Sunday, August 12, 2007

Kolom IBRAHIM ISA - 'NEW WORLD-ORDER-NYA' BUSH

Kolom IBRAHIM ISA
21 September 2002

-------------------------------------------

'NEW WORLD-ORDER-NYA' BUSH -
ADALAH - - HEGEMONISME- - TULEN!

Selain Presiden Bush dan PM Blair (lewat pernyataan
menlunya), ; Sekretaris Jendral PBB, Kofi Anan,
demikian pula sebagian besar negara-negara anggota
PBB--- juga komentar media mancanegara, umumnya,
menyambut baik kesediaan Irak, yang pada tanggal 16
September, 2002, y.l., dalam surat resminya kepada
Sekjen PBB, menyatakan KESEDIAAN IRAK, TANPA SYARAT,
MENERIMA TEAM INSPEKSI-PBB. Irak menjelaskan bahwa
sikapnya itu ditorong oleh hasrat mencegah perang,
karena AS menjadikan masalah Team Inspeksi sebagai
"dalih" untuk mencetuskan perang terhadap Irak.

Bagaimana AS menanggapinya? Reaksi Amerika Serikat,
sudah banyak yang menduganya.

Presiden Bush mencibirkan dan mencemoohkan kesediaan
Irak itu. Presiden Bush, wapresnya Dick Cheny,menlun
dan menteri pertahanannya, semua menghujat kesediaan
Irak itu, sebagai suatu "delaying tactics" , taktik
"mengulur-ulur waktu". Fihak-fihak yang sedikit banyak
bersimpati, "mengagumi" atau bahkan takut terhadap
Amerika Serikat, dengan pelbagai motivasi di balik
sikap mereka, menyatakan bahwa sikap Irak itu
disebabkan oleh "tekanan mliter " AS. Jadi, mereka
menganggap ancaman agresi militer Amerika terhadap
Irak itu sebagai sesuatu yang "baik" dan "positif".
Kalau tidak ada tekanan AS, kata mereka, maka Sadam
Hussein akan tetap ngotot, mengangap sepi dan
membelakangi setiap Resolusi DK PBB. Para simpatisan
Amerika itu pura-pura tidak tahu, bahwa, Kofi Anan,
sebagai Sekjen PBB, selama ini terus berkomunikasi
dengan Bagdad, mendorong dan mengingatkan Bagdad agar
mematuhi Resolusi PBB. Kofi Anan juga memberikan
saran agar Team Ispeksi PBB bisa secepatnya memulai
kembali tugasnya di Irak, tanpa syarat. Juga Liga Arab
dan banyak negeri lainnya, termasuk negara anggota Uni
Eropah yang penting, seperti Jerman -- dan
Perancis, mendorong Irak, agar Irak mematuhi Resolusi
Dewan Keamanan PBB yang berkenaan dengan pekerjaan
Team Isnpeksi ke Irak. Pokoknya negara-negara yang
menyambut baik sikap terakhir Irak itu, menegaskan
kembali, bahwa mereka menganggap jalan satu-satunya
untuk menyelesaikan masalah Irak, adalah lewat lembaga
internasional PBB, dan menekankan bahwa, tidak ada
jalan yang harus ditempuh kecuali jalan damai. Mereka
keras menentang perang baru yang dirancangkan Amerika
terhadap Irak.

Bila dicermati perkembangan situasi yang menyangkut
masalah Irak, orang tidak bisa lain akan mengambil
kesimpulan, bahwa, pada pokoknya, kesediaan Irak itu
adalah akibat dari desakan internasional, termasuk
desakan dari tokoh internasional , negarawan senior
seperti mantan presiden Afrika Selatan, Nelson
Mandela.

Amerika Serikat hari-hari ini mencuat arogansinya. AS
menganggap dirinya adalah negara yang paling kuat
secara militer dan ekonomi, dan terkaya didunia dewasa
ini, yang memiliki persenjataan yang paling moderen
dan canggih. Amerika Serikat bermimpi untuk menjadi
negara hegemonis yang harus ditaati oleh seluruh
dunia. Bukankah ini nampak sekali dari sikap Amerika
yang telah memberikan ultimatum demi ultimatum kepada
badan internasional PBB. AS mengancam, kalau Dewan
Keamanan PBB dalam mengurusi masalah Irak, tidak
bersedia bertindak menuruti kemauan Amerika, maka
Amerika Serikat akan bertindak sendiri. AS akan
melakukan serangan militer terhadap Irak dan
menggantikan rezim Sadam Hussein dengan pemerintah
yang dikehendakinya.

Sesudah Irak menyatakan kesediaannya untuk menerima
Team Pemeriksa PBB, serta memulai persiapan untuk
kembali bekerjanya Team Pemeriksa PBB tsb, yang
direncanakan pada bulan Oktober 2002 ini, maka AS
cepat-cepat mengulangi tuntutannya, agar Dewan
Keamanan PBB, tokh mengambil resolusi yang di dalamnya
dinyatakan ancaman militer terhadap Irak. Presiden
Bush juga menunut kepada Kongres AS , suatu "blanche
cheque" , "cek kosong", yang memberikan kekuasaan tak
terbatas dan kebebasan kepada Bush, untuk melakukan
tindakan militer terhadap Irak, "bila diperlukan".
Kata-kata "bila diperlukan" ini adalah rumusan karet,
yang bisa digunakan oleh Bush sekehendak hatinya.
Menlu AS, C. Powel, mengancam, -- bila Dewan Keamanan
PBB tidak mengambil resolusi mengenai Irak seperti
yang dikehendaki AS, maka AS akan merintangi rencana
pekerjaan Team Pemeriksa PBB ke Irak. Dalam sejarah
PBB, mungkin baru kali ini ada suatu negara yang
mengeluarkan ancaman yang begitu kurang ajar terhadap
lembaga dunia ini.

Begitu arogannya AS, yang hendak memaksakan suatu
"new world-order", suatu "orde baru" bagi dunia,
yang bila dilihat dari ulah-pulah dan tindak lakunya
belakangan ini, yang dimaksudkan oleh AS dengan "new
world-oder" itu nyatanya adalah "hegemonisme AS
terhadap dunia". Dunia harus tunduk padanya, inilah
""new world-order"nya Amerika.

Melihat ulah-polah AS, yang menganggap sepi seluruh
dunia, sampai-sampai seorang menteri Jerman, yaitu
Mentri Kehakimannya, secara implisit menyamakan Bush
dengan Hitler - - - - - Dan tidak kurang dari seorang
tokoh dunia Nelson Mandela, pada tanggal 17 Sept
y.l., seperti disiarkan KB Reuters, menyatakan sbb:

"Kita harus mengutuk (sikap AS) ini, karena mereka
berfikir bahwa mereka adalah satu-satunya negara yang
ada di dunia ini. Tidak betul itu, dan mereka
melakukan politik yang berbahaya. Bush ada hak apa
untuk tampil menyatakan bahwa tawaran Irak itu tidak
sungguh-sungguh. Kita harus mengutuk keras sikap AS
itu"

"Maka saya mengeritik banyak pemimpin dunia yang
berdiam diri saja, disaat, dimana satu negeri hendak
mengancam dan merajai seluruh dunia".
Mandela juga mengharapkan agar kesediaan Irak itu
"menuju kepada diakhirinya sanksi terhadap Irak".

nyatanya juga hanya menimbulkan penderitaan dan
kesengaraan belaka yang harus dipikul oleh rakyat
Irak.>

Bukan saja dunia internasional yang menolak sikap
hegemonis AS yang arogan itu, tetapi juga dari dalam
negeri AS sendiri tidak kurang keras kritik terhadap
presiden Bush. Ini antara lain dikemukakan baru-baru
ini disampaikan kepada BBC, oleh seorang anggota
Kongres AS dari negara bagian Ohio. Congressman dari
Ohio itu menyatakan bahwa Presiden Bush hendak
memperdagangkan darah tentara AS dengan minyak Timur
Tengah. Ditekankannya bahwa rakyat Amerika menentang
terorisme, tetapi juga menentang dilancarkan prang
terhadap Irak. Utusan Kongres AS dari Ohio itu
menyatakan bahwa politik Amerika terhadap Irak dan
Timur Tengah dilatarbelakangi oleh ambisi AS untuk
menguasai sumber-sumber minyak dunia, yang terpusat di
Timur Tengah. Bila Presiden Bush mencetuskan perang
terhadap Irak, hal itu hanya akan membikin senang dan
menguntungkan kaum industrialis senjata dan
perusahaan minyak raksasa AS saja. Demikian Congresman
dari Ohio.

Menghadapi ambisi dan arogansi AS ini, sikap Indonesia
pada pokoknya sudah benar, yaitu, mengusahakan
penyelesaian masalah Irak, hanya melalui badan
internasional PBB.

Seyogianya Indonesia tidak beranjak dari politik yang
sudah ditetapkan itu. Lebih baik lagi, kiranya, bila
Indonesia, paling tidak, mengambil sikap yang senada
dengan sikap Nelson Mandela.

Berani melawan politik hegemonisme Amerika Serikat!
Berani membela kedaulatan negeri kita terhadap politik
negara manapun yang hendak memaksakan politiknya
terhadap Indonesia.
< Dimuat di'Nusantara', 22 Sept 2002 >
* * * *

No comments: