Sunday, August 5, 2007

IBRAHIM ISA - BERBAGI CERITA - BELUM TERL AKSANANYA 'THE RIGHT MAN/WOMAN ON THE RIGHT PLACE'

IBRAHIM ISA - BERBAGI CERITA
Kemis, 03 Mei 2007
----------------------------------------

MASALAHNYA: - - - BELUM TERLAKSANANYA
'THE RIGHT MAN/WOMAN ON THE RIGHT PLACE'

* * *

Dalam tulisanku yang lalu (29 April 07), 'Kolom Ibrahim Isa, berjudul: 'INDONESIA -- BELANDA TERJALIN DNG DARAH (2) -- , dijanjikan bahwa tulisan tsb BERSAMBUNG. Paling tidak akan ada bagian-3-nya. Bagian ketiga itu pasti akan datang.

Dua tulisan tsb memancing tanggapan negatif maupun positif. Lumrah. Aku senang tuilisanku dibaca dan dihargai maupun dikritik. Ada yang bertanya marah ( mengenai bagian ke-2 dari tulisan tsb), apakah tulisan tsb propaganda MOSAD (Jawatan Rahasia Israel)? Dipertanyakan mengapa kok memuji orang-rang Yahudi, padahal Israel dewasa ini menduduki dan menindas rakyat Palestina. Soalnya, menyangkut tulisan RM Djayeng Pratomo (mantan mahasiwa Indonesia di Belanda ketika itu) yang kusiarkan ulang. Di situ Jayeng Pratomo juga menyebut tentang orang-orang Yahudi Belanda yang dipersekusi oleh Jerman Hitler. Diantaranya ada orang-orang Yahudi tsb yang diselamatkan oleh mahasiswa Indonesia yang menceburkan diri dalam perjuangan anti-fasis perlawanan bawah-tanah di Belanda melawan Jerman Hitler.

Ada juga tanggapan dari sahabatku orang Belanda, mantan Brigjen Artileri Tentara Kerajaan Belanda, B. Bouman (yang menulis buku sekitar logistik kekuatan bersenjata Republik Indonesia pada periode Perang Kemerdekaan Indonesia melawan Belanda). B. Bouman menilai tulisanku itu positif. Menganggapnya sebagai sumbangsih dalam pengkisahan sejarah orang-orang Indonesia di Belanda ketika itu.

Dalam pada itu, aku baru saja menerima dari sahabatku wartawan kawakan Joop Morrien (aku berjumpa dengan Joop pada peringatan Hari Kartini di Dieman, 28 April y.l.), sejumlah bahan lagi mengenai keadaan dan perjuangan para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia di Belanda. Termasuk tentang tokoh yang tak asing lagi, bernama SUNITO. Joop Morrien juga menghadiahkan sebagai kenang-kenangan padaku buku yang ditulisnya (1995), berjudul 'INDONESIË LIET ME NOOIT MEER LOS'. Terjemahan bebas: 'INDONESIA TAK MUNGKIN LAGI AKAN MELEPASKAN DAKU'. Mencerminkan rasa cinta dan rindunya terhadap negeri dan bangsa Indonesia.

Dengan demikian pasti masih akan ada yang bisa ditulis lagi sekitar 'INDONESIA- BELANDA' yang TERJALIN DARAH. Tapi kali ini aku hendak BERBAGI CERITA dulu.

* * *
THE RGIHT MAN/WOMAN ON THE RIGHT PLACE BELUM TERJADI
Beberapa hari belakangan ini kehidupan keluarga kami di Haag en Veld 76, Amsterdam, menjadi lebih sibuk dan meriah. Kami kedatangan tamu-tamu keluarga sendiri dari Jakarta. Mula-mula datang putra kemenakan istriku Murti. Hanya semalam saja. Ia amat sibuk. Dari Jakarta ke Paris dulu ke kantor induk perusahaan dimana ia berkerja. Ia menghadiri rapat bisnis di Paris. Kemenakan kami itu hadir di situ sebagai salah seorang menager cabang perusahaan Perancis tsb di Jakarta.

Kemenakan kami itu a.l. membawa oleh-oleh tiga buah buku karangan Sindhunata, seri MANUSIA & KESEHARIAN; MANUSIA & KEADILAN dan MANUSIA & PERJALANAN. Aku belum tahu banyak tentang Sindhunata. Kemenakan kami itu menjelaskan bahwa , Sindhunata adalah seorang pendeta yang senang menulis. Kata Jakob Utama dari Kompas, Sindhunata dikenal berhasil mengangkat kejadian dan persoalan hidup ke panggung reportase dalam sosoknya yang nyata, hidup, berdesak, berkeringat, berair mata, bersenyum dan berpengharapan. Nama lengkapnya adalah (Dr) Gabriel Possenti Sindhunata, SJ. (55th). Disamping menulis buku Sindhunata adalah editor beberapa buku ilmiah dan feature. Ia sekarang pimpinan di Majalah Basis, Jogyakarta.

Aku tertarik untuk membaca buku-bukunya, yang ditulis sesudah (diajak penguasa Orba yang ketika itu terpaksa sedikit membuka pulau tahanan politik P. Buru, karena tekanan-tekanan internasional) --- berkunjung ke Pulau tahanan politik Orba di Pulau Buru. Ia menyempatkan diri, juga punya nyali untuk menulis buku itu 'DARI PULAU BURU ke VENEZIA'. Penulisnya tidak terjerumus dalam jaringan perangkap propaganda Orba. Tulisannya a.l meliputi 'Permukiman dan Inrehab - Apa bedanya?' dll. Dengan caranya sendiri ia mengisahkan 'kesulitan hidup' (kalau sedikit herani lagi akan merumuskannya terus terang, bahwa kehidupan di pulau tahanan Buru itu adalah suatu PENDERITAAN yang tak tahu kapan akan berakhir) -- para penghuni Inrehab Orba untuk para tahanan Pulau Buru. Seperti diketahui yang ditahan di situ adalah warganegara tak bersalah , bertahun-tahun lamanya tanpa proses pengadilan apapun.
Mereka dianggap sebagai musuh-musuh politik Orba. Kemenakan kami menilai tulisan-tulisan Sindhudinata hidup dan enak dibacanya. Santai!

Dalam percakapan dengan kemenakan kami itu, aku mengajukan pertanyaan sbb: Coba tolong dijawab:
Bagaimana perasaan dan fikiran kaum muda kita, yang intelektuil dan berbudaya. Terpelajar seperti kamu, kataku. Untuk mempermudah ia memberikan jawaban, aku rumuskan pertanyaanku sbb:

1. Apakah generasi muda terpelajar kita, melihat situasi di Indonesia dewasa ini, bersikap prihatin tapi kurang lebih 'pasrah'. Karena tidak tahu bagaimana 'jalan keluarnya' ?

2. Apakah bersikap masa-bodoh, lebih baik mengurus diri sendiri, membina suatu karir kehidupan yang nyaman. Atau,

3. Prihatin mengenai haridepan negeri dan bangsa dan mencari jalan berbuat sesuatu untuk mengubah situasi parah Indonesia dewasa ini?

Kemenakan kami itu berfikir sebentar. Tidak lama kemudian ia menjawab: Mungkin jawabannya adalah seperti pertanyaan Oom yang pertama itu. Bahwa, kaum muda terpelajar kita dewasa ini, bukan bersikap masa bodoh terhadap situasi buruk yang mencengkam bangsa kita. Tetapi prihatin mengenai nasib bangsa dan negeri. Namun, tak tahu jalan bagaimana mengubahnya.

Digambarkannya tentang kekecewaan terhadap kaum muda yang sudah 'mapan': Banyak yang muda-muda, yang katanya harus menggantikan yang tua-tua, merasa diri lebih baik dan lebih mampu, terbanding yang korup dan hanya mementingkan diri sendiri Namun ---- nyatanya --- SAMA SAJA --- dengan yang tua-tua. Setelah berkuasa atau duduk di posisi kekuasaan, mereka terjangkit budaya KKN pemimpin-pemimpin Orba dan juga yang pasca Suharto. Sebagian besar, kata kemenakan kami itu, banyak kaum muda yang menjadi PESIMIS. Wah, pilu hatiku mendengarnya. Namun kutekankan pada kemenakanku itu, betapapun kamu sendiri janganlah tenggelam dalam pesimisme. Negeri dan bangsa ini, pasti akan menemukan jalan keluar. Akan bangkit untuk membela keadilan untuk mencapai kemakmuran yang merata. Dengan pandangan yang belum yakin, ia menganggukkan kepalanya.

* * *

'Tamu kami' berikutnya adalah pasangan suami-isri. Yang kemenakan kami adalah yang perempuan. Suaminya seorang mantan 'dirut' salah satu prusahaan BUMN. Sekarang sudah pensiun. Tetapi giat dalam suatu lembaga pengusaha ekspor hasil bumi Indonesia. Maka sering ke luar negeri.

Kali ini suami-istri itu bermalam selama beberapa hari di rumah kami. Ketika kami berkunjung ke Jakarta dan bermalam di rumahnya, ia banyak cerita tentang bagaimana para pejabat Orba melakukan 'pemerasan' terhadap perusahaan-perusahaan negara BUMN. Mereka menyalahgunakan kedudukan kekuasaan yang ada pada mereka, menjadikan perusahaan-perusahaan BUMN sebagai sapi perahan untuk memperkaya diri.

Kemenakanku itu memberikan padaku dua majalah Tempo. Tempo yang satu, edisi 2-8 April 07, pada halaman mukanya ada gambar Widjanarko, Bos BULOG, yang dicopot. Tercetak pada halaman muka itu dengan huruf besar: BAGI-BAGI DUIT BULOG. Rumahnya digrebek aparat, dan ia masuk pendajara, jadi penghuni sel. Dalam berita utama Tempo, dikatakan bahwa dana Bulog, diduga mengalir ke brankas partai. Dana mengalir, kasarnya itu menggelapkan uang negara, dan ke kas partai, maksudnya ke partai yang berkuasa. Di halaman dalam nomor Tempo tsb juga ada foto Yusril Ihza Mahendra, Menteri Sekretaris Negara, dengan judul 'Transaksi Misterius Rekening Yusril'. Lalu ada berita KORUPSI DI BANJIR KANAL. Selanjutnya ada ulasan yang menyangkut anggota MPR/DPR, berjudul KEMBALI MERIBUTKAN LEPTOP.

Kolom 'Opini' berjudul BAGI-BAGI DUIT BULOG. Menyangkut impor sapi, impor beras dari Vietnam, dll. Pokoknya ceritanya adalah mengenai merajalelanya KKN yang menggunakan lembaga logistik negeri BULOG sebagai sapi perahan dan sumber korupsi untuk kas partai (yang berkuasa) dan rekening perorangannya. Masih ada berita-berita KKN lainnya lagi. Sehingga membaca majalah Tempo kali ini, fikiran jadi tak nyaman, kok sampai begini keadaan negeri kita. Dadapun serasa sumpek dan sesak.

* * *

Keruan saja pembicaraanku dengan kemenakan kami itu, berkisar sekitar situasi negeri kita. Bagaimana sih
keadaannya, tanyaku. Wah, susah Oom, katanya. Sekarang ini selain korupsi masih terus merajalela, bahkan tampaknya seperti semakih lama semakin parah. Para petinggi negara, mulai dari menteri, sampai ke lurah menggunakan jabatan mereka untuk memperkaya diri melalui manipulasi dan korupsi. Jalannya adalah
masuk di eksekutip melalui jalur parpol. Jadi, Oom kata kemenakan kami itu, sekarang ini betapapun hebatnya seseorang dalam kemampuan dan kejujuran, bila tidak masuk salah satu parpol, tidak akan bisa maju. Parpol telah menjadi alat untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok. Parpolpun tumbuh bak jamur di musim hujan. Semakin orang tak punya kepercayaan lagi terhadap parpol.

Aku cerita kepada kemenakanku itu, parpol itu adalah salah satu ciri dan prinsip demokrasi. Adalah suatu kenyataan bahwa sebagian besar parpol pada periode keperesidenan Sukarno, punya kepedulian yang sungguh-sungguh terhadap nasib bangsa dan tanah air. Para anggota DPR ketika itu, kataku, umumnya punya perhatian dan kepedulian yang jauh lebih besar terbanding para anggota legeslatif sekarang ini. Fungsi DPR sebagai pembuat undang-undang dan mengawasi jalannya kebijaksanaan pemerintah dan pemberlakuannya benar-benar dikhayati oleh sebagian terbesar anggota DPR.

Hal itu antara lain dapat diketahui dari disahkannya UU Pemilu yang Demokratis dan 'Luber'. Juga telah dibuat dan disahkan UUPA, Undang-undang Perubabahan Agraria dan UUPBH, Undang-undang Pokok Bagi Hasil. Semua uu tsb dilahirkan oleh DPR pada periode kepresidenan Sukarno. Namun Orba dan pendukungnya mencemoohkan DPR tsb , sebagai produk Orde Lama (Orla). Orba bilang, DPR Orla harus diganti. Orba menggantikannya dengan MPR/DPR yang sepenuhnya menjadi alat politik di tangan Presiden Jendral Suharto.

* * *

Pada akhir tukar fikiran yang positif dan mengesankan dengan kemenakan kami itu, aku ceriterakan kepadanya tentang pertanyaan-petanyaan yang ku ajukan kepada kemenakan yang datang terdahulu itu. Kemenakan ku yang ini, agak tertegun.

Namun, ia setuju dengan fikiran, bahwa betapapun, kita tidak boleh putus harapan, dan hilang opitimisme, mengenai nasib bangsa dan negeri ini. Sambil lalu ditanyakannya, bagaimana pendapatku mengenai langkah Buyung Nasution belakangan ini yang meninggalkan posisinya di YLBH, dan non aktif sebagai advokat demi memusatkan perhatiannya pada tugasnya di Wantimpres. Kemenakanku itu sendiri menilai langkah Buyung itu positif dan tepat. Pendapatku: Sayang bila ia total meninggalkan YLBHI.

Kedua orang kemenakan kami itu, nyatanya juga tahu benar, bahwa masih cuikup banyak orang-orang Indonesia, yang mampu dan jujur untuk mengelola dan mengurus negeri ini. Soalnya mereka belum ada pada tempat yang diperlukan. Mereka adalah 'the right men and women', tetapi mereka masih belum ada 'on the right place'.

Masih memerlukan waktu dan proses yang cukup panjang, ---- di atas segala-galanya masih memerlukan usaha dan perjuangan yang berani dan bijak untuk sampai pada tujuan mulia tsb. Untuk terrealisasinya 'the right man or woman on the right place' yang mengelola dan memimpin bangsa dan negeri ini.

* * *

No comments: