pepophonan dan tanaman bunga-bungaan. Sehingga Shenzehn memperoleh award sebagai kota “Nasion Dalam Pertumbuhan” dan “Kota Landscape Nasional”.

Kebetulan diskusi menarik dan penting yang kami lakukan di Shenzhen mengambil tempat di Overseas Chinese Town. Sahabat lama kami, Bung Chan CT bersama isirinya, khusus datang dari Hongkong ( 2 jam perjalanan dengan kereta-cepat) menemui kami dan bertindak sebagai penterjemah dalam diskusi-dikusi. Untuk mana kami merasa amat terbantu dan berterima kasih dengan penterjemahan dan informasi penting yang disampaikannya mengenai keadaan kota Shenzhen dan tentang situasi Tiongkok umumnya.

Kota di dalam kota ini terletak di bagian Barat kota Shenzhen. Di situ terdapat taman-taman indah
dan sebuah Folk Culture Villages, Window of the World dan Happy Valley.
Serupa dengan Taman Mini di Jakarta. Tapi lebih indah. Taman-tamannya berisi replica pemanedangan alamiah dan arsitektur hisrtoris. Semuanya itu dimaksudkan mencerminkan hakiki budaya Tiongkok dan internasional. Daerh tsb merupakan model kota ealm hal perencanaan urban, pembagnunan dan horticultur.

* * *

Jalan Zhongying:
Ada yang khas di Shenzhen. Letaknya di kotapraja Shatoyjiao,Kabupaten Yantian. Merupakan daerah antara Pegununan Wutong dan Laut Tiongkok Selatan.Tanda-tanda terbuat dari batu dilatekkan di sepanjang pertengahan dari jalan itu oleh kekuasaaan kolonial Inggris, ketika mereka merampas lebih banyak tanah dari Tiongkok untuk diansluskan ke Hongkong yang sudah dikuasainya. Itulah sebabnya “batas” itu disebutg “Jalan Zhongying”. Atau Jalan “Tiongkok=-Inggris”
Sampai separuh dari jalan itu merupakan bagian dari Hongkong.


* * *

Sungguh menakjubkan perkembangan kota Shenzhen! -- Sekarang ini merupakan kekuatan bengkel manufaktur besar yang terkenal di dunia. Shenzhen telah memproduksi tak kurang dari seperempat pesawat tilpun ponsel, dua perlima dari jam dan arloji, dan sepertiga dari container di skala dunia. Shenzhen bukan sekadar kota manufaktur. Sejumlah industri telah dibangun. Menjadikan Shenzhen kota industri teknologi tinggi.

Dalam tahun 2008, Unesco memberikan julukan Shenzhen sebagai “City of Design”. Setiap tahunnya di Shenzhen diadakan “China (Shenzhen) International Cultural Industry Fair” (Mei) dan di setiap bulan November diadakan “China High-Tech Fair”.

* * *

Direnungkan dan difikirkan kembali! Tidak sesederhana dikira semula. Meskipun telah bermukin di Tiongkok tidak kurang 20 tahun (1966-1986). Setelah pindah kenegeri Belanda (1986), kemudian berkunjung lagi ke Tiongkjok (1988), serta baru-baru ini berkunjung lagi (dua minggu) . . . . . Tokh terasa betapa tidak sederhananya meyimpulkan kesan-kesan apalagi tanggapan mengenai TIONGKOK DI ABAD KE-21.

Apalagi pada saat ketika NEGERI LIONG itu, menurut keyakinannya sendiri, melakukan “opening-up” dan “reform” sebagai pelaksanaan suatu sistim ekonomi dan politik yang mereka sebut “Sosialisme dengan ciri-ciri Tiongkok”. Dan dengan penuh keyakinan pula bahwa prakarsa tersebut adalah pentrapan kongkrit Marxisme dalam keadaan situasi kongkrit Tiongkok.

Mereka selalu menggaris-bawahi bahwa inti Marxisme adalah bertolak dari keadaan kongkrit, mencari kebenaran dari kenyataan. Membangun sosiallisme di Tiongkok harus menempuh jalannya sendiri. Tidak mengkopi sosialisme yang telah dipraktekkan di negeri manapun.

* * *

Siap saja yang berkunjug ke Tiongkok dewasa ini, bisa melihat dengan mata kepala sendiri, bisa bertemu dengan orang-orang dari pelbagai kalangan dan lembaga, . . . bertanya-tanya, mendengarkan, mengajukan persoalan sekitar SOSIALISME DENGAN CIRI-CIRI TIONGKOK. Kelanjutannya akan menyaksikan bahwa perkembanngan dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang luar biasa itu adalah suatu fenomena, yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Tiongkok.

Siapa saja, bebas mengambil pelbagai sikap mengenai Tiongkok. Namun, Yang terpenting bukankah belajar memahaminya dan menarik pelajaran dari pengalaman Tiongkok tsb, demi kepentingn pembangunan dan kemajuan bangsa dan tanah air kita sendiri. INDONESIA.

* * *

Dimana saja di Tiongkok bila ditanyakan sekitar kebijakan baru BUKA PINTU dan REFORMASI, umumnya disebut kota SHENZHEN sebagai pilot-project. Juga dikatakan sebagai laboratorium dimana dilakukan iuji coba konsep SOSIALISME DENGAN CIRI-CIRI TIONGKOK.

(Bersambung)

* * *

No comments: