Monday, April 2, 2007

Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 06 Maret 2007.

SEPARO ABAD 'GHANA-NYA NKRUMAH'

Rakyat Ghana hari ini, 6 Maret 2007, -- bahkan sejak tadi malam --, berpesta ria, membakar mercon, menabuh genderang, mendengungkan musik nasional, menari-nari, parade militer, serta mengibarkan dan melambai-lambaikan bendera nasional kebanggaan Ghana: Merah -- Kuning -- Hijau, dengan Bintang Hitam ditengah-tengahnya. Pesta Nasional itu masih berlangsung terus dengan riangnya. Katanya akan berlangsung beberapa hari.

Beralasankah bangsa Ghana merayakan Ultah Ke-50 Kemerdekaannya secara demikian besar-besaran dan meriah? Jawabnya kiranya tidak ada lain: SANGAT BERALASAN! Secara umum warganegara Ghana, menganggap bahwa perayaan nasional ini, memperkokoh persatuan bangsa, dan mengembangkan serta memperdalam lebih lanjut kesedaraan berbangsa. Ghana bukan saja bisa survive dan mulai menoto kembali ekonomi negeri, dsb. Ghana juga telah memulihkan kembali kehidupan demokratis setelah lebih dari duapuluh tahun lamanya hak-hak demokrasi bagi rakyat Ghana dipasung oleh pelbagai rezim militer.

Kemenangan demokrasi ini adalah hasil perjuangan susah payah dan jangka lama.Sementara pengeritisi nyeletuk, mengatakan bahwa ongkos 20 juta USD merupakan pengeluaran yang terlalu besar untuk pesta itu. Tetapi suasana umum, rakyat biasa merasa pada tempatnya dan bolehlah sekali-sekali mengeluarkan ongkos demikian besarnya untuk pesta nasional tsb. Tidak kurang dari enam kepala negara dan pemerintahan Afrika yang diundang ikut menyemarakkan suasana perayaan nasional. Juga penyanyi Afro-Amerika yang terkenal Stevie Wander dan mantan pemain bola ulung dunia dari Brazil, Pele, diundang datang hadir pada pesta nasional Ghana tsb

* * *

Terlalu penting, dalam pengertian sejarah, lebih-lebih lagi penting dalam arti pendidikan bagi generasi muda, untuk membiarkan begitu saja berlalu, hari lahirnya Ghana Merdeka limapuluh tahun yang lalu. Limapuluh tahun yang lalu, yaitu pada tanggal 06 Maret 1957, Kwame Nkrumah memproklamasikan kemerdekaan Ghana di ibukota Accra. Nama yang diberikan oleh orang asing untuk Ghana, yaitu Gold Cost, diubah menjadi Ghana.

Mungkin akan ada yang akan berkomentar: Mengapa dikatakan 'Ghana-nya Nkrumah'? Tentu, Ghana bukan punya Nkrumah pribadi! Ghana adalah milik rakyatnya yang pada waktu itu (1957) berjumlah 7,1 juta . Kemerdekaan Ghana limapuluhtahun yang lalu adalah berkat perjuangan panjang dan susah payah, dengan mencucurkan keringat dan darah dari seluruh rakyat Ghana. Tetapi malang bagi rakyat Ghana, seperti yang sering terjadi dalam lika-likunya perjuangan kemerdekaan yang rumit dan pelik, Ghana yang baru merdeka itu, suatu ketika berakhir dengan suatu bencana.

Kaum reaksioner dalam negeri melalui suatu kup militer (1966) dengan keterlibatan aktif CIA, mengubah Ghana yang merdeka dan berdaulat menjadi suatu negeri yang membuntut kekuasaan asing, yang bergantung pada luarnegeri untuk kelanjutan rezimnya. Suatu peristiwa yang sering terjadi pada periode itu, ketika masing-masing blok, terutama AS dimana-mana mengusahakan agar rezim yang berkuasa memihak Barat dalam pertarungan 'Perang Dingin' ketika itu.

* * *

Kusebut 'Ghana-nya Nkrumah', tentu ada maksudnya. Selain untuk membedakan Nkrumah dengan penguasa diktator militer Jerry Rawlings, yang berkuasa selama duapuluh tahun melalui suatu kup (yang kemudian terjadi), --- maksudnya menyebut 'Ghana-nya Nkrumah', adalah untuk mengenangkan jasa-jasa Nkrumah sebagai pemimpin utama perjuangan kemerdekaan bangsa Gold Cost (nama ketika itu), yang berhasil membawa rakyatnya ke pintu gerbang kemerdekaan nasional. Kwame Nkrumah adalah juga bapak bangsa Ghana. Ia dikenal oleh rakyatnya sebagai OSAGYEFO, Bapak Bangsa.

Dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia politik: Tak ada gading yang tak retak, juga Nkrumah punya kekurangan-kekurangannya. Salah satu kekurangan serius Nkrumah ialah, bahwa ia menerima kedudukan untuk menjadi 'Presiden seumur hidup'. Tambah lagi kesalahan berat berikutnya yang dibuat Nkrumah, yaitu menjadikan Ghana sebagai 'Negara Satu Partai' . Berarti hanya Convention People's Party, parpol yang berkuasa, yang boleh eksis . Artinya Nkrumah tak membolehkan adanya partai lain selain partainya sendiri yang berkuasa. Untuk tindakannya yang anti-demokratis itu, diberikan pelbagai alasan, seperti demi persatuan nasional yang kompak dalam perjuangan melawan kekuatan retrogresif yang disokong oleh Barat, dsb. Dengan demikian Nkrumah mulai menggerowoti hak-hak demokrasi yang ia sendiri dulu ikut memperjuangkannya melawan kolonialisme Inggris.

Namun, ------ kekurangan-kekurangan pada Nkrumah itu tidak sedikitpun mengurangi jasa-jasanya terhadap tanah air dan bangsanya. Tidak mengurangi pengaruh dan pamornya sebagai kampiun perjuangan melawan kolonialisme. Sebagai seorang nasionalis progresif, Nkrumah juga mengarahkan perhatian dan keterlibatannya
pada nasib dan perjuangan bangsa-bangsa Afrika lainnya yang masih meringkuk, terkungkung di bawah kolonialisme Inggris, Perancis, Portugis, Spanyol dan rezim Apartheid Afrika Selatan. Nkrumah adalah juga seorang (Pan)Afrikanis yang konsisten. Ketika itu (1957) Ghana baru satu-satunya negeri Afrika Hitam yang merdeka.. Sesudah mencapai kemerdekaan Ghana, perjuangan Nkrumah tidak berhenti disitu. Ia memandang jauh kedepan, melampaui batas-batas negerinya sendiri. Bagaimana agar rakyat Ghana bisa memberikan sumbangan lebih besar dalam perjuangan seluruh bangsa-bangsa Afrika untuk bebas dari kolonialisme dan imperialisme Inggris, Perancis, Portugis, Spanyol dan Apartheid Afrika Selatan. Nkrumah dengan penuh antusiasme dan semangat yang berkobar-kobar mencurahkan tenaga dan fikirannya demi mencapai tujuan Pan-Afrikanisme, Afrika untuk bangsa Afrika, Afrika bebas dari segala bentuk penguasaan dan eksploitasi kolonialisme dan imperialisme.

Kukatakan 'Ghana-nya Nkrumah, adalah dengan maksud untuk mengkontraskannya secara tajam dengan 'Ghana-nya Jerry Rawlings', seorang militer yang merebut kekuasaan melalui suatu kup dan berkuasa kurang lebih duapuluh tahun, dengan kejam menindas kekuatan demokratis negeri, melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap pemimpin-pemimpin oposisi dan memerintah negeri dengan 'tangan besi'.

* * *

Mendengar atau membaca nama Kwame Nkrumah, secara otomatis terkenang masa-masa perjuangan kemerdekaan di Asia dan Afrika, terutama di Afrika, yang sedang berkobar dan bergelora pada pertengahan dan akhir tahun limapuluh serta permulaan tahun enampuluhan abad ke-20. Mendengar atau membaca nama Kwame Nkrumah, dengan sendirinya terdengar kembali gegap gempitanya suara Bung Karno, Presiden Republik Indonesia, yang mengumandangkan di muka 29 wakil-wakil bangsa-bangsa Asia dan Afrika, pada Konferensi Bandung, 1955: --- A NEW ASIA AND AFRICA HAS BEEN BORN. Suatu Asia dan Afrika Baru telah lahir!! Suatu ungkapan yang visionair dan membuka zaman. Suatu ramalan yang menjadi kenyataan hidup.

* * *

Dibawah pimpinan Kwame Nkrumah, dengan orientasi sosialisnya, Ghana dengan tegas mengayunkan langkah-langkah besar yang memajukan negeri dan bangsa. Ia telah mengangkat bangsa Ghana dari kemiskinan dengan cara menciptakan suatu sistim welfare-state, yang dimulai dengan pelbagai program/proyek pembangunan, mendirikan banyak sekolah dan balai pendidikan. Nkrumah juga menginstruksikan pemerintahnya membangun jalan-jalan raya dan jembatan-jembatan untuk memajukan komunikasi dan perekonomian negeri. Demi kepentingan kesehatan bangsa, ia membangun sistim pengadaan air di pedesaan dan langkah-langkah lainnya untuk memajukan kesehatan umum.

ANALISIS TAHUN 1965
Dalam tahun 1965, sebagai salah seorang anggota Delegasi Indonesia ke Afrika dan Timur Tengah, menjelang berangkat ke Ghana, kubuat sebuah analisis politik mengenai Ghana. Analisis tsb dibuat sebagai 'input analisis politik' untuk Ketua Delegasi RI dibawah pimpinan Menteri Pertama dan Menlu Dr Subandrio. Ketika itu dilakukan kunjungan ke sebelas negeri-negeri Afrika dan Timur Tengah. Delegasi RI yang dipimpin Dr Subandiro itu diberi nama 'Misi Safari Berdikari'. Tugas misi tsb adalah dalam rangka diaktifkannya peranan Indonesia menggalakkan persiapan Konferensi Bandung Ke-2, yang seyogianya direncanakan akan dilangsungkan di Aljazair (1965).


Ketika itu kutulis antara lain sbb:
'Seperti halnya dengan kebanyakan negeri-negeri Afrika lainnya yang baru saja merdeka, sejarah perjuangan Ghana erat hubungannya dengan sejarah perjuangan pemimpin dan Presidennya. Membaca sejarah Kwame Nkrumah sekaligus mengetahui riwayat perjuangan rakyat Ghana untuk kemerdekaan, istimewa perjuangan rakyat Ghana sesudah Perang Dunia II. Ghana memperoleh kemerdekaannya dari Inggris pada tanggal 6 Maret 1957. Ghana adalah salah satu negeri Afrika yang menempati kedudukan pelopor dalam perjuangan anti nekolim. Garis politik luarnegeri Ghana bisa dikatakan mempunyai tujuan politik: 1. Meneruskan perjuangan anti nekolom hingga seluruh Afrika merdeka, dan 2. Terbentuknya Persatuan Afrika yang dalam pendapatnya merupakan syarat untuk merdeka dan majunya seluruh Afrika.'

Selanjutnya . . . . . 'Dalam pidatonya pada pembukaan Konferensi Ke-4 Organisasi Setiakawan Rakyat-Rakyat Asia-Afrika yang dilangsungkan di Winneba (60 km dari ibukota Ghana, Accra), bulan Mei 1965, Nkrumah telah membuat pernyataan-pernyataan politik yang maju sekali. Antara lain ia mengutuk agresi Amerika Serikat di Vietnam dan Dominica. Ia menganjurkan diadakannya persatuan kekuatan-kekuatan anti imperialis seluruh dunia (sangat dekat dengan ide CONEFO Indonesia.) Meskipun ia menganjurkan penyelesaian soal 'Malaysia' secara damai, namun dikatakannya bahwa hal ini baru bisa dilaksanakan bila kaum imperialis keluar dari situ'.
Bagian yang menyinggung masalah 'Malaysia' ini jelas menanggapi politik 'Konfrontasi Malaysia' yang sedang dilancarkan oleh Indonesia di bawah pimpinan Presiden Sukarno.

Politik luarnegeri Nkrumah yang menggalang persatuan seluruh Afrika, membangun kekuatan Pan Afrikanisme, dalam perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme, merupakan duri dimata kaum kolonialis dan imperialis. Ditambah lagi dengan orientasi sosialis yang ditempuh oleh Nkrumah dalam membangun negeri membikin dunia Barat semakin tidak menyukai Kwame Nkrumah. Nkrumah harus disingkirkan. Mereka merancangkan suatu komplotan dengan kaum militer dalam negeri dan akhirnya berhasil menggulingkan pemerintah Kwa Nkrumah melalui suatu kup militer. Dalam periode 'Perang Dingin', berlaku logika politik seperti me berikut ini: --- 'Siapa yang tidak bersamaku adalah menentang aku, adalah musuh aku'. Dan oleh karena itu harus dihancurkan. Inilah juga nasib dari pemerintahan Presiden Sukarno, yang melalui Konferensi Bandung, berusaha mempersatukan kekuatan kemerdekaan Asia dan Afrika, menuju suatu KELAHIRAN BARU ASIA-AFRIKA, yang bebas dari kolonialisme dan imperialisme.


Ghana diwakili oleh Kojo Botsio, dan dua orang anggota delegasi lainnya, sebagai wakil negara (waktu itu namanya) Gold Cost, Pantai Emas, turut hadir dalam Konferensi Asia-Afrika yang historis itu. Kehadiran wakil-wakil Ghana di Bandung pada bulan April 1955 , meskipun belum mewakili suatu negeri yang benar-benar merdeka, namun, menunjukkan perkembangan perjuangan kemerdekaan nasional di Asia dan Afrika. Dua tahun berlalu setelah dimaklumkannya PRINSIP-PRINSIP KONFERENSI BANDUNG, untuk KEMERDEKAAN NASIONAL dan PERDAMAIAN, Kwame Nkrumah memproklamasikan kemerdekaa Ghana. Jelas ini bukan sesuatu yang kebetulan. Menunjukkan bahwa angin segar semangat perjuangan

kemerdekaan yang bertiup dari Bandung, menampakkan gemanya di Ghana dan banyak negeri Afrika lainnya pada akhir limapuluhan dan permulaan tahun enampuluhan abad ke-20 y.l.

Pelajaran penting lainnya, yang dapat ditarik dari sejarah 50 tahun kemerdekaan Ghana, ialah, betapapun diktatur militer ditegakkan dan didukung oleh imperialisme, akhirnya, oleh kekuatan perlawanan rakyat, rezim militer yang betapa kuatnyapun akhirnya ditumbangkan, dan hak-hak demokrasi berangsur-angsur ditegakkan kembali! * * *

No comments: