Monday, April 2, 2007

IBRAHIM ISA Dari BIJLMER -- Sudahkah Anda Ber kunjung Ke Musium * 'MULTATULI' ?

IBRAHIM ISA Dari BIJLMER

Senin, 12 Maret 2007

----------------------------------------------------

Sudahkah Anda Berkunjung

Ke Musium * 'MULTATULI' ?*




Pertanyaanku itu relevan untuk orang-orang Indonesia yang tinggal, sedang studi di Belanda, atau pas sedang berkunjung di Belanda. Mengingat arti penting MULTATULI dalam sejarah Belanda-Indonesia. Multatuli adalah suatu 'link', suatu 'penghubung' antara Belanda dan Indonesia. Suatu 'link' yang punya arti mendalam dalam hubungan dua negeri dan dua bangsa. Hubungan solidaritas dan persahabatan!


Pada awal musim semi ini, hari Minggu tanggal 11 Maret 2007 kemarin, cuacanya memang luar biasa indah! Kemarin itu dengan megah dan ramahnya sang Surya menampakkan diri, dan hampir sehari penuh melimpahkan kehangatannya ke bumi negeri dingin ini. Sehingga terasa kehangatan musim semi. Orang pada keluar. Jalan-jalan di taman-taman, bersepeda, atau duduk-duduk berjemur di beranda muka cafe, sambil minum kopi dan teh. Atau nge--bir! Angin sejuk sepoi-sepoi basa yang bertiup tak dihiraukan lagi. Pada cuaca yang indahnya di musim semi seperti ini, siapa pula yang ingin tinggal di rumah saja.


* * *


Berangkatlah kami berdua saja, aku bersama isriku, Murti, ke suatu tempat di Korsjespoortsteeg, No. 20, yang letaknya di antara Singel dan Herengracht, Amsterdam Centraal. Gedung nomor 20 di lorong yang khas Amsterdam itu, adalah MUSIUM MULTATULI.


Sudah lebih dari 20 tahun kami sekaeuarga bermukim di Amsterdam. Sejak mula jadi penduduk ibu kota ini, ingin sekali aku, dan berrencana berkunjung ke Musium Multatuli. Ingin tahu kayak apa sih, yang disebut Musium Multatuli itu. Putri sulung kami Tiwi, pernah kuajak untuk sama-sama ke Musium Multatuli. Ia menyambut dengan gairah dan antusias. Tetapi entah mengapa dari tunda ke tunda lagi, sehingga 20 tahun berlalu, Musium Multatuli itu masih saja belum dikunjungi.


Baru kemarin siang tadi itulah, didorong pula oleh cuaca indah, maka terlaksanalah idam-idaman selama ini. Seorang Meneer yang masih muda dan punya cukup pengetahuan tentang Multatuli menyambut kami di pintu masuk. Ketika sedang mengisi buku tamu, datang lagi sepasang muda-mudi Londo Bulé. Rupanya di kalangan muda-mudi Belanda tidak kurang perhatian terhadap Multatuli. Ternyta mereka memang sedang studi sejarah.


Bicara soal perhatian 'masyarakat suka-baca-buku' di Belanda, baru saja kudengar berita, bahwa melalui suatu angket yang diadakan dalam rangka PEKAN BUKU 2007 , ternyata buku Multatuli 'MAX HAVELAAR', yang ditulis oleh novelisnya, Eduard Douwes Dekker lebih 150 th yang lalu, menduduki perangkat ketiga sebagai novel terbaik. Nomor satu ditempati oleh novelis top Belanda dewasa ini, Harry Mulisch, dengan bukunya 'De Ontdekking van de Hemel' <'The Discovery of Heaven'>. Mulisch juga adalah penulis dari roman terkenal “De Aanslag” <'The Assault'>. Yang mengisahkan akibat yang diderita oleh suatu keluarga Belanda, pada zaman pendudukan Jerman Hitler. Karena dekat rumahnya ada pengkhianat anték Jerman yang ditembak mati oleh kaum gerilyawan perlawanan bawah tanah. Buku nomor dua terbaik diraih oleh Kader Abdollah (Penulis Belanda asal Iran), dengan bukunya 'Het Huis v.d. Moskee' <'Rumah Mesjid'> .


* * *


Gedung Musium Multatuli itu sungguh kecil. Amat kecil dan sederhana sekali. Hanya terdiri dari dua tingkat dan masih ada satu ruangan lagi di bawah tanah. Melihat gedung sekecil itu untuk manusia yang begitu besar artinya di dalam sejarah Belanda maupun sejarah 'mantan' koloni Belanda, --- Indonesia --- yang sekarang sudah merdeka, terus terang muncul perasaan sedih dan tak énak ---- Aku fikir, bagaimana Belanda ini, untuk seorang manusia begitu besar seperti Eduard Douwes Dekker yang membikin sejarah dan bersejarah, kok cuma sebegitu saja perhatian yang berwewenang di Belanda, khususnya Amsterdam. Tambah lagi ngenes hatiku, ketika mendengar dari Meneer yang sedang 'dinas' di musium itu, bahwa Kotapraja Amsterdam tidak lagi memberikan subsidi untuk Musium Multatuli. Dulu, kata Meneer, kami dapat subsidi. Sekarang tidak lagi. Terlalu, . . . schandalig, kataku dalam bahasa Belanda. Ah, tak jadi apa, kata Meneer. Kami berdikari, kok. Disampaikannya juga bahwa pemerintah hermaksud membeli gedung itu, entah apa yang hendak dibangun di situ. Yang terang, berarti Musium Multatuli itu harus pindah. Padahal itu gedung bersejarah, TEMPAT KELAHIRAN MULTATULI <02>. Keruan saja 'Perhimpunan Multatuli', suatu perkumpulan swasta pencinta Multatuli menolak dengan tegas. Bravo!


Betapapun, hatiku lega dan puas. Karena telah berkunjung ke tempat kelahiran seorang penulis Belanda, yang punya arti besar dalam sejarah kebangkitan dan kesadaran bangsa Indonesia. Tidak kebetulan pula bahwa, salah seorang keturunan Douwes Dekker, kemudian bersama Ki Hajar Dewantoro, pendiri Perguruan Taman Siswa, mendirikan 'INDISCHE PARTIJ'. Dalam sejarah kebangkitan bangsa kita, parpol itu memainkan peranan penting. Menyadari bahaya pengaruh dua orang penting pendiri 'Indische Partij' itu terhadap masyarakat di bawah kekuasaasn kolonialnhya, maka Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantoro dibuang, dijadikan orang-orang eksil oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.


* * *


Sebuah buku yang diterbitkan di Belanda dalam tahun 1993, berjudul Literatur Belanda, Sebuah Sejarah, --- menulis bahwa MULTATULI alias Eduard Douwes Dekker, penulis dari novel satiris 'MAX HAVELAAR' , adalah seorang zeni, seorang yang luar biasa di dalam dunia sastra Belanda, maupun dunia. Dalam novelnya itu, yang ditulisnya dalam jangka waktu empat minggu saja, di dalam sebuah kamar di sebuah hotel di Brussel, Multatuli mengungkap tentang peri kehidupan rakyat di sebuah kota kecil di Banten, Lebak.


* * *


Bagi yang ingin menyegarkan ingtannya: Multatuli, nama asli Eduard Douwes Dekker, dilahirkan

pada tanggal 02 Maret tahun 1820. Dalam usia muda ia berangkat ke Indonesia , (dulu namanya) Hindia Belanda, jajahan Belanda. Sebagai pegawai negeri ia menduduki jabatan asisten residen di Lebak, Banten. Disitulah Multatuli menyaksikan betapa penguasa feodal setempat (tuan-tuan feodal tumpuan kekuasaan kolonial Belanda) dengan OK dari penguasa kolonial Belanda tentunya, melakukan pemerasan dan penindasan kejam terhadap penduduk bangsa sendiri. Hati nurani Multatuli berontak! Tetapi usaha Multatuli untuk mengakhiri praktek pemerasan kekuasan feodal setempat, berakhir dengan pemecatan kekuasaan kolonial terhadap Multatuli. Ia kembali ke Eropah. Di Brussel ia menulis romannya MAX HAVELAAR, yang menurut seorang anggota parlemen Belanda, telah menyebabkan getaran di seluruh negeri.


Kaum progresif Belanda amat menilai tinggi Multatuli dan peranannya dalam kebudayaan dan politik Belanda. Ia dinilai punya arti besar bagai sejarah sastra , kebudayaan dan politik. Karena Multatuli adalah orang Belanda pertama yang berhasil menarik perhatian masyarakat yang luas terhadap urusan penjajahan Belanda terhadap Indonesia. Multatuli juga punya arti besar terhadap gerakan buruh dan gerakan perempuan Belanda.


Buku Multatuli, MAX HAVELAAR, dan karya-karya sastra lainnya dalam jumlah besar, banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing lainnya. Kebetulan ditunjukkan pada kami hari itu, antra lain terjemahan buku Multatuli ke dalam bahasa Inggris, Jepang dan Vietnam. Dengan sendirinya edisi bahasa Indonesia buku Multatuli kami lihat juga di situ.


Edisi bahasa Indonrsia yang diterbitkan oleh 'Penerbit Jambatan', adalah terjemahan penulis H.B. Jasin. Pertama terbit tahun 1972. Seterusnya berturut-turut diterbitkan edisi kedua dan selanjutnya dalam tahun-tahun 1973, '74, '77, '81, '85 dan 1991.


* * *


Bagi kalangan masyarakat Belanda yang berfikiran maju, jelas bahwa Multatuili adalah pengarang besar yang mengungkap pemerasan kejam kaum feodal di Lebak terhadap rakyat. Bahkan ada yang mengangapnya sebagai sastrawan terbesar Belanda. Bahwa adalah jelas Multatuli melakukan perlawanan terhadap kekejaman feodalisme yang berlangsung di Banten ketika itu. Sebagai seorang asisten residen, sebagai alat birokrasi kolonial Belanda, Multatuli adalah ORANG PERTAMA di kalangan mereka itu, yang bertindak atas himbauan hati nurani dan rasa keadilan. Yang dilakukan Multatuli adalah peralwanan terhadap ketidak adilan feodalisme dan kolonialisme. Adalah pembelaan terhadap rakyat Lebak yang tertindas dan terhisap. Multatuli menanggung akibat dipecat dari jabatannya. Tetapi sebelum dipecat, ia mendahului penguasa. Ia sendiri yang ambil inisiatif minta berhenti.


Tetapi, 'Penerbit Jambatan', yang menerbitkan edisi Indonesia buku Multatuli, lain lagi penjelasannya. Tulis Penerbit Jambatan antara lain sbb:

'Multatuli punya arti khusus bagi Indonesia. Ia bertugas di Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19, menyaksikan penderitaan, pemerasan dan penindasan terhadap bangsa Indonesia; lalu menggugat yang berwajib dan membongkar segala kejahatan yang menjadi tanggungjgawabnya'.

Kutipan dari halaman cover buku edisi Indonesia terbitan 'Penerbit Jambatan' selesai.


Kan, anéh. Dari buku Multatuli jelas, bahwa yang kejam, yang memeras, yang menindas, yang disaksikannya sendiri dengan mata-kepalanya, pertama-tama adalah kekuasaan feodal setempat, adalah (bangsa setempat). Sedangkan yang mengggugat, yang memprotes dan mengungkap adalah seorang asisten residen ORANG BELANDA. 'Kan jelas itu. Tapi itu dirumuskan begitu rupa oleh edisi bahasa Indonesia buku Multatuli, sehingga kejahatan dan kekejaman feodalisme bangsa Indonesia sendiri, terselubung dan tersembunyi. Mungkinkah sikap 'Penerbit Jambatan', atau HB Jasin, yang plintat-plintut itu. Soalnya: Kekuasaan rezim Orba tidak mengizinkan kejujuran dan keobyektifan. Dan kaum intelektuil 'kita' masa Orba umumnya 'manut' saja.


Menjadi jelas duduk perkaranya, ketika film 'MAX HAVELAAR', produksi Belanda, tidak diizinkan beredar di Indonesia semasa Orba. Alasan yang diberikan oleh penguasa Orba melarang film Multatuli itu, ialah sbb: 'Tidak bisa dong dipertunjukkan, kok ada film yang menggambarkan orang Belanda (Multatuli) lebih baik dari orang-orang Indonesia? Titik!.

Kalau hendak melihat pembodohan intelektuil semasa Orba, inilah contoh yang pas sekali!


* * *


Tulisan Multatuli memang benar-benar menggemparkan masyarakat Belanda, terutama penguasanya, karena Multatuli alias Eduard Douwes Dekker, mengungkap tabir selubung yang selama itu menutupi kekejaman fedoalisme dan kolonialisme di negeri, yang ketika itu dinamakan 'Hindia Belanda'. Juga masyrakat di Hindia Belanda, lebih-lebih lagi terkejut, karena sang penulis noevel yang mengungkap kekejaman feodalisme dan kolonialisme itu, adalah mantan seorang 'asisten residen', seorang yang memegang kekuasaan kolonial Belanda di Lebak. Bagaimana mungkin hal demikian itu bisa terjadi, fikir orang-orang feodal dan kolonial di Hindia Belanda ketika itu.


* * *


Tulisanku ini terutama dimaksudkan untuk minta perhatian pembaca terhadap seorang Belanda, Eduard Douwes Dekker, yang semula menjabat asisten residen Lebak (Banten) pada zaman kekuasaan kolonial Belanda. Kemudian dipecat oleh atasannya karena kepeduliannya terhadap rakyat kecil, masyarakat tani di Lebak, dan perlawanannya terhadap sistim kekuasaan dan pemerasan yang berlangsung di Lebak ketika itu. Bukankah itu suatu keteladanan!


* * *


No comments: