Tuesday, June 5, 2012

SUKARNO DAN PANCASILA MASIH TETAP MEMIMPIN


Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 05 Juni 2012
-----------------------------
SUKARNO DAN PANCASILA MASIH TETAP MEMIMPIN INDONESIA MASAKINI


Satu Juni yang lalu HARI LAHIRNYA PANCASILA luas diperingati di media a.l dengan disiarkannya kembali warisan nasional dokumen bersejarah LAHIRNYA PANCASILA, pidato Bung Karno yang meletakkan dasar ideologi dan politikbagi negara Republik Indonesia. Dalam pada itu, besok, 06 Juni, adalah Hari Ultah Bung Karno yang juga mengundang banyak sambutan dan tanggapan.


Bagaimana selanjutnya dengan Pancasila dan peranan serta pengaruh kepemimpinan Bung Karno pada perjuangan kemerdekaan Indonesia dan kehidupan politik negara Republik Indonesia dewasa ini dan selanjutnya, setelah rezim Orba dan presidennya Jendral Suharto digulingkan dan Indonesia memasuki era Reformasi dan Demokratisasi.


Di bawah ini disiarkan kembali Kolom Ibahim Isa, 23 02,2010, serta tulisan cendekiawan Peter Dale Scot dan sebuah pengantar, dalam rangka menelaah kembali peranan tokoh dan pahlawan nasional Ir Sukarno dan dokumen politik bersejarah LAHIRNYA PANCASILA.


* * *



SUKARNO DAN PANCASILA MASIH TETAP MEMIMPIN INDONESIA MASAKINI , Kolom IBRAHIM ISA , 23 Februari 2010



Lahirnya Pancasila (1 Juni 1945), uraian Bung Karno mengenai
dasar-dasar negara Indonesia Merdeka yang segera akan lahir sekitar
periode itu, adalah sebuah pemikiran mendalam yang lahir dari tanah air
Indonesia. Ia merupakan hasil penggalian Bung Karno dalam usaha beliau
merumuskan falsafah dan prinsip-prinsip kenegaraan bagi suatu Indonesia
Merdeka yang meluas dan memanjang dari Barat sampai ke Timur. Dari
Sabang sampai Merauké. Lahirnya Pancasila merupakan perpaduan
pengetahuan teori ilmu politik, sosial dan ekonomi serta pengalaman
perjuangan langsung Bung Karno dan perjuangan rakyat Indonesia, melawan
kolonialisme Belanda.

Secara singkat padat Bung arno merumuskan bahwa negara dan masyarakat
yang kita sedang bangun adalah suatu nasion Indonesia yang dibangun atas
dasar prinsip Bhinneka Tungggal Ika, sering juga beliau merumuskannya
secara sederhana sebagai suatu masyarakat GOTONG ROYONG, yang bersatu,
adil dan makmur.

Negara kesatuan Republik Indonesia mencantumkan falsafah dan
prinsip-prinsip Pancasila dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.
Lahir dan beridirinya negara Republik Indnesia adalah didasarkan atas
falsafah dan prinsip-prinsip kenegaraan seperti yang dirumuskan oleh
Bung Karno dalam pemikiran politiknya yang klasik dan historis:
LAHIRNYA PANCASILA.


* * *

Menarik perhatian adalah pandangan seorang cendekiawan dan penyair
berbangsa Kanada, Prof. Dr Peter Dale Scott, mantan profesor di The
University of California, Berkely, mengenai Pancasila dan Bung Karno.
Dengan judul:

SOEKARNO Dan PANCASILA Masih Tetap Memimpin Indonesia Masa kini
Tulisan tsb khusus dibuat Peter Dale Scott dalam rangka merayakan
PERINGATAN SEABAD BUNG KARNO<06 Juni 1901- 2001> , sebagai artikel
pertama pada buku 100 TAHUN BUNG KARNO, yang diterbitkan oleh Penerbit
Hasta Mitra di bawah pimpinan editor Joesoef Isak. Buku tsb merupakan
sebuah LIBER AMICORUM (Jakarta, Juni 2001).


Peter Dale Scott dikenal di Indonesia dengan hasil kajiannya tentang
konspirasi CIA bersama klik militer Suharto dalam penggulingan Presiden
Sukarno sesudah terjadinya G30S. Mengantar tulisannya mengenai Pancasila
Bung Karno, Peter Dale Cott menulis kepada Joesoef Isak: . . . . I
must say it was inspiring to read Soekarno's speech, which carries a
very rich intelectual content. Scott menambahkan bahwa Pancasila tetap
valid bukan saja buat Indonesia, tetapi juga bagi Dunia , Joesoef Isak,
Editor Hasta Mitra.

Dalam situasi politik Indonesia yang politis dan ideologis masih sangat
labil, teristimewa menyangkut arah perkembangan nasion dan negara RI
selanjutnya, sungguh perlu sekali mengkaji kembali ajaran Bung Karno
mengenai falsafah Pancasila.

Lebih-lebih lagi formalnya Pancasila tetap merupakan dasar falsafah
negara Republik Indonesia. Dan hal itu resmi dan formal pula dicantumkan
di dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.



Oleh karena itu dirasa perlu menyiarkan kembali bagian-bagian tulisan Prof.
Peter Dale Scott, mengenai SOEKARNO DAN PANCASILA.


* * *

Sebagai tambahan bahan pengenalan dengan Peter Dale Scott, baik juga
dibaca kembali tulisan (mungkin yang pertama) Peter D. Scott tentang
Indonesia. Dalam majalah berkala Pacific Affairs,58, Musim Panas 1985,

the Overthrow of Sukarno, 1965-1967. Amerika Serikat dan Penggulingan
Sukarno, 1965-1967. Intisari dari analisis Scott, ialah seperti
ditulisanya sendiri:

Di Indonesiakan, menjadi kira-kira sbb :

Artikel ini memberikan argumentasi sebaliknya, yaitu, dengan menggiring, atau paling tidak
mambantu menggiring, 'kup' Gestapu, kaum kanan di Tentara Indonesia,
mengeliminasi saingannya di pusat tentara, dengan demikian melapangkan
jalan untuk melaksanakan penghancuran kaum kiri sipil yang sudah lama
direncanakan, dan akhirnya menegakkan kediktatoran militer. Dengan kata
lain, Gestapu, hanyalah merupakan fase pertama dari tiga fase kup sayap
kanan sesuatu yang didorong/disokong secara terbuka dan secara rahasia
dibantu oleh jurubicara dan pejabat-pejabat AS.

Jelas, analisis Peter Dale Scott, bertolak belakang dengan versi Orba
dan seluruh barisan pendukungnya sampai dewasa ini. Orba dan
pendukungnya menyatakan bahwa G30S adalah kudeta PKI (yang dilakukan
dengan sepengetahuan, didukung atau didalangi oleh Presiden Sukarno).
Sedangkan salah seorang tokoh pimpinan G30S, Kolonel A. Latief, dengan
tegas menyatakan di dalam pleidooinya di muka sidang Mahmilub, bahwa
Suharto jelas-jelas terlibat dengan G30S. Sejarawan John Roosa
menganalisis bahwa G30S adalah dalih untuk pembunuhan masal (1965),
suatu kampanye kolosal pembamian kaum Komunis dan golongan Kiri lainnya
di Indonesia, sebagai strategi menggulingkan Presiden Sukarno dan
menegakkan rezim kediktator militer yang pro-Barat.


* * *

PETER DALE SCOTT:

SOEKARNO Dan Pancasila Masih Tetap Memimpin Indonesia Masakini.
Pada saat Indonesia sekarang ini mengalami lagi krisis kepemimpinan
nasional, sangatlah berguna mengenang kembali pemikiran nation-building
Soekarno. Seperti juga Nehru di India, U Nu di Birma, Soekarno merupakan
bagian dari suatu arus baru munculnya pemimpin-pemimpin
pasca-imperialist yang menjanjikan suatu dunia dengan fondasi dan arah
baru dalam membenahi dunia seusai Perang Dunia Ke-II. Kini pada saat
harapan di tahun-tahun semasa Soekarno seakan sedang menyusut di
mana-mana, kepemimpinan dan pencerahan Soekarno yang istimewa itu tetap
masih bermanfaat untuk bangsanya maunpun bagi dunia.

Tantangan bagi para pemimpin Dunia Ketiga adalah memelihara persatuan
mereka sebagai nasion



sesudah tentara penjajah angkat kaki, dan memberdayakan rakyat-rakyat
mereka yang sekian lama tidak dipenuhi kebutuhannya, selanjutnya juga
membuat rakyat yang kurang berpengalaman agar memiliki rasa tanggung-jawab.

Melihat ke belakang di masa-masa lalu, prestasi Soekarno nampaknya luar
biasa, walaupun tidak selalu hasil-hasil itu terjamin kelestariannya.
India terpecah dan kebanyakan negeri-negeri Asia Tenggara mengalami
pemberontakan parah atau perang saudara yang berkepanjangan. Tetapi
Soekarno dengan kombinasi ajarannya, kepemimpinannya dan kharisma
pribadinya, mampu memlihara persatuan dan dan kesatuan Indonesia hampir
sepanjang zamannya. Yang terjadi hanyalah gangguan-gangguan bawaan
berupa kekerasan relatif kecil yang lazim terjadi di tempat-tempat lain
di kawasan itu. Hal-hal itu terjadi bersamaan pada saat negeri-negeri
kerajaan sebagai penjajah terpaksa di sana-sini melakukan penyesuaian.

Sukarno dalam menerapkan kepemimpinannya menghadapi tantangan besar
dari dalam dan luar negeri. Untuk menghindari perpecahan antara kekuatan
religius dan sekuler yang masih menggangu tetangganya di Filipina –
Soekarno pada tahun 1945, mengucapkan pidatonya yang termasyhur:
Pidato Pancasila. Di situ dia mem- balans kekuatan
nasionalisme, humanisme, dan demokrasi-permufakatan dengan beriman
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan cara itu ia memberlakukan toleransi
kemanusiaan di suatu negeri yang didominasi oleh kaum Muslim, suatu
prestasi yang sangat berhasil dan tetap masih valid di Indoneisa
walaupun menghadapi berbagai tantangan dan kegagalan berkali-kali.
Kenyataan ini tidak ada duanya, bila dibandingkan dengan negeri Muslim
di manapun di dunia.

Sungguh luar biasa – bahkan setelah penggulingan Soekarno,
musuh-musuhnya di kalangan militer Orde Baru tetap terpaksa secara
munafik mengunyah-ngunyah Pancasilanya Soekarno. Kenyataan seperti itu
rada memudahkan para pembela Pancasila sejati seperti PDI sekular
pimpinan anak Soekarno, Megawati Soekarnoputri, dan golongan Islam dari
Nahdatul Ulama untuk diam-diam bekerjasama me-restorasi demokrasi pada
saat kekuatan Suharto melemah. Bahkan Golkar, manifestasi bassis
kekuatan Suharto, harus mengemban komitmen untuk mewudjudkan
tujuan-tujuan Pancasila. Jadi dalam artian sesungguhnya dan dalam
kenyataan kongkrit, Soekarno dan Pancasila masih tetap memimpin
Indonesia masakini.

Pancasila memberikan suatu point of no return tidak ada jalan
mundur selain maju ke depan bagi persatuan dan kesatuan nasional Indonesia, sebagaimana juga
Konstitusi Amerika menjadi point of no return setelah bancana perang
saudara Amerika yang mengerikan (dan sebenarnya belum pernah usai secara
tuntas). Orang di Amerikapun berharap kata-kata bersayap Roosevelt
tentang The Four Freedoms (Empat Kebebasan) juga sama menjadi point
of no return setalah usai Perang Vietnam. Tetapi sekarang orang sudah
jarang mendengar tentang Empat Kebebasan Roosevelet itu, kecuali dari
mereka yang ingin menunjukkan betapa Amerika sudah jauh meléncéng dari
cita-cita Roosevelt itu.

Kebalikannya sangat kontras: Pancasila malah masih kiprah berkembang
terus.

* * *

No comments: