Thursday, May 16, 2013

*Kolom IBRAHIM ISA*
*Kemis, 16 Mei 2013**
--------------------*

*Sahabatku CHALIK HAMID (75)*



Pernah sambil gurau kubilang kepada sahabatku Chalik Hamid: Bung tahu enggak apa artinya "Chalik"? Serta-merta Chalik menjawab: "Ya, tau!" Apa arti kata itu, tanyaku lagi? Chalik menengadah ke atas! Aku sela: "TUHAN yang Maha Kuasa", kataku. . . . . Ya, saya tahu, kata Chalik senyum. Chalik mengerti dan menyambut gurau akrab tsb. Orangnya memang suka gurau, periang dan jenaka pula!


* * *


Hari ini ketika kubuka komputer dan mengklik "Postvak In", salah satu berita yang masuk berjudul *"AKU 75 TAHUN".* Berita ini dikirim oleh "the King himself". Chalik sendiri yang menigirimkannya. Jarang aku membaca sajak yang demikian mengesankan dan mengharukan. Juga jarang orang merenung sedemikian rupa ketika usianya bertambah satu tahun lagi.


Chalik melukiskan masa kecilnya nun jauh di kampung halaman. Itu membikin banyak pembaca (pasti) juga mengenang masa bocahnya. . . . .


"/sembahyang dan mengaji di mesjid tua /

/mencuri jambu dan melempari mangga, . . . dst./


Ya, ya, . . . . sembahyang dan mengaji lalu mencuri jambu dan melempari mangga,

milik orang lain tentunya. Suatu ungkapan masa bocah yang betul-betul "kena".


Namun, yang paling megesankan memberikan inspirasi dan semangat, adalah

sikapnya sebagai pejuang dan patriot Indonesia yang cinta dan tanah air dan bangsa dimanapun ia berada.


Sering wartawan atau peneliti yang mewawancarai "orang eksil" bertanya: Bagaimana perasaan bapak, begitu lama menjadi warganegara asing, di negeri jauh dari tanah air.


Chalik memberikan jawaban yang "cespleng dan mantap":


"/Hari ini ulangtahunku ke 75 /

/tubuh di negeri orang hati di kampung halaman, /

/dan perjalanan masih panjang /

/di atasnya terbentang cita-cita dan harapan, /

/suatu ketika pasti terwujudkan /

/oleh generasi muda mendatang. /


* * *


Dari Murti dan aku:


*SELAMAT BER-ULTAH BUNG CHALIK *

*TERIRING DOA DAN HARAPAN TERBAIK UNTUK BUNG DAN ISTRI, AISYAH .*



Berikut ini sajak Chalik Hamid ketika ia terinspirasi menulis sajak mengenangkan

perjalanan hidupnya, . . . . . . sebagai pejuang.


* * *


*Chalik Hamid:*

Aku 75 tahun



Langit biru masih tetap seperti dulu

kadang dilindungi awan bergumpal putih,

degup jantung tak pernah henti

mengikuti gerak putaran bumi.



Hari ini aku 75 tahun

tubuh mengelana di negeri orang

hati merayap ke kampung halaman

menjelajahi lorong dan tepian sungai

merasuk ke pepohonan dan suara beduk tua.



Di kampung ini makam ayah dan bunda

di sini terkubur seluruh keluarga

sungai kampung ini menghanyutkan korban enam lima

tak dikenal entah mayat siapa.


Kenangan mengalir bagaikan air

ke masa kanak-kanak belum dewasa

sembahyang dan mengaji di mesjid tua

mencuri jambu dan melempari mangga,

berenang-renang ketika banjir tiba

berbaur bocah peria dan wanita,

berjalan kaki pergi sekolah

payung daun keladi ketika hujan,

bunyi klom yang membisingkan,

berteduh di bawah pohon pisang

menyusun angan setinggi kayangan,

duduk di pelaminan menjelang sunatan

menerima hadiah dari keluarga handai-tolan.



Ah, semua mengalir dalam ingatan

di hari tua di negeri seberang

ketika tubuh semakin renta untuk bertahan,

kawan-kawan dibunuh dibantai dengan kejam

dipinjam lalu menghilang ditengah malam,

wanita-wanita cantik diperkosa komandan penjara

yang gajinya dibayar oleh negara,

sekolah disulap jadi tempat tahanan

kantor buruh berubah jadi milik tentara.


Hari ini ulangtahunku ke 75

tubuh di negeri orang hati di kampung halaman,

dan perjalanan masih panjang

di atasnya terbentang cita-cita dan harapan,

suatu ketika pasti terwujudkan

oleh generasi muda mendatang.



Amsterdam, 16 Mei 2013.


* * *


Kemudian responsnya Chalik Hamid:


Teman-teman dan para sahabat,


Saya mengucapkan banyak terimakasih atas ucapan selamat ulangtahun saya yang ke 75 ini. Semoga kita semua selalu sehat dan panjang umur serta bisa menyaksikan kemenangan-kemenangan yang dicapai di Indonesia, betapa pun kecilnya. Antara lain: Keputusan Komnas HAM yang menyatakan adanya pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Orba Suharto atas pembantaian 1965/66. Adanya pengakuan para jagal di Medan Sumatera Utara, dalam pembunuhan kader-kader PKI dan para pengikut Bung Karno lainnya. Pengakuan ini sudah mereka nyatakan dalam sebuah film ´´The Act of Killing/ Jagal yang dihasilkan produser/sutradara Joshua Oppenheimer.

Perlahan-lahan semua kejahatan Orba itu akan terungkap dan sejarah akan memihak rakyat tertindas Indonesia.

Salam: Chalik Hamid.


* * *


No comments: