Saturday, July 18, 2009

'PERSAUDARAAN' TAYANGKAN FILM BERMUTU

Kolom IBRAHIM ISA
-----------------------------
Minggu, 05 April 2009



'PERHIMPUNAN PERSAUDARAAN' TAYANGKAN FILM-FILM BERMUTU



Minggu pagi, biasanya orang-orang di Barat seperti Belanda ini, pada 'mbangkong'. Orang Jawa bilang 'mbangkong', maksudnya tidak bangun pagi seperti pada hari kerja biasa. 'Tidur terus' sampai . . . kenyang betul. Tidak sarapan. Makan pagi digabung dengan makan siang. Jadilah dia 'brunch'. 'Breakfast' disatukan dengan 'lunch' . Yang begitu itu, sering dilakukan oleh orang-orang muda. Kami, suami-istri kan sudah tak muda lagi. Sudah tergolong orang 'pensiunan'. Meskipun, kenyataannya kesibukan sehari-hari malah sering lebih padat dari orang yang 'belum terhitung pensiunan'. Maka setelah sarapan kami memenuhi undangan 'Perhimpunan Persaudaraan'.

* * *

Tulisan di atas itu adalah semacam 'pembuka-kata'. Dari suatu cerita-kecil, tapi tokh dirasa penting untuk diketahui pembaca, mengenai 'aktivitas' kami pada Minggu pagi tanggal 05 April 2009. Dengan bus kota No 44 kami berangkat dari Stasiun Bus di Amsterdam Bijlmer Arena. Tujuan kami Diemen Zuid, gedung sekolah 'SCHAKEL'.

Di situlah, Vereniging 'Perhimpunan Persaudaraan Indonesia', sebuah perkumpulan orang-orang Indonesia di Amsterdam, mengisi kegiatan Minggu ini dengan pertunjukan film-film Indonesia yang, – – – pasti patut dinilai sebagai FILM-FILM INDONESIA BERMUTU.

Di jalan kami jumpa dengan kawan-kawan lainnya yang juga bertujuan sama. Kira-kira 50-60 orang-orang Indonesia yang kumpul di Diemen siang itu. Beruntunglah mereka yang menyaksikan film-film tsb. Tidaklah percuma buang waktu dan sedikit ongkos untuk menyaksikan film-film Indonesia yang benar bermutu. Tidak saja bermutu tetapi juga HISTORIS. Karena dari film-film yang dipertuntjukkan itu ada film-film dokumenter. Mengenai peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi. 'Een waargebeurde verhaal', kata orang Belanda. Juga ada dua film cerita, yaitu 'NGABONAR JADI 2', dan BIOLA TAK BERDAWAI'. Namun kali ini kubatasi tulisan ini mengenai dua film dokumenter itu saja..

Film-film yang dipertunjukkan oleh 'Persaudaraan' itu, pasti tidak bisa dilihat di bioskop-bioskop manapun di negeri Belanda.

Satunya berjudul 'TRAGEDI JAKARTA 1998' dan satunya lagi dokumenter ceriteranya Mbak Sumilah, seorang mantan 'TAPOL'. Ia dipenjarakan Orba selama 14 tahun, tanpa mengetahui apa kesalahannya. Namun ketika diperiksa ia dipaksa telanjang dan juga disiksa. Tokh Mbak Sumilah masih merasa 'beruntung'. Karena ia tak dimasukkan dalam daftar, yang oleh penguasa militer tergolong yang harus di 'bereskan'. 'Bereskan' adalah istilah yang dipakai oleh Jendral Suharto bagi orang-orang yang harus dieksekusi secara ekstra-judisial. 'Banyak yang dibunuh', kata Mbak Sumilah. Ketika itu Mbak Sumilah berusia 17 tahun.

Satu-satunya alasan tampaknya, karena Mbak Sumilah adalah seorang penari/penyanyi lagu 'GENJER-GENJER'. Lagu 'Genjer-genjer' kan oleh Orba dikatakan sebagai lagunya orang-orang Komunis, Gerwani, Pemuda Rakyat dsb.

Judul dokumenter tsb cocok sekali dengan apa yang hendak disampaikan: 'KOK DISALAHKÉ'. Seudah 14 tahun disekap di penjara Orba. Mbak Sumilah akhirnya 'dibebaskan'. Ketika ia ditanya apakah ia tau mengapa ia ditangkap dan dipenjarakan selama 14 tahun, Mbak Sumilah menjawab dengan lugu: 'Tidak tau'. Bicara mengenai negara hukum. Negara RI kita ini kan negara hukum. Seyogianya, seharusnya Mbak Sumilah berhak dapat ganti rugi dari pemerintah. Nama baiknya seharusnya dipulihkan. Hak-hak kewarganegaraan dan hak-hak politiknya harus di REHABILITASI. Tetapi nyatanya, pemerintah Indonesia sampai sekarang ini terus saja mengambil sikap 'berlagak pilon', 'berlakagak lupa'. Padahal warga Indonesia yang tak berasalah yang dipenjarakan seperti halnya Mbak Sumilah lebih dari sepuluh tahun, yang bersama keluarganya sampai sekarang menderita diskriminasi dan dijadikan 'orang bermasalah' , jumlahnya meliputi ratusan ribu, bahkan jutaan.

* * *

Dua film dokumenter tsb pasti KBRI manapun tidak, atau belum bersedia (atau masih takut) mempertunjukkannya. Sebabnya bisa diduga : Karena film-film dokumenter tsb adalah gugatan terhadap kesewenang-wenangan dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh rezim ORBA. Ambillah dokumenter yang berjudul 'TRAGEDI JAKARTA 1998". Dokumenter itu meng-abadikan kejadian bersejarah PUNCAK GERAKAN REFORMASI, yang akhirnya menumbangkan Presiden Suharto dari jabatan kepresidenannnya.

Dalam film dokumenter tsb bisa dilihat menggeloranya kebangkitan massa mahasiswa yang sudah muak dengan Orba. Jelas sekali terdengar yel-yel, 'AKHIRI ORBA', 'TEGAKKAN KEADILAN' dsb. Yel-yel dan slogan-slogan ratusan ribu mahasiwa yang turun ke jalan-jalan dalam bulan November 1998 itu, bagi penonton biasa, seperti aku ini, mendebarkan, menyulut semangat perlawanan. Begitu riilnya pengambilan dokumenter tsb sehingga kita serasa ada ditengah-tengah mahasiswa yang berdemonstrasi. Jelas dan lantang sekali seruan dan tuntutan mereka agar diakhirinya tirani Orba, diakhirinya korupsi dan nepotisme, diakhirinya rezim Orba.

Satu hal jelas. Bila massa mahasiswa telah sadar politik dan bangkit, mereka tidak takut apapun, meskipun aparat negara menghadapi mereka dengan kekerasan sehingga tewasnya beberapa mahasiswa dan dari kalangan massa, korban peluru tajam aparat keamanan. Bukannya takut, massa mahasiswa yang sudah sadar dan bangkit itu, bahkan menuntut REVOLUSI!

Mereka tidak setuju dengan SIDANG ISTIMEWA MPR yang diadakan sesudah jatuhnya Suharto. Karena sidang istimewa itu hendak melegalisasi Habibi sebagai presiden menggantikan Suharto. Logika para mahasiwa: Baik Suharto maupun Habibi adalah hasil pemilu Orba yang sepenuhnya direkayasa oleh penguasa Orba. Mereka menuntut agar ditegakkan keadilan oleh wakil-wakil rakyat yang sesungguhnya. Massa mahasiswa menilai bahwa Habibi sama saja dengan Suharto. Sama-sama peyangga Orba.

* * *

Demikianlah, sore itu kami pulang dengan kesan yang mendalam sekali mengenai kebangkitan mahasiwa Indonesia dalam suatu gerakan REFORMASI dan DEMOKRATISASI, yang membuat sejarah, dengan digulingkannya Presiden Suharto. Bahwa massa mahasiswa yang sudah sadar politik dan bangkit tidak takut apapun dalam perjuangan sengit demi reformasi, demokrasi dan keadilan bagi rakyat.

Kami pulang dengan membawa kesan mendalam bahwa apa yang dialami oleh Mbak Sumilah sebagai orang biasa yang kebetulan penyanyi dan penari GENJER-GENJER, begitu saja ditangkap aparat militer, dijebeloskan dalam penjara selama 14 tahun, dihina dan disiksa.

Namun negara Republik Indonesia yang berdiri atas UUD RI yang di dalamnya terdapat fasal-fasal HAM, masih saja belum merehabilitasi hak-hak kewargangeraan dan hak politik warganegara seperti Mbak Sumilah dan jutaan lainnya.

* * *

No comments: