Saturday, February 15, 2014

BERITA SEGAR Di Awal 2014 – Etnis TIONGHOA Jadi POLWAN

Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 06 Februari 2014
--------------------------------

BERITA SEGAR Di Awal 2014 –
Etnis TIONGHOA Jadi POLWAN


* * *

Ini peristiwa menyegarkan! Sekaligus melegakan. Menggembirakan dan memperbesar keyakinan bersama. Bahwa Prinsip atau Falsafah Bijaksana “Bhinneka Tunggal Ika”, “Berbeda-beda Tapi Satu”, atau “Perbedaan Dalam Kesatuan”, sebagai landasan, pilar bahkan poros dan talinyawa kehidupan berbangsa NASION INDONESIA, berangsur-angsur menjadi kenyataan. Betapapun besarnya dan lika-likunya rintangan yang dihadapi.

Peristiwa ini merupakan embusan angin kuat yang menghalau angin busuk rasialisme dan diskriminasi anti-etnis-Tionghoa. Suatu politik dalam negeri rezim Orde Baru, yang digalakkan secara maksimal oleh Presiden Suharto. Perkembangan ini sekaligus mememperkokoh optimisme bahwa bangsa ini, mantap hidup berkembang dan terkonsolidasi sebagai suatu nasion setara dengan nasion-nasion lainnya.

Peristiwa ini merupakan suatu kemajuan penting dalam proses perkembangan kesadaran berbangsa. Dari satu segi tampak peningkatan kesadaran di kalangan warga Indonesia asal etnis Tionghoa. Polwan R.I, Brigadir Yolla Bernanda (asal Chang Mei Zhiang). Dalam semangat dan jiwanya, Yolla merasa bahwa identitasnya adalah INDONESIA. Yang punya hak-sama dengan warga RI lainnya dari berbagai etnis. Di fihak lain Yolla Bernanda berani “melawan” fikiran bapaknya yang tidak ingin putrinya itu menjadi Polisi Wanita Republik Indonesia. Seperti diberitakan oleh “Merdeka.com”, 'jalan yang dipilih Zhang penuh dengan kerikil. Apalagi bagi seorang warga Tionghoa seperti Yolla, pilihan ini memicu banyak konflik. Hubungan Yolla dan ayahnya sempat memburuk saat ayahnya tahu Yolla telah berstatus sebagai polisi.'.

Mencerminkan perkembangan kesadaran berbangsa, di kalangan pimpinan kepolisian juga bisa dilihat adanya perubahan-perubahan positif. Reinhard, KaPolres Jakbar ketika itu memberikan dukungan kuat kepada Yolla Bernanda begitu mengetahui bahwa putri Indonesia etnis Tionghoa ini punya keinginan keras untuk menjadi Polwan. Reinhard memberikan semangat dengan pesan kepada Yola agar tidak mundur menghadapi kesulitan dan rintangan untuk menjadi Polwan RI.

* * *

Satu hal lagi yang baik dicatat bahwa, dalam pemberitaannya media Merdeka.Com tidak menggunakan istilah “Cina”. Tetapi menggunakan istilah “Tionghoa”, Ini juga pertanda bahwa di kalangan pers Indonesia sudah terdapat kesadaran, bahwa, sesungguhnya istilah “Cina” untuk menggantikan istilah “Tionghoa” - - - - melalu adalah bersumber pada politik diskriminasi dan rasialis rezim Orde Baru.

Salah satu bentuk diskriminasi dan rasialis anti-Tionghoa rezim Orba, adalah tidak mungkinnya seorang Indonesia asal etnis Tionhgoa mencapai pangkat JENDRAL. Begini ceritanya:

Suatu waktu --- masih di periode Orba (1994), aku pertama kali kembali ke Indonesia, dengan menggunakan identitas warga negara Belanda. Kami suami-istri bermalam di rumah kemenakanku seorang Laksamana Muda AURI. Tinggal di daerah komplek AURI di Jatiwaringin. Suatu pagi ketika sedang duduk-duduk di beranda muka rumah, lewat seorang perwira Auri. Cucu kami, putra bungsu kemenakan kami, Laksamana Muda itu, melambaikan tangannya kepada perwira AURI itu.

Kata cucu kami: “Datuk, tahu enggak siapa yang lewat itu?” Tidak, jawabku. “Dia itu seorang mayor AURI, kenalan Ayah. Dia hanya bisa sampai jadi mayor saja. Tidak akan lebih dari situ. Seorang asal etnis-Tionghoa tidak mungkin jadi perwira tinggi, tidak bisa jadi laksamana”. Mengapa tidak, kataku. “Itu kan politik Suharto” . . . katanya dengan muram.

* * *

Dengan tergulingnya Presiden Suharto dan diberlakukannya politik nasional yang benar oleh Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati, ketika itu, maka berakhirlah politik rasialis dan diskriminatif anti-Tionghoa rezim Orde Baru.

Masa ini tidak boleh terulang kembali. Dan kiranya tidak mungkin akan kembali lagi. Karena perkembangan kesadaran berbangsa nasion ini telah meningkat . . .!!

* * *

Lampiran:
Dua berita MERDEKA.COM
Pada Kamis, 6 Februari 2014 2:19, Chan CT menulis:

Mengenal Brigadir Zhiang, Polwan keturunan Tionghoa
 Menjadi polisi merupakan cita-cita sejak kecil. Zhiang juga harus dimarahi ayahnya yang tidak menyetujui menjadi polisi.

Brigadir Yolla Bernanda . ©2014 Merdeka.com/Imam Buhori
Brigadir Yolla Bernanda merapikan baret saat bersiap untuk bertugas di Pospol Taman Sari, Jakarta, Kamis (30/1). Petugas kepolisian wanita yang memiliki nama asli Chang Mei Zhiang ini sudah mengabdikan diri sebagai anggota Polri sejak 2004.
Reporter : Mustiana Lestari | Jumat, 31 Januari 2014 08:32
 Cerita wanita Tionghoa yang diamuk ayah saat daftar jadi polwan
Merdeka.com - Menjadi pembela kebenaran sudah tertanam sejak kecil di benak perempuan Tionghoa bernama Chang Mei Zhiang. Zhiang yang punya nama lain Yolla Bernada ini akhirnya memutuskan untuk menjadi anggota Polri pada 2004.
Tetapi jalan yang dipilih Zhang penuh dengan kerikil. Apalagi bagi seorang warga Tionghoa seperti Yolla, pilihan ini memicu banyak konflik. Hubungan Yolla dan ayahnya sempat memburuk saat ayahnya tahu Yolla telah berstatus sebagai polisi.

"Papa ngamuk katanya 'Kenapa orang chinese masuk polisi, madesu (masa depan suram) buat apa jadi polisi'. Ya sudah saya diam, saya takut lawan papa," kenang perempuan yang telah berpangkat Brigadir ini kepada merdeka.com di Pospol Taman Sari, Jakarta Barat, Kamis (30/1).
Bukan tanpa sebab ayah Yolla murka seperti itu. Memang saat mendaftar masuk Secaba, Yolla sempat tidak mendapat restu dari ayahnya. Alhasil dengan alasan ikut pelatihan Resimen Mahasiswa, Yolla diam-diam ikut Secaba Polri tanpa sepengetahuan ayahnya.

Saat itu hanya ibu dan adik Yolla yang mengetahui hal ini. Tetapi walau ditutupi akhirnya tetap tercium juga. Ayah Yolla yang curiga karena anaknya tak kunjung pulang, langsung mendatangi sekolah Yolla.
"'Anak Bapak ikut Menwa tapi pas pendidikan enggak ikut Pak' kata teman saya. Bapak ngamuk-ngamuk kata adik cerita. katanya saya mau dilaporin polisi gara-gara hilang. Ya sudah bilangin Papa saja ada pendidikan polisi," sesal wanita beranak tiga ini.

Alhasil sang ayah ngambek saat Yolla kembali dari pendidikan Secaba. Yolla pun menyesal tetapi dia tetap teguh ingin mempertahankan status polwan dia.
"Tiga bulan kan sempet pulang. Saya enggak dikasih makan, enggak disapa, enggak ditanya kabarnya. Diam saja, saya ya makan sendiri suap sendiri, pas pulang dia cuek saja, ibu sih santai," cerita wanita berambut pendek ini.

Aksi ngambek ayah Yolla tidak berlangsung lama. Hati ayah Yolla luluh saat ayah Yolla butuh anaknya untuk mencari barang hilang.
"Ada masalah KTP hilang minta tolong buat laporan, kata saya, ayah waktu saya lulus jadi polisi dicuekin saja setelah jadi polisi, minta tolong saya," ujar Brigadir Yolla bangga.
Tak hanya satu kali, saat ayah Yolla bertengkar dengan tetangganya, Yolla lagi-lagi jadi penengah dan pemberi saran hukum bagi ayahnya.

Kini ayahnya tidak lagi protes dengan jalan yang dipilih anaknya. Bahkan ayah Yolla mendukung anaknya untuk mencapai pangkat perwira.
"Papi suruh sekolah lagi suruh ambil perwira tapi pangkat belum mendukung kemarin. Musti Bripka. Saya masih Brigadir belum bisa. Kata papi apa pilihan lu adalah tanggung jawab lu," tutup Yolla sambil berkaca-kaca.

Pesan kapolres buat Zhiang mantap jadi polisi
Merdeka.com - Tidaklah mudah bagi seorang beretnis Tionghoa menjadi bagian dari Korps Bhayangkara. Sentimen negatif terhadap warga keturunan masih menjadi pemicu utamanya. Hal inilah yang sempat membuat Brigadir Chang Mei Zhiang alias Yolla Bernada (31) ragu saat masuk pendidikan Sekolah Calon Bintara (Secaba) Polri.
"Pas daftar diliatin juga, ditanya sama orang-orang. Takut juga katanya dipukulin tetapi ternyata enggak," ungkap Yolla kepada merdeka.com di Pospol Taman Sari, Jakarta Barat, Kamis (30/1).

Tak sampai situ, beberapa rekan kerjanya di Polsek Taman Sari kerap juga mempertanyakan perayaan Imlek yang dia lakukan. Apalagi Yolla sudah tidak beragama Budha.
"Terkadang mereka enggak ngerti kalau ini bukan hanya untuk Budha. Kata dia kamu kan Kristen bukan Budha. Saya baru jelasin ada saja pertanyaan gitu di Polres," ungkap Petugas Pospol Taman Sari ini.

Tetapi dia beruntung, ada pimpinan Polres Jakbar duhulu begitu mendukung dan melindungi Yolla dari diskriminasi.
"Kata dia 'Kamu Chinese benar-benar mau masuk polisi? Jangan mundur di tengah jalan ya'. Saya dibantu beliau Pak Reinhard, Kapolres Jakbar. Kata dia 'saya akan bantu kalau kamu mundur nanti saya malu'. Saya dibantu support, dianterin ke polres, setiap tes dipanggil sama dia, diberi semangat," kenangnya penuh haru.

Kapolres yang telah pindah tugas tersebut juga mengingatkan agar Yolla tidak gentar dengan orang-orang yang memandang miring tentang dirinya. "Tenang saja masa kamu takut kamu kan bisa bela diri," terang Yolla menirukan perkataan Reinhard.
Setelah pindah tugas Yolla tidak berhubungan lagi dengan pimpinan yang amat dia hargai itu. Yolla mengucapkan terima kasih kepada pimpinannya tersebut.

"Saya mau telepon tapi takut karena sama pimpinan, tetapi saya mau bilang terima kasih kepada beliau," ucap wanita berambut pendek ini.
Dorongan ini yang terus membuat Yolla percaya diri di tengah rekan-rekan kerjanya. Menurut dia, tidak ada diskriminasi dan rasa takut lagi setelah masuk ke kepolisian.
"Enggak ada perbedaan di polisi sama, enggak ada yang jauhin saya. Semua orang berbaur," tutup dia senang.
 Nestapa Brigadir Zhiang, tak bisa rayakan Imlek zaman Soeharto

Merdeka.com - Masih lekat dalam ingatan Chang Mei Zhiang (31) betapa mengerikan perlakuan pribumi terhadap etnis Tionghoa, apalagi menjelang Soeharto lengser. Ayah Brigadir Zhiang alias Yolla Bernada begitu ketakutan sampai mengisolasi dia dan keluarganya.

"Kerasa banget malamnya banyak orang dibunuhin, diperkosa. Saya sampai seminggu enggak keluar, untung barang distok," kenang Brigadir Zhiang kepada merdeka.com di kantornya, Polsek Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (30/1).
Peristiwa ini tidak lebih buruk dari kerusuhan sebelumnya di Jakarta. Bahkan saat itu kakek Yolla yang asli China hendak membawa kembali ayah Yolla ke negara asalnya. Tak sampai situ, kenangan buruk tentang diskriminasi sebagai warga Tionghoa dia rasakan datang bertubi-tubi di masa Soeharto.

"Sebelumnya saya enggak bisa ngerayain Imlek sama nama tiga huruf saya dilarang, sekarang boleh sudah enak tapi kadang terlalu bebas juga bikin polisinya capek," ujar Yolla sambil berusaha menutupi kesedihannya.

Beruntung era kepemimpinan Soeharto berakhir, udara bebas akhirnya didapatkan Yolla sekeluarga setelah Gus Dur menjabat. "Saya di zaman Gus Dur bisa ngajuin diri jadi polwan dan papi ngajuin diri sebagai WNI," katanya lega.

Tetapi kekhawatiran belum juga selesai, di pendidikan Secaba Polri, Brigadir Yolla dihantui ketakutan akan diskriminasi dari kaum pribumi.
"Ternyata enggak ada (diskriminasi), cuma pertama masuk katanya ya ada yang dipukulinlah segala macam. Saya bilang saya juga bisa bela diri kalau digituin saya berani lawan," pungkas wanita yang mengusai bela diri Taekwondo, Wushu, Judo ini mantap.

Selepas pendidikan, rasa penasaran dan heran masih juga membayangi Yolla, begitupun saat berhadapan dengan masyarakat. Betapa tidak, orang bertenis Tionghoa memang amat jarang di lingkungan kepolisian.

"Saya lebih sering dikira Manado dibanding China. Kalau ditanya ya jawab saja Manado," pungkas perempuan yang punya logat China yang kental ini.
Di hari Imlek tahun ini, segudang harapan dia panjatkan pada Tuhan. Salah satunya, dia ingin memakai nama tiga hurufnya kembali seperti orang Tionghoa pada umumnya.

"Sekarang ada orang keturunan yang boleh pakai nama tiga huruf di Akpol. Saya juga mau pakai itu dulu, tapi kata papi takut enggak bisa sekolah. Sekarang juga mau balik nama susah. Saya mau orang keturunan diberi banyak lowongan buat jadi polisi," harap wanita keturunan kedua dari keluarga China ini.

Kini meski tidak memeluk agama Budha lagi, Brigadir Yolla ingin tetap merayakan dan menjalankan tradisi Imlek. Menyambut Imlek, dia berniat lebih cepat pulang untuk membersihkan rumahnya dan melanjutkan tradisi Imlek seperti sebelumnya.
"Nyambang ke rumah orangtua, makan bandeng, makan kue china, bagi-bagi angpao," tutup wanita yang tidak lancar berbahasa China ini.

* * *




No comments: